Prince of My Dreams

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Cinta yaitu perasaan ataupun perkataan yang tak dapat diucapkan oleh bibir, melainkan yang dapat di rasakan oleh hati.
“Cinta, aku ingin merasakan apa itu cinta. Apa rasanya dicintai. Dan apa rasa cinta yang sebenarnya yang tulus dan saling mengerti” seruku. Tak lama kemudian, ku tulis catatan hati ini dalam sebuah diary kecilku yang sudah ku simpan selama 2 tahun yang lalu. Ku tatap awan hitam di langit sana di hiasi bulan dan bintang yang berkelap-kelip, perlahan-lahan ku bayangkan sesuatu dalan fikiranku. Ku berfikir datanglah seseorang yang menarik perhatianku dan dapat menjadi cinta pertamaku. “Arghhh, kenapa aku harus mikirin yang kaya gitu sih?! itu kan tak penting buatku, sekarang aku harus mengejar targetku masuk sekolah favorit yaitu SMAN BHAKTI KENCANA” ucapku sambil membangunkanku dari fikiranku yang tak seharusnya aku fikirkan. Aku pun berbaring di kasur seraya menarik selimutku untuk pergi tidur.
Cit.. cit.. cit.. burung pagi sudah memanggil, jendela telah terbuka lebar sapaan seorang Ibu pun sudah terdengar “Pagi Chacha sayang, ayo lepaskan selimut dari tubuhmu” ucap Bundaku seraya menarik selimutku yang sedang ku pakai. “Hoammm, iyah Bun” ucapku seraya aku bangun dan mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, saatnya aku berangkat ke sekolah. Ku berpamitan kepada Kedua Orangtua Ku dan ku langsung menaiki mobil yang telah berparkir di depan rumahku.
Tak lama kemudian, sekolah impianku pun telah di depan mata. Ku turun dari mobil dan segera masuk melewati gerbang sekolah. “Wahh, megah sekali sekolah ini” Aku pun terkagum atas kemewahan sekolah ini, apalagi dengan fasilitas yang lengkap sehingga aku sangat dan senang berada di sekolah ini. Aku pun masuk ke kelasku, yaitu Kelas X-IPA 01, disana aku mendapatkan teman yang super baik, ramah tamah, aku pun menjadi sangat.. sangat.. tergila-gila terhadap sekolah ini, tak salah pilih aku memilih sekolah ini sebagai sekolah lanjutanku.
Teneng.. teneng.. bel masuk sudah dibunyikan, disana aku duduk berdekatan dengan Nadya, teman baruku di sana. Orangnya yang baik dan ramah sehingga ku ingin berteman dekat dengannya. Tak lama, guru pun masuk yang membagikan jadwal pelajaran untuk murid-murid ajaran baru sehingga proses KBM pun dipending hari ini.
Teneng.. teneng.. bel istirahat pun sudah di bunyikan, akhirnya aku bersama kawan baruku Nadya pergi ke kantin. Tak lama, aku pun tak sengaja tertabrak oleh seorang laki-laki dengan pakaian yang modis meskipun itu saat di sekolah “Maaf, aku gak sengaja” ucap pria tersebut sambil saperti yang terburu-buru, belum ku ucapkan tak apa-apa, dia sudah pergi tanpa permisi dan basa-basi lagi. “Tiis banget tuh cowok udah nabrak juga” ucapku sedikit kesal, “udahlah lupain cowok aneh itu!” ucap Nadya yang mungkin sama sepertiku sedikit kesal terhadap cowok dingin itu. Aku pun langsung pergi ke kantin.
20 menit kemudian.. Datang seorang laki-laki yang langsung berminta maaf kepadaku “Maaf ya, tadi aku gak sengaja nabrak kamu karena aku lagi terburu-buru” ucap cowok tersebut, aku pun memandangkan wajahku kepadanya.. tak ku sangka cowok yang sudah ku bilang dingin itu ternyata tidak seperti yang ku duga sebelumnya. Aku pun menjawab “iyah tak apa-apa, santai ajah sama aku mah” ucapku. Dia pun tersenyum manis, dan langsung dia pergi. Tapi, semenjak kejadian itu.. ada degupan rasa yang beda, seperti tak biasanya aku merasakan degupan seperti ini. Apakah ini namanya cinta ya? Arghhh sudah-sudah jangan berfikir yang aneh lagi” ucapku gumam
“Ada apa Cha?” ucap Nadya yang terlihat aneh memandangku “Tidak, tidak apa-apa kok” Ucapku “Oh yah” Ucap Nadya
Bel masuk pun telah di bunyikan, di kelas pun anak-anak hanya mengobrol karena tak ada guru yang datang ke kelas. Aku pun hanya bercerita dengan Nadya tentang cowok yang tadi. “Cha, ternyata cowok yang tadi tidak seperti yang kita bayangkan ya” ucap dia tanpa duga “Iya, Nad.. Aku gak nyangka, kirain dia emang dingin atau tiis kayak tadi, eh dia lagi terburu-buru ajah” jawabku juga tanpa duga. Semenjak bercerita tentang laki-laki itu, Nadya mengungkapkan perasaannya, ternyata dia suka sama laki-laki itu. Tak tahu kenapa, aku merasa kecewa saat dia mengungkapkan perasaannya.
Beberapa menit kemudian, teneng.. teneng.. bel pulang pun di bunyikan. Tak tahu kenapa, hari ini aku merasakan senang dan sedih, senang karena dapat bersekolah disini dan mendapatkan teman-teman yang baik, ramah tamah, dan juga solid. Sedihnya pun saat Nadya mengungkapkan perasaannya, meskipun dia tidak tahu lebih lanjut atau lebih dalam lagi tentang laki-laki itu. Tapi, aku pun seperti punya rasa yang sama seperti Nadya terhadap laki-laki itu. Namun, aku tak mungkin sama mengatakan maupun mengungkapannya kepada Nadya, aku hanya dapat memendam perasaan ini sampai tiba saatnya aku dapat mengatakan atau mengungkapan perasaan ku ini terhadap laki-laki tersebut. Tak lama kemudian, mobil jemputanku telah tiba, aku pun langsung menaikinya dan pergi untuk ke rumah.
Sesampainya di rumah, rumah sama seperti biasanya yang sepi karena Kedua Orangtua ku sekarang sedang pergi untuk mengurusi pekerjaan bisnis mereka. Ternyayta Kedua Orangtua Ku pergi ke Korea untuk menjalin kerja-sama selama beberapa bulan maupun minggu. Untuk menunda dan menggantikkan rasa bosan ku, aku pun menulis di dalam diary-ku.
Dear Diary,
Hari ini aku memiliki 2 perasaan, yaitu perasaan senang dan sedih. Senangnya, aku dapat bersekolah di sekolah yang terfavorit dan sedihnya saat aku dapat mendengar dan memaknai kata-kata Nadya bahwa dia menyukai laki-laki tanpa tahu siapa nama dan tentang dia lebih lanjut atau lebih dalam. Saat pertemuan tadi pun, tak aku sangka.. Aku pun mempunyai rasa terhadap laki-laki tersebut. Pangeran Impianku.
Chacha Pusari
Aku pun menutup dan meletakkan diary ku di tempat biasa dimana aku menyimpan diary ku. Tak lama kemudian, Nadya menelponku.
Hallo Cha! | Hallo, iya ada apa? | Ada berita bagus loh! | Berita apa, Nad? | Ternyata laki-laki yang tadi itu Anaknya teman Ayah aku, dan katanya aku akan di jodohin sama dia! Asyiikkk seneng banget deh aku! | Oh ya, selamat ya! | Terima-Kasih!
Langsung telepon di matikan oleh Nadya. Namun, aku merasa tidak gembira mendengar kabar dari Nadya, melainkan aku merasakan sedih yang begitu sangat. Pangeran Impian-Ku sekarang sudah ada yang miliki. Tak ada harapan lagi untuk aku bersama laki-laki itu. Tak lama, air mata pun membasahi pipi-ku. “Kenapa lagi aku? Kenapa gara-gara laki-laki tanpa tahu siapa, mengapa aku menangis? Tak guna, aku menangis juga” Ucapku sambil mengusap air mata ini.
Keesokan harinya.. BENAR.. Saat di sekolah, ku lihat jendela kelas yang membentang ke jalanan sekolah sana, di sana ku lihat seorang laki-laki turun dari mobil mewah, namun di sebelahnya turun seorang perempuan. Dan, tak diduga, ternyata dia.. Laki-laki itu dan Nadya. Dan, cepat-cepat aku keluar dari kelas dan menuju keluar kelas. “Pagi Chacha! Lihat di samping aku siapa coba?” Ucap Nadya dengan penuh dengan keceriaan. Aku pun memandang laki-laki tersebut, aku pun merasakan sedih yang tak dapat aku tahan lagi “Selamat Pagi! :)” Ucap laki-laki tersebut “Pagi juga!” Dengan beribu-ribu kekecewaan “Nama Aku Nathan” Ucap dia memperkenalkan diri, namun aku langsung berlari masuk ke dalam kelas tanpa menjawab dan menyebutkan nama aku. Aku sudah tak dapat menahan air mata ini, ternyata laki-laki itu bernama Nathan bersama teman ku sendiri Nadya. Pangeran Impianku itu sudah menjadi milik teman ku sendiri. Luput sudah harapan ku, aku tak dapat dimilikinya.
Jam belajar pun di mulai, jam istirahat pun telah berbunyi. Temanku sendiri yang dulu selalu bersamaku, sekarang dia berbeda. Dia lebih mementingkan Nathan di banding aku temannya sendiri. Sekarang, dia lebih suka berduaan bersama cowok itu di banding aku. Makan di kantin lebih suka dengan cowok itu. Sekarang sahabat ku sendiri sudah melupakan aku.
Saat aku di taman sekolah, ada seseorang yang yang menyapaku “Hallo” Ucap dia, ternyata dia Nathan Pangeran Impianku. “Ada apa dia datang kemari?” Ucapku dalam hati. “Hallo, kenapa kamu menjadi diam membisu seperti ini? Siapa nama kamu? Mengapa kamu tadi langsung lari ke dalam kelas? Apa kamu lupa sama aku? Aku orang yang dulu yang gak sengaja nabrak kamu” Tanyanya kepadaku “Oh, iyah aku ingat.. Nama aku Chacha, Kamu Nathan kan?” Tanyaku, meski aku bingung apa niat dia datang kemari “Iyah, aku Nathan, masih ingat rupanya ha.. ha..” Ucapnya sambil tersenyum manis kepadaku “Tak mungkin aku melupakan kamu Than, karena kamu orang pertama yang sudah menarik perhatian aku” Gumam ku dalam hati. Disana, tanpa sebab aku menangis. Inginku menghentikan tangisanku ini, tapi.. Apa Daya.. Air mata ini tetap meneteskan air mata. “Kamu kenapa Cha?” Tanya Nathan yang begitu heran karena tanpa sebab aku menangis di hadapannya “Tidak, aku tidak apa-apa. Ya Sudah.. Aku masuk kelas dulu ya Than” Ucapku tanpa basa-basi lagi langsung berlari menuju kelas.
Di kelas pun, aku dispend.. karena badanku yang demam tinggi. Aku pun diantar pulang oleh guru sekolah agar beristirahat sejenak. Di rumah pun, aku merindukan Bunda aku yang sudah hampir beberapa bulan belum pulang dari Korea, sedangkan.. sekarang aku sakit, tiada yang dapat menemani aku sesaat.
Tenreng.. Tenreng.. Tenreng.. Tenreng.. bunyi teleponku, ku angkat telepon penggilan dari Bundaku yang menanyai kabar tentangku. Tak lama kemudian, setelah Bundaku menelpon. Ternyata, telepon pun berbunyi kembali, ku angkat telepon yang memanggilku.. namun nomornya pun diprivate kan
Hallo | Iya hallo, ini siapa ya? |Ini Chacha? Aku Nathan.. gimana kabar kamu? mendingan sekarang? aku khawatir loh sama kamu | “Kenapa dia khawatir sama aku? kenapa tanya keadaanku?” | Hallo hallo, Cha? | Lumayan baikan | ALHAMDULILLAH kalau sekarang baikan | Iya | Bye | Dia pun langsung mematikan teleponnya.
Kebesokan harinya, aku mencoba untuk pergi lagi ke sekolah. Sesampai di sekolah Nadya memeluk aku dan berkata “Aku tidak jadi di jodohin sama Nathan, karena dia gak mau sama aku!” Ucap Nadya sambil manangis di pelukanku. Tak tahu kenapa dan mengapa, saat dia ucapkan seperti itu, aku merasakan senang. Apakah mungkin aku punya harapan bersama dia? INSYA ALLAH” Ucapku dalam hati.
Saat pulang sekolah, Nathan menemuiku dan mangajakku Dinner nanti malam. Ya pasti, ku jawab iya karena aku punya harapan bisa bersama dia. Hari ini pun aku merasa bahagia karena bisa dekat bersama dia. Apalagi sampai bisa Dinner bersama Pangeran Impianku.
Malam hari pun telah tiba, telah ku siapkan pakaian untuk Dinner bersamanya, agar tidak dapat menyia-nyiakan waktu bersama dia, iya Nathan Pangeran Impianku. Mobil mewah telah menunggu ku di luar sana, aku pun menghampiri dan pintu mobil pun di buka oleh dia. Terasa berkesan romantis, aku pun menaiki mobilnya dan pergi untuk ke restaurant yang sudah dibooking / di sewa sebelumnya.
20 menit kemudian, kami telah tiba di restaurant yang megah serta mewah. Takjub melihatnya, Nathan hanya dapat bisa tersenyum manis dan dia ucapkan “Semua ini aku persiapkan untuk kamu Chacha” Ucap dia, begitu romantisnya dia dengan alunan musik yang merdu dan di hadiri oleh aku dan dia dan Tuhan yang melihat kita berdua. Setelah makan, kita menari. Terasa bergetar saat dia memegang tanganku. Tak lama setelah menari. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan membawa sesuatu di meja tersebut. Ternyata, dia menggenggam box kecil berukuran untuk cincin dari sakunya dan membawa bunga dari meja tersebut. Dia memegang tanganku seraya mengucapkan “Apakah kamu mau jadi pasangan hidupku Chacha? Karena, kamu orang yang pertama mengalihkan perhatian saat pertama kita bertemu” Ucap dia aku pun tak mungkin menolaknya dan aku ucapkan “I accept you, because you’re prince of dream.”
THE END
Pengarang Cerita: Purnamasari
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami