Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Remaja. Tampilkan semua postingan

Ospek

Sabtu, 30 Agustus 2014 | komentar

Pagi itu begitu cerah, semua mahasiswa baru degdegan menunggu acara orientasi dimulai, begitu pula salah satu calon mahasiswa yang satu ini dia adalah Arli, hari itu dia begitu gelisah menanti apa yang akan dihadapinya beberapa menit kemudian.

Beberapa menit kemudian orientasi pun dimulai, semua maba diperintahkan mencari kelompoknya masing-masing Arli menjadi anggota kelompok “KILORO”. pembawa acara membuka acara dan para senior pun diperkenalkan. “hem… seniornya kok pada biasa aja ya? gak ada yang menggugah hehehe… kok mikirin itu sih?” gumam Arli dalam hati. “Kelompok kiloro didampingi oleh marwan” pembawa acara menyebutkan pendamping masing-masing kelompok. arli pun menoleh ke arah senior yang menjadi pendamping kelompoknya, “yea pendampingnya biasa aja”, gumamnya lagi.

Kegiatan pun berlangsung semua maba diperintahkan untuk menulis nomor Hp dan diberikan kepada senior pendampingnya masing-masing.
Orientasi pun berlangsung menegangkan banyak maba yang dihukum karena salah menjawab dan tidak bisa menjawab, mereka ada yang disuruh menyanyi, ada pula yang disuruh jogged. arli terdiam saja dan sesekali tertawa karena takut salah menjawab.

Selain itu, masing-masing maba dibagikan sebuah kertas. di dalam kertas itu tertulis apa yang harus dilakukan. semua maba bertanding untuk bisa lebih dulu menyelesaikan tugas itu. ahkkk… arli tidak bisa menyelesaikan tugas itu lebih cepat dan para maba terkecoh, mereka hanya diperintahkan mengisi dua nomor dari kesekian pertanyaan yang ada di kertas itu.

Arli benar-benar kaku menghadapi suasana itu benar-benar menegangkan. hari itu seperti berlalu dengan begitu lambat. setelah kegiatan itu, yang terakhir maba dibawa oleh pendamping untuk menjelajahi seluruh ruangan yang ada di kampus itu. kemudian setelah semua kegiatan itu selesai maba pun pulang ke rumah masing-masing.

Bahagia hati arli saat itu bisa menikmati suasana baru di kampus itu, melupakan semua beban hidup. sebuah mimpi indahnya terwujud hari itu. meski dia tak bisa memilih kampus yang lebih baik dari kampus itu tapi dia sangat bersyukur bisa melanjutkan ke bangku kuliah, ini merupakan suatu keberuntungan baginya, masih banyak orang-orang yang tak bisa melanjutkan kebangku kuliah.

Hari kedua mahasiswa orientasi di kampus dua. seperti hari sebelumnya maba harus tetap pada barisan kelompoknya masing-masing. begitu pula dengan pendampingnya, masih seperti hari sebelumnya. hari itu ada kuis mencari barisan menurut nomor sepatu, kelompok arli berhasil kali itu namun saat kelompoknya diperintahkan berdiri menurut tinggi, kelompoknya gagal, dengan sangat terpaksa kelompoknya pun harus menjalani hukuman, mereka harus jogged. “untung jogednya rombongan, kalau gak aku gak bisa ngebayangin muka aku mau di taro dimana” pikir arli dalam hati.

Setelah kelompok arli menjalani hukuman mereka diperintahkan untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing.
orientasi terus berlangsung, ketua yayasan menceritakan asal mula berdirinya kampus itu, semua maba mendengarkan dengan seksama, setelah itu masing-masing kelompok memilih peran dalam drama, anti pornografi, sialnya kelompok arli dapat peran sebagai personil band ganggawa, kelompok lain ada yang jadi polisi, masyarakat dan mahasiswa. dalam drama itu maba berdebad mengenai adanya band ganggawa yang dimaksudkan dengan sebagai elekton buka-bukaan. polisi paling terpojok karena tiap pertentangan semua berarah bahwa munafik jika sebagian polisi tak suka dengan acara seperti itu. lagi-lagi arli diam saja tak tau harus menjawab apa. malu juga kalau harus berkomentar membela diri dalam status yang kurang berkenan.

Meski demikian arli begitu menikmati suasana hari itu, seperti hari sebelumnya acara terakhir adalah penjelajahan kampus. setelah kelompok arli selesai menjelajahi kampus ia melihat Hpnya ada pesan masuk. “bertanyaki de”. tulisan pesan itu. “Tanya apa?” jawab arli membalas pesan itu, tapi pesannya tak dijawab lagi. arli mengirim pesan kembali kenomor itu “Tanya apa kak?”. kemudian pesannya terbalas “maksudnya tadi waktu di dalam ruangan, bertanyaki de”. “ow, gak tau aku kak mau nanya apa abisnya takut salah ngomong, ntar aku dihukum, aku gak bisa nyanyi apalagi jogged” jawab arli lagi. “jangan takut de’ tidak papa namanya juga belajar” jawab pesan itu. “ya kak makasih atas sarannya”, jawab arli. “ya sama-sama” balas pesan itu.

Hari itu cukup menyenangkan bagi arli senior yang kemarinnya dibilang gak ada yang menarik sepertinya cukup berbeda hari itu, mungkin karena hari sebelumnya mereka terlihat asing makanya gak ada yang menarik, arli mulai memiliki banyak kenalan setiap anggota kelompoknya disapa dengan rama “ternyata mereka gak sombong”, fikir arli dalam hati. bahagia rasanya melalui hari itu seperti berlalu begitu cepat. setelah semua kegiatan selesai senior mengumumkan hari berikutnya memakai training dengan menggunakan kaos kaki bola, dengan memasukkan training ke dalam kaoskaki, “wah, mirip apa tuh? pasti mirip orang sawahan wkcwkcwkc”, arli geli membayangkan bagaimana bentuk dirinya memakai pakaian seperti yang diperintahkan kakak seniornya.

Tiba hari ketiga sesuai peraturan yang telah di tentukan semua memakai seragam seperti yang telah diumumkan hari sebelumnya termasuk arli, pukul 06.30 semua maba telah berkumpul di depan kampus dua dan mengatur barisan untuk star ke kampus satu. masih seperti hari sebelumnya kelompok kiloro di damping oleh senior yang bernama marwan. kelompok “kiloro” telah siap berangakat mereka pun berjalan sambil bersorak “kiloroooo???, yaaaa… ow, kilorooo… yea… siap maki yeaaa…”. geli rasanya arli mendengar sorakan itu, “hahahah, seperti tak ada kata-kata lain saja yang bisa diucapkan”, pikirnya.

Berjalan sambil bersorak, tiba di terminal semua sopir angkot menertawakan maba yang memakai seragam yang serupa dengan ibu-ibu yang hendak kesawa memanen padinya ditambah lagi tas karun yang di pakainya “hahahah, baru masuk aja udah diajari yang nggak-nggak, gimana kalau udah kuliah” teriak salah satu sopir angkot di terminal. “bener”, sahut arli dengan pelan.

Tiba di pos pertama seragam kelompok arli diperiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki oleh panitia yang bertugas di pos pertama, arli di Tanya “kamu lahir bulan berapa?”. “februari kak”, jawab arli dengan gugup. “bener?, Tanya panitia itu lagi mencocokkan jumlah pita yang ada di jilbab arli. arli pun mengangguk sambil tersenyum, pertanda kalau dia tidak berbohong, setelah semua anggota kelompok diperiksa mereka pun melanjutkan perjalanan, tiba di pos kedua, wah di sini yang bertugas senior galak-galak di pos ini maba di Tanya kesan dan kritiknya terhadap kegiatan orientasi itu, arli berfikir tak karuan mencari jawaban apa yang harus ia lontarkan jika ia diTanya, tiba waktunya giliran arli di Tanya tiba-tiba salah satu dosen berkata “cukup”, senior pun memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan, di perjalanan arli pun tertawa sambil berkata kepada temannya “hahahah, beruntung aku hari ini aku gak diTanya, aku memang gak tau harus jawab apa?. senior pendamping kelompoknya terdiam saja sesekali tersenyum mendengar komentar kelompok “KILORO”.

Sampai di pos ke tiga disini panitianya pada lucu kelompok “kiloro” diperintahkan untuk membentuk bintang ya meskipun gak sempurna kelompok kiloro berhasil melewati semua pos tanpa harus mendapat hukuman.

Sesampai di kampus satu mereka pun istirahat lelah sekali berjalan kaki dari kampus dua sampai ke kampus satu. mereka berbincang-bincang tak sadar ternyata banyak teman arli yang memperhatikan bahasa arli yang berbeda dengan teman yang lainnya. akhirnya arli menjelaskan kalau dia itu anak dari Kalimantan timur makanya bahasanya agak beda dari bahasa anak Sulawesi selatan.

Tiga hari ospek, hari keempat maba diliburkan setelah libur satu hari mereka melanjutkan kegiatan orientasi di permandian lejja. disana mereka banyak kegiatan diantaranya diskusi, dan ada beberapa permainan juga yaitu mengisi pipa berlubang sampai penuh, main balas pantun, main volley dengan menggunakan sarung, dan masih ada lagi yang lainnya.

Mereka naik bus, di perjalanan mereka bercanda antara satu dengan lainnya. sesampai di villa mereka diabsen kemudian berdiskusi, setelah berdiskusi mereka menikmati bekal yang mereka bawa. setelah makan siang mereka melanjutkan dengan beberapa permainan.

Setelah mereka menyelesaikan semua permainan, mereka pun kembali berkumpul di villa, dan disitu diumumkan kelompok yang juara. kelompok arli mendapat juara ll, sebagai kelompok terajin. setelah pemenang diumumkan giliran maba untuk memberikan kotak yang dibungkus dalam bentuk kado, dan di dalam kotak itu berisi sesuatu yang bernilai atau berharga seribu, dan diberikan kepada senior favorit maba.

Kelompok “kiloro” menyerahkan kotak itu kepada pendampingnya dan kelompok lain ada yang memberikan kepada ketua senat, ada yang memberikan kepada pendampingnya dan lain-lain. setelah itu mereka bergegas untuk pulang, kelompok arli berfoto-foto mereka ingin fotoan bareng pendampingnya tapi sayang, ruangannya gelap, setelah berfoto-foto arli dan semua maba berjabat tangan dengan senior, dosen dan ketua yayasan. kemudian mereka berjalan kaki naik turun tangga menuju bus yang mereka tumpangi. mereka mengatur tempat duduk masing-masing seperti sebelumnya.

Seperti itu lah kegiatan orientasi berlangsung arli begitu bahagia dengan kegiatan itu selain kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dia juga bisa kenal dengan senior yang tadinya di bilang kurang menggugah kini di kaguminya dia adalah marwan. mengagumi bukan berarti cinta lho, sejauh itu dia begitu mengagumi seniornya yang begitu kalem, senyumnya yang menghiasi pagi yang cerah membuat hati arli yang tadinya penuh dengan perasaan gundah kini menjadi damai tiap kali memandang seniornya yang bernama marwan itu.

Arli tak berharap seniornya itu suka dengan dia tapi dia hanya bisa bilang “dialah senior favoritku” dia juga udah gak mengharapkan dicintai setelah ditinggal dengan orang yang dicintainya.

Keesokan harinya mereka pun kuliah perdana sebagai kuliah pembukaan/kuliah pertama, saat itu arli mencari marwan tapi sayang sepertinya seniornya itu tak ada di tempat itu dengan hati yang sedikit kecewa arli pun mengikuti kuliah perdana itu berlangsung sampai selesai di depan pintu keluar kantor bupati arli melihat senior yang tadi dicari-carinya mengendarai motornya. “huff, gak asik juga ya ngagumin orang bawaannya pengen ngelihat terus” gerutu arli dalam hati.

Hari itu juga arli dan semua maba resmi menjadi mahasiswa di kampus lamappapoleonro.
Berhari-hari arli pergi kuliah tapi tak sekali pun dia melihat senior favoritnya itu. hingga suatu malam dia mengirim pesan ke nomor seniornya heheh nekaaat… “kak aku boleh nanya gak?”
Hahahah kasian gak di balas, eh tunggu dulu keesokan harinya pesannya dibalas “sory de’ baru sempat balas, memangnya mau nanya apa?” “aku Cuma mau nanya kak marwan lagi ngapain?” balas arli. “ow, kiraen mau nanya apaan” balas seniornya lagi. “sebenarnya aku mau minta tolong kak, aku ada tugas buat makalah video tapi aku gak tau caranya makannya semalam aku smsin kak marwan tapi aku udah minta bantuan teman kok”. “minta bantuan om google aja de’” balas seniornya lagi.

Beberapa hari kemudian arli ke kampus satu lagi enak-enakan besandar di tembok tiba-tiba seniornya muncul “arli… arli…. itu siapa yang datang” kata Irma sepupu arli sambil melihat ke arah kakak seniornya. “gak tau” jawab arli pelan dengan wajah pucat. bersamaan dengan itu marwan pun sudah tak terlihat lagi.

Beberapa hari kemudian arli ada tugas lagi mengirim e-mail, tapi arli gak tau cara buat e-mail masa’ mahasiswa gak tau lucu ya… kemudian arli minta bantuan dengan temannya yang bernama eril tapi sayangnya temannya itu gak bisa bantuin katanya dia sendiri juga Cuma minta bantuan.

Terpaksa deh arli minta bantuan kakak seniornya lagi heheh cari muka ni ye… dia mengirim sms “kak aku boleh minta bantuan lagi gak, please kali ini aja boleh ya”, hem gak dibalas lagi tak sadarkan diri arli ketiduran keesokan harinya dia baru ngelihat kalau semalam smsnya dibalas “memangnya minta tolong apa de’? sorry aku baru isi pulsa makanya baru bisa balas”. jawab marwan. “gini kak aku ada tugas buat ngirim e-mail tapi aku gak tau caranya tadi sih udah minta bantuan teman tapi gak mau katanya dia juga gak tau”, balas arli lagi. “ow, ntar aku buatkan” balas marwan. “ya kak tapi jangan lama-lama ya, heheh”

“Cerewat banget sih aku, makasih sebelumnya hampir aja aku nangis gak ada yang buatkan” balas arli.
Hari itu arli ada kuliah siang dan di kampus dia bertemu dengan seniornya itu “waddduuuhhh kira-kira dia tau gak kalau aku yang bernama arli?” pikir arli.

Sepulang kuliah e-mailnya udah jadi dan alamatnya dikirim melalui pesan arli pun mengirim pesan “makasih ya kak tapi lain kali aku masih boleh minta tolong kan?” “ya”, jawab marwan singkat.
“hufffttt kak marwan jutek banget sih”, gerutu arli dalam hati. berminggu-minggu arli gak pernah lagi ngirim pesan kepada seniornya itu hingga suatu malam dia menelpon ke nomor seniornya itu tapi gak aktif, dengan isengnya dia mengirim pesan “yeaaa… kak marwan ganti nomor, aku gak bisa ngehubungi fans aku lagi dehhh”. beberapa jam kemudian smsnya terbalas “hahahahahahay”.
“wadduuuhhh, kiraen kartunya udah dibuang kak” balas arli lagi, “nggak kok de’ memang sering gak aktif soalnya jaringannya sering gak ada” jawab pesan itu lagi “kalau gitu aku minta nomor kakak yang aktif donk”, jawab arli, “ini aktif kok de’”, jawab marwan. “kalau gitu aku boleh minta alamat facebook kak marwan gak?”, balas arli, “aku gak punya fb de’”, jawabnya, “kak marwan pakai BB ya hem” “aku gak ada BB”, jawab arli lagi, “aku gak ada fb apalagi BB de’, aku gak punya begituan” jawab marwan lagi. “kakak gak suka dunia maya yea hem…”, balas arli. “suka juga” jawabnya lagi. “trus pakai apa?” Tanya arli. “dunia nyata hahahahah” jawab marwan, “hemmm… pakai motor donk” jawab arli, “bukan tapi pesawat hahahaaah” jawab marwan lagi ngeledek. “kirain roket, ya udah aku juga mau blokir fb biar sama ke’ kak marwan” arli membalas lagi, “dilarang ikut-ikutan hahahah” balas seniornya lagi. arli menjawab lagi “ahh… gak papa ikut-ikutan kak yang bener itu, dilarang jatuh cinta, lagian aku gak ikut-ikutan kok buktinya aku di sini kakak di rumah sendiri kan” jawab arli, “hehehe ade’ bisa aja” jawab marwan lagi. “ternyata kak marwan bisa becanda juga ya kirain Cuma bisa senyum malu-malu gitu hahahahah” jawab marwan, “hem aku bisa ngebayangin kalau kak marwan lagi ngakak tapi lebih bagus lagi kalau kak marwan lagi senyum” balas arli, “hahahahahah, makasih de’ tapi aku gak punya uang kecil apalagi uang besar gula-gula juga gak punya”, jawab marwan “gak usah dikasi uang atau gula-gula kak tapi kalau aku ada tugas kak marwan bantuin ya” balas arli. “ya de insya allah” jawabnya. “ya udah kak marwan tidur jangan lupa cuci kaki trus berdoa, hehehe kalau sama kakak senior favorit memang harus perhatian biar dibantuin juga nyontek” balas arli “wkcwkcwkw ya de, makasih” jawab marwin yang ketawanya menjadi-jadi “ya udah kak assalamualaikum”, “walaikum salam” jawab seniornya. arli pun menggeleng-geleng menuju tampat tidurnya sambil tersenyum.

Sejak arli smsan dengan senioranya dia gak pernah lagi ngirim sms dengan seniornya itu takut kesannya dia cari muka meskipun dia kakak senior arli tapi gak baik juga kalau dia terus-terusan gangguin seniornya itu, rasa kagum itu tidak boleh diungkapkan dengan cara yang berlebihan ntar dia jadi merasa terganggu makanya arli gak pernah lagi menghubungi seniornya itu, pas final arli sempat bertemu dengan senior favoritnya itu, tapi arli masih belum tau apakah marwan senior favoritnya itu tau arli junior yang ngefans sama dia itu dirinya atau gak. tapi yang jelas arli sudah tidak meneruskan hobinya yang suka smsin marwan seniornya itu meski pun dia masih mengaguminya. sejak bertemu hari itu arli sudah tidak pernah lagi bertemu dengan seniornya itu karena selesai final semua mahasiswa libur dalam beberapa hari kedepan.

Mengagumi seseorang itu wajar tapi kita juga harus berhati-hati jangan sampai rasa kagum itu justru berubah menjadi rasa cinta, yang akhirnya membuat cinta kita bertepuk sebelah tangan karena kebaikan seseorang itu sering kali salah diartikan karena takut hal itu terjadi arli berhenti mengganggu seniornya yang manis dan lugu itu gemes juga arli ngeliatnya memang sudah jadi hobinya ngeliati cowok pendiam daripada cowok bawel yang suka ngomong panjang lebar gak jelas…

Seperti itulah kisah singkat arli dari pertama mengenal kampus itu sampai dia final semester l, nantikan kisah selanjutnya di “MY SENIOR”.

Penulis Cerita: Darliana
Facebook: Princezz Sang Pemimpi
 

Move On

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

“Serius amat lihat ke bawah. Ada apaan sih di bawah?” Tanya Cerryl kepada Luna yang konsentrasi menatap lapangan basket. “Bukan apa-apa kok.” Balas Luna, matanya tidak lepas dari lapangan basket. Cerryl mencoba menelusuri pandangan sahabatnya itu.
“Lo ngeliatin Irfan sama pacarnya? Udah, cowok kayak gitu nggak usah diinget. Atau lo masih sayang sama dia? Lo belum move on?” Tanya Cerryl bertubi-tubi. “Nggak, Cuma lihat aja. Lagipula aku kan udah move on sama dia.” Tunjuk Luna kepada laki-laki yang tengah bermain basket. Sesekali ia melirik ke lantai tempat Luna dan Cerryl berdiri.
“Tuh, do’I liat kesini. Buruan jadian.” Ujar Cerryl mengompori. “Jadian? Mau ditaruh mana mukaku kalau aku ngajak dia jadian?” balas Luna terkejut. “Terus lo mau diem nunggu ditembak dia gitu?” Tanya Cerryl. Luna terdiam. Ia tak tau mau menjawab apa. “Karena gue sahabat lo, gue bakal bantuin lo PDKT sama dia.” Kata Cerryl. “Serius? Caranya?” Tanya Luna antusias.
“Bentar, lo tau nama dia nggak?”
“Tau lah, Bima X IPA 4.”
“Besok lo harus berani ngobrol sama dia. Gimana?” Tanya Cerryl. Luna menyanggupi nasehat Cerryl.
Esoknya, dengan semangat menggebu Luna mendatangi kelas Bima. Sebenarnya bukan masuk sih, Cuma lewat. Kebetulan Bima ada di tengah jalan. “Permisi, maaf mau lewat.” Ujar Luna pelan. “Oh, ya. Silahkan.” Bima mempersilahkan. Ia tersenyum menatap Luna. “Tuhan, senyumnya manis sekali.” Kata Luna dalam hati.
Dalam perjalanan ke kelas, ia senyam senyum sendiri. “Gimana? Gimana?” Tanya Cerryl. “Iya sih, Cuma ‘Oh, ya silahkan’ tapi senyumnya itu lho!” Luna mengguncang tubuh Cerryl kegirangan. “Congrats deh congrats. Pertahankan.” Cerryl mengacungkan jempolnya.
Beberapa hari berselang, Luna semakin banyak berceloteh tentang Bima. Namun hari itu, Bima mendatangi mereka berdua. Tentu Luna yang aliran darahnya mengalir lebih cepat. “Mau apa lo kesini?” Tanya Cerryl ketus. “Gue kesini mau ngomong, kalau gue suka sama lo.”
Taaarrrr…
Petir seakan menyambar Luna setelah mendengar ucapan Bima. Sama terkejutnya dengan Cerryl. “Lo mau kan jadi pacar gue?” Tanya Bima.
“Pergi lo dari sini!!!” usir Cerryl.
“Tapi jawab dulu pertanyaan gue. Lo ma…”
“Nggak! Sekarang pergi!” Cerryl memotong kalimat Bima. Ia tau Luna sedang hancur saat ini. Ia tidak ingin Luna marah besar padanya. “Lun, elo nggak marah kan sama gue? Lo kan tau sendiri gue udah punya pacar. Mana mungkin gue naksir sama Bima.” Cerryl berusaha meyakinkan Luna yang kini menerawang jauh.
“Nggak kok, lagipula aku udah bisa move on dari Bima.” Suara Luna sedikit bergetar tanda ia menahan air mata. “Masa’ sih? Secepat itu?” cerryl tau, Luna tidak semudah itu melupakan Bima. “Bener kok. Tuh, orangnya yang itu.” Luna sembarang menunjuk. “Apa? Serius? Dia? Marda?” cerryl tidak percaya.
“Iya, Marda. Memangnya kenapa?”
“Marda itu pl*yboy. Udah berapa coba mantannya. Semua mantannya itu udah pernah dicip*k. Itu FAKTA!” Cerryl menekankan kata ‘fakta’.
“Tapi dia manis kok.” Jawab Luna asal.
“Plis, deh, Lun. Gue nggak mau debat sama lo. Takut kalah. Intinya lo nggak boleh suka sama dia.” Cerryl menyerah dan menasehati Luna.
Ternyata Luna serius dengan ucapannya. Hanya dalam sehari ia bisa menyukai Marda meski tahu Marda anak paling bermasalah di sekolah. Tapi tetap saja, kejadian soal Bima membuatnya takut hal serupa akan terjadi.
By the way, kita lupakan sejenak soal Marda. Hari ini tahun ajaran baru. Sebagai pengurus OSIS, Luna tentu ikut mensukseskan MOS. Salah satu usahanya adalah mengisi games di tengah-tengah materi.
“Bisa-bisa lo jadi idola anak kelas sepuluh.” Cerryl mengomentari Luna setelah ia mengisi games. “Masa’ sih? Eh, by the way kamu tau nggak soal Vika dan April?” Luna mengalihkan pembicaraan.
“Duo dancer yang katanya BFF (best firend forever) itu?”
“Iya, katanya mereka musuhan gara-gara rebutan cowok.” Luna mengatakannya dengan antusias.
“Masa’ sih?”
“Sampe April pindah ekskul ke PMR lho.” Ujar Luna.
“Nggak konsisten banget jadi sahabat. Segampang itu ngerusak persahabatan demi cowok.” Kata Cerryl.
“Menurutku, sahabat rusak gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Aku sih amit-amit.”
“Gue setuju sama lo.” Cerryl mengacungkan jempolnya.
Esoknya ketika Luna mengajak Cerryl ke kantin, tanpa mereka tahu mereka dihadang oleh Marda. Seragam dikeluarkan, sepatu merah, kesan berandal pun melekat pada dirinya. “Hei manis.” Godanya. Cerryl merasa risih, begitu juga dengan Luna.
“Boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?” balas Cerryl galak.
“Udah ada yang punya belom? Kalo belom jadi punyaku mau nggak?” Marda mengeluarkan senyum pl*yboynya.
“Dasar pl*yboy! Amit-amit gue jadi pacar lo. Cuih!” cerryl menggertak sambil berusaha meraih tangan Luna.
“Lho, Luna mana?” tanpa disadarinya, Luna sudah menghilang. Ia tahu, Luna pasti kecewa dan kali ini marah besar padanya. Buru-buru ia pergi ke lantai dua. “Luna…” panggilnya ketika melihat Luna tertunduk di depan kelas.
“Lun, lo nggak marah kan sama gue?” Tanya Cerryl. Luna hanya buang muka. “Plis, Lun, gue bener-bener nggak tau apa-apa soal ini.” Kini Luna membelakangi Cerryl. “Oke, gue tau. Lo marah banget. Gue rasa lo butuh waktu sendiri. Tapi lo musti inget kata-kata lo kemaren. Sahabat rusak gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Inget kalimat itu, Lun? Lo mau jadi sahabat rendahan?”
Panjang lebar Cerryl berkata, tapi Luna tak merespon sama sekali. “Oke, terserah lo mau diem sampe kapan. Tapi gue akan selalu jadi sahabat lo. Gue bakal tunggu lo mau maafin gue.” Cerryl akhirnya pergi meninggalkan Luna yang terus saja menahan air matanya.
Hari-hari berikutnya terasa hampa bagi mereka. Luna masih marah soal Marda. Namun ia juga sedih tidak bicara dengan sahabatnya itu.
Luna, gadis yang sopan, pandai, taat tata tertib, rapi dan ramah. Sedangkan Cerryl, gadis yang kurang memperhatikan penampilan, bicaranya agak kasar, cuek namun manis wajahnya. Sifat yang bertolak belakang inilah yang membuat mereka bersahabat.
Soal popularitas, Cerryl terkenal dan disukai banyak cowok lantaran wajahnya yang cantik, manis dan natural. Sedangkan Luna terkenal di kalangan adik kelas karena jabatannya sebagai bendahara di OSIS. Memiliki sahabat sepandai dan sebaik Luna buat Cerryl bahagia, begitu pula Luna. Ia bahagia punya sahabat sebijak Cerryl.
“Luna, kamu bodoh. Punya sahabat sebaik Cerryl malah kamu sia-siakan. Dasar Luna bodoh.” Luna menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal mendiamkan Cerryl seminggu ini. Ini salahnya, ia juga tidak mau disebut sahabat rendahan. Maka hari itu ia bertekad untuk minta maaf kepada Cerryl.
Senin pagi, Luna sengaja datang pagi agar bisa menghadang Cerryl. Dilihatnya lapangan basket menanti Cerryl datang. Sesekali ia tersenyum membalas lambaian tangan dari anak kelas sepuluh. “Itu dia!” Cerryl berjalan dengan terburu-buru. Luna bersiap di dekat tangga untuk menyambut sahabatnya.
Tap… tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki. ”Itu pasti dia.” Gumam Luna. “Cerryl! Aku minta maaf!” teriak Luna mengagetkan sosok yang muncul. “Lho, kok bukan Cerryl?” Tanya Luna heran ketika menatap anak laki-laki kelas sepuluh yang masih terkejut.
“Kamu ngapain kesini? Kelasmu kan di bawah.”
“Aku kesini mau ketemu kakak.” Tuturnya.
“Aku?”
“Iya, namaku Arya. Aku kesini mau bilang kalau…” arya menggantung kalimatnya.
“Kalau apa?”
“Aku suka sama kakak! Aku fansmu!” pekik Arya. Sepertinya ia grogi sehingga mengatakannya dengan cepat. Dengan wajah yang masih terheran-heran, Luna melihat sosok Cerryl muncul dari belakang tubuh Arya.
“Cerryl… Maafin aku..” buru-buru Luna memeluk Cerryl. “Gue juga minta maaf.” Balas Cerryl. “Tapi dengan satu syarat.” Tambah Cerryl setelah melepas pelukannya.
“Syarat apa?”
“Lo harus move on dari Marda ke dia.” Cerryl menunjuk Arya yang nyengir kuda.
“Kenapa harus dia?” Tanya Luna.
“Karena, dia tulus suka sama lo. Dia udah lama suka sama lo sejak MOS. Terus dia cerita ke gue dan minta tolong ke gue buat ngomong sama lo. Sebenernya bukan Cuma dia aja yang suka sama lo. Banyak anak kelas sepuluh yang suka sama lo. Elo sih tebar pesona.” Olok Cerryl.
“Jadi, intinya. Kak Luna mau jadi pacarku?” Tanya Arya.
“Jangan pake kak deh, nggak keren.”
“Iya, deh kak eh Luna. Terima nggak?” Tanya Arya lagi.
“Terima nggak ya? Emm… terima aja deh. Kamu unyu sih!” Luna mencubit pipi Arya. Mereka tertawa bersama. Sekali lagi, Luna berhasil move on.
Penulis Cerita: Dhia Fauzia Rahman
 

Benci Jatuh Cinta

| komentar

“Liiiaaannn…” Teriak Nita dari kantin.
“Ada apa Nita?” Jawabku sembari menghampiri Nita.
“Bisa minta tolong nggak?, antarin aku ke toko buku Pulang sekolah nanti” Kata Nita dengan nada meminta.
“Oke..” Jawabku sambil tersenyum padanya.
Namaku Rizki Julian, akrabnya dipanggil Lian. Aku tinggal di Lubuklinggau. Sebuah kota kecil beriklim panas yang memiliki keindahan alam luar biasa cantik dan populasi penduduknya, bisa dikatakan tidak terlalu padat. Ada banyak sekolah menengah atas di kota kelahiranku ini, salah satunya SMA Negeri 1 Lubuklinggau, sekolah tempatku menempuh pendidikan sekarang.
Di sekolah, aku termasuk anak yang lumayan gaul dan memiliki banyak teman akrab, salah satunya Esti Yunita, atau biasa aku memanggilnya Nita. Seorang gadis berjilbab yang memiliki paras cantik, senyum menawan, pipi yang chubby, berkulit putih dan tinggi.
“kriiinnggg…” bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku menunggu Nita di gerbang sekolah. Seperti janjiku tadi, aku akan mengantar Nita ke toko buku. Nita memang hobi membaca buku, terutama novel. Tak lama aku menunggu, Nita pun muncul dan menghampiriku.
“Liaann, udah lama yah nunggunya?” Sapa Gadis cantik ini sambil tersenyum.
“Ah, nggak juga kok Nita. Jadi nggak ke toko bukunya?” Tanyaku sambil membalas senyumnya.
“Hmmmm… Jadi dong, ayo kita pergi sekarang” Jawab Nita dengan penuh semangat sambil menarik tanganku. Aku tidak tau apa yang membuat Nita bersemangat sekali. Sangking bersemangatnya, Nita tidak melihat ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi.
“Aaaaaa…” Teriak Nita dengan keras. Entah refleks atau apa, aku langsung menarik tangan Nita. Dan untungnya, motor itu masih bisa menghindar. Nita pun terjatuh di pangkuanku. Seperti adegan di sinetron-sinetron yang sedikit alay, aku dan Nita saling berpandang-pandangan. Mataku dan Nita saling bertemu, seakan memberi isyarat padaku untuk tidak melepaskan pelukanku pada Nita.
Jantungku berdebar-debar, aku merasakan gejolak aneh di hatiku, yang sering aku rasakan ketika jatuh cinta. Aku tersenyum pada Nita, begitu juga dengan Nita yang membalas senyum dengan malu-malu.
“Ehh… Maaf Nita, aku nggak ada maksud apa apa kok” Kataku sambil melepaskan peganganku pada Nita.
“Huuhhh… Nggak apa-apa kok Lian, makasih yah kamu udah nyelamatin aku” Jawab Nita sembari menghela nafas panjang.
“Iya sama-sama, kita nggak usah ke toko buku yah, aku anterin kamu pulang aja, gimana?” Tanyaku dengan nada lembut. Nita yang sebelumnya bersemangat, berubah 180 derajat menjadi cemas dan lesu. Raut wajahnya seperti maling yang sedang dihakimi masa.
“Hmmm… iya deh” jawab Nita ragu.
Aku langsung mengambil motorku dan mengantar Nita pulang. Selama di perjalanan, tidak ada dialog sedikit pun antara aku dan Nita. Sesekali aku melirik Nita lewat kaca spion, Nita hanya sibuk membenahi jilbabnya yang tertup angin dan Nita selalu memasang wajah kaku dan tegang. Sejak kejadian yang dramatis tadi, aku canggung untuk membuka pembicaraan dengan Nita. “Mungkin nggak yah, Nita juga merasakan perasaan yang aku rasakan tadi” Pikirku.
“Niiittt… Nittaaa, sudah sampai nih di rumah kamu” Kataku sambil melirik Nita lewat kaca spion.
“Eehhh… Iya… sudah sampai yah..” Jawab Nita dengan nada terkejut sambil turun dari motorku. Aku yang heran melihat perubahan sikap Nita, mencoba menanyakan apa yang terjadi.
“Nit, kamu nggak apa-apa kan? Kok sikap kamu berubah sejak kejadian tadi?” Tanyaku penasaran.
“Nggak apa-apa kok Lian, eh iya sekali lagi makasih yah kamu udah nolongin aku dan mau nganterin aku pulang” Jawab Nita sambil tersenyum penuh makna. Layaknya ABG yang masih polos dan lugu, aku tidak mampu untuk menafsirkan makna dari senyuman Nita itu.
“Iya, sama-sama Nita, aku pulang dulu yah, Assalamualaikum” Jawabku sambil membalas senyumnya dan menekan klakson motorku.
Penulis Cerita: Adhe Julian Pertananda
 

Karena Kamu Yang Pertama

| komentar

Hari ini, takdir Tuhan benar-benar membuatku takjub. Sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengan seorang laki-laki yang berhasil mencuri cinta dariku untuk yang pertama kalinya, dan sekarang tanpa aku duga dia pindah satu sekolah bareng aku. Dan ketika kenaikan kelas sebelas. Aku ditakdirkan satu kelas dengannya.
Tuhan, Dia satu sekolah denganku saja aku sudah kehabisan kata-kata. Dan sekarang Engkau menakdirkan aku satu kelas?
Saat pertama kali masuk ke kelas XI-IPA 2 aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Jantungku benar-benar ingin meledak. Sosok yang pertama kali aku cari adalah “Dia” cinta sekaligus pacar pertamaku.
Saat bel masuk sudah berbunyi, masih tidak ku temukan sosoknya.
“Mungkin dia tidak sudi satu kelas denganku…” batinku. Namun dugaanku salah. Setengah jam kemudian dia datang.
Senyum bahagia merekah di sela-sela bibirku.
“Eh ngapain senyum-senyum sendiri? Kesurupan ya? Hahaha..” Tanya Fifid teman sebangku ku
“enak aja! Rese’ ah kamu..” Jawabku cemberut.
“Yeee.. Biasa aja kali bibirnya gak usah manyun 10 senti gitu..”
Aku tidak memperdulikan Fifid lagi. Terserah dia mau ngedumel apa. Ada hal yang lebih penting ketimbang meladeni fifid. Yaitu memperhatikan seorang yang sangat aku cintai sedang dihukum di depan kelas.
Sudah 2 bulan aku satu kelas dengannya, tapi sebatas ngobrol atau saling melempar senyum saja gak pernah. Ya Tuhan.. Dia benar-benar gak peka sama perasaanku. Ya.. Memang seharusnya begitu. Karena dia sudah mempunyai seorang pacar. Setiap hari pacarnya datang ke kelasku.
Rasanya muak dengan semuanya. Bagaimana tidak? Mereka berdua beradegan romantis di depan mataku. Tapi, ternyata waktu membuatku terbiasa dengan semua itu. Aku tabah. Cuma buat dia. Ya.. Cuma buat dia.
Semakin hari aku semakin tidak kuat menyembunyikan perasaanku. Aku masih mencintainya. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membisu.
Ternyata Tuhan benar-benar mendengar doaku. Setelah berbulan-bulan aku hanya terlihat seperti orang asing baginya. Sekarang tidak lagi. Dia pindah tempat duduk di sampingku. Ya meskipun berjarak satu bangku. Tapi itu masih bisa dikategorikan di sampingku.
“Eh Stef.. Minjem headsetmu” kataku pada sahabatku Stefi saat jam pelajaran agama kosong
“Aku juga pinjem step..”
“Enak aja, aku duluan yang pinjem..”
“gak bisa, aku duluan stef..”
“Aku duluan!”
“Lagian Handphonemu kan lagi dicharger..”
“iya.. Iya.. Nih!” aku menyerahkan headset kepadanya.
Dia hanya menatapku, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Itu untuk pertama kalinya aku bertengkar dengannya sejak satu kelas.
Saat jam terakhir, dia pindah duduk di belakangku. Aku benar-benar tidak berani menolehkan kepalaku. Tiba-tiba fifid tertawa sendiri “Kenapa kamu haaa?” tanyaku.
“Lihat aja. Di jilbabmu ada tulisan apa? Hahaha..”
Aku menoleh dan ternyata ada kertas yang menempel dengan tulisan yang benar-benar tidak sopan. “Siapa yang nempelin ini? Kamu far?” tanyaku sambil mendelik ke arah ghofar.
“Enak aja! Tuu pelakunya si vicky..” Aku tidak berani berbuat apa-apa kalau dia yang melakukan. Ku lihat dia pura-pura tidur. Ingin rasanya menjitak kepalanya itu. Tapi aku tidak berani.
Semakin hari aku sering bercandaan dengannya , meskipun bareng teman-teman yang lain. Tapi itu cukup membuatku merasa bahagia. Saat jam istirahat, dia disamperin pacarnya. Ya itu memang sudah menjadi rutinitas mereka. Cemburu kerap kali menghampiri. Tapi aku mencoba tetap tabah.
Banyak hal yang membuatku merasa heran, ketika kaos olahragaku hilang. Beberapa hari kemudian. Kaos olahraganya juga hilang. Aku heran sekali sungguh. Apa ini yang dinamakan jodoh? Tanpa diduga banyak peristiwa yang tanpa sengaja bisa sama. Aku harap begitu. Hingga detik ini aku masih setia menunggumu, dan mencoba tetap tabah meski aku sering melihatmu bersama pacarmu.
Penulis Cerita: Ana Suciati
 

Pangeran SMA

| komentar

Suatu hari di sebuah sekolah ternama di Jakarta, ada seorang anak yang bernama Nera Aulia. Dia adalah sosok yang lincah, periang, lumayan cantik, namun agak lama lodingnya dalam berfikir atau biasa disebut LoLa, selain itu ia juga lebay. Ia anak dari keluarga yang cukup mampu dari segi ekonomi dan juga pintar.
Pagi itu Nera bangun kesiangan dan akhirnya ia pun terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, ia merasa aneh karena anak-anak memperhatikan dirinya sambil tertawa. Dengan wajah polos dan lugunya Nera pun menutupi mukanya dengan buku sambil berlari ke kelas.
Setelah sampai di kelas, ia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Teman-temannya nampak memperhatikan Nera dengan seksama namun dengan muka yang tersenyum-senyum. Akhirnya salah satu teman Nera mengetakan “Jadi orang tuh jangan ke PDan toh ndok, ndak liat itu kaos kakimu yang kanan sama yang kiri beda-beda.” Itulah perkataan salah satu teman Nera dengan logat Jawanya yang kental. Setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Nera hanya diam dengan wajah memelas.
Bel masuk pun berbunyi, di tengah pelajaran yang sedang berlangsung masuklah seorang cowok yang membuat suasana kelas yang tadinya berisik menjadi tenang. Cowok itu adalah Kak Reyhan, seorang ketua OSIS di sekolah itu. Sosok yang tampan, tinggi, putih, pokoknya idaman semua wanita di sekolah itu. Nera bergegas merapikan dirinya sambil duduk manis memperhatikan Kak Reyhan. Seperti putri kerajaan yang sedang menyambut pangerannya untuk minum teh bersama. Kak Reyhan adalah inceran Nera dari pertama kali daftar di sekolah itu. Menurut Nera senyumnya kak Reyhan itu kayak salju di puncak Gunung Jayawijaya, susah dilihat tapi sekalinya dilihat indah banget. Matanya kak Reyhan itu kayak suasana malam di Menara Eiffel yang romantis dan indah abis. Ya begitulah Nera dikala lebaynya kambuh.
Kak Reyhan pun bicara, ia akan memberikan beberapa pengumuman. Nera pun memperhatikan dengan seksama lebih tepatnya memperhatikan mukanya kak Reyhan. Udah banyak cara yang Nera lakuin biar bisa deket sama kakak kece itu mulai dari nge add FBnya, follow twitternya, add e-mailnya, pokoknya banyak tapi nggak ada satu pun yang dibales. Bahkan Nera sempet pura-pura kehilangan kunci motor dan belaga panik di depan Kak Reyhan biar bisa deket beberapa menit sama kakak itu, saat itu kak Reyhan cuma diam melihat Nera yang panik kayak kebakaran jenggot alias enggak bisa diem. Akibatnya kunci motor yang sebenarnya ada di kantong bajunya pun jatuh. Betapa malunya Nera saat itu. Kak Reyhan hanya menggelengkan kepalanya sambil senyum dan pergi meninggalkan Nera.
Suatu hari Nera sedang mainin twitternya, dengan aktivitas rutinnya yaitu ngeliatin profile kak Reyhan, terus tiba-tiba dia berniat ngechek DM, katanya siapa tau ada DM nyasar gitu, apalagi dari Kak Reyhan. Ternyata harapan DM dari Kak Reyhan yang tadinya cuma mimpi. Tapi mungkin hari itu Nera lagi beruntung, dia difollowback sama kak Reyhan, udah gitu di mention lagi. Pas dia baca tangannya langsung gemeteran, mukanya langsung sumringah dan yang pasti lebaynya kambuh. Nera bilang rasanya dapet followback sama mention dari Kak Reyhan itu kayak rasa seneng bisa mendaki Gunung Mahameru pas tanggal 17 Agustus bareng personil Super Junior.
Seketika Nera tersadar dari khayalannya dan bilang “apaan sih kok kayak gini, gak boleh lebay nanti Kak Reyhan ilfeel…, tapi kan ada gery salut jadinya gak bakal ilfeel lagi. Udah ah jadi ngomong sendiri gue, mending bales mentionnya Kak Reyhan.
Dari mention akhirnya mereka pun semakin dekat dari hari ke hari, mereka pun berlanjut ke DM dan tukeran nomor HP. Karena kekagumannya yang berlebihan Nera pun melupakan tugas utamanya yaitu belajar, nilai-nilainya juga banyak yang menurun, namun ia tidak memikirkannya. Nera merasa kalau Kak Reyhan menyukainya, sampai pada suatu malam ia mendapat sms dari kak Reyhan.
Isi SMS
Kak Reyhan: Nera? Lagi sibuk gak?
Nera: Gak kok kak. Ada apa nich tumben sms?
Kak Reyhan: Iya ada yang mau aku omongin.
Nera: Ngomong aja kak!?
Kak Reyhan: Tapi kamu jangan marah ya? Aku juga malu ngomongnya.
Nera pun membiarkan semua tugasnya dan fokus pada HPnya, ia merasa dag dig dug, bagaikan ada band metal yang ada di hatinya.
Lanjutan sms
Nera: Iya kak, udah ngomong aja!
Kak Reyhan: Kita kan udah lama kenal, semakin hari juga kan semakin deket, Aku udah tau kamu. Aku boleh minta sesuatu gak dari kamu?
Nera: Emang kakak mau minta apa?
Kak Reyhan: Bantuin aku, aku mau nyatain perasaan sama temen kamu yang Namanya Neira Aulia
Saat membaca pesan itu Nera hanya diam, bingung dan seketika konser metal di hatinya berhenti dan berubah jadi konser lagu galau. Kalau lebaynya kambuh pasti dia bakal bilang rasanya itu kayak lagi terbang tinggi-tinggi hampir ke bulan tinggal napakin kaki terus kepeleset dan jatuh di bumi pas di atas batu karang.
Nera tidak membalas sms itu, dan mennonaktifkan HPnya, ia hanya berbaring di atas tempat tidur bertemankan bantal guling dan tumpukkan buku PR yang satu pun belum dikerjakan. Sambil berusaha menghibur diri bahwa Kak Reyhan salah ketik maksudnya itu Nera bukan Neira.
Hari pun berlalu, sudah satu minggu ini Nera tidak melihat Kak Reyhan. Tapi suatu hari saat jam istirahat di kantin sekolah, tanpa sengaja ia melihat Kak Reyhan yang sedang duduk di kantin bersama Neira. Nera hanya diam sambil memperhatikan mereka yang sedang bercengkrama dengan senangnya. Salah seorang teman Nera pun bicara “ternyata bener ya mereka udah pacaran, sumpah serasi banget ya kayak kabayan sama nyi iteng.” Nera pun berfikir demikian, Cuma bukan kayak kabayan sama nyi iteng tapi kayak pangeran William sama Kate Miedleton. Sejak saat itu Nera berfikir bahwa harapannya untuk mendapatkan kak Reyhan benar-benar musnah kayak gelas pecah yang dilindes buldoser yang super berat ditambah beban 100 kg terus jadi bener-bener berkeping-keping dan gak mungkin disatuin lagi.
Tapi Nera berusaha sabar dan positive thinking tapi lebaynya tetep ada “ya semoga aja nanti gue bisa dapetin pangeran yang lain dan yang pasti enggak boleh lepas lagi, kalau perlu semua muka cewek cantik gue tempelin poster muka cowok biar gak ada yang nyaingin gue.”
Sejak kejadian itu Nera pun menjadi lebih fokus pada pelajaran dan cita-citanya, ia berusaha mengejar semua nilainya, ia menjadi super aktif dalam belajar. Ini semua karma ia melihat tayangan televisi yang menayangkan tentang seorang anak yang berjuang unuk sekolah karena orangtuanya tidak mampu. Sejak saat itu ia berfikir betapa bodohnya ia kalau sampai menyia-nyiakan semua fasilitas yang ia punya hanya untuk mencapai cita-citanya hanya karena seorang cowok.
Penulis Cerita: Emy Noviani
 

Pangeran SMA

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Suatu hari di sebuah sekolah ternama di Jakarta, ada seorang anak yang bernama Nera Aulia. Dia adalah sosok yang lincah, periang, lumayan cantik, namun agak lama lodingnya dalam berfikir atau biasa disebut LoLa, selain itu ia juga lebay. Ia anak dari keluarga yang cukup mampu dari segi ekonomi dan juga pintar.

Pagi itu Nera bangun kesiangan dan akhirnya ia pun terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, ia merasa aneh karena anak-anak memperhatikan dirinya sambil tertawa. Dengan wajah polos dan lugunya Nera pun menutupi mukanya dengan buku sambil berlari ke kelas.

Setelah sampai di kelas, ia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Teman-temannya nampak memperhatikan Nera dengan seksama namun dengan muka yang tersenyum-senyum. Akhirnya salah satu teman Nera mengetakan “Jadi orang tuh jangan ke PDan toh ndok, ndak liat itu kaos kakimu yang kanan sama yang kiri beda-beda.” Itulah perkataan salah satu teman Nera dengan logat Jawanya yang kental. Setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Nera hanya diam dengan wajah memelas.

Bel masuk pun berbunyi, di tengah pelajaran yang sedang berlangsung masuklah seorang cowok yang membuat suasana kelas yang tadinya berisik menjadi tenang. Cowok itu adalah Kak Reyhan, seorang ketua OSIS di sekolah itu. Sosok yang tampan, tinggi, putih, pokoknya idaman semua wanita di sekolah itu. Nera bergegas merapikan dirinya sambil duduk manis memperhatikan Kak Reyhan. Seperti putri kerajaan yang sedang menyambut pangerannya untuk minum teh bersama. Kak Reyhan adalah inceran Nera dari pertama kali daftar di sekolah itu. Menurut Nera senyumnya kak Reyhan itu kayak salju di puncak Gunung Jayawijaya, susah dilihat tapi sekalinya dilihat indah banget. Matanya kak Reyhan itu kayak suasana malam di Menara Eiffel yang romantis dan indah abis. Ya begitulah Nera dikala lebaynya kambuh.

Kak Reyhan pun bicara, ia akan memberikan beberapa pengumuman. Nera pun memperhatikan dengan seksama lebih tepatnya memperhatikan mukanya kak Reyhan. Udah banyak cara yang Nera lakuin biar bisa deket sama kakak kece itu mulai dari nge add FBnya, follow twitternya, add e-mailnya, pokoknya banyak tapi nggak ada satu pun yang dibales. Bahkan Nera sempet pura-pura kehilangan kunci motor dan belaga panik di depan Kak Reyhan biar bisa deket beberapa menit sama kakak itu, saat itu kak Reyhan cuma diam melihat Nera yang panik kayak kebakaran jenggot alias enggak bisa diem. Akibatnya kunci motor yang sebenarnya ada di kantong bajunya pun jatuh. Betapa malunya Nera saat itu. Kak Reyhan hanya menggelengkan kepalanya sambil senyum dan pergi meninggalkan Nera.

Suatu hari Nera sedang mainin twitternya, dengan aktivitas rutinnya yaitu ngeliatin profile kak Reyhan, terus tiba-tiba dia berniat ngechek DM, katanya siapa tau ada DM nyasar gitu, apalagi dari Kak Reyhan. Ternyata harapan DM dari Kak Reyhan yang tadinya cuma mimpi. Tapi mungkin hari itu Nera lagi beruntung, dia difollowback sama kak Reyhan, udah gitu di mention lagi. Pas dia baca tangannya langsung gemeteran, mukanya langsung sumringah dan yang pasti lebaynya kambuh. Nera bilang rasanya dapet followback sama mention dari Kak Reyhan itu kayak rasa seneng bisa mendaki Gunung Mahameru pas tanggal 17 Agustus bareng personil Super Junior.

Seketika Nera tersadar dari khayalannya dan bilang “apaan sih kok kayak gini, gak boleh lebay nanti Kak Reyhan ilfeel…, tapi kan ada gery salut jadinya gak bakal ilfeel lagi. Udah ah jadi ngomong sendiri gue, mending bales mentionnya Kak Reyhan.

Dari mention akhirnya mereka pun semakin dekat dari hari ke hari, mereka pun berlanjut ke DM dan tukeran nomor HP. Karena kekagumannya yang berlebihan Nera pun melupakan tugas utamanya yaitu belajar, nilai-nilainya juga banyak yang menurun, namun ia tidak memikirkannya. Nera merasa kalau Kak Reyhan menyukainya, sampai pada suatu malam ia mendapat sms dari kak Reyhan.

Isi SMS
Kak Reyhan: Nera? Lagi sibuk gak?
Nera: Gak kok kak. Ada apa nich tumben sms?
Kak Reyhan: Iya ada yang mau aku omongin.
Nera: Ngomong aja kak!?
Kak Reyhan: Tapi kamu jangan marah ya? Aku juga malu ngomongnya.

Nera pun membiarkan semua tugasnya dan fokus pada HPnya, ia merasa dag dig dug, bagaikan ada band metal yang ada di hatinya.

Lanjutan sms

Nera: Iya kak, udah ngomong aja!
Kak Reyhan: Kita kan udah lama kenal, semakin hari juga kan semakin deket, Aku udah tau kamu. Aku boleh minta sesuatu gak dari kamu?
Nera: Emang kakak mau minta apa?
Kak Reyhan: Bantuin aku, aku mau nyatain perasaan sama temen kamu yang Namanya Neira Aulia

Saat membaca pesan itu Nera hanya diam, bingung dan seketika konser metal di hatinya berhenti dan berubah jadi konser lagu galau. Kalau lebaynya kambuh pasti dia bakal bilang rasanya itu kayak lagi terbang tinggi-tinggi hampir ke bulan tinggal napakin kaki terus kepeleset dan jatuh di bumi pas di atas batu karang.

Nera tidak membalas sms itu, dan mennonaktifkan HPnya, ia hanya berbaring di atas tempat tidur bertemankan bantal guling dan tumpukkan buku PR yang satu pun belum dikerjakan. Sambil berusaha menghibur diri bahwa Kak Reyhan salah ketik maksudnya itu Nera bukan Neira.

Hari pun berlalu, sudah satu minggu ini Nera tidak melihat Kak Reyhan. Tapi suatu hari saat jam istirahat di kantin sekolah, tanpa sengaja ia melihat Kak Reyhan yang sedang duduk di kantin bersama Neira. Nera hanya diam sambil memperhatikan mereka yang sedang bercengkrama dengan senangnya. Salah seorang teman Nera pun bicara “ternyata bener ya mereka udah pacaran, sumpah serasi banget ya kayak kabayan sama nyi iteng.” Nera pun berfikir demikian, Cuma bukan kayak kabayan sama nyi iteng tapi kayak pangeran William sama Kate Miedleton. Sejak saat itu Nera berfikir bahwa harapannya untuk mendapatkan kak Reyhan benar-benar musnah kayak gelas pecah yang dilindes buldoser yang super berat ditambah beban 100 kg terus jadi bener-bener berkeping-keping dan gak mungkin disatuin lagi.

Tapi Nera berusaha sabar dan positive thinking tapi lebaynya tetep ada “ya semoga aja nanti gue bisa dapetin pangeran yang lain dan yang pasti enggak boleh lepas lagi, kalau perlu semua muka cewek cantik gue tempelin poster muka cowok biar gak ada yang nyaingin gue.”

Sejak kejadian itu Nera pun menjadi lebih fokus pada pelajaran dan cita-citanya, ia berusaha mengejar semua nilainya, ia menjadi super aktif dalam belajar. Ini semua karma ia melihat tayangan televisi yang menayangkan tentang seorang anak yang berjuang unuk sekolah karena orangtuanya tidak mampu. Sejak saat itu ia berfikir betapa bodohnya ia kalau sampai menyia-nyiakan semua fasilitas yang ia punya hanya untuk mencapai cita-citanya hanya karena seorang cowok.

Penulis Cerita: Emy Noviani
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami