Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Bolehkah Aku Membenci Ayah ?

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Orangtua merupakan tumpuan bagi setiap anak, memiliki orangtua yang lengkap adalah keinginan setiap anak di muka bumi ini, tak terkecuali dengan ku. Namun, takdir berkata lain bagiku. Lah Peristiwa 16 tahun yang silam telah merubah kehidupan menjadi sosok anak yang tumbuh tanpa peranan seorang Ayah. Memang semua terbayang sangatlah berat namun kini telah ku lalui semua hingga aku tumbuh menjadi seorang remaja yang kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup. Tanpa kehadiran sosok ayah yang mendampingi ku tentu ada sosok lain yang menggantikannya tidak lain dan tidak bukan adalah ibu. Ibu bagi ku adalah sosok luar biasa yang memiliki peran ganda oleh keadaan, ia menjadi sosok ibu yang penuh kasih sayang dalam merawat anaknya hingga menjadi sosok perkasa mencari nafkah untuk membiayai kehidupan kedua anaknya.

Mengingat kembali memori 16 tahun yang lalu saat kisah getir itu terjadi pada diriku dan keluargaku sudah tentu berdampak pada psikologis ku. Sering terlintas di bayang ku saat pertengkaran itu, hal ini sering membuat ku seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat namun berkat orang-orang yang berada di samping ku membuat ku tegar dan kuat. Memang aku tak pernah kekurangan kasih sayang karena ibu telah memberikan sayang yang lebih kepada ku namun tak bisa dipungkiri kehadiran sosok ayah sangat ku rindukan.

Pernah suatu ketika disaat aku masih berada di bangku SD aku mengalami pergejolakan yang begitu dahsyat, aku tidak tahu apa dan siapa itu sosok ayah sehingga membuat aku bertanya dan terus bertanya. Hal ini berawal ketika masih kelas 1 SD yang setiap harinya sering bernyanyi bersama saat hendak pulang sekolah dan disaat itu yang dinyanyikan adalah lagu yang sangat identik dengan anak-anak, karena sangat senang aku pun ikut bernyanyi bersama-sama.
“satu-satu aku sayang ibu, dua-dua aku sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanya”
Nah, yang mengganjal di benak ku siapakah sosok ayah yang ada pada lirik lagu ini.

Sesampainya di rumah sambil mengerjakan PR yang didampingi ibu aku bertanya padanya.
“bu, teman ku roni setiap hari diantar jemput ayahnya sekolah, aku kok enggak bu?, ayah ku mana bu? Kok aku gak pernah jumpa ayah” Tanya ku polos.
“ayah kamu lagi kerja nak” jawab ibu sambil meneteskan air matanya.
“kok gak pulang-pulang sih bu? Terus ibu kok menangis” Tanya ku kembali
“ayah kamu lama pulang sayang, mungkin dia lagi sibuk. Kamu jangan Tanya-tanya ayah lagi” jawab ibu.
“ia bu, tapi ibu jangan nangis lagi ya” ujar ku. Ibu hanya tersenyum menjawab perkataan ku sembari menghapus air matanya.

Sejak saat itu tidak pernah menanyakan ayah lagi kepada ibu karena aku takut ibu menangis lagi. Namun semua pertanyaan ku terjawab sudah setelah aku beranikan diri bertanya kepada pamanku dimana ayah, sejak saat itu aku tahu semua tentang ayah dan aku sangat kecewa kepada ayah, hingga peristiwa itu terjadi, saat aku kelas 3 SD nenek ku meninggal dunia dan disitulah untuk yang pertama kalinya aku bertemu dengan sosok yang sering disebut ayah tersebut, namun tidak tahu kenapa aku tidak memiliki rasa apapun kepada ayah yang ada malah rasa marah ku kepada ayah yang telah menelantarkan kami.

Kebencian ku kepada ayah makin menjadi disaat ibu harus menjadi TKW di Negeri tetangga, semua dilakukan ibu semata-mata untuk menghidupi kami anak-anaknya, disini aku mulai mengerti betapa perjuangan seorang ibu yang sangat luar biasa, namun dimana sosok yang harusnya bertanggung jawab akan nafkah keluarga tersebut? semua hanya omong kosong belaka. Kepergian ibu menjadi TKW mengharuskan kami tinggal bersama tante dan nenek, mereka sangat menyayangi kami karena semenjak perceraian ayah dan ibu mereka turut serta merawat ku dan adikku, walaupun kasih sayang yang diberikan tante dan nenek sangat besar dan tidak membuat kami kekurangan kasih sayang namun tentu saja aku sangat sedih harus berpisah dengan ibu terlebih adikku yang masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian lebih dari ibu namun kini ia harus berpisah dari ibu, hal ini tentu saja membuat kebencianku terhadap ayah tumbuh dengan subur.

Rasa kebencianku terhadap ayah pun semakin terpupuk disaat aku menginjak bangku SMA karena disini aku merasa begitu besar perjuangan seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, walau keadaan ekonomi sangatlah memprihatinkan. Biaya sekolah yang mahal ditambah dengan harga buku pegangan yang selangit membuatku hampir putus asa untuk melanjutkan sekolah. Namun semangat dan kemauan membuat ku bertahan melihat besarnya perjuangan ibu, betapa kecewanya ia jika aku putus sekolah. Lagi-dan lagi hal ini membuat ku makin membenci ayah di balik perjuangan ibu yang begitu besar kemana sosok ayah tersebut? Namun, keadaan ini memotivasi diriku agar aku belajar segiat mungkin untuk membahagiakan ibu dan membuat perjuangannya selama ini tidak sia-sia.

Kini aku telah beranjak dewasa dan tetesan keringat ibu ku telah terjawab semua, berkat perjuangannya yang selalu menjadi motivasi bagiku telah membawa ku meraih beasiswa untuk duduk di bangku perguruan tinggi negeri ternama di kota Medan ini. Semua ini kupersembahkan sebagai ucapan terimakasih ku kepada ibu yang telah membesarkan ku dan telah memberikan yang terbaik kepada ku. Dan aku berjanji kelak jika aku telah selesai dari pendidikan ku, aku akan bekerja dan membahagikan ibu ku yang telah berjuang untuk ku. Masalah ayahku kini meninggalkan pertanyan besar di benakku “boleh kah aku membenci ayah?”. Namun semua itu hanyalah penggalan masa lalu yang harus ku simpan baik-baik.

Penulis Cerita: Abdul Rahman Sinaga
 

Bu Hamidah Pergi Haji

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Saat itu bu Hamidah bermimpi. Bu Hamidah bermimpi sedang pergi haji. Bu Hamidah ingin sekali pergi haji. Tapi pass ada gangguan terus. Keesokan harinya, bu Hamidah menceritakan mimpinya itu kepada Novita, Anita, Dinda, Fitri dan Sinta.
“Dinda coba panggil teman terdekatmu yang baik hati. Nanti teman yang kamu cari dan kamu akan di ceritakan tentang mimpi Ibu yang menakjubkan. Mau tidak?” tanya Bu Hamidah. Dinda menjawab “mau Bu mau”. “ya sudah. Sekarang panggilkan temanmu.” Jawab Bu Hamidah lagi.

Akhirnya Dinda memanggil teman-teman-nya. “hai, Sinta, Fitri, Novita dan Anita kita di panggil sama Bu Hamidah!” seru Dinda.
“kita di panggil sama Bu Hamidah. Ada apa ya?” mereka heran. Mereka sangat kaget karena tidak biasanya Bu Hamidah memanggil mereka.

Sesampai-nya di ruang Bu Hamidah.
“ada apa ya Bu memanggil kita semua?” tanya mereka.
“tidak, Ibu hanya ingin menceritakan kepada kalian” kata Bu Hamidah.
“Ibu ingin bercerita tentang apa?” tanya mereka semua.
“semalam Ibu bermimpi kalau Ibu pergi ke tanah suci. Semoga mimpi Ibu terkabul. Kalian doa-kan Ibu ya, semoga Ibu bisa pergi haji atau pergi ke tanah suci.
“ekhm… iya Bu kami akan mendoa-kan Ibu semoga Ibu bisa pergi ke tanah suci dan bawakan kami oleh-oleh ya!” seru Dinda.
“Dinda, kan Bu Hamidah belum pergi haji. Gimana sih?” tanya Anita.
“ekhm… aku lupa. He… he…!” seru Dinda.

Akhirnya setelah mereka mendengarkan cerita tentang mimpi-nya Bu Hamidah. Mereka memberi tahu kepada teman-temannya agar mendoakan Ibu Hamidah supaya bisa naik haji. Tiba-tiba saat Novita belum selesai berbicara, malahan sama si Syifa dicela.
“hai, kalian semua, sini ngumpul. Ada pengumuman…?” kata-kata Novita yang telah dicela oleh Syifa.
“ihh… ada apa sih rame bangeut deh? Aku gak suka sama tempat rame kayak begini!” kata Syifa.
“ihh… Syifa jangan mengganggu gera. Udah tahu emangnya apa pengumuman-nya?” tanya Mereka.
“pasti besok ada pelajaran memasak, iya kan?” jawab Syifa.
“ekhm… bukan. Kamu mah sok tahu deh makanya dengerin dulu apa kata orang. Jangan orang lagi ngomong malahan kamu cela.” kata Dinda.
“Udah Din. Gak apa-apa kok biarin aja, biar dia gak tau apa pegumuman-nya. Jangan ngebentak orang ya, kan kasihan. Coba kalau kamu di gituin pasti kamu sedih. Nanti malahan orang itu nangis. Kasihan si Syifa. Kan dia yatim piatu. Nanti kalau kamu ngomelin Syifa lagi, nanti orangtua-nya sedih melihat anak-nya di bentak orang lain. Lebih baik yang pas waktu omongan sejak kapan gitu, kita gugurin aja. Lebih baik kita masukan si Syifa ke best friend kita aja, boleh ya? Nanti daripada Syifa makin bandel gimana hayoo? Kan kita bisa menjaga dia, menasehati dia, dan yang lain-nya. OK!” kata Novita.
“ooo… ya sudah. Aku turutin apa katamu saja.” jawab Dinda.
“bagaimana kalian setuju tidak?” tanya Novita.
“SETUJU…” kata mereka.
“oke sekarang balik lagi ke pengumuman ya. Pengumuman bahwa Ibu Hamidah bermimpi kalau Ibu Hamidah pergi haji. Ibu Hamidah jadi ingin melakukan itu. Jadi kalian doa-kan ya semoga Ibu Hamidah bisa pergi haji. Amiiinnn.” kata Novita.
“Amiiiinnn!” seru mereka.
“Syifa maafin Dinda ya? Dinda bukan-nya mau ngeledek atau ngapain kamu. Dia cuma mau ngasih tau kamu. Cuman begitu doang kok. Kamu mau tidak jadi best friend kita? Nanti kita lindungin kamu kok nanti kalau ada yang bandel selain nanti kita urusin. Itu mah masalah cetil!” seru Fitri.
Akhirnya mereka jadi berenam. Saat itu Anita sedang bingung, bagaimana Anita mengumpulkan uang untuk pergi haji Bu Hamidah.
“eh Nov, lebih baik kita ngumpulin uang untuk Bu Hamidah aja. Kaita kasih tahu ke anak lain.
“oh iya-ya, ya sudah nanti aku bilangin ke teman-teman deh!” seru Novita.
Setelah memberi tahu kepada teman-temannya kalau mengumpulkan uang untuk Bu Hamidah. Mereka bermain sejenak. Setelah bermain, mereka pergi ke tempat memasak untuk belajar dan untuk di makan (makanan-nya bukan alat-alatnya.) Setelah mereka memasak mereka pergi beristirahat atau tidur di kamar masing-masing.

Keesokan harinya, Dinda pergi ke kamar teman-nya untuk membangunkan mereka. Setelah mereka bangun mereka ingin pergi ke kamar anak-anak asrama. Untuk meminta sumbangan untuk Bu Hamidah.
“eh kita ke kamar anak-anak yuks, untuk meminta sumbangan!” seru Sinta.
“ayuks!” seru Fitri.
Setelah mereka pergi meminta sumbangan kepada anak asrama, mereka pergi ke ruang memasak kembali.
“eh, kita pergi ke ruang memasak yuks!” seru Syifa.
“ayuks. Gening kamu ngajakin kita ke ruang memasak biasanya aja Novita!” heran Dinda.
“ahh… gak pa-pa deh yang penting nanti Bu Hamida dating dan kita berikan sumbangan itu untuk Bu Hamidah. Ayu ah… masa kita diam terus di lapangan. Nanti disangka kita orang gila lagi.” kata Syifa.

Sesampainya di ruang memasak.
“eh kita masak apa yang?” tanya Novita.
“lebih baik kita masak sop aja.” kata Syifa.
“oh iya-ya. Gening kamu mau masak itu. Biasanya, kalau masak sayur marah!” seru Fitri.
“biarin. Kan lagi kepengen.” kata Syifa.
Akhirnya mereka memasak sop. Setelah memasak sop, tiba-tiba Bu Hamidah mengagetkan kita semua. dengan cara mematikan lampu.
“ceklekkk… (suara saklar)” Bu hamidah mematikan lampu.
“waduh, mati lampu nih. Gimana nih? Nanti kalau ada hantu begimana?” ketekautan Dinda dan Syifa pun mulai.
“sudah kok tenang saja. Itutadi Ibu kok yang mematikan lampu ini. Untuk menguji kalian. Apakah kalian takut dengan hantu?” tanya Bu Hamidah.
“tidak kok Bu cuman yang takut itu Dinda sama Syifa. Nanti kita latih lagi biar tidak takut sama hantu deh!” seru Anita.

Setelah mereka memasak. Mereka memberikan infaq yang sudah mereka kumpulkan. Uang yang untuk pergi haji itu sudah cukup atau pas.
“Bu ini sumbangan dari kami dan anak-anak asrama. Semoga Ibu senang. Infaq ini untuk Ibu pergi haji dan yang lainnya.” kata mereka.
“terima kasih anak-anak. Nanti kalau Ibu kesana. Ibu bawakan oleh-oleh deh!” Seru Bu Hamidah.

Bebereapa hari kemudian. Bu Hamidah pergi ke bandara untuk pergi ke Mekah. Lalu saat di perjalanan, anak-anak sedang asyik mengobrol dengan Bu Hamidah.
“Bu, kita doakan nanti di perjalanan baik-baik saja ya!” seru mereka. Ibu Hamidah hanya mengangguk. Sesampainya di bandara. Bu Hamidah tahu kalau jika pergi jauh dari anak-anak, pasti anak-anak akan sedih. karena Bu Hamidah adalah guru yang terbaik di asrama. Tapi, saat menanyakan kepada anak-anak
“coba Ibu mau nanya, kalian jika ditinggal sama Ibu nangis tidak?” tanya Bu Hamidah.
Mereka menjawab “insyaalah tidak Bu.” jawab mereka.
“ya sudah, nanti kalian doakan Ibu ya supaya Ibu bisa berangkat dengan selamat.” kata Bu Hamidah.
“ya Bu nanti kita doakan Ibu.” kata mereka.
Saat di tempat pemeriksaan barang, ada informasi.
“informasi, bahwa pemberangkatan dari Indonesia ke Mekah akan segera berangkat.” kata orang yang memberitahu pengumuman.
Setelah itu Bu Hamidah meminta doa restu untuk anak-anak supaya perjalanan Ibu Hamidah ke Mekah selamat.
“doakan Ibu yah, semoga selamat sampai di tempat tujuan.” kata Bu Hamidah.
Akhirnya Ibu Hamidah berangkat menuju Mekah.

Sesampainya di Mekah.
“alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Mekah.” kata Bu Hamidah dalam hati.
Ibu Hamidah tidak menyangka, kalau Ibu Hamidah bisa melaksanakan pergi haji bersama yang lain. Bu Hamidah bersama orang-orang yang ingin pergi haji pun sedang menginap di hotel yang terdekat.

Keesokan harinya, Bu Hamidah dan yang lain-nya pergi ke tempat Masjidil Haram. Selama 2 hari Bu Hamidah dan yang lain di situ hanya saat malam Bu Hamidah pergi ke hotel. Lalu subuh-nya kesana lagi.
2 minggu kemudian. Anak-anak di asrama merindukan Bu Hamidah.
“aduh gimana ya keadaan Bu Hamidah?” Novita bertanya.
“ekhm… gak tau deh.” jawab Dinda
Selama itu Bu Hamidah sedang membelikan oleh-oleh untuk anak-anak asrama. karena, mereka sudah membantu Bu Hamidah pergi ke tanah suci. Akhirnya setelah membeli oleh-oleh untuk anak-anak di asrama. Bu Hamidah pergi ke tempat air zam-zam. Ibu Hamidah membawa air zam-zam untuk oleh-oleh. Pokoknya oleh-olehnya itu mainan dan makanan.

5 minggu kemudian…
Bu Hamidah pulang ke asrama. Sesampainya di bandara yang ada di mekah. Ibu Hamidah menunggu di ruang tunggu. Sesampainya pesawat yang akan menuju ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta. Anak-anak sudah menunggu di bandara.
“bagaimana Bu di sana? Enak tidak?” tanya Dinda.
“ya, seru kok. Ibu bawakan kalian oleh-oleh looo…!” seru Ibu Hamidah
“apa aja tuh Bu oleh-olehnya?” tanya mereka.
“apa aja dong!” seru Bu Hamidah.
Akhirnya setelah Bu Hamidah memberikan oleh-oleh kepada mereka, Ibu Hamidah juga memasak makanan kesukaan mereka.

Penulis Cerita: Novita Putri Lestari
 

Tegar, Ikhlas dan Bersyukur

| komentar

Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan tujuan yang besar “aku ingin menjadi orang yang di akui dimanapun aku berada”.

Keluargaku Alhamdulillah keluarga yang harmonis walaupun kami hidup dengan sederhana dan sering juga kekurangan, tapi bagaimanapun juga harus tetap di syukuri karena bersyukur itu mendamaikan. Aku bersekolah di smk unggulan di kabupatenku dan sekolah ku lumayan jauh dari desaku yang sehari-hari ku datangi dengan sepeda ontel ku yang sudah tua.

Jam sudah menunjukkan pukul 15:00 bel sekolah berbunyi dengan keras, panjang dan berisik, itu pertanda aku harus pulang, langsung aku ke parkiran motor tapi bukan untuk mengambil motor disana tapi aku mengambil sepeda ontel kesayangan ku pembelian dari ayah ku sewaktu aku masih smp.

Dengan cepat aku keluar gerbang sekolah, suasananya lumayan terik dan berdebu yang membuat aku malas mengayuh sepedaku. cukup melelahkan, di setiap menit aku selalu mendengar klakson motor teman-temanku yang satu persatu menyalipku, ada sedikit perasaan iri di hatiku tapi apa boleh di kata aku terlahir bukan dari keluarga berada dan aku tidak mungkin merengek meminta motor ke orang tuaku karena aku tau itu hanya akan menambah beban pikiran mereka walaupun dua minggu yang lalu aku sempat menyindir kepada ayahku tentang enaknya kalau sekolah naik sepeda motor tapi itu Cuma candaan saja.

Satu jam aku mengayuh sepeda ku tidak terasa tinggal beberapa tanjakan lagi yang harus aku lalui sampai aku tiba di depan rumahku, aku menginjak dengan keras pedal sepedaku tapi prakkk… rantai sepedaku putus Masya Allah padahal 3 hari yang lalu sudah diperbaiki tapi hari ini putus lagi, Akhirnya aku menuntun sepedaku sampai di depan rumahku.

Setibanya di rumah aku langsung melepas jaket dan langsung menjemur baju seragamku yang basah oleh keringat.
“sudah pulang Rif…?” tanya ibuku “iya buk. “tadi kamu di cariin pakde rif suruh bantuin giling padi soalnya bapakmu ke kebun belum pulang, nanti uangnya buat kamu saja” padahal sepulang sekolah saya mau main futsal sama teman-teman tapi aku harus bisa memilih mana yang lebih penting akhirnya aku mengiyakan permintaan ibuku.

Setelah ganti baju dan minum aku langsung menuju tempat penggilingan padi milik pakdeku disana kulihat banyak sekali padi yang harus digiling huhh dalam hatiku menggumam “segini banyak kapan kelarnya mana perut ini laper banget belum makan” tapi sejenak aku lupakan pikiran itu dan langsung saja aku mengangkat sak-sak padi yang siap di giling ke mesin penggiling. pakdeku hanya tersenyum melihatku, walaupun dari kejauhan aku masih bisa melihat senyuman kecil dari bibirnya. Gatal sekali badan ini karena terkena padi-padi yang aku angkat di samping itu perutku juga lapar sekali. tapi aku tidak mau mengeluh dan terus mengeluh karena itu tidak membuat pekerjaanku menjadi lebih ringan yang ku bisa adalah terus mengangkat padi-padi ini hingga selesai.

Dua jam sudah berlalu dan tidak terasa akhirnya sak terakhir aku angkat dan langsung aku masukkan ke mesin penggilingan padi dengan semangat, “hahhh akhirnya selesai juga” gumam ku. langsung aku tepar tidak punya tenaga karena perutku yang dari tadi pulang sekolah belum ku isi sedikitpun tapi tiba-tiba pakde menghampiri ku.
Pakde: “makasih ya rif udah mau bantu pakde” ini uang hasil kerja kamu memang gak seberapa karena harus dibagi-bagi di terima ya.”
Aku: “ya pakde sama-sama gak apa-apa kok arif senang bisa bantu pakde” sambil aku menerima uang delapan ribu rupiah hasil kerja ku tadi.
Pakde: “Ya udah ayo ini di makan makanan masakan bibi mu” sambil mengambilkan aku sebuah piring.
Aku: “ya pakde…” tanpa berlama-lama aku langsung menyambar makanan yang ada di depanku dan memakannya dengan lahap.

Jam sudah menunjukkan pukul 18:13 setelah selesai makan aku langsung pamit kepada pakde untuk pulang. Di sepanjang jalan aku menuju rumah aku teringat sesuatu, “sepeda yang ku buat sekolah rantainya kan putus tadi siang dan kebetulan aku punya uang delapan ribu pemberian pakde tadi yang bisa ku gunakan untuk membawa sepedaku ke bengkel” batin ku.

Akhirnya sesampainya di rumah aku langsung mandi, sholat maghrib dan langsung mengambil sepedaku untuk ku bawa ke bengkel samping desa ku. lama aku menuntun sepedaku ke bengkel dengan harapan bisa segera diperbaiki tapi setibanya di bengkel ternyata bengkel sudah tutup aku sangat kecewa di situ “capek sekali menuntun sepedaku dari rumah ke sini ternyata malah tutup huhhh” keluhku dalam hati. akhirnya aku kembali membawa sepedaku yang masih rusak ke rumah belum jauh aku meninggalkan bengkel tiba-tiba ada seorang pemuda yang ugal-ugalan naik motor yang hampir menabrakku tapi aku berhasil minggir dengan cepat tapi tidak dengan sepedaku roda ban sepedaku tertabrak alhasil penyoklah besi rodanya, aku mau marah tapi pemuda tadi langsung tancap gas gak peduli.

Akhirnya aku sampai di rumah, aku terus menggumam dan mengeluh dalam hati bagaimana besok aku berangkat sekolah padahal kan jarak rumah ke sekolah jauh dan bila jalan kaki pasti akan melelahkan sekali tiba-tiba terbesit sebuah pikiran yang buruk “mungkin aku besok gak usah masuk sekolah dulu paginya aku mau ke bengkel lagi buat memperbaiki sepedaku, Tapi alasan buat aku tidak masuk sekolah apa..? tidak mungkin kan aku membolos Ya Allah berilah jalan keluar bagi hamba mu ini”, setengah aku melamun tiba-tiba pintu rumah ku digedor-gedor orang dengan keras, Ibuku dan Aku kaget dan langsung membukakan pintu. ternyata mas joko, tetanggaku teman kerja ayahku
Mas. joko: “lek sumi pakde lek pakde..” dengan suara terbata-bata dan keringat yang bercucuran.
Sumi: “kenapa suamiku ko…?” tanya ibuku dengan cemas
Mas. joko: “pakde di rampok lek..”
Sumi: “dimana..?, gimana ceritanya ko..?, sekarang dimana suamiku…?” dengan airmata dan raut muka cemas ibuku bertanya
Mas. joko: “Tadi selepas di kebun, pakde dengan buru-buru menuju ke rumah juragan Broto katanya Dia mau pinjam duit katanya buat kredit sepeda motor untuk Arif sekolah dengan jaminan sertifikat kebun lek..”
Sumi: “bapak kok gak cerita sama saya ko…? dan pak Broto kan seorang rentenir, YA Allah bapak-bapak”
Mas. joko: “setelah nerima uang akhirnya pakde pulang sama saya. tiba-tiba di tepi jalan tepatnya di depan kebun dekat bengkel sepeda pinggir desa ada seorang pemuda yang membawa sepeda motor turun dan meminta dengan paksa uang pakde, Pakde melawan dan akhirnya pemuda tadi nekat terus menusuk perut pakde uangnya di ambil kemudian kabur.”
Sumi: “kamu kok gak bantu pakde ko…?, terus kondisi pakde sekarang gimana…?”
Mas. joko: “sama pakde saya disuruh lari lek, suruh cari bantuan tapi desa sudah sepi apalagi bengkel sepeda yang biasanya buka saat itu juga tutup, akhirnya saya harus lari ke tengah desa, setelah itu saya kembali ke tempat pakde membawa sejumlah warga tapi ternyata pakde sudah terbunuh lek” sambil menangis tak karuan.
Sumi: “Innalillahi… Ya Allah bapak..” seketika itu ibuku pingsan karena tak kuasa menerima berita ini
Aku: “YA Allah ibuk.. mas. joko tolong mas”. sambil membopong ibuku, di situ aku bingung bercampur sedih tapi ku coba kendalikan diriku. “mas joko tolong pangil warga mas aku jagain ibu dulu”.
Mas. joko: “Iya rif… kamu tunggu sebentar ya”
Lama aku menunggu kedatangan warga, di situ aku menangis sejadi-jadinya atas musibah yang menimpa keluargaku.

Akhirnya warga pun datang sambil membawa jasad ayah ku yang terbujur kaku dan dingin, di situ aku semakin keras menangis karena aku kehilangan sosok seorang ayah yang aku sayangi yang meninggal karena di bunuh. untung ada warga desa yang membantu dan mengurus semua biaya pemakaman untuk ayahku, Sampai tiba keesokan pagi, ibuku masih belum terbangun dari pingsannya dan aku tidak berangkat ke sekolah karena ayah ku meninggal dunia, semakin kalut suasana hatiku tiba-tiba terbessit pikiran mungkinkah pemuda yang menabrak sepedaku kemarin adalah pembunuh ayahku..?

BERSAMBUNG…

Penulis Cerita: Agus Triyanto
 

Tanya

| komentar

Tanya diam terpekur, matanya nanar menatap kabut. Ada sesal dalam hatinya dan ada sedikit kesenangan di dalamnya. Menyesal telah mengkhianati hatinya dan senang telah membalas kesal masa lalunya.

Dulu Tanya adalah seorang gadis kecil yang melewati hari-hari dengan sedikit ketakutan dalam dirinya. Takut yang tak dapat dia bagi dengan yang lain. Beberapa kali dalam masa kecilnya ada masa dimana dia harus berkelit terhadap bayangan hitam yang akan menerkam dan mencabik tubuh kecilnya yang ringkih. Dan Tanya tetap bertahan walau terkadang dalam tangis dia meminta Tuhan-nya agar membawanya ke surga.

Ketika melewati masa remaja, takdir menjauhkan dia dari bayangan hitam, kebebasan itu membuat Tanya tumbuh seperti gadis lainnya, dan orang-orang bertanya “Tanya, apa yang membuatmu ceria? ada yang telah menyihirmu?”. Tanya menanggapinya dengan senyum. Tanya melewati harinya dengan keceriaan dan sangat sedikit kenakalan. Dan waktu pun terus berlalu.

Jauh di dalam lubuk hati Tanya ada dendam yang tak dapat dia hapus dari memorinya. Dia telah mengadu pada Tuhan-nya dalam doa-doa panjangnya. Bahkan dia bertanya dengan marah “Tuhanku, apa salah ini, aku pasti akan menuntutnya dalam persidangan-Mu nanti”, kadang ada rasa ingin memaafkan di hatinya dan lain kali dia membatalkannya.

Ketika benci sudah tidak begitu sering menemuinya, hati Tanya mulai memikirkan hal lain. Hal berbeda yang ingin dia rasakan dari seseorang, saat rasa itu mulai menyapa dengan gelisah Tanya menjalaninya.

Siang itu panas membakar kulit, Tanya dengan Gita keponakannya dalam perjalanan pulang. Bus yang mereka tumpangi masih menunggu penumpang lainnya, sementara kondektur masih meneriakkan tujuan Bus. Dengan gelisah Gita yang baru berumur empat tahun bertanya, “kak, busnya kapan berangkat. Kok lama Gita kepanasan nih”. “sebentar lagi juga berangkat Gita”. Itu adalah awal Tanya mengenal dunia dewasa, seseorang yang duduk di depannya yang gelisah karena hasrat dan pegal pada punggungnya. Tanya mengerti akan hal ini dia tersenyum dalam hati “kena kau” .

Awal yang mengejutkan buat Tanya, ini terlalu gila, ini terlau cepat buatku, jangan membuatku muak. Tapi dia berdalih “tahukah dirimu Tanya, inilah yang kamu cari”, “tidak, aku mau yang putih”. Dengan enggan dia menjawab “Tanya, yang putih tak pernah ada”. Tanya terhenyak dan membuat keputusan, ini akan selesai.

Dan benar Tanya melakukannya, meski dia memohon Tanya tak bergeming. Tanya ingin terbang jauh dengan sayap kecilnya. Semua dalam waktu yang sangat singkat, meninggalkan pertanyaan di tenggorokan sekelilingnya. Ini sudah cukup.

Tuhan-nya telah memberikan kasih-Nya buat Tanya. Kerikil kecil, tebing, jurang bahkan jebakan tetap harus dilalui Tanya seorang, Tanya menangis dan tersedu sendiri, tetap sendiri. Perjalan yang jauh membuat Tanya lebih kuat dan biasa menghadapi hidup yang keras. Saat tawaran rasa kembali menghampirinya, Tanya menjalani dengan agak ragu sambil bertanya apa aku siap? .. tapi kali ini Tanya tetap terhempas tanpa tahu sebab pasti. Tanya harus bangkit dan kembali berjalan dengan hati yang berdarah-darah. Itu terus berulang, entah karena Tanya terlalu lugu sehingga dimanfaatkan atau memang Tanya yang tak mengerti bagaimana harus menjaga kasihnya.

Tanya pernah benar-benar menyanyangi sebuah hati, sangat takut kehilangan, merindu di setiap denyut nadinya bahkan hati itu seperti udara buatnya untuk hidup dan bernapas. Untuknya Tanya membuat ratusan puisi cinta. Tapi kesabaran untuk menunggu telah mengikis rasa sayangnya menghapus kerinduannya. Tanya juga menangis perih seperti tersayat. Tanya memang kuat. Itu hanya sebentar, dia sudah mulai berjalan lagi.

Karena Tanya hanyalah seorang makhluk kecil yang kadang suka tak mendengar nasehat hati, kembali Tanya mencoba hal lebih jauh. Sesuatu yang tidak tepat. Tapi tidak jika dia punya niat yang baik. Tanya memang gadis kecil yang agak nakal, membayangkan sedang melakukan petualangan yang sangat jauh ke negeri antah berantah. Tanya yang tak mengerti tersesat disana, tak tahu harus berbahasa apa, tak tahu harus berbuat apa dan lebih parah Tanya tak tahu harus mengadu ke siapa.

Saat akhirnya sesuatu membangunkan hati Tanya dari petualangannya, menyadarkan bahwa Tanya harus kembali. Tanya tersadar perlahan dia tak menangis, ini petualangan yang buruk tapi mengajarkan banyak hal. Walaupun Tanya masih belum bisa mencerna semua hal yang didapat. Tanya butuh waktu yang cukup panjang untuk mengerti.

Terlepas dari petualangan-nya, sesaat Tanya kembali dengan kasihnya. Mencium harum wanginya, merasakan hangat dekap kekasih. Sayang kasih Tanya tak dapat tinggal lama. Dia selalu pergi lagi, meninggalkan Tanya yang tak dapat memutuskan sendiri apa yang harus diperbuat. Tanya selalu merindunya, mengharapnya walau ada keraguan di hati Tanya, dan sekarang dalam doa-doa panjang Tanya ada pinta “Tuhanku berilah kasih Mu untuk Tanya, beri Tanya bahagia”.

Dan waktu pun kembali menyadarkan Tanya, seakan menyentil tepat di kuping Tanya dan berkata “Tanya apa lagi yang diharapkan, lupakanlah. Tatap hari depan, kamu tak hanya sampai disini, bangkit dan berjuang kembali untuk apapun yang ingin kamu capai”, Tanya tesentak. Dalam hati meski berat ia yakin itu benar. Dan mulai lah Tanya kembali mencoba hidup dengan sedikit mimpi muluk nya.

Waktu terus berlari lebih cepat, dengan terengah-engah Tanya berlari mengikuti mencari cinta dan kasihnya. Jalan terus berbelok-belok, mendaki, menurun, bersimbah air mata terkadang gersang menghisap kehidupan. Meski terasa lelah Tanya terus berjalan dan memohon dalam tangis keputus-asaan. “Tuhanku kuat kan Tanya, hamba yang bergelimang dosa dan salah ini. Hamba yakin bukan takdirmu kalau hamba berbuat salah tapi adalah kealpaan seorang hamba yang tak bisa menahan nafsunya. Ya Tuhan beri ampunan untuk Tanya”,

Dalam perjalanan baru-nya Tanya tak lagi terlalu berharap dapat menemukan seorang pangeran menemani sepi jalannya. Tanya hanya ingin membenahi diri dan menyelesaikan kusut jalan hidupnya. Tanya berharap dapat memberi arti pada diri sendiri saat punya kesempatan

Di antara tawa, tangis, sepi dan do’a–do’a Tanya, suatu saat Tanya dikenalkan dengan seseorang. Seseorang yang pada perkenalan pertama, Tanya tak merasakan ada sesuatu yang istimewa di antara mereka bahkan sangat biasa. Sebenarnya ada sedikit rasa senang mempunyai teman lain tapi ya hanya itu yang Tanya rasa.

Mulai saat itu, seseorang itu selalu mengisi hari dan malam Tanya dengan begitu banyak hal baru yang Tanya tak pernah tahu sebelumnya. Tapi tetap saja Tanya tak merasakan sesuatu yang istimewa. Dan dalam hitungan hari, seseorang itu perlahan mulai mengungkap perasaannya kepada Tanya, menanggapi hal itu Tanya kelabakan dan benar-benar tidak siap. Meski Tanya mengerti, tapi Tanya mencoba berdalih.

Akhirnya saat merasa terdesak dan memang didesak Tanya menjawab ungkapan rasa itu yang dalam pikiran Tanya dia sudah mengatakan dengan bahasa pilihan. Tapi seseorang itu, bukan lah seseorang yang dapat menerima kata tidak dari Tanya. Seharian Tanya berfikir dan mencari jawaban tentang dia. Akhirnya sesuatu membisikan di telinga Tanya, “jalani lah Tanya, tak ada salahnya kamu mencoba”.

Dan, ya Tanya menjalani hari-hari nya.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, perjalanan kasih dengan kekasih telah mendewasakan dan membentuk jiwa Tanya menjadi seseorang yang lebih kuat dan siap menghadapi apapun. Dan satu tahun tiga bulan sudah hubungan itu, bunda berkata “sudah saatnya ananda melangkah ke arah yang seharusnya”, mulanya Tanya bingung, tidak siap dan entah perasaan apalagi. Bunda terus meyakinkan hingga akhirnya Hal itu pun terjadi.

Tanya jalani hidup berumah tangga dengan kekasih, dan menjadi dewasa seutuhnya… semoga perjalan hidup Tanya akan lebih indah dan selalu dipenuhi kasih sayang dan saling pengertian, sehingga apapun yang mereka hadapi nanti nya, mereka akan sangat siap. Amiiinnn…

Penulis Cerita:
Meli Deswita
 

Pencopet Ulung

| komentar

“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana pagi yang dingin dan berkabut serta suara kokok ayam yang bersahutan memang sudah menjadi ciri khas tempat tinggalku. Desa BANGUN REJO di kabupaten Blitar Jawa Timur. Ya, itulah rumahku selama ini. Sebuah desa kecil yang tentram terletak kurang lebih 20 KM dari tempat wisata gunung kelud. Tentunya disini aku tidak sendiri, aku tinggal bersama bapak, ibu, serta kakek dan nenek.

“Sugeengg. Bangun nak. Sholat subuh dulu.” Suara nenek membangunkanku yang masih terbaring nyaman berselimut sarung.
“Iya mbah” kataku menurut.

Sebenarnya aku masih sangat malas untuk melangkahkan kaki ke kamar mandi. Salah satunya karena airnya yang sangat dingin. Tapi ya wajarlah, namanya juga pegunungan hehehe. Namun karena yang memintaku adalah nenekku sendiri, jadi tak mungkinlah aku menolak permintaannya.

“Allaaahuakbar..” kalimat takbirpun terdengar dari mushola kecil dekat rumah. Hari ini terlihat 10 orang yang sedang khusuk menghadap sang kuasa, dan tak menghiraukan dinginnya kabut pagi. Jumlah segitu sudah alhamdulillah, ya maklumlah. Namanya juga di desa, jarak rumah satu dengan lainnnya sangat renggang. Ditambah pula mayoritas bekerja sebagai pekebun yang setiap hari direpotkan dengan mengirim sayur-sayuran ke pasar di kota.
Meskipun begitu, aku bangga dengan desa kecil ini. Yang selalu tenteram, damai dan tak mengenal kata kekerasan.

Keakraban pun seketika terjalin ketika sholat subuh telah usai. Para bapak yang berkumpul dan duduk-duduk santai di pinggir mushola, gelak tawa anak-anak yang berlarian berangkat sekolah, dan juga senyum merekah oleh ibu-ibu yang berkumpul pada penjaja sayur keliling, ditambah pula keindahan matahari yang mulai mengintip dibalik gagahnya pegunungan pulau jawa. Membuatku tersenyum bahagia merasakan surga dunia.

Bahkan karena terlalu asyiknya aku menikmati keindahan dunia, tak terasa matahari sudah semakin meninggi. Bapak-bapak sudah mulai pulang ke rumah masing-masing satu per satu. Jalanan yang tadinya ramai oleh suara gelak tawa dan bel sepeda kayuh anak sekolah, kini sudah mulai lengang. Senyum-senyum merekah dari ibu-ibu pun sudah lenyap, hanya tinggal penjaja sayur keliling dan gerobak yang mulai kosonglah yang kini terlihat olehku. Mungkin memang cukup untuk hari ini, pikirku. Dengan langkah tenang aku mulai melangkah pulang.

“Sreekk, Sreekk, Sreekkk,” suara butiran debu yang berulangkali beradu dengan sapu lidi yang digunakan oleh nenekku untuk membersihkan halaman depan rumah.
“Mbah, saya bantu nyapu ya?” Aku menawarkan bantuan.
“Halah, ndak perlu. Beli minyak goreng wae kono.”
“Ya Mbah” jawabku dengan semangat.

Dengan secepat kilat ku berlari menuju kamar dan mengganti baju koko yang telah melekat dari tadi. Uang pun sudah di tangan, aku berangkat menggunakan sepeda kumbang kesayangan Kakekku. Aku lebih memilih sepeda ini karena aku ingin lebih menikmati udara segar di pedesaan. Dan tak ingin merusaknya dengan gak buang kendaraan bermotor.
“Aku berangkat!! Assalamualaikum” teriakku ketika melewati gerbang rumah dengan terus mengayuh sepeda. Aku memang sangat semangat jika disuruh untuk membelikan sesuatu. Karena dengan begitu, aku dapat sekalian berkeliling menikmati asrinya pedesaan. Pegunungan yang indah menghampar di depanku yang juga merupakan jalan satu-satunya yang akan kulewati nanti untuk menuju kota. Liukan bukit dan pegunungan yang menghampar luas, jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan juga sinar matahari pagi yang kekuningan membuatku semakin takjub dengan alam ini.

Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya sebuah gapura besar dan ucapan selamat datang menyambutku, yang menandakan aku sudah sampai di perbatasan antara kota dan kabupaten. Karena perjalanan menurun, tenaga pun tak begitu terkuras banyak. Setelah sampai di pasar, kuparkir sang kumbang tercinta di pojok tempat parkir. Aku mulai memasuki kawasan pasar yang ramai dan kurang bersahabat. Di tengah ramainya pasar, tubuhku sempat bertabrakan dengan anak lain seusiaku. Hingga kami berdua hampir jatuh.
“Aduh!!” suara gadis itu ketika tubuh kami bertabrakan.
“Kamu nggak papa kan?” tanyaku khawatir.
“Oh, aku nggak papa.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun bukan senyuman biasa yang terlukis di mulutnya. Namun lebih kepada sebuah senyum yang penuh makna, yang menyimpan beribu makna. Dan aku pun tak tahu apa artinya. Karena baru kali ini aku melihat senyum penuh makna oleh seorang perempuan. Tatapannya padaku juga tak kalah serius. Parasnya yang cantik membuatku seakan terhipnotis oleh wajahnya yang rupawan.
“Mas, Mas, Heelllooo… Mas? Kok bengong?” Katanya membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya?” jawabku sambil mengusap-ngusap mataku beberapa saat lalu tak berkedip sama sekali.
“Maaf mas, saya tadi gak sengaja.”
“Oh, iya-iya nggak papa kok.”
“Owh, kalau begitu saya pergi dulu ya” ia pergi dengan meninggalkan senyum manisnya.
“Iya,” jawabku sambil terus memandanginya.

Kulihat dari kejauhan, ia berjalan dengan gemulai dan sesekali menoleh ke belakang dan tersenyum manis padaku. Aku pun sesekali membalas senyumnya. Terbuyar dari lamunanku, akupun ingat tujuan awalku pergi ke pasar ini. Namun, mataku dibuat terbelalak selebar-lebarnya ketika sadar bahwa dompet dan handphone yang sedari tadi duduk manis di saku celana kini hilang begitu saja. Seakan tak percaya, tangan ini tak henti-hentinya keluar masuk saku untuk mencari keberadaan dompet dan Hpku. Berbagai pertanyaan pun seketika muncul di otakku.
“Kapan?”
“Dimana jatuhnya?”
“Siapa yang mengambil? Dan bagaimana bisa?” tanyaku berulang-ulang dalam hati.
Seketika, rasanya jantung ini kembali dibuat tak berdetak selama beberapa detik ketika aku teringat salah satu adegan sinetron. (Hehehehe, jadi ketahuan deh kalau sering nonton sinetron). Adegan itu adalah adegan ketika seorang laki-laki bertabrakan dengan pencopet cantik dan sang laki-laki tersebut baru menyadari ketika dirinya sudah sampai di rumah. Dan mungkin itu yang terjadi padaku saat ini.

Sesegera mungkin kuputar leher ini ke arah gadis tadi. Mataku sangat sibuk mencari-cari. Bola mata tak henti-hentinya berputar dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah untuk mencari ke segala sudut.
“Nah!” ketemu juga akhirnya” kataku lirih.
“Kena kau sekarang” lanjutku dalam hati sambil terus berlari kecil di tengah kerumunan.
Aku sengaja tidak berteriak, karena ku tahu teriakanku hanya akan membuatnya berlari semakin jauh dariku. Aku tetap menjaga jarak darinya, namun lama kelamaan ia mulai curiga karena aku terus mengikutinya. Namun, disitu kutahu bahwa dompetku ada padanya. Tepat berada di saku belakangnya. Aku pun berusaha sedikit demi sedikit mendekatinya. Jantung yang berdetak kencang, menandakan bahwa rasa takutku semakin besar. Namun, aku merasa jika rasa penasaranku lebih besar dari apapun. Kuberanikan diri untuk menggait tangannya dan mengajaknya sedikit bercakap-cakap. Namun sebelum ku meraih tangannya, Ia langsung membalikkan badannya dan menghentikan langkahnya. Dia menatapku dengan penuh curiga.
“Ngapain to situ? Kok mulai tadi ngikutin saya terus?” tanyanya penuh curiga.
Seketika aku terperanjat kaget, langkah yang tadinya terus maju dengan gagahnya kini telah mundur beberapa langkah tanpa diperintah. Tangan yang tadinya sudah mulai mengarah ke depan untuk mengait tangannya, kini telah kembali pada posisi awalnya. Serta wajahku yang sedari tadi memunculkan raut rasa ingin tahu, kini justru terperanga antara takut dan bingung. Di tengah kegugupan yang melanda, aku pun menjawab sekenanya.
“Ehmm, sory. Aku ngikutin kamu ka.. karena..” kataku terbata-bata.
“Karena opo?” tanyanya dengan lembut mencoba menutupi rasa takutnya.
Dari sorot matanya, aku dapat melihat bahwa ia sedang ketakutan. Mungkin ia takut kalau aku tahu bahwa dia yang mencuri dompetku.
“Karena.. Karena.. aku pengen jadi temenmu.” Jawabku.
Jawaban itu bukan tanpa alasan, tapi aku ingin mendekatinya dan mengetahui latar belakangnya. Aku sangat penasaran, lantaran kenapa cewek seperti dia bisa menjadi seorang pencopet. Wajahnya yang menunjukkan bahwa dia adalah orang baik sangat bertolak belakang dengan pekerjaan ini. Serta penampilannya yang seperti anak baik-baik, membuatku semakin penasaran dengan pencopet yang satu ini.
“Beneran? Masnya mau jadi temenku?” tanyanya tak percaya.
“Mengapa tidak? Kamu cantik, dan kelihatannya juga baik” jawabku sambil sedikit menebar senyum. Mencoba untuk lebih akrab lagi dengannya.
“Hmmm, ya udah. Tapi jangan menyesal ya?” candanya.
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengulurkan tanganku.
“Namaku Sugeng, namamu?”
“Namaku Sinta” jawabnya sambil menjabat tanganku. Kini ketegangannya terlihat mulai berkurang. Mungkin kini ia mengira bahwa aku belum tahu kalau dompetku telah raib.
“Sinta? Itu nama tokoh pewayangan idola saya lo. Sinta adalah sosok perempuan cantik yang menjadi perebutan pada zaman Ramayana” jelasku singkat.
“Ah masak? Jadi malu aku” jawabnya sambil tersipu malu. Kami pun tertawa lepas bersama, bagaikan tak lagi peduli dengan aktifitas kesibukan pasar yang penuh sesak. Kini, rasanya hilang sudah kesan pasar yang kotor, bau dan menjijikkan. Kini, tempat ini bagaikan taman bermain pribadi. Hanya aku dan dia.
“Makan siang dulu yuk, tenang.. Aku yang bayarin deh” ajakku ketika melihat mentari mulai meninggi dan saatnya makan siang telah tiba. Dia tertegun mendengar perkataanku. Seakan tak percaya, wajahnya seketika berubah ketakutan. Rasa takut yang kembali muncul, karena perkataanku yang akan mentraktir dia. Mungkin ia takut ketika aku mencari dompet dan sadar kalau dompetku hilang.
“Tenang, emang gak banyak kok uangku. Tapi cukuplah untuk makan kita berdua” kataku lagi sambil tanganku pergi ke belakang tubuhku dengan perlahan menuju saku belakang celana. Namun belum sampai tanganku ke saku tempat dompet biasa berada, namun tangannya yang lembut sudah menggapai tanganku.
“Jangan!! Hmmm, bagaimana kalau aku saja yang traktir? Bolehkan?” katanya.
Aku hanya membalas senyum.
“Hebat juga pencopet yang satu ini” gumamku dalam hati.
Warteg pinggir jalan yang tak jauh dari pasar pun menjadi pilihan kami.
“Aku yang pesenin ya?” kataku menawarkan.
“Ah, gak usah. Aku aja.” Jawabnya.
“Kamukan udah bayarin, jadi biar aku yang pesen sekarang. Oke?”
“Oke dah” jawabnya dengan tersenyum. Namun tetap saja senyumannya yang manis tidak bisa menutupi raut wajahnya yang menunjukkan raut wajah khawatir.
“Kamu mau makan apa Sin?” tanyaku.
“Mmmm.. Aku makan nasi goreng aja deh”
“Oke, siap kapten” jawabku sambil menyodorkan senyum yang juga dibalas senyuman olehnya.

Lalu aku pergi ke belakang tempat dapur berada. Karena warteg tersebut adalah langgananku. Jadi pemiliknya pun sudah akrab denganku.
“Bulek, nasi goreng dua yang spesial ya?” kataku mengagetkan Bulek Susi. (Bulek adalah panggilan bibi pada bahasa Indonesia)
“Loh, Sugeng? Iya le. Pakek telur apa ndak?” tanyanya sedikit kaget.
“Iya bulek, pakek telor ya”
“Kok tumben pesen dua? Sama siapa? Biasanya sendiri?”
“Iya bulek, sama temenku tuh” sambil menunjuk tempat Sinta duduk.
“Ehemm… Keponakan bulek udah gede nih” kata bulek sambil senyum-senyum sendiri.
“Ah, bulek bisa aja. Oh, iya minumnya jus apel 2 ya”
“Siap bos. Udah, temenin sono. Kasian tuh sendirian” goda bulek.
“Ah, bulek. Aku ke depan dulu ya.” Kataku sambil malu-malu.
Aku berjalan kembali ke arah Sinta. Kulihat wajahnya masih cemas. Meskipun tidak secemas tadi.
“Maaf sin, lama ya?”
“Ah, nggak geng. Nggak papa. Kamu kelihatannya akrab banget sama Ibu itu.”
“Ehh, gak juga sih. Cuman dari dulu keluargaku emang suka makan disini. Dan aku udah nganggep dia sebagai bulekku sendiri.”
“Owh gitu, hebat juga ya kamu. Bisa akrab dengan banyak orang. Termasuk aku, orang yang baru kamu kenal. Udah bisa akrab kayak gini.”
“Ah, bisa aja. Bisa kenal kamu itu anugrah tahu.” Godaku.
“Wah, parah.. udah mulai berani nggombal nih” katanya sambil tersipu malu. Kami berdua pun larut dalam canda tawa. Kami juga asyik ngobrol mulai dari hobby sampai latar belakang keluarga. Kamu berdua juga saling berbagi cerita. Dan akhirnya kutahu, bahwa dia hanyalah seorang putri dari keluarga kecil yang ingin membantu perekonomian keluarganya.
“Ini dia, makanannya datang!!” seru bulek mengagetkan kami berdua.
“Wah!! Kelihatannya enak nih bulek” kataku sambil membantu menurunkan minuman.
“Iya enak dong!! Masakan siapa dulu? Apalagi kalau, makannya berduaan” goda bulek.
“Ah, bulek. Kita kan cuman temen” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Iya kok. Kami cuman temen kok bulek.” Sinta menambahkan.
“Tuh kan, baru temen aja udah kompak gitu. Apalagi kalau jadi pasangan. Ya udah, bulek mau ke belakang. Takut ganggu yang mau berduaan.” Kata bulek pamit.
“Maaf itu, bulek emang dari dulu kayak gitu”
“Iya geng, gak papa kok. Justru seru kali, punya kenalan kayak kalian. Gokil”
“Ya udah, ayo makan”

Aku dan Sinta pun menikmati makanan buatan bulek sambil melanjutkan pembicaraan dan sesekali diiringi gelak tawa. Nasi goreng spesial dengan porsi jumbo pun lenyap seketika, gelas yang tadinya terisi penuh pun kini tinggal menampung seperempatnya.
“Wah, gimana sin? Kenyang? Kataku dengan nada meledek.
“Wehwehweh.. ngledek lu geng? Cuman perut karet kayak kamu kalau porsi segitu gak kenyang” jawabnya sedikit ketus.
“Hahahaha, enak aja.. Ya udah duduk-duduk dulu aja deh. Gak baik kalau perut penuh dipake jalan”
“Iya deh, aku nurut aja sama kamu” balasnya sambil tersenyum.
Di tengah percakapan, aku beranikan diri untuk memegang tangannya.
“Sin, aku boleh ngomong sesuatu gak?”
“Emm.. Emm.. Emang mau ngomong apa?” jawabnya sambil menunduk, kulihat wajah imutnya yang sedang tersipu malu.
“Terima kasih Sin, kamu udah mau jadi temenku. Walaupun kita barusan kenal, kamu udah nraktir aku. Ya, walaupun mungkin sebagian duitku.”
Sinta yang tadinya hanya menunduk malu, kini memandangku tak percaya. Ia tertegun oleh perkataanku tadi. Ia tak menyangka jika aku sudah mengetahui semuanya dari awal.
“Aku tahu kok, kamu yang membawa uangku saat ini” kataku menambahkan.
“Boleh kuminta uangku kembali?” tanyaku dengan tak menghilangkan senyuman pada bibir ini. Aku berusaha membuatnya tetap nyaman dan tidak merasa tertekan. Namun ia tetap terdiam seribu bahasa.
“Sante aja Sin. Aku gak ada niatan untuk menghukum kamu kok. Jika memang aku ada niatan untuk menghukummu, aku sudah meneriakimu copet semenjak kita bertabrakan tadi” ujarku dengan nada santai.
Sinta pun tertunduk kembali, kali ini air mata mengalir mengarungi pipinya. Tangannya mencoba melepaskan genggamanku. Aku hanya membiarkannya.
“Kenapa? Kenapa kamu membiarkan tanganku lepas dari genggamanmu? Kenapa geng? Apa kamu rela? Apa kamu rela jika aku lari dengan membawa uang dan handphonemu? Jawab geng? Kenapa?” tanyanya dengan tersedu-sedu dan tangannya yang kini menggenggam dompet dan handphoneku.
Suaranya yang lirih dan tangisnya yang semakin menjadi-jadi menandakan bahwa ia telah pasrah. Suasana sempat hening, keadaan warteg yang sedang lengang menambah hening suasana. Hanya suara tangis Sinta yang samar-samar ditangkap oleh telingaku. Segera kulepas jaketku dan memakaikannya pada Sinta. Aku tak mau jika kesedihannya menarik perhatian orang yang lalu lalang dibalik jendela dekat meja kami. Hingga akhirnya aku membuka suara.
“Aku rela kok Sin. Aku rela jika kamu lari menjauhiku. Aku rela jika kehilangan uang dan handphone itu. Bahkan jika memang itu yang kau inginkan, silahkan. Aku gak akan mengejar kamu.” Kataku dengan nada sedih.
“Tapi apa kamu rela? Apa kamu rela merusak pertemanan kita yang baru saja terjalin? Semua terserah padamu” lanjutku.
Tangis Sinta kini sudah tak terbendung lagi, air mata tak ada hentinya membanjiri setiap lekuk wajah manisnya. Handphone dan dompet yang sedari tadi masih dalam genggamannya, kini ia turunkan secara perlahan dan meletakkan di atas meja. Ia yang sedari tadi duduk tepat di hadapanku, kini beranjak menuju sampingku. Melihat itu, aku pun ikut berdiri. Kuletakkan kedua tanganku tepat di samping pipinya. Kuusap air mata yang mengalir membasahi pipi Sinta. Namun tanpa kuduga, Sinta langsung memeluk tubuhku dengan erat.
“Maaf geng, kamu sudah baik banget sama aku. Padahal aku adalah orang yang mencopetmu. Tapi jujur kukatakan, itu semua bukan keinginanku. Semuanya karena himpitan ekonomi. Aku tidak ingin keluargaku kelaparan. Namun, aku juga tidak ingin kehilangan teman sebaik kamu. Terima kasih, karena kamu sudah mau menjadi sahabatku. Kini aku sadar, bahwa yang kulakukan selama ini adalah salah. Dan, dan itu semua berkat kamu. Kamu memang sahabatku yang terbaik”
Kata-kata Sinta membuatku terkesan. Membuat mataku berkaca-kaca.
“Sudah-sudah, yang kutahu dari sosok Sinta itu cantik, lemah lembut, tapi tegar, bukannya cengeng kayak kamu” godaku coba menghiburnya.
“Iiihh, apaan sih. Kamu tuh, masak laki kok nangis” balasnya.
“Eeehh, enak aja. Mana? Aku gak nangis kok” jawabku mengelak.
“Halaahh, gak usah boong deeh!.. Itu matanya berkaca-kaca” candanya sambil mencubitku.
“Aduh, apaan sih! Malu tuh dilihatin bulek” kataku mengagetkan bulek yang sedari tadi mengintipku dari balik pintu dapur.
“Buleekk!! Makannya udah nih”
Tak lama berselang, bulek pun menghampiri kami berdua.
“Wahwahwah… pasangan baru. Manis banget, ampe pelukan begitu. Makannya udah nih? Gak mau tambah?” goda bulek.
“Ah, bulek. Daripada bulek, kerjaannya ngintipin orang aja. Ntar matanya juling lo”
“hehehee, ketahuan ya?” jadi malu”
“Jadi berapa semuanya bulek?”
“30 ribu aja geng”
“Nah ini bulek, uangnya.” Sambil menyodorkan uang selembar lima puluh ribuan yang kuambil dari dompetku di atas meja.
“Oh, iya bulek. Bulek kan kerja sendiri nih, boleh gak kalau Sinta kerja disini?”
“Boleh aja, kebetulan bulek juga lagi butuh pegawai nih. Sering kualahan kalau pas rame.”
“Beneran bulek? Wah, seneng banget.” Jawab Sinta seketika.
“Iya, kamu bisa bekerja mulai besok. Tapi sekarang bulek bisa minta tolong beliin belanjaan di pasar ya? Gak papa kan?”
“Gak papa kok bulek” jawab sinta semangat. Senyumnya mengembang lebar.
“Oh iya, kebeneran aku juga belum sempat belanja keinginan nenek” jawabku baru ingat.
“Ya udah, kalian belanja berdua sana. Kan lebih enak kalau belanjanya berduaan” goda bulek untuk yang kesekian kalinya.
“Oh, hampir lupa. Bulek kembaliannya tadi tolong dibungkusin makanan ya. Biar nanti dibawa pulang Sinta.
“Siap komandan!”
“Terima kasih ya geng. Kamu emang baik” kata Sinta tanpa melepaskan pelukannya.
“Aduuuhhh… Yang pelukannya gak mau lepas. Jadi iri..” ceplos bulek melihat kedekatan kami berdua.
“Aaaahhh… bulek, aku kan jadi malu” jawab Sinta sambil melepaskan pelukannya.
“Ya udah berangkat sana, keburu sore. Sin, uang dan daftarnya ada di dalam keranjang” lanjut bulek.
“Kita berangkat dulu ya bulek, Assalamualaikum.” Kataku seraya pergi dengan menggandeng tangan Sinta.
“Waalaikum salam” jawab bulek.

Kami berdua segera berbelanja di pasar, hingga akhirnya aku dan Sinta harus berpisah. Hari sudah mulai sore. Kami harus pulang ke rumah masing-masing. Sesegera mungkin kukayuh sepeda kumbang yang penuh karat ini. Perjalanan pulang yang naik dan berkelok-kelok pun semakin menghambatku. Roda sepeda yang terus berputar berlomba dengan seiring tenggelamnya matahari ke dalam bumi pertiwi. Dengan kaki yang tak henti-henti mengayuh, serta keringat yang mengucur deras. Dan nafas berat akhirnya aku sampai di tempat kelahiranku. Di teras rumah, nenekku sudah terduduk dengan rapi menghisap sebatang rokok.
“Kemana saja kamu?” tanya Nenekku tegas.
Aku tertunduk, takut jika dimarahi oleh nenekku.
“Aku dengar kabar dari Bulek Susi, bahwa kamu seharian bermain-main di pasar sama temanmu. Iya kan?” tanya nenek dengan sedikit menggertak.
“Iya Nek” jawabku sambil terus menunduk.
“Dan Nenek dengar kalau teman kamu cewek. Apa betul?”
“I… Iya nek” jawabku sambil gemetar dan tetap menunduk.
“Hey, mana sopan santunmu? Lihat wajah nenek!” gertakannya membuatku semakin takut.
Perlahan-lahan kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan seketika.
“Dia cantik tidak? Kapan-kapan kenalkan ke nenek ya?” kata nenek sambil tersenyum lebar. Kupeluk tubuh nenek dengan erat.
“Cucu nenek sudah besar rupanya” lanjutnya.
“Iya nek, aku janji kapan-kapan bakal aku kenalin ke nenek.” Jawabku malu.
“Sudah cepat masuk sana, mandi. Badan udah bau kayak gitu. Ntar gak ada cewek yang mau sama kamu lo”
“Iya iya, aku mandi kok nek”

Tanpa komando lagi, aku segera masuk dan memarkir sepeda kayuh tadi di tempat semula. Segera ku basuh dan kubersihkan tubuhku. Setelah aku selesai mandi, aku terdiam merenung di jendela kamar. Aku bergumam sendiri, betapa indahnya hari ini. Aku mendapat teman baru, dan membantunya keluar dari permasalahannya dan mencarikan perkerjaan yang halal. Secara tidak langsung, bulek juga merasa terbantu olehku karena telah mencarikannya pegawai. Aku juga senang, nenek tidak marah padaku. Namun yang terpenting, hari ini aku sudah merubah Sinta menjadi lebih baik. Walaupun aku tidak bisa membantu banyak, tapi aku sudah senang. Karena mungkin saja saat ini keluarga Sinta sedang makan dengan lahapnya dari lauk yang kubelikan tadi siang.

Lalu, hari itu kujadikan hari bersejarah antara aku dan Sinta. Hari yang mengikat kita berdua untuk tetap menjadi sahabat. Dan semenjak hari itu, setiap diriku pergi ke pasar aku tidak lupa menyempatkan diri untuk mampir di warteg milik Bulek Susi. Baik untuk membeli makanan atau Cuma sekedar membantu bulek bekerja dan menemani Sinta. Aku sadar, bahwa semuanya akan baik jika kita menyikapinya dengan baik pula.
“Terima kasih Tuhan atas semua yang telah kau limpahkan.”

– END –

Penulis Cerita: Sugeng Dwi
 

Gubuk

| komentar

Senandung angin mengusik celah kayu jendela, menerobos masuk menusuk tulang renta seorang perempuan yang tebaring di samping anaknya. Rembulan malam tidak sedang menangis, seakan memandang dua orang itu dengan penuh iba. Renggekan anak kecil di sisinya membuat perempuan itu terjaga. Dipaksanya membuka kedua mata yang baru saja dapat terpejam. Rasa lelah tidak lagi membuatnya terlelap. Tangisan anak perempuan yang masih berusia 1 tahun itu, menuntutnya untuk terjaga. Diangkatnya tubuh mungil anak itu, diciumi kedua pipinya. Namun, tetap saja anak itu menangis dan semakin menjadi-jadi. Terlihat ia sedang menahan sakit di kepalanya yang mungil.

Mentari memandang deretan rumah-rumah kumuh di bantaran sungai yang sudah keruh. Air limbah merasa tak bersalah mengalir begitu saja dari pabrik tekstil yang berdiri dengan angkuhnya. Padahal orang-orang sekitar menggantungkan sebagian hidupnya pada sungai itu. Setiap pagi terlihat ibu-ibu mengambil air dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kini pandangan mentari beralih pada gubuk kayu tepat di bawah jembatan. Sinarnya mengetuk pintu tua dan tanpa ijin masuk lewat lubang sebesar koin lima ratusan. Di sapanya perempuan yang sedari tadi malam tidak tidur karena menjaga anaknya. Tangan perempuan itu mengusap lembut rambut anaknya. Tampak raut sedih meratapi nasibnya yang tidak beruntung. Merantau di ibu kota, ditinggal kawin suaminya saat anaknya masih di kandungan dan tinggal di gubuk reot di bawah jembatan tanpa saudara.

Lamunan perempuan itu terhenti karena melihat anaknya menangis lagi. Kali ini ia benar-benar dibuat panik. Dari hidung anaknya mengalir darah pekat, tubuh mungil anak itu kejang. Karena panik, perempuan itu keluar dan menggendong anaknya yang berlumuran darah. Tidak diperdulikan lagi bajunya yang kumal bersimbahan darah anaknya. “Yu Sri! Yu Sri!” Ia menghampiri tetangganya yang biasa membantunya. “Ada apa to Nas? Pagi-pagi kok sudah buat panik. Ya Allah, kenapa ini anakmu? Kok bisa begini” Rupanya Sri juga dibuat kaget setelah melihat keadaan anak Nasmi.
“Aku juga ndak tahu Yu, aku kesini mau minta tolong antarkan aku ke puskesmas sekarang, tolong Yu!” Nasmi memohon bantuan Sri. “Ya, tapi.. aku tak ganti baju dulu sebentar” jawab Sri panik dan langsung masuk ke rumahnya.

Tak lama kemudian Sri keluar. “Ayo ta Sri! Ini kasihan anakku.” Nasmi dan Sri buru-buru pergi ke puskesmas yang tidak terlalu jauh.

Sampai di puskesmas daerah, Nasmi menyerahkan anaknya pada dokter. Dokter itu membawa masuk buah hatinya ke dalam ruangan. Tubuh Nasmi terasa sangat lemas, air matanya tidak dapat dibendung lagi. Ia seakan tak mampu menahan cobaan hidupnya. Dalam hati ia takut, Siti anak perempuan satu-satunya yang ia miliki, harta yang paling berharga dalam hidupnya pergi meninggalkannya. Ia juga merasa sangat bersalah, karena belum dapat membahagiakan anaknya, walau hanya sekedar membelikan boneka atau susu untuk Siti. Hanya Siti yang setia menemaninya selama hidup di ibu kota yang keras ini.

“Sudahlah Nas, yang sabar ya? Kamu jangan lupa berdoa buat Siti. Percaya saja Allah pasti memberikan jalan.” Kata Sri menghibur Nasmi. “Iya Sri, makasih. Maaf kalau selama ini aku merepotkan kamu. Entah kapan, dan bagaimana aku bisa membalas budi baikmu.” Jawab Nasmi yang kemudian menghapus air matanya. “Nggak apa-apa Nas, kalau aku bisa bantu pasti tak bantu.” Jawab Sri menenangkan Nasmi.

Sekitar 20 menit menunggu, dokter yang menangani Siti keluar dari ruangan. Dengan segera Nasmi menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan anaknya. Dari raut wajah dokter sudah dapat ditebak bahwa keadaan Siti tidak sebaik yang Nasmi harapkan. Betapa tersayatnya hati Nasmi ketika mendengar vonis dokter terhadap Siti. Ia tak kuasa menahan lagi air matanya, di pandangnya Siti dari celah pintu. Nafasnya sesak mendapati kenyataan pahit yang menimpa anaknya dan dirinya. Tubuh mungil Siti, yang belum lama melihat dunia harus menderita penyakit komplikasi kanker otak dan jantung lemah. Nasmi semakin merasa bersalah, Siti menderita penyakit ini karena ia tidak mendapat asupan gizi sejak dalam kandungan. Nasmi hanya bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu warung yang gajinya tak cukup untuk makan. Apalagi untuk membeli makanan begizi untuk Siti.

Dokter tidak hanya membawa kabar buruk tentang penyakit yang diderita Siti, tetapi juga kabar lain yang sempat membuat Nasmi terjatuh lemas yang kemudian ditenangkan oleh Sri. Yaitu kabar bahwa Siti harus dibawa ke rumah sakit besar karena puskesmas tidak mempunyai peralatan yang lengkap. Jika tidak segera dipindahkan hidup Siti kemungkinan tidak bisa tertolong. Dengan bekal kartu Jamkesmas yang dimiliki Nasmi, ia ditemani Sri mencari rumah sakit untuk merawat Siti. Kerena tidak punya biaya menyewa ambulan Nasmi terpaksa menggendong Siti yang keadaannya sudah kritis.
Terik matahari terasa membakar kulit tetapi tak membuat Nasmi patah semangat mencari rumah sakit untuk Siti. Ia hanya dapat berharap ada rumah sakit yang mau memberi bantuan kepadanya.

Sesampainya di sebuah rumah sakit swasta, Nasmi langsung menemui suster dan memohon agar mau segera menangani anaknya. “Sus, tolong anak saya! Ini anak saya sedang kritis” mohon Nasmi di hadapan seorang suster. “Anak ibu sakit apa?” Tanya suster itu. “Kanker otak sus.” Jawab Nasmi sedikit cemas. Suster itu diam sejenak, Nasmi kemudian menyambung penjelasannya. “Saya punya kartu jamkesmas sus. Tolong anak saya.” “Sebentar bu, saya tanyakan dulu.”

Suster itu meninggalkan Nasmi kemudian menuju ke suatu ruangan dan tak lama kemudian suster itu keluar lagi. “Maaf bu, ruangan untuk perawatan anak sudah penuh.” Kata suster itu. “Masa rumah sakit sebesar ini bisa sampai penuh?” Tanya Sri yang sedari tadi hanya diam. “Anak saya dirawat di ruangan apa saja boleh sus, saya mohon!” Nasmi melanjutkan omongan Sri. “Maaf bu, tidak bisa.” Akhirnya setelah mendengar jawaban suster, Nasmi dan Sri keluar dan berusaha mencari rumah sakit yang dapat merawat Siti.

Hari sudah menjelang maghrib. Sang Surya yang seharian menemani Nasmi dan Sri mulai menyembunyikan diri. Tetapi belum juga mendapat rumah sakit yang mau menerima Siti. Sudah 9 rumah sakit yang didatangi Nasmi dan Sri, mulai dari rumah sakit swasta sampai milik pemerintah. Beda rumah sakit, beda juga alasan penolakkannya. Ada yang bilang tidak ada ruangan kosong, peralatan rumah sakit untuk menangani kanker otak tidak lengkap, kartu jamkesmasnya sudah tidak dapat dipakai dan sebagainya. Yang menurut Nasmi pernyataan dari rumah sakit itu tidak masuk akal. Mungkin memang benar hanya orang kaya yang boleh berobat dan mendapat pelayanan kesehatan dengan baik.

Dengan langkah lemas dan sedikit rasa putus asa, Nasmi melangkah pulang. Siti buah hatinya masih terlelap di gendongannya. “Sri, aku harus bagaimana lagi? Aku tidak punya uang buat bayar rumah sakit Siti. Aku memang bukan ibu yang baik, yang tidak bisa menjaga anaknya.” Kata Nasmi yang kemudian mencium pipi Siti yang pucat. “Aku juga tidak tahu, aku juga tidak punya uang, kamu jangan menyalahkan dirimu Nas. Mungkin ini ujian dari Allah, kamu harus ikhlas.” Selama perjalanan pulang pikiran Nasmi terus tertuju pada bagaimana cara ia mendapatkan uang untuk Siti berobat.

Tak terasa sudah sampai di depan rumah Sri. Nasmipun menyandarkan badannya yang sudah lelah di kursi sofa yang usang di depan rumah Sri. Tiba-tiba Sri dibuat kaget oleh pernyataan Nasmi. “Sri apa aku mel*cur saja supaya dapat uang untuk biaya Siti? Lagipula suamiku sudah lama tidak menyentuhku. Mungkin para pria hidung belang itu masih mau bermain denganku.” Sri melongo mendengar itu. “Asstaghfirullah Nas! Kamu kok bisa berfikiran seperti itu. Itu tidak baik! Walaupun kamu sedang dalam kesusahan kamu jangan langsung mengambil tindakan salah. Itu dosa Nas! Istighfar!” Kata Sri dengan nada agak keras. Mendengar kata-kata Sri Nsmi menangis dan memeluk siti. “Asstaghfirullah, Ya Allah ampuni hamba, hamba hanya tidak tahu lagi harus bagaimana.” Kata Nasmi kemudian. “Nas, sekarang kamu pulang saja, shalat, mohon petunjuk sama Allah. Terus nanti Siti kamu kompres dengan air hangat. Besok pagi, kita cari rumah sakit buat Siti.” Kata Sri menenangkan hati Nasmi. Nasmi pamit pulang dan berjalan menuju gubuknya yang terlihat gelap dari luar. Maklum Nasmi tidak kuat membayar listrik.

Malam ini rembulan masih seperti kemarin. Bersinar terang, seakan menjadi saksi pahitnya hidup Nasmi. Malam seakan lama berlalu, mimpi-mimpi buruk selalu saja terbayang di atas gubuk di bawah jembatan itu. Hingga mentari menggantikan sang dewi menyinari hari yang cerah itu. Tetapi tidak seperti hidup nasmi.

Pagi-pagi terlihat orang-orang berkumpul di dekat gubuk Nasmi. Mereka semua penasaran dengan nasmi yang nekat mengakhiri hidupnya dan anaknya sendiri. Sri adalah orang pertama yang mengetahui Nasmi tergeletak tak bernyawa memeluk anaknya. Tak jauh dari tubuh Nasmi ditemukan selembar kertas dan racun serangga. Sri kaget dan berteriak minta tolong sehingga banyak orang-orang yang berkumpul di sana. Tak lama kemudian polisi datang dan beberapa reporter dari berbagai media ikut meliput kejadian itu.

Orang-orang yang datang semua berargumentasi tentang kejadian yang menimpa Nasmi dan anaknya. Ada yang menghujat Nasmi yang katanya nekat. Ada yang prihatin dan berpendapat bahwa Nasmi melakukan itu karena tidak sanggup dengan cobaan hidupnya. Dan ada yang membawa nama pemerintah dan pihak rumah sakit yang tidak memberi bantuan kepada rakyat miskin. Orang-orang itu memang tidak tahu pasti. Mugkin hanya gubuk tua yang sudah lebih dari 3 tahun ditinggali Nasmi itu dapat menjadi saksi. Saksi sakit hati saat Nasmi ditinggal pergi suaminya, saksi kesakitan saat melahirkan Siti buah hatinya dan saksi pahitnya hidup yang menimpa Nasmi.

“Dunia memang tak adil. Apalagi untuk orang-orang kecil. Orang-orang dimana hanya dipandag sebelah mata, yang hanya mendapat tolakkan, hinaan, cacian. Memang benar, pemerintah sudah mengumbar janji kesehatan gratis, pendidikan gratis, hak yang sama. Tetapi apa kenyataannya? Kami orang-orang kecil yang tak punya kuasa untuk tetap hidup di dunia yang keras ini.” Begitulah tulisan terakhir Nasmi. Sri tetangganya yang selama ini menjadi keluh kesah Nasmi, tak mampu lagi menahan air matanya. Dalam hati Sri berkata “Dunia ini memang tidak adil!”.

Sekian…

Penulis Cerita: Rika Alif Firda
 

Peron

| komentar

“Kenapa nak? Masalah hati?” Pak Tua itu terkekeh, seperti puas karena sindirannya tepat mengenai sasaran. Aku diam.
“Jangan pernah berniat untuk melupakan seseorang. Niatan itu justru hanya akan mengendapkan apa yang kamu sebut kenangan.”

Diambilnya satu batang rok*k dari dalam sakunya. Dari asap rok*k yang Ia hembuskan, aku tahu itu rok*k murah yang biasa dijual eceran di toko sebelah sana. Ia sempat menawariku, tapi terpaksa kutolak halus. Sudah 5 bulan ini kucoba mengurangi rok*kku.

“Ambil yang kamu suka dan tinggalkan yang kamu anggap tidak penting. Sederhana ya?”

Raut mukanya menampilkan senyum yang getir. Kerutan di wajah lelahnya menunjukkan semua. Ratusan pernik hidup yang pernah singgah. Mungkin beberapa terkait dengan hati. Apa lelaki tua juga masih bisa disebut punya hati?

“Nyatanya tidak.”

Ia menghisap rok*knya.

“Yang biasanya kamu anggap tidak penting, malah meninggalkan jejak terlalu dalam. Membuatmu menjadi pecandu luka. Berharap ada bahagia di baliknya.”

Aku tetap diam. Kurogoh sekotak permen mint dari kantong. Asap rok*k ini benar-benar menggodaku. Jatah satu batang untuk satu hari, sudah kuhabiskan pagi tadi. Sial.

“Saya tidak menyuruh kamu segera melupakan masalahmu. Tenggelam dalam luka kadang membangkitkan kenikmatan tersendiri. Ikuti saja kehendak Gusti Pangeran.”

Kereta tujuan Malang terakhir pada hari itu telah tiba. Memang sudah terlalu larut untuk memulai perjalanan. Tapi tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikan masalah yang masih mengganjal. Sudah 12 jam kuhabiskan untuk membuat keputusan, sejak seorang yang suaranya sangat aku rindukan mengatakan sedang menungguku di tempat kita pertama bertemu.

“Maaf Pak, kereta saya sudah datang. Saya duluan.”

“Ikuti hatimu, nak.”

Aku mengangguk sopan dan segera hilang ditelan redup malam. Hanya untuk kembali 10 menit kemudian dengan satu pak rok*k dan dua gelas kopi panas dari toko sebelah sana.

“Monggo Pak kopinya.”

Sembari Pak Tua itu menyesap kopinya aku mengambil ponselku. Mengetik sebuah pesan teks.

Jangan tunggu aku, Ra.
SENT.

Kumatikan ponselku dan segera menyalakan batang rok*k yang kedua untuk hari itu. Sorot mata Pak Tua yang sempat meredup sejenak itu kini penuh dengan binar. Mengalahkan rasa sendu yang tercipta dari buruknya penerangan lampu peron ini. Malam dengan cepat beranjak membawa semua luka yang sempat menjejakkan sesak.

Penulis Cerita: Diovin
 

Secercah Cahaya Dalam Kegelapan

| komentar

Pagi yang cerah terlihat berbeda dari biasanya. Terik mentari di pagi hari menghadirkan sinarnya penuh arti. Kicauan burung tiada henti. Mengusikku dari tidur panjang ini. Setelah sekitar 6 bulan aku mengalami dilema. Dilema antara hidup dan mati.
Mataku perlahan mulai terbuka, tapi sakit sekali rasanya menggerakan seluruh tubuh ini. Aku rasanya ingin tidur panjang lagi, tetapi batinku menolak. Ia ingin aku tetap hidup. Aku berusaha membuka mata ini dan menggerakan jari-jari tanganku kembali. Rasa sakit itu belum juga sirna. Kesal rasanya.
“Andin bangunlah, Nak. Ini Ibu.” hah? Bisikan apa itu? Terdengar samar. Apakah itu bunda? Apakah akhirnya tuhan memberikan cahayanya untukku? Ah aku ingin mendengarnya sekali lagi agar aku benar-benar yakin kalau itu Ibu.
Beberapa saat kemudian suara itu pun terdengar lagi. Bahkan semakin jelas di telingaku.
“A-a-andin kembalilah pada Ibu. Ibu sangat rindu, Nak.” entah karena bisikan seorang Ibu atau sebuah cahaya itu yang membuatku memiliki kekuatan untuk menahan rasa sakit ini. Aku berusaha dan terus berusaha sekuat tenaga. Ketika aku mulai membuka mata ini. Kulihat begitu banyak cahaya di sekelilingku. Seperti pelangi.
Aku menangis penuh rasa bahagia. Allah telah memberikan cahaya itu padaku walaupun hanya secercah cahaya. Allah mendengar doaku. Sedikit demi sedikit cahaya itu pun mulai pudar dan membentuk wajah Ibu, Eyang dan saudaraku yang lainnya. Aku mulai tersenyum pada mereka semua, untuk menandakan bahwa aku sudah tidak apa-apa.
Wajah mereka semua musam, mungkin mereka menangisiku terus menerus yang sudah sekitar setengah tahun tak sadarkan diri. Kulihat wajah Ibu, hanya Ibu yang tersenyum saat itu. Ah aku rindu sosok Ibu yang seperti ini. Aku bersyukur Tuhan.
Aku teringat akan mimpi saat aku tak sadarkan diri. Seorang wanita tegap penuh rasa ketegangan tepat berdiri di hadapanku saat itu, belum sempat ia memperkenalkan dirinya. Ia tiba-tiba mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu hanya sebuah desa kecil yang sempit dan terlihat sesak. Begitu gelap, seperti tidak ada cahaya disana. Entah dimana aku sekarang.
Bulu kudukku berdiri. Aku ketakutan. “Kau lihat? Betapa sesak dan gelapnya desa itu. Kini aku akan mengajakmu kesana.” aku takut. Aku tidak mau. Batinku terus menolak ajakan wanita itu. Rasa takutku belum sirna, tetapi wanita itu segera menggandeng tanganku menuju desa tersebut. Apa sebenarnya yang wanita ini inginkan?
Kami memasuki salah satu rumah penduduk. Aku sudah membayangan kondisi penduduk yang tinggal di desa gelap gulita ini pasti mereka dikerumuni rasa ketakutan, rasa kelaparan. Ya sudahlah, sudah terbayangkan olehku pasti yang tinggal disini itu sangat sengsara.
Ternyata dugaanku salah, benar-benar salah. Kakiku kaku seketika, mulutku membisu tak mampu berkata apa-apa. Di hadapanku saat ini aku melihat seorang ibu dengan kedua anaknya saling tersenyum satu sama lain, bercanda tawa bersama, lalu kemudian sang Ibu memeluk kedua anaknya dengan penuh kebahagian.
Sebelum aku mulai bertanya. Wanita itu sudah lebih dulu berkata, “Kau lihat? Desa ini dipenuhi dengan kegelapan, kesengsaraan, serta ketidakcukupan akan harta benda. Tapi senyum itu tetap ada.”
Aku mengangguk kebingungan. Penuh rasa tanya. Apa yang membuat mereka merasa cukup dengan keadaan yang sengsara seperti ini? Tidak ada tangisan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada kesedihan sedikit pun pada paras wajah mereka. Aku tidak mengerti.
“Apa maksud semua ini? Tempat apa ini sebenarnya?” akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada wanita misterius itu. Alhasil, dia sama sekali tidak mempedulikan pertanyaanku.
Seketika wanita itu menunjuk pada satu arah. Menunjuk ke arah sang Ibu. Spontan aku segera memperhatikan tingkah laku ibu kedua anak tersebut.
Ia mengeluarkan sejumlah uang dari saku pakaiannya. Aku menilik uang tersebut, ternyata hanya 5 ribu perak.
“Nak, ini ibu mendapatkan rezeki dari berjualan tadi pagi. Alhamdulillah. Bagaimana kalau kita beli beras dan garam untuk makan malam nanti? Kalau keduanya dicampur maka makan malam hari ini akan sangat lezat lho!” ucap sang ibu sambil berseri-seri penuh bahagia. Lalu kedua anak tersebut mengangguk angguk kegirangan.
Aku terdiam. Apa ini? Mengapa begitu berbeda denganku yang selalu mengeluh setiap saat. Makanan yang tersedia begitu banyak di meja makanku, tapi aku tidak pernah merasa puas. Aku menganggap hal itu wajar. Ya, karena memang manusia itu pada hakikatnya tidak pernah merasa puas pada apapun yang ia miliki.
Padahal hidupku sudah lebih daripada cukup, tapi aku tidak pernah bersyukur sedikit pun. Kecewa. Sungguh satu kata itu yang membuatku terpuruk saat ini. Aku kecewa pada diriku sendiri.
“Kau. Pikirkanlah apa yang belum kau lakukan. Lakukanlah yang terbaik jika ada saatnya nanti cahaya sekecil apapun menerangimu dalam kegelapan ini. Rasa syukur adalah hal yang paling mulia, mungkin sangat mudah mengatakan ‘aku bersyukur’ tetapi sulit untuk dilakukan dengan kesungguhan hati hanya padaNya.” wanita itu akhirnya pergi meninggalkanku sendirian.
Aku menangis. Aku sungguh ketakutan. Aku dimana? Aku tidak bisa berjalan kemanapun. Aku tidak tahu arah dan tujuan. Dunia apa ini? Begitu berbeda dengan dunia yang aku jalani. Di duniaku begitu banyak cahaya, tetapi di dalamnya begitu gelap. Karena rasa syukur yang tiada pernah terucap. Akankah aku mendapatkan secercah cahaya itu? Aku ingin kembali. Bantu aku Tuhan. Bantu aku untuk menjalani hidup dengan penuh rasa syukur padaMu…
Penulis cerita: Zulfah Nazala
 

Simpanan

| komentar

“ini mas tehnya” ucap Sarah dengan lembutnya pada sang suami, Sarah kemudian duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami yang baru saja pulang. Tangan suaminya pun langsung menyambut sandaran Sarah dengan memeluk bahu Sarah sembari sesekali tanganya membelai rambut Sarah yang panjang dan mengelus-elus perut Sarah yang sedang hamil tua.
“Bagaimana keadaan bayi kita”
“Kata dokter, mungkin bayi kita akan lahir beberapa hari lagi mas!”
“Maafkan aku sayang, aku nggak bisa antar kumu ke dokter”
“Nggak apa-apa kok mas, aku juga tahu kalau mas juga sedang sibuk”
Sarah tiba-tiba berdiri pergi menuju dapur dan meninggalkan suaminya yang sedang menikmati teh buatanya.
“Ini mas, tadi aku buat pisang goreng spesial buat mas” ucap Sarah sambil menaruh piring berisi pisang goreng yang masih hangat di atas meja.
Sarah pun kembali duduk di samping suaminya. Tiba-tiba ia teringat saat-saat pertama dia bertemu dengan suaminya. Mereka bertemu pertama kali di sebuah cafe sekitar 16 bulan yang lalu. Sebenarnya pertemuan mereka tidak disengaja. Saat itu Sarah hendak membayar pesanannya tapi ternyata Sarah lupa tidak membawa dompet. Dia tampak bingung mencari-cari dompet di dalam tasnya. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang cukup tampan menghampiri Sarah yang sedang sibuk mencari dompetnya
“Ada apa mbak?” ucap laki-laki yang mengapiri Sarah itu.
“Anu mas, kelihatanya dompet saya hilang!”
Kemudian laki-laki itu mengelurkan kartu kreditnya dari dompet.
“Di bayar pakai ini aja mas” ucap laki-laki yang kini sudah menjadi suami Sarah itu kepada kasir.
Dari situlah Sarah dan suaminya bertemu. Dari kejadian tersebut mereka saling berkenalan dan saling bertukar nomor hp. Dan 6 bulan berselang mereka berdua menjadi suami-istri.
Tiba-tiba hp suami Sarah berbunyi. Sarah pun terbangun dari lamunanya tentang pertemuanya dengan sang suami dulu. Suaminya kemudian berdiri dan mengabil hpnya di dalam saku celananya dan kemudian berjalan pergi menuju ke belakang meninggalkan Sarah yang sedang duduk di sofa.
“Iya-iya mah, papah sebentar lagi pulang, papah sedang di jalan” terdengar lirih kata-kata sang suami di telinga Sarah.
Sang suami kemudian kembali ke ruang tamu. tapi belum sampai sang suami duduk. Sarah sudah mengajukan sebuah pertanyaan.
“Telefon dari siapa mas?”
“dari istriku, aku harus segera pulang, dia sedang mencariku”
Mendengar kata-kata tersebut Sarah hanya bisa diam. Dia menyadari posisinya sekarang, ia hanyalah istri simpanan. Ini adalah resiko yang harus ia terima, ia tak dapat memiliki sang suami seutuhnya. Suaminya hanya pulang ke rumahnya 2-3 hari itu pun hanya dari jam 18:00 sampai jam 21:00 bahkan terkadang hanya sampai jam 19:00.
“kalau begitu aku pulang dulu ya sayang!”
“mas, tapi mas nanti bisakan nungguin aku, kalau aku lahiran?”
“ya..!, kamu berdoa saja semoga mas ada waktu untuk nungguin kamu lahiran”
Sang suami pun masuk ke dalam mobilnya dan bersiap meninggalkan Sarah. Sarah pun melambaikan tanganya dan mobil sang suami meluncur meniggalkan Sarah. Sarah pun kembali masuk ke rumahnya dan mengunci pintu rumahnya dengan hati yang menanggis. Dan kembali menuggu, semoga esok suaminya akan pulang ke rumahnya lagi.
Sebenarnya pernah terlintas di fikiran Sarah untuk hidup normal seperti wanita-wanita lainya. Apalagi wajah Sarah begitu cantik pasti banyak lelaki di luar sana yang ingin mempersuntingnya. Tapi apa boleh di kata ini adalah jalan yang sudah dipilih Sarah apapun yang terjadi dia harus menerimanya. Karena cintanya, hatinya sudah terlanjur luluh, sudah terlajur dibutakan oleh perhatian dan kebaikan yang telah diberikan oleh sang suami.
Penulis Cerita: Gaddang Arief
 

Samun Punya Cerita

| komentar

Di balik matahari yang mulai mengantuk, di sela-sela jari kaki Gunung Semeru; yang mereka sebut sebagai negeri di atas awan walaupun masih (selalu) di bawah sekotak misteri-Nya.
Seorang pemuda kencing di balik semak.
Pesing tak kentara, baunya tercium sampai Ranu Kumbolo. Surga pun tercemar karena bau pesing itu. Sembari mengutuk dinginnya angin yang baru saja menemaninya pulang turun dari puncak gunung, pemuda itu berbalik dengan selangk*ngan yang masih hina.
Seorang Bapak berumur 40-an menghampirinya; padahal si pemuda belum selesai menarik resleting celana PDL kotornya.
Bajunya coklat kumal tak karuan. Mungkin terbuat dari kulit binatang hewan yang hidup di sekitar sini, pikir si pemuda. Ada sedikit bercak darah kering di lengan baju Bapak itu.
“Dik, lain kali jangan kencing di sini.” Tangan Bapak itu kasar, mungkin karena harus melawan kerasnya alam Semeru; paku Pulau Jawa. Atau mungkin hanya karena terlalu lama memegang kapak untuk mencari kayu bakar untuk makan malam atau untuk sekedar bersenang-senang belaka.
“Ah… oh… i…iya… Pak. Maaf, maaf…” buru-buru pemuda itu menarik resletingnya sampai jari telunjuknya hampir terjepit.
“Nanti yang nungguin marah.”
Pemuda itu agak bergidik mendengar kata ‘nungguin’ walaupun dia tak percaya dengan takhayul.
“Waduh, iya, Pak. Saya nggak akan kencing di sini lagi.”
“Iya, jangan lagi.” Bapak itu menepuk pundak si pemuda dengan ramah. Larunglah niat si pemuda untuk segera kabur dari sana.
Dari teguran halus Si Bapak, datanglah pembicaraan sederhana di sebelah semak tadi: di atas kayu rontok yang sepertinya sudah lama terbaring di sana. Sepuntung Rok*k Gudang Garam Filter menemani bibir kering si pemuda. Asapnya menjadi orang ketiga dari obrolan mereka.
“Bapak mau rok*k?”
“Saya udah lama nggak ngerok*k. Saya udah janji ke istri saya”
“Kalau Bapak punya anak di sini?”
“Punya, tapi sudah meninggal.”
“Wah, maaf, Pak.”
“Sudah, tak apa. Sudah lama sekali lagipula.”
“Kalau istri, Pak?”
“Meninggal bersama kedua anak saya.”
Merasa tak nyaman membicarakan orang yang sudah tidak ada, si pemuda mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang sedang hangat
Wanita, Indonesia, hingga Gayus Tambunan menyangkut dalam satu setengah jam yang tak terasa. Hingga akhirnya si pemuda merasa sudah terlalu senja. Dia harus bertemu temannya di pos awal untuk mengejar kereta.
“Pak, maaf, saya harus ke teman-teman saya. Mereka udah nunggu di bawah.”
“Oh, silahkan, silahkan.”
Si pemuda mengambil ransel-delapan-kiogramnya dan bersiap untuk kembali berangkat. Kembali, merasa tidak enak jika pergi tanpa memberi sebuah ‘pertanyaan penutup’, si pemuda memberi pertanyaan terakhir.
“Oh iya, Pak, maaf, kalau rumah Bapak di mana?”
“Di sana.” Bapak itu menunjuk semak-semak tempat si pemuda kencing tadi.
Penulis Cerita: Finlan Adhitya Aldan
 

Ketika Bertemu Saat…

| komentar

Suasana di desa ini begitu indah. Panoramanya yang penuh kesyahduan, menghanyutkan jiwa ke dalam telaga bahagia. Kicauan burung menghiasi melodi alam. Langit yang biru tampak begitu kokoh dan awan yang bersemangat itu bergerak tiada henti. Terlihatlah taman yang menarik perhatian. Letaknya ada di jantung desa. Di waktu sepagi ini, tak ada siapapun yang akan datang. Itulah sebabnya, Taman ini begitu damai. Tanpa ada manusia. Tak terasa hati sudah terlarut ke dalam ketenangan taman. Taman yang begitu mempesona. Begitu banyak pepohonan yang besar dan berdahan besar pula. Itulah Taman Sokyuerhi.
Hentakan kaki terdengar dengan ritme yang unik. Suara denguman itu terdengar mentel namun terasa indah di telinga. Langkahnya terus melaju mengikuti rute jalan di taman ini. Ia gadis berpakaian sopan dengan memakai rok panjang. Pakaian yang ia kenakan, menutupi tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajahnya yang terlihat bersemangat itu. Ia terus berdencak dencak bak sedang menari dengan denguman itu sebagai pengiring. Tampak dari postur tubuhnya, gadis ini mungkin berusia 17 tahun. Hidungnya tidak pesek. Wajahnya yang putih amat cocok dengan pakaiannya yang merah muda. Dengan hiasan bunga sakura, pakaiannya tampak anggun.
Diperjalanannya, gadis itu terus berdencak. Matanya liar. Ke kanan ke kiri. Matanya amat lihai dalam melihat hal hal yang indah dan tak tampak kalau ia lelah memandanginya. Tiba tiba, mata gadis itu tertarik perhatiannya pada sesuatu yang berwarna hitam. Dan menggantung. Ia memperhatikannya. Itu bukanlah sesuatu yang tidak pernah ia lihat.
Deru angin sejuk membawa dedauan yang berjatuhan, terbang entah kemana. Semilir angin itu juga, membuat pakaiannya bergoyang kesana kemari. Tangan kanannya menutupi sinar matahari yang menyilaukan matanya selagi ia melihat sesuatu yang bergantung itu. Dalam sekejap raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. Ia seakan tidak mempercayai hal ini. Bibirnya membeku dan tak lagi berdengum. Matanya tak berkedip. Hanya suara yang terputus putus yang ia keluarkan.
“Jangan…” Ia bersuara.
Lalu melanjutkan ucapannya dengan seruan keras
“JANGAN LAKUKAN ITU!!!. Jangan Kau Buang Nyawamu!!” teriaknya berulang ulang.
Ia langsung menerkam sosok lelaki yang bergantung di tali yang disangkutkan di dahan pohon besar di taman. Memegang erat pakaiannya. Dia terus mengguncang sosok itu dengan menarik dan mendorongnya secara berulang ulang. Terdengar suara pria itu sedang meradang. Meradang kesakitan. Lehernya terkecik oleh tali yang melingkar di lehernya. Guncangan guncangan itu membuatnya terus merasa kesakitan.
Beberapa detik sebelumnya…
Aku sudah putus asa. Jiwaku sudah rusak. Pikiran ku juga sudah rusak. Mataku juga sudah rabun berat. Dunia ini benar benar membuatku PUTUS ASA!!. Aku putus asa!!!
Aku sudah berdiri di sebuah kursi. Tingginya kira kira 25 cm. Aku berdiri di hadapan sebuah pohon besar. Di depanku terlihat sebuah tali yang berbentuk lingkaran dengan ujung talinya terikat di dahan pohon itu. Tidak lama lagi pun aku akan meninggalkan dunia yang sudah berkarat ini. Inilah mungkin satu satunya cara untuk bisa bebas dari keputusasaan ini. Ya, aku akan bebas, besitku.
Tanpa ada keraguan, akupun memasukkan kepalaku ke dalam lingkaran perenggut kehidupan. Aku melemaskan tubuh. Pandanganku ke atas, tuk mengucapkan selamat tinggal pada langit yang selalu melihatku. Detak jantungku tiba tiba semakin cepat. Keringat membasahi pelipisku. Aku harus melakukannya, tekadku. Waktu terasa lambat. Perlahan kakiku menggeser kursi itu. Dan…
KReZzepgh..!!!
Aku sudah tergantung di pohon itu dengan tali yang mengikat di leherku. Tidak terasa sakit. Aneh! Apa karena talinya longgar atau talinya sudah rapuh?. Kalau begini aku tidak bisa mati…
Tak lama kemudian, aku mendengar suara dan…
“Argghh!!” tiba tiba saja leherku terkecik hebat. Tali yang mengelilingi leherku itu terikat kencang. Aku tidak bisa bernafas. Tubuhku seolah olah tertarik dan berguncang guncang. Itu membuatku kesakitan dan sulit bernafas. Aku hanya bisa terbatuk batuk sebagai sinyal kalau aku sedang sesak. Namun dia terus menarik narikku sambil berteriak keras. Aku tidak tahu apa yang ia ucapkan. Tapi yang jelas, Leherku benar benar sakit.
Arghh!!.
Kemudian talinya terputus. Itu membuatku terjatuh ke hamparan tanah coklat itu. Dan sosok yang menarikku juga terjatuh.
Gedebug!!
Badanku terasa sakit sekali. Aku terdiam sejenak di disini.
“Hey, hey…” terdengar suara seorang gadis disertai jari tangannya yang menusuk nusuk badanku. Seketika itu aku terbangun dari posisi terlentang itu. Aku langsung membalikkan badan dan terbatuk hebat. Aku terus terbatuk dalam sepuluh detik. Sementara gadis itu hanya menatapku. Selesai terbatuk. Aku langsung memalingkan pandanganku pada gadis itu. Dengan tatapan serius aku berkata
“Bagaimana bila tadi aku mati?”
Kata kata itu keluar tanpa ada perintah dari pusat syaraf. Itu insting, bung!
Dalam sekejap suasana menjadi hening dan tak terdengar ada suara. Hanya semilir angin yang menderu deru di telinga. Dalam sepersekian detik, ia terheran…
“Heh?!”
“Ha?!”
Entah kenapa kata itu terucap oleh bibirku. Hal itu membuatku malu ketika itu. Malu pada gadis yang ada di hadapanku itu. Tanpa berkata kata lagi. Aku melonggarkan ikatan tali di leherku itu. Kemudian melepaskan diri dari jeratan tali. Lalu aku berdiri dan mengatakan pada gadis berpakaian rapi itu,
“Sekali lagi… Aku tidak mati…” nada suaraku tersampaikan dengan alunan melodi kekecewaan.
Gadis itu tidak merespon. Aku terdiam sejenak. Lalu menyambung perkataanku tadi,
“Kenapa kau menghentikanku?” Lagi dengan nada datar penuh kecewa.
“Tapi tadi kau bilang “Bagaimana Bila aku mati?”
“Hmm, Aku adalah orang yang hidupnya tidak berharga”
“Kamu tidak berniat untuk mati kan?”
“Apa yang kau bicarakan!?” Sahutku membantah kalimat gadis itu.
“Aku sudah siap mati, tahu!!” sambungku
“Tentu tidak!” Ucapannya menyambar bak kilat
“A?”
“Tidak ada orang yang akan mau menghabisi hidupnya di hari yang seindah ini di dunia!!” Teriaknya keras dengan wajah mendongak ke langit.
Aku terdiam. Ia terus melanjutkan ucapannya.
Hari yang cerah, langit yang begitu indah, suasana yang mendamaikan hati, cinta yang tumbuh di dunia, harapan yang tercipta, hal hal itulah yang membawa kita ke masa depan yang bahagia!” Suaranya begitu energik terasa. Expresinya begitu bahagia. Ia melompat lompat kegirangan.
Kemudian ia berhenti bergerak lalu agak menundukkan pandangannya.
“Atau kamu akan disebut Buruburubazoletagejipo!”
“Bururu— apa?”
“itu adalah sebutan yang kubuat untuk orang yang mencoba hal bodoh di sini!”
Dengan agak kesal aku meresponnya “Jangan seenaknya mengganti nama orang dengan, Bururu.. zolek.. jidatp*rno.., nama itu jelek banget! Nama apaaan itu!?”
“Jelek?” ia menggelengkan kepalanya ke kiri sekali.
“Lagipula, kau tidak bisa seenaknya memberi nama sesuatu di dunia ini sekarang. Kecuali jika kau memiliki uang.”
“Heeehh…”
“Bahkan bisa saja suatu hari nanti, Bukit barisan berganti nama menjadi bukit kolor ijo! Dunia ini menyedihkan benar benar menyedihkan…”
Aku berhenti bicara untuk mengambil nafas. Lalu melanjutkannya dengan nada depresi
“AKU PUTUS ASA! Dunia gila ini membuatku begitu!!” seruku keras dan berharap langit bisa mendengarnya.
Tanpa pikir panjang lagi aku mengambil tali itu dan berniat tuk mencoba lagi.
“Kenapa kamu berpikiran begitu. Padahal dunia itu penuh dengan harapan dan cinta”
“Kalau begitu aku akan bunuh diri sekarang.”
“Kan sudah saya bilang, tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan membunuh dirinya sendiri di hari yang indah begini…!?”
“Kau tidak percaya?”
“Tidak!!”
Lalu aku mulai memberikan pertanyaan pada gadis belia itu.
“Lalu apa yang aku lakukan beberapa waktu yang lalu?”
“Ah…, itu kan…”
Ia tiba tiba memelankan suaranya. Tampaknya ia sedang berpikir. Lalu dengan segera ia memandangku dengan ekspresi yang begitu kuat,
“Kau sedang meninggikan badanmu, iyakan?!”
Aku terdiam. Terpaku mendengar ucapannya itu.
“HAA?!” responku
Aku terheran heran bukan kepalang.
“Dulu… aku ingat. Kalau ayahku dulu juga sering begitu, Ia selalu berusaha membuat dirinya lebih tinggi. Di saat ia sedang bangkrut. Di saat penagih hutang datang, dia pasti melakukan itu.”
“Eh?!, aku yakin kamu membuat sebuah kesalahan disini—”
“Dan ibuku juga, ia pernah mencoba meninggikan badannya satu kali. Maaf, kau tidak tahu ya?, Ceritanya begini—”
“Sudah Cukup!!” Seketika itu aku menghentikan ceritanya itu.
Lalu aku mulai bertanya untuk memastikan pola pikir gadis ini.
“Jadi, menurutmu bahwa jembatan di dekat sini adalah tempat favorit untuk meninggikan badan, begitu!?”
(padahal tempat itu adalah tempat paling sering terjadi kasus gantung diri)
Angin sepoi berhembus kencang. Suasana menjadi lebih tenang. Ia berjalan mendekati ku. Ia menatapku dengan seksama. Aku berbalik menatapnya. Tatapannya membuatku ada sesuatu yang greget di dadaku. Kami bertatapan cukup lama. Lalu ia mulai bergerak. Ia mengangkat tangannya ke arahku. Lalu melihat tubuhku dengan seksama.
“Hmm, Aku rasa kamu tidak terlalu pendek kok?”
Aku sedikit terkagum.
“Itu makanya kubilang, kalau aku itu bukan meninggikan badan!?”
“OH! Kamu mau jadi pemain basket ya?”
“NO!”
“Tapi tak apa. Aku yakin dengan tinggimu yang sekarang jika kamu sering berlatih, kamu bisa jadi pemain basket kok!”
“Aku tidak mau jadi pemain basket!”
“kau hanya perlu berlatih keras”
“Dengarkan aku dulu…”
Dan, perdebatan tiada henti itu berlanjut hingga keduanya merasa kelelahan. Itu adalah pertemuan seorang pria yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif dengan seorang wanita yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi positif. Itu adalah pertemuan yang jarang terjadi. Dan semoga jangan terjadi. Ibarat air dan minyak, tak akan mungkin bisa menyatu. Namun, suatu saat ketika salah satu dari mereka tidak ada, maka terasa tidak lengkap, seperti memasak indomie kuah, akan terasa kurang sedap!!! :D
THE END!
Penulis Cerita: App
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami