Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Class Sweet Class

Senin, 20 Januari 2014 | komentar

Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas membayangi kelas. Ya, kelasku, kelas baru yang paling kocak dan berisik.
Eits, bukan maksudnya buka kelas baru ya. Kami sudah kelas tiga, atau biasa disebut kelas 12. Hanya saja begitu naik kelas, diadakan pembauran, campur aduk kayak gado-gado. Biang ribut, pendiam, bikin onar, jenius, nakal, pembelot dan sebagainya bersatu. Tapi entah karena sebab apa, kelasku ini paling spesial dan seru. Ini bukan hanya argumentasiku, tapi hampir seluruh pendapat anak jurusan IPA lho. Dan aku merasa beruntung mendapat kelas ini, karena dengan begitu, aku bakal melek terus selama guru menjelaskan pelajaran. Bukan karena gurunya galak (lain ceritanya) tapi karena anak-anak yang ribut. Seperti yang terjadi hari ini.
“Eh Mon, kau lihat apa tuh di bawah meja? Kok ada cahaya-cahaya sih?” seru Reno dari bangkunya.
Bukan cuma Temon yang ngejawab, tapi hampir sebagian besar anak lainnya, “Huuu keppoo kepooo!”
“Itulah kawan bagus, pikirkanlah perasaan guru tuh yang ngajar di depan. Kau ngomong gitu konsentrasi guru jadi pecah,” kata Temon sok bijak, buru-buru memasukkan Hp nya ke kolong meja.
Reno jadi geram, usilannya berbalik maut. “Oi lihat siapa yang ngomong!”
Tapi sayang sekali, Temon mendapat dukungan penuh. Alhasil Reno kalah telak dan harus mengalah. Biasanya kalau sudah seperti itu, aku selalu terbangun dari lamunan panjangku atau kantuk yang menyerang. Kami seharian tertawa seperti orang gila. Ada-ada saja yang mereka buat. Bernyanyi, berdebat, bermain dan bercanda. Tapi kalau yang namanya olok-olokan, itu jadi makanan sehari-hari buat Saadah.
Tepatnya ketika Temon, Reno dan sekutu-sekutunya yang luar biasa heboh dan berisik (entah bintang keberuntungan apa yang menyertai, mereka bisa bersatu) melakukan lawakan. Nah, kalau ribut begitu, siapa sih, anak yang tak tertarik untuk memandang? Dan sayangnya Saadah ini lehernya paling cepat berputar untuk melihat, tapi menjadi kaku ketika ketangkap basah dilihat mereka.
“Ngapain mandang-mandang, Saadah?!” bentak Aldo pakai urat.
“Gerek pakai celurit tak iye,” olok Reno nyaring, diiringi tawa anak-anak lain, termasuk aku juga (maaf Saadah!).
Saadah tak mau kalah, membalas sengit. “Eh bebek! Nanti benar-benar aku potong pakai celurit baru tau rasa!” Bebek itu panggilan Saadah buat Reno, karena mulutnya tak bisa berhenti monyong, ngoceh tiap detik, tiap menit.
“Masih mending, bebek lebih elit! Kau? Tikus di sawah-sawah tuh, hama!”
Dan mulailah adu mulut mereka, yang biasanya membuatku tertawa-tawa sampai sakit perut. Dan kalau aku juga ikutan ngomong ke anak-anak belakang, maka aku pun turut jadi sasaran.
“Apa Ain, diamlah! Papan tulis tuh di depan,” kata Andi yang duduk paling belakang.
“Ain, ribut!” tukas Bandi di barisan seberang belakang.
Aku mengernyit. Percuma kalau aku lawan, jumlah mereka lebih banyak, jadi aku diam saja. Memasang tampang cemberut sebisa mungkin. Kalau aku diam, maka Mely lebih banyak celotehnya. Dia bakalan tukar bangku dengan Saadah, dan bercerita padaku tentang K-Pop yang diidolakannya sambil bernyanyi-nyanyi; ne mosub gudaeroga choheunde naneun… oooh ooohhh…. Nah, kalau sudah begitu, bukan aku lagi yang menjawab. Aku tak perlu membuang-buang tenagaku untuk menanggapi bahasa yang tak terlalu ku mengerti meski aku juga senang lagu-lagunya. Karena dalam waktu beberapa detik, semua anak (terutama Temon cs) bakalan berseru.
“Ngapain si Mely tuuu?”
“Apa Meeel… iiih alllaaay,”
11 12 dengan Saadah, Mely pun komentar, “berisik kalian, suka-suka gue dong,”
“Ndak? Lah lah Mely pening dah tu,” timpal Aldo, lanjut perang pantang mundur.
“Cieee cieee,” semua anak mulai menggoda mereka berdua, yang terbilang meskipun sering adu mulut, tapi di situlah letak manisnya hubungan mereka.
Kalau sudah digoda begitu, mereka berdua bakal diam, menggerutu sendiri, menolak kenyataan bahwa orang yang melihat mereka seperti itu sangat co cewit (alay! Haha) alias so sweeet!
Beda Mely dan Aldo yang pakai bentak-bentak, beda lagi dengan cewek manja keimut-imutan di kelas. Suaranya lembut mengalahkan bantal bulu guling di rumah masing-masing. Ketika guru mengabsen, “Fika Lesmana,”
Maka cewek yang duduk di ujung dekat jendela itu menanggapi namanya, “ya paaak. Di siiinnniii,” ucapnya mengacungkan tangan dengan manja, menggembungkan pipinya.
“Aduuuhhh…” sontak semua cowok ikut-ikutan ngomong lembek kayak tahu. “Heleh heleeeh….”
Reno dengan gayanya yang khas, bakalan memekik bak banci, “Phiikaaa! Phiiikaa!” Pas giliran nama Reno yang disebut, dia bakalan nambahin kata “ganteng” di belakangnya. Jelas serempak semua anak ber-huuu, dan orang paling narsis sejagat, yang sudah putus urat malunya ini akan berdiri dan ber-cup sana-sini, kecuali jika ia melihatku berlagak muntah mendengarnya menambahkan kata “ganteng” itu.
“Ain jangan kau muntah, nanti kalau ternyata kita jodoh, diam kau!”
“Iiiisshhh,” aku mendesis jijik padanya.
“Jangan ber-ish-ish Ain, jodoh Allah yang ngatur, siapa tahu juga kita bisa bersama, nikah, terus bla-bla-bla,” begitulah celotehan Reno yang terkadang terdengar memalukan dan sangat menyebalkan. Tapi itu makanan sehari-hari, semuanya tampak biasa namun luar biasa.
Ketika jam istirahat, kami akan membuka bekal masing-masing dan makan bersama-sama dengan khidmat, kadang penuh tawa. Dan setelah itu, kami belajar kembali. Kelasku ini terkenal bukan hanya kumpulan anak nakal lho, tapi yang jenius juga banyak. Para paralel (juara keseluruhan jurusan kelas IPA/IPS) dari yang terbaik berkumpul di kelasku, sehingga kontras sekali jika melihat pemandangan kelasku ini. Seimbang. Biasanya yang pintar itu jadi tumbal untuk menjawab soal ketika anak-anak lain tidak tahu. Kesannya kelasku ini serba bisa terus.
“Maju, Poppy, selesaikan,” dorong Edho semangat, suara seraknya bergaung di kelas. Kalau yang hubungannya ilmiah, jelas anak nakal mati kutu. Jika bukan Poppy yang maju, maka Afza bakalan berjalan dengan pelan ke depan dan mengambil spidol, menulis jawaban hasil pencariannya pada angka-angka yang memusingkan.
Ah, Class Sweet Class. Begitu banyak kisah-kisah indah yang lucu, jenaka, dan menggugahku untuk berusaha menyukai kelas ini. Karena seperti yang kalian ketahui, sebagian besar pendapat seluruh kelas IPA, mereka iri degan kehangatan kelasku. Kelas yang heboh penuh canda, serius di saat yang tepat, bekerja tanpa upah, kompak bersepeda bersama pagi-pagi ke sekolah apabila hari itu ada jam olahraga.
My Class Sweet Class, kelak kenangan ini takkan padam, meski terkubur sedikit demi sedikit, maka tunggulah di sini. Buatlah semakin banyak gunungan kenangan, sehingga kita tak dapat menguburnya, karena lahan ingatan yang terbatas, dan kenangan kita yang tak terbatas.*
Penulis Cerita: Lunariel
 

Ismail Kecilku

| komentar

Pagi yang sangat cerah. Tadi malam begitu lelap tidurku. Yah, karena Adik yang tidur satu kamar denganku sedang pulang ke kampung. Dan rencananya, pagi ini mereka baru akan datang ke kos. Minggu ini adalah waktu istirahatku. Aku ingin merasakan kenyamanan, kesegaran pikiran, dan aku ingin bebas dari semua pekerjaan. Aku ingin badan dan fikiranku segar di esok hari. Aku tahu, besok akan ada setumpuk pekerjaan di meja kerja yang harus aku selesaikan. Oleh karena itu, aku ingin mengistirahatkan badan dan fikiranku.
Di kos-kosan, aku adalah orang yang paling tua, umurku 25 tahun. Kebanyakan, yang kos di sini anak-anak kuliahan, sekitar 18-21 tahun. Dan anak yang satu kamar denganku Dia berumur 18 tahun, Dia baru masuk kuliah tahun ini. Karena aku paling tua di sini, banyak anak-anak yang sering curhat denganku. Pikiranku jadi tambah banyak. Terkadang, aku pusing memikirkan masalah anak-anak. Belum lagi masalah rekan kerjaku di kantor. Ya Tuhan, bebanku begitu banyak. Ingin pecah rasanya kepalaku ini.
Satu hal yang membuat emosiku memuncak. Hal yang paling membuatku suntuk saat bekerja. Andaikan aku mempunyai pilihan untuk bekerja di tempat lain, aku akan pindah sekarang juga. Berat untuk melakukan aktivitas kerjaku. Hal yang selalu membuatku naik darah. Resty. Yah.. anak baru, yang masih mempunyai hubungan saudara dengan rekan kerja satu tingkat di atasku. Sikapnya sudah seperti karyawan lama. Bertindak seenaknya, tidak tahu sopan santun, menyuruh sesuka hatinya.
Suasana kerjaku semakin kacau dengan kehadirannya. Bukan aku saja, rekan kerjaku yang lain juga mengeluhkan hal yang sama denganku. Cerewet, bawel. Mentang-mentang saudaranya mempunyai kedudukan yang tinggi di kantor, Ia bisa seenaknya menyuruh karyawan di kantor.
“Kak Re, kamu merasa ada yang aneh tidak dengan Ajeng?” Tanya rekan kerjaku – Andin -, yang meja kerjanya ada di samping kananku. “Memangnya ada apa dengan Dik Ajeng?” Tanyaku sambil mengetik di komputer. “Mm.., cuma tanya saja.” Katanya datar. “Memangnya, Dik Ajeng tidak cerita apa pun ke Mbak Revi?” Tanyanya dengan nada menyelidik. “Dik Ajeng tidak cerita apa pun sama Mbak, memangnya kenapa, Din? Sepertinya, kamu ingin mengetahui sesuatu tentang Dik Ajeng” Kataku yang masih fokus pada pekerjaanku.
“Atau mungkin, Kak Laras yang tahu, ya? Dia kan satu kos dengan Ajeng” Kata Andin yang masih penasaran, gayanya seperti detektif saja. “Kalau begitu, kamu tanya saja sama Mbak Laras.” Kataku yang sudah sempat menatap Andin, dari tadi aku hanya menjawab pertanyaannya, tanpa menolehnya sedikit pun. Tatapanku tertuju pada komputer yang ada di depanku.
“Yah, si Resty sudah datang Mbak. Miss cerewet, miss bawel” Kata Andin. Dia anaknya berani melawan Komsatun. Karena Dia seumuran dengannya (20 tahun). Aku dan rekan kerja yang lain, hanya diam menghadapi segala macam ulah Resty, cemoohan, gunjingan dan segala fitnah yang Ia sebarkan. Kami memilih diam, karena tidak ada gunanya meladeni anak seperti itu. Kita harus menjaga image. Kita lebih dewasa, sehingga harus bisa bersikap bijak menghadapi anak seperti Dia. Kalau tidak, reputasi dan pekerjaan yang akan menjadi taruhannya.
“Ada gosip baru, sudah tahu belum? Jangan sampai ketinggalan..” Kata Resty saat berjalan di depan meja kerjaku. Kemudian Dia duduk. Meja kerjaknya di sebelah kiriku. “Baru datang sudah bilang gosip. Dasar gondes” celetuk Andin dengan nada sinis. “Sinis sekali kamu sama aku. Lihat saja! Akan ada berita menghebohkan.” Katanya dengan senyum sinis yang memperlihatkan bibirnya yang ditarik ke kanan. Untung bisa kembali seperti semula. Coba saja, bibirnya kaku. Seperti apa wajahnya, Tambah jelek saja.
“Sebaiknya, kamu jangan cari masalah lagi” Kataku pada Resty. “Aku tidak cari masalah, aku hanya memberi tahu. Karena ini menyangkut reputasi perusahaan tempat kita bekerja” Katanya dengan nada yakin. ‘Apa sebenarnya yang Ia sembunyikan. Kalau sudah menyangkut masalah perusahaan, Dia tidak mungkin main-main dengan ucapannya. Salah-salah, Ia bisa dipecat dari kantor. Meskipun Kakaknya menduduki posisi penting di perusahaan, aku yakin Pak Dani tidak akan memberi toleransi atas sikapnya.
“Teman-teman, ada rekan kerja kita yang sedang tertimpa masalah. Aku ingin mengajak kalian untuk membantunya. Ajeng membutuhkan biaya untuk mengobati penyakit miomnya.” Kata Kak Laras. “Ajeng kena miom?” Tanyaku terkejur. “Iya, kemarin Dia cerita sama aku” Kata Mbak Laras. ‘Tapi, aku kemarin melihat Dia muntah-muntah di kamar mandi. Wajahnya pucat, dan terlihat lemas. Seperti istrinya Mas Ari saat hamil. Apa benar Ajeng terkena miom. Penyakit apa?’ Tanya Andin dalam hati, Ia menyimpan segudang pertanyaan.
“Miom apa hamil? Perutnya saja membuncit seperti orang hamil” Kata Resty dengan nada menyindir. “Mbak Laras kan di sini paling tua, sudah menikah juga. Masak, hamil atau bukan, tidak bisa membedakannya. Ups.., maaf. Mbak Laraskan di sini perawan tua. Belum menikah. Jadi, belum tahu, ya..,” Kata-kata Resty membuat hati Mbak Laras panas seperti terbakar api. Aku dan Andin hanya bisa menatap Resty dengan tatapan yang penuh gereget. Ingin rasanya tanganku meremas mulutnya yang bawel. Akan aku cubit bibirnya yang manyun.
—
“Mbak, apa sebenarnya yang terjadi dengan Dik Ajeng?” Tanyaku pada Mbak Laras. “Dia terkena miom, Re” Jawabnya. “Tapi, aku kemarin melihat Ajeng muntah-muntah di kamar mandi Mbak, wajahnya telihat pucat, lemas. Seperti Istrinya Mas Ari saat hamil” Kata Andin. “Andin, gejalanya memang seperti orang hamil. Muntah-muntah, dan perutnya juga membuncit seperti orang hamil” Mbak Laras menjelaskan. “Mbak dulu juga pernah mengalaminya. Kemudian Mbak Laras melakukan operasi” Mbak Laras jadi curhat.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk membantunya, Mbak?” Tanyaku pada Mbak Laras. Dia lebih tahu mengenai Dik Ajeng. “Sebaiknya, kita bantu biaya operasinya. Aku kasihan dengan kondisinya sekarang. Orangtuanya hidup dengan kondisi yang kekurangan. Adiknya juga masih sekolah. Dia adalah tulang punggung keluarga” Cerita Mbak Laras begitu menyentuh hatiku dan Andin.
Selang bebera hari, Andin mulai absen dari kantor. Semua orang terlihat cemas. Termasuk Mbak Laras, teman satu kamarnya. Tersiar kabar bahwa Dik Ajeng hamil. Kabar yang sangat mengejutkan. Aku, Andin dan Mbak Laras sudah berusah membantu mencari dana untuk biaya operasinya. Pinjam sana, pinjam sini. Bahkan banyak rekan kerja yang ikut membantu. Tapi, apa kenyataannya. Dia hamil. Dengan status belum menikah. ‘Apa yang sebenarnya terjadi, ada apa dengan Dik Ajeng. Dia anak yang polos, pendiam, baik. Kenapa cobaan ini menimpanya?’ Pikirku yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Aku, Andin dan Mbak Laras pun berusaha mencari keberadaan Dik Ajeng. Kami datang ke rumah orangtuanya. Tapi, Dik Ajeng tidak ada di sana. ‘Kemana perginya anak itu?’ Tanyaku dalam hati. ‘Dimana kamu, Dik? Kenapa kejadiannya seperti ini. Apa sebenarnya yang terjadi?’ Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di pikiranku.
Karena kondisi kos-kosan yang kurang nyaman, akhirnya aku memilih untuk mengontrak rumah. Entah kenapa, pagi ini hujan turun deras, aku membuat secangkir teh agar tubuhku merasakan kehangatan dan sebuah roti pengganjal perut. Tiba-tiba, ada orang yang mengetuk pintu di depan. ‘Siapa pagi-pagi bertamu?’ Tanyaku dalam hati, berat untuk meninggalkan meja makan. Aku ingin bersantai. ‘Siapa, sih? Pagi-pagi bertamu?’ Kataku dalam hati dengan nada kesal.
“Aku pun membuka pintu. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat orang yang ada di hadapanku. Tubuhnya basah, Rambut yang tergerai panjang, dan air yang terus menetes dari ujung rambutnya. Matanya merah, bibirnya pucat. Menggigit dengan bibir bergetar. Kedua tangannya diletakkan di dadanya untuk menahan rasa dingin air hujan. Karena Ia terkejut melihatku, Ia pun berlari. Aku pun mengejarnya, aku kenal siapa Dia.
“Tunggu Dik..!” Teriakku yang kemudian meraih tangan kananya. “Aku malu Mbak, aku malu pada semua orang. Termasuk Ibu dan Adik-adikku.” Kata gadis itu dengan tangis yang menuruni pipinya bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajah cantiknya. “Ikutlah denganku Dik, tinggallah bersamaku” Aku memeluknya, dengan penuh kelembutan. Aku usap rambut panjangnya yang basah. Tanpa ku sadari, air mataku menetes di pundaknya.
Aku pandangi gadis nan cantik itu. Ia minum habis secangkit teh hangat yang kubuatkan. Aku keringkan badan dan rambutnya yang basah dengan handuk. ‘Kenapa kamu harus mengalami masalah serumit ini, Dik?’ Kataku yang kasihan melihat kondisinya yang memprihatinkan.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Dik Ajeng?” Tanyaku dengan nada pelan, sambil menunduk menatap wajahnya. Ia masih belum berani menatapku, takut atau karena malu atas kondisinya sekarang. Perutnya sudah membesar. Sebentar lagi mungkin, Ia akan melahirkan. Ia hanya diam, menundukkan kepalanya. Air matanya terus menetes dan terjatuh di pangkuannya. ‘Apa aku salah bertanya seperti itu, Dik? Bicaralah…!’ Kataku dalam hati. Aku bingung dengannya, Ia justru menangis tersedu-sedu.
“Ijinkan aku tinggal di sini, Mbak” Ia mendongakkan kepalanya menatapku. Tatapan yang penuh kesedihan, setumpuk beban terlihat di kedua matanya. Aku langsung memeluknya. Membelai rambutnya, dan lagi-lagi, air mataku terjatuh. Aku tak tahan melihat kondisinya seperti itu. Begitu berat ujian yang harus Ia hadapi. Aku tak ingin bertanya hal apa pun kepadanya. Kondisi mentalnya sedang tidak baik. Pertanyaanku hanya akan menambah beban batinnya. Jika Ia sudah merasa baik, Ia akan dengan sendirinya menceritakannya padaku. “Tenaglah, Dik. Mbak Revi akan senantiasa membantumu” Kataku menenangkannya.
Akhirnya, Ia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. Ternyata, semua ini adalah perbuatan Resty. Ia iri dengan kecantikan Dik Ajeng. Resty putus dari pacarnya lantaran pacarnya suka dengan Dik Ajeng. Kemudian Ia menyuruh orang untuk memperk*sa Dik Ajeng. Gadis cantik yang sangat lugu, pendiam dan baik hati. Sungguh, Ia tidak pantas mendapatkan perlakuan jahat dari Resty. Selang beberapa hari tersiar kabar, Resty meninggal dengan cara mengenaskan di sebuah kamar hotel. Ia meninggal diduga kerena over dosis mengkonsumsi nark*ba.
Hari ini Dik Ajeng melahirkan, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kondisinya sangat lemah. Aku senantiasa mencukupi kebutuhan gizi untuk Dik Ajeng dan bayinya. Tapi, aku bertemu dengannya setelah kondisi kandungannya berumur 8 bulan. Dan aku tidak tahu dengan kondisinya saat Ia pergi dari rumah. Apakah makanan dan tempat tinggalnya layak untuk Dia dan bayinya.
Aku menghubungi Mbak Laras dan Andin. Aku mungkin bisa menyimpan rahasia keberadaan Dik Ajeng dari mereka. Tapi aku tidak bisa merahasiakan kondisinya sekarang ini. Aku butuh seseorang untuk membantuku berfikir meyelesaikan masalah ini.
Aku pergi ke makam dengan Andin dan Mbak Laras. Seorang bayi nan tampan berada di dekapanku. “Tenanglah di sana, Dik. Ismail kecilmu akan menjadi Ismail kecilku” Kataku menitikkan air mata. Aku tatap kedua mata Ismail yang berbinar-binar. Ia tampak tersenyum dalam dekapanku. Wajah yang tak terlihat ada beban sedikit pun. Aku seperti melihat kedua mata Dik Ajeng. Kini ia sudah merasakan ketenangan. Tak ada beban di kedua matanya lagi.
Selesai
Penulis Cerita: Choirul Imroatin
 

Kado Terindah Dari Sahabat

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

“rina slamat ulang tahun ya!” Semua anak pasti bicara seperti itu. kata-kata yang sangat membosankan bagiku. mereka merasa bahagia dikala aku bahagia. tapi dikala aku sedih tak satu pun dari mereka yang turut sedih, kecuali sahabat ku adit. adit selalu menghiburku di saat aku sedih, membuatku lebih baik. aku cinta padanya akan tetapi tidak sebagai pacar tapi sebagai sahabat yang takkan pernah berakhir.
Segunung kado menumpuk di kamarku. Tapi kado yang bernamakan adit tidak ada. berulang kali ku mencari apa adit lupa denganku? tidak mungkin. adit takkan lupa dengan sahabat sejatinya. mungkin ia akan memberikan kadonya besok dan lebih istimewa pastinya, aku yakin itu.
“assalamualaikum!!” Seseorang mengetuk rumahku. mungkin ini adit segera ku membukakan pintu
“adit?” teriakku
“rin, ini gawat!!” Tersentak aku kaget melihat siapa yang berkunjung ke rumah ku. nisa sahabat kedua ku di sekolah
“ada apa nis?”
“a, a, a, adit!!”
“kenapa?, kenapa sama si adit?” sambil menggoyang-goyangkan tubuh nisa
“si adit pengen ke amerika, sekarang dia sudah di bandara!” jelasnya sambil terbata-bata
“apa?”
Aku langsung mengganti pakaianku, menancap gas motorku menuju bandara
“rin gue ikut ya”
“iya cepat naik!”
Aku mengandarai motor dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan polisi dan ocehan nisa yang sedari tadi mengomel padaku. ini semua demi sahabatku adit. menurutku ini semua tak sebanding dengan apa yang telah adit lakukan padaku, adit mengapa kamu nggak pamitan dulu sama aku.
“rin nggak bisa lebih cepet lagi lo nyetirnya?”
“ok!!”
Aku tertawa kecil dalam hati. aku tahu pasti nisa hanya bercanda tapi well jika itu yang ia mau.
Karena jalanan cukup sepi aku menambah kecepatanku menjadi 100/km per jam kecepatan perdana selama aku mengendarai motor. nisa menutup matanya tak berani melihat perilaku nekat ku ini. setelah dua jam perjalananku akhirnya aku sampai juga di bandara. nisa terlihat syok karena perjalanan kami tadi. jadi ku tinggalkan saja dia di parkiran.
Aku berlari di kerumunan banyak orang. tidak sedikit orang yang ku tabrak. dan banyak dari mereka yang minta maaf kepadaku seharusnya aku yang minta maaf kepada mereka. aku mengahmpiri OB yang sedang menyapu lantai.
“pak pesawat yang jurusan amerika udah berangkat belum?” tanyaku terburu-buru
“belum neng, mungkin sekitar lima menit lagi pesawatnya berangkat!”
Aku langsung melesat meninggalkan OB itu, ia hanya menggelengkan kepala melihatku berlari. adit aku pasti datang.
Aku merasa kesal karena bandara tidak bisa diajak kompromi. bandara sangat ramai akan orang-orang. lalu ku melihat pesawat yang siap terbang dan dibalik kaca ku melihat sesosok muka yang sudah tudak asing bagiku “adit”
“adit!!!” teriakku sambil memukul-mukul kaca
Adit melirik kaget ke arahku ia hanya tersenyum manis berlinangkan adir mata dan memperlihatkan secarik kertas padaku.
“rin, makasih ya udah dateng, maaf ya aku nggak bisa ngasih kado buat kamu tapi kado aku buat kamu simple kok hehehe. kado ku hanyalah doa yang selalu ku panjatkan untukmu.”
Salam manis adit
Aku hanya menangis sambil melambaikan tangan padanya. menurutku itu adalah kado terindah sepanjang hidupku. pesawat itu terbang dan menghilang ditelan awan
Penulis Cerita: Imam Nur Hidayat
 

Arti Sahabat

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Dinginnya malam yang terasa tertusuk di kulitku. Dalam sepi renungan hati, ku terdiam sejenak membayangkan hari esok yang tak tau langkah cerita hidup apa lagi yang ku buat, ah.. ku pikir malam pun semakin larut, kucoba merebahkan badanku ke atas kasur yang telah menantiku disana, kutarik selimut untuk menyelimuti tubuhku, ku tatap sejenak langit-langit ruang kamar ku, dan akhirnya perlahan mataku pun terpejam.

Di pagi yang cerah sayup terdengar suara kicauan burung yang hinggap di atas pohon tepat di belakang rumahku, dan tampak matahari yang seperti tersipu malu menampakan dirinya, tanpa pikir panjang lagi aku langsung bergegas melakukan kewajibanku di rumah sebagai anak perempuan. setelah itu baru lah aku bergegas menyiapkan diri ke sekolah.

Detik demi detik waktu dan langkah demi langkah ku berjalan menuju ke sekolah. Setelah kiranya tiba ku di sekolah seperti biasa ku berbincang sejenak bersama teman-teman ku atau bisa dibilang mereka sahabat ku. Aku berteman dengan mereka sudah sangat lama diawali dari sejak aku duduk di bangku SD, hingga sekarang. Hingga kami menamakan persahabatan kami ini dengan nama yang kami ambil dari bahasa jepang yaitu KIREINA SHOJO. mungkin banyak orang di sekolah yang mengenal dan mungkin menurut mereka sudah tidak asing lagi.

Kireina shojo atau KS berarti cewek-cewek cantik yang beranggota 11 cewek. tapi kini banyak bagian dari KS yang meninggalkan kami untuk melanjutkan sekolahnya, dan tinggalah KS yang hanya beranggota 6 orang. Namun terkadang aku juga merasa aneh karena tingkah mereka yang terkadang membuatku kesal. dan akhirnya membuat ku berpisah dengan KS. Hal ini mebuatku sangat sedih konflik di antara kami pun semakin menjadi-jadi.

Dua hari sudah berlalu aku pun akhirnya sendiri tanpa seorang sahabat yang menemani ku, ku coba menjalani hari demi hari hanya sendiri kubayangkan, andai aku dapat berkumpul kembali bersama mereka, tertawa, bercanda bersama mereka dan andaikan sebelumnya aku tak menentang permasalahanku dengannya mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Ahh… pikirku tak perlu aku sesali, mungkin ini adalah ujian atasku untuk harus terus bersabar menghadapi kerasnya hidup.

Akhirnya selama sebulan aku menjalani semuanya. tetapi hari ini tepatnya di hari jum’at sepulang sekolah, tak ku sangka salah satu teman lama ku dengan nada lembut ala-alanya memanggilku, aku segera menoleh ke arah nya seolah tak percaya. kupastikan apakah benar dia memanggilku. ternyata benar, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menghampirinya.

“hai.. bagaimana kabarmu?”
“ahh.. baik, bagaimana denganmu?”
“aku juga baik”
“ehm.. ngomong-ngomong ada apa kau memanggilku? apa kau sendiri? mana teman-teman yang lain?”
“ya, aku sendiri, mereka sudah pulang duluan. aku menemuimi hanya ingin mengatakan sesuatu namun sebelumnya aku ingin minta maaf kepada mu”
“ah.. tak apa, semua manusia pasti tak pernah luput dari kesalahan”
kami pun saling merangkul dan sambil meneteskan air mata haru.
“sebenarnya selain ini aku dan teman-teman juga ingin mengajakmu kembali bergabung bersama KS lagi”
mendengar perkataannya aku seperti bermimpi di siang bolong hmmm benar-benar tak terbayangkan.
“oh.. tentu saja aku mau”
“ya sudah mulai besok ku tunggu kau di sekolah ok”
“ok”

Akhirnya terjawab sudah semua doa ku selama ini, terima kasih ya ALLAH aku sadar bahwa persahabatan itu sangat penting bagi ku, aku janji akan menjadi yang terbaik buat KS :)

TAMAT

Penulis Cerita: Lina
 

Demi Sahabatku

Senin, 13 Januari 2014 | komentar

Aku melangkahkan kakiku ke tempat arah menuju sekolahku.
Oiya! kenalkan terlebih dahulu, namaku Farah Winata. Aku duduk di bangku SMA kelas X. Hari ini mungkin akan menjadi hari pengalamanku, karena sehari setelah aku diterima di SMA, aku langsung mempunyai teman. dan dia namanya Fahra. bahkan, namaku dengannya pun hampir sama. tapi kadang aku juga sedih, mengingat kata-kata ibunya Fahra, bahwa Fahra menderita penyakit leukimia. Untuk itu, makannya aku selalu menghibur dan menyemangatinya terus, tanpa henti.
Akhirnya, sampai di sekolah juga.
“Farah..!” teriak seseorang yang memanggilku. Aku tau, karena dia pasti Fahra. “Kenapa, Fah?” tanyaku sembari menghampirinya. “Ayo deh, ikut aku!” Fahra menarikku untuk mengikutinya.
“memangnya disini ada siapa?” tanyaku bingung, karena Fahra mengajakku ke tempat lapangan bola basket, dan melihat para siswa lelaki yang asik main basket. “Itu!” Fahra menunjuk ke arah lelaki yang juga salah satu dari tim basket tersebut. “Menurutmu, dia tampan tidak?” tanyanya. “Hmm.. lumayan, memangnya kenapa? kau suka ya?” aku menggodanya, Fahra hanya menganguk malu.
Dan akhirnya aku pun tau, ternyata lelaki yang Fahra suka itu bernama Billy. Hubunganku dengan Billy cukup akrab sebagai teman. Sekarang aku, Fahra, dan juga Billy memutuskan untuk bersahabatan.
Hingga seseorang memberikanku kabar, bahwa Fahra sedang dirawat di rumah sakit, karena penyakit leukimia nya. Segera saja aku bergegas menuju rumah sakit bersama dengan Billy.
Sesampainya aku dan Billy di kamar rawatnya Fahra, aku mencoba menahan tangis dalam hatiku, namun percuma saja, karena air mata itu kini turun membasahi pipiku.
Aku mengajak Billy untuk membicarakan sesuatu di luar.
“Bill.. aku ingin kamu tau, kalau sebenarnya… Fahra itu menyukaimu” ucapku yang mengatakan sejujurnya. “Aku sudah tau, Far.. dari awal kita bersahabat, aku bisa melihat gerak-gerik Fahra terhadapku” jelas Billy. “Ya sudah.. jika kau juga menyukainya, jagalah dan bahagiakanlah dia. Jangan pernah membuatnya terluka!” ujarku memberikan nasehat. Billy mengangguk mengerti.
Akhirnya, kini Fahra bisa bangkit dari kerterpurukan penyakitnya. Dan sekarang, Fahra dan Billy sudah menjalin hubungannya.
Aku senang bisa melihat Fahra kembali tersenyum ke dunianya.
Penulis Cerita: Hesti Wulan Nugraheni
 

Antara Cinta dan Persahabatan

| komentar

Jam dinding sudah menunjukan jam 5.14. Aku segera berangkat ke sekolah, aku bersekolah di SMP NEGERI 2 di daerah Jombang. Aku termasuk anak yang pendiam dan jenius.
Aku punya teman yang bernama Diky, ia adalah sahabat terbaikku, kami berdua sering membicarakan tentang cinta. Hingga di suatu hari Diky bercerita kalau dia menyukai seorang perempuan cantik yang bernama Putri, Putri adalah sahabat terbaikku juga, jadi aku memberitahu putri bahwa Diky menyukainya. Putri juga pernah bercerita kepadaku kalau ia dulu juga mencintai Diky, jadi aku memberi tahu diky kalau putri juga mencintainya. Tanpa befikir lama lagi diky pun lansung menembak putri. Hingga akhirnya mereka berdua jadian.
Hari demi hari mereka lalui dengan penuh rasa kasih sayang, dan penuh dengan kemesraan, bila mereka berdua ada masalah, aku selalu memberi masukan dan solusinya, hingga hubungan mereka kembali rekat lagi.
Setelah 3 tahun kemudian, Aku dan teman teman satu sekolah mengadakan suatu perpisahan, perpisahan sekolah terasa sangat senang hingga kita semua sampai lupa waktu, hingga sore perpisahan pun belum salesai, adzan maghrib terdengar sedang berkumandang, kami semua segera bergantian mengambil air wudhu, setelah aku selesai wudhu, aku pun langsung mengambil microphone untuk mengumandangkan adzan maghrib.
Setelah selesai sholat berjamaah kami semua berpamitan kepada guru guru kami, dan meminta doanya, agar kami semua bisa mencapai ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dan menggapai cita cita kami. Kami semua pun segera pulang ke rumah masing masing dengan rasa bahagia dan capek.
Jam berputar dengan cepat hingga tidak terasa bahwa aku dan teman teman harus mencari sekolah kejuruan yang kami inginkan. Aku pun mengajak diky untuk ke sekolah yang aku inginkan, akan tetapi diky tidak mau, karena ia kasihan sama orangtuanya yang tidak sanggup membiayainya, diky masuk ke sekolah yang agak relatif murah, yang biayanya dapat dijangkau oleh kedua orangtuanya.
Aku memilih ke sekolah yang aku ingingkan. Pertama kali masuk ke sekolah kejuruan terasa seperti mimpi. Dari dulu aku memang ingin masuk ke sekolah kejuruaan. Aku memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan atau TKJ. Aku memang menyukai dengan bidang elektronik.
Setelah lama tidak bertemu dengan sahabatku diky, aku pun pergi main ke rumahnya setelah pulang dari sekolah. Setelah sampai di rumahnya diky, diky bercerita banyak tentang hubunganya dengan putri. Ian bercerita bahwa hubungan mereka sudah kandas di tengah jalan. Aku pun turut prihatin atas semua kejadian yang dialami oleh diky.
Sepulang dari rumahnya diky, aku menuju ke rumahnya putri, aku bertanya ke putri “mengapa sampai hubungan kalian berdua kandas di tengah jalan?”, putri menjawab “sebenarnya aku dari dulu tidak mencintai diky, tapi aku mencintai kamu”. Aku pun terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putri. Aku menjawab semua perkataan itu dengan lembut. “Aku sebenarnya juga mencintai kamu put, tapi aku memendam rasa itu karena aku tahu kalau sahabatku sendiri juga mencintai kamu…”
Setelah perbincangan itu aku dan putri pun menjalin sebuah hubungan. Hubungan kami sangat istimewa, karena tidak ada masalah sedikit pun. Setelah 1 tahun berjalan, diky mengetahui kenapa putri memutuskan untuk pisah dengannya. Diky pun marah marah kepadaku. Sepanjang hari Aku selalu minta maaf kepadanya akan tetapi ia masih tidak mau memaafkan aku.
Satu tahun kemudian, ia pun mau memaafkan aku dan melupakan semua yang terjadi, aku merasa sangat senang dan bahagia. Aku juga bercerita bahwa hubungan aku dengan putri sudah kandas di tengah jalan, diky bertanya kepadaku, “jangan bilang kalau gara-gara aku hubungan kalian kandas di tengah jalan, aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian, tapi aku memang sangat marah dan kecewa sama kamu dan putri!”, aku menjawab pertanyaan itu “santai aja brow, bukan gara-gara kamu kok, tapi memang kita sudah tidak ada kecocokan lagi…”.
Suatu hari, diky bercerita kepadaku kalau ia sedang naksir seorang temannya, temannya itu bernama Ayu. Aku sangat mendukung usaha diky untuk mencari hubungan lagi. Setelah aku dikenalin dengan ayu, kami jadi sering ketemu dan jalan bareng. Hingga kedekatan aku dengan ayu semakin dekat, rasa cinta mulai tumbuh di antara kita berdua. Tapi aku mulai sadar kalau aku tidak boleh melakukan kesalahan lagi, aku tidak mau diky marah besar lagi kepadaku.
Aku berusaha untuk menjahui ayu, akan tetapi ayu masih mencari aku, hingga aku kasihan kepadanya. Malam harinya aku main ke rumahnya ayu, ternyata ayu sedang menangis di kamarnya, aku secara diam diam masuk ke kamarnya, dan berusaha untuk menenangkannya. Aku tidak kuasa menahan rasa kasihanku, tiba tiba ayu memeluk aku dengan sangat kencang, dan sambil menangis ia berkata “aku tidak mau kehilangan kamu, jadi kamu jangan pernah meninggalkan aku lagi za…”, aku pun mejawab kata kata itu “ayu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, aku juga sangat mencintai kamu, sekarang kamu jangan nangis lagi za…”. Karena terhanyut dalam suasana aku dan ayu tidak menyadari, bahwa dari tadi diky sudah ada disitu.
Aku pun berusaha untuk melepaskan tangan ayu dari pelukannya, akan tetapi ayu masih saja memeluk aku, dan tidak mau melepaskan aku. Diky lari keluar rumah sambil menangis dan mengucapkan kata kata kepadaku “dasar, bajingan kamu, katanya sahabat tapi apa..?, kamu mengambil semua itu dariku”.
Terdengar suara montor yang sangat kencang, ternyata itu diky, dengan rasa emosi diky melajukan motornya dengan sangat kencang, hingga di tikungan jalan juga terdapat truk yang melaju sangat kencang. Tabrakan pun tidak dapat dihindari. Diky meninggal di tempat kejadian itu. Aku sangat menyesal dengan apa yang aku perbuat selama ini, kematian diky itu gara-gara aku.
Hingga akhirnya aku menyimpulkan semua itu bahwa “sahabat itu lebih penting dari pada cinta, dan juga seorang sahabat sejati itu sangat sulit dicari… jadi jangan pernah menyianyiakan seorang sahabat sejati…”
Sekian.
Penulis Cerita: Sutikno
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami