Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Cangkir Tindih Merah Putih

Sabtu, 11 Januari 2014 | komentar

Subuh buta belum tersentuh matahari dinginpun masih menusuk. Tapi, anak-anak di desaku termasuk aku. Akan segera berangkat ke sekolah yang jauh seberang desa ini dan kami harus melewati sungai yang memisahkannya. Namun, tak ada benda melayang diatasnya yang memisahkan sungai. Jadi, setiap akan berangkat kami harus membawa sebuah kayu panjang yang ujungnya pipih dan agak lebar, sendiri karena harus menggunakan perahu kecil yang terbuat dari pohon rotan dan hanya dapat memuat 1 atau 2 orang saja. Bisa juga memuat 3-4 orang jika perahunya agak besar.
Biasanya teman-temanku menjemputku. “Tapi, kenapa hari ini mereka tak menjemput?” aku bergumam dalam hati. “Ya sudahlah, mungkin mereka lupa karena terburu-buru” pikirku tidak memasalahkannya. Aku lari terbirit-birit menyusul teman-temanku, hampir aku melupakan sesuatu yang penting untuk mengarungi sungai dengan perahu ”dayung…ya…dayung” aku merasa ada yang kurang.
Saat di sungai, teman-temanku sudah sampai di tengah sungai sedang aku masih ditepi. “Hei….tunggu aku” ku panggil mereka, tapi tak ada yang dengar. segera ku dayung perahuku menyusul mereka, ku dayung begitu cepatnya, hingga akhirnya”…byuuuuuuuuur…..tolong…tolong…” terceburlah sudah aku ke sungai. Tapi, teman-temanku tak ada yang menyadari teriakanku. Ya, aku memang tak bisa berenang seperti teman-temanku.
Dan saat ini siapa yang akan menolongku kecuali pertolonganNya”Ya Allah yang menguasai langit dan bumi Engkau tahu kesulitan hamba, tolonglah hambaMu yang hina ini agar ada seseorang yang mendengar teriakanku” berdo’a dalam hati. Karena, tubuhku tenggelam dan hanya kepalaku yang bisa muncul kepermukaan itu pun dengan susah payah (muncul…tenggelem…muncul…tenggelem)begitu terus, hingga aku akan pingsan dan tenggelam, sedang temanku makin jauh meninggalkanku, membuatku agak putus asa tapi aku percaya Allah akan menolong.
***
Sampai akhirnya ada seorang kakek tua yang asing bagiku. Rambutnya putih sebahu, raut mukanya misterius tapi tampak ramah dan dia memakai baju kumal agak compang-camping. Yang dengar teriakanku, dia menolongku. Tapi, anehnya dia menyelamatkanku dengan tak biasa seperti lainnya. Dia tak menyentuh air sungai tetapi, dia mengangkat tubuhku melayang diatas air meskipun, tanpa tersentuh olehnya. Dia hanya mengangkat tangannya keatas seperti memohon do’a meniupnya ke sungai ini.
Aku tak sadarkan diri, saat kubuka sedikit mataku masih terlihat remang-remang. Karena, kepalaku terasa pening. Kudapati diriku di tempat yang asing (sebuah rumah gubuk) dan dindingnya penuh dengan foto-foto kemerdekaan dan para pahlawan tertata rapi. Aneh, bajuku tak basah padahal tadi…Tak ku teruskan gumamanku karena tiba-tiba, seorang kakek tua muncul dari balik pintu reot akan rubuh. ”Kaaa…kek membuatku kaget” dalam hatiku tak berani kuucapkan. “Sudah sadar ya?” ucap kakek dengan suara seraknya yang bergigi depan tinggal 3 pasang. “Iiii…ya, kek” dengan tergagap aku jawab. “Apakah kakek tadi yang menyelamatkanku?” aku bertanya. “Iya tapi, yang memberi pertolongan adalah Allah swt. melewati saya”. Sebenarnya ada beberapa hal yang inginku tahu dari kakek. Tentang”Apa yang dilakukannya tadi saat menyelamatkanku? Kenapa aku tak pernah melihatnya di sekitar sungai padahal setiap aku ke sekolah melewati sungai ini?Kenapa bajuku bisa kering?”. Hal-hal lain semacam itu yang tak ku tahu darinya. Tetapi, waktu memaksaku untuk segera pergi karena harus berangkat ke sekolah yang sebentar lagi akan masuk. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan minta maaf harus buru-buru meninggalkanya”terima kasih banyak ya kek…saya minta maaf harus buru-buru karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi,terima kasiih kek….” ku cium tangan keriputnya, yang begitu harum baunya”semoga saya dapat berjumpa lagi dengan kakek” harapku. Kakek tak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya. Ku ucapkan kembali terima kasih dan kakek membalasnya“semoga cepat sampai di sekolah dan hati-hati dan satu lagi jangan cerita kepada siapa-siapa tentang apa yang kakek lakukan tadi!” kenangnya. “Baiklah kek insyallah saya tidak cerita ke siapa-siapa” tukasku.
***
Ku dayung perahuku dengan hati-hati, membutuhkan waktu lebih untuk ke sekolah. Namun, kali ini aku merasa begitu cepat sampai ke permukaan hanya dalam 5 menit, padahal biasanya butuh waktu 15 menitan lebih lama. “Syukurlah bel masuk sekolah belum berbunyi” kutarik nafas dalam dan ku hembuskan ke udara. “Hei, kenapa terlambat?” terdengar suara tanya padaku, ternyata Hanung si gendut teman sebangku ku. “Iiii..ya” jawabku. “Padahalkan kemarin kita semua sudah berencana berangkat pagi-pagi. Tapi, tak usah menjemput” jelasnya. “Benarkah itu?” tanyaku penasaran. “Haah, kau tak tau tentang itu?malahan kemarin kamu aku teriakin sudah sangat keras saat di sungai dan kau juga menjawabnya …iya…” kembali tanya dengan nada tanya penasaran. “Kayaknya, kemarin itu aku sedang melamun deh..,soalnya saat kamu teriak tak begitu jelas terdengar dan aku berpikir paling tak begitu penting besok kan masih bisa kutanyakan” memutar kembali otakku. “Ooo…makanya tadi kok tak menjemputku” batinku. ”Ya…maafkan aku ya teman” memelas minta maafku pada mereka.” Tak apa tenang saja…” jawabnya santai.
***
“Teeeeeeeeeeet…”bunyi bel, tanda kami harus segera menuju ke lapangan melangsungkan upacara”haaa…aku baru ingat bahwa sekarang giliranku memimpin upacara padahal ku belum latihan untuk ini ”ucapku pada Hanung. ”tapi tak apa kau sudah terbiasa,hehe” balasnya, menyemangatiku.
Dan aku begitu bersemangat ketika upacara, tak tau kenapa aku sangat menikmati alunan lagu Indonesia Raya yang mengiringi kibaran bendera “merah putih”yang gagah melambai langit di tiup angin. Aku tarik nafas paling dalam, kulantangkan suaraku hingga serak”hormaaaaat…gerak “. Dan diikuti semua teman-temanku serentak mereka mengangkat tangan ke samping kepala, memberi hormat kepada sang merah putih yang perwira. Bagiku ini laksana obat mujarab penyejuk pikiran yang menjalari tubuh.
***
Bel panjang tanda pulang berbunyi. Aku segera melesat pulang. Hidup memaksaku bekerja meski masih sekolah dasar karena aku hanya tinggal sama ibu, dan adik kecilku tanpa seorang ayah. “Ayah?” aku tak tau ayahku, ibu tak pernah cerita tentangnya. Aku dulu pernah tanya pada ibu ”bu, ayah itu seperti apa orangnya?” ibu menjawabnya”ayah…itu…penyayang, gagah berani…” dari matanya mengalirkan sebuah kejadian tak terhapus dari otaknya. Dan saat itu tak pernah lagi ku tanyakan padanya karena sudah cukup penderitaannya selama ini dan tak mau membuatnya mengingat luka masa itu.
***
Sangat membosankan setiap hari harus mendengar celotehan para warga yang selalu mengkritik, mengkritik, dan mengkritik pemerintah ”aduh apa mereka tidak kesal setiap hari mencaci maki pemerintah saja” pikirku. “Yang tak pecuslah, apalah, apapun tang dikatakan mereka selalu menghina”. Dan yang paling parah mereka biasa kumpul di warung tetangga samping rumahku. Sampai-sampai taplak mejanya adalah merah putih bendera yang sudah agak lama hingga memudarkan warna. Mereka juga hampir setiap tahun tak pernah memperingati Hari Kemerdekaan “sungguh mengenaskan”.
***
7 hari lagi adalah peringatan HUT Kemerdekaan RI. Para warga belum ada yang merencanakan peringatan tentang Hari Merdeka. Tapi sungguh ini adalah kejadian yang mencengangkan, tinggal 3 hari adalah Hari Kemerdekaan, perubahan ini sungguh drastis mereka semua telah sadar di tahun ini sudah banyak yang memasang bendera. Dan hari yang ditunggu pada tanggal 17 Agustus adalah upacara bendera di kampung kami. Sungguh mereka melaksanakan upacara dengan bagus dan mengesankan. Tahun ini adalah tahun dimana paling membahagiakan dari tahun-tahun ketika tidak ada peringatan Hari Kemerdekaan.
Pengarang Cerita: Dian Faiqotul Hikmah
 

Panggil Aku Pahlawan Penghianat

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Ribuan, bahkan jutaan manusia memenuhi Taman Pemakaman Umum (TPU) di Desa Sukamenang. Sebuah Desa yang berada di ujung Negeri Indonesia. Puluhan orang yang menggotong keranda kematian, saling silang untuk mengganti sudut pemikul keranda. Mereka berharap dapat mencatat jasa terakhir untuk kematianku, walau hanya sebatas mengangkat jenazahnya. Maklum, aku adalah aktifis yang selalu membela hak orang lain. Dari abang becak, tukang ojek, mahasiswa, buruh, TKW, pedagang kakilima hingga pekerja seks komersial alias lonthe. Kini mereka datang untuk kali terakhir; mengantarkan jasadku untuk kemudian dikubur bersama cerita semasa di dunia.
Aku terbunuh dalam sebuah becak, saat aku hendak pulang. Bukan karena becak yang kutumpangi tertabrak mobil. Tetapi karena aku minum air mineral yang belakangan diketahui sudah dimasuki racun air seni seorang pengidap HIV/AIDS. Virusnya secara cepat kemudian menjalar ke sekujur tubuhku, hingga aku terkulai lemas diatas becak tak berdaya. Persis seorang laki-laki terkena HIV/ AIDS atau seperti pe*is impoten yang tak mampu menembus liang va*ina karena ia sudah menjadi benang basah. Lemas. Lunglai. Tak berdaya. Akhirnya aku mati sebelum sampai di Rumah Sakit.
Aku sudah dimasukkan ke dalam liang lahat. Gelap. Tak ada lampu. Apek. Sebentar lagi cacing mulai keluar bersamaan dengan malaikat penyiksa kubur. “Hiii, ngeri,” tiba-tiba ada perasaan takut menyusup. Padahal jauh sebelum aku terbaring di dalam kubur tak ada yang kutakutkan. Dari pangkat Jenderal Hansip sampai Jenderal Satpam berbintang kejora tak membuatku surut kebelakang. Aksi demo sudah ratusan kali aku pimpin. Terakhir aku hanya mampu membawa massa 500 orang, karena ongkos dari donatur tak cukup untuk membayar para demonstrans. Uang 1 juta rupiah aku terima. Sementara sebelum pergi aku harus meninggalkan uang bagi anak dan isteriku 500 ribu rupiah. Itu pun belum masuk biaya susu, bayar lampu, air dan kontrakan rumah. Tapi cukuplah untuk satu pekan aku bernapas sambil mencari proyek lain yang bisa aku jual di dalam atau ke luar negeri. Ya, aku belajar seperti LSM profesional yang acapkali menjadi agen asing di negeri ini.
Kaki-kaki para pelayat terdengar sedang memadatkan tanah pemakaman. Kali ini mereka injak-injak aku. Padahal waktu aku masih hidup, jangankan menginjakku, untuk bertatapan saja tidak berani. Mereka semua adalah sahabatku. Dulu mereka sering aku bagi uang kalau aku sedang mendapat proyek demo. Atau ada program luar negeri guna mendata jumlah kemiskinan di Desa Sukamenang lalu aku kirim ke luar negeri. Dalam satu pekan saja proposal tembus 150 juta. Dahsyaat, Men! Tetapi sekarang?! Mereka juga yang kini menginjakku. Tapi aku yakin, ini bukan didasari kebencian. Bagaimana mungkin mereka benci terhadapku, sementara mereka banyak belajar dariku tentang apa saja. Tentang membuat daftar kehadiran palsu untuk laporan ke donatur luar negeri agar jumlahnya pas dengan anggaran. Belum lagi, aku juga mengajari mereka membuat stempel rumah makan, catering snack agar mudah untuk membuat kuitansi.
Dalam teknologi, kuajari mereka program photoshop. Mereka kemudian lihai memanipulasi foto pertemuan di komunitas kaum urban pada sebuah perkampungan kumuh, lalu aku selipkan fotoku seolah aku sedang berada di tengah-tengah mereka. Padahal foto dan kehadiranku palsu. Dengan ragam ilmu yang mereka dapat, tentu mereka menginjakku kali ini bukan atas dasar kebencian.
Aku sudah lima menit terbaring dibawah papan penutup mayat. Tapi derai tangis kaum kerabatku masih terdengar jelas dari dasar kubur. Suaranya gemuruh. Sesekali menderu tidak teratur seperti derum mesin mobil yang terjebak macet. Sebagian lagi suaranya agak tersendat seperti mesin kendaraan kehabisan bensin. Di ujung makam suaranya rada samar. Yang terdengar hanya kalimat ; Almarhum masih mempunyai tanggungan hutang!
“Aduh, sial! Itukan urusan nanti setelah pemakamanku selesai. Lagi pula itu kan bisa ditagih pada ahli warisku! Jangan diatas taman pemakaman, lah! Mestinya kalian doakan aku, agar aku bisa mendapat keringanan pengadilan kubur! Bukan malah menagih hutang!,” aku mengumpat kesal pada sekelompok tukang cetak sablon tempat aku memesan kaos dan stiker yang belum lunas aku bayar.
Tetesan air mata dari sejuta pasang mata terus mengalir. Ia tak bisa terbendung sebagaimana luapan lumpur Lapindo Brantas di Jawa Timur. Berapa gulung tisu dan kain harus menyeka derai air mata kaum kerabat, tetapi ia tak sanggup menghalau luapan emosi embun yang menggumpal menembus kornea dan membasahi pipi. Ini sama dengan upaya tim penyelamat lumpur lapindo yang memasukkan ratusan bola baja ke dalam lobang luapan lumpur, tetapi masih gagal juga karena memang Tuhan ingin mematahkan logika dan teori manusia.
Suara sepatu, sandal dan terompah perlahan kian menjauh. Ini berarti para pelayat sudah tujuh langkah meninggalkanku. Sebentar lagi malaikat akan datang mengadiliku. Aku harus bersiap diri. Tapi disini aku tidak ada pengacara, seperti ketika aku ditahan karena ribuan abang becak bentrok dengan aparat menolak pemberlakuan SIM Becak di Kota Palembang.
Pengadilan kubur tak kenal dengan suap atau jual beli seperti orang tua membelikan nilai anaknya karena tidak naik kelas. Negosiasi harga tidak berlaku disini. Tidak seperti calon pegawai negeri sipil yang harus menyuap 15 juta agar SK CPNS-nya segera turun.
Aku juga tidak bisa memalsukan data seperti camat yang menyuruh para kepala desa untuk memadatkan jumlah orang miskin agar jatah Bantuan Langsung Tunai (BLT) bisa melebihi jatah sehingga para aparat juga mendapat bagian. Ini murni catatan malaikat. Tapi malaikat hanya mencatat hal-hal yang fisik saja. Kalau soal kata hati, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku agak berbesar hati. Kalau saja akan ada data yang dikonfrontir antara data keburukan fisik dan keburukan batin. Menurutku jumlahnya fifty-fifty. Tetapi entahlah menurut catatan Tuhan. Aku memang harus menunggu. Boleh jadi ada selisih jumlah kebaikan dan keburukan antara Tuhan dan malaikat. Sama dengan pemberitaan kriminal seorang wartawan yang salah akibat wartawan tidak melakukan ferifikasi ke lokasi kejadian.
Karena hanya nongkrong di pos polisi, data yang ditulis tidak akurat. Tapi mungkinkah catatan malaikat tidak akurat seperti wartawan yang menulis berita dengan “jurnalisme katanya?” semua kuserahkan saja pada Tuhan. Toh, menurut Kiai Majid, malaikat juga mahluk sama dengan manusia yang keduanya juga ciptaan Tuhan. Tak perlu aku bergantung pada mahluk. Aku hanya wajib berserah diri pada yang menciptakan mahluk: Tuhan!. Dalam posisi ini aku tidak mungkin lagi menduakan Tuhan. Ini musyrik! Ujar Kiai Majid suatu kali.
“Hei! Siapa kau?!” sebuah pertanyaan berada tinggi terdengar dari sebelah ruang kubur. Aku tergeregap. Kutatap matanya. Tapi tak jelas. Hanya samar-samar aku bisa melihat rona yang rada seram. Sepertinya orang ini tidak kenal aku. Aku ini mantan demonstrans yang tak takut pada siapapun. Tak boleh penghuni kubur ini seenaknya saja bertanya dengan membentak padaku. Kau pikir aku ini siapa? Kucoba untuk melawannya. Kudekati hingga hindungku hampir bersentuhan, seperti orang pacaran yang malu-malu ciuman takut ada yang mengintip.
“Kau pasti orang Batak? Atau orang Sumsel?” selidikku.
“Ah, Rasis kali, kau,” jawabnya.
“Nah, asli! Kalau dengar logat dan dialek bicaranya, kau pasti orang Batak,” aku berbesar hati karena bertemu dengan penghuni makam dari satu daerah. Ya, paling tidak sama-sama dari Sumatra.
Tak lama kami bicara, banyak lagi berdatangan mayat yang kemudian menyapaku. Puluhan bahkan ratusan mayat dengan kondisi badan sesuai dengan umur mereka masing-masing kemudian mengenalkan dirinya terhadapku. Dari sekian banyak mayat, aku memang terlihat agak lebih mentereng dan perlente dibanding mereka. Kalau melihat wajah dan kulit, mereka dari kalangan orang miskin. Tetapi sebagian mereka seperti aku kenal sebelumnya. Tapi dimana? Aku mulai menerka-nerka. O, iya sebagian mereka adalah orang miskin yang pernah aku bela!
“Kau, siapaaa?!” suara ini lebih keras dari sebelumnya. Suara itu ditingkahi suara gemuruh dengan nada yang sama. Gendang telingaku hampir pecah. Belum sempat aku menutup rapat telinga, sebuah cengkraman kuat memegang tengkuk belakang. “blug!” aku dipindahkan dari kerumunan para mayat. Kini aku berada d tengah-tengah mereka. Semua mayat menatapku tajam. Aku terduduk. Salah satu diantara mereka mendekatiku. Sedikit-sedikit aku menggeser posisiku. Aku seperti sedang menjadi stunmen film Suster Ngesot yang dibintangi Nia Ramadhani.
“Kaukah pahlawan demokrasi itu?” pertanyaaannya agak lembut. Tapi matanya menyimpan dendam. Bola matanya seperti mau keluar. Mulutnya seperti Singa yang sudah dua minggu tidak bertemu rusa. Tapi cengkeramannya dilepaskan. Aku kemudian bisa membenahi tali pocong kepala yang lepas. Tanganku juga mengusap-usap kain bagian bokongku yang mulai basah. Ternyata sumber air itu berasal dari arah depan. Ini berarti aku ngobrok, terkencing di tempat tanpa sengaja akibat ketakutan.
“O, iya. Aku ini banyak disebut orang pahlawan demokrasi,” jawabku setengah berbangga. Aku sedikit bergeser. Pantatku dingin. Air mulai berkecipak di bagian bawah tempat dudukku. Mataku melirik ke beberapa mayat untuk menunjukkan kalau aku ini pahlawan demokrasi, pembela kaum urban yang tertindas. Tertindas oleh apa saja! Kapitalisme atau represi kekuasaan.
“Apa yang telah kau lakukan sehingga kau tidak menolak disebut pahlawan demokrasi?!” nadanya tetap meninggi. Tapi agak berubah intonasinya kali itu. Namun jelas, dari getaran suaranya menyimpan kekesalan. Aku mulai mengatur emosi. Jangan-jangan aku tengah dijebak. Aku lama bergelut dalam permainan politik, jadi aku harus membaca dari arah yang berlawanan. Aku harus menggunakan teori berpikir memutar. Tidak bisa aku memahami kalimat per kalimat dengan kacamata kuda. Ini bahaya kalau-kalau ada serangan pertanyaan dari arah lain.
“E, anu. Bukan aku, tapi mereka yang menyebutku pahlawan demokrasi. Aku hanya menerima saja, kok!” aku meluruskan, agar tidak terlalu berisiko.
“Tahu, kenapa kau disebut pahlawan demokrasi?!” selidik suara itu.
“Ya, karena aku telah memperjuangkan hak-hak orang miskin, mahasiswa, pedagang kakilima dan kaum urban lainnya?” jawabku apa adanya.
“Orang miskin kau perjuangkan haknya, lalu datanya kau jual ke luar negeri guna mendapat dana bantuan asing dengan alasan pemberdayaan kaum miskin! Iya?!”
“Plar! Plar!” beberapa kali cambukan seketika menghunjam. Aku mengerang kesakitan. Aku mengusap bagian belakang tubuhku. Kain kafan sobek. Sebuah luka terasa pedih. Tapi ia tak mengeluarkan darah. Jantung sepertinya sudah tak kuat lagi memompa keberfungsian darah. Luka tak berdarah memang lebih pedih dibanding berdarah. Sama dengan orang menahan lapar dan haus bagi kaum miskin. Ia tak berdarah. Tetapi rasanya lebih pedih dari pada menahan luka akibat terkena sebilah pisau. Luka tanpa darah itu menyayat hingga ke lubuk hati. Ini yang sering membuat orang menjadi gelap mata dan melakukan apa saja akibat dendam. Ya, dendam lapar yang demikian panjang. Sehingga akibat lapar dan kehausan bisa membuat orang berbuat apa saja termasuk membunuh.
Tenaga menahan lapar harus menguras air mata, hingga akhirnya dehidrasi akibat di dalam tubuhnya tak lagi ada cairan. Benar, kemiskinan dan kelaparan adalah perang yang yang tidak pernah mengenal kata terlambat. Satu detik saja lambat, ia akan mati.
“Blug! Plak! Plak!” hunjaman bogem mentah dan tamparan datang bertubi-tubi. Aku merasakan Mike Tyson sedang menyentak rahang dengan hock kiri. Sakit. Mataku berkunang-kunang. Tapi tak ada wasit yang menghitung dari nomor satu sampai sepuluh hingga aku mampu berdiri. Kali ini benar-benar knock out!
“Kau bawa kami melakukan protes mengatasnamakan hak asasi manusia dan demokrasi. Tetapi kau bawa nama kami untuk biaya sewa kantor, kontrak rumah dan gaji para aktifis! Kau jual negeri ini dengan dalih demokrasi! Masih juga kau mengaku pahlawan demokrasi?!” tak bisa aku berkata lagi saat kemudian sebuah tendangan kuat memapas keras tepat dimukaku. Aku tersungkur. Sementara kaki-kaki penghuni kubur makin mendekat. Inikah pengadilan Tuhan? Atau dendam dunia yang belum terbalas sehingga mereka baru bisa mengadiliku di alam barzah?
“Sebentar. Beri aku ruang untuk berargumen,” aku mencoba mengatur napas. “Sebaiknya, masalah ini kita bicarakan baik-baik. Kekerasan cukup di dunia saja. Ini adalah pintu menuju alam mahsyar, sehingga kita harus menciptakan kedamaian di alam barzah,” kucoba meredakan emosi mereka.
“Aku memang mendapat dana dari luar negeri. Tapi semua ini aku lakukan demi tegaknya demokrasi. Tidak untuk menjual negara, men! Mereka tidak pernah menyelipkan pesan-pesan politik untuk merusak kedaulatan. Mereka hanya ingin….”
“Plak! Plak!” tamparan lagi-lagi menghunjam keras. Tetesan air liur terasa asin. Ini pertanda ada gigi yang mulai patah atau mulut bagian dalam ada yang robek. Tapi darah tak juga memerah. Hanya lendir kecoklatan yang menetes.
“Kau ingat! Sejarah bangsa ini sudah dimulai oleh keterlibatan asing menjatuhkan Soekarno. Dan kau, yang mengaku pahlawan demokrasi memilih sekolah keluar negeri dengan biaya asing, lalu mereka menjadikan kamu sebagai agen mereka di negeri ini. Masihkah kau akan mengaku kalau kau adalah pahlawan demokrasi!” suara itu getarannya sampai menembus dinding taman pemakaman. Beberapa butir tanah sempat berguguran walau tidak membuatku tertimbun.
“Orang-orang semacam kalian yang telah mengajarkan demokrasi. Tetapi kalian juga yang membuat kami tidak bisa membedakan antara demokrasi dan anarki. Kalian tawarkan nilai-nilai yang sama sekali tidak membuat negeri ini mandiri. Malah sebaliknya, manusia semacam kalianlah yang tengah menyiapkan bangsa ini untuk terus menerus dijajah! Kau dan teman-teman kalianlah yang telah menjual negara ini demi keuntungan pribadi!”
“Tapi ini untuk proses pencerdasan, men! Bukan untuk menggangu stabilitas kedaulatan nasional? Bener!” kucoba meyakinkan mereka.
“Masih juga kau akan mengelak! Coba kalian pikir. Bagaimana wajah bangsa ini dimata internasional sudah tidak lagi punya martabat karena semua aib bangsa ini kalian jual di mata internasional. Kau hujat bangsa ini diluar negeri, sementara kau dan teman-teman kalian masih makan dan minum di negeri ini?! Bukankah kau inilah yang sebenarnya pahlawan penghianat!” nada geram campur dendam kian dahsyat. Tak bisa lagi aku membedakan antara hunjaman malaikat dan para mayat. Semua menghujaniku dengan tendangan dan kekerasan lainnya. Aku pingsan.
Di sepertiga malam aku terbangun. Badanku terasa remuk redam. Leher seperti dibebani besi satu ton, hingga untuk menoleh pun aku tak sanggup. Suasana masih gelap. Orang-orang tak lagi berkerumun seperti sebelumnya. Sebuah bandul berat yang melingkar dileherku. Ada untaian rantai dengan kayu besar menindihku. Sebuah tulisan jelas diguratan kayu. Ia terbuat dari api. Berkobar seperti hendak membakarku. “Kau adalah pahlawan penghianat, men,” api itu kemudian menjalar dalam tubuhku membakar semua kain kafan, membakar seluruh badan dan isi perutku. Ruangan kubur menjadi kobaran api yang panas. Mataku hanya menatap hitam pekat. Dalam bilik jantungku aku hanya berucap. Tuhan, maafkan aku telah menjual negara. “Sudah terlambat. Sory, taubatmu tertolak, men,” Tuhan menjawab dengan bahasa gaul. (*)

Pengarang Cerita: Imron supriyadi
 

Balai Hujan

| komentar

Hari ini terasa singkat sekali. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. kenapa aku bisa lupa ya kalau jadwal kuliahku di majukan jadi pukul 2 siang sekarang. Jadi gugup, belum makan, mandi, sholat, cuci motor. Semua aku kerjakan dengan tergesa-gesa agar tidak telat nanti sampai ke kampus.
1 jam berlalu aku sudah sampai kampus dan mengikuti beberapa mata kuliah. Beranjak dari halaman kampus aku berniat untuk pulang saja karena semua mata kuliah hari ini sudah selesai. Baru jam 17.45 sholat magrib di masjid waktu pulang aja batinku.
Aku mulai mengendarai motorku dengan kencang karena kudapati langit semakin gelap dan rintik-rinrik air mulai membasahi kaca helm. Kontan laju motorku pun semakin aku kencangkan agar tidak kehujanan karena aku tidak bawa jas hujan dan rumah masih jauh.
Baru saja aku berfikir begitu hujan sudah turun dengan sangat derasnya hingga bajuku pun basah kuyup. Yang terlintas di fikiranku hanyalah mencari tempat berteduh paling dekat dan tak kuduga mataku tertuju pada sebuah balai yang berada ditepi jalan dengan beberapa orang yang telah berteduh disana mendahuluiku.
Langsung saja motorku kuparkirkan di halamanya. Dingin sekali sore ni, sudah hujan anginya kencang pula. Aku pun berusaha menghangatkan tubuhku dengan Menggosokkan kedua tanganku. Lama sudah aku menunggu, tapi hujan tak kunjung reda hingga waktu sudah menunjukkan pukul 18.40 kontan aku pun tersadar kalau aku belum sholat magrib tadi.
Tuhan.. maafkan aku. Maka dari itu kenapa seperti ada yang mengganjal di batinku yang aku pikir dari tadi tidak kunjung ingat juga. Bingung lagi deh mau sholat dimana ini? waktu magrib sudah akan habis, hujan turun dengan sangat deras sekali. Aku menengokkan kepalaku jauh ke ujung jalan berharap ada mushola di dekat sini. Tapi sejauh mata memandang tidak ada satu pun mushola atau masjid yang terlihat. Tak lama kemudian aku mulai duduk dan melihat aktifitas orang di sampingku yang melihat-lihat seperti aku tadi. Jenuh rasanya berteduh lama begini. Jadi aku pun merebahkan tubuhku di lantai balai tersebut. Saat aku merebahkan tubuhku ke lantai, aku baru sadar kalau balai itu bersih juga. Kenapa tidak terfikirkan sholat di sini saja. Balai ini bersih dan eang tidak ada seorang pun yang berteduh disi yang memakai alas kakinya memasuki balai ini, karena kami cuma duduk di samping-samping saja. Lalu aku pun mengambil air wudhu dengan air hujan yang turun dengan deras dari pipa genteng tanpa memperdulikan orang-orang di sampingku yang semenjak tadi memperhatikanku saja. Peduli amat, kenal juga tidak. Aku pun memakai jaket-ku yang agak basah untuk kupakai sebagai alas dan aku sholat sendiri membelakanngi orang-orang yang sedang berteduh, yang semakin lama semakin banyak karena hujan tak kunjung reda.
Ku coba mengkhusukkan sholatku dalam dinginya angin malam yang membuat tubuhku menggigil. Hari mulai gelap dan suara hujan terdengar bising sekali. Usai raka’at pertama konsentrasiku terganggu oleh seseorang yang menepuk pundak kananku. Aku jadi bingung apa maksud dari orang itu, apakah orang itu mau mencegahku, mengingatkanku, ataukah hendak ikut sholat di belakangku?. Dan pertanyaanku terjawab dengan sebuah tepukan lagi. Aku yakin orang ini hendak ikut sholat di belakangku. Akhirnya aku pun mengubah niatku menjadi seorang imam dan mengeraskan baca’anku. Dua rakaat terakhir pun usai dan aku mengucap salam.
Setelah itu aku berdo’a agar hujan cepat reda dan aku bisa pulang dengan selamat, karena hujan kali ini mengerikan sekali.
Sembari mengusap wajahku setelah berdo’a aku memalingkan badan untuk sekedar berjabat tangan dengan dua orang yang ikut sholat bersamaku tadi. Aku pun kaget seakan tidak percaya kalau ternyata orang yang ikut sholat di belakangku bukan hanya dua orang, akan tetapi ada 19 orang. Di atas keherananku aku sangat merasa bahagia bisa menjadi imam sholat disaat dan dikondisi seperti itu. Tawa kecil terbesit di hatiku seakan tidak percaya. aku pun menyalami beberapa orang di belakangku sambil kembali kearah motorku terparkir. kotor sekali motorku karena kehujanan. Seakan Tuhan mengabulkn permohonanku secara cash, hujan pun seketika itu reda.
Senang sekali akhirnya bisa segera pulang, sudah jenuh disi menunggu terlalu lama. Aku pun perlahan membersihkan dan memakai sepatuku yang lusuh dengan tanah.
“habis kuliah ya mas?” aku menoleh dan mencari sumber suara dari kerumunan orang itu. “Iya mas” jawabku dengan tersenyum pada orang yang sedang memakai jaket basahnya. “kuliah dimana mas?” tanyanya lagi. “Di ****** mas” jawabku dengan singkat. “loh kok sama, aku juga kuliah disana, tapi sudah lulus. aku pun mengurungkan niatku untuk pulang sejenak dan melanjutkan obrolnku dengan orang tadi. Obrolan kita yang berlanjut begitu lama hingga berganti dengan canda’an bersama orang yang lain hingga malam pun tiba. Dan kami mulai beranjak pergi dari balai bersama-sama dengan lambaian tangan yang tinggi serta senyuman.
Seperti ada ikatan emosional yang terbentuk begitu saja, entah apa itu namanya aku tak mengerti..
Pengarang cerita: Al iz Kusuma
 

Pengabdianku

| komentar

Aku adalah seorang guru. Keseharianku mengajar di sekolah-sekolah, salah satunya SMP Dirgantara, Jakarta. Untuk menjadi guru memang sulit. Namun itu tidak mematahkan semangatku untuk mengajar anak bangsa. Membuat mereka pintar dan bisa memimpin bangsa merupakan salah satu tujuan dan impianku. Menurutku bangsa Indonesia masih perlu beberapa pembenahan untuk warganya. Sekarang waktuku untuk membuat anak bangsa lebih berkualitas lagi.
Suatu hari aku mengajar seperti biasa. Tiba-tiba bapak Kepala Sekolah mengumpulkan semua dewan guru untuk rapat. Sambil menyusuri jalan setapak menuju ruang rapat, aku berpikir apa yang akan dirapatkan pada siang ini. Ku taburkan senyum kepada beberapa dewan guru yang sudah siap di meja masing-masing. Tak lama bapak kepala sekolah pun datang.
“Selamat siang dewan guru. Hari ini kita akan membahas berita yang mendadak”, ucap bapak Kepala Sekolah dengan sedikit keraguan.
“Apa itu berhubungan dengan sekolah kita, pak?”, balasku dengan perkataan yang berhati-hati.
“Tidak, Bu Marni. Tapi ini tentang sebuah tawaran kepada dewan guru disini. Jadi… ada sebuah daerah yang membutuhkan guru. Dan daerah itu sangat terpencil yaitu di perbatasan Kalimantan. Orangnya juga masih kurang pengetahuan. Saya rasa pemerintah ingin mereka berpengetahuan sama seperti masyarakat yang lain. Maka dari itu pemerintah memilih sekolah ini untuk mengirim salah satu gurunya ke daerah itu.”
“Maaf, pak. Bukannya saya mau protes, Tapi kenapa harus SMP Dirgahayu ini?. Kan sekolah kita sekolah yang berkualitas unggul.”, protes Pak Buty.
“Oleh karena itulah, pemerintah memilih sekolah ini.”, jawab bapak Kepala Sekolah.
Setelah beberapa lama berunding masih tidak ada jawaban. Akhirnya bapak Kepala Sekolah mengakhiri rapat hari itu dan akan melanjutkannya pulang sekolah nanti. Lagi-lagi di perjalanan menuju kelas aku berpikir, apakah aku orang itu?. Sesampainya di depan kelas aku mencoba memikirkan hal itu nanti. Tapi pikiran itu masih ada di benakku.
Saat pelajaran berlangsung, aku sengaja untuk memberi soal saja kepada murid-murid ku. Karena aku masih belum bisa melupakan hal itu. Keputusan diambil usai pulang sekolah dan itu 1 jam lagi. Tak boleh diriku ceroboh dalam mengambil keputusan. Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi dan dewan guru melanjutkan rapat yang terhenti tadinya. Semua duduk pada posisi semula pada awal rapat. “Jadi… bagaimana dewan guru ada yang berminat?. Kalau tidak saya yang akan pilih salah satu.”, ucap bapak Kepala Sekolah dengan santai. Aku sadar apa tujuanku menjadi seorang guru. Seketika aku mengangkat tangan dan berkata,
“Saya bersedia dikirim ke daerah itu, pak.”.
“Bagus!. Tepat seperti pilihan saya. Jadwal keberangkatan 2 hari lagi bu.”. kata bapak Kepala Sekolah dengan perasaan gembira.
“Inilah saatnya aku lebih berusaha untuk bangsa ini”, Ulasan dalam hati ku. Setelah itu beberapa dewan guru menjabat tangan saya dan berkata semoga lancar, begitu juga bapak kepala sekolah. Mungkin beberapa orang berpikir aku bersedia karena gaji yang diberikan, tapi ini semua aku lakukan semata-mata untuk sebuah tujuan. Kepala Sekolah memintaku untuk benar-benar siap untuk mengajar disana. Dan aku yakin bahwa aku sudah siap.
2 hari berikutnya pun tiba. Waktuku untuk berkemas dan bersiap-siap meluncur ke Kalimantan. Dimana disanalah aku mengabdikan diriku sebagai seorang guru yang sesungguhnya aku inginkan. Setiap langkahku berdoa semoga perjalanan ini tidak sia-sia. Dengan banyak tekad dan niat aku mulai memasuki kawasan pantai untuk menuju daerah itu. aku benar-benar berpikir daerah itu sangat terpencil. Sesampainya disana, aku melihat anak-anak yang sedang bermain permainan tradisional dan para orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Berbeda sekali, tidak seperti suasana di kota Jakarta.
Tiba-tiba kepala desa menghampiriku dan mengajakku berkeliling sebentar. Banyak yang beliau ceritakan kepada ku, termasuk kondisi perekonomian di daerah itu. Setibanya di gubuk yang kecil, kepala desa berkata, “Disinilah bu guru bisa mengajar anak-anak.”.
“Baiklah, pak. Apakah hari ini bisa dimulai?”
“Boleh, saya akan panggilkan anak-anak.”
Dengan cepat dan tergesa-gesa aku menata meja lipat dan buku yang aku bawa dari Jakarta. Tak lupa aku memasang papan tulis yang tidak begitu besar dan menyiapkan barang-barang lainnya. Tidak sampai 5 menit, anak-anak itu pun datang. Mereka datang dengan semangat dan tekad yang sudah terlihat. Mereka juga saling berebut tempat duduk yang terdepan. Setelah semua sudah teratur, aku membagikan peralatan tulis yang akan mereka pakai. Saat pengajaranku mulai, mata mereka tidak luput dari papan tulis yang tidak begitu besar itu.
Aku berharap mereka adalah penerus bangsa yang tepat. Tekad dan semangatnya tak berbeda dengan murid-murid ku di sana. Hanya kondisi yang membuat mereka berbeda. Inilah pengabdian yang ku inginkan sebenarnya. Indonesia bangga dengan insan yang ada di sini. Walaupun mereka masih kurang pengetahuan, cara berpikir mereka sangatlah cepat. Tak sia-sia perjalanan ku disini, Tuhan.
Pengarang Cerita: Annisa Mega
 

Gadis di Kaki Bukit Prolo

Selasa, 07 Januari 2014 | komentar

Gadis manis berambut panjang itu bernama Maryati, gadis yang duduk beralaskan terpal di beranda rumahnya itu sedang memisahkan biji-biji jagung dari bongkotnya untuk diolah menjadi nasi jagung nantinya. Di bawah Bukit Prolo, bukit yang masih jajaran Pegunungan Kendheng yang membentang dari Kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro dan Ngawi. Gadis manis berkulit sawo matang itu tinggal bersama orang tua dan sanak keluarganya. Bukit yang dihiasi oleh tanaman padi di sepanjang terasering milik warga setempat, pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari kejauhan, ditambah lagi dengan keberadaan rumah-rumah warga yang berdiri kokoh di kaki Bukit Prolo dibangun dari kayu jati pilihan dengan tanah yang masih berupa tanah, bukan tegel atau keramik, hunian yang menurutku sangat sederhana.

Ketika mengunjungi rumah Maryati maka akan disambut dengan seekor sapi betina dan seekor pedhet. Bukan disambut dengan pintu beraksen ukiran mewah dengan perabot yang berplitur indah. Bukan. Ketika aku mengunjungi rumah gadis yang bernama Maryati aku serasa kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu.

Rumah di kaki Bukit Prolo bukanlah kawasan real estate yang digunakan untuk mendirikan villa mewah karena letaknya berada di daerah pegunungan atau perbukitan. Pegunungan Kendheng bukanlah pengunungan yang terlalu tinggi, namun memiliki sense of nature seperti pegunungan-pegunungan lainnya, bentangan alamnya akan menarik hati siapapun yang memandangnya. Pegunungan Kendheng hampir menyamai pegunungan di kota besar seperti Malang, Pasuruan, atau Bogor. Jika peguungan di ketiga kota tersebut berudara dingin dengan pohon-pohon pinus, cemara, rambutan, durian dan bunga beraneka warna membentang di sisi kanan kiri, maka di Pegunungan Kendheng pesona alam yang terbentang di sepanjang jalan adalah hamparan padi, jagung, kelapa dan pohon jati.

Panas adalah cuaca yang cukup pantas untuk kugambarkan mengenai Pegunungan Kendheng yang terdapat Bukit Prolo, Bukit Gong dan Gunung Pandhan yang menjadi puncak tertinggi. Aku tak tau mengapa bukit tempat Maryati tinggal disebut Bukit Prolo. Ketika kutanya pada Maryati, dia menjawab tidak tahu. Namun ketika aku bertanya mengenai Bukit Gong dia menjawabnya. Konon ceritanya, di bukit Gong terdapat seperangkat gamelan yang meliputi gong, sarun, kenung, slenthem dan lain lain yang dulu kerap digunakan penduduk desa sekitar untuk karawitan atau alat untuk mengiringi tanggapan sindhen atau wayang dalam acara hajatan orang desa. Gong atau seperangkat gamelan itu menurut ceritanya keberadaannya memang ada di alam terbuka. Bukan manusia atau penduduk sekitar yang memilikinya, namun makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang kasat mata. Seperangkat gong tersebut bisa dipinjam atau digunakan oleh penduduk desa dengan cara melakukan ritual tertentu sebagi izin terhadap pemilik gong. Begitulah ceritanya, cerita yang dulu masih dipercayai keberadaannya. Namun zaman semakin berkembang dan terus mengalami perubahan maka semakin pudarlah kepercayaan itu hingga gong itu dianggap oleh penduduk setempat sudah tidak ada lagi.

Maryati, gadis yang lahir dan tumbuh besar di kaki Bukit Prolo yang jauh dari keramaian harus berjuang keras untuk meraih mimpi. Sekolah dalam pemikiran remaja kota adalah tempat dimana kita bisa memamerkan kekayaan orang tua. Hal itu tak bisa dipungkiri, dalam kenyataannya, sekolah merupakan tempat dimana remaja bisa pamer motor dan gadget terbaru, tempat memamerkan tas, sepatu, fashion, hijab, atau seperangkat alat sekolah yang tengah mode on sekarang.

Kawan, sekolah bagi Maryati adalah sebuah pengorbanan. Dimana selama tiga tahun ia harus berjuang berangkat pagi naik turun bukit menyeberangi dua sungai untuk bisa sampai ke sekolah. Tak heran jika kulitnya semakin menjadi coklat sawo matang karena setiap pagi dan siang hari selalu diterpa sinar matahari saat melewati pematang sawah dan jalan berpaving yang naik turun. Belum lagi saat musim hujan turun, semakin berat medan yang harus ia lalui. Banjir yang mengenangi sungai karena hujan deras, jalanan dan pematang sawah yang penuh menjadi berlumpur.

Maryati, gadis yang tengah bersekolah di kelas dua sekolah menegah pertama bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan menengah atas di pusat kota tempatku tinggal. Tentu saja aku mendukung niatnya, menyambut baik harapan dan mimpinya. Dalam benakku, sungguh indah jika sekolah-sekolah di kota ini dipenuhi oleh mereka yang memang berniat untuk sekolah, mencari ilmu untuk meraih mimpi, merelakan diri jauh dari orang tua yang bekerja sebagai petani jagung dan padi di kaki bukit. Tentu saja sekolah akan dihiasi dengan semangat-semangat yang membara dari para muridnya. Bukan dihiasi oleh remaja-remaja yang kuanggap seperti manekin karena mengejar trend dan mode terbaru. Pelajar yang menganggap sekolah hanya sebagai formalitas saja karena hanya mengejar angka delapan, sembilan atau bahkan angka seratus sempurna dan absensi dengan cara apapun itu.

Kawan, percayalah padaku. Jika kau hanya mengejar angka-angka dalam setiap test dan raportmu maka kau tak akan bisa merasakan bagimana rasanya bersekolah yang sesungguhnya. Sekolah adalah bagian dari proses hidup, di sekolah lah kita di tempa untuk menjadi apa yang kita inginkan. Di sekolah lah kita akan mendapatkan keluarga baru, mendapatkan ilmu-ilmu baru. Kurang apa nikmatnya bersekolah, para guru yang bersusah payah menempuh pendidikan tinggi, mengajari kita, mendendangkan pelajaran-pelajaran untuk kita pahami sampai lelah namun kita hanya menganggapnya angin lalu. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Maryati dengan tekad dan semangat menuntut ilmu yang kuat terus berusaha agar sampai di sekolah tidak telat, sebelum jago berkokok Maryati sudah bangun untuk menuaikan sholat subuh, membantu membersihkan rumah dan mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Di sekolah pun Maryati tekun menikmati pelajaran agar bisa menjadi murid pandai dan bisa meraih mimpi. Keterbatasan fasilitas seperti buku pelajaran, buku bacaan, teknologi pembelajaran dan keterbatasan apa yang dimiliki orang tuanya membuatnya lebih bersemangat untuk bisa membahagiakan orang tuanya.

Maryati sepertinya menjadi sosok yang pantas untuk kita tiru. Maaf, bukan maksudku untuk mengguruimu. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu, mungkin kau bisa mengambil sisi positif atau hikmah dari apa yang aku ceritakan ini

Pengarang Cerita: Yeni Ayu Wulandari
 

Mbah Min

| komentar

Kami biasa memanggilnya Mbah Min, dia tinggal di sebelah rumahku yang berbatasan dengan sungai kecil. Dia tinggal sendirian di rumah yang berdindingkan bilik dan beratapkan rumbia. Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu asal usul keluarganya dan tidak berani menanyakannya karena khawatir akan menyinggung hatinya.

Tapi bagi keluarga saya, Mbah Min sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena mau membantu menjaga pemakaman keluarga besarku tanpa mengharapkan bayaran sedikit pun. Pekerjaan rutinnya membersihkan rumput di areal pemakaman pada pagi hari, dan rumput-rumput itu dikumpulkan untuk dijual ke peternak sapi di kampungku.

Bagi saya sendiri ada keasyikan tersendiri bila bermain ke rumahnya dan tidak peduli dengan omongan tetangga yang menganggap Mbak Min itu, orang tidak waras karena terkadang berbicara sendiri dengan pohon.

Saat dirinya berbicara dengan pohon itu seolah-olah sedang berhadapan dengan kekasih tercintanya dan terkadang mengelus-ngelusnya. Terkadang dia juga menangis tersedu-sedu saat ada pohon yang ditebang oleh warga, seperti dia tidak mau kehilangan kekasih tercintanya itu.
Bahkan ada juga omongan tetangga yang usil yang menyebutkan bahwa Mbah Min itu penyembah pohon.

Setiap kali saya bermain ke rumah Mbah Min, dia selalu menasehati aku supaya jadi anak yang pintar, menjalankan ibadah lima waktu dan berbakti kepada orang tua. Dan yang paling ku ingat, yakni meminta saya untuk menjaga lingkungan di sekitarku dari hal yang kecil seperti pohon untuk tidak ditebang seenaknya.

“Nak, perlakukan pohon itu seperti manusia juga karena mereka hidup dan akan tersakiti hatinya saat kita tidak memelihara dan menjaganya,” katanya setiap bertemu dengan aku.
Semua bencana di dunia ini akibat kelakuan manusia yang tidak menghargai alam semesta. “Lihat bagaimana banyak bencana banjir, itu akibat hutan yang ditebangi,” katanya.
“Manusia boleh berbuat jahat kepada alam, tapi alam tidak akan segan-segan membalasnya lebih kejam lagi,” nasehat itu yang sering dilontarkan kepada saya.

Entah kenapa, saya begitu kerasan setiap dekat dengan Mbah Min yang memang unik dan saya sudah menganggap Mbah Min itu sebagai kakek sendiri. Setiap pulang sekolah setelah berganti baju dan makan siang, hampir dipastikan saya pergi ke rumah Mbah Min.

Terkadang ibu juga merasa khawatir dengan kedekatan saya dengan Mbah Min karena terpengaruh dengan omongan tetangga yang menganggap Mbak Min itu orang tidak waras yang suka berbicara dengan pohon.
“Hendro, kamu jangan sering-sering main ke rumah Mbah Min, nanti dia terganggu,” begitu setiap ibu menasehati dengan tutur bahasanya yang halus dan tidak mau menyinggung perasaan anaknya dengan mengatakan secara langsung bahwa Mbah Min dianggap orang yang tidak waras oleh para tetangga.
Tapi aku tetap saja bermain ke rumahnya untuk sekadar mendengarkan tembang-tembang yang bernafaskan alam.

Mbah Min memiliki hobi baru yakni berkeliling kampung dengan mengendarai sepeda onthel yang katanya merupakan pemberian dari salah seorang tetanggaku. Sepeda onthel itu berwarna hitam yang sudah mulai memudar catnya.
Tapi yang paling menarik, bunyi belnya yang selalu sengaja dikencangkan setiap melewat ke rumahku. “Kring… kring… kring” tentunya setiap mendengar bunyi bel itu, saya pun langsung ke luar rumah dan memanggil Mbah Min.
Dia akan selalu menjawab dirinya akan “berdinas” setiap kali saya berteriak hendak kemana Mbah Min pada siang hari.

Dia mulai mengenakan baju pekerja proyek berwarna kuning dan bertopi caping, setiap berpergian. Di bagian belakang sepedanya pun, mulai dipasang karung goni yang mirip dengan petugas pengantar surat.
“Hendro, Mbah mau berdinas ya,” katanya sembari menekan bel sepedanya yang berbunyi melengking itu dan melambaikan tangannya.

Jadwal Mbah Min terhitung mulai padat, pagi mengurus areal pemakaman dan mengumpulkan rumput, kemudian siang hari dia berkeliling kampung, sore hari baru pulang.
Semenjak dia memiliki kebiasaan baru, saya pun tidak setiap hari bermain ke rumahnya tapi dengan bertemu saat dirinya melewati rumah sudah menjadi hiburan tersendiri dan untuk terus mengingat kata-katanya “Manusia boleh berbuat jahat kepada alam, tapi alam tidak akan segan-segan membalasnya lebih kejam lagi,”.

Sekali waktu saya datang ke rumah Mbah Min selepas pulang sekolah, seperti biasanya Ibu melarang saya bermain ke rumahnya. Tapi saya tetap saja curi-curi gerakan untuk sekadar mengunjungi si Mbah yang selalu menyanyikan lirik-lirik tentang alam itu.

Di ruangan berukuran 3 x 4 meter itu ada dipan alakadarnya yang dipastikan karya Mbah Min dengan memanfaatkan kayu bekas orang yang membangun rumah. Di pojok kiri ada tungku dari batu bata yang warnanya sudah menghitam dan di atasnya ada ceret yang digantung dengan disangga besi berwarna hitam karena terkena nyala api.
Di atas dipan kayu itu, terlihat karung yang terlihat dari luar seperti benda tajam yang ujungnya muncul di atas permukaan karung plastik itu. Sedangkan si Mbah sendiri tidak terlihat, saya pun duduk-duduk di atas kursi kayu yang mirip dengan bangku di sekolahanku. Namun kursi yang satu ini berbeda dengan kursi di sekolah karena sudah reyot hingga ketika duduk saya pun harus sedikit hati-hati.
Tidak lama kemudian muncul si Mbah dari balik pintu dan dia kaget ketika melihat saya. “Eh ada kamu Nak?” katanya.
“Mbah habis dari mana?” kataku dan ia menjawab bahwa dirinya usai dari langgar di sebelah rumahku menunaikan Shalat Ashar.

Kemudian ia pun menunjukkan kepada saya dan mengajak untuk menerka benda apa yang ada di dalam karung plastik itu, saya pun menggelengkan kepala karena tidak tahu isinya apa.
“Nah ini hasil karya Mbah selama satu bulan bekerja, pasti kamu ndak tahu kan,” katanya.
Dia pun langsung membuka ikatan tali dan membalikkan karung itu ke lantai yang beralaskan tanah, dan terlihat paku baik berukuran besar maupun kecil serta ada yang terlihat masih baru dan ada pula yang sudah menghitam karena dimakan usia.
“Ini pekerjaan manusia, seenaknya memaku pohonku, tentunya dia menangis,” katanya bersungut kesal.
“Mbah, mencabuti paku-paku itu?,” kataku.
Si Mbah pun menganggukkan kepala. “Nak, kamu jangan seperti mereka itu yang mengaku-ngaku bertuhan namun kelakuannya tidak menghargai alam. Mereka serakah dan menganggap semua yang ada di lingkungannya itu bebas untuk diperlakukan semaunya. Padahal di Al-Quran sudah menyebutkan soal alam,” ungkapnya kembali.

Siang itu, selepas pulang sekolah, tiba-tiba ibu menyuruh aku untuk mengantarkan makanan dalam rantang berwarna hijau ke rumah si Mbah dan saya pun bertanya-tanya dan penasaran sikap ibu jadi berubah dengan meminta aku ke rumah si Mbah.
“Dro, kamu antarkan ini makanan ke rumah si Mbah,” kata ibu.
“Kenapa Bu?, si Mbah sakit atau apa?,” kataku.
Ibu menjelaskan bahwa si Mbah sakit parah dan badannya luka-luka katanya dikeroyok oleh sejumlah pemuda di kampung seberang pada siang kemarin. Seharusnya dia dirawat di rumah sakit namun dia menolaknya karena tidak mau menyusahkan tetangganya.
Si Mbah pun pulang diantarkan petugas kecamatan dan polisi, keadaannya sudah memprihatinkan terlebih lagi dengan usia si Mbah yang hampir mendekati 60 tahun.

Ibu menyebutkan dari petugas kecamatan bahwa si Mbah ngamuk-ngamuk saat ada sejumlah pemuda yang tengah memasang spanduk salah satu partai besar dengan memancangkan di antara pepohonan di jalan desa.
Namun pemuda itu, memaku pohon untuk mengencangkan ikatan tali spanduk itu dan saat bersamaan si Mbah melintas dengan menggunakan sepeda onthel kesayangannya dan dia pun mencoba menasehati pemuda yang memakai seragam kepemudaan partai tersebut untuk melukai pohon tersebut.

Entah pemuda itu habis menenggak minuman keras, mereka tidak mau terima dan ngotot bahwa mereka tidak bersalah dan mengejek si Mbah yang sudah tua tapi masih sok menjadi pahlawan lingkungan hidup.

Si Mbah pun naik pitam dan sekonyong-konyong lengannya reflek menampar salah seorang pemuda itu, dan si pemuda itu membalasnya dan rekan-rekannya yang lainnya ikut mengeroyok si Mbah dan salah seorang dari mereka tega membacok si Mbah di kepalanya.
“Pemuda itu diamankan oleh petugas kepolisian, tapi kalau ibu tidak salah mendengar tidak lama kemudian pemuda yang diamankan itu, dibebaskan kembali berkat adanya jaminan dari salah seorang pimpinan partai di kota kabupaten,” kata Ibu.

Aku pun penasaran dan langsung bergegas menuju ke rumahnya, dan benar saja kondisi Si Mbah dalam keadaan yang memprihatinkan. Dia tergolek lemah di atas dipannya yang tidak berkasur. Saat itu dia tengah terlelap dan dari wajahnya terlihat lebam-lebam serta perban putih melingkari kepalanya.

Saya pun langsung meletakkan rantang makanan di atas meja di dekat dipan, mungkin karena saya kurang hati-hati tutup rantang terjatuh dan sempat mengenai dipan hingga membangunkan si Mbah.

Dia mencoba bangkit namun tersungkur kembali dan nafasnya sedikit terengah-engah dan mulutnya merintih menahan rasa sakit apalagi di bagian bibirnya terluka setelah terkena pukulan dari para pemuda yang tidak bertanggung jawab itu.

Aku pun mencoba menenangkan si Mbah dengan mengusap-ngusap bagian lengannya. Dengan berkata lirih kepadaku si Mbah menyatakan inilah pekerjaan dari manusia sombong yang sudah tidak menghargai alam.

Aku pun mengambil air dari ceret dan menuangkan ke dalam gelas untuk diminumkan ke si Mbah agar si Mbah tenang.
Sekitar satu minggu kemudian, kondisi si Mbah sudah membaik kembali dan tidak kembali menjalankan aktivitasnya dengan “berdinas” patroli menggunakan sepeda onthelnya menelusuri jalan desa melihat-lihat kondisi pohon yang ada. Jika ada paku oleh si Mbah dicabutnya dan dimasukkan ke dalam karung yang ada di belakang sepedanya itu.

Tepatnya dua minggu setelah kejadian yang menimpa si Mbah, pada tengah malam, aku terjaga dari tidur ketika mendengar teriakan-teriakan dari banyak orang dan mereka berkata “bakar… bakar… bakar saja rumahnya,” yang disambut dengan teriakan “dasar tukang teluh”, tukang teluh harus dikirim ke neraka.

Aku pun mencoba mengintip dari balik jendela di kamarku yang kebetulan menghadap ke arah sebelah rumahku itu dan terlihat nyala lampu obor yang dibawa oleh banyak orang. Tanpa diduga langsung api membumbung ke langit dari rumah itu, aku pun langsung berlari ke kamar ibu dan ternyata ibu pun tengah mengintip dari balik pintu ruang tamu.

Ketika aku hendak ke luar rumah, Ibu melarang termasuk kakakku Yu Tini mencegah aku ke luar. “Nak, kamu jangan ke luar,” kata ibu sembari menahan tubuhku yang meronta-ronta karena tahu mereka hendak menghakimi si Mbah.

Memang di rumah hanya ada aku, ibu dan Yu Tini, sedangkan ayah sudah hampir 10 tahun lalu tidak tahu keberadaannya, dan ibu selalu menutup-nutupi keberadaan ayah, tapi yang jelas dari omongan Pak De, bahwa ayah ditahan di salah satu penjara kota kabupaten karena dianggap sebagai anggota partai terlarang.

Teriakan itu semakin kencang, “Cari si Mbah Min, cincang dia, dasar tukang teluh, umpatan itu terdengar kencang yang disambut dengan teriakan “anj*ng” oleh orang banyak itu.
Dari belakang rumah terdengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, aku pun terperanjat dan ibu mencoba mencari tahu orang yang mengetuk-ngetuk pintu itu dengan bergegas menuju ke belakang rumah yang diikuti oleh Yu Tini.

Sedangkan aku oleh ibu disuruh untuk diam di ruang tamu karena ibu khawatir akan terjadi sesuatu hal yang akan menimpaku.
Tapi yang jelas hanya terdengar permintaan tolong dari orang yang mengetuk pintu itu, dan ibu terdengar suara ibu yang meminta orang itu untuk memelankan suaranya. “Tolong bu, tolong bu,” kata orang itu.
“Sudah Mbah cepat masuk,” suara ibu.

Tidak lama kemudian terdengar suara derit pintu tertutup secara pelan-pelan dan sunyi senyap dari ruang belakang rumah. Ibu pun yang diikuti Yu Tini kembali ke ruang tamu, dan mencoba mengintip kembali dan terlihat massa mulai berkurang. Namun dari samping rumah terdengar orang yang berbincang-bincang mencari si Mbah. Ibu pun menyuruh aku untuk tidak berbicara dengan memberikan tanda jari telunjuk ke depan mulut.

Kumandang adzan Subuh dari langgar mulai terdengar yang disusul dengan kokokan ayam jantan, dan suasana di depan rumah sudah sepi tapi yang tersisanya hanya asap hitam yang membumbung ke langit.
Aku pun tertidur dan tidak berani menanyakan siapa orang yang minta semalam namun aku memperkirakan itu si Mbah.
Pada pagi harinya aku mencoba bertanya kepada ibu, siapa yang mengetuk-ngetuk pintu semalam, dan ibu menjelaskan bahwa itu si Mbah yang meminta tolong karena diburu oleh warga kampung seberang mereka membuat fitnah bahwa si Mbah adalah tukang teluh.

Tuduhan tukang teluh itu karena pekerjaan si Mbah yang mengumpulkan paku-paku yang menancap di pepohonan dan dianggap akan digunakan untuk teluh.

Konon mereka melemparkan fitnah itu, tidak lain dari pemuda yang masih marah ke si Mbah pasca kejadian itu, bahkan salah satu di antaranya sempat berurusan dengan pihak kepolisian setempat.

Yang jelas, saat aku bangun setelah kejadian itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan si Mbah dan ibu selalu berkata jika si Mbah sudah diungsikan ke rumah saudaranya di luar kota.

Dua puluh tahun kemudian, aku sudah tinggal di ibukota bekerja sebagai pegawai negeri sipil di instansi pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan hidup selepas menamatkan kuliah di perguruan tinggi di Yogyakarta.

Karena pekerjaanku yang cukup padat, aku bisa dikatakan hampir jarang pulang ke kampung halaman. Paling-paling Ibu yang menengok aku dan cucunya di ibukota. Sedangkan kakakku Yu Tini, sudah menikah dengan pegawai kantor kecamatan dan sudah memiliki tiga orang anak.

Ibu tinggal di rumah ditemani dengan cucu dari Pak De ku, ayah sendiri sudah meninggal sejak 10 tahun lalu selepas bebas dari penjara dan namanya sudah direhabilitasi bahwa bukan anggota partai terlarang atau menjadi korban salah tangkap orang.

Suatu hari, aku mendapatkan telepon interlokal dari ibu yang menyebutkan bahwa Mbah Min sudah meninggal dan berwasiat untuk memberikan bibit pohon mahoni dan secarik surat.
“Kamu masih ingatkan Mbah Min, dia sudah meninggal karena sakit tua pada,” kata ibu.
Ibu melanjutkan pembicaraan bahwa dirinya mendapatkan informasi itu dari saudaranya di luar kota. “Kemarin saudaranya datang ke rumah untuk memberikan surat wasiat dan bibit pohon” kata ibuku lagi.

Penasaranku semakin bertambah dan meminta ibu untuk membacakan surat wasiat itu, ibu membacakan inti dari surat wasiat itu bahwa si Mbah memintaku untuk menanam bibit pohon itu di lingkungan rumah agar lingkungan tetap terjaga.

Di akhir suratnya, Mbah memberikan nasehat yang sampai sekarang selalu ku ingat. “Manusia boleh berbuat jahat kepada alam, tapi alam tidak akan segan-segan membalasnya lebih kejam lagi.”

Bekasi, 23 Maret 2012
Riza Fahriza
Penikmat Sastra

Pengarang Cerita: Riza Fahriza
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami