Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan

Destiny

Kamis, 30 Januari 2014 | komentar

“Aku menunggu mu di lobby, sayang”. Aku tersenyum ketika membaca sebuah sms dari seseorang yang sangat aku cintai di sore itu.
Segera aku membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kantorku. Setelah selesai menyusun tumpukan kertas itu hingga rapi, aku bercermin untuk memastikan wajahku masih terlihat cantik dan segar. Tidak lama kemudian aku pun berlari keluar dari lorong kantorku menuju lift, yang akan membawaku turun untuk bertemu dengan pujaan hatiku tersayang.
“Reneeee…” sapa laki-laki berkulit putih dan memakai kacamata itu sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Aku menghampiri Yudha sambil tersenyum manis.
“Huaahhh… Kamu bukannya lagi sibuk?” kok bisa ada disini dan menjemput aku, sayang?” tanyaku.
“Aku kangen sama kamu soalnya” jawabnya sambil tertawa.
“Aihhh… Gombal ahhh?” bisikku sambil merangkul lengannya.
Aku dan Yudha lalu bergandengan tangan, berjalan keluar dari gedung kantorku menuju tempat parkiran mobil. Aku bertanya-tanya dalam hati, hmmm.. ada angin apa, tiba-tiba Yudha datang menjemputku. Bukannya akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku dan Yudha sudah berpacaran lima tahun lamanya. Yudha terkenal pria yang pekerja keras dan pintar. Pria yang super sibuk dengan segala aktivitas di kantornya. Walaupun begitu sibuk, yang sangat aku kagumi ia bisa menyisakan waktunya untukku di akhir pekan. Yudha sangat perhatian dan sayang padaku. Aku tidak menyesal berpacaran dengannya.
Yudha tersenyum padaku, sewaktu aku duduk di dalam mobilnya. Lalu ia mengeluarkan sehelai saputangan dari kantong celananya.
“Ehhh… Sayang, kamu mau ngapain” teriakku sambil tertawa ketika melihat wajahnya yang mulai jahil itu.
“Tutup mata kamu dulu yaa, Re” kata Yudha sambil mengikat saputangannya yang menutupi wajahku.
“Aduhhh… kita mau kemana sih, kok mata aku pake ditutup segala?” tanyaku sewaktu Yudha mengendarai mobilnya.
“Tenang!… sabar ya, sebentar lagi kita sampai kok” jelasnya yang membuat diri ini sangat penasaran.
Mobil itu entah akan membawaku kemana, aku tidak sanggup lagi menghitung belokan serta lampu merah yang kami lewati hingga saat ini. Pandanganku gelap dan aku agak sedikit pusing akibat penutup mata ini. Akhirnya mobil yang di kendarai Yudha berhenti juga. Yudha membuka pintu mobil lalu menuntunku ke arah yang tidak aku ketahui. Yang aku tahu, aku sempat masuk ke dalam lift dan naik entah sampai ke lantai berapa bersamanya.
Yudha membuka penutup mataku. Aku masih meraba-raba pandangan ini yang masih terlihat berkunang-kunang. Ternyata aku berada di sebuah ruangan yang masih kosong dan jauh dari khayalanku selama di perjalanan, yang sempat berkhayal Yudha akan membawaku ke sebuah restoran romantis yang berada di dalam gedung yang sangat tinggi seperti di film-film.
“Tempat apa ini, Yud?” tanyaku sambil memperhatikan keadaan di sekelilingku.
“Ini apartemen” jawab Yudha sambil tersenyum.
“apartemen siapa?” kok masih kosong, tanyaku lagi.
“Ini apartemen milik kita berdua, sayang”. Sebulan yang lalu aku telah membelinya jelas Yudha.
“Apa… punya kita?” teriakku tidak percaya.
“Mulai sekarang kita harus menabung, untuk mengisi perlengkapan apartemen ini” kata Yudha sambil menuntun langkahku ke arah balkon apartemen.
Angin semilir meniup rambutku yang tergerai, aku melihat pemandangan yang indah dari atas balkon. Hatiku masih bertanya-tanya, mengapa Yudha menguras tabungannya untuk membeli apartemen ini. Dia berhasil membuatku terkejut saat itu. Aku memandang Yudha yang masih asyik melihat pemandangan di sekelilingnya dari ketinggian ini. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, sambil tersenyum manis ia pun berkata.
“Rene… mau kah kamu menikah dan hidup selamanya denganku?” ujarnya
“Yu… Yudha…” Kataku terbata-bata yang sangat terkejut mendengar lamarannya.
“Kita hidup berdua dan membesarkan anak-anak kita nanti di apartemen ini” aku ingin kamu yang akan menungguku sepulang dari kantor sampai aku pensiun nanti, candanya.
“Ka… kamu serius, Yud?” tanyaku.
Yudha tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Aku juga mau hidup dengan kamu Yud” bisikku. Yudha lalu memelukku dengan erat. Mulai hari itu kami berdua berjanji akan selalu bersama di saat senang, susah, gembira dan sedih hingga sampai rambut kami mulai memutih nanti.
Dua bulan kemudian, setelah Yudha melamarku secara pribadi. Di minggu sore ini, rumahku kedatangan rombongan keluarga besar Yudha yang secara resmi akan melamarku. Yudha datang mengenakan batik hitam, dia terlihat sangat tampan. Aku merasakan kebahagiaan yang amat mendalam pada hari itu. Ternyata Yudha lah yang akan menjadi jodoh dan pelabuhan terakhirku. Pikiranku pun melayang mengingat kejadian pertama kali aku bertemu dengannya di kampus. Yudha sering memperhatikanku diam-diam, ketika aku sedang bersama dengan teman-temanku. Aku suka bertemu dengannya di parkiran mobil setiap pagi. Kami berdua hanya saling menyapa jika bertemu, aku tidak begitu dekat sama Yudha, karena pada waktu itu aku berlainan jurusan dengannya di kampus. Aku mengenal Yudha saat mengikuti kegiatan ospek di Universitas kami. Aku satu kelompok dengannya, sewaktu para senior kami, menggojlok kami dengan sangat kejam.
Setelah lulus kuliah, aku bertemu kembali dengan Yudha pada saat kami berdua sedang melamar pekerjaan di kantor yang sama, yang berada di dalam gedung pencakar langit di tengah kota. Setelah diterima sebagai karyawan kantor itu, rasa solidaritas kami karena berasal dari almamater yang sama pun muncul. Aku dan Yudha menjadi sangat kompak dalam pekerjaan, lama-lama kami berdua semakin dekat. Aku dan Yudha saling jatuh cinta, kami berdua pun sepakat untuk berpacaran. Tiga bulan setelah aku dan Yudha berpacaran. Yudha keluar dari kantor ini, lalu ia pindah ke pekerjaan yang lain dan lebih bagus. Semenjak itulah Yudha menjadi orang yang sangat… sangat super sibuk. Untunglah itu bukan menjadi kendala dalam hubungan kami berdua. Hubungan aku dan Yudha pun berjalan sangat lancar sampai acara lamaran hari ini tiba.
Yudha memasang sebuah kalung berliontin batu zamrud di leherku. Semua mata yang berada di ruangan itu memandang kami, lalu mereka bertepuk tangan gembira setelah Yudha berhasil mengkaitkan kunci kalung itu agar tidak terlepas dari leherku. Tidak lama kemudian keluarga besar kami berdua memberikan selamat untukku dan Yudha, serta berharap rencana pernikahan kami akan berjalan dengan lancar sampai enam bulan kemudian.
Setelah acara lamaran itu, hubungan aku dan Yudha semakin kompak. Kami saling bahu-membahu menabung serta bekerja keras siang dan malam untuk mewujudkan impian pernikahan kami, juga membeli alat-alat rumah tangga untuk memenuhi ruangan di apartemen kami. Siang ini Yudha menjemputku di rumah, rencananya hari ini aku dan dia mau pergi membeli ranjang untuk diletakan di kamar. Aku memilih sebuah ranjang besi yang berkelambu putih. Hmmm… aku membayangkan, pasti suasana kamar kami nanti akan menjadi romantis. Aku memandang Yudha yang tampaknya setuju dengan ranjang pilihanku. Setelah membeli ranjang, aku dan Yudha bergotong ronyong mendekor apartemen mungil kami berdua, yang berada di lantai 16 itu hingga tengah malam.
Hari-hari cepat berlalu, tinggal sebulan lagi hari pernikahan kami tiba. Yudha masih begitu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan ia mengambil pekerjaan di luar kota. Aku melirikan mata ke arah jam yang berada di tangan kiriku. Sudah pukul empat sore, hmmm… aku harus cepat-cepat keluar dari kantor untuk menjemput Yudha di bandara, kataku dalam hati. Setelah pekerjaanku selesai, aku langsung mengendarai mobilku menuju bandara. Setelah menunggu dua jam lamanya, akhirnya pesawat yang ditumpangi Yudha tiba. Aku pun segera menghampiri kekasih yang sangat aku cintai itu.
“Hai… Sayang” teriakku sambil malambaikan tangan ini.
“Hai… Re” kata Yudha sambil tersenyum dan memelukku dengan erat.
Aku dan Yudha berpelukan, Yudha mencium keningku. Aku tersenyum melihat perhatiaannya yang sangat tulus padaku. Tidak lama kemudian kami berdua berjalan meninggalkan bandara.
“Sayang… Kok kalau aku perhatikan, sekarang badan kamu agak kurusan deh?” kamu kecapaian ya? tanyaku sambil mengendarai mobil.
“Masa… sih” kata Yudha.
“Iyah…, aduh kamu jangan kecapain dong?” nanti kalau sakit bagaimana, sebentar lagi kita kan mau menikah ujarku manja sambil melirikan mata ini ke arah Yudha.
Yudha tersenyum mendengar ocehanku ini, lalu ia mengusap-ngusap rambutku.
“Kerjaan aku masih banyak banget, Re”. Aku lagi mengejar target nih, supaya pekerjaanku selesai, dan kita bisa berlibur setelah menikah nanti jelas Yudha.
“Memangnya kita mau berlibur kemana?” tanyaku gembira.
“Hmmm… Ada aja”. Rahasia dong, yang pasti kita bisa berdua-duaan sepanjang hari jawab Yudha sambil tertawa.
“Wahhh… kasih tau dong, aku kan jadi penasaran” rengekku
“Kamu maunya berlibur kemana?” Tanya Yudha yang semakin membuatku penasaran.
“Kalau kita di kasih cuti panjang sama kantor, aku kepingin pergi ke tempat yang berhawa sejuk dan dingin. Seperti Bromo” jawabku.
“Bromo…? wah… kok sama seperti aku sih, aku juga kepengen banget ke bromo, dan suka berkhayal akan mengahabiskan masa tua aku di sana bersama kamu”, jelas Yudha dengan antusias.
“Ayooo… Kita kesana” ajakku
“Oke… Kita akan pergi kesana nanti. Hmmm… seru juga tuh tempatnya” kata Yudha sambil tertawa.
Yaaa… Tuhan, sepertinya aku sangat tidak sabar menunggu hari pernikahan kami tiba. Pasti sangat menyenangkan pergi berlibur dengannya, setelah kami berdua sudah resmi menjadi suami istri yang sah. Aku juga tidak sabar untuk hidup berdua dengan Yudha, membina rumah tangga di apartemen kami yang mungil, membuat kopi dan sarapan di setiap pagi dan menunggu bayi kami yang mungil, hadir ke dunia untuk menyempurnakan hidup ini.
Undangan pernikahan kami sudah mulai tersebar, Aku pun sudah mulai sibuk dengan segala macam tetek-bengek yang akan dipersiapkan. Dari kebaya akad nikah dan kebaya resepsi, seragam keluarga, hingga hal yang terkecil yaitu souvenir, yang akan di bagikan untuk tamu yang datang. Hmmm… sambil menunggu harinya tiba, aku juga mempercantik diri dengan mengambil paket perawatan tubuh di salon langgananku. Hampir setiap malam aku dan Yudha mengobrol melalui telepon sebelum kami tidur, kami membahas hal-hal yang penting sampai obrolan-obrolan konyol yang membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak.
Di sabtu sore ini aku dan Yudha berjanji untuk bertemu di sebuah taman kota. Aku melihat Yudha sudah datang terlebih dahulu, ia duduk menungguku di bangku taman. Yudha terlihat begitu tampan dan rapi. Aku menghampiri Yudha yang sedang tersenyum manis melihat kedatanganku. Sengaja kami bertemu di hari ini, karena mulai besok kami berdua sudah harus mengikuti acara pingitan selama seminggu, sebelum hari pernikahan kami di laksanakan, di minggu depan. Kami mengobrol, bercanda dan tertawa sepanjang sore, dan di malam harinya Yudha mengajakku menonton film yang sangat romantis. Sungguh senang hatiku di hari itu, Yudha tidak pernah melepaskan tangannya yang selalu menggenggam erat tanganku. Aku merasakan kenyamanan, kebahagiaan dan kedamaian yang sangat berarti di dalam hidup ini. Aku berdoa dalam hati dan berharap apa yang aku rasakan saat ini berdua Yudha akan abadi selamanya.
Yudha mengantarkanku sampai di rumah setelah kami berdua selesai menonton. Aku dan Yudha berdiri di taman, saling berhadapan dan berpegangan tangan di bawah cahaya terang bulan purnama. Kedua mata kami saling bertatapan.
“Kamu sangat cantik sekali malam ini, Re?” bisik Yudha.
Aku tersenyum malu mendengar pujiannya.
“Terima kasih ya, kamu sudah menemani aku di hari ini”. Aku merasa sangat beruntung mempunyai calon istri seperti kamu. Kamu adalah segalanya untuk aku, Re bisik Yudha lagi sambil memelukku dengan erat.
“Aku juga sangat beruntung bisa menemukan kamu di dalam hidupku, Yud. Oiya… aku punya sesuatu nih untuk kamu”, kataku sambil membuka tas ku.
“Wahhh… Apa tuh?” Tanya Yudha dengan mata yang berbinar-binar.
Aku mengambil selembar kertas.
“Kemarin malam aku tidak bisa tidur, terus aku mencoba menuliskan sesuatu untuk kamu. Hmmm kamu mau mendengarnya?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Mau… mau!” teriak Yudha antusias.
“Ini bukan puisi, tapi ini adalah tentang perasaanku padamu sayang”, jelasku.
Yudha menatap tajam mata ku, aku pun mulai membacakan sebuah tulisan yang berada di dalam genggaman tangan ini.
Lembayung datang menyapa malam.
Senja di ujung hari, terukir dengan jelas.
Melukiskan suatu pengharapan tentang kedamaian.
Tak kala mata menanti kesejukan hati.
Lelaki itu telah datang tepat pada waktunya.
Sang penyelamat hati yang hampir membeku.
Senyumannya mencerminkan ketulusan, pengharapan dan kegembiraan.
Mengajarkan tentang arti kedamaian.
Menggapai tangan ini, mengajak melangkah menuju masa depan.
Mencintainya adalah anugerah.
Terima kasih Tuhan, Kau telah mempertemukan pasangan hidupku.
Cinta yang sulit di terka, tapi menjadi nyata karenamu.
Aku melihat Yudha meneteskan airmatanya, ia tersenyum lalu memelukku sekali lagi dengan erat.
“Indah… sekali, Re” terima kasih yaa bisik Yudha.
“Tulisan seseorang yang masih amatiran” candaku sambil tertawa.
“Boleh aku minta, kertasnya” pinta Yudha.
“Ini buat kamu” kataku sambil memberikan selembar kertas putih itu.
“Besok kita sudah mulai berpisah ya, jaga kesehatan kamu oke, Minggu depan kita bertemu lagi” kata Yudha.
“Iya… Aku juga sudah tidak sabar menjadi, Nyonya Yudha” Candaku, sambil memandangi kekasihku yang malam itu terlihat tampan sekali.
Yudha tersenyum, lalu ia mencium bibir ini dengan lembut dan mesra.
“Aku, pulang dulu ya sayang. Hmmm… aku sayang banget sama kamu” bisik Yudha.
“Daaggh…, hati-hati di jalan yaa. Aku juga cinta dan sayang sama kamu”, teriakku keras.
Yudha tertawa mendengar perkataanku, lalu ia berjalan sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil. Setelah mobil yang di kendarai Yudha menghilang dari pandanganku. Aku masuk ke dalam kamar. Hmmm… belum lama Yudha pergi meninggalkanku, kenapa aku sudah mulai merindukannya? Pikirku, sambil merebahkan badan dan memejamkan mata ini di atas ranjang. Malam ini adalah malam terakhir aku berkencan dengan dia, dan menjadi malam yang paling indah dalam hidupku sebelum hari pernikahan kami tiba.
Waahhh… kenapa saat ini aku rindu sekali dengan Yudha? Penat melihat laporan keuangan yang aku kerjakan, aku pun menutup laptop yang berada di atas meja kantorku. Aku menatap sebuah bingkai foto, lalu memandangi fotoku bersama Yudha sewaktu berlibur di pantai. Mengapa sejak tadi pagi, aku selalu gelisah dan tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanku. Apakah ini akibat terlalu grogi memikirkan acara pernikahanku di akhir pekan nanti. Mataku masih saja memandangi foto Yudha, rasa rinduku semakin mendalam padanya. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, aku tertawa gembira begitu melihat nama Yudha yang muncul di layar ponsel. Huaaahhh Yudha meneleponku? Aku pun buru-buru menyapanya.
“Sayang… pasti kamu sekarang juga lagi kangen sama aku ya?” teriakku sambil tertawa.
“Halo… Ini Rene ya?” Tanya seseorang.
“Iyah… benar, aku Rene kamu siapa yaa?” tanyaku bingung ketika mendengar bukan suara Yudha yang meneleponku.
“Aku Rivan, teman sekantornya Yudha” katanya memperkenalkan diri.
“Iya…, ada apa yaa Van?” tanyaku yang masih bingung.
“Aku mau memberitahu, hmmm.. Yudha tadi mendadak pingsan dan tidak sadarkan diri”. Sekarang dia dalam perjalanan ke rumah sakit, jelas Rivan.
“Apa…” teriakku yang terkejut setengah mati.
Aku buru-buru keluar dari kantor, dan mengendarai mobilku secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Yudha dilarikan. Ya Tuhan, ada apa dengan kekasihku. Aku berdoa dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan Yudha, mungkin Yudha pingsan karena kelelahan bekerja di kantor, pikirku dalam hati.
Aku berlari menyelusuri lorong yang sangat panjang di rumah sakit. Begitu sampai di ruang unit gawat darurat, aku melihat Tante Ana, Mamanya Yudha sedang duduk dan tertunduk lesu di ruang tunggu.
“Tante, bagaimana dengan keadaan Yudha?” Tanya ku sambil duduk di sampingnya.
Tante Ana memandangiku, lalu ia memelukku dengan erat sambil menangis sesegukan. Melihat keadaan Tante Ana, aku menjadi tambah bingung dan panik memikirkan kesehatan Yudha, yang sedang di tangani oleh beberapa dokter di ruang observarsi.
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, lalu ia berjalan menghampiriku dan Tante Ana.
“Maaf…, apakah kalian saudara dari bapak Yudha?” Tanya Dokter berkacamata itu.
“Iyah Dok, saya calon istrinya, dan Ibu ini orangtuanya” jawabku.
“Kalau begitu sebaiknya kalian ikut ke ruangan saya” kata Dokter itu lagi.
Aku dan Tante Ana berjalan mengikuti langkah Dokter menuju ruang kerjanya. Dokter itu mempersilahkan aku dan Tante Ana duduk di hadapannya. Detak jantungku pun berdetak sangat kencang, ketika menatap Dokter.
“Bapak Yudha mengalami penurunan kesadaran, akibat virus yang masuk ke dalam otaknya, ini bisa terjadi karena ia kecapaian dan daya tahan tubuhnya tidak stabil, akhirnya virus itu dapat masuk, bisa melalui udara atau makanan” kata Dokter.
“Maksud.. Dokter?” tanyaku.
“Bapak Yudha terkena virus yang dapat menyerang otak sarafnya. Akibat itu kesadarannya akan melemah dan sangat berbahaya jika sampai menurun. Maka dari itu Bapak Yudha harus segera di tangani serius”, jelas Dokter.
“Apakah… bisa sembuh Dok?” tanyaku terbata-bata.
“Kita usahakan yaa Bu. Mudah-mudahan Bapak Yudha kuat dan dapat melewati masa kritisnya”, jawab Dokter.
Dengan langkah lunglai, aku dan Tante Ana keluar dari ruang Dokter. Tante Ana menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan Dokter. Apa yang terjadi dengan Yudha adalah musibah besar di dalam hidupku. Ya Tuhan, mengapa engkau memberi cobaan yang berat padaku. Minggu depan aku akan menikah dengannya. Airmataku menetes ketika melihat Yudha tidak berdaya di atas tempat tidur. Wajahnya pucat, matanya terpejam. Selang kecil, oksigen dan berbagai macam peralatan Dokter di pasangkan di tubuhnya. Aku menggenggam tangannya yang dingin. Aku ingin berada terus di sampingnya. Aku ingin sewaktu Yudha membuka matanya, orang yang dia lihat adalah aku.
Saat ini aku pasrah, aku tidak memikirkan lagi rencana pernikahanku yang sudah dipersiapkan dengan sangat matang itu. Yang ada di pikiranku adalah Yudha, aku ingin kekasihku itu tersadar dari tidurnya. Ia sembuh dan bisa bersamaku lagi.
Dua hari sudah berlalu, Yudha belum tersadar juga. Akhirnya dokter menyatakan Yudha koma, karena daya tubuh dan kesadarannya terus menurun. Ya Tuhan, aku tidak tega melihat keadaan Yudha yang begitu pucat dan tidak berdaya, matanya terus saja terpejam.
“Yudha… kamu harus kuat sayang, ayo buka mata kamu, kamu harus sembuh? Dua hari lagi kita akan menikah. Aku ada disini menunggumu” bisikku sambil menatapnya.
Tidak terasa airmataku menetes dengan deras, aku tidak sanggup lagi memendung rasa sedih yang aku alami di malam itu.
Ketika aku sedang memandanginya, tiba-tiba aku merasakan jari tangan Yudha bergerak sewaktu aku menggenggamnya. Aku terkejut, lalu aku menatap wajahnya dengan jelas. Yudha meneteskan airmata, tetapi matanya masih terpejam rapat. Aku yakin Yudha bisa mendengar bisikanku dan memberi respon yang baik. Aku menggenggam tangannya erat-erat, aku ingin ia tahu, kalau tidak pernah sedetik pun aku pergi meninggalkannya.
“Aku selalu berada di sampingmu, sayang” bisikku lagi untuk meyakinkan dan membuatnya tenang.
Keesokan harinya kesehatan Yudha semakin menurun, Yudha ngedorop. Beberapa dokter menanganinya untuk membuat tubuhnya stabil. Aku berdiri di pojokan ruangan serba putih itu. Seluruh tubuh ini gemetar melihat keadaan Yudha. Seorang dokter menyuruh aku dan keluarga besar Yudha untuk berkumpul. Dokter meminta kami pasrah dan mengiklaskan jika hal yang terburuk terjadi dengan Yudha. Aku menangis tersedu-sedu, aku memeluk tubuh Yudha yang lemah tidak berdaya.
“Aku merelakan kamu sayang. Pergilah jika itu membuatmu tenang? Aku ikhlas” bisikku sambil sesegukan, menahan rasa sedih yang teramat dalam. Aku tidak tega melihat Yudha tersiksa seperti ini.
Sesaat setelah aku membisikannya, tidak lama kemudian detak jantung Yudha berhenti perlahan-lahan. Yudha meninggal di dalam pelukanku, ia meninggalkanku selamanya di malam sebelum hari pernikahan kami berdua.
—
Janur kuning yang seharusnya terpasang di hari ini, telah berganti dengan bendera kuning. Orang-orang yang seharusnya datang bergembira pada hari itu, menjadi bersedih dan berkabung. Aku masih duduk setia di samping jenazah kekasihku. Aku ingin lebih lama menatap wajahnya. Apakah ini yang di namakan takdir, ya Tuhan. Takdir kami berdua yang berakhir dengan perpisahan.
Setelah Yudha dimakamkan, aku pergi mengunjungi apartemen kami berdua. Airmata ini jatuh kembali ketika aku melihat ruangan yang sudah tertata rapih. Aku membuka pintu kamar kami, dengan langkah lunglai aku berjalan menuju ranjang. Aku merebahkan tubuh ini, pikiranku masih terbanyang-bayang tentang sebuah pernikahan yang terganti dengan kepergian Yudha. Karena terlalu lelah, aku pun tertidur di ranjang kami berdua.
“Sayang…, Hi ayo bangun?”. Kamu mau tidur sampai jam berapa bisik seseorang persis di telingaku.
Itu suara Yudha. Aku tersadar dari tidurku dan terhentak kaget. Aku melihat Yudha sedang duduk di pinggir ranjang dan tersenyum padaku. Apakah aku sedang bermimpi Tuhan, aku menangis melihat Yudha di hadapanku.
“Kenapa kamu menangis sayang, kamu sakit?” tanyanya sambil mengusap airmataku.
“Ka… kamu, masih hidup?” tanyaku terbata-bata yang merasakan sentuhan tangannya.
“Sayang… Kamu ngelindur ya? aku belum mati? Ayo bangun” teriak Yudha sambil tertawa.
Apa… Aku langsung beranjak dari ranjangku dan melihat keadaan di sekelilingku. Hmmm… Ini bukan di apartemen, tapi aku berada di kamar tidurku sendiri. Aku lalu memandang Yudha yang masih terlihat bingung dengan kelakuanku yang masih seperti orang linglung.
“Sayang… Kamu kenapa?” Tanya Yudha panik.
“Ini… Ini cuma mimpi? ternyata kamu masih hidup” teriakku yang masih tidak percaya.
Aku menghampiri Yudha lalu memeluknya dengan sangat erat. Terima kasih Tuhan, ternyata kejadian yang aku alami cuma mimpi, kataku dalam hati yang bisa bernafas dengan lega.
“Sayang… Aku tidak bisa napas” kata Yudha sambil tertawa.
“Maaf… maaf” kataku sambil tersenyum.
“Memangnya semalam kamu tidur jam berapa sih? kok sampai bisa mimpi seperti itu”, Tanya Yudha ketika aku menceritakan tentang mimpi yang aku alami.
Aku tertawa, lalu memeluknya sekali lagi.
“Aku… enggak mau kehilangan kamu lagi, Yud” bisikku.
“Aku ada di sini kok, Re” jawab Yudha.
“Ehhh… Kita kan sedang di pingit?” kenapa kamu ke rumahku? Tanyaku bingung.
“Aku mau minta kunci apartemen yang kamu pegang. Aku mau pergi kesana, ada yang harus dibetulkan sebelum kita pindah kesana” jelas Yudha.
“Aku ikut, aku enggak mau di pingit, aku enggak mau pisah lagi dengan kamu”, rengekku.
“Lho… nanti apa kata orangtua kita, sayang?” Tanya Yudha.
“Bodo…, pokoknya aku maunya sama kamu terus!” rengekku sekali lagi.
Aku melihat Yudha tertawa terbahak-bahak melihat kelakuanku. Sumpah aku masih trauma bila mengingat mimpi yang sangat sedih itu. Pernahkah kamu bermimpi, kehilangan orang yang sangat kamu sayangi dan cintai. Rasanya sangat sedih dan menyesakkan dada. Akhirnya acara pingitan yang di rencanakan orang tuaku pun gagal total. Seminggu kemudian acara pernikahan kami berlangsung. Aku merasakan kebahagiaan yang sesunggunya, dan ini bukan mimpi yang hanya sesaat. Kami berdua telah resmi menjadi suami istri, dan siap untuk melanjutkan kehidupan kami yang baru.
Kini aku dan Yudha berdua, berdiri menunggu matahari terbit dari balik gunung Bromo. Kami berpegangan tangan dengan erat. Lelaki itu benar-benar datang tepat pada waktunya. Bagaikan sinar mentari yang akan menyinari kehidupanku. Aku berharap cinta kami berdua benar-benar akan abadi untuk selamanya. Dan hanya takdir kematian yang akan memisahkan kami berdua.
(tamat)
Penulis Cerita: Ayu Soesman
 

Berat Sahabat

Selasa, 28 Januari 2014 | komentar

Suara alarm di handphonenya tak mampu kalahkan udara dingin pagi ini. Seharusnya remaja yang baru duduk di bangku 2 SMA ini sudah harus bangun 10 menit yang lalu, tapi gadis bernama lengkap Aeldra Dwi Alana itu masih melingkar di pembaringan. Hampir setiap pagi Ibu kost turun tangan membangunkannya.
“El… Sudah jam 06.30, lo udah bangun?” Tanya Bu Nani. Tak ada jawaban. Wanita berkepala 4 itu kembali mengetuk pintu, kali ini agak keras.
“Ayo bangun El, nanti kamu telat lagi ke sekolah.”
“Iyaa…” Beberapa menit kemudian gadis itu keluar sambil merapikan ikat pinggangnya.
“Lo gak mandi?” selidik Bu Kost sambil mengendus.
El nyengir, “Apa gunanya parfum kalau El harus mandi setiap pagi.”
Bu Nani hanya menggeleng dan membiarkan gadis itu berlalu
“El…” seorang gadis bertubuh mungil dengan pita pink di rambutnya berdiri di pintu kelas. Keysha memang selalu datang lebih awal.
Keysha dan El adalah teman baik sejak duduk di bangku kelas 1. El adalah pendengar yang baik untuk Keysha, mungkin ini yang membuat gadis manja itu merasa nyaman berteman dengan El. Banyak yang bilang Keysha itu menyebalkan tapi tidak bagi El, begitu juga anggapan tentang El yang cuek dan dingin tak membuat Keysha kemudian memilih teman yang lain. Ya, meskipun harus diakui Keysha adalah pemilih.
“Berangkat tadi gue dibonceng Kak Jovan,” bisik Keysha.
“Kapan lo mau traktir gue?”
“Gue belum jadian. Kebetulan aja tadi motor Mas Indra mogok, jadilah aku dibonceng sama Kak Jovan,” terang Keysha.
Memang sejak keduanya berteman hanya Jovan yang melulu Keysha ceritakan. Sepertinya dia sudah jatuh hati dengan cowok maskulin itu. Sementara El tak pernah cerita tentang cowok, hanya 2-3 kali cerita itu pun tentang cintanya yang selalu berakhir tragis. Dia lebih sering mengeluh tentang PR Kimia atau Fisikanya yang tak pernah beres ia kerjakan di kost.
“El, besok sepulang sekolah kumpul di ruang OSIS rapat persiapan ulang tahun sekolah,” kata Bobby anak kelas sebelah.
“Oke. Thanks ya infonya.” Bobby hanya menunjukkan ibu jarinya dan berlalu.
Sepulang sekolah tidak seperti biasanya, Keysha langsung keluar tanpa menunggu El yang masih sibuk dengan tas dan buku-bukunya. Konon katanya mau nyalon. Dan Jovan adalah alasannya terburu-buru.
“Efek jatuh hati,” batin El sambil geleng-geleng kepala.
Keysha selalu peduli dengan penampilan, rambut merupakan salah satu yang selalu menjadi perhatian. Setiap minggu selalu ada jadwal ke salon, yang creambath, manicure pedicure, massage atau sekedar memotong ujung rambutnya yang mulai bercabang. Mengikuti perkembangan trend terbaru untuk penataan rambut adalah sebuah keharusan baginya.
Pukul 14.30 Keysha sudah tiba di salon Bu Nani. Salon yang selalu ramai itu memang milik Bu Nani, beliau datang hanya untuk memantau anak buahnya. Tapi itu tidak berlaku ketika Keysha datang, Bu Nani lah yang harus turun tangan melayani pelanggan setianya itu.
“Hai Ke…” sapa Bu Nani ramah.
“Key, pake ‘y’ Bu,” Keysha membenarkan pengucapan namanya yang sebenarnya tidak penting itu. Tapi ia selalu melakukan hal itu ketika apa yang ia dengar tak seperti yang ia inginkan. Bu Nani hanya tersenyum.
“Siapa Key, pacar Keysha ya?” tanya Bu Nani melihat lelaki di samping Keysha yang dari tadi tak mengucapkan sepatah katapun.
Keysha hanya tersenyum tanpa menjawab. “Model rambut yang bakal trend tahun depan gimana Bu?” tanya Keysha sambil duduk dan mengambil salah satu majalah di hadapannya.
“Tahun depan akan serba volume tanpa sasak,” jawabnya singkat sambil terus bekerja.
Keesokan Harinya
Persis seperti apa yang El duga, hari ini Keysha sudah pasti menceritakan hari pertamanya hang out bareng Jovan. Ke salon, shoping, nonton, makan dan bla bla bla. Jelas sekali terlihat kebahagiaan itu di matanya. Betapa tidak, dalam waktu kurang dari 2 minggu dia sudah berhasil mengajaknya keluar.
Keysha memang selalu menarik perhatian, wajahnya cantik, bersih, smart, supel. Cowok mana yang bisa menolaknya. Cewek-cewek banyak yang kurang menyukainya bisa jadi karena mereka iri melihat kelebihan-kelebihan itu. Entahlah…
“Woi!!!” seseorang menepuk bahu El.
“Key…” ucap El setelah melihat wajah gadis ayu itu.
“Ngelamun mulu. Temenin gue yuk, lo gak ada kegiatan apa-apa kan?”
“Gue ada rapat OSIS 10 menit lagi,” dilihatnya jam di pergelangan tangannya.
“Yaaah. Mas Indra ngajak gue maen, ada temen-temennya juga. Masa gue cewek ndiri?!” Keysha terlihat kecewa. El tak menyahut. “Ya udah. Tapi lain kali harus mau ya.”
“Iya. Apa sih yang gak buat lo… Gue duluan ya, udah pada kumpul tuh.” El beranjak dari duduknya, sementara Keysha pergi bersama Mas Indra.
Di dalam ruang OSIS hanya ketua dan sekretaris OSIS yang belum terlihat. Rapat hari ini diikuti oleh 10 MPK dan 39 pengurus OSIS tanpa Pembina. Begitu yang ditunggu memasuki ruangan, rapat segera dibuka dengan do’a dipimpin oleh Ketua OSIS.
“Ulang tahun sekolah akan diadakan satu minggu setelah ujian semester, itu artinya kita masih punya waktu sekitar satu bulan untuk persiapan. Besar harapan saya persiapan beres sebelum ujian semester, jadi ketika ujian semester kita sudah tidak lagi terbebani dengan hal-hal menyangkut acara nanti. Temen-temen pengurus OSIS dan MPK silakan yang mempunyai usul…”
Satu per satu mengeluarkan pendapatnya, sementara El hanya diam sambil memainkan pulpen di tangannya, sesekali melihat jam di tangannya.
45 menit berikutnya Ketua OSIS sudah membacakan hasil rapat dilanjutkan dengan bacaan hamdalah, tanda rapat selesai. El menghela napas sambil bangkit dari duduknya.
Kriiing kriiing kriing… HP El berbunyi. “Keysha,” gumamnya setelah membaca nama yang muncul di layar handphonenya.
“Kenapa Key?”
“BT. Gue pikir ada Kak Jovan juga, ternyata gak ada,” jawab Keysha dari seberang.
“Besok juga ketemu di sekolah, berdo’a aja ban Mas Indra kempes lagi biar bisa boncengan sama Kak Jovan,” canda El.
“Ada-ada aja lo. Udah kelar rapatnya?”
“Baru kelar, ini gue lagi jalan pulang.”
“Ya udah, istirahat sampai kost jangan ngelayap cari kesibukan,” Keysha memberi perhatian. Keysha hanya mengiyakan dan memasukkan handphonenya ke saku setelah Keysha menutup pembicaraan.
Setiba di kost El langsung ganti pakaian dan bergegas keluar cari makan, sedari tadi perutnya sudah keroncongan. Tepat di sebelah kost ada tongkrongan anak-anak gaul yang super komplit. Ada warung makannya, ada studio musiknya, dan ada distronya juga. Yang satu ini bukan milik Bu Nani ya.
“El.”
El langsung mencari sumber suara. Jleb. Cowok berbadan tinggi dengan seragam SMA itu tersenyum manis.
“Kak Jovan?” El sedikit gugup. “Ngapain disini? Masih pakai seragam lagi.”
“Latihan sama anak-anak buat acara ulang tahun sekolah, pulang sekolah langsung cabut kesini. Lo sendiri ngapain?”
“Cari makan,” jawab El meringis.
“Rumah lo deket sini?” tanya Jovan sedikit mengintrogasi.
“Aku kost persis di sebelah.”
Jovan mengangguk kemudian memanggil pelayan dan memesan makan. ‘Lah, kok jadi kaya janjian mau makan bareng gini? Satu meja lagi, kalau Keysha tahu bisa ngamuk,’ batin El sambil menyantap makanan di depannya.
Diam-diam Jovan memperhatikan, “Kenapa El? Keberatan gue duduk disini?”
“Oooh gak, gak papa. Ini kan tempat umum, bebas, asal jangan di tempat parkir aja makannya.” Jovan tertawa. Begitulah trik El untuk menyembunyikan kegugupannya.
Beberapa menit kemudian Jovan beranjak mengajak El gabung sama temen-temen band nya yang sudah menunggu di studio. Berhubung makan dan minum El Jovan yang bayar, El pun tak sampai hati menolak ajakan Jovan. Kalau boleh jujur sih El lebih memilih tidur di kost daripada duduk manis dengerin musik yang super berisik itu, menurut El siiih.
Dan entah kenapa semenjak pertemuan itu didukung dengan intensitas latihan band nya, El dan Jovan sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di tempat gaul itu. Sekedar ngobrol saja sih, sharing soal hobby masing-masing, dll.
Menjelang hari H -ulang tahun sekolah- El dan anak-anak OSIS benar-benar sibuk dibuatnya. Keysha yang terbiasa menghabiskan hampir setengah hari bersama El merasa sepi. Waktu El yang biasanya hanya untuk mendengar ceritanya harus terbagi.
“El, hari ini gue nginep kost lo ya. Motor Mas Indra masih di bengkel, gue juga gak bisa lagi bonceng Kak Jovan soalnya Mas Indra udah booking duluan,” Keysha sedikit memohon. El hanya mengangguk sambil memberikan kunci kost nya.
“Lo pulang duluan aja, gue masih banyak urusan. Acaranya kan besok, banyak yang belum beres.”
Keysha mengangguk dan meninggalkan gadis berpenampilan ala kadarnya itu. El memang cuek tapi tidak ketika ia diberi kepercayaan atau tugas, sampai hal terkecil pun ia lakukan dengan sangat teliti dengan tangannya sendiri.
Sekitar jam 16.30 WIB El sudah tiba di kostnya. Di dapatinya sahabatnya yang mungil itu sedang duduk membaca buku.
“Key… Baca apaan lo?”
“Eh El. Baca buku Raditya Dika nih, penulis favorit lo. Tadinya mau baca diary lo tapi gak ketemu gue cari,” jawab Keysha tersenyum.
El tertawa, “Gue mana punya diary. Kalaupun punya, bingung apaan yang mau gue tulis.” El melempar tasnya dan merebahkan badannya di atas pembaringan.
“Emang lo gak pernah kagum sama cowok?” tanya Keysha. “Minimal lo suka gitu, atau deket barangkali sama cowok?” Kali ini Keysha sedikit mengintrogasi.
El diam, matanya menerawang seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. “Kan dulu gue pernah cerita, gue udah lupain. Eh, lo gimana sama Kak Jovan?” Keysha balik tanya.
Kali ini Keysha yang diam, padahal biasanya tanpa ditanya dia nya udah nyerocos cerita. Di tatapnya mata Keysha dalam-dalam.
“Gue harus puas dengan menjadi pengagumnya.”
El tidak mengerti, “Kenapa?”
“Bertepuk sebelah tangan. Kayaknya dia suka sama orang lain.”
“Lo tau darimana?”
“Belum pasti sih, cuma gue gak mau terlalu berharap.” Raut wajah Keysha berubah, “Lagian selama gue deket, dia gak pernah nunjukin kalau dia tertarik sama gue dan bodohnya gue baru sadar.”
El tidak menyahut, dipeluknya sahabat yang sedang berduka itu. Sampai malam tiba, Keysha lebih banyak diam dan terus membaca novel Manusia Setengah Salmon yang filmnya beberapa hari lalu dia tonton bersama Jovan dan Mas Indra.
Sekitar jam 06.00 Keysha dan El sudah siap berangkat ke sekolah. Biasanya jam segini El masih tidur dan baru bangun 30 menit kemudian. Sementara Keysha biasanya sedang di pinggir jalan menunggu sang arjuna lewat dan menawari tumpangan. Tidak hanya Keysha dan El, siswa-siswi yang lain pun menyambut acara HUT sekolah ini dengan semangat.
Apalagi begitu acara formal selesai, semua menjadi satu di depan sebuah panggung yang sengaja disediakan oleh OSIS. Ada beberapa pentas seni dari siswa-siswi dan yang paling ditunggu adalah penampilan Friday, band kenamaan sekolah. Jovan adalah salah satu personilnya.
“Key… El…” seseorang memanggil dua sahabat yang sedang duduk menikmati lantunan lagu dari band kelasnya.
“Kak Jovan? Bukannya sebentar lagi tampil?” Keysha salah tingkah.
Cowok bernama lengkap Andromeda Jovanka itu tersenyum.
“Oh ya El, gimana suka gak bukunya?” tanya Jovan pada El yang sedari tadi pura-pura gak ngeh sama kedatangan Jovan.
“Apa?!” Suara musik di aula membuat El tidak begitu jelas mendengar pertanyaan Jovan.
“Suka gak bukunya?” Jovan mengulang. Raut wajah Keysha yang gelisah tidak bisa lagi disembunyikan.
“Mmmm… El udah baca kok Kak kemarin, malah langsung habis semalem,” buru-buru Keysha menjawab. El hanya bengong.
“Bagus deh. Kalau gitu gue duluan ya, mau siap-siap,” pamit Jovan.
Begitu Jovan berlalu El langsung menatap Keysha penuh tanya. Aneh, El merasa ada yang disembunyikan Keysha.
Keysha menarik lengan El, mengajaknya keluar dari aula yang bising itu. “Sorry El.”
“Gue gak ngerti.” El bingung.
“Buku yang gue baca kemarin punya lo… Dari Kak Jovan. Dia datang ke kost lo beberapa menit setelah gue sampai.”
“Becanda lo…” El tidak percaya.
“Sebenarnya minggu lalu juga dia ajak lo nonton bareng gue sama Mas Indra, cuma gue gak suka gue bilang lo gak bisa. Lo sibuk. Makanya dia beliin buku itu buat lo.” Keysha sama sekali tak berani menatap El. “Maafin gue El…” akhirnya sambil berlalu.
El bingung, cerita cintanya dengan 2 cowok sebelumnya begitu dramatis dan berakhir dengan sakit hati karena dikhianati. Dan kini, dia merasa sedang memainkan peran dalam sebuah sinetron remaja. Haduuuh kenapa jadi sinetron banget ceritanya.
Badan El serentak bergetar ketika musik di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk rapat wali murid itu berhenti dan seseorang melalui pengeras suara memanggil namanya.
“Aeldra Dwi Alana… El… Gue mohon naik ke atas stage.”
Suara itu, ada apalagi ini?! Perasaan El berkecamuk, dia masih diam di tempat hingga seseorang datang menghampirinya.
“Keysha?!”
“Lo gak denger nama lo dipanggil naik ke stage?!” Keysha kali ini tersenyum dan menggandeng karibnya yang sedang galau itu. “Seseorang menunggumu di atas sana.”
Tepuk tangan riuh seluruh siswa pecah melihat gadis bernama Aeldra Dwi Alana itu naik ke atas panggung. Jovan menyambutnya.
“Gue mau bawain lagu seorang penyanyi Australia yang sosoknya begitu dikenal di era 1990-an. Dan gue denger cewek di sebelah gue ini suka banget dengan lagu-lagunya. Rick Price – If You are My Baby,” Jovan mulai memetik senar gitar disambut tepuk tangan anak-anak.
Dulu Keysha pernah cerita, pengen banget ada cowok nyanyiin lagu untuknya dan menyatakan cinta di depan orang banyak, sebagai bukti cintanya. Keysha banget ini, bukan El. Bahkan ia tak pernah sekalipun bermimpi begini.
“El… Lama gue nunggu saat ini tiba, dan gue rasa ini adalah waktu yang tepat. Will you be my baby?” tanya Jovan usai menyanyikan lagu. Tatapannya begitu dalam.
Anak-anak kembali bersorak menyoraki El agar menerima Jovan sebagai kekasihnya.
Dari atas stage El melihat senyum Keysha yang entah pura-pura atau tidak seolah sudah berlapang dada. El merasa aneh, serasa sedang di acara reality show dimana orang akan memberikan kejutan untuk orang yang ia sayangi kemudian menyatakan perasaannya. Ihhh norak, pikir El.
El menghela napas panjang. El kembali menoleh ke arah Keysha, cewek di sebelah stage itu mengangguk.
“Sebelumnya makasih buat Kak Jovan yang rela semua orang tau tentang perasaannya. Mungkin status pelajar bukan alasan yang tepat untuk menolak. Trauma dikhianati juga bukan alasan logis karena gue yakin Kak Jovan bakal jaga gue. Tapi jujur ada hati lain yang harus gue jaga, jadi maaf, El gak bisa,” jelasnya sambil berlalu.
Mereka yang menyaksikan seolah kecewa. Kenapa? Jovan adalah salah satu cowok yang menjadi idola banyak cewek di sekolah. Tampan, pinter, jago basket, jago musik. Kurang apalagi? Bodohnya El… Banyak wanita berlomba menarik perhatiannya, sementara El yang tak pernah melakukan apa-apa dengan mudah membuat cowok itu jatuh hati.
“Kenapa El? karena gue?” tanya Keysha. “Gue seneng liat lo bahagia.”
“Lo sahabat gue, gue kenal lo banget, bahkan gue rasain apa yang gak lo katakan. Timbangan gue berat ke lo Key.”
Mata Keysha berkaca, “Tapi El…”
“Ssstt… Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, toh kalau memang jodoh Tuhan pasti menunjukkan jalan lain,” El tersenyum.
Keysha pun memeluk El erat.
Penulis Cerita: S Priani Maftuha
 

Kak Epen

Minggu, 26 Januari 2014 | komentar

“Minggir pak” ucap kakak sepupu ku
angkot pun berhenti. kaki ku melangkah terasa berat dan mata ku terus mencari dimana sesosok laki-laki yang akan ku temui..
Aku gadis remaja yang duduk di bangku SMP kelas 3 di Kota Bekasi, dan aku anak perempuan satu-satunnya.
saat itu kakak sepupu ku memperkenalkan aku dengan temanya walaupun baru melalui Handphone.
Kring… kring.. handphone ku berbunyi
“Hai ade” ucapnya
“ya, hai juga ini siapa?” ujar ku
“ini epen teman kakak sepupu kamu”
Perbincangan kami yang begitu lama melupakan waktu aktivitas
Hari demi hari, bulan demi bulan membuat aku dan kak epen semakin akrab, terkadang aku dimanja, dimarahin, bahkan di ledekin tapi itu semua membuat aku semangat sekolah.
Waktu liburan sekolah tiba aku dan keluarga berlibur ke rumah kakak sepupuku
“HOREE..!!” dalam hatiku bersorak
Esok harinya kakak sepupuku mengajak menemui kak epen, baju warna pink dan celana jeans dengan rambut ku yang dihiasi karet wana-warni membuat wajah ku seperti anak-anak
“Minggir Pak” ucap kakak sepupu ku
jantung ku yang berdebar cepat, kaki ku terasa berat untuk turun mataku mencari dimana sesosok laki-laki yang akan ku temui.
Langkah kami semakin dekat menuju 2 orang laki-laki yang sedang duduk. wajah ku kini merah tersipu malu
“kok kalian berdua lama” ucap epen
“macet di jalan, oh iya tina kenapa diam katanya pengen ketemu kakaknya”
(tertawa kecil)
Kak epen mengulurkan tanganya kepadaku walau aku hanya dapat tersenyum malu-malu. laki-laki yang berbadan tinggi dan atletis itu walau memakai kacamata membuat ku tak ingin kehilangan seorang kakak
“Dek..” sapa epen
“iya kak”
“Rambut kamu lucu ya, sayang belum punya pacar” ledek epen
(dengan tawa kecil)
(menghela nafas panjang) “gak lucu tau”
Tanganya yang kini merangkulku penuh kasih sayang tak ingin ku melepaskanya. waktu yang tidak terasa sudah sore membuat kami untuk bergegas pulang.
“Kak”
“ada apa dek?”
“aku ingin ikut sama kakak”
(Air mata yang tak tertahankan membasahi pipinya)
“lho.. kenapa kamu menangis? kan masih ada waktu untuk ketemu kakak janji kakak akan jemput kamu untuk tinggal bersama kakak jadi.. kamu jangan nangis lagi ya..”
“iya kak, aku tunggu janji kakak”
tersenyum dan memeluknya
Hanya sebuah foto dan selembar surat yang diberikaan untuk kak epen, setelah satu bulan aku hilang komunikasi dengan kak epen walau kini aku telah di sumatera tapi aku masih menunggu janji kak epen padaku.
TAMAT
Penulis Cerita: Hanna Cristina
 

Di Bawah Payung Merah Jingga

| komentar

Di sana di bawah pohon yang rindang aku masih menunggu kedatanganmu di temani bunga-bunga sekitar taman dan kupu kupu yang terbang melengkapi keindahan taman kota ini, namun keindahan ini tak sempurna dulu saat kita berdiri di sini ya… di sini di bawah pohon saling berikrar akan kembali di taman ini di bawah kehangatan sinar matahari bulan mei, masih kah kau ingat dengan janjimu? yang kau ukir di batang pohon ini yang berharap akan ikut tumbuh? dengan lantang kau menyebut janjimu lantang mengeema mengisi seluruh taman kota yang disaksikan bunga lotus, ku harap kau masih ingat semua itu… ah tentu saja kau sudah lupa semua dengan janjimu…
Tak tau kah kau Dion sudah lama aku menunggu mu di sini, ini adalah bulam mei ketiga aku menunggu kehadiranmu berharap kau hadir seperti janjimu walau sedetik tak apa bagiku bisa mengobati rasa rindu yang menyiksa batinku tak tau kah kau rasa hatiku saat ini rasanya perih, gersang bebabnku atas janjimu ketakutanku akan kehilangannmu yang dulu tak ku harapkan, namun perlahan kian nyata bayanganmu kian memudar dari pandanganku…
Setelah pagi tadi kutemukan undangan bersampul biru berhias pita merah di depan pintu rumahku tertulis dengan jelas simbol huruf namamu di ujung undangan ku buka ku berharap itu bukan undangan pernikhan dari mu, namun kenyataan tak berpihak denganku, rasanya runtuh semua duniaku semua yang ku harapkan telah pupus, penantianku selama tiga tahun tak berarti, lidahku kelu mataku berkunang air mataku mengalir dengan deras… hatiku mencoba menolaknya namun semua itu tak kan merubah namamu di undangan itu, badanku bergetar serasa tubuh ini tak bertulang tak ada penyangga yang mampu menopang beban tubuhku aku tersimpuh di depan pintu rumaku dengan derai air mataku, ku coba mengulang membaca undangan itu berharap ada yang berubah namun yang ku temukan masih tetap sama, huruf yang sama, nama yang sama. Dion wirataka pujanku yang telah lama ku tunggu.
Harusakan akau menyalahkanmu atau aku kah yang terlalu lugu?aku tak tau yang ku tau saat ini aku telah hancur dengan cintaku mahligai yang ku bayangkan bersanding denganmu kini telah sirna.. Tuhan inikah jawaban atas doa doa yang ku panjatkan di setiap sujudku atas penantian ini harusakah ku menyalahka-MU yang tak memberikan dia untuk ku inikah takdirku haruskah aku menyalahkan semua ini? tidak tidak tidak aku tak boleh menyalahkan-Mu ini adalah kehendak-Mu Kau pasti punya pengganti Dionku dengan Dion yang lain untuk diriku yang jauh lebih baik untuku yang pantas dan cocok untukku… namun hati ini masih terasa sakit, remuk, hancur menerima semua ini, aku tak tau haruskah akau merelakan atau aku memperjuangkan cintaku masa masa indah yang dulu kita lalaui bersama hanya tinggal kenangan, potret potret photo yang penuh dengan canda tawa kini meninggalakan luka lara yang begitu dalam dan membekas…
Rasanya ingin selaki menghilang sejenak dari dunia ini mencari kedamaian dan ketenagngan jiwa namun yang ku cari tak ku dapatkan hampir semua tempat yang ku lalui penuh dengan kenangan manis yang terjalin dengan ikatan cinta kita yang indah dulu,semua menari nari di depan mataku mengingatkan memori masa silam seakan muncul kembali, hanya derai air mata yang dapat mewakili perasaanku saat ini, dan di taman kota ini ku harap kau datang untuk menemuiku dan mengahpus semua janjimu untuk terakhir kali agar tak menjadi beban bagiku namun kau tak kunjung datang hingga hujan yang menghapus air mataku dan semua kenangan serta janjimu…
Sampai tak kusadari seseorang di sampingku melindungi tubuhku dari hujan dengan payung merah jingga ku palangkan wajahku yang pucat pasi karena menahan dinginya air hujan yang membasahi tubuhku,seorang laki laki seumuran denganmu dion duduk di sampingku dengan setia menantiku di bawah rintik hujan aku tak tau sejak kapan dia di sisiku hingga suaranya memecah keheningan “sedang apa kau disini? ini hujan…” sapanya suaranya begitu lembut berkarisma sorot matanya bening meneduhkan wajahnya rupawan berhidung mancung sepasang lesung pipit tersunging di pipinya senyumnya menawan bibirnya yang tipis merah alami melihatkan giginya yang putih tersusun rapih kulitnya putih rambutnya yang hitam lurus sungguh lelaki yang sempurna berpadukan sepasang alis yang hitam lebat bagai pualam yang mahal harganya aku masih terdiam melihat pemuda itu “hai kenapa diam mari pergi dari sini hujan makin deras!” serunya membuyarkan lamunanku “ya..” jawabku lirih yang tebawa hembusan angin dan hujan.
Tuhan inikah jawaban doaku seseorang yang akan mengobatai luka batinku dan menemani diriku sebagai imam dalam rumah tanggaku jika ia orangnya ikhlaskanlah hatiku menerimanya mudahkanlah jalannya eratkanlah simput cintanya agar aku turut merasa bahagia bersamanya ku serahkan semua pada-Mu semoga Kau memberi warna keindahan dalam hidupku entah ini penganti dirimu yang dikirim Tuhan untuk menjagaku atau bukan karena saat ini dia lah yang ada di sisiku berjalan bersama di bawah rintik hujan dengan payung merah jingga menyusuri jalan kenangan.
Penulis Cerita: Rozyikin
 

Kiss Rain

Jumat, 24 Januari 2014 | komentar

Pandanganku menembus jendela. sesosok wajah yang semalam ada dalam mimpiku tiba-tiba muncul. Bayangannya tampak buram. Uap embun semakin menyamarkannya. Aku melongo. sesekali menguap diikuti pertanyaan yang mulai menggelitik di benakku. Cintakah yang membawa wajahnya hadir di balik sana…?. aneh. Tapi, jika ini bukan cinta, kenapa mendadak detak jantungku berpacu di atas normal. Entah angin apa yang membawa perasaan asing ini. Aku kembali memejamkan mataku. Sekilas aku mengingat wajahnya. kecantikannya relatif. Tubuhnya juga tidak terlalu proporsional. Namun, aku tidak menemukan satupun alasan agar aku bisa menunda perasaan ini.
Aku harap para ilmuwan mulai meneliti jenis perasaan apa yang telah membuatku jadi tak karuan seperti ini. Perasaan yang membawa tanya baru setelah banyak masalah yang menerpa hidupku. Semoga dengan sesachet sampo aku dapat menghanyutkan perasaan ini. Iya, setidaknya agar aku dapat menunjukkan wajah sumringah di depan para pelanggan toko.
Pagi ini aku beruntung. daya datang lebih awal dari hari biasanya. Aku jadi tak perlu repot-repot membereskan toko seperti biasa. Tapi, ada yang aneh pada anak itu. Sikapnya hari ini patut untuk dicurigai. Aku terus mengawasinya. Mungkin sebentar lagi aku akan segera mengetahui modus di balik sikap manisnya pagi itu. Daya cengengesan. Aku jadi ngeri melihatnya.
“woii….” teriaknya menyadarkanku “hayo, jangan-jangan loe lagi ngelamunin Vila gue ya” tebaknya sok tau.
“Aisshh…” timpalku dengan desahan menyangkal.
“by the way, gue ijin jemput Vila di kampus ya sob” Pinta Daya sobat sekaligus partner kerjaku. Tebakanku tidak meleset, ada saja cara anak itu untuk meluluhkan hatiku
“cabut deh..!!, sebelum Vila dibawa cowok lain” kataku menyarankan. Daya melotot tak terima dengan ucapanku
“hehh. satu-satunya cowok yang bisa buat vila kecentilan, ya loe. Bayangin aja, di depan gue dia histeris gitu kalo liat loe, hizzt. gue cium juga tuh cewek” Paparnya panjang lebar.
“jiahh.. itu si mau loe,” tukasku dengan nada mengejek.
“Dihh. gue pecat juga loe jadi boss” Saut Daya sambil melenggang keluar sebelum aku sempat memprotesnya. Aku rasa, jadi diri sendiri memang lebih menyenangkan, dibandingkan harus berpura-pura jadi orang lain. Meskipun terkadang anak itu menyebalkan, tapi aku suka dengan loyalitasnya terhadap pekerjaan sekaligus persahabatan kami.
Oya, selain tercatat sebagai salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Aku juga tercatat sebagai wirausaha yang masih mencoba peruntungannya. Raskavara’s Bookstore, sebuah toko buku sederhana yang berdiri di persimpangan padat menuju pusat kota Makassar.
Setiap hari pengunjungnya cukup beraneka ragam. Ada ibu rumah tangga yang mencari buku resep makanan, ada para pelajar yang sekedar mampir untuk membaca novel-novel cinta, ada juga yang datang hanya sekedar kongkow-kongkow saja, bahkan tak sedikit ada yang hanya numpang ke toilet. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda. Tapi, menyenangkan sekali dapat bertegur sapa dengan orang-orang yang baru. Bahkan tak jarang ada yang bisa dijadikan teman.
Siang itu aku sibuk mencari kunci motor yang tak sengaja terjatuh di bawah kolong meja kasir ketika seorang pelanggan membuatku tersungkur sampai meninggalkan bekas merah di sekitar keningku.
“Opps. maaf” katanya merasa bersalah.
“it’s ok. Ada yang bisa…” kataku terputus setelah melihat wajah si pemilik suara itu. Seorang gadis bertubuh tambun tampak manis membuatku mematung.
“heii.. gue mau beli buku, bukannya mau liatin loe bengong di situ” katanya ketus.
“Hemt. I-iya maaf.” jawabku menyesal.
Sebelum meneruskan kalimatnya gadis itu menengok ke kanan lalu ke kiri. Setelah merasa tak ada yang mengawasinya ia baru berkata.
“by the way, ada buku tentang diet yang jitu nggak?” tanyanya setengah berbisik.
“Nggak ada…” Lontarku spontan. Aku menggigit bibir bawah gugup karena tak terbiasa berbohong.
“Hempp.. oke deh. makasih” katanya dengan nada melemah.
“Heii…” panggilku sambil meraih lengannya. “cantik itu nggak harus kurus, dan menurut gue… loe lebih dari cantik” kalimatku berhenti disitu. aku terdiam beberapa saat. wajah itu yang setiap hari berlalu lalang di pikiranku dan saat ini kami begitu dekat. Aku kembali goyah, hatiku kembali diuji. Ouhh. ingin rasanya untuk sementara mengalihkan rasa ini. Rasa yang mulai buta, tak tahu kapan ia harus muncul secara tiba-tiba seperti ini.
“Loe akan ngerti kalau loe jadi gue” katanya singkat saja sembari mengibaskan lengannya. akhir yang tidak kuinginkan. Gadis itu semakin membuatku penasaran dengan sikap yang tidak terlalu manis itu. Hari ini aku membiarkannya pergi, setidaknya sampai aku mengetahui jenis perasaan apa yang tengah menyambangiku.
Aku terdiam mengulang kembali kejadian tadi. Mungkin tidak sepatutnya aku bertingkah seperti itu. Apalagi terhadap salah satu pengunjungku. Hufft, rasanya ingin sekali aku mengulang waktu. Aku jadi geli mengulang ucapanku tadi. Seharusnya aku bisa menahan perasaanku, kalau sudah seperti ini cara apalagi yang dapat mempertemukan kami. Baru kali ini aku terlihat seperti orang bodoh, bahkan meskipun aku bodoh, aku tidak akan menunjukkannya pada orang lain. Termasuk sesosok manusia yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.
“Raska…” pekiknya seperti biasa. “aduh… raska makin ganteng aja deh” katanya sambil bersandar ke meja kasir.
Tiba-tiba daya juga muncul beberapa saat ketika vila tiba.
“Vila…” panggil daya mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya itu dariku.
“huhh… kenapa ya vila nggak jatuh cinta sama raska aja” kata Vila terdengar manja. aku tak menjamin kalimat itu tidak menyinggung perasaan Daya yang tampak mulai geram.
“ya udah, mendingan kamu pacaran aja gih sama Raska” Protes Daya sensitif. Langkahnya menjauh lalu diikuti suara ketukan highheels Vila.
Tiba-tiba vila menghentikan aksi kejar-kejarannya dengan daya
“ini apa, ka?” Tanya vila ketika langkahnya menyambar sebuah benda sejenis Id card yang saat ini terselip di antara jari tengah dan telunjuknya, “Wait… ini kan cewek aneh di kelas gue, liat deh, ka!” ujarnya sambil menunjukkannya padaku.
Aku jadi penasaran siapa gadis yang dimaksud vila
“Alera…?” kataku terkejut setelah melihat wajah yang tak asing lagi.
“raska kenal sama cewek itu?”
Aku tak menggubris pertanyaan vila.
“besok loe ada kelas nggak, vil?” sautku.
Vila tampak kebingungan namun tetap meladeniku.
“he-eh, vila ada kelas pagi” jawabnya membuatku bergairah. Barangkali inilah cara Tuhan kembali mempertemukanku dengan gadis itu. Rasanya tak sabar untuk bertemu pagi lagi. Cuaca di luar tampak mendung, waktu jadi terasa singkat. Aku lebih awal menutup toko. Sepulang dari toko aku langsung terlelap agar malam cepat berganti pagi.
Semalam mimpiku agak aneh. Tapi aku cuek aja. Yang terpenting pagi ini aku telah terbangun dengan perasaan yang semakin menggebu-gebu. Langit tampak muram beberapa kali berdehem. Burung-burung mulai membangun kembali sarangnya agar terjaga dari hawa dingin yang mulai berhembus. Saatnya memulai hari yang baru dan meninggalkan masa-masa yang telah berlalu. Sebelum memulai rencanaku pagi ini, aku sengaja mampir ke toko. Kadang-kadang sikap daya tak bisa ditebak, kemarin manis belum tentu hari ini masih sekonsisten kemarin. Ranting-ranting pohon di depan toko masih basah terkena sisa gerimis semalam. Di balik kaca toko aku melihat daya duduk manis di depan mesin kasir. Heran melihat daya yang biasanya slengean tampak murung. Rasanya aku bukan sedang berhadapan dengan daya, dia seperti orang yang baru patah hati. Mungkin.
“waww.. kayaknya jam gue salah deh..” kataku sok-sokan melirik jam tangan kulitku. Daya sama sekali tidak melirik kedatanganku.
“gue lagi bad mood” celetuk daya sekenanya.
Sudah kutebak.
“Oh, baguslah kalau gitu”
Kali ini daya baru mendongakkan wajahnya.
“Aissh. sobat macam apa loe” timpalnya masih sempat memprotes. Aku nyrenges melihat tampang daya. Menyenangkan sekali bisa menggoda anak itu. Tapi, tampangnya membuatku takut pelanggan pada kabur karena saking ngerinya melihat wajah cemberut itu.
Ting! ting!. Lonceng pintu bersua. Keadaan daya tak memungkinkan untuk menyambut pelanggan. Aku mengalah saja. menyambut pelanggan pertama kami hari ini. Aku tersenyum getir. Pelanggan yang aku harapkan malah vila yang tiba-tiba muncul.
“Vila..?, sob bilang gue nggak masuk ya” pinta daya segera menghilang seperti kabut yang tertiup angin.
“pagi, ka.” sapa Vila orang kedua yang tampak lesu hari ini.
“kenapa, vil..?, belum dikasih sarapan ya” tanyaku keheranan tak menemukan vila yang biasanya tampak bersemangat.
“hemmp. daya belum dateng, ka?”
“belum dan kayaknya si nggak akan datang”
Ucapanku cukup menimbulkan reaksi yang berarti pada wajahnya.
“vila salah ya, ka” ujar vila
Aku menyembunyikan keterkejutanku. Gadis manja itu tak biasanya sedewasa ini.
“Cowok itu ngga suka dibanding-bandingin”
Vila mendekatkan wajahnya.
“Jadi loe juga akan marah?”
Aku ikut mendekatkan wajahku padanya.
“Bukan marah lagi, gue langsung putusin tuh cewek, cari deh yang lain, cewek yang menerima gue karena gue Raska, bukan orang lain” kataku dengan nada ketus.
“Separah itu ya?. Apa cara vila salah?, padahal kan vila cuma pengin daya tau, kalau dia beruntung punya vila, karena itu juga yang vila rasain sekarang, vila beruntung banget daya mencintai vila bahkan kekurangan vila sekalipun daya juga mau terima. Aduhhhh… sumpah ya vila bodoh banget” papar vila. Aku hanya manggut-manggut aja mendengar keluh kesah gadis manja itu.
Dari balik salah satu rak buku aku yakin daya lagi nangis bombay mendengar ungkapan lugu dari mulut kekasihnya itu. Benar kan tebakanku. Daya tiba-tiba muncul seperti tokoh pria dalam film-film romantis.
“Dasar bodoh…” tukas daya sok keren.
Vila terkejut tapi tak bisa menutupi kebahagiannya.
“Daya.. hemmt, maafin vila ya..!” tutur vila sedikit malu-malu.
Daya melengos. Vila tampak kecewa.
“maafnya aku terima..” kata daya tiba-tiba. aku seperti tengah menyaksikan drama era 80-an. Setelah saling memaafkan, tubuh mereka bersatu dalam sebuah pelukan sementara aku gelisah mengikuti lajunya jarum jam yang melingkar di pergelangan tanganku.
“sob, gue titip toko ya,.!!” kataku tergesa-gesa.
Daya tersenyum, tapi tak mau melepas pelukannya. Huhh, aku jadi iri melihatnya.
“Ok. goodluck sob..” kata daya menyemangati.
On the way ke Fakultas Psikologi. Aku belum sempat memikirkan langkah kedua yang akan kulakukan ketika cinta membuatku berpikir tanpa logika. Ok, take it easy. pikirku menghibur diri. Hufft. entahlah apa yang kulakukan ini masih diambang wajar…?. yang aku tahu aku datang atas nama cinta. Sebuah panggilan hati bukan obsesi yang sebentar akan pergi, bukan pula emosi yang sesaat akan mereda. Cinta adalah seni rasa yang indah. Bukan cuaca yang dapat diprediksi, karena cinta datang ketika kita tak mengharapkan kehadirannya lalu pergi ketika rasa itu mulai kehilangan maknanya.
Tak ada istilah habis manis sepah dibuang dalam cinta, tetapi habis manis sepah dikenang. Dari jarak beberapa meter aku telah mengenali caranya berdiri. Wanita yang sedikit bermasalah dengan rasa percaya dirinya. Wanita yang tak cukup pandai memilih gaya rambut untuk wajah bulatnya. Wanita yang lebih memilih duduk sendiri di koridor dibandingkan untuk sekedar memusingkan trend hallyu wave yang sedang populer di kalangan anak muda saat ini. Hemt. aku rasa tak ada alasan yang cukup sehingga cintaku harus memilih dia. Rasa ini benar-benar merepotkanku. Tapi di sisi lain juga membuat hidupku semakin bergairah. Aku menghela nafas beberapa kali. Tanganku mengepal ke atas. Fighting…!!, batinku ala drama korea.
“Hei…”
Gadis itu tampak terkejut.
“Loe…?, Raskavara’s bookstore itu kan?” katanya asal menebak namun tepat.
Aku senang ia masih mengenaliku.
“wah… loe masih inget, gue raska, loe Alera kan..?” ujarku sok kenal.
Gadis itu tampak semakin kebingungan. aku berharap penampilanku tak membuatnya ilfeel. Aku hanya berusaha untuk sedikit tampil beda. Tapi, tetap menonjolkan sisi raska yang biasanya.
“dari mana loe tahu…” katanya tak sempat meneruskan kalimatnya.
“gue rasa ini punya loe deh..” kataku sembari menunjukan kertas berbentuk segi empat itu.
“KTM gue…?” Pekik gadis itu berusaha mengambilnya dari tanganku.
“Eittzz.. ada syaratnya…”
“syarat apa…?”
Kali ini aku cukup gugup. Kesempatan nggak akan datang dengan kebetulan, jadi, aku rasa cukup pantas sebagai lelaki gentle aku bicara sesuai dengan apa yang aku rasakan.
“jadi cewek gue…!” pintaku secara langsung padanya.
“Hehh. Emangnya di jidat gue ada tulisan ‘buka lowongan pacar’. Nothing..!” tukasnya mulai senewen, tapi malah tampak menggemaskan.
Aku masih tak kehilangan akal
“loe harus tanggung jawab, karena loe gue hampir gila” tuturku mendramatisir.
“freak…!, ehh, permintaan loe itu nggak beralasan” kata gadis itu lalu berusaha melangkah seperti ingin menjaga jarak denganku.
Aku berpikir lebih keras lagi
“gue suka sama cara loe berdiri, gue suka sama cara loe tersenyum, gue suka sama cara loe bentak gue, gue suka semua yang ada di dalam diri loe. Itu cukup kan..?” paparku sambil bergeser agar sejajar dengan tubuhnya.
“tapi…” desahnya
“bahkan gue suka sama sesuatu yang nggak loe sukai dari diri loe” timpalku menambahkan.
Aku tak menyangka ucapan terakhirku membuahkan sebuah senyuman dari bibirnya.
“hemm… loe bukan hampir gila, tapi loe memang udah gila” balasnya. “makasih aja cukup kan?” tukasnya sebelum membuatku gigit jari kecewa atas kepergiannya.
Aku melongo. Heran. apa yang kurang dariku…?
“sebenernya gue apa dia si yang gila…” gerutuku tak ingin berlama-lama berdiri di situ. Like an Idiot. Meski hasilnya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun, aku masih berusaha berjalan tegak menyelusuri jalan ke arah toko.
Siang ini aku masih termangu tak peduli dengan pelanggan yang melalang lintang di depanku. Tadi daya ijin keluar dengan vila. Anak itu benar-benar tidak berpripersahabatan. sahabat macam apa yang meninggalkan sahabatnya dalam keadaan batin yang tergoncang seperti saat ini. Hufft. hidupku benar-benar dijungkirbalikkan. cinta yang sebelumnya selalu mengejarku saat ini malah berbalik arah dariku. ketika aku menetapkan pilihan bukannya orang lain yang menetapkan pilihannya padaku cinta seakan mempermainkan. Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh hati pada seorang wanita. Mungkin itu juga yang menyebabkanku sulit untuk melepas orang yang sudah terlanjur aku cintai.
Ting! ting!. lonceng pintu berdenting. Sejenak aku melupakan masalah yang tengah mendera pikiranku. Aku mengalihkan pandanganku ke sana. Seorang gadis berbando coklat muncul dari balik pintu. Rambutnya hampir menutupi seluruh pundak. Ini pertama kalinya aku melihat rambutnya digerai. Sedetik pun aku tak berniat berkedip ketika gadis itu sempat beberapa kali berdehem ingin menyadarkanku,
“hehh. balikin KTM gue..!” sergapnya masih dengan nada ketus sementara aku masih sok cuek tak menghiraukannya. “sumpah ya, loe itu cowok paling nyebelin di antara cowok nyebelin lainnya” tukasnya geram.
Seorang pelangganku mulai bosan menunggu gadis itu bergeser dari meja kasir
“mba gantian dong, saya juga mau bayar nih..” protesnya dari tadi berdiri di belakang Alera
Aku hanya tersenyum melihat reaksi alera.
“tolong ya mba minggir dulu ada yang mau antri” celetukku mencoba menggoda gadis itu.
Wajah alera memerah.
“Ikhh… loee…” gerutunya terlanjur kesal lalu beranjak pergi menabrak lonceng pintu cukup keras. Aku cekikikan saja. Tapi tetap tak mengalihkan pandanganku padanya.
Dewi fortuna masih berpihak padaku. Langit tiba-tiba bergemuruh. awan bersendawa. Bulir-bulir gerimis mulai pecah di atas tanah. Hujan seperti tumpah dari langit. Aku melirik. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi. Aku pikir dia akan nekad menerjang derasnya hujan. Untunglah aku belum terlambat. Tapi, aku masih belum puas memandangi wajahnya dari balik pintu toko yang terbuat dari kaca. Hujan bukannya mereda malah bertambah deras. Sesekali telapak tangannya menengadah secara bergantian merasakan derasnya air yang tak kunjung surut. Beranda toko yang sempit mulai membuatnya basah.
Aku mengambil sebuah payung merah jambu tanpa motif. Baru kali ini aku merasa diuntungkan oleh kebiasaan Vila yang sering meninggalkan barang-barangnya di toko. Gadis itu menoleh ke arahku ketika mendengar lonceng pintu gemericik.
“hujan…” desahku tak ada kelanjutannya. Kami diam, ia hanya diam. Aku tampak bodoh kali ini. Bukankah ini moment yang kuharapkan?, come on Raska, it’s not yourself. kataku dalam hati.
“aku suka suara hujan..” desahnya menoleh padaku.
Aku tak membalas tatapannya, masih terpaku,
“oh ya…” kataku tak menyangka ia memulainya. Oh ya?, aissh, jawaban macam apa itu. tak berkarismatik. ujarku tampak dongkol.
Gadis itu maju selangkah merasakan percikan hujan yang mulai memantul.
“damai…” lanjutnya
Aku ikut menambah langkahku. Sekarang aku yang memandanginya dengan jarak terdekatku. Dari samping dia masih terlihat manis. Alera tak menyadari langkahku. Ia masih menghitung percikan air yang membasahi wajahnya.
Aku melihat beberapa butir hujan yang mulai tergelincir dari dagu hingga ke lehernya. Aku menarik nafas, lalu menghembuskannya lewat kata yang hendak kusampaikan padanya…
“Hujan, sampaikan pada gadis ini bahwa cintaku sebanyak bulir-bulir air yang kau jatuhkan, dan seindah pelangi yang terlukis setelah kau pergi…” kataku tiba-tiba terlontar dengan teratur.
Alera menengok kepadaku. aku tersenyum penuh arti padanya
“Raska…” Desahnya pertama kali mengeja namaku lalu kembali mendongak ke langit seperti sedang berbicara dengan hujan. kilatan tajam membesit ke langit. Tiba-tiba suara menggelegar bak raksasa yang sedang berdehem mengikuti kilatan itu. Duuuaaarrr…!!. Jantungku berhenti berdetak. bukan karena suara petir tadi. Nafas kami saling bertukar. Aku menyukai aroma mint dari bibirnya. Payung di tanganku terlepas begitu saja. Aku belum sadar dengan apa yang sedang terjadi. lantunan hujan mulai mengiringi, suaranya kedengaran seperti nada-nada fur elise. Dada kami semakin gemetar saja. jangan salah paham, ini benar-benar kebetulan atau mungkin keberuntungan. Bibir kami tak sengaja bersentuhan. Mata kami dipadukan. Bibirnya bergetar. Nafasnya semakin tak teratur. Rasanya seperti terkena sengatan mematikan. Dan jauh di dalam matanya ada aku bersama hujan yang membawa butiran cintanya hingga jatuh ke tanah.
Penulis Cerita: Dian Setianingsih
 

Karena Kita

| komentar

Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi.
Setelah menelan sepotong roti isi keju dan secangkir susu hangat, siswi kelas satu SMA Taruna Bangsa, berambut hitam panjang bergelombang itu bergegas untuk menuju ke sekolah.
“Din, kayaknya Mama nggak bisa nganter deh, kamu sama Kakak ya? Mama mau pergi sekarang…” desis perempuan berperawakan tinggi itu setelah meneguk secangkir teh hangat buatan Mbak Minah sembari berjalan cepat menuju mobil.
“Tapi Ma!!!” teriak gadis itu sembari menghentakkan kakinya ke lantai
“Udah deh Din! Kamu itu udah gede, nggak usah manja!” tukas perempuan tadi tegas. Gadis itu cemberut, memandang ke luar, berharap mamanya akan berubah pikiran. Oh, tidak, tapi itu hanya hayalannya saja.
“Mbak Minah… Kak Dika manaaa?” desis gadis cantik itu sembari mencari-cari
“Loh? Non… Mas Dika kan udah berangkat duluan tadi…” tukas Mbak Minah, polos.
“Ha? berangkat duluan? trus aku berangkat sama siapa coba!?” bentak gadis berperawakan kecil itu sambil merengek.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar, gadis itu keluar, raut wajahnya gembira, ia mengira itu mama nya. Ekspresinya berubah ketika seorang laki-laki yang mengenakan celana abu-abu dan baju putih berdasi, dengan logo SMA yang sama di lengan kanannya turun dari mobil sambil tersenyum.
“Eh? Rama? Ngapain?” tukas gadis itu setengah berteriak
“Hai Din.. aku, emm itu, kebetulan tadi lewat sini, sekalian ngajak kamu berangkat bareng, hehehehe” desisnya menyeringai
“Waw, kebetulan banget nih Ram, aku nggak ada yang nganter… hehe” desis gadis itu tersenyum
“Ya udah, masuk…” katanya ramah.
Rama. Ya. Dia menyukai gadis itu, sekitar 10 bulan yang lalu, mungkin gadis itu paham apa yang dirasakan Rama terhadapnya. Tapi, sampai detik ini pun hati gadis itu masih belum goyah. Rama tidak pernah peduli tentang apapun yang gadis itu rasakan, yang ia tau adalah, ia mencintai gadis itu, dan tetap mencintai gadis itu apapun keadaannya.
Dua puluh menit berlalu, mobil Jazz putih itu melesat dari gerbang sekolah menuju tempat parkir di sudut kiri sekolah. Gadis itu perlahan turun, melambaikan tangan, tersenyum dan kemudian berjalan pelan.
“Hai Rif…” desis gadis itu sembari merangkul Arifia – sahabatnya -
“Eh, hai Din! Loh, dianter sama siapa barusan?” kata Arifia sembari menengok ke belakang
“Hm? itu si Rama, ngajak bareng tadi… hehe” desis Dina, gadis itu
“Oh, Rama” desah Arifia singkat
“Iya, Rama.. kenapa Rif?” selidik Dina sembari menatap Arifia
“Haha, nggak papa, tu kan bener, Rama itu ada rasa sama kamu Din…” desis Arifia tersenyum kecil
“Iya, tapi kan, aku, nggak ada rasa sama Rama..” gerutu Dina sembari menunduk
“Iya sih, tapi aku heran deh, kok kamu bisa nggak ada rasa sama orang se baik Rama sih?” desis Arifia melirik Dina. Yang dilirik hanya diam, memandang ke depan dan mengangkat bahu.
Seperti biasa, suasana kantin ramai. Dina, Farel dan Arifia duduk di meja pojok sambil menikmati segelas choco float dan semangkuk waffle karamel.
“Hei… boleh gabung?” desis laki-laki tinggi dan karismatik itu sambil membawa kentang goreng balado sembari tersenyum
“Eh hai Ram! gabung aja… sini…” desis Arifia sembari bergeser tempat duduk
“Thanks. Mau?” tukasnya sambil duduk di samping Dina dan menyodorkan kentang goreng ke arah yang lainnya. Kemudian yang lainnya menggeleng, dan menyeruput minumannya masing-masing.
“Oh iya Din, sorry ya, ntar aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku, maaf ya, ada acara sama Mama aku… maaf ya Din, nggak papa kan? nggak papa yaa..” desah Arifia
“Iya nggak papa kalik Rif, sendirian juga bisa kok…” tukas Dina tersenyum
“Mau ke toko buku ya Din? Nggak ada temennya?” sanggah Rama
“Iya Ram” desis Dina mengangguk
“Wah, kebetulan Din, aku juga mau ke toko buku entar.. sekalian aja sama aku?” desis Rama menatap mata Dina
“Oke deh..” desah Dina sambil menyeruput minumannya
“Ha? Sama Rama? Berdua?” kata Arifia dengan nada tinggi, dan Rama hanya mengangguk.
Bel pulang sekolah berdering kencang, Rama segera bergegas menghampiri Dina. Kemudian, mereka berdua menuju ke toko buku. Satu jam berlalu, mereka menuju CoffeeShop.
“Loh, Ram? Kok kesini, mau ngapain?” sanggah Dina
“Emm.. nggak papa sih, cuman main aja, kamu nggak suka ya? Maaf deh, ya udah aku anter pulang sekarang aja, ayo…” desis Rama menggapai tangan Dina lembut
“Eh, eh nggak Ram, nggak papa kok hehe” kata Dina tersenyum
“Hmm bener nih Din? oh iya, kamu suka cokelat kan? Nih buat kamu…” kata Rama sembari menyodorkan sebatang cokelat Cadburry ke tangan Dina
“Serius buat aku? Makasih Rama.. kamu baik banget sih sama aku…” desis Dina berbinar
“Hm? Iya, kan.. aku…” kata-kata Rama terputus ketika dering handphone Dina berbunyi
“Yah, Mama misscall, eh tadi apa Ram?” desis Dina
“Ah, bukan apa-apa kok Din, lupain aja hehehe” desah Rama menghembuskan napas
Satu bulan berlalu, hati Dina mulai luluh, ia mulai menyadari perasaannya terhadap sosok Rama di dalam hidupnya
Siang ini cuaca cukup redup, matahari tertutup awan, angin liar berhembus ganas di luar kelas. Beberapa detik kemudian bel pulang sekolah berdering kencang, sampai-sampai memekakan telinga. Rama bergegas menghampiri Dina.
“Dina, ikut bentar ya..” desis Rama menarik tangan Dina
“Eh? Mau kemana Ram?” sanggah Dina setengah berteriak. Dua menit kemudian, mereka sampai di taman sekolah.
“Sorry ya Din, ngajak kamu kesini mendadak.. hehehe” kata Rama, masih menggenggam tangan Dina
“Iya deh nggak papa, emang mau ngapain sih Ram?” sanggah Dina sembari memandang sekeliling
“Dina….” desis Rama menatap tajam mata Dina
“Apa?” kata Dina, merasakan debar jantung nya yang tidak karuan
“Aku, aku cuma mau bilang, kalau… aku, sayang, sama kamu… emm, kamu, mau nggak? Jadi, mm jadi, pacar, aku?” setengah nyawa Rama hilang setelah mengatakan itu kepada Dina. Dan Dina diam terpaku, hatinya bergetar seketika. Kemdian Dina mengangguk dan tersenyum
“Serius Din? Makasihh…” kata Rama berteriak
“Sama-sama Rama…” desis Dina merasakan sakit di kepalanya
“Kamu kenapa Din?” tukas Rama heran
“Ha? Nggak apaapa Ram, cuman pusing dikit aja hehehe” kata Dina berbohong
“Dina! kamu mimisan?! kamu kenapa Din?? Ya udah aku anter kamu pulang sekarang!” desis Rama panik
Beberapa minggu berlalu menyenangkan, hubungan Dina dan Rama sangat baik. Siang ini, kantin tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja yang ada disini, termasuk Dina, Arifia, Farel dan Rama.
“Dina, nih aku bawa in makanan, dimakan ya…” desis Rama menyodorkan sekotak tepak warna warni
“Cie!! Rama cie perhatian banget sama Dina.. kayak orang pacaran aja” desis Arifia mengaduk-aduk makanannya.
“Lah… memang kita pacaran Rif…” sanggah Rama
“Pacaran? Kapan jadiannya?” kata Arifia sedikit tersentak
“Udah 3 minggu Rif…. doain langgeng yaa.. hehehe” desis Dina menyendok makanannya
“Oh. Eh iya, aku ke kelas duluan ya…” desis Arifia datar dan langsung beranjak dari kursi nya
“Hmm… pasti Rifia shock tuh, secara Rifia kan suka sama Rama.. hmmm Rifia, Rifia…” desis Farel tanpa sadar
“Apa? Bilang apa tadi kamu Rel?” tukas Dina membulatkan mata
“Ha? Apa? nggak bilang apa-apa Din, lupain lupain, aku ngasal kok!” desah Farel panik
“Nggak, jelas-jelas aku denger Rel, cerita!” paksa Dina
“Iya… Rifia, suka sama Rama.. tapi dia tau kalau Rama cuman suka sama kamu Din… jadi dia diem, tapi sebenernya perasaan Rifia itu hancur banget, dia ingin banget dapetin Rama, tapi dia nggak bisa” tukas Farel
“Ya ampun… pantesan Rifia jarang cerita, kenapa nggak bilang aja sih dari dulu… aku nyakitin dia banget jadinya…” desis Dina menyesal
“Kenapa ngerasa bersalah Din?” desis Rama
“Ram, dia sahabatku aku nggak mungkin nyakitin dia lebih jauh lagi” desis Dina serius
“Jadi?” desah Rama, berharap tidak terjadi apa-apa
“Kita putus” desis Dina singkat, raut wajahnya tidak rela. Rama terdiam. Dina merasakan sakit di kepalanya lagi, kali ini benar-benar sakit
“Astaga Dina! kamu mimisan lagi… Dina kamu pucet banget…” desah Rama memegangi Dina. Darah dari hidung Dina semakin banyak, tubuhnya dingin seketika, dia lemas
“Dina ayo ke rumah sakit sekarang…!” sanggah Rama menuntun Dina.
Dina terbaring di atas ranjang rumah sakit, sangat lemah, tidak biasanya dia serentan itu. Arifia, Rama dan Farel menunggu hasil Lab dari dokter
“Dokter… Gimana keadaan Dina?” desah Arifia panik
“Dimana keluarga Dina?” sanggah dokter Gilang, dokter yang merawat Dina
“Saya dok. Keadaan Dina bagaimana Dokter?” desis Arifia lagi
“Kondisi Dina memburuk, dia kelelahan akhir-akhir ini, dia kurang istirahat. Kondisinya benar-benar drop, dia tidak boleh berfikir yang berat-berat. Tiga bulan lalu saya sudah menyarankan untuk berhenti sekolah dan rutin menjalani terapi, agar sel-sel darah putih di tubuh Dina tidak berlebihan” kata Dokter Gilang tegas
“Ha? Sel darah putih? Maksudnya?” tukas Rama
“Iya.. tentang penyakit yang diderita Dina..” sanggah Dokter Gilang lagi
“Penyakit? Penyakit apa Dok?!” kata Arifia panik
“Leukimia…”
Dua hari berlalu, Dina dinyatakan koma, suhu tubuhnya sangat rendah, bibirnya pucat
“Tante, kenapa Dina nggak pernah cerita soal penyakitnya?” desah Arifia
“Rifia… Dina nggak mau kalian semua tau, Dina nggak mau temen-temennya kasian sama dia, cukup biar dia sendiri aja yang ngerasain…” desis Mama Dina
“Rifia..” desis suara lemah itu, pelan sekali, nyaris tak terdengar
“Dina! Dina udah sadar? Dina kamu kuat… ayo bangun” desis Arifia
“Dina, kamu kuat, kamu bisa Din… bertahan ya…” kata Rama memegang tangan Dina
“Rama… maafin aku ya, kalau aku pergi nanti kamu mau kan, janji sama aku?” desis Dina pelan
“Kenapa ngomong gitu? janji apa Din?” kata Rama masih memegang tangan Dina
“Kalau kamu sayang sama aku, tolong janji sama aku, jagain Rifia buat aku… jadiin Rifia sebagai pengganti ku, dan janji sama aku kamu gak bakal sedih kalau aku udah nggak ada nanti…” desah Dina
“Dina, kamu pasti sembuh!” bentak Rama
“Rama, aku tau kamu sayang sama aku, tolong, kamu janji sama aku!” desis Dina menahan sakit di kepalanya
“Tapi, tapi Din.. nggak gini caranya, aku sayang sama kamu, aku yakin kamu bisa bertahan!” tukas Rama
“Rifia… maaf aku nyakitin kamu… aku nggak bakal nyakitin kamu lagi Rif.. aku janji, maafin aku” desis Dina
“Dina kamu nggak salah, aku yang salah, Dina kamu kuat, kamu bisa kalahin penyakit itu…” sanggah Arifia
“Dina sayang banget sama kalian, jangan pernah ada yang sedih ya setelah Dina pergi… Dina nggak mau lihat kalian sedih, Dina sayang sama kalian…” desis Dina. Sorot matanya letih, kulitnya pucat dan dingin, bibirnya membiru, perlahan… mata Dina terpejam, dan beberapa detik kemudian Dina pergi, Dina benar-benar pergi
“DINA! DINA BANGUN, KALAHIN PENYAKIT ITU, DINA KAMU BISA, DINA JANGAN PERGI, JANGAN PERGI. DINA!!!”
Sepulang dari pemakaman Dina, cuaca cerah dan berawan, namun, rasa gelap dan pekat itu tetap menyelimuti hati Rama dan Arifia. Mereka akan menepati janji Dina agar tidak berlarut dalam kesedihan
Satu bulan berlalu, Rama mulai dekat dengan Arifia, dia mulai merasa tenang di samping Arifia. Namun, seberapa besar cinta Rama kepada Arifia, tetap tidak sebesar cinta nya kepada Dina. Rama tidak akan pernah sekalipun melupakan Dina. Cinta sejatinya.
“Aku tidak akan bisa lagi mencintai seseorang sedalam rasa cintaku terhadap gadis itu, aku sangat mencintai nya, dia selalu disini, selalu mendampingiku untuk melanjutkan hari-hariku yang masih panjang…”
- The End -
Penulis Cerita: Roro N. Tyasworo
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami