Karena Kita

Jumat, 24 Januari 2014 | komentar

Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi.
Setelah menelan sepotong roti isi keju dan secangkir susu hangat, siswi kelas satu SMA Taruna Bangsa, berambut hitam panjang bergelombang itu bergegas untuk menuju ke sekolah.
“Din, kayaknya Mama nggak bisa nganter deh, kamu sama Kakak ya? Mama mau pergi sekarang…” desis perempuan berperawakan tinggi itu setelah meneguk secangkir teh hangat buatan Mbak Minah sembari berjalan cepat menuju mobil.
“Tapi Ma!!!” teriak gadis itu sembari menghentakkan kakinya ke lantai
“Udah deh Din! Kamu itu udah gede, nggak usah manja!” tukas perempuan tadi tegas. Gadis itu cemberut, memandang ke luar, berharap mamanya akan berubah pikiran. Oh, tidak, tapi itu hanya hayalannya saja.
“Mbak Minah… Kak Dika manaaa?” desis gadis cantik itu sembari mencari-cari
“Loh? Non… Mas Dika kan udah berangkat duluan tadi…” tukas Mbak Minah, polos.
“Ha? berangkat duluan? trus aku berangkat sama siapa coba!?” bentak gadis berperawakan kecil itu sambil merengek.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar, gadis itu keluar, raut wajahnya gembira, ia mengira itu mama nya. Ekspresinya berubah ketika seorang laki-laki yang mengenakan celana abu-abu dan baju putih berdasi, dengan logo SMA yang sama di lengan kanannya turun dari mobil sambil tersenyum.
“Eh? Rama? Ngapain?” tukas gadis itu setengah berteriak
“Hai Din.. aku, emm itu, kebetulan tadi lewat sini, sekalian ngajak kamu berangkat bareng, hehehehe” desisnya menyeringai
“Waw, kebetulan banget nih Ram, aku nggak ada yang nganter… hehe” desis gadis itu tersenyum
“Ya udah, masuk…” katanya ramah.
Rama. Ya. Dia menyukai gadis itu, sekitar 10 bulan yang lalu, mungkin gadis itu paham apa yang dirasakan Rama terhadapnya. Tapi, sampai detik ini pun hati gadis itu masih belum goyah. Rama tidak pernah peduli tentang apapun yang gadis itu rasakan, yang ia tau adalah, ia mencintai gadis itu, dan tetap mencintai gadis itu apapun keadaannya.
Dua puluh menit berlalu, mobil Jazz putih itu melesat dari gerbang sekolah menuju tempat parkir di sudut kiri sekolah. Gadis itu perlahan turun, melambaikan tangan, tersenyum dan kemudian berjalan pelan.
“Hai Rif…” desis gadis itu sembari merangkul Arifia – sahabatnya -
“Eh, hai Din! Loh, dianter sama siapa barusan?” kata Arifia sembari menengok ke belakang
“Hm? itu si Rama, ngajak bareng tadi… hehe” desis Dina, gadis itu
“Oh, Rama” desah Arifia singkat
“Iya, Rama.. kenapa Rif?” selidik Dina sembari menatap Arifia
“Haha, nggak papa, tu kan bener, Rama itu ada rasa sama kamu Din…” desis Arifia tersenyum kecil
“Iya, tapi kan, aku, nggak ada rasa sama Rama..” gerutu Dina sembari menunduk
“Iya sih, tapi aku heran deh, kok kamu bisa nggak ada rasa sama orang se baik Rama sih?” desis Arifia melirik Dina. Yang dilirik hanya diam, memandang ke depan dan mengangkat bahu.
Seperti biasa, suasana kantin ramai. Dina, Farel dan Arifia duduk di meja pojok sambil menikmati segelas choco float dan semangkuk waffle karamel.
“Hei… boleh gabung?” desis laki-laki tinggi dan karismatik itu sambil membawa kentang goreng balado sembari tersenyum
“Eh hai Ram! gabung aja… sini…” desis Arifia sembari bergeser tempat duduk
“Thanks. Mau?” tukasnya sambil duduk di samping Dina dan menyodorkan kentang goreng ke arah yang lainnya. Kemudian yang lainnya menggeleng, dan menyeruput minumannya masing-masing.
“Oh iya Din, sorry ya, ntar aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku, maaf ya, ada acara sama Mama aku… maaf ya Din, nggak papa kan? nggak papa yaa..” desah Arifia
“Iya nggak papa kalik Rif, sendirian juga bisa kok…” tukas Dina tersenyum
“Mau ke toko buku ya Din? Nggak ada temennya?” sanggah Rama
“Iya Ram” desis Dina mengangguk
“Wah, kebetulan Din, aku juga mau ke toko buku entar.. sekalian aja sama aku?” desis Rama menatap mata Dina
“Oke deh..” desah Dina sambil menyeruput minumannya
“Ha? Sama Rama? Berdua?” kata Arifia dengan nada tinggi, dan Rama hanya mengangguk.
Bel pulang sekolah berdering kencang, Rama segera bergegas menghampiri Dina. Kemudian, mereka berdua menuju ke toko buku. Satu jam berlalu, mereka menuju CoffeeShop.
“Loh, Ram? Kok kesini, mau ngapain?” sanggah Dina
“Emm.. nggak papa sih, cuman main aja, kamu nggak suka ya? Maaf deh, ya udah aku anter pulang sekarang aja, ayo…” desis Rama menggapai tangan Dina lembut
“Eh, eh nggak Ram, nggak papa kok hehe” kata Dina tersenyum
“Hmm bener nih Din? oh iya, kamu suka cokelat kan? Nih buat kamu…” kata Rama sembari menyodorkan sebatang cokelat Cadburry ke tangan Dina
“Serius buat aku? Makasih Rama.. kamu baik banget sih sama aku…” desis Dina berbinar
“Hm? Iya, kan.. aku…” kata-kata Rama terputus ketika dering handphone Dina berbunyi
“Yah, Mama misscall, eh tadi apa Ram?” desis Dina
“Ah, bukan apa-apa kok Din, lupain aja hehehe” desah Rama menghembuskan napas
Satu bulan berlalu, hati Dina mulai luluh, ia mulai menyadari perasaannya terhadap sosok Rama di dalam hidupnya
Siang ini cuaca cukup redup, matahari tertutup awan, angin liar berhembus ganas di luar kelas. Beberapa detik kemudian bel pulang sekolah berdering kencang, sampai-sampai memekakan telinga. Rama bergegas menghampiri Dina.
“Dina, ikut bentar ya..” desis Rama menarik tangan Dina
“Eh? Mau kemana Ram?” sanggah Dina setengah berteriak. Dua menit kemudian, mereka sampai di taman sekolah.
“Sorry ya Din, ngajak kamu kesini mendadak.. hehehe” kata Rama, masih menggenggam tangan Dina
“Iya deh nggak papa, emang mau ngapain sih Ram?” sanggah Dina sembari memandang sekeliling
“Dina….” desis Rama menatap tajam mata Dina
“Apa?” kata Dina, merasakan debar jantung nya yang tidak karuan
“Aku, aku cuma mau bilang, kalau… aku, sayang, sama kamu… emm, kamu, mau nggak? Jadi, mm jadi, pacar, aku?” setengah nyawa Rama hilang setelah mengatakan itu kepada Dina. Dan Dina diam terpaku, hatinya bergetar seketika. Kemdian Dina mengangguk dan tersenyum
“Serius Din? Makasihh…” kata Rama berteriak
“Sama-sama Rama…” desis Dina merasakan sakit di kepalanya
“Kamu kenapa Din?” tukas Rama heran
“Ha? Nggak apaapa Ram, cuman pusing dikit aja hehehe” kata Dina berbohong
“Dina! kamu mimisan?! kamu kenapa Din?? Ya udah aku anter kamu pulang sekarang!” desis Rama panik
Beberapa minggu berlalu menyenangkan, hubungan Dina dan Rama sangat baik. Siang ini, kantin tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja yang ada disini, termasuk Dina, Arifia, Farel dan Rama.
“Dina, nih aku bawa in makanan, dimakan ya…” desis Rama menyodorkan sekotak tepak warna warni
“Cie!! Rama cie perhatian banget sama Dina.. kayak orang pacaran aja” desis Arifia mengaduk-aduk makanannya.
“Lah… memang kita pacaran Rif…” sanggah Rama
“Pacaran? Kapan jadiannya?” kata Arifia sedikit tersentak
“Udah 3 minggu Rif…. doain langgeng yaa.. hehehe” desis Dina menyendok makanannya
“Oh. Eh iya, aku ke kelas duluan ya…” desis Arifia datar dan langsung beranjak dari kursi nya
“Hmm… pasti Rifia shock tuh, secara Rifia kan suka sama Rama.. hmmm Rifia, Rifia…” desis Farel tanpa sadar
“Apa? Bilang apa tadi kamu Rel?” tukas Dina membulatkan mata
“Ha? Apa? nggak bilang apa-apa Din, lupain lupain, aku ngasal kok!” desah Farel panik
“Nggak, jelas-jelas aku denger Rel, cerita!” paksa Dina
“Iya… Rifia, suka sama Rama.. tapi dia tau kalau Rama cuman suka sama kamu Din… jadi dia diem, tapi sebenernya perasaan Rifia itu hancur banget, dia ingin banget dapetin Rama, tapi dia nggak bisa” tukas Farel
“Ya ampun… pantesan Rifia jarang cerita, kenapa nggak bilang aja sih dari dulu… aku nyakitin dia banget jadinya…” desis Dina menyesal
“Kenapa ngerasa bersalah Din?” desis Rama
“Ram, dia sahabatku aku nggak mungkin nyakitin dia lebih jauh lagi” desis Dina serius
“Jadi?” desah Rama, berharap tidak terjadi apa-apa
“Kita putus” desis Dina singkat, raut wajahnya tidak rela. Rama terdiam. Dina merasakan sakit di kepalanya lagi, kali ini benar-benar sakit
“Astaga Dina! kamu mimisan lagi… Dina kamu pucet banget…” desah Rama memegangi Dina. Darah dari hidung Dina semakin banyak, tubuhnya dingin seketika, dia lemas
“Dina ayo ke rumah sakit sekarang…!” sanggah Rama menuntun Dina.
Dina terbaring di atas ranjang rumah sakit, sangat lemah, tidak biasanya dia serentan itu. Arifia, Rama dan Farel menunggu hasil Lab dari dokter
“Dokter… Gimana keadaan Dina?” desah Arifia panik
“Dimana keluarga Dina?” sanggah dokter Gilang, dokter yang merawat Dina
“Saya dok. Keadaan Dina bagaimana Dokter?” desis Arifia lagi
“Kondisi Dina memburuk, dia kelelahan akhir-akhir ini, dia kurang istirahat. Kondisinya benar-benar drop, dia tidak boleh berfikir yang berat-berat. Tiga bulan lalu saya sudah menyarankan untuk berhenti sekolah dan rutin menjalani terapi, agar sel-sel darah putih di tubuh Dina tidak berlebihan” kata Dokter Gilang tegas
“Ha? Sel darah putih? Maksudnya?” tukas Rama
“Iya.. tentang penyakit yang diderita Dina..” sanggah Dokter Gilang lagi
“Penyakit? Penyakit apa Dok?!” kata Arifia panik
“Leukimia…”
Dua hari berlalu, Dina dinyatakan koma, suhu tubuhnya sangat rendah, bibirnya pucat
“Tante, kenapa Dina nggak pernah cerita soal penyakitnya?” desah Arifia
“Rifia… Dina nggak mau kalian semua tau, Dina nggak mau temen-temennya kasian sama dia, cukup biar dia sendiri aja yang ngerasain…” desis Mama Dina
“Rifia..” desis suara lemah itu, pelan sekali, nyaris tak terdengar
“Dina! Dina udah sadar? Dina kamu kuat… ayo bangun” desis Arifia
“Dina, kamu kuat, kamu bisa Din… bertahan ya…” kata Rama memegang tangan Dina
“Rama… maafin aku ya, kalau aku pergi nanti kamu mau kan, janji sama aku?” desis Dina pelan
“Kenapa ngomong gitu? janji apa Din?” kata Rama masih memegang tangan Dina
“Kalau kamu sayang sama aku, tolong janji sama aku, jagain Rifia buat aku… jadiin Rifia sebagai pengganti ku, dan janji sama aku kamu gak bakal sedih kalau aku udah nggak ada nanti…” desah Dina
“Dina, kamu pasti sembuh!” bentak Rama
“Rama, aku tau kamu sayang sama aku, tolong, kamu janji sama aku!” desis Dina menahan sakit di kepalanya
“Tapi, tapi Din.. nggak gini caranya, aku sayang sama kamu, aku yakin kamu bisa bertahan!” tukas Rama
“Rifia… maaf aku nyakitin kamu… aku nggak bakal nyakitin kamu lagi Rif.. aku janji, maafin aku” desis Dina
“Dina kamu nggak salah, aku yang salah, Dina kamu kuat, kamu bisa kalahin penyakit itu…” sanggah Arifia
“Dina sayang banget sama kalian, jangan pernah ada yang sedih ya setelah Dina pergi… Dina nggak mau lihat kalian sedih, Dina sayang sama kalian…” desis Dina. Sorot matanya letih, kulitnya pucat dan dingin, bibirnya membiru, perlahan… mata Dina terpejam, dan beberapa detik kemudian Dina pergi, Dina benar-benar pergi
“DINA! DINA BANGUN, KALAHIN PENYAKIT ITU, DINA KAMU BISA, DINA JANGAN PERGI, JANGAN PERGI. DINA!!!”
Sepulang dari pemakaman Dina, cuaca cerah dan berawan, namun, rasa gelap dan pekat itu tetap menyelimuti hati Rama dan Arifia. Mereka akan menepati janji Dina agar tidak berlarut dalam kesedihan
Satu bulan berlalu, Rama mulai dekat dengan Arifia, dia mulai merasa tenang di samping Arifia. Namun, seberapa besar cinta Rama kepada Arifia, tetap tidak sebesar cinta nya kepada Dina. Rama tidak akan pernah sekalipun melupakan Dina. Cinta sejatinya.
“Aku tidak akan bisa lagi mencintai seseorang sedalam rasa cintaku terhadap gadis itu, aku sangat mencintai nya, dia selalu disini, selalu mendampingiku untuk melanjutkan hari-hariku yang masih panjang…”
- The End -
Penulis Cerita: Roro N. Tyasworo
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami