Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sedih. Tampilkan semua postingan

Di Bawah Payung Merah Jingga

Minggu, 26 Januari 2014 | komentar

Di sana di bawah pohon yang rindang aku masih menunggu kedatanganmu di temani bunga-bunga sekitar taman dan kupu kupu yang terbang melengkapi keindahan taman kota ini, namun keindahan ini tak sempurna dulu saat kita berdiri di sini ya… di sini di bawah pohon saling berikrar akan kembali di taman ini di bawah kehangatan sinar matahari bulan mei, masih kah kau ingat dengan janjimu? yang kau ukir di batang pohon ini yang berharap akan ikut tumbuh? dengan lantang kau menyebut janjimu lantang mengeema mengisi seluruh taman kota yang disaksikan bunga lotus, ku harap kau masih ingat semua itu… ah tentu saja kau sudah lupa semua dengan janjimu…
Tak tau kah kau Dion sudah lama aku menunggu mu di sini, ini adalah bulam mei ketiga aku menunggu kehadiranmu berharap kau hadir seperti janjimu walau sedetik tak apa bagiku bisa mengobati rasa rindu yang menyiksa batinku tak tau kah kau rasa hatiku saat ini rasanya perih, gersang bebabnku atas janjimu ketakutanku akan kehilangannmu yang dulu tak ku harapkan, namun perlahan kian nyata bayanganmu kian memudar dari pandanganku…
Setelah pagi tadi kutemukan undangan bersampul biru berhias pita merah di depan pintu rumahku tertulis dengan jelas simbol huruf namamu di ujung undangan ku buka ku berharap itu bukan undangan pernikhan dari mu, namun kenyataan tak berpihak denganku, rasanya runtuh semua duniaku semua yang ku harapkan telah pupus, penantianku selama tiga tahun tak berarti, lidahku kelu mataku berkunang air mataku mengalir dengan deras… hatiku mencoba menolaknya namun semua itu tak kan merubah namamu di undangan itu, badanku bergetar serasa tubuh ini tak bertulang tak ada penyangga yang mampu menopang beban tubuhku aku tersimpuh di depan pintu rumaku dengan derai air mataku, ku coba mengulang membaca undangan itu berharap ada yang berubah namun yang ku temukan masih tetap sama, huruf yang sama, nama yang sama. Dion wirataka pujanku yang telah lama ku tunggu.
Harusakan akau menyalahkanmu atau aku kah yang terlalu lugu?aku tak tau yang ku tau saat ini aku telah hancur dengan cintaku mahligai yang ku bayangkan bersanding denganmu kini telah sirna.. Tuhan inikah jawaban atas doa doa yang ku panjatkan di setiap sujudku atas penantian ini harusakah ku menyalahka-MU yang tak memberikan dia untuk ku inikah takdirku haruskah aku menyalahkan semua ini? tidak tidak tidak aku tak boleh menyalahkan-Mu ini adalah kehendak-Mu Kau pasti punya pengganti Dionku dengan Dion yang lain untuk diriku yang jauh lebih baik untuku yang pantas dan cocok untukku… namun hati ini masih terasa sakit, remuk, hancur menerima semua ini, aku tak tau haruskah akau merelakan atau aku memperjuangkan cintaku masa masa indah yang dulu kita lalaui bersama hanya tinggal kenangan, potret potret photo yang penuh dengan canda tawa kini meninggalakan luka lara yang begitu dalam dan membekas…
Rasanya ingin selaki menghilang sejenak dari dunia ini mencari kedamaian dan ketenagngan jiwa namun yang ku cari tak ku dapatkan hampir semua tempat yang ku lalui penuh dengan kenangan manis yang terjalin dengan ikatan cinta kita yang indah dulu,semua menari nari di depan mataku mengingatkan memori masa silam seakan muncul kembali, hanya derai air mata yang dapat mewakili perasaanku saat ini, dan di taman kota ini ku harap kau datang untuk menemuiku dan mengahpus semua janjimu untuk terakhir kali agar tak menjadi beban bagiku namun kau tak kunjung datang hingga hujan yang menghapus air mataku dan semua kenangan serta janjimu…
Sampai tak kusadari seseorang di sampingku melindungi tubuhku dari hujan dengan payung merah jingga ku palangkan wajahku yang pucat pasi karena menahan dinginya air hujan yang membasahi tubuhku,seorang laki laki seumuran denganmu dion duduk di sampingku dengan setia menantiku di bawah rintik hujan aku tak tau sejak kapan dia di sisiku hingga suaranya memecah keheningan “sedang apa kau disini? ini hujan…” sapanya suaranya begitu lembut berkarisma sorot matanya bening meneduhkan wajahnya rupawan berhidung mancung sepasang lesung pipit tersunging di pipinya senyumnya menawan bibirnya yang tipis merah alami melihatkan giginya yang putih tersusun rapih kulitnya putih rambutnya yang hitam lurus sungguh lelaki yang sempurna berpadukan sepasang alis yang hitam lebat bagai pualam yang mahal harganya aku masih terdiam melihat pemuda itu “hai kenapa diam mari pergi dari sini hujan makin deras!” serunya membuyarkan lamunanku “ya..” jawabku lirih yang tebawa hembusan angin dan hujan.
Tuhan inikah jawaban doaku seseorang yang akan mengobatai luka batinku dan menemani diriku sebagai imam dalam rumah tanggaku jika ia orangnya ikhlaskanlah hatiku menerimanya mudahkanlah jalannya eratkanlah simput cintanya agar aku turut merasa bahagia bersamanya ku serahkan semua pada-Mu semoga Kau memberi warna keindahan dalam hidupku entah ini penganti dirimu yang dikirim Tuhan untuk menjagaku atau bukan karena saat ini dia lah yang ada di sisiku berjalan bersama di bawah rintik hujan dengan payung merah jingga menyusuri jalan kenangan.
Penulis Cerita: Rozyikin
 

Beryanyi di Surga

Jumat, 24 Januari 2014 | komentar

Mungkin, aku adalah seorang anak yang kurang beruntug. Sedih! Itulah kata yang pantas buatku hidup dalam larangan. Tidak boleh bernyanyi, berbaur dengan musik, menjadi seorang penyanyi atau pemusik. Ibu hanya ingin aku menjadi seorang petinggi negara bukan seorang artis. Tapi, aku yakin suatu saat nanti impian itu terwujud, aku yakin itu.
Pagi yang cerah untuk bekerja dengan semangat. Tapi tidak untuk hari ini karena semua akan berjalan dengan menyebalkan.
“Lia, kesini sebentar.” panggil Ibu yang sudah duduk rapi di meja makan siap menceramahi.
“Kenapa Bu?” tanyaku pada Ibu.
“Lia, kamu ikut audisi menyanyi bukan?” kata Ibu sambil menatapku tajam.
“Iya Bu” jawabku takut.
“Ibu sudah bilang kamu tidak boleh menjadi seorang penyanyi, Ibu kecewa sama kamu!”
“Kenapa, Ibu gak bolehin Lia menjadi penyanyi? Kenapa Bu?”
“Ibu sudah mengatakannya jadi tidak boleh dilanggar!”
“Lia akan tetap mengikuti audisi itu, titik!” kataku pada Ibu dan langsung melengos pergi.
Hari ini adalah hari audisi menyanyi.
“Brother, antar aku ke studio musik. Aku mau ikutan audisi menyanyi Nih!”
“Oke!”
Kini, aku sudah berada di dalam studio musik.
“Oke, kamu mau menyanyikan lagu apa?” tanya salah seorang juri.
“Andai ku terbang!” jawabku dengan penuh keyakinan.
“Oke, kamu bisa mulai dari sekarang!”
Dan aku pun mulai beryanyi.
Dreng! Musik berhenti dan aku berhenti bernyanyi.
“Suara yang sangat indah…” puji para juri.
Tapi kenapa kepalaku sangat sakit hingga aku pingsan, sakit sekali rasanya.
Bruk! Tubuhku jatuh dan tak sadarkan diri, samar kulihat wajah Ibu. Wajahnya terlihat sedih. Kenapa? Kenapa Sedih?. Ya dan aku pun hanya bisa bilang maaf dan mataku tertutup dan semuanya sudah berkabung.
Baru ku tahu aku baru saja aku menang dan akhirnya aku meninggal dalam kemenangan. Ya anggap saja kayak jagoan mati sukses, tapi hidupku yang sekarang jauh lebih baik karena aku, bisa secara bebas beryanyi di surga.
Penulis Cerita: Devina Putri
 

Karena Kita

| komentar

Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi.
Setelah menelan sepotong roti isi keju dan secangkir susu hangat, siswi kelas satu SMA Taruna Bangsa, berambut hitam panjang bergelombang itu bergegas untuk menuju ke sekolah.
“Din, kayaknya Mama nggak bisa nganter deh, kamu sama Kakak ya? Mama mau pergi sekarang…” desis perempuan berperawakan tinggi itu setelah meneguk secangkir teh hangat buatan Mbak Minah sembari berjalan cepat menuju mobil.
“Tapi Ma!!!” teriak gadis itu sembari menghentakkan kakinya ke lantai
“Udah deh Din! Kamu itu udah gede, nggak usah manja!” tukas perempuan tadi tegas. Gadis itu cemberut, memandang ke luar, berharap mamanya akan berubah pikiran. Oh, tidak, tapi itu hanya hayalannya saja.
“Mbak Minah… Kak Dika manaaa?” desis gadis cantik itu sembari mencari-cari
“Loh? Non… Mas Dika kan udah berangkat duluan tadi…” tukas Mbak Minah, polos.
“Ha? berangkat duluan? trus aku berangkat sama siapa coba!?” bentak gadis berperawakan kecil itu sambil merengek.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar, gadis itu keluar, raut wajahnya gembira, ia mengira itu mama nya. Ekspresinya berubah ketika seorang laki-laki yang mengenakan celana abu-abu dan baju putih berdasi, dengan logo SMA yang sama di lengan kanannya turun dari mobil sambil tersenyum.
“Eh? Rama? Ngapain?” tukas gadis itu setengah berteriak
“Hai Din.. aku, emm itu, kebetulan tadi lewat sini, sekalian ngajak kamu berangkat bareng, hehehehe” desisnya menyeringai
“Waw, kebetulan banget nih Ram, aku nggak ada yang nganter… hehe” desis gadis itu tersenyum
“Ya udah, masuk…” katanya ramah.
Rama. Ya. Dia menyukai gadis itu, sekitar 10 bulan yang lalu, mungkin gadis itu paham apa yang dirasakan Rama terhadapnya. Tapi, sampai detik ini pun hati gadis itu masih belum goyah. Rama tidak pernah peduli tentang apapun yang gadis itu rasakan, yang ia tau adalah, ia mencintai gadis itu, dan tetap mencintai gadis itu apapun keadaannya.
Dua puluh menit berlalu, mobil Jazz putih itu melesat dari gerbang sekolah menuju tempat parkir di sudut kiri sekolah. Gadis itu perlahan turun, melambaikan tangan, tersenyum dan kemudian berjalan pelan.
“Hai Rif…” desis gadis itu sembari merangkul Arifia – sahabatnya -
“Eh, hai Din! Loh, dianter sama siapa barusan?” kata Arifia sembari menengok ke belakang
“Hm? itu si Rama, ngajak bareng tadi… hehe” desis Dina, gadis itu
“Oh, Rama” desah Arifia singkat
“Iya, Rama.. kenapa Rif?” selidik Dina sembari menatap Arifia
“Haha, nggak papa, tu kan bener, Rama itu ada rasa sama kamu Din…” desis Arifia tersenyum kecil
“Iya, tapi kan, aku, nggak ada rasa sama Rama..” gerutu Dina sembari menunduk
“Iya sih, tapi aku heran deh, kok kamu bisa nggak ada rasa sama orang se baik Rama sih?” desis Arifia melirik Dina. Yang dilirik hanya diam, memandang ke depan dan mengangkat bahu.
Seperti biasa, suasana kantin ramai. Dina, Farel dan Arifia duduk di meja pojok sambil menikmati segelas choco float dan semangkuk waffle karamel.
“Hei… boleh gabung?” desis laki-laki tinggi dan karismatik itu sambil membawa kentang goreng balado sembari tersenyum
“Eh hai Ram! gabung aja… sini…” desis Arifia sembari bergeser tempat duduk
“Thanks. Mau?” tukasnya sambil duduk di samping Dina dan menyodorkan kentang goreng ke arah yang lainnya. Kemudian yang lainnya menggeleng, dan menyeruput minumannya masing-masing.
“Oh iya Din, sorry ya, ntar aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku, maaf ya, ada acara sama Mama aku… maaf ya Din, nggak papa kan? nggak papa yaa..” desah Arifia
“Iya nggak papa kalik Rif, sendirian juga bisa kok…” tukas Dina tersenyum
“Mau ke toko buku ya Din? Nggak ada temennya?” sanggah Rama
“Iya Ram” desis Dina mengangguk
“Wah, kebetulan Din, aku juga mau ke toko buku entar.. sekalian aja sama aku?” desis Rama menatap mata Dina
“Oke deh..” desah Dina sambil menyeruput minumannya
“Ha? Sama Rama? Berdua?” kata Arifia dengan nada tinggi, dan Rama hanya mengangguk.
Bel pulang sekolah berdering kencang, Rama segera bergegas menghampiri Dina. Kemudian, mereka berdua menuju ke toko buku. Satu jam berlalu, mereka menuju CoffeeShop.
“Loh, Ram? Kok kesini, mau ngapain?” sanggah Dina
“Emm.. nggak papa sih, cuman main aja, kamu nggak suka ya? Maaf deh, ya udah aku anter pulang sekarang aja, ayo…” desis Rama menggapai tangan Dina lembut
“Eh, eh nggak Ram, nggak papa kok hehe” kata Dina tersenyum
“Hmm bener nih Din? oh iya, kamu suka cokelat kan? Nih buat kamu…” kata Rama sembari menyodorkan sebatang cokelat Cadburry ke tangan Dina
“Serius buat aku? Makasih Rama.. kamu baik banget sih sama aku…” desis Dina berbinar
“Hm? Iya, kan.. aku…” kata-kata Rama terputus ketika dering handphone Dina berbunyi
“Yah, Mama misscall, eh tadi apa Ram?” desis Dina
“Ah, bukan apa-apa kok Din, lupain aja hehehe” desah Rama menghembuskan napas
Satu bulan berlalu, hati Dina mulai luluh, ia mulai menyadari perasaannya terhadap sosok Rama di dalam hidupnya
Siang ini cuaca cukup redup, matahari tertutup awan, angin liar berhembus ganas di luar kelas. Beberapa detik kemudian bel pulang sekolah berdering kencang, sampai-sampai memekakan telinga. Rama bergegas menghampiri Dina.
“Dina, ikut bentar ya..” desis Rama menarik tangan Dina
“Eh? Mau kemana Ram?” sanggah Dina setengah berteriak. Dua menit kemudian, mereka sampai di taman sekolah.
“Sorry ya Din, ngajak kamu kesini mendadak.. hehehe” kata Rama, masih menggenggam tangan Dina
“Iya deh nggak papa, emang mau ngapain sih Ram?” sanggah Dina sembari memandang sekeliling
“Dina….” desis Rama menatap tajam mata Dina
“Apa?” kata Dina, merasakan debar jantung nya yang tidak karuan
“Aku, aku cuma mau bilang, kalau… aku, sayang, sama kamu… emm, kamu, mau nggak? Jadi, mm jadi, pacar, aku?” setengah nyawa Rama hilang setelah mengatakan itu kepada Dina. Dan Dina diam terpaku, hatinya bergetar seketika. Kemdian Dina mengangguk dan tersenyum
“Serius Din? Makasihh…” kata Rama berteriak
“Sama-sama Rama…” desis Dina merasakan sakit di kepalanya
“Kamu kenapa Din?” tukas Rama heran
“Ha? Nggak apaapa Ram, cuman pusing dikit aja hehehe” kata Dina berbohong
“Dina! kamu mimisan?! kamu kenapa Din?? Ya udah aku anter kamu pulang sekarang!” desis Rama panik
Beberapa minggu berlalu menyenangkan, hubungan Dina dan Rama sangat baik. Siang ini, kantin tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja yang ada disini, termasuk Dina, Arifia, Farel dan Rama.
“Dina, nih aku bawa in makanan, dimakan ya…” desis Rama menyodorkan sekotak tepak warna warni
“Cie!! Rama cie perhatian banget sama Dina.. kayak orang pacaran aja” desis Arifia mengaduk-aduk makanannya.
“Lah… memang kita pacaran Rif…” sanggah Rama
“Pacaran? Kapan jadiannya?” kata Arifia sedikit tersentak
“Udah 3 minggu Rif…. doain langgeng yaa.. hehehe” desis Dina menyendok makanannya
“Oh. Eh iya, aku ke kelas duluan ya…” desis Arifia datar dan langsung beranjak dari kursi nya
“Hmm… pasti Rifia shock tuh, secara Rifia kan suka sama Rama.. hmmm Rifia, Rifia…” desis Farel tanpa sadar
“Apa? Bilang apa tadi kamu Rel?” tukas Dina membulatkan mata
“Ha? Apa? nggak bilang apa-apa Din, lupain lupain, aku ngasal kok!” desah Farel panik
“Nggak, jelas-jelas aku denger Rel, cerita!” paksa Dina
“Iya… Rifia, suka sama Rama.. tapi dia tau kalau Rama cuman suka sama kamu Din… jadi dia diem, tapi sebenernya perasaan Rifia itu hancur banget, dia ingin banget dapetin Rama, tapi dia nggak bisa” tukas Farel
“Ya ampun… pantesan Rifia jarang cerita, kenapa nggak bilang aja sih dari dulu… aku nyakitin dia banget jadinya…” desis Dina menyesal
“Kenapa ngerasa bersalah Din?” desis Rama
“Ram, dia sahabatku aku nggak mungkin nyakitin dia lebih jauh lagi” desis Dina serius
“Jadi?” desah Rama, berharap tidak terjadi apa-apa
“Kita putus” desis Dina singkat, raut wajahnya tidak rela. Rama terdiam. Dina merasakan sakit di kepalanya lagi, kali ini benar-benar sakit
“Astaga Dina! kamu mimisan lagi… Dina kamu pucet banget…” desah Rama memegangi Dina. Darah dari hidung Dina semakin banyak, tubuhnya dingin seketika, dia lemas
“Dina ayo ke rumah sakit sekarang…!” sanggah Rama menuntun Dina.
Dina terbaring di atas ranjang rumah sakit, sangat lemah, tidak biasanya dia serentan itu. Arifia, Rama dan Farel menunggu hasil Lab dari dokter
“Dokter… Gimana keadaan Dina?” desah Arifia panik
“Dimana keluarga Dina?” sanggah dokter Gilang, dokter yang merawat Dina
“Saya dok. Keadaan Dina bagaimana Dokter?” desis Arifia lagi
“Kondisi Dina memburuk, dia kelelahan akhir-akhir ini, dia kurang istirahat. Kondisinya benar-benar drop, dia tidak boleh berfikir yang berat-berat. Tiga bulan lalu saya sudah menyarankan untuk berhenti sekolah dan rutin menjalani terapi, agar sel-sel darah putih di tubuh Dina tidak berlebihan” kata Dokter Gilang tegas
“Ha? Sel darah putih? Maksudnya?” tukas Rama
“Iya.. tentang penyakit yang diderita Dina..” sanggah Dokter Gilang lagi
“Penyakit? Penyakit apa Dok?!” kata Arifia panik
“Leukimia…”
Dua hari berlalu, Dina dinyatakan koma, suhu tubuhnya sangat rendah, bibirnya pucat
“Tante, kenapa Dina nggak pernah cerita soal penyakitnya?” desah Arifia
“Rifia… Dina nggak mau kalian semua tau, Dina nggak mau temen-temennya kasian sama dia, cukup biar dia sendiri aja yang ngerasain…” desis Mama Dina
“Rifia..” desis suara lemah itu, pelan sekali, nyaris tak terdengar
“Dina! Dina udah sadar? Dina kamu kuat… ayo bangun” desis Arifia
“Dina, kamu kuat, kamu bisa Din… bertahan ya…” kata Rama memegang tangan Dina
“Rama… maafin aku ya, kalau aku pergi nanti kamu mau kan, janji sama aku?” desis Dina pelan
“Kenapa ngomong gitu? janji apa Din?” kata Rama masih memegang tangan Dina
“Kalau kamu sayang sama aku, tolong janji sama aku, jagain Rifia buat aku… jadiin Rifia sebagai pengganti ku, dan janji sama aku kamu gak bakal sedih kalau aku udah nggak ada nanti…” desah Dina
“Dina, kamu pasti sembuh!” bentak Rama
“Rama, aku tau kamu sayang sama aku, tolong, kamu janji sama aku!” desis Dina menahan sakit di kepalanya
“Tapi, tapi Din.. nggak gini caranya, aku sayang sama kamu, aku yakin kamu bisa bertahan!” tukas Rama
“Rifia… maaf aku nyakitin kamu… aku nggak bakal nyakitin kamu lagi Rif.. aku janji, maafin aku” desis Dina
“Dina kamu nggak salah, aku yang salah, Dina kamu kuat, kamu bisa kalahin penyakit itu…” sanggah Arifia
“Dina sayang banget sama kalian, jangan pernah ada yang sedih ya setelah Dina pergi… Dina nggak mau lihat kalian sedih, Dina sayang sama kalian…” desis Dina. Sorot matanya letih, kulitnya pucat dan dingin, bibirnya membiru, perlahan… mata Dina terpejam, dan beberapa detik kemudian Dina pergi, Dina benar-benar pergi
“DINA! DINA BANGUN, KALAHIN PENYAKIT ITU, DINA KAMU BISA, DINA JANGAN PERGI, JANGAN PERGI. DINA!!!”
Sepulang dari pemakaman Dina, cuaca cerah dan berawan, namun, rasa gelap dan pekat itu tetap menyelimuti hati Rama dan Arifia. Mereka akan menepati janji Dina agar tidak berlarut dalam kesedihan
Satu bulan berlalu, Rama mulai dekat dengan Arifia, dia mulai merasa tenang di samping Arifia. Namun, seberapa besar cinta Rama kepada Arifia, tetap tidak sebesar cinta nya kepada Dina. Rama tidak akan pernah sekalipun melupakan Dina. Cinta sejatinya.
“Aku tidak akan bisa lagi mencintai seseorang sedalam rasa cintaku terhadap gadis itu, aku sangat mencintai nya, dia selalu disini, selalu mendampingiku untuk melanjutkan hari-hariku yang masih panjang…”
- The End -
Penulis Cerita: Roro N. Tyasworo
 

Tolong Sudahi Rasa Sakit Ini

Selasa, 21 Januari 2014 | komentar

Kamu sudah terlalu lama mengendap di sini, di hati ini, dan aku tak tahu berapa lama lagi kamu akan terus mengendap. Bukannya tak mampu tuk mencari penggantimu tetapi saat ini aku belum mampu memberikan hatiku untuk yang lain.
Aku menyingkapkan tirai jendela kamar tidurku, seketika semburat oranye memasuki ruangan. Hening, damai. Namun keadaan masih sama, masih belum ada satu pun orang yang bisa mengisi kekosongan hatiku, padahal sudah lama diriku mengakhiri kisah cinta bersama Tegar, namun sulit sekali rasanya untuk melupakan cinta pertama itu, rasanya sangat mustahil. Ataukah mungkin memang digariskan untuk tidak melupakannya kecuali mengalami amnesia. Diriku telah melakukan apapun untuk melupakan masa laluku tersebut, namun asa ku tak mampu.
“Aku sangat mencintaimu, Tan. Maukah kau menjadi kekasihku? tuk menjalani suka duka bersamaku.” “Maafkan aku Gar, beri aku waktu untuk berpikir kembali.” “Jika itu yang kau mau, aku akan mendukung semua yang kau inginkan.” “Eh, Aku mau kok menjalani hari-hariku bersamamu.” “Benarkah? bisa kau ulang lagi kalimatmu itu?” “Ak..ku mau kok menjalani hari-hariku bersamamu, Tegar!” “Love you Tania, my first love”
Tak bisa ku pungkiri. Aku selalu terbayang peristiwa itu, yang terjadi 11 bulan yang lalu. Entahlah Tegar selalu menyita banyak ruang di otakku, dan aku pun tak tahu harus berapa lama lagi aku merasakan rasa sakit yang terpendam jauh di lubuk hatiku yang terdalam. Dia seperti hantu yang selalu datang di kala mimpiku, dan membuatku terus mengingat wajahnya dalam benakku. Mungkin ini merupakan kisah cinta kami yang layak ku simpan dalam memori otakku.
Aku tak boleh menyalahkan siapapun, bila aku harus menyalahkan seseorang, pasti yang pertama itu adalah Diriku sendiri. Kenapa aku langsung menerima cintanya. Aku tak bisa menyalahkan Tuhan maupun Tegar, aku tahu Tuhan mempertemukan kami itu pasti ada hikmahnya. Mungkin memang bukan dia lah yang terbaik buat kita, Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah mempunyai tujuan agar kita tak mengulang kembali kesalahan di masa lalu.
Mantan itu bukanlah sampah, namun sosok yang pernah menjadi yang paling spesial dalam hidup. Tanpanya mungkin kita tak tau rasanya sakit hati. Walaupun tak meninggalkan bekas luka, namun termasuk ke dalam sakit yang sulit diobati. Tanpa adanya mantan, mungkin tidak bisa menciptakan kenangan-kenangan yang masih dikenang sampai saat ini.
Tiba-tiba telepon rumahku berdering, dengan segera mungkin kuangkat gagangnya. Terdengar seperti suara Angga. “Tania, kamu tau gak kalau sekarang Tegar udah move on dari kamu?” “A..Apa? Aku baru aja denger. seriusan kamu Ngga?” “Masa aku bohong!”
Tanpa ba bi bu lagi, aku pun langsung mengakhiri percakapan itu. Aku merasa sangat terpukul, perlahan diriku menyandarkan tubuhku pasa tembok. Kurasakan betapa sakitnya rasanya jadi diriku yang terpuruk. Aku masih teringat suara Angga ketika melontarkan kalimat itu, terasa jika ia tak lagi bercanda. Entahlah aku terlahir tak mudah mencintai orang, dan sekali mencintai seseorang akan sulit melupakannya. Tolong sudahi rasa sakit ini. I forced to fake a smile, a laugh everyday of my life, Because of you.. Namun ku kan terus mencoba menghapus bayangmu dalam hidupku.
Penulis Cerita: Lena Sutanti
 

Surat Terakhir Untukku

| komentar

Pagi itu. Suasana pagi menyelimuti hatiku, tak terasa saatnya aku kembali ke sekolah ku di sma jaya negara. Aku teringangat masa laluku dimana aku pernah menyukai teman lamaku zali. Ia adalah anak lokal b di sekolah smp ku dulu, gayanya keren dan wajahnya yang tampan membuatku tambah menyukainya. Sebelumnya, namaku lia amelia darfi, panggil aku lia. Aku anak sederhana di sekolahku, aku juga dikenal lumayan cerdas di lokalku.
Di sekolah aku terkenal dengan sebutan miss update, karena aku sangat sering online di bagian aplikasi seperti facebook, twitter, kakao talk, line, wechat dll. Tepat waktunya pulang sekolah aku kembali online untuk menghilangkan kejenuhanku. Dan aku melihat myhel zali online!!! Aku segera meloncat dari tempat tidurku dan segera melihat sebuah status terpampang di kronologinya “selamat tinggal pekanbaru..” dengan senang aku mengomentarinya “zali kemana? Oleh olehnyaa” tanpa menunggu waktu yang lama, zali langsung membalas nya “ke jakarta” waah, tambah senangnya hati aku.
Di sela sela kami saling membalas komentar terselip nama fairan beozer, ia ikut mengomentari status zali, ternyata itu teman nya zali, memang tidak sekeren dan setampan zali, namun fairan ini sedikit manis. Ia langsung menambahkan pertemanannya padaku. Aku pun menerima permintaan pertemanannya, esoknya aku membuka facebook ku lagi dan melihat fairan mengirim pesan padaku, ia mengajakku ketemuan bertiga bersama zali. Sungguh hati aku dag dig dug dan deg deg an. Aku menjawabnya secara singkat “oke” sambil memberikan smile senyuman kepadanya.
Dengan cepat aku berdandan sambil melirik wajahku ke kaca lemari, sambil tersenyum aku berkata “tunggu aku” dan diakhiri dengan tertawa kecil. Sesudahnya, aku telah tiba di tempat yang telah ditujukan oleh fairan yaitu di kursi warna taman rauda. Aku melihat zali dengan baju kemeja hitam dan celana jeans panjang dengan sepatu gayanya yang membuat dia terasa tampil cool di hadapanku. Sedangkan di sebelahnya aku melihat orang berbaju kemeja kotak kotak biru dengan celana jeans panjang dan sepatu sport. Itu fairan!!! Benar benar beda dengan zali, fairan lebih pendek dan tidak begitu keren tetapi wajahnya manis.
Dan setelah mengobrol panjang aku hanya menatap wajah zali sambil tidak percaya bahwa itu dia!! Tapi kenapa zali begitu cuek padaku? Apa dia tidak mencintaiku? Hanya itu yang ada di benakku sekarang. Sedangkan fairan orang yang baru ku kenal begitu asyik dan nyantai berbicara padaku, tidak seperti zali yang begitu cuek padaku. Akhirnya setiap hari kami ketemuan. Kami semakin hari semakin akrab. Sudah 1 tahun aku mengenal fairan, namun hatiku tetap tidak mampu berubah bahwa aku menyukai zali.
Esoknya, fairan menembakku untuk menjadi pacarnya. Dengan gugup aku bingung, sedangkan zali hanya berdiam diri dan cuek sekali padaku, sedangkan fairan yang sepertinya sangat menyayangiku dan tulus padaku, jika aku menyianyiakan dia, belum tentu zali mau denganku. Akhirnya aku menerimanya hingga pada tanggal 16 july 2011 itu adalah tanggal jadian kami. Hubungan kami selalu berjalan baik, namun tampa adanya rasa cintaku pada fairan itu membuatku merasa agak ganjal berpacaran dengan fairan. Namun apa daya? Aku telah menerimanya dan harus menjalaninya. Namun hubungan kontak kontakan ku pada zali tidak terputus. Aku selalu berhubungan melalui media sosial.
Tepat pada tanggal 16 februari 2012, tepat kami annive 7 bulan. Fairan mengajakku ketemuan di taman indah untuk merayakan hari jadi kami. Seperti biasa, aku kembali berdandan di cermin lemariku.
Akhirnya aku sampai di taman indah, aku melihat fairan telah duduk di kursi tepi danau dengan membawa setangkai bunga mawar merah dan kotak kecil seperti kado, aku datang dan duduk menghampirinya. Ia langsung memberiku bunga mawar itu dan kado kecil itu, aku membukannya dan ternyata berisi gelang yang bertanda fl, singkatkatan namaku dan fairan, ia memasangkannya padaku, jujur saja, disaat ia memasangkan gelang itu padaku di hatiku justru merasa bersalah karena sulit bagiku untuk mencintainya. Setelah terpasang, aku melihat sesosok bayangan di belakang pohon tempat duduk kami. Bayangan itu sepertinya mengetahui bahwa aku tahu dia disitu.
Aku mengejarnya hingga fairan melihatku berlari kencang sambil memanggilku “lia”, aku hanya menjawab “tunggu saja aku disitu ran”, fairan hanya duduk di kursi kami tadi. Setelah aku hampir mendekat sesosok bayangan yang kini telah kudapat, “berhentiii!” ucapku pada bayangan itu. Bayangan itupun berhenti, sekilas aku melihat orang tinggi menggunakan jacket hitam dengan celana levis dan sepatu sport ditambah lagi topi hitam. Aku menyuruhnya membalik ke arahku. Orang itu pun menghadap kepadaku. Sekilas aku terkejut dan tak percaya bahwa itu zali! Untuk apa dia mengikuti acara ku dengan fairan?, namun kini yang membuat aku lebih terkejutnya, wajah zali sangat pucat dengan bibirnya yang kering tidak seperti biasanya yang kulihat.
Kuberanikan diri untuk membuka pembicaraan “kenapa zali bisa disini?” zali hanya diam dan menatapku secara dingin. Agak sedikit ngeri aku melihat tatapannya itu. Sedikit demi sedikit dia mendekatkan dirinya padaku. Hatiku kembali berdebar dibuatnya, sekitar jarak 1 jengkal dari wajahku, aku melihat darah titik demi titik keluar dari hidungnya, aku terkejut dan ingin menangis, seketika itu zali terjatuh dan aku segera menangkapnya dan merangkulnya, darah yang keluar dari hidungnya jatuh titik demi titik di baju putihku, aku khawatir dan menangis, aku teriak dan memanggil fairan untuk mengangkat zali ke rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di rumah sakit, aku melihat zali agak baikan, namun wajahnya tetap pucat, aku datang sendirian ke ruang rawat zali, karena hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke ruangan zali. Aku membawa bunga matahari berharap dia bisa kembali tersenyum. Aku membuka pembicaraan ku pada zali “zali, jujur, sebenarnya aku cinta sama kamu, bukan sama fairan, aku suka kamu sedari dulu, aku cinta sama kamu, aku harap kamu jangan pernah tinggalin aku, zali, sakit kali hati aku saat kau bersikap cuek padaku, tetapi aku tidak bisa membencimu karena aku cinta kamu” air mataku kembali menetes deras, “lalu kenapa kamu menerima fairan?” zali menjawabnya. “fairan begitu baik, tulus dan enjoy padaku. Edangkan kamu zali? Cuek dan seperti tidak menyimpan rasa padaku, aku mencoba melupakanmu dengan menggantimu sama fairan, tapi sepertinya aku tidak bisa” kembali tangisku berderai, “lia, maafin aku yang telah membuatmu menangis, jujur aku cinta kamu, jujur aku sayang kamu, jujur aku suka kamu, namun aku tidak bisa mengungkapkannya karena akhirnya kau akan terluka” zali meneteskan air matanya, jujur baru pertama kali aku melihatnya begitu. Namun di sela pembicaraan kami, dokter pun menghampiri zali dan menyuruhku untuk keluar dan pulang.
Aku di antar oleh fairan ke rumahku. Tiba di rumah, aku segera menyatakan isi hatiku pada fairan “ran, jujur, sebenarnya aku tidak mencintai kamu, tidak menyayangi kamu, maaf kan aku. Aku memang tidak pantas untukmu, aku hanya bisa memberi harapan palsu padamu, ku mencintai zali sejak dulu, ini, ambillah gelang yang telah kau beri, kumohon maaf kan aku!” dengan cepat aku berlari dan membanting pintuku dan menguncinya, dari jendela aku melihat fairan sedih dan membuang gelang pemberiannya padaku.
esoknya aku kenbali ke rumah sakit dan menjumpai zali. Namun apa yang kudapat? Berita buruk. Zali telah meninggal tadi malam pukul 10, aku menangis histeris dan teriak teriak dengan menyebut nama zali. Namun dokter hanya menyampaikan surat terakhir dari zali untukku. Yang berisi..
“lia, maafin aku yang udah meninggalkan mu. Ini sebabnya aku tidak menyatakan cintaku padamu, aku terkena penyakit kanker darah. Aku tau umurku tidak akan panjang, aku takut jika aku menyatakan cintaku padamu nanti aku akan menyakitimu dengan cara meninggalkanmu. Aku tiak bisa melupakanmu sehari pun. Aku mencintaimu lia, aku menyukaimu dan menyayangimu. Aku memang akan meninggalkan mu, tapi bukan hatimu. Maaf kan aku yang cuek dan membuat hatimu sakit. Maafkan aku lia..
Dari: zali
Aku menangis dan menangis. Sesampai di kuburan zali aku hanya bisa menatap perkburannya dengan mata sembab ku. Dengan menyesal aku mengatakan ucapan terakhir “i love you zaliku” dan beranjak pergi dari kuburan zali. I love you zali. I don’t forget you my dear. Semoga kau tenang disana…
Penulis Cerita: Amelia Firda Islami
 

Penyesalan Karin

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Mentari bersinar terang saat air mata Karin menetes di atas batu nisan dengan makam yang masih basah. Ia mencurahkan semua isi hatinya.
“Penyesalan tak akan berarti jika, jika dia yang kau ratapi sudah pergi” kata seorang pria yang berdiri di belakang Karin.
“Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, atas apa yang menimpa Geri” kata Karin dengan tersedu-sedu.
“Air mata tak akan menyelesaikan masalah, sekeras apapun kamu menangis Geri tidak akan kembali padamu”
“Lebih baik kamu diam!!!” Kata Karin dengan nada membentak.
Dengan tangis yang makin menjadi jadi, Karin maju duduk selangkah dan duduk di samping batu nisan yang terukirkan nama Geri Ardiansyah. Seperti angin yang berhembus, tiba tiba seluruh kenangan di saat Geri masih hidup, terlintas dalam benaknya.
Setahun yang lalu saat pertama kali kami duduk kelas satu SMA, saat itulah Karin dan Geri berkenalan. Perkenalan yang singkat itu berlanjut dengan persahabatan yang akhirnya berujung pada rasa cinta, tapi sayang benih cinta hanya bertumbuh subur dalam hati Geri, namun Karin hanya menganggapnya sebagai sahabat baik.
Beberapa bulan berlalu rasa cinta di hati Geri makin membesar, walau Karin hanya menganggapnya sahabat.
“Rin, kalau suatu saat ada di antara sahabat sahabat mu yang nyatain cinta ke kamu, kamu mau nerimanya ngak?” tanya Geri penasaran.
“Yah kalau aku sih, asalkan dia cocok sama aku dan memenuhi kriteria untuk jadi pacarku, ya kenapa nggak” jawab Karin.
“Memang kriteria cowok idaman kamu itu seperti apa sih?”
“Kalau cowok idaman ku sih… eh! tunggu dulu!!!, ngapain kamu nanya begitu?, jangan jangan kamu suka sama aku yah?, ayo ngaku!!” Tanya Karin setengah mengejek
“Suka sama kamu? idih, ngak mungkin” jawab Geri
“Lalu ngapain kamu nanya kayak gitu”
“Enggak kok, cuma mau tau aja” jawab Geri dengan wajah merona malu
“Kalau kriteria cowok idaman ku itu, dia harus tampan, tinggi, putih, pintar, terkenal dan ngak malu maluin aku,” jawab Karin dengan bangga.
Semua kriteria itulah yang membuat Geri makin takut untuk menyatakan perasaannya kepada Karin. Geri sadar bahwa dirinya tak memiliki semua kriteria yang diinginkan Karin, dia takut, jika suatu saat nanti mereka pacaran, dia hanya akan membuat Karin malu, karena memiliki pacar seperti dia. Namun cinta tak secepat itu menghilang, malahan semakin lama dia memendam perasaan itu, dia semakin tersiksa atas perasaannya sendiri.
“Tuhan, apakah yang aku lakukan sudah benar?. Apakah yang harus kulakukan?. Hatiku makin tersiksa, haruskah aku mengatakan segalanya?. Berilah jawaban Mu atas doaku Tuhan”
tiba tiba saat Geri sedang berdoa, telefon genggamnya berdering, namun karena Geri sedang serius berdoa, dia tak memperdulikan bunyi telefon genggamnya itu. Betapa terkejutnya Geri saat doanya malam itu diselesaikan, ada nama Karin di layar depan telefon genggamnya dengan tulisan 4 panggilan tak terjawab,
“Oh Tuhan, apakah ini jawaban dari Mu?”
Dengan hati kegirangan Geri langsung menelefon Karin,
“Halo, Karin, sory aku tadi ngak ngangkat telfon dari kamu. Pas banget aku juga lagi mau ngomongin sesuatu sama kamu.” Kata Geri
“Memangnya ada hal penting apa?” jawab Karin dari seberang telefon.
dengan menarik nafas panjang, Geri mulai berbicara,
“Karin, sebenarnya, aku mau ngomongin ini sama kamu, sejak lama, tapi aku masih ragu, kalau sebenarnya aku ini su.. su… su..” dengan terbata bata Geri berbicara
“Susu?, maksudnya apa?” tanya Karin kebingungan
“Aku mau bilang, bahwa, aku itu sa… sa… sa… sayang sama kamu” kata Geri dengan jantung yang berdebar debar.
“Sayang?, aku tau kok kamu sayang sama aku, kamu kan sahabat terbaikku” jawab Karin dengan nada tak mengerti
“Bukan, yang aku maksud bukan sayang sebagai teman, tapi sebagai seorang pacar, Karin aku tuh suka sama kamu, dari awal kita ketemu aku udah jatuh cinta sama kamu, kamu mau ngak jadi pacar aku?” kata Geri dengan nada mantap
“Apa!!!” jawab Karin terkejut, dan langsung menutup telfonnya,
“Halo Karin, Karin, halo!” Geri kebingungan dengan telefon yang terputus mendadak.
Dengan mata terbelalak, Karin tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar
“Asataga, aku pasti mimpi. Tak mungkin Geri suka sama aku,” kata Karin dengan heran sambil memukul mukul pipinya.
Malam itu Karin merasa perasaannya tercampur aduk menjadi satu. Sebagian hatinya tak percaya, tapi sebagian hatinya bersorak sorak kegirangan. Sebenarnya Karin juga merasakan hal yang sama seperti Geri, tapi dia ragu akan perasaannya sendiri.
Malam yang mengejutkan itu berakhir tanpa jawaban dari Karin. Keesokan harinya di sekolah saat bel sekolah dibunyikan Karin mulai hawatir, saat Geri tak kunjung datang, pikirannya melayang layang. Namun kehawatiran Karin hilang sekejap, saat dia melihat Geri masuk ke kelas. Saat istirahat.
Saat bel istirahat dibunyikan, jantung Karin berdebar begitu cepat, menunggu apa yang akan dikatakan sahabat sebangkunya itu,
“Karin, maaf, kalau pernyataanku tadi malam membuat mu terkejut, tapi itu adalah kenyataan yang harus aku katakan, aku tak memaksa kamu untuk berkata ya, tapi aku ingin kamu menjawab sekarang.”
“Geri… sebenarnya aku, aku, belum bisa menjawab pertanyaan mu itu. Aku butuh waktu.” jawab Karin dengan terbata bata
“Tak apa, aku akan menunggu” jawab Geri dengan nada kecewa dan sedih.
Batin Karin berkecamuk, ia ingin berteriak ya, tapi dia ragu akan perasaanya. Karin butuh waktu untuk berpikir.
Malam itu Karin berpikir keras, dan akhirnya sampai pada suatu keputusan. Malam itu juga Karin mengajak Geri bertemu, untuk menjawab pertanyaan Geri.
“Halo Geri, aku sudah punya jawabannya. Aku tunggu kamu di taman dekat rumahku.”
“Baiklah aku akan secepatnya kesana, tak akan ku biarkan kau menunggu lama,” jawab Geri dengan semangat.
“Eh, kamu sudah punya pacar yah” kata adik Geri yang waktu itu duduk di samping Geri
“Belum sih, aku baru akan mendengar jawabanya sekarang, dan kamu harus mendengar apa jawaban nya!” kata Geri
Karin tak menyangka, kalau malam itu, adalah malam terakhir Geri, dia meninggal dalam kecelakaan motor, saat tergesa gesa ingin menemui Karin.

“Semua cinta dan harapan kakak ku telah dititipkannya pada mu, jangan sia-siakan semua itu dengan air mata. Sebelum kakak ku pergi menemui mu, ia ingin aku mendengar jawaban mu atas pertanyaan nya,” kata seorang pria yang berdiri di belakang Karin.
“Ya, aku juga sayang kamu, sejak pertama ketemu aku sudah jatuh cinta padamu, maafkan aku Geri menyianyiakan cintamu selama ini, maafkan aku, walaupun kau telah tiada, tapi kau akan selalu menjadi kekasih di dalam hatiku.” kata sambil mengusap air matanya.

Penulis Cerita: Prince Bryan Christian
 

Pangeran SMA

| komentar

Suatu hari di sebuah sekolah ternama di Jakarta, ada seorang anak yang bernama Nera Aulia. Dia adalah sosok yang lincah, periang, lumayan cantik, namun agak lama lodingnya dalam berfikir atau biasa disebut LoLa, selain itu ia juga lebay. Ia anak dari keluarga yang cukup mampu dari segi ekonomi dan juga pintar.
Pagi itu Nera bangun kesiangan dan akhirnya ia pun terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, ia merasa aneh karena anak-anak memperhatikan dirinya sambil tertawa. Dengan wajah polos dan lugunya Nera pun menutupi mukanya dengan buku sambil berlari ke kelas.
Setelah sampai di kelas, ia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Teman-temannya nampak memperhatikan Nera dengan seksama namun dengan muka yang tersenyum-senyum. Akhirnya salah satu teman Nera mengetakan “Jadi orang tuh jangan ke PDan toh ndok, ndak liat itu kaos kakimu yang kanan sama yang kiri beda-beda.” Itulah perkataan salah satu teman Nera dengan logat Jawanya yang kental. Setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Nera hanya diam dengan wajah memelas.
Bel masuk pun berbunyi, di tengah pelajaran yang sedang berlangsung masuklah seorang cowok yang membuat suasana kelas yang tadinya berisik menjadi tenang. Cowok itu adalah Kak Reyhan, seorang ketua OSIS di sekolah itu. Sosok yang tampan, tinggi, putih, pokoknya idaman semua wanita di sekolah itu. Nera bergegas merapikan dirinya sambil duduk manis memperhatikan Kak Reyhan. Seperti putri kerajaan yang sedang menyambut pangerannya untuk minum teh bersama. Kak Reyhan adalah inceran Nera dari pertama kali daftar di sekolah itu. Menurut Nera senyumnya kak Reyhan itu kayak salju di puncak Gunung Jayawijaya, susah dilihat tapi sekalinya dilihat indah banget. Matanya kak Reyhan itu kayak suasana malam di Menara Eiffel yang romantis dan indah abis. Ya begitulah Nera dikala lebaynya kambuh.
Kak Reyhan pun bicara, ia akan memberikan beberapa pengumuman. Nera pun memperhatikan dengan seksama lebih tepatnya memperhatikan mukanya kak Reyhan. Udah banyak cara yang Nera lakuin biar bisa deket sama kakak kece itu mulai dari nge add FBnya, follow twitternya, add e-mailnya, pokoknya banyak tapi nggak ada satu pun yang dibales. Bahkan Nera sempet pura-pura kehilangan kunci motor dan belaga panik di depan Kak Reyhan biar bisa deket beberapa menit sama kakak itu, saat itu kak Reyhan cuma diam melihat Nera yang panik kayak kebakaran jenggot alias enggak bisa diem. Akibatnya kunci motor yang sebenarnya ada di kantong bajunya pun jatuh. Betapa malunya Nera saat itu. Kak Reyhan hanya menggelengkan kepalanya sambil senyum dan pergi meninggalkan Nera.
Suatu hari Nera sedang mainin twitternya, dengan aktivitas rutinnya yaitu ngeliatin profile kak Reyhan, terus tiba-tiba dia berniat ngechek DM, katanya siapa tau ada DM nyasar gitu, apalagi dari Kak Reyhan. Ternyata harapan DM dari Kak Reyhan yang tadinya cuma mimpi. Tapi mungkin hari itu Nera lagi beruntung, dia difollowback sama kak Reyhan, udah gitu di mention lagi. Pas dia baca tangannya langsung gemeteran, mukanya langsung sumringah dan yang pasti lebaynya kambuh. Nera bilang rasanya dapet followback sama mention dari Kak Reyhan itu kayak rasa seneng bisa mendaki Gunung Mahameru pas tanggal 17 Agustus bareng personil Super Junior.
Seketika Nera tersadar dari khayalannya dan bilang “apaan sih kok kayak gini, gak boleh lebay nanti Kak Reyhan ilfeel…, tapi kan ada gery salut jadinya gak bakal ilfeel lagi. Udah ah jadi ngomong sendiri gue, mending bales mentionnya Kak Reyhan.
Dari mention akhirnya mereka pun semakin dekat dari hari ke hari, mereka pun berlanjut ke DM dan tukeran nomor HP. Karena kekagumannya yang berlebihan Nera pun melupakan tugas utamanya yaitu belajar, nilai-nilainya juga banyak yang menurun, namun ia tidak memikirkannya. Nera merasa kalau Kak Reyhan menyukainya, sampai pada suatu malam ia mendapat sms dari kak Reyhan.
Isi SMS
Kak Reyhan: Nera? Lagi sibuk gak?
Nera: Gak kok kak. Ada apa nich tumben sms?
Kak Reyhan: Iya ada yang mau aku omongin.
Nera: Ngomong aja kak!?
Kak Reyhan: Tapi kamu jangan marah ya? Aku juga malu ngomongnya.
Nera pun membiarkan semua tugasnya dan fokus pada HPnya, ia merasa dag dig dug, bagaikan ada band metal yang ada di hatinya.
Lanjutan sms
Nera: Iya kak, udah ngomong aja!
Kak Reyhan: Kita kan udah lama kenal, semakin hari juga kan semakin deket, Aku udah tau kamu. Aku boleh minta sesuatu gak dari kamu?
Nera: Emang kakak mau minta apa?
Kak Reyhan: Bantuin aku, aku mau nyatain perasaan sama temen kamu yang Namanya Neira Aulia
Saat membaca pesan itu Nera hanya diam, bingung dan seketika konser metal di hatinya berhenti dan berubah jadi konser lagu galau. Kalau lebaynya kambuh pasti dia bakal bilang rasanya itu kayak lagi terbang tinggi-tinggi hampir ke bulan tinggal napakin kaki terus kepeleset dan jatuh di bumi pas di atas batu karang.
Nera tidak membalas sms itu, dan mennonaktifkan HPnya, ia hanya berbaring di atas tempat tidur bertemankan bantal guling dan tumpukkan buku PR yang satu pun belum dikerjakan. Sambil berusaha menghibur diri bahwa Kak Reyhan salah ketik maksudnya itu Nera bukan Neira.
Hari pun berlalu, sudah satu minggu ini Nera tidak melihat Kak Reyhan. Tapi suatu hari saat jam istirahat di kantin sekolah, tanpa sengaja ia melihat Kak Reyhan yang sedang duduk di kantin bersama Neira. Nera hanya diam sambil memperhatikan mereka yang sedang bercengkrama dengan senangnya. Salah seorang teman Nera pun bicara “ternyata bener ya mereka udah pacaran, sumpah serasi banget ya kayak kabayan sama nyi iteng.” Nera pun berfikir demikian, Cuma bukan kayak kabayan sama nyi iteng tapi kayak pangeran William sama Kate Miedleton. Sejak saat itu Nera berfikir bahwa harapannya untuk mendapatkan kak Reyhan benar-benar musnah kayak gelas pecah yang dilindes buldoser yang super berat ditambah beban 100 kg terus jadi bener-bener berkeping-keping dan gak mungkin disatuin lagi.
Tapi Nera berusaha sabar dan positive thinking tapi lebaynya tetep ada “ya semoga aja nanti gue bisa dapetin pangeran yang lain dan yang pasti enggak boleh lepas lagi, kalau perlu semua muka cewek cantik gue tempelin poster muka cowok biar gak ada yang nyaingin gue.”
Sejak kejadian itu Nera pun menjadi lebih fokus pada pelajaran dan cita-citanya, ia berusaha mengejar semua nilainya, ia menjadi super aktif dalam belajar. Ini semua karma ia melihat tayangan televisi yang menayangkan tentang seorang anak yang berjuang unuk sekolah karena orangtuanya tidak mampu. Sejak saat itu ia berfikir betapa bodohnya ia kalau sampai menyia-nyiakan semua fasilitas yang ia punya hanya untuk mencapai cita-citanya hanya karena seorang cowok.
Penulis Cerita: Emy Noviani
 

Bidadari Tanpa Mata

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Dalam malam selalu ada kelam, mungkin itulah setiap malamku selalu penuh ketakutan. Namaku Riri, setiap hariku adalah malam. Ini bukan karena drama, ini nyata. Selama tujuh belas tahun aku hidup dalam kegelapan, Selama itu pun yang aku tahu hanya keramaian dunia bukan keindahan dunia, dunia bagiku hanya ada gelap yang dibumbui gelak tawa, teriakan, tangisan dan suara jangkrik kala senja, bagaimana rupanya jangkrik? Bisakah kalian gambarkan? Ya, aku buta dan aku kesepian.

Aku hidup bersama mereka yang mengaku orangtua, aku menyanyangi mereka meskipun aku belum pernah melihat bagaimana rupa mereka, namun aku selalu mendengar tangisan di rumah ini, Ibuku setiap malam selalu saja menangis, namun aku yakin wanita itu bukan menangisiku, dia menangis bersamaan dengan teriakan Ayah, entah bagaimana kejadiaannya.

Sampai pada suatu hari aku menemui malam, dimana Ibu berteriak keras sekali, aku ambil biolaku dengan langkah sedikit demi sedikit meraba-raba dinding kamar, ku ambil biolaku setelah sedikit kelelahan meraba-raba semua barang di dinding kamar, aku bantingkan biolaku keluar pintu…
*Pranggg
Terdengar bunyi kaca pecah, sepertinya biolaku mengenai kaca lemari. Dengan langkah yang tergopoh-gopoh aku meraba-raba dinding kemudian menutup pintu, kemudian aku berteriak begitu kerasnya, aku mengunci pintu kamar dan mematung di atas ranjang.

“Riri… Riri” terdengar Ayah mengetuk pintuku, dengan nada khawatir.
“Diam!” Jawabku sambil berteriak sekaligus menangis
“Riri, Buka pintunya nak!” Ibupun sama-sama mengetuk pintuku dengan nada khawatir bahkan menangis.

“Ayah, cepatlah bunuh dia Ayah! Aku tak sudi setiap malam mendengar teriak kesakitannya yang selalu membuat aku mimpi buruk! Bunuh saja Ayah, Bunuh!”

Aku tak mendengar kembali mereka mengetuk pintuku, sepertinya langkahnya menjauh dariku, ada rasa bersalah dariku, ada rasa takut dariku. Apakah Ayah benar-benar membunuh Ibu? Aku kesal, kenapa setiap malam Ayah selalu membuat Ibu menjerit kesakitan, kasian Ibu harus mati perlahan. Namun, kekhawatiranku segera terpatahkan, Ibu mengetuk pintuku kembali, Ibu memohon-mohon untuk aku membuka pintu.

Dengan jalan perlahan dan pipi yang basah aku membuka pintu dan kemudian bersimpuh, aku memohon beribu ampun karena sudah menyumpahinya untuk segera mati. Aku sungguh tak bermaksud seperti itu, Ibu sepertinya mengerti, dengan terisak-isak Ibu mengangkatku, dan memelukku.
“Ibu selalu mengerti akan semua bahasamu, Ibu selalu mengerti. Jangan takut berdosa, surgaku sudah kupinta kepada Tuhan untuk kamu tempati, Riri”

Aku hanya terdiam, kemudian kami menangis bersama-sama. Ibu menjelaskan segala tingkah kekasaran ayah kepada Ibu, ayah begini karena akhir-akhir ini ayah sering mabuk, Ayah ternyata punya masalah besar yang selama ini aku tak pernah tahu. Sebenarnya kaki ayahku mengalami cacat karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu, tapi Ayah dan Ibu tak pernah menceritakan semuanya kepadaku, Ayah adalah seorang pekerja kantor asuransi, setiap keluar rumah ayah selalu mendapat olokan, bahwa Ayah tak perlu malu dengan kaki yang hanya sebelah kanan, mereka selalu mengolok-olok ayah dengan sangkaan Ayah memotong kakinya sendiri untuk mendapatkan asuransi. Ibu bercerita dari a sampai z, itulah alasan kenapa Ibu selalu pasrah dengan semua kekasaran yang Ayah lakukan, Ibu begitu kasihan terhadap nasib Ayah saat ini.

Ibu segera menyuruhku untuk tidur, ibu menyelimutiku dan mengecup keningku. Tak lama setelah itu, pintuku terbuka, aku mendengar derap langkah, aku belum tidur terlalu lelap. Tangannya mulai mengusap rambutku, tangannya kasar, sepertinya ini bukan Ibu. Dia membereskan selimutku, kemudian dia pergi dan menutup pintu. Itu pasti Ayah, aku menangis semalaman, aku hidup tak tahu diri. Dengan egoisnya, aku membenci Ayah, tanpa tahu keadaan Ayah yang sebenarnya. Andai, mataku mampu melihat. Mungkin nasib keluargaku tak akan sesusah ini. Besok pagi, aku harus segera meminta maaf kepada Ayah, aku harus memintanya untuk mengantarku jalan-jalan keliling taman, segera kuhapus air mataku dan kemudian tertidur.

Pagi sudah tiba sepertinya, adzan shubuh berkumandang, segera aku keluar kamar untuk mengambil air wudhu, pintu kamar terbuka, rasanya panas sekali, kudengar ini seperti bukan di rumah, rumahku tak pernah sesesak dan seramai ini.

Lama-lama aku mencium wewangian yang menusuk hidungku, kemudian begitu banyak orang-orang yang membelai rambutku, dan semuanya menyuruhku bersabar. Apa arti dari semua ini?.

Ibu menggenggam tanganku, dan menuntunku menuju kamar mandi, Ibu menyuruhku untuk segera mengambil air wudhu dan kemudian menyuruhku segera shalat shubuh. Tangan ibu dingin sekali, aku masih mengira-ngira apa yang akan terjadi.

Setelah selesai shalat shubuh, Ibu kemudian memelukku dan menuntuku menuju entah kemana, sepertinya ruang tamu. Aku duduk di antara banyak orang, mereka mulai melantunkan ayat suci..

“Yaa Siin”

Aku meraba apa yang di hadapanku, tubuhnya kaku, tangan kasarnya seperti tangan yang semalam membelaiku sebelum tertidur. Ayah? Tak mungkin, ini tak mungkin, baru saja semalam, baru saja semalam, baru saja semalam. Ayah…

Aku menangis dan mulai mengira-ngira, Ayah sudah meninggal, Ibu terus memelukku. Baru saja aku ingin meminta maaf, tapi Ayah sudah buatku kesal, kenapa dia meninggalkanku secepat ini, dia tak hargai niat baikku. Semasa hidup dan matinya dia selalu buatku kesal, dia selalu membuatku bersedih, namun aku tak mau dia pergi meninggalkan aku, dan aku semakin tersesat dalam kegelapan. Oh.. Tuhan!

Dua hari setelah kepergian Ayah, hidupku semakin sedih tak lama setelah itu terdengar kabar Ibu meninggalkanku juga, kenapa semuanya menyusahkanku. Andai, aku bisa melihat mungkin aku mampu melihat semuanya, mungkin aku tak akan sesusah ini. Aku hidup sendiri dengan gelap yang terlalu. Aku sudah merelakan hidupku untuk tak rasakan bahagianya bermain dan tertawa lepas seperti anak-anak lain, karena tak ada yang mau menemaniku, aku sudah merelakan hidup dalam kegelapan, aku sudah rela akan semua derita, tapi kenapa Tuhan kembali buatku susah?.

Di dalam kesepian hariku, pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Entahlah dari siapa, aku membuka pintu dan kemudian terdengar suara yang begitu indah.
“Riri?”
“Siapa kamu?”
“Saya Dokter Azriel, dokter yang sempat merawat Ibumu sebelum beliau meninggal”
Dengan sigapnya, aku kembali menutup pintu, ternyata dia biang keladi kematian Ibuku, namun lelaki itu mempunyai tenaga yang lebih kuat daripada aku, pintunya terbuka kembali setelah kucoba untuk menutupnya.
“Kau pembunuh!”
“Riri, tunggu! Saya bukan pembunuh, izinkan saya masuk dan berbicara tentang apa yang ingin saya ungkapkan”.
“Silahkan, jangan salahkan aku jika kau pulang sama seperti Ibuku yang sudah tak bernyawa”
“Baiklah, Riri. Terserah apa katamu”

Lelaki itu menceritakan apa yang terjadi kepada Ibuku, detik-detik sebelum kepergian Ibuku, Ibuku berpesan supaya mendonorkan matanya untukku, Ibuku meminta supaya jangan dulu menguburkan jenazahnya sebelum mataku diganti matanya.

Proses pendonoran berlangsung dengan lancar, tak sabar aku ingin melihat Ibu untuk terakhir kalinya dan menyaksikan langsung pemakaman Ibu. Atas nama Tuhan Yang Maha Agung, Mata Ibu kini menjadi Mataku, aku menangis, selama hidup Ibu menuntunku untuk hadapi gelapnya dunia, ketika Ibu pergi, Ibu berikan matanya untukku hadapi dunia. Aku melihat tak percaya betapa Ibu dan Ayahku begitu cantik dan tampan. Aku bercermin, dan tersenyum sekaligus menangis. Aku melihat, aku kini harus belajar hadapi dunia, Ibu tak rela aku sendiri dalam gelap, kedua matanya menemaniku. Ada binatang entah apa namanya, indah sekali hinggap di kain bercorak. Inikah jangkrik? Tapi tidak bersuara seperti jangkrik di kala senja, atau mungkin ini bisa jadi jangkrik betina, cantik, bersayap lebar dan tak bersuara. Dan kain bercorak ini? Pasti ini adalah kain batik buatan Ibu. Jangkrik dan Batik adalah hal pertama yang aku perhatikan dengan mata Ibu yang kini menjadi mataku.

“Teruntuk, Riri anakku.. Aku berikan dua mataku untuk hadapi hidupmu yang dimulai dengan kesendirian, aku tak ingin ada kegelapan”

Penulis Cerita: Ambiwwa Novita
 

Cinta Yang Berakhir Tragis

Senin, 13 Januari 2014 | komentar

Perkenalkan dulu, kenalkan Shinta temen sebangku Ayu mereka bersekolah di SMA Harapan Jaya Jakarta Selatan kelas XI-IPA/3, dan temennya atau cowok yang Ayu yaitu Tian yang bersekolah di SMA yang berlainan dengannya yaitu siswa SMA Daya Bakti 3 Jakarta Selatan kelas XII-IPA/2.
Pada suatu hari shinta punya temen sebut saja namanya Ayu, dia ngefans banget sama seseorang yang bernama Tian. Awal mulanya Tian minta tolong padanya untuk cariin dia cewek. Shinta pun berpikir “Siapakah ya yang akan gue jodohin sama Tian?” ujarnya dalam hati kebingungan. Akhirnya ia punya ide siapakah yang akan dia sasarin, yaitu Ayu. “Oh ya… Apa Ayu aja yang gue incar, hahah incar katanya” ujarnya meriang.
Keeseokan harinya, ia bercerita pada Ayu tentang bahwa Tian minta tolong padanya untuk cariin dia cewek “Eh Yu, gue punya cerita nih!! Mau kaga?” cetusnya sambil membuat kaget ayu dari belakang. “Nggak ah gue malas yang mau denger cerita lo!” cueknya. “Ya udah deh, kalau emang nggak mau denger cerita tentang Tian…” ujar shinta sambil meninggalkan Ayu. “Eh tunggu dulu… Tentang Tian wahh apa ayo gue pengen tau!” potongnya pada saat shinta bicara. Akhirnya sok cuek Ayu pun berakhir dengan ucapan Shinta dengan menyebut nama cowok yang dia idamkan selama ini, yaitu Tian. “Gini lho, tadi malam tuh Tian BBMan sama gue dan tiba-tiba dia bilang gini “Eh Shin, gue lagi jomblo nih, bantuin gue dong cariin cewek yang baik deh” kan gue balas “Urusan gue apa?” hahah dan dia pun jawab lagi “Kan gue cuma minta tolong kek untuk cariin cewek, pelit amat sih lo” itu sih katanya, kamu mau ya kenalan dulu deh!”
Beberapa saat sebelum dijawab oleh Ayu, bel berbunyi pun bertanda masuk kelas. Shinta pun menyiapkan dan memimpin kelasnya kebetulan juga ia adalah Ketua Kelas. Setelah ia menyiapkan pasukannya, ia pun juga masuk ke dalam kelas, dan untuk menenangkan kelasnya yang ramai, setelah semuanya lumayan nggak ramai, ia pun bertanya kembali pada Ayu “Gimana Yu, mau nggak? mau ya! Lo kan juga suka tuh sama orang itu!” dengan kata yang mengejek. “Gue nggak SUKA, gue cuma sekedar ngefans berat sama orang itu” cetusnya judes. “Sihh, jujur aja kali, setiap lo bicarain Tian, muka lo dan mata lo saat cerita berbeda banget, seperti ada perasaan yang mendalam banget sama orang itu.” ngejeknya kembali pada Ayu. Teng… teng.. teng… Ayu pun tidak berkata-kata entah apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba guru datang ternyata mereka baru inget kalau sekarang pelajaran guru killer yaitu guru Matematikanya sebut aja namanya Pak Dofi. Pak Dofi adalah guru yang paling kiler di sekolah ini. Shinta pun lupa untuk memanggil pak killer di ruang guru. Tapi hari ini Shinta pun bingung kenapa pak killer kok tidak memarahinya.
KBMpun berjalan dengan lancar, dan akhirnya tidak kerasa terdengar bel berbunyi yang bertanda waktu istirahat tiba. “Eh Shin, eeemmm, ee ya deh gu…gue mau, tapi sahabat dulu ya! Jangan langsung tembak, gue kan jadinya nggak enak” ucap Ayu grogi. “Ya nggak lha, dia kan juga ingin kenal lho deket, nggak langsung nyosor tembak segala emang dia cowok apaan” cetusnya sambil memukul pundak Ayu. “Oke deh nih nomer tuh orang, ciyyeee” sambil memberi selembar kertas padanya.
Berjalan selangnya waktu, dan entah kenapa keesokan harinya Ayu pun kelihatan sumringah banget kaga kayak biasanya. Shinta pun bertanya pada Ayu “Eh Yu, kenapa lo berbunga-bunga gitu? Ayo ada apa ini!” ucapnya dengan penasaran. “Cerita nggak ya! Gue mau ahh,” ucapnya dengan senyum-senyum. “Ih ngggak usah malu-malu gitu kali sama gue, woles aja sama gue, bisa jaga rahasia nih!” Ucapnya dengan santai. “Emmm, gi… gini… gu.. gue sudah SMS ke Tian, dan akhirnya di balas juga, ternyata apa katanya tetangga gue Tian itu juga suka sama gue lama! Masak lo nggak tau?” ucapnya senang dan heran. “Heheh gue selidiki dulu ya beib Yu,, mmmuuaacchhh” ujarnya selidik.
Sepulangnya sekolah, Shinta pun ke sekolah Tian sambil menunggunya “Mana tuh orang lama banget keluarnya dari sekolah, lelet banget kayak penganten aja nih anak”. Beberapa menit kemudian “Eh An, cepetan dong, lelet banget lo kayak semut, badan lo yang kekar bak pemain basket ini lelet banget ketua tim lagi, SEMANGAT dong broww!!!” ucap Shinta dengan semangatnya. “Eh gue mau tanya nih, lo suka ya sama Ayu, gue juga denger sih dari anak-anak kalau lo suka juga sama Ayu, kalau lo lewat sekolah gue, lo pasti tanyain Ayu bukan gue yang nyata sahabat lo dari masa semut!” ucapnya sambil memandang pasti Tian. “Ha semut? Kecil kali, Shin…!” ucap Tian. “Ya udah sama aja! Jujur deh sama gue, lo kan nyuruh gue emang untuk kenalan sama Ayu. Kan gue udah pernah kenalin lo sama Ayu!” ucapnya Shinta Kembali. Dan ia pun menanyakan dengan serius sambil menatap mata Tian “An, kalau lo emang suka sama Ayu ya sana terus terang saja, gue dukung sahabat gue kok… Ayo semangat sahabat gue yang lelet, weekkk” sambil menjulurkan lidah padanya. “Emm, ya sih gue dari dulu udah suka sama Ayu, tapi gimana Shin, apakah Ayu juga suka sama gue!!” seriusnya. “Eh dia juga suka banget sama lo, setiap lo tanding, dia selalu lihat. Dan satu lagi dia selalu lihat informasi di twiiter lo, tentang jadwal tanding lo sama antar club mana maupun sekolah mana!” Ucapnya dengan kebenaran yang terjadi.
Kira-kira 20 menitan akhirnya Shinta pun sampai terlebih dahulu ke rumahnya dengan berjalan kaki sambil mengobrol pada Tian “Udah ya, An… gue masuk dulu.. hati-hati lo di jalan, jangan sampai ceroboh masa kapten tim ceroboh” oloknya. Shinta pun langsung ke kamar dan pergi SMS kepada Ayu dengan apa yang ia tadi omongin dengan Tian, dan ternyata apa yang terjadi? Ayu pun ternyata selama 2 minggu ini sudah sahabatan dengannya secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan Shinta.
Dan selang waktu yang lama kira-kira persahabatan selama 1 bulan, akhirnya Ayu jadian juga sama sahabat tersayangnya yaitu Tian. Hubungan itu menjadi erat, sampai-sampai Shinta pun iri dengan hubungan itu. Dia sangat iri, karena kenapa cowok yang lagi bersamanya tidak seromantis dan sebaik dia. Dan yang membuatnya tambah iri yaitu, pada saat timnya tanding, Ayu pun ikut serta dalam penonton untuk memberi semangat untuk Tian. Saat istirihat atau tunggu ronde selanjutnya, Ayu pun mengusap keringat yang ada padanya dan memberi kan sebotol minuman air dengan cara yang sangat romantis yaitu saling menatap antar satu sama lain. Selang yang lama hingga tinggal satu bulan lagi “1 Anniversarry Tian dan Ayu”.
Percakapan yang Shinta tau pada saat Tian dan Ayu:
“Eh Yu, tinggal sebulan lagi kita sudah menuju satu tahun Anniversary kita atau hari jadi kita. Kita mau dirayakan di mana nih?” ucap Tian. “Emm, mungkin di taman kali ya An, ya udah deh nanti kita SMSan, ketemuan di mana dan jam berapa, yang penting sepulang sekolah aja ya!” ucap singkat Ayu.
Setelah beberapa waktu keesokan harinya adalah hari jadi satu tahunnya Ayu dan Tiar. Shinta pun mengingatkan pada Ayu bahwa besok adalah hari jadinya. Akhirnya Ayu pun segera mengambil handphonenya dan SMS pada Tiar yang berisi:
“Tiar sayang, besok kita ketemu di Taman aja pada jam 3 sore aja deh, ditunggu ya!” isinya dan Tiar pun membalasnya “Biar ya sayang gue yang jemput lo di rumah, ditunggu ya sayang!”.
Keesokan haripun telah tiba. Pada saat di sekolah Shinta menunggu Ayu untuk mengucapkan selamat kepadanya, entah apa yang dia bicarakan dengan ngaco. Tiga menit kemudian, Ayu pun datang dan Shinta pun teriak “Selamat Yu, semoga langgeng ya sama dia, semoga nggak pernah tengkar, aminn…!!” ujarnya dengan teriakan yang menggelegar. “Oke sama-sama, Shin.. makasih ya!! Eh gue pamitan yah, gue lagipula udah mau pindah dari sini!” ucap Ayu dengan nada yang halus. “Lho mau ke mana Shin?” tanyanya bingung. “Entar aja lihat sendiri!” ucapnya singkat.
Shinta pun merasa khawatir dengan kata-kata yang diucapkan Ayu tadi. Ia pun selalu bertanya-bertanya dalam hatinya. “Kenapa, apa jangan-jangan… ah ngaco lo Shin?” hati kecilnya pun bicara, tapi ya sudahlah ia tetep berdoa semoga apa yang ia pikirkan tidak terjadi pada dua sahabatnya itu.
Sore hari telah tiba Ayu pun menunggu Tiar yang akan menjeputnya. Sedangkan ia tetap bedoa dan berdoa semoga tidak ada apa-apa yang akan terjadi nanti. Beberapa menit, akhirnya Tiar menjeputnya, yang anehnya lagi pada saat Shinta melihat mereka berdua memakai pakaian yang telah ia berikan padanya, nggak aneh sih memang untuk satu tahun nya mereka. “Ih sama-sama pake baju yang gue belikan untuk kalian, ternyata couple juga ya!” ujarnya seneng. “Ya dong, kan gue makenya cuma satu kali ini, harus di pake dong, jangan dibuang-buang mubadzir kali” mereka pun menjawab pertanyaan dengan serempak. “Ih ngapain nih anak berdua serempak, kok jadi nggak enak ya perasaanku!” ucap Shinta dalam hati kecilnya. “Ya udah ya kita mau berangkat dulu, bye… bye” ucapnya secara bersama-sama.
Beberapa selang waktu, Shinta kaget karena mereka mendapatkan telpon dari rumah sakit, bahwa Tiar dan Ayu baru saja kecelakaan dengan dua truk. Shinta pun kaget, dan apa yang terjadi Shinta langsung cepat-cepat pergi ke Rumah Sakit untuk mlihat dua sahabatnya itu. Akhirnya apa yang ia pikirkan ini menjadi kenyataan, pada sesampainya di RS ternyata dua sahabatnya itu sudah tidak tertolong karena sudah banyak darah yang keluar dari mereka berdua. Ia pun menangis kencang serta ikhlas kehilangan kedua sahabatnya. “Kenapa ini terjadi pada gue ya allah, mereka sahabat gue yang saling menjalin hubungannya, apakah ini yang dinamakan cinta sejati sampai mati, dan juga dinamakan cinta mereka berakhir dengan ketabrakan yang tragis” tangisnya.
TAMAT
Penulis Cerita: Rizqi Arifiantini
 

Gemericik

| komentar

Hujan masih lebat mengguyur kota ini. Angin pun sigap memasuki pori pori siapa saja yang menghadapnya. Langit terlihat gelap di ufuk ujung sana. Suasana yang telah berputar dari belahan bumi, malam ke pagi. Cuaca sangat tak menentu, terkadang bisa hujan atau kemarau. Lelaki itu membuka kelopak matanya. Kelvin, begitu ia biasa disapa. Kepalanya masih terasa pening saat ia mulai membangunkan dirinya. Banyak serpihan kaca beredar di lantai kamarnya. Kamarnya saat ini sangat berantakan. Buku buku yang tertata rapi di atas meja sekarang telah berserakan dimana mana. Kelvin mulai berdiri perlahan. Ia menyibak gorden cokelatnya kencang. Ingin tahu, cuaca apa yang kali ini rehat di kotanya. Hujan. Lagi lagi ia melihat rintikan air yang turun dari langit. Manakala, sering terdengar bunyi gemuruh di antara gemericik air langit itu.
“Aku baik baik aja. Kau tak usah khawatir!” Titt.. Kelvin mematikan sambungan telfon dari seseorang di luar sana. Menjawabnya asal asalan saat seseorang sudah mulai bersuara. Ia kenal suara itu. Suara yang membuatnya begini. Aku baik baik saja? Ah.. Itu hanya kebohongan belaka. Hati, batin dan raganya saat ini berbalik 180 derajat. Tak ada kata yang baik baik saja yang pantas untuk disebutkan pada dirinya. Masih memandangi hujan yang kian lama turun lewat candela. Tak ada cahaya matahari yang menembus candelanya, saat ini. Mungkin perasaannya kini sama dengan adanya hujan dan tak adanya mentari yang menyinari setiap pikiran dan hatinya.
Fiuhh… Kelvin menghela nafas kemudian menghempaskannya keluar. Seseorang wanita telah berada di hadapannya kini. Wanita berparas cantik, pintar, dan murah hati ini yang bisa dibilang hampir sempurna. Tak ada celah dari Andini di mata hati Kelvin.
“Kau menjauh dariku.. Kau kenapa?” Andini mulai bertanya tanya tentang sikap Kelvin yang mulai berubah. Menjauh dari dirinya. Lagi lagi, Kelvin menarik nafas panjang untuk menjawab pertanyaan Andini.
“Siapa? Aku? Menjauh darimu. Kau tak sadar, aku ini hanya pencundang yang tak pantas bergaul dengan,..” Andini menyeritkan dahinya, sesaat Kelvin pergi dengan jawaban yang mengantung. Suara hentakan kaki dari Kelvin sangat menggema di lorong lorong sekolah yang mulai sepi ini.
“Dengan siapa?” Kelvin menghentikan langkahnya. Seharusnya ia sudah tahu jawaban menggantung dari Kelvin. Jawaban yang tertuju pada dirinya sendiri. Sesaat hening. Suara keramain dari anak anak sekolah ini sudah tak terdengar, hanya suara gemericik hujan yang lagi lagi turun. Menggenang setiap pijakan yang tak rata di tengah tengah lapangan sekolah. Andini menatap punggung Kelvin yang terdiam. Seolah menanti jawaban konyol yang terlontar dari mulut disana.
“Kau pikir saja.!”
Menanti bis yang tak kunjung datang, jika tak ingin tubuh basah. Begitulah, hal yang setiap hari dilakukan Kelvin ketika hujan turun. Seragam SMA yang ia pakai sudah mulai terasa basah. Ia duduk di halte bis depan sekolahnya. Suara rintikan air yang bermelody sangat terdengar dari atas atap halte bis yang tertutup ini. Tak ada petir ataupun angin yang meniup teralu kencang, hanya ada suara gemuruh yang kadang kadang terdengar. Kelvin menaruh kakinya di atas kaki yang tersungkur di bawah tanah. Matanya masih menyibak kata kata yang tertuliskan di buku. Sesekali ia melihat ke arah jalanan untuk memastikan kedatangan bis yang akan membawanya menuju rumahnya.
Seseorang wanita berlari kecil di tepi trotoar jalanan. Menuju ke arah bis halte yang menjadi tempat persinggahannya sementara dari rintikan air hujan. Dress pink lembut selutut yang ia gunakan sekarang telah basah di sekitar bahu. Mahkota kewanitaan yang ia pakai juga telah basah di pucuk kepala. Membekaskan setiap bercak bercak air yang turun dari langit.
“Heyy..!” Sama halnya seperti kucing yang dipanggil dengan sebutan ‘pushh’, refleks Kelvin menoleh ke arah yang memanggilnya tadi. Dilihatnya seorang wanita duduk di sampingnya. Kelvin mengulas sebuah senyuman tipis, lalu terfokus kembali pada buku novel yang sempat ia baca tadi.
“Lagi baca apa, Vin?” Kelvin menutup bukunya setelah wanita itu memanggilnya Vin. Tak sepantasnya jika ada yang berbicara tak diperhatikan. Atau bertanya tidak dihiraukan sama sekali. Kelvin menoleh ke arah wanita di sampingnya itu, kemudian menaikan sedikit satu alisnya.
“Vin? Kau tau namaku?”
“Hahaha.. Aku sering memperhatikanmu bersama pacarmu itu. Dia sering memanggilmu Vin. Jadi aku simpulkan namamu Vin.” Wanita itu sedikit tertawa kecil setelah memutar kembali rekaman suara otaknya. Mungkin, ia sering berada disini dan mendengarkan Kelvin berbicara pada salah seorang gadis. Kelvin terdiam. Otaknya kembali mengingat masa masa indah bersama pacarnya – Andini. Gadis yang ia jauhi belakangan hari ini. Ia menarik nafas panjang sebelum mengklarifikasi perkataan dari wanita yang ia tak ketahui namanya.
“Sekarang dia bukan pacarku lagi. Kami sudah putus semenjak lima hari yang lalu.”
“Maaf. Aku sama sekali tak tahu!” Sepertinya, merasa bersalah atas ucapannya tadi. Sama sekali ia tak tahu dengan urusan orang di sampingnya. Hening… Rintikan hujan yang lagi lagi yang terdengar saat ini. Cuaca yang tak bersahabat benar benar menghiasi sudut sudut di kota ini. Dingin yang selalu ada di setiap hujan turun.
“Namaku Kelvin, bukan Vin. Bagaimana denganmu?” Kelvin menoleh lagi ke arah wanita itu. Mengklarifikasi namanya yang tidak diketahui oleh wanita itu.
“Hahaha.. Maaf. Aku tidak teralu tahu, siapa namamu. Namaku Rain.”
“Aku nggak tahu, dan aku nggak mau tahu tentang dia. Kita putus! Dan kamu jangan dekat denganku lagi.!”
“Vin.. Vin..”
Suara itu masih menggema berulang ulang di setiap sudut di otaknya. Masih menyisakan goresan luka yang sama sekali tak pernah terfikirkan. Ini memang salah. Tak sepantasnya kata itu terlontar, padahal hatinya sama sekali tak ingin mengucapkan kata sebodoh itu. Putus. Masih terbayang bagaimana Andini bersikap memelas untuk memberi penjelasan terhadapnya. Langit langit kamar yang memutar kembali ingatan yang tak pernah lepas dari otaknya.
Hari ini cuaca sangat cerah. Tak seperti biasanya yang selalu dibumbuin dengan air dan awan kelabu ataupun hitam yang menggelayuti langit. Kelvin menaruh buku novel – you are – nya sejajar dengan buku novel koleksinya di atas sebuah meja yang memang dikhususkan untuk buku. Kamarnya tak seberantakan seperti tiga hari yang lalu. Rapih dan bersih, seperti pada awalnya. Hanya ada lipatan lipatan pada tepi kasur yang baru saja ia duduki.
“Hey Vin..!!” Rain duduk di sebelah Kelvin. Kelvin menoleh ke arahnya, kemudian menutup buku novel yang ia baca. Seperti yang terjadi kemarin lusa saat dia dan Rain bertemu untuk pertama kalinya. Mungkin bagi Rain bukan pertama kalinya, karena ia sudah mengetahui sejak dulu.
“Hai. Kau habis dari mana?” tak seperti yang lalu, Kelvin yang terlihat sedikit kaku sekarang ia mulai sedikit bersahabat dengan teman barunya itu. Rain mengulas sebuah garis di bibirnya. Hujan yang masih terjadi sama seperti awal awan Kelvin bertemu dengan Rain. Menimbulkan gemericik yang terdengar unik.
“Bajumu basah. Kau habis main hujan hujanan ya..?” sambung Kelvin menebak setelah melihat penampilan Rain yang sangat begitu basah. Begitupun dengan rambutnya yang sedikit kusut. Halte Bis yang saat ini hanya ada mereka berdua. Sepi.. karena hari sudah mulai malam.
“Bisa dibilang sih.” Rain terkekeh dengan jawabannya. Kelvin bediri sejenak, untuk melepaskan jaketnya. Kemudian mengulurkannya pada Rain.
“Nih pakai. Dari pada kamu sakit.” Rain menggeleng. Ia sama sekali tak merasakan hawa dingin menyergap tubuhnya. Padahal hujan semakin kian turun menderas. Angin sore yang menembus pori pori kulit membuat bulu kuduk berdiri. Terpaksa, Kelvin memakai jaketnya pada punggung Rain.
“Makasih…”
“Kau suka hujan ya.. Sampai rela hujan hujanan begitu?” Kelvin menaikan satu alisnya. Rain mengangguk. Ia memang sangat suka dengan hujan. Air yang turun dari atas langit itu.
“Bukannya hujan itu membawa bahagia?”
Kelvin mengepal tangannya sesaat melihat Andini sedang bersama pengganti dirinya yang baru. Sakit, masih ada sisa rasanya terhadap perempuan yang pernah melukiskan kisah kisah bermakna dalam hidupnya. Andini sedang duduk di tepi koridor bersama lelaki yang pernah menjadi sahabatnya dulu. Yang bisa merebut Andini dari hidupnya. Tanpa disangka sama sekali dan tak ingin terjadi. Dengan Tega sahabatnya itu menusuknya dari belakang. Kelvin menarik nafas panjang sebelum diketahui keberadaannya oleh Andini. Ia berbalik tak jadi pergi ke perpus ketika mengetahui Andini bersama Yuda.
“Hidup itu kan tak selalu sesuai harapan kita. Kita hanya bisa merencanakannya saja. Kau tau Vin? Aku juga tak ingin seperti ini. Tapi itulah hidup.. Ada hikmah tersendiri yang bisa kita petik.” Kelvin menoleh ke arah Rain. Hujan. Mungkin kota julukan sebagai kota hujan ini sangat tepat untuk cuaca yang terjadi saat ini. Mereka kini sedang berteduh di bawah pohon taman. Taman yang berpapasan langsung dengan danau. Pandangannya lurus ke depan. Memandang danau yang masih terlihat jernih itu
“Tak ingin seperti ini? Memangnya kau tidak pengin seperti apa?” Rain menoleh kearah Kelvin.
Rain terdiam. Yang terjadi sekarang adalah keheningan. Ia mencoba bersenandung kecil untuk menutupi hatinya saat ini. Jangan sampai ada satu bulir air mata yang menetes ke pipinya. Atau bahkan lebih. Kelvin menundukan setengah badannya, untuk mengetahui apa yang dilakukan Rain. Dilihatnya mata Rain yang sudah mulai basah, jika dipoles akan bisa membanjiri raut wajahnya. Apa ucapannya salah? Atau Rain kenapa?
“Kau menangis ya..?” Kelvin memegang kedua pipi Rain ke arahnya. Mata Rain menunduk. Entah apa yang ia tangiskan saat ini. Yang diketahuinya, ia baru pertama kalinya melihat Rain menangis di hadapannya.
“Maaf. Kalau itu menyinggung! Kau kenapa menangis?” Kelvin mengusap air mata Rain yang sudah mulai menetes. Rain menggeleng, kemudian memeluk tubuh Kelvin. Saat ini ia benar benar membutuhkan sandaran untuk melegakan hatinya.
Seperti yang dilakukannya sehabis pulang sekolah. Kelvin menunggu bis yang akan membawanya sampai ke rumah. Dua hari ini ia tak melihat Rain yang selalu ada ketika ia berada di halte bis. Cuaca kali ini tidak hujan dan begitu panas. Tak ada sinar matahari yang menembus awan awan langit. Teduh dan tidak mendung. Kelvin duduk, menunggu kedatangan bis. Biasanya Rain sudah ada sambil berjalan membawa sesuatu. Apa mungkin karena hari ini tidak hujan, maka tidak ada Rain. Gadis yang sekarang berada di hatinya, menghilang semenjak mereka di taman.
“Vin..!” Kelvin berharap itu panggilan dari Rain. Ia mendongkakkan wajahnya sedikit setelah tadi menunduk ke bawah. Ckck, yang ada bukan Rain, tapi Andini. Andini belarian menuju Kelvin yang terlihat duduk di bangku halte bis.
“Vin..!” panggilan itu sekali lagi telontarkan dari mulut sang pengguna. Kelvin bediri dari posisi duduknya. Berniat untuk memasuki bis yang sudah mulai terlihat dari ujung sana.
“Kelvin, dengerin aku dulu dong! Itu tak seperti yang kau lihat!” Andini mulai menjelaskan tentang kejadian tadi di sekolahnya. Kelvin masih diam mendengarkan perkataan yang menurutnya basi.
“.. tadi nggak sengaja. Aku juga nggak tau kenapa Yuda mencium a…”
“Terus. Sekarang apa hubungannya sama aku? Kita udah nggak ada hubungan sama sekali!” Kelvin memotong ucapan dari gadis di sebelahnya. Andini menunduk. Memang benar apa yang Kelvin katakan. Dirinya sama Kelvin sama sekali tak terikat oleh hubungan apapun. Bis yang tadi masih terlihat jauh sekarang sudah berada di hadapan. Kelvin mulai berjalan untuk memasuki bis pengantar itu sampai menuju rumahnya.
“Maaf, aku harus pergi..!” kata itu masih terlontarkan dari mulut Kelvin. Kelvin menengok ke arah Andini sebelum ia benar benar pergi.
Penulis Cerita: Mardita Khusnulia Wati
 

Puisi Terakhir

Minggu, 12 Januari 2014 | komentar

Kita masih disini…
Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini.
Entah sampai kapan kita mampu bertahan.
Tapi kita harus tetap berjuang.
Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,
Maka nikmatilah saat ini.
Saat esok hari menjelang, maka biarkan hari ini menjadi kenangan.
Entah sudah berapa banyak puisi yang ditulis oleh Cathrine. Sambil menunggu Lexi sadar dari keadaan komanya. Kekasihnya yang sudah hampir dua minggu terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU rumah sakit. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa Lexi mengidap kanker otak dan sudah mencapai stadium akhir, tapi Cathrine tetap percaya bahwa mujizat Tuhan dapat terjadi kapan saja, bahkan disaat manusia merasa tidak mungkin, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuatnya menjadi mungkin.
“Aku percaya Tuhan akan memberi semua yang terbaik untuk kita. Cepat sembuh ya, supaya kita bisa mengulangi semua kejadian indah yang pernah kita lalui bersama. Aku rindu saat kita pergi kuliah dan ibadah bareng, dan juga saat-saat kita jalan bersama”. Ucap Cathrine sambil mengelus lembut kepala Lexi.
Untuk malam ini, Cathrine memang meminta izin untuk dapat menjaga Lexi hingga esok pagi. Entah mengapa malam ini, dia begitu ingin mengenang semua masa-masa yang mereka lewati bersama. Cathrine mengalihkan pandangannya ke dinding yang ada di hadapannya dan terlihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Kembali angannya melayang mengingat perkenalannya dengan lelaki yang terbaring lemah di hadapannya tersebut beberapa tahun yang lalu. Sudah hampir enam tahun mereka berkenalan, sejak pertama kali mereka duduk di bangku SMA. Sebagai dua orang siswa yang sama-sama berprestasi, tidak jarang mereka harus bersaing, baik di dalam kelas maupun ketika mereka berkompetisi di luar sekolah. Persaingan yang sportif membuat mereka menikmati persaingan itu dan malah membuat mereka semakin dekat. Mereka saling menikmati kedekatan itu, karena kedekatan itu membuat mereka saling memberikan dukungan satu sama lain. Rasa yang tidak bisa dicegah akhirnya menghampiri, rasa simpati dan kagum satu sama lain berubah menjadi rasa sayang dan saling membutuhkan. Mereka tidak berusaha menghindar karena mereka tidak bisa berbohong kalau mereka merasakan getaran yang sama. Hari-hari semakin indah, prestasi mereka sama-sama meningkat, begitupun juga rasa sayang itu, hingga saat ini mereka duduk di bangku kuliah. Namun semua itu mulai terusik beberapa bulan yang lalu, sejak Lexi mulai berubah, seakan ada yang dia sembunyikan dari kekasihnya, Cathrine.
Lexi mulai menghindari Cathrine. Biasanya setiap hari mereka selalu terlihat bersama di kampus, namun perlahan Lexi mulai jarang terlihat di kampus. Saat Cathrine mencoba menghubungi, selalu saja tak pernah ada respon dari si penerima telepon. Sampai akhirnya, Cathrine mengetahui bahwa Lexi sudah hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Saat pertama kali Cathrine menjenguknya, Lexi masih bisa tersenyum dan berkata, “semua akan baik-baik saja, jadi tak perlu khawatir”. Tapi, saat ini jangankan untuk berkata hal seperti itu lagi, bahkan untuk membuka matanya, Lexi seakan tak mampu.
Aku hanya meminta sedikit kebahagiaanmu, Tapi bahkan kesedihan pun tak kau bagi denganku
Sambil menuliskan dua penggal kalimat tersebut, tak sadar air mengalir dari sudut mata Cathrine.
Terima kasih untuk perkenalan yang indah…
Terima kasih untuk jadi motivator terbaik dalam hidupku…
Terima kasih untuk semua bahagia dan tawa yang ada…
Terima kasih untuk semua cintamu…
Kembali mata Cathrine tertuju pada jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Tapi tak sedikitpun ia merasa kantuk, dan tak sedikitpun ada keinginannya untuk berbaring. Dia tetap memandang wajah tampan pria di hadapannya sambil memegang buku yang berisi puisi-puisi yang ia tulis selama dua minggu dia berada di rumah sakit ini.
“Kalau kamu sadar nanti, aku akan berikan buku yang berisi puisi ini untuk kamu, agar kamu tahu betapa aku sangat berharap untuk kesembuhanmu. Dan berjanjilah, kalau lain kali kamu sakit tolong jangan pernah menghindar dari aku. Kapanpun kamu mau, telinga ini selalu siap untuk mendengar setiap keluhanmu, dan pundak ini selalu ada untuk tempatmu bersandar saat rasa sakit itu menyerangmu.” Cathrine mulai mengajak Lexi berbicara.
“Aku rindu dengan mata indahmu, suara merdumu, senyum manismu, dan nasihat-nasihatmu.. aku akan tetap menunggu sampai keajaiban itu datang dan terjadi padamu.”
“Kamu tahu nggak Lex… aku sangat senang saat ini, karena aku dapat berdua dengan kamu, mengenang semua yang aku lewati dengan kamu, menulis puisi-puisi untuk kamu. Tapi aku mulai lelah dengan semua ini, tolong segera bangun dari tidurmu sebelum rasa jenuh ini benar-benar menguasai pikiranku. Sebelum harapan ini memudar…” ucap Cathrine.
Tak sadar sudah berapa lama dia menangis dan berapa banyak air mata yang tertumpah. Rasa lelah untuk penantian ini sudah hampir mencapai batasnya. Ingin menyerah, namun ia masih tetap percaya bahwa harapan itu masih ada.
Tiba-tiba Cathrine merasa ada gerakan lembut dan pelan yang menyentuh pipinya. Ia tersentak dan segera menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Rasa kaget, bahagia dan haru tercampur menjadi satu ketika melihat mata indah itu terbuka secara perlahan. Si pemilik mata indah menatap Cathrine dengan lembut.
“Lex..Lexi… kamu udah sadar. Terima kasih Tuhan buat mujizat ini. Terima kasih untuk jawaban atas penantianku ini. Maaf untuk harapan yang mulai goyah”. Ucap Cathrine seraya bersyukur atas kejadian ini.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Lexi, mereka hanya saling bertatap mata. Cathrine dapat melihat dari mata Lexi begitu banyak kata yang ingin ia keluarkan, begitu banyak cerita yang ingin ia sampaikan. Tapi Cathrine sadar bahwa ia tak dapat memaksa keadaan untuk kembali seperti dulu. Mereka memerlukan proses untuk mengembalikan semua keadaan seperti sedia kala.
Tapi rasa bahagia itu hanya sesaat saja, tiba-tiba keadaan berubah menjadi tegang. Terlihat mesin yang menyambungkan kabel ke bagian tubuh Lexi memberikan sinyal bahwa orang yang menggunakannya dalam keadaan darurat. Cathrine tak tahu harus bagaimana, ia berlari mencari dokter di luar ruangan, berteriak meminta pertolongan. Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Lexi, namun apa yang terlihat adalah bahwa dokter dan suster yang ada di ruangan tersebut sudah mulai melepas semua alat bantu yang ada di seluruh bagian tubuh Lexi.
“Kami sudah berusaha, tapi kehendak Tuhan
berkata lain. semoga semua keluarga tabah menerima ini”. Ucap dokter memberi keterangan pada Cathrine.
Dunia seakan berhenti bagi Cathrine. Harapannya kali ini benar-benar sudah musnah. Tak akan ada lagi harapan untuk kesembuhan Lexi. Di sudut ruangan terlihat dokter melihat ke arah jam tangannya dan Cathrine pun ikut melihat jam yang tergantung di dinding ruangan. Pukul dua belas tepat. Keluarga Lexi yang baru saja tiba juga segera berlari masuk ke dalam ruangan untuk melihat orang yang di kasihi untuk terakhir kalinya. Sementara Cathrine terduduk di lantai ruangan rumah sakit, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah mimpi, mimpi buruk yang sebentar lagi akan sirna. Tapi ini bukanlah mimpi, namun adalah benar-benar kenyataan, kenyataan yang menyakitkan yang harus ia hadapi.
“Lexiii… kenapa harus membuka mata itu, kalau kamu ingin menutupnya selamanya? Kenapa tak kamu biarkan saja mata itu tertutup malam ini, namun nafas itu tetap ada selamanya?” Cathrine merintih dalam tangisannya.
“Aku ingin menulis puisi yang terakhir untuk kamu, setelah ini aku tak akan pernah menulis puisi-puisi lainnya selamanya.” Ucap Cathrine sambil membuka buku yang berisi puisi-puisi yang ditulisnya, seraya menahan air yang ada di sudut matanya sehingga tak jadi tertumpah membasahi pipinya.
Penantianku terjawab…
Harapanku tercapai…
Aku menyayangimu, namun tak mampu memilikimu.
Aku mengharapkanmu, namun Tuhan berkehendak lain padamu.
Aku kecewa… Aku marah…
Namun apa guna jika itu mampu
membuatmu bahagia.
Aku tak rela…
Namun keadaan memaksa.
Setiap awal akan berakhir
Setiap pertemuan akan berujung perpisahan
Tapi tetaplah percaya, setiap kejadian akan memberi hikmah.
Selamat Jalan kekasih
Bahagiaku untukmu selamanya…
Itulah puisi terakhir yang di tulis Cathrine, setelah menyelesaikan puisi tersebut, Cathrine meninggalkan buku itu di bangku rumah sakit dan segera bergegas meninggalkan rumah sakit.
“Terima kasih untuk cinta itu, percayalah… saat engkau bahagia di alam sana, begitupun aku akan melanjutkan kehidupanku di alam ini dengan bahagia.” Ucap Cathrine tersenyum menabahkan dirinya dan kemudian berjalan keluar rumah sakit.
Penulis Cerita: Christy.A. Sitorus
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami