Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Terima Kasihku

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

“Ayo Adi, bangun-bangun”, kata ibu.
“Adi masih ngantuk Bu”, jawab Adi dengan nada malas.
“Sekarang sudah pukul 7 Adi!”, kata ibu setengah marah.
Sontak aku terkejut. Mataku yang masih ngantuk sekarang menyala 100 watt. Langsung aku melompat dari tempat tidurku dan lari terbirit-birit ke kamar mandi. Byurrrrr… bunyi air yang ku timba. Tampa pamit ke ibu aku langsung mengayuh sepeda ku ke sekolah.
Namun apa daya, setibanya di sekolah bel tanda masuk sudah lama berbunyi. Ah!, sialnya nasibku. Ternyata nasib sialku masih berlanjut. Sekarang jadwal Pak Amin, guru paling horor mengajar di kelasku. Kalau terlambat pasti ujung-ujungnya membersihkan WC. WC itu terkenal dengan bau pesingnya yang pekat. Benar saja pak Amin sedang mengajar di kelas ku.
“Kenapa kamu terlambat”, Tanya pak Amin dengan wajah sangar.
“S…s…s, saya terlambat Pak”, jawabku ketakutan.
“Memangnya jam berapa matahari terbit di rumahmu?”, Tanya pak Amin dengan guyonan sangarnya.
Guyonan pak Amin membuat seantero kelas tertawa.
“Ha..ha..ha..ha”, tawa temanku.
“Diam!, siapa yang suruh kalian tertawa.
Sontak kelas menjadi hening.
“Baik Adi, sekarang kamu keluar dan bersihkan WC itu”, kata pak Amin sambil menunjuk ke WC di sudut sekolah.
“Baik Pak”, jawabku pasrah.
Setelah membersihkan WC, aku kembali ke kelas. Pada saat itu Pak Amin sedang membagikan hasil ulangan minggu lalu. Bisa kutebak nilaiku pasti rendah. Ternyata dugaanku benar, nilaiku hanya 50. Nilai ulanganku sudah terlalu banyak rendah, sehingga mempertipis harapanku untuk naik ke kelas IX. Apalagi ujian kenaikan kelas tinggal beberapa minggu lagi.
Nilaiku tidak pernah memuaskan, seringkali jalan di tempat. Tiap semester aku sering menjadi penghuni juru kunci di kelasku. Aku ingin nilaiku naik, tapi aku terlalu malas untuk berusaha. Naik ke kelas VIII saja aku sudah syukur, itu pun dengan percobaan, apalagi untuk naik ke kelas IX, bukan perkara mudah. Jika nilai dan prilaku tidak mendukung resikonya ya tinggal kelas.
Senin pagi setelah upacara bendera, aku dipanggil ke ruang BK.
“Adi, kamu dipanggil ke ruang BK”, kata Rian
“Ya, aku segera ke sana”, jawabku
Ruang BK bagaimana rupanya?, pikirku. Selama aku sekolah di sini aku belum pernah masuk ke ruang BK. Kata temanku ruang BK mirip ruang introgasi, di sana dihujani dengan puluhan pertanyaan. Namun tidak sedikit yang menyebutkan ruang BK itu menyenangkan karena bisa konsultasi dan curhat.
Akhirnya aku sampai di ruang BK. Tempatnya sederhana, hanya sebuah ruangan di samping kantor guru.
“Assalamua’laikum”, kataku.
“Waa’laikumussalam”, terdengar jawaban salam dari dalam ruangan
Aneh sekali itu bukan suara Bu Ami, guru BK. Suaranya berat seperti suara laki-laki
“Ayo masuk, Adi”
Alangkah terkejutnya aku ternyata ayah. Kenapa ayah ada di sini, bukankah beliau sedang dinas di Jakarta untuk beberapa tahun ke depan?. Oh, aku lupa kemarin wali kelas ku memberikan surat panggilan yang kesekian kalinya kepada ibuku. Ini dikarenakan nilaiku terus menurun dan tidak ada peningkatan. Pasti isi surat itu sudah samai ke telinga ayah sehingga ia sengaja meninggalkan pekerjaannya untuk memenuhi undangan tersebut.
Bahagia rasanya aku bertemu dengan ayah, sudah lama aku tak bertemu. Biasanya ayah hanya pulang ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Bukan pelukan hangat seorang ayah yang kudapat namun sebuah tamparan tangan kiri yang mendarat di pipiku.
“Sakit Adi”, tanya ayah
“Sakit Yah”, jawabku sambil mengusap pipiku yang kemerahan
“Tamparan ayah tadi tak lebih sakitnya dari beratnya perjuangan pahlawan masa lalu”, kata ayah dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau pejuang masa lalu tidak berusah dengan segenap kemampuannya apakah kita bisa merdeka”, Tanya ayah kembali padaku.
“Tidak Yah”, jawabku.
“Sekarang apa tugasmu dengan kemerdekaan yang telah kita raih”?
“Mengisi dan mempertahankannya”
“Sekarang apakah kamu tahu bagaimana cara mengisi dan memepertahankan kemerdekaan ini?”
“Ti.. tidak Yah”
“Sekarang ayah minta tolong rajinlah belajar Adi, demi ayah dan demi ibu pertiwi agar tanah ini tidak kembali di jajah”, kata ayah menasehatiku.
“Baik Yah”, jawabku tegas
“Oh ya, ayah nanti tidak pulang, katakan pada ibu ya”
“Ya Ayah”
Ayah tahu sekali cara membangkitkan semangatku. Kalau di kaitkan dengan perjuangan rasa nasionalismeku langsung terbakar. Cara ayah di ruang BK sama Bung Tomo menggelorakan semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah
Sejak kejadian itu kehidupanku langsung berubah 180 derajat. Aku sekarang menjelma menjadi anak yang super rajin. Tak ada waktu luang yang ku buang sia-sia. Semuanya ku habiskan untuk belajar mempersiapkan ujian semester yang makin mendekat
Akhirnya ujian yang menjadi momok bagiku datang. Aku cukup percaya diri maenghadapi ujian karena aku sudah mempersiapkan semua amunisi untuk ujian. Setelah seminggu ujian akhirnya selesai. Sekarang tinggal melaksanakan classmeeting
Setelah seminggu pembagian rapor datang. Aku sangat takut kalau-kalau aku tidak naik kelas. Tenyata yang menerima rapor pertama adalah aku. Bu Emi, wali kelasku menyodorkan rapor kepadaku. Ku buka pelan-pelan raporku. Isinya hitam semua, tapi bukan hitam raksasa. Alangkah bahagianya aku ketika melihat kata “naik ke kelas IX”. Ayah pasti bangga melihatnya.
Akupun pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ibu pasti senang. Namun ketika aku tiba, rumah ternyata ter kunci. Tiba-tiba tetanggaku Bu Tuti datang.
“Adi, ibumu ke rumah sakit, katanya ayahmu sedang dirawat”, kata bu Tuti.
“Ya Bu, ayah dirawat di mana Bu?”, Tanya ku kepada bu Tuti.
“Di Rumah Sakit Yarsi, ruangan IVB”, jawab bu Tuti.
“Terima kasih Bu”
“Sama-sama”.
Segera aku ke rumah sakit. Setahuku ayah memeng kurang sehat belakangan ini. Mungkin kebiasaan buruknya, merokok telah berdampak ke paru-parunya. Tapi buka kah ayah masih bekerja di Jakarta? Mungkin ayah memilih untuk pulang dan dirawat di rumah sakit di dekat rumah.
Akhirnya aku sampai di ruang rawat ayah. Keadan ayah sangat lemah. Ia harus memakai infus dan alat bantu pernapasan.
“Yah, aku naik kelas”, kataku bahagia.
“Oh, benarkah Alhamdulillah”, jawab ayah dengan nada lemah
“Adi ayah mau pergi, rajin-rajinlah belajar, jaga dirimu baik-baik”, ayah melanjutkan permbicaraannya.
“Tapi pergi ke mana Yah”, tayaku heran.
Tidak ada jawaban dari ayah, ayah hanya diam. Lalu terdengar ucapan syahadat dari ayah dan beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Sontak aku dan ibu menangis, aku merasa tidak ikhlas dengan kepergian ayah, namun biarlah ayah pergi. Itu sudah ketentuan Allah. Ternyata ayah sudah tidak kuat melawan penyakitnya.
“Selamat jalan ayah, semoga tenang di alam sana dan terima kasih, TERIMAKASIH”, kata ku kepada jasad ayah yang sudah tak bernyawa.
Penulis Cerita: Farhan Ramadhan
 

Selera Humor dan Harga Diri Keluarga Mbah

| komentar

Aku terlahir di tanah ini, di tanah yang dibilang subur ini, sebagai bagian keluarga besar masyarakat Indonesia yang punya selera humor tinggi. Bukan hanya itu, selain rasa humor, mbah-mbah ku dulu juga orang-orang yang paham benar dengan apa itu yang namanya harga diri. Saat mereka masih muda sepertiku, mereka berjuang mati-matian hanya untuk membela satu makhluk bernama harga diri sebagai bangsa yang berhak merdeka. Jargon mereka yang sampai sekarang masih terniang-niang di telinga anak cucunya termasuk aku adalah merdeka atau mati. Mungkin sedikit berbeda jika kudengar cerita tetanggaku, nenek moyangnya dulu lebih memilih merdeka bersyarat sebagai negara persemakmuran hanya karena tergoda iming-iming akan berbagai fasilitas asal mereka nganut dengan negeri induknya. Dan mungkin karena kenganutan – kepatuhan itu membuat tetanggaku itu kurang tau dengan humor – sama sepertiku.
Sebagai manusia normal, dalam otakku sudah pasti terinternalisasi untuk mencintai tanah kelahiranku. Tapi aku ragu, mungkin aku tidak begitu cinta dengan tanah lahirku. Nyatanya, aku masih saja iri dan ingin hidup di tanah tetanggaku yang punya banyak fasilitas itu, aku disini masih sering mengeluhkan buruknya fasilitas meski bahan baku apapun tersedia di tanah lahirku ini. Aku kadang iseng, menggerutu dalam hati – “kenapa mbah dulu kau berjuang mati-matian untuk membela harga diri sebagai bangsa yang layak merdeka, kenapa tak kau serahkan saja bahan baku tanah lahirku ini pada Belanda untuk mereka kelola dan kita bisa mencicipi sedikit masakan hasil olahan mereka, toh aku sekarang lebih suka burger olahan Amerika daripada gaplek buatan mak, – toh tetanggaku kini hidupnya enak, mapan, tercukupi dengan hanya bersedia menyerahkan harga diri mereka dan menjadi negara persemakmuran Inggris. Dan, toh seandainya engkau hidup sekarang – dan melihat betapa buruknya aku, betapa aku tak paham tentang harga diri sebagai bangsa yang dulu mati-matian engkau perjuangkan, kau mungkin menyesal mbah berjuang mati-matian demi anak cucumu, demi aku – kau akan marah melihatku karena aku hanya mengingat cerita heroikmu merebut kemerdekaan saat tanggal-tanggal tertentu – dan aku hanya mengingatnya sebagai cerita, bukan untuk kuteladani sebagai prilakuku sehari-hari. Dan akhirnya, kau hanya berucap sinis padaku ‘Sudah dibelain mati-matian, malah ngedhumel – nyalahke, gak tau diuntung, diwei ati njaluk rempelo, bocah ndhablek!!!”
Keluarga besar masyarakat tanah lahirku punya selera humor yang tinggi, tapi tidak bagiku – aku tidak mewarisi ini dari mbah-mbahku, aku tak punya satupun lelucon untuk kulontarkan padamu, tapi aku selalu ikut tertawa jika mereka tertawa. Mereka tetap bisa tertawa dalam keadaan apapun, saat krisis global mereka masih bisa tertawa, – bahkan makin ngakak, dilanda bencana pun masih saja membuat lelucon – bu LSM, mas Ormas, mbak Partai, pak Pemerintah ramai-ramai datang memberi mereka bantuan dengan menancapkan bendera di sekitar tenda pengungsian, dan keluarga besar tanah lahirku itu menyambutnya dengan tersenyum sinis “terima kasih pak, bu, mbak, mas, lain kali benderanya lebih besar lagi – biar semua orang tau kalau kalianlah yang pernah membantu kami“. Jangan tanya kehidupan sehari-hari keluarga besar tanah lahirku itu, mereka seringkali saling mentertawakan saat salah satu anggota keluarga menciptakan karya, “ah, mobil buatan lokal – bagus sih, tapi kualitasnya paling-paling bertahan satu dua tahun, hehe, harga jualnya pasti merosot, onderdilnya juga pasti mahal, mending beli yang pasti aja deh daripada beli mobil geje”. Dan sekarang selera humor mereka makin tinggi dengan banyaknya tayangan komedi di TV tiap harinya yang dibiayai sponsor dengan nilai sangat mahal, yang mungkin biaya acara komedi itu cukup untuk menyumbang subsidi pendidikan tiap bulannya. Sarkasme, penghinaan harkat, rasisme, pelecehan HAM, sudah menjadi sebuah kewajaran jika dilakukan saat sedang melucu, karena keluarga besar tanah lahirku sudah paham benar dengan apa itu harga diri, beda denganku – aku masih menganggap itu sebagai hal yang tabu. Tapi bagimu yang berprofesi sebagai guru, jangan sesekali melontarkan kata-kata berbau sarkasme, rasis, dsj saat mengajari putra-putri keluarga besar tanah lahirku, sekalipun kau hanya berniat melucu – menghilangkan kejenuhan dalam kelas, kau akan segera dituduh melecehkan HAM dan kau akan dilaporkan pada pihak berwajib.
Bagaimana denganku? Aku belum tahu apapun tentang humor dan harga diri. Aku memilih menjadi seperti ikan mati – mengikuti arus air. Kalau keluarga besar tanah lahirku tertawa, aku ikut tertawa, kalau mereka marah, aku juga ikut marah. Kalau kapal tetangga tanpa ijin masuk wilayah tanah lahirku, aku ikut merasa marah dan geram karena aku lihat keluargaku juga demikian. Kalau tarian, musik, ataupun wayang warisan mbahku diklaim tetanggaku sebagai miliknya, keluarga besar tanah lahirku sudah pasti marah besar, dan aku juga ikut marah besar, meskipun aku sendiri tidak tahu tarian apa itu, musik apa itu, apa sih wayang, lah wong aku lebih suka yang dari kebarat-baratan biar dianggap modern kok – tapi gak apa lah, yang penting ikut marah biar gak dituduh sebagai penghianat bangsa.
Kadang aku juga bingung dengan keluarga besar tanah lahirku itu. kalau hal-hal yang menurutku jarang mereka gunakan dalam keseharian diklaim tetangga, mereka marah besar. Tapi, kalau hal-hal mendasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari dikuasai tetangga, mereka justru mendukung. Dan aku pun juga ikut mendukung, selain karena ikut-ikutan, mungkin juga karena aku suka kebarat-baratan yang modern itu. Kalau disuruh milih, aku lebih suka belanja di supermarket modern yang kebanyakan milik tetanggaku itu daripada belanja di pasar tradisional milik keluargaku sendiri, lah keluarga besar tanah lahirku sendiri juga suka belanja di sana. Melihat sikap keluarga besar tanah lahirku seperti demikian, aku menjadi lebih tidak paham lagi dan bahkan sudah lupa pesan mbah-mbahku agar aku mencari tahu arti kata harga diri yang dimaksudkan mbah-mbahku dulu. Maaf, mbah – aku bosan mengingat cerita heroikmu berjuang mati-matian demi harga diri. Aku lebih tertarik mencari arti kata humor di google daripada menelusuri lembaran kamus untuk mencari arti kata harga diri. Maaf, mbah.
Penulis Cerita: Rizky Akbar
 

Kekejaman Cinta Budaya

| komentar

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Tik….
Suara detikan jarum jam di ruangan gelap ini membuat jantungku terasa ingin keluar dari tempatnya. Perkenalkan aku Ajeng Rahayu, aku adalah lulusan dari UNS atau yang sering di sebut Universitas Sebelas Maret, aku lulusan S1 Sastra Jawa.
Di sini hanya ada aku, gelap, dan benda-benda hebat yang pernah ada di Indonesia. Sekarang tepat pukul 01.00 WIB, dan aku berada di ruang koleksi seorang rentenir terkenal di Desaku. Koleksi ini bukanlah hal yang benar menurutku, karena koleksi-koleksinya ini akan di jual ke Negara lain dengan cara di selundupkan. Ya, mereka tidak mendapat izin dari Negara untuk memperjual belikan barang-barang ini, tapi si rentenir tolol itu tetap saja menjualnya. Kalian harus tahu bahwa benda-benda koleksi rentenir tolol yang bernama Pak Norman ini bukan hanya sekedar benda ecek-ecek yang di perjual belikan di pasar, melainkan ini adalah harta Negara. Harta Negara yang kumaksud bukanlah uang ataupun emas yang berlimpah, melainkan Budaya Indonesia. Budaya yang seharusnya di lindungi malah di jual oleh rentenir tolol itu. Sebenarnya aku adalah pimpinan dari suatu sindikat yang di cari-cari oleh polisi, yaitu sindikat jubah hitam. Anggota sindikat jubah hitam adalah aku, Ila Keila dan Dimas Dirgantara.
Huuufft..
Hampir saja aku mati karena loncat dari lantai 2 ruangan tadi. Aku berhasil mengambil barang yang akan di jual rentenir tolol itu, benda itu berupa DVD yang berisi gerakkan 5 tarian khas Indonesia, yaitu tari saman, tari kecak, tari orek-orek, tari remo dan tari jaipong. Benda yang lain berupa beberapa alat untuk menarikan tarian orek-orek dan tari saman, aku jelas tahu apa yang akan di lakukan orang-orang yang membeli barang-barang ini, pasti mereka ingin mengklaim budaya Indonesia. Setelah aku loncat dari lantai 2 tadi, aku harus berjumpa lagi dengan teman-teman sindikatku. Ya, mereka memang ku suruh untuk berjaga di bawah.
“Ayo, aku sudah berhasil mengambil barangnya.” ucapku pelan ketika aku sudah berhasil menemukan mereka, dan kami mulai berjalan mengendap-endap.
“Kau yakin itu barangnya?” tanya Dimas memastikan.
“Tentu saja ini barangnya, Dim. Kali ini kita ke manakan barang ini?” tanyaku sambil menunjuk tas besar yang berada di punggungku.
“Besok kita akan paketkan barang-barang itu ke museum yang berada di kota. Biar mereka saja yang mengamankan.” jawab Dimas saat kami sudah hampir sampai di tempat parkir mobil sindikat kami. Seusai penjelasan Dimas, kami langsung berlari menuju mobil PW hitam itu.
Blaammm…
Suara pintu mobil yang kami tutup telah membangunkan anjing penjaga rumah itu, anjing itu mengaung-aung untuk memanggil si majikan. Tapi, dengan sigap Dimas langsung melajukan mobil kami untuk pergi dari tempat biadap ini.
“Woi, komplotan jubah hitam!! kembalikan barangku!!” teriak Pak Norman si rentenir tolol itu yang baru saja keluar dari rumah saat mendengar gonggongan anjing penjaga rumah. Tentu saja kami tak menghiraukan teriakkan rentenir tolol itu.
“Ila, besok kau paketkan barang-barang ini ke museum yang berada di Jogja. Terserah mau museum yang mana.” ucap Dimas datar.
“Baiklah, Dim. Itu sangat mudah untuk seorang Ila.” jawab Ila sambil membanggakan diri.
“Ajeng, apa yang kita lakukan ini sudah benar?” tanya Ila secara tiba-tiba padaku.
“Hei, Ila. Tentu saja ini benar, walaupun cara kita sedikit salah. Kita menyelamatkan harta Negara. Seharusnya Pak Presiden berterima kasih pada kita, bukannya melacak sindikat kita. Aku sedih dengan keadaan Indonesia sekarang. Banyak orang yang tidak mau mempelajari budaya sendiri. Apa perasaan kalian sama denganku?” tanyaku balik pada kedua Sahabatku.
“Kami juga merasa begitu.” jawab keduanya kompak. Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di markas rahasia kami yang terletak di perbatasan Desa.
Brraaakk..
Suara pintu berwarna hitam itu di tutup oleh Ila. Aku berjalan menuju kursi kayu sederhana yang berada di sudut ruangan lalu aku menaruh tas besar yang berisi barang-barang tadi. Sementara Ila bersandar di pintu, sedangankan Dimas lebih memilih untuk bersandar di dekat jendela.
“Setelah misi ini apakah ada misi yang lain, Ila?” tanyaku memecah keheningan.
“Hmm, menurutku belum ada.” ucap Ila sambil memegang benda elektronik yang berbentuk pipih itu. Ya, memang dari sindikat kami yang paling mengerti tentang benda Elektronik adalah Ila, maka ia kami percaya untuk membuat jejaring sosial. Dari situlah ia mendapat berbagai informasi, terkadang ia juga browsing internet untuk mendapat informasi kejahatan-kejahatan. Aku menghela nafas saat mendengar jawaban dari Ila. Aku yakin Ila saat ini sedang browsing internet tentang biaya pengiriman paket melaluli via JNE.
“Untuk mengirim paket ke museum kita butuh uang Rp 30.000,00. Menurutku itu tidak masalah. Bagaimana?” tanya Ila, benarkan dugaanku tentang Ila yang sedang browsing di via JNE.
“Menurutku juga tidak masalah. Besok kau harus segera mengirimnya, Ila!!” perintah Dimas.
“Baik Tuan cerewet.” jawab Ila sewot.
“Aku lelah, aku ingin istirahat.” ucapku bangkit dari posisi dudukku dan berjalan menjauh dari mereka.
“Ahh, tunggu, satu lagi. Kalian ingatkan perjanjian kita bila kita sudah tak bisa lagi melakukan apa-apa untuk Indonesia?” tanyaku tiba-tiba tanpa membalikkan badanku.
“Tentu kami masih ingat. Bila kita sudah tak berguna, kita akan menyerahkan diri pada Polisi dan bersedia menjalani hukum yang berlaku, tapi sebelum itu Pak Presiden harus berterima kasih dulu pada Sindikat Jubah Hitam.” jelas Ila mengungkapkan janji yang dulu pernah kami ikrarkan.
“Bagus.” jawabku singkat lalu melanjutkan langkahku menuju kamar.
“Dia terlalu pesimis. Maksudku pesimis bahwa kita tak berguna untuk Bangsa. Benar bukan?” tanya Dimas saat aku sudah meninggalkan ruangan bernuansa klasik tadi. Padahal aku masih mendengar percakapan mereka.
“Bukan begitu, Dimas. Ajeng hanya takut bila kita tertangkap dan masih banyak kejahatan di luar sana yang belum terselesaikan.” jawab Ila sinis.
“Hei, Indonesia adalah Negara Hukum. Bukan negara sekumpulan orang bodoh yang membiarkan banyak kejahatan di mana-mana.” balas Dimas tak kalah sinis.
Hhhh..
Aku menghela nafas saat mendengar ke 2 sahabatku ini berdebat.
“Iihh, Dimaass” jengkel Ila sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Hmmpp” tawaku yang tertahan membuat mereka tersadar bahwa aku masih berada di dekat ruang tempat mereka beradu mulut.
Dan kekehanku yang tertahan mengakhiri pertemuan kami pagi ini. Benar saja ini sudah pagi, sekarang sudah pukul 02.11 WIB. Akhirnya kami bergegas untuk tidur di kamar masing-masing.
Keesokkan harinya tepat pukul 08.05 WIB Ila baru saja pulang dari memaketkan Harta Indonesia yang kami cintai. Ila yang sedang membaca koran yang ia beli langsung menghampiri aku dan Dimas yang sedang bermain catur.
Brraass, suara koran yang di hempaskan Ila di atas papan catur membuat aku dan Dimas terkejut. Aku langsung meraih koran itu, sementara Dimas menatap Ila heran.
“Apa? penyelundupan burung elang Jawa? dan pakaian adat Jawa?” tanyaku menaikkan sedikit frekuensi suaraku.
“Yup, kita harus bertindak. Polisi terlalu tolol untuk melacak mereka, aku sudah menemukan tempat transaksi itu. Tepatnya ada di pelabuhan Galimanuk berada di selat Bali. Apa kita akan ke sana? kita butuh waktu 3 jam dari sini. Bagaimana?” jelas Ila.
“Segera bersiap kita akan ke sana.” seru Dimas sambil berdiri lalu pergi.
Brumm..
Suara deruan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan raya, untung saja kami tidak terhalang oleh macet. Kami sudah hampir sampai di pelabuhan yang menghubungkan antara Jawa dan Bali. Di sepanjang perjalanan kami menyusun rencana untuk bisa merebut kembali biota alam Indonesia & Budaya Indonesia tersebut. Polisi memang tolol tidak bisa melacak keberadaan mereka, mereka hanya mendapat kabar angin tentang hal tersebut. Ciiitt, suara decitan rem mobil membuat kami siap siaga untuk menjalankan siasat kami.
“Sekarang!! Bergerak!!” seru Dimas lantang. Kami langsung keluar dari mobil dan berlari ke tempat masing-masing. Kami hanya berbekal senjata api. Tapi, sebenarnya kami tak pernah menggunakan senjata api yang berisikan peluru. Kami hanya menggunakan senjata api yang berisikan cairan-cairan yang bisa melumpuhkan penjahat. Seperti saos, sambal dan parfum yang berbau mematikan. Kami bergerak sesuai rencana yang di susun oleh Dimas.
Saat Dimas memberi kode, barulah kami menarik topeng betawi yang kami gunakan untuk menutupi wajah kami. Selama kami bersindikat jubah hitam, tidak ada satu pun yang mengetahui wajah kami. Itulah yang membuat pemerintah jengkel pada kami, karena tak bisa mengetahui siapa kami. Dimas maju dengan gagah, ia menodongkan senjatanya dan berucap
“Jangan bergerak! hentikan transaksi ini, atau kalian berurusan dengan kami.” Aku pun terkagum-kagum karenanya.
“Hahahaha..” gelak tawa para transaksi gelap itu membuat aku, Ila dan Dimas bingung.
“Ternyata sindikat jubah hitam sangat mudah di jebak. Tangkap mereka. Aku Suwarji, Polisi dari Polda Metro Jaya.” Ucap salah satu dari mereka sambil menunjukkan dompet yang berisikan identitasnya.
Seketika kami terkejut oleh ucapan orang tua itu. Aku, Ila dan Dimas langsung panik. Seketika dari belakang kami masing-masing ada orang yang menjerat kami dengan besi bulat yang melingkar di pergelangan tangan kami.
“Sial.” umpatku. Kami di bawa ke kantor Polisi terdekat untuk di tahan sementara waktu di tempat itu.
Hah?
Kejutku saat aku membaca sedikit berita di kantor Polisi. Aku melihat berita itu di dinding informasi orang yang di cari.
“Ila, identitas kita belum terbongkar. Bisakah kau cari tahu tentang sindikat organisasi Red Criminal. Organisasi jahat berasal dari Belanda sedang ada di Indonesia, di duga mereka menyebarkan barang terlarang di Indonesia, tepatnya ada di Bali. Polisi tidak becus untuk mengatasi mereka. Aku pernah mendengar organisasi ini selain menyebar barang Terlarang, mereka juga pernah mencuri Harta Suatu Bangsa. Bila mereka di Indonesia, mereka sedang mengincar Bali. Mereka perbah menculik seorang penari jaipong dan membawanya untuk bisa mengklaim budaya kita.” jelasku panjang kali lebar pada Ila.
Lalu Ila diam-diam sedang browsing tentang Red Criminal. Sementara Dimas hanya mendengarkan ceritaku. Sepertinya ia sedang merenungkan sesuatu. Saat ia selesai merenung, Dimas menatapku. Aku mengerutkan keningku. Seolah mengerti Dimas ingin berucap
“Aku juga pernah mendengar organisasi Red Criminal. Dan aku tahu siapa salah satu komplotan dari mereka. Kalian harus tahu mereka terdiri dari 5 orang anggota. Pemimpin mereka sebenarnya adalah orang dari Indonesia, dulu ia temanku, tapi ia berkhianat pada Tanah Air karena ia berfikir ‘Di Indonesia tidak ada yang bisa melindungi budayanya sendiri. Maka dari itu ia menculik dan menyelundupkan hasil alam, biota alam dan budaya Indonesia yang ada ke Belanda. Karena menurutnya Belanda yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad mampu melindungi budaya Indonesia. Sementara itu pemerintahan Belanda belum menyadari gerak-gerik mereka.” jelas Dimas.
Sekarang kami berada di sel penjara dengan pengawasan ekstra ketat, tapi mereka belum menyadari tentang gerak-gerik kami sekarang.
“Apa yang kau maksud ketua organisasi itu adalah Yudha? Yudha Dharma?” tanyaku melotot pada Dimas, sementara Ila masih sibuk dengan benda elektroniknya.
“Ya, dia adalah Yudha, Yudha Dharma. Teman masa kecilku. Sudahlah, kita harus segera bertindak. Ila, sudahkah kau temukan informasi tentang organisasi Red Criminal?” tanya Dimas pada Ila.
“Sudah, benar Red Criminal sekarang ada di Indonesia, tepatnya di Bali. Mereka membangun markas di dekat pelabuhan agar mudah melarikan diri bila ketahuan. Mereka ada di kota Cekik. Kau benar Dimas, ketua organisasi Red Criminal adalah Yudha Dharma. Sebenarnya pemerintah Belanda sudah mengetahui tentang mereka, tetapi belum mengetahui tujuan organisasi Red Criminal.” jelas Ila sambil membaca penjelasan yang ia dapat di beberapa website dan jejaring sosial.
“Kita harus ke Cekik sekarang. Dengarkan aku, ini rencananya. Ingat misi kita adalah menyelamatkan Harta Indonesia, Budaya KITA. Yudha kesalahan besar bila tidak ada yang bisa melindungi budaya INDONESIA. Kita, kita akan membuktikan kepada Yudha bahwa kita bisa melindungi Budaya Indonesia…” Dimas menjelaskan rencananya pada ku dan Ila. Kami hanya manggut-manggut mendengar rencananya. Tetap saja senjata yang kami gunakan adalah senjata api palsu yang berisi saos, sambal dan parfum berbau mematikan.
Daaarrr..
Suara senapan api yang kami buat-buat, padahal itu hanya bunyi rington ponsel Dimas.
“Tembakan, kita di serang.” ucap salah satu dari Pak Poisi.
“Haha, itu adalah kawan-kawan kami yang akan menyelamatkan kami.” ucapku berbohong.
“Kalian pikir aku percaya? kalian hanya beranggotakan 3 orang.” sahut Pak komandan.
“Kami, diam-diam membentuk pasukan senjata, Polisi tolol.” teriak Ila sewot. Polisi menjadi panik karena pernyataan dari Ila.
Sementara itu Polisi yang membawa kunci sel tahanan berlari kesana-kemari. Aku berharap kunci sel tahanan itu jatuh agar kami bisa menyelamatkan Budaya Nusantara. Crriingg.. suara kunci jatuh itu bagaikan hentakan kaki seorang penari yang membuat getaran pada jiwa nasionalismeku. Seketika Dimas berjongkok, dan mencoba meraih kunci itu, sementara para Polisi disibukkan oleh pengawasan di sekitar kantor Polisi. Heh, mereka benar-benar tertipu. Saat Dimas berhasil meraih kunci itu, Dimas langsung memasukkan kunci itu pada lubang kunci. Dan pintu sel itu terbuka setelah Dimas memutar kunci itu.
Kami segera berlari ke pelabuhan, tak ada seorang Polisi pun yang mengetahui kami. Saat kami sampai di depan pelabuahan, kami bingung untuk mengemudikan kapal yang mana. Tetapi Dimas memutuskan menggunakan kapal boat yang biasa di gunakan oleh nelayan di sekitar sana. Kami tentu saja menyewa kapal itu. Dimas-lah yang mengemudikan kapal, aku dan Ila mencoba menyusun setrategi persenjataan. Padahal jelas kami hanya akan menggunakan senjata itu-itu saja. Dimas mengemudikan kapal boat ini dengan kecepatan tinggi.
Gelombang laut yang melewati selat Bali ini sedikit menggoyangkan kapal ini. Tapi, dengan kegigihan seorang Dimas, kami berhasil melalui itu semua. Untuk perjalanan dari Jawa ke Galimanuk kami hanya membutuhkan waktu 1 jam. Setelah kami sampai banyak orang yang menatap aneh pada kami, pasalnya kami sedang menggunakan pakaian serba hitam dan berbalut jubah hitam, dan yang membuat orang heran adalah kami memakai topeng khas betawi. Kami melangkah pergi dari pelabuhan. Ila berkata
“Kita sewa saja mobil untuk ke Cekik.” Aku dan Dimas Setuju dengan usul Ila.
Nyihihihi…
Suara kikikkan Kuda yang kami kendarai membuat hatiku sedikit takut karena aku jarang menunggang kuda. Ya, kami tidak mendapat sewaan mobil, yang kami temukan hanya tempat pelatihan kuda. Kami menyewa 3 kuda. Kata Pak pelatih di sana dengan menunggang kuda menuju Cekik kami membutuhkan waktu 1,5 jam. Kami melewati berbagai pemandangan yang merupakan kekayaan Indonesia, aku bangga menjadi Bangsa Indonesia. Saat, menunggang kuda aku kembali teringat pada tokoh pahlawan idolaku, yaitu R.A Kartini. Aku sangat mengaguminya karena ialah yang memperjuangkan hak emansipasi wanita. Tapi, pikiranku tentang Pahlawan idolaku harus terhenti karena kami harus berjuang mempertahankan Budaya Indonesia.
Tik, Tok, Tik, Tok, Tik… setiap detik jarum jam telah kami laluli, dan sampailah kami di Cekik. Ila sudah berhasil melacak keberadaan markas mereka. Jadi, kami bisa langsung menuju ke tempat tersebut. Tempat itu lebih buruk dari markas kami, lebih kotor dan tidak terurus. Kami turun dari kuda kami masing-masing. Dimas kembali memberi instruksi, kami pun bergerak sesuai instruksi.
Syaaatt…
Suara sayatan benda tajam yang di gunakan organisasi Red Criminal. Ya, kami tertangkap basah oleh organisasi kere ini saat kami akan membebaskan para penari tradisional Nusantara. Memang benar mereka beranggotakan 5 orang, dan kami? kami hanya 3 orang dan senjata kami hanyalah senjata mainan. Apa kami akan selamat? Ya, Tuhan bantulah kami.
Untung saja kami sempat belajar bela diri dari seorang jawara terkenal di Desa. Kalau tidak? tamatlah riwayat Jubah Hitam sekarang.
“Ternyata kalian Dimas, Ajeng, Ila. Apa Indonesia sudah becus menjaga Budayanya? Kurasa tidak ada yang sadar bila Budaya Indonesia harus di jaga.” seru seseorang dari balik pintu, lalu ia keluar. Ya, dia, dia adalah Yudha Dharma teman masa kecil Dimas.
Dimas menatap tajam Yudha, tanpa aba-aba Dimas langsung maju untuk menghajar penjahat kelas kakap itu. Saat mereka bertarung, aku dan Ila membebaskan tawanan dan biota alam Indonesia. Sementara untuk barang-barang Budaya Indonesia seperti pakaian untuk penari-penari tadi kami masukkan ke dalam tas jelajah yang berukuran lumayan besar.
“Yudha, kami berjuang untuk melindungi Budaya Indonesia. Kami, membentuk organisasi Jubah Hitam untuk itu. Kau tahu senjata ini? senjata ini hanya mainan. Kami tidak pernah melukai siapa pun. Kami mencuri, mencuri barang Harta Indonesia yang akan di selundupkan ke luar negeri. Bila kami berhasil mencuri, kami mengirim benda-benda itu ke tempat yang seharusnya. Kau harus tahu itu Yudha.” teriakku emosi. Saat itu aku dan Ila sudah berhasil melumpuhkan 4 kawanan Red Criminal. Yudha yang mendengar perkataan kami tertegun, tapi nampaknya ia tak percaya akan ucapanku.
“Kalian pembohong.” bentak Yudha.
“Kami tidak berbohong. Kau bisa lihat di koran bahwa kami adalah buronan.” Teriak Ila tak kalah emosi.
“Kalian pembohong.” untuk kedua kalinya Yudha meninggikan oktaf suaranya.. ’SYAT’ suara sayatan pisau tajam itu mengenai leher Dimas. Aku dan Ila yang menyaksikan itu segera maju dan aku langsung menghantam Yudha dengan tinju terbaikku.
“Yudha.. ka..kau.. ad.. adalah, sa.. sahabat, terbaikku. Ka, kami berjuang, un.. untuk melindungi INDONESIA.” jelas Dimas terbata-bata dan memberi penakanan pada kata terakhirnya, dan akhirnya Dimas meninggal.
Ila yang juga merasa tak terima atas kematian Dimas langsung menendang perut Yudha, tapi Ila kalah cepat dengan Yudha. Yudha memegang kaki Ila, lalu menariknya dan menancapkan pisau di perut Ila lalu menariknya lagi perlahan. Mataku memerah, nafasku terengah-engah saat melihat hal tersebut.
“Yudha… Kau brengsek, kau tolol, kau bodoh. Aaaa..” teriakku emosi pada Yudha yang telah membunuh 2 sahabatku.
Jleeepp..
Suara tusukkan itu membuat jantungku berdebar. Ia berhasil menusuk pahaku, sehingga aku tak bisa bergerak. Ya, saat aku akan memukulnya, ia menancapkan pisau di pahaku lalu mencabutnya. Air mataku sudah tak tertahankan lagi, air mata ini sudah turun dengan derasnya.
“Kau boleh membunuhku, Yudha. Tapi, kau akan menyesal. Tapi kami tak akan menyesal untuk mati, karena kami telah melindungi apa yang kami cintai. Yaitu, INDONESIA.” kata-kataku seolah mengguncang hati nurani Yudha.
Wiu, Wiu, Wiu… Suara itu, suara sirine. Aku yakin Polisi telah menyadari kaburnya sindikat Jubah Hitam. Aku tak bisa kabur lagi, dengan sedikit tenaga, aku membuka topengku dan topeng ke dua sahabatku.
“Kau boleh lari Yudha. Tapi, jangan ambil apa yang kami cinta.” ucapku tegas. Yudha membatu di tempat, ia menjatuhkan pisaunya. Dan polisi masuk ke dalam markas organisasi Red Criminal yang menurutku kumuh ini. Yudha dan organisasinya di tangkap, dan ke dua mayat sahabatku di amankan Polisi, sementara aku di bawa ke kantor Polisi di Ibu Kota Negara Indonesia.
Kedua sahabtku telah di makamkan, sekarang aku harus berjuang untuk membersihkan nama baik mereka dan nama baik Jubah Hitam. Hari ini tepatnya Senin, 15 Oktober 1997 pukul 10.00 WIB aku berada di ruang sidang.
“Kami membentuk organisasi ini untuk melindungi Budaya Indonesia. Kami mencuri, mencuri di tempat orang-orang yang ingin menjual harta Nusantara. Tetapi, kami tidak pernah menjual barang-barang itu. Kami mengirimnya ke tempat benda itu seharusnya berada. Bila tidak percaya, cek di via JNE. Sebelum kematian Alm. Sahabatku Ila, dia sempat mengirim Harta Tanah air ke museum yang ada di Jogja. Dan saat kami di tangkap di Bali, saat itu kami menyelamatkan para tawanan, biota alam dan benda tradisional Indonesia. Kami berperang melawan teman kami sendiri Red Criminal, Yudha. Kalian telah menghukum mati Yudha. Apa kalian ingin menghukum aku juga?” jelasku pada pihak yang berwenang, penjelasanku di saksikan oleh Pak Presiden. Jantungku berdebar menunggu jawaban dari para orang hebat di depanku ini.
Wussshh…
Suara desiran angin ini mengingatkanku pada kejadian 15 Oktober kemarin. Pak Presiden memutuskan aku akan di penjara selama 3 tahun mulai besok, mereka memberikanku waktu bebas sehari, yaitu hari ini. Tetapi, aku tetap di kawal oleh Polisi yang menurutku tolol. Sekarang aku berada di depan makam ke tiga sahabatku Dimas, Ila dan Yudha. Aku senang bisa berjuang melindungi Budaya Indonesia. Tetapi, aku sadar bahwa cara kami salah. Kami salah strategi untuk melindungi apa yang kami cinta.
Sahabat akan selalu di hati, inikah yang dinamakan Kekejaman Cinta Budaya? Heh, menurutku ini sangat kejam, tapi lebih kejam lagi seseorang yang mencuri hak orang lain.
Janji kami telah terpenuhi, kami sudah menyerah dan mengikuti proses hukum, dan yang membuatku bahagia. Pak Presiden mengucapkan terima kasih pada Jubah Hitam. Ini sangat menggembirakan.
Aku Cinta Budaya kita, Budaya Indonesia, Budaya Nusantara, Budaya Tanah Air. AKU BANGGA JADI ANAK INDONESIA.
Penulis Cerita: Endah Nisrinasari
 

Nan Toa

| komentar

“Jas merah”. Aku teringat akan pesan presiden perdana Republik Indonesia, dalam buku sejarah yang ku pinjam di pustaka daerah kemarin. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” itulah maknanya.
Hari ini, happy birthday ke Sembilan kabupaten daerahku, tepatnya 22 Oktober. Semangat patrionisme dalam dadaku memberontak keluar, seakan ikut berjuang kembali bersama Jendral Sudirman walau hanya bersenjata bambu runcing. Kemenangan akan selalu muncul dibalik semangat yang membara.
Aku bersiap menuju peraduan menimba ilmu, menunggu angkutan sekolah bersubsidi yang biasanya menjemput pukul Enam Setengah. Bersama teman sekampungku, Andi. Kami angkatan 1997. Empat puluh dua menit melaju, kami terjun di depan gerbang SMAN 1.
“Masih awal, gimana kalau kita ke kantin Pak Tomo”. Hasutku pada Andi. Pak Tomo guru Sosiologi di kelasku, Ia belum pulang dari kebunnya. Menasehati monyet-monyet nakal yang usil. Agar jangung manisnya tumbuh normal.
“Ayolah”, jawab Andi sambil melirik jam tangan hitam yang melingkari gelangan tangan kirinya.
“Kring, kring, kring,” terdengar raungan lonceng. Tanda Upacara bendera akan segera dilaksanakan.
“Topi, Oke. Sepatu, Oke. Rambut, No problem,” batinku. Mengingat selalu ada razia atribut.
“Aduh. Aku lupa ikat pinggang” rintih Andi.
“Terus gimana, nih?,” tanya ku khawatir. Saat upacara Pak Lubis: Guru kimia yang Killer, senang sekali menggeledah kesalahan anak didiknya. Dia sangat perhatian. Mungkin itu demi melatih kedisiplinan. Tanpa disiplin kita tidak akan sukses. Itulah Motonya.
“Begini sajalah,” cetus Andi, sambil menyodorkan sedikit bagian bawah baju putihnya, menutupi lingkaran pinggang.
“Yakin?” godaku.
“Aman, aman.” singkat Andi.
Kami menuju lapangan, dengan gerakan Sa’i : lari-lari kecil mirip jamaah haji di tanah Suci : Mekah. Setiap kelas berkumpul dan rapi berbaris bersama kelas masing-masing, jama’ah guru juga tepat di sisi kanan depan lapangan, 10 meter arah kanan tiang bendera.
Upacara dimulai, protokol mengeraskan suara bernada reporter dengan kecepatan 10 Km/jam. Komandan upacara, Tegas mengambil alih pasukan. Inspektur di jemput seorang ajudan bak bupati ketika menghadiri kondangan. Pandangan kami Lurus kedepan. Menerobos buaian cahaya yang melintas. Kaku, siap, dan serius. Tiga sosok : dua pria mengapit seorang wanita melangkah serentak, kaki silang-menyilang seperti hendak terbentur, namun itu mustahil. Mereka ahli. Tegap, tegas, bagai robot buatan Amerika. Merah putih di ulur menuju punjak kejayaan, melambai-lambai, tenang dan damai tersapu angin. Gema Indonesia raya menggelegar halaman. Motor, mobil dan sepeda yang lalu-lalang terpaku. Patriotisme bergejolak.
“Hiduplah Indonesia raya,” sayup-sayup lagu serentak berhenti. Gejolak patrionisme membara bagai api tersiram bensin tiga liter. Sang berani dan si suci telah menjulang, siap melayani sapaan awan. Melambai-lambai ria, mengingat tentara Belanda yang telah lama kocar-kacir.
Pak Hairul-Inspektur upacara terpancang tegak, tegap dan wibawa. Persis Soekarno kala 17 agustus 1945 yang tanpa teks di tangannya.
“Istirahat di tempaaaaat,” gaung komandan bernada guruh. Aku menikmati sinaran mentari pagi yang mengalirkan Vitamin D untuk penguatan tulang-tulangku. Terus berdiri dengan posisi kedua tangan terlingkung di belakang, tepat di atas bagian bokong. Protokol mengisyaratkan amanat Pembina upacara. Inspektur beraksi. Beberapa bait yang terekam dalam memori Super Giga titipan Tuhan kepadaku.
“kita patut bersyukur, hari yang berbahagia ini : Ulang tahun ke-9 Kabupaten kita. Jadikan moment ini untuk memacu semangat pendidikan kalian, bangunlah daerah ini memalui pendidikan, perkembangan pendidikan berbanding lurus dengan perkembangan daerah. Sebagai anak daerah kalian dituntut menguasai daerah. Menjelajah, Menggali potensi, dan mengembangkan kretifitas. Awali dengan sejarah daerah ini, dengan sejarah kita dapat dengan sempurna memahami sesuatu hal dari akar-akarnya. Begitu juga dengan Kabupaten ini, ungkapan “laut sakti rantau bertuah” harus kalian pahami.
Potensi alam tidak terhingga, ciptaan Tuhan yang kuasa memang tak terkira. Cadangan Gas alam 40% dari gas dunia. Laut terbentang 98% menggerogoti daratan. Cintailah daerahmu dengan berbuat hal yang berguna.”
Empat puluh satu menit sebelas detik. Kami tercengang. Masih kaku. Kaki terasa keram, ubun-ubun terserang demam dengan amper 100 derajat Celsius. Sengat mentari seakan berjarak beberapa kilo meter dari kepala. Panas, haus, dan menyenangkan. Upacara dibubarkan. Semangat Indonesia raya mesih tertanam, terus tertanam dan tetap tertanam.
Sore ini, Aku bersama teman sekelas, menuju pantai kencana. Persis pantai Nusa dua : Bali yang tanpa turis. Permainan rakyat dipajang memenuhi luasan tanah kuning, di atapi awan putih nuansa bias laut yang biru. Sepoi-sepoi melanda menghanyutkan pandangan, menerpa jiwa, menusuk sanubari, membuat membahana para pengunjung. Panjat pinang 3,5 meter dengan peserta 4 orang ditambah 1 orang. Bergelantungan kupon-kupon, melambai-lambai menunggu seorang pahlawan penyelamat : bermandikan Oli kotor. Merayap di pokok pinang. Tarik tambang antar kecamatan, tepat di sudut utara. Bersorak supporter bagaikan Derby manchester akan bertanding sore ini di stadion Old Trafford – Inggris. Sebelah selatan, tiang-tiang seukuran betis tercancang. Berbaris lingkar. Terdengar suara hitungan. “Satu, Ikat kepala. Dua, gulung penuh. Tiga, siap-siap”.
Benda pipih yang berputar dilemparkan bersamaan ke tanah, pak cik-pak cik sibuk memulung kembali menggunakan skop khusus: berbentuk sendok nasi namun agak besar dan rata terbuat dari triplek. Gasing tetap berputar. Menari-nari di atas kaca. Pakcik-pakcik duduk rapi. Posisi nol besar persis mengelilingi api unggun di malam penutupan camping : pramuka.
Terus berputar. Tiga puluh menit berlalu, lima gasing berhenti berputar. Mundur dari arena. Empat puluh tujuh menit, tersisa dua gasing. Bersaing ketat. Saling menunjukkan potensi. Meliuk-liuk, namun putaran semakin lembut nan lamban. Pertanda tenaga listrik : Baterai melemah. Lima puluh dua menit. Jawara bertahan. Angka dua juta rupiah sudah dibenak pak cik: Tuan gasing hitam nan berkilau. Juri mengintrogasi jawara. Mengukur diameter kemudian membelah dada sang gasing, khawatir ada besi atau timah yang memberatkan hingga perputaran gasing menjadi lebih lama. Tamatlah sang juara. Tuannya tentu tidak merasa iba. “Itulah aturan main yang disepakati,” jawabnya ketika kami tanya.
Kelompok ibu-ibu riuh di sisi tenggara, mengayam ketupat sambil berjalan. Gemuruh, nyaring dan menggelora. Hari mulai gelap, bukan karena corak hitam yang menggantikan awan putih. Mentari tersipu malu, cahaya memudar. Akibat rotasi bumi yang mengelilingi matahari hingga tercipta siang dan malam. Maghrib akan bertamu. Kami melangkahkan gerakan kaki ke arah peraduan, memaksa diri menuju rumah masing-masing.
Ingatanku terus berkobar. Penarasan tentang sejarah daerah ini semakin kuat. “Semua hal pasti ada sejarahnya”, pikirku. Manusia berasal dari tanah, sejarah dalam al-quran. Namun evaluasi Darwin bertentangan, Manusia berasal dari kera. Samakah sejarah daerah ini dengan perjalan Columbus yang menemukan daratan. Negeri Paman Sam itu. Siapakah manusia pertama pulau ini?, dari mana nama daerah ini dibuat?, Pertanyaan menyerang otak miniku. Aku pusing. Berharap terlelap lebih awal malam ini.
Harapan bermimpi tentang semua hal yang dipertanyakan di benakku, walau mimpi hanyalah bunga tidur. Itu sedikit memberikan jawaban. Aku mulai merangkai mimpi. Kawan, ternyata mimpi bisa dirancang. Aku pernah membaca di media massa. Tips merancang mimpi. Salah satu baitnya, “pikirkan terus menerus apa yang ingin kamu impikan hingga matamu terpejam.” Insyaallah hal itu menjelma dalam mimpimu. “Malam ini moment tepat untuk mengaplikasikannya”, pikirku. Benar saja, aku pun bermimpi sesuai rencana. Mimpi yang tak dapat dirangkai dalam sastra. kelu bila di ungkap pada bibir. Terputus-putus dalam dunia ingatan.
Pagi ini mata pelajaran sejarah di kelasku. Pak Usman menampakkan posturnya yang kurus tinggi legam di ruang tunggu para guru. Sebuah lorong yang dihuni bergantian oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Sebelum berangkat berjuang berbagi ilmu pada penerus kecil yang setia menunggu di bilik kelas.
“Assalamu a’laikum,”
“Walaikum salam,” nada kami serentak.
“Selamat Pagi,” sapa Pak Usman.
“Pagi,” suara gemuruh bersamaan kembali menggelegar dalam kelas. Pelajaran Berlangsung. Aku dan Andi duduk bersebelahan. Tepat di sudut kanan, menempel di tembok bercorak putih orange. Baris ke dua dari muka. Aku kembali sakau. Ingin tahu sejarah daerahku. Sejarah amat penting bagiku demi menyelami lebih dalam potensi daerah ini dan demi kecintaanku pada tanah tumpah darah.
“Ini kesempatannya” batin ku. Tiga puluh menit lewat lima puluh satu detik. Pelajaran hampir selesai.
“Ada pertanyaan?,” Pak Usman melontarkan kalimat penting bagi muridnya. Kadang saat murid tidak bertanya itu tandanya paham, kadang pula murid itu paling tidak paham sehingga tidak bisa bertanya.
“Saya, Pak?,” sontak Aku mengacungkan tangan.
“Iya, Apa pertanyaanmu?,”
“Bisakah bapak bercerita tentang sejarah daerah ini?”
Pertanyaanku membuat Pak Usman harus mengulang kaji. Kembali ke singgasana merah tua : kursi. Melipat tangan, menegakkan badan dan memulai merangkai cerita.
“Pertanyaan bagus” puji Pak Usman bernada rata. Dia mulai melangkahkan kata-katanya. Seperti yang dijelaskan ilmu Fisika bahwa suara bisa di dengar manusia karena merambat melalui udara. Corong-corong rekaman dalam otak kanan dan kiri telah di aktifkan. Siap menangkap semua huruf, semua kata dan semua kalimat yang disampaikan Pak Usman.
“Kala itu adalah masa Pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan asal Sumatra. Ada seorang pendeta cina yang menjelajah laut cina selatan kemudian beristirahat dan singgah di Sriwijaya. Pendeta itu Bercerita bahwa dia sebelum sampai ke Sriwijaya telah mengarungi laut dan berjumpa gugusan pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau besar itu dalam bahasanya di ungkapkan “NAN TOA”. Nan yaitu Pulau, Toa berarti Besar. Berangkat dari ungkapan tersebut, kemudian di adopsi masyarakat setempat menjadi sebutan NATUNA.”
Kami semua terdiam, merekam, menikmati, dan menangkap ide cerita. Pengetahuan baru tercipta di buku lintang ilmuku. Mempatri jejak-jejak yang di ukir Pak Usman. Melukis nuansa indah dalam hati bak lukisan manohara yang terkenal. Andi mendekatiku, mengganggu khayalanku, mengagetkan ku.
“Begitu rupanya,” kata Andi.
“Apanya?” sahutku sambil menepuk pundaknya.
“Cerita Pak Usman tadi, Benar atau Tidak, Ya.?”
“Entahlah, Aku percaya karena Ia lebih tua dari kita, pun di guru, kan.?” Jelasku.
Perjalanan menunggu Bis pulang sekolah, suasana hati terisi penuh, penasaran kabur. Angka-angka sejarah di benakku menghilang. Aku meyakinkan Andi.
“Mungkin saja NANTOA itu susah penyebutannya bagi pribumi kita,” Kata ku.
“Bisa saja, Kakek kita mungkin lebih mudah menyebutnya NATUNA” Ungkapan setuju Andi. Kami menuju perut angkutan itu. Melelepas kepenatan. Menunggu setengah jam lebih sejak pukul 12.30 bel pertanda pulang berjerit
Penulis Cerita: Siswari
 

Kehabisan Batasan

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

“kau pikir kau pintar!!, LEPASKAN AKU”, teriakan itu tak henti terdengar dan memantul di tembok-tembok bawah tanah, tak seorang pun selain mereka tau akan hal ini, ismeth tak kan berhenti sampai ia puas terhadap Sandra barunya.
“terima kasih telah berpikir begitu”, kata ismeth menanggapi laki-laki terborgol di depannya, senyuman kejam dan tatapan tajam itu masih tak terhapus dari wajahnya.
“aku tak pernah punya masalah denganmu!”, kata laki-laki bertubuh tinggi dan bidang itu, ia terlihat lelah dan keringatnya tak henti menuruni keningnya, ia tak henti berteriak dan ismeth tak pernah merasa kelu dengannya. Ismeth menggeleng dan tertawa kecil.
“lebih besar! Kau punya masalah dengan Negara ini. Polisi rupanya tak dapat menjinakkanmu, nyawa-nyawa melayang dan aku tak melihat kau menghargainya, ngomong-ngomong berapa mobil yang sudah kau hancurkan?”, ismeth mulai berkata-kata, setelah sebelumnya meninggalkan laki-laki itu di dalam ruang tersembunyi dari jangkauan masyarakat.
“oh jangan berlagak, wewenang apa yang kau punya untuk cukup menghakimiku?”, ia masih berteriak.
“semestinya kau bertanya, wewenang apa yang tidak aku punya untuk menghakimimu, bukankah setiap orang memiliki hak, kewajiban dan norma, aku yakin kau tidak asing dengan itu”, ismeth masih menanggapi santai.
“CUKUUP!! Kau membuatku muak! Jika kau peduli pada mereka, itu sudah terlambat, mereka sudah mati, mobil-mobil itu sudah hancur dan polisi-polisi itu cukup bodoh”, teriak laki-laki itu lagi dan lagi disertai kemenangan. Ismeth menarik belati dari balik sabuknya dan menusukannya pada paha laki-laki itu, teriakan yang sungguh hebat menggelegar di udara hingga ismeth menarik kembali belati itu.
“kuharap kau memahami makna peduli itu kemudian”, katanya sebelum beranjak pergi.

Alunan lagu yang ringan dan beruntut itu menggema di seluruh tembok-tembok ruangan, penataan kuno serta berada dalam musik melodi tempo dulu. Lukisan dengan corak abstrak penuh misteri bergantung rapi di tiap-tiap tembok dengan ukuran kurang lebih satu meter. Lampu yang menjadi penerang ruangan itu berupa Kristal-kristal yang menjulang turun menyerupai tambang kristal. Tak ada suara homosapiens berkeliaran, tak satupun di ruangan yang cukup mengisi seratus orang itu. hening sepi, dan lambaian hawa dingin itu menyerupai gumpalan es di kutub sana akibat pendingin ruangan yang dibiarkan begitu saja. Senja dengan alunan musik kuno beruntut, meracuni si pemilik rumah tertidur pulas di atas sofa coklat muda.

Beberapa benda tak terjawab apa kegunaannya, berserakan di lantai-lantai, mesin sensor, kabel umbilical, transponder, paku, katrol sederhana, camera video, boneka robot, magnet, dengan rumus mekanika, dsb. Ponsel yang juga menjadi bagian dari serakan itu terus berkedip dan bergetar. Terus seperti demikian hingga menit menjadi jam, dan pemilik rumah yang hanya seorang itu membuka kelopak mata dan kembali menangkap pancaran sinar yang masih menyala. Ismeth menarik tulang-tulang bahunya ke atas, meregangkannya dari tidur dengan posisi yang kurang menguntungkan. Ia menekan matanya dengan otot-otot matanya sendiri, sembari kemudian melirik jam dinding yang terpasang di barat ruangan, di samping kanannya. Pukul 05.10 lebih, ia tak bisa menangkap jelas tanpa lensa kacamatanya.

Ia berdeham, suaranya terdengar berat dan serak. Ia menangkap lampu merah ponselnya kemudian tepat di samping kakinya saat itu, meraihnya sekali lagi berusaha meregangkan tulang punggungnya. 6 pesan dan 5 panggilan tak terjawab
Aku berpikir untuk melemparmu ke dalam jurang, kau!!! Jika kau tak berhenti terus memata-matai kami, aku benar-benar tak bisa tinggal diam
Ismeth menguap sekali, lalu melempar ponselnya ke sampingnya di atas sofa, tak berniat melihat lebih ke dalam ponselnya. ia tidur tapi itu masih tak cukup membuatnya kembali bugar, pakaiannya masih penuh debu dan goresan, bau amis masih bisa tercium. Ia beranjak untuk mendapatkan air hangat dan secangkir kopi.

Kulitnya yang kuning langsat teralir semburan air dari shower, menuruni 69 inci tubuhnya. Pikirannya masih tak dapat berhenti, lelah memang dengan segala beban pikiran di dalam kepalanya itu, semuanya menerkamnya, semuanya ingin membuatnya marah, pening dan solusi terbaik hanya dengan memejamkan mata. Mentri itu! rekan itu! manusia-manusia itu! ia ingin terjang dalam sakit hati yang lebih dalam, ia terus menggerutu “omong kosong! Omong kosong!”. Sedang benaknya menyimpan memori jangka panjang yang tak henti mengalir di nadinya menjadikannya bagian dari hidup.
“cinta tanah air merupakan perasaan cinta sebenarnya yang mengandung unsur kasih dan sayang terhadap tanah air, kemudian timbul dalam diri kemauan untuk merawat, memelihara, dan melindungi dari segala bahaya yang mengancam. Kita agen terpilih rela berkorban, kita! warga penting Negara Indonesia, mengabdi pada tanah air Indonesia, kita berani untuk mengorbankan nyawa demi membela tanah air…”
Ismeth tertawa kemudian, kecil dan kemudian lepas, ia tertawa dan air itu mulai mengalir melewati garis bibirnya yang terbuka. BPPI mempunyai target, itulah yang menjadi benih kebenciannya, ia baik dipecat dari kelompok kriminal yang menyebut dirinya malaikat. Jika ia harus mati dengan nama BPPI dipundaknya dengan membela tanah air, ia lebih baik mati tanpa BPPI dan menjadi warga Negara biasa lainnya. Selepas dari itu, ia memutuskan untuk pergi ke kantor kemasyarakatan pusat dan membereskan sesuatu.

Jaket kulit hitamnya ia kenakan untuk menaiki motor berjenis Harley Davidson berwarna gelap siap ia lajukan menuju jalanan yang masih cukup sepi. Bagunan-bagunan tak beraturan antara kecil dan besar, pojokan dan selokan sudah mirip tempat sampah, untungnya tuhan masih cukup baik memberi udara segar tiap pagi. Ia menemukan papan besar bertulis departemen masyarakat, di sebelah kanan perempatan jalan, ia parkirkan motornya lebih jauh. Helmnya sudah ia turunkan, rambut hitam pekatnya yang berantakan dan sudah tumbuh 3 cm lebih itu belum sempat disisir. Ia melangkah kaki dengan pasti. Sesuai dengan informasi yang ia dapatkan, data pengeluaran kantor itu akan keluar pagi ini. Kalau bukan karena beberapa anak jalanan yang ia lihat tak terurus beberapa hari itu, tak akan membuatnya sadar kemudian.

Ia memasuki bangunan dengan tembok-tembok kaca nan megah itu, beberapa orang dengan kemeja dan dasi sudah memenuhi beberapa dari lantai itu, ia dapat melihat tangga melingkar di tengah ruangan dan mulai melangkah. Wajahnya terlihat santai, tak ada seorang pun yang mengetahui niat laki-laki itu. ia menelusuri jalan selepas dari anak tangga. Ia menemukan ruang yang mendata segala pengeluaran departemen tersebut dan terhenti pada gerakan tangannya di atas gagang pintu saat melihat laki-laki gemuk dalam bulatan jas dan dasi sedang membaca beberapa berkas dan memasukannya kedalam mesin pemotong kertas.

“sial! Aku sudah yakin dia akan melakukannya”, bisiknya kesal pada diri sendiri, kacamatanya ia naikan dengan dorongan jari telunjuknya, kemudian ia menjauh dari pintu kaca itu, beralih pada tembok yang dapat membantunya tak dikenali. Tak lama laki-laki gemuk itu keluar dengan langkah santai dan penuh kebahagian. Ismeth tak bisa berhenti memandang tajam laki-laki itu, ia ingin sekali menarik kerahnya dari belakang dan melemparnya dari lantai dua. Ia kemudian masuk kedalam ruang yang sudah tak sabar ia serbu itu, merogoh tong sampah mini, dan menemukan potongan-potongan rapi kertas yang masih hangat. Tanpa banyak Tanya ia keluar kemudian.

Inilah dimana ia berdiri, duduk dan melepaskan segala rasa sakit hatinya, di atas karpet merah dengan alunan musik kuno, dan berbagai potongan-potongan benda tak jelas disekitarnya. Ia berhasil menyusun kembali berkas data pengeluaran milik departemen kemasyarakatan. Semua uang itu dikeluarkan tanpa alasan yang jelas, ia tertawa dengan hasil yang ia dapatkan, “hidup ini memang tak sempurna tanpa korupsi”, ejeknya sembari menyeruput kopi hitam di sampingnya, “jadi enaknya apa yang akan aku lakukan pada si gentong berjas itu, mungkin ia butuh alat pemotong jari”, katanya pada diri sendiri.

Ismeth, tak pernah bergurau dengan apa yang ia katakan, tak pernah peduli dengan bujukan-bujukan setiap orang, tak ada teman dan ia mempunyai musuh baru tiap-tiap harinya, ia muak dengan segala keseharian warga Negara ini, ia tak pernah yakin bahwa dengan menyekap dan memukuli orang-orang yang menjadi masalah itu akan mengurangi jumlah keprihatinan dan menambah kejayaan negri ini, otaknya buntu, ia memang tak peduli kemudian soal kuantitas, yang penting jiwanya merasa puas. Ia memilih masuk ke dalam kelompok BPPI atau badan pusat penyelidikan indonesia yang di didirikan secara rahasia pada tahun yang lalu hanya untuk memberi sedikit tumpah darahnya untuh negri itu. Sebenarnya itu memang janggal sejak awal, ia dipecat kemudian karena ia terus membantah dan melawan aturan agen rahasia itu. hari demi hari ia kemudian tau bahwa BPPI tak murni lagi, hukum yang masih tak tegak semakin dirobohkan oleh agency sialan itu, ismeth terus memutar memori. hingga pada suatu waktu terpikir olehnya untuk menghancurkan BPPI.

Ismeth sudah 3 hari memata-matai kantor pusat BPPI tanpa ketahuan, semakin banyak informasi yang ia dapat semakin mudah ia menghancurkan agency itu, rupanya pemimpin BPPI yang dulu telah digantikan, dan beberapa orang lama dikeluarkan, pelatihan BPPI tak lagi seperti dulu, banyak yang berubah dari BPPI setelah ia pergi. Ia melirik dari balik tembok di depan pintu gudang menuju ruang utama BPPI, tak sengaja ponselnya berdering keras, dan membuatnya terpelonjak kemudian dengan sigap ia matikan, ia memutuskan pergi sebelum seseorang memergokinya.
“ismeth?”, terlambat seorang dari balik punggungnya memergokinya, ismeth dapat mengendalikan keterkejutannya, suara itu tampak tak asing, beberapa memori berselieran di benaknya.
“icha”, katanya saat berbalik melihat wanita dengan jas crem ketat, kacamata, dan rambut keriting sebahu.
“a-pa…”, kata ica terpecah ketika ismeth menarik lengan wanita itu masuk ke dalam gudang yang ada di hadapan icha, icha memberontak lemah. Ismeth menutup pintu dengan perlahan, ruangan itu tampak terang berkat cahaya yang dibiaskan dari kaca jendela. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, entah mengapa ismeth memandang mata wanita itu dengan tajam. Icha berdeham “aku menunggumu, kau.. benar-benar menghilang”, kata icha kemudian.
“aku pikir pembicaraan terakhir kita sudah cukup jelas”, jawab ismeth santai membuat icha menghembus napas kesal.
“hanya itu?, pernikahan kita batal, dan cukup itu yang kau katakan?”, Tanya icha dengan suara yang lebih keras, ismeth sempat menoleh ke arah pintu jikalau ada seorang yang tertarik untuk masuk.
“kita memang tidak cocok”, kata ismeth pendek.
“apa ini karena BPPI? Kau masih berpikir berat tentang Negara ini?, kau lebih memilih Negara ini dari pada aku?, cukup dengan omong kosong ini met! Apapun yang akan kau lakukan semakin memperburuk keadaan. Kau takkan percaya jika kau kini menjadi buronan BPPI”, icha mulai tak terkontrol dengan segala pikiran yang sudah ia tahan cukup lama.
“kau benar! Negara ini lebih penting”, jawab ismeth tersenyum tipis ke arah wanita yang semakin dibuat kesal olehnya. Icha sudah siap untuk menjawab, tetapi ismeth menyelanya lebih dulu “apa kau akan berkata aku bukan laki-laki normal yang membelikanmu berlian dan membawamu ke paris?”, ismeth menggeleng dan tertawa kecil. Icha tersenyum manis mendengar pertanyaan ismeth.
“kau tau aku selalu mendukungmu, apapun yang kau lakukan. Aku sama sekali tak keberatan untuk menunggumu, sampai kapan pun. Oh ya kudengar kau meneror seorang mentri 2 minggu yang lalu, benarkah?”, icha mulai mencoba menahan apa yang sebenarnya harus ia lakukan pada ismeth, untuk mendapat suatu yang berharga nanti, ia mengorbankan harga dirinya, ia mencoba menanyakan suatu yang sudah jelas itu.
“ya!”, jawab ismeth singkat.
“kau tau?!, apa yang kau lakukan membahayakan seluruh warga Negara ini, mereka semakin merasa tidak aman, ya aku sebagai anggota BPPI merasa turut campur akan hal ini”, jelas icha berlagak ramah, ismeth terdiam sejenak.
“sudahlah kau juga tau mereka sudah tak menginginkan Negara ini, hanya tempat untuk bertapak, hidup yang sekedar hidup, apa mereka peduli bahwa Negara ini kemudian akan hancur”, wajah ismeth terlihat menghina dengan ekspresinya yang santai, mendengarnya membuat icha melotot dan terkejut
“maksudmu?”, tanyanya tak mengerti.
“banyak sekali kondisi yang menyebabkannya, kau butuh bukti? Aku yakin kau tak buta, kau tau tak ada seorang pun yang mau memakai barang dengan kualitas tak terjamin, tak ada yang bangga memakai barang Indonesia, ditambah masuknya pengaruh luar yang dimudahkan oleh pemerintah. Banyaknya kasus terorisme dan korupsi, apa yang dapat dibanggakan dari negri ini di dunia internasional?, cinta tanah air sekarang ini sudah jauh dibanding setengah abad yang lalu. negri ini tak akan pernah jaya jika seseorang tak mau bersikap berani. aku sudah lelah untuk terus berpikir positif, aku mencoba berpikir rasional, berapa banyak warga yang cinta akan tanah airnya, yang mau menumpahkan darahnya demi kepentingan umum?, mengapa kita harus melakukannya sedang mereka bersenang-senang dengan kriminalitas”, jelas ismeth memandang lekat icha, suaranya terdengar berbisik.
“aku tau kau muak, tapi aku bercita-cita untuk menumbuhkan kesadaran itu pada mereka. Aku tau apa yang kau lakukan selepas kau dari BPPI, dan entahlah apa yang membuatmu teracuni, menyeret orang-orang jahat itu, memukuli mereka sampai sekarat”, kata icha.
“aku punya kesenangan tersendiri akan hal itu”, jawab ismeth santai. Icha menggeleng tak percaya pada laki-laki itu, orang yang ia sukai ternyata mempunyai pemikiran yang mengerikan.

Terdiam keduanya kemudian, icha tak dapat berbicara dan ismeth siap membalas perkataan wanita itu, sunyi di antara mereka, yang terdengar hanyalah bunyi kendaraan bermotor dari balik jendela. Mata icha mulai melirik ke arah pintu, menunggu, beberapa detik berlalu dan pintu itu dibuka paksa.
“jangan bergerak!”, suara beberapa laki-laki berseragam dan membawa pistol yang menodongkannya kearah ismeth membuat ismeth terngangah sejenak, tak ada yang dapat dilakukan laki-laki itu, lari atau mati, ia hanya memandang icha tajam, sedang icha tak dapat memandang matanya.
“maafkan aku, jika kau berkata lebih mementingkanku dari pada Negri ini, aku bisa menolongmu”, kata icha sedikit berbisik dan wajahnya masih menunduk, polisi itu kemudian memborgol ismeth dan mengamankannya. “Hal Ini takan membiarkanku untuk berhenti bertindak demi negri ini”, balasnya pada icha sebelum ia dibawa pergi oleh polisi.

Penulis Cerita: Karimah Bachmid
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami