Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bahasa Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bahasa Jawa. Tampilkan semua postingan

Selera Humor dan Harga Diri Keluarga Mbah

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Aku terlahir di tanah ini, di tanah yang dibilang subur ini, sebagai bagian keluarga besar masyarakat Indonesia yang punya selera humor tinggi. Bukan hanya itu, selain rasa humor, mbah-mbah ku dulu juga orang-orang yang paham benar dengan apa itu yang namanya harga diri. Saat mereka masih muda sepertiku, mereka berjuang mati-matian hanya untuk membela satu makhluk bernama harga diri sebagai bangsa yang berhak merdeka. Jargon mereka yang sampai sekarang masih terniang-niang di telinga anak cucunya termasuk aku adalah merdeka atau mati. Mungkin sedikit berbeda jika kudengar cerita tetanggaku, nenek moyangnya dulu lebih memilih merdeka bersyarat sebagai negara persemakmuran hanya karena tergoda iming-iming akan berbagai fasilitas asal mereka nganut dengan negeri induknya. Dan mungkin karena kenganutan – kepatuhan itu membuat tetanggaku itu kurang tau dengan humor – sama sepertiku.
Sebagai manusia normal, dalam otakku sudah pasti terinternalisasi untuk mencintai tanah kelahiranku. Tapi aku ragu, mungkin aku tidak begitu cinta dengan tanah lahirku. Nyatanya, aku masih saja iri dan ingin hidup di tanah tetanggaku yang punya banyak fasilitas itu, aku disini masih sering mengeluhkan buruknya fasilitas meski bahan baku apapun tersedia di tanah lahirku ini. Aku kadang iseng, menggerutu dalam hati – “kenapa mbah dulu kau berjuang mati-matian untuk membela harga diri sebagai bangsa yang layak merdeka, kenapa tak kau serahkan saja bahan baku tanah lahirku ini pada Belanda untuk mereka kelola dan kita bisa mencicipi sedikit masakan hasil olahan mereka, toh aku sekarang lebih suka burger olahan Amerika daripada gaplek buatan mak, – toh tetanggaku kini hidupnya enak, mapan, tercukupi dengan hanya bersedia menyerahkan harga diri mereka dan menjadi negara persemakmuran Inggris. Dan, toh seandainya engkau hidup sekarang – dan melihat betapa buruknya aku, betapa aku tak paham tentang harga diri sebagai bangsa yang dulu mati-matian engkau perjuangkan, kau mungkin menyesal mbah berjuang mati-matian demi anak cucumu, demi aku – kau akan marah melihatku karena aku hanya mengingat cerita heroikmu merebut kemerdekaan saat tanggal-tanggal tertentu – dan aku hanya mengingatnya sebagai cerita, bukan untuk kuteladani sebagai prilakuku sehari-hari. Dan akhirnya, kau hanya berucap sinis padaku ‘Sudah dibelain mati-matian, malah ngedhumel – nyalahke, gak tau diuntung, diwei ati njaluk rempelo, bocah ndhablek!!!”
Keluarga besar masyarakat tanah lahirku punya selera humor yang tinggi, tapi tidak bagiku – aku tidak mewarisi ini dari mbah-mbahku, aku tak punya satupun lelucon untuk kulontarkan padamu, tapi aku selalu ikut tertawa jika mereka tertawa. Mereka tetap bisa tertawa dalam keadaan apapun, saat krisis global mereka masih bisa tertawa, – bahkan makin ngakak, dilanda bencana pun masih saja membuat lelucon – bu LSM, mas Ormas, mbak Partai, pak Pemerintah ramai-ramai datang memberi mereka bantuan dengan menancapkan bendera di sekitar tenda pengungsian, dan keluarga besar tanah lahirku itu menyambutnya dengan tersenyum sinis “terima kasih pak, bu, mbak, mas, lain kali benderanya lebih besar lagi – biar semua orang tau kalau kalianlah yang pernah membantu kami“. Jangan tanya kehidupan sehari-hari keluarga besar tanah lahirku itu, mereka seringkali saling mentertawakan saat salah satu anggota keluarga menciptakan karya, “ah, mobil buatan lokal – bagus sih, tapi kualitasnya paling-paling bertahan satu dua tahun, hehe, harga jualnya pasti merosot, onderdilnya juga pasti mahal, mending beli yang pasti aja deh daripada beli mobil geje”. Dan sekarang selera humor mereka makin tinggi dengan banyaknya tayangan komedi di TV tiap harinya yang dibiayai sponsor dengan nilai sangat mahal, yang mungkin biaya acara komedi itu cukup untuk menyumbang subsidi pendidikan tiap bulannya. Sarkasme, penghinaan harkat, rasisme, pelecehan HAM, sudah menjadi sebuah kewajaran jika dilakukan saat sedang melucu, karena keluarga besar tanah lahirku sudah paham benar dengan apa itu harga diri, beda denganku – aku masih menganggap itu sebagai hal yang tabu. Tapi bagimu yang berprofesi sebagai guru, jangan sesekali melontarkan kata-kata berbau sarkasme, rasis, dsj saat mengajari putra-putri keluarga besar tanah lahirku, sekalipun kau hanya berniat melucu – menghilangkan kejenuhan dalam kelas, kau akan segera dituduh melecehkan HAM dan kau akan dilaporkan pada pihak berwajib.
Bagaimana denganku? Aku belum tahu apapun tentang humor dan harga diri. Aku memilih menjadi seperti ikan mati – mengikuti arus air. Kalau keluarga besar tanah lahirku tertawa, aku ikut tertawa, kalau mereka marah, aku juga ikut marah. Kalau kapal tetangga tanpa ijin masuk wilayah tanah lahirku, aku ikut merasa marah dan geram karena aku lihat keluargaku juga demikian. Kalau tarian, musik, ataupun wayang warisan mbahku diklaim tetanggaku sebagai miliknya, keluarga besar tanah lahirku sudah pasti marah besar, dan aku juga ikut marah besar, meskipun aku sendiri tidak tahu tarian apa itu, musik apa itu, apa sih wayang, lah wong aku lebih suka yang dari kebarat-baratan biar dianggap modern kok – tapi gak apa lah, yang penting ikut marah biar gak dituduh sebagai penghianat bangsa.
Kadang aku juga bingung dengan keluarga besar tanah lahirku itu. kalau hal-hal yang menurutku jarang mereka gunakan dalam keseharian diklaim tetangga, mereka marah besar. Tapi, kalau hal-hal mendasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari dikuasai tetangga, mereka justru mendukung. Dan aku pun juga ikut mendukung, selain karena ikut-ikutan, mungkin juga karena aku suka kebarat-baratan yang modern itu. Kalau disuruh milih, aku lebih suka belanja di supermarket modern yang kebanyakan milik tetanggaku itu daripada belanja di pasar tradisional milik keluargaku sendiri, lah keluarga besar tanah lahirku sendiri juga suka belanja di sana. Melihat sikap keluarga besar tanah lahirku seperti demikian, aku menjadi lebih tidak paham lagi dan bahkan sudah lupa pesan mbah-mbahku agar aku mencari tahu arti kata harga diri yang dimaksudkan mbah-mbahku dulu. Maaf, mbah – aku bosan mengingat cerita heroikmu berjuang mati-matian demi harga diri. Aku lebih tertarik mencari arti kata humor di google daripada menelusuri lembaran kamus untuk mencari arti kata harga diri. Maaf, mbah.
Penulis Cerita: Rizky Akbar
 

Syair, Lelaki dan Masa Lalu

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
Hu hu hu…

Pagi-pagi sekali Pak RT sudah bersenandung dengan suara seperti gagak. Bu RT yang agaknya pencemburu langsung tanggap dan curiga, jangan-jangan suaminya itu sedang menjalani cinta terlarang. Kecurigaanya berakar dari tabloid yang dipinjamnya dari Bu Camat. Menurut tabloid yang dibacanya beberapa hari lalu mengatakan jelas di nomor 2; tanda-tanda suami selingkuh adalah: sering bernyanyi tanpa sebab yang jelas. Keyakinanya bertambah setelah ia berpikir layaknya seorang filosof, mencoba mengingat kebiasaan-kebiasaan suaminya yang memang tak suka bernyanyi sejak mereka pacaran dulu. Mendengarkan musik yang bukan ciptaan atau gubahannya saja langsung teriak-teriak untuk segera mematikan radio, tv, atau apa pun yang bisa mengeluarkan musik. Bahkan setelah mereka menikah dan ia diangkat menjadi RT di kampungnya, suaminya mengharamkan musik di lingkungannya. Lebih parah lagi, pernah ada pengamen yang nyasar di wilayahnya dirajam pakai koral.

Sarapan telah tersedia di meja makan seperti biasa, kecurigaan Bu RT berpengaruh terhadap masakannya pagi itu, sambal terasa lebih pedas dan lebih asin, sayur jengkol kesukaan suaminya terasa lebih keras dari sayur jengkol warung di pinggir jalan dan kopi yang disajikan berasa pahit pedas, bukan gula yang dimasukkan tapi lada bubuk.

“Kopi rasa opo iki…?”, ujar Pak RT.
Bininya melengos dengan mata memancarkan muram yang merajam.
“Mati aku… mosok ketahuan?”, gumam Pak RT. Beberapa waktu lalu memang ia menyelipkan bunga pada seseorang, tepat pada bel*han dada seorang janda kembang beranak satu yang ditinggal suaminya lantaran suaminya itu dipenjara. Pas susunya, katanya saat menyelipkan bunga itu. Saat mengingat kejadian itu, sepertinya tak ada yang mengetahui, saat ia merayu Mbakyu di tengah sawah sekitar perkampungannya.

Hari-hari berlalu dan ketegangan mulai surut. Hingga suatu ketika, anaknya pulang dari kota pada akhir minggu. Setelah mencium kedua tangan orangtuanya, Tejo berpamitan untuk mandi dan ikut makan malam dengan kedua orangtuanya. Sayur asem, sambel terasi dan ayam goreng bumbu kuning kesukaannya telah terhidang di meja makan. Kali ini, keluarga ini benar-benar dihinggapi rasa aman dan tenteram, sebelum Tejo sengaja membuat ulah.

“Bu, susu coklat panas ya biar pegal-pegal di badanku hilang!”, pinta si Tejo dengan manja pada ibunya yang masih sint*l tapi pemarah ra ngadubilah itu.
“Pas susunya…”, ucap Tejo sambil melirik ayahnya dengan bengis.

Deg. Jantung Pak RT berdenyut dengan keras seperti teroris disergap Densus 88 karena aksinya. Di mana tapir ini waktu itu?, pikir Pak RT dalam hati. Bu RT langsung tanggap melihat lirikan anak kesayangannya pada suaminya. Di ruang tengah itu semua terdiam, Pak RT memancarkan wajah tegang, Tejo masih melihat tv sambil memanyunkan bibir dan Bu RT yang paling sibuk dengan pikirannya. Jangan-jangan dugaannya selama ini benar, suaminya berselingkuh dan Tejo mengetahuinya tapi tak memberitahunya dengan terang-terangan. Ada apa di rumah ini?, pikir Bu RT. Demikian aksi diam dalam rumah ini berlanjut hingga tengah malam. Sebuah persekongkolan telah terbangun dalam diam.

Hari Senin yang cerah, namun tidak di rumah itu. Bu RT sakit, semalaman tak bisa tidur dan hari sebelumnya terlalu capek setelah digasak tanpa henti oleh suaminya yang bajingan itu. Terpaksa Pak RT membuat kopi sendiri dan diminumnya seteguk demi seteguk, tanpa diduga lewatlah si Tejo yang bangun kesiangan.

“Tejo…”.
“Ada apa to pak… Tejo mulas nih, mau ke lamar mandi dulu”.

Pak RT geleng kepala beberapa kali. Dasar sumpil*, kutuk Pak RT. Pembicaraan mereka berdua tak ada yang perlu dicurigai kecuali telah ada kesepakatan bahwa uang saku Tejo bertambah lebih banyak mulai minggu depan.

Pada suatu siang yang panas, lima hari sebelum Tejo pulang untuk minta uang saku, tak sengaja ia bertemu Mbakyu di warung kopi terminal, tempat mangkal para gali, habitatnya si Tejo.

“Aku kalut Jo…”, wanita cantik itu menangis sambil menundukkan kepala ketika bercerita di depan Tejo.

Mbakyu, janda kembang yang digoda oleh Pak RT kebetulan ke kota, nekat menjual diri karena putus asa, tak bisa lagi menghidupi diri dan anaknya sejak suaminya dipenjarakan Pak RT karena kasus pencurian jagung. Tejo berjanji akan menolongnya, itu pun diucapkannya dengan suara keras agar dapat didengar oleh si penjual kopi dan anak gadisnya yang montok. Sambil mengantarkan kembali Mbakyu ke bus tujuan kampungnya, Tejo yang mewarisi kebajinganan bapaknya merangkul pundak Mbakyu yang diam saja sambil menyeringai seperti beruk.

“Sebisa mungkin aku bantu, tapi sampean juga bantu aku ya?”, pinta si Tejo saat memilihkan tempat duduk dalam bus.
“Aku mesti bantu gimana jo?”, balas si Mbakyu.

Akhirnya si Tejo menguraikan rencana busuknya kepada Mbakyu yang manggut-manggut karena kalut, demi diri dan anaknya.

Pagi buta, sehari setelahnya, Tejo sampai di rumah Mbakyu tanpa sepengetahuan warga kampung, apalagi kedua orangtuanya. Pada gubuk di tengah sawah satu-satunya itu, Tejo memasang kamera tersembunyi pada salah satu sudut atapnya. Tejo berniat merekam aksi bapaknya yang menurut laporan Mbakyu, mengajaknya berdua saat tengah malam di gubuk itu sehari sebelumnya. Tejo ingin melihat dan merekam aksi bapaknya yang terlihat pada laptop hasil pinjaman dari Mbah Kumendan di kampusnya.

Pada suatu malam saat istrinya mendengkur dengan anggun, Pak RT mendatangi rumah Mabkyu di sudut desa tanpa curiga bahwa Tejo ada di dalamnya. Dengan semangat yang menggebu ia sudah tak tahan untuk mempraktikkan ajaran buku yang dibelinya beberapa waktu lalu di loakkan pasar. Mulai dari jurus perkenalan sampai dengan jurus merayu dan jurus-jurus lainnya telah dipelajarinya secara lengkap dan mendetail, termasuk suasana yang pas untuk memikat hati cinta terlarangnya. Ini saatnya, bulan purnama yang sempurna akan menjadi saksi percintaan terlarangnya.

“Diajeng…?”, ujar si ular beludak itu.
“Dalem Kangmas…”, balas Mbakyu dengan senyum yang memikat dan hati yang perih.

Saat aksi telah dimulai, saat gambar terlihat di layar laptop pinjaman, di dalam rumah Mbakyu, Tejo mengepalkan tangan dan menggeram menahan amarah yang akan meledak tapi tertahan. Tejo melihat Surti, gadis idamannya, menangis sesunggukkan melihat ibunya diperlakukan seperti itu oleh bapaknya Tejo.

“Bangs*t benar ternyata bapakku…!!!”, ujar si Tejo dalam hati. Megutuk tindakan bapaknya yang tidak memikirkan muka anak dan istrinya. Dulu sekali pernah ada rumor bahwa Bu Camat yang berada di sebelah rumahnya seringkali digodai Pak RT setiap pagi selepas subuh. Mengingat itu, hati Tejo makin bergemuruh dan terlintas dalam pikirannya akan membalas kelakuan ayahnya dengan cara paling bengis, yang bahkan setan pun tak mampu menanggung akibatnya. Mengganti film layar tancap yang akan diadakan di lapangan desa dua minggu lagi dengan film hasil rekamannya.

“Mengapa Mas Tejo mau bantu kami…?”, ucap si Surti sambil masih sesunggukan.
“Aku kasihan sama kalian”, balas Tejo yang buyar kebusukannya.

Surti tersenyum saja meski masih tak mengerti. Dalam pikirannya, bapak sama anak pasti sama saja. Bapaknya bajingan pasti anaknya beruk, sama sama punya sifat yang sama karena memiliki gen yang sama. Itu yang Surti pelajari di sekolah. Sambil menatap layar laptop Tejo, Surti makin nelangsa dan ditahan getir hatinya melihat adegan yang ditampilkan. Diam diam Tejo meliriknya dengan bengis seperti beruk dalam pikiran Surti.

Bu RT terbangun di tengah malam, satu jam setelah suaminya pergi meninggalkannya sendiri kedinginan di ranjang. Dicarinya Pak RT dan ia tak menemukan suaminya. Ia kembali ke kamar dan membuka lemari pakainnya, mengambil kotak bermotif batik pemberian ibunya. Sebentar diingat wajah ibunya yang penyabar dan sangat menyayanginya. Masih diingat benar ucapan ibunya di hari pernikahnnya bahwa menjadi seorang perempuan itu tidak mudah dan harus lapang dada. Apalagi setelah menjadi istri, harus mikul dhuwur mendem jero.

“Maafkan saya bu”, desahnya sambil menitikkan air mata.
Perlahan dan pasti, dengan senyum yang menggantikan air mata, Bu RT mengambil amplop dalam kotak itu dan membukanya dengan penuh perasaan. Surat itu baru diterimanya beberapa hari yang lalu tanpa pengetahuan siapapun;

Apa kabarmu? Semoga seperti apa yang kuharap. Dulu aku menganggap bahwa perempuan hanyalah pengisi waktu luang, tak lebih dari itu. Tapi semua itu berubah, seperti warna mendung yang tersapu terangnya matahari ketika di penghujung hari kau memanggilku dengan sebutan yang kusandang di masa muda.
Aku masih mencintaimu. Sama seperti saat kau menjatuhkan pelukmu di pundakku saat kukatakan bahwa aku ingin menjadi bagian dari hidupmu.
Seperti apa cintaku padamu, begitu dulu kau pernah bertanya padaku bukan?.
Kini akan kujawab, meski jarak, waktu dan nasib, telah membuyarkan kenyataan yang kita bangun dalam angan kita dimasa muda.
Aku tak mengambil bentuk apapun dalam benakku saat aku mencintaimu, agar ia seperti seharusnya bukan seperti apa adanya. Rinduku takkan pernah padam untukmu.

Samudra Jabang Tetuka.

Dilipatnya kembali surat itu dan disimpannya dengan hati hati. Benar kata Man Gi, ayah Bu RT, bahwa seorang perempuan hanya butuh keabadian, bukan harta atau tahta, maka dari itu kebanyakan wanita jatuh hati pada penyair. Ia kembali berbaring di ranjang, dengan cinta yang membuncah seperti di masa muda. Ia akan ke kota besok pagi pagi sekali, menemui cinta abadinya di penjara. Si pencuri jagung.

*kreco; keong kecil berwarna hitam dan lebih suka berkubang di lembabnya lumut yang menempel pada batu sungai.

Penulis Cerita: Gun S
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami