Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng (Rakyat). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng (Rakyat). Tampilkan semua postingan

Nan Toa

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

“Jas merah”. Aku teringat akan pesan presiden perdana Republik Indonesia, dalam buku sejarah yang ku pinjam di pustaka daerah kemarin. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” itulah maknanya.
Hari ini, happy birthday ke Sembilan kabupaten daerahku, tepatnya 22 Oktober. Semangat patrionisme dalam dadaku memberontak keluar, seakan ikut berjuang kembali bersama Jendral Sudirman walau hanya bersenjata bambu runcing. Kemenangan akan selalu muncul dibalik semangat yang membara.
Aku bersiap menuju peraduan menimba ilmu, menunggu angkutan sekolah bersubsidi yang biasanya menjemput pukul Enam Setengah. Bersama teman sekampungku, Andi. Kami angkatan 1997. Empat puluh dua menit melaju, kami terjun di depan gerbang SMAN 1.
“Masih awal, gimana kalau kita ke kantin Pak Tomo”. Hasutku pada Andi. Pak Tomo guru Sosiologi di kelasku, Ia belum pulang dari kebunnya. Menasehati monyet-monyet nakal yang usil. Agar jangung manisnya tumbuh normal.
“Ayolah”, jawab Andi sambil melirik jam tangan hitam yang melingkari gelangan tangan kirinya.
“Kring, kring, kring,” terdengar raungan lonceng. Tanda Upacara bendera akan segera dilaksanakan.
“Topi, Oke. Sepatu, Oke. Rambut, No problem,” batinku. Mengingat selalu ada razia atribut.
“Aduh. Aku lupa ikat pinggang” rintih Andi.
“Terus gimana, nih?,” tanya ku khawatir. Saat upacara Pak Lubis: Guru kimia yang Killer, senang sekali menggeledah kesalahan anak didiknya. Dia sangat perhatian. Mungkin itu demi melatih kedisiplinan. Tanpa disiplin kita tidak akan sukses. Itulah Motonya.
“Begini sajalah,” cetus Andi, sambil menyodorkan sedikit bagian bawah baju putihnya, menutupi lingkaran pinggang.
“Yakin?” godaku.
“Aman, aman.” singkat Andi.
Kami menuju lapangan, dengan gerakan Sa’i : lari-lari kecil mirip jamaah haji di tanah Suci : Mekah. Setiap kelas berkumpul dan rapi berbaris bersama kelas masing-masing, jama’ah guru juga tepat di sisi kanan depan lapangan, 10 meter arah kanan tiang bendera.
Upacara dimulai, protokol mengeraskan suara bernada reporter dengan kecepatan 10 Km/jam. Komandan upacara, Tegas mengambil alih pasukan. Inspektur di jemput seorang ajudan bak bupati ketika menghadiri kondangan. Pandangan kami Lurus kedepan. Menerobos buaian cahaya yang melintas. Kaku, siap, dan serius. Tiga sosok : dua pria mengapit seorang wanita melangkah serentak, kaki silang-menyilang seperti hendak terbentur, namun itu mustahil. Mereka ahli. Tegap, tegas, bagai robot buatan Amerika. Merah putih di ulur menuju punjak kejayaan, melambai-lambai, tenang dan damai tersapu angin. Gema Indonesia raya menggelegar halaman. Motor, mobil dan sepeda yang lalu-lalang terpaku. Patriotisme bergejolak.
“Hiduplah Indonesia raya,” sayup-sayup lagu serentak berhenti. Gejolak patrionisme membara bagai api tersiram bensin tiga liter. Sang berani dan si suci telah menjulang, siap melayani sapaan awan. Melambai-lambai ria, mengingat tentara Belanda yang telah lama kocar-kacir.
Pak Hairul-Inspektur upacara terpancang tegak, tegap dan wibawa. Persis Soekarno kala 17 agustus 1945 yang tanpa teks di tangannya.
“Istirahat di tempaaaaat,” gaung komandan bernada guruh. Aku menikmati sinaran mentari pagi yang mengalirkan Vitamin D untuk penguatan tulang-tulangku. Terus berdiri dengan posisi kedua tangan terlingkung di belakang, tepat di atas bagian bokong. Protokol mengisyaratkan amanat Pembina upacara. Inspektur beraksi. Beberapa bait yang terekam dalam memori Super Giga titipan Tuhan kepadaku.
“kita patut bersyukur, hari yang berbahagia ini : Ulang tahun ke-9 Kabupaten kita. Jadikan moment ini untuk memacu semangat pendidikan kalian, bangunlah daerah ini memalui pendidikan, perkembangan pendidikan berbanding lurus dengan perkembangan daerah. Sebagai anak daerah kalian dituntut menguasai daerah. Menjelajah, Menggali potensi, dan mengembangkan kretifitas. Awali dengan sejarah daerah ini, dengan sejarah kita dapat dengan sempurna memahami sesuatu hal dari akar-akarnya. Begitu juga dengan Kabupaten ini, ungkapan “laut sakti rantau bertuah” harus kalian pahami.
Potensi alam tidak terhingga, ciptaan Tuhan yang kuasa memang tak terkira. Cadangan Gas alam 40% dari gas dunia. Laut terbentang 98% menggerogoti daratan. Cintailah daerahmu dengan berbuat hal yang berguna.”
Empat puluh satu menit sebelas detik. Kami tercengang. Masih kaku. Kaki terasa keram, ubun-ubun terserang demam dengan amper 100 derajat Celsius. Sengat mentari seakan berjarak beberapa kilo meter dari kepala. Panas, haus, dan menyenangkan. Upacara dibubarkan. Semangat Indonesia raya mesih tertanam, terus tertanam dan tetap tertanam.
Sore ini, Aku bersama teman sekelas, menuju pantai kencana. Persis pantai Nusa dua : Bali yang tanpa turis. Permainan rakyat dipajang memenuhi luasan tanah kuning, di atapi awan putih nuansa bias laut yang biru. Sepoi-sepoi melanda menghanyutkan pandangan, menerpa jiwa, menusuk sanubari, membuat membahana para pengunjung. Panjat pinang 3,5 meter dengan peserta 4 orang ditambah 1 orang. Bergelantungan kupon-kupon, melambai-lambai menunggu seorang pahlawan penyelamat : bermandikan Oli kotor. Merayap di pokok pinang. Tarik tambang antar kecamatan, tepat di sudut utara. Bersorak supporter bagaikan Derby manchester akan bertanding sore ini di stadion Old Trafford – Inggris. Sebelah selatan, tiang-tiang seukuran betis tercancang. Berbaris lingkar. Terdengar suara hitungan. “Satu, Ikat kepala. Dua, gulung penuh. Tiga, siap-siap”.
Benda pipih yang berputar dilemparkan bersamaan ke tanah, pak cik-pak cik sibuk memulung kembali menggunakan skop khusus: berbentuk sendok nasi namun agak besar dan rata terbuat dari triplek. Gasing tetap berputar. Menari-nari di atas kaca. Pakcik-pakcik duduk rapi. Posisi nol besar persis mengelilingi api unggun di malam penutupan camping : pramuka.
Terus berputar. Tiga puluh menit berlalu, lima gasing berhenti berputar. Mundur dari arena. Empat puluh tujuh menit, tersisa dua gasing. Bersaing ketat. Saling menunjukkan potensi. Meliuk-liuk, namun putaran semakin lembut nan lamban. Pertanda tenaga listrik : Baterai melemah. Lima puluh dua menit. Jawara bertahan. Angka dua juta rupiah sudah dibenak pak cik: Tuan gasing hitam nan berkilau. Juri mengintrogasi jawara. Mengukur diameter kemudian membelah dada sang gasing, khawatir ada besi atau timah yang memberatkan hingga perputaran gasing menjadi lebih lama. Tamatlah sang juara. Tuannya tentu tidak merasa iba. “Itulah aturan main yang disepakati,” jawabnya ketika kami tanya.
Kelompok ibu-ibu riuh di sisi tenggara, mengayam ketupat sambil berjalan. Gemuruh, nyaring dan menggelora. Hari mulai gelap, bukan karena corak hitam yang menggantikan awan putih. Mentari tersipu malu, cahaya memudar. Akibat rotasi bumi yang mengelilingi matahari hingga tercipta siang dan malam. Maghrib akan bertamu. Kami melangkahkan gerakan kaki ke arah peraduan, memaksa diri menuju rumah masing-masing.
Ingatanku terus berkobar. Penarasan tentang sejarah daerah ini semakin kuat. “Semua hal pasti ada sejarahnya”, pikirku. Manusia berasal dari tanah, sejarah dalam al-quran. Namun evaluasi Darwin bertentangan, Manusia berasal dari kera. Samakah sejarah daerah ini dengan perjalan Columbus yang menemukan daratan. Negeri Paman Sam itu. Siapakah manusia pertama pulau ini?, dari mana nama daerah ini dibuat?, Pertanyaan menyerang otak miniku. Aku pusing. Berharap terlelap lebih awal malam ini.
Harapan bermimpi tentang semua hal yang dipertanyakan di benakku, walau mimpi hanyalah bunga tidur. Itu sedikit memberikan jawaban. Aku mulai merangkai mimpi. Kawan, ternyata mimpi bisa dirancang. Aku pernah membaca di media massa. Tips merancang mimpi. Salah satu baitnya, “pikirkan terus menerus apa yang ingin kamu impikan hingga matamu terpejam.” Insyaallah hal itu menjelma dalam mimpimu. “Malam ini moment tepat untuk mengaplikasikannya”, pikirku. Benar saja, aku pun bermimpi sesuai rencana. Mimpi yang tak dapat dirangkai dalam sastra. kelu bila di ungkap pada bibir. Terputus-putus dalam dunia ingatan.
Pagi ini mata pelajaran sejarah di kelasku. Pak Usman menampakkan posturnya yang kurus tinggi legam di ruang tunggu para guru. Sebuah lorong yang dihuni bergantian oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Sebelum berangkat berjuang berbagi ilmu pada penerus kecil yang setia menunggu di bilik kelas.
“Assalamu a’laikum,”
“Walaikum salam,” nada kami serentak.
“Selamat Pagi,” sapa Pak Usman.
“Pagi,” suara gemuruh bersamaan kembali menggelegar dalam kelas. Pelajaran Berlangsung. Aku dan Andi duduk bersebelahan. Tepat di sudut kanan, menempel di tembok bercorak putih orange. Baris ke dua dari muka. Aku kembali sakau. Ingin tahu sejarah daerahku. Sejarah amat penting bagiku demi menyelami lebih dalam potensi daerah ini dan demi kecintaanku pada tanah tumpah darah.
“Ini kesempatannya” batin ku. Tiga puluh menit lewat lima puluh satu detik. Pelajaran hampir selesai.
“Ada pertanyaan?,” Pak Usman melontarkan kalimat penting bagi muridnya. Kadang saat murid tidak bertanya itu tandanya paham, kadang pula murid itu paling tidak paham sehingga tidak bisa bertanya.
“Saya, Pak?,” sontak Aku mengacungkan tangan.
“Iya, Apa pertanyaanmu?,”
“Bisakah bapak bercerita tentang sejarah daerah ini?”
Pertanyaanku membuat Pak Usman harus mengulang kaji. Kembali ke singgasana merah tua : kursi. Melipat tangan, menegakkan badan dan memulai merangkai cerita.
“Pertanyaan bagus” puji Pak Usman bernada rata. Dia mulai melangkahkan kata-katanya. Seperti yang dijelaskan ilmu Fisika bahwa suara bisa di dengar manusia karena merambat melalui udara. Corong-corong rekaman dalam otak kanan dan kiri telah di aktifkan. Siap menangkap semua huruf, semua kata dan semua kalimat yang disampaikan Pak Usman.
“Kala itu adalah masa Pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan asal Sumatra. Ada seorang pendeta cina yang menjelajah laut cina selatan kemudian beristirahat dan singgah di Sriwijaya. Pendeta itu Bercerita bahwa dia sebelum sampai ke Sriwijaya telah mengarungi laut dan berjumpa gugusan pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau besar itu dalam bahasanya di ungkapkan “NAN TOA”. Nan yaitu Pulau, Toa berarti Besar. Berangkat dari ungkapan tersebut, kemudian di adopsi masyarakat setempat menjadi sebutan NATUNA.”
Kami semua terdiam, merekam, menikmati, dan menangkap ide cerita. Pengetahuan baru tercipta di buku lintang ilmuku. Mempatri jejak-jejak yang di ukir Pak Usman. Melukis nuansa indah dalam hati bak lukisan manohara yang terkenal. Andi mendekatiku, mengganggu khayalanku, mengagetkan ku.
“Begitu rupanya,” kata Andi.
“Apanya?” sahutku sambil menepuk pundaknya.
“Cerita Pak Usman tadi, Benar atau Tidak, Ya.?”
“Entahlah, Aku percaya karena Ia lebih tua dari kita, pun di guru, kan.?” Jelasku.
Perjalanan menunggu Bis pulang sekolah, suasana hati terisi penuh, penasaran kabur. Angka-angka sejarah di benakku menghilang. Aku meyakinkan Andi.
“Mungkin saja NANTOA itu susah penyebutannya bagi pribumi kita,” Kata ku.
“Bisa saja, Kakek kita mungkin lebih mudah menyebutnya NATUNA” Ungkapan setuju Andi. Kami menuju perut angkutan itu. Melelepas kepenatan. Menunggu setengah jam lebih sejak pukul 12.30 bel pertanda pulang berjerit
Penulis Cerita: Siswari
 

Pisang Ajaib

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Pada sebuah desa yang sangat terpencil hiduplah seorang anak piatu. Namanya Rina, ia memiliki seorang ibu yang bernama Darti. Suatu hari ibunya sakit, Karena ia tak punya uang, jadi ia tak bisa membawa ibunya ke rumah sakit. Padahal ibunya sedang sakit parah.

Suatu hari…
“Rina…” panggil ibunya.
“iya bu,” sahut Rina sambil mendekati ibunya.
“tolong nak, ambilkan ibu air… ibu haus” kata ibunya dengan suara lemah.
“iya bu…” jawab Rina (pergi ke dapur untuk mengambil air dan kembali lagi membawa segelas air putih).
“ini ibu airnya…” kata Rina sambil menyerahan air itu dan ibunya pun mengambil air itu lalu meminumnya. “bu andai aja aku punya uang, pasti ibu aku bawa ke rumah sakit,”
“tidak apa-apa… ibu tidak apa-apa, cuman sakit biasa aja. Besok pasti sembuh,” sahut ibunya.
“bu… aku pergi dulu ya,” kata Rina.
“iya… tapi jangan lama ya,” kata ibunya.
“iya bu…” jawab Rina lalu pergi

“tolong… tolong…” kata seorang minta tolong.
“kek… kenapa dengan kakek?” Tanya Rina ketika ia melihat seorang kakek minta tolong.
“begini cu… kakek nggak bisa jalan. Karena kaki kakek sakit,” jawab si kakek.
“memangnya dimana rumah kakek?” Tanya Rina.
“di sana cu,” jawab si kakek sambil menunjuk sebuah gubuk tua.
“mari kek… aku antar,” ajak Rina.

Sesampai di depan sebuah gubuk tua…
“terimakasih cu…” kata si kakek.
“sama-sama kek…” sahut Rina.
“ini cu… kakek beri hadiah untuk anak sebaik kamu,” kata si kakek sambil menyerahkan dua biji pisang kepada Rina.
“untuk apa kek pisang ini?” Tanya Rina.
“makankanlah pisang itu pada ibumu dan yang satunya untukmu,” jawab si kakek.
“terimakasih ya kek…” kata Rina.

Kemudian ia pulang… sesamai di rumah ia langsung menemui ibunya…
“ibu… ini aku bawakan ibu pisang,” kata Rina sambil menyerahkan pisang itu kepada ibunya.
“dapat darimana kamu pisang ini?” Tanya ibunya.
“aku dikasih seorang kakek tua bu,” jawab Rina.

Ibunya pun kemudian memakan pisang itu… tiba-tiba saja terjadilah sebuah keajaiban. Yang tadinya ibunya sakit tiba-tiba saja menjadi segar bugar.
“rin… ibu sekarang sudah sehat,” kata ibunya dengan bahagia.
“apa! Ibu sudah sehat?” Tanya Rina terkejut.
“iya nak… coba liat sekarang ibu sudah biasa berdiri,” jawab ibunya sambil berdiri,” ternyata pisang itu pisang ajaib,” katanya lagi.
“kalau begitu aku juga mau makan pisang ini,” kata Rina. Betapa terkejutnya ia, ketika ia membuka membuka pisang itu, ternyata isinya sebatang emas. “bu emas…!?” katanya terkejut.
“iya nak…” sahut ibunya juga terkejut.

Semenjak itu mereka menjadi kaya dan hidup berkecukupan. Tidak seperti dulu lagi. Namun walau pun begitu sifatnya Rina tetap tidak berubah. Ia tetap baik hati dan suka menolong orang.

SELESAI

Penulis Cerita: Halimatus Sa’diah
 

Peri yang usil

Rabu, 08 Januari 2014 | komentar

Di awan, terletak sebuah kerajaan peri. Kerajaan itu dipimipin oleh seorang Ratu yang bernama Clarion, yang biasa dipanggil Ratu Ree. Kerajaan itu sangat indah. Di timur terdapat air terjun yang sangat besar namun indah, tempat peri air bekerja. Di barat terdapat hutan yang menampilkan empat musim secara bergantian, tempat peri hutan bekerja. Di selatan terdapat rumah angin yang mengendalikan pergerakan angin di kerajaan peri ini. Sedangkan, di utara terdapat es dan salju. Di utara juga tidak ada kehidupan.

Semua peri mengerjakan tugas mereka dengan baik, kecuali Diana. Diana adalah seorang peri air yang amat usil. Kerjanya hanya menyiram peri-peri yang lewat. Hampir semua peri diusili olehnya. Karena keusilan itu, dia tidak memiliki teman.

Karena para peri tidak tahan dengan keusilan Diana, mereka melaporkan Diana pada ratu Ree. Setelah para peri kembali, Diana mendapat undangan untuk minum teh sore itu.


Apakah Diana datang? Tentu saja dia datang. Diana datang dengan tujuan mengacaukan pesta minum teh. Sayang, niat Diana terlaksanakan. Dia menggerakkan air teh dan menyiram semua peri, bahkan ia menyiram Ratu Ree.

Para peri marah dan menyeret Diana ke ruang pengadilan. Selama ini, tak seorangpun peri yang membuat masalah hingga diadili. Bahkan, saat diadili Diana masih bersikap kurang ajar.

Karena sikapnya itu, Diana mendapat hukuman. Diana diusir dari timur. Padahal, rumahnya ada di Timur. Maka, Diana berjalan dengan gontai tanpa tujuan.

Di perjalanannya, Diana menangis. “Huhu… kenapa aku diusir? Aku kan hanya sedikit usil.”

Cici kelinci yang memiliki hati yang lembut sedih melihat Diana menangis.
“Ada apa peri kecil? Mengapa kamu menangis? Berhentilah menangis dan mampirlah ke rumahku.” ujar Cici kelinci.
“Huhuhu… Aku diusir dari rumahku. Sekarang aku tidak memiliki rumah lagi.”
“Sungguh kasihan nasibmu. Apakah kamu mau tinggal dirumahku untuk sementara?” tawar Cici kelinci.
“Terima kasih, bu kelinci. Namaku Diana. Siapa namamu?” tanya Diana
“Namaku Cici.”

Diana kini memiliki teman, yaitu Cici kelinci. Setiap hari dia membantu Cici kelinci mengerjakan tugasnya. Jika pekerjaan Cici kelinci telah selesai, Diana bermain dengan Cici kelinci. Tanpa Diana sadari, ia telah berubah. Suatu hari, Cici kelinci berbicara pada Diana.
“Diana, kurasa kini saatnya kamu kembali kerumahmu. Kamu sebenarnya peri yang baik.”
“Begitukah Cici kelinci? Kalau begitu, aku akan kembali kerumahku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Cici kelinci. Selamat tinggal!” ujar Diana.

Di tengah jalan, Ia dihadang oleh peri penjaga. Diana tak diperbolehkan masuk. Dianapun menangis kembali. Seakan alam turut bersedih, hujan pun turun.

Tiba-tiba, Ratu Ree datang. Beliau membela Diana dan memperbolehkan Diana masuk. Ternyata, Cici kelinci adalah Ratu Ree! Beliau menyamar dan merubah sifat Diana. Sekarang, Diana tidak lagi mengganggu peri-peri lain dan mendapat banyak sekali teman.


Pengarang cerita Tithasiri Audi Rahardjo
 

Kekacauan Di Hutan

Selasa, 07 Januari 2014 | komentar

Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah sekelompok hewan yang hidup di hutan itu. Salah satu hewan itu, ada gajah yang bernama bona. Bona adalah seekor gajah yang lincah dari pasangan bu gajah dan pak gajah. Setiap hari ia bermain dengan teman-temannya di tengah hutan. Terkadang ia bermain air, main ayunan, dan masih banyak lagi. Ia mempunyai banyak teman, hampir semua anak hewan di hutan itu menjadi temannya. Bona memang gajah yang pandai bergaul. Akan tetapi, ia agak keras kepala. Setiap apa yang dia mau harus terlaksana walaupun itu adalah ide yang bodoh atau gila. Jika ia mau melaksanakan sesuatu yang bodoh, dan teman-temannya mengingatkan, jarang ia mau menuruti nasihat temannya itu. Akan tetapi, walaupun ia agak keras kepala, teman-temannya tetap menyukainya sebagai gajah yang pandai bergaul

Pada suatu hari, seperti biasa bona bermain bersama teman-temannya. Hari ini mereka hendak bermain petak umpet. Bona pun menjadi bagian yang bersembunyi bersama-sama temannya yang lainnya. Karena tidak ingin cepat ketahuan, ia pun bersembunyi agak jauh dari tempat bermainnya. Ia pun bersembunyi di balik semak-semak yang berbuah seperti buah berry dan berwarna ungu. Sementara itu, semua teman-teman bona sudah tertemukan semua dan mereka bingung mencari bona. Bona yang tak pernah tahu itu buah apa, mencobanya. “wuahh, enak sekali buah ini. Buah apa ya ini?” kata bona sambil terus melahap buah itu. Bona pun membawa beberapa buah itu dan hendak diberikannya kepada teman-temannya jika ia sudah dapat ditemukan. Tiba-tiba bona mendengar suara dari teman-temannya “bon… bona! Kemarilah, komala sudah menyerah nih! Ayo keluar!”. Yes! Batinnya, ia senang karena tak dapat ditemukan oleh teman-temannya. “yeee! Aku tidak dapat kalian temukan kan? Eh ini aku bawakan buah enak tapi aku tak tahu namanya. Nih makan! Hmmmm enak…” kata bona menawarkan buahnya sambil memakannya. “eeehhh! Bona, jangan dimakan! Itu buah beracun yang sarinya bisa buat gigimu sakit lho” kata temannya memperingatkan bona. Akan tetapi bona tidak mendengarkannya malahan ia tambah lahap memakannya. “waduuhhh gimana nih teman-teman? Kalau dia menangis gara-gara giginya sakit? Wahhh bisa gawat nih” bisik temannya. “yuk kita bilang ayah dan ibunya saja agar kita yang tidak disalahkan” usul temannya.

Tiba-tiba bona berhenti makan dan memegangi pipinya dan merintih kesakitan, teman-temannya pun kaget. “wadow! Sakit banget nih” rintih bona, “tuh kan kamu dibilangin juga apa?” sahut temannya panik. “ya udah yuk kita pulang” ajak teman bona. Bona terlihat seperti hendak menangis tapi di tahan olehnya. Bona dan teman-temannya pun pulang beriringan. Sesampainya di rumah bona, ayah dan ibunya kaget melihat bona memegang pipi kesakitan. “paman, bibi, bona tadi makan buah merry. Buah beracun yang bisa buat gigi sakit. Bona tadi makan sepertinya banyak sekali, kami juga sudah memperingatkan tapi dia tidak menggubris” jelas teman bona. “ya bu. Tadi bona makan buah yang gak bona tahu jenis buahnya. Mulanya bona bersembunyi di semak-semak yang ada buah kayak gini, terus bona makan dan rasanya enak, ya udah bona makan aja. Sekarang gigiku sakit sekali bu” jelas bona yang masih memegang pipinya. “ya sudah… ya sudah sekarang kamu masuk istirahat sana nanti biar dipanggilkan pak rusa oleh ayah untuk menyembuhkan gigimu. Oh ya makasih juga ya untuk komala, nuri, rommy dan pony kalian baik sekali” ujar ibu gajah. “iya bibi, sama-sama. Kalau begitu kami hendak pulang dulu karena hari beranjak malam, permisi” pamit teman-teman bona. Bu gajah mengangguk dan tersenyum menjawabnya. Sementara teman-teman bona pergi, bu gajah mengantar bona ke kamarnya dan memberinya segelas teh hangat dengan maksud mengurangi sedikit sakit di gigi bona. Tapi gigi bona malah bertambah sakit karena tehnya itu panas. Bona pun menangis dengan sangat kencang hingga membuat ibu bona menutup telinganya, bahkan tetangga bona, keluarga pak landak pun mendengarnya, begitu juga tetangga yang lain. Ibu bona segera mengambil air teh dengan sedikit dingin alias sejuk di tenggorokan untuk menghentikan tangis anaknya. Tetangga bona yang mendengar tangisan bona pun mendatanginya. Ibu bona pun terkejut, “ah ada apa ya?”. “ini kami tadi dengar suara tangisan seperti tangisannya bona jadi kami kemari. Mengapa bona menangis sekencang itu?” Tanya salah satu tetangganya seraya melihat bona yang masih sesenggukan dan mencoba menahan tangisnya. “oh kedengaran ya, kalau begitu saya minta maaf ya. Ini si bona habis makan buah merry banyak sekali jadi giginya sakit, sekali lagi maaf ya” jawab bu bona. Tetangganya pun mengangguk dan beranjak pulang setelah memberi beberapa ucapan doa kepada bona. Setelah tetangga pulang, ayah bona pun datang dengan pak rusa, mantri kesehatan di hutan itu. Pak rusa pun memeriksa bona, dan mengangguk tanda paham. “ooh dia habis makan buah merry ya?” Tanya pak rusa membuka percakapan. “iya pak, apa bisa disembuhkan ya pak?” jawab bu gajah. “bisa tapi karena kelihatannya dia makan sangat banyak jadi lama menyembuhkannya. Nah ini obatnya. Yang ini tempelkan di gigi, yang ini…” kata pak rusa menjelaskan. Bu gajah pun mengangguk dan mengantar pak rusa sampai di depan rumah. Seusai pak rusa pergi, bu gajah pun memberikan obat pada bona. Setelah memberi obat pada bona, bona pun tertidur.

Malam harinya, tiba-tiba bona menangis dengan kencangnya. “huwaaa! Gigiku sakit bu!” tangis bona dengan kencang yang membangunkan seisi rumah dan hampir seluruh penduduk hutan itu. Pak gajah dan bu gajah pun mendatangi kamar bona dan mendapatinya sedang memegangi pipinya sambil terus menangis. “ya sudah… sudah, jangan menangis nanti akan membangunkan tetangga” kata pak gajah menenangkan. Bona pun masih terus menangis, tiba-tiba tetangganya pun datang dan melihat apa yang terjadi. Dengan malu bu gajah meminta maaf, dan para tetangga pun maklum atas tangisan bona itu dan jika mereka mendengar tangisan bona lagi mereka tak akan mendatanginya lagi, jadi hanya cukup menjenguknya saja. Akan tetapi bona menangis berhari-hari dengan kencang sehingga membuat hutan kacau. Jika pagi hari, membuat pusing dan jika malam hari membuat tidak bisa tidur, hal ini membuat hutan terganggu dan kacau. Sampai-sampai tempat bekerja para semut dan hewan lainnya terganggu karena karyawannya tidak konsentrasi ataupun banyak yang tidak masuk.

Suatu pagi hari, bona kembali menangis karena giginya sakit. murai, burung itu sudah tak tahan lagi dengan tangisan bona. Ia pun berkata pada temannya “aduh, aku sudah tak tahan dengan tangisan bona ini, sangat mengganggu sekali”. “iya bahkan aku terbang saja sempoyongan” sahut temannya. “ya sudah ayo ke pak rusa kita tanyakan obatnya biar bona berhenti menangis” ajak murai. Temannya pun mengangguk setuju dan mereka pun terbang beriringan. Sesampainya di rumah pak rusa, mereka pun mengadu tentang hal yang mereka alami bahkan seluruh penduduk hutan alami. Saat murai menceritakan masalahnya, kebetulan singa si raja hutan itu lewat dan menghampirinya. “ada apa ini kok ramai sekali?” Tanya singa. Mereka pun menunduk tanda hormat, “ampun baginda, kami hanya menanyakan obat untuk bona karena kami sudah tak tahan mendengar tangisan bona lagi” adu murai. “aku pun begitu, jadi apa tak ada obatnya?” Tanya singa balik. “ada tapi sembuhnya memerlukan waktu yang lama” jawab pak rusa. “apa tak ada obat yang bisa menyembuhkan dengan cepat?” sahut murai. “hmmm…” gumam pak rusa berfikir. “sudah, biar aku kumpulkan seluruh penduduk hutan untuk merapatkan masalah ini” ujar singa mengambil keputusan.

Setelah berselang beberapa lama, penduduk hutan pun berkumpul di tempat pertemuan para penduduk yaitu di pohon tua tepat di tengah hutan yang terdapat batu tinggi sebagai tempat duduk raja. Mereka pun berdiskusi. “jadi bagaimana pak rusa, apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan dengan cepat?” Tanya raja singa membuka diskusi. “ampun baginda, akan saya lihat dulu di buku obat saya, semoga saja ada” jawab pak rusa sembari membuka buku mengingat-ingat bagaimana ia dulu bisa meyembuhkan hewan yang keracunan karena buah merry. Semua hewan di tempat itu menjadi dag dig dug. “nah, ini dia baginda sudah ditemukan. Saya baru ingat dulu pernah mengobati hewan terkana penyakit dari buah merry ini. Untuk membuat obatnya, dibutuhkan bahan yang banyak di tempat yang sangat jauh baginda jadi susah untuk membuatnya” jelas pak rusa dengan nada agak kecewa. Para hewan yang semula agak menampakkan rona bahagia jadi mengkeret lagi. Tiba-tiba salah satu hewan menyampaikan usul “ampun raja! Bagaimana kita bersama-sama mencarinya dan menggotongnya ramai-ramai sekalian kita ajak hewan yang besar termasuk bu gajah dan pak gajah. Dan yang menenangkan bona nanti kita pilih hewan yang paling lucu dan menyenangkan, bagaimana?” serunya sambil mengacungkan tangan. “hmmh, usul yang bagus baiklah akan saya atur semuanya, tapi apa pak rusa punya petanya?” tanyanya pada pak rusa. “oh tentu saja punya, biar saya ambilkan petanya” jawab pak rusa berlari. Dan selang beberapa detik pak rusa datang kembali dengan membawa peta yang sudah sobek lipatannya. Pak rusa pun memberikan peta itu kepada raja singa, “sepertinya tidak terlalu jauh dan sulit, disana tidak banyak hewan buas jadi untuk antisipasi kita bawa bala tentara kita beberapa saja ya. Saya akan pilih bu kangguru dan bu kelinci putih untuk menemani bona di rumah. Dan…” raja menghela nafas karena terlalu semangat bicara “sisanya di rumah ya” imbuh raja. Semua hewan pun stuju dan melaksanakan titah raja. Singa sendiri menghampiri bu gajah dan pak gajah untuk meminta persetujuannya dan mereka setuju, maka dilaksanakanlah rencana itu.

Rombongan hewan ke tempat tujuan terlihat semangat. Banyak rintangan di jalan tapi semuanya dihadapi dengan gagah berani. Sedangkan bona di rumah masih menangis di rumah walaupun telah dihibur bu kanguru, bu kelinci putih dan beberapa hewan yang disuruh tinggal untuk menyiapkan bahan-bahan yang terdapat di sekitar hutan dan mempersiapkan alatnya untuk memasak. Akhirnya di rumah bona sudah tertidur sehabis didongengkan oleh bu kanguru dan bu kelinci putih dan diberi obat pemberian pak rusa sebelumnya. Menjelang siang, gerombolan hewan dari mengambil obat pun kembali dengan banyak bawaan. Selepas itu mereka pun bergotong royong membuat obat dengan pemimpin pak rusa dan koordinator raja singa. Mereka bekerja sama hingga sore menjelang. Ketika sore sudah mau habis, pekerjaan itu selesai. Mereka pun langsung memberikannya pada bona. Setelah mengusapkan ke giginya dan meminumnya, bona sudah tidak menangis tapi hanya merintih. Dan ketika matahari mulai terbenam bona sudah sembuh total. Semua penduduk hewan pun bersorak membuat bona bingung, mengapa ia sembuh semua hewan menjadi sangat gembira tapi pertanyaannya itu hanya sesaat dan ia pun kembali hanyut dalam kegembiraan penduduk hutan itu.

Malam itu raja memutuskan diadakan pesta karena kekacauan hutan berakhir sudah dan semua bergembira dan bersuka ria. Sedangkan bona berjanji tak akan makan buah merry lagi.

Pengarang Cerita: Sylvia Rijha Putri
 

Kancil Yang Bijaksana

| komentar

Di sebuah hutan, hiduplah seekor Kancil yang besar dan gemuk. Kancil itu dikenal sangat baik dan suka menolong oleh hewan-hewan lainya. Selain itu Kancil juga hewan yang cerdik. Kancil selalu membantu dan menolong temannya yang akan menyeberangi danau, karena Danau itu dijaga oleh seekor buaya yang sangat besar dan rakus.

Pada suatu hari, saat Kancil pergi untuk mencari makan. Tiba-tiba Kancil mendengar temannya minta tolong di sekitar danau. Lalu Kancil berlari cepat menghampiri temannya. Ternyata lagi-lagi Buaya itu tidak memperbolehkan hewan lain masuk ke wilayahnya, dan selalu mengancam siapapun yang masuk ke wilayahnya akan dimakan.

Tiba-tiba Kancil melihat ikan kecil di tepi Danau. Lalu Kancil mengambil ikan kecil itu tanpa sadarnya buaya. Lalu, Kancil melempari ikan-ikan kecil itu kepada buaya agar buaya itu memakan ikan kecil itu dan tidak sadar bahwa Kancil dan temannya menyeberangi Danau itu melewati punggung Buaya. Lalu Kancil mengantarkan temannya mencari makan.

Teman-teman Kancil bangga memiliki teman yang bijaksana. Teman kancil yang di tolong tadi berterima kasih kepada Kancil, sampai akhirnya Kancil di juluki Kancil yang bijaksana.

Pengarang Cerita: Mutiara Nur Cahyaningrum
 

Burung Pipit Yang Sombong

| komentar

Di hutan ada seekor burung, Pipit namanya. Ia tinggal sendirian di rumah. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Pipit mempunyai sifat sombong. Ia tak pernah membantu orang lain, saat orang lain meminta pertolongannya. Ia juga suka pamer barang-barang baru yang dimilikinya. Dan dia juga jarang menyapa temannya yang lain, saat bertemu dengan temannya yang lain di jalan.

Karena sifatnya yang sombong dan tak peduli. Pipit dijauhi teman-temannya. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Pipit pun suka main sendiri. Dan saat pergi jalan-jalan dan bertemu teman-temannya, Pipit selalu dibicarakan teman-temannya, dengan sikap sombongnya itu.

Suatu hari Pipit bertemu dengan Luna, semut merah yang sangat baik hati. Semut merah yang suka menyapa orang, jika bertemu dengannya di jalan, langsung menyapa Pipit yang kala itu berpapasan dengannya.

“Siang pipit. Mau pergi kemana?” Tanya si Luna dengan lembut.

Burung Pipit yang sombong langsung memalingkan muka, begitu melihat Luna. Ia terus berjalan. Pipit tak peduli pada Luna yang menyapanya.

“Kalau saja kamu bisa sedikit baik hati pada orang lain, kamu pasti punya banyak teman. Tak perlu sendirian saat pergi bermain.” Kata Luna sedih.

Mendengar kata-kata Luna, Pipit tersinggung. Pipit marah. Pipit merasa diejek oleh Luna. Dengan cepat Pipit membalikkan badan. Pipit berjalan mendekati Luna.

“Apa katamu tadi?! Kau bilang aku sombong. Tidak punya teman?” Pipit mengarahkan tangannya pada wajah Luna. Pipit jelas terlihat sangat marah. “Asal kau tahu. Aku bukannya tidak punya teman. Tapi aku tak mau berteman dengan mereka. Mereka kotor dan bau. Mereka miskin. Mereka tak punya baju bagus seperti yang kupakai ini.” Pipit memeperlihatkan pakaiannya yang sangat bagus pada Luna. “Sebaiknya aku pergi saja. Tidak penting bicara dengan semut merah, yang kotor dan bau.”

Setelah kalimat terakhir, Pipit pergi meninggalkan Luna. Pipit pergi dengan sikap sombongnya.

Setelah pipit pergi, Luna menggelengkan kepalanya dan berucap, “Pipit, kau sangat sombong sekali. Kau pikIr, kau bahagia dengan sikap sombongmu. Meski kami tidak kaya sepertimu, tapi kami saling membantu sama lain.”

Luna pergi dengan perasaan sedih.

Setelah kejadian itu, Pipit selalu membuat orang lain sedih. Pipit selalu mengejek teman-temannya. Ia selalu mengejek pakaian yang dikenakan teman-temannya itu jelek. Pipit selalu mengejek dan mengusir pergi teman-temannya, yang datang ke rumahnya. Dengan sikap sombong Pipit yang berlebihan, teman-temannya tak ada yang mau bermain dengannya. Teman-temannya tak mau menolong Pipit, jika Pipit ada kesulitan. Suatu hari, Pipit yang baru saja mencari makanan bertemu dengan Haci, si lebah madu muda. Haci berniat menolong Pipit, dengan membawakan makanan Pipit. Tapi Pipit langsung marah saat mau ditolong Haci. Pipit mengira, Haci akan mengambil makanannya. Dengan sombong dan galak, Pipit menarik makanannya dan menyembunyikannya di balik bajunya. Pipit juga membentak Haci.

“Hey, Haci! Kalau mau makan cari sendiri! Jangan ambil makanan orang lain!” bentak Pipit dengan kasar dan keras.

Haci bingung mendengar kata-kata Pipit. Haci cuma mau berniat menolong Pipit membawakan makanannya, malah dituduh mau mengambil makanan milik Pipit. Haci pun menjelaskan pada Pipit, kalau dia cuma mau berniat menolong membawakan makannanya.

“Tidak Pipit. Aku tidak mau mengambil makananmu. Aku Cuma mau menolong membawakan makananmu. Karena aku lihat, kau kerepotan membawa makanan sebanyak itu.” Ucap Haci sabar. Dia tidak marah pada Pipit, yang menuduhnya mau mencuri.

Karena sikap sombongnya sudah terlalu besar, Pipit tak percaya pada Haci. Pipit pergi meninggalkan Haci. Setelah kejadian itu, Pipit mulai bercerita pada teman-teman yang lain, kalau Haci, si lebah madu muda itu, mau mengambil makanan yang ia cari dengan berkerja keras. Tapi, untunglah. Teman-teman Haci tak terhasut oleh ucapan Pipit. Teman-teman Haci tidak percaya kalau Haci mencuri. Teman-teman Haci malah tidak percaya pada ucapan Pipit.

Beberapa hari kemudian Pipit hendak mencari makanan. Kebetulan persediaan makanannya sudah habis. Pipit pun pergi jauh dari tempat tinggalnya untuk mencari makanan. Pipit terbang ke sana kemari. Tapi tak ada satupun makanan yang dia temukan. Sampai-sampai Pipit kelelahan. Pipit berniat istirahat sebentar. Pipit pun hinggap di sebuah pohon rindang dan teduh. Selang beberapa saat ia istirahat di pohon rindang itu, ia mendengar sebuah suara. Awalnya Pipit mengira kalau suara itu cuma angin. Tapi lama-lama perasaannya tidak enak. Ia yang memejamkan matanya, langsung membuka matanya dengan cepat, saat sebuah suara yang mirip dengan desisan ular itu terdengar di telinganya. Saat Pipit membuka matanya, ia terkejut melihat ular besar tengah memandangnya. Ular itu mendesis, menjulurkan lidahnya. Karena kaget dan takut, Pipit langsung jatuh ke bawah.

“Arrrggghhh…” Jerit Pipit kesakitan. Ternyata sayap kiri Pipit patah. Pipit semakin takut dan bingung. Karena ular besar itu turun dari pohon rindang, dan mendekati Pipit. Pipit duduk diam. Memandangi ular besar, yang berjalan semakin dekat dengannya. Pipit berpikir, mungkin dia akan mati dan dimakan oleh ular besar itu. Karena sayap kirinya patah, membuat pipit tak bisa terbang dan meloloskan diri dari ular besar itu. Pipit memejamkan matanya dan menunggu dirinya dimakan ular besar itu.

“Pipit lari!”

Pipit mendengar suara Haci. Ia seperti sedang bermimpi. Kalau Haci akan menolongnya dari ular besar itu.

“Pipit lari!”

Bahkan suara Luna masih ia dengar dalam benaknya.

Pipit tersentak saat bahunya ditarik. Secepat itu, Pipit membuka matanya. Sekarang dia sudah jauh dari ular besar itu. Pipit melihat Haci kelelahan karena menarik tubuhnya yang lebih besar dari tubuh Haci.

“Sekarang kau sudah aman. Teman-teman dan aku akan melawan ular besar itu. Kau tunggu disini.” Ucap Haci setelah menarik tubuh Pipit, menjauh dari ular besar itu.

Pipit melihat Haci bergabung dengan teman-temannya untuk melawan ular besar itu. Luna juga ikut melawan ular besar itu. Pipit melihat semua teman-temannya yang sering ia hina, sekarang sedang membantunya dari kejahatan ular besar, yang mau memakannya.

Setengah jam kemudian ular besar itu berhasil diusir. Dan ular besar itu pergi dari tempat itu. Haci, Luna dan teman-temannya yang lain mendekati Pipit. Pipit duduk pada sebatang kayu. Pipit memegangi sayap kirinya yang patah.

“Terima kasih.” Ucap pipit malu-malu pada Haci, Luna dan teman-temannya.

“Terima kasihlah pada Haci. Karena dia yang melihat kamu mau dimakan ular besar itu. Saat melihat itu, Haci langsung terbang dan menemui kami. Ia bilang kalau kamu akan dimakan ular besar. Cepat-cepat kami pergi kemari dan menolongmu. Dan kami berhasil mengusir ular besar itu.” Ucap Luna lembut.

“Terima kasih, Haci.” Ucap Pipit.

“Tidak perlu berterima kasih. Bukankah kita semua teman. Dan teman harus menolong temannya yang sedang kesusahan.” Jawab Haci yang disambut tepuk tangan teman-temannya.

“Haci, maafkan aku. Aku sudah menuduhmu mencuri makananku.” Pipit meminta maaf pada Haci. “Dan juga, aku sudah bersikap sombong pada Luna dan yang lainnya. Aku minta maaf. Dan aku akan berubah.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak marah kok. Dan aku senang kalau kau mau berubah.” Ucap Haci.

“Menjadi Pipit yang baik hati.” Timpal Luna.

“Dan tidak sombong.” Tambah teman-temannya yang lain.

Haci, Pipit, Luna dan teman-temannya tertawa gembira. Sekarang Pipit sudah tidak bersikap sombong lagi. Pipit juga sudah mau berteman dengan yang lainnya. Dan Pipit juga tidak mengusir temannya yang datang ke rumah. Semuanya berakhir bahagia, dengan tawa yang disambut senja.

Selesai

Pengarang Cerita: Mia
 

Rahwana dan Shinta

Senin, 06 Januari 2014 | komentar

Dibalik keindahan dari senyumnya, menyimpan airmata yang mampu membasahi hati ini. Tak dapat dan mungkin tak pernah aku lupakan apa yang telah aku lihat hari ini. Cinta yang amat mendalam, batin yang meronta karena gelisah, pengendalian diri yang kuat namun seringkali rapuh, dahaga akan kasih sayang, kehilangan sosok yang menjadi tauladan, rindu, sepi, bimbang, keputusasaan dan harapan dari sebuah ketabahan dan kesabaran. Harapan itulah yang menjadikannya bertahan dalam sebuah senyum yang indah.

Hanyalah harapan yang mampu mewarnai kelamnya hati, harapannya itu adalah menanti hadirnya sang mentari yang mampu membawa hangatnya cahaya yang sinarnya menerangi segala kegelapan hati yang diderita selama ini. Entah kapan mentari itu akan mendatanginya, setitik cahaya pun tak melintas dari pandangannya, belum ataukah takkan pernah datang lagi?

Sidik: kau melihatnya?
Mas: ya.. bahkan aku merasakan pedih dari senyumnya itu
Sidik: lagi-lagi seorang shinta datang terhadap Rahwana ini
Mas: he..he..he.. shinta bukan diculik malah ia datang sendiri menemui Rahwananya. Hanya satu yang sama yaitu ia terpisah dari sang Rama yang sangat ia cintai. Jarak benar-benar telah memisahkan bathin mereka, ditambah kesibukan sang Rama dalam tugasnya mengakibatkan terputusnya komunikasi yang merupakan satu-satunya media yang menjadi harapan cinta mereka agar tetap tumbuh mekar hingga masa pemetikan
Sidik: pemetikan..?
Mas: menikah maksudku…!!
Sidik: Rahwana ini akan mencoba berusaha membantu Shinta meski hal itu sulit, menjaga senyum dan tawanya agar tetap berusaha bertahan dalam menaruh harapan terhadap cintanya tersebut. Meski dalam kebimbangan dan rasa keputusasaan yang tinggi, dan mencoba mengakhiri segalanya dengan mengambil jalan pintas berupa sebuah pengkhianatan.
Mas: Shinta kali ini benar-benar dalam keadaan rapuh, bahkan ia pun menganggap ujian-ujian Allah seolah sebuah hukuman atau kutukan. Padahal sesungguhnya ujian adalah salah satu media Allah dalam mendekati para hambaNya yang menyimpan harta paling mulia berupa kesabaran.
Sidik: Innallaaha ma’ash-shobirin… sesungguhnya Allah beserta dengan orang-orang yang sabar. Hanya saja untuk seumur dia memang hal ini sungguh berat, tapi aku yakin ia mampu menghadapinya, suatu hari nanti ia akan menyadari kebaikan-kebaikan Allah terhadapnya, akan ada hikmah dari segala ujian yang ia hadapi kini. Sekarang memang amat terasa perih, sakit dan amat pahit, tapi nanti akan ada khasiat dari semua rasa itu.
Mas: Mudahan Allah memberikan Hidayah kepadanya, karena hanya Hidayah Allah yang mampu mempertebal keimanannya tsb.
Sidik: semoga juga Allah ridho dari segala keikhlasannya tersebut…



Meski sang Rama telah permanen menjadi pujaan hati, tapi Shinta tak menutup hati kepada para Arjuna yang terpesona dengan kecantikan dan keindahan Inner Beauty yang ia miliki. Rahwana pun memaklumi dengan segala pilihannya tersebut, karena ia tahu dan mengerti betapa sepinya hati Shinta tersebut. Sungguh naif, tapi bagiku itu adalah suatu kelebihan yang dianugrahkan kepadanya. Jauh lebih baik ketimbang hanya menanti hal yang sama sekali tidak pasti bahkan cenderung meragukan. Bila kesetiaan membuat batin tersiksa, mengapa harus bertahan… terkadang seringkali orang menilai hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan, tapi padahal bukan… itu adalah langkah yang bijak dalam menghadapi seseorang yang tidak berani memberi sebuah kepastian yang menguatkan hati.

Rahwana: apa mereka semua tahu kalau kamu telah memiliki pacar?
Shinta: tahu kak… tapi mereka tidak memperdulikan hal itu. Bahkan mereka bilang, selagi janur kuning belum melengkung mereka punya hak mendekati adikmu ini
Rahwana: baguslah… sebab tak ada manusia yang sudi dibohongi
Shinta: iya sih… lagi pula aku tak tega menolak segala kebaikan yang mereka berikan ke kepadaku. Aku tahu bagaimana sakitnya ditolak orang yang kita sayangi, maka dari itu aku menerimanya
Rahwana: salah juga kalau semua cinta mereka kamu terima
Shinta: tidak begitu juga kali kak… aku tak pernah menjawab ya dari segala pengutaraan mereka. Aku hanya menjawab… “kita jalani aja dulu…”
Rahwana: meski itu bukan pintu peluang kamu menerima cinta mereka, tapi secara tidak langsung kamu telah membuka gerbang kepada mereka yang telah membawa harapan besar terhadapmu
Shinta: iya juga sih kak… tapi mau gimana lagi, sejujurnya aku juga menyukai mereka seperti mereka menyukaiku, bila ditanya cinta… rasa itu pun ada walau tak sebesar cintaku terhadap Rama. Lagipula aku tidak tahu apakah Rama benar-benar setia terhadapku, aku yakin disana banyak wanita yang mungkin lebih cantik dari aku yang akan menyukainya.
Rahwana: itukah alasanmu mengkhianatinya? jika memang ia meragukan, mengapa tidak putus saja…?!
Shinta: dia tidak mau memutuskan hubungan kami kak, sering kali aku minta putus tapi ia tidak mau putus denganku kak. Mendengar hal itu aku juga tidak sampai hati kak memaksanya. Meski hati ini seringkali dibuatnya sebel, tapi tetap saja perasaan ini luluh acapkali mendengar pendiriannya tersebut. Haaahhmm… Bingung kak. Kakak ada saran?
Rahwana: yaaahhh… mau bagaimana lagi dek. Jalani aja dulu semuanya, biarlah waktu yang menentukannya… menurut kakak kamu telah cukup bijak menghadapi sang Rama dan para Arjunamu itu. Yang penting jagalah selau kejujuran hatimu setiap kali menghadapi mereka, jujur dalam artian bersikap baik dan tetap ramah. Sekalipun nanti datang konflik, tetaplah tenang menghadapinya. Satu hal dek yang mesti kamu camkan, apapun yang telah kamu putuskan hari ini akan menentukan masa depanmu, begitu pula dengan pilihanmu. Jangan pernah menyesali kedua-duanya di kemudian hari
Shinta: aku jadi takut kak mendengarnya… aku mendengarnya seperti bukan sebuah saran tapi seperti sebuah ancaman. apa tidak ada kalimat lain yang lebih enak didengar?
Rahwana: yaaa… kakak hanya bisa memberi saran seperti itu. Jangan hanya berguru kepada satu saran saja, banyak orang di sekitarmu yang lebih pandai lagi dari kakak.
Shinta: iya sih… tapi aku hanya lebih percaya ke kakak ketimbang orang lain. Lagipula ini adalah masalah pribadiku yang tidak boleh sembarang orang mengetahuinya.
Rahwana: kenapa pilih kakak? padahal kan kita belum lama saling kenal…
Shinta: gak tau juga sih kak kenapa?… perasaan aku mengatakan, kakak seperti pohon besar yang ada di tengah gurun pasir. meski tak bertemu air, tapi rasa dahaga ini hilang hanya dengan menyandarkan segala penatku ke kakak. Jujur, Aku belum pernah bertemu dengan orang semacam kakak sebelumnya. Satu-satunya orang yang tak mengharapkan apa-apa dari segala permintaanku.
Rahwana: siapa bilang tak mengharapkan apa-apa, satu jam curhat bayar sepuluh ribu tauuu…!!!
Shinta: iiiish, kakak ini… orang lagi serius!!!
Rahwana: iya dech… gratis-gratis…
Shinta: iihhh… sebel deh sama kakak..!!!
Rahwana: Huaaahahaha…ha…hah!!

Lebih kurang seperti itulah sekilas kisah Rahwana dan Shinta versiku, terkadang menjadi tokoh antagonis tidak mesti harus selalu berbuat jahat apalagi sampai menggunakan kekerasan. Jika sang Rahwana bisa mencintai seorang Shinta dengan tulus, mengapa harus memilih jalan yang lebih sulit ditempuh, bahkan sampai harus kehilangan nyawa demi sebuah nafsu. Rahwana dan Shinta takkan bisa bersatu dalam sebuah percintaan, namun mereka hanya bisa menyatukan rasa kasih dan sayang mereka dalam sebuah persahabatan ataupun dalam sebuah ikatan persaudaraan. Tentu kisahnya akan lebih menarik dan hiduppun akan terasa lebih indah. Memang tidak enak rasanya jika kita tak dapat memiliki cinta kita, akan lebih merana lagi jika kita sama sekali tak dapat menyatukan hati kita terhadap orang yang kita cintai. Aku berharap, istriku tidak salah paham membaca cerita ini… bagiku, istri adalah satu-satunya wanita yang aku cintai sepenuh hati, dan aku bukanlah tipe orang yang mudah berkhianat, tapi yaaahhh… aku memang orangnya suka berbagi / sharing. Berbagi dalam hal kebaikan, bukan hal yang lain… di usiaku yang ke Duapuluh Delapan ini, aku masih tetap belajar, bagaimana harus bersikap bijak dalam menghadapi segala macam problema yang ada.

Pengarang Cerita: Muhamad Ali Sidig Maulana
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami