Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengorbanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengorbanan. Tampilkan semua postingan

Sepenggal Cinta Fatimah Untuk Bunda

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Kudapati seorang wanita rupawan duduk rapi menadakan tangannya mengharapkan do’anya dikabulkan oleh sang ilahi, ia menangis mengeluarkan bulir-bulir mutiara segarnya setelah seharian penuh ia bekerja, aku melihatnya dan memandangnya dengan senyuman, “itu bundaku” wanita tegar yang nampak gagah di usianya yang tak muda lagi, ingin rasanya kupeluk ia dari belakang lalu ku tenangkan ia… Tapi, tapi aku tidak bisa…Yang selalu kuharapkan adalah agar allah swt selalu melindunginya dan selalu menenangkannya di saat ia bersedih, ia terbangun dari duduknya membuka mukena indahnya dari tubuh rentahnya, hatiku bergetar tatkala bunda melihat ke arahku, ia melihatku dengan cinta tapi apa yang sering aku lakukan, aku tak pernah menyadari bahwa ia menatapku dengan hati tulusnya, “bunda andai bisa aku berikan separuh hidupku, akan aku berikan itu karena bunda lebih membutuhkannya daripada aku, sungguh bisakah aku hidup tanpamu bunda?”
Ku rasakan tangannya mengelus wajahku yang lembut, 14 tahun aku hidup aku belum pernah mendengar suaranya dan berbicara dengan suaraku padanya, memang dari kecil aku sudah didiagnosa oleh dokter mengidap gangguan pada pita suaraku yang pada akhirnya juga merusak syaraf di telingaku, awalnya memang aku sangat putus asa melihat keadaanku tapi bunda selalu meyakinkan bahwa allah swt tidak pernah menciptakan makhluknya dalam keadaan sia-sia, begitupun aku. Aku yakin allah swt tidak tidur, ia pasti melihat betapa tegarnya bundaku, ia pasti melihat betapa sabarnya bundaku, dan ia pasti melihat betapa ikhlasnya bundaku dengan cobaan yang ia berikan khusus untuk menaikkan derajat bundaku.
“fatimah” kulihat lekukan bibir bunda memanggil namaku, tak ada suara hanya nampak saja, aku masih bersyukur allah swt masih mengizinkan kedua mataku ini berfungsi dengan begitu aku masih dapat melihat indahnya wajah bunda dan menawannya senyum bunda, aku menoleh ke arahnya ia mulai menggerakkan tangannya membentuk suatu kalimat yang khusus bunda pelajari untuk berkomunikasi denganku “mau makan?”
Aku mengangguk ia mulai mengelus kepalaku dengan senyuman dan beranjak pergi meninggalkanku.
Tanganku bergetar-tanganku bergetar aku merasakan setetes demi setetes air mataku jatuh. Hangat, itu yang aku rasakan ku hapus air mata itu setiba bunda di hadapanku ia memegang sepiring nasi beserta lauk menghadapku yang tertunduk lesu “ada apa?” gerakan tangannya melemas
“bunda, terima kasih” ku balas dengan gerakan tanganku yang agak cepat
“untuk apa?”
“untuk keikhlasanmu menerima dan mengasuhku”
Bunda mendekatkan wajahnya padaku dan mencium keningku “seharusnya bunda yang berterima kasih sebab fatimah mau bersabar sebab memiliki ibu seperti bunda”
Melihat gerakan tangannya yang seperti itu membuat hatiku semakin kuat, “ya allah, terima kasih sebab engkau telah memberikan hambamu yang penuh kekurangan ini, seorang bidadari yang amat mencintai hambamu ini, terima kasih ya allah”, syukurku dalam hati
Keesokan harinya, aku duduk termenung di teras rumahku yang amat sangat sederhana, aku melihat anak seumuranku pergi sekolah dengan girangnya, andai aku bisa bersekolah, tapi sudahlah apa mau dikata, plakk seseorang memukul ringan pundakku, pasti itu bunda, ia tersenyum padaku seraya berkata “bunda pergi dulu”
Aku menyalami tangannya yang kasar akibat terlalu banyak bekerja, sepeninggal ayah, bunda bekerja sebagai seorang penjual getuk keliling, terkadang kasihan melihatnya banting tulang, aku pernah memintanya agar membawaku ikut serta dalam berdagang tapi bunda tidak pernah mengizinkanku dengan alasan siapa yang akan mengurus rumah.
“assalamualaikum wr. Wb”
“waalaikumsalam wr. Wb, semoga allah swt selalu melindungi bunda di setiap langkah bunda”
Malamnya bunda pulang dengan senyuman, entah sudah berapa ratus kali bunda memberikan senyuman termanisnya untukku, “alhamdulillah” ucapku dalam hati, bunda mengangkat kantong hitam di tangannya menunjukkan padaku, aku bersorak sebab dari pagi tadi aku belum makan, ku buka bungkusan itu sembari bunda meletakkan bakulnya di atas tikar jerami yang biasanya kami tiduri, “ayo makan” ucap bunda
Walau aku tak mendengarnya tapi aku tau ia mengetakan hal itu, kulihat nasinya sangat sedikit ditambah lauk yang sama sedikitnya aku menoleh ke arah bunda “ayo bunda kita makan sama-sama, aku sudah agak kenyang, jadi tak mungkin habis olehku sendiri”
Bunda mendekat “fatimah, 14 tahun sudah kita hidup bersama dengan izin allah swt di dunia ini, jadi bunda sudah tau sifatmu yang sangat baik itu, bagaimana mungkin seorang gadis yang ditinggalkan ibunya bekerja selama seharian penuh tanpa sepeser uang pun bisa makan?”
Aku mengangguk
“sini, biar bunda suapi” lagi dan lagi ku lihat mata bunda berair, kali ini aku mencoba memberanikan diri untuk memeluk bunda, ku dekap dalam-dalam tubuhnya yang mungil dan menangis deras disana, bunda mengelus jilbabku dan mengangkat kepalaku mendongak menghadapnya dan membuat tangannya memainkan jemarinya yang kurus “jika nanti fatimah tumbuh dewasa, jadilah seorang wanita yang sholeha agar dapat mendo’akan bunda nantinya” aku mengangguk dan kembali menangis dalam dekapan bunda.
Paginya, seperti biasa bunda berangkat dengan mengucapkan salam padaku “assalamualaikum wr. Wb” lalu kujawab dalam hati dengan penuh nikmat “waalaikumsalam wr. Wb” entah mengapa hari ini aku sangat susah melepas kepergian bunda, “ya allah, semoga tidak ada kejadian buruk yang terjadi pada bunda” do’aku dalam hati, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan mengerjakan rutinitasku yang biasa, tapi tak lama kemudian takdir berkata lain, seorang tetangga memukul-mukul bahuku dengan keras entah apa yang sedang dilakukan oleh mang budi padaku ia menarik tanganku menuju jalan tol yang agak jauh dari rumah kami, “astagfirullahalazim,” aku berteriak dalam hati melihat bundaku lemas tak berdaya dibopong banyak orang masuk ke dalam ambulance, aku menyusul bunda dengan air mata yang tak beraturan keluarnya, istigfar, dzikir dan do’a tak hentinya aku lantunkan dalam hati ini, berharap agar allah swt selalu melindungi bunda, setibanya di rumah sakit bunda langsung dibawa ke ruang ugd dengan rasa was-was aku menunggui bunda hingga 2 jam berlalu seorang dokter keluar dari ruang ugd dan dengan sigap aku berdiri menemuinya, ku gerakkan tanganku nampaknya dokter itu tak mengerti jadi kuambil pena dan secari kertas dari seorang suster yang hampir marah dengan tingkahku, kalimat demi kalimat kutulis “dok, bagaimana keadaan bunda saya”
“bunda adik dalam keadaan kritis dan sangat memerlukan donor darah, donor mata serta ada sedikit luka yang cukup parah sehingga harus ditampal dengan kulit”
“ada apa dengan mata bunda saya dok?”
“sepertinya ada benturan yang menyebabkan gangguan pada sistem syaraf mata bunda adik, sehingga tidak dapat berfungsi lagi”
“astagfirullah” aku terduduk menangis tersedu-sedu lalu seketika aku ingat tempat seharusnya aku menangis dan mengadu
“dok, mushola dimana?”
“lurus dan belok kanan”
“terima kasih dok, assalamualaikum wr. Wb”
“waalaikumsalam wr. Wb”
Aku berlari dengan secepat kilat, mengambil air wudhu yang sangat membuatku segar, aku bersimpuh memohon ampunan pada allah swt dan memohon petunjuk dari allah swt, aku menagis tersedu-sedu mengingat betapa banyaknya aku melalaikan kewajibanku sebagai seorang hamba pada allah swt, dan aku banyak melalaikan tugasku sebagai anak dari bundaku yang sekarang sedang terkulai lemah di dalam tidurnya, “ya allah, jika ini memang takdirku dan jika ini memang sudah ketentuan darimu, aku siap, demi bundaku dan demi pengorbanan bundaku, aku berserah diri padamu ya rabb, tuntunlah aku dalam jalanmu hingga aku menghembuskan nafas terakhirku nanti, lailahailallah…” ku mantapkan langkah, ku mantapkan niatku, ku buka mukena yang tadinya membungkus tubuhku, ku hela nafas di setiap hembusan nafasku ku ucapkan dzikir, lalu aku berjalan keluar mushola dan meminta secarik kertas dan pena… Kulukiskan semua kata-kata indah untuk bunda…
“dik, apa anda siap?” kubaca gerakan bibir dokter itu, aku mengangguk tapi sebelumnya aku memberikan surat yang tadinya kubuat untuk bunda, jika saja sesuatu yang buruk terjadi padaku, dokter itu menerima suratku dan tersenyum, aku menutup mataku, kurasakan tempat tidurku didorong menuju ruang operasi “bunda, maafkan aku… Bismillahirahmanirahim… Lailahailallah… Ya allah aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan engkau ya allah dan nabi muhammad adalah utusan allah…” ku pejamkan mataku dengan nafas yang amat sangat ringan…
Bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum wr. Wb
Bagaimana kabar bunda?
Bunda, maafkan anakmu ini jika banyak kesalahan, dan banyak sekali hal bodoh yang fatimah lakukan pada bunda, bunda mau kan memaafkan fatimah.
Bunda tak usah khawatir, fatimah pasti bisa masuk syurganya allah swt, mau tau kenapa karena bunda pasti akan selalu mendo’akan fatima kan? Bunda janji ya? Dan maaf bunda janji fatimah untuk jadi anak yang sholeha dan dapat mendo’akan bunda tidak bisa terwujud, malah sekarang bunda yang mendo’akan fatimah,
Bunda fatimah sangat senang karena allah swt memberikan fatimah yang penuh kekurangan ini seorang bunda yang sabar dan senangtiasa mencintai fatimah sampai akhir hayat fatimah menjemput…
Bunda, bunda harus janji sama fatimah, kita harus bertemu di syurga nanti, tentunya kita satu keluarga ada ayah, bunda dan fatimah. Insyaallah…
Bunda, bunda harus kuat, walaupun yang bunda kenakan itu mata fatimah yang cengeng, bunda mata fatimah itu belum bisa membalas semua pengorbanan bunda selama fatimah hidup, bunda yang melahirkan fatimah, bunda yang mengasuh fatimah, bunda yang memberi fatimah motivasi agar fatimah menjadi sosok seorang anak yang kuat, bunda terima kasih untuk cinta tulus dan kasih sayang yang bunda berikan pada fatimah, fatimah sangat ingin bersama bunda tapi fatimah harus bersabar insyaallah, allah swt akan mengizinkan fatimah bersama bunda kekal selamanya di syurga nanti, bunda sekali lagi fatimah minta maaf karena harus pergi meninggalkan bunda, tapi tenang bunda, allah swt pasti menjaga bunda. Bunda, fatimah sangat mencintai bunda, sangat mencintai bunda, sangat mencintai bunda…
“ya allah, ya rabb, hamba mohon lindungilah bunda dimanapun ia berada, sayangilah dia seperti ia menyayangi fatimah, hapuslah air matanya ketika ia bersedih, dan masukkanlah ia kedalam syurgamu… Amin”
Sepenggal cinta fatimah buat bunda
Wassalamualaikum wr. Wb
Wah, gimana cerpennya? Maaf banget kalo banyak kesalahan dalam penulisan ataupun perkataan, ataupun diagnosa…
Sesungguhnya si penulis hanya manusia biasa yang sangat sering melakukan kesalahan, jadi mohon dimaklumi…
Yang suka like, yang kagak suka like juga dong… Hahahah*maksa…
Ana, mohon pamit ya…
Wassalamualaikum wr. Wb
Penulis Cerita: Meri Andini
 

Tuhan Selamatkan Aku Dari Zina

| komentar

Di luar sangat menakutkan. Angin bertiup kencang. Berdiri bulu romaku melihat pepohonan terpontang panting tumbang di dekat rumah. Kucoba mengalihkan perhatian, mengambil headset kemudian memutar musik sekeras-kerasnya.
Suara gemuruh angin membuatku takut. Wah… wah… wah… tak bisa kubayangkan betapa takutnya aku jika hari ini kiamat terjadi.
Tak lama angin bertiup kencang. Akhirnya rintik hujan berlomba turun menghujam bumi. Leganya melihat air yang jatuh dari langit itu. Degupan di dadaku berhenti.
Kejadian ini membuatku merenung untuk memperbaiki diri dari kesalahan dan mulai perbanyak amal kebaikanku. Siapa tau kiamat datang tiba-tiba, dan aku tidak punya banyak bekal menghadapinya.
Semalaman sulit rasanya memejamkan mata. Hatiku menjerit seolah memintaku bertobat.
Tobat… tobat… tobat…
Jeritan ini semakin mendesakku.
Tak terasa sekarang sampai pada sepertiga malam. Aku keluar dan bersegera wudhu. Sepertinya aku benar-benar akan taubat.
Kuangkat kedua tanganku beriringan dengan takbir ‘Allahu Akbar’ dan mulailah aku pada rakaat pertama.
Hatiku merasa lebih tenang ketika dahi menyentuh lantai yang beralaskan sajadah berwarna hijau tua. Aku merasa nyaman dengan posisi sujud ini. Aku merasa seperti berada di padang gurun, yang berhias bunga-bunga indah. Kuhanyut pada indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran disana. Di tengah indah yang kurasa, tiba-tiba badanku bergoncang. Aku mendengar suara seseorang memanggil.
“Astagfirullah… Rahman! Sholat kok bisa sampai ketiduran,” ujar lelaki paruh baya itu menegur kecerobohanku, tertidur saat sholat.
“Ayo… bangun!” paksanya menggoncang tubuhku.
Lelaki paruh baya itu tak lain adalah ayahku.
Ayah adalah salah satu tokoh masyarakat yang dihormati di tempat tinggalku. Beliau sebagai pemuka agama yang terkenal dermawan. Petuah-petuah yang disampaikannya adalah hal yang di nantikan masyarakat disana.
“Rahman terbawa suasana Yah.”
Ini yang jadi masalah dalam hidupku, setiap kali berniat untuk taubat ada saja penghalangnya. Kalau begini terus, akan sangat tak mungkin bisa melakukan taubat secara total. Belum lagi ditambah dengan godaan yang datang dari para gadis yang dekat denganku. Semakin pesimis rasanya untuk melakukan itu.
Malam pun kini menjelma menjadi pagi hari yang indah. Sinar mentari menyambutku hangat. Kicau burung menyapaku mesra. Senang rasanya pagi seperti ini bisa melihat anak kecil berlarian di depan rumah. Aku hanya menyaksikan mereka dari balik jendela kamar.
Pelan-pelan tirai jendela kubuka.
Sebenarnya aku tak sengaja, tapi perempuan itu cantiknya luar biasa. Mendadak, serasa enggan mengalih pandangan darinya. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Dan entah bagaimana Ayah sudah berdiri di belakangku.
“Zinanya mata adalah melihat sesuatu, zinanya lisan adalah mengucapkan sesuatu, zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan sesuatu, sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu semua. Ini hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,” lagi-lagi lelaki paruh baya ini menasehatiku, membuatku kehilangan kesempatan berharga pagi ini.
Kutolehkan kepala kearah Ayah. Tak enak rasanya bicara dengan orangtua tanpa melihatnya. “Maksud Ayah?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Ayah melihat, kamu sedang memandang Husna. Kamu sedang menikmati kecantikan yang ada padanya,” jawabnya, “Tidak pantas kamu seperti itu. Kamu sedang berusaha memaksa dirimu untuk mendekat pada zina. Istigfar Abdurrahman! Segeralah menikah jika kamu sudah merasa sanggup,” lanjutnya memakiku.
Sebenarnya Ayah tidak pernah memaksaku untuk segera menikah, tapi aku selalu merasa Ayah selalu saja mendesakku untuk segera menikah. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk melakukannya. Apalagi saat ini aku hanya seorang pengangguran. Bagaimana bisa aku menikah tanpa memberikan nafkah pada keluargaku nanti.
Harusnya aku bersyukur mempunyai Ayah sepertinya. Selalu hadir dengan nasehat-nasehat yang akan menyelamatkanku dari kesesatan. Tapi mengapa sesulit ini aku menerima nasehat-nasehat darinya?
Seolah aku ingin berontak atas kepeduliannya padaku. Sepertinya aku lebih suka hidup bebas daripada harus terkekang bersamanya. Andai Ibu masih ada mungkin hidupku jauh lebih nyaman. Hanya Ibu yang bisa mengerti aku dan pola hidupku yang semberaut ini.
Singkat cerita,
Makin lama makin menjadi-jadi kelakuan burukku. Sulit rasanya mengendalikan diri dari hawa nafsu. Aku tergiur akan mega dunia. Lupa pada kewajibanku sebagai seorang muslim. Pantas jika Ayah membenciku. Aku hanya jadi aib baginya.
Ingin sekali kuterlepas dari kegelapan ini, tapi sulit sekali bagiku. Aku terlanjur mencintai dunia. Noda hitam menyelimuti hampir semua bagian di hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa mensucikannya kembali dari noda itu?
Makin ke depan hidupku makin tak berarah. Ayah sepertinya sudah bosan menasehatiku. Dia tak peduli lagi dengan apa yang kulakukan. Untunglah Ayah masih mengizinkan aku tinggal di rumah.
Tepat pukul 16.00.
Awan hitam pekat hadir menghias langit. Burung-burung tak ada yang berlalu lalang lagi di sekitar rumahku. Di luar senyap sekali tidak ada aktivitas. Kenapa sore ini tak sebising biasanya? gumamku. Pelan-pelan aku mengintip ke langit dari balik tirai kamar. Aku khawatir akan terjadi suatu hal yang membuat nyawaku melayang. Ritme jantungku mulai tak berirama.
Ditambah dengan suara petir yang menggelagar di angkasa. Semakin luar biasa ketakutanku sore ini, terhenti rasanya nafasku sekarang.
Kucoba untuk tenang, berusaha mengalihkan perhatian dari kondisi alam yang kurang baik hari ini. Pelan-pelan kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Kupejamkan mata agar lebih santai menghadapinya.
Tak berapa lama, aku merasa terbang ke suatu tempat. Ketempat yang gelap sekali. Disana banyak binatang buas yang sudah menghadang. Dahiku mulai berkucuran keringat.
Sejenak kucoba mengingat, barang kali aku mengenal tempat ini. Tapi, aku merasa asing. Sepertinya aku memang tak pernah kemari sebelumnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Luar biasa takutnya aku. Tubuhku lemas rasanya. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Kupejamkan mataku agar tak melihat sosok yang menepuk pundakku itu.
Dia memintaku membuka mata dan berbalik ke arahnya. Awalnya kucoba menolak dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia memintanya lagi. Pelan-pelan kuberanikan diri untuk melakukan perintahnya. Tu wa ga, srettt! Aku berbalik ke arahnya. Allahu Akbar… teriakku kaget. Ternyata orang itu adalah Ibuku. Spontan aku langsung ingin memeluknya, aku sangat merindukannya, benar-benar sangat rindu padanya. Tapi dia menghindar. Dia tidak ingin kusentuh. Hancur rasa hatiku melihat Ibu seperti itu.
Kenapa Ibu tidak ingin kupeluk? Apa Ibu tidak rindu padaku? tanyaku. Dia hanya diam menatap tajam kornea mataku. Tak bisa kututupi kesedihan yang kurasakan, mendadak airmataku berjatuhan.
Kemudian Ibu bergerak, mendekat padaku. “Kamu kotor sekali, Nak! Ibu tak ingin tersentuh olehmu. Semua orang akan berkata sama seperti yang Ibu katakan. Semua orang akan menghindar darimu jika kamu tidak segera membersihkan diri dari kekotoran dan noda-noda hitam yang menempel pada tubuh dan hatimu,” ujarnya berbisik padaku, “malu pada Allah. Malu karena kamu tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan-Nya padamu. Tak lama lagi Ibu akan menjemput Ayah,” lanjutnya kemudian menghilang.
Tak lama Ibu pergi, tubuhku terasa ringan. Sekarang, aku terbang kembali.
Tempat selanjutnya jauh lebih baik. Disana ada cahaya terang, membuat penglihatanku sedikit lebih nyaman. Tapi cahaya itu makin lama makin menyilaukan mata. Sakit sekali mataku melihatnya. Kemudian secara tiba-tiba cahayanya redup kembali.
Pelan-pelan kedua mataku mulai terbuka. Penglihatanku buram, mungkin efek dari cahaya yang sangat terang tadi.
Setelah penglihatanku pulih, barulah kusadari barusan hanyalah mimpi. Tapi suara Ibu masih terngiang di telingaku. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan Ayah sekarang.
Ibu bilang sebentar lagi akan menjemputnya. Seandainya yang Ibu katakan benar terjadi. Aku akan kehilangan Ayah, hidup sebatang kara tanpa tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Ditemani hujan. Aku menangis, mengkhawatirkan Ayah, dan menangis mengkhawatirkan jalan hidupku yang salah ini.
Sudah 3 tahun lamanya aku menjalin hubungan dengan Husna. Perempuan cantik yang kutemukan tak sengaja dari balik jendela.
Dia perempuan yang sangat kucintai.
Harusnya di usiaku yang ke-24 ini, aku menikahinya. Tapi, Ayah tak pernah merestui hubungan kami. Ayah menilai Husna hanya membawa pengaruh buruk dalam hidupku. Sehingga Ayah tak pernah menggubris keinginanku untuk menikahinya.
Pernah terlintas di benakku mengajak Husna kawin lari. Tapi, buru-buru kulupakan hal bodoh itu. Jika kulakukan sama saja dengan membunuh Ayah.
“Rahman!!!”
Tok…tok…tok…
Ayah memanggil sambil menggedor pintu kamarku. Berulang kali Ayah melakukannya, mengganggu sekali. Malas rasanya membuka mata sepagi ini.
“Iya… iya,” sahutku.
Aku keluar dari kamar dengan rupa acak-acakkan. Samar-samar kulihat dari kejauhan seorang perempuan duduk di ruangan tamu bersama lelaki tua di sampingnya.
“Man… kemari sebentar!” pinta Ayah memanggilku.
“Iya!” sahutku cemberut.
Kemudian aku duduk di samping Ayah. Perempuan itu asing di mataku. Kupikir dia adalah calon istri Ayah. Ternyata prediksiku salah total, perempuan itu adalah orang yang akan dijodohkan denganku.
Seakan tersengat listrik bertegangan tinggi. Sesak rasanya dadaku mendengar perjodohan ini.
Tak mungkin aku bisa menyukainya, pikirku. Hanya Husna yang bisa memenangkan hatiku, dia adalah satu-satunya perempuan yang kucinta.
Dengan tegas kutolak permintaan Ayah yang egois ini. Tapi, Ayah tetap saja bersikeras dengan keinginannya, untuk menikahkanku dengan perempuan itu. Sempat terjadi perdebatan sengit di antara kami. Tiba-tiba aku teringat akan pesan yang ibu sampaikan dalam mimpiku. Akhirnya aku mengalah pada Ayah dan meng-iyakan keinginannya, meskipun sebenarnya itu bertentangan dengan hatiku.
Mati aku jika Husna mendengar berita buruk ini. Dia pasti akan meninggalkanku pergi. Aku tak mau hal ini terjadi. Buru-buru kupersiapkan sandiwara agar berita buruk ini tak mengagetkan kekasihku, Husna.
Hampir setiap hari kuhabiskan waktu bersama Husna, dengan berhiaskan canda dan tawa. Mana mungkin ada kesempatan untuk Meisandy masuk ke hatiku.
Setahun berlalu
Semenjak Ibu hadir dalam mimpiku. Pelan-pelan aku mulai memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit hatiku mulai bersih dari noda-noda hitam yang melekat. Belakangan ini aku jatuh cinta pada ayah. Dan ayah juga sama sepertiku. Ayah membalas cintaku dengan memperlakukanku seperti seorang anak pada umumnya.
Mata hatiku mulai terbuka untuk menerima nasehat darinya. Pelan-pelan terjawab sudah keraguanku. Ternyata, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Hanya saja masih ada beberapa hal yang tak bisa kuhentikan. Dan hal tersebut kulakukan bersama Husna.
Sebenarnya, aku menyadari kehadiraan Husna benar-benar membawa pengaruh buruk padaku. Tapi aku tak bisa pergi begitu saja darinya. Perlu alasan yang sangat, sangat kuat untuk membuatku pergi meninggalkannya.
Sore ini Meisandy berkunjung ke rumah, ini kali pertama dia menemuiku. Dia datang sendirian, membawa buah tangan untukku. Tak ada yang menarik darinya. Tak ada juga yang bisa dinilai darinya. Perempuan ini biasa saja. Dari caranya berpakaian sampai dengan cara bicaranya.
Aku heran, Ayah kok bisa-bisanya kepikiran menjodohkanku dengan Meisandy.
Semakin kedepan semakin jelas terlihat perhatian Meisandy padaku. Dengan karakter dan pembawaan khas yang dia miliki. Kini Meisandy hadir menghiasi hari-hariku. Tapi tetap saja aku tak bisa memperhitungkan kehadirannya dalam hidupku. karena tak ada sedikit pun celah, di bagian hatiku yang bisa terisi oleh orang lain selain Husna, kekasihku.
Malam ini ayah menjamu Meisandy makan malam di rumah. Malas rasanya ikut makan bersama mereka. Pasti akan sangat membosankan, duduk bersama orang-orang pasif seperti mereka.
Aku adalah orang pertama yang nongkrong di meja makan. Semakin cepat datang maka akan semakin cepat juga aku meninggalkan mereka, pikirku picik. Setengah jam sudah aku menunggu di meja makan. Meisandy belum juga muncul. Muak sekali jika harus menunggu orang seperti dia selama itu.
“Assalamualaikum.”
Akhirnya datang juga. Aku sudah menyiapkan diri untuk menyantap hidangan yang ada di depan mata. Sendok dan garpu tinggal lepas landas menuju piring. Aku sudah tak sabar untuk segera makan.
“Assalamualaikum.”
Sekali lagi, dia mengucapkan salam di depan rumah. Malas rasanya keluar menyambut kedatangannya. Untung Ayah mau bersusah payah menjemputnya diluar.
“Maaf… membuat menunggu,” ujarnya.
Dia terlalu basa-basi hanya untuk sekedar makan malam. Hampir aku memarahinya karena mengulur-ngulur waktu. Apalagi aku sudah kelaparan seperti ini.
“Cepat duduk,” pintaku sinis.
“Maaf ya.”
Jengkel sekali mendengar basa-basi yang diucapnya. Bukannya segera duduk, Dia tetap saja berdiri di belakangku. Kalau tak kupaksa orang ini hanya membuang-buang waktu saja, gumamku. Akhirnya, aku berdiri dari tempat dudukku dan menoleh kearahnya. Seeettt! Mendadak lidahku jadi kelu. Aku tak percaya Maisandy secantik ini.
Damai hatiku melihat wajah yang penuh kesejukan itu. Sempurna penglihatanku pada Maisandy yang mengenakan jilbab hijau tua warna kesukaanku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi tentangnya malam ini. Aku khawatir posisi Husna di hatiku terancam tergeser kedudukannya.
“Mari kita mulai makan malamnya.” ajakku.
Tiba-tiba aku menjadi sosok yang hangat untuk Meisandy malam ini.
“Rahman! Bagaimana? Apa kamu sudah siap untuk menikahi Meisandy?” tanya Ayah mengawali obrolan. Aku tak bisa memutuskan secepat mungkin tentang pernikahan ini. Tidak ada basa-basi sama sekali Ayah menanyakan hal ini, membuat hilang selera makan saja.
“Beri Rahman waktu untuk memikirkan hal ini, Yah!” terangku padanya.
“Apalagi yang kamu pikirkan? Menafkahinya? Masalah itu jangan dipikirkan, nanti Ayah siapkan usaha untuk kalian kelola bersama. Apa lagi yang membuatmu keberatan?”
“Beri Rahman kesempatan untuk meyakinkan diri, Yah! Jangan mendesak seperti ini.”
“Sampai kapan kamu akan memikirkan ini? Sampai kamu tua bangka? Iya?” ujarnya marah.
“Sampai Rahman menemukan alasan untuk mencintai Meisandy, baru Rahman akan menikahinya,” cetusku tegas.
Makan malam tiba-tiba menjadi hening. Tak enak rasanya, makan dengan keadaan emosi seperti ini. Kasian Meisandy, hanya tertunduk bisu, mendengar kami berdebat.
Sekarang aku telah sampai pada saat dimana aku harus memilih. Ini sangat berat bagiku. Meisandy bukan perempuan yang ku mau tapi ayah menginginkannya mendampingiku. Andai aku diizinkan, tentu kujatuhkan pilihan pada Husna.
Waktu terus berjalan. Tak terasa usiaku kini makin tua saja.
Aku yang sekarang tak seburuk dulu lagi. Keinginan untuk berubah kini terwujud. Tapi lagi-lagi masih ada beberapa hal yang tak bisa kuhentikan. Dan hal tersebut kulakukan bersama Husna.
Kini, makin menggebu-gebu kurasa perhatian Meisandy padaku. Dia selalu datang menemaniku. Sekarang tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersama Husna.
Ruang gerakku mulai terbatas, Ayah selalu mengawasi pergerakanku untuk bertemu Husna. Tapi, aku tak sebodoh yang ayah kira. Diam-diam aku mencuri-curi kesempatan menemui Husna.
Saat ini, berbohong rasanya kalau aku bilang tak suka pada Meisandy. Pelan-pelan perempuan itu menyelinap masuk dalam hatiku. Kurasa tak lama lagi aku menemukan alasan mengapa harus menikahinya.
“Rahman!”
Suara itu dekat sekali di telingaku. Ini bukan suara Ayah. Siapa pemilik suara ini? pikirku bertanya-tanya. Tapi malas sekali rasanya membuka mata sekarang.
Suara itu terdengar berulang-ulang di telingaku. Oke.. oke aku akan memaksa mataku agar terbuka. Wah wah wah… pagi sekali mata ini sudah disuguhi keindahan seperti ini, gumamku. Meisandy tampil cantik pagi ini. Sekarang ayah benar-benar mengizinkannya melakukan apapun padaku.
“Assalamualaikum.”
Aku suka melihat senyumnya pagi ini.
“Waalaikumsalam.”
“Ini sarapan buat Rahman. Mei sendiri yang memasaknya.”
“Mei gak sarapan?” tanyaku.
“Mei masak cuma satu porsi. Jadi Rahman saja yang makan.”
“Wah… gak adil ini namanya. Ya sudah kita bagi dua makanannya. Sini aku suapin.”
“boleh?” tanyanya polos malu-malu.
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Aku suka sekali mendengar suaranya. Ada khas tersendiri dari suara perempuan yang satu ini.
“Masuk kamarku aja kamu dikasih izin sama Ayah. Apalagi cuman suap-suapan doang. Pasti bolehlah!” jawabku sambil menertawakan keluguannya. Seharusnya aku tak semudah ini takluk dan membagi cintaku. Tak bisa kubayangkan hancurnya Husna andai tau apa yang sedang kulakukan di belakangnya.
Setengah tahun berlalu
“Harusnya, aku tak lagi menemuimu sekarang! Setelah perjodohanku dengan perempuan lain. Harusnya, saat ini aku meninggalkanmu, tanpa harus menemuimu lagi. Tapi aku tak bisa melakukannya. Aku terlalu menyayangimu, aku benar-benar tak bisa meninggalkanmu.”
Sulit bagiku memikirkan ini sendirian. Akhirnya, aku mengakui tentang perjodohanku pada Husna. Kusampaikan semua kebenarannya dengan jujur. Husna hanya diam, belum menunjukan reaksi apapun mendengar pengakuanku.
“Aku tidak bisa berhenti!!! Aku benar-benar tidak bisa menghentikan ini. Aku tak ingin kehilanganmu. Perasaan ini tulus sekali. Tentang cintaku padamu, aku benar-benar tidak bisa menghentikannya,” ujarku lagi.
Husna membisu tanpa ekspresi apalagi reaksi. Aku khawatir dia sudah tak mencintaiku lagi. Sebab sebelum aku mengatakan ini, kami sudah jarang bertemu.
Ternyata salah kalau kupikir Husna tidak mencintaiku lagi. Mendadak airmatanya menetes. “Aku akan bersedih melihatmu menangis. Aku terluka melihatmu tersakiti. Tapi, aku akan sangat bahagia bila melihatmu juga bahagia,” sahutnya sambil menatap tajam mataku, “Bila kamu tak bisa berhenti mencintaiku, maka aku yang akan melakukannya untukmu!!! Aku akan menghentikannya, aku akan membuatmu tak mencintaiku lagi, aku akan melakukannya untukmu,” lanjutnya lagi.
Seperti tersambar petir rmendengar Husna bicara seperti itu. Hancur berkeping-keping hatiku. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa sedih hatiku jika harus kehilangannya. Sebisa mungkin aku mengatur emosiku, menahan airmata yang sebentar lagi akan menetes. Mataku benar-benar seperti sedang kena asap. Akan sangat memalukan bila menangis di hadapan Husna.
“Diam-diam aku sudah putus asa, diam-diam aku menyerah dengan perasaanku. Aku merasa kehilangan, jauh sebelum mendengar pengakuanmu. Aku sudah terbiasa tanpa kamu ada di sisiku. Semenjak kita jarang bertemu, aku sudah membiasakan diri tanpamu. Bertahun-tahun kita bersama, dan hari ini adalah hari dimana aku tak bisa lagi menemanimu. Setelah ini, Saat aku menghilang. Tolong jangan pernah mencari atau pun memikirkanku lagi,” lanjutnya.
Binar di mataku mulai mengganggu, penglihatanku menjadi agak kabur. Airmata seperti sedang berdesakan ingin keluar dari mataku. Runtuh rasanya langit mendengar Husna bicara seperti itu. Ini kali pertama dalam hidupku dibuat kecewa olehnya.
Aku bersikeras memintanya untuk tidak menyerah mencintaiku. Tapi, dia juga bersikeras memintaku berhenti mencintainya.
“Semudah ini kah aku akan kehilanganmu? Semudah ini kah aku akan melepaskanmu? Haruskah aku menyerah sekarang?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi, “Tidak… aku tak akan melakukannya. Kamu bohong! Semua yang kamu katakan itu tidak seperti yang kamu rasakan! Aku tau kamu tak akan pernah berhenti mencintaiku!” ujarku coba memastikan.
Husna hanya diam.
Bukan itu reaksi yang kuharap darinya. Kupikir dia akan menghampiri dan memelukku, setelah mendengar apa yang kukatakan tadi. Ternyata tidak, dia berbalik dan meninggalkanku pergi tanpa sepatah kata pun terucap. Akhirnya, airmataku yang dari tadi sudah berdesakan satu per satu keluar dari mataku.
Pantas, Husna meninggalkanku pergi. Ternyata dari tadi Meisandy sudah berdiri di belakangku dengan airmatanya.
Awalnya Meisandy memberiku kesempatan menjelaskan pertemuan antara aku dan Husna. Tapi aku tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa padanya. karena ini memang salahku sepenuhnya. Yang tidak memberitahukan padanya kalau aku pergi menemui Husna.
Sekarang aku benar-benar terlibat dalam cinta segitiga yang dramatis. Husna dan Meisandy sudah merenggut kebahagiaanku. Mereka harus bertanggung jawab untuk mengembalikannya lagi padaku.
Malam hari tepat pukul 19.00.
“Rahman…”
Ayah memanggilku. Sepertinya ada sesuatu yang serius ingin dibicarakannya. Buru-buru aku mendekat.
“Duduk sebentar, Nak! Jadi bagaimana? Kamu sudah siap?”
Aku tidak fokus dengan yang Ayah katakan.
“Bagaimana?”
Dia bertanya kembali padaku. Sepertinya kali ini Ayah akan memaksaku mati-matian untuk menikahi Meisandy.
“Baik! Rahman akan segera menikahi Meisandy,” tegasku.
“Alhamdulillah,” ucapnya kemudian menghampiri dan memelukku.
Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk menolak perjodohan ini setelah Husna meninggalkanku pergi.
Dua hari lagi aku akan menjadi seorang suami untuk Meisandy. Antara siap dan tidak rasanya.
Langit mulai gelap. Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Berganti sudah pemandangan di langit. Sekarang waktunya bulan dan bintang yang menghiasinya. Ditemani rintik hujan, Meisandy datang ke rumah sekedar mengajakku ngobrol sambil menikmati secangkir teh manis.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Kutolehkan kepala ke arahnya. “Ada apa dengan perasaanku?” aku balik bertanya padanya.
“Apa perempuan yang kamu temui kemarin masih ada disana?” tanyanya sambil menunjuk ke arah kepalaku dengan ciri khas polos yang dimilikinya.
“Tidak… dia tidak ada disini,” jawabku sambil menunjuk kepala, “Tapi dia ada disini,” lanjutku sambil menaruh tangan di dada.
“Oh…!!! Berarti aku lah orang yang ada di kepalamu sekarang, di dalam pikiranmu, disana,” dia kembali menunjuk ke arah kepalaku, “Mungkin kehadiranku ini hanya menjadi beban di hidupmu. Maaf… karena aku membuatmu lebih sering berpikir sekarang. Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya lirih.
“Aku tidak pernah menyesali takdirku. Aku tidak pernah berpikir untuk menyalahkanmu. Ini takdir yang Tuhan berikan padaku. Apa pantas aku menolak pemberian ini?” sahutku padanya.
Meisandy hanya terdiam, matanya tak berhenti mencuri-curi pandang padaku. Aku mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Aku memahami apa yang dikhawatirkannya saat ini. Seharusnya aku berterimakasih padanya, karena selama ini dia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya. “Jangan pernah khawatirkan kebahagiaanku. Saat ini aku baik-baik saja. Jangan pernah berpikir aku akan menyalahkanmu,” ujarku lagi.
“Suatu saat, jika kamu menyesal menikah denganku. Silahkan saja kamu marahi aku, caci maki aku, lakukan apapun yang kamu mau. Tapi aku mohon! Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku.”
Mendadak otakku berhenti berpikir. Tak percaya rasanya mendengar Meisandy mengatakan itu padaku.
“Selama mengenalmu, berada di sisimu, jadi bagian penting di setiap hari-harimu. Bagaimana mungkin aku akan bertahan bila kamu meninggalkanku. Lakukanlah apapun yang kamu inginkan. Selama kamu di sisiku, aku baik-baik saja,” lanjutnya kemudian berdiri dan meninggalkanku.
“Selama mengenalmu, berada di sisimu, jadi bagian penting di setiap hari-harimu. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendirian.” sahutku bicara sendiri.
Hari ini adalah hari terakhir aku berstatus bujangan. Lusa, akan menjadi moment terpenting dalam hidupku. Awal dari kisah hidup baruku dengan keluarga baru.
Saat ini semua orang sepertinya bahagia. Tapi tidak denganku. Aku harus berjuang agar terlepas dari hatiku yang terbalut luka. Luka lama yang tiba-tiba saja datang menyapaku.
Kenangan manisku bersama Husna tiba-tiba saja menari indah di ingatanku. Sulit sekali melupakan perempuan ini!!! gumamku kesal. Aku hanya bisa memukul-mukul kepalaku berharap kenangan itu bisa segera lenyap dari otakku.
Waktuku hanya tersisa 26 jam mengenang Husna. Setelah melangsungkan akad nikah, tak pantas rasanya aku memikirkan perempuan lain selain istriku. 4 tahun lamanya aku mengenal Husna, sekarang hanya ada 26 jam waktuku untuk melupakannya. Sama sekali waktu yang tak sebanding. Tapi, aku harus bisa melupakannya.
“Assalamualaikum.”
Di tengah indah hayalanku, tiba-tiba Meisandy datang mengganggu. Malas rasanya beranjak dari tempat tidurku. Ingat dia sebentar lagi jadi istriku, terpaksa aku datang menyambutnya. “Waalaikumsalam.”
“Nanti malam Rahman sibuk?” tanyanya.
“Tidak. Ada apa?”
“Aku mau Abdurrahman menemaniku membeli sesuatu untuk besok. Tapi kalau Rahman tidak bisa, biar Mei sendiri yang beli.”
“Oh… bisa… bisa…”
“Terimakasih.”
Malam tiba. Aku memenuhi janjiku pada Meisandy untuk menemaninya membeli sesuatu. Sepanjang jalan kami hanya mengobrol. Merancang masa depan yang akan kami jalani nantinya. Di tengah serunya obrolan, aku membuat kesalahan fatal yang menyinggung perasaannya. Aku salah menyebutkan nama. Konsentrasiku buyar karena saat itu aku juga sedang memikirkan Husna.
“Apa Rahman masih memikirkan perempuan itu?” tanyanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku berusaha menenangkan pikiran agar tak salah bicara untuk yang kedua kali.
Kami mampir ke suatu tempat untuk membicarakan hal ini lebih serius.
“Benar, Rahman masih memikirkan perempuan itu?” tanyanya kembali seolah mendesakku.
Sepertinya aku tak bisa lagi berlama-lama menyembunyikan perasaan yang ada di hatiku sekarang. Alangkah baiknya jika Meisandy tau semua yang ada di hati dan pikiranku, ucapku dalam hati. pelan-pelan aku mendekatinya. “4 tahun yang lalu, aku adalah seorang lelaki yang berperangai buruk. Membangkang pada ayah. Lupa akan kewajibanku sebagai seorang muslim. Hina sekali hidupku!!! Aku membiarkan diriku terjerumus dalam mega dunia. Mataku jadi buta, kulakukan semua yang tidak sepantasnya aku lakukan.”
Meisandy hanya menatapku seolah penasaran mendengar cerita dariku.
“Tiba-tiba datang seorang bidadari yang kulihat dari balik jendela kamar. Seorang bidadari yang sebenarnya tak pernah terbayangkan olehku kedatangannya.”
“Pelan-pelan dia bersihkan noda hitam yang melekat di hatiku. Tanpa kutau diam-diam dia menyelinap masuk dalam hatiku. Aku tak bisa menghindarinya, aku jatuh cinta padanya. Tapi Ayah tak menyukainya. Ayah berprasangka buruk padanya. Ayah menganggap kehadirannya hanya membawa pengaruh buruk untukku. Ayah tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan ini semua. Ayah malah membenciku. Tapi bidadariku itu tak pernah menyerah untuk menyelamatkanku. Dia terus hadir menemaniku. Dia menjagaku dari nafsuku akan dunia. Dia terus hadir menyelamatkanku dari sadisnya duniaku. Dia datang dan melarangku melihat perempuan yang berkeliaran di sekitarku, dia datang dan melarangku menyentuh perempuan yang ada di sekelilingku. Tapi satu kesalahan fatal yang dilakukannya, dia tak melarangku untuk mencintainya,” ujarku lagi pada Meisandy, “Malam itu Ibu menemuiku dalam mimpi. Ibu datang dan memarahiku karena prilaku burukku. Dan yang paling menakutkan dalam mimpi itu, Ibu bilang tak lama lagi akan menjemput Ayah. Aku tak ingin kehilangannya. Akan kulakukan segala yang bisa kulakukan agar bisa menyenangkan hatinya. Lalu, Ayah memintaku untuk menikahimu. Aku tak bisa menolaknya, apalagi saat itu Husna telah meninggalkanku.”
Meisandy tetap saja tidak bereaksi. Dia hanya menunggu aku melanjutkan cerita.
“Setelah mimpi yang kualami itu. Aku benar-benar memperbaiki diriku. Dan itu semua atas kemauanku sendiri, tanpa paksaan dari bidadariku lagi. Tapi sayang, ada satu hal yang tak bisa kuhentikan, dosa besar yang tak dapat kuhindarkan. Dan aku melakukannya bersama bidadariku itu,” ujarku.
Meisandy kaget. Sepertinya dia salah paham dengan kata yang terakhir kuucapkan.
“Maksud Rahman? Kalian telah melakukannya? Kalian telah…?” tanyanya kaget.
“Bukan… bukan itu yang kumaksud,” tepisku buru-buru sebelum Meisandy berpikiran lebih jauh lagi, “Dosa besar yang ku lakukan adalah berbohong pada Ayah. Dengan lancang aku menghianatinya, aku ingkar pada janji yang telah kusepakati dengannya.”
“Ayah memintaku untuk menjauhi Husna, tapi aku tidak melakukannya. Kami berdua tidak melakukannya. Malah kami menentang keinginan Ayah. Kami memperkuat rasa cinta yang kami miliki, bukan menghindari seperti yang Ayah inginkan,” jelasku lagi.
“Harusnya sejak awal, aku tidak mengharapkanmu mencintaiku. Sakit sekali rasanya mendengar ini. Tak seharusnya aku ada di antara kalian. Mengapa Rahman tega membiarkanku melangkah sejauh ini?” ujarnya lirih bertanya padaku.
“Ayah memaksaku untuk melakukannya, Ayah memaksaku untuk mencintaimu. Aku tidak bisa menolak. Aku takut terjadi sesuatu padanya jika berani terang-terangan menolak keinginannya,” jawabku, “Tapi lama kelamaan aku juga mulai nyaman dengan keterpaksaan yang kurasakan. Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Meisandy. Berbohong, jika aku bilang tidak mencintai Meisandy sekarang,” lanjutku.
Meisandy tidak mengatakan apapun padaku. Hanya saja, airmatanya membuatku mengerti apa yang di rasakannya sekarang.
Tinggal 10 jam waktuku yang tersisa untuk mengenang kisah manis yang kualami bersama Husna. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindar dari pernikahan besok. Sebentar lagi Husna akan benar-benar kuhapus dari hidupku. Sulit rasanya malam ini untuk memejamkan mata. Aku berharap saatku tertidur, tak ada seorang pun yang membangunkanku. Tak ingin rasanya kubuka mata ini. Sepertinya sekarang hidupku telah berakhir.
“Rahman!”
Seseorang membangunkanku di pagi buta. Suaranya tak asing di pendengaranku. pelan-pelan kubuka mata, memastikan pemilik suara itu adalah seseorang yang kukenal.
“Rahman!”
Lagi orang itu memanggil namaku. Wajahnya tampak samar-samar di penglihatanku. “Husna?” tanyaku memastikan, “Apa ini mimpi?” lanjutku, memukul kedua pipi.
“Ini aku! Husna,” Jawabnya.
“Bukan… ini mimpi!!! Iya… ini mimpi!!!” ujarku tak percaya.
“Ini nyata…! Ini aku, Husna. Orang yang kamu tunggu.”
Bagaimana mungkin Husna bisa masuk kamarku. Tak mungkin Ayah tidak bereaksi melihat Husna nyelonong masuk. Ada apa dengan Ayah pagi ini? atau jangan-jangan, karena hari ini aku akan menikah. Jadi, Ayah memberi kesempatan pada Husna untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya, pikirku.
“Apa Ayah melihatmu?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya, “Tadi malam Ayahmu memintaku untuk menemuimu.”
“Apa? Ayah mencarimu? Apa dia menyakitimu?” tanyaku penasaran.
“Ayahmu hanya memintaku untuk menemuimu. Setelah itu dia pergi.”
“Apa Meisandy tau tentang ini?”
“Ayahmu datang bersama Meisandy.”
“Apa yang terjadi? Apa Meisandy melakukan sesuatu padamu? Apa dia membuatmu…?”
“Aku tak tahu harus melakukan apa pada meisandy yang sudah lancang merebutmu dariku. Harusnya aku membencinya sekarang!!! Harusnya aku membalas kesakit hatianku padanya. Tapi tidak!!! Aku tak bisa melakukannya,” ujarnya memotong omonganku, “Harusnya sekarang aku menemuinya, dan berterimakasih. Dia orang bodoh yang pernah kukenal!!! Beraninya dia menangis dan bersujud di hadapan ayahmu. teganya dia memohon pada ayahmu, agar mengizinkannya melepasmu. Tega sekali dia melakukannya!!! Dia telah mengorbankan kebahagiaannya. Semua itu dilakukannya untukku.”
“sekarang apa salah jika aku ingin memeluknya?” lanjutnya sambil menangis.
“Jadi sekarang Meisandy?”
“2 jam lagi akad nikah akan dimulai. Meisandy menunggu kita diluar. Dia ingin kita melakukannya,” sahutnya kemudian melangkah keluar dari kamarku.
Akhirnya, Husna jadi istriku. Setelah Meisandy menjelaskan semua yang terjadi pada Ayah.
Dan akhirnya, mimpi terbesar dalam hidupku terwujud sudah. Senang rasanya, Tuhan telah mengabulkan do’a yang kupanjatkan di setiap tahajudku. Menyelamatkanku dari zina dan melengkapi rusukku dengan kehadiran Husna.
Selesai
Penulis Cerita: Fahrial Jauvan Tajwardhani
 

Mang Endon

| komentar

Kawan… maukah engkau mendengarkan kisah seorang yang menjunjung pengabdian dan kesetiaan?
Tentunya engkau akan bertanya-tanya siapa orang itu, apa pekerjaan dan tinggal dimana serta segudang pertanyaan itu.
Rok*k kretek kembali aku hisap secara perlahan-lahan dan asapnya ke luar melingkar-lingkar bagaikan spiral mengikuti selera si pengisap sembari ditemani kopi pahit di atas meja.
Rekanku yang duduk di seberang meja hanya bisa bergumam entah dia malas untuk membicarakan tokoh yang aku ceritakan namun di satu sisi dia mau tidak mau harus menghargai awal ceritaku itu mengingat dirinya sebagai tamu.
Bolehlah…? selorohnya yang mungkin menjawab pertanyaanku yang mengesalkan itu.
Baiklah, aku akan sedikit bertanya kepada engkau, apa perbedaan antara kesetiaan dengan pengabdian. Tentunya sebelum dia bertanya lebih lanjut akan ku adu dahulu suatu pendapat yang bisa dikatakan beda-beda tipis itu.
“Baiklah, menurutku pengabdian itu bekerja untuk majikan sedangkan kesetiaan pekerjaan untuk pamrih,” ungkapku sembari terbatuk-batuk karena kebanyakan menghisap rok*k.
“Tapi…,” dia mencoba menyela tapi telah kupotong pembicaraannya yang tidak lain untuk memancing emosi dirinya, aku bersikap masa bodoh kalau dirinya tidak mau terima dengan sikapku itu. Mungkin dia mulai kesal yang tampak dari kerutan di keningnya dan matanya yang mendelik seolah-olah hendak menerkam seluruh tubuhku yang kurus kering ini.
“Cobalah engkau tengok ke bawah dari jendela sini, pasti engkau sudah tahu di bawah ada kali kecil. Pasti engkau selalu melewati jika setiap malam datang ke rumahku,”.
Dia berlagak pilon. “Ya saya tahu itu ada sungai yang bercabang, ke kiri menuju aliran got yang berarus kencang menuju Sungai Cikapundung dan berbentuk air terjun. Di sisi kanan melewati bawah got mengalir menuju ke hilir,” katanya sedikit memerinci apa yang dia ketahui.
“It’s ok, nah engkau sudah tahu, siapa pengendali aliran air itu yang berasal dari arah hulu Bandung Utara. Tentunya engkau bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada pengendali, tentunya rumah-rumah yang padat di lembahan ini akan terendam banjir saat hujan deras,” kataku.
Wajahnya mulai terang kembali dan terlihat berselera untuk membicarakan tema yang dibicarakan. “Saya mengerti maksud anda itu soal pengendalinya… kan… atau bahasa kerennya operatorlah,” katanya kembali dengan suara girang seolah-olah ingin meneriakan kata-kata “eureka” namun dia sadar diri sebagai tamu.
Itulah kesetiaan dan pengabdian Mang Endon, aku akan mulai menjelaskan secara rinci dan akan aku kupas soal pengabdian dan kesetiaan itu.
Dia pun semakin berselera untuk mendengarkan kisahku terlebih lagi Mang Endon namanya pernah diangkat di dalam tulisan sosok yang dimuat di salah satu media lokal. Aku pun berharap dirinya tidak terkantuk-kantuk untuk mendengarkan cerita itu mengingat jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB sekitar tahun 2001. Wajar saja dipastikan anda juga akan mengantuk mengingat situasi dan kondisi yang ada saat itu hujan gerimis dan udara dingin mulai menggigit menembus tulang sumsum.
Mang Endon saat itu berusia sekitar 56 tahun, itu berdasarkan pengakuan dirinya saja karena berpatokan dirinya “borojol” dari rahim ibunya tepat saat Jepang masuk ke Indonesia. Tentunya tidak bisa dipertanggungjawabkan pengakuan itu, tapi saya pun tidak mau mempersoalkan hal itu.
Perawakannya kecil ya tingginya sekitar 155 centimeter tapi berorot dengan kulit hitam legam maklum karena pekerjaannya yang mengurusi pengairan tidak mengenal waktu. Kepala bagian atasnya sudah tidak berambut yang ada hanya di sisi kiri dan kanan kepalanya beruban – yang jelas bukan karena pewarna rambut – dan kumisnya itu yang menjadi ciri khas sudah dipenuhi uban.
Oh iya… satu lagi ciri khasnya di mulutnya selalu terselip rok*k kretek, dan dia juga mengaku kebiasaan merok*k itu dimulai kalau tidak salah saat Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA).
Kami biasa memanggilnya Mang Endon, setiap dia lewat dan bertemu aku selalu dia tersenyum dan mengeluarkan basa-basinya. “Den, bade kamana (Dik, mau kemana),” dari suaranya yang parau.
Setiap subuh dia rutin menjalankan Shalat Subuh di surau yang berada tepat di pinggir sungai kecil itu terkadang dia dengan sukarela menjadi imam. Dia selalu hadir menjelang adzan, tidak peduli hujan.
Selepas menjalankan subuh, dia wajib menjalankan ritual utamanya yakni mengecek irigasi itu dari sungai kecil, dia nyemplung ke kali yang dalamnya sedada orang dewasa kemudian mengangkat papan penyekat air untuk dialirkan ke arah hilir yang melewati gorong-gorong di bawah sungai kecil deras dari punggungan lembah.
Sesekali dia mengambil sampah-sampah yang tertahan di pintu air itu. Satu… dua… tiga… angkatan sampahnya, sudah berada di tepian sungai. Itu lho rok*knya tetap tidak bisa lepas dari mulutnya yang sudah menghitam karena selalu terkena tembakau.
Menjelang matahari terbit dia kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak untuk bermimpi untuk diaku menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di bidang pengairan. Jadwal siaganya itu dilakukan kembali pukul 12.00 WIB, 15.00 WIB sampai 21.00 WIB.
Oh ya… tapi kalau hujan terus menerus yang tentunya air mulai meninggi, dia bisa bekerja “full time”.
“Kalau hujan sudah resiko untuk kerja terus menerus, aliran air ini harus dipindahkan ke sungai, dan pintu air ke sungai kecil menuju ke hilir harus ditutup, kalau tidak ditutup, Aden kan dah tahu pasti abdi (saya) dimarahin lagi oleh warga,” katanya menjawab pertanyaanku saat itu.
Sekali waktu, dia terlihat marah-marah dan aku pun baru pertama kali sejak mengenal sosok Mang Endon itu tentunya sangat kaget dengan perubahan sikapnya yang biasa ramah menjadi murang maring itu. “Mang, kenapa? Ada apa?,” tanyaku.
Selidik punya selidik kekesalan dirinya karena ada warga yang membuang sampah seenaknya hingga menyumbat pintu air dan ia terpaksa harus turun kembali ke sungai untuk mengambil sampah itu karena air mulai meninggi setelah hujan seharian mengguyur kota kembang.
Dia tergopoh-gopong masih menggunakan sarung menapaki tangga kecil yang licin menuju ke tepi sungai di atas. Selepas membuka sarung, dia tinggal tersisa memakai celana pendek bola berwarna putih sedengkul. Tidak lupa membuka singlet putihnya yang sudah berwarna kecoklat-coklatan, langsung nyemplung.
Dengan sigapnya dia mengumpulkan sampah dan membersihkan sampah yang terselip di papan penahan aliran air.
“Warga bisanya hanya buang sampah sembarangan, tapi kalau hujan mulai panik takut kebanjiran. Siapa lagi kalau abdi yang disalahkan,” ungkapnya kesal.
Pernah juga, saat hujan deras sekitar pukul 23.00 WIB, Mang Endon sibuk buka tutup pintu air. Dirinya tidak peduli dengan petir yang bersahutan-sahutan di langit, asalkan aliran air dialihkan ke sungai besar.
Ironisnya saat itu, meski dia sudah mengabdi sampai saat itu belum diangkat menjadi PNS melainkan hanya diberi selembar penghargaan ucapan terima kasih dan jam dinding yang menempel di tembok rumahnya yang kusam.
“Sampai sekarang saya belum diangkat PNS, cuman yang ditembok itu saja sebagai penghargaanya,” keluhnya.
“Mang Endon… Mang Endon… Mang Endon…,” demikian nama itu selalu dipanggil oleh anak-anak, pemuda-pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak.
Aku pun hanya tersenyum dan geli betapa cintanya warga kepada Mang Endon ini. “Dia seorang ksatria bertanggung jawab akan pekerjaannya,” demikian celetuk Teh Eti, pemilik warung di tepi sungai kecil itu.
“Bagaimana kawan, engkau sudah bisa mengerti akan pengabdian dan kesetiaan yang aku ceritakan tadi,” tanyaku.
“Ehmmm… ehmmm… mengerti…,” balas temanku.
Pukul 02.30 WIB, hujan gerimis tidak berhenti juga kawanku terpaksa harus menginap di rumahku yang berada tepat di atas areal kerja Mang Endon itu.
Sebelum tidur, kawanku itu berbisik “mungkinkah Mang Endon saat ini terjaga khawatir air meluap”.
Jawabanku singkat saja “Mungkin,”.
Bekasi, 8 Mei 2013
Penulis Cerita: Riza Fahriza
 

Ketika Setangkai Bunga Mati

| komentar

“ma, pa lihatlah pelangi itu indah banget ya, aku senang sekarang apa yang aku impikan bisa terwujud semua berkat kak Bunga” kata Mekar adik tiri aku.
Kini aku sedang menikmati indahnya pelangi bersama keluarga baruku, dalam hati aku sangat berterima kasih sama sahabatku yang sangat aku rindukan, karena dia kebahagiaan ini bisa aku rasakan dan aku bisa dapat melihat indahnya pelangi yang selama ini tak dapat kulihat, aku juga bisa melihat bunga yang selama ini aku hanya bisa mencium baunya yang wangi, walau aku nggak bisa melihat cantiknya wajah asli sahabatku itu, tapi aku tetap senang bisa melihat semua keindahan yang tuhan berikan dan yang selama ini tidak bisa aku rasakan.
Dari kecil aku nggak bisa melihat indahnya karunia tuhan, indahnya alam ini, yang bisa aku lihat hanyalah kegelapan sampai ahkirnya aku bisa melihat karena sahabat aku Bunga, dia adalah orang yang selalu menebarkan keceriaan, kebahagiaan, juga kedamaian di hati, seperti bunga yang bermekaran membuat hati orang jadi senang dan bahagia. Walau aku yakin dia tak setegar itu, aku yakin di hatinya yang paling dalam dia pasti merasakan sedih yang luar biasa, melebihi sedihnya hatiku karena aku di lahirkan sudah tak bisa melihat indahnya dunia ini, tapi dari Bunga aku selalu belajar untuk menghadapi kehidupan ini dengan keceriaan.
Saat itu hari sedang hujan, dan aku sedang menikmati memainkan piano di depanku, dari kecil aku sudah berbakat memainkan piano dan banyak prestasi yang telah aku dapat dari main piano dan dari main piano aku bisa membantu mama aku, karena sejak di tinggal papa, mama yang harus mencari nafkah untuk menghidupi aku dan mama, juga untuk biaya pengobatanku, aku sering kali merasa kasihan dengan mama karena walau mama selalu bilang mama bisa menghidupi aku sendiri tapi aku yakin di hati kecil mama, mama butuh seorang pendamping dalam hidupnya yang bisa membahagiakan dia juga aku dan bisa menggantikan sosok papa yang sudah lama mama rindukan.
Saat aku sedang asyik memainkan pianoku tiba2 ada suara yang mengagetkanku dan suara itu tak asing lagi bagiku,
“hei… asyik banget main pianonya sampai nggak sadar dari tadi aku disini ngelihat kamu, memang bau badan aku nggak bisa kamu kenalin ya, apa kurang wangi ya badan aku, wah kurang nih minyak wanginya tadi sih maunya sebotol tapi takut kamu ntar pingsan” kata Bunga yang dari tadi memperhatiin aku main piano
Aku nggak sadar kalau Bunga di situ, biasanya dari bau badannya aku bisa tahu kalau di situ ada Bunga sahabat aku itu, tapi kalau sekarang nggak tahu kenapa aku nggak sadar kalau dia ada di situ mungkin karena aku terlalu asyik main pianonya,
“maaf deh aku terlalu asyik main piano jadi aku nggak sadar kalau kamu di situ”,
“iya dimaafin kok, oh ya aku mau ngajak kamu ke tempat yang asyik banget”,
“memang mau kemana sih kan masih hujan” tanyaku penasaran,
“pokoknya ntar aku akan bawa kamu ke tempat yang hawanya sejuk banget dan di jamin setelah dari situ kamu akan merasa lebih fresh, dan ni hujannya dah mau berhenti kok”,
“ya udah ayo” kataku sambil memraba-raba dan mencari tangan Bunga,
Bunga menuntunku sampai ke ruang tamu dan di situ ada mamaku, kemudian aku dan Bunga pamitan ke mamaku. Setelah berpamitan Bunga langsung menuntunku masuk ke mobilnya, dalam hati aku penasaran Bunga mau bawa aku kemana, setelah Bunga memperhentikan mobilnya Bunga langsung membukakan pintu untukku, saat aku keluar aku merasakan udara yang sejuk, segar dan benar saja baru beberapa detik saja di situ aku merasa fresh, lalu Bunga menuntunku ke suatu tempat, di situ aku mencium bau wangi bunga-bunga sepertinya di situ banyak tumbuh bunga, setiap mencium aroma wangi Bunga aku selalu merasa semua masalahku hilang, walau dari dulu aku nggak pernah bisa melihat indahnya bunga yang membuat hatiku damai itu, aku tetap bisa merasakan keindahan bunga itu. Tak dirasa Bunga menbantuku untuk duduk di sebuah bangku,
“kamu bisa merasakan kesegaran, kesejukan dan keindahan tempat ini kan rah” Tanya Bunga,
“nga walau aku nggak bisa melihat indahnya tempat ini tapi aku bisa merasakan kesejukan, keindahan dan aku bisa mencium bau bunga yang ada di tempat ini” jawabku lalu mengambil nafas dalam-dalam,
“iya rah kamu tau nggak dari sini kita bisa melihat pelangi dengan jelas kan dulu kamu pengen melihat pelangi yang kata orang indah itu kan dan kamu pernah tanya ke aku apa benar kalau pelangi itu indah dan aku jawab iya, mungkin aku nggak bisa memperlihatkan bagaimana pelangi itu ke kamu tapi, aku akan berusaha untuk memperlihatkan ke kamu rah, mungkin suatu hari nanti kamu akan bisa melihat pelangi ini tapi bukan dengan aku rah” terang Bunga
Dari nada bicaranya aku tau dia lagi nangis, lalu aku mengarahkan tanganku ke wajah Bunga, dan berusaha menghapus air matanya.
“aku nggak pengen lihat kamu sedih nga aku nggak mau di tempat yang indah ini kamu nangis, sampai kapanpun aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku, jika memang aku bisa melihat indahnya pelangi di tempat ini aku ingin melihat pelangi bersama kamu nga, kamu tau kan kamu adalah satu-satunya sahabat yang mampu ngertiin aku, kamu satu-satunya sahabat yang aku punya nga” kataku ke Bunga dan seketika aku merasakan air mataku mulai menetes dari mataku,
“ih siapa yang nangis neng aku nggak nangis kok ini tadi cuma air gerimis hujan ini yang kamu hapus dari pipiku tadi kamu tuh yang nangis aku juga nggak mau di tempat yang indah ini kamu nangis” kata Bunga sambil menghapus air mata di pipiku,
“ayo senyum donk kamu nggak suka ya aku ajak ke tempat ini dari tadi aku nggak lihat senyum manismu itu” sambung Bunga, lalu aku pun senyum untuk sahabatku itu,
“aku senang banget nga kamu ajak ke sini, walau aku hanya bisa ngerasain sejuk dan segarnya tempat ini itu dah cukup buat aku nga”
Lalu kami pun tersenyum memberi senyum satu sama lain dan sesaat kemudian kami tertawa berdua bercanda dan membagi tawa, tiba-tiba di tengah asyiknya perbincangan kita, Bunga seperti mengerang kesakitan
“aduh sakit banget, sakit rah sakit aduh rah sakit”
tiba-tiba aku merasakan tangan Bunga yang tadinya erat memegang tanganku mulai terlepas dan aku mendengar suara benda jatuh, oh tidak mungkin itu Bunga pingsan benar aku mendapati Bunga pingsan di tanah, kemudian aku minta tolong orang yang ada di situ, tapi sepertinya tak ada orang di situ karena dari tadi aku teriak minta tolong, tak ada satupun orang yang datang menghampiri aku, kemudian aku menghubungi mamaku yang kebetulan di deretan kontak mamaku ku taruh di atas supaya gampang untuk menghubungi mama, lalu aku beri tahu ke mama kalau Bunga pingsan, karena Bunga tadi sempat di tanya mama mau kemana jadi mama langsung tahu dimana aku dan Bunga sekarang, tak lama kemudian mama datang lalu membawa Bunga ke rumah sakit. Bunga memang anak yang ceria, cerdas, tegar dan mudah bergaul dengan siapa saja dia juga gadis yang baik hati selalu menolong siapa saja tanpa memandang status sosial, tapi Bunga tak setegar itu ada tumor yang ganas yang menggerogoti tubuh Bunga, tapi dia tetap berusaha ceria dan tegar di hadapan semua orang karena dia nggak mau melihat semua orang sedih melihat keadaannya yang memperihatinkan, dari Bunga aku juga belajar Bunga yang menghadapi penyakit yang mungkin bisa membawanya pada kematian kapan saja kenapa aku cuma di beri cobaan tak dapat melihat indahnya alam ini saja menyerah pada hidup. Aku menunggu Bunga di pelukan mama
“oh ya rah kamu dah kasih tahu keluarga Bunga belum” Tanya mama
Kemudian aku sadar kalau aku belum kasih tau keluarga Bunga, memang selama ini mama belum pernah bertemu dengan papa dan adiknya Bunga, lalu aku nyuruh mama buat memberi tahu papa Bunga kalau Bunga sedang ada di rumah sakit, tak lama kemudian papa dan Mekar adik Bunga datang, ternyata papa Bunga adalah Bos di tempat mama kerja jadi mereka sudah saling kenal bahkan mama sudah kenal dengan Mekar adik Bunga tapi mama belum pernah ketemu dengan kakak Mekar yang tak lain tak bukan adalah sahabat aku sendiri Bunga, saat itu Mekar dan papanya Bunga sangat sedih melihat keadaan Bunga yang terbaring lemah di atas tempat tidur, tak seperti Bunga yang ceria dan tegar, sekarang yang mereka lihat adalah Bunga yang lemah dan tak berdaya. Seperti bunga yang lagi layu. Selang beberapa menit Bunga langsung sadarkan diri,
“pa aku dimana pa?” tanya Bunga lemah,
“kamu di rumah sakit sayang…” jawab papanya Bunga
“iya nga kamu tadi pingsan saat kita lagi lihat pelangi”
“maafin aku ya rah pasti kamu tadi panik banget ya” kata Bunga sambil memegang tanganku
“nggak pa-pa kok nga” Jawabku
lalu aku dan mama pun pamit pulang. Keesokan harinya hari hujan lagi tapi aku maksa mama supaya ngantar aku ke rumah sakit nengok Bunga, kemudian papa Bunga datang dan jemput kami berdua karena tadi Bunga sempat meminta papanya buat jemput aku dan mama, sesampainya di rumah sakit aku langsung masuk ke kamar Bunga, dan mama sedang bersama papa dan adiknya Bunga, aku dengar mereka tertawa bersama, sebelumnya aku belum pernah ngelihat mama sesenang ini dari papa meninggal sejak mama bekerja di tempatnya papanya Bunga mama nggak pernah sedih lagi, aku nggak pernah dengar mama nangis sendiri lagi kalau malam, sesampainya aku di kamar Bunga aku langsung menggerakan tanganku meraba-raba tempat tidur Bunga dan perawat yang tadi menuntunku ke kamar Bunga membantuku duduk di kursi di depan tempat tidur Bunga kemudian meninggalkan kami berdua,
“hujannya deras juga ya rah?” kata Bunga memulai pembicaraan
“iya nga, kayaknya ampek malam deh”
“masa sih rah padahal aku pengen ngelihat pelangi lagi bersama kamu di tempat yang kemarin”
“tapi kalau hujannya sederas ini ya nggak bisa dong nga”
“aku yakin pasti bentar lagi hujannya akan berhenti, ntar kalau hujannya berhenti kamu mau nggak nemenin aku ke tempat kemarin”
“iya pasti aku mau nga”
Benar saja tiba-tiba saja hujannya berhenti dan bunga mengajakku ke tempat kemarin dan aku minta izin ke papanya Bunga kalau aku dan Bunga mau lihat pelangi, awalnya papanya Bunga nggak ngizinin tapi setelah di paksa Bunga dia langsung ngizinin.
Sesampainya di sana Bunga langsung mengajak duduk di bangku kemarin.
“kamu bisa rasakan keindahan tempat ini kamu tahu nggak aku pengen banget meninggal disini rah” kata Bunga lemah
“nga kamu nggak boleh ngomongin kematian, aku nggak pengen di tempat ini kita ngomongin itu”
“tapi aku ngerasa kalau tempat inilah yang cocok untuk tempat meninggal aku nantinya, rah boleh nggak aku sandaran di bahu kamu” kata Bunga sambil menyndarkan kepalanya di bahuku
“iya boleh nga” jawabku sambil mengelus rambut sahabatku itu.
“rah kamu tau nggak kamu tu satu-satunya sahabat yang aku punya, kamu sahabat yang mampu ngertiin aku, aku pengen ngelihat kamu bahagia, kamu pengen nggak ngelihat aku bahagia rah”
“iya nga karena kamu juga sahabat yang paling aku sayang”
“kalau kamu ingin ngelihat aku bahagia jangan pernah kamu netesin air matamu apapun yang terjadi kamu nggak boleh netesin air matamu kamu mau nggak janji sama aku”
“iya nga aku janji”
“makasih ya rah”
tiba-tiba aku ngerasa genggaman tangan Bunga melemah dan aku tak merasakan nafas Bunga lagi berhembus.
“nga Bunga kamu kenapa nga kok nggak jawab nga, mama, om, Mekar Bunga”
Seketika mama, papanya Bunga dan Mekar yang sedari tadi melihat kami dari kejauhan menghampiri aku dan Bunga.
Setelah meninggalnya bunga aku bisa melihat keindahan alam ini, sebelum Bunga pergi dia berpesan kepada dokter untuk donorin kornea matanya untukku aku sangat berterima kasih sama Bunga, karena ini sangat berarti banget untukku, tak cuma itu kebahagiaan yang di tinggalkan Bunga untuk kehidupanku, kini aku bisa melihat mama bahagia lagi kayak dulu saat papa masih ada dan kini aku punya keluarga baru, sebelum Bunga meninggal dia sempat punya satu permintaan kepada papanya untuk menikahi mamaku karena dia tau kalau papanya dan mamaku saling mencintai dan dia ingin melihat kebahagiaan adiknya yang dari dulu ingin mama, dan Mekar sangat akrab dengan mamaku dan menurutnya mamaku bisa menggantikan mamanya, walau kini Bunga tak ada tapi dia meninggalkan berjuta kebahagiaan untuk orang di sekitarnya, semenjak aku bisa melihat dan aku punya keluarga baru yang berbahagia, aku selalu ngajak adik aku Mekar untuk melihat pelangi sehabis hujan, kegiatan yang pernah aku lakukan dengan Bunga sebelum dia pergi meninggalkan semua orang yang menyayangi dirinya, kini kegiatan melihat pelangi sehabis hujan menjadi kegiatan yang wajib untuk aku dan Mekar, setelah hujan berhenti aku pasti mengajak Mekar ke tempat di mana dulu Bunga ngajak aku ngelihat pelangi, aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti Bunga walau bagaimana juga yang bisa memberi aku kebahagiaan yang tiada tara ini adalah Bunga tanpa dia mungkin sekarang aku nggak bisa melihat keindahan alam ciptaan tuhan ini, dan mungkin mama nggak akan pernah nemuin papa dan aku nggak akan pernah bisa merasakan mempunyai adik seperti Mekar, aku sangat senang sekali.
“eh kak Farah kok dari tadi diam terus ada apa sih kak lihat kak bunga-bunga yang bermekaran itu menginggatkan Mekar pada kak Bunga yang mungkin lagi bersama malaikat di sana, dulu kak Bunga pernah bilang ke Mekar kalau dia ingin bersama mama dan ingin bermain bersama malaikat di langit sana kak, apa mungkin sekarang kak Bunga sedang bersama mama dan bermain bersama malaikat ya kak” tanya Mekar yang kemudian menyadarkanku dari lamunanku,
“iya Mekar sayang mungkin sekarang kak Bunga sedang menari-nari bercanda tawa dengan para malaikat di langit sana” jawabku sambil menatap wajah polos Mekar,
“kak apa kak Bunga juga melihat pelangi bersama mama kak, aku pengen kak Bunga merasakan apa yang Mekar rasakan sekarang Mekar dah punya mama dan kakak baru tapi Mekar nggak akan pernah melupakan mama dan kak Bunga dari hati Mekar kak Bunga akan jadi kakak Mekar yang Mekar sayangi selalu”
“iya Mekar pasti kak Bunga merasakan apa yang Mekar rasakan”
“aku kangen kak Bunga kak”
“kakak juga kangen banget sama kak Bunga”
Sejenak suasana di sana menjadi haru dan setelah muncul pelangi yang indah suasana jadi ceria lagi. Bunga aku janji aku nggak akan pernah netesin air mata ini dengan kebahagiaan yang telah kamu beri kepadaku, aku akan jadi yang terbaik untuk Mekar dan papamu walau aku tau aku nggak mungkin bisa menggantikan posisimu di hati mereka tapi aku akan mencoba untuk menjadi yang terbaik bagi mereka, kini kusadari bahwa dengan kepergian dirimu itu sama halnya dengan setangkai bunga yang mati, jika setangkai bunga itu mati pasti membuat orang yang ada di sekitar menjadi sedih, tapi wanginya akan selalu di simpan dalam hati, seperti kamu Bunga saat kamu pergi semua orang yang menyayangimu akan merasa sedih tapi kamu akan di kenang dan tak akan pernah dari hati mereka, dan kamu juga meninggalkan wangi yang begitu berarti untuk orang yang menyayangimu, kamu meninggalkan kebahagiaan yang sudah di rindukan dari dulu, dan kamu mewujudkan keinginan walau tak semua keinginan itu kamu penuhi tapi itu sudah lebih dari cukup untuk mereka, begitu juga untuk diriku yang masih merasa beruntung bisa kenal ma kamu bahkan bisa bersahabat dengan kamu, terima kasih Bunga, sampai kapanpun wangimu akan kusimpan dalam hatiku.
Penulis Cerita: Dewi Anilasari
 

Sebuah Mimpi

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Kenapa ya di keluarga kecilku tak kutemukan kasih sayang mereka untukku, namaku Rahmi, sekarang orangtuaku tak menyayangiku, mamaku tidak peduli padaku, papaku apa lagi, aku hanya memiliki seorang adik, dia menyayangiku, namanya yunita panggilannya bisa yuni, nita atau ita tapi aku biasa memanggilnya nita.

Suatu hari aku mendengar keras jeritan adikku, mamaku terlihat khawatir dan panik sekali “apa kalau semua itu terjadi padaku mama juga akan seperti itu?” batin ku dalam hati, lalu ku pergi ke kamar. Cklek terdengar suara pintu dibuka itu adalah mamaku “mi, jika mama minta sesuatu padamu apa kamu mau melakukannya kau harus janji pada mama” kata mama “iya ma, aku mau” jawab ku “donorkan ginjal mu untuk adikmu” jawab mama dengan lantangnya “apa! Mama ingin aku mendonorkan ginjalku pada nita itu sama saja mama menginginkan aku mati. Tapi kalau itu mau mama baiklah aku akan melakukannya” jawab ku dengan perasaan sedih.

Esok harinya…
Oh, ya aku harus Periksa darah, aduh kenapa aku baru bangun jam 10 sih” kataku sambil menepuk dahiku “maaf, ma aku telat ya” kataku sambil menunjukkan wajah sedih “dari mana saja kamu. Kamu sengaja kan supaya nggak jadi periksa darah agar adikmu mati iya kan?” omel mamaku “maaf ma, aku lupa” jawabku sambil menitikkan air mata “dasar anak cengeng, bisanya nangis doang” kata mamaku dan diselingi tamparan papaku aku kembali menangis dan langsung periksa ke dokter. Ternyata darah ku cocok dengan darah nita.

Aku pulang dan kekamar nita “kak rahmi” panggil nita lembut “iya, nita ada apa” “apa kakak ingin mendonorkan ginjal kakak padaku” “iya” “tapi kenapa kak?” “karena itu merupakan kebahagiaan buat mama. Mama nggak peduli sama kakak mama lebih senang kakak mati. Ingin nit, kakak ingin merasakan dipeluk dan di cium sama mama ingin sekali tapi itu hanya sebuah mimpi, kakak bersedia mendonorkan ginjal kakak kapan saja, tapi mama menyuruh kakak mendonorkan ginjalku pada hari ulang tahun kakak hari kebahagiaan kakak. Seharusnya orang lain memberi kakak hadiah tapi kakak sendirilah yang harus menghadiahkan ke orang lain berupa ginjal untuk nita adikku, mama tega nit, mama tega” curhat ku pada nita.

Nita dan aku menangis dan papaku yang mendengar curhat ku pada nita masuk sambil memasang wajah marah “apa apaan kamu rahmi bisanya ngarang cerita supaya adik kamu kepikiran dan mati iya kan papa, tau kamu itu nakal” kata papaku ku berlari meninggalkan kamar dan adikku bercerita pada papa “pa, sebenarnya 2 tahun lalu saat papa kecelakaan dan membutuhkan donoran ginjal, itu kak rahmi yang donorin ginjalnya cuma kakak tau pasti papa bilangnya untuk cari perhatian makannya kakak bilangnya nita yang donorin ginjal buat papa” tadi ku menangis dan memaksa sahabatku Luna untuk ikut ke rumah sakit “luna temani aku ke rumah sakit ya untuk mendonorkan ginjalku untuk nita dan sampaikan surat ini untuk mama, dan papa ya aku mohon please” pinta ku sambil memohon pada luna dan ia mengangguk.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung memohon pada dokter sementara luna mengajak adikku, akhirnya operasi pun selesai luna segera menyampaikan pesanku yaitu memberikan surat dari ku “maaf om, tante luna mengganggu sebentar ini ada surat yang dititipkan rahmi ke saya” ucap luna dengan lembut, mama dan papa pun membaca surat itu

Dear, mama papa ma, pa rahmi tau rahmi itu nakal tapi rahmi harus tepatin janji aku ke mama untuk mendonorkan ginjalku. Aku ingin pa, ma sebenernya dipeluk, dicium atau diucapkan selamat ulang tahun pada hari ini tapi itu hanya sebuah mimpi yang tak pernah tersampaikan, rahmi pengen kalau rahmi pergi mama sama papa nggak boleh nangis karena dari dulu mama pengen rahmi mati, sayangi terus nita dan buku diary rahmi yang di rumah harus mama atau papa baca setiap lembarnya sampai halaman terakhir, untuk luna terima kasih karena telah memberi tahuku apa arti persahabatan dan semuanya sekarang aku ada di surga untuk menemui ichi anjingku dahh jangan nangis ya

tak menyangka semuanya menangis tapi apa boleh buat sekarang rahmi hanya tinggal kenangan dan hanya tersedia namanya Rahmi Tsurayya sahar

TAMAT

Penulis Cerita: Charisa Dwi Santika
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami