Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Jebakan Batman

Rabu, 29 Januari 2014 | komentar

“Jam berapa?” Tanyaku pada diri sendiri. Aku benar benar tidak sabar menantikan detik detik ulang tahunku.
“Yes 1 menit lagi, mending aku hitung dalam hati aja deh… 1, 2, 3″.
Tiba-tiba “click” {suara lampu kamar ku seperti ada yang mematikan}. Dengan sendirinya gorden di jendelaku bergerak, dan kakiku seperti tidak dapat bergerak.
“Waaa…” Teriakku sambil berlari ke luar kamar.
Keesokan harinya…
Ku buka mata, tiba tiba aku sudah berada di sofa ruang keluarga. Dalam hati aku masih bingung kejadian tadi malam itu mimpi atau kejadian nyata.
“Ah… biarin aja, mimpi kali” Ucapku.
“Mending sekarang aku mandi dan sekolah”
Di sekolah…
Saat pelajaran matematika dimulai, aku tidak dapat berkonsentrasi karena masih terbayang kejadian tadi malam.
“Vera… vera… vera, bruk” Sentak bu Tika sambil memukul mejaku dengan keras, sontak aku langsung terkejut.
“I.. iya bu maaf” Kataku dengan takut.
“Bersihkan kamar mandi sekarang juga!” Perintah bu Tika.
“Oh My God”.
Beberapa jam kemudian…
Seat selesai membersihkan kamar mandi dan ingin membuka pintu, tiba-tiba pintu Kamar mandi terkunci.
“Perasaan ini kan hari ulang tahunku tapi kenapa hari ini apes banget yah!” Keluhku, tanpa sadar aku tertidur. Saat terbangun ternyata sudah jam pulang sekolah, anehnya pintu kamar mandi sudah tidak terkunci lagi. Segera aku mengambil tas dan membuka gerbang sekolah.
Tiba-tiba “KEJUTAN…”
Penulis Cerita: Sierra Aulia Shabihah
 

Perang Bedak

Jumat, 24 Januari 2014 | komentar

Hari itu, hari Jumat, tanggal 14-06-2013. Setelah UKK, aku berangkat seperti biasa, sampai sana sudah ada Alma. Ketika itu, Alma membawa permainan, 10 menit kemudian, Fira datang lalu aku, Alma dan Fira bermain kartu. Awalnya aku tidak ikut, namun karena aku tertarik aku lalu ikut. Pertama kali main, aku kalah. Langsung deh, aku dicoret pipinya pakai bedak sama Alma dan Fira.
Tak berapa lama, banyak yang datang lalu Salma dan Rida ikut bermain kartu. Kami berlima lalu bermain, beruntungnya aku tidak kalah tapi, yang kalah Salma. Lalu wajah Salma langsung kami berempat corat-coret, awalnya Salma menolak tapi kita tetap corat-coret wajahnya. Sehingga wajah Salma belepotan bedak mirip badut. Teman-teman yang baru berangkat tertawa melihat wajah Salma yang mirip badut.
Teet teet teet bel masuk berbunyi, kami berlima menghentikan permainan kartu itu, setelah berdoa ustadz Ali tak kunjung masuk. Akhirnya, waktu kosong itu aku gunakan untuk bermain monopoli bersama Alma dan Azimah. Tiba-tiba, ustadzah Yuni datang dan menuliskan nama-nama anak yang remidi, setelah ustadzah Yuni Ustadzah Lulu datang dan membacakan nama-nama anak yang remidi. Kami bertiga tak memperdulikannya sama sekali, tiba-tiba ustadzah Aan datang dan menyuruh kami semua untuk mengoreksi UKK Bahasa Arab.
Permainan kami pun terhenti, setelah Bahasa Arab sudah selesai dikoreksi. Kami pun beristirahat, waktu istirahat itu aku gunakan untuk mengobrol dengan Azimah sembari membaca buku. Tiba-tiba, Alma mencoret pipi sebelah kananku, ternyata bukan hanya aku yang kena coretan Alma tapi semua anak di kelas 4C. Alma, Alma bukan hanya sekali dia mencoret pipiku dan seluruh anak kelas 4C. Tetapi sebanyak dua kali, lalu hampir seluruh anak di kelas 4C meminta bedak sama Alma
“Alma, minta bedaknya”
“Al, aku belum nih”
“Alma, lagi aku belum dua kali”
dan mereka saling mencoret. Aku melihat Salwa, pipinya bahkan seluruh wajahnya ditumpahi bedak oleh Ardi, Azimah yang sedang membaca dicoret wajahnya dan aku, yang sedang asyik membaca hampir dicoret oleh tiga orang yaitu Zanuba, Jihan dan Asya.
Huft, aku berusaha merapikan bedak yang dicoret Alma. Ketika, aku sedang merapikan teman-temanku yang lain asyik melemar bedak pada teman yang lain jadinya kelasku SUPER KOTOR. lalu aku baru sadar kalau tinggal aku sendiri yang ada di kelas “haah, kosong!” ujarku terkejut. Setelah keterkejutanku, aku melanjutkan menulis.
Beberapa menit kemudian, Salma datang wajahnya penuh dengan coretan bedak “Sal, kenapa wajahmu?” tanyaku “ya, habis perang bedak seperti ini jadinya” jawab Salma. Setelah Salma, Salwa masuk ke kelas dan ikut mengobrol lalu, anak-anak lain yang tadi hilang entah kemana kembali masuk.
Dan, semuanya wajahnya penuh dengan bedak bahkan, anak perempuan kerudungnya pun penuh dengan coretan bedak. Tiba-tiba, “kotor sekali kelas ini, ayo sekarang yang piket bersihkan kelas ini!!!” perintah ustadzah Lulu yang tiba-tiba datang “tapi, ustadzah kan yang main bukan cuma kita” protes yang piket.
“nggak ada tapi-tapian yang piket semuanya harus beresin” perintah ustadazah Lulu lagi. “ya ustadzah” jawab yang piket lesu. Teman-teman yang tidak piket berujar “beruntung, kita tidak piket hari ini”
Penulis Cerita: Tasya Afit Triyani
 

Senja Terakhir

Selasa, 21 Januari 2014 | komentar

Namaku Vanessa Jessica Greysce biasa dipanggil Jessace (baca: Jesech) aku punya 3 sahabat di rumah, bernama Vinka, Regina dan Emma, ketiga temanku itu sangatlah baik dan tak lupa sama sahabatnya.
Suatu hari aku pulang sekolah aku bertemu Emma di jalan pulang saat siang hari “Hey Emma!!!” panggilku ke Emma “Jessece, ada apa” jawab Emma “Nanti ke rumahku ya, jangan lupa ajak Vinka dan Regina” sahutku kepada Emma.
Sampai di rumah aku ganti baju makan dan ke kamarku, aku mengeluarkan Blackberryku dan melihat BBMku ternyata ada pesan dari Emma bertuliskan seperti ini…
“Jess!? :-( kabar buruk, Vinka sakit usus buntu trus dia dirawat di rumah sakit Harapan Keluarga”
Lalu kujawab balasan dari Emma di BBM seperti ini
“Hahhh kok bisaa sih ceritanya gimana trus kapan kamu tau berita ini” PING PING!!! Jawabku di BBM
Lalu terjawab dari Emma seperti ini.. “Aku sih gak tau ya sakitnya ceritanya gimana, aku tau berita ini dari Mama nya Vinka katanya dia kecapean lalu perutnya sakit sakit gitu eh pas di cek ke RS dia menderita itu Jess”
Hanya kujawab “Ooooh”, langsung aku melihat pesan baru dari Regina seperti ini “Jess ke Taman yuk sama Vinka dan Emma!!”
“Gin!? kamu nggak tau ya kalau si Vinka tuh sakit” balasku ke Regina
“Apa!? Sakit Apa? Kok gak kasih tau aku sih!?” Balas Regina
“Sakit Usus Buntu, dirawat di RS Harapan Keluarga” Lanjutku
“jadi nanti sore kita gak bisa ke taman dong”
“ya enggak lah” jawabku
Percakapan antara aku dan Regina offline di BBM aku memanggil Emma dan Regina di depan rumahnya, pertama sih aku nyamperin Emma dulu yang rumahnya dekat sama aku.
Emma dan Regina sudah kupanggil keluar dari rumahnya lalu ku ceritakan rencana gini “eh kalian mau gak ikut rencana aku?!” kataku “apa?” jawab Emma “Gimana kalau kita ngejenguk Vinka sambil menanyakan permintaan harapan yang sangat ingin dia capai” Ujarku
“ya.. ya.. ya boleh” kata Regina “iya boleh juga tuh” timpal Emma.
Akhirnya kita bertiga setuju menjenguk Vinka.
Di rumah sakit kami dipersilahkan masuk karena tinggi kami dan umur kami yang sudah mencukupi syarat akhirnya kami bertemu Vinka sedang merintih sakit katanya 3 Jam lagi mau di operasi kami buru-buru menanyakan hal yang dibincangkan kami bertiga tadi. Harapan Vinka yang dari dulu ingin ia capai adalah melihat langit indah dengan awan seperti kapas di cat berwarna merah ke jingga jinggaan bersama sahabat sahabatnya, Aku Emma dan Regina setuju. Kata mamanya setelah di operasi Vinka boleh melihat langit sebentar berasama sahabat sahabatnya.
Selesai di operasi Vinka didampingi Mamanya bersama kami bertiga turun ke lantai bawah dan ke taman rumah sakit melihat ke atas sambil duduk di kursi “Bagus ya tante” ujar Emma ke mama Vinka “tuh liat vin bagus ya” hibur mama vinka kepada vinka, hanya terjawab anggukan dari vinka Firasatku terasa tak enak sepertinya vinka sakit perut “Vin kamu Gak apa-apa kan?” tanyaku “enggak kok” jawab Vinka terpaksa. Ternyata benar dugaanku saat senja Vinka tak bisa menaahan rasa sakit perutnya akhirnya Vinka meninggalkan kami saat senja mulai hilang dan langit berubah menjadi gelap, mama Vinka mulai mengis memeluk Vinka kami juga tak akan lupa akan pristiwa menyedihkan ini
Kini kami hanya tinggal Emma, Aku dan Regina. Jenazah Vinka dimakamkan di Tanah Kusir dekat kuburan kakeknya. Kami sangat mengingat pristiwa itu dengan menyebutnya Senja terakhir…
Penulis Cerita: Sekar Melati Kamah
 

Belum Besar

| komentar

Pagi cerah di minggu ini ayah berencana mengantarkanku bersama ibu ke pasar untuk membeli bahan pangan.
“mell ayo berangkat” teriak ayah
“iya yah” ucapku.
Aku dan ibuku segera masuk ke mobil biru milik ayahku dan langsung tancap gas ke pasar. sesampainya di pasar aku dan ibuku segera turun dari mobil lalu berjalan sejajar.
Ibuku telah membeli banyak bahan pokok tetapi hanya 1 yang tertinggal yaitu ayam potong. setelah ibuku membeli ayam potong tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampirinya. ibuku menyalaminya lalu bertanya seperti seorang ibu-ibu layaknya, tapi sepertinya orang itu melihatku tampak aneh.
“ini siapa vit?” tanyanya kepada ibuku
“ini anakku yang pertama” jawab ibuku
“loh vit kok kayak kakakmu” ujarnya yang kurang yakin.
aku yang mendengar kata-kata perempuan itu membuat aku sedikit minder. tanpa basa-basi ibuku segera berpamit pulang kepada wanita itu.
aku yang di mobil pun berpikir dalam hati “apakah aku ini wajah dewasa sehingga banyak orang yang mengiraku usia lebih dari 13 tahun”.
Ibu dan ayah melihatku yang ada di mobil seperti orang galau akut pun bertanya padaku “kenapa mel?” ujar ibuku
“aku bingung bu, kenapa orang-orang selalu menganggapku usia lebih dari 13 tahun?” ujarku yang mulai sedih
“gak usah di bawah berlarut-larut lebih baik kamu mensyukuri apa yang ada sekarang” ujar ayah dengan penuh bijaksana
“kamu harus bisa seperti batu karang yang kuat” tambah ibu
“iya ayah ibu” ujarku.
Dalam hati aku bangga mempunyai keluarga seperti mereka. ayah dan ibuku adalah orang yang paling mengerti akan keadaanku.
Penulis Cerita: Mellinda Putri
 

Markonah dan Uang Lima Ribuan

Selasa, 14 Januari 2014 | komentar

Markonah menemukan uang lima ribuan. Pas waktu itu di kantongnya hanya tinggal uang lima ribu. Jadi sekarang uang Markonah ada sepuluh ribu. Markonah bingung. Ini uang siapa? Haruskah aku bertanya? Pikirnya. Kalau aku harus bertanya, pada siapa? Tak ada orang di situ. Tak ada juga yang melihat kala Markonah memasukkan uang itu ke sakunya. Ke rumput yang bergoyang? Ah, itu cuma lagu.
Markonah melirik kiri dan kanan. Betul, tak ada orang. Hanya tampak tukang ojek dan tukang tambal ban nun jauh di sana. Tak mungkin mereka melihatku memungut uang itu, pikir Markonah. Ah sudahlah! Pikirnya lagi. Gunakan saja uang ini untuk hal-hal yang baik, pikiran Markonah berlanjut. Markonah lanjut berjalan.
Markonah tidak tahu. Ada dua malaikat yang melihat Markonah. Kedua malaikat tampak tersenyum melihat Markonah yang kebingungan. Kedua malaikat mengangguk-angguk. Tak ada suara di antara mereka. Tampaknya mereka berkomunikasi, namun hanya mereka yang tahu. Kalau istilahnya benar, berarti mereka berkomunikasi dengan telepati. Telepati? Nggak taulah. Belum pernah jadi malaikat soalnya.
Setelah saling tersenyum, salah satu malaikat menghilang. Tiba-tiba wujudnya tampak seperti manusia. Menjadi seorang anak lelaki berkaki buntung. Anak itu ada di balik pohon. Menampakkan dirinya kepada Markonah.
“Mbak, minta Mbak..” anak itu memelas ke Markonah. Tangannya teracung dengan posisi meminta. Markonah teringat uang lima ribunya tadi. Haruskah kuberikan pada anak ini? Pikir Markonah. Tiba-tiba Markonah mendapat ide. Dirinya punya uang lima ribu sebelum menemukan uang lima ribu lagi. Uang lima ribu Markonah terdiri dari uang seribuan 2 lembar dan uang dua ribuan satu lembar. Benarkah lima ribu? Coba kita hitung sama-sama. Satu lembar uang dua ribuan dan 2 lembar uang seribuan. Berarti ada empat ribu. Bukan lima ribu. Oh ternyata uang seribunya ada 3 lembar.
Di rogoh Markonah uang seribuan itu. Diberikannya pada bocah tadi. Bocah itu tersenyum. Markonah melanjutkan perjalanan. Uangnya tinggal empat ribu. Benarkah empat ribu? Tunggu dulu, tadi Markonah menemukan uang berapa? Lima ribu. Sementara Markonah sebelumnya sudah punya uang lima ribu. Diberikan ke bocah tadi seribu. Berarti uang Markonah tinggal berapa? Betul! Sembilan ribu.
Kedua malaikat kembali berkumpul. Malaikat yang tadi menjadi bocah sudah kembali ke wujudnya sebagai malaikat. Tampak berkomunikasi, keduanya hanya tersenyum. Markonah tak tahu kalau dia sedang diamati. Markonah berjalan, tiba-tiba dia berhenti. Seorang lelaki tua tampak berjalan menuju Markonah. Pandangannya layu. Seperti tak punya harapan. Lelaki tua itu menatap Markonah. Markonah menatapnya balik.
“Kenapa Pak?” tanya Markonah. Laki-laki tua itu tampak ingin menjawab. “Ah.. ah..” hanya suara itu yang keluar sambil tangannya memeragakan orang yang sedang makan. Rupanya dia bisu. Jari-jarinya menguncup mengarah ke mulut. Rupanya lelaki tua bisu itu belum makan seharian. Markonah meraba kantongnya. Dirogohnya sakunya. Ditariknya selembar uang. Uang dua ribuan. Diberikannya pada lelaki tua tadi. Lelaki tua itu tampak sumringah. Lelaki tua itu pun berlalu meninggalkan Markonah.
Nah, berapa uang Markonah sekarang? Mari kita hitung bersama. Markonah menemukan uang lima ribuan. Sebelumnya Markonah sudah punya uang lima ribu yang terdiri dari uang dua ribu satu lembar dan uang seribuan sebanyak tiga lembar. Seribu diberikan Markonah pada bocah dengan kaki buntung tadi. Uang selembaran dua ribu barusan diberikannya pada lelaki tua yang belum makan tadi. Berarti tinggal berapa uang Markonah? Wuih pusing… Yup betul, uang Markonah tinggal tujuh ribu.
Lelaki tua tadi menghilang. Wujudnya berubah kembali menjadi malaikat. Rupanya kedua malaikat tadi sudah sama-sama berubah. Yang satu tadi berubah menjadi bocah kecil berkaki buntung, sementara satu malaikat lagi tadi berubah menjadi seorang lelaki tua bisu yang belum makan. Keduanya kembali tampak berkomunikasi. Tak ada suara. Hanya telepati.
Hari sudah beranjak siang. Panas yang terik membuat Markonah kehausan. Tak hanya haus, Markonah juga lapar. Tapi uangnya tinggal tujuh ribu. Bisa beli apa dengan uang tujuh ribu? Markonah menghela nafas. Di depan tampak warung makan. Ada menu nasi campur dan es teh manis. Lumayan murah, hanya lima ribu sudah dapat keduanya. Dapat nasi campur dan dapat es teh manis. Markonah duduk di kursi warung. Dipesannya menu itu. Markonah makan dan minum. Lega. Lapar hilang demikian pula dahaga. Markonah membayar makan dan minumnya. Uang lima ribuan yang ditemukan tadi diserahkannya. Tinggal berapa uang Markonah?
Duh, hitung lagi deh! Jadi begini, awalnya Markonah sudah punya lima ribu. Kemudian dia menemukan selembaran lima ribuan. Jadi sepuluh ribu. Sudah terpakai seribu untuk bocah berkaki buntung. Dua ribu untuk lelaki tua bisu yang belum makan. Lima ribu untuk makan nasi campur dan minum es teh manis. Berarti uang Markonah tinggal lima ribu. Benarkah? Salah! Uang Markonah sekarang tinggal dua ribu. Dua ribu yang terdiri dari dua lembar uang seribuan. Di raba Markonah uang itu. Dia kembali berjalan.
Kedua malaikat sekarang sudah berubah lagi. Menjadi seorang ibu dan seorang anak kecil. Keduanya baru turun dari angkot. Sang ibu tampak kebingungan. Melihat kiri-kanan dan meraba-raba kantongnya. Tasnya pun di bongkar. Tapi tetap saja dompet itu tak tampak. Rupanya ibu itu habis kecopetan. Dia bingung, dompetnya hilang.
“Kenapa Bu?” tanya Markonah.
“Ini lho Mbak, saya habis kecopetan. Padahal masih harus naik angkot sekali lagi Mbak. Mana uang tinggal seribu Mbak. Perlu uang dua ribu lagi Mbak” jawab si ibu. Rupanya ongkos angkot dua ribu seorang. Anak kecil di pangku jadi hanya bayar seribu. Total yang harus di bayar empat ribu. Si ibu hanya punya seribu.
Markonah meraba kantongnya. Ditariknya uang seribuan dua lembar yang sisa tadi. Diberikannya ke si ibu.
“Terimakasih Mbak. Mudah-mudahan Mbaknya dimurahkan rejekinya ya..” Ibu itu tersenyum. Sebuah angkot kosong datang. Ibu itu naik bersama anaknya. Markonah kembali berjalan. Tak dilihatnya kalau angkot itu perlahan-lahan menghilang.
Markonah merasa senang. Uang yang ditemukannya bisa digunakan untuk membantu banyak orang. Membantu bocah berkaki buntung. Membantu lelaki tua yang belum makan. Membantu seorang ibu dan anaknya yang habis kecopetan dengan memberikan tambahan uang angkot. Markonah lega. Uang itu dipakai untuk kebaikan. Markonah berjalan pulang.
Kedua malaikat tampak berkomunikasi. Tapi kali ini dengan senyum. Lalu keduanya mengangguk-angguk. Keduanya pun menghilang.
Markonah melintas di sebuah gang sepi. Gang itu menuju rumahnya. Masih lega perasaan Markonah. Membantu banyak orang dengan berbuat kebajikan. Rumahnya sudah tampak. Markonah berjalan cepat-cepat. Hari sudah mulai mendung setelah seharian panas. Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu. Di lirik Markonah ke bawah. Markonah kaget bercampur bingung. Di depan kakinya kini tampak uang lima ribuan. Bukan hanya satu tapi dua lembar.
Markonah menghela nafas panjang. Mau diapakan lagi uang ini? Pikirnya. Samar-samar tampak kedua malaikat tadi. Kali ini kedua malaikat itu tampak tertawa.
Membuat cerpen ini (Markonah dan Uang Lima Ribuan) merupakan pengalaman seru. Tidak hanya menuliskan atau mengetikkan saja tetapi juga harus berhitung. Kalau salah hitung nanti pembaca bisa protes.
Penulis Cerita: Willy Sitompul
 

Triangle Love

Minggu, 12 Januari 2014 | komentar

“ Bunda Putri lulus……”Teriak Putri sambil mencium kening Bunda,”Selamat ya Nak, gimana nilai kamu?” Tanya Bunda, “Lihat dech bunda nilai Putri bagus- bagus semua kan? Siapa dulu dong Putri…”Ujar Putri bangga, “Mana, mana? Sepintar apa sich kamu Put?” Tanya Yasmin kakak Putri,sambil menarik kertas kelulusannya, “Nilai kamu rata- rata 8 begini, kakak dong tahun kemarin lulus dapat nilai 10, sempurna tauk?”Ujar Yasmin, “Kakak iri ya, Karena Putri juga bisa kayak kakak?” Tanya Putri, “Enak aja.”Ujar Yasmin yang langsung pergi ke kamarnya.”Bunda, kak Yasmin koq gitu sich? gak senang ya kalau aku lulus?”Tanya Putri, “ Kamu kayak gak tahu kakak mu aja, dia kan emang suka godain kamu, udah sana makan siang dulu, ntar sore Bunda mau laporan sama Ayah, kalau kamu lulus.”Ujar Bunda.
Yasmin adalah kakak kandung Putri, usia mereka terpaut 2 tahun, sekarang usia Yasmin 19 Tahun, Sebenarnya Yasmin itu gadis dewasa tapi dia sering menganggu adiknya itu, maklum emosi Putri kan sekarang lagi naik turun, maklum usia Putri kan sekarang 17 tahun dan sebentar lagi ulang tahun Putri, Yasmin pergi ke ruang kerja Ayahnya, “Ayah, aku mo bicara boleh gak?”Tanya Yasmin, “Boleh dong Nak, ada apa?”Tanya Ayah,”Gini lo Yah, sebentar lagi kan Putri ultah ke 17 “Sweet Seventeen” gitu dech yah, aku pengen kasih hadiah ke Putri tapi pengennya sich yang bisa buat Putri terkesan dan bisa dikenang seumur hidup.”Ujar Yasmin, “Ehmm… boleh, kamu mau kasih dia hadiah apa?”Tanya Ayah,“Ehmm… apa ya Yah,Yasmin juga gak tahu,Ayah ada ide gak?”Tanya Yasmin, “Gimana kalau Jalan- Jalan ke Kuala Lumpur 10 hari cukup kan?” Tanya Ayah, “Serius yah?”Tanya Yasmin semangat. “Iya, nanti Ayah atur jadwalnya ya, kita pergi pakai travel aja, jadi kita bisa jalan- jalan tanpa kesasar, maklum Ayah juga belum pernah kesana.”Ujar Ayah. “Thank you Ayah ku sayang, Mmmuacch”Ujar Yasmien sambil mencium pipi Ayahnya.
Bunda pun setuju dengan ide dari yasmin itu, mereka pun mulai merencanakan pesta ulang tahun Putri , Semua teman- teman Putri datang tak terkecuali Gilang cowok gebetan Putri, saat acara potong kue, Gilang mendapat kue potongan yang pertama, selanjutnya orang tua Putri dan kakaknya Yasmin, Sebenarnya Yasmin tahu kalau Putri suka sama Gilang, begitupun Gilang yang juga naksir sama Putri, tiba- tiba Yasmin berbisik sama orang tuanya, Putri penasaran dan ingin tahu, tiba- tiba Ayah putri mengumumkan sesuatu,”Putri, anak Ayah yang paling Ayah sayangi, Selamat Ulang tahun ya, semoga kamu sehat dan bahagia Selalu, sebagai hadiah ulang tahun sekaligus kelulusan kamu ditambah nilai- nilai kamu yang sangat memuaskan, Ayah kasih hadiah sama kamu jalan- jalan ke Kuala Lumpur selama 2 minggu bersama kakak kamu yasmin kalian akan berangkat minggu depan gimana kamu mau?” Tanya Ayah, “Serius yah?”Tanya Putri, Ayah mengangguk, “Makasih Yah, bunda… Putri sayang kalian.”Ujar Putri sambil memeluk orang tuanya.”Gilang, kamu boleh ikut sekalian temani Putri dan Yasmin disana, gimana kamu mau? Kalau mau nanti om yang urus semuanya.”Ujar Ayah.”Mau Om… Makasih ya Om, kebetulan sebulan yang lalu aku baru perpanjang paspor di kantor imigrasi. “Ujar Gilang. “Yah, kan aku minta 10 hari, koq malah jadi 2 minggu, gak kelamaan tuch yah?”Tanya Yasmin, “Gak apa- apa Ayah takut nanti kalian gak puas lagi jalan- jalannya kalau Cuma 10 hari.”Ujar Ayah, “Ya udah kalau kakak gak mau, kakak pulang aja setelah 10 hari disana dan kita lanjutin liburan kita selama 2 minggu iya gak Gilang?”Ujar Putri, Gilang mengangguk sambil tersenyum,”Enak aja lo.”Ujar Putri ngambek, “Udah, udah, gimana kamu mau 2 minggu kan Yasmin?”Tanya Ayah, Yasmin mengangguk sambil tersenyum.
Seminggu sebelum keberangkatan ternyata Ayah gak bisa ikut, karena Ayah di tugaskan dari kantornya untuk keluar kota, “Anak- anak, sepertinya Ayah gak bisa menemani kalian pergi, Ayah ada tugas mendadak, Bunda juga akan pergi menemani Ayah tugas”.Ujar Ayah. “Jadi liburannya batal dong Yah?”Tanya Putri kecewa, “Gak, kalian tetap pergi, tapi dengan sangat terpaksa Ayah dan Bunda gak bisa menemani kalian, kalian gak apa- apa kan pergi bertiga bareng Gilang, lagi pula kalian kan berangkat melalui travel, gimana?”Tanya Ayah, “Ya udah dech Yah gak apa- apa, apa boleh buat kita juga gak bisa batalin tiketnya kan. “Ujar Putri.
Semua sudah berada di bandara internasional sekarang, dan melalui travel ternyata yang ikut ada sekitar 10 orang, Pesawat berangkat jam 11 siang, jadi jam 9 pagi mereka semua sudah kumpul di bandara.Putri merasa jam ditangannya bergerak lambat sekali, maklum ini perjalanan pertama Putri ke luar negeri, apalagi Ayah dan Bundanya gak ikut, dia hanya pergi berdua dengan kakaknya Yasmin.Jam sudah menunjukkan pukul 10 seharusnya sekarang mereka sudah masuk ke ruang tunggu, tapi karena masih ada yang belum datang mereka akhirnya menunggu di lobi bandara.”Mas Bayu, kita jadi berangkat gak sich?”Tanya Putri yang sudah mulai sewot, ‘‘Sabar ya Put, kita masih nunggu 4 orang lagi, yang satu pasangan pengantin baru dan 2 orang lagi cowok sama cewek.”Ujar Mas Bayu, “Lama banget sich…..”Ujar Putri jengkel, “Itu mereka, Mas Rangga….”Panggil Mas Bayu. “Sabar Put… “Ujar Gilang, Putri langsung mendatangi Rangga, “Lama banget sich lo? Kita hampir ketinggalan pesawat tauk?”Ujar Putri sewot, Rangga yang lagi memegang kopernya, terkejut dan tak sengaja melepaskan kopernya hingga mengenai kaki Putri, “Aduuuh….”Teriak Putri, “Lo Kenapa Put? kaki lo gak apa- apa kan?”Tanya Gilang “Lo punya mata gak sich, lo gak liat nich koper lo tuch kena kaki gue?”bentak Putri, “Sorry, Sorry gue gak sengaja, habis kaki lo dekat koper gue sich mana gue tahu kaki lo disitu.”Ujar Rangga mencoba membela diri, “Dasar cowok brengsek…”Ujar Putri pergi sambil menginjak kaki Rangga, “Adoowww.”teriak Rangga, “Sukurin lo.”ujar Putri sambil tersenyum puas.
“Udah, udah.. tuh pesawatnya udah nungguin kita, ayo cepat…”Ujar Mas Bayu, mereka semua pun buru- buru masuk ke dalam bandara, mereka semua terburu- buru dan berlarian menuju pintu paesawat, “Gara- gara lo, ni semua,” Ujar Putri sambil terus berlari takut ketinggalan pesawat, “Udah kenapa sich Put, jangan ngomong aja ntar lo nya yang ketinggalan.”Teriak Yasmin sambil terus berlari dan menarik tangan Putri, ahhhh… akhirnya mereka tiba juga di pintu pesawat, dan sang pramugari pun tersenyum menyambut meeka semua, “Selamat Pagi.. selamat datang di pesawat kami, semoga kalian nyaman dengan pesawat kami.”Ujar Pramugari, “Kami gak terlambat kan Mbak?”Tanya Putri, “Hampir, kalau enggak kalian sudah kami tinggal. “Ujar Pramugari itu sambil tersenyum, “Gara- gara dia nich Mbak, Cowok tapi Lelet.”Ujar Putri sambil menunjuk Rangga, Rangga yang di tunjuk mukanya sama Putri langsung kesal.
“Udah dech Put… kenapa sich kamu marah- marah terus?”Tanya Yasmine, “Gimana Putri gak marah kak, gara- gara tuch cowok lelet kita hampir aja ketinggalan pesawat mana tadi dia nginjak kaki Putri lagi.”Ujar Putri sambil ngemil coklat yang dibelinya di bandara tadi, “Iya, tapi kan dia udah minta maaf.”Ujar Yasmine, “Putri kesel kak, KESEELL…”Teriak Putri, “Hus, berisik lo, gua mau tidur” Ujar Rangga yang duduk di belakang tempat duduk Putri dan Yasmine, “Dasar cowok brengsek, “Umpat Putri, “Apa lo bilang?”teriak Rangga, “Udah, udah… aku minta maaf ya, adik ku masih kesal sama kamu, harap maklum ya, ntar juga dia baik lagi, Maaf ya.”Ujar Yasmine sama Rangga.”Ok, gua maafin, nama adek lo siapa?”Tanya Rangga, “Adikku namanya Putri. ‘’Ujar Yasmin, “Oh,, kalau kamu?”Tanya Rangga, “Aku Yasmin kakak nya Putri.””Aku Rangga.”Ujar Rangga tersenyum sambil menjabat tangan Yasmin.
Gak terasa mereka pun sampai di KL, sebutan untuk Kuala Lumpur, mereka semua langsung check-in hotel, masing- masing satu kamar terdiri dari 2 orang , Putri dan Yasmine pun tidur di kamar yang sama, khusus untuk Rangga dan temannya yang 2 orang lagi tidur di kamar yang lebih besar, “Loh Mas, koq mereka beda kamarnya, gak kayak kita- kita Mas?”Tanya Putri sama Mas Bayu, “Iya mereka bayar lebih mahal, dan pesan kamar khusus, jadi ya mereka gak tidur di kamar yang seperti kita- kita yang lain.”Ujar Mas Bayu, “Oh… dasar orang kaya, maunya enak melulu ya Mas..”Ujar Putri mencoba menyindir Rangga, Rangga yang sedang disindir malah lagi ngobrol sama Yasmine, “Kak, ayo cepet kita masuk kamar, aku capek nich, ngapain sich ngobrol sama “MR LELET”itu, ayoo…”Ujar Putri sambil menarik tangan Yasmine.
Keesokan paginya mereka semua sudah berkumpul di lobi hotel, “Ok, Semuanya hari ini kita akan ke titi wangsa, kalian bisa main disana dan bisa naik “kincir raksasa”, ayo semua naik ke bis.”Ujar Mas Bayu, “Siap Bos….”teriak yang lain, semua sudah naik ke dalam Bis, mas Bayu mulai mengabsen nama- nama yang ikut dalam rombongan, “Put, aku duduk disamping kamu boleh gak?”Tanya Gilang, “Boleh.., Kak Yasmine duduk di belakang kita aja ya..”Ujar Putri, “Iya dech, ngalah untuk orang yang lagi kasmaran.”Ujar Yasmine.”Heh, minggir lu berdua, ini kursi gue tauk?”Ujar Rangga, “Enak aja lo, lo kan baru datang jadi lo aja yang ke belakang.”Ujar Putri, “Ini kursi gue, minggir lo,” sambil menarik tangan Putri, “eeh… jangan tarik tangan gue dong, sakit tauk?”teriak Putri, “Heh, jangan kasar dong ma cewek.”Ujar Gilang, “Ya udah bilang ma cewek lo minggir, ini kursi gua.”Ujar Rangga, “Udah Put, kita pindah yuk.”ajak Gilang, “Ogah gue gak mau.”Ujar Putri, “Maaf mbak Putri dan Mas Gilang, ini memang kursinya Mas Rangga, kalian duduk di belakang aja ya.”Ujar Mas Bayu, “Gak mau, aku mau duduk disini. “Ujar Putri, “Mas, biarin mbak Putri duduk disini ya, please, biar kita bisa mulai perjalanannya.”Ujar Mas Bayu. “Ya udah. “Ujar Rangga. “Untuk Mas Gilang, duduk di belakang aja ya, yang satu lagi emang kursinya Mas Rangga” Ujar Mas Bayu, Gilang pun nurut, “Gilang, lo mau kemana sini bareng gue.”Ujar Putri, “Gak apa- apa koq put, aku duduk di belakang aja, “Ujar Gilang, “Tapi….”Putri gak sempat bicara karena Gilang sudah duduk di kursi belakang, Putri mencoba menyusul Gilang tapi dia hilang keseimbangan karena Bis sedang jalan, Putri pun terjatuh, “aduhh…”teriak Putri, “Kamu gak apa- apa? “ Tanya Rangga, “Gak usah sok perhatian, cowokku di belakang tauk?”ujar Putri, “Itu lutut kamu berdarah, aku obatin ya.”Ujar Rangga, “Gak perlu.”Ujar Putri makin sewot, tapi Rangga gak perduli dia langsung ngobatin lulut Putri yang berdarah, “Makasih. “Ujar Putri, “Santai aja.”Ujar Rangga.
Mereka semua pun sampai di titi wangsa, pemandangan disana indah… sekali, nah kalau mau lihat pemandangan dari atas, mereka harus naik “Cable Car” atau kereta gantung, dan kereta gantung hanya muat untuk 2 orang saja, “Kita naik Cable car yang nomor berapa nich Mas?” Tanya Yasmine sama Mas Bayu, “Terserah kalian, nanti cable car nya berhenti dan kalian bisa ganti cable car yang lain untuk pulangnya,”Ujar Mas bayu.”Aku takut nich Put… kamu naik sendiri aja ya?”ujar Gilang, “Gak ah aku maunya sama kamu.”Ujar Putri,”Tapi aku…”Ujar Gilang, “Kenapa lo takut ya?”Ujar Rangga tiba- tiba, “Siapa yang takut? Kita berani koq, iya kan Gilang?”Ujar Putri, “Kamu naik berdua aja dech, aku gak berani. “ujar Gilang. “Enggak, tadi aku udah sebangku ma dia di bis, sekarang mesti bareng lagi, ogah.”Ujar Putri. “Terus gimana dong aku gak berani, emang kamu mau ngelewatin kesempatan untuk naik Cabble Car?”Ujar Gilang, Putri terdiam, “Udah, Ayo.”Ujar Rangga sambil memegang tangan Putri, “Gilang…”panggil Putri, “Gue gak apa- apa Put, lo hati- hati ya?”ujar Gilang.
“Cowok lo penakut ya?”ujar Rangga membuka obrolan, “Enak aja, dia cowok gentleman yang pernah gue lihat.”Ujar Putri, “Hahaha… cowok Gentle, masa cowok Gentle takut naik Cable Car?”Ujar Rangga, Putri diam aja “Males nanggepin omongan nich orang gak penting. “batin Putri. “Ehmm… ngomong- ngomong kalian pacaran ya?”Tanya Rangga, “Bukan urusan lo.”Ujar Putri sewot, “Koq sewot gitu sich kan gue Tanya baik- baik.”Ujar Rangga, “Udah berapa lama?emang dia takut ketinggian ya?koq lo mau sich pacaran ma cowok yang takut ma ketinggian, emang gak ada cowok lain ya?”Ujar Rangga, tiba- tiba, Degg, Cable Car berhenti, “Loh.. koq Cable Car nya gak jalan?”Tanya Putri, “Rusak kali.”Ujar Rangga, “Terus kita gimana dong?”Tanya Putri, “Gak tahu, kayaknya kita bakal nginap malam ini di Cable Car ini,soalnya waktu berkunjung kesini tinggal 1 jam lagi.” Ujar Rangga, Putri terdiam sambil melihat kebawah, “Kamu takut?”Tanya Rangga, “Enggak siapa yang takut?”Ujar Putri, Rangga langsung memegang tangan Putri, “Tangan kamu dingin, berarti kamu takut.”Ujar Rangga,”Enggak. Lepasin tangan aku”Ujar Putri,”Kata orang kalau tangan kita dingin kita harus pegang tangan kita sambil ditiup biar hangat.”Ujar Rangga sambil meniup- niup tangan Putri, “Gimana udah hangat kan?”Tanya Rangga, Putri tersenyum, “Gitu dong senyum, kalau muka mu BT kayak tadi jadi jelek tauk?”Ujar Rangga, Putri hanya tersenyum.
2 Jam kemudian “Cable Car” berjalan mundur untuk kembali ke tempat pemberhentian terakhir, Putri tertidur karena kelelahan Rangga menyenderkan kepala Putri di bahunya.Keesokan harinya, mereka pergi ke Butique chocolate, disana banyak sekali coklat, “Ini coklat untuk kamu Put.”Ujar Gilang sambil memberikan coklat ke Putri, “Makasih ya Gilang.”Ujar Putri, “Put, nich coklat buat kamu ehmmm, dan ini untuk mbaknya ya siapa nama mbaknya?”Tanya Rangga, “Mbak Yasmin, jangan lupa lagi dong kan kemarin udah kenalan. “Kata Putri, “Iya Lupa, maaf ya…”Ujar Rangga sambil mecubit pipi Putri, Putri tersenyum malu, Gilang cemburu.
Besoknya mereka ke Petaling, disini hampir sama dengan kaki lima harganya murah, tapi gak jarang orang- orang disana menaikkan harga khusus untuk pendatang, Putri ingin membeli baju, tas dan gantungan kunci khas negara serumpun itu, “Bajunya berapa?’’ Tanya putri sama penjual baju disana, “30 Ringgit.”Ujar penjualnya, Putri langsung mengeluarkan kalkualtornya, 30X Rp3000= RP 90.000, “Mahal amat…”Ujar Putri, “Sini sudah murah, tak jual mahal mahal la…”Ujar penjual itu, “Berapa Put?”Tanya Rangga, “90 ribu.’’ Ujar Putri, “kita cari tempat lain aja ya yang lebih murah” Ujar Rangga, mereka pun pergi”Kalau di kaki lima harganya lebih murah, gimana mau?”Tanya Rangga ”Boleh.”Ujar putri, “Emang kamu bisa pakai baju yang di beli di kaki lima?”Tanya Rangga, “Kamu menghina ya?”Tanya Putri sambil cemberut, “sorry aku bercanda sekalian aku beli baju buat mbaknya ya..”Ujar Rangga sambil mengelus rambut Putri.
Di kamar, “Kak, kalau ada cowok yang perhatian sama kita, terus suka ngelus rambut kita itu tandanya apa?”Tanya Putri, “Emang siapa yang berani ngelus rambut kamu?”Tanya Yasmine, “Rangga kak.”Ujar Putri, “Ehmmm… setau kakak sich itu tanda cowok yang lagi naksir, mungkin Rangga naksir kamu kali.ngomong- ngomong kalo Rangga nembak kamu terima gak?”Tanya Yasmine, Putri mengangguk sambil tersenyum, “Oh Ya kak, ini baju buat kakak dari Rangga.”Ujar Putri sambil menyerahkan bungkusan sama Yasmine.
Esoknya, “Rangga….”Panggil Yasmine, Rangga menoleh dan tersenyum, “Makasih ya…”Ujar yasmine, “Makasih buat apa?”Tanya Rangga, “Kamu udah neraktir adikku dan membelikan baju untuk ku. “Ujar yasmine, “Kamu suka?”Tanya Rangga,Yasmine mengangguk, “Kamu mau temani aku ngobrol gak? “Tanya Rangga, “Boleh, yuk.”Ujar Yasmine, mereka pun ngobrol seharian mereka membahas apa aja mulai dari politik, fashion, sampai soal keluarga, “Aku ngerasa nyambung lo ma kamu.”Ujar Rangga, Yasmine tersenyum, “aku boleh minta alamat kamu sama no hp kamu gak?ya setidaknya kita bisa ngobrol dan tukar pikiran.”Ujar Rangga.Yasmine pun memberikan alamat no hp dan telepon rumahnya.
Putri duduk sendirian di lobi hotel, “Put, koq sendirian? Kita jalan yuk.”ajak Gilang, Putri pun pergi dengan Gilang mereka main sepausnya dan Gilang ngajak Putri makan es krim di Butique coklat. “Put, aku mo bicara penting banget.”Ujar gilang. “Apa?Tanya Putri, “Gini Put, jujur dari dulu sampai sekarang aku suka dan sayang banget ma kamu, aku mau kita dekat dan kamu jadi orang special buat aku.” Ujar Gilang, Putri terkejut, “Sejak kapan ?”Tanya Putri, “Sejak dulu Put, pertama kali kita ketemu aku ngerasa cocok sama kamu, gimana kamu mau kan jadi pacar ku?” Tanya Gilang, “Ehmm.. aku… aku…”Putri gak tahu mesti bicara apa, tiba- tiba, “Put, kita jalan ke taman burung di lake garden yuk.”Ujar Rangga. “Rangga…”Putri terkejut, “Put gimana kamu mau gak ter…”Ujar Gilang terpotong, “Ayo Put temenin aku ya, please….”Ujar Rangga, “Ok dech yuk.”Ujar Putri, “Put.. Putri.. kamu terima aku gak?”Teriak Gilang.
Mereka pun sampai di “Bird Park” alias taman burung, “Ku pikir disini kita Cuma bisa lihat burung, ternyata disini ada danau yang cantik sekali. “Ujar Putri, “Kamu suka?”Tanya Rangga, Putri mengangguk, “Menurut kamu tempat ini cocok untuk nembak gak?”Tanya Rangga, “Nembak, nembak burung maksud kamu?”Tanya Putri, Rangga tersenyum, “Nembak cewek lah…”Ujar Rangga, “Emang kamu naksir siapa?”Tanya Putri, “Ada dech rahasia.”Ujar Rangga. “Ehmm… udah lupain aja urusan tembak- menembak itu, ngomong- ngomong kamu berapa saudara, aku boleh Tanya kan? Secara aku belom tahu siapa kamu.”Ujar Rangga. “Ok, aku bakal cerita, Aku anak kedua dari dua bersaudara kakakku ya Kak Yasmine itu, hanya dia kakakku yang paling baik juga paling cerewet.”Ujar Putri, “Oh Ya?Masa sich Yasmine itu cerewet?”Tanya Rangga, “Iya, semenjak di putuskan cowoknya kak Yasmine mulai sering marah- marah, dia di selingkuhin ma pacarnya, padahal mereka udah pacaran 2 tahun, bayangin aja, semenjak itu Kak Yasmine mulai hati- hati sama cowok dan akibatnya samapi sekarang dia JOMBLO. ‘Ujar Putri, “Oh Ya…?”Tanya Rangga, “Iya.”Ujar Putri. “Emang kriteria cowok kamu dan kakak kamu apa?”Tanya Rangga, “Kalau aku sich yang penting baik dan sayang ma aku dan terutama ganteng kayak kamu. “Ujar Putri, Rangga tersenyum, “Kalau Yasmine?”Tanya Rangga, “Kalau Kak Yasmine senang cowok yang baik dan bertanggung jawab terus sayang sama dia dan keluarganya, Kak Yasmine punya cita- cita untuk cepet Merid biar dia bisa hidup mandiri, sebenarnya sich kak Yasmine itu orangnya sangat mandiri tapi karena Ayah sangat sayang sama kami jadi ya… gitu dech.”Ujar Putri.
Gak Terasa perjalanan mereka besok pagi akan berakhir karena besok pagi mereka akan sampai di rumahnya masing- masing, Keesokan harinya mereka semua tiba di bandara, dan perjalanan yang tak terasa itu berakhir, “Terimakasih sudah memakai travel saya, jangan bosan- bosan ya,, kalau ada perkataan/ perbuatan yang kurang menyenangkan hati saya selakau perwakilan travel minta maaf.”Ujar Mas Bayu, “Perjalanannya menyenangkan koq.”teriak Gilang, mereka semua tertawa.
Besoknya di rumah Putri, “Selamat Sore tante, Putrinya ada?”Tanya Gilang, “Eh.. Kamu Gilang, ayo masuk, tante panggilin Putri ya.”Ujar Bunda, Putri pun keluar, “Gilang ngapain ke sini, emang kamu gak capek apa seminggu jalan terus kamu langsung kesini?”Tanya Putri, “Aku rela put ngorbanin apa aja untuk kamu, termasuk waktu istirahat aku.”Ujar Gilang, “Ada apa?”Tanya Putri.”Kamu masih ingat kan ucapanku di lobi hotel kemarin?”Tanya Gilang, “Ngomong apa ya? Aku lupa, Sorry..”Ujar Putri, “Put, Aku suka dan sayang sama kamu sejak awal aku ketemu kamu, kamu mau jadi pacar ku kan?”Tanya Gilang. “Ehmmmm… Sorry Gilang aku gak bisa terima kamu, karena 2 alasan, yang pertama karena aku gak ada rasa sama kamu, dan yang kedua aku suka sama Rangga.”Ujar Putri.”Jadi kamu nolak aku?”Tanya Gilang, “Maafin aku Gilang tapi rasa itu gak bisa di paksain kan?”Ujar Putri, “Ya udah gak apa- apa Put, aku hargai jawaban kamu, tapi kita masih bisa berteman kan?”Tanya Gilang, Putri mengangguk, Gialng pun pulang dengan hati kecewa, malamnya Gilang SMS Putri, “ Put, maaf ya tadi aku nembak kamu, kamu jangan marah ya, aku beneran sayang ma kamu, tapi kalau kamu gak terima aku, aku gak apa- apa koq, besok aku akan ke Bandung dan mungkin gak balik lagi, jaga diri kamu baik- baik ya dan kalau kamu jadian ma Rangga aku ucapin selamat.”Ujar Gilang.
Besoknya, TING TONG bel rumah Putri berbunyi, Putri pun berlari membuka pintu dia melihat Rangga yang membawa seikat bunga mawar putih, “Rangga, apa kabar? Koq kamu bawa bunga mawar putih sich, itu kan kesukaan kak Yasmine, kalau aku suka bunga mawar Merah.”Ujar Putri, Rangga bingung, “Ehmm.. Put Mbak Yasmine nya ada?”Tanya Rangga, “Ada, aku panggilin ya.”Ujar Putri berlari ke kamar Yasmine, Yasmine sekarang berdiri di depan Rangga, “Yasmine, maaf aku lancang karena telah berani datang ke rumah kamu, aku kesini Cuma ingin bilang aku sayang sama kamu semenjak kita jumpa di bandara, tapi kamu selalu cuek sama aku, jadi aku gak pernah tahu apa yang kamu mau, sampai aku kenal Putri adik kamu, dan dia cerita banyak hal tentang kamu, kamu mau jadi pacar ku kan? Aku sayang sama kamu.”Ujar Rangga.
Putri yang melihat kejadian itu pingsan, “Putri…”teriak Yasmine, dengan bantuan minyak angin Putri pun sadar, “Maaf Put, aku gak bermaksud mempermainkan kamu,aku dekati kamu karena kamu mirip dengan adikku yang sudah meninggal, aku sayang sama Yasmine.”Ujar Rangga. “Gak apa- apa koq, aku yang salah, aku yang terlalu ke GR an maafin aku ya..kak, kalau kakak suka dan sayang sama Rangga kakak terima dia ya, aku gak apa- apa koq?”Ujar Putri, “Tapi Put…”Ujar Yasmine, “Rangga, aku titip kakakku ya, jaga dia kalau tidak…”Awwwww Sakit Put… jangan injak kaki ku lagi…”teriak Rangga, Yasmine tersenyum melihat ulah adik dan pacar baru nya itu.
Penulis Cerita: Ziah
 

Gara-Gara Buku Terlarang

Sabtu, 11 Januari 2014 | komentar

Kukuruyuk!
“Hoammmm… Jam berapa ini?” kata Shasha. “Ohhh jam 5″ gunamnya. Dia segera kekamar mandi lalu wudhu. Setelah itu sholat shubuh.
Setelah sholat shubuh…
Shasha belajar pelajaran hari ini. Ia belajar 1 jam, sampai jam 06.00. Setelah itu ia mandi. Lalu mengenakan seragam sekolahnya. Seragam hari ini adalah Batik berwarna Hijau. Setelah menyiapkan alat alat sekolahnya. Dia segera turun kebawah. Mau ngapain? Sarapan lah!
“Selamat pagi ayah, bunda, kak Shesha!” sapa Shasha. “Selamat pagi Shasha..” jawab 3 keluarganya. “Sarapan apa bunda?” tanya Shasha. “Sarapan nasi goreng. Minumnya susu cokelat hangat…” kata bunda sambil menyiapkan sarapan milik Shasha. “Bekalnya?” tanya Shasha (lagi). “Roti bakar keju & meises dan 3 buah nugget dinosaurus…” jawab kak Shesha. setelah siap, mereka pergi kesekolah.
Saat istirahat disekolah Shasha…. (Ditaman)
“Buku siapa nih?” ujar Shasha sambil duduk di kursi taman. Judulnya Buku Terlarang. “Aku bawa pulang sajalah…” padahal ada tulisan: Buku ini ada pemiliknya, Jika kamu membaca halaman 40, kamu bakal kecelakaan!
Brukkkk
Shasha menutup pintu kamarnya… Dia membuka buku itu, ia buka halaman 40.
Hah, kok gelap? pikir Shasha. tiba tiba… ada anak berambut panjang, seluruh tubuhnya berdarah. “S… siapa kamu?” tanya Shasha ketakutan. “Kamu telah membuka halaman 40! Itu kamarku!” katanya. “Yah, aku mary. aku di bunuh seseorang saat membaca halaman 40 di sekolahmu.” jelas mary. “Kau telah melanggar aturan..! Akan kubunuh kau! Kembalikan buku ini ketempatnya di bangku taman!” kata mary. ia menyiapkan golok yg sangat tajam.
“Tidaaaaakkkkkkkkkkk!!! t…tidakkkkkk!!!” teriak shasha.
“Woy! woy! woy!” suara seseorang. “Mimpi apaan kamu sha?” tanya kak Shesha. “Ada seseorang… menyeramkan!” jelas shasha. setelah kejadian itu pun, dia tak mau membuka halaman 40 dan buku itu ia kembalikan ke tempat asalnya.
Penulis Cerita: Adzra Annisa
 

Bukan Aku yang Bernama Karel

| komentar

Hal pertama yang kuperhatikan tentang rumah sakit adalah dinding-dinding hijau yang memuakkan. Warna pudar yang membosankan. Nyaris kelabu. Warna langit ketika terjadi badai hebat. Ada yang menggantungkan pita-pita oranye dan hitam dari langit-langit karena sekarang Hallowen. Beberapa pintu ditempeli penyihir-penyihir dari karton dan lentera-lentera jack-o’. Tapi dekorasi-dekorasi itu tak membantu. Bahkan jika kau gembira, warna muram dinding-dinding itu akan membuat suasana hatimu menjadi sedih, cemas, dan takut. Tentu saja aku tak gembira ketika berjalan di apit kedua orangtuaku menyusuri koridor hijau panjang itu menuju ke kamarku di rumah sakit. Ibu meremas tanganku. Tangannya hangat. Tanganku dingin dan lembap.
“Tidak perlu cemas Roy, semua akan baik-baik saja kok.” Katanya pelan. Tatapannya lurus ke depan. Sepatunya berdetak-detak di lantai ubin yang keras. Sambil berbisik ayahku membaca nomor-nomor kamar setiap kali kami melewati pintu hijau. “B-09….B-11….B-12…”
“Mengeluarkan amandel itu Cuma operasi kecil..!” kata ibu. Ia sudah seratus kali mengatakannya.
“Tenggorokanmu akan sakit beberapa hari, tapi sesudah itu kau akan sembuh.”
Tuk tuk tuk. Bunyi stiletto ibu bergema di sepanjang koridor panjang mirip detik jarum jam. Sebuah jam sedang berdetik pada saat-saat menuju kiamat..
“Tapi kenapa aku mesti dioperasi?” rengekku. “Selama ini aku kan tumbuh bersama amandel itu?”
Ayah dan Ibu tertawa. Aku selalu bisa membuat mereka berdua tertawa. Bakat yang jadi berguna setiap kali mereka marah padaku. Tentu saja hari ini mereka tidak marah. Tapi aku selalu bercanda di saat cemas.
“Bayangkan saja Roy, kau takkan lagi menderita sakit tenggorokan di saat kedinginan,” kata ayah, tatapannya tetap terpancang ke nomor-nomor pintu. “Kelenjarmu tak bengkak lagi.”
“What? Tak ada temanku yang operasi amandel! Kenapa aku harus mengalaminya di hari hallowen..?” gerutuku.
“Cuma karena kau beruntung.” Sahut Ayah. Dia jagoan bercanda juga.
“Tapi hallowen itu hari favoritku!” kataku. Aku suka sekali menakut-nakuti orang dan ditakut-takuti. Dan sekarang aku kehilangan semuanya! Aku tak tahu bahwa ini akan menjadi Hallowenku yang paling menyeramkan.
Ketika kami berbelok di sudut, aku mendengar seorang anak sedang menangis keras.
Ibu mendesah. “Begitu banyak anak di rumah sakit ini Roy. Kau seharusnya ingat betapa beruntung dirimu. Begitu banyak anak disini yang sakit parah.”
Beberapa saat kemudian kami menemukan seorang anak yang sakit parah, namanya Karel Agustine. Aku melihat karel ketika kami berdiri dipintu kamar B-13 yang terbuka. Ternyata kamarku nomor 13, angka sial. Ranjang Karel di samping jendela. Sebuah ranjang kosong yang berseberangan dengan ranjangnya, menempel ke dinding hijau suram. Kupandangi teman sekamarku yang baru. Ia pendek, matanya hitam, dan rambutnya ikal dipotong pendek. Ia duduk di tepi ranjangnya. Mengayunkan kakinya, melotot pada dua perawat yang berseragam putih.
“Aku bukan Karel!” serunya.
Salah satu perawat memegang jarum suntik. Perawat satunya bersusah payah menyingkap lengan pakaian rumah sakit Karel yang berwarna Biru.
“Karel.. sudahlah…” ia memohon.
“Aku bukan karel!” teriak anak itu lagi.
Si perawat berseru kaget dan melangkah mundur.
“Karel, kami Cuma memerlukan contoh darah,” kata perawat yang satunya.
“Grrr..! Aku bukan Karel, bukan, bukan, bukan!” jerit anak itu sambil memukul-mukul ranjangnya dengan kedua tinjunya.
“Ya, ya kami berdua sudah mendengarnya..” gerutu si perawat.
Lalu perawat itu berbalik dan melihat kami berdiri di pintu. Ia menurunkan jarum suntiknya dan melangkah beberapa kali menghampiri kami. “Kau Roy kan? Ranjangmu di sebelah sana. bagaimana rasanya tenggorokanmu?” kata perawat itu.
“Agak sakit.. Sakit setiap kali dipakai menelan ludah,” aku mengaku.
Ia tersenyum pada orang tuaku. “Silahkan menaruh barang-barang Roy di sana. Kau bisa berbenah. ”
Aku mengikuti ayah dan ibu melintasi kamar itu. “Kenapa sih anak itu?” tanyaku.
Ibu mengangkat jari telunjuknyake bibirnya. “Sssst… Kelihatannya dia sangat ketakutan.”
Aku ingin melihat apa yang dilakukan para perawat itu padanya. Tapi salah satu perawat menarik tirai di antara ranjang-ranjang. Sekarang suaranya sulit didengar. Tapi saat aku membongkar isi tasku, aku masih dapat mendengar anak itu protes. “Aku bukan Karel! Jangan ganggu aku!”
Beberapa menit kemudian tirai itu terbuka beberapa kaki, dan salah satu perawat melangkah ke tempat kami. Ia menggeleng-geleng. “Anak malang,” ujarnya pelan.
“Ada apa dengannya?” tanyaku.
Perawat itu menyodorkan pakaian rumah sakit yang berwarna biru. “Karel akan menjalani operasi besar besok pagi, dia sangat ketakutan, kukira dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia adalah orang lain.”
“maksudmu?” aku mulai.
Ia menarik kembali penutup ranjangku. “Anak malang itu mencoba menipu kami sejak datang kesini. Dia bersikeras dia bukan Karel. Dia ingin kami mengira telah mendapatkan anak yang salah.”
“Itu memperhatinkan,” kata Ibu dengan sedih, sambil menggeleng-geleng.
“Dikiranya kalau dia bisa meyakinkan kami bahwa dia bukan karel, dia takkan dioperasi”
“Apa kau yakin tak salah anak?” Tanya Ayah.
Perawat itu mengangguk dengan muram. “Ya, berapa kalipun dia menyangkal, kami tak peduli! Karena dia benar-benar Karel Agustine.”
“Operasi apa yang akan dijalaninya?” tanyaku padanya.
Ia mendekatkan mukanya ke telingaku dan berbisik, “Kaki kirinya harus diamputasi.”
Para Dokter dan perawat keluar masuk kamar itu sepanjang sore. Mereka menjelaskan untuk keseratus kalinya tentang bagaimana operasi amandel dilakukan dan memberitahuku apa yang diharapkan. Ibu dan Ayah tinggal sampai waktu makan malam. Sulit mencari bahan pembicaraan. Aku tak bisa berhenti memikirkan Karel. Bayangan mempunyai kaki yang dipotong saja membuat kakiku gatal sekali dan perutku tegang. Tak heran ia sangat ketakutan.
Setelah makan malam suasana menjadi sunyi sekali. Aku dapat mendengar bayi menangis jauh di koridor sana. Kudengar telepon berdering dan perawat-perawat bercakap-cakap lirih di luar pintu. Aku mencoba berani. Tetapi aku merasa benar-benar merasa sendirian sesudah Ayah dan Ibu pergi. Sekarang Hallowen, pikirku. Seharusnya aku tak disini. Aku mulai membayangkan hantu-hantu, mumi-mumi, dan vampire-vampir diam-diam melayang turun ke lorong-lorong rumah sakit itu. Aku mengambil buku dan berusaha membaca.Tetapi aku tidak dapat berkonsentrasi. Kudengar kereta-kereta berderik melewati lorong. Suara-suara berbisik. Bunyi blip blip blip seram yang berasal dari sejenis mesin.
Buku itu kututup. Aku harus berbicara dengan seseorang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Menarik tirai membuka, dan menyapa teman sekamarku.
“Aku Roy,” kataku. “Besok aku operasi amandel”
Ia sedang duduk di tempat tidur, membaca komik. Ia memandangku. Ada noda spageti di dagunya dari makan malam. “Kau Karel kan?” tanyaku pelan. Ia membuka mulut dan berteriak pelan, “Sudah kubilang! Bukan aku yang bernama Karel..!”
“Oh! Maaf!” aku meloncat mundur.
Aku merasa diriku menyebalkan, kenapa tadi aku harus ngomong gitu ya? Ah..!
Aku menenangkan diri dan bertanya lagi. “Kau suka baca komik?”
“Hm.. Sejujurnya sih tidak, Karel yang suka membaca komik, tapi aku tidak.” Dilemparkannya komik itu ke lantai.
Aku menelan ludah. Anak ini memang aneh sekali.Tapi aku tetap memberanikan diriku. Soalnya rasa penasaranku tak dapat ditahan.
“Eh..kau sekolah dimana?” tanyaku.
“Aku tak sekolah di sekolah Karel, Aku ke sekolah yang lain.” Ia menatapku dengan aneh.
Ih, seram.. Aku menyesal telah mengajaknya bicara. Tapi terlambat.
“Dimana?” tanyaku.
“Anak bangsa, aku sekolah di SD anak bangsa.” Jawabnya. “Lumayan.” Ia berhenti memandangiku dan mulai santai. Kami mengobrol tentang sekolah kami, saudara kami, bioskop, olahraga, dan macam-macam.
Lalu kami bercakap-cakap tentang betapa kami kehilangan Hallowen, terkurung di rumah sakit yang mengerikan ini. Kami masih mengobrol ketika perawat masuk pukul 22.00. “Ini kesempatan terakhirmu untuk minum air karel,” kata si perawat.
“Aku bukan Karel..! Bukan aku yang bernama karel..! Aku tak perlu dioperasi…!”
“Apapun katamu,” kata si perawat, sambil memutar bola matanya ia berbalik padaku. “Bagaimana keadaanmu Roy?”
“Baik, terimakasih,” sahutku pelan.
Ia mengucapkan selamat malam dan melangkah keluar. Kemudian aku berbalik ke Karel. Ternyata ia memandangi ku tanpa berkedip.
“Apakah kau ngorok kalau tidur?” tanyanya.
“Eh.. rasanya aku ngorok..”
Ia kembali mengawasiku sesaat. Lalu ia meraih tirai dan menariknya menutup.
“Sekarang aku capek.” Katanya dingin.
Rasanya aku takkan pernah bisa tidur. Para perawat bercakap-cakap di koridor luar sana, dan kudengar seorang anak perempuan terbatuk-batuk terus di kamar dekat situ. Tetapi, di luar dugaanku, aku terlelap dengan cepat ke dalam tidur yang nyenyak. Aku bermimpi banyak dan seram-seram.
Kadang di gigiit anjing yang seram, lalu aku berubah menjadi lentera jack’o yang seram dan meringis.
Salah satu mimpi yang paling jelas adalah ketika kulihat diriku sedang berada dalam rumah sakit. Aku melihat seorang anak laki-laki di ranjangku. Ia memegang dua papan pencatat dengan catatan-catatan medis. Aku hanya bisa membaca nama di bagian atas satu catatan medis: KAREL AGUSTINE.
Anak itu menggantung catatan medis itu di ranjangku. Lalu, sambil tersenyum ia mengendap-endap pergi, dengan mengempit catatan medis lainnya.
Ketika bangun, aku merasa tidak pasti apakah aku masih bermimpi atau tidak. Dua laki-laki dalam jas lab putih berdiri di samping ranjangku. Mereka mendorong kereta panjang ke arahku. Salah satu dari mereka mengambil catatan medis dari ujung ranjangku. “Ini dia!” katanya kepada partnernya.
“Hah?” Aku menatap mereka, masih setengah tidur. Apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati.
Mereka mengangkatku pelan-pelan dan memindahkanku ke atas kereta itu.
“Tenang saja Karel..” kata salah satu dari mereka.
“Tidak..! tunggu..! Aku bukan Karel..!” semburku.
Mereka memeriksa catatan medis itu lagi, “Karel Agustine.”
“Ayo kita pergi!” kata partnernya.
Mereka mendorongku ke pintu. Mereka mendorong kereta itu di sepanjang lorong kosong. Roda-roda berderik keras di lantai atas ubin.
“Kami sudah di peringatkan bahwa kau akan bilang begitu. Kata mereka kau selalu berbohong tentang namamu sejak datang! Mereka bilang kami tak usah menggubrismu,” kata yang lebih tinggi.
“Ta.. tapi aku bukan Karel! Kalian harus mendengarkanku! Namaku bukan Karel! Bukan aku yang bernama Karel!” jeritku sekuat tenaga. Di ujung lorong itu Karel melongokkan kepalanya ke luar kamar kami. Tangannya melambai. Mereka mendorong kereta itu ke dalam lift yang terbuka. Karel menyeringai lebar.
Kemudian pintu lift menutup di belakangku.
~END~
Penulis Cerita: Seya Zunya Uchiwa
 

Buku-Buku yang Hilang

| komentar

Malam semakin larut. Setiap malam, di saat orang-orang terlelap tidur, langit malam kota Gaston yang tadinya cemerlang dipenuhi oleh bintang-bintang, kini berubah gelap dipenuhi oleh sesuatu yang beterbangan. Apakah sesuatu yang beterbangan itu burung? Bukan. Itu bukanlah burung. Mereka memang beterbangan seperti layaknya burung. Banyak sekali jumlahnya. Mungkin puluhan atau ratusan. Tidak, tidak, itu terlalu sedikit. Bahkan mungkin mencapai jutaan.
***
Perpustakaan adalah tempat yang sering Zaky kunjungi. Sepulang sekolah dia selalu menyempatkan diri mampir kesana. Yeah, untuk sekedar baca-baca atau meminjam buku. Dia begitu mencintai buku. Jadi tidak mengherankan, dia selalu menjadi murid yang terbaik di kelas dan di sekolahya.
Devender. Itulah nama perpustakaannya. Perpustakaan terbesar, termegah, dan terlengkap di kota Gaston, tempat tinggal Zaky. Selain bangunannya mewah, jelas nyaman dan membuat Zaky betah. Perpustakaan ini terletak di pojok alun-alun kota Gaston. Devender dibangun dengan gaya Gothik Victoria. Terdiri dari tiga lantai dan memiliki tirai dinding dengan jendela yang besar.
“Selamat datang, Zaky!” Sapa Bu Ani, pemilik Devender, saat Zaki mendekatinnya yang tengah duduk dibelakang meja peminjaman buku.
“Ini, Bu, Zaky mau mengembalikan buku,” katanya sambil tersenyum. “Seharusnya buku yang Zaky pinjam ini dikembalikan kemarin, tapi Zaky sedikit lupa.
“Tidak apa-apa, Zaky, cuma telat sehari ini. Yang terpenting kamu bisa merawat buku yang kamu pinjam ini supaya tidak rusak.”
“Terima kasih, Bu Ani. Zaky berjanji tidak akan telat lagi sewaktu mengembalikan buku. Ehm… kalau tidak lupa lagi itu juga.” Guraunya.
Bu Ani tertawa mendengarnya. “Iya, terserah kamu saja.”
Kemudian pandangan Zaky tertuju pada sebuah surat kabar yang tergeletak diatas meja Bu Ani yang memuat judul berita: PERPUSTAKAAN DI SELURUH DUNIA SETIAP HARINYA KEHILANGAN BEBERAPA BUKU KOLEKSINYA.
“Boleh Zaky lihat sebentar surat kabar ini?” ujarnya seraya tangannya menunjuk kearah surat kabar itu.
“Owh.. ini, silakan.”
Zaky mulai membaca. Tatapan matanya menunjukkan keseriusan saat membacanya.
“Sungguh aneh,” gumamnya tiba-tiba. “Kenapa bisa sampai seperti ini?”
“Hei.. hei.. ada apa, Zaky? Tanya Bu Ani sambil mengernyitkan kening.
“Coba Ibu lihat artikel yang ini,” Zaky memberitahu dan menaruh surat kabar yang telah dia baca diatas meja menghadap Bu Ani. “Disini dikatakan sejak sebulan terakhir ini perpustakaan diseluruh dunia setiap harinya kehilangan beberapa koleksi bukunya.”
“Yeah.. Ibu tahu itu, Zaky. Perpustakaan Devender ini juga mengalami hal yang sama dengan perpustakaan lainnya diseluruh dunia.”
“Benarkah itu?”
Bu Ani mengangguk dan meneruskan bicaranya, “Buku-buku yang berada di lantai tiga setiap harinya berkurang. Bisa dibilang buku-buku itu menghilang.”
“Apakah Ibu sudah melaporkannya ke polisi?”
“Kemarin lusa Ibu melaporkannya. Tapi polisi tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak menemukan sedikit pun tanda-tanda adanya pencurian.”
Zaky berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau kita selidiki saja langsung, seperti yang sering dilakukan para detektif dalam film-film actions.” Kata Zaky, menjentikkan jari.
“Maksudnya?” Tanya Bu Ani tidak mengerti.
“Maksudnya kita melakukan pengintaiaan, nanti malam, dilantai tiga perpustakaan ini.”
“Ah, selama ini Ibu belum pernah berpikir kesitu. Kamu jenius, Zaky.”
Bu Ani dan Zaky saling pandang dan tersenyum.
***
Ruangan di lantai tiga Perpustakaan Devender pada waktu malam hari begitu suram, pengap, dan aneh. Bu Ani menyorotkan senternya kesana-kemari, nampak beribu-ribu buku berjejer-jejer diatas rak, sepuluh buah meja panjang dengan kursi-kursi disekelilingnya. Bu Ani segaja tidak membiarkan lampu diruangan lantai tiga menyala. Alasannya agar mempermudah pengintaiannya.
Bu Ani dan Zaky bersembunyi dibalik rak dekat pintu masuk. Sudah satu jam mereka berada disana tanpa membuat suara-suara. Selama itu, mereka tidak melihat keistimewaan atau gerak-gerik mencurigakan. Zaky menyorotkan senter ke jam tangannya. Rupanya waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam.
“Di sini mungkin sudah tidak ada apa-apa,” bisik Bu Ani. “Sebaiknya kita akhiri saja pengintaiaan ini.”
“Tidak, Bu. Kita harus terus melakukan pengintaiaan. Masih cukup banyak waktu sebelum matahari menampakkan dirinya.” Zaky mengusulkan.
“Sudahlah, kita ? Astaga, coba lihat itu, Zaky!”
Sesuatu yang aneh tejadi pada beberapa buku yang berada di rak dekat jendela. Buku-buku itu keluar sendirinya dari rak dan berusaha membuka jendela.
Setelah jendela berhasil dibuka, kemudian buku-buku itu keluar dan terbang meninggalkan ruangan di lantai tiga Perpustakaan Devender.
“Ayo, Zaky, kita ikuti kemana buku-buku itu akan pergi!” kata Bu Ani gelisah.
Keduanya segera berlari menuruni tangga. Langkah demi langkah, merekapun akhirnya tiba dipintu masuk perpustakaan. Bu Ani menarik tombol pintu. Begitu pintu terbuka, terdengar bunyi bergemerisik seperti kepakan sayap burung jauh di atas kepala mereka. Keduanya cepat-cepat mendongak, kemudian meneguk ludah karena merasa terkejut dengan apa yang telah mereka lihat. Banyak sekali buku-buku yang berterbangan.
“Ya ampun, buku-buku itu seperti jutaan barisan hantu yang melintas di atas kepalaku.” Kata Zaky. Giginya gemeletuk. Kegugupan luar biasa sudah mulai dirasakan oleh Zaky.
“Ibu pun berpikiran seperti itu juga, Zaky.” Kata Bu Ani dengan suara pelan. “Cepat masuk ke mobil Ibu. Kita akan membuntuti kemana buku-buku itu terbang.”
Bu Ani membuka pintu depan. “Cepat masuk, Zaky!”
“Iya,” kata Zaky sambil masuk kedalam mobil. Sementara Bu Ani mengambil tempat dibelakang setir.
Mobil itu melucur ke jalan kecil yang dikiri-kanan jalannya terbentang padang rumput yang luas. Lajunya cepat sekali. Bu Ani sepertinya tidak mau kehilangan jejak dari buku-buku yang berterbangan itu.
“Buku-buku itu sekarang berbelok ke arah timur, Bu.” Kata Zaky memberitahu.
“Sebentar lagi kita akan sampai di ujung jalan,” kata Bu Ani. “Setelah itu kita akan berbelok kesebelah kanan untuk terus mengejar buku-buku itu.”
Mobil membelok ke kanan. Jalanan yang dilalui oleh mobil yang ditumpangi Zaky dan Bu Ani kini meluncur menyusur jalan yang berkelok-kelok. Setelah melaju sekitar lima mil, mereka tiba di awal jalan yang bernama “Jalan Aghosh”. Jalannya berbatu-batu, sehingga laju mobil pun diperlambat. Selain itu, Jalan Aghosh begitu sunyi, sepertinya tidak ada pemukiman penduduknya. Semakin lama Jalan Aghosh semakin menampakkan kesunyiannya. Dikiri-kanan jalannya terdapat hutan yang begitu mengerikan bagi Zaky dan Bu Ani.
“Sepertinya kita sudah sampai di ujung jalan,” kata Bu Ani. Kita tidak bisa meneruskan perjalanan dengan menggunakan mobil. Jalannya begitu sempit. Kita harus turun dari mobil dan mulai berjalan kaki”
“Iya, benar,” kata Zaky setuju.
Dari kejauhan, buku-buku yang berterbangan itu ? dengan gerakan cepat ? sudah mulai menuking melakukan pendaratan. Zaky dan Bu Ani pun, dengan langkah panjang, bergegas mengikuti ke arah mana buku-buku itu melakukan pendaratan.
Setelah beberapa menit, setelah menerobos diantara semak-semak dan pohon-pohon, mereka tiba disebuah lahan luas yang diseberangnya terdapat sebuah pondok kecil. Lahan itu mampu menampung jutaan buku-buku yang tergelak diatas permukaan tanahnya.
Buku-buku itu bertumpukan dan berjejer tak beraturan di atas permukaan tanahnya. “Wow! Keren!” Kata Zaky takjub. Mulutnya pun menganga.
Zaky dan Bu Ani mulai melawati tumpukan buku-buku itu dengan langkah yang kecil.
“I-ini seperti sebuah labirin yang terbuat dari tumpukan buku!” Bu Ani tergagap-gagap.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan pintu pondok kecil itu.
“Permisi, apakah ada orang!” Teriak Zaky.
Menungu beberapa saat. “Sepertinya tidak ada orang, Zaky.” Kata Bu Ani.
“Tidak-tidak!” Zaky berseru. “Zaky mendengar suara langkah kaki dari dalam pondok ini yang sedang menuju kemari.
Pintu pondok terbuka perlahan-lahan. Dari dalam pondok itu keluar seorang lelaki tua yang bertampang lusuh yang berpenampilan seperti gelandangan dan agak bungkuk.
“Ada perlu apa kalian datang kemari?” Tanya lelaki tua itu menggeram.
Suaranya berat. Matanya seakan-akan menunjukkan kebencian. Dengan rasa takut, Bu Ani memberanikan diri untuk bicara kepadanya. “Saya mau bertanya, apakah buku-buku yang tergeletak di sana itu milik anda?” Bu Ani berbalik dan tangannya menunjuk ke arah buku-buku itu.
“Iya-milik saya-sekarang.” Bibir lelaki tua itu bergerak untuk menjawab pertanyaan dari Bu Ani.
“Sekarang? Apa maksudnya dengan ‘sekarang’? Anda berbicara seperti itu seolah-olah tadinya buku-buku itu bukan milik anda.”
“Tentu saja bukan. Saya mengambilnya dari semua perpustakaan yang ada di seluruh dunia.”
“Berarti anda pencuri!?”
“Saya mengambilnya karena saya kasihan pada semua buku-buku itu.”
“Lalu?”
“Sekarang sudah banyak orang yang tidak peduli lagi dengan perpustakaan. Akibatnya, perpustakaan sepi pengunjung dan buku-buku koleksinya hanya menjadi hiasan dan pajangan saja.”
“Bagaimana anda bisa membawa buku-buku itu kemari? Bagaimana caranya?”
“Saya melakukannya dengan sedikit keajaiban. Buku-buku itu saya suruh kemari.”
“Buku-bukunya berterbangan. Seperti itukah caranya mereka sampai kemari?”
Lelaki tua itu menganggukkan kepala.
“Dengan hilangnya buku-buku tersebut,” lelaki tua itu melanjutkan, “keberadaan perpustakaan akan di ingat kembali oleh orang-orang yang ada di seluruh dunia. Tapi jangan khawatir, saya akan mengembalikkan semua buku-buku itu ketempat asalnya masing-masing. Dua mingguan lagi saya berniat mengembalikannya.”
“Baiklah, saya akan pegang kata-kata yang telah anda ucapkan barusan. Kalau anda sampai berbohong, saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke polisi.”
Lelaki tua itu malah tertawa. “Polisi tidak akan bisa berkutik jika harus berhadapan dengan saya.”
Tawa dan tampangnya sama-sama mengerikan, pikir Zaky. Setelah mendengar semua penjelasan dari lelaki tua itu, Zaky dan Bu Ani pun segera berbalik dan meninggalkan pondok itu.
***
Dua minggu kemudian, perpustakaan diseluruh dunia mulai kembali normal, buku-bukunya kembali dan tidak ada lagi yang hilang secara misterius.
Pengarang Cerita: Gusty Adya Herdy
 

Sahabat Pena

Jumat, 10 Januari 2014 | komentar

Namaku Natly Emmanuel, aku anak pertama dari empat bersaudara, sekarang aku duduk di bangku SMP. Tepatnya kelas 7. Aku memiliki sahabat pena, yang bernama Ratna Thalita Indriani biasa di panggil Indri. Kami kenal dari kelas 5 SD, berawal dari SMS. Indri yang duluan SMS aku ngajak kenalan, aku mau aja lumayan buat nambah pertemanan.
“Nat, aku boleh minta biodata kamu enggak?” Pinta Indri melalui SMS.
“biodata? Ok, nggak masalah. Tapi ada syaratnya!” Jawab ku.
“apa syaratnya?” Tanya Indri.
“kamu juga harus ngasih biodata kamu ke aku!” Pinta ku.
“oh, itu sih gampang.” Jawab Indri.
Natly dan Indri pun saling tukeran biodata melalui SMS. Betapa mereka tak menyangka tanggal, bulan dan tahun lahir mereka sama.
“Nat, kamu lahir tanggal 27 bulan Desember, tahun 1999 ?” Tanya Indri tak menyangka.
“iya betul.” Jawabku singkat.
“kok bisa sama ya kaya aku?” Tanya Indri lagi.
“he…he…he… enggak tau deh” Jawabku lahi.
“aku harap persahabatan kita bisa sampai selamanya ya, soalnya aku nggak mau kehilangan kamu sebagai sahabatku, walau kita tidak pernah bertemu!” Seru Indri.
“iya pasti. Aku juga ingin persahabatan kita sampai selamanya” Jawabku.
Lama kelamaan Natly sudah jarang SMS-an sama Indri, tapi kalau chat lewat FaceBook masih sering. Saat Natly buka FaceBook, tiba tiba ada kiriman pesan dinding dari Indri.
“Nat, sekarang bulan Desember, tanggal 20, tinggal 7 hari lagi Nat” Kata Indri.
“oh iya. wkwkwk” Jawabku.
“kamu mau ngerayain pesta?” Tanya Indri.
“Enggaklah! emang kamu mau bikin pesta?” Tanyaku balik.
“enggak juga. Hehehe. Oh ya Nat, kamu suka warna apa? Tanya Indri.
“aku suka warna ungu! kenapa?” Tanyaku.
“Oh nggak papa nanya aja!” Jawab Indri.
Percakapan pun berakhir.
Pada tanggal 11 Januari saat aku pulang sekolah ada titipan, kata tetanggaku sih untuk ku, tapi aku masih bingung siapa pengirimnya. Soalnya dititipin di tetangga, karna pada saat itu mamaku sedang pergi. Titipannya itu di amplop warna coklat yang cukup besar ukuran A3. Saat ku buka ternyata ada dua buah gambar.
“Waaaah gambarnya bagus banget, tapi siapa yang ngirim? Pikirku dalam hati. Gambarnya itu gambar dua cewek pegangan tangan di atasnya angka 271299, yang artinya tanggal 27, bulan 12, tangun 1999. Gambar yang satu lagi gambar Santa Claus. Saat ku lihat dalamnya ada surat lagi. Ku buka suratnya ternyata itu Indri.
“ya Tuhan baik sekali dia. sungguh perhatian!” Pikirku dalam hati.
dalam surat itu Indri bilang seperti ini “aku sayang kamu, kamu sahabatku yang terbaik walau kita belum pernah bertemu tapi perasaan sayang ini selalu tersedia buat kamu, jangan pernah lupakan aku ya”
Aku pun tak bosan bosan melihat gambar itu, akupun memajangnya di kamarku. Kedua orangtua ku tak menyangka kalau ada sahabat pena yang seperti ini. Aku pun berterima kasih banget sama dia.
“dia akan menjadi sahabatku sampai selamanya. Walau kita belum pernah ketemu” Pikit ku dalam hati yang sambil tersenyum menatap gambar itu.
Pengarang Cerita: Natalia Melati
 

Bila Di Dunia Kertas

| komentar

Pagi hari Bila telah sibuk membereskan tempat tidurnya, lalu ia mandi dan mengenakan T-shirt berwarna ungu, memakai celana selutut yang berwarna abu-abu, dan bandana berwarna ungu di sampingnya terdapat bunga kecil berwarna putih.
“lho, ibu dan ayah kemana?” gumamnya dalam hati. Ia melihat ibu dan ayah pergi entah kemana padahal waktu ia mandi bertemu dengan ayah dan ibunya. Dan ia pun melihat surat di atas meja makan ketika ia hendak makan. Bila, ibu dan ayah pergi duluya, kerumah Kak Sharine. Karena dirumahnya nanti malam ada acara ok. Oh ya, ibu telah membuat kue muffin untuk mu di meja makan ok!!!
Itulah cuplikan dari surat dari ibu.
“Ya, ibu pergi bete lagi, tapi tak apa ka nada kue muffin yang lezat yummy…” ucapnya membayangkan kelezatan kue tersebut.
Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil buku kesukaannya yaitu “Petualangan Di Kota Kertas” ia menggapai buku itu tetapi buku itu terjatuh dan terbukalah sebuah halaman, ketika itulah ia terjatuh di buku itu sambil menutup matanya. Ketika ia membuka mata, ia melihat semuanya menjadi kertas tak ada manusia yang bukan dari kertas kecuali dirinya.
“Mengapa menjadi seperti ini, kok semuanya menjadi kertas aku tak percaya” ujar Bila tak percaya dengan menggenggam kue muffin yang di buatkan ibu. Lalu, ia melangkah 1 demi 1 langkah, dilihatnya ada kurcaci yang terbuat dari kertas, dan sedang panen buah Laravers dan buah ini hanya dijumpai di Kota Kertas saja.
“Hai kurcaci, aku Bila dari Bumi aku ingin pulang tapi, aku tak tau jalan keluarnya” Tanya Bila lembut sambil menggigit kue muffinya.
“Siapa kamu, aku tak kenal dengan mu, dan aku tak akan memberitahukanmu karena kamu bukan orang yang aku kenal” kurcaci itu tak mau member tahu di mana letak jalan keluar dari Kota Kertas.
“Ayo lah, aku mohon ya, plis. Kalau aku tidak pulang aku akan di marahi oleh ibu” Bila memohon kepada kurcaci itu.
“Boleh, tapi dengan syarat, kamu harus memberikan kue yang ada di tangan mu itu, dan tinggal dirumah ku selama 2 tahun.” kata kurcaci itu dengan lantang.
“Tapikan, 2 tahun itu lama sekali” gelisah Bila
“kalau tak mau ya sudah..” ucap kurcaci itu dan melanjutkan pekerjaannya lagi sebagai petani
“oke, aku akan menerima permintaan mu, dan ambilah kue ini untuk mu, lalu aku akan tinggal di rumah mu selama 2 tahun.” cetusnya terbata-bata
“baguslah, dan kamu akan menjadi petani di rumahku” kurcaci yang terbuat dari kertas itu menjawab.
Selama 2 tahun Bila tinggal di rumah kurcaci itu, dan sekarang waktunya untuk pergi mencari pintu keluar dari Kota Kertas.
“oh, terima kasih kau telah membantuku, dan sekarang aku akan menunjukkan mu pintu keluar dari sini” kurcaci pun berterima kasih kepada Bila.
“ya, aku juga terima kasih untuk mu karena telah memberi taukan ku pintu keluar dari sini” Bila pun membalasnya.
“ayo, ikut aku pergi ke jalan keluar itu, tapi masih ada perjalanan lain yang harus engkau tempuh selama berada di sini” ajak kurcaci kecil itu dengan mnunjuk kea rah berlawanan.
“kemana lagi aku akan pergi ” gumam Bila dengan wajah hendak marah “katanya mau member tahu pintu keluar disini, cepat katakana dima harus aku lewati”
“di sana di hutan yang gelap itu! kau akan melewati rumah si penyihir terjahat di kota kertas, akan tetapi, ia takut pada api, jadi engkau ku beri kue, dan korek api untuk menakutinya” jelas kurcaci itu panjang lebar.
“oh yeah, dia takut api OMG ” kata Bila ringan “oh ya makasih ya, makanan dan korek api ini untuk menakutinya”
“ok, No Problem” jawab singkat si kurcaci
Bila berjalan dengan pasti menelusuri hutan yang gelap itu. Ia menemukan sebuah rumah yang sepertinya tak ada yang menempatinya. Bila masuk kedalam rumah itu ia berjalan dengan hati-hati.
“aaaaaaa, a.. ada.. penyihir.. aaaaa..” ia berteriak seperti telah terdengar di rumah kurcaci tadi.
“haa.. haaa.. ha.. ada anak kecil rupanya, sendirin saja ini.. haaa.. ha.. haaa..” pekik nenek sihir jahat yang sangat buruk rupanya
Bila tak mau ambil resiko lagi, ia segera menyalakan korek api tersebut, tetapi tak bias menyala. Bila semakin takut dan panik.
“aduhhh… bagaimana ini tak bias menyala” gumam Bila takut sehingga ia berkeringat dingin
“ayo anak manisss, mengapa harus takut” ajak nenek sihir dengan penuh senyum yang pahit
“TIDAK AKAN..” kata Bila tegas
Ia panik ketika nenek sihir tersebut mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya. Dengan sigap Bila menghindar. Ia terus berusaha agar korek api itu bisa menyala.
“ayo.. dong nyala..” gumam Bila lagi
Daaaannnn.. menyala deh.. api itu di lemparkan ke nenek sihir itu dan, nenek sihir itu pun hangus. Bila melihat di abu pembakaran nenek sihir itu ia melihat permata yang sangat berkilau. Bila pun mengambilnya.
“apa ini, eh mungkin ini jalan keluar kota kertas ini” pikirnya
Permata itu pun bercahaya menyilaukan, dan ia pun sampai di rumahnya ketika ia membuka mata.
“waaaw AMAZING , ini hebat sekali” katanya senang
Ia melihat jam dinding ternyata masih jam 9 , dan ibu juga belum datang. Berarti ia hanya 1 jam di kota kertas itu. Waaaw… ini pengalaman yang tak terlupakan oleh Bila.
Pengarang Cerita: Febri Salsabila
 

Aku Bisa Sendiri!

| komentar

Namanya Oni. Ia anak miskin. Bapaknya selalu merantau, dan emaknya… hm, Oni hanya tahu emak membuka warung dan dagang makanan kecil. Oni sekolah di SD Bintang Spesia, SD favorit, Ia mendapat beasiswa untuk sekolah disana. Seragam Oni sekarang kekecilan, dari kelas 1 sampai kelas 4 ini, ia masih mengenakan seragam yang sama. Begitu pula sepatunya, sudah kekecilan juga, ia ingin meminta pada emak, tapi tak tega mengucapkannya. Ia hanya akan membebani emak, jika emak tau seragam dan sepatunya telah kekecilan, pasti emak berusaha keras mendapatkan uang.
Teman-teman Oni semua orang kaya, setiap hari Oni yang selalu datang pagi melihat mobil teman-temannya yang bagus melewat, terutama adalah Shafira yang membuat mata Oni terpana, Shafira adalah anak paling kaya di sekolah itu. Oni menatap mobil mewah Shafira melewat, lalu Shafira, kakaknya yaitu kak Olivia dan adiknya Sharine keluar dari mobil. Mobil itu harganya sekitar 600-700 juta rupiah. Terbayang olehnya, pergi sekolah menggunakan mobil mewah, pulang dijemput dengan mobil mewah, di rumah disambut makanan mewah, dan serba-mewah.
Esoknya, untung, seseorang memberikan seragam SD Bintang Jaya bekas, Oni mengenakannya. “Ini Oni. Maaf ya, emak hanya bisa memberikan kamu seribu limaratus rupiah. Karena, menurut emak, lebih baik digunakan untuk beli sembako…” kata emak Oni sambil memasukkan tiga keping uang lima ratus rupiah ke dalam dompet kecil kumal.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa, menyimpan tas dan pergi ke depan gerbang masuk, tiba-tiba, muncul Shafira mengagetkan Oni.
“Hai, Oni!” sapanya.
“Ha.. ha.. Hai, Shafira!” balas Oni gugup mereka mengobrol sebentar.
“Shafira, kalau boleh tahu, nama lengkapmu, kakak dan adikmu siapa? Lahir dimana? Kok kayaknya rambutmu pirang ya? Kalo gak boleh tau… sih…” kata Oni.
“Tentu boleh tau dong! Masa, gak boleh tau!” canda Shafira.
“Kakakku, Olivia Katherine Azuela, adikku Sharine Chalista Rosella, dan aku sendiri Shafira Kyranni Marcella. Mum dan dad tinggal di Amerika, tapi lahir di Indonesia karena grandma memang disini, tapi ketika hamil Olivia, mereka pulang ke Amerika, cukup lama. Sementara grandma dan grandpa bersama aunty Shabrine dan suaminya. Aku, Olivia, dan Sharine akhirnya terlahir di Amerika, hingga Olivia umur 2 tahun, aku 12 bulan, dan Sharine baru 2 bulan, kami masih disana, akhirnya kami balik lagi ke Indonesia” cerita Shafira puanjang lwebbaar…
Oni hanya mendengarkan penuh kagum. Kapan, ya, aku bisa ke Amerika..?, batin Oni.
“Waww! Oya, Mana ibumu? Mana ayahmu?” tanya Oni, ia kira yang menyetir mobil Shafira adalah ayahnya dan disampingnya adalah ibunya, sementara Shafira, Olivia, dan Sharine di belakang.
“Tak ada..” Shafira kelihatan kesal campur sedih.
“Kenapa kamu terlihat kesal? Maaf kan aku ya…” kata Oni pelan, takut-takut, ia takut Shafira kesal karenanya.
“Tidak kok. Bukan kamu” kata Shafira senyum.
“Ayah dan ibumu tak ada? Kemana?” tanya Oni bingung.
“Ayah dan ibu kerja. Tak pernah mengantarku dan Sharin. Yang mengantar kami adalah supir atau pelayan…” kata Shafira pelan.
“Waw! Kerja…sepagi ini? Memang, ayah dan ibumu kerja apa? Pasti sukses ya! Kamu pasti senang, ini-itu dibelikan!” kata Oni.
“Iya, sepagi ini. Pukul setengah lima mereka pergi kerja, dan pulang pukul dua belas malam… semua mengira begitu. Tapi nyatanya kamu SALAH BESAR, Oni” kata Shafira sedih.
“Wah! Maaf ya! Kenapa salah? Bukannya benar?” kata Oni yang tak mengerti maksud Shafira.
“Semua bialng begitu. Tapi sebenarnya, aku berada di tengah keluarga bangsawan kaya raya yang apa aja dibelikan tak seperti yang kau bayangkan. Aku sangat tersiksa! Tak ada yang menemaniku sore dan malam. Mereka pergi disaat aku masih tidur, dan pulang disaat aku sudah tidur juga. Jadi bisakah kau bayangkan, jika dirangkai, Olivia aku dan Sharine tak bertemu orangtuaku seminggu kurang satu hari! Hanya hari minggu kami dapat bertemu. Katanya sih, bisnis. Aku sampai muak mendengar kata BISNIS” kata SHafira.
Oni hanya diam, ia menyangka, kehidupan Shafira begitu menyenangkan, ternyata, tidak…
“Tapi ada agak senangnya juga. Hmmm… sebenarnya, mum dan dad sangat memanjakan aku, Olivia, dan Sharine. Semuaaaa barang-barang mewah mereka belikan untuk kami, tapi aku merasa bahwa terlalu berlebihan”
“Kamu enak, Oni. Walau sederhana, tapi kamu bisa bahagia. Kamu pergi sekolah, emakmu melambaikan tangan padamu, pulang sekolah, kau bisa mendapatkan pelukan dan ciuman dari emakmu, lalu makan siang dengan emakmu. Subuh-subuh, kau juga bisa sholat shubuh dengan emakmu. Kau bahagia” kata Shafira.
“Shafira benar. Aku pun begitu, ayah dan ibu pergi pukul setengah tujuh, dan pulang pukul 9 malam. Aku hanya sendiri” kata Mina yang tiba-tiba berada di samping Oni dengan tas birunya. Ternyata Mina baru datang.
“Kau tau? Meski kaulah yang paling sederhana disini, tapi kau paling bahagia. Kami memang kaya raya, namun orang tua sibuk sekali! Tak enak menjadi kami, Oni” kata Luna tiba-tiba muncul. Oni hanya bisa terdiam, tak menyangka.
“Oya, Nih!” kata Mina, menyerahkan satu plastik bertuliskan ‘VIVA BAKERY’, itulah toko roti mewah disini. Meski namanya simple banget, tapi rotinya enak bangetd an mahal-mahal!
“Apa? Buatku? Kenapa?” tanya Oni.
“Aku selalu dibekali roti macam-macam. Aku bosan! Aku juga sekarang dibekali burger, daging asap, dan pizza mini 6 potong. Kau boleh mencobanya, Oni” kata Mina, menyerahkan bungkusan itu.
Saat Oni lihat, isinya adalah sebungkus roti keju, roti keju-pisang, roti nanas, roti cokelat, dan sebuah teh kotak.
“Waw! Makasih banget ya, Mina!! Alhamdulillah. Makasih ya. Aku dalam seminggu saja, hanya dikasih 3000 rupiah. Senin, aku dikasih 1500 rupiah, dan Jum’atnya dikasih 1500 rupiah… Mana cukup, aku membeli roti-roti enak ini!” seru Oni gembira. Mereka tersenyum.
Di dalam kelas saat istirahat, kata Shafira… “Oni, kau mau ke rumahku?? Olivia dan Sharine senang banget saat aku bilang bahwa aku akan mengajakmu ke rumahku dan ikut jalan-jalan sama kami! Jadi, mau yaaa…?” pinta Shafira.
“Aku mau sih Shafira. Shafira, aku tak punya baju pantas!” kata Oni malu.
“Tak apa! Ayolah…” . Akhirnya, Oni mau. Ia juga diijinkan sama emak, akhirnya Oni gnti baju dulu, memakai baju terbaiknya, yang mungkin setara dengan baju tidur sehari-hari Shafira.
Shafira meminjamkan bajunya pada Oni. Yaitu baju lengan panjang biru muda, celana panjang hitam dan jilbab putih.
Mereka jalan-jalan deh, Oni malah juga diajak nonton film pendek di bioskop 3D…! Akhirnya, pukul 3 mereka pulang ke rumah Shafira, disana Oni diajak makan siang dulu karena belum sempat makan siang.
Dua pelayan Shafira, Olivia, dan Sharine datang, “Mettsya, Patty, kami minta, kalian buatkan kami nasi goreng sosis ayam juga buatkanlah zupa-zupa soup, porsi lebih banyak sedikit karena ada teman kami, Mettsya, Patty. Tak usah buah-buahan, diganti dengan puding, tapi bukan aku yang pilih pudingnya” Kata Olivia panjang pada Mettsya dan Patty, pelayannya.
“Bisakah kau cepat, Shafira?! Pilihlah satu jenis minuman dan segeralah! Aku lapar!” desak Olivia tak sabar.
“Dan bisakah kau sabar sedikit, Olivia? Hmm…kuminta 4 gelas air putih dan 4 gelas jus anggur dingin! Ada temanku, sekarang.” kata Shafira. Oni hanya diam, terkagum. Mereka bisa sesukanya menyuruh. Kalau Oni, bikin sendiri.
“Giliran aku. Oke. Aku meminta dibuatkan satu loyang rainbow pudding” kata Sharine.
“Baik, Nona…” Mettsya dan patty segera ke dapur, saat Oni intip, dapurnya meeewah lhooow.
30 menit kemudian makanan siap, “Silakan nona, kami permisi…” Mettsya membawakan masakannya dan Patty merapikan meja, lalu pergi.
Mereka makan deh, walau Oni memakannya dengan kaguuuum dan malu.
Mereka ke kamar mereka, isinya ya!
Ada tiga buah tempat tidur empuk, yang pinggir kanan, seprainya warna pink dan bertuliskan ‘OLIVIA’, kasur di tengah seprainya biru dan bertuliskan ‘SHARINE’, dan pinggir kiri, seprainya hijau bertuliskan ‘SHAFIRA’, ada juga tiga meja belajar yang diletakkan bersebelah-sebelahan, yang pinggir kiri, meja belajar berwarna pink muda dan di mejanya terdapat tulisan berwarna pink tua, ‘OLIVIA’, meja tengah berwarna biru muda dan dimejanya terdapat tulisan biru tua, ‘SHARINE’, dan pinggir kanan meja warna cokelat pastel dan di mejanya terdapat tulisan cokelat tua, ‘SHAFIRA’. Waw!
Ada juga tiga buah lemari baju, satu warna pink, satu hijau, dan satu biru… ada juga rumah Barbie, ada juga lemari yang isinya tas-tas, dan ada juga karpet beledu berwarna warna-warni, ada pula tiga meja kecil yang diatasnya ada laptop.
Lalu, Oni melihat ruang main, ya ampuuun! Padahal, kamarnya saja sudah mirip taman bermain! Ternyata, masih ada ruang main lagi! Keren juga deh, ruang mainnya! dikagumkan lagi ketika diajak ke ruangan yang di pintunya terpasang papan bertuliskan ‘BOOK HOUSE’.
Isinya, ada 6 rak buku yang lumayan besar, Olivia memang kutu buku, bukunya dari saat ia masih playgroup sampai sekarang ia kelas 2 SMP masih ada di situ, semua bukunya ia sampul, agar tak mudah rusak, ia memang seperti kutu buku lainnya, memakai kacamata. Mata kanannya minus 4 dan mata kiri minus lima.
Dia juga pendiam (Tapi kata Shafira, di rumahnya, cerewet, hehee), dan saat aa waktu luang pasti dipakai untuk membaca. Dari Pengetahuan fisika, biologi, kimia, da sains sampai buku humor dan kumpulan gombalan gak jelas dilahapnya, ia juga terbiasa baca buku cepat, sebuah novel yang tebalnya seperti novel KKPK, langsung habis dilahap olehnya dalam waktu 15 menit!
Ada komik, majalah, novel, nomik, kumpulan cerpen, buku pengetahuan, buku pantun, buku humor tebak-tebakan, buku humor SMS, buku gombalan, sampai buku-buku yang ada di minimarket itu juga dibelinya, tak heran bahwa Olivia jika diajak ke kios buku atau toko buku bisa berdiri berjam-jam membaca buku yang plastiknya sudah terbuka! Bukunya supperrrrr buaaaaanyaaaak… banget bukunyaaa!
Di situ lantainya semua bagian itu juga dilapisi dengan karpet halus berwarna-warni, beli langsung di Iran, lho! Nah di sekeliling ruangan buku itu, ada seperti papan-papan juga untuk bersandar, banyak pula bantal-bantal empuk kecil dan beberapa boneka untuk bersandar, lalu dindingnya dicat pink dan bergambar buku juga…
Ah, Olivia juga dijuluki ‘Si Kutu Buku’, Sharine dan Shafira juga kutu buku tapi gak separah Olivia, jelas, buku-buku mereka di 6 rak buku besar itu banyak banget! Sama mum dan dad mereka, beli buku seminggu sekali, tapi sekali ke toko buku langsung beli 5 buku! Ha ha haaaahhaaa… Kalau Oni, biasanya dapat buku dari santunan. Mana mungkin emak bisa segampangnya beli buku di took buku?
Mereka juga masuk ke ruangan yang pintunya bertuliskan ‘DOLL HOUSE’, “WAAAHH!” seru Oni, itu adalah rumah boneka.
Itu juga lantainya dilapisi dengan karpet yang menyerupai rumput, sehingga mirip rumput benaran! Karpetnya pasti tentu bersih dong! Dindingnya dipasang wallpaper bergambar boneka-boneka, berpuluh-puluh boneka bertebaran di karpet ruangan itu, ada boneka beruang, kelinci, dan banyak lagiii… keren!
“Wah… indahnya… dari dulu, aku inginnnn banget punya buku dan boneka… sayang, aku tak punya uang” kata Oni keceplosan. Shafira, Olivia, dan Sharine terlonjak.
Oni bahagiaaaa banget, dia dikasih sebuah boneka berwarna pink tua yang memakai dress dan pita, juga 4 buah buku. Sebuah buku KKPK, sebuah novel, buku pengetahuan Sains, dan pengetahuan tentang Alam.
Esoknya di rumah Shafira…
Ini hari Minggu, mum dan dad mereka yang sedang dinas (mereka tak tau kemana) akan pulang pagi ini pukul setengah delapan, baru mau jalan pulang, mum dan dadnya sudah memberi jadwal mau kemana!
Olivia, Shafira, dan Sharine segera mandi, dan memakai baju yang bagus, tiba-tiba, sebuah mobil mewah hitam membunyikan klaksonnya.
“MUM!! DAD!!” Teriak mereka. Yang menyetir aalah mr. Puff, sopir mereka.
Mum dan dad keluar mobil, membawa banyak tas, ada tas pekerjaan, dan tas oleh-oleh, “Mum, apa mum bawa oleh-oleh…? Hehehee…” canda Sharine.
“Tentu saja dong! Sejak kapan, mum dan dad jika pergi tak membawa oleh-oleh untuk ketiga putri mum dan dad yang manis dan cantik seperti ini???” kata mum.
“Ini untuk kalian, sayang” Mum memberikan tiga kantong, kantong pink untuk Olivia, kantong hijau muda untuk Shafira, dan kantong biru untuk Sharine.
Isinya ada tas katun sesuai warna kesukaan mereka, Shafira hijau, Sharine biru, dan Olivia pink ?, ada tas katun itu, sepasang sandal kamar, kalung warna perak yang liontinnya nama mereka maisng-masing, dan banyak lagi.
“Oya, dad tahu peralatan renangmu sudah jelek-jelek kan? dad juga belikan…tapi tentu tidak baju renang dan kacamatanya! Alat selam juga tidak! Ada juga yang lain!” kata dad.
Shafira, Olivia, dan Sharine mengintip kotak itu, ternyata ada 3 botol sun block, tiga botol parfum bermerek S’S, dan lainnya.
“Mum dan Dad bakalan kemana lagi, senin?” tanya Shafira.
“Hmmm… senin, mum dan dad tetap kerja, namun jadi agak lama, ehm! Agak telat perginya! Udah izin. Mum dan Dad bakal ngantar Olivia, Sharine dan Shafira ke sekolah, ah… yang pasti mum kerja dari jam sebelas siang dan pulang pukul 9 malam… senang kah, kau???” kata mum terkikik.
“YEEEYYY! TENTU SENANG MUM!” seru mereka bertiga.
“Aaah… kalau begitu, aku akan mengambil sekolah siang saja! Jam dua belas siang sampai lima sore!” seru Shafira.
“Aku juga akan pakai sekolah siang!!” Teriak Sharine dan Olivia.
Di sekolah mereka, memang bisa ngambil sekolah Pagi (Pukul 7:30 – 13:30), Siang (Pukul 12:00 – 17:00), atau Malam (17:30 – 21:00), wuah! Sekolah malam pulangnya malam amat ya? Jadi yang ngambil sekolah malam juga sekitar hanya 10 anak, dan kebanyakan sekolah pagi.
Tapi kalau Oni sih, gak tau… hehe. dia tau sih, tapi dia malas ribet dan ambil sekolah pagi saja…
“Apakah tak apa-apa, Sharine, Olivia, Shafira? Kalian harus mementingkan pelajaran daripada bermain bersama mum dan dad!” kata mum.
“Tak apa-apa dong, mum!” kata mereka. Oleh-oleh dari mum dan dad buanyaak…
Lalu mereka ke toko buku ‘MORONE’, “Sekarang, jatah kalian 6 buku!” kata dad.
Yes! Tambah lagi bukunya… ha ha ha…
Mereka membeli 6 buku deh, lalu mereka ke restoran, makan..
Keesokan harinya seperti biasa Oni ke sekolah dan belajar deh!
Setelah pulang sekolah, Oni mengetuk pintu rumah kecilnya dan emak membuka pintu, “Oni! Kau sudah pulang, rupanya. Ayo masuk, sayang. Lalu makan bersama emak ya!” kata emak.
Oni masuk, lalu mengganti baju dengan kaus bekas pemberian seseorang yang berwarna biru dan celana kain, setelah itu ia makan bersama emak.
Di kamarnya, ia sangat bingung, seragam memang sudah ada, tapi sepatunya! Makin saja kekecilan…tasnya kumal-kumal, tapi, kalau tas tak masalah, yang masalah itu, sepatu! Sepatunya kekecilan, masa dia nantinya tak pakai sepatu! Bisa dihukum!
Ia tak mau merepotkan emak, ia kasihan pada emak, pasti jika tau ia butuh sepatu, emak bakalan kerja seharian agar dapat uang cukup untuk beli sepatu!
Lalu, timbullah ide untuk membuat rajutan dan menjualnya, ia kan, pandai sekali merajut! Terus selain hasil rajutan, ia kan bisa memanfaatkan barang-barang bekas!
Sudah tiga minggu, uang mingguan kecilnya dari emak terkumpul 9 ribu, ia menggunakan uang sejumlah 9 ribu itu untuk membeli beberapa gulung benang, satu gulung adalah lima ratus rupiah, ia menghabiskan 4500 rupiah, ia membeli beberapa gulung benang warna-warni, ada yang warna pink, biru, hijau, putih, ungu, jingga, merah dan pink cerah.
Oni mulai, tak pakai jarum lho! Iyalah, namanya merajut, bukan menjahit! Oni membuat alas gelas, akhirnya jadilah 9 alas gelas beraneka warna, benangnya pun habis.
lalu sekarang Oni mengumpulkan kaleng susu bekas, ia menghias kaleng itu, pertama ia mengecat kaleng itu dengan catnya yang sedikit lagi, lalu menghiasnya dengan kertas bekas, rempah-rempah, dsb. Lalu atasnya dibolongi, jadi, deh, celengan buatan Oni!
Dia juga membuat bingkai foto dari kardus, baaaaguussss, benar-benar tak terlihat bahwa dari kardus! Sayang, karena keterbatasan bahan, ia hanya bisa membuat 4 bingkai foto…
4 minggu kemudian, sepatunya makin kekecilan, dengan semangat, dia mengumpulkan uang mingguan kecilnya selama ini, jumlahnya adalah Rp 14.500,00 rupiah, dia membeli berbagai benang lagi, dia merajut dan rajutannya adalah dompet, sayang, karena keterbatasan bahan lagi, ia hanya dapat membuat 1 dompet rajutan… sisa uangnya dia tabung.
Saat jalan, dia melihat toko kain, ia melihat kain flannel, selembar seribu, ia membeli dua, ia membuat kain itu membentuk alas gelas, tapi dari kain.
Setelah satu setengah bulan mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahannya, ia dapat membuat cukup banyak barang buatannya itu. Entah, emak memberinya uang mingguan tambahan, tambahannya seribu.
Ia membungkusnya dalam plastic yang muat untuk barang buatannya itu, sementara celengan, ia bungkus pakai plastik agak besra, seukuran kalengnya…
Ia membuat 15 alas gelas, tiga tempat pensil, 1 dompet, dsb. Celengan kaleng dia bikin agak banyak karena kaleng susu bekas yang dibuang juga baanyaaaak… dia buat sekitar 19 celengan.
“Harganya?” tanya Oni pada diri sendiri. Akhirnya ia memutuskan alas gelas rajutannya harganya lima ribu, alas gelas flannel tiga ribu, satu celengan kaleng karena semuanya berukuran sedang semua celengan kaleng harganya enam ribu lima ratus, dompet rajutan satunya harganya delapan ribu lima ratus, dan tempat pensil dari kain flannel tujuh ribu lima ratus.
Di sekolah…
“Mina, mau beli barang jualanku, nggak?” tawar Oni pada Mina. “Wah, kau jualan? Mana mau liat!” seru Mina berteriak tak sengaja.
Semua mengerubungi Oni, “Wah! Alas gelas, dompet, dan tempat pensil nya bagus! Kamu bikin???” tanya Ghea kagum.
“Iya, lah… mana aku punya uang beli?” kata Oni.
“Aku mau alas gelas empat ya, yang warna hijau semua! Yang kain flannel!” seru Mina.
“Aaah… Ghea nanya-nanya melulu! Aku beli tempat pensilnya! Berapa Ni?” seru Britha menyerobot karena Ghea daritadi menanya-nanya seputar tempat pensil itu melulu, Britha mengeluarkan dompetnya, di dompetnya terdapat selembar lima puluh ribuan dan dua lembar lima ribuan.
“Iiih! Brithaaaaa!!” pekik Ghea, “Ya udah, aku dompetnya aja, tinggal satu juga. Ni, aku dompetnya ya, berapa???” kata Ghea.
“Berisiiikkk” protes semua.
“Tempat pensil tujuh ribu lima ratus, dompet delapan ribu lima ratus. Dompet lebih mahal karena tempat pensil aku buat dari kain flannel sementara dompet aku rajut dari benang sendiri” kata Oni.
“Apa?? Serius?? dompet rajutanmu ini cuman delapan ribu?? Kayaknya menurutku gak cukup! Kukasih sepuluh ribu ya!” kata Icha yang juga membeli dompet rajutan.
“Nggak, nggak, makasih… itu juga udah banyak kok… nanti, kalian dimarahi orangtua gara-gara uang jajan habis buat beli barang jelek kayak gini…” tolak Oni halus.
“Ini bagus lagi! Udah ya, jangan banyak omong, kukasih sepuluh ribu” kata Ghea dan Icha menyerahkan selembar sepulun ribuan. Oni berterimakasih.
“Waw. Aku beli alas gelas, lima ya! Yang warna-warni tiga, yang polos warna hitam satu dan biru satu. Bagus! Rata merajutnya! Gak bolong-bolong!” kata Shafira mengambil tiga bungkus alas gelas yang warna-warni tiga, alas gelas hitam polos satu dan alas gelas biru muda satu.
“Berapa ini, Ni?” tanay Shafira mengeluarkan dompetnya.
“Itu yang rajutan semua kan? Kalo yang rajutan satunya lima ribu rupiah” kata Oni tersenyum.
“Serius? Lima ribu doang? Gak mau tambahan? Kurasa, jika Olivia yang membeli ini, dia bayar dua puluh ribu tempat pensil dan 10 ribu untuk alas gelas. Dia suka banget rajutan, tapi gak bisa merajut!” kata Shafira.
“Ya ampun, mahal banget bayarnya! Udah, Shaf, lima ribu aja, lagi pula kemarin kemarin kamu ngasih aku makan siang di rumahmu, buku, dan boneka. Udah… gak usah tambahan…” kata Oni, Shafira akhirnya menyerahkan lima lembar uang lima ribu-an.
“Aku mau celengan kaleng yang gambarnya kupu-kupu satu! Berapa Ni?” seru Anisa menunjuk celengan kaleng yang bergambar kupu-kupu.
“Aku celengan yang gambarnya monyet! Aku juga mau alas gelas yang kuning polos dua ya! Hmm…ini yang dari kain flannel. Lumayan, Khalista minta celengan soalnya!” seru Kalisha menyerobot Anisa.
“Aku dulu! Aku alas gelasnya 7 ya! Yang warnanya hitam agak muda semua dan yang dar kain flannel semua!” serobot Shirra mengambil tujuh plastic berisi 7 alas gelas yang warnanya hitam agak muda itu
“Aku dulu! Wah, tempat pensil nyisa satu! Mau ya tempat pensilnya! Sama alas gelas 1 yang pink rajutan!” teriak Vira.
“Aku juga alas gelas satu yang putih tua flanel!” teriak Dhiyya.
“Aku duluan! Dhiyya, kau belakangan saja!! Aku celengan gambar kucing satu dan celengan gambar sapi satu ya!” serobot Sabrina.
Semuanya berebutan, akhirnya setelah semua berteriak-teriak dan mengambil bungkusan yang akan dibelinya, akhirnya 19 celengan kaleng, 14 alas gelas, dan semuanya ludes tak bersisa, hanya sisa satu buah celengan kaleng lagi saja.
“Ini berapa Ni? Kita belom bayar” Kata Ghea dan Shirra.
“Satu alas gelas rajutan itu lima ribu rupiah, satu alas gelas flannel tiga ribu rupiah, dompet rajutan delapan ribu lima ratus, celengan kaleng enam ribu lima ratus rupiah, sama tempat pensil yag dari kain flannel tujuh ribu lima ratus” jawab Oni lantang.
Anisa menaruh selembar lima ribu-an, selembar seribu-an, dan sekeping uang lima ratus rupiah di kaleng untuk menaruh uang yang disodorkan Oni.
Khalisa menaruh dua lembar lima ribu-an, selembar dua ribu-an, dua keping uang dua ratus rupiah dan sekeping uang seratus rupiah.
Mina menaruh selembar lima ribu-an dan selembar seribu-an. Vira menaruh dua lembar lima ribu-an, selembar dua ribu-an, dan sekeping lima ratus rupiah. Dhiyya menaruh selembar uang dua ribu-an dan dua keping lima ratus rupiah.
Sabrina menaruh dua lembar lima ribu-an, selembar dua ribu-an, dan dua keping lima ratus rupiah. Dan pokoknya semuaaaanya yang beli menaruh uang.
Tiba-tiba guru mereka bu Rosa menghampiri, “Ada apa ini anak-anak? Apa kalian bertengkar> kenapa semua mengerubungi meja Oni?”
“Tidak bu! Oni menjual barang-barang buatannya! Bagus-bagus dan sangat murah bu! Makanya semua pada beli!” jelas Britha dan Shafira.
“oooh… wah, Oni pintar, ya. Apa masih ada yang tersisa Oni? Apa semua jualanmu ludes dibeli oleh teman-temanmu?” tanya bu Rosa tersenyum.
“Enggak bu. Ini masih ada satuuu lagi celengan kaleng yang gambar burung” kata Oni menjawab.
“Kebetulan. Wah, rapi sekali menggambarnya, Oni! Berapa ini harganya, Oni?” tanya bu Rosa.
“Ehm… enam ribu lima ratus rupiah bu” kata Oni.
Bu Rosa yang tau akan keadaan ekonomi Oni, akhirnya berkata, “oke. Ibu beli ya. Untuk anak ibu, dia akan belajar menabung. Daripada ibu membelikan celengan yang keramik mahal-mahal dan akhirnya dipecahkan, mending ibu beli saja celenganmu!” kata bu Rosa. Bu Rosa menyerahkan selembar lima ribu-an, selembar seribu-an dan sekeping lima ratus rupiah.
“Makasih ya, bu!” seru Oni berterimakasih.
Di rumah Oni, di kamarnya, Oni menghitung uang yang dia dapatkan tadi.
Ada sekitar lebih dari lima puluh ribu-an. “Alhamdulillaah… banyak sekali uangnya! Aku bisa membeli sepatu dari hasil kerjaku sendiri!” Oni sangat bangga.
Sore-sore, dia bilang pada emak bahwa mau main, sebenarnya dia akan ke toko sepatu, di toko sepatu…
“Mbak, kalo sepatu warna hitam yang paling murah disini, yang mana ya?” tanya Oni sopan pada salah satu staff.
“Hmm… sebentar ya dik, saya lihat catatannya dulu” kata mbak-nya, “Ini dik, yang paling murah. Tapi tidak pakai tali, kayak pakai resleting. Unik lho. Seperti sepatu mainan, tapi itu benar. Resletingnya juga tak kelihatan” kata mbaknya menunnjukkan sepasang sepatu hitam polos dengan resleting setelah melihat catatannya.
Oni mengamatinya, unik, ujarnya dalam hati.
“Harganya berapa ya mbak? Kebetulan saya hanya membawa uang dengan jumlah terbatas” kata Oni bertanya.
“Ini… tujuh puluhh dua ribu rupiah” kata mbak-nya.
Oni pun ke kasir dan membawanya setelah mendapatkan ukuran yang pas, kebetulan dia mendapat uang 118 ribu rupiah dari hasil jualannya, sebenarnya itu karena banyak yang memberi tambahan.
Oni pulang dengan wajah sangat gembira sambil menenteng kresek yang isinya adalah kotak sepatu.
“Waalaikumsalam Oni. Ada apa, sih, kamu seneng banget?” tanya emak menjawab salam Oni dengan wajah penasaran.
“Mak, lihat nih, Oni bawa apa!” kata Oni. Emak makin penasaran.
“Satu… dua… tiga..!! SEPATU!!” teriak Oni. Emak sangat terkejut.
“SEPATU? Kamu.. kamu… kamu dapat uang dari mana? Dari mana kamu dapat uang? Sepatu itu mahal!” kata emak terkejut. Emak berpikir, bahwa Oni mencuri uang, “Tentu tidak dari uang haram bukan?” kata emak.
“Hahaha.. tentu tidak mungkin Oni mencuri, emak!” kata Oni tertawa, “Hmmm, mak, sebenarnya udah dari beberapa minggu lalu Oni nggak jajan, uang jajan Oni dikumpulin dan beli benang serta flannel. Oni ngerajut benang itu ngebentuk alas gelas sama dompet. Kain flannelnya Oni buat jadi tepat pensil. Oni juga ngumpulin kaleng susu yang dibuang, dibersihkan, dan digambar. Lalu semuanyaaa Oni jual. Ternyata teman semua pada senang dan jualan Oni habis, mak. Bu Rosa juga membeli satu celengan kaleng buatan Oni! Oni dapat 118 ribu rupiah, mak. Bisa banyak begini, karena banyak teman yang merasa jualan Oni terlalu murah dan menambah uang yang diberikan kepada Oni!” cerita Oni.
Emak senang dan ikut bahagia. Keesokan harinya dia memakai sepatu yang dia beli sendiri dari hasil kerjanya sendiri.
“AKU BISA SENDIRI…!” teriak Oni dalam hati dengan bangga.
Pengarang Cerita: Namira Assyifa Prasetio
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami