Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sebuah Jawaban diujung Jurang

Jumat, 10 Januari 2014 | komentar

“Setiap orang berhak bahagia”.
Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang.
Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar.
Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu.
Dulu, aku adalah orang yang bahagia.
Aku punya keluarga yang peduli samaku, punya banyak teman yang sayang samaku, dan aku juga punya pacar yang cinta samaku.
Dan menurut aku, kelengkapan inilah yang dinamakan sebuah kebahagiaan.
Tapi, sebuah kejadian mengingatkanku dengan lagu Peterpan – Tak Ada Yang Abadi.
Karena memang tidak ada yang abadi didunia ini.
Termasuk kebahagiaan.
Selalu ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mencabut nikmat kebahagiaan itu.
Dan aku, juga merasakannya.
Sebuah keputusan yang aku lakukan tanpa berfikir panjang, membuatku kehilangan semuanya.
Aku adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai seorang Karyawan disebuah Perusahaan Swasta.
Sifatku yang suka bergaul dengan teman-temanku, membuat aku jadi sering mentraktir mereka dalam setiap pertemuan.
Mulai dari mentraktir makan, minum, bahkan rokok sekalipun, aku yang traktir.
Sampai suatu hari uang itupun enggan buat masuk kedompetku lagi.
Iya, kapal perekonomianku lagi goyang saat itu.
Akupun jadi bingung, “Bagaimana bisa aku berkumpul dengan teman-temanku tanpa uang sepeserpun?”.
Sore itu, aku merenung di bawah pohon rindang yang terletak di belakang kantorku.
Aku masih berfikir, “Haruskah aku berkumpul dengan teman-temanku malam ini?”
Aku menunggu, dan terus menunggu.
Menunggu aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Sampai Bang Sitompul, seorang yang bekerja sebagai Administrasi di perusahaan ini, datang menghampiriku.
“Kau kenapa Leo?” Tanya dia.
“Biasalah bang, masalah uang.” Jawabku dengan lesu.
Lalu dia datang menghampiriku lebih dekat, dan berbisik “Abang akan membantumu dengan cara yang tidak halal. Kau mau?”.
Aku berfikir, dan berfikir lagi.
Sampai akhirnya, untuk teman-temanku, aku berfikir untuk “mengiyakannya”.
Setelah itu, uang pun mengalir dengan indahnya ke dalam dompetku.
Akupun bisa tertawa lepas saat berkumpul dengan teman-temanku, bisa merasakan kesenangan yang luar biasa saat bertemu dengan pacarku.
Aku berhasil mempertahankan kebahagiaanku.
Sampai suatu hari, polisi datang kerumahku.
“Anda saudara Leo?” Tanya dia.
“Benar pak. Ada apa yah?” Tanyaku sedikit gugup.
“Maaf, ini ada surat perintah penahanan terhadap saudara.” Jelasnya, sambil memperlihatkan sebuah kertas kepadaku.
“Loh! Tapi salah saya apa pak?” Tanyaku benar-benar kaget.
“Nanti bisa saudara jelaskan di kantor polisi.” Jelasnya.
Sesuatu yang benar-benar menyeramkan, tapi ini bukan mimpi.
Tanganku diborgol, kedua orang tuaku menangis, ternyata ini benar-benar kenyataan.
Sesampainya dikantor polisi, aku melihat Bang Sitompul dan segenap pihak Perusahaan ada disana.
Ternyata, aku dan Bang Sitompul tertuduh atas tuduhan Penggelapan Terhadap Perusahaan.
Perasaanku benar-benar hambar, sangat hambar.
Bahkan aku sudah tidak mampu lagi membedakan antara rasa takut dan menyesal.
Semuanya berputar di hati ini, sampai akhirnya polisi menjadikan kami tersangka atas tuduhan yang di lampirkan oleh pihak perusahaan.
Benar-benar sebuah mimpi bagiku bisa tidur di balik jeruji besi ini.
Tapi inilah kenyataan yang harus kuterima.
Aku mendekam dipenjara.
Dua bulan berlalu.
Dan aku yang pada saat itu berusia 19 tahun, dipindahkan ke sebuah Lembaga Permasyarakatan Anak (LPA) untuk mengikuti persidangan.
Sementara Bang Sitompul dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Dewasa (LPD), dikarenakan usianya yang sudah dewasa.
Setelah beberapa kali mengikuti persidangan, akhirnya Hakim menjatuhi hukuman terhadap kami dengan masa pidana “1 tahun dan 6 bulan”.
Aku terkejut, karena itu merupakan waktu yang lama.
Sementara ibuku yang pada saat itu hadir dipersidangan, pingsan karena mendengarkan masa pidana yang diberikan oleh Hakim itu.
Aku hanya bisa terdiam.
Kecewa terhadap diriku sendiri.
Tapi ini adalah sebuah pelajaran hidup yang harus aku pelajari.
“Apa hikmah dibalik semua ini?”.
1 tahun dan 6 bulan pun berlalu.
Senang, sedih, ketawa, menagis, semua kurasakan di LPA ini.
Dan aku bersyukur, karena ternyata aku mampu melewati masa sulit ini dengan baik.
Sesampainya dirumah, aku langsung memohon maaf kepada kedua orang tuaku.
Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku perbuat.
Dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Saat malam, aku berniat untuk menemui pacarku dirumahnya.
Rasanya kebahagiaan itu benar-benar kembali saat aku keluar dari LPA itu.
Tapi ternyata aku salah.
Aku malah diusir oleh pacarku.
“Lebih baik kamu pulang aja deh. Aku nggak mau pacaran sama mantan Napi! Kita putus!” Jelasnya dengan emosi yang tinggi.
“Tapi…” Aku ingin berusaha menjelaskan semuanya.
“Nggak ada pakai tapi! Pulang kamu sana!” Potongnya sambil mengusirku.
Aku berjalan meninggalkan rumahnya sambil menangis.
“Sehina inikah aku dimata orang-orang?”.
Aku terus menangis, menahan rasa sakit, sampai akhirnya aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Akhirnya aku putuskan untuk minum di sebuah Café, sambil menenangkan diri.
Saat masuk ke pintu Café, aku melihat teman-temanku lagi berkumpul disana.
Karena merasa senang, aku menghampiri mereka.
Aku duduk diantara mereka.
Tapi apa?
Sejak aku duduk disitu, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan aku.
Dan akhirnya, hanya tinggal aku sendiri yang duduk disitu.
Sekarang, aku benar-benar merasa hina.
Selesai menghabiskan minumanku, aku putuskan untuk pulang kerumah.
Aku masuk kekamar, dan merebahkan badanku ditempat tidur.
Berharap waktu bisa berputar kembali.
Tapi kenyataannya, hidup terus berjalan maju.
Seberat apapun masalah yang aku hadapi, semua pasti ada hikmahnya.
“Tapi, apa hikmah dibalik semua ini?”.
“Apakah aku harus jadi manusia yang jujur?”.
“Apakah aku tidak boleh terlalu baik sama orang-orang yang aku sayangi?”.
“Apakah aku harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan?”.
Aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Mungkin karena aku telah jatuh ke jurang yang terlalu dalam, hingga akhirnya aku tidak mampu lagi memikirkan daratan yang ada diatas sana.
Yang kufikirkan hanyalah “Mampukah aku bertahan hidup sesampainya aku diujung jurang ini?”.
Namun, tidak ada yang menjawabnya.
Karena jawabannya ada diujung jurang itu.
Pengarang Cerita: Bryan Adams
 

Stuck dan Stagnan

| komentar

Who am I ???
Bagi seseorang pertanyaan ini sangat klasik. Tapi sebenarnya pertanyaan ini menjadi sangat berarti dan bermakna bagi siapapun yang ingin berpikir.
Kadang-kadang tampaknya semua hal keluar dari jangkauan ku
tidak peduli seberapa keras aku mencoba.
kadang-kadang aku merasa seperti ada di dalam suatu hal yang
dengan segala sesuatu aku berusaha bertahan, tapi
tampaknya semuanya pergi ..
dan meskipun aku terjatuh….
Semuanya memanggilku untuk terus bangkit kembali mencari siapa diri ku…..
Aku akan menemukan diriku
Aku terus mencari siapa aku yang sebenarnya
Siapa aku? Katakan!!
karena sepertinya aku tidak cocok sama sekali disini.
Kadang-kadang aku merasa semuanya pergi
dan meninggalkan aku di belakang
Aku akan terus berjalan untuk menemukan siapa aku yang sebenarnya.”
Dulu saya pernah mengikuti sebuah acara motivasi. Disana saya mesti tersengang, atau mungkin seperti orang yang menahan tangis. Bukan karena suatu motivasi yang diberikan tetapi karena sebuah lirik lagu dalam sebuah video Tarzan. Lirik lagu dan tema serta pesan lagu ini benar2x sama seperti apa yang saya alami. Who am I ? sebuah pertanyaan yang baru-baru ini menganggu pikiran ini … Ya, seseorang yang baru saja menikmati masa kuliah.
Video tersebut menceritakan sebuah pencarian jati diri Tarzan. Tarzan tak tau siapa dirinya sebenarnya. Ia mencoba suatu hal yang dilakukan oleh orang lain –sebut saja mengikuti orang lain-. Di Perjalanan pertama, ia melakukan seperti apa yang monyet lakukan. Memanjat pohon, berpindah secara cepat dari 1 dahan ke yang lain. Tapi ia gagal, ia selalu terjatuh. Kemudian, dia beralih mencoba melakukan apa yang biasa dilakukan oleh gajah. Tetapi ia tak bisa melakukannya. Ia selalu gagal. Beralih-beralih dan melakukan suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang lain, tetapi ternyata ia selalu gagal.
Hingga akhirnya, si tarzan menyadari bahwa ia adalah dirinya sendiri. Ada suatu hal yang membuat saya menangis dan tak habis pikir. Suatu hal itu adalah betapa teguhnya hati tarzan untuk mencari siapa dirinya sendiri.
Berulang kali ia stuck (terjebak) dalam suatu wilayah yang entah ia tak tau apakah wilayah tersebut tercipta untuknya. Berulang kali ia mencoba tetapi hasilnya adalah 0 dan gagal. Ia mencoba, lalu ia tau setidaknya tempat itu tercipta untuknya atau tidak. Satu pelajaran yang aku dapatkan adalah : dengan mencoba hal baru setidaknya kita bisa mengetahui siapa kita sebenarnya.
Ya, cerita ini mungkin tidak sedramatisir keadaan dalam video yang saya lihat. Realitnya, keadaan tersebut sama dengan apa yang saya alami. Berulang kali saya terjebak dalam suatu wilayah, yang membuat diri ini ragu. Mungkinkah ini tempatku? Harus kah aku tetap bertahan dalam wilayah tersebut ? #Sebuah tangis yang tertahan. Bagiku untuk bertahan dalam suatu wilayah yang kritis itu bukan masalah, tapi seberapa besar waktu yang diperlukan untuk mencari itu adalah hal yang sulit.
Dan pertanyaan besarnya adalah : Apakah saya terjebak ataukah saya yang tidak bisa bertahan ?
Pertanyaan ini begitu sulit untuk terjawab. Terkadang saya berpikir bahwa saya ini siapa? Apa saya harus berlari ataukah memang harus kuat bertahan? “Terkadang sebuah perasaan yang menyatakan bahwa kita stuck (terjebak) akan membuat pikiran kita menjadi stagnant (macet). ”
What do you do if you are in the stranger place ???
Entah kenapa belakangan ini saya jadi teringat pertanyaan seseorang :
“Apa yang akan kamu lakukan jika apa yang kamu cari tidak kamu dapatkan disini….?”
Belakangan ini pula saya baru menyadari maksud pertanyaan itu…. Sebelum menulis lebih lanjut saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada seseorang yang pernah bertanya padaku dengan pertanyaan tersebut. Maaf karena waktu itu saya belum begitu memahami pertanyaan ambigu ini, dan maaf karena jawaban yang tidak sesuai pertanyaan.
Terkadang saya merasa ini sudah direncanakan, terkadang pula saya merasa salah jalan, terkadang pula merasa cara pikir ku begitu aneh. Yah itu adalah sebagian pikiran buruk yang pernah saya alami ketika merasa terjebak disuatu tempat yang asing….
Saya akan mencari apakah apa yang saya cari ada tempat tersebut, jika
tidak ada maka seiring perjalanan saya akan tahu,… Apa yang harus saya lakukan, jika tempat itu bukanlah yang terbaik untuk saya maka saya pasti akan mendapatkan tempat lain yang terbaik untuk saya dan terbaik menurut-Nya. Bukan berlari, tapi buat apa mengharapkan sesuatu yang mustahil?? hanya tidak ingin memaksakan diri.
Stuck >> Stagnant….
What do you do if you feel that you stuck ?? Jangan sampai membiarkannya
menjadi sebuah stagnant (macet).
intinya “Semua tergantung dari Si penderita. Karena setiap orang memiliki keputusan, tujuan dan komitmen sendiri-sendiri. “. Jika ia masih berkomitmen, berprinsip, dan berorientasi maka ia tak akan menganggap itu sebuah stuck (keterjebakan). Dan setiap kegagalan yang ia alami adalah pembelajaran baginya –seperti cerita tarzan tadi-. Suatu hal yang berharga adalah : “Kenali diri kita masing-masing”. Siapa yang tau kebaikan dan kebusukan diri ini adalah diri itu sendiri. Jadi kita tau jalan mana yang harus kita tempuh. Kalau salah jalan pasti cepat2 akan berbelok arah..
Kenali apa kemampuan serta orientasi kita kedepan. Melalui hal itu kita akan senantiasa istiqomah mengejar cita-cita kita. Tidak ada Kata “Stuck” dalam perjalanan ini yang ada adalah “Bertemu hal baru”. Maka tak ada lagi istilah “Stagnant” karena waktu terus berjalan.
Inilah saatnya untuk mengeksplorasi diri sendiri sebelum terlambat. Menemukan sesuatu hal yang entah apa itu.
“Barang siapa yang mengenali dirinya sendiri maka ia mengenali Dzat yang Menciptakannya”
Terakhir : “Tiada daya dan Upayaku kecuali atas KehendakNya . Dan Sebuah realita bahwa kita diciptakan semata-mata untuk Beribadah PadaNya.
{mohon koreksi jika ada cara pikir yang salah…..}
Pengarang Cerita: Yeva Fadhilah Ashari
 

Sebuah Cake

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Menjadi kuat itu tak semudah bayangan, tak seindah keinginan, tapi seperti membuat sebuah cake yang hasilnya manis atau mungkin gosong dan bisa saja tetap menjadi bahan dasar. Filosofi manusia dalam sebuah cake adalah seperti telur, yang bisa dikocok agar mengembang, kemudian diaduk dan dicampur tepung, ditambah margarine yang telah dipanaskan, menggeliat dalam hujan kegelisahan dan kepanasan ketika disudutkan oleh banyak pihak. Diaduk terus sampai kelihatan mantap untuk kemudian sedikit demi sedikit diberi gula, agar air mata yang telah tumpah tidak terlalu membuat cake menjadi asin, tapi malah menimbulkan kesan gurih, perpaduan antara gula dan garam.
Setelah semua dirasa cukup, cake dimasukkan kedalam oven, bisa 30 hingga 45 menit, agar semua bagian cake masak merata. Jika tidak merata, apa salahnya kembali memutar cooking time selama yang diperlukan, jika masih belum masak, buang saja. Seperti cobaan manusia yang tiada habis, takkan berhenti hingga matang, bahkan setelah matang harus terasa memuaskan lidah sebelum akhirnya dimakan habis habis atau mungkin teronggok di balik keranjang sampah, kemudian dimakan oleh pengemis jalanan yang tak mandi selama 3 hari 3 malam, sambil berguman
“baru hari ini makan enak”
Sisa cake itu tetap dipeluk mesra, agar besok masih ada makanan yang mengganjal perutnya jika tak ada yang memberi sepeser uang receh.
Pengemis lelah berjalan, dan meletakkan sisa cake di samping tubuhnya yang ringkih, beralaskan tanah bumi segar, untuk sekedar meratakan pinggang. Tanpa disadari pengemis, seekor kucing mengendus cake, namun kucing pun berlalu. Seperti itu juga manusia, tak semua orang yang berada di sisinya selamanya dapat menjadi penggemarnya, ataupun penopang hidupnya. Pengemis juga manusia, butuh tidur dan makan, ketika pengemis tidur, cake teronggok diam karena tak sempat mengolah kaki waktu berada di oven. Binatang saja mudah lari darinya, karena paras cake tak seperti ikan, tak memuaskan dahaga kucing. Sama seperti manusia, ketika sudah tak memuaskan, akan dibuang, atau ditinggalkan.
Pengemis bangun kesiangan, terlambat masang tampang diperempatan, sehingga didahului oleh pengemis lain yang lebih memelas ditambah membawa bayi dan balita. Pengemis kalah. Tanpa sadar, cake semalam terinjak oleh kakinya, tanpa disadarinya pula. Pengemis lupa memiliki jatah sarapannya. Cake malang. Sudah bau akibat terinjak, sekarang penyet seperti bongkahan kotoran. Begitu juga kehidupan manusia, awalnya disayang, diberi perhatian dan perlindungan. Tapi jangan lupa, sama sama manusia. Masing masing punya kepentingan dalam hidup. Sama sama merasa dikerjar waktu, ditekan oleh ambisi, sehingga mampu meninggalkan yang dicintai. Dan bahkan lupa, bahwa pernah memiliki yang dicintai.
Cake bisa apa, menangis pun tak punya mata, ingin berteriak, mulut pun tak terbentuk, mau menggapai, tangan yang mana. Apalagi hendak berjalan, kaki saja mungkin cake tak kenal bentuknya.
Cake hanya sebuah hasil, dari kocokan telur, mengembang dan diberi tepung dan margarine, dengan harapan akan kuat namun lembut. Tak lupa ditaburi gula, agar merasakan senang dan pahit. Kemudian dibakar dalam panas yang seimbang. Cake adalah campuran, dari semangat, tekad, kerja keras, cinta, dan doa serta harapan si pembuat, agar menjadi cake yang sedap dimulut, indah bentuk dan rupanya, menawan dalam hidangan. Menjadi ratu yang menarik perhatian dari semua orang, hingga menaikkan dagu setinggi 5 inci.
Cake dijalan itu bukan cake yang diharapkan sang pembuat. Teronggok jelek dijalan, terinjak dan ditinggalkan.
Tapi cake masih punya satu harapan, satu jalan, dan satu perhatian. Si Pembuat cake masih mengharap cake kembali padaNya, karena Pembuat Cake mampu melakukan segalanya, bahkan mengembalikan kemulian sebuah cake, karena si Pembuat cake, adalah Sang Koki jagat raya.

Pengarang Cerita: Rahmi
 

Gengsi itu Sama Dengan Miskin

| komentar

Tiga hari telah kulewati dengan beban yang sangat berat jika aku ibaratkan bebanku ini seperti “menggendong sapi sekaligus dengan gerobak nya ” he he he he sedikit lebay, tapi semua ini memang benar-benar beban yang begitu berat bagi murid Madrasah Aliyah Negeri atau sederjat dengan SLTA yaitu menghadapi “ UN “ alias “ Ujian Nasional “ yang wajib diikuti semua murid dari pulau Sabang sampai Merauke dari pulau Mengias sampai pulau Rote.
Dag dig dug deg dug dig, wah pokok nya kebolak balik rasa panikku menhadapi ujian nasional ini, tinggal 1 hari lagi dari tanggal 20 Mei 2008, mau nggak mau, sakit nggak sakit aku harus mengahadapinya, doa dan permintaan maaf ku kepada semua orang yang aku kenal merupakan salah satu restuku untuk keberhasilanku menghadapi Ujian Nasional tahun ini.
Hari selasa,.. Kira kira waktu tinggal 2 jam lagi menuju Ujian Nasional akan segera di Ready… kan, ( sampai-sampai bahasanya campur aduk kayak tahu campur). aku tidak bisa berbuat apa-apa melainkan mengeluarkan jurus terakhirku , berdoa dan yakin dengan usahaku, teeettt….teeeeeeet…teeeeettt,… aku kaget dan panik dengan suara bel yang begitu familiar ditelingaku,……mau nggak mau harus siap untuk memasuki ruangan yang dihadapkan dengan beberapa lembar kertas soal Ujian diatas meja,….Wow “ sungguh menegangkan “ gumamku dalam hati. Nafas panjang keteganganku “ uuuuuhuuufttt …..” dan ucapan “Bismillah” yang keluar dari mulutku adalah tanda dari awal dari semua ini,…rasa panikku, keteganganku, ketakutan menjadi satu saat melihat soal Ujian Nasional, tapi Alhamdulillah ternyata soal yang aku lihat dan baca ternyata tidak sia-sia dengan usahaku selama ini saat aku belajar,….keangkeran yang aku alami saat itu sekarang menjadi sebuah keharmonisan, semua terasa menjadi mudah dan indah.
Hari kedua telah kulewati seperti hari pertama Ujian Nasional sebalik nya dengan hari ketiga semua kulewati dengan rasa yakinku, lega rasannya sudah melewati ini semua , setelah Ujian sudah selesai, hari tanpa beban pun kini menghinggapiku makan, tidur, minum, nonton TV, main sama temen, dll, nggak ada yang melarangku mau kesini, kesitu, kesono,kemana, kesodok eh kok kesodok hehehehe, pokok nya apa aja lah nggak ada yang menghiraukanku seolah- olah kayak orang ilang yang tidak punya keluarga.
Pengangguran yang aku alami ternyata tak pernah aku sadari karena asyiknya menghabiskan waktu hanya untuk kesenangan yang tidak ada beban dan tanggung jawab, hilang begitu saja. inilah Awal dari sebuah beban yang sebenarnya beban yang aku alami yaitu saat setelah selesai melewati momok Ujian Nasional ,…tak disangka sangka momok satu ini lebih menakutkan daripada saat menghadapi Ujian Nasional ,….bukan saat penentuan Kelulusan atau Nilai yang akan keluar yang akan aku terima tapi adalah apa yang aku lakukan setelah aku melepas seragam putih abu-abu ini sungguh tragis yang aku alami setelah melepas baju ini dari kehidupanku lagi. sudah terlahir dari Keluarga petani kelas Eks-konomi kebawah, membuat diriku agak frustasi, rencana mau nglanjutin Perguruan tinggi orang tua tidak punya uang, ikut Beasiswa di perguruan tinggi prestasi pas-pasan, “ huuuuftftftft “.beban yang aku rasakan adalah beban yang benar benar beban seperti ” Patung ATLAS “,… 2 minggu setelah Ujian Nasional pengumuman dari sekolahan telah meyatakan bahwa untuk kelas 3 tidak ada jadwal lagi berarti tidak ada pelajaran juga.
yang dulunya nonton, main , seneng-seneng sama temen kini sirna bagaikan ” panas setahun turun hujan seharian” , akhirnya aku putuskan untuk mencari pekerjaan tidak ada pilihan lagi karena keadaan keluargaku yang tidak mampu menyekolahkanku, tapi apa yang bisa aku andalkan dari prestasiku semenjak aku memakai putih abu-abu selama 3 tahun silam, padahal aku tidak begitu pandai dan kreatif yang mempunyai ketrampilan lebih di bandingkan anak-anak lulusan SMK, sungguh fana hidupku terasa seperti orang bodoh sedunia yang tak mampu menciptakan peluang kerja, sedangkan temen-temenku sudah satu demi satu mendapatkan pekerjaan salah satunya adalah sahabat-sahabatku , Zanu ristiono, Dian Budiyanto, dan Shodikun hadi dulunya yang sering menyontek PR matematikaku dan saat ada ulangan harian kini begitu mudah mencari pekerjaan di bandingkan diriku yang dulu selalu bisa mengerjakan PR Matematika.
Terus berusaha yang aku lakukan sampai sampai aku menawarkan jasa kepada usaha rumah-rumah Produksi milik tetanggaku,..2 minggu setelah aku di vonis sekolahanku tidak ada Jadwal untuk masuk sekolah ,…tiba tiba ada kabar dari temenku bahwa pabrik yang tidak jauh dari tempat tinggalku kira kira 200 meter, bahwa pabrik tersebut membutuhkan karyawan,…beuhhhh rasanya seperti di tabrak tronton dan tidak merasa sakit saat di tabrak (sakti banget),…..akhir nya aku mencari informasi dari temenku itu pekerjaan apa yang di butuhkan oleh pabrik tersebut, Alhasil ternyata yang dibutuhkan hanya seorang pengamplas kayu,…semakin pusing dengan informasinya,…bingung bukan kepalang yang aku alami, akhirnya aku putuskan untuk sholat untuk menentukan pilihan yang akan aku ambil dari pilihan ini , dalam hatiku berkata “ masa lulusan SMA kerja nya hanya tukang Amplas kayu, menyedihkan “.
24 jam telah berlalu diantara waktu itu aku sudah melakukan sholat untuk menentukan pilihan yang akan aku ambil, sebenarnya aku benar-benar gengsi dengan peluang pekerjaan ini, 98 % yakin aku akan mudah mendapatkan pekerjaan ini tapi di sisi lain aku akan ter-Cap menjadi orang terbodoh sedunia karena dengan Ijazah yang aku miliki meskipun aku belum pasti dinyatakan LULUS oleh Wali Kelas dan sekolahku….., akhirnya aku memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu sebagai ” tukang Amplas kayu “sungguh tegannya Ijazah SLTA bekerja dengan pekerjaan serendah itu, ‘ dalam hati kecilku yang paling dalam-lam-lam’, tapi keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang terbaik karena aku lebih yakin dengan sholatku karena “ ALLAH”.
hari pertama, menunggu di depan pabrik seperti orang-orang yang bekerja di pabrik, ” CV.CANDI BARU”, namanya ,tiba-tiba aku tersentak dan kaget mendengar bunyi bel seperti bunyi bel sekolahku yang terdengar dari dalam pabrik tersebut dan ternyata bel itu adalah tanda dimulainya bekerja, sungguh mengenaskan pekerjaan ini, kotor dan bercampur debu kayu hasil dari gergaji mesin mebuatku nggak tahan ingin segera mengakhiri kerja di pabrik ini, tapi apa daya aku sangat membutuhkan pekerjaan karena aku gengsi dengan temen-temenku yang sudah meiliki pekerjaan, semua ini harus aku syukuri yang merupakan salah satu bentuk tunduk dan taatku kepada sang “ILLAHI”, daripada orang yang diluar sana yang lebih membesarkan gengsi karena pekerjaan yang begitu rendah dan tidak berharga menurut mereka membuatku mendapatkan nilai positif dari keputusan yang aku ambil ini meskipun tidak sebanding ijazah yang akan aku terima dari kelulusan kelak. sudah 2 bulan berjalan pekerjaan yang aku geluti (emang pegulat :D), ternyata aku adalah termasuk orang yang sabar menerima keadaan heheheheh,,…padahal salah kaprah..prah.. prah ..prah… “ sabar “ itu adalah sebuah kebodohan tersendiri buat diriku karena kesabaranku itu adalah tidak ada usaha dariku untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan saat ini kalo untuk definisi keadaan yang aku alami saat ini mungkin kata sabar banyak artinya tapi utuk kesabaranku dalam menghadapi keadaan ini adalah sebuah kebodohan yang luar biasa, pusing dan pusing yang aku alami membuat otakku geram bagaimana yang harus aku lakukan untuk menutupi rendahnya strata pekerjaan ini.
Tak disangka dan tak di duga saat aku duduk di teras depan rumah sendirian,… tiba-tiba tetanga samping rumah menghampiri dan tanpa basa-basi bercakap cakap denganku :,
Pak Wahidi : “ mam aku njalok tulong sampean iso tah orak ngajari anakku sinau matematika“,..kalo di terjemahkan ke bahasa Indonesia artinya “ mam aku minta tolong sama kamu, bisa atau tidak mengajari anakku belajar metematika “.
Aku : “ senyum dan kaget juga yang ada dalam benakku membuat diriku semakin bingung, apa yang harus aku jawab dengan sebuah pertanyaan yang membuat diriku menjadi bingung sendiri,… tanpa basa basi aku langsung jawab pertanyaan beliau dan aku said : “ bukanne aku mboten purun, pripun nggeh pak, kulo yo mboten pinter, terjemahannya (bukannya aku tidak bisa, tapi gimana ya pak, aku itu tidak pintar) “ senyum pun aku layangkan ke beliau dengan reflek sedikit kebingungan saat menjawab pertanyaan tersebut.
Pakwahidi : “lalu beliau ganti balik menjawab jawabanku ,…luar biasa ini beliau sudah dijawab,menjawab lagi heheheheheh langsung di terjemahin aja lah kepanjangan kalo di bahasa jawa,…beliau says : “ lho kamu kan pernah dapet ranking di sekolah kan mam, pasti kamu bisa ngajarin anakku “.
aku said : “……oh itu mah cuman rangking-rangkingan aja pak “ jawabku dalam sedikit senyum,. Dan saat itu pula aku memberi keputusan kepada pak Wahidi ….., “ aku minta waktu dulu ya Pak “…,kata kata yang aku berikan kepada pak wahidi yang membuat beliau agak lemes mendengarnya.
aku said : “……ya sudah lah mam., tapi usahakan ya mam,! Sedikit memaksa kepadaku.
Selang 2 minggu akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kesempatan yang di tawarkan sama Pak wahidi, setelah pulang kerja tepat pukul 16.00 WIB atau lebih tepatnya jam 4 sore, tanpa mampir kerumah aku langsung menemui pak wahidi di rumahnya dan mengatakan “ Pak aku mau belajar sama anak bapak “, pak wahidi pun menjawab “ Alhamdulillah, ya udah ntar malam langsung saja gimana ? tanpa pertimbangan lagi aku putuskan “ iya pak ”, akhir dari percakapan dalam mengambil sebuah keputusan.
sungguh keputusan yang riskan yang aku ambil karena posisiku adalah sebagai buruh pabrik tapi mau gimana lagi, ini adalah kesempatan yang bagus ibarat pepatah “ sambil menyelam minum Air “.
Alhamdulillah semua itu aku lakukan kurang lebih satu tahun yaitu “ bekerja di pabrik sambil ngajarin anak orang “ heheheheh,…. Alasan yang aku ambil dari ceritaku ini adalah bukan kegengsian atau rendah strata pekerjaan yang aku miliki tapi adalah Ridlo dan Ikhlas dengan pekerjaan yang aku miliki. pekerjaan Hina kalo di kerjakan dengan Ihklas pasti berujung dengan Nyaman dibandingkan Pekerjaan di kantoran tapi nggak Ikhlas pasti berujung menjadi beban.
Tetap semangat…kawan-kawan !

Pengarang Cerita: meta silvi
 

Menyayangi Bukan Dari Penyesalan

| komentar

“Dek, tolong yang sebelah kiri ditarik lagi. Itu masih miring!” suara perempuan bernada tegas dan agak aneh karena pilek terdengar di depan kampus pagi ini. Aku yang baru saja memarkir motor segera menghampiri ke tempat perempuan itu.
“Aduh, Ndra! Kelewatan yah kamu! Ini jam berapa baru dateng? Anak buahmu aja udah pada dateng masak koornya telat??”
Ya, perempuan berparas cantik itu tengah memamerkan mimik kesal padaku, si koor perlengkapan, yang datang terlambat di pagi ini. Jelas saja dia uring- uringan. Hari ini kampus kami akan mengadakan sebuah even yang cukup besar dan bergengsi seantero Indonesia.
Ketuanya ya si perempuan cantik yang sedang ngambek itu. Namanya Ira, dia bukan anak BEM tapi menjadi ketua even besar ini. Aku hanya menjadi koor perlengkapan. Setelah kami selesai memasang spanduk sambutan selamat datang di depan kampus, kami bergegas masuk ke dalam aula tempat acara akan dilaksanakan.
Ira nampak mondar- mandir ke sana kemari, dia sibuk membantu anak lain di tiap tempat. Seperti misalnya menata absen, menyiapkan konsumsi, mengecek rundown acara dan lainnya. Ira anaknya cantik, tetapi dia tidak terlalu tinggi, cerdas, tegas dan tidak cengeng. Yah, setidaknya begitulah kesan yang kudapat selama dua tahun kenal dengannya. Dia tidak suka duduk dalam waktu lama, dia tidak suka kalau didebat, keras kepala, ceria, suka humor, dan memiliki kepedulian tinggi.
Dulu aku satu kelompok ospek dengannya, tapi dulu dia tidak begini. Dia cenderung lebih diam. Tetapi, sejak semester dua, sikapnya banyak berubah. Dulu yang kerjanya kupu- kupu (kuliah- pulang), kini dia aktif berorganisasi. Beberapa bulan lalu, dia sudah memenangkan lomba debat tingkat fakultas, universitas dan kota. Even yang ditanganinya relatif sukses dan membawa nama baik.
Tapi, sampai saat ini, aku masih belum tahu seluk beluk kehidupan Ira. Yang aku tahu dia seorang anak tunggal, ayahnya seorang jenderal tentara, rumahnya kira- kira berjaraktempuh 45 menit dari sini. Pernah punya pacar, tapi tidak ada seorang mahasiswa di fakultas ini yang pernah melihat Ira membawanya ke kampus.
Ira memang mudah bergaul, dia supel dan orangnya ramah. Tetapi, tidak banyak anak perempuan yang bertahan menjadi sahabatnya. Tiga perempuan yang dulu selalu bersamanya, kini pergi meninggalkannya. Sepertinya, mereka tidak cocok dengan sifat Ira yang cenderung naif dan ceplas- ceplos.
Padahal, selama aku berteman dengan Ira, aku sama sekali tidak merasa kalau Ira menyebalkan. Justru, dia banyak membantuku. Ketika kami sama- sama pulang rapat malam, dan besok ada tugas besar. Aku masih belum selesai dan dia sudah selesai, dia pasti menawariku bantuan untuk menyelesaikan tugas. Aku yang hanya anak rantau di kota ini terus terang saja merasa terbantu.
“Indra. Aku minta tolong, di depan sudah ada beberapa peserta, tolong sama yang lain stand by di lobi ya. Arahkan mereka supaya jangan nyasar. Thanks.” Sesusai meminta tolong dia berlalu dengan senyuman. Fuuh… Sempat juga dia mengulas senyum manis seperti itu.
Padahal aku tahu dia pasti lelah sekali karena sibuk mondar- mandir ke sana- kemari.
Pagi ini, sebuah acara kuliah umum yang bertema tentang enterpreneurship, akan dibawakan oleh Profesor Bambang. Beliau adalah guru besar yang sudah diakui kepiawaiannya dalam bidang manajemen dan bisnis. Setiap kampus mengidam- idamkan mengundang beliau untuk memberikan kuliah tamu. Selain itu, beliau juga memiliki suatu perusahaan konsultan yang sudah beranak pinak di berbagai provinsi di Indonesia. Peserta acara kali ini tidak hanya berasal dari kampusku saja, tapi dari berbagai kampus di Jawa Timur, swasta dan negeri. Pesertanya mencapai 657 orang!
“Mbak Ira!!” Seorang adik kelas memanggil Ira yang saat itu tengah mengecek daftar peserta. “Ada apa, dek?” Ira dengan sigap menjawab.
“Aduh, mbak. Prof Bambang bakal dateng telat! Gimana ini??”
“Telat berapa lama?”
“emh, beliau bilang sekitar habis Duhur baru datang, mbak! Gimana ini???”
“Sungguh? Mana teleponnya? Biar aku yang telepon beliau!” Ira langsung menyaut HP anak itu dan menelpon.
Aku jadi ikutan was- was. Ira, kalau sudah emosi bisa sangat menyeramkan. Mukanya sudah pucat ketika sedang menelpon Prof Bambang. Setelah telepon diputus, wajahnya kembali sumringah.
“Nggak apa, dek. Satu jam lagi, anak buah Prof Bambang ke sini buat nggantiin beliau sementara. Prof bambang dateng 2 jam setelahnya. Masih bisa kok. Nggak sampai Duhur.” Ira justru menenangkan adek kelas yang tadi sudah gemetar ketakutan.
“Kamu, silakan hubungi nomer ini ya. Aku mau bantu panitia di bagian perlengkapan dulu.”
“Iya mbak! Makasih banyaaak!” Anak itu segera berlalu. Kemudian Ira menghampiriku.
“Gimana pak koor? All is well?” Tanyanya sambil bersandar di dinding dekatku. Aku hanya membalas anggukan.
“Kamu super banget, ra.”
“Apanya, ndra?”
“Nggak kayak cewek lain! Kamu hebat banget nanganin semua ini. Padahal dulu kamu nggak kayak gini lo.”
“Oh ya? Jangan bandingin aku sama cewek lain dong. aku ya aku. Aku punya waktu yang berbeda dari mereka semua, termasuk dengan kamu, ndra. Aku nggak mau waktuku yang singkat Cuma aku habisin di kasur.” Ira berlalu setelah berkata seperti itu.
***
Akhirnya, si pembicara yang akan menggantikan Prof Bambang sementara waktu sudah tiba. Ira diminta untuk menemuinya sebentar saja. Aku yang saat itu ada di dekat ruang tunggu pengisi acara menyaksikan suatu keganjilan.
Ira yang baru saja tiba ke ruangan, lalu menatap pria necis yang duduk di dalam ruangan itu, mendadak putar balik. Dia langsung berlari keluar dan merenung di dekatku.
“Ra, ada apa?”
“Nggak apa. Tolong deh, kamu urus itu pembicaranya.” Ira berlari entah ke mana. “Ra! Ira!!” meski kupanggil dia tidak kembali. Mungkin dia mau ke toilet untuk membuang dahak atau ingus di hidungnya. Dia kan hari ini sedang pilek.
“Eh, mas! Boleh tanya?” Ternyata si pembicara itu keluar dari ruangan. “Iya, boleh.” Jawabku. “Itu tadi Ira ya?” Tanyanya.
“Oh, iya. Dia Ira mas, ketua acara ini. Apa perlu saya panggilkan?”
“Emh.. Nanti sajalah. Sepertinya dia tidak mau bertemu dengan saya saat ini.” Jawab pria necis itu. Aku semakin tidak mengerti. Siapa pria ini dan apa hubungannya dengan Ira?
Setelah acara berjalan, dan Ira tidak juga muncul, aku mulai mencarinya ke seantero kampus. Dan akhirnya langkahku membuahkan hasil ketika melintas di depan gedung baca. Ira sedang duduk sendirian di lorong depan Gedung Baca. Dia terpekur dan entah apa yang sedang direnungkannya.
“Ngapain sih? Nanti kesambet loh di sini sendirian!” Ucapku. Dia mengangkat wajahnya sambil mengernyitkan dahi.
“Oh, kamu toh ndra. Hehe.. Iya, lagi istirahat nih.”
“Istirahat?” tanyaku sambil mendekatinya. “Aku boleh duduk?” Tanyaku. Dia mengangguk sambil agak bergeser.
“Nilaimu gimana, ra? Bagus- bagus nggak semester ini?”
“Iya, Alhamdulillah, ndra. Kamu?”
“Sujud sukur deh aku, ra. Aku beruntung banget bisa berteman sama kamu! Ujian dibantuin, tugas ditolongin. Kurang baik apa coba kamu! Hahahaha!” kataku.
“Iya. Syukur deh, ndra kalo bisa bikin kamu seneng. Aku ikutan seneng kok. Lagian, selama ini aku juga berusaha membuat orang lain seneng.”
“Oya? Mulia banget ati kamu, ra?” Ira hanya membalas senyuman. “Di waktu yang singkat gini, apa sih yang bisa aku lakuin selain menyenangkan orang yang sudah banyak membantu aku? Aku nggak bisa ngasih apa- apa selain itu, ndra.”
“Ira, omonganmu kelewat serem tauk! Udah sarapan belum?” aku bertanya begitu karena kulihat bibir Ira memucat.
“Emh.. Akhir- akhir ini aku nggak nafsu makan, ndra. Kalo kamu mau sarapan dulu nggak apa kok. Aku balik dulu yah.”
Ira berdiri dengan agak kaku dari bangku ini. Kemudian dia seperti menarik nafas panjang, badannya agak membungkuk ketika dia berjalan. Belum sampai langkah kelima, dia sudah ambruk.
“Masya Allah!!! Ira!” Aku berlari dan menyaut badannya. Nafasnya menderu dengan cepat dan pendek. Sesekali terdengar suara mendecit. Aku langsung menyusupkan tangan ke belakang punggungnya, dan mengangkat badannya.
Aku berlari secepatnya ke gedung utama agar Ira bisa mendapat pertolongan.
“Hey! Siapa aja! Tolong cari dokter! Ira pingsan!!!” Teriakku. Semua panitia yang ada panik. Untunglah, ada dokter yang ditugaskan dalam acara kali ini.
Ira kubaringkan perlahan di atas matras. Wajahnya sudah memucat, matanya terpejam, sepertinya menahan sakit. Nafasnya masih saja menderu seperti itu. Di lengannya, ada bekas seperti lebam. Padahal tadi ketika kuangkat tidak ada!! Apakah tanganku sudah melukainya???
Dokter dengan sigap memeriksa keadaan Ira. Menempelkan stetoskop, membuka kelopak mata Ira, mengecek bercak- bercak merah yang mulai timbul di kulitnya. Dan akhirnya, dokter itu menoleh ke arahku.
“Panggilkan Ambulance. Tidak mungkin ditangani di sini.”
***
“Dia terkena leukimia akut, tipe LLA. Sepertinya sudah setahun dia terkena penyakit ini. Apakah Bapak dan Ibu tidak menyadarinya?”
Kedua orang tua Ira hanya terdiam sambil menahan air mata di pelupuk mata. Aku juga hanya bisa terdiam di lorong ICU. Setelah itu, kedua orang tua Ira pergi bersama si dokter. Aku hanya tinggal sendirian. Kuberanikan diriku masuk ke ICU untuk menengok Ira sejenak, setelah itu aku pulang. Di balik jendela itu, aku bisa melihat Ira terbaring.
Rasanya aku tidak bisa percaya, dia terkena leukimia akut, dan selama ini dia diam saja!?? Bodoh dan naif sekali dia!
Ira nampak membuka matanya, berkedip beberapa kali dengan lemahnya. Lalu mulai melirik aku yang ada di balik kaca ini. Tangannya bergerak pelan, seolah memintaku masuk ke dalam ICU. Kuturuti sajalah, aku tidak tega melihatnya tergeletak di sana sendirian.
“Ndra..”
“Sst! Berisik!” kataku. Dia membalas senyum. “Tolong, liat di saku jaket aku. Ambil amplop di situ, kamu baca dan kamu kasih ke pembicara yang tadi gantiin Prof Bambang. Sekarang juga..”
“Hah? Serius, ra?” Tanyaku. Dan dia hanya membalas anggukan yang sangat lemah. “Pergi sekarang. Tolong..” katanya semakin lirih.
Aku kembali berdiri di sampingnya. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di sini. Aku sadar, ternyata selama dua tahun ini aku benar- benar jatuh hati padanya. Dia yang selalu bersemangat, terlalu naif, tidak manja, terlihat banyak teman tapi ternyata kesepian…
“Indra… Tolong. Nggak pake nangis..” tangannya meraih tanganku. “Aku nggak pantes kamu tangisin. Aku nggak punya waktu banyak buat liat orang yang aku sayang sedih. Aku mau sebelum waktuku habis liat semuanya baik- baik saja…”
Aku tahu, dia bisa melihat mataku yang memerah karena ditusuk air mata. Aku menarik nafas, sambil ganti menggenggam tangannya dengan sangat erat.
“Aku sayang banget sama kamu, ra. Sembuh, ya. Demi aku!” dengan lembut kukecup keningnya. Ira hanya memejamkan mata, sambil mengulas senyum yang sangat manis.
***
Dengan agak tidak sabar kubuka surat dalam amplop milik Ira itu::
“Hai, siapa saja yang buka surat ini. Tolong berikan surat ini kepada Alex Soetanto. Dia anak buah Profesor DR Dr Bambang Wijaya (guru besar itu lho).
Aku bawa surat ini mulai tanggal 4 Desember 2010. Karena, sejak 2 bulan lalu, aku divonis terkena leukimia tipe LLA. Aku juga nggak tahu tentang penyakit itu. Sampai beberapa waktu lalu aku merasakan gejala yang lumayan aneh. Dan ketika ke dokter, aku dinyatakan terkena leukimia. Kenapa aku nggak ngomong ke orang rumahku?
Ketika aku sakit, aku berkata mungkin saja aku terkena gejala leukimia. Mereka langsung menolak dan mengatakan kalau aku mendramatisir. Baiklah, setidaknya aku bisa menangkap maksud mereka kalau aku TIDAK boleh sakit seperti ini. Baiklah, aku kabulkan permintaan mereka.
Meski sudah positif terkena penyakit ini, aku harus tetap optimis. Aku masih ingin melakukan banyak hal sebelum waktuku habis. Termasuk dengan Alex, maaf sudah menyakiti kamu lex. Aku terpaksa meninggalkan kamu supaya kamu nggak sedih waktu lihat aku pergi.
Aku juga nggak bilang ke temen- temen. Soalnya aku mau ngabisin waktuku di antara mereka seperti biasanya. Kalau mereka tahu aku sakit, mereka pasti akan berbuat yang ‘baik- baik’ saja. Dan itu menyebalkan.
Nah, untuk yang sudah baca suratku ini. Tolong sampaikan salamku untuk:
1. Ayah dan Ibu: Jangan terlalu menyepelekan apa yang dikatakan anak. Orang tua lebih banyak pengalaman, dan anak hanyalah anak. Tapi di antara kita tidak ada yang paling benar atau yang paling salah. Maaf, sudah merepotkan kalian selama 20 tahun ini. Akhirnya, kalian bebas dari beban selama ini =)
2. Alex Soetanto: Tenang, banyak cewek cantik yang single menunggumu. Aku selalu berdoa untuk kamu,lex <3
3. Indra Saputra Utama: Makasi Ndra udah banyak nemenin aku selama dua tahun ini. Rasanya kayak punya kakak cowok. Hehehe. Aku sayang Mas Indra. Maafkan semua kesalahanku ya. Titip salam buat semuanya. Aku sayang kalian selamanya!!!”
***
Kami semua berdiri di pemakaman Ira. Hari ini, aku belajar suatu hal yang sangat PENTING untuk hidupku. Kutatap semua yang datang ke pemakaman sore ini satu per satu. Kedua orang tua Ira, mereka terlalu keras mendidik Ira, sampai- sampai mereka sendiri tidak menyadari bahwa putri tunggal mereka tengah berjuang melawan leukimia ganas. Mereka juga tidak pernah merestui hubungan Ira dengan Alex. Sehingga mereka tidak pernah melihat wajah putri kesayangan mereka benar- benar bahagia. Kejadian penolakan Alex itu terjadi ketika Ira baru saja masuk kuliah. Saat itu Ira benar- benar berubah sikap kepada orang tuanya.
Sedangkan ketiga teman dekat Ira kini hanya bisa menampakkan wajah sembab. Mereka tidak pernah benar- benar menghargai Ira sampai Ira masuk ke dalam liang lahat dan tidak akan kembali lagi. Mereka berkata padaku kalau mereka menyesal tidak pernah meminta maaf pada Ira sekalipun.
Alex. Pria necis yang nampak tegar di pemakaman sore ini. Dia memakai kacamata hitam dan berdiri mematung agak di belakang. Kemudian dia merangkul perempuan yang berdiri di sebelahnya. Itulah kekasih barunya.
Indra, seorang cowok bodoh yang selama ini selalu menyembunyikan perasaannya. Tidak pernah mengungkapkan perasaan pada targetnya sampai sang target kini telah tiada. Hanya tersisa kebodohan, penyesalan dan air mata yang mengering di sudut mata. Hanya bisa mengungkapkan kata perpisahan untuk Ira. Si cantik yang tegar.

Pengarang Cerita: Haven
 

Dinda – makam dan kenangan

| komentar

tanah merah basah…
kuresapi rinai hujan yg perlahan mulai meluap dari daratan bumi..
sementara Aku masih bertahan di tempatku berpijak sejak sejam yang lalu..
Nenek Aida,
“Kepada-Nyalah kita semua akan kembali”
aku tahu itu..
tapi tetap saja hati ini masih belum bisa melepasmu dengan ikhlas..
entah apa itu ikhlas, aku tak tahu Nek..
yang jelas kini aku masih menangis untukmu.
Lihatlah!!
Aku yang dirimu katakan sebagai “cucu kebangganmu” ini kini tengah menikmati kerapuhannya selepas kepergianmu.. maafkan aku jika hal ini membuat kepergianmu jadi tak tenang..
maf Nek…
ah, semua orang sudah pulang. meninggalkanku sendiri di pemakaman ini bersama tempat tinggalmu yang baru..
yang kuharap tentunya dirimu merasa lebih bahagia di “surga sana”.. amin..
aku yakin Nenek pasti bahagia!seyakin hatiku pada ucapan sahabatku, Ranindita. bahwa,
“orang yang baik pasti akan di kasihi oleh Allah.karna kebaikan sekecil apapun tak akan pernah luput dari kasih-NYA”
nenek Aida orang yang sangat baik..
dan karna kebaikanmu itulah kini Aku merasa tak mampu untuk menahan tangis ini..
teringat pula olehku kenangan lain tentang nenek aida…
“suka Kopi?”
itu tawaran nenek Aida di suatu kali dulu.. saat aku masihlah seorang gadis kepang 7 tahun.
aku tersenyum dan menerima tawarannya. meski sekalipun aku belum pernah merasakan rasa kopi itu.
kuikuti langkah nenek ke dapur untuk membuat kopi.. kulihat kepiawaiannya mencampur sesendok kopi bubuk dan sesendok lebih gula putih ke dalam dua cangkir gelas.. dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya, ia senandungkan sebuah lagu yang asing di telingaku namun begitu harmoni.
rasa penasaran membuatku gerah. akhirnya dengan berani kukatakan pada nenek,
“boleh nyicip bubuk kopinya gak Nek?…”
nenek aida tersenyum dan mengangguk.
segera saja kurasakan sedikit bubuk kopi yang kukira rasanya manis seperti cokelat. tapi ternyata,
“huek, pahit nek.. Dinda gak suka. gak mau kopi ah!”
nenek Aida tetap tersenyum. ia teruskan kegiatannya membuat kopi.
setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu. di depanku, nenek aida lebih dulu menempati sofa di dekat pintu. barulah kemudian aku menempati sofa di sampingnya.
“Dinda gak mau kopinya nek.. pahit..kopi Dinda buat Nenek aja deh..”
perlahan kuutarakan hasratku pada nenek, tapi tetap dengan senyumnya, nenek aida memintaku untuk mencoba kopi buatannya itu.. akhirnya dengan enggan kutempelkan ujung lidahku untuk menyentuh cairan kopinya.
“Srutt.emm…manis!!! qo manis nek? kan tadinya pahit.. wah.. ini pasti karna gulanya ya nek>?”
aku berseru dengan semangat. langsung saja kuseruput kopi buatan nenekku itu dengan cepat.
“hayo..pake sendok dulu minumnya Dinda.. kopinya masih panas Lho..”
nenek ku tersenyum manis, dan aKu tersipu malu.
sejenak saja nenekku diam lalu akhirnya berucap,
“kopi pahit ditambah gula yang manis jadi minuman yang enak ya?”
aku langsung mengangguk mantap.
nenek tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya..
“dalam kehidupan ini mungkin kita akan mengalami bermacam kejadian yang mungkin membahagiakan, mungkin juga menyedihkan. tapi tahukah Dinda,semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup ini menjadi lebih istimewa. tanpa kesedihan, manusia akan menganggap kebahagiaan yang dialaminya adalah hal yang membosankan dan tak berkesan. mengerti?”
aku masih bingung dengan ucapannya. langsung saja aku berucap,
“maksuddnya nekk?”
sebentar saja Nenek Aida menghela napasnya sebelum akhirnya menerangkan maksud ucapannya.
“begini…tanpa kesedihan, maka kebahagiaan pun tak bisa dibedakan dan dikenal. jadi, tetaplah tersenyum meski kamu sedang bersedih. karna pasti!ada kebahagiaan yang akan kamu rasakan nanti.. mengerti?”
aku tersenyum cerah. kupahami maksud ucapannya itu kini.
seperti bubuk kopi pada gula. Ia bisa menjadi minuman yang nikmat ketika gula dan kopi itu ada. Kopi pahit dan gula manis. Maka seperti itu pula lah jalurnya hidup ini. Hidup bisa benar-benar hidup ketika kesenangan diiringi pula oleh kepedihan. Tentu saja yang berimbang,
ah,
aku teringat pula pada satu ucapanmu dulu,
“tiap kehidupan selalu ada permulaannya, Dinda..
pun juga manusia yang lahir ke dunia dengan tangisnya yang kencang sementara orang-orang sekelilingnya menyambutnya dengan senyuman penuh haru..
dan orang yang paling bahagia adalah orang yang manakala ia meninggal kelak, ia akan meninggalkan dunia ini dengan senyuman tenang untuk menemui Tuhannya sementara orang-orang sekelilingnya menangis untuk kepergiannya karna rasa cinta yang ditujukan padanya..”
nenek,
aku jadi mampu untuk tersenyum karna mengingat ucapanmu itu..
tentunya kurasa dirimu cukup bahagia di dunia ini karna kini banyak orang yang menangisi kepergianmu..
lihat saja Aku, nek!aku bahkan tak mampu mempertahankan tangisku..
tentu saja..
mungkin untuk saat ini aku masih akan cengeng tiap kali mengingatmu..tapi lihat saja!
perlahan aku akan mampu menghadapi dan menerima kepergianmu dengan senyuman..
senyuman termanis yng bisa kupersembahkan hanya untukmu, nek..
dan, nenek.. tentu saja benar apa yang kau ucapkan dulu itu.
kurasa kini tak ada yang bisa menghalangiku untuk tersenyum.
itu semua karnamu Nek,
karna senyummu.. ^.^

Pengarang Cerita: bayah lila
 

Peleburan Rasa

| komentar

Membiarkan dirimu terpuruk dengan masa lalu bukanlah jalan keluar. Bangkitlah! tanpa kau coba melupakan masa lalu, tapi menjadikannya sebuah pelajaran.
Tengoklah keluar, lihatlah pohon itu dari balik jendela kamarmu. Betapa bebasnya angin menggerakkan dahan-dahan itu, dahan-dahan itu seperti menari dengan piawai walau kekuatan angin begitu kuat disertai buliran-buliran hujan yang jatuh dari mega mendung. Dahan-dahan itu meliuk menikmati simphoni alam. Nyanyian hujan yang jatuh dari langit hitam.
Lihatlah lagi, kehebatan angin yang merusak kesetiaan bunga pada pohonnya. Begitu kejamnya angin itu yang telah memisahkan bunga dan menjadikannya bertebaran dimana-mana hingga akhirnya menjadi sampah!
Seperti pohon, aku bisa goyah, dan bisa pula semakin goyah karena angin mengibaskanku begitu kuatnya. Lalu, pada siapa aku harus menopang rasa ini agar tak terombang-ambing seperti dahan-dahan itu? Tanyaku padamu yang tengah memandangi rinai hujan dalam kesenjaan.
Dengarlah, aku merasa jarum-jarum hujan terus mengguyurku, angin terus mengangguku. Bukannya aku menyalahkan apa yang telah diciptakan oleh Sang Kuasa. Bukan. Tapi aku ingin menyalahkanmu dalam tanda kutip masa lalumu. Kau pasti mengerti maksudku, anggap saja jarum hujan itu adalah kata-kata yang kau ucapkan padaku di setiap aku memintamu untuk meng-iyakan cintaku.
Namun kamu tetap saja masih berkata tidak padaku.
Aku lelah, kamu membuatku terombang-ambing dalam suatu ketidakjelasan dan menjadikan diriku rapuh. Dan atas kerapuhan ini tentu saja aku akan menyalahkan angin. Dan angin itu adalah masa lalumu.
Biarlah masa lalumu itu berlalu meski akan meninggalkan jejak nantinya. Namun jejak itu akan hilang setelah kau pijak dan seiring waktu berlalu. Dan semuanya akan kembali indah lagi, dengan masamu yang akan datang.
Membiarkan dirimu terpuruk dengan masa lalu bukanlah jalan untuk bangkit tanpa kau coba melupakan atau menjadikannya sebuah pelajaran. Carilah rasa yang baru dan biarkan menjadi bagian dari perjalanan hidupmu.
Dan jangan biarkan rasa yang telah tertanam tanpa rencana ini berlalu tanpa ada kepastian yang pasti. Dan, apa yang mampu meleburkan rasamu agar bisa bersatu dengan rasaku. Tanyaku dalam hati.
Pengarang Cerita: Yeni Ayu Wulandari
 

Melawan Rasa Takut

| komentar

“Fara lihat ini, kak Ame punya gambar bagus lho…” kata kak Ame.” Iya, gambar ini akan keluar dan makan fara,” tambah kak Tata seraya memperlihatkan gambar itu. Aku pun menjerit, lalu lari ke dapur mencari ibuku. “Bu… kak Ame dan kak Tata takut-takutin Fara dengan kertas itu lagi..” kataku merengek kepada ibuku.
Aku benar-benar takut dengan kertas itu. Kertas itu sebenarnya adalah cover buku yang telah tanggal dari bukunya. Cover itu bergambar pocong yang sangat menakutkan bagiku. Saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat sering ditakut-takutin oleh kakak-kakakku dengan kertas itu. Aku juga jadi lebih sering mengadu kepada ibuku. Sebenernya sebelumya ibuku sudah menasehatiku dan kakak kakakku. “Fara itu kan cuma gambar, tidak mungkin keluar.” Itulah kata kata ibuku. Tapi tetap saja aku takut. Aku selalu berlari dikejar-kejar oleh kakakku sampai-sampai aku terjatuh. Itu semua karena gambar jelek itu dan karena gambar itu juga aku jadi sering mimpi buruk dan mengigau. Akhirnya ibuku memutuskan untuk membakar kertas itu…
10 tahun telah berlalu. Yang ada dalam pikiranku adalah ketakutanku. Mengingat itu semua membuatku benar benar merasa takut apa lagi jika harus mengingat gambar cover buku tersebut. Sangat mengerikan…
“Penakut! Penakut! Penakut.” Aku bergumam pelan. Kini aku telah berumur 14 tahun, tapi ketakutanku tetap saja belum hilang walaupun telah sedikit berkurang. Hidupku penuh dengan ketakutan. Takut gelap, takut sendiri, takut itu, takut ini, Semuanya serba takut. Aku tak tau harus berbuat apa tuk menghilangkan rasa takut ini. Tapi yang jelas aku bersyukur rasa takut ku tak seperti orang phobia lainnya. Setidaknya aku bisa menyembunyikan rasa takut itu dan tidak merepotkan orang lain.
Pernah pada suatu malam hari tepatnya jam 12 malam. Waktu itu aku berumur 12 tahun. Aku iseng menonton tv. Untuk melihat film apa yang sedang ditayangkan pada tengah malam seperti itu. Jadi kubukalah chanel RCTI. Dan ternyata film yang tayang pada saat itu adalah film horror alias film hantu hantu. Tapi karena terlanjur melihatnya aku jadi penasaran tentang akhir film itu. jadi kuberanikan diri untuk menonton film itu sendirian, dimana semua orang tidur. Pada saat itu aku tak tega membangunkan orang tuaku atau kakak-kakakku. Jadi terpaksalah aku menonton sendirian.
Akhirnya aku pun selesai menonton film itu sendirian dengan ditemanin bantal guling kesayanganku. Harus aku akui film itu benar-benar mengejutkan dan mengerikan. Jadi selesai aku menontonnya aku langsung berlari ke kamar tidur dan naik ke kasur dan seketika itu aku langsung merinding. Mengingat semua hal yang ada di cerita tersebut. Ada perasaan menyesal dalam hatiku. Penyesalanku yang ingin aku lampiaskan. Sekarang, karena menonton itu aku harus menanggung takut yang luar biasa dan karenanya itu juga aku tak bisa tidur. “Ya ampun ini benar benar menyulitkanku. Kenapa sih aku harus tertarik dengan film horor seperti itu?” aku benar benar merasa kesal pada saat itu. tapi aku berfikir sejenak, mungkin jika aku tidak menonton film itu, aku juga akan menyesal. Aku bingung sekali, Semuanya memang serba salah. Akhirnya kutenangkan diriku dan kupejamkan mataku perlahan lahan. Kujauhkan pikiranku tentang film horror yang baru kutonton tadi. Dan akhirnya aku pun terlelap dalam tidurku.
Begitulah ceritaku tentang pengalaman yang mengerikan di hidupku. paginya aku langsung mengisi diaryku. Diary berwarna pink, hadiah dari orang tuaku disaat umurku 11 tahun. Diary itu sangat berarti untukku, di dalamnya kuisi banyak pengalaman menarik yang kualami. Selain itu diary itu berisi curahan hatiku. Diary itu membuatku rajin menulis, Membuatku tahu banyak tentang artinya hidup, membuatku mengerti tentang hidupku, lewat lembaran wana warni buku diary itu yang telah kutulis dengan tulisanku yang tak seberapa cantik, tapi setidaknya bisa dibaca. Beginilah isi diary ku…
Dear diary…
Hidupku penuh ketakutan. Aku tak mengerti tentang hal ini. Aku hidup seperti tak dapat berbuat apa apa karena rasa takutku. Aku mencoba untuk tetap kokoh berdiri. Tetapi ketakutanku bagaikan angin badai yang menghempasku, menjatuhkanku, dan menterpurukkanku. Aku yang awalnya bagaikan pohon kokoh berdiri. Kini telah menjadi ranting lapuk yang mudah hancur dan mudah melayang menuju tempat tak terarah. Sekarang aku bagaikan anak tanpa tujuan hidup. tujuanku bagaikan telah terhapus disapu gelombang, Bagaikan hilang ditelan bumi, dan bagaikan hilang diterbangkan angin. Semua itu karena ketakutanku. Aneh rasanya jika aku kalah dengan rasa takutku sendiri. Ingin rasanya aku menghilangkan rasa takutku. Tapi ia selalu datang kembali dan terus kembali bahkan datang menjadi rasa takut yang lebih besar lagi. Seharusnya aku hanya takut kepada yang Maha Menciptakan. Bukan kepada yang lainnya. Kini Aku ingin bangkit lagi menjadi pohon tinggi yang kokoh yang terus tumbuh dengan tujuan mencari cahaya dan sinar matahari. Seperti aku yang ingin mewujudkan cita cita dan tujuan hidupku. Tujuanku untuk hidup sukses bersama keluargaku. Hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Aku akan terus berusaha menjadi pohon kokoh itu. terus berupaya menjadi yang terbaik, dan aku tidak akan membiarkan diriku tergoyang dengan rasa takutku itu. Kini aku akan mencoba menjadi orang yang penuh keberanian dan melupakan hal yang menakutkan yang pernah kualami sebelumnya. Rasa takutku akan aku jadikan pelajaran dalam hidupku dan Dalam mencapai cita-citaku…
“Fara sekolah tidak hari ini, cepat mandi…” teriak ibuku yang sedang membuat serapan pagi di dapur. “Ok bu…” balasku. “Baiklah, hidup baru telah kumulai, hidup baru ku dengan keberanian bukan dengan ketakutan… Optimis! Semangat!” teriak ku dalam hati.
Pengarang Cerita: Miftahul Farhani Isty
 

My Freaks Holiday

| komentar

Liburan menurut gue sangat membosankan ketika gue liburan bersama bokap sama nyokap gue, karena setiap liburan kami selalu ke rumah saudara. Tiada liburan tanpa ke rumah saudara itulah motto hidup keluarga kami. Sebenarnya sih biasa aja tapi lama kelamaan gue jadi takut ntar kalau gue suatu saat nikah nikahnya di tempat saudara juga, terus malam pertama juga gue habiskan di rumah saudara, bermain sama anak cucu di rumah saudara, pokoknya gue habisin waktu indahku bersama saudara tercinta. Tapi di libur lebaran tahun ini gue gak bosen lagi karena gue akan berangkat ke rumah saudara sendirian naik kapal. KEREEEN
Ini first time gue naik kapal sendiri, seperti halnya dalam berpacaran kita harus meyakinkan pasangan kita (baca: nyokap) agar percaya bahwa kita akan selamat dalam perjalanan, tetapi takdir mengatakan lain, karena gue anak kedua dari tiga bersaudara yang kebetulan abang dan adik gue manusia semua, nyokap gue sangat memberikan perhatian yang lebay bin jijay atau dalam bahasa spanyolnya over protective *memang iya*. Ini terbukti saat gue lagi packing untuk trip gue ke pinang besok, ketika hendak memasukkan beberapa baju dan tentunya kebutuhan inti gue “kolor” ke dalam tas, nyokap gue nyeletuk “ben, kok kolornya dikit, tambah lagi dong nanti kamu kehabisan kolor lho disana, di sana kan cuma ada nenek, kamu mau pake kolor nenek?”. “udah lah mah segini aja, ntar kalau kebanyakan bawa kolor disangka ke pinang bukan liburan tapi jualan kolor” seru gue. Entah kenapa dalam setengah jam kami habiskan berbincang tentang kolor.
Selepas berbincang tentang kain unyu berbentuk segitiga itu nyokap gue memulai pembicaraan yang aneh lagi “ben, nanti hati hati ya kalau kesana, kalau udah nyampe kabari mama terus jangan lupa beli tiket, pilih-pilih juga mbak-mbak yang jualan tiket jangan sampai kedapatan tante-tante berketek basah… bla… bla… bla…”. Gue ngebatin, apa hubungannya ketek basah dengan tiket? “Ya Allah maah, benny kan udah gede udah disunat, udah SMK lagi bukan anak kecil lagi yang dulu hobbynya guling-guling di aspal” balas gue. “tapi nanti kalau kamu diculik gimana?” nyokap mengancam. “aduh mah siapa sih yang mau nyulik anak gendut kayak benny, palingan penculiknya pasti bangkrut ngasih makanan pas benny disandera”.
Keheningan pun terjadi saat itu.
Mentari senja pun menyinari pagi indah bersamaan dengan lantunan suara ayam yang menambah kehangatan dalam menjalani perjalanan absurd gue ini. Tepat pukul 09:00 gue siap siap untuk cawww to my destination, setelah sungkeman cukup lama dengan Ratu Elizabeth super perhatian (baca: nyokap) gue langsung ngesot menuju taxi depan rumah gue, gue memilih taxi dengan warna macho disana, warna PINK. “Mas, Punggur ya!” kata gue mantap. “iya mas naik aja, anda tepat sekali dalam memilih taxi ini” seru sopir taxi berkumis lebat itu.
Setelah taxi pink yang dikendarai sopir berkumis lebat itu melaju setengah perjalanan, tiba tiba sang sopir berkumis lebat atau bisa kita panggil SBL membuka pembicaraan yang dapat menggetarkan dunia perfilman horror di Indonesia “hmmm, mas udah punya pacar?” kata sopir mantap. Kata kata yang tidak lazim dikatakan oleh sebiji sopir tua yang hobbynya main gapleh di warung kopi. Gue membalas datar “belum”. Gue gak mau melanjutkan pertanyaan “kenapa mas?” takut sang sopir SBL itu mengungkapkan perasaannya ke gue dengan memberikan sejuta bunga yang disembunyikan di dashboard mobilnya. “ah masak cowok seganteng mas belum punya couple?” seru SBL. gua menelan ludah terus pingin muntah di taxi itu, tapi karena gue sebagai orang ganteng professional *ceileeeh gue menjawab “ah mas bisa aja *senyum-senyum najong, belum sih mas, tapi saya lagi deket nih sama cewek” akhirnya gue pun jadi curhat sama si sopir SBL itu, mungkin karena faktor di sekolah gue kurang bergaul dengan teman normal yang bisa diajak bicara soal cewek, teman gue di sekolah berasal dari planet upil semua yang hobinya kalau setiap ketemu selalu cengengesan gak jelas, cerita gak jelas sampai berkelakuan gak jelas kayak koprol di tangga sekolah, mungkin seekor monyet di sirkus lebih berharga dari mereka.
“waduuuh tembak aja mass tembaaak, namanya siapa?” Sang sopir kelihatan seperti pembunuh bayaran. “maunya sih gitu tapi saya udah temenan deket banget sama dia jadi gak bisa bedain perhatiannya takut ke geeran, hmm namanya *tiiittt* sensor (untuk menyamarkan nama indahnya gue beri dia nama You Know Who di tulisan ini)” mirip nama yang diberikan harry potter kepada voldemort, mungkin karena hidungnya sama sama ceper.
“ohh, mas nya suka gak sama dia?” sang sopir ngomong tanpa ragu. “emm setelah sekian lama saya kenalan sama dia saya jadi suka sih mas habis dia orangnya unik, dia tuh bisa ketawa sama hal-hal yang juga saya ketawain ya mungkin buat orang biasa itu biasa aja, jadi nyambung deh” jawab gue mantap, mas sopir ini memang unyuu banget deh buat jadi teman curhat, gue punya rencana bakal best friend-an ama dia, kami bakal foto bareng, jalan bareng, cerita bareng sama mandi bareng. “mas dengar, semua cinta itu harus diungkapkan gak ada cinta yang gak diungkapkan kecuali sama orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri” seru sang sopir SBL.
Mendengar statement maha dahsyat dari mas sopir itu gue langsung terdiam, ya terdiam sejenak mengingat kembali tentang kenangan-kenangan indah gue bersamanya saat sms-an, walaupun gue hanya menunjukkan perhatiannya lewat media itu, gue sudah merasa senang dapet menghiburnya, bukan masalah harta atau fisik tetapi ini soal kebahagiaan dari seorang yang kita cintai, dan ini gue baru dapet dari si You Know Who.
Rintik-rintik hujan pun turun menambah efek yang sangat pas saat hati ini sedang dimabuk asmara, gue ambil handset gue, gue nyalain lagu Find Yourself-nya Brad Paisley.
When you meet the one
That you’ve been waitin’ for
And she’s everything
That you wanted and more
And you look at her and you finally start
To live for someone else
And then you find yourself
That’s when you find yourself
We go through life
So sure of where we’re headin’
And then we wind up lost
And it’s the best thing that could have happened
‘Cause sometimes when you lose your way
It’s really just as well
Because you find yourself
Yeah, that’s when you find yourself
Memang lagu ini pas banget sama kondisi gue yang lagi dimabuk asmara, gue memang lelaki lemah yang butuh akan kasih sayang *ceileeeh. Untung tak dapat di raih malang tak dapat di tolak batre gue habis dengan indah, gue ngebatin “Kampreeet nih hape” emoticon marah.
Karena kedinginan hebat gue gak sengaja ketiduran di mobil sampe setengah jam gue dibangunin sang sopir unyu berkumis lebat atau kita panggil lagi SUBL. “mas bangun mas banguun!” seru sopir SUBL itu sambil menggoyangkan jempol gue yang lagi tiduran di belakang mobil, adegan ini seperti adegan di film action ketika sang sopir membawa bangkai anak gajah yang baru diburunya di ragunan. Gue pun merem melek kayak ngelihat britney spears lagi nyanyi lagu bang toyib. “eh iya mas sudah sampe makasih ya mas atas advicenya tadi, berapa mas?” gue tersenyum lebar ke arah sang sopir “iya sama sama mas, hmm semuanya jadi 60.000 ribu plus 40.000 ribu karena tadi mas sekalian konsultasi cinta ke saya”. Senyuman manis gue pun berubah jadi pahit sepahit muka adek gue ketika lagi ngeden
Rintikan hujan masih turun di pagi yang indah ini, dinginnya hujan dan angin yang menerpa tidak menyulutkan semangat gue untuk pergi ke Pulau Pinang walaupun gue sudah 214 kali kesana. Tepat pukul 10:00 dengan penuh bir*hi gue berlari kecil ke tempat loket tiket deket lobby pelabuhan punggur, seperti biasa orang penjual tiket selalu teriak teriak histeris kayak kemasukan jin alay saat menjual tiket “tiketnya kakak tiketnya yang ini aja kapalnya bagus berangkat sekarang fasilitas lengkap AC, WC, tempat duduk, TV, bed cover, kulkas 2 pintu *lho” lantang sang penjual tiket. Gue langsung menghindari area yang sudah terkontaminasi oleh radiasi nuklir tersebut takut kuping gua berdarah denger suara ultrasonik itu. Karena masih cinta masa depan gue langsung bergegas ke kapal, gue sudah punya rencana hebat buat beli tiket di kapal.
Saat gue udah berjalan beberapa langkah dengan indah ke hangar kapal, tiba tiba hape gue yang imut itu berbunyi keras di kocek sebelah kanan gue dengan ringtone lagu Bang Toyyib-nya Wali, karena gue stel nada getarnya keras di hape gue, sontak gue joget dengan cadas disana. Setelah gue lihat ternyata nyokap yang nelpon, “aduuuh gue kan buru-buru nih gimana ntar terlambat pula kapalnya” gue langsung reject aja. Abis itu gue langsung berlari ke kapal yang udah mau meninggalkan hangar, dengan semangat nasionalisme yang tinggi gue berlari lari, terus berlari menuju hangar layaknya Tom Cruise saat mengejar buronan bandar nark*ba di new york.
Sesampai di kapal gue langsung sms nyokap “mah benny udh smpe di kpl dgn slmat. Maaf tdi gk ngangkat telpon soalny buru2″ ketik gue sms. Berselang 5 menit nyokap gue bales “alhamdulillah nak, nah terus jangan lupa pegang erat karcisnya jangan sampai jatuh, terus kamu sudah makan, nanti beli aja makanannya di kapal, terus… blaa… blaa… blaaa” 540 karakter sms dibabat habis nyokap gue dalem satu kali sms, luar biasa. Terus gue jawab dengan singkat “Y”. Gue yakin pas pulang nanti gue bakal dikutuk jadi batu sama nyokap karena durhaka.
Kapal pun langsung berangkat gue duduk di kursi paling depan soalnya sekalian bisa nonton TV, tapi yang diputer di TV hanya lagu lagu dangdut koplo, gue langsung murung. Karena gua duduknya di pojok depan jadi gue bisa melihat secara langsung pemandangan menajubkan dari luar, hamparan pulau-pulau nan eksotis dengan sejuta keindahan di dalamnya menemani gue dalam kesepian ini, matahari yang memancarkan sinarnya membentuk alur indah di lautan, pemandangan indah ini hanya bisa gue dapetin disini *lebay
Selama satu jam kedepan gue akan berada di kapal ini sendirian dan duduk sendirian. Tapi takdir berkata lain tiba tiba datang orang berambut cepak, bermuka sangar dan berbaju basket lusuh yang memamerkan bulu keteknya yang rindang, gue punya ide kalau suatu saat gue kepanasaan gue bisa berlindung di dalem ketek om om ini, dan cirinya yang paling khas adalah kumisnya yang tebal dan menjutai indah di atas bibirnya yang seksi berwarna item. Entah kenapa hari ini gue sering ketemu sama orang berkumis tebal.
Tiba tiba om berbasket lusuh ketek rindang berkumis tebal atau bisa kita panggil OBLKRBT *mampus panjang banget* senyum ke arah gue yang menampakkan gigi serinya yang sudah copot satu. Gue membalas dengan senyum pepsodent. Satu jam gue jalani trip ini dengan suka cita bersama om OBLKRBT. Tidak seperti sopir taksi yang tadi, om unyu ini lebih banyak diamnya daripada ngomong aneh jadi gue bisa tenang untuk merenung tentang hubungan gue yang belum menemukan titik terang dengan You Know Who.
Terkadang gue bingung hubungan gue dengannya sudah deket banget tapi kenapa tidak ada kemajuan?, inilah pokok permasalahan yang masih mengambang 5 cm di kening gue. Padahal hubungan gue dengannya baik-baik saja, kami juga gak pernah berantem yang gak penting kayak “iihhh kok kamu tadi smsnya gak pake met pagi dulu sih” atau “ihh tadi malam kamu ucapin good night ke aku, sekarang kok enggak”, mungkin apa gue yang terlalu cemen buat ngatain hal yang sebenarnya ke dia?, ya menembak adalah satu-satunya alternatif bagi anak muda jaman sekarang *emang gue anak taun kapan?* untuk menyatakan perasaannya lewat kata kata verbal yang tersalurkan dari lubuk hatinya, kurang lebih itu definisinya. Tetapi karena gue orangnya bermental tempe yang kalau masuk rumah hantu di kepri hampir kecepirit, gue hanya bisa diam ketika bertemu dengannya, gue memang tipe cowok kuda laut yang kelebihannya adalah diam ketika ada orang.
Segala jenis usaha gue lakuin buat nyatain perasaan ke dia, pernah terpikirkan di benak gue ntar pas gue ngedate berdua dengannya di restaurant fastfood gue langsung joget joget india gak jelas menghampirinya supaya dia terpikat lalu joget sama sama di pohon pohon rindang sama air terjun. Tapi niat itu gue urungkan karena gue belum punya bulu dada yang lebat untuk menarik perhatiannya layaknya orang india yang punya bulu dada yang tumbuh liar.
Tapi dalam sejarah percintaan gue, gue gak pernah nembak cewek duluan. Gimana mau nembak, sebelum nembak aja udah di tolak duluan. Itulah salah satu faktor yang membuat gue dilema sampe sekarang. Dan juga sebenarnya gue bukan cowok tipe yang suka sama hal hal romantis, gue paling ogah nembak cewek, mendingan gue kawin sama anak kebo deh. Tapi cepat atau lambat pasti gue akan merasakan apa yang anak muda jaman sekarang *emang gue anak taun kapan?” lakukan terhadap pasangannya.
Dan juga gua gak mungkin pertahanin hubungan gue cuma gini gini aja, bisa bisa dia bisa kerebut oleh orang lain, gue pernah baca novel 5 cm karyanya Donny Dhirgantoro yang isinya pernah gue baca “the man have gotta to do” gue lupa artinya kamus gue ilang. Yang intinya “cowok pasti akan dapat apa yang dia mau”. Gue pasti gak selamanya akan mempertahankan gelar jomblo seumur hidup karena kurang keahlian soal menyatakan perasaan. Gak bisa gue bayangin pas umur 70 nanti gue masih jomblo yang merana, siapa juga yang mau sama kakek-kakek umur 70 tahun, mpok nori aja masih miki-mikir.
Setelah memikirkan hal itu gue langsung tertidur dengan pulas layaknya bayi gorilla yang sedang tidur. Memang kelebihan gue di dunia ini cuma tidur aja gue bisa tidur dengan kecepatan 40 km per jam *ceileeeh. Tapi setelah bangun dari tidur seperti dapet pencerahan oleh maha kuasa layaknya gue yang menemukan titik cahaya di dalam lorong yang gelap “gue harus sesegera mungkin melakukan hal itu” Batin gue dalam hati. Gue ingst kata kata om berkumis tebal yang di taxi itu “semua cinta itu harus diungkapkan gak ada cinta yang gak diungkapkan kecuali sama orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri” inilah kata kata yang memotivasi gue buat melakukan hal yang menurut gue susah dijalani layaknya ngerjain UN dengan 10 mata pelajaran. gak peduli dia suka gue atau enggak, gak peduli dia emang perhatian ke gue atau enggak yang penting ntar gue bisa dapetin perhatiannya dan bilang jujur ke dia tentang perasaan gue selama ini.
1 jam perjalanan tepat pukul 11:00 kapal pun berhenti di hangar pelabuhan sri bintan pura. Selama 1 jam perjalan gue mendapat 3 hal berharga, gimana kita harus optimis dalam melakukan suatu hal. Dan gue juga belajar bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan dari orang yang kita cintai, oh iya lupa gue juga harus menelpon ibu gue bilang kalau gue udah sampai di Pinang. Juga perhatian ibu yang harus kita hargai karena Who Knows bila seorang ibu itu tiada di dunia ini siapa lagi yang bisa ngasih kita perhatian seperti ini. Seorang ibu melakukan hal ini karena dia sayang dengan anaknya itu saja.
Pengarang Cerita: Urai Benny Novriady
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami