Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Pengorbanan Sahabat

Rabu, 29 Januari 2014 | komentar

Waktu itu tahun 2010. Waktu itu Mei duduk di kelas 6 SD. Mei adalah anak yang pintar, pendiam dan pemalu. Tapi, di kelasnya dia lah yang mengatur semua saat tak ada guru. Lebih tepatnya Mei lah yang berkuasa.
Seperti biasa Mei berangkat sekolah pagi-pagi dengan mengayuh sepedanya. Sesampai di sekolah, dia langsung mengisi absen. Hari-hari yang Mei rasakan setiap hari terasa membosankan baginya. Setiap hari yang dilakukannya sama. Pergi sekolah dan belajar. Apalagi ditambah dengan teman-temannya yang sering membuatnya mau meledak marah-marah.
Setiap hari.. Mei selalu berpikir. “Apakah teman-teman ku tulus berteman dengan ku? Apa teman-teman tak memanfaatkan ku?” Mei memang akrab dengan semua temannya. Tapi dia merasa tak pernah punya sahabat. Dia takut kalau-kalau hanya dimanfaatkan oleh temannya.
Suatu hari tak disangka entah mulai kapan Mei merasa punya sahabat. Akhir-akhir ini dia selalu mendengar curhatan salah satu temannya. Dialah Novi, anak yang digosipkan mulai kelas 4 SD punya perasaan sama temannya yang bernama Leo. Novi memang tidak pernah berkata langsung pada Mei bahwa dia menyukai Leo. Tapi Mei tau Novi menyimpan perasaan pada Leo, begitupun sebaliknya. Karena itu, Mei sekarang sering membantu Novi untuk dekat dengan Leo. Termasuk mencarikan informasi-informasi tentang Leo.
Tak terasa Mei mulai tertarik masuk ke dalam kehidupan Leo. Mei sering sekali berkomunikasi dengan Leo lewat handphone. Bercerita tentang Novi, barang yang disukanya, yang dibencinya dan lain lain. Tapi itu hanya di handphone. Tidak dengan di sekolah. Di sekolah, seperti biasa Leo dan Mei saling nyuekin. Padahal sebenarnya mereka akrab.
Keesokan harinya, Novi meminta bantuan Mei untuk menanyakan warna kesukaan Leo. Dengan mudahnya, Mei menyetujui permintaan sahabatnya itu. Akhirnya waktu jam pelajaran berlangsung, Mei melempar kertas kepada Leo untuk menanyakan warna kesukaannya.
Teman Leo, Andi anak yang paling suka buat keributan di kelas mau tau apa tulisan yang ada di kertas yang dilempar Mei pada Leo. Waktu Andi memegang kertas itu, pak guru mengambilnya. Ternyata… itu bukan kertas yang Mei lempar tadi. Melainkan kertas yang lain. “Fiiuuhh..” desah Mei lega. Mei bisa malu jika ketahuan.
Akhirnya Mei mendapatkan jawaban apa warna kesukaan Leo. Waktu istirahat, Mei langsung memberi tahu informasi itu kepada Novi. Entah apa yang mau Novi lakukan setelah dia mengetahui warna kesukaan Leo. Mungkin Novi mau memberinya hadiah. Tapi, entahlah. Mei tak mau ikut campur dengan itu. Mei selalu diajarkan oleh orangtuanya untuk membedakan mana yang membatu dan mana yang ikut campur masalah orang.
Sepulang Sekolah
Mei mendapat pesan dari Leo.
From : Leo
To : Mei
Mei, apa kamu punya nomer ponsel Novi?
Mei langsung membalas pesar dari Leo
From : Mei
To : Leo
Enggak! Emangnya kenapa?
Leo, aku boleh nanya satu hal gak? Kenapa sih kamu cuek banget sama aku waktu di sekolah. Padahal kita sekarang akrab.
Akhirnya Mei menanyakan juga apa yang selama ini dia pikirkan.
From : Leo
To : Mei
Sorry.. sorry! yah aku cuma gak mau ada gosip-gosip lagi. Kamu kan tau gimana temen-temen.
Hm..
Mei, kamu mau kan jadi sahabat aku?
Mei heran dengan pertanyaan Leo. Menurut Mei, selama ini Leo sudah menjadi sahabatnya. Dan akhirnya dia langsung membalas pesan dari Leo.
From : Mei
To : Leo
Menurut kamu selama ini kita gak sahabatan? Aku udah anggap kamu sahabat aku.
Sejak saat itu Leo dan Mei semakin akrab. Bukan hanya Novi yang menjadi topik obrolan mereka. Kadang mereka bertukar cerita, sharing, dan ketawa bareng. Mereka juga punya julukan masing-masing. Leo memanggil Mei dengan sebutan FF. Dan Mei memanggil Leo dengan sebutan SF. Itu sudak berjala sekitar 1 minggu. Makin lama Mei merasakan ada yang berbeda dengannya. Merasa ada sesuatu yang terjadi pada hatinya. Dia menyukai Leo.
Sebenarnya, Mei sudah menyukai Leo sejak 2 bulan yang lalu. Tepatnya sejak Mei memutuskan untuk membantu Novi. Tapi Mei tau tak seharusnya Mei mempunyai perasaan itu karena Leo adalah milik Novi. Mei juga tahu diri kalau mereka berdua sama-sama suka. Mei tak mau merebut apa yang menjadi milik sahabatnya.
Yang penting buat Mei sekarang, dia bisa dekat dengan Leo walaupun hanya sebatas sahabat. Tapi dia suka berada di dekat Leo. Mei sudah berjanji akan menjadi sahabat terbaik buat Leo. Dia akan terus membantu dua sahabatnya, Leo dan Novi.
Juni, 2010
Waktu rekreasi, Novi dan Leo bertukar kado dengan bantuan Mei.
“Mei, Leo mau minta bantuan kamu.” ucap Rozak dengan lirih
“Bantuan apa?” Balas Mei.
“Leo mau ngasi sesuatu sama Novi. Leo mau kamu yang ngasi ke Novi.” ujar Rozak.
“Kenapa gak ngasi sendiri aja?” Tanya Mei
“Katanya Leo malu” Jawab Rozak
“Dasar pemalu. Mau minta tolong sama aku aja, gak berani ngomong sendiri.” Gerutu Mei. “Ya udah mana barangnya.” ucap Mei menyetujui permintaan bantuan Leo. Setelah itu Mei langsung memberikan barang yang ingin dikasi Leo sama Novi.
Yang membuat Mei iri adalah Leo memberi Novi kalung bertuliskan nama NOVI. Tapi Mei langsung menghilangkan perasaan iri itu. Mei rela melakukan apasaja asalkan sahabatnya bahagia. Kalau Novi dan Leo bahagia, Mei juga akan bahagia. Mei adalah orang yang sangat menjunjung tinggi nilai persahabatan. Dia selalu mengalah untuk sahabatnya demi utuhnya persahabatannya.
Akhirnya tiba di akhir tahun saat perpisahan tiba. Mereka harus melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Leo, Novi dan Mei pisah sekolah. Mei sempat membujuk Leo agar mau satu sekolah dengannya. Tapi Leo bilang sudah terlanjur janji pada Andi kalau dia mau satu sekolah dengan Andi. Akhirnya mereka semua pisah sekolah.
Tiga hari menjalani Masa Orientasi membuat Mei dan teman-teman sibuk. Begitu juga Leo. Selama tiga hari, Mei dan Leo gak berkomunikasi. Setelah selesai Masa Orientasi, mei mencoba menghubungi Leo. Tapi Leo gak pernah merespon. Beribu kali dia mengirim pesan kepada Leo, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Karena sebal, akhirnya Mei memutuskan untuk tidak menghubungi Leo lagi.
Selama lebih dari satu tahun, Leo dan Mei tidak berkomunikasi. Dan tiba-tiba Mei mendapat kabar kalau Leo sudah mempunyai pacar di sekolahnya yang baru. Mei semakin sebal dengan Leo. Bukan karena dia masih menyukai Leo, tapi karena dia telah menyakiti Novi sahabatnya. Mei telah membuang jauh-jauh perasaannya sama Leo.
Mei sadar, bahwa perasaannya dulu sama Leo itu bukanlah rasa suka atau cinta. Melainkan Mei hanya suka dengan kepribadian Leo yang perhatian. Perasaan suka yang hanya sebatas teman menyukai kepribadian temannya. Mei merasa seperti itu karena itu adalah pertama kali ada laki-laki yang begitu memperhatikannya.
Sejak saat itu mei memutuskan untuk tidak mengurusi lagi semuanya tentang Leo. Mei mungkin marah sama Leo. Tapi Mei tidak bisa benar-benar melupakan Leo karena Leo adalah sahabatnya yang paling mengerti gimana Mei. Sampai saatnya Mei duduk di kelas 8 SMP. Waktu itu dia masuk di kelas unggulan. Mei mempunyai teman yang sangat baik, yang selalu membuatnya bisa tertawa gembira dalam hangatnya kekeluargaan. Dan dalam sekejap dia dapat melupakan segalanya yang berhubungan dengan Leo. Tapi Mei masih tetap menganggap Leo sebagai sahabat. Buat Mei gak ada kata yang namanya mantan sahabat.
Mei berharap suatu saat nanti dia dan Leo akan kembali seperti dulu. Menjadi sahabat yang tak kan terpisahkan. Mei tak akan pernah melupakan janjinya untuk menjadi sahabat yang terbaik untuk Leo. Mei akan selalu menunggu Leo untuk kembali menjadi sahabatnya.
~ TAMAT ~
Cerpen ini aku buat untuk mengenang masa lalu ku. Buat kamu yang udah mengetahui perasaan ku dulu sama kamu, aku harap kamu gak akan ngejauhi aku. Dan akan tetep jadi temen ku.
Penulis Cerita: Ismi Roichatul Jannah
 

Sahabat Dunia Maya

Senin, 20 Januari 2014 | komentar

Hoamm. Aku menguap pagi-pagi, tandanya aku baru saja bangun dari tidur lelapku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05.15 WIB. Aku bergegas turun dari tempat tidur dan keluar menuju kamar mandi. Aku mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat subuh.
Gita, itulah namaku. Aku memiliki nama lengkap Rigita Cahyani. Saat ini aku duduk di kelas IX di sekolah yang cukup terkenal di kotaku.
Hari ini adalah hari Minggu terakhir di bulan Januari. Sebenarnya hari Minggu itu tidak menyenangkan karena tidak ada kegiatan kecuali membantu orangtua. Hari ini aku sedang malas untuk melakukan kegiatan dan hari ini aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Aku berjalan menuju ruang tengah dimana terdapat televisi yang berada di lemari buvet. Aku mengambil remote TV, aku pencet-pencet tombol remote menggonta-ganti channel TV mencari acara yang menarik hari ini.
“Huuhhh… tidak ada acara yang menarik hari ini, sial”, kataku ketus sambil membanting remote TV ke sofa.
Aku berjalan menuju ruang kamarku. Aku membanting tubuhku ke spring bed, memandangi langit-langit kamarku.
“Malas banget aku hari ini. Pengen jalan-jalan tetapi tidak ada teman”, ketusku.
Aku mengambil handphone ku dan membuka layanan internet, tepatnya facebook. Aku jadi pengguna facebook sejak kelas VII dan sekarang aku kelas VIII. Kubuka akun facebook-ku dan saat itu aku ber-facebook ria sampai sore hari.
Aku pun menutup akun facebook-ku dan bergegas mandi. Menjelang petang aku coba menyalakan TV. Saat itu aku melihat acara yang sangat menarik, yaitu sinetron Cinta 7 Susun. Aku melihatnya dengan senang. Bagaimana tidak, pemain utamanya adalah salah satu girlband Indonesia yang fenomenal, 7 ICONS.
Yap, siapa yang tidak kenal dengan 7 ICONS? Girlband Indonesia pertama yan melejit lewat single Play boy nya. Sebenarnya aku suka 7 ICONS dari dulu tetapi aku kurang peduli. Akhirnya aku coba cari info tentang 7 ICONS di google. Info yang mengejutkan adalah ternyata mereka sudah pernah tampil di Seoul, Korea Selatan. WOW!
“Ckckck.. Hebat banget ternyata mereka sudah hampir Go Internasional. Salut banget sama mereka”, decakku kagum
Mulai hari itu aku jadi fans 7 ICONS atau yang sering disebut dengan Iconia. Di facebook aku coba cari teman Iconia, dan kutemukan namanya Esa yang sekarang kupanggil dengan sebutan Teh Esa. Aku mencoba berteman dengannya.
“Hai, boleh kenalan?”, sapaku di pesan facebook.
Olala, tak kusangka aku mendapat respon yang baik darinya.
“Boleh aja kok”, balasnya ramah.
“Hmm.. namamu siapa?”, tanyaku.
“Aku Esa. Kamu?”, balasnya dan bertanya balik.
“Aku Gita. Kamu Iconia?” tanyaku.
“Ya, kamu lihat kan nama FB-ku.”
“Ya, boleh gak aku tanya-tanya tentang 7 ICONS?”.
“Boleh aja. Dengan senang hati”.
Tidak terasa hari sudah malam, Berarti aku sudah mengobrol dengannya sekitar 2 jam. Baru saja aku mau mengeluarkan akun facebook-ku, tiba-tiba ada 1 pesan masuk. Aku pun membuka dan membacanya.
“Eh sudah dulu ya, aku sudah ngantuk. Kita lanjutin lewat SMS saja, ini nomer HP-ku 08xxxxxxxxxx dan jangan lupa nickname ya. Bye!” ujarnya mengakhiri percakapan.
What? Baru saja kenalan 2 jam yang lalu tetapi dia sudah mempercayaiku memberikan nomor HP-nya? Unbelieveble!
Dengan rasa tidak percaya akhirnya aku pun men-save nomor HP-nya. Heran, kenalan baru sebentar di facebook dan belum pernah bertemu sebelumnya. Tetapi ini kesempatanku untuk bisa kenal lebih dekat dengan teman baruku, Iconia.
Larut malam, aku tiduran di kamar. Ingin rasanya mengobrol lagi dengannya di facebook, tetapi…
“Gita, cepat tidur. Ini sudah malam. Ibu akan kembali dalam 5 menit dan kau harus sudah tertidur pulas. Mengerti?”, kata ibu mengancam.
Aku pun segera tidur karena tak berani melawan ibu.
Esok pagi aku terlambat bangun. Langsung saja aku bangun dan berlari menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Aku menunaikan sholat dengan tergesa-gesa karena matahari sudah hamper muncul di ufuk timur.
Selesai sholat aku mengambil HP-ku. Aku mencoba mengirim SMS untuk Esa dan ternyata nomor HP-nya masih aktif.
“Pagi… By Gita” sapaku mengawali percakapan lewat SMS.
“Pagi juga sayangku” balasnya lembut.
“Lagi ngapain? Udah bangun?” tanyaku.
“Lagi duduk menikmati udara pagi” balasnya.
“Kamu lahir tahun berapa?” tanyaku lagi.
“Tahun 1996” balasnya lagi.
“Kalau begitu aku panggil kamu teteh ya.” pintaku.
“Lho kenapa? Panggil Esa juga boleh kok”.
“Tidak enak. Umur aku lebih muda dari teteh”.
“Emang kamu kelahiran tahun berapa?”.
“Tahun 1999”.
“Oh ya sudahlah terserah kamu saja”.
“Thanks ya teteh geulis”.
“Kamu bisa saja”.
“…”
“…”
“…”
“Git, buka facebook yuk” ajaknya padaku.
“Boleh, ayo” jawabku.
Seperti biasa, sore menjelang petang aku menonton televisi dan menanti acara favoritku. Cinta 7 Susun, itulah acara sinetron favoritku. Aku menyukai acara itu karena pemainnya 7 ICONS. Disaat yang sama aku membuka facebook untuk mengobrol dengan para Iconia. Dari sinilah aku menjalin persahabatan dengan beberapa teman Iconia, di antaranya Teh Esa, Fitri, Aynie, dan Kak Tatu.
Awal pertemananku dengan Fitri yang sekarang kupanggil dengan sebutan Kabeb tidak jauh beda dengan Teh Esa. Tetapi aku dan Fitri tidak banyak basa-basi.
“Teman-teman, aku boleh minta nomor HP kalian tidak?” tanyaku di sebuah grup di facebook.
“Boleh kok. Ini nomor HP-ku 08xxxxxxxxxx” balas Fitri di kolom komentar.
Pertemanan aku dengan Aynie dan Kak Tatu juga tidak jauh beda. Semua berawal dari sinetron Cinta 7 Susun yang membuat aku dan Iconia saling bertukar pikiran.
“Hey teman-teman, kita ketemu yuk. Pengen liat wajah-wajah kalian” Umbar Kak Tatu di facebook.
“Boleh, tapi kapan and dimana?” tanya Teh Esa.
“Di Jaksel bagaimana? Setelah lebaran” jawab Kak Tatu.
“Wah, aku mau banget” ucapku dengan semangat.
“Aku mau banget ikut, tetapi tidak mungkin” keluh Aynie.
“Kenapa?” tanya Kak Tatu.
“Iya kak. Aku sama seperti Aynie, tidak mungkin bisa ikut” keluh Fitri juga.
“Ish, ya sudah. Kenapa tidak bias Ay, Fit?” tanya Kak Tatu yang terlihat geram.
“Aku tidak mungkin dapat izin dari orangtua karena jaraknya jauh” ucap Aynie.
“Sayang sekali. Kamu asal kota mana?” tanya Teh Esa menyayangkan.
“Aku dari Padangsidimpuan, sedangkan Aynie dari Medan. Iya kan Ay?” jawab Fitri seraya meminta persetujuan dari Aynie.
“Iya benar banget Fit” kata Aynie membenarkan ucapan Fitri.
“Jauh banget. Tetapi sepertinya aku juga tidak boleh” keluhku kemudian.
“Emang kenapa, Git?” tanya Teh Esa.
“Aku masih kecil, belum mempunyai KTP. Tidak mungkin dapat izin dari orangtua” jawab dengan lesu.
“Ya sudah, ini kan baru planning. Nanti kita lihat kedepannya bagaimana. Tenang saja, keep smile all” ucap Kak Tatu menghibur.
Dari situlah aku berpikir ‘apakah aku bisa dapat izin untuk ke Jakarta?’. Aku bingung, sudah pasti orangtuaku tidak memperbolehkan karena aku tidak diperkenankan pergi ke luar kota sendirian.
“Ah, andai saja aku bisa menghilang untuk pergi kemana pun yang aku mau” ucapku berandai-andai.
“DRRTT…DRRTT…”
HP-ku bergetar. Aku menggeliat di atas kasur. Kuambil HP-ku dan ternyata ada SMS masuk. Aku membuka isi SMS itu.
“Pagi” sapa orang di ujung sana.
“Ini nomor siapa ya, baru masuk di HP-ku” tanyaku pada diri sendiri.
“DRRTT…DRRTT…”
“Pagi” sapanya lagi.
“Ya Allah, siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah SMS aku? Tidak memberi nickname lagi” ucapku kesal dan ketus.
“Pagi juga. Ini siapa pagi-pagi sudah SMS kemari tetapi tidak member nickname?” balasku kesal.
“Maaf, Git. Aku Aynie. Ingat kan?” jawabnya yang ternyata Aynie.
“Oh, eh Aynie. Maaf ya aku sudah berperasangka buruk padamu” ucapku dengan lega.
“Sepertinya kamu baru saja bangun tidur. Aku SMS kamu sekitar 30 menit yang lalu dan baru mendapat balasan sekarang” ucap Aynie.
“Iya. Semalam aku tidur terlalu larut” balasku mengiyakan.
“Kalau kamu mau melanjutkan tidur silahkan saja. Have a nice day” ucapnya.
Hmm.. Aynie baik juga dan enak buat jadi teman mengobrol, batinku. Aku pun meletakkan HP-ku dan keluar dari kamar tidur. Hari ini aku memilih untuk mandi agak siang karena air pagi ini sangat dingin. Maklum sekarang sedang musim penghujan.
Aku kembali ke kamarku. Kuambil HP-ku dan ada 3 SMS masuk. Aku membacanya satu persatu dan semuanya isinya adalah sapaan selamat pagi padaku. SMS itu datang dari Teh Esa, Fitri dan Kak Tatu. Aku heran, hanya sebatas teman facebook saja mereka ramah padaku dan belum pernah bertemu sekalipun. Tetapi aku bersyukur karena mereka mencoba baik terhadapku.
Hari demi hari, bulan demi bulan berganti, akhirnya sampailah pada akhir cerita sinetron Cinta 7 Susun. Semua Iconia, termasuk aku, sangat sedih karena 7 ICONS tidak bisa lagi menghibur Iconia setiap harinya. Namun kita sadar, mengingat 7 ICONS adalah girlband yang menonjolkan kemampuan singing and dancing, kita pun bisa menerimanya. Apalagi mereka mau processing album baru yang terhambat karena sinetron syuting striping.
“Sedih sinetron Cinta 7 Susun tamat”.
“Semoga sukses saja buat 7 ICONS”.
“Cepat main film baru ya”.
“We love you, film baru kalian akan kami tunggu”.
“…”
“…”
Itulah kata-kata yang dilontarkan para Iconia di facebook. Berakhirnya sinetron Cinta 7 Susun membawa dampak, termasuk padaku. Hubungan persahabatan antara aku, Teh Esa, Kabeb Fitri, Aynie dan Kak Tatu sedikit renggang. Entah mengapa, tetapi itu tidak lepas dari kesibukan masing-masing.
Aku mencoba untuk merapatkan kembali hubungan persahabtan itu, dan ada sedikit kemajuan. Kita telah kembali bisa mengobrol seperti biasa lewat facebook atau SMS.
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa kami telah menjalin persahabatan selama 7 bulan, itu artinya sudah banyak obrolan yang dibahas. Selain ngobrol kita juga curhat. Entah mengapa, kok sepertinya lebih menyenangkan bersahabat dengan teman dunia maya disbanding dengan teman dunia nyata. Entahlah aku tahu.
Sampai sekarang aku masih berkomunikasi dengan mereka walaupun tidak sesering dulu, kesibukan menjadi alasan utama. Tetapi tak mengapa, aku bahagia dengan persahabatan ini, persahabatan antara Iconia. Walaupun kita sangat akrab di facebook atau SMS, tetapi satu impian kita belum dapat terwujud sampai saat ini, yaitu ingin bertemu satu sama lain dan ingin bertemu dengan idolaku, 7 ICONS. Entah kapan aku tahu karena jarak yang teramat jauh. Teteh Esa, Kabeb Fitri, Aynie, Kak Tatu… I MISS YOU LIKE MY FAMILY !!
I WANT MY DREAMS BE COME TRUE..
You will always be my friend
Always nempel di hati
Karena hanya kamu
Yang warnai hariku
Cause you are my friend
~ 7 ICONS _ My Friend ~
Penulis Cerita: Rigita Cahyani
 

Berjuanglah

Selasa, 14 Januari 2014 | komentar

Hari ini pengumuman SNMPTN. Wajar jika hati ini ketar-ketir. “udahlah kamu pasti keterima. nilaimu lo bagus” kata septi. Aku hanya tersenyum, tapi hati ini masih tak karuan. Fikiranku melayang – ada fikiran. Ada kok kakak kelasku dulu yang pintar, nilai bagus tapi dia tidak diterima.
Sore tepat pukul 17.00 wib aku ke rumah guruku bersama teman-teman rencannya mau melihat hasil SNMPTN. “Bismillah” ku ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahirku. Tertulis ‘Maaf’ bewarna merah. Tak kulanjutan lagi. Kata itu sudah menggambarkan jelas bahwa aku tidak lolos. Tubuh ini terasa lemas. Tapi aku berusaha tegar di depan teman-teman. “gimana? diterima?” tanya guruku. Aku hanya menggelengkan kepala. “ya udah gapapa, belum rejekinya” kata pak Reno “Iya pak” kataku. “sholat maghrib aja dulu cah,” suruh pak reno kepada kami “iya pak” jawab kami bersamaan. Sesudah sholat kupanjatkan doa kepada Tuhan, tak terasa air mata ini membasahi pipiku. Tak kuasa lagi kubendung air mata ini.
Hari telah malam, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, kedua orang tuaku telah menanti “gimana? lolos?” aku hanya menggelengkan kepala. Akupun langsung ke kamar. “ayah, ibu, maaf aku telah mengecewakan kalian” sambil kuteteskan air mata.
Dua hari ini aku masih seperti malam itu, kalau teringat lagi rasanya pengen nangis. “stop, jangan biarkan keadaan ini semakin berlarut. Hidup harus diperjuangkan bukan tuk disesali, keadaanmu takkan berubah hanya dengan disesali” tiba-tiba kata kata itu keluar dari muluku. Ya, memang benar hidup harus diperjungkan, termasuk memperjuangkan agar masuk PTN. Sekarang akupun fokus untuk mengikuti SBMPTN. Soal-soal SBMPTN beberapa tahun yang lalaupun mulai ku kerjakan. Setiap kali tubuh ini mulai terjangkit rasa malas, aku selalu berkata hidup ini harus diperjuangkan, ayo kamu pasti bisa, kalau mereka bisa kamu juga harus bisa.
Dua hari sebelum SBMPTN aku berangkat bersama teman-teman ke Malang naik kereta api. “ibu, mohon doa restunya, semoga saya bisa mengerjakan soalnya dengan benar” kataku sambil mencium tangan ibuku “iya, ibu doakan kamu supaya berhasil” jawab ibuku. Aku bersama teman-temanpun mulai menaiki kereta kami. Terlihat dari kaca ibuku memandangiku dengan penuh rasa harap.
Tepat pukul 16.25 wib kami tiba di kota malang. “Selamat sore malang…” ucapku lirih. Kami menunggu angkot sepi yang lewat. Maklum karena kami ada 12 orang jadi harus nunggu angkot sepi. Tak lama kemudian tiba angkotnya. Kami masuk. Setibanya di kost-kostan kamipun langsung ambruk ke kasur yang ada “capek yaa” kata fina “iya,” jawabku. “eh, sholat dulu, nanti keburu magrib” kataku “iya, kamu dulu aja yang wudhu, lalu aku” kata fina “iya” jawabku. Akupun langsung menuju kamar mandi. Ambil air wudhu kemudian sholat. “laper nih, gimana kalo cari makan” kata fika “iya laper juga nih” kata vila “yuk yuk” sahutku bersama kawn-kawan. Kamipun keluar dari tempat kost, di depan terlihat temen-temen cowok “mau cari makan ya?” tanya lio “iya, bareng-bareng aja lek gitu” jawabku. Teman temanpun setuju. Kami berjalan menyusuri jalan. Di sekeliling banyak warung warung. Kamipun memilih warung ‘sederhana’ tuk makan.
Hari ini merupakan hari perjuangan. Hari perjuangan tuk menaklukan soal soal SBMPTN. Tepat pukul 6.30 WIB. aku, fika, fela dan rio berangkat menuju UIN Malang naik angkot. Sebab jarak UIN dari kostan kami agak jauh. Sesampainya disana sudah banyak orang yang datang. “ya Allah, berilah kemampuan bagi hamba agar hamba bisa mengerjakan soal soal nanti dengan benar, amiin” doaku sebelum aku masuk UIN.
Pengawas meminta kami masuk ruangan. Soal TPA telah aku selesaikan, walaupun tak semuanya, paling nggak aku sudah ngerjain lebih dari separuh. Soal kedua TKDU. “aku harus ngerjain soal ini minimal separo dari soal yang ada” kataku lirih. Akupun mulai membuka lembar lembar soal. Ya Allah soalnya, luar biasa aku nggak ngerti… ini mana yang mau aku kerjakan. Akhirnya aku ngerjain matematika dulu, aku pilih pilih soal yang kira kira waktu garapnya tak lama. beberapa soal telah usai. Waktu tinggal 40 menit bahasa indonesia dan bahasa inggris belum tersentuh. ada rasa mulai panik. Bacaan pertama bahasa indonesia telah kubaca tapi gak mudeng – efek panik. mulai ku konsentrasikan fikiran “hayo, konsen-konsen” terucap kata itu ari mulutku. Soal bahasa inggrispun mulai kupilih pilih. Waktupun terus berjalan. mulai kuisi jawaban demi jawaban soal. tak terasa waktu tinggal menit, kucek nama, kode dan tanggal lahir – sudah. Tak lama kemudian pengawas meminta kami tuk keluar ruangan. “gimana?” tanya bimsa-teman yang baru ku kenal pagi ini. Aku hanya tersenyum. Bingung mau jawab apa.
Aku, fika, fela dan riopun bertemu di depan gedung B. kami berjalan menuju gerbang. “tadi gimana?” tanyaku “susah” jawab fika. “sama kalo gitu” jawabku. kamipun berjalan menuju gerbng disertai bincang-bincang tentang soal-soal tadi. Di depan sudah banyak orang yang mengantri. Sudah 15 menit kami menunggu angkot. Angkot yang menuju tempat kost kami semuanya penuh. “gimana? jadi naik angkot atau jalan kaki ni?” tanyaku “jalan ae yaa, nunggu nanti yo lama, penuh semua” kata rio “yo lek gitu” jawab fika. Kamipun berjalan menyusuri jalan. Sekitar separuh perjalanan rasa haus mulai datang. “ch ra enek bakules ye?” tany rio “nggak tau, di depan mungkin” jawab fela. Akupun juga merasa haus. Siang siang jalan kaki myusuri jalan, kudu semangat biar bisa sampai kost. Akhirnya di depan ada penjual jus. “cah, itu da penjual jus, mampir ya?” tanya rio “yo” jawab kami bersamaan. Juspun telah kami terima. “itu angkote kosong” kataku sambil menunjuk sebuah mobil biru. “iya,” jawab fika. Kamipun segera berlari menuju angkot tadi. “alhamdulillah, dapet angkot” kataku. Teman teman hanya tersenyum.
Tes hari kedua berjalan lebih luar biasa dari kemarin. Banyak soal yang tak aku mengerti. Sekeluar dari ruangan aku hanya terdiam, berjalan menuju gerbang. “ya allah, gimana ini? soal tadi sulit, mungkinkah jika hamba bisa lolos?” kataku dalam hati. Sesampainya di gerbang kami menunggu angkot lagi. seperti kemarin, kamipun harus pulang jalan kaki, dan hari ini kami malah harus pulang sampai kost jalan kaki. “cah, laper?” kataku “iya nih laper” kata rio. kamipun menuju warung dekat kost dn memesan makanan.
Sesampainya di kostan aku meletakkan kepalaku di atas bantal. Riva menghampiri kamar kami “kok baru pulang” tanya riva “iya, baru olahraga” jawabku. ia bingung. “jalan kaki dari UIN,” kataku “apa? Jalan kaki..” kata riva “iya” jawab fika. “ya udah istirahat dulu” kata riva. aku hanya tersenyum. Tak lama kemudian aku pergi menuju kamar mandi. Kemudian ku ambil air wudhu dan sholat dhuhur. Selesai sholat ku sampaikan semua rasaku kepada Allah. “ya Allah, hamba mohon kepadamu, berikanlah pertolonganMu kepada hamba, agar hamba bisa diterima, ya Allah hamba mohon hanya Engkau yang bisa membantu hamba, hamba tidak ingin mengecewakan kedua orang tua hamba lagi” tak terasa air mataku kini telah membasahi pipiku.
Hari ini kami pulang ke Tulungagug. “gimana soalnya?” tanya ibuku. Ku tak ingin membuat ibuku khawatir “ya yang saya bisa, saya kerjakan” jawabku. “sulit?” tambah ibu. Aku hanya tertunduk.
Hari hari berjalan. Aku khawatir hasil Seleksi. “jangan terlalu dikhawtirkan, kalau memang rejeki ya diterima, kalau belum rejeki, mungkin ada jalan lain yang Tuhan pilihkan untukmu,” kata ayah. aku terdiam. Memang benar ucapan ayah. tapi aku ingin kuliah, dan diterima di universitas yang kupilih.
Sudah beberapa hari aku terdiam. Memikirkan seleksi. Rasa khawatir selalu mencul. Aku berharap aku bisa diterima. Setiap ku selesai sholat, aku selalu berdoa kepada Allah agar bisa diterima di universitas yang aku pilih.
Hari ini hari pengumuman hasil seleksi. Ku ambil lepiku dan kupasang modem. “hari ini pengumuman ya?” tanya ibu. Aku mengangguk “bismillahhirrohmannirrohim, semoga hasilnya sesuai dengan harapan, amiin” kataku lirih. Ku pilih lihat hasil. Tulisannya. ‘selamat, anda diterima di..’ tak kulanjutkan membaca. “ibu, aku diterima” kataku. Aku memeluk ibuku. Ibuku tersenyum, ia melihat lepiku. Aku pun kemudian bersujud. “ya Allah terima kasih, Engkau telah membantu hamba, hingga hamba bisa diterima, ya Allah terima kasih”
Tak ada yang tak mungkin selagi kita mau berusaha dan berikhtiyar
Tuhan akan selalu membantu hambanya yag mau berusaha dan berdoa
Penulis Cerita: Ievfa
 

Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat Kecilku

| komentar

keputusan terkadang membuktikan bahwa ini adalah hal tersulit yang harus dibuat. terutama ketika itu adalah pilihan antara: dimana kau bisa mengambilnya dan di mana kau benar-benar menginginkannya.
[ ... suasana begitu sepi. hampir tak bersuara. sunyi menyelimuti seluruh ruang. Ya, ruangan yang dulunya menjadi permulaan. Dimulainya sebuah pilihan. Tempat dimana ada langkah 2 kaki kecil yang berjalan pelan. Ragu-ragu, tapi enggan membalikkan arahnya. Dengan helaan satu nafas panjang, kepala yang tertunduk itupun mencoba tegak. Perlahan melangkah menuju sudut lorong dan mengangkat tangan kananya. ]
Hari ini suasana sangat hingar bingar. Begitu ramainya sorakan dan teriakan. Anak-anak berseragam coklat tak henti-hentinya berteriak kegirangan. Berjingkrakan, histeris seolah-olah mendapat lotre 1 milyar. Dalam pandangan mata terlihat sebagian orang merasa begitu gembira, sebagian orang merasa berduka dan sebagian lainnya yang sibuk mondar-mandir membawa map yang entah apa isinya. Pandanganpun tertuju pada sekumpulan orang yang bersedih. Dengan air mata dan penyesalan tak henti-hentinya terucap dari bibir. Mungkin hanya sisa-sisa penyesalan bagi mereka. Bagai tembok yang sudah lama mereka bangun, dan runtuh begitu saja.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri. Wajahnya tampak lelah, berkeringat, seperti menghabiskan hari di terik panas. Bersama rekan-rekannya mereka menghampiri sekumpulan orang yang sedang panik. Dibalik bisingnya pengeras suara, dan hiruk pikuknya sekitar dia berkata.
“Malam kak.”
“Ya, malam juga.” Orang itu menjawabnya sembari membalas juluran tangannya untuk bersalaman.
“Bagaimana ini bisa terjadi kakak?”
Orang itu hanya tersenyum, terdiam sesaat, memejamkan mata dan menundukkan kepala ke bawah.
Terlihat bagian bawah sebuah kursi kerja yang secara perlahan-lahan naik. Tampak punggung seorang pria sedang asiknya bergulat dengan komputer berserta setumpuk kertas. Suasananya begitu ramai, terdengar bising karena suara pita mesin printer yang terus berteriak.
Inilah aku sekarang, dengan rutinitas kerja, pekerjaan, mengharapkan penghasilan.
Terlihat di sebelah kanan sebuah papan putih dengan sebuah kertas besar menempel hampir di tiap sudutnya. Disana tertulis daftar pekerjaan beserta tanggal yang harus dituntaskan.
“Sedikit lagi dan.. Selesai.” Bersamaan dengan kutekan tombol bertuliskan enter.
“Memang sudah selesai Jok?” Tanya seorang wanita di depanku.
“Sudah. Ini yang terkahir. Berharap aja si cantik gak marah lagi.” Sambil mengelus-elus sebuah printer bertuliskan Epson T1100.
“Bagus deh. Siapa tau gak uring-uringan lagi Bos kita.”
“Dia mah, tiap hari uring-uringan Mpok. Mau tanggal muda, tua sama aja. Dah jam 1 nih, mau titip makan gak Mbak Tari?” Tanyaku sembari mengambil handphone dan sebungkus rokok dalam laci.
“Gak usah, udah nitip tadi sama Arif.” Jawab Mbak Tari dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Akupun bergegas pergi menuruni anak tangga menuju ke pintu utama.
Seperti hari yang sudah-sudah, siang itu aku mengambil tempat duduk di pojok rumah makan. Datanglah menu makanan yang biasa kupesan tiap hari.
Hanya akulah yang saat jam istirahat siang memilih untuk makan di luar. Karyawan lain memilih untuk memesan dan memakannya di kantor. Alasan mereka sih, takut bos dateng mendadak. Tapi bagiku harus ada setidaknya satu jam untuk bebas dari penatnya pekerjaan, walau Bos agak kurang suka dengan kebiasaan ini. Dengan kalimat yang tak terbantahkan “Client itu harus diutamakan. Kalau client mau ngurus, di kantor gak ada orang, masalah buat kita.” Tak kugubris, karena karyawan pun punya hak untuk istirahat.
Butuh waktu setengah jam untuk menghabiskan hidangan di piring. Setelah itu barulah membuka kotak yang tadi saya ambil dari laci lalu melakukan kebiasaan yang menurut sebagian orang kurang baik. Hampir tiap hari saya mengobrol dengan orang-orang yang ada di tempat itu. Kebanyakan dari mereka membicarakan masalah pekerjaan, ada juga yang coba menawarkanku bisnis. Tapi yang lebih sering adalah membicarakan wanita. Entah selalu saja ada topik untuk perempuan. Dari semua sudut pandang, selalu menyenangkan.
Tiba-tiba hanphone berdering. Kulihat ternyata ada pesan singkat dari nomor yang tak kukenal. Isinya adalah “Kakak, besok bisa dateng gak ke SMP, ada undangan dari kepala sekolah. Bales ya kak. Dari : Citra.” Saya pun membalas sms hanya dengan satu kata “Insya Allah”. Tak lupa juga menyimpan nomornya ke daftar kontak : SMP Citra.
Keesokan harinya saya sibuk bekerja.
Tak terasa sudah dua tahun bekerja. Semakin lama bekerja, semakain banyak juga pressure dari Bos besar. Hubungan kami semakin dekat. Buktinya dia sangat memperhatikanku. Bukan untuk pujian. Tapi makian besar yang datang karena banyak pekerjaan yang molor, salah dan tak dikerjakan. Semakin hari semakin banyak juga daftar order yang harus selesai. Berita baiknya adalah : saya tak perlu gusar karena omset semakin naik. Itu berarti besar kemungkinan naik juga taraf hidup. Tapi berita buruknya adalah : tak ada tambahan waktu. Deadline harus seperti biasanya. Saya harus bisa!
Pada kenyataanya semua terbengkalai. Akupun tak luput dari kata disalahkan. Terus menerus disalahkan. Sebagai manusia Akupun mengajukan tuntutan. Logikanya adalah jika pekerjaan bertambah banyak, harus diseimbangkan juga dengan sumber daya. Opsinya yaitu penambahan perlatan pendukung, pekerja dan yang paling penting kesejahteraan karyawan. Sang Bos menyetujui hal ini. Saya naik pangkat. Punya anak buah, peralatan pendukung, tapi tidak dengan gajinya. Angan-angan untuk meningkatnya penghasilan tidak terealisasi. Saya bersyukur atas hal ini.
Sampai suatu hari Bos marah besar. Masalahnya sepele, tapi berhubungan dengan relasinya. Dipuncak kemarahannya, Sayapun tak bisa tinggal diam. Lalu semua tak terhindarkan. Bos memberikan 2 pilihan. Pertama saya terus melanjutkan pekerjaan dan tak ada tambahan ini itu atau dia akan mencari orang baru. Akhirnya aku memilih keduanya. Kukerjakan semua pekerjaan yang kadung kuambil, dan dengan segera berpamitan kepada rekan-rekan kantor.
Dua bulan berlalu, kini hanya tinggal sebuah pekerjaan yang sejak lama kudapat. Awalnya pekerjaan ini hanya sampingan. Pekerjaan yang tak bisa diharapkan. Tapi nyatanya sekarang hanya itulah yang saya punya. Pekerjaan yang sudah 2 tahun tak kukerjakan sejak menerima pekerjaan besar. Tapi masih tetap dapat uangnya. Gaji buta. Ya, itulah sebutan yang pantas untuk hal ini. Hanya datang untuk mengisi absen lalu pulang. Menjadi seorang pembina ekstrakulikuler Pramuka memang sudah kugeluti sejak SMP. Dan sekarang membina sekolah yang dulunya menjadi tempat saya belajar. Karena belum mendapat panggilan kerja, kuputuskan sementara membina lagi.
Pagi sangat cerah. Lagit berawan riang dan matahari tampak berseri-seri. Hari ini ada latihan pramuka. Ada satu pesan singkat masuk ke handphoe. Isinya “Kak, hari ini latihan pramuka jam 9. Anak-anak udah dikasih tau kemarin. Dari : SMP Citra.”
Jam 8.30 saya datang ke sekolah. Kebetulan hari itu ada rapat untuk seluruh pembina ekstrakulikuler. Saya pikir ini saat yang tepat untuk bertemu kepala sekolah.
Acara rapat berjalan lancar. Membahas program sekolah yang diselaraskan dengan ekstrakulikuler. Diakhir rapat, kepala sekolah memanggil saya untuk datang ke ruangannya. Dalam hati saya berkata pasti ada sesuatu.
Tok.. tok.. tok..
“Asalamualaikum.” Suaraku saat berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah.
“Walaikum salam, masuk pak Joko. Silahkan duduk.”
“Iya pak, Terima kasih.” Sahutku.
“Maaf ni, Saya mengganggu jadwal latihan pramuka.”
“Iya Pak, tidak apa-apa.”
“Sebetulnya saya sudah melihat perkembangan peserta didik pramuka. Prestasi akademiknya memuaskan. Tapi saya belum pernah melihat latihan tiap minggunya ya Pak Joko.” Ucap Kepala Sekolah.
(Jleb… skak mat deh, langsung to the point pula.)
“Kalau Pak Joko masih punya waktu untuk membina siswa, saya sangat mengharapkan agak digalakkan kembali eskulnya.” Pinta Kepala Sekolah.
(Saya tersenyum)
“Tetapi kalau memang tidak mempunyai waktu luang, saya bisa mengambil keputusan hari ini. Sudah ada lamaran untuk posisi yang Pak Joko tempati sekarang. Latar belakang pendidikanya sangat bagus dan kompetensinya menurut saya sangat luar biasa.” Lanjut Kepala Sekolah.
Saya terkejut. Sepertinya ini adalah hari terakhir saya di sekolah ini.
“Kalau untuk keputusan saya menyerahkan sepenuhnya kepada Bapak. Tapi untuk saat ini saya siap membina dan menggalakkan kembali eskul pramuka Pak.” Jawabku dengan pasrah.
“Pak Joko punya sertifikasi pelatihan Pramuka atau sejenisnya?” Tanyanya.
“Untuk itu saya belum punya Pak.”
“Lantas bagaimana membandingkan kemampuan Bapak, saya sebenarnya ingin mempertahankan Bapak di sekolah ini, mengingat Bapak juga alumni dari sekolah ini. Saya yakin Bapak akan lebih memberikan sumbangsih ketimbang saya mempercayakan orang lain.” Kata Pak Kepala.
“Apa dalam cv orang itu disebutkan juga membina sekolah lain Pak?” Tanyaku seperti reporter.
“Iya, sekolah yang sama statusnya dengan sekolah ini.” Kepala sekolah dengan yakin menjawab.
“Menurut Bapak, apakah untuk Rancangan Sekolah Bertaraf Internasional menetapkan syarat kompetensi untuk tiap-tiap pembina eskul?” Tanyaku dengan serius.
“Iya, memang ada standarisasinya. Sekolah kita ini merupakan sekolah model. Dan alangkah baiknya dengan pendidik yang berkompetensi. Untuk masalah sertifikasi bisa dilengkapi kok. Yang jadi masalah sekarang yaitu tingkat keaktifan kegiatannya.” Jawab Kepala sekolah dengan mantap.
“Ya saya sih mengikuti apa keputusan Bapak. Jika Bapak masih memberikan saya kesempatan, saya siap mengaktifkan kembali organisasi pramuka.” Ucapanku untuk meyakinkan Kepala Sekolah.
“Nah, seperti ini yang saya inginkan. Sekaligus saya ingin memberitahukan bahwa ada undangan perlombaan dari Smpn 60 Nusa Biru. Levelnya tergolong besar, mewakili 3 Propinsi. Apalagi sudah ada surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan.”
Lalu Pak Kepala menyodorkan surat itu di depanku.
Tampak bagian paling depan surat undangan ditempel sepucuk kertas bertuliskan Acc Kepala Sekolah. Mohon pembina mengikuti acara ini dan mempersiapkan siswa sebaik mungkin. (ditanda tangani)
“Bapak siap?” Pak Kepala Sekolah bertanya cukup serius.
“Siap Pak.” Jawabku tegas.
“Kira-kira bagaimana kemampuan anggota saat ini?”
“Untuk itu saya belum bisa mengukur kemampuan keseluruhan anggota Pak.” Kilahku.
“Lalu apa targetnya? Orang yang melamar kemarin mengatakan bahwa sekolah yang Ia bina sekarang juga mengikuti lomba itu.”
Dengan satu helaan nafas, saya memantapkan diri.
“Juara Umum Smp Pak.”
“Jika tidak?” Pak Kepala terlihat mengamati wajah saya.
“Sebaiknya anggota dibina oleh orang yang lebih berkompeten Pak.” Jawabku karena tak ada pilihan lain dan Kepala Sekolahpun tersenyum.
Dengan berbekal sebuah undangan lomba, saya berkumpul dengan anggota-anggota pramuka. Dan akhirnya saya bertemu dengan pemilik salah satu nomor kontak yang bernama Citra. Latihanpun dimulai. Saat istirahat latihan saya memanggil Citra. Saya juga memanggil teman-temannya untuk mengobrol agar lebih akrab. Saya menanyakan bagaimana mereka melalui hari-hari latihan selama saya melupakan mereka. Saya benar-benar mengamati semua jawaban dari anggota satu persatu. Semakin mendengar, semakin jelas sosok saya dimata mereka. Ibarat mengarungi padang pasir, mereka tak berhenti berjalan. Tak terpikir jika salah arah, tak tahu bagaimana ujung perjalanannya, karena mereka hanya meyakini satu tujuan. Apa tujuannya? Jawabannya adalah seseorang yang selama ini tak menghiraukan mereka. Seseorang yang dengan kesibukannya tak sedetikpun bertatap mata dan bertegur sapa. Saya benar-benar telah berdosa selama ini.
Mata ini melihat mereka berbicara tetapi telinga ini tak mendengar apapun. Hanya terbayang jika saat ini saya masih bekerja, tentunya sibuk dengan pekerjaan. Padahal dilain tempat ada sekumpulan anak-anak yang menanti. Terbayang lagi saat setumpuk uang masuk ke dalam dompet. Mulai berbelanja untuk diri sendiri. Sibuk dengan kesenangan dan hura-hura. Disisi lain ternyata ada orang-orang yang terus menerus percaya dan percaya dan percaya.
Bagaimana mereka bisa seperti itu?
“Itu undangan lomba kak?” Tanya citra seraya menyadarkan saya.
“Iya.” Pungkasku.
“Kita ikut kak?” Tanya seseorang di sebelahnya dan ternyata itu adalah Yumi.
“Kalau kalian mau.” Sambil tersenyum.
“Emang kita bisa menang kak?” Tanya Citra.
“Insya Allah bisa, saya yakin kalian bisa menang. Bahkan juara umum.”
“Tapi kita kan belum pernah lomba. Kakak gak boong lagi kan?” Tanya Citra yang tampak ragu-ragu.
“Saya yakin kok, kalian juga harus yakin. Saya minta maaf ya kalo pernah buat kalian kecewa.“
Tampak raut muka yang yang tak bisa kulupakan di wajah mereka.
“Kalo nanti juara umum, kakak harus janji sama Aku ya.” Pinta Citra.
“Apa? Permintaanya gak macem-macem kan?” Tanyaku ingin tahu.
“Nanti aku kasih tahu.”
“Oke, sekarang kita rapat untuk nentuin siapa yang ikut ya.” ]
Upacara pembukaan lomba dimulai. Setelah mengatur adik-adik di ruangan kelas yang telah disiapkan, saya beristirahat sejenak. Tiba-tiba saja telpon genggam berdering. Tertulis di layar Panggilan : Arif kantor.
“Asslaamualaikum. Halo… Ada apa Rif?”
“Waalaikum salam. Iya pak bos, gimana kabarnya?.” Jawab Arif.
“Alhamdulillah sehat.” Sahutku.
“Situ udah dapet kerjaan baru apa belum?”
“Belum, masih nunggu panggilan. Situ punya info kerjaan baru gak? Minta channel dong. hehehe.”
“Kebetulan ni, sejak ditinggal situ kerjaan gak ada yang bener. Baru 2 bulan udah ganti karyawan 4X. Gak ada yang sanggup sama kerjaan situ.” Kata Arif menjelaskan duduk perkaranya.
“Terus?”
“Kemarin saya ngobrol sama Bos. Bos mau nawarin situ lagi. Masalah gaji dia sanggup bayar 2X lipat dari kemarin. Kalo situ mau nanti jam sepuluh kita ketemuan bertiga di rumah makan samping kantor. Gimana?”
Saya terdiam sejenak. Masih menimbang apakah kembali ke tempat lama.
“Udahlah.. gak usah dipikirin lagi. Kesempatan emas ini. Bos udah sadar kok kalo kerjaan situ emang gak ada yang bisa gantiin. Apalagi sekarang order makin nambah. Lagian jarang-jarang Bos berani bayar mahal.” Bujuk Arif.
“Tak pikir dulu ya, kalo nanti jam sepuluh saya gak kesana, berarti kamu tau kan.”
“Oke. Ditunggu ya kehadirannya.”
Jam tangan menunjukkan pukul sepuluh lewat tujuh belas. Saya hanya duduk dengan beberapa adik-adik Smp yang belum lomba karena menunggu nomor tampil. Saya memutuskan tak menemui Arif dan Bos besar. Tidak untuk saat ini. Saya tak mau lagi meninggalkan mereka untuk kedua kalinya. Saya kembali bercengkrama dengan sekitar.
Jam tangan menunjukkan pukul 18.40 wib. Saya tak bisa mendengar sekeliling. Hanya selembar kertas yang kugulung dan kugenggam dengan eratnya. Mata ini hanya tertuju ke arah seseorang di atas podium. Orang itu akan membacakan pengumuman pemenang lomba pramuka Smpn 60 Nusa Biru. Di sebelahku juga ada orang yang berdiri tegak. Sepertinya sama. Menjadi orang yang dituakan oleh adik-adiknya. Jika saya bersama pasukan kecil hanya berjumlah 30-an, mereka lebih ‘giant’ sekitar 80-an. Saya tahu mereka adalah kompetitor. Mereka juara bertahan. Smpn 95 Nusa Biru. Lebih tepatnya penguasa untuk ajang lomba pramuka di wilayah kami. Penguasa ajang lomba 3 propinsi. Saya tak ragu, karena di sebelah saya berdiri juga orang-orang terbaik. Alumni yang menyempatkan waktu membangun kembali pramuka Smpn 25 Nusa Biru. Jumlahnya tak banyak, hanya ada 6-8 orang. Mereka tahu saya mengamati rombongan tetangga dengan begitu fokus. Para alumniku hanya tersenyum. Dibalik bola matanya menyimpan keyakinan dan sedikit harapan. Dan mereka tahu apa yang saya khawatirkan. Salah seorang diantaranya bernama Hari datang menghampiri saya.
“5 tahun emang cepet bang. 95 emang jadi penguasa sekarang. Tapi tidak waktu saya yang berseragam coklat itu.” Kata Hari yang memang menjadi pasukan terbaik saya tahun 2006.
“Sekarang udah berubah. Kita yang di bawah.” Ujarku dengan nada rendah.
“Peluangnya emang kecil Bang. Mimpi rasanya kalo kita sampe juara umum. Kalo harus mundur, kita siap mundur semua. Kita udah all-out untuk hari ini. Temen-temen juga udah ikhlas kalo emang nanti ganti pembina. Kalupun kita gak di 25 lagi, paling enggak kita punya sejarah panjang. Dan itu yang harus diinget anak-anak.” Ucap Hari dengan mata berkaca-kaca.
Saya masih berpikir seandainya kami tidak dapat apa-apa. Masih berpikir kenapa saya tidak menyempatkan waktu bertemu dengan mantan bos tadi pagi. Masih berpikir kenapa saya melakukan hal bodoh menolak tawaran yang bagus. Hal yang sudah pasti saya dapatkan, tetapi saya justru mengharapkan hal lain yang masih buram. Ini sungguh aneh. Bahkan tak logis. Ini menggelikan.
Setelah melakukan upacara penutupan. Pengumumanpun dimulai. Saat pengumuman dengan semangat adik-adik peserta lomba meneriakkan yel-yelnya. Identitas mereka. Yel-yel yang merupakan kebanggaan mereka.
Pengumuman pun selesai. Hari ini suasana sangat hingar bingar. Begitu ramainya sorakan dan teriakan. Anak-anak berseragam coklat tak henti-hentinya berteriak kegirangan. Berjingkrakan, histeris seolah-olah mendapat lotre 1 milyar. Dalam pandangan mata terlihat sebagian orang merasa begitu gembira, sebagian orang merasa berduka dan sebagian lainnya yang telihat sibuk mondar-mandir membawa map yang entah apa isinya. Pandanganpun tertuju pada sekumpulan orang yang bersedih. Dengan air mata dan penyesalan yang tak henti-hentinya terucap dari bibir. Mungkin hanya penyesalan yang tersisa bagi mereka. Bagai tembok yang sudah lama mereka bangun, dan runtuh begitu saja.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri. Wajahnya tampak lelah, berkeringat, seperti menghabiskan hari ini diterik panas. Bersama rekan-rekannya mereka menghampiri sekumpulan orang yang sedang panik. Dibalik bisingnya pengeras suara, dan hiruk pikuknya sekitar dia berkata.
“Sore kak.”
“Ya, sore juga.” Saya menjawab sembari membalas juluran tangannya untuk bersalaman.
“Selamat ya Kak atas prestasi yang diraih.”
“Ya.. Terima kasih. Ini berkat perjuangan anak-anak.” Jawabku coba merendah.
“Bagaimana ini bisa terjadi kakak?”
“Ya terjadi begitu saja. Melalui perjalanan yang harus kita hadapi.”
“Bagaimana caranya untuk bisa mencapai prestasi yang Kakak raih seperti sekarang?”
“(tersenyum) Jawabannya ada di dalam dirimu. Seberapa kuat kamu menghadapinya dan seberapa jauh mereka mempercayai pemimpinnya.” Sambil menunjuk Citra dan kawan-kawan.
Tak lama setelah itu, sang penanya muda berpamitan padaku dan rekan-rekan. Terlihat semangatnya yang berkobar-kobar. Dia berjanji suatu saat akan menciptakan sejarah. Dan mereka akan mendatangiku lagi saat mereka berhasil mendapatkan impiannya.
“Kan udah menang, Aku boleh minta sama Kakak kan..?” Tanya suara kecil milik Citra.
“Iya, makan-makan ya..” Tebakku.
“Bukan.” Jawab citra.
“Trus?” Tanyaku penasaran.
“Kakak jangan merokok lagi ya. Gak baik buat kesehatan.”
Bagaimana dia bisa seperti itu?
Saya tersenyum, terdiam sesaat, melirik ke Hari dan diapun tertawa. Lalu memejamkan mata dan menundukkan kepala ke bawah. Saya melihat adik-adik pramuka Smpn 25 Nusa Biru memang menangis. Tapi bukan untuk penyesalan. Air mata itu seakan menagamini doa dan usaha kami. Air mata kemenangan. Kemenangan untuk mereka, juga pembuktian untuk diriku.
Kemenangan kemarin sangat hebat. Sampai-sampai saya tak bisa menggambarkan dengan tulisan semua hal yang pernah kualami. Kalaupun ditulis, bisa mencapai 10 atau 20 halaman. Anak-anak kecil berumur 13 tahun mengajariku untuk tetap percaya sesuatu. Sebuah pelajaran penting untukku agar terus move-on, sabar dan berusaha. Kita harus punya tujuan (cita-cita). Jangan menyerah dengan tujuan itu. Dan berusahalah mencapai tujuan itu. Ketika kau memilih menyerah kau takkan menggapai sukses, bahkan kau takkan sempat mencium aromanya. Kembali teringat ucapan seorang Golden Ways. “Jika anda ingin memenangi lari marathon, anda harus menjadi yang tercepat di 100 meter pertama. Dan terus mengulangnya sampai finis. Jika di 100 meter pertama anda belum memimpin, cobalah di 100 meter ke 2, 3, 4, 5, 10 dan lakukan terus sebelum sampai garis akhir. Ketika anda sudah berusaha lalu ternyata ada orang lain yang sampai finis terlebih dahulu. Itu berarti ada usaha yang lebih hebat dibanding yang anda usahakan. Anda tak perlu berkecil hati.”
Apakah ini akhir, tentu tidak.
Keputusan terkadang membuktikan bahwa ini adalah hal tersulit yang harus dibuat. terutama ketika itu adalah pilihan antara : dimana kita bisa mengambilnya dan di mana kita benar-benar menginginkannya. Saya percaya bahwa keputusan yang telah saya buat memang bagian dari takdir. Hasilnya tergantung usaha dan atas kehandak Tuhan.
Apakah keputusan yang saya ambil tepat?
Jawabannya ada dalam surat yang telah kuterima tadi pagi. Beberapa bagian isi surat seperti di bawah ini :
“Selamat kepada saudara Joko S. Kami telah memilih anda untuk posisi Staff Accounting pada perusahaan kami. Silahkan menemui Bapak Mochtadi / Divisi HRD untuk membicarakan hal-hal detail. Terima kasih.”
“Sukses itu sebenarnya sudah kau dapatkan saat langkah pertamamu. Dan sukses yang nyata adalah saat kau benar-benar menyentuhnya.”
Susilo Joko.
Nb. Ada hal lain yang belum terungkap. Sebuah cerita perjalanan dari “Citra dan gambaran langkah kecilnya.”
Penulis Cerita: Joko Susilo
 

Kunjungan Amazing Farm di Lembang

| komentar

“Astagaa.. Jam segini masih belum siap? Udah keburu telat nih!” Aku mulai bergegas mengemas barang-barang dan segera berangkat diantar ayahku. Acara yang seharusnya mulai pukul 6 pagi ternyata saya malah datang jam setengah 8. Semua peserta sudah berkumpul menunggu kedatanganku. Ya, hanya tinggal menungguku yang telat gara-gara bangun kesiangan. Yupz, setelah kedatanganku maka bis pun mulai berangkat.
Tanggal 4 Mei lalu, saya mengikuti acara dari suatu Himpunan di fakultas saya. Acaranya cukup menarik, namanya ‘Factory Visit’. Kegiatan ini merupakan serangkaian acara kunjungan ke sebuah industri-industri khususnya di bidang pertanian. Kali ini saya beserta kawan-kawan mengunjungi Amazing Farm di Lembang. Panitianya bilang katanya pemilik Amazing Farm ini adalah alumni dari fakultas saya, makanya saya tertarik untuk mengikuti acara ini.
Bis akan segera berangkat. Saya mulai menduduki kursi yang masih kosong, tidak jauh dari kedua temanku. Kami pun mulai berangkat menuju tempat tujuan.
Belum sampai tempat tujuan, kami diturunkan dari bis di sebuah tempat agak dekat dengan tempat tujuan kita. Alasannya karena medan yang akan ditempuh menuju kesana agak ekstrim, sehingga enggak mungkin bis yang kita tumpangi bisa melewati medan tersebut. Akhirnya panitia menyewa angkot untuk kita menuju kesana.
Sesampainya di tempat tujuan, kami diberikan pengetahuan mengenai seluk beluk industri tersebut oleh kang Oki, selaku alumni dari fakultas saya yang sudah sukses dan menjadi founder dari Amazing Farm ini. Terdapat beberapa tanaman hortikultura yang dibudidayakan di sana. Dimulai dari tanaman tomat. Terdapat berbagai jenis tomat yang ditanamnya, di antaranya tomat beef dan berbagai jenis tomat ceri. Kemudian juga budidaya berbagai jenis selada dengan hidroponik, yaitu budidaya tanaman dengan memanfaatkan air, tanpa tanah. Kami diperlihatkan bagaimana proses pembibitan dari benih, hingga proses pengemasannya. Selain tomat dan selada, di Amazing Farm itu juga terdapat timun, parsley, bunga-bungaan, dll.
Setelah selesai berkeliling, kami pun beristirahat dan makan siang. Sambil menunggu angkot, panitia mengadakan doorprize kepada peserta dengan memberikan berbagai pertanyaan. Setelah angkot datang, kami pun kembali ke tempat pemberhentian bis dan setelah itu pulang menggunakan bis.
Ada hal yang menarik dari perjalanan pulang ini. Setelah saya bangun dari tidur saya di bis, saya dan teman-teman lainnya yang terjebak macet dari daerah Lembang menuju Bandung melihat sebuah bis yang berisi anak-anak SD tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah kita. Secara spontan kita pun ikut membalas lambaian tangan mereka. Tidak hanya melambai ke kita, mereka juga melambaikan tangan ke semua orang yang ada di sekitar jalan tersebut. Kami hanya tertawa melihat tingkah polos mereka. Sungguh perjalanan yang menyenangkan pada hari itu..
Penulis Cerita: Huda Nurul Quddus
 

Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

| komentar

Kalian masing-masing pasti mempunyai sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian.
Sahabat, satu kata yang bermakna bagi kalian. Sahabat adalah teman sejati, biasanya kita berbagi curhat, rahasia, cerita, dan lain-lain kepada mereka, dan meminta mereka untuk menyimpan rahasia itu baik-baik agar tak diketahui orang lain.
TAPI,
Sahabat juga bisa berkhianat.
Ada pula sahabat yang awalnya bisa kita percaya, namun di belakang ternyata ia memberitahu semua tentang kita.
Tidak percaya? Baca cerita ini :
Hai, namaku Amy. Umurku 13 tahun, dan bersekolah di Junior High School 5 Cilacap. Saat ini, aku sedang ada dalam masa liburan panjang akhir semester. Hari Senin besok, aku akan naik ke kelas 8. Jadi, liburan panjang ini begitu membosankan bagiku.
Aku mempunyai sahabat perempuan, yang bernama Milly. Dia anak yang ramah. Awalnya, aku senang bersahabat dengannya. Karena dia dapat dipercaya, juga bukan mulut ember. Tapi lama-kelamaan, aku membencinya. Apalagi karena kejadian malam minggu kemarin.
Hari itu, aku sedang saling mengirim pesan dengan Milly dan Catherine. Aku bercerita banyak kepada Milly, bagaimana aku menyukai seseorang yang disitu kusebutkan namanya. Dan bagaimana orang itu menanggapi perasaanku dengan cara menyatakan perasaannya padaku tanggal 22 Juni kemarin. Milly sangat antusias, ia pun bertanya kepadaku akan hal itu. Satu-satunya hal yang kuingat adalah ini:
“Amy, kau sedang memikirkan Willy, benar?”
Ya, nama orang yang kusukai itu adalah Willy. Sewaktu kelas 7, ia satu kelas dengan aku dan Milly. Yah… entah apa yang mendorongku untuk menyukainya.
“Benar. Kau bisa tahu?” tanyaku.
Milly hanya tertawa kecil. “Tentu saja.”
Aku diam. Kemudian membalas pesannya, “Tapi kau janji jangan memberitahukannya kepada siapapun.”
“Oke,” ucap Milly agak berat hati. Setelah itu, kami menyudahi percakapan kami. Aku beralih mengirim pesan kepada Catherine.
“Hai, Cath.” sapaku terlebih dahulu.
“Hai, Amy. How are you?” tanya Catherine.
“Fine. Emm… how about masboy?” tanyaku kepada Catherine, menyebutkan julukan orang yang disukainya.
“Masbro? Emm… tadi malam, aku duduk di sebelahnya.” jawab Catherine senang.
“Wah, aku juga ikut senang.” ucapku sambil tersenyum.
“Ya, bagaimana hubunganmu dengan… hemm… Ricky?” tanya Catherine balik. Aku tertegun.
“Biasa saja, kau tahu.” jawabku sambil tertawa.
“Haha… bisa saja kau,” balas Catherine.
“Ehh, sudah dulu ya, pulsaku menipis,” ucapku.
“Oke, goodnight Amy.” ucap Catherine.
“Goodnight Cath.” balasku.
Aku pun memutuskan untuk tidur karena hari sudah terlalu malam.
Keesokan paginya, aku membuka internet. Aku bermaksud untuk membuka Facebook. Aku log-in, kemudian melihat-lihat status di beranda. Dan! Ada sebuah status yang begitu menyindirku…
~ Milly Warren
Kok aku jadi sedikit ENVY yah begitu dengar Amy di t**b*k oleh Wi**y? Apa karena aku pernah menyukai Wi**y? Ah, entahlah O:)
“Apa-apaan ini!” aku membanting HPku seketika. Aku lupa jika aku sedang berpuasa. Karena saking kesalnya, aku pun menaruh komen di status Milly.
“Terlalu jelas, Mill.” ucapku sedikit kesal.
Aku benar-benar tak percaya. Milly Warren, seseorang yang selama ini ku anggap paling baik, paling ku percaya ternyata berkhianat. Katanya, ia tidak akan membocorkannya kepada siapapun. Tapi ini… PENGHINAAN!
Aku mencoba mengirim pesan kepada Catherine. Isinya:
“Kau telah berbohong, Milly.”
“Kenapa?” tanya Catherine.
“Kau lihat status Milly, dia menghinaku!” seruku kesal.
“Sudah biasa, Am. Kalau kau punya rahasia, jangan pernah memberitahukannya kepada Milly. Dia itu MULUT EMBER,” jelas Catherine yang sepertinya juga kesal.
Aku menyesal, sungguh menyesal telah memberitahukan rahasia itu kepada Milly. Mulai saat ini aku berjanji, tidak ingin mengenal Milly lagi
Penulis Cerita: Harum Dewi Alamsyah Putri
 

Gadis Arah Jam Sebelas

| komentar

Perut sudah mulai bereaksi mengeluarkan bunyi-bunyian. Otak juga sudah terespon dengan sangat jelas bahwa rasa lapar yang hebat menerpa. Kuraih tangan Fryan dan kulihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 17.00.
Situasi saat bulan puasa kali ini tak ayal sangat menyadarkan kami untuk segera memenuhi salah satu kebutuhan primer manusia, yaitu makan.
“udah jam 5 nih, cari makan dimana?” tanya Fryan
“gimana kalo di luar aja?”
Seketika Fryan mengangguk perlahan, karena dia mungkin ingat akan keluhanku kemarin lusa tentang nasi goreng di food court lantai 3 salah satu mall di Kota Malang. Nasi goreng itu memiliki rasa yang belum atau bahkan tidak cukup untuk mendorong rasa puas yang ditimbulkan dari lidah kami.
Kemudian, kami turun ke lantai 2 dengan Lift. Langkah kaki Fryan kemudian terhenti saat melewati sebuah toko buku.
“bentar bentar, kalau makan di luar terus kita makan dimana? udah mepet banget nih men bukanya”
“iya juga sih. Udah ah, terserah mau makan dimana” sahutku.
“hmm..”
“ya udah, terpaksa ke food court.” Jawabku datar.
Lumayan capek mencari tempat duduk kosong, karena suasana mendekati waktu berbuka puasa.
Setelah memutar area food court dua kali, akhirnya dapat tempat juga. Sejenak kami duduk dan mendiskusikan apa yang ingin kami pesan demi memanjakan perut yang sudah meronta sejak tadi.
Tak lama setelah kami memesan, kami kembali ke tempat duduk tadi. Tentunya, aku tak memesan Nasi Goreng lagi karena sudah kapok dengan Nasi Goreng yang aku makan kemarin lusa. Dan, hal yang cukup mengagetkan terjadi saat itu. Sehingga tak dapat dipungkiri aku sampai teringat hal ini sampai pulang ke rumah.
Sebuah pemandangan kecil dari makhluk ciptaan Tuhan yang terindah mengalihkan pandangan bahkan duniaku dari hiruk-pikuknya orang yang berlalu di sampingku.
“malaikat…” reflekku dalam hati berkata seperti itu.
Malaikat, wujud yang tepat untuk menggambarkannya. Tentunya bukan Malaikat utusan Tuhan yang diutus untuk turun ke Bumi menyampaikan wahyunya. Tetapi malaikat ini mempunyai paras yang cantik, putih, manis dan tentunya tidak bersayap.
Malaikat ini mengenakan kerudung warna hitam berpadu dengan baju berwarna merah muda dan celana jeas biru. Sungguh pemandangan penyejuk hati yang terdalam. Kacamata ber-frame hitam yang terpasang di depan kedua bola mata cantiknya, seakan membuat diriku membeku terpana dibuatnya. Rasanya seperti melayang, bukan diriku yang melayang tetapi hati ini yang melayang.
Rasa melayang hilang saat Fryan mengusikku dengan sebuah kalimat perntayaan.
“kenapa lu?”
“gak papa” jawabku datar.
“oh…”
Kata “oh” yang keluar dari mulut Fryan. Sehingga mulutnya berbentuk seperi bulatan agak besar ini menyisipkan beberapa kalimat balasan dariku sambil menyenggol tangannya yang sedang sibuk mengutak-atik smartphone.
“eh, arah jam sebelas.”
“apaan?”
“itu, arah jam sebelas!”
Respon yang tidak singkron dengan ucapan yang aku maksud, membuat Fryan melihat jam tangannya.
Sontak aku mentepuk dahi dan berkata.
“aduh, maksud gue itu tuh. Cewek di belakang lu, arah jam sebelas dari gue!” sambil menunjuknya degan dagu.
Fryan memutar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri perlahan layaknya orang kebingungan yang tak tahu arah jalan pulang.
“yang mana?”
“buset dah, masih gak ngerti juga. Itu tuh, cewek yang pake kacamata!”
Permbicaraan kami ini berlangsung agak aneh dengan cara berbisik seperti cewek-cewek yang sedang meng-gossip saat mereka berkumpul.
Dan semua berubah saat beberapa kata mengusik ketenangan, keluar dari mulu temanku ini.
“oh.. yang itu?” sahut Fryan dengan suara agak keras.
Orang di samping kiri meja kami seakan merspon kata “oh” yang kedua keluar dari mulutnya dengan sedikit tolehan bermakna aneh. Sedikit malu memang, dua orang cowok berbicara sambil berbisik. Semua hal tadi tak aku hiraukan, karena aku masih fokus dengan apa yang aku lihat.
Sempat pula aku memalingkan muka saat tahu kalau mataku dan mata gadis itu saling bertemu. Aku memang sering gugup kalau memandang mata seorang gadis yang membuat decak kagum dalam hati. Lima detik saja memandang mata gadis itu aku tak sanggup.
Tapi semua berubah saat aku mendapatkan eye-locknya. Ya, saat aku kembali dari posisi memanglingkan pandangan, mata kita bertemu kembali. Oh Tuhan, rasanya seperti bukan diriku, dan aku sebentar lupa dengan semua hal. Aku lupa ada temanku di depan yang sedang asyik dengan smartphonenya, aku lupa kalau perutku meronta kelaparan, dan aku lupa kalau ada ratusan orang di sekelilingku.
Matanya, sepeti mengunciku pada suatu tempat distorsi bahkan seperti membias dan menembus dimensi lain. Hanya aku dan dia, gadis arah jam sebelas itu. Pertemuan mata kita yang berlangsung sepersekian detik berlanjut beberapa kali. Rasanya aku ingin melayang, bukan diriku tetapi hatiku.
“gadis itu, siapa namanya?”
Pertanyaan itu muncul di otakku. Seakan-akan membuatku mengalami amnesia kecil. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku. Aku menekan kamera pada menu aplikasi handphoneku. Satu atau dua shoots dari kamera yang aku arahkan ke dia bahkan tak cukup. Kurebut smartphone Fryan yang fitur kameranya lebih bagus dari punyaku.
Kuarahkan dan dekatkan, tombol zoom seakan sudah hafal mengikuti gerakanku. Potret dirinya berpendar dalam layar mengikuti gesekan ibu jariku.
Kerja bagus!
Aku mendapatkan foto gadis ini dari hasil mencuri. Mencuri kesempatan secara diam-diam dan tanpa sepengetahuannya.
Saat sedang asyik menekan tombol kamera, seketika ekspresi cewek ini yang tadinya calm atau tenang dan datar berubah menjadi sumringah sekali. Betapa cantiknya dia saat berekspresi seperti ini.
Senyum yang membuat bibir tipisnya melebar dan alisnya menaik tentu ada alasannya. Jelas bukan karena dia tahu kalau ada cowok yang diam-diam sedang memperhatikan dan memfotonya, tapi karena ada temennya yang kebetulan lewat di samping kiriku.
Ketolehkan kepalaku ke objek yang ditatap oleh mata indah itu.
“oh, temennya.” Kataku dalam hati.
Teman cewek ini duduk di sampingnya. Menjabat tangannya dan tangan Ibu cewek ini. Aku tidak tahu persis seperti apa wajah Ibu gadis arah jam sebelas ini, karena beliau duduk membelakangiku.
Setelah mereka ngobrol, akhirnya makanan pesananku datang. Herannya, makanan yang dipesan Fryan belum datang padahal kami memesan secara bersamaan.
“makanan lu mana?” tanyaku.
“paling juga masih di bikin.”
“ya udah gue duluan ya? Tapi..”
“kenapa? Udah makan aja dulu gak usah nungguin gue. Katanya tadi lu laper setengah mati?”
Aku menjawab dengan melirik ke arah cewek itu dan melempar senyum kecil.
“iya sih, tapi sekarang gue udah kenyang.”
“hmm, pantesan. Kenyang gara-gara ngeliat yang bening-bening?” jawab Fryan asal.
“hahaha, tau aja lu.”
Waktu berbuka puasa telah tiba, aku melihat cewek arah jam sebelas ini sudah mulai melahap makanannya. Uh, bahkan dia lebih cantik kalau lagi makan. Dan, hal terhebat yang aku lihat terjadi juga. Aku bisa melihat wajah manisnya secara jelas, saat dia melepas kacamatanya. Aku langsung tidak fokus dengan yang aku makan. Aku tersenyum kecil saat mulutku masih penuh dengan makanan yang aku kunyah.
Bahkan, bebek goreng yang aku makan ini rasanya paling enak dari bebek goreng yang biasa aku beli di pinggir jalan. Bukan karena penyajian higienis di food court ini, tetapi karena wajah manis itu.
Sesekali aku melirik ke arah cewek itu, sampai bisa dikatakan makanku sangat lambat. Biasanya aku lebih cepat dari ini. Ya karena tidak fokus juga. Saat makananku hampir habis, makanan Fryan akhirnya datang juga.
Dan, ketika aku menolehkan wajahku ke arah cewek tadi. Dia sudah menghilang. Aku menoleh ke segala arah mencari dimana cewek itu. Aku berharap aku bisa melihatnya melangkahkan kaki cantiknya keluar dari area food court. Tetapi hal itu mustahil, dia sudah menghilang dan hanya menyisakan sisa makanan di mejanya.
Sungguh penyesalan yang sedikit dalam, dimana aku tidak sempat melihat wajah manisnya. Atau bisa juga dikatakan aku tidak sempat melempar senyum kecil terakhirku ke arahnya. Dan yang paling penting aku belum tau siapa namanya. Sedih rasanya.
Tapi aku masih melihat teman cewek tadi berjalan menjauh. Oh tidak, sepertinya dia pergi juga. Menurutku, satu-satunya harapan adalah teman cewek ini tadi. Bisa juga aku menanyakan siapa namanya dan dimana dia sekolah. Tapi semua kesempatanku menghilang.
Aku yang melihat makanan di piring Fryan sudah hampir habis dengan muka murung. Fryan yang sedang asik bergelut dengan udang mayonaisnya berkata.
“cewek tadi udah pulang ya?”
“iya.”
“udah, jangan kesel gitu. Lain waktu juga bakal ketemu.”
“hahaha, gak mungkin lah”
Tiba-tiba seorang cewek duduk di belakangku. Saat kutoleh tenyata itu teman cewek berwajah manis tadi. Seketika, di otakku muncul sebuah ide yang bisa dikatakan nekad dan sedikit gak punya malu. Aku langsung mengutarakan ideku ke Fryan.
“eh, gue punya ide”
“apaan?”
“ini cewek belakang gue kan temennya cewek tadi, gimana kalo gue samperin?”
“trus mau lu apain?”
“ya gue mau nanya ke dia siapa nama cewek tadi, sambil pura-pura kalo gue temen lamanya cewek tadi tapi gue lupa namanya.”
“lu yakin?”
“yakin lah. Eh, tapi gue kok jadi deg-deg an gini ya?”
“haha, katanya lu yakin. Gimana sih?”
“oke gue coba”
Hal ternekad akan aku lakukan. Bisa dibilang hal ini juga sedikit tidak tahu malu. Karena cuman pengen tau nama cewek tadi aku sampai menyusun strategi sedemikian rupa yang intinya cuman bohong belaka. Semua tak aku hiraukan saat aku beranjak dari kursiku dan menepuk pundak teman cewek tadi.
“mbak-mbak”
“iya?”
“hmm, tadi cewek yang pake jilbab itu temen mbak ya?”
“Iya. Emang kenapa?”
“kayaknya aku pernah kenal, kalo gak salah namanya…”
Ekspresi teman cewek tadi berubah. Dahinya mengkerut dan alisnya menajam seakan rasa curiga ke arahku dilemparkannya. Kemudian, berjalan sedikit membaik saat aku menanyakannya lagi.
“namanya siapa? Aku lupa” sambil kulemparkan senyum kecil.
“Risma.”
“oh iya, Risma. Hmm, kalo boleh tau sekarang dia sekolah dimana?”
“di UMM.”
Aku sedikit kaget saat tahu kalau cewek itu sudah kuliah di salah satu Universitas di Kota malang. Tadinya aku berpikir kalau cewek itu masih SMA sepantaran denganku. Rasa malu tak terbendung saat aku tahu hal ini.
“oh ya udah, entar bilang aja aku Rendy temen waktu kecilnya dulu.”
“oh iya.”
Ekspresi teman Risma ini berubah lagi saat aku melontarkan satu kalimat percakapan terakhir. Mulutnya sedikit menganga dengan paduan tatapan mata curiga. Aku kembali ke kursiku dan kulihat Risma kembali melanjutkan aktivitas makannya.
Aku masih gemetaran. Sedikit bodoh dan tak punya malu. Tapi aku puas, sudah tau namanya. Risma, akan kuingat selalu nama itu.
“gimana?” tanya Fryan.
“namanya Risma, dia udah kuliah men.”
“yang bener lu?”
“serius!”
“hahaha, kelakuan lu tadi jantan juga.”
“biasa aja kali”
“kalo biasa aja kenapa tangan lu masih gemeteran?”
“brisik ah. Udah yuk cabut yuk!”
Saat aku keluar dari area food court, tak lupa aku menyapa lagi teman Risma. Dia sudah berjasa menjawab rasa penasaranku.
“duluan ya mbak” sapaku
Kulihat dia hanya tersenyum dan masih menatap dengan tatapan curiga. Tapi itu semua tak hiraukan. Yang terpenting sekarang rasa penasaran yang bakal jadi misteri sudah terungkap. Lega rasanya hati ini. Dan, aku bersyukur sekali sudah bisa bertemu dengan Risma. Ya, walaupun dia lebih tua dariku.
Setahun berlalu. Kini aku sudah lulus SMA dan masuk di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang. Aku tidak kuliah di tempat yang sama dengan Risma. Setahun kemarin, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari info tentang Risma. Aku sudah berulang kali mencari akun jejaring sosialnya tapi hasilnya nihil.
Sampai Fryan menyarankanku untuk melupakannya karena dia menganggap kalau Risma itu “cuman numpang lewat aja” di kehidupanku. Tapi aku tidak menyerah. Aku rela selama setahun menjomblo sebelum aku mendekati dan menyatakan perasaanku kepada Risma.
Cinta memang rumit. Aku tahu kalau aku jatuh cinta dari saat mata kita bertemu. Awalnya aku merasa ini hanya hal yang biasa saja. Tapi aku menyangka kalau rasa ini begitu kuat.
Sudah sekitar 3 bulan aku menimba ilmu di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Kota Malang. Tapi aku tetap ingin bertemu sekali lagi dengannya. Aku ingin berkenalan dengannya langsung. Walaupun, mungkin dia saat ini sudah memiliki pacar yang lebih ganteng dari aku, aku tak akan peduli. Yang aku inginkan sekarang adalah mengenal Risma.
Sesudah pulang dari kuliah hari ini. Radit, Jasmine, dan Cindy mengajak mengerjakan tugas dasar desain grafis bersama-sama. Kami menempuh program kuliah yang sama yaitu Desain Grafis.
“eh, gimana kalo ngerjain tugas ini di rumahku aja?” tanya Cindy.
“boleh juga tuh, kalian ikut juga?” tanya Jasmine.
“aku ikut ya. Eh Ren, lu ikut juga gak? Tanya Radit sambil menyenggolku.
“ha? Apaan?”
“makanya jangan nglamun aja. Lu ikut gak ngerjain tugas ini ke rumahnya Cindy?”
“terserah lu aja deh. Gue ngikut lu Dit.”
Di rumah Cindy, Radit yang sedang asik mengutak-atik isi laptopku membuka sebuah foto dan menanyakannya kepadaku.
“eh Ren, ini foto siapa? Kok semua lu namain Gadis Arah jam sebelas?”
Sontak aku kaget melihat Rendy membuka foto-foto Risma yang sempat aku abadikan dulu. Aku langsung merebut laptop ku dan mencoba mengeluarkan tampilan foto itu.
“ini rahasia!”
“pake rahasia-rahasiaan segala sih ke temen sendiri?”
“hahaha, biarin!”
Saat kami asik bertengkar, kemudian datang seseorang masuk ke dalam rumah Cindy.
“assallamu’aikum..”
“wa’alaikum salaam.. tumben kak pulang cepet?” jawab Cindy.
Aku yang sedang serius mendiskusikan tugas dengan Jasmine, tiba-tiba Radit mengusikku dengan pertanyaannya lagi.
“eh Ren, bukannya cewek itu mirip sama yang di foto lu ya?”
“apasih Dit, jangan ngaco ah.” Jawabku tanpa memperhatikannya.
Tiba-tiba cewek yang tidak lain adalah kakak keponakan Cindy itu datang menghampiri kami dan bertanya.
“lagi pada ngerjain apasih sih?”
“ini kita lagi ngerjain tugas dasar desa….”
Aku menjawab dengan terputus-putus sambil menghadap ke wajah kakaknya Cindy. Kemudian, Cindy mengenalkannya kepada kami.
“eh iya kenalin, ini kakak keponakan aku namanya Risma. Dia juga anak Desain Grafis juga lho, sekarang semester 3. Tapi gak satu Universitas sama kita”
Kemudian dia mengulurkan tangan dan berkata sambil tersenyum.
“Risma..”
“Aku.. Rendy..”
Aku masih menatap wajahnya dan berkata dalam hati.
“Gadis Arah Jam Sebelas. Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku.”
Penulis Cerita: Fery Arifian
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami