Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fabel (Hewan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fabel (Hewan). Tampilkan semua postingan

Harapan Si Daun Kecil

Jumat, 10 Januari 2014 | komentar

Keadaaan semakin memanas. Sedikit gambaran betapa tingginya derajat suhu yang tercipta dari terik sang mentari di lingkungan itu. Tak tampak suasana kehidupan disana. Seolah-olah semua organisme yang ada telah lenyap terbakar teriknya mentari. Kalau pun masih ada yang tersisa, pasti mereka sedang mencari cara guna bertahan hidup dari penyiksaan. Benar, penyiksaan berupa panasnya suhu lingkungan yang selalu terjadi setiap kali kalender masehi berganti.
Di sisi lain, pohon-pohon lebat serta semak-semak subur telah menguning. Kehijauan yang semula tercipta sudah tak ada. Hanya menyisakan ranting-ranting pohon yang rapuh yang tak kuat untuk menopang kuatnya hembusan angin yang menerpa.
“Klekk..” Suara patahnya ranting pohon terdengar nyaring. Walaupun itu hanya berupa ranting pohon yang seukuran jari kelingking anak balita. Tampak seekor belalang yang membuat ranting pohon tadi patah. Tanpa memedulikan ranting pohon yang patah, belalang itu terus melompat untuk melanjutkan perjalanannya. Namun tak lama kemudian, Belalang itu berhenti pada salah satu ranting pohon yang cukup kokoh. Di sana tanpa diduga, ia melihat masih ada satu daun kecil bewarna hijau muda dan daun itu masih menempel lengket di ranting pohonnya. Belalang menjadi heran, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa daun tersebut bisa bertahan. Kemudian si belalang mengahampiri daun tersebut.
“Permisi daun kecil, apa yang kamu lakukan disini?” Tanya si belalang
“Tentu aku selalu disini, Tuan Belalang. Aku tak seperti engkau yang bisa berpindah tempat dengan sesuka hati.” Jelas si daun tersebut
“Tapi, mengapa engkau tidak ikut ke bawah sana bersama teman-temanmu?” Si belalang bertanya dengan menunjuk ke tanah.
“Kalau hal itu, aku tidak tahu kapan aku akan turun kesana. Semua itu masih rahasia bagiku. Dan yang pasti, aku akan turun juga ke sana menemani mereka.” Lagi-lagi si daun menjelaskan dengan lengkap kepada si belalang. Seketika, Belalang pun terdiam setelah mendengar jawaban dari daun kecil tersebut. Ia mencoba memahami makna yang terkandung dalam pernyataan yang diucapkan daun kecil beberapa detik yang lalu.
Hembusan angin menerpa dengan membawa beribu-ribu kesejukan. Cukup untuk membuat udara disekitarnya menjadi agak dingin. Badan si daun kecil pun seolah-olah bergoyang mengikuti arah hembusan angin. Si belalang masih diam, namun tak lupa menikmati udara sejuk yang tercipta dari terpaan hembusan angin.
“Jadi apa yang kamu lakukan di cuaca panas begini?” Tegur si daun memecah keheningan.
“Aku hanya berjalan-jalan sambil mengamati keadaan lingkungan sekitar sini.” Jawab si belalang yang mulai bisa menemukan rangkaian kata miliknya.
“Bagaimana hasil pengamatanmu, Tuan Belalang?” Tanya si daun dengan bijak.
“Ya.., dapat engkau lihat sendiri disekelilingmu. Tanah berdebu serta retak-retak menghiasi seluruh permukaan di bawah kita. Sementara itu, tiang-tiang yang penuh kehijauan di atasnya, sudah tak lagi kutemui.” Tutur si belalang kepada si daun.
“Sungguh keadaan yang buruk.” Kata si daun
“Terus, kapan semuanya berakhir? Hmmmm…” Tanya belalang sambil menghela nafas panjang.
“Andaikan teman-temanku yang disana masih bergelantungan sepertiku, mungkin penderitaan ini tidak separah ini.” Kata si daun dengan nada sesal. Wajahnya pun tak henti-hentinya menatap ke tanah, tepat ke arah teman-temannya.
“Memang, apa yang terjadi dengan teman-temanmu? Bukankah jika sudah tua mereka pasti akan gugur ke tanah pada akhirnya?” Tanya si belalang yang nampak belum memahami pernyataan si daun.
“Anda benar Tuan, Tapi teman-temanku tak semuanya gugur secara alami. Kebanyakan mereka gugur karena sebatang besi yang bergerigi tajam di seluruh tepiannya. Besi itu yang memotong tiang-tiang kehijauan serta memaksa teman-temanku berguguran lebih cepat.” Jelas si daun dengan nada lembut walaupun dalam hatinya sangat sedih kehilangan teman-temannya.
“Maaf, jika pertanyaanku membuat engkau sedih, wahai daun kecil.” Ucap si belalang.
“Tak apa. Aku harap organisme yang bisa mengendalikan besi mematikan itu suatu saat sadar. Kalau aku beserta teman-temanku juga ingin hidup. Bukan cuma hidup saja, aku juga ingin menjadi penyelamat kehidupan di permukaan bumi ini. Tapi…”
“Tapi apa?” Tanya si belalang
“Tapi yang terpenting adalah mari kita berdo’a kepada Tuhan agar menurunkan berkahnya dari langit.” Ujar si belalang sambil tersenyum penuh akan harapan.
“Maksud engkau hujan?” Tanya si belalang masih belum mengerti.
“Tentu. Hanya hujan berkah paling nikmat dari Tuhan. Semua senang jika hujan turun.” Jelas si daun.
Si belalang tersenyum mendengar perkataan dari si daun. Ia merasa belum pernah bertemu sosok seperti si daun yang begitu memahami akan kehidupan. Si belalang merasa tersentuh hatinya setelah mendengar cerita dari si daun.
“Engkau memang bijak, wahai daun muda. Aku berhutang banyak kepadamu dan juga kepada teman-temanmu” Puji si belalang.
“Sudahlah. Hidup bukan untuk menyuburkan sifat egois. Saling membantu antar sesama makhluk Tuhan yang terpenting.” Terang si daun.
“Semoga apa yang engkau harapkan bisa terwujud.” Kata si belalang.
“Amin.” Ucap si daun.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka berdua akhirnya mengakhiri pembicaraan dan berpisah. Si belalang meneruskan perjalannnya, Sementara si daun tetap pada tempatnya, melekat di ranting pohon sambil menikmati hembusan angin.
Beberapa hari kemudian, do’a serta harapan si daun pun di dengar oleh Tuhan. Dari langit yang terselimuti awan hitam kelabu, turunlah hujan yang selama ini diharapkan oleh si daun dan seluruh organisme di lingkungan kering dan tandus tersebut. Dengan begitu kehidupan dan kehijauan di lingkungan itu bisa di mulai kembali. Namun, jika besi-besi bergerigi tajam masih belum bisa dijinakkan akan terasa sia-sia seluruh pengorbanan dan harapan si daun beserta teman-temannya.
Pengarang Cerita: Al Hanif
 

Cat

| komentar

Bunga bermekaran di taman itu, semerbak mewangi menusuk indraku. Pohon sakura merajut gaun indah pada setiap kelopak tangkainya, membuat jiwa merasuk merona. Musim semi ini, semua siswa harus kembali pada gubuk kedua mereka. Tempat di mana mereka menimba ilmu sedalam–dalam lautan samudra.
Di hari pertamaku di sekolah, aku sudah menemukan lokerku penuh dengan sejuta amplop berlafazkan cinta, berlukiskan kalimat menyanjung hati. Namun, ada satu yang menyita perhatianku. Sepucuk surat kumuh, kusut, bertuliskan I love U. Keningku berkerut dan aku baca isi surat itu.
To: Suzunne
From: Renji Akibara
“Hai, gadis pujaanku. Tahukan kamu, aku sudah lama memperhatikan dirimu. Bagiku kamu adalah bidadari yang turun dari langit ketujuh. Saat pertama kali melihatmu, aku merasa kamulah belahan jiwaku. Cahaya matamu membiusku dan memanahku dengan panah asmara dan senyummu membuat hatiku terbakar api cinta. Gadis, maukah kamu pergi kencan denganku? Dan maukah kamu menjadi belahan jiwaku?. Jika, iya. Temui aku di bawah Tokyo tower. Jam 16.00.
Aku sangat mengharapkan dirimu, wahai gadis pujaanku. Tanpamu aku bagai hidup di atas angan-angan.
Salam Cinta dariku:
Renji Akibara
Aku terkesima pada surat itu, surat itu berbeda dengan surat yang lainnya. Aku berpikir bahwa orang ini lebih puitis. Dalam angan-anganku, aku membayangkan orang yang menulis surat ini adalah pangeran tampan berkuda putih, memakai pakaian perak dan memiliki kepintaran di atas Albert Einstein. Maka dengan rasa penasaran, sore itu aku pergi menemuinya.
Jam telah menunjukkan pukul 16.00 orang yang akan aku temui belum juga muncul. Hingga pukul 16.30, seseorang memanggilku dari belakan punggungku. Dan “wennngggg”. Aku merasa halilintar menyambar-nyambar diriku. Orang muncul tak seperti orang yang aku harapkan. Ia tampak seperti peri yang ada di dalam film Harry Potter. Pendek, buntal, cupu, wajah penuh tritip, parahnya lagi ia memakai baju yang super kumuh. Ihhh, sungguh membuatku jijik untuk melihatnya.
“hai, Suzunne. Kamu cantik sekali. Jadi kamu mau kencan sama aku dan menjadi pacar aku?” ucapnya sambil mendekatiku dengan wajah gembira. Melihat dirinya yang seperti itu, aku berusaha menjauhinya. Saat dia maju selangkah, aku mundur selangkah, begitu selanjutnya.
“lohh.. kog tambah jauh? Jadi kamu mau ya jadi pacar aku?” tanyanya.
Aku yang gak terima dengan keadaannya. Dengan spontan berkata “heh, jangan dekati aku ya! Aku peringatkan itu! Siapa yang mau menjadi pacarmu? Lihat dirimu!” sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
“terus kenapa kamu mau kesini?” tanyanya lagi.
“heh. Tadi itu aku pikir kamu itu pangeran berkuda putih ternyata hanya seorang kurcaci buruk rupa. Ihh, siapa yang mau denganmu, hah? Masih banyak lelaki yang lebih baik dari dirimu! Sadar diri dong, aku yang cantik seperti ini masa pacaran sama kurcaci jelek, uhhh.. imageku mau di taruh di mana?!” Jawabku setengah angkuh.
“ehmm.. baiklah. Aku sudah tahu bahwa kau itu adalah wanita yang sombong dan tidak memiliki sopan-santun. Maka itu aku menguji kamu, dan ternyata benar. Kau berhak untuk di kutuk. Supaya kau jera karena telah menghina keburukan dan kekurangan orang lain”.
“halah… ngomong apa sih kamu, jangan mengada-ngada deh.. mana ada hal seperti itu. Dasar pembohong”. Ledekku gak percaya.
“baik.. aku buktikan itu nyata! Alakazammm!!!” “triinggg!” dia mengayunkan dasi kupu-kupunya. Seperti gaya power rangers jika ingin berubah.
Aku ingin tertawa namun, “kwek, kwek, kwek” suara itu yang keluar dari mulutku. Dan saat aku melihat diriku, betapa terkejutnya aku. Aku berubah menjadi seekor bebek.
“hahahahaha! Bagaimana? Sudah percaya kalau kutukan itu ada? Hahahaha” dia tertawa puas.
“kwek, kwekk, kwekk, kwekk, kwekk!! ( apa-apaan ini, tolong lepaskan!!)” ucapku tak terima. Dia melihatku picik dan tersenyum jahat kepadaku.
“tunggu, tunggu.. wajah bebek seharusnya gak cocok untukmu. Terlalu imut dan manis. Baiklah, alakazamm.. “tringgg”
“webek, webek, webek” dia melihatku aneh sambil berdiri terpaku.
“ahh.. tidak, tidak.. terlalu pasaran. Kodok sudah terlalu pasaran. Baiklah, alakazammm” “tringgg”
“moooo” “ahhh… tidak!! Terlalu besar!”
“mbekkk!” “ahhh.. terlalu buruk, masa di perkotaan ada kambing.. alakazam!”
“meonggg” “aha! Ini pas untukmu, seekor kucing kampung lusuh, bau dan kurus. Ini mampu membuatmu tampak lebih buruk di hadapan semua orang, hahhahaha” ujarnya sambil tertawa.
“meong, meong, meong, meong, meongg! (tolong lepaskan kutukan ini, aku minta maaf!)
“melepaskanmu? Ohh, tidak bisa. Kutukanmu akan lepas jika ada seorang pria dan keluarganya yang mau menerima kamu apa adanya sebagai kucing empang dan menjaga serta merawatmu dengan sepenuh hati. Terutama jika sang pria mampu menganggapmu lebih dari wanita yang ia cintai. Gimana ya? Maksudnya, ia lebih menyayangimu dibandingkan wanita pujaannya.”
“meong, meong? (bagaimana caranya?)” tanyaku bingung.
“cari tahu sendiri dan byeeee!” dalam sekejap pria itu lenyap entah ke mana.
Musim semi mulai seperti badai salju. Suasana begitu kaku, dan begitu dingin dengan seribu gunjingan. Burung-burung tertawa meledek, mafia anjing jalanan melihatku hina, dan para manusia pergi menjauh dariku, melemparkan tendangan maut dengan selipar mereka. Foto-foto pencarian diriku terpampang panjang menghiasi jalanan kota Tokyo.
“mami, papi.. tolong selamatkan aku. Aku terlalu lemah untuk menghadapi ini. Aku tidak tahu bahwa selama ini, dunia itu begitu keras. Mami, papi.. bawa aku pulang” ucapku di depan rumah mewahku. Rumah ku tampak lebih besar dari bawah pagar ini.
Tak terasa aku sudah pergi dari rumah ini selama 1 minggu. Entah bagaimana nasib sekolahku dan bagaimana kesedihan mami-papiku setelah kehilanganku.
“sayang.. bagaimana? Sudah dapat berita mengenai anak kita Suzunne? Aku sangat merindukannya, sayang…” ucap mami dengan wajah sedih. Mendengar itu, aku segera mendekati mereka berdua.
“sabar ya sayang.. aku sudah berusaha menyewa detektif dan meyebarkan keseluruh media demi anak kita. Namun, belum ada hasil. Oleh karena itu sabar ya..” jawab papi.
“meonggg, meongg (papi, mami ini aku Suzunne.. aku ada di sini)” mendekati kaki mereka.
“kyyaaaa! Sayang, tolong jauhkan kucing jelek itu. Jauhkan, sebelum dia mengotori kakiku dan membuat penyakit” mami ketakutan saat melihat sosokku sebagai kucing. Melihat mami yang sedang takut, papi mengusirku dengan tendangan dikakinya. “dukkk”. Badanku terlempar hingga jauh. Badanku serasa ingin remuk. “mami, papi, tahukah kalian bahwa kucing yang kalian tendang ini adalah anak tunggalmu? Anak yang kalian banggakan? Dan anak yang paling kalian sayangi?” dengan perasaan sedih, aku pergi meninggalkan mereka dengan menahan rasa sakit di badanku ini. Badan yang penuh luka.
“krugggg” derita perutku mulai bercerita. Cacing melangkah berdemo dan tulang rusuk ini seakan ingin menusuk, merobek tubuhku yang kurus dan renta ini. Seminggu ini, tak pernah sekali pun aku menyentuh makanan.
“heh! Kucing lusuh. Ayoo, ikut kami makan. Aku lihat kamu sudah 1 minggu gak makan. Apa gak lapar?” ujar seekor kucing betina yang sibuk mengurusi anak-anaknya.
“gak! Sama sekali gak lapar! aku tidak cocok dengan apa yang kalian makan, makanan kalian gak se level denganku. Kalian hanya makan sampah yang penuh kotoran!” dengan nada penuh keangkuhan dan ego.
“huh! Dasar kucing sombong! Sudah jelek saja masih sombong. Lihat dirimu.. tampangmu hanya tampang seekor kucing empang!” dia pun pergi meninggalkanku sendiri.
“krugggg” sekali lagi perutku berbunyi keras. Tak sengaja pandanganku menuju sebuah burger yang ditinggalkan pemiliknya di atas sebuah bangku taman. Aku berlari sekuat tenaga menghampiri sasaranku. Namun, “happp” seekor anjing mafian duluan menghampiri burger itu, aku berusaha merebutnya dengan mencakar wajah anjing itu.
“berikan burger itu!!! Itu milikku!” ucapku sambil mencakar-cakar wajahnya.
“duuggg” dia menghantam tubuhku. “dasar kucing jelek!! Berlagak kuat!! Ini temuanku. Dan aku yang duluan menyentuhnya. Gukk, guukk… kau tidak berhak merampasnya dariku!!” bentaknya sambil menggigitku dan melemparku jauh. Aku tidak menyerah. Aku berusaha mencari trik. Aku lihat kanan-kiri dan sekelilingku. Aku berusaha memancing amarahnya dan berlari.
“aha! Ada ruang kosong! Aku harus berlari ke arah itu dan rampas burger yang ia tinggalkan itu! Hehe” ujarku dalam hati.
“heh! Anjing bodoh! Kau merasa hebat? Merasa kuat? Aku lihat, kau itu hanya seekor anjing yang lemah nyali!!” ujarku.
“apa kau bilang? Sombong sekali! Kyaaa…” dia berlari kearahku dan aku secepat kilat melesat menembus bayang. Namun, “haaappp” seseorang menangkapku dan menggendongku. Detak nadiku bertambah permenitnya. Dengan perlahan aku putar leherku dan ternyata ia seorang ibu-ibu berwajah eropa.
“uhhh… kasihannya kucing ini… lusuh sekali..” ucapnya sambil mengelus-ngelus tubuhku.
“heyy! Kau anjing nakal.. pergi sana!!!” bentaknya lagi sambil melemparkan sebuah tongkat kayu kearahnya. “kainggg, kainggg, kaaingg” teriak anjing itu. Aku tersenyum puas. Kehidupan baruku di mulai dengan majikan pertamaku.
Hokaido ~ hembusan angin melambai anggun. Membawa sensasi ketenangan para penduduk di sekitar.
Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah majikan baruku. Sepanjang jalan dia mengelusku dengan lembut. Seperti belaian seorang ibu. Membuatku terlena dalam bunga tidurku.
“ting tong” bel berbunyi. Pintu pagar dengan otomatis terbuka sendirinya. Para pelayan berjejer menyambut sang pemilik rumah. Sungguh mewah rumah ini. Lebih mewah dari rumah yang aku miliki.
“honeeyyy! Kamu di mana? Ibu bawakan teman baru ni… honey?” panggil ibu ini kepada seseorang. Pasti dia sedang memanggil anaknya, pikirku.
“miauuu” suara kucing terdengar dari sudut pintu.
“ya ampunn.. honey… kog celemotan gitu…” ucap ibu sambil menggendongnya. Ternyata honey adalah seekor kucing angora berbulu indah.
“honey.. perkenalkan ini teman baru kamu, semoga kamu bisa berteman baik dengannnya.” Ucap majikan baruku.
“meeonng” ucapku ramah kepadanya namun, ia tidak mengindahkan itu. Dia tampak sombong meremehkanku. Matanya menatapku tajam penuh kebencian. Aku berusaha terus tersenyum dihadapannya. Aku berharap aku bisa berteman dengannya.
“haloo… pusat pelayanan hewan peliharaan?” ucap majikanku sambil menuangkan susu dipiringku.
Sang majikan bernegosiasi ria didalam panggilan itu. Dia menelpon layanan hewan peliharaan, seingatku jika kita menelpon pusat pelayanan itu, berarti kita memesan sebuah jasa salon dan pemeriksaan kesehatan hewan. Dan seingatku pula harga yang di order itu bukanlah murah. Ckckckckck. Sungguh kaya majikan baruku ini.
Seminggu berlalu,
Sang majikan sangat menyayangiku, saat ini aku memiliki kamar yang luas sekali. 2 meter lebih luas dari kamarku di rumah. Entah apa yang dipikirkan majikan ini untuk memberikan seekor kucing kamar besar dan mewah. Seminggu aku bersamanya membuat aku mengerti bahawa selama ini dia adalah seorang jutawan dan pembisnis internasional yang hebat. Dia tidak memiliki seorang anak maupun pria yang menemani hidupnya. Dia hidup sendiri dengan ditemani kucing kesayangannya. Sekarang dia berumur 29 tahun. Cukup muda bukan?
Seminggu aku di sini, aku masih tak bisa berteman akrab dengan honey. Dia sangat membenciku, dia tak suka perhatian yang di berikan majikannya kepadaku. Baginya kau hanyalah pengganggu dalam hidupnya. Suatu hari, Honey sengaja membuatku kesal. Di saat aku tertidur lelap, Honey mencakar-cakar bulu halusku hingga kusut dan membuat luka goresan. aku pun mendorongnya dan berusaha sabar. Setiap hari dia selalu ingin memulai dan membuat sebuah perkelahian dan dia berhasil memancing amarahku. Aku mencakar wajahnya dan menggigit kaki kanannya. Namun, naas dia berlari ke arah sang majikan dengan wajah kasihan dan kesakitan. Melihat kucing mahal itu terluka ia sedikit kesal dan memukulku pelan melerai kami berdua. Dia sempat memakiku.
“heyy miko.. kucing jalanan. Jika kamu sampai melukai mata honey… bersiaplah kamu…” bentaknya.
Ternyata Honey benar-benar ingin membuatku enyah dari rumah ini. Berbagai cara ia lakukan agar majikan marah dan menendangku keluar.
“hey, miko.. aku tidak suka kau ada di sini… kau perampas kebahagiaanku… kau rebut kasih sayang majikanku” kata Honey.
“tidak, aku tak pernah berpikir seperti itu, bagiku kaulah kucing kesayangan nona Hanna. Kau yang paling berharga baginya”
“bohong, kau hanya ingin menghiburku bukan…? Jangan banyak basa-basi dech… kamu itu selalu mencari perhatian dengan nona…”
“tidak, itu tidak benar..” kyaaaa, cakar honey tiba-tiba mendarat di wajahku. Aku terkejut dan aku merasakan darah segar mengalir di wajahku. Aku sedikit murka. Aku tatap tajam wajahnya dan berkata “selama ini aku selalu berbuat baik kepadamu, dan berusaha berteman baik denganmu. Tapi ini balasan yang kau berikan kepadaku? Sungguh kau kucing licik dan kejam. Entah apa yang nona lakukan jika kau memiliki sifat seperti ini”.
“tidak, itu tidak akan terjadi bodoh… aku akan membuat kau buruk di mata nona dan byeee… kau di tendang dari rumah ini”. Kejadian tak di sangka dia meloncat dari balkon rumah dan..
“honeeyyyyyy!!! Teriak sang majikan dari ujung pintu kamarku. Dia berlari sekuat tenaga untuk menangkap honey dan gagal. Dia menatap wajahku murka. Dia mencekikku dan melemparku ke luar rumah. Dan benar, rumah itu benar-benar tak mau menerimaku lagi. Berminggu-minggu aku menunggu di depan rumah itu. Tak satu pun peduli kepadaku. Sang majikan menatapku geli dan saat honey telah keluar dari RS dia tertawa sinis melihatku tiba-tiba berubah menjadi kucing jalanan kembali.
“pak.. buang kucing itu jauh dari sini.. aku muak meliahat wajahnya.. dasar kucing tak tahu di untung” perintah Nona Hanna kepada satpam. Bapak itu mamasukkan aku ke karung dan membuangku dipertengahan kota Shibuya.
Bunga terasa layu pada musim semi. Seakan mengerti akan penderitaan ku. Tak ada kebahagiaan yang aku dapat dari kisah rantauku. Berpetik alunan melodi kepasrahan dan kesedihan aku berlari menjalani hidup sebagai kucing. Angan bahagia inginku segera terwujud dan selasailah penderitaan.
Daerah shibuya aku belum menemukan kebahagiaan. Setiap hari perut bernyanyi kelaparan. Tak ada makan yang cukup. Banyak sekali hewan buangan di sini. Semuanya berwajah sangar. Persaingan ketat berlaku di sini untuk mendapatkan makanan dan majikan baru. Dan itu sangat sulit.
“hay.. apa kabar? Lama tak bertemu!” ucap seseorang dari belakangku. Suara itu sangat tak asing bagi diriku dan ternyata ia kurcaci yang mengubahku menjadi seperti ini.
“hey.. kemana saja kau? Cepat ubah aku seperti sedia kala. Aku lelah.. aku mohon maafkan aku!!”
“tidak bisa… sihirmu tak akan hilang sampai kau berhasil menemukan pria sejatimu. Pasti susah mencari majikan baik yaa? Kasihaan… Suatu hari pasti akan ku bantu engkau… tapi entah kapan hahhahahahahaha.. byee!!!” ia menghilang melesap dia bawa angin.
“sialan tuch orang datang hanya untuk mengatakan kata gak penting seperti itu!” aku frustasi.
“tesss.. tesss.. tesss” gemericik hujan mulai membasahi tubuh ini. Sungguh malang nasibku ini. Belum puas perut ini dengan laparku, mengapa kulitku dan tulangku juga ingin di renggut oleh hujan ini?. Aku berlari sekuat tenaga untuk mencari tempat teduh. Berlariku hingga kaki ini membawaku tepat di tengah jalan besar. Aku memperhatikan sekelilingku, tidak ada bangunan di area taman ini. Saat itu aku mendengar ada yang memanggil namaku. Aku sempat berpikir bahwa itu adalah suara sepupuku kaito. Namun, tidak ada sesosok orang pun di tempat ini. Aku berusaha mencari suara itu.
Tapi “teeettt.. teetttt…” bunyi klakson truk besar melesat mengarah di tempatku berdiri. Dan “Dugg” sesuatu menabrakku dari belakang membuatku terlempar jauh. Dan aku pun tidak sadarkan diri.
“suzunne!!” “suzunne!!” panggil seseorang sambil mengelus-ngelus tubuhku. Suara itu lagi yang aku dengar. Suara yang mirip dengan kaito. Perlahan aku buka kelopak mata ini. Dan dengan samar-samar aku melihat seekor kucing indah disampingku. Dan aku terkejut.
“Siapa kamu? Mengapa kamu ada di sini?” tanyaku padanya sambil berusaha bangkit. Namun, “awh” tubuhku terasa sangat sakit.
“kamu tidak apa-apa Suzunne?” ucapnya, membuatku terkejut dan berpikir siapa kucing ini? Mengapa dia mengetahui namaku yang sesungguhnya. Padahal aku tak pernah memberi tahu siapa pun.
“lepaskan! Aku tidak apa-apa! Siapa kamu? Mengapa kamu mengetahui namaku?” balasku dengan sedikit emosi.
“aku? Aku hanya kucing yang kebetulan lewat di sekitar tempat ini. Kenapa aku bisa mengetahuinya yaa? Eumm” jawabnya dengan raut wajah sok cool (#dari sisi penglihatan sesame kucing ^_^)
“jangan-jangan kamu kurcaci jahat itu ya?” tanyaku dengan nada pasti.
“kurcaci? Apa maksudmu? Memang di dunia ini ada kurcaci yaa? Hahaha. Dasar!! Kucing yang aneh. Pasti otaknya sedang bermasalah” dia berusaha meledekku dengan perasaan tak bersalah.
“apa?!! Aneh?” teriakku nyolot.
“iya aneh.. zaman sekarang masih percaya kurcaci. Dari mana kamu mengetahuinya? Pasti dari majikanmu yang sebelumnya ya? Pasti kebanyakan di ceritain cerita dongeng ya? Ckckckk” dia berusaha mengejekku lagi.
Dalam hatiku berkata “sialan kucing ini, baru kenal saja sudah banyak bicara, sok mengejekku pula, siapa sih dia? Cukup mencurigakan” aku tatap wajah kucingnya itu dengan seksama. Namun, tidak ada jawaban yang aku dapat. Aku tidak bisa membaca matanya. Kesal! Apa karena mata kucing itu memiliki ekspresi yang sama?
“meongg.. meongg (halo. Haloo)” ucapnya sambil mengayun-ayunkan cakarnya di depan mataku.
“heh! Apa?” jawabku sambil melpaskan lamunanku.
“heh! Kucing jelek! Apa kau sedang mengagumi diriku? Aku tahu, aku begitu indah. Jangan sampai matamu lepas gara-gara memandangi kucing seindah aku yaa!!” ujarnya dengan penuh kesombongan entah dia mengejekku lagi atau memang dia seperti menggambarkan kesombonganku di masa lalu.
“baiklah. Lepaskan kakimu dariku. Aku akan pergi! Aku tidak butuh pertolonganmu lagi!” aku berusaha bangun dan mengambil langkah seribu dengan penuh usaha.
“heh! Mau kemana kucing jelek! Apa kau tidak akan menyusahkan dirimu saat berpergian dengan keadaan seperti itu? Apa kau punya tujuan?” ucapnya lagi yang membuatku semakin kesal.
“apa urusanmu? aku memang tidak punya tujuan, apa kau puas?!!” bentakku kepadanya tak terasa mataku terasa berbinar-binar. Jantungku serasa di peras hingga kering, begitu sesak.
“apa kau menangis? Apa karena diriku? Maaf, aku hanya mau engkau mengikuti diriku saja!” katanya dengan lembut.
“siapa kau? Menyuruhku mengikutimu? Baru kenal saja engkau sudah menyobek-nyobek hatiku, dengan mudahnya engkau meminta maaf!” ujarku semakin kesal.
“sudah.. sudah.. aku tidak ingin mendengarmu teriak kepadaku, cukup ikuti aku saja. Aku akan merawat luka-luka yang membalut tubuhmu itu. Dan aku akan menghilangkan juga luka di hatimu” dia tersenyum manis padaku. Begitu manis.
Dia membawaku ke sebuah gedung lebih terlihat seperti rumah tua dengan desain romawi modern.
Aku ingin mengatakan bahwa itu keren sekali. Tapi mengapa dia ke rumah ini? Apa dia kucing dari pemilik rumah ini?
“silahkan masuk, ini dia tempat tinggalku. Walaupun bukan tempat tinggal pribadiku. Aku hanya menumpang. Kucing pemilik rumah ini yang membawaku masuk ke rumah ini. Silahkan anggap rumah sendiri dan silahkan berkeliling, aku yakin kamu akan menyukai tempat ini dan kamu akan menemukan teman kucing yang lain. Aku akan menemui kucing pemilik rumah ini dulu” belum sempat aku menanyakan di mana kamar mandi. Dia sudah melesap entah ke mana. Hufftt..
Kyaaa!!! Ada hantu!! Teriak seseorang dari belakangku. “yoshirooo… yoshiroo… tolong aku!!” teriak seorang wanita. “meonggg errrrrr…” Dia menggeram dibelakangku. Aku pun menoleh dan lantas membuat bulu kucing betina itu semakin lebat dan mngembang. Tiba-tiba. “aduhh.. jangan takut Suzuki. Dia itu temanku. Dia bukan hantu!” jelas kucing yang tadi aku temui, ternyata namanya Yoshiro.
“apa? Kucing jelek ini temanmu? Aduh, apa yang membuat kucing seindahmu berteman dengannya sayang.. “tingkah kucing itu membuatku geli. Dia bermanja dengan kucing itu, iyuuhhhh… Payah.
“kenapa dengannya? Dia sejenis dengan kita. Sama-sama kucing. Mengapa harus dibedakan?”
Ucapnnya itu membuatku merasa dilindungi dan merasa menang dari kucing betina itu.
“huuffttt.. terserah deh… Bye manis” ucap kucing betina itu. Membuatku semakin geli.
Ayoo… keruangan itu. Di sana ada dokter yang mungkin bisa membantumu. Dia manusia.
Seminggu sudah aku tinggal di rumah itu. Meskipun ejekan dan hinaan terus menghampiriku, aku berusaha sabar. Aku sadar mungkin ini balasan untukku karena menghina keburukan dan kelemahan orang lain. Tapi satu yang bisa membuatku terus bertahan dan tetap sabar, dia adalah Yoshiro. Dia bagai pahlawanku, dia cahayaku. Aku belajar banyak darinya. Belajar makna dari hidup sesungguhnya. Aku merasa aku telah menyukai kucing jantan itu. Sekarang aku lebih betah menjadi kucing. Karena aku ingin terus bersama dengannya. Tak ingin aku ingat lagi kehidupanku saatku menjadi manusia. Aku cukup bahagia dengan keadaanku yang sekarang. Apalagi aku tahu bahwa dia tidak pernah membenci fisikku yang buruk ini. Dia menyukai kelebihan dan kekuranganku. Membuatku semakin cinta padanya. Mungkin orang akan mengira aku sudah gila bahwa sekarang aku lebih memilih menjadi kucing dan aku sudah tidak peduli untuk mencari majikan baru lagi. Aku tak peduli dengan janjiku pada kurcaci itu. Akan aku lupakan semua itu.
Malam yang dingin, aku merasa tubuhku telah membeku, menggigil selaras dengan denyut jantungku. Aku merasa tubuhku tak mampu lagi berdiri. Hari ini adalah hari perjanjianku dengan kurcaci itu. Apabila aku telah menemukan majikan yang baik, hari ini aku akan kembali menjadi manusia semula. Namun, aku tak tahu, apa akibatnya jika aku tak juga menemukan majikan baruku.
Perlahan-lahan kelopak mataku tertutup dan semuanya menjadi gelap gulita.
Di dalam mimpiku, aku melihat ibuku, ayahku dan seluruh keluargaku. Semuanya tersenyum bahagia melihatku kembali ke rumah itu. Pelukan hangat kembali memenuhi tubuhku yang rapuh ini. Canda tawa kembali menghiasi istana itu. Namun, di dalam mimpi itu aku melihat seorang pria memegang pipiku dan mengucapkan selamat bahwa aku telah kembali ke rumah itu, lalu dia pun memmelukku. Aku tak tahu siapa dia. Bagiku dia pribadi yang hangat. Terasa begitu akrab.
Detik demi detik bayangan mimpiku melesat menghilang bagai kabut di tiup angin. Aku merasa ada cahaya yang menyilaukan mataku. Perlahan aku beranjak membuka kelopak mata ini. Ternyata raja pagi menyapa diri. Aku perhatikan sang surya, memastikan bahwa aku benar-benar di dunia nyata. Mataku terasa silau dan aku berusaha bangun dari tidurku. Dan betapa terkejutnya aku. Aku berubah menjadi manusia normal. Aku kembali kepada diriku yang dulu. Anak tunggal dari seorang pengusaha yang manja. Dengan rasa tak percaya, aku beranjak ke kamar mandi mencari cermin. Aku pukul-pukul pipi ini. Jika sakit berarti aku tidak bermimipi. “plaakkk!” uhmmm.. tidak ada rasanya. Aku masih tak percaya. Aku hantukkan sedikit kepalaku di dinding kamar mandi itu. Dan “awhhh” sakit banget!!! “hwaaaaaa!!! I’m normal now!!! Yeeee!!! Lalalalalalalala!!!” teriakku bahagia sambil berjingkrak-jingkrak layaknya orang yang telah berhasil menciptakan goal. Begitu bahagia. Di tengah kebahagiaanku, aku bertanya-tanya di mana sebenarnya aku sekarang. Dan dari luar aku mendengar suara ayah dan ibu memanggilku panik.
“suzunne!! Anakku sayang, apa kamu tidak apa-apa, sayang? Kamu sudah sadar? Ada apa kok kamu teriak-teriak?” Tanya mami memelukku.
“sadar? Memangnya suzunne kenapa mi? suzunne sekarang ada di mana?” tanyaku pada mami dan papi.
“iya sayang, kamu sudah sebulan tidak sadarkan diri sayang. Kamu di temukan teman kamu pingsan di bawah menara Tokyo. Dan sekarang kamu berada di rumah sakit. Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang? Mengapa kamu bisa berada di tempat itu? Untuk kata dokter kamu tidak apa-apa.” Jelas papi. Aku bingung. Ada apa dengan semua ini? Apa semua ini hanya mimipi? Tapi aku merasa ini nyata. Aku pegang pinggangku dan aku merasa sakit. Aku melihat masih ada bekas memar di tempat itu. Bagaimana dengan Yoshiro? Kucing manis yang aku temui saat aku menjadi kucing. Kucing yang aku cintai, kucing yang mengajariku arti sebuah kehidupan, kucing yang mengajariku arti perbedaan. Apa itu semua hanya mimpi? Pandanganku kosong mengarah ke balkon rumah sakit.
Apakah semua itu ilusi atau nyata? Hanya dua kata itu yang menari-nari di atas kepalaku.
Musim panas merasuk kota Tokyo dan sekitarnya. Suara jangkrik mengerang ke segala penjuru.
Pohon-pohon menari dengan riang, mengalunkan alunan udara yang segar. Senyum sang mentari cukup membakar kulit ini. Sungguh panas hari ini.
Aku buka catatan harianku di buku elektronikku. Semua aku ungkapkan pada setiap lembar kerjanya. Tak satu moment pun terlewatkan termasuk momenku saat menjadi kucing yang masih tak aku mengerti apakah itu nyata atau tidak. Pangeran yang muncul dalam mimpiku, semua aku lukiskan dalam buku itu. Suara musik kegemaranku menggelitik pendengaranku hingga aku merasakan sensasi kebahagiaan yang luar biasa.
Tiba-tiba mami memanggilku dari lantai bawah. Aku bergegas meninggalkan Ipod dan buku elektronikku itu.
“iya mi, ada apa?” tanyaku pada mami.
“sayang, ada temanmu menjenguk!!” ucap mami.
“teman? Tidak biasanya teman-temanku datang ke rumah tanpa janjian terlebih dahulu?” ujarku dalam hati.
“baiklah mi, tunggu sebentar!!”
Aku pun dengan perlahan menuruni anak tangga. Dan aku pun sedikit terkejut melihat sosok seseorang di ruang tamu itu. Aku seperti bertemu sebelumnya. Dia mirip dengan kurcaci itu. Apa benar? Aku berusaha membuang jauh-jauh imajinasi yang tak masuk akal itu.
“hai..” sapaku padanya.
“sayang, itu teman yang selalu menjagamu selama kamu di rumah sakit lohh, bilang terima kasih padanya!” ucap mami dari dapur.
“oh iya? Terima kasih ya… apa aku mengenal kamu sebelumnya?” tanyaku.
“entahlah..” dia menjawab sekenanya. Aku hanya mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
“kalian mau minum apa? Jus? Atau lemon ice tea? “teriak ibu dari dapur lagi. Kami saling bertatapan dan tersenyum dan menjawab “lemon ice tea!!!”. Dan kami pun tertawa. Aku merasa aneh. Ini pertama kalinya aku bertemu padanya. Namun, aku sudah merasa akrab padanya. Di dalam diriku sudah lenyap sikapku yang suka membeda-bedakan diri orang dari fisiknya. Sekarang semuanya sama di mataku dan aku merasa lebih bisa menikmati hidupku.
Seminggu dua kali, dia selalu mengunjungiku walau hanya ingin bermain denganku. Dan sekarang dia menjadi teman akrabku dan aku mengenalnya dengan nama “Yashiro kudo” nama yang indah. Mengingatkan aku dengan kucing itu. Hari ini kami janjian akan bermain bersama lagi. Dia berjanji akan memberikanku sebuah kado yang special. Aku tak sabar menantinya.
Dengan rajinnya aku merapikan kamarku dan pernak-pernik yang berserakan. Aku pun berusaha tampil rapi di depannya. Entah perasaan apa yang menyelimuti hatiku ini. Aku merasa bahagia jika akan bertemu dengannya. Semuanya aku tata dengan rapi. Sungguh tak sabar bertemu dengannya.
Semenit berlalu,
sepuluh menit,
sejam berlalu, dia belum juga memunculkan batang hidungnya. Aku mulai resah dan kesal. Apa dia membohongi diriku? Setelah yang aku lakukan padanya. Ice cube di tea pot itu sudah mulai mencair seperi hatiku. Aku mulai kehilangan harapan. Bad mood mulai merasuk diri. Aku menelpon ke ponselnya tak juga di angkat. 10 kali aku mencoba menghubunginya tak juga ada balasan. Emosi terasa meluap sampai keubun-ubun. Aku mulai khawatir.
Dan “ting toonggg” bel pagar rumahku berbunyi. Aku berlari sekencang-kencangnya untuk menjangkau pintu itu. Dan benar ternyata dia. Senyuman mulai terhias di wajahku. Entah mengapa hari ini penampilannya begitu berbeda membuat bunga ini mulai bermekaran. Apakah itu sayang?
Aku pun membukakan pintu untuknya. Dan dia meminta maaf atas keterlambatannya. Tiba-tiba saja hatiku merasa sejuk saat dia mengucapkan maaf yang tampak tulus dari matanya.
“iya.. tidak apa-apa kok.. ayo masuk” berusaha tersenyum lebar.
“baiklah.. mana mami? Dan papi?” tanyanya
“mami dan papi sedang main golf bersama teman-temannya mungkin sore baru pulang” jelasku.
“ohh iya.. katanya mau kasih aku kado. Mana? Sepertinya kamu tidak membawa apa-apa?”
“iya kah? Eummm sepertinya aku lupa… pasti gara-gara aku buru-buru” jawabannya membuatku kecewa luar biasa. Aku seperti telah di beri harapan palsu.
“oh iyaa.. tugas IT kamu sudah selesai?” tanyanya. Dia mengambil alih pembicaraan.
“ahhhh, belum” dengan wajah penuh kecewa.
“sini aku bantu. Sudah jangan sedih lagi ya… besok aku kasih deh kadonya”
“janji yaa!!! Jangan bohong!!” aku pun mengajaknya untuk mengerjakan tugas di ruang belajar dekat kamarku. Dia mengerjakan semuanya dengan cekatan dalam waktu 30 menit semua tugasku yang bertumpuk itu selesai. Wiehhh… pasti bisa membayangkan cerdasnya dia bagaimana… ckckckck
Di saat aku sedang asyik memperhatikannya mengerjakan tugasku. Tiba-tiba dia menunjukkan beberapa gambar. Gambar kucing yang mirip dengan Yoshiro, gedung tua itu, rumah wanita kaya itu, dll. Dia bertanya apakah aku mengenal gambar itu. Tentu saja aku mengenalinya. Akhirnya dia mengatakan akan memberi tahuku sebuah rahasia. Rahasia besar yang bisa melibatkan dirinya.
Dia menyuruhku untuk menutup mata. Dan tiba-tiba terdengar suara kucing, dengan spontan aku berteriak haru “Yoshiro”. Dan benar saja kucing itu adalah Yoshiro. Namun, aku bingung. Kemana perginya yashiro. Aku memperhatikan sekeliling mencari dimana yashiro. Namun, tak aku temukan sosok itu. Tiba-tiba kucing itu memanggil namaku “suzunne”. Aku terkejut. Kucing itu benar-benar bicara atau aku sedang bermimpi lagi. Aku pukul pipi ini lagi sekuat-kuatnya. Dan begitu mengejutkan pula saat kucing itu berubah menjadi yashiro kembali. Aku merasa aku benar-benar bermimpi. Namun, yashiro menepis semua itu. Dia mengatakan bahwa itu bukan mimpi.
Dia menjelaskan segalanya kepadaku. Dia berkata bahwa dirinya adalah seorang pangeran dari dunia mimpi. Dia datang dari masa lalu dan datang ke masa depan hanya ingin bertemu denganku dan menjadi manusia normal denganku pula. dia telah memperhatikanku sejak dulu. Dia juga sengaja memberikanku ujian itu. Apakah aku layak untuk menemaninya menjadi manusia seutuhnya. Aku pun berusaha mengerti atas segalanya.
Diakhir penjelasannya dia bertanya padaku apakah aku mau menjadi pasangannya.
“suzunne, apakah kamu mau menjadi pasanganku? Dan mau menemani di segala keadaanku?”
Dengan mata berbinar-binar dan perasaan yang meluap aku menjawabya dengan “I will. Aku mau dengan sukarela menemanimu apapun keadaanya. Aku akan selalu menyayangimu!!” aku langsung memeluknya.
“baiklah.. akan aku berikan kejutan yang lainnya. Dalam sedetik kedipan. Dia menjadi sosok yang sempurna dan menawan. Begitu indah. Aku tak percaya aku akan mendapat kejutan seperti ini.
Dan keesokkan harinya. Dia mengirimkan sebuah kado yang berisi dua anak kucing yang manis. Kami pun memberinya nama “suzunne dan yashiro”. Kucing itu adalah petanda cinta kami.
Akhirnya kami pun menjalin kasih. Mami dan papiku mempercayakan diriku padanya. Dia berjanji akan menjagaku dengan sepenuh hatinya.
Pengarang cerita: Eva Nuraini Mardya Putri
 

Raja Hutan

| komentar

Di sebuah hutan, hidup berbagai macam hewan seperti kucing, kelinci, kerbau, harimau, gajah, singa, zebra, dan lain-lain. Mereka selalu hidup rukun dan damai. Mereka saling membantu, berbagi, dan saling menyayangi satu sama lain. Mereka hidup di dalam ketenangan.
Pada suatu hari, mereka memperdebatkan siapa yang pantas menjadi Raja di hutan itu. Mereka sedang di landa rasa bingung. Tapi dengan percaya diri yang tinggi Gajah mencalonkan diri sebagai Raja. “Aku tahu siapa yang sangat pantas menjadi Raja di hutan ini, Yaitu… Aku!! Ha… Ha… ha…” Seru Gajah dengan lantang. “Ya, ya, usul yang sangat bagus!” Beberapa hewan seperti Kelinci, zebra, jerapah, kerbau, sapi, dan burung merak menyetujui usul Gajah.
“Ah, tidak, tidak.. Itu usul yang jelek. Yang pantas adalah… SINGA!!! Ha.. Ha..” Seru Singa. “Iya, kami setuju!” kata ular cobra, anjing, dan harimau. “Aku yang jadi raja!”
“Harusnya itu aku!”
“Tidak! Aku!”
“aku!”
“Sudah! Lebih baik, kita adakan pemilihan saja. Seperti yang di lakukan manusia sekarang, kita sudah punya 2 calon. Siapa yang mendapat suara terbanyak, ia yang akan menjadi Raja” Kelinci yang bijaksana menengahi.
Akhirnya, mereka sepakat untuk mengadakan pemilihan esok hari.
Pada esok harinya, sudah tersedia papan tulis yang tertulis SINGA dan GAJAH.. Juga sudah tersedia kursi untuk para tamu dan kursi khusus untuk Singa dan Gajah. Pemilihan pun berjalan dengan lancar. Saat perhitungan suara, ternyata yang menjadi raja adalah SINGA!
Keesokan harinya…
“Pengumuman! Pengumuman! Kita telah menemukan seorang Raja baru, yaitu Raja Singa. Untuk itu, Raja mengundang seluruh rakyat untuk hadir di rumah Raja. Harap perhatian, Terima kasih.” Seru Pengawal raja SINGA. Saat di rumah Raja, Raja berkata pada Gajah “Oh, senangnya menduduki jabatan sebagai Raja!” Kata Singa. “Lihat saja nanti!” Kata Gajah dalam hati.
Lima tahun kemudian…
Tahun ini, di adakan pemilihan kembali. Dan yang menang adalah Singa. Singa akan menjadi Raja hutan selamanya, seperti yang kita ketahui sekarang ini..
THE END ^_^
Pengarang Cerita: Raihanah Shabirah
 

Rubah Tak Berekor

| komentar

Di sebuah pedalaman, banyak pemburu yang sengaja memasang perangkap untuk menangkap binatang buruanya. Perangkap yang di pasang beraneka ragam, sesuai dengan buruan mereka. Ada yang kecil untuk menangkap kelinci, hingga yang besar untuk menangkap seekor beruang.
Pada suatu ketika, seekor rubah memasuki hutan yang penuh dengan perangkap tersebut. Tanpa disadarinya, sebuah perangkap yang terbuat dari penjepit besi hampir saja menebas lehernya. Untung saja dia cepat bereaksi, namun ekornya terhimpit gerigi besi perangkap itu. Dengan susah payah dia berusaha melepaskannya, apabila terlambat nyawanya pasti melayang ditangkap atau ditembak pemburu liar di hutan itu. Dengan meronta-ronta kesakitan, ia akhirnya dapat melepaskan diri dari perangkap tersebut. Namun sayangnya dia harus mengorbankan ekornya yang terpotong.
Dengan rasa kesakitan, rubah itu menghilang dan bersembunyi di pinggiran hutan untuk menyembuhkan luka pada ekornya. Selang beberapa lama ia berdiam di situ, lukanyapun sembuh. Karena menahan lapar selama bersembunyi, rubah itu memutuskan untuk tetap memberanikan diri memasuki hutan yang penuh dengan perangkap itu. Pada saat ia hendak memasuki hutan, terlihat sekawanan rubah lain sedang bergerombol di situ. Ia pun mengurungkan niat, karena ekornya yang sekarang tidak dimilikinya. Dalam hatinya ia berkata, ”Aku pasti terlihat sangat jelek apabila bergabung bersama mereka, aku pasti ditertawakan karena ekorku telah terpotong. Apakah aku masih disebut sebagai seekor rubah ? Dapat saja mereka tidak mengenaliku bahkan dapat menyerangku karena terlihat asing dan aneh bagi mereka.”
Ia pun berpikir keras, untuk mendapatkan sebuah rencana, agar dapat diterima kembali dalam kawanan rubah itu. Tak memerlukan waktu lama, rubah itu mendapatkan suatu rencana, dan bermaksud akan menghampiri kawanan rubah itu pada malam hari agar bentuk tubuhnya tidak terlihat jelas.
Malampun tiba, rubah itu segera menghampiri kawanan rubah. “Selamat malam kawan-kawanku, apakah kalian memiliki sedikit makanan untuku ? Aku berjalan cukup jauh menuju tempat ini, namun tidak satupun makanan kudapati”, Sapanya berterus terang. Medengar suara rubah tanpa ekor itu, pemimpin kawanan rubah menghampirinya. “Bukankah saya mengenal engkau ? Engkau adalah rubah dari hutan ini juga seperti halnya kita semua di sini, mengapa engkau berkata tidak memiliki makanan sedangkan disini banyak makanan yang tersisa dari hasil pemburu liar. Ambilah beberap potong daging kelinci yang tersedia untuk memanaskan tubuhmu yang kelaparan itu.” Kata sang pemimpin.
Rubah tanpa ekor itupun segera mengambil beberapa potong daging kelinci yang tersisa untuk di makan. Karena begitu lapar, dia lupa bahwa bentuk tubuhnya dapat terlihat dengan jelas dibawah sinar bulan pada malam hari itu. “tunggu dulu !” Kata si pemimpin, “Kenapa engkau tidak memiliki ekor seperti kami ? jangan-jangan engkau bukanlah kawanan kami seperti yang tadi saya katakana.” Rubah tanpa ekorpun menyadari bahwa bentuk tubuhnya telah terlihat, namun dengan rencana liciknya dia langsung menjawab, “ya, saya memang berasal dari kawanan ini, namun beberapa hari yang lalu saya meninggalkan hutan ini, menuruni lembah dan menemui kawanan rubah baru. Waktu saya menemui mereka, saya disambut dengan sangat ramah. Mereka terlihat gagah dan cantik walau tanpa menggunakan ekor. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk memotong ekor saya, agar dapat terlihat gagah seperti mereka. Apabila kalian ingin terlihat gagah dan cantik seperti saya, kalian juga dapat membuang ekor kalian”.
Mendengar ucapan rubah tanpa ekor itu, seketika itu juga kawanan rubah menertawainya. “Bagaimana mungkin engkau dapat dikatakan rubah, kalau tidak memiliki ekor ? Justeru rubah yang menggunakan ekor adalah rubah yang terlihat gagah dan cantik,” kata seekor rubah dari kawanan itu. “Hentikan omong kosong mu rubah tak berekor! “, bentak sang pemimpin kawanan rubah. “Saya akan mengijinkan engkau menghabisi sisa makananmu, namun dengan satu syarat, setelah itu engkau harus pergi dari hutan ini dan bergabung dengan rubah khayalanmu itu”. Mendengar perkataan itu, rubah tak berekor menjadi malu dan berlalu dari kawanan rubah sambil membawa sepotong daging kelinci yang tersisa.
Kawanan rubah yang lain, melanjutkan tidurnya. Mereka bersyukur telah terhindar dari bujuk rayu rubah tak berekor yang licik itu.
Dari cerita ini, kita diingatkan bahwa tidak semua perbuatan licik dapat berjalan dengan lancar. Suatu waktu, mereka yang kerap berbuat licik akan ketahuan belangnya dan dipermalukan bahkan ditinggalkan orang-orang yang dekat denganya.
Pengarang Cerita: Damas
 

Kesetiaan Seekor Anjing

| komentar

Suatu hari hidup seorang kakek yang hidup hanya dengan istrinya, kakek itu bernama Bahri. Suatu hari saat kakek Bahri sedang berjalan pulang dia melihat seekor anjing kecil yang terlantar dijalanan. Seketika kakek Bahri mendekati anjing malang tersebut dan membawanya pulang, sesampainya dirumah istri kakek Bahri yang bernama nenek Sri membuka pintu. Saat nenek Sri membuka pintu dan melihat suaminya membawa anjing malang tersebut perasaan nenek sri tersbut menjadi buruk. Keesokan harinya kakek Bahri sengaja tidak bekerja hanya untuk mengobati anjing malang tersebut, melihat kakek Bahri yang tidak bekerja nenek Sri pun marah kepada kakek bahri lalu nenek sri berkata
Nenek sri: “pak kenapa bapak tidak bekerja?”
Kakek Bahri: “Bapak sengaja tidak bekerja untuk mengobati anjing malang ini.”
Nenek Sri: “Kalau bapak hari ini tidak bekerja bagaimana kita bisa makan?”
Kakek Bahri: “Kan singkong dibelakang masih ada, hari ini kita makan singkong dulu saja.”
Nenek Sri: “Dasar anjing pembawa sial” dengan nada yang sangat marah
kakek bahri: “Bu jangan bicara begitu ini anjing juga ciptaan tuhan.” dengan nada marah
Suatu hari saat kakek bahri ingin membeli sesuatu diwarung anjing itu menggonggong, lalu kakek bahri berkata
Kakek bahri: “Kenapa anjing itu terus menggonggong?” tanyanya
ternyata maksud anjing tersebut menggonggong adalah akan ada tamu yang akan datang kerumah kakek bahri.
Karena merasa kesal anjing tersebut mendatangi warung yang kakek bahri tuju, ternyata anjing tersebut tidak menemukan kakek bahr, anjing tersebut hanya menemukan sandalnya, karena merasa sakit hati gonggongannya tidak didengar kakek bahri akhinya anjing tersebut mengambil salah satu sendal kakek bahri. Saat kakek bahri hendak pulang dia heran dan berkata,
Kakek Bahri: “kenapa sandalku tidak ada sebelah?” terheran-heran
lalu kakek bahri pulang hanya dengan sandal sebelah. Saat sampai dirumah ternyata sandalnya sudah ada dihalaman depan rumahnya dan ada gigitan anjing, kakek bahri lalu sadar kenapa anjing ini mengambil sandalku, mungkin dia sakit hati karena dia tadi sudah menggonggong aku tidak mendengarnya.
Keesokan harinya nenek sri berjalan menuju pasar tapi anjing peliharaannya tersebut mengikutinya, sesampainya dipasar dia terus dipandangi oleh orang-orang dipasar dengan pandangan yang aneh. Saat dia sampai ditukang sayur lalu tukang sayurpun berkata kepada nenek sri
Tukang sayur: “Bu anjing siapa itu?” terherah-heran
Nenek sri: “Saya tidak tahu bang.” dengan perasaan malu
Mendengar perkataan nenek sri anjing tersebut pergi karena sakit hati. Lalu sesampainya dirumah kakek bahri berkata kepada nenek
kakek bahri: “Bu si jackie kemana?, bapak tidak melihat dia dari tadi?
Nenek sri: “Ibu tidak tahu kemana dia.” sambil menyembunyikan sesuatu.
Kakek bahri setiap hari terus mencari anjing tersebut tetapi tidak pernah ketemu.
Karena putus asa kakek bahri setiap harinya terus sedih karena anjing yang sangat disayanginya pergi entah kemana.
Melhat keadaan suaminya yang terus memburuk nenek sri pun mencoba untuk jujur kepada kakek bahri.
Nenek Sri: “Pak sebenarna aku tahu dimana si jackie?”
Kakek bahri: “Dimana bu?” dengan mata yang berkaca-kaca
Nenek sri: “beberapa hari yang lalu ibu pergi kepasar saat diperjalanan ibu diikuti oleh si jackie, saat ibu sedang membeli sayur tiba-tiba tukng sayur itu berkata kepada ibu, tukang sayur itu menanyakan pemilik anjing tersebut, lalu ibu menjawab say tidak tahu.
kakek bahri: “Jadi ibu tidak mengangap jackie?” dengan marah
Nenek sri: “Ibu malu karena dipasar banyak yang memandangi ibu dengan pandangan yang aneh.
Saat mereka sedang berbicara, terdengar suara lolongan anjing dari luar rumah. Merekapun dengan cepat keluar rumah dan benar saja suara lolongan anjing tersebut adalah si jackie. Melihat si jackie nenek sri dengan rasa bersalah meminta maaf kepada si jackie dan kakek bahri berpesan kepada nenek sri agar tidak berkata seperti itu lagi.
Akhirnya mereka semua menjadi keluarga yang bahagia walaupun kakek bahri dan nenek sri tidak mempunyai anak, karena dengan keberadaan si jackie sudah cukup untuk mengobati perasaan mereka untuk mempunyai anak.
Pengarang Cerita: Faisal Malik
 

Cici, Pusi dan Upi

| komentar

Hutan yang sering dipandang sebagai tempat yang menyeramkan, sore itu berubah mejadi tempat yang menyenangkan. Cengkrama para penghuninya mengubah suasana menjadi semakin indah. Serigala, harimau, singa, sampai binatang yang lucu seperti kelinci, tupai, kucing, dan masih banyak lainnya tinggal dalam rumah yang mereka sebut hutan.
Seperti halnya mahluk Tuhan yang lainnya, masing-masing di antara mereka mempunyai kekurangan dan kelebihan. Cici si kelinci yang lincah dan cerdik ternyata juga mempunyai sifat jahil terhadap temannya. Pusi, si kucing kecil dan Upi si tupai sering menjadi korban kejahilannya.
Sore itu Cici, Pusi dan Upi bermain bersama di tempat yang lapang. Mereka berkejar-kejaran kesana-kemari, bersembunyi dibalik semak-semak sambil tertawa riang. Karena merasa kelelahan mereka pun beristirahat di atas rerumputan yang hijau. Tiba-tiba Cici melihat sesuatu tergeletak dalam bungkus plastik.
“hai Teman-teman… lihatlah! Cici berteriak sambil menunjuk ke arah bungkusan plastik itu. Mereka menghampiri benda itu dan ternyata sebungkus makanan dan kue.
“wah… makanan teman-teman..” teriak Upi.
“Asyik… sore ini kita makan enak..” Pusi bersorak kegirangan.
Cici mengambil kue itu, membuka bungkusnya dan tercium aroma harum dari kue itu. Tiba-tiba muncul niat liciknya.
“Ah… kue ini pasti nikmat sekali apalagi jika ku makan sendiri tanpa berbagi dengan mereka”. Gumamnya dalam hati.
“Teman-teman sepertinya kue ini bekal pak tukang kayu yang sering ke hutan ini, mungkin dia baru saja kesini dan belum pergi terlalu jauh. bagaimana jika ku susullkan kue ini, bukankah menolong orang juga perbuatan mulia? Cici meyakinkan temannya.
Raut kecewa tergambar di wajah Upi dan Pusi, mereka gagal makan kue yang beraroma lezat itu.
Cici pun segera beranjak pergi dan berlari ke arah jalan keluar hutan. Setelah berlari cukup jauh dari temannya Cici berhenti mengatur nafas, ia tengok ke kanan ke kiri, dia pun tersenyum, merasa aman dan tak ada siapa pun disana, dia duduk dan segera membuka bungkusan plastik itu.
“ha.. ha.. kalian tertipu sobat.. sebenarnya aku hanya menginginkan kue ini untuk ku makan sendiri tanpa berbagi dengan kalian.” Gumamnya penuh semangat.
Tanpa berpikir panjang ia pun mulai memakan kue itu dengan lahapnya. Nyam… nyam… nyam… karena asyiknya ia tidak menyadari kalau ada bahaya yang sedang mengintainya. Tiba-tiba…
Bruukk..!!
“Aaahhgg… tolooong…” Cici menjerit keras. Seekor serigala muncul dari balik semak dan langsung menerkam tubuh mungil Cici. Kukunya yang tajam membuat Cici tak berani bergerak karena sedikit saja dia berontak maka kuku-kuku tajam serigala itu akan melukainya. Ia pun menangis dan terus berteriak minta tolong.
“Toloong aku kawan… lepaskan aku pak serigala…”
“haahaa… tidak ada yang akan menolongmu anak manis..” kata serigala itu.
Cici pun memutar otak mencari cara bagaimana agar ia bisa bebas dari cengkraman serigala itu. Akhirnya ia mendapatkan ide.
“Pak serigala, aku punya dua teman disana. Bagaimana jika mereka ku jemput kesini supaya kamu dapat makan lebih banyak lagi”. Cici berusaha mengelabuhi serigala itu.
Serigala serakah itu membayangkan akan makan lebih banyak hari ini dengan kehadiran teman-teman Cici.
“Baiklah, segera panggil mereka tapi aku harus ikut di belakangmu.” jawab seriagala.
Cici senang karena berhasil mempengaruhi serigala itu. Dalam pikirannya ia terus mencari cara agar pak serigala tidak mengikutinya.
“pelan-pelan saja ya jalanmu supaya mereka tidak mendengar langkah kakimu. Aku khawatir mereka akan lari ketakutan.”
“cepat sana panggil aku sudah sangat lapar!” bentak serigala sambil melepas cengkramannya.
Cici pun berlari ke arah teman-temanya yang di tinggalkan tadi. Sementara serigala mengikutinya dengan langkah pelan. Menyadari hal itu Cici berlari sekuat tenaga sambil sesekali memanggil temannya.
“Upi… Pusi… tolong aku… aku dikejar serigala…” teriak Cici saat dia tahu serigala sudah berada jauh di belakangnya. Dari kejauhan temannya mendengar teriakan Cici. Mereka pun cepat bersembunyi ke dalam lubang di balik semak belukar. Serigala pun geram saat menyadari dirinya tertipu.
“kurang ajar! aku ditipu mahluk kecil itu! Awas tidak akan ku lepaskan lagi kalau kau tertangkap!” serigala itu berlari sekuat tenaga mengejar Cici.
Cici terus berlari, dia bingung melihat teman-temannya sudah tidak ada di tempat semula. Sementara serigala sudah dekat berada di belakangnya. Cici panik dan berpikir akan menghadapi bahaya tersebut sendiri.
“Ups…!”, kaki Cici tiba-tiba terasa ada yang menarik. Ia pun menjerit dan bahkan tidak berani membuka mata.
“jangan Pak serigala… jangan makan aku, ampuni aku..”
“Sst…, ini aku Ci, bukalah matamu, ini Upi dan Pusi..”
“ayo cepat Ci…” dengan rasa kebersamaan mereka pun akhirnya selamat.
Namun serigala itu masih mondar-mandir dekat persembunyian mereka. Suaranya memecah keheningan hutan, membuat takut seisi hutan. Cici makin menggigil di tempat persembunyiannya.
“hai kelinci kecil awas kamu! Tidak akan kulepaskan lagi. Aku akan menunggumu sampai keluar dari persembunyianmu.!” Serigala itu pun tertidur di dekat persembunyian mereka bertiga.
Tiba-tiba serangan semut merah membangunkannya. Dia berputar-putar menghindari serangan semut itu.
“waduh.. telingaku sakit… sekujur tubuhku sakit…! dasar semut tidak berguna! Waduh… mataku juga diserang.. sakiit…, aku bisa buta kalau begini.” “Tolong… !” teriak serigala sambil berlari tak terarah.
Cici, Pusi dan Upi memberanikan diri melihat situasi di luar. Serigala itu sudah tidak ada di sekitar mereka. Nafas mereka tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Cici menangis tesedu-sedu.
“Hik.. hik.. maafkan aku teman-teman, aku bersalah pada kalian. Aku telah berbohong..” cici akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Temannya tidak marah apalagi membencinya. Cici pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“sudahlah Cici… kami memaafkanmu…” kata Pusi dengan bijak.
“terimaksih kawan, aku janji tidak akan mengulanginya lagi..” jawab Cici dengan tulus.
Mereka pun menemui semut merah dan berterimakasih karena dengan bantuannya mereka selamat. Cici mengakui kehebatan temannya. Semut yang tidak diminta bantuannya pun membantu mereka..
“ya Allah.., aku sangat berdosa melakukan hal yang tidak baik pada teman-temanku.” Dalam hati Cici berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Mereka bertiga akhirnya bersama-sama pulang ke rumah masing-masing, dengan tetap menjaga satu dengan yang lain karena hari mulai gelap. Dan nyanyian burung malam terdengar sayup-sayup.
Pengarang Cerita: Lylik Choir
 

Membagikan Telur

Selasa, 07 Januari 2014 | komentar


Siang itu, rumah si kembar Delancey (Dela) dan Stacey (Aci) yang sibuk dikejutkan oleh seseorang. “Halo, anak-anak! sibuk sekali kalian sampai pamanmu ini tidak dibukakan pintu,” kata sosok misterius itu. “Paman Mbul! Lihat tadi pagi kami menemukan ini di kebun,” ujar Dela sambil menunjukkan sebutir telur warna-warni pada pamannya itu.
“Aku yakin sekali pasti si kelinci putih yang memberikan ini untuk kami,” ucap Aci.
“Telur itu bagus sekali! Tapi apakah kalian pernah bertanya kenapa kita, khususnya kelinci, sering membagikan telur?” kata Paman Mbul.
“Ceritakan dong Paman!” sahut si kembar bersamaan.

Ceritapun dimulai…
Zaman dulu sekali… pernah terjadi panen tahunan gagal karena secara tiba-tiba serangga-serangga hama datang. Akhirnya, semua warga kelaparan. Mereka sudah mencoba banyak cara. Memancing? Yang didapat hanya ikan yang kecil sekali. Berburu? Yang didapat hanya hewan bertulang dilapisi kulit. Sulit sekali sampai-sampai para penghuni hutan pun merasakannya.
Satu-satunya makanan yang bisa ditemukan di hutan hanya telur milik Pak Beruang Kikir. Ia memiliki 100 ayam hutan petelur yang bertelur setiap harinya. Para penghuni hutan tentu saja membeli pada Pak Beruang. Tapi, Pak Beruang menaikkan harganya setiap harinya, sehingga para penghuni hutan yang miskin tidak mampu membelinya. Banyak penghuni hutan yang kelaparan itu mencoba mencuri telur itu, tapi tidak pernah ada yang berhasil. Telur Pak Beruang semakin mahal dan penghuni hutan semakin putus asa, sampai akhirnya cita Kelinci mengeluh pada temannya Lusi Terwelu di rumahnya.
“Coba lihat ini, Lusi! Baju ini sudah lebih mirip daster! Lebih besar 3 kali dari ukuran sebenarnya,” ungkap Cita.
“Ah… mungkin maksudmu badanmu yang tinggal tulang berbalut kulit? Nggak usah ngomong deh! Semua warga di sini juga kurus seperti papan,” bantah Lusi sambil mengecat mainan kayu yang ia buat.
“Kecuali Pak Beruang Kikir. Setiap pagi ia menyimpan telur-telur segar,” ucap Cita.
“Hei, itu dia! Pagi-pagi sekali sebelum ia mengambil telurnya, kita akan mengambilnya. Kau berbicara dengan Pak Beruang sementara aku menggali lubang di kandang ayam itu dan mengambil telur itu,” usul Lusi.
“Setuju…!” sahut Cita sambil menjabat tangan Lusi yang belepotan cat.

Maka keesokkan paginya, pagi-pagi sekali, rencana itu pun dilaksanakan. Sementara cita mengobrol dengan Pak Beruang, Lusi mengambil kelima puluh telur dari lubang yang ia buat.
Rencana itu berhasil! Mereka pulang membawa kelima puluh telur itu. Tapi, ketika Cita meminta bagiannya, ia mendapat kejutan…
“Bagianmu? Kau kan cuma mengobrol, dan lagipula yang punya ide ini kan bukan kau, tapi aku,” bantah Lusi.
Dengan penuh kekesalan, Cita pergi dari rumah Lusi. Siang itu, Lusi yang hendak memakan telur-telur itu kaget ketika melihat Pak Beruang dan Maro Marmut si detektif sedang berkeliling mendatangi rumah-rumah penduduk. Mereka sudah dapat dipastikan sedang mencari si pencuri telur. Segera Lusi mengejar Cita dan mengajaknya masuk ke rumahnya.
Mereka amat ketakutan dan berusaha mencari tempat untuk menyembunyikan telur-telur itu. Tanpa sengaja, Cita tersandung mainan kayu Lusi dan telur-telur itu jatuh ke kaleng-kaleng yang berisi cat.
Kecelakaan ini menyelamatkan jiwa Cita dan Lusi. Ketika Pak Beruang dan Maro Marmut memeriksa di rumah Lusi, ternyata yang ada adalah telur-telur berwarna dan tentu saja Pak Beruang mengatakan itu bukan telur-telurnya yang hilang.
“Ini khusus untuk warga hutan! Aku mendapatkannya dari pamanku di hutan sebelah,” ucap Cita.
“Hmm… ide bagus Cita! Semoga Pak Beruang dapat mencontohnya,” kata Maro.
Maka Pak Beruang pun mengikuti hal itu. Ia membagikan telur secara gratis. Begitu juga ke desa manusia. Dan untuk mencegah terjadinya kelaparan, khususnya di musim kemarau (April), para kelinci membagi-bagikan telurnya.
Begitulah Paman Mbul mengakhiri kisahnya.
“Ooo… jadi begitu rupanya, kukira para kelinci bertelur,” kata Aci.
“Memang tidak! Kelinci itu beranak, tapi anak-anak mereka yang akan menjadi penerus tradisi ini,” sahut Paman Mbul.
“Tapi, yang pasti,” lanjut Paman Mbul, “Cerita ini ingin berpesan agar kita sebagai generasi penerus hendaknya melakukan yang baik seperti para pendahulu kita. Dan jangan pelit tentunya.”

Pengarang Cerita: Patricia Joanne
 

Gara Gara Ko Modo

| komentar

Di sebuah Hutan, hiduplah seekor Komodo licik, jahil, dan nakal bernama Ko Modo. Ia suka mengganggu Binatang lain yang ada di Hutan. Pernah Si Ko Modo hampir menewaskan salah satu binatang. Tapi, Ko Modo tak jera-jeranya menjahili binatang lain.

“Hahahaha! Akulah hewan terpintar di Hutan ini”, Katanya. Ko Modo merasa hanya ialah yang paling pintar.
“Huuu… Dasar sombong”, Kata Kelin Ci.
“Siapa berani menantang aku? Jika ia menantangku dan menang, aku akan pergi dari Hutan ini. Jika tidak menang, ia akan pergi dari Hutan ini!”, kata Ko Modo dengan kejamnya.
Alih-alih ternyata Si Siput mengangkat tangan! Para binatang pun takjub! Ko Modo berkata, “Ok, aku menerima tantanganmu!”.
“Aku menantangmu tebak-tebakan!”, kata Si Siput.
“Ok, besok kutunggu kehadiranmu di Sungai Adalada, jika kau tidak datang, ku anggap kau lemah!”, Kata Ko Modo penuh keangkuhan.

Esok harinya, “wahai siput, tebak-tebakan mu?”, kata ko modo.
“Ha! Apa nams Negara yang seperti nama kunyit?”. Ko Modo terdiam. Ia betpikir begitu kerasnya sampai ia pusing dan pingsan.
“Horeee…!!!”, seru binatang di Hutan.

Kini tidak ada yang mengganggu lagi.

~ tamat ~

Pengarang Cerita: Wikananda Putra
 

Kekacauan Di Hutan

| komentar

Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah sekelompok hewan yang hidup di hutan itu. Salah satu hewan itu, ada gajah yang bernama bona. Bona adalah seekor gajah yang lincah dari pasangan bu gajah dan pak gajah. Setiap hari ia bermain dengan teman-temannya di tengah hutan. Terkadang ia bermain air, main ayunan, dan masih banyak lagi. Ia mempunyai banyak teman, hampir semua anak hewan di hutan itu menjadi temannya. Bona memang gajah yang pandai bergaul. Akan tetapi, ia agak keras kepala. Setiap apa yang dia mau harus terlaksana walaupun itu adalah ide yang bodoh atau gila. Jika ia mau melaksanakan sesuatu yang bodoh, dan teman-temannya mengingatkan, jarang ia mau menuruti nasihat temannya itu. Akan tetapi, walaupun ia agak keras kepala, teman-temannya tetap menyukainya sebagai gajah yang pandai bergaul

Pada suatu hari, seperti biasa bona bermain bersama teman-temannya. Hari ini mereka hendak bermain petak umpet. Bona pun menjadi bagian yang bersembunyi bersama-sama temannya yang lainnya. Karena tidak ingin cepat ketahuan, ia pun bersembunyi agak jauh dari tempat bermainnya. Ia pun bersembunyi di balik semak-semak yang berbuah seperti buah berry dan berwarna ungu. Sementara itu, semua teman-teman bona sudah tertemukan semua dan mereka bingung mencari bona. Bona yang tak pernah tahu itu buah apa, mencobanya. “wuahh, enak sekali buah ini. Buah apa ya ini?” kata bona sambil terus melahap buah itu. Bona pun membawa beberapa buah itu dan hendak diberikannya kepada teman-temannya jika ia sudah dapat ditemukan. Tiba-tiba bona mendengar suara dari teman-temannya “bon… bona! Kemarilah, komala sudah menyerah nih! Ayo keluar!”. Yes! Batinnya, ia senang karena tak dapat ditemukan oleh teman-temannya. “yeee! Aku tidak dapat kalian temukan kan? Eh ini aku bawakan buah enak tapi aku tak tahu namanya. Nih makan! Hmmmm enak…” kata bona menawarkan buahnya sambil memakannya. “eeehhh! Bona, jangan dimakan! Itu buah beracun yang sarinya bisa buat gigimu sakit lho” kata temannya memperingatkan bona. Akan tetapi bona tidak mendengarkannya malahan ia tambah lahap memakannya. “waduuhhh gimana nih teman-teman? Kalau dia menangis gara-gara giginya sakit? Wahhh bisa gawat nih” bisik temannya. “yuk kita bilang ayah dan ibunya saja agar kita yang tidak disalahkan” usul temannya.

Tiba-tiba bona berhenti makan dan memegangi pipinya dan merintih kesakitan, teman-temannya pun kaget. “wadow! Sakit banget nih” rintih bona, “tuh kan kamu dibilangin juga apa?” sahut temannya panik. “ya udah yuk kita pulang” ajak teman bona. Bona terlihat seperti hendak menangis tapi di tahan olehnya. Bona dan teman-temannya pun pulang beriringan. Sesampainya di rumah bona, ayah dan ibunya kaget melihat bona memegang pipi kesakitan. “paman, bibi, bona tadi makan buah merry. Buah beracun yang bisa buat gigi sakit. Bona tadi makan sepertinya banyak sekali, kami juga sudah memperingatkan tapi dia tidak menggubris” jelas teman bona. “ya bu. Tadi bona makan buah yang gak bona tahu jenis buahnya. Mulanya bona bersembunyi di semak-semak yang ada buah kayak gini, terus bona makan dan rasanya enak, ya udah bona makan aja. Sekarang gigiku sakit sekali bu” jelas bona yang masih memegang pipinya. “ya sudah… ya sudah sekarang kamu masuk istirahat sana nanti biar dipanggilkan pak rusa oleh ayah untuk menyembuhkan gigimu. Oh ya makasih juga ya untuk komala, nuri, rommy dan pony kalian baik sekali” ujar ibu gajah. “iya bibi, sama-sama. Kalau begitu kami hendak pulang dulu karena hari beranjak malam, permisi” pamit teman-teman bona. Bu gajah mengangguk dan tersenyum menjawabnya. Sementara teman-teman bona pergi, bu gajah mengantar bona ke kamarnya dan memberinya segelas teh hangat dengan maksud mengurangi sedikit sakit di gigi bona. Tapi gigi bona malah bertambah sakit karena tehnya itu panas. Bona pun menangis dengan sangat kencang hingga membuat ibu bona menutup telinganya, bahkan tetangga bona, keluarga pak landak pun mendengarnya, begitu juga tetangga yang lain. Ibu bona segera mengambil air teh dengan sedikit dingin alias sejuk di tenggorokan untuk menghentikan tangis anaknya. Tetangga bona yang mendengar tangisan bona pun mendatanginya. Ibu bona pun terkejut, “ah ada apa ya?”. “ini kami tadi dengar suara tangisan seperti tangisannya bona jadi kami kemari. Mengapa bona menangis sekencang itu?” Tanya salah satu tetangganya seraya melihat bona yang masih sesenggukan dan mencoba menahan tangisnya. “oh kedengaran ya, kalau begitu saya minta maaf ya. Ini si bona habis makan buah merry banyak sekali jadi giginya sakit, sekali lagi maaf ya” jawab bu bona. Tetangganya pun mengangguk dan beranjak pulang setelah memberi beberapa ucapan doa kepada bona. Setelah tetangga pulang, ayah bona pun datang dengan pak rusa, mantri kesehatan di hutan itu. Pak rusa pun memeriksa bona, dan mengangguk tanda paham. “ooh dia habis makan buah merry ya?” Tanya pak rusa membuka percakapan. “iya pak, apa bisa disembuhkan ya pak?” jawab bu gajah. “bisa tapi karena kelihatannya dia makan sangat banyak jadi lama menyembuhkannya. Nah ini obatnya. Yang ini tempelkan di gigi, yang ini…” kata pak rusa menjelaskan. Bu gajah pun mengangguk dan mengantar pak rusa sampai di depan rumah. Seusai pak rusa pergi, bu gajah pun memberikan obat pada bona. Setelah memberi obat pada bona, bona pun tertidur.

Malam harinya, tiba-tiba bona menangis dengan kencangnya. “huwaaa! Gigiku sakit bu!” tangis bona dengan kencang yang membangunkan seisi rumah dan hampir seluruh penduduk hutan itu. Pak gajah dan bu gajah pun mendatangi kamar bona dan mendapatinya sedang memegangi pipinya sambil terus menangis. “ya sudah… sudah, jangan menangis nanti akan membangunkan tetangga” kata pak gajah menenangkan. Bona pun masih terus menangis, tiba-tiba tetangganya pun datang dan melihat apa yang terjadi. Dengan malu bu gajah meminta maaf, dan para tetangga pun maklum atas tangisan bona itu dan jika mereka mendengar tangisan bona lagi mereka tak akan mendatanginya lagi, jadi hanya cukup menjenguknya saja. Akan tetapi bona menangis berhari-hari dengan kencang sehingga membuat hutan kacau. Jika pagi hari, membuat pusing dan jika malam hari membuat tidak bisa tidur, hal ini membuat hutan terganggu dan kacau. Sampai-sampai tempat bekerja para semut dan hewan lainnya terganggu karena karyawannya tidak konsentrasi ataupun banyak yang tidak masuk.

Suatu pagi hari, bona kembali menangis karena giginya sakit. murai, burung itu sudah tak tahan lagi dengan tangisan bona. Ia pun berkata pada temannya “aduh, aku sudah tak tahan dengan tangisan bona ini, sangat mengganggu sekali”. “iya bahkan aku terbang saja sempoyongan” sahut temannya. “ya sudah ayo ke pak rusa kita tanyakan obatnya biar bona berhenti menangis” ajak murai. Temannya pun mengangguk setuju dan mereka pun terbang beriringan. Sesampainya di rumah pak rusa, mereka pun mengadu tentang hal yang mereka alami bahkan seluruh penduduk hutan alami. Saat murai menceritakan masalahnya, kebetulan singa si raja hutan itu lewat dan menghampirinya. “ada apa ini kok ramai sekali?” Tanya singa. Mereka pun menunduk tanda hormat, “ampun baginda, kami hanya menanyakan obat untuk bona karena kami sudah tak tahan mendengar tangisan bona lagi” adu murai. “aku pun begitu, jadi apa tak ada obatnya?” Tanya singa balik. “ada tapi sembuhnya memerlukan waktu yang lama” jawab pak rusa. “apa tak ada obat yang bisa menyembuhkan dengan cepat?” sahut murai. “hmmm…” gumam pak rusa berfikir. “sudah, biar aku kumpulkan seluruh penduduk hutan untuk merapatkan masalah ini” ujar singa mengambil keputusan.

Setelah berselang beberapa lama, penduduk hutan pun berkumpul di tempat pertemuan para penduduk yaitu di pohon tua tepat di tengah hutan yang terdapat batu tinggi sebagai tempat duduk raja. Mereka pun berdiskusi. “jadi bagaimana pak rusa, apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan dengan cepat?” Tanya raja singa membuka diskusi. “ampun baginda, akan saya lihat dulu di buku obat saya, semoga saja ada” jawab pak rusa sembari membuka buku mengingat-ingat bagaimana ia dulu bisa meyembuhkan hewan yang keracunan karena buah merry. Semua hewan di tempat itu menjadi dag dig dug. “nah, ini dia baginda sudah ditemukan. Saya baru ingat dulu pernah mengobati hewan terkana penyakit dari buah merry ini. Untuk membuat obatnya, dibutuhkan bahan yang banyak di tempat yang sangat jauh baginda jadi susah untuk membuatnya” jelas pak rusa dengan nada agak kecewa. Para hewan yang semula agak menampakkan rona bahagia jadi mengkeret lagi. Tiba-tiba salah satu hewan menyampaikan usul “ampun raja! Bagaimana kita bersama-sama mencarinya dan menggotongnya ramai-ramai sekalian kita ajak hewan yang besar termasuk bu gajah dan pak gajah. Dan yang menenangkan bona nanti kita pilih hewan yang paling lucu dan menyenangkan, bagaimana?” serunya sambil mengacungkan tangan. “hmmh, usul yang bagus baiklah akan saya atur semuanya, tapi apa pak rusa punya petanya?” tanyanya pada pak rusa. “oh tentu saja punya, biar saya ambilkan petanya” jawab pak rusa berlari. Dan selang beberapa detik pak rusa datang kembali dengan membawa peta yang sudah sobek lipatannya. Pak rusa pun memberikan peta itu kepada raja singa, “sepertinya tidak terlalu jauh dan sulit, disana tidak banyak hewan buas jadi untuk antisipasi kita bawa bala tentara kita beberapa saja ya. Saya akan pilih bu kangguru dan bu kelinci putih untuk menemani bona di rumah. Dan…” raja menghela nafas karena terlalu semangat bicara “sisanya di rumah ya” imbuh raja. Semua hewan pun stuju dan melaksanakan titah raja. Singa sendiri menghampiri bu gajah dan pak gajah untuk meminta persetujuannya dan mereka setuju, maka dilaksanakanlah rencana itu.

Rombongan hewan ke tempat tujuan terlihat semangat. Banyak rintangan di jalan tapi semuanya dihadapi dengan gagah berani. Sedangkan bona di rumah masih menangis di rumah walaupun telah dihibur bu kanguru, bu kelinci putih dan beberapa hewan yang disuruh tinggal untuk menyiapkan bahan-bahan yang terdapat di sekitar hutan dan mempersiapkan alatnya untuk memasak. Akhirnya di rumah bona sudah tertidur sehabis didongengkan oleh bu kanguru dan bu kelinci putih dan diberi obat pemberian pak rusa sebelumnya. Menjelang siang, gerombolan hewan dari mengambil obat pun kembali dengan banyak bawaan. Selepas itu mereka pun bergotong royong membuat obat dengan pemimpin pak rusa dan koordinator raja singa. Mereka bekerja sama hingga sore menjelang. Ketika sore sudah mau habis, pekerjaan itu selesai. Mereka pun langsung memberikannya pada bona. Setelah mengusapkan ke giginya dan meminumnya, bona sudah tidak menangis tapi hanya merintih. Dan ketika matahari mulai terbenam bona sudah sembuh total. Semua penduduk hewan pun bersorak membuat bona bingung, mengapa ia sembuh semua hewan menjadi sangat gembira tapi pertanyaannya itu hanya sesaat dan ia pun kembali hanyut dalam kegembiraan penduduk hutan itu.

Malam itu raja memutuskan diadakan pesta karena kekacauan hutan berakhir sudah dan semua bergembira dan bersuka ria. Sedangkan bona berjanji tak akan makan buah merry lagi.

Pengarang Cerita: Sylvia Rijha Putri
 

Kancil Yang Bijaksana

| komentar

Di sebuah hutan, hiduplah seekor Kancil yang besar dan gemuk. Kancil itu dikenal sangat baik dan suka menolong oleh hewan-hewan lainya. Selain itu Kancil juga hewan yang cerdik. Kancil selalu membantu dan menolong temannya yang akan menyeberangi danau, karena Danau itu dijaga oleh seekor buaya yang sangat besar dan rakus.

Pada suatu hari, saat Kancil pergi untuk mencari makan. Tiba-tiba Kancil mendengar temannya minta tolong di sekitar danau. Lalu Kancil berlari cepat menghampiri temannya. Ternyata lagi-lagi Buaya itu tidak memperbolehkan hewan lain masuk ke wilayahnya, dan selalu mengancam siapapun yang masuk ke wilayahnya akan dimakan.

Tiba-tiba Kancil melihat ikan kecil di tepi Danau. Lalu Kancil mengambil ikan kecil itu tanpa sadarnya buaya. Lalu, Kancil melempari ikan-ikan kecil itu kepada buaya agar buaya itu memakan ikan kecil itu dan tidak sadar bahwa Kancil dan temannya menyeberangi Danau itu melewati punggung Buaya. Lalu Kancil mengantarkan temannya mencari makan.

Teman-teman Kancil bangga memiliki teman yang bijaksana. Teman kancil yang di tolong tadi berterima kasih kepada Kancil, sampai akhirnya Kancil di juluki Kancil yang bijaksana.

Pengarang Cerita: Mutiara Nur Cahyaningrum
 

Burung Pipit Yang Sombong

| komentar

Di hutan ada seekor burung, Pipit namanya. Ia tinggal sendirian di rumah. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Pipit mempunyai sifat sombong. Ia tak pernah membantu orang lain, saat orang lain meminta pertolongannya. Ia juga suka pamer barang-barang baru yang dimilikinya. Dan dia juga jarang menyapa temannya yang lain, saat bertemu dengan temannya yang lain di jalan.

Karena sifatnya yang sombong dan tak peduli. Pipit dijauhi teman-temannya. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Pipit pun suka main sendiri. Dan saat pergi jalan-jalan dan bertemu teman-temannya, Pipit selalu dibicarakan teman-temannya, dengan sikap sombongnya itu.

Suatu hari Pipit bertemu dengan Luna, semut merah yang sangat baik hati. Semut merah yang suka menyapa orang, jika bertemu dengannya di jalan, langsung menyapa Pipit yang kala itu berpapasan dengannya.

“Siang pipit. Mau pergi kemana?” Tanya si Luna dengan lembut.

Burung Pipit yang sombong langsung memalingkan muka, begitu melihat Luna. Ia terus berjalan. Pipit tak peduli pada Luna yang menyapanya.

“Kalau saja kamu bisa sedikit baik hati pada orang lain, kamu pasti punya banyak teman. Tak perlu sendirian saat pergi bermain.” Kata Luna sedih.

Mendengar kata-kata Luna, Pipit tersinggung. Pipit marah. Pipit merasa diejek oleh Luna. Dengan cepat Pipit membalikkan badan. Pipit berjalan mendekati Luna.

“Apa katamu tadi?! Kau bilang aku sombong. Tidak punya teman?” Pipit mengarahkan tangannya pada wajah Luna. Pipit jelas terlihat sangat marah. “Asal kau tahu. Aku bukannya tidak punya teman. Tapi aku tak mau berteman dengan mereka. Mereka kotor dan bau. Mereka miskin. Mereka tak punya baju bagus seperti yang kupakai ini.” Pipit memeperlihatkan pakaiannya yang sangat bagus pada Luna. “Sebaiknya aku pergi saja. Tidak penting bicara dengan semut merah, yang kotor dan bau.”

Setelah kalimat terakhir, Pipit pergi meninggalkan Luna. Pipit pergi dengan sikap sombongnya.

Setelah pipit pergi, Luna menggelengkan kepalanya dan berucap, “Pipit, kau sangat sombong sekali. Kau pikIr, kau bahagia dengan sikap sombongmu. Meski kami tidak kaya sepertimu, tapi kami saling membantu sama lain.”

Luna pergi dengan perasaan sedih.

Setelah kejadian itu, Pipit selalu membuat orang lain sedih. Pipit selalu mengejek teman-temannya. Ia selalu mengejek pakaian yang dikenakan teman-temannya itu jelek. Pipit selalu mengejek dan mengusir pergi teman-temannya, yang datang ke rumahnya. Dengan sikap sombong Pipit yang berlebihan, teman-temannya tak ada yang mau bermain dengannya. Teman-temannya tak mau menolong Pipit, jika Pipit ada kesulitan. Suatu hari, Pipit yang baru saja mencari makanan bertemu dengan Haci, si lebah madu muda. Haci berniat menolong Pipit, dengan membawakan makanan Pipit. Tapi Pipit langsung marah saat mau ditolong Haci. Pipit mengira, Haci akan mengambil makanannya. Dengan sombong dan galak, Pipit menarik makanannya dan menyembunyikannya di balik bajunya. Pipit juga membentak Haci.

“Hey, Haci! Kalau mau makan cari sendiri! Jangan ambil makanan orang lain!” bentak Pipit dengan kasar dan keras.

Haci bingung mendengar kata-kata Pipit. Haci cuma mau berniat menolong Pipit membawakan makanannya, malah dituduh mau mengambil makanan milik Pipit. Haci pun menjelaskan pada Pipit, kalau dia cuma mau berniat menolong membawakan makannanya.

“Tidak Pipit. Aku tidak mau mengambil makananmu. Aku Cuma mau menolong membawakan makananmu. Karena aku lihat, kau kerepotan membawa makanan sebanyak itu.” Ucap Haci sabar. Dia tidak marah pada Pipit, yang menuduhnya mau mencuri.

Karena sikap sombongnya sudah terlalu besar, Pipit tak percaya pada Haci. Pipit pergi meninggalkan Haci. Setelah kejadian itu, Pipit mulai bercerita pada teman-teman yang lain, kalau Haci, si lebah madu muda itu, mau mengambil makanan yang ia cari dengan berkerja keras. Tapi, untunglah. Teman-teman Haci tak terhasut oleh ucapan Pipit. Teman-teman Haci tidak percaya kalau Haci mencuri. Teman-teman Haci malah tidak percaya pada ucapan Pipit.

Beberapa hari kemudian Pipit hendak mencari makanan. Kebetulan persediaan makanannya sudah habis. Pipit pun pergi jauh dari tempat tinggalnya untuk mencari makanan. Pipit terbang ke sana kemari. Tapi tak ada satupun makanan yang dia temukan. Sampai-sampai Pipit kelelahan. Pipit berniat istirahat sebentar. Pipit pun hinggap di sebuah pohon rindang dan teduh. Selang beberapa saat ia istirahat di pohon rindang itu, ia mendengar sebuah suara. Awalnya Pipit mengira kalau suara itu cuma angin. Tapi lama-lama perasaannya tidak enak. Ia yang memejamkan matanya, langsung membuka matanya dengan cepat, saat sebuah suara yang mirip dengan desisan ular itu terdengar di telinganya. Saat Pipit membuka matanya, ia terkejut melihat ular besar tengah memandangnya. Ular itu mendesis, menjulurkan lidahnya. Karena kaget dan takut, Pipit langsung jatuh ke bawah.

“Arrrggghhh…” Jerit Pipit kesakitan. Ternyata sayap kiri Pipit patah. Pipit semakin takut dan bingung. Karena ular besar itu turun dari pohon rindang, dan mendekati Pipit. Pipit duduk diam. Memandangi ular besar, yang berjalan semakin dekat dengannya. Pipit berpikir, mungkin dia akan mati dan dimakan oleh ular besar itu. Karena sayap kirinya patah, membuat pipit tak bisa terbang dan meloloskan diri dari ular besar itu. Pipit memejamkan matanya dan menunggu dirinya dimakan ular besar itu.

“Pipit lari!”

Pipit mendengar suara Haci. Ia seperti sedang bermimpi. Kalau Haci akan menolongnya dari ular besar itu.

“Pipit lari!”

Bahkan suara Luna masih ia dengar dalam benaknya.

Pipit tersentak saat bahunya ditarik. Secepat itu, Pipit membuka matanya. Sekarang dia sudah jauh dari ular besar itu. Pipit melihat Haci kelelahan karena menarik tubuhnya yang lebih besar dari tubuh Haci.

“Sekarang kau sudah aman. Teman-teman dan aku akan melawan ular besar itu. Kau tunggu disini.” Ucap Haci setelah menarik tubuh Pipit, menjauh dari ular besar itu.

Pipit melihat Haci bergabung dengan teman-temannya untuk melawan ular besar itu. Luna juga ikut melawan ular besar itu. Pipit melihat semua teman-temannya yang sering ia hina, sekarang sedang membantunya dari kejahatan ular besar, yang mau memakannya.

Setengah jam kemudian ular besar itu berhasil diusir. Dan ular besar itu pergi dari tempat itu. Haci, Luna dan teman-temannya yang lain mendekati Pipit. Pipit duduk pada sebatang kayu. Pipit memegangi sayap kirinya yang patah.

“Terima kasih.” Ucap pipit malu-malu pada Haci, Luna dan teman-temannya.

“Terima kasihlah pada Haci. Karena dia yang melihat kamu mau dimakan ular besar itu. Saat melihat itu, Haci langsung terbang dan menemui kami. Ia bilang kalau kamu akan dimakan ular besar. Cepat-cepat kami pergi kemari dan menolongmu. Dan kami berhasil mengusir ular besar itu.” Ucap Luna lembut.

“Terima kasih, Haci.” Ucap Pipit.

“Tidak perlu berterima kasih. Bukankah kita semua teman. Dan teman harus menolong temannya yang sedang kesusahan.” Jawab Haci yang disambut tepuk tangan teman-temannya.

“Haci, maafkan aku. Aku sudah menuduhmu mencuri makananku.” Pipit meminta maaf pada Haci. “Dan juga, aku sudah bersikap sombong pada Luna dan yang lainnya. Aku minta maaf. Dan aku akan berubah.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak marah kok. Dan aku senang kalau kau mau berubah.” Ucap Haci.

“Menjadi Pipit yang baik hati.” Timpal Luna.

“Dan tidak sombong.” Tambah teman-temannya yang lain.

Haci, Pipit, Luna dan teman-temannya tertawa gembira. Sekarang Pipit sudah tidak bersikap sombong lagi. Pipit juga sudah mau berteman dengan yang lainnya. Dan Pipit juga tidak mengusir temannya yang datang ke rumah. Semuanya berakhir bahagia, dengan tawa yang disambut senja.

Selesai

Pengarang Cerita: Mia
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami