Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sahabatku Seorang Penyihir

Selasa, 28 Januari 2014 | komentar

Claire menghela nafas kelelahan. Seperti biasa, di hari libur ia melakukan aktifitas olahraga pagi dengan cara jogging di taman kota. Di bawah pohon taman yang cukup rindang itu, Claire duduk untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang ada di sekitarnya.
Claire menoleh kesana-kemari. Setelah merasa yakin kalau tidak ada yang memperhatikannya, ia menggerakkan tangannya ke atas. Sebuah botol minum keluar dari tasnya yang terletak di atas bangku taman yang agak jauh dari tempat duduknya. Claire tersenyum tipis. Lalu tangannya ia gerakkan ke belakang. Dan botol itu pun terbang menuju kearahku. Dengan cepat Claire mengambil botol itu lalu meminumnya.
“Apa yang kamu lakukan?!” seru seseorang dari belakangnya.
Claire menahan nafas. Ia membalikkan tubuhnya dengan perlahan-lahan. Disana terlihat seorang gadis yang sedang melihat apa yang terjadi tadi. Claire mengigit bibir bawahnya dengan ketakutan. “Bukan apa-apa” Ucap Claire terburu-buru lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Gadis itu terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. Apa botol minuman itu benar-benar terbang? Dan botol itu seperti diatur oleh gadis tadi. Apa gadis itu mempunyai kekuatan sihir? Atau dia sedang mengelabui penglihatan orang lain?
Gadis itu berjalan dengan wanita separuh baya di depannya. Setelah sampai di tempat tujuan, tepatnya di kelas IX A mereka masuk. Lalu wanita separuh baya tersebut menyuruh gadis itu untuk memperkenalkan dirinya.
“Pagi anak-anak?” sambut wanita separuh baya itu yang bernama bu Maspuroh.
“Pagi juga bu” jawab murid-murid sekelas.
“Oke, sebelum kita mulai pelajaran, simbok akan memperkenalkan murid baru, silahkan Claire” Ucap bu Maspuroh.
“Perkenalkan nama saya Claire Veela Zeus, saya biasa dipanggil Claire. Saya harap, kalian bisa membantu saya selama disini, dan bisa menjadi teman baik saya, terima kasih.” Jelas Claire panjang lebar.
“Namanya susah amat, tapi cantik sih, hehe.” Ucap seorang murid laki-laki dengan tersenyum.
“Huuu” Sorak semua murid di kelas itu.
“Sudah-sudah kalian diam, dan Claire silahkan duduk di bangku yang kosong.” Lerai bu Maspuroh dan menyuruh Claire duduk.
Pelajaran berjalan dengan tenang sampai bel Istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar, sedangkan Claire memilih untuk tetap di kelas. Tiba-tiba ada yang menghampiri dari belakang tempat duduknya.
“Hai, Claire, kau masih ingat denganku” Ucap gadis yang menyapa Claire.
Deg, “Cewek itu ada disini?” ucap batinnya Claire.
“emm, kurasa aku ingat” jawab Claire ragu.
“hmm, maaf ya sebelumnya sudah melihat tontonan gratis eksperimenmu itu”
“Maksudnya?” tanya Claire heran.
“emm, sudahlah jangan dibahas, aku tau kau tak akan menjelaskannya padaku” jawab gadis itu.
“okeh, ngomong-ngomong namamu siapa?”
“Oh iya, saking penasarannya lupa akunya ngenalin diri, namaku Datul, lengkapnya Sa’adatul Azalia, salam kenal. hehe” ucap Datul sambil tersenyum. :)
“Oh, Datul toh namanya?” Claire ber’oh ria.
“Iya, apa kau mau jadi temanku? atau sahabatku? aku bisa jadi pendengar curhatanmu dengan baik kok” tawarnya.
“Boleh sekali, jadi sekarang kita sahabat.” Jawab Claire dengan mantap.
“Iya, sahabat.” jawab Datul dengan sangat yakin.
Setelah kejadian itu kami bersahabat sampai sekarang, dan rasa penasaranku pun sudah hilang, karena sekarang aku sudah tau siapa Claire sebenarnya. Claire ternyata benar-benar seorang penyihir, awalnya aku tidak menyangka akan hal itu, karena kukira penyihir itu hanya ada di dunia dongeng, cerita dan fantasiku saja.
Tapi anehnya lagi Claire itu penyihir yang baik dan cantik, tidak seperti penyihir-penyihir lainnya yang bersifat jahat dan berwajah jelek dengan hidung panjang lalu ada kutilnya yang amat menyeramkan. Sejak aku tau dia penyihir, aku tidak takut dengannya, aku malah berjanji untuk menjaga dan jika aku melanggar janjiku itu aku menyuruhnya untuk merubahku menjadi kodok. hehe.
Hari-hari telah kita lewati bersama. Aku bersyukur punya sahabat penyihir sepertinya, yang mempunyai banyak kesamaan denganku, walau tak semuanya. Tapi lama kelamaan, Claire mendapat teror yang membuat kami sontak terkejut. Teror itu datang setiap hari, bahkan terakhir yang kulihat Claire mendapat sebuah kado berisi boneka penyihir yang ditusuk pisau dan berdarah. Di kado itu berisi surat yang tertulis “Penyihir harus Mati!!!”.
Aku tidak tau siapa yang mengirimnya, namun Claire menuduhku yang membuat teror itu, karena yang dia tau cuma akulah yang dia ceritakan tentang Identitasnya itu sebagai penyihir.
Aku selalu meminta maaf padanya, tapi dia tidak mau percaya padaku.
Kali ini aku sms padanya dan menyuruhnya untuk menemuiku di taman.
“Aku tunggu tepat jam 20.00 di taman, aku mohon kau datang”.
Waktu menunjukan jam 20.00 tepat. Claire mencari sosok orang yang tadi mengajaknya bertemu.
“Dimana Datul? katanya dia menungguku, tapi kenapa dia tidak ada?” Claire mendengus kesal.
“Akh, pasti dia bohong dan mengingkari janjinya lagi!” dumelku sambil menunggu Datul. “huh, Lebih baik aku pulang!” lanjut Claire sambil berjalan. Tiba-tiba dari belakang ada yang memukul Claire sehingga membuat Claire pingsan.
Bangun-bangun Claire sudah di tempat yang sangat kotor dan kumuh, tepatnyan di gudang. Tapi siapa yang membawa Claire kesini? dan kenapa Claire duduk dengan keadaan terikat? Claire terus bertanya-tanya dan Claire mulai ketakutan.
“Pasti Datul yang melakukan ini semua, dari dia tau tentangku dan berpura-pura menjadi sahabatku, lalu menerorku, dan sekarang dia akan mencelakakan aku”. Batin Claire. Claire menuduh Datul seenak hatinya, tapi dugaannya ternyata salah ketika seseorang pria paruh baya itu muncul di depannya.
“Ayah?” spotan aku kaget ketika tau orang yang mengurungku ternyata ayahku sendiri.
“Diam kau! Aku bukan ayahmu, dan kau bukan anakku, tapi kau anak Penyihir!” Bentak pria paruh baya itu, yang membuatku sakit hati.
“Ayah, kenapa tega lakuin ini? Kenapa ayah tega mengikat aku di tempat seperti ini? Apa akan membunuhku? Seperti halnya ayah membunuh ibu, karena ibu juga seorang penyihir?” Ucap Claire semakin lirih dan menangis.
“Rupanya kau sudah tau maksudku anak penyihir! Hahaha” ucap pria itu sambil tertawa.
“KREK” Terdengar seperti botol yang terinjak orang lain dari dekat pintu. Ternyata sedari tadi orang itu melihat kejadian itu dari awal dan mendengar semua perkataan mereka.
“Siapa disana, cepat keluar!” suruh pria itu.
“Akh, sial aku ketauan lagi” Batinku. Kutekadkan keluar dari tempat persembunyianku itu, lalu menghadap mereka.
“Datul” ucap Claire kaget.
“Oh, jadi ini temanmu? Kalau begitu dia juga harus mati, karena telah tau pebuatanku ini. Cepat angkat tanganmu!” Suruh praia itu menyidirkan pistolnya dan mengarah ke aku.
“Tidak ayah! Bunuh saja aku, Datul tak bersalah!” Claire menangis.
“Tidak bunuh saja aku, dan lepaskan Claire, dia anakmu om, sadarlah” Ucapku.
“Tidak! Kalian berdua harus mati!” Pria itu menembakku, tapi nihil. Sebelum peluruh meluncur ke arahku, ada hembusan angin besar yang dari arah Claire, sehingga pelurunya tak sempat ke arahku malah ke arah lain. Ternyata Claire mencoba menolongku dengan sihirnya, sesudah ia melepas ikatan dari tubuhnya dengan sihirnya juga. Dan pria itu ikut terdorong oleh angin tersebut yang membuatnya terbentur ke tembok lalu mati. Setelah kejadian tersebut Claire meminta maaf padaku, karena dia telah salah menilaiku, aku pun begitu. Kami juga sama-sama berterimakasih satu sama lain. Dan Kami pun akan terus jadi Sahabat.
- THE END -
Penulis Cerita: Sa’adatul Azalia
 

Yang Terjadi Sebelum Fajar

Jumat, 24 Januari 2014 | komentar

Strittt…! Pukkk! Bunyi decitan kasar di susul bunyi benturan keras terdengar.
Sekilas ada sesuatu yang terhempas. Sesuatu yang naas, terlepa hampir menyentuh ujung badan trotoar.
Sorotan sepasang lampu masih saja menyorot dan menyimburat kekuningan, seakan meraba-raba sesuatu di depan jalan sana.
“Astaga! Ya Tuhan, bagaimana ini. Nikolas, bagaimana ini?”
Nampaknya seru ketakutan! Seru ketakutan yang tersohor gugup dan keluar dari mulut seseorang. Seseorang yang baru saja keluar bersamaan dengan seorangnya lagi.
Dua pemuda yang nampak bingung dan ketakutan.
Gugup dan tatapan ngeri hanya terbias satu sama lain.
“Nikolas, kenapa kamu diam. Bagaimana ini sekarang? Lihat dia, tangannya bahkan masih bergerak. Kita bawa saja ia ke rumah sakit.”
“Jangan!!! Nanti aku bisa-bisa di tahan karena hal ini. Lagi pula ini tidak sepenuhnya kesalahan ku! Jika saja kamu tak menjatuhkan rokok mu itu tepat di lengan ku, aku takkan mungkin menyunggingkan stir ke kiri. Kamu juga bersalah john!”
“Terus bagaimana ini Nikolas?”
ucap john, dengan tatapan wajahnya yang pucat setengah mati.
Sementara seorangnya lagi. seorang yang bernama nikolas, masih nampak bingung, sambil terpekur. Tangannya terus saja tak henti-hentinya mengusap dahinya.
“Nik! Sebaiknya kita tinggalkan saja ia. Lagi pula tak ada yang melihat. Nik ayo!”
berucap john, yang nampak sudah tak tahan lagi dengan ketakutan yang menyeringai di benaknya.
“Jangan! Itu ide yang buruk! Kan kau tahu sendiri. Sebelumnya tadi! Di ujung jalan sana. Kita sempat berpapasan dengan seorang tukang bakso, ia bisa saja menjadi saksi atas kejadian ini. Dan aku mengira ia mengenali mobil ku juga. dan mungkin, ia sempat melihat wajah ku di balik kaca mobil yang setengah ku buka tadi”
“Lalu sekarang apa!”
“Sebaiknya kita masukan saja orang ini dalam mobil. Dan nanti kita buang jasadnya di tengah hutan”
“Tapi…!”
“Sudahlah john jangan pakai tapi, Tapi, lagi. Jika kamu tak ingin masuk bui! Sebaiknya kau turiti saja perkataan ku”
tindih nikolas.
John pun hanya terbungkam rapat bibirnya. Matanya masih saja menatap gugup. Menatap ke arah seseorang yang baru saja tertabrak mobil mereka. Ngeri masih menyusup di benaknya, lagi pula darah yang masih nampak hangat dan kental itu membuatnya ingin segera muntah.
Sementara badan john terus merasakan rasa bergetar, dan merinding di sekujur tubuh jakunnya itu.
“Hey john! Apa yang kau lakukan, cepat bantu aku. Kita angkat orang ini dan masukan ia ke bagasi mobil.”
segak nikolas setengah berteriak, pada rekannya itu.
Tanpa banyak bicara, john pun mengikuti perkataan nikolas, yang sudah memegang telengkuk dan bahu, seseorang yang terlepas di jalan sana. Wajah orang itu pun sudah di tutupi nikolas dengan beberapa koran, yang ia ambil dari dalam mobilnya.
Mayat orang yang naas itu pun mereka irus dan acap mereka masukan dalam bagasi mobil.
“Ayo Cepat nik! nanti kita keburu ketahuan orang!”
“Ia aku tahu!”
tukas nikolas sambil menekan tutup bagasi mobil.
Prakk! Pintu mobil terdengar merapat kuat, saat mereka bergegas masuk dalam mobil, yang mesinnya sudah tak terdengar bergema di udara lagi.
Seketika bunyi sesegukan mesin mengapung di udara, berulang-ulang kali. Hingga akhirnya bergema panjang, tanda mesin mobil telah menyala.
Seketika bundaran ban bergerak mundur kemudian maju, melebur beberapa tetelan yang teburai di bantalan jalan.
“Nikolas, Cepatlah! Nampaknya fajar akan segera menyongsong. Celakalah kita jika fajar tiba, karena akan sangat banyak petugas di jalanan nanti, aku takut kalau-kalau kita terlihat mencolok, oleh beberapa dari mereka, ataupun orang lain”
berucap john sambil menghela lengan baju nikolas.
Dahi nikolas mengkerut seketika, di ikuti, setetes keringat yang menurini alur wajahnya, sampai pada dagunya.
Ia juga merasa cemas sambil menerawang langit yang masih gelap, dan masih di penuhi kerlipan bintang-bintang. Dan senyuman malam, yang nampaknya akan segera di usik fajar.
Sudah hampir se-jam mereka dalam kepanikan.
Corak lampu-lampu jalan mulai rekah satu-per-satu, jalanan mulai di penuhi beberapa kendaraan yang lalu lalang.
Rasa tegang pun semakin menjadi, ketika beberapa pengendara sepeda motor mengamat-ngamati mobil mereka.
“Hey Nik! Sebaiknya kita buang saja mayat orang itu ke pinggiran rerumputan di sisi jalan sana. Karena nampaknya fajar mulai berbekas di ujung langit sana! Bisa bahaya nanti kalau semakin banyak orang di jalan!”
Berucap john semakin tegang, sambil menghela kuat lengan baju nikolas. Matanya mulai berair karena takut setengah mati.
“Hey keparat! Hentikan ocehan mu itu, kamu seperti anak kecil saja. Ocehanmu itu membuat telinga ku panas.”
Tangkas nikolas mulai emosi dengan sikap temannya itu.
“Anj*ng! Tak tahukah kau bahwa sekarang sudah menjelang fajar. Lihatlah baik-baik cakrawala, bintang-bintangnya pun mulai lenyap. Tidakkah kau tau kita akan tamat! Kita tamat kalau fajar sudah menyongsong. Dan puluhan polantas akan segera berserakan di jalan. Menepi-lah sekarang lalu kita humuskan mayat itu di pinggiran rerumputan sebelum fajar. Dan tahukah kita takkan sempat sampai di tengah hutan sebelum fajar”
Seru john sambil menyekah nikolas yang mulai kebingungan.
“hahaha…! Hey! Kamu itu bodoh, jikalau kamu mendesak, ingin melemparkan mayat itu di pinggir rerumputan sana. Tak tahukah kau! Mayat itu pun akan cekikikan pada mu atas tindakan mu itu.
Lihatlah sekeliling mu. Tak sadarkah kau! Ada berapa banyak orang dengan kendaraan mereka, yang mulai bermunculan di jalan. Tindakan mu itu sama saja bunuh diri!”
berucap nikolas, sambil tertawa dingin, seperti orang gila.
“Lalu apa! Lalu apa sekarang?”
“Hanya ada satu jalan sekarang!”
berucap nikolas menatap john yang, mulai penat dan pusing.
“Apa itu jalannya?”
selidik john curiga menatap rekannya nikolas, yang mulai menggigit-gigit ujung jari telunjuknya.
Nikolas pun tersenyum tawar, dan berbisik sesuatu di telinga john rekannya itu.
“Hahaha.. Biadab! Tak ku sangka jika harus seperti itu jalan yang tersisa!”
“Hahaha.. Kau Benar! Ini ironis dan tak terbayangkan!”
kedua sahabat itu pun saling tertawa seperti orang gila di dalam mobil, yang sedang melaju di jalan yang kini tak lagi terlihat muram seperti sebelumnya.
Ya! Benar fajar telah berkata hello pada langit, dan mengusap hangat semua yang ada di bawah kolong langit. Beberapa kendaraan, dan pejalan kaki pun mulai ramai.
Sementara mobil yang di kendarai nikolas, dan di tumpangi john mulai bergerak menembus fajar yang bening. Dan bergerak semakin jauh, meninggalkan jejak darah yang terus menetes dari kap belakang mobil mereka.
Esoknya seorang pengemudi terlihat membeli sebuah koran, pada seorang penjajah koran di pinggiran jalan.
Ia membaca warta berita yang menghebokan. Bahwa dua orang pemuda, menabrak seorang lelaki paru baya bernama saiful, dan ke dua orang pemuda itu pun membawa lelaki yang mereka tabrak ke sebuah rumah sakit pukul 05:32 pagi.
Kini ke dua pemuda itu sedang di periksa oleh pihak yang berwenang. Dsb…!
Tamat!
Penulis Cerita: Daniel Satria Sutrisno
 

Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)

Minggu, 12 Januari 2014 | komentar

Januari 2015, NASA bekerja sama dengan beberapa lembaga Antariksa Asia untuk misi penelitian ke planet Mars dengan mengirimkan tiga orang astronot. Aku mewakili LAPAN untuk bergabung bersama aliansi NASA. Aku adalah seorang ilmuwan LAPAN (lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) di bidang astronautic engineering, Aku dan dua Astronot lain yakni James ahli Astrobiologi dari NASA (National Aeronautics and Space Administration) dan Hiro ahli Geologi dari JAXA (Japan Aerospace Eksploration Agency) Ditugaskan untuk misi penelitian ke planet Mars, sebuah misi impian umat manusia.
Pagi itu Istriku membangunkanku untuk berangkat menuju markas pusat NASA.
“Ayah… sekarang kau harus berangkat ke markas, dua hari lagi keberangkatanmu, ayo bangun..!!”. kata Istriku membangunkanku yang tengah tergeletak di tempat tidurku, seolah Aku lupa kalau dua hari lagi Aku berangkat ke suatu tempat jauh, yang disebut Mars.
“Astaga.. Aku lupa. apa kau sudah bersiap ma?”
“sudah dari tadi, yang mau berangkat misi itu kamu, bukan Aku. tapi dilihat dirimu, ayolah”
“iya iya, tunggu sebentar.” Aku lekas menuju kamar mandi.
Kami pun berangkat ke markas, kami harus tinggal di markas dua hari sebelum keberangkatan, untuk persiapan dan pengecekan kesehatan astronot.
Disana sudah menanti dua orang temanku, James astronot NASA, dan Hiro Astronot JAXA. dua hari pun terlewati, berbagai pemeriksaan pun selesai, kami bertiga pun siap untuk misi, meninggalkan keluarga untuk misi mulia dalam ilmu pengetahuan.
Sebelum keberangkatan, kami mempunyai kesempatan untuk berpamitan dengan keluarga yang ikut mengantarkan ke pusat keberangkatan. Istriku memelukku dengan erat seolah tak mengizinkanku pergi, tapi Aku mencoba untuk meyakinkanya, bahwa Aku dan dua orang temanku akan kembali ke bumi dengan selamat. Aku mencium keningnya dan pergi meninggalkanya menuju modul pesawat ruang angkasa.
Setelah berpamitan, Aku dan dua orang rekanku, James dan Hiro memasuki modul ruang angkasa dengan roket pendorong yang sangat besar, ratusan petugas NASA, JAXA dan LAPAN ikut meramaikan suasana keberangkatan, sorak sorai masyarakat yang ikut melihat keberangkatan meramaikan dekat area penerbangan.
Perjalanan bumi ke Mars memerlukan waktu kurang lebih satu tahun, kami memakai sebuah teknologi canggih yang membuat kami bisa bertahan tanpa makanan di ruang angkasa dalam setahun, bahkan bertahun tahun. kami bertiga di“mati”kan untuk sementara, detak jantung dan aliran darah dihentikan untuk sementara, seluruh tubuh di bekukan hingga minus 150 derajat celsius, hal itu digunakan untuk membuat kami tak membutuhkan makanan selama setahun di dalam modul, dengan teknologi ini kami tidak butuh makan, kami akan “mati” tertidur untuk waktu satu tahun lamanya, bahkan saat kami dalam mode tidur seperti ini, sel sel kami berhenti mati, atau beregenerasi, sehingga kami tidak mengalami penuaan selama setahun.
Kami pun berangkat, dan kami segera di tidurkan, sistem komputer automatis yang telah di rancang untuk menuju koordinat yang tepat akan membawa kami ke planet Mars secara automatis, dan sistem komputer itu akan secara automatis membangunkan kami ketika sampai di tanah merah planet Mars.
“Apa yang sedang terjadi?” Beberapa waktu kemudian, Aku terbangun, menjumpai sesuatu yang aneh, es di sekitar tubuku mencair mungkin sekitar tiga hari yang lalu, dinding pesawat sudah berkarat mesin mesin hancur berantakan semua sistem telah mati, Aku terbangun karena sistem tidurku rusak, terutama pada bagian penidur atau pembeku. dan Aku mulai sadar kalau kami mengalami pendaratan yang gagal, namun kami telah sampai di Mars. Aku sudah sadar, namun tubuh dan seluruh persendianku masih tak bisa kugerakan. Aku menunggu berjam jam hingga Aku akhirnya bisa bergerak
Tak berlama lama Aku berjalan sempoyongan menuju mesin beku milik James dan Hiro.
“James..! Hiro…! kalian tidak apa apa? apa yang sedang terjadi…?” tanyAku sambil jalan sempoyongan, Aku terkejut dan shock melihat Hiro telah menjadi kerangka, tubuhnya tertindih baja pesawat ulang alik yang penyok.
“Hiro…!! ti.. tidak mungkin, astaga.. apakah kami gagal? tunggu dulu, James.. James..!” teriAku berjalan menuju mesin tidur milik James. kemudian Aku melihat mesinya, kacanya masih utuh, masih terlihat es dan uap bersuhu minus 150 derajat. samar samar Aku melihat wajahnya dibalik kaca setebal ilma centimeter. Aku mulai mengambil besi bekas patahan kursi baja dan memukulkanya untuk memecahkan tabung mesin James, berkali kali Aku mencoba hingga akhirnya pecah, keluar asap dingin.
Terus kucoba untuk mengeluarkan James. suhunya benar benar sangat dingin, kAku seperti balok es, mungkin itu yang terjadi ketika Aku tak bisa bergerak tadi. Aku membuat peralatan sederhana dari mesin kapal yang tersisa dan anehnya sudah berkarat, Aku berasumsi bahwa kapal berkarat karena beroksidasi dengan permukaan Mars yang berkarat juga. Aku merangkai alat itu menjadi sebuah alat pengejut jantung dengan tegangan lIstrik kecil, mencoba untuk menghidupkan James yang tertidur selama kurasa setahun.
“James bangunlah..! James..!” Aku terus meneriakinya berharap ia terbangun.
Ia pun tersadar, namun tubuhya masih tak bisa bergerak. Aku menemaninya berjam jam menunggunya bangkit. ia membuka mulutnya dan mulai bicara padaku, ia sangat kebingunan sama seperti Aku.
“Dr. Fian.. di.. dimana kita?” ucapnya disertai tubuh yang menggigil. “Apakah sudah sampai?”
“James, pendaratan kita gagal. kita mengalami kecelakaan, dan…”
“dan apa..?”
“Dr. Hiro, meninggal.”
Akhirnya kita berdua bisa mulai mencari tahu apa yang terjadi. kapal kami rusak parah, semua sistem hancur, komputer mati dan ada beberapa hal yang aneh. kenapa semua besi disini sudah berkarat? James dan Aku terheran heran melihat Hiro tinggal kerangka yang lazimnya sudah mati bertahun tahun.
“ini aneh fian… bagaimana mungkin Dr. Hiro sudah menjadi kerangka, jika kita mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu, seharusnya tubuhnya masih utuh, belum menjadi kerangka seperti ini..” ujar James heran melihat tubuh Hiro menjadi kerangka.
“kau benar, ini biasa terjadi pada orang yang meninggal bertahun tahun.”
Kami belum bisa berpikir jernih setelah tertidur selama setahun. kami mengenakan helm yang masih berfungsi dan pakaian yang sedikit koyak, kami mulai mempertimbangkan untuk keluar karena radiasi matahari yang tak tersaring atmosphere Mars bisa saja membunuh kami berdua, tapi jika kami tetap di dalam kapal, kami akan membusuk tanpa berusaha apapun.
“Kau siap Dr. Fian..?”
“Ayo..”. Kami pun memberanikan diri untuk keluar, berusaha mencari tahu sesuatu, kami mulai berpikir jika kami akan mati disini karena tak ada makanan dan kapal telah hancur, kami tak bisa kembali ke bumi. Aku dan James sangat rindu keluarga kami. sebelum keluar kami mencoba mencari mesin semacam black box yang merekam kejadian dan masalah sistem di dalam pesawat. kami melihat komputer macet dan berhenti fungsi saat pendaratan, itu yang menyebabkan kami tak dibangunkan dan pesawat tidak mengeluarkan mode pendaratan yang menimbulkan benturan keras yang menghancurkan pesawat kami. dan anehnya black box itu langsung penuh dan mati, padahal itu bisa merekam data selama sepuluh tahun. kapal kami terkubur pasir dan batuan merah Mars, kami berusaha keluar dengan susah payah.
Walaupun terlihat seperti gurun tandus dan panas, namun suhu disini seperti di kutub karena jauh dari matahari dan ditambah atmosphere Mars yang tak mampu membuat efek rumah kaca. kami berjalan menyusuri Mars, Aku membantu James meneliti tanah dan tanda tanda kehidupan, berkilo kilo kami berjalan sangat pelan karena gravitasi yang sangat kecil disini. dan kami terkejut melihat sebuah rumput kecil tumbuh dari pecahan batu, kami tercengang, dan ternyata di Mars ada kehidupan walau berupa tumbuhan. Namun kejutan terbesar bukan disitu.
“Ja.. James.. tolong lihat ini.” ujarku dengan mata molotot melihat sesuatu yang tak pernah kuduga. ada KOTA PERADABAN, kota itu kecil, bangunanya terbuat dari besi. kami benar benar tercengang dan terdiam. kami mendekat untuk mencari bantuan.
“Astaga… Aku tidak percaya ini.”
Dari jauh seseorang mirip manusia, dan ternyata memang manusia, memakai seragam aneh berhelm gelap mengendarai kendaraan terbang seperti sepeda motor. kami meminta bantuan dan berteriak, ia menghampiri kami dan menodongkan senjata api. tiba tiba saja ia menembakan senjata itu ke arah kami, kami langsung menghindar dan melihat batu meleleh terkena tembakanya.
“hei… apa apaan ini, Fian.. lari…!” teriak James berlari menjauh dari sosok misterius itu. Dan anehnya orang itu berbicara bahasa kami, bahasa inggris, kami benar benar bingung dan tidak mengerti. kami berdua berlari sekuat tenaga dikejar orang asing itu. kami melihat sebuah pangkalan terbang dengan lambang NASA..!, dan ada kendaraan mirip piring terbang perak. kami langsung masuk ke dalamnya, kami tak tahu cara mengendalikanya, namun ada simbol simbol dalam astronautic engineering yang Aku tahu, kami pun lepas landas dan dikejar oleh orang orang Mars yang aneh itu. ini adalah hal yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, ini GILA..!
“fian… Aku benar benar tak mengerti, mengapa ada kehidupan dan mengapa ada lambang NASA di kota asing ini..?” kata James kebingungan.
“Aku juga sangat bingung, ini bisa membuatku gila, kecelakaan, alien Mars, lalu apa lagi..?”
Kami berangkat pulang menuju bumi dan berharap menceritakan semua yang kami rekam dalam benak kami ke seluruh penduduk bumi. Kendaraan ini berjalan dengan kecepatan luar biasa, mungkin 30 persen dari kecepatan cahaya. kami dengan cepat sampai tanpa menggunakan sistem tidur kami. kami mulai mendekat ke bumi. dan ada hal janggal yang sangat aneh di depan mata kami. bumi tak lagi hijau, semua benua menjadi gurun, dan lebih anehnya benua amerika selatan berpisah dengan amerika utara di laut atlantik.
“ohahh..!! apa yang terjadi.! apa Aku gila..!!?” teriAku, Kami mendarat dan ingin tahu apa yang terjadi. ternyata terjadi perang yang mengerikan di bumi, kami mendarat di pulau jawa, disana juga berperang. entah apa yang mereka perebutkan, namun baju dan senjata mereka benar benar asing lebih mirip baju orang Mars yang mengejar kami.
“hei..! sedang apa kalian, cepat berlindung..!!” teriak seorang wanita berpakaian perang. wanita itu mengajak kami untuk berlindung. kami dibawa ke markas militer Jawa.
“NamAku, Elin… kalian aneh sekali, baju macam apa itu..?!” kata wanita berusia 20 tahunan.
“seharusnya kami yang tanya seperti itu…” .Wanita itu membawa kami ke tempat di bawah tanah. disana kami ditolong dan di interogasi oleh orang orang militer. kami berdiskusi sangat lama. dan kami mulai memikirkan kejanggalan kejanggalan dari mulai kami mendarat di Mars. pesawat kami tiba tiba jatuh karena sitemnya rusak, black box begitu penuh padahal itu bisa merekam sampai 10 tahun lamanya, kapal sudah berkarat seperti berpuluh puluh tahun, mayat Hiro sudah tinggal kerangka, yang artinya Hiro sudah tewas bertahun tahun lamanya, dan kata penduduk bumi sekarang, orang orang yang berada di Mars adalah para pemimpin bangsa dan bangsawan kaya raya yang tidak peduli dengan nasib manusia dan mereka pergi meninggalkan bumi ke Mars, membangun peradaban baru. kami tidak tertidur selama hanya setahun, ada kesimpulan yang kami tarik dari semua masalah ini, kami melihat kalender aneh, dan menyadari kami berada di MASA DEPAN.
Kalender menunjukan tahun 2115, yang artinya kami tertidur selama seratus tahun.!!!. dan dunia ini tengah berperang, perang nuklir, berawal ketika negara negara adidaya memperebutkan hasil hasil bumi dari negara negara lain, PBB sudah tidak ada, perang tak bisa terelakkan, dunia terbagi menjadi dua, blok barat dan blok timur, seluruh negara asia dan afrika bergabung menjadi satu aliansi yaitu Lemuria, sementara sebagian eropa bergabung bersama amerika membentun blok timur atau aliansi Atlantis. perang makin pecah ketika musnahnya hasil bumi kerena bom atom, musnahnya barang yang mereka perebutkan menjadi perang semakin memanas, ini perang dendam, perang kehancuran. inilah perang dunia ke tiga. perang ARMAGEDDON.
“jadi kau dari masa lalu dan tertidur selama seratus tahun..?” tanya wanita itu.
“kurasa begitu..”
“maukah kalian kembali ke masa kalian, dan membantu kami..?” tanyanya.
“bagaimana..?” tanya James.
Kami bersama tentara gerilya jawa, sebuah negara hasil pemekaran indonesia. mereka mencoba membuat mesin waktu dan berusaha mengubah masa depan dengan kembali ke masa lalu, mereka berkali mengirimkan tentara ke masa seribu tahun lalu untuk mencegah invasi, namun mereka semua menghilang dan tak kembali.mesin waktu ini memanfatkan teknologi mini wormhole, kelemahanya adalah hal ini tidak pasti. wormhole bisa menghilang kapan saja, dan kadang ketika terjadi kesalahan perhitungan tiba tiba, orang yang dikirim bisa musnah dari alam semesta, atau terkirim dan nyasar ke dimensi lain.
Markas kami diserang, banyak dari kami yang terluka.
“James..!!” teriakku melihat tembakan menembus dada James.
“ech.. maafkan Aku Fian, tolong, selamatkanlah masa depan sebisa mu…”
“tidak tanpamu, kau harus bertahan, Aku akan cari pertolongan.”
“ti.. tidak, sudah tak ada waktu, Aku sudah tidak kuat, Aku yakin kau bisa tanpa Aku.”
hal yang sangat ku sesali adalah, James tak terselamatkan, ia tewas, dan berwasiat kepadAku untuk melAkukan sesuatu untuk masa depan bumi. akhirnya di tengah tengah bencana, Aku memberanikan diri untuk masuk mesin waktu dan kembali kemasa ku, meski itu akan membunuhku. mesin waktu milik Jawa membuktikan bahwa alam semesta tidaklah pararel, artinya masa depan bisa dirubah.
“Elin..!! tolong hidupkan mesinya, Aku akan berangkat.”
“apa kau yakin, kemungkinanya sangat kecil.. terlalu berbahaya.”
“sudah nyalakan saja, jika Aku berangkat resikonya Aku akan mati, tapi jika Aku tetap tinggal kita semua akan mati tanpa usaha.”
“baiklah.. tolong selamatkan dunia, Aku percaya padamu..” akhirnya mereka mengirimkanku kemasa seratus tahun yang lalu. mesin mulai menyala, Aku membawa kunci mesin waktu di tanganku, Aku merasakan energi besar menghancurkan tubuhku seukuran nano. dan pandangan kabur, Aku mulai berpikir mungkin ini adalah akhir hidupku, dan mungkin Aku akan gagal. Aku tidak berharap ini akan berhasil, Aku serahkan semua pada tuhan, tapi Aku berharap satu hal… Aku berharap… semua ini hanya… MIMPI.
“Ayah… sekarang kau harus berangat ke markas, dua hari lagi keberangkatanmu, ayo bangun..!!”. Aku terbangun, Istriku membangunkanku. Aku sadar Aku berada di tempat tidurku. Tunggu dulu, aneh, ada yang salah… apa yang terjadi?
Semua ini gila, aneh, aneh dan aneh… semua seperti terulang sebelum keberangkatanku ke Mars seratus tahun lalu, Aku ingat ketika tentara jawa dan Elin mengirimkanku ke masa 100 tahun tepat di tahun 2015. dan Aku tersadar berada si atas tempat tidur lengkap dengan piyama ku.
“ma… apa yang terjadi?!, aahh..!! ada apa ini..!!?” Aku kebingungan, dan hampir gila.
“apanya yang terjadi? kau baru saja kesiangan, dasar suami tukang tidur..! kau mimpi buruk ya..?”
akhirnya Aku berkesimpulan. itu semua hanya mimpi.
Aku mulai berangkat dari rumah bersama Istriku menuju kantor nasa, mengenakan jas putih dinas ku. untuk pemeriksaan dua hari sebelum keberangkatan, sama persis dengan mimpi anehku.
Sesampainya disana, Aku segera menuju ruang kesehatan, sesuatu terjatuh dari saku jas putih ku. Aku terkejut dan melongo, mengetahui sesuatu yang terjatuh itu adalah… KUNCI MESIN WAKTU lengkap dengan simbol JAVA milik tentara jawa. Aku langsung sadar, mereka mengirimkanku ke 100 tahun yang lalu, memutar balikan dimensi ruang dan waktu hingga Aku kembali ke tempat tidur, waktu mundur hingga awal keberangkatanku. Istriku membentakku ketika Aku terdiam membisu.
“ayah…kenapa kau ini.?” tanya Istriku.
“tidak, ada sesuatu yang harus Aku lakukan, kau tunggu disini ya.” Aku berangkat tergesa gesa menuju pusat mesin NASA, bila semua itu bukan mimpi, maka kecelakaan itu juga nyata, dan berarti ada dua tugas yang harus kulAkukan, mengingatkan seluruh petugas NASA akan sistem komputer yang eror, dan memberi pesan untuk tidak melakukan invasi kepada negara lain, karena jika itu mereka lakukan maka 100 tahun yang akan datang, dunia akan hancur, Aku memegang amanah dari generasiku di 100 tahun yang akan datang.
Aku bertemu James dan Hiro di sana, tentu saja ini seratus tahun sebelum armageddon terjadi dan mereka masih hidup bersamaku, sesaat Aku terlihat seperti orang gila karena semua kegilaan ini.
“hai Dr. Fian, kenapa kau terlihat panik, apa kau stres karena keberangkatan dua hari besok?” tanya James.
“oh tidak Mr. James, ada sesuatu yang sangat penting yang harus kulakukan.”
“ehmm.. Dr. Fian, sejujurnya Aku semalam bermimpi aneh, Aku bermimpi ditembak orang aneh dan Aku tewas, Aku melihatmu di sisiku” ternyata kejadian 2015 juga ikut terbawa ke ingatan James walau dalam bentuk mimpi.
“kurasa kau perlu istirahat Dr.” Aku meninggalkanya.
Sebelum berangkat Aku memerintahkan petugas engineering lain untuk memeriksa sistem operasi, prosesor, dan sistem daya listrik komputer. dan mereka terkejut ketika mendapati kerusakan pada setiap yang kusebutkan tadi. penerbangan di tunda tiga hari untuk perbaikan
“bagaimana kau tahu semua ini Dr. Fian?” tanya Dr. Hiro, Aku turut senang melihatnya hidup, bukan dalam bentuk kerangka.
“dari mimpi” kata ku terus terang, ia kelihatan bingung, namun kami segera menyiapkan segala persiapan.
Hari pun berjalan sama persis seperti seratus tahun yang lalu, kami memberi salam pamit pada keluarga dan berangkat ke planet Mars.
kami sampai dengan selamat. dan ajaibnya, sama seperti dalam ingatanku, kami menemukan rumput kecil di Mars, kami membawa salah satu samplenya ke bumi. kami kembali dengan selamat di bumi pada tahun 2017. kami mendapat penghargaan ilmuwan dan pahlawan international, mereka ingin memberi kami permintaan untuk tanda penghargaan. James meminta laboratorium baru, Hiro meminta untuk mendirikan unversitas astrogeologi di china. sepertinya Aku sudah merubah satu masa depan.
Aku masih punya satu tugas, amanat dari 100 tahun yang akan datang. Aku diberi permintaan istimewa juga. permintaanku agak aneh. Aku minta di buatkan sebuah monumen setinggi monas dengan bertuliskan perjanjian perdamaian negara di dunia dan dihapuskanya invasi atas negara lain, tugu yang terbuat dari perunggu berlapiskan alumunium itu disetujui masyarakat sedunia. dengan begini perang armageddon tak akan terjadi. ketika Aku pensiun Aku mencoba menceritakan kisah ini dalam bentuk novel fiksi ilmiah.
Catatan:
Seratus tahun kemudian, bumi benar benar damai, tak ada peperangan, teknologi yang ramah lingkungan berkembang pesat. semua itu juga tak lepas dari menumen kuno yang dibangun seratus tahun yang lalu oleh Dr. Fian, astronot yang mengubah masa depan. “masa depan itu bisa diubah atau tidak, tergantung masa sekarang. tuhan tak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu yang mengubah masa depanya sendiri”
“Aku berangkat…” kata seorang wanita cantik berusia 20 tahunan bernama Elin, yang sedang berangkat kuliah. ya.. tentu saja masa depan sudah berubah…
TAMAT
Penulis Cerita: Aliffiandika
 

Games Holic

Sabtu, 11 Januari 2014 | komentar

Cerita ini di mulai saat hari minggu pagi aku sedang melakukan aktivitas ku biasanya, aku memulai hariku dengan coklat panas dan sepotong sandwich yang baru saja aku buat. Oh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Horgant Velice, panggil saja aku Horgant, aku tidak seperti anak pada umumnya, aku penggemar games yang biasa di sebut gamers, dan tidak seperti penggemar games pada umumnya, aku biasa belajar dalam game, di dalam game aku bisa menghafalkan bahasa inggris dengan mudah dan menyenangkan, tapi aku juga selalu membatasi diri agar tidak terlalu lama saat bemain game.
Saat aku bermain game tiba tiba “jgeeerrrr” suara listrik menghantam console game ku dan seketika aku tidak sadar, dan inilah awal cerita
Beberapa menit kemudian, aku tersadar di sebuah dunia yang aku tidak tahu namanya. Kukira aku sudah mati karena getaran listrik yang menghantamku, kalau dilihat-lihat dunia ini persis seperti game. Aku melihat ada seorang kakek-kakek, sepertinya ia sudah cukup lama tinggal di sini. “kek, apakah ada cara untuk keluar dari dunia ini?” tanyaku kepada kakek tersebut, “ada satu cara, kau harus melewati rintangan-rintangan yang ada di sini” kata kakek. Tanpa pikir panjang aku langsung melakukannya, aku meliahat lorong hitam dan aku pun segera memasukinya. Setelah aku memasuki lorong hitam tersebut, aku memasuki sebuah ruangan tempat pertarungan yang tempatnya persis coloseum di roma italia. Di sekitarku sudah banyak para gladiator yang bertarung, “bruaak” sebuah pedang melayang hampir menghunusku. aku berusaha menghinadari para gladiator itu dan mencari cara untuk melawan mereka, *cling sebuah ide berputar di kepalaku, sepertinya imajinasi bekerja. aku langsung membayangkan pedang Excalibur dan cling, ternyata berhasil, para gladiator itu ku kalahkan dengan mudah.
Tiba-tiba ada lorong hitam yang tertulis Level 2, aku pun langsung memasukinya dengan semangat penuh harapan supaya bisa keluar dari dunia ini. *cling aku pun sudah sampai untuk pertarungan berikutnya. aku hafal betul tempat ini, ini tempat BEN 10 melawan musuhnya vilgax, hmpph sepertinya Excalibur tidak cocok, akhirnya aku mulai berimajinasi tentang Omintrix, aku segera berubah menjadi Canonnbolt dan menghantam vilgax seperti bola baseball, tapi itu tidak semudah bayanganku Vilgax dapat menahnnya dan melemparku, lalu aku menjadi Fourarms dan melempar Vilgax dengan mudah keluar arena, *cling portal level tiga pun muncul, dan aku pun memasukinya, wow aku ada di sebuah medan pertempuran aku yakin ini pasti modern warfare. aku pun langsung membayangkan sebuah senjata bernama RPG dan boom, aku langsung menembakanya tepat ke arah musuh musuhku, *cling portal level empat pun muncul.
Aku pun membayangkan ini akan cepat berakhir dan segera memasukinya. setelah memasukinya aku berada di dalam game Persona, jbruuk aku terpukul oleh monster besar, akhirnya aku langsung membelahnya dengan pedang ku dan *cling ada porta yang bertuliskan game over, setelah aku memasukinya dan aku pun memasuki dunia ku yang sebenarnya.
Penulis Cerita: Alfian Ardhana Firmansyah
 

Mata Abu-Abu

| komentar

Nama anak laki-laki itu, Bianka. Setiap pagi ia selalu berdiri sejenak di depan pintu gerbang sekolah. Menatapi setiap anak dari kumpulan komunitas putih abu-abu. Setiap anak yang memiliki titik hitam di atas kepalanya. Mata kelabunya menerawang, menerobos masuk pada sebuah gambaran. Kematian. Ah! Kasihan mereka.
“Selamat jalan.” Ucap Bianka pelan kepada setiap putih abu-abu yang memiliki setitik hitam di atas kepalanya.
Nama Bianka sangat populer di sekolah itu. Beberapa menganggapnya sangat spesial. Beberapa menganggapnya paranoid. Beberapa lagi menganggapnya anak kutukan, karena mata kelabunya yang terlihat mati. Wajahnya dingin seperti matanya. Tanpa ekspresi, tanpa jiwa.
Popularitasnya dimulai ketika itu. 16 Mei 2010. Bianka sedang duduk di kantin dengan Gilang, sohibnya, bersama anak laki-laki lain yang sepantaran dengannya. Kepala sekolah baru saja lewat tak jauh di depan mereka.
“Sebaiknya kalian menyiapkan bunga duka untuk kepala sekolah. Besok. Jam 2 siang.” ucap Bianka dengan bibir tertarik membentuk senyum aneh yang menakutkan.
“Gila apa, lu! Siang bolong gini, bicara lu horor gitu!” seru Gilang menganggap perkataan Bianka hanya sepintas lelucon.
“Mata lu unik, ya! Gue pingin punya mata kayak lu!” cetus seorang di antara mereka.
“Gue sebaliknya.” ucap Bianka, dingin.
Menggemparkan. Menakutkan. Mereka yang siang itu berada bersama dengan Bianka, begidik saat Bianka lewat di depan mereka. 17 Mei, jam 2 siang. Berita duka sekaligus isu mengerikan beredar dengan cepat di setiap pelosok kelas. Kepala sekolah baru saja meninggal. Dibunuh. Mulai saat itu, Bianka memperoleh banyak julukan. Sang Penglihat. Paranormal. Malaikat Maut. Pembawa sial. Kematian.
* * *
Kisah, anak laki-laki bernama Bianka
Anak laki-laki itu meringkuk di sudut kamarnya. Suara tangis pilu berbumbu duka menerobos pintu kamarnya. Aromanya perih menusuk mata. Memekik di telinga. Rasa-rasanya baru tadi pagi ia bersenda gurau dengan ibu. Sampai ketika matanya melihat sesuatu muncul di atas kepala ibu. Setitik hitam. Ia melihati titik itu. Udara seakan berkurang. Menyesakkan. Ia melihat gambaran. Rancangan maut.
Ah! Itu hanya ilusi mata yang diciptakan oleh otak. Mungkin ini efek samping begadang nonton bola semalaman. Sampai akhirnya berita kematian ibu sampai di telinga Bianka. Kecelakaan maut yang terjadi di jalan raya merengut kehidupan ibunya.
Ia masih meringkuk di sudut ruangan itu. Menyalahkan diri atas kejadian itu. Tubuhnya mati rasa. Kakinya lemas untuk beranjak dari sana. Ia tak mampu keluar dari kamar itu dan menyaksikan tubuh ibu yang terbaring di dalam peti peristirahatan terakhir.
* * *
Bianka membenci dongeng dan mitos. Ia selalu menolak didongengi oleh nenek dan kakek. Baginya dongeng adalah racun yang dapat merusak otak dan mental. Karbondioksida yang meracuni tubuh. Menjadikan anak seorang penghayal. Baginya, mitos hanyalah sebuah kumpulan kisah dan cerita yang ditambahi bumbu-bumbu kebohongan untuk memperenak rasanya. Fiksi. Non-fakta. Non-realita.
Tapi, dongeng dan mitos seperti nutrisi tambahan dalam hidup. Kenyataannya, realita kehidupan kerap kali dikelilingi dengan bebauan fiksi.
Malam itu, untuk pertama kalinya Bianka meminta ayah mendongeng. Ia sedikit menyesal dengan dakwaannya terhadap dongeng dan mitos. Saat ini ia malah tenggelam dan terbenan dalam kisah non-realita, Sungai Banyuwangi.
Matanya mulai sayu. Dongeng ayah membuainya untuk tidur. Untuk pertama kali ia merasakan kecup hangat ayah di dahinya. Ayah menjauh dari tepi ranjang. Ah! Apa itu?! Setitik hitam. Persetan! Saat ini Bianka hanya ingin tertidur. Melebur dengan kisah Sungai Banyuwangi dalam rajutan mimpi. Samar-samar terlihat tarikan kecil di sudut bibir ayah. Sebuah senyuman. Dan pintu ditutup.
* * *
Tak menangis. Tak histeris. Tak juga bergeming. Bianka hanya berdiri terpaku memandang sesosok tubuh membiru tergantung di langit-langit kamar mandi. Ayah sudah lelah. Ia memilih untuk mengistirahatkan diri selamanya. Pensiun dari segala hal yang menyangkut kehidupan.
Bianka menoleh pada cermin di sana. Manik mata cokelat itu kini berubah menjadi abu-abu. Hawa mengerikan meruak keluar dari manik mata itu. Ruangan serasa menyempit. Suplai udara berkurang. Mata Bianka terpejam. Jatuh. Tidak sadarkan diri.
Kenyataan diungkap. Ia kini seorang diri, ditemani mata aneh itu. Mata yang menjadi saksi bahwa kematian dapat dilihat.
* * *
Kematian
Anak itu berlari. Menabrak bahu Bianka tanpa menoleh. Hanya terus berlari. Mata Bianka mengikuti lesat lari anak laki-laki itu. Seorang anak yang dibalut dalam jahitan putih abu-abu. Sama dengannya. Dari arah yang sama, Bianka melihat Gilang berlari dan segera merangkul bahunya. Ia terengah-engah.
“Lu memang sohib gue yang paling setia! Gue terharu banget! Meskipun lu aneh, tapi hanya lu yang niat benget nungguin gue tiap pagi di depan gerbang!”
“Tinggi banget PD lu!” ucap Bianka dengan senyum setengah.
“Ayo!”
Selalu. Setiap pagi. Setiap hari. Banyak pasang mata yang melempari Bianka dengan tatapan aneh plus najis. Beberapa dari mereka membentuk kerumunan, merangkai obrolan terbaru dan terhangat yang lengkap dengan fitnah sebagai penyedap rasanya. Bianka objek topiknya. Ia sudah membiasakan diri dengan hal itu. Tak lagi terusik. Tak lagi peduli.
Hati. Jiwa. Perasaan. Simpati dan empati. Semuanya sudah lama mati dari diri Bianka. Anugrah mengerikan itu menenggelamkan jiwanya dalam samudra terdalam dan tergelap. Kematian, memang adalah nama yang tepat untuk menggambarkan dirinya.
Tak sekali pun Bianka pernah merasa iba melihat mereka yang ditemani si titik hitam. Ah, sudah biasa! Lagipula, itu adalah takdir mereka. Bianka tidak mau ikut campur dengan urusan kematian. Menjauhkan diri dari gambaran pahlawan siang bolong yang menghadang maut mengeksekusi manusia. Paling-paling ia hanya tersenyum. Senyum manis yang mengerikan. Mengucapkan kata perpisahan. Tak lama, orang itu akan terhapus dari daftar absen kehidupan.
* * *
Tidur panjang
Aneh. Untuk kedua kalinya anak itu menubruk Bianka. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Bianka sampai terhempas. Seperti sebelumnya, anak itu tidak menoleh. Ia melesat bagai tiupan angin. Menghilang di tikungan pertigaan. Bianka mengumpat. Ingin sekali ia mengejar orang itu. Menyemburkan amukan protes. Tapi, sudahlah. Hanya tinggal menunggu waktu, sampai akhirnya si titik hitam muncul di atas kepala orang itu. Ajal.
Bianka menapaki tepi jalan. Selalu memandang ke bawah. Tidak mau melihat jejalan manusia yang hilir lalu di sana. Menghindari si titik hitam. Entah kenapa terlintas pertanyaan aneh di kepalanya; apakah si titik hitam juga akan muncul di atas kepalanya. Kapan. Seperti apa dewa maut merajut ajalnya.
Lelah. Bianka muak dan ingin melepaskan diri dari kungkungan mata mengerikan itu. Berapa banyak design kematian yang ia lihat dengan mata itu, tidak terhitung.
* * *
Suatu malam, Bianka duduk di pojok sebuah angkutan umum. Memandangi kerlip lampu hias jalanan. Terhanyut di dalamnya. Indah. Membawanya pada memori masa silam. Ia duduk manis di bangku tengah kendaraan roda empat ayah. Ayah dan ibu menyanyikan senandung lagu klasik, favorit mereka berdua.
Angkutan itu berhenti di perempatan ketika lampu merah menyala. Hey! Anak laki-laki putih abu-abu. Berjalan menunduk. Terlihat hampa dan kosong. Bianka tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Apa itu?! Mengapa si titik hitam melayang di atas kepalanya. Rancangan maut. Kasihan. Cepat sekali. Sebentar lagi.
Tergugah. Bianka ingin melihat wajah anak itu. Mengucapkan salam perkenalan sekaligus perpisahan. Ia keluar dari angkutan. Mengikuti jejak anak laki-laki itu dengan langkah cepat. Aneh. Apakah anak itu tahu, Bianka mengikutinya. Mengapa ia mempercepat langkahnya. Membuat Bianka tertinggal jauh di belakang.
“Hei! Tunggu!” Teriak Bianka memanggil anak laki-laki itu. Tidak ada respon. Anak itu terus berjalan ke depan tanpa menoleh. Siapa anak itu. Bianka ingin segera mendapatkannya. Melihat wajahnya. Memeluknya sejenak.
Ah, tidak lama lagi.
Si hijau menyala. Sesuatu datang dengan cepat. Hantaman besar terjadi. Tubuh Bianka terhempas ke bahu jalan. Darah merah segar mengalir. Tak lama orang-orang berkerumun di sekitar Bianka. Suara-suara ngeri dan histeris menggema.
Sebentar lagi..
Si putih abu-abu menoleh. Bianka mencoba melihat wajah itu. Berbayang-bayang. Terlihat samar-samar. Jelas, sekilas. Anak itu tersenyum. Senyumnya manis. Bianka mencoba mengenalinya. Tidak asing. Ya, tidak asing. Bianka.
Bibirnya bergerak. Mengucapkan sesuatu.
“Selamat tidur panjang, Bianka.”.
Cerpen karya: Puspita Sandra Dewi, atau biasa disingkat P. Sandra D.
Mata Abu-abu, adalah salah satu cerpen kesukaanku.
Mohon kementar dari teman-teman yang telah membacanya.
Terima kasih.
Pengarang Cerita: Puspita Sandra Dewi
 

Perjanjian Maut

| komentar

Sebelum membaca cerpen “Perjanjian Maut”, alangkah lebih baik lagi jika membaca cerpen “The Train”, dan “Deja Vu”. Karena cerpen ini adalah Trilogi dari kedua cerpen sebelumnya. Terima kasih.
Saat tersadar, aku tengah berbaring di atas gundukan pasir tandus dan gersang. Tempat yang menurutku aneh dan sangat jauh berbeda dengan dunia manusia, umunya. Langit terlihat jingga kemerahan, di atasnya ada empat buah matahari yang bersinar terang tanpa berterik panas membakar kulit, lalu debu-debu bertaburan tanpa henti-hentinya seiring angin mendesau, tetapi anehnya aku merasakan udara yang sangat dingin hingga terasa menusuk kedalam kulit dan tulangku. Aneh, benar-benar aneh. Hembusan angin di temani pasir kecil menari-nari menerpa wajahku. Perih mata ini terus menahan setiap terpaan angin sejuk seolah membawa luka.
Aku mendecak seiring tubuh ini tak berdaya tertelungkup di atas hamparan pasir berwarna hijau gelap. Mataku menatap sebuah telaga bening di depan sana. Air di telaga itu melimpah ruah hingga melebar ke setiap sisinya. Rasanya ingin sekali aku berenang dan berendam di telaga itu. Di setiap sisi telaga itu di tumbuhi rumput-rumput hijau dan subur. Lalu sebatang pohon filicium tua menaungi telaga itu yang terdengar seperti laut.
Perjanjian Maut
Fatamorgana!
Sudah lelah aku berputar-putar mengelilingi tempat ini, agaknya diriku hanya menemui kesia-siaan. Ternyata, di tempat ini semuanya hanyalah tanah berpasir yang sepertinya tidak ada ujung pangkalnya. Aku tersesat. Aku terisolasi. Aku seperti orang asing yang hanya tinggal menunggu ajal menjemput kematian. Sedangkan Ainara, entah bagaimana kabarnya aku pernah tidak tahu. Seingatku, hanya aku yang di lempar ke tempat aneh ini, dan Ainara tetap bersama lelaki berjubah hitam yang berada di dalam mobil berkarat itu. Lalu kemana dia membawa Ainara?
Kepalaku rasanya pusing. Persendian di tubuhku seolah remuk dan hancur. Dingin. Dingin sekali. Tenggorokanku pun kering. Aku berusaha berjalan mencari tempat lain yang mungkin ada penduduknya. Aku butuh pertolongan.
Jalanku masih seperti malam itu, terseok-seok karena lelah terus menggelayuti seluruh persendian tulangku. Tempurung kepalaku berdenyut. Kencang sekali dan menimbulkan efek sakit.
Buuuk!
Kembali aku terjatuh diatas gundukan pasir seiring rasa lelah dan haus menyengat tubuh ini. Kepalaku seperti di pukul palu godam. Mataku terpejam. Hanya pikiranku membayangkan air yang melimpah ruah di depan sana. Aku haus. Aku lelah. Aku nyaris mati dalam keterasingan. Dimana aku bisa minum seteguk air? Aku butuh pertolongan.
“Serah. Avios. Lavozah.” Sayup aku mendengar suara itu menggema di sekitarku. Mata ini tak mampu terbuka.
“Serah. Avios. Lavozah.” Kedua kalinya suara itu terdengar berdesis di telingaku.
“Alfi. Datanglah padaku…” suara itu berbisik memanggil namaku.
“Datanglah…”
***
“Banguuuun!” byur! Sontak mataku terbuka ketika suara keras seorang lelaki memaki dan menyirami tubuhku dengan se-ember air dingin. Dalam keadaan lemas aku melihat dua orang lelaki berjubah hitam berdiri tegap di hadapanku dengan wajah sangar dan keras. Mata mereka terkesan merah menyala. Sedang wajah keduanya pucat pasi penuh bekas luka. Mereka berdua menatapku sinis.
“Jadi, ini. Remaja yang di ramalkan itu…” ucap salah satu dari mereka.
“Aku kira sehebat apa dia..” lanjutnya lagi seraya meletakkan ember kayu di depan batu tempatku berdiri. Ku lihat tubuhku tak berbusana selain hanya mengenakan kain putih penutup kemaluanku. Tanganku terikat kuat di tiang besar ini. Terbayang dengan lukisan yang selalu aku gambar di sekolah itu. Semua menjadi kenyataan?
“Di-di mana aku?” lirihku dengan suara yang nyaris hilang. Parau.
“Kau di tempat yang sudah semestinya!” sahut lelaki yang memegang cambuk berduri. Matanya menatapku galak. Sesekali dia mengibas-ngibaskan cambuk itu ke arahku tanpa melukai.
“Kenapa aku berdiri di batu ini?” tanyaku memberanikan diri.
“Kau berdiri di atas dolmen razkutah. Kau adalah penyelamat negeri kami. Dan kau adalah orang yang akan membebaskan kami dari ancaman Murzah!”
“Murzah?” tanyaku mendengar nama asing itu di sebut.
“Dia adalah seorang penyihir hitam yang menginginkan seorang anak manusia untuk di jadikan penerusnya. Dan, anak manusia itu adalah dirimu…”
“Apa?!”
“Ya. Kamu adalah anak manusia yang telah di ramalkan Engku Albi datang untuk menyelamatkan junjungan kami dengan menukar beliau dengan dirimu nanti. Tapi perlu kau tahu, kau bukan hanya sekedar anak manusia biasa. Kau istimewa, itulah sebabnya kami menumbalkanmu. Hahahahaha.” Lelaki itu tertawa dengan angkuhnya.
“Aku menjadi tumbal?” tanyaku kaget.
“Apa ada, istilah yang lebih baik dari kata tumbal untuk mengembalikan raja kami yang telah lama menghilang dengan menyerahkan dirimu sebagai tebusannya kepada Murzah?”
“Kenapa mesti aku?” tanyaku takut.
“Karena kau yang terpilih!”
“Apah?” desisku kecil.
Kedua lelaki berjubah hitam itu masih menatapku sinis. Mereka tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi raja mereka akan di bebaskan dan di gantikan dengan diriku. Mereka licik. Teringat aku dengan teman kedua manusia aneh ini yang datang dan membunuh teman-temanku di sekolah waktu itu. Sepertinya mereka satu pasukan. Atau mereka memang prajurit?
Ku amati setiap sisi tempat ini. Obor-obor yang di letakkan di atas batu lalu berkobar di terpa angin malam. Beberapa bangunan dan puing-puing nyaris runtuh mengelilingi tempat ini. Seperti tumpukan batu yang ada di Inggris, Stonehenge. Lalu di setiap batu itu di ukir dengan tulisan yang mirip sekali dengan hieroglif.
“Apa lelaki yang datang membunuh teman-temanku di sekolah malam itu adalah utusan dari raja kalian?” tanyaku penasaran.
“Maksudmu, Rashka?”
“Ja-jadi. Namanya Rashka?” tanyaku terkejut hebat mendengar nama orang itu.
“Rashka ‘kan membunuh temanku, Rian?” tanyaku marah.
“Semua orang yang ada di dekatmu akan mati, jika menghalangi-halangi pasukan Hotebi guna menemukanmu!” kelakar lelaki yang memegang cambuk.
“Jadi, kalian ini adalah pasukan bernama Hotebi?”
“Benar sekali.”
***
Hari terus berlalu. Entah sudah berapa lama aku berdiri di atas dolmen ini aku tidak tahu lagi. Badanku sepertinya sangat lemah. Mereka memberiku makanan yang rasanya aneh dan tidak enak sama sekali. Siang aku kepanasan, malam aku kedinginan. Kadar udara di sekitar dolmen ini berbeda dengan padang pasir itu. Di sini udaranya selayaknya alam manusia biasa. Empat matahari terbit secara bersamaan dan dengan warna yang berbeda. Di timur, matahari terbit dengan warna putih, di timurnya lagi berwarna merah, di timurnya lagi berwarna jingga, di timurnya lagi berwarna hijau elektrik. Sekilas, cahaya-cahaya matahari itu seperti warna aurora yang melayang-layang di petala. Indah dan menakjubkan.
Di kejauhan sana, aku melihat beberapa pasukan Hotebi datang mendekati domen ini. Mereka datang mengawal seorang kepala pasukan. Selang beberapa saat, mereka pun sampai dan berhenti di depanku.
“Pakaikan jubah ini di tubuhnya!” lirih ketua Hotebi pada dua orang anggota di samping kanan dan kirinya. Aku tidak melihat wajahnya karena di tutupi dengan jubah. Dari suaranya aku tidak asing lagi. Seperti suara…
“Rashka?!” tanyaku terkejut ketika ketua Hotebi itu membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang ternyata berubah menjadi sangat tampan dan muda. Dia berbeda. Tetapi aku masih mengenali perawakannya.
“Selamat datang, Alfi! Semoga kau berkenan di tempat ini. Sekarang, kau pakai jubah itu, dan temuilah junjungan kami…” kelakarnya penuh kesopanan dan wibawa. Dia berbeda dengan perawakannya saat membunuh teman-temanku malam itu. Aku jadi teringat denga Rian, Riska, Randi, Dimas, kenapa Rashka membunuh mereka?
“Kau jahat, Rashka! Kau pembunuh!” teriakku kesal.
“Kau tidak tahu apa-apa Alfi, jangan berkomentar. Sekarang, ikutlah denganku. Ramaz, Ritaz, pakaikan jubah itu setelah kalian memandikannya di telaga Abusaar.”
“Baik, Tuanku!”
Sejam berlalu, kedua pesuruh Rashka itu selesai memandikanku dengan berbagai ritual-ritualnya. Setelah aku berpakaian jubah berwarna hijau tua, mereka membawaku ke sebuah tempat. Tempat yang sangat jauh. Lalu di depan sana, tampak sebuah bangunan seperti istana yang nyaris rubuh dan tidak berpenghuni lagi. Di kelilingi hutan dan sungai lebar yang airnya sangat jernih.
“Rashka! Dimana kau sembunyikan Ainara? Apa kau juga membunuhnya?” tanyaku saat kami memasuki jembatan penyeberangan.
“Beraninya kau menyebut nama…”
“Ritaz. Diamlah! Dia tidak mengerti apa-apa…” sela Rashka terlebih dahulu. Beberapa pasukan Hotebi melihatku sinis. Kami terus berjalan dan mencapai ujung jembatan ini. Lalu memasuki sebuah aula yang sangat luas.
“Toloooongg! Tolooong! Toloongg!” telingaku sayup mendengar suara orang meminta tolong di ruangan yang sepertinya tidak jauh dari aula ini.
“Siapa mereka?” tanyaku pada Rashka karena mendengar suara itu.
“Pecundang!”
“Kau yang pecundang. Rashka!” teriakku mengumpat.
“Hurrggg!” seorang Hotebi nyaris menampar wajahku dengan tangannya yang gatal. Bersyukur Rashka menghalangi. Rashka menatapku tersenyum.
***
Akhirnya aku dan pasukan Hotebi sampai di sebuah tempat yang indah dan megah. Seperti ruang kerajaan. Tiang-tiang menjulang tinggi menyangga tempat ini. Bangunan ini di ukir dengan tulisan dan ukiran yang indah berwarna indah pula. Sempat aku terpesona dan takjub melihat tempat ini. Seorang lelaki berjubah hijau tua sepertiku turun dari balkon dan menuruni anak tangga satu persatu. Di belakangnya ada dua orang berpakaian tentara yang aku kira adalah panglima. Dan di belakang panglima itu ada beberapa orang dayang bergaun indah mengiringi langkah mereka. Lelaki berjubah hijau indah itu berhenti di depanku. Berjarak beberapa meter saja. Dia tersenyum manis dan menyambut kedatanganku dengan bangga.
“Selamat datang di Arafa. Alfi! Terima kasih sudah sudi singgah kemari…” sapa lelaki muda yang seumuran Rashka. Usianya sekitar dua puluh tahunan. Bahkan bisa jadi lebih muda lagi. Dia tersenyum.
“Anda siapa?” tanyaku ketus.
“Aku adalah Razaka. Anak tunggal Raja Hirab Alabi yang di tawan oleh Murzah selama lebih dari 16 tahun…”
“Apa hubungannya denganku?”
“Bukankah Rashka dan pasukannya telah menceritakan semuanya padamu?” kelakar Razaka dengan nada merendah. Aku mengernyitkan dahi. Seketika itu juga perasaanku tidak enak. Ada kecemasan yang menjalar di tubuhku dengan hebatnya. Aku takut.
“Aku tidak mau menjadi tumbal!” teriakku marah. Sontak semua mata menatapku kaget dan merka bergumam seperti lebah berterbangan di sarangnya. Razaka berjalan lebih mendekat kearahku lagi.
“Siapa yang ingin menjadikanmu tumbal?” tanyanya ramah.
“Sudahlah, Razaka! Aku malas beradu mulut denganmu. Aku tidak mau menjadi tumbal. Aku mau kau segera mengantarku pulang kerumahku. Ketempat asalku…”
“Alfi!” teriak Rashka di belakang. Dia tidak terima aku berkata kasar pada junjungannya itu.
“Rashka, biarkan dia…” sela Razaka bijak seiring tersenyum padaku.
“Kalian semua pembunuh. Kalian bajingan! Demi menyelamatkan raja kalian, aku dan teman-temanku menjadi tumbal? Keparat!”
“Cukup Alfi! Jaga ucapanmu…” lagi-lagi Rashka menyela. Ku lihat Razaka meminta pengertian Rashka untuk memberiku keleluasaan berbicara.
“Aku, dan kami semua tidak seperti yang kau bicarakan Alfi. Kau belum mengerti…”
“Mengerti apa? Hah?! Kau tidak tahu, Rashka datang ke duniaku dan membunuh Rian! Lalu di sekolah, dia juga membunuh Randi, Riska, Dimas, dan terakhir. Dia membunuh Ainara!”
“Ainara?” tanya Razaka tersenyum. Sontak aku menautkan alis karena Razaka menganggap ucapanku seperti goyon.
“Apa benar, yang di ucapkan Alfi, Rashka?” tanya Razaka menatap pemuda di belakangku.
“Ng, ti-tidak, Tuanku! Saya tidak membunuh siapapun…”
“Bohong! Jelas-jelas aku melihat dia melakukannya…”
“Saya tida membunuh siapapun, Tuanku. Percayalah!” desis Rashka dengan suara tegas.
“Baiklah, Rashka. Aku percaya padamu. Sekarang, tinggalkan aku berdua dengan Alfi di ruangan ini…”
“Baik Tuanku…” serempak semua yang ada di sini menjawab.
***
Lama aku duduk di atas dipan yang terbuat dari bahan empuk seperti kursi kleopatra. Razaka meminta jawabanku sejak tadi. Tapi aku masih diam. Aku tidak ingin mati demi membantu mereka yang telah membunuh semua teman-temanku. Aku tidak mau.
“Bagiamana, Alfi? Apa kau bersedia membantu kami?”
“Aku tidak mau! Kalian salah memilih orang. Aku tidak bisa menggunakan sihir. Aku tidak bisa beladiri. Aku tidak bisa mengucapkan mantra. Aku tidak bisa apa-apa…”
“Kau akan bisa melakukan semuanya setelah belajar…”
“Aku ingin pulang.”
“Dan kau akan pulang setelah membantu kami…”
“Apa? Membantu kalian? Setelah kalian menukarku dengan rajamu itu, bisa saja aku mati di kediaman Murzah. Apa kau bisa menjamin keselamatanku?”
“Aku akan berusaha.”
“Hah! Berusaha? Bahkan tentara dan panglima perang kalian saja tidak bisa menyelamatkan seorang Raja yang katanya hebat dan bijaksana itu? Bagaimana kalian akan menyelamatku yang jelas-jelas tidak bisa banyak berbuat apa-apa…”
“Dengar Alfi, kau adalah orang di cari. Kau adalah orang yang diminta. Kami tidak bisa menebus ayahku kecuali denganmu. Dan perlu kau ketahui, setelah ayah kami selamat, aku dan pasukanku akan siap untuk menyelamatkanmu. Percayalah. Rashka akan melindungimu dari serangan Murzah dan sekutunya…”
“Apa? Rashka mau melindungiku?”
“Ya. Dia akan mengawasimu dan menjaga keselamatanmu…”
“Setelah dia membunuh semua teman-temanku?”
“Alfi! Kau memang keras kepala…” desis Razaka lalu pergi meninggalkanku sendiri. Selang beberapa saat dua orang Hotebi datang menjemput dan membawaku ke kamar megah yang telah di siapkan sebelumnya. Dan kamar itu, adalah tempat kaburku nanti demi menyelamatkan diri dari kelicikan Razaka dan Rashka.
***
“Kalau kau perlu apa-apa. Panggil saja namaku tiga kali…” tukas Rashka lalu beranjak meningalkanku di kamar ini sendiri.
“Aku tidak butuh bantuanmu!”
Hening. Kamar yang luas ini terasa hening dan lengang. Aku merasakan pikiran dan hati ini terus di gelayuti kembimbangan. Razaka menjamin keselamatanku? Tapi aku tidak yakin akan ada yang menjamin keselamatanku. Aku terlanjur membenci mereka semua. Terutama Rashka. Niatku malam ini adalah, kabur dari tempat ini dan segera meminta bantuan orang untuk mengeluarkanku dari tempat terkutuk ini.
Hampir dua jam aku mencoba untuk telelap, namun mataku benar-benar tidak bisa kantuk. Setelah memastikan semua aman. Segera aku membuka jendela dan menyelinap keluar melompati satu persatu balkon di istana ini. Dan akhirnya aku pun sampai di lantai dasar. Setelah itu segera aku berlari menuju semak-semak.
“Siapa itu?” teriak dua orang penjaga di depan gerbang. Ups! Nyaris aku ketahuan. Dengan jantung berdebar kencang aku mencoba tenang meski sebenarnya aku tidak bisa tenang. Ku intip dua penjaga itu dari bonsai dimana aku bersembunyi selanjutnya. Mereka menuju kearahku perlahan seiring tombak di pegang kuat-kuat dan posisi mereka dengan langkah kuda-kuda yang siap menyerang. Mataku membulat karena takut ketahuan. Dalam hati aku berdoa agar mereka tidak lebih jauh lagi mendekatiku. Salah seorang Hotebi menggerak-gerakkan tombaknya ke bonsai di sebelahku.
“Tidak ada siapa-siapa…” lirihnya lalu kembali ke tempat semula. Sedang seorang lelaki yang datang semakin mendekat kearahku belum bergeming, dia ingin lebih memastikan lagi. Haduh, bagaimana ini?
“Penyelamat kabuuuurrr! Penyelamat kabuuuur!” terdegar suara dari dalam istana menggegerkan semua Hotebi termasuk lelaki yang sedikit lagi menemukan keberadaanku ini. Serta merta mereka berlari masuk kedalam istana dan memastikan keadaan. Tanpa membuang waktu, aku berlari menyelematakan diri dengan menjeburkan diri ke dalam sungai yang mengelilingi istana ini.
“Penyelamat masuk kedalam sungai…” lirih salah satu Hotebi.
Sial!
Aku berenang semakin cepat ke tepian ketika kudapati puluhan ekor buaya raksasa keluar dari lubuknya dan berenang hendak memangsaku. Mereka seperti buaya-buaya kelaparan yang setahun belum di beri makan.
“Ehek,” aku menelan banyak air hingga perut ini terasa kembung.
“Itu dia!” teriak orang di atas sana. Aku semakin terkejut ketika belasan pasukan Hotebi berdiri melemparkan tombak kearahku. Dan tak satupun tombak itu mengenai diriku. Malah buaya-buaya malang itu yang menjadi tumbalnya. Aku segera berenang ketempat yang lebih jauh lagi. Anehnya, tak seorang Hotebi pun yang menjeburkan dirinya demi menangkapku. Ini kesempatan emas.
Setelah keluar dari sungai itu, tanganku meraih tebing dan secepat kilat aku melarikan diri kedalam hutan. Hotebi mengejarku. Aku terus berlari.
“Jangan lari, Alfi!” teriak Rashka berkali-kali. Aku tidak peduli.
“Alfi, hutan itu berbahaya…” teriak Rashka lagi. Aku semakin tidak peduli. Mereka masih mengejarku.
“Alfi, berhenti, atau kau dalam masalah besar. Hutan itu banyak Andoga…” Rashka mencoba mengingatkanku. Apa itu Andoga? Pikirku dalam hati seiring terus berlari menjauhi mereka.
“Alfi. Berhenti, lihat di belakangmu…” aku memang mendengar suara desahan aneh di belakangku. Suara itu mengaum dan cepat merayap. Pasukan Hotebi sepertinya melemparkan tombak dan panah mereka untuk menghentikan langkahku. Tetapi semua senjata mereka tidak mengenaiku sama sekali.
Buuuk.
Terdengar suara seseorang jatuh di belakangku. Sontak aku berhenti demi mengetahui siapa yang jatuh tersebut. Apakah itu Hotebi atau…
“Hwaaaaaaa!” teriakku terkejut saat melihat sesosok menyeramkan bertubuh besar dengan bulu berwarna putih terang menyelimuti tubuhnya tewas mengenaskan. Mukanya seperti srigala, tetapi tubuhnya seperti manusia.
“Alfi, jangan bergerak…” perintah Rashka memintaku tenang. Sontak aku menurut. Semua keadaan menjadi tenang.
“Andoga akan hidup kembali jika ada gerakan-gerakan di sekitarnya yang merangsang jantungnya berdetak kembali. Tunggu sampai beberapa menit. Maka kau akan aman, tenang Alfi, jangan panik…” lirih Rashka pelan.
***
Tanpa basa-basi lagi aku pun memilih berlari mengindari Andoga dan para Hotebi itu. Sepertinya itu adalah trik atau akal-akalan Rashka agar mudah menangkapku dan membawa kembali ke istana Arafa lalu menukarku dengan raja mereka kelak. Aku tidak mudah di tipu. Dia pikir aku anak kecil?
Megetahui aku kabur, Rashka dan para Hotebi itu kembali mengejar. Kali ini sepertinya mereka tidak memberiku ampun. Puluhan panah mereka lepaskan untuk bisa melumpuhkanku, aku terus menghindar. Rashka berteriak memintaku agar mau berhenti. Aku tidak peduli. Selain Rashka dan Hotebi, aku melihat ratusan ekor Andoga tiba-tiba muncul dan mengejar kami bersamaan. Beberapa Hotebi spertinya di terkam, lalu beberapa dari mereka melawan. Banyak Andoga tewas. Banyak pula Hotebi yang mati. Entah dengan Rashka.
“Alfi, jangan lari lurus kedepan, usahakan kau mencari jalan yang berlainan agar Andoga tidak mudah menerkammu, mereka lambat jika mengejar orang yang lari berbelok-belok…” kelakar Rashka tanpa mau aku menggubrisnya. Aku terus lari kedepan. Ternyata dia masih hidup.
“Alfi, dengarkan aku. Sekali saja.” lanjut Rashka memohon.
“Berlarilah ke sebelah kanan, di sana ada air terjun, Andoga tidak suka dengan air, kau akan selamat di sana…” aku tidak menggubris.
“Alfi, dengarkan aku. Demi dirimu, demi Negeriku, demi Ainara…” sontak aku memperlambat lari sesaat setelah mendengar Rashka mengucap kata demi Ainara. Itu tandanya…
“Awas, Alfi!” teriak Rashka terlambat setelah seekor Andoga melompat dan mengarah hendak menerkamku. Aku berlari menghindar dengan berbelok kearah kanan. Andoga tersungkur dengan sendirinya, manusia srigala itu jatuh dan bergulingan lalu terperosok kedalam jurang.
***
Aku terus berlari menghindari kejaran Rashka dan beberapa Hotebi yang selamat dari amukan Andoga-Andoga lapar. Aku pun berhenti di depan sebuah jurang. Nyaris aku terjatuh dan mati di dasar sana. Rashka semakin mendekat, aku bingung harus lari kemana lagi. Tanpa pikir panjang, dari pada aku tertangkap dan di jadikan tumbal mereka, lebih baik aku mati. Dengan niat yang bulat, segera aku menyusuri lereng bebatuan terjal itu dengan kaki sebagai tumpuan agar aku tidak tersungkur. Aku berlari terposok dan sesekali jatuh meluncur. Aku terus meluncur. Demi nyawaku.
“Alfi….” teriak Rashka di atas tebing sana.
“Alfi! Kembalilah, kau akan baik-baik saja…” teriakan itu menggema.
“Alfi….” ketiga kalinya aku tidak menggubris.
***
Di dasar lembah ini, aku mencari jalan menuju tempat yang lebih aman. Sekeliling lembah di tumbuhi pohon-pohon kecil dan rumput setinggi pinggang. Dan beberapa lagi adalah tanah basah. Dengan hati-hati aku berjalan dan mata ini tetap awas dari ancaman-ancaman binatang buas atau Andoga lain yang lebih ganas.
Aku melewati rawa-rawa yang airnya tampak jernih. Di dalam rawa itu aku melihat tumbuhan alga dan rumput liar yang melambai-lambai di bawa riak air yang mengalir. Ku lihat wajahku di dari permukaan air. Kenapa berbeda? Seperti bukan wajahku? Aneh. Aku meraba pipi kananku yang terlihat jauh sekali dengan wajah asliku. Kenapa ini? Apa ini hanya fatamorgana?
“Itulah wajah aslimu.” Aku tersentak ketika suara seseorang membenarkan pertanyaan yang ada di dalam hati ini. Mataku secepat kilat mengitari sekeliling yang lengang. Hanya angin malam yang berhembus sepoi menggoyangkan rumput-rumput dan alang-alang liar. Tidak ada siapa-siapa. Lalu, dari mana asal suara itu?
“Lihatlah kedalam air…” suara itu kembali memberiku tanda. Lalu dengan sendirinya akupun melihat kedalam air. Aku terkejut, di dalam air itu ada sebuah kepala manusia yang dapat berbicara dengan jelas. Dia sempat tersenyum saat aku melihatnya.
“Si-siapa kamu?” tanyaku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Aku melihat kepala terpenggal yang dapat berbicara.
“Jangan takut, anak muda. Kau akan baik-baik saja…”
“Siapa kamu?!” tanyaku semakin terkejut lagi.
“Baiklah. Namaku Amura. Penghuni rawa ini sejak ribuan tahun silam. Apa kau mau singgah kerumahku?” tanyanya ramah. Aku menggeleng.
“Ti-tidak. Aku tidak mau kemana-mana. Aku mau pulang keduniaku. Bisakah kau membantuku…?” kepala lelaki tua itu tampak berfikir.
“Aku tidak bisa kemana-mana. Inilah alamku. Inilah rumahku. Aku akan mati jika keluar dari rawa ini. Tetapi, kalau kau mau bertamu, aku bisa memberimu nafas selama kau ada di dalam rawa ini. Dan nanti, aku akan mencari jalan keluar agar kau bisa kembali ke alammu. Bagaimana?” tanya Amura dengan senyum yang dapat aku artikan senyuman licik.
“Maaf, aku tidak bisa percaya begitu saja dengan orang yang tidak aku kenal…” lelaki itu terdiam. Dia memejamkan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu perlahan matanya terbuka dan ia tertawa terbahak-bahak. Sontak aku berlari dan menghindari rawa itu. Aku terkejut saat akar-akar basah yang datang dari segala penjuru menjalar dan mengejarku. Sepertinya lelaki itu hendak membunuhku. Aku berlari kedaratan. Akar-akar basah itu terus mengejar. Lalu, satu persatu akar-akar itu mampu meraih kakiku, melilit pinggangku, badanku, hingga seluruh tubuhku. Aku sulit bernafas. Aku merasa sesak sekali.
“To…” bahkan berteriak aku tidak sanggup lagi.
Apakah aku akan mati di tempat ini? Apakah aku akan menjadi mayat dan terbuang sia-sia dalam keterasingan? Entahlah, tiba-tiba aku tersadar saat sekelebat cahaya putih bersinar terang datang dari kejauhan dan mengarah ketubuhku ini. Cahaya itu membuat akar-akar basah terlepas dengan sendirinya. Lalu, dari kejauhan sana, tampak sosok seseorang wanita berkedurung hitam datang dengan anggunya menuju kearahku. Selang beberapa saat, wanita itu berhenti persis di hadapanku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya tegas. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup tabir. Dia menjulurkan tangan kanannya demi membantuku tegak dari keterpurukan ini.
“Terima kasih…” sahutku lalu berdiri menghadapnya.
“Kamu siapa?” tanyaku penasaran. Perlahan wanita itu membuka tabir. Aku begitu penasaran. Sangat penasaran. Sontak aku terkejut tatkala wanita itu membuka tabir yang menutupi wajahnya dengan sempurna.
“Ainara?!” tanyaku tak percaya.
“Ya, Alfi. Ini aku…”
“Ba-bagaimana bisa kau ada di sini?” tanyaku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat. Ternyata, Ainara masih hidup.
“Aku di selamatkan oleh seorang lelaki di sekitar tempat ini, saat lelaki berjubah hitam itu hendak melemparku kedasar jurang…” Ainara mengamati keadaan sekeliling.
“Oh ya, di sini tempatnya kurang aman. Angin dan tumbuh-tumbuhan dapat berbicara dan mendengar perkataan kita. Sekarang, kau ikut aku…” tukas Ainara lalu mengajakku ke suatu tempat.
“Kemana kita akan pergi?”
“Yang jelas keluar dari tempat ini. Aku sudah lama menunggumu. Ku kira kau sudah mati….”
Dalam perjalanan menuju rumah lelaki yang sudah menyelamatkan nyawa Ainara, aku menceritakan semua yang ku alami saat kami terpisah dari mobil berkarat itu. Ainara terkejut, dia bahkan nyaris di bunuh oleh beberapa pasukan Hotebi yang datang dari segala arah. Beruntung dia tidak kenapa-napa.
“Lalu, dari mana kau bisa mengeluarkan cahaya putih tadi?” tanyaku teringat dengan apa yang Ainara lakukan saat ia menolongku dari jeratan akar-akar basah itu.
“Aku belajar dari lelaki yang menyelamatkanku itu…”
“Wow! Keren. Apa lelaki itu mau mengajariku juga?”
“Hmmm, aku bisa memintanya mengajarimu nanti.”
“Baiklah. Aku harap dia tidak keberatan…”
Kami sampai di sebuah gubuk panggung yang terbuat dari kayu jati. Ainara masuk dan langsung membawaku kepada lelaki yang di maksud.
“Kakak, ini Alfi. Aku sudah membawanya kepadamu…” lirih Ainara pada lelaki berjubah hijau tua yang membelakangi kami. Perlahan lelaki itu membalikkan badan dan melihatku tersenyum.
“Selamat datang kembali Alfi! Senang melihatmu…” ucap lelaki itu tersenyum.
“Razaka?!” tanyaku terkejut bukan main. Sontak aku melihat Ainara yang tersenyum mendekati lelaki itu. Mereka?
“Maaf, Alfi. Razaka adalah kakak kandungku. Sengaja aku datang keduniamu hanya untuk membawamu ke tempat ini. Semua aku lakukan demi Ayahku. Demi Negeriku. Aku mohon pengertianmu…” tukas Ainara membuatku shock. Sangat shock.
“Rashka! Bawa Alfi ke kamarnya, dan pastikan dia tidak kabur lagi…” sambung Ainara tersenyum manis padaku.
SEKIAN
Pengarang Cerita: Jibril
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami