Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Nasihat. Tampilkan semua postingan

Aku Termakan Oleh Cintamu

Selasa, 14 Januari 2014 | komentar

Aku adalah remaja biasa yang bisa dibilang remaja yang penyendiri aku berasal dari keluarga yang keras dalam mendidik dan terlalu banyak aturan yang terkadang membuatku jenuh. Ayahku adalah seorang pejabat dan ibuku juga pejabat bisa dibilang aku adalah anak orang kaya. Aku mempunyai satu orang adik laki-laki yang masih SMP kelas 3 sementara aku sendiri kelas 3 SMA sesaat lagi aku akan kuliah.
Aku termasuk anak yang tidak terlalu berprestasi hanya masuk 10 besar saja ayah dan ibuku terlalu sibuk dengan urusan mereka jadi dirumah aku hanya bersama pembantu dan supir saja. Disekolahku ada laki-laki yang mencintaiku dia bernama Randy. Randy bukan anak orang kaya, tidak berprestasi dan tergolong badung disekolah. Namun entah mengapa aku bisa begitu mencintainnya padahal dia juga tidak tampan biasa saja, namun aku begitu terbuai oleh rayuannya, kata-katannya, candannya segala-segalannya.
Berungkali sahabatku satu-satunnya Merlina menasihatiku agar tetap fokus pada pelajaran dan jangan terlalu berlebihan karena nilai sekolahku sudah mulai turun namun nasihat itu kuabaikan karena kumerasa Randy adalah seseorang yang paling baik satu dunia dia begitu perhatian, mau mendengarkan keluh kesahku. Suatu hari aku terbuai oleh cinta aku benar-benar buta sampai aku terjebak dalam pergaulan bebas yang belum sepantasnya aku lakukan hingga pada suatu hari aku mulai curiga karena tidak haid 2 minggu namun aku belum membeli alat tes kehamilan, namun pada jam istirahat perutku mual, rasa curigaku semakin bertambah akhirnnya sepulang sekolah aku membeli alat tes kehamilan dengan uang jajan yang masih utuh uang 50 ribu yang sengaja tidak kupakai karena aku biasa membawa bekal kesekolahku uang itu hanya untuk sangu sekolah.
Sesampainnnya dirumah dengan langkah perlahan aku masuk kedalam kamar mandi dan apa yang terjadi? walau sebanarnnya tak mau melihat tetapi aku akhirnnya mengetahui juga. Hasilnnnya positif ya, aku hamil aku kebingungan harus kuapakan janinku ini ya aku harus menghubungi Randy. Parah, teleponnya tidak diangkat namun aku tak peduli aku hubungi saja nomornya dan akhirnya nyambung juga.
Hatiku menyesal sangat menyesal aku merasa aku manusia paling bodoh dan terkutuk bagaimana dengan orangtuaku? Randy tidak mau bertanggung jawab dia malah menudingku berpacaran lagi dengan pria lain. Keesokan harinnya aku melihat Randy tengah asyik berduaan dengan perempuan lain yakni ify adik kelasnnya. Ify masih kelas 2 SMA. Randy terlihat begitu perhatian sudahlah aku pasrah saja aku memutuskan untuk mengugurkan kandunganku tapi aku takut. Uang darimana? Lalu kalau orangtuaku tau? Putus sudah harapanku untuk kuliah.
Aku berterus terang dengan orangtuaku betapa marahnnya ayah dan ibu apalagi setelah tau Randy tidak mau bertanggung jawab jadi mau tidak mau aku harus dikeluarkan dari sekolah karena orangtuaku mengadu kepihak sekolah dan teman-teman hanya dapat menggunjingku. Dan aku terpaksa aku harus angkat kaki dari rumah nan megah ini dan membawa dan merawat janinku nanti.
Penulis Cerita: Angela
 

Kau Tetap Sahabatku

| komentar

“BERUBAH” itulah kata-kata yang tepat untuk kamu sekarang.
Aku melihat ke arah dua cewek yang sedang jalan menuju ke kelas, lebih tepatnya ke seorang cewek yang sedang tertawa sambil melihat ke arah sahabat barunya. Dulu dia adalah sahabatku tapi semenjak dia mempunyai teman baru. Bukan, lebih tebatnya ‘sahabat baru’nya sifatnya berbeda, tak seperti dulu.
Entahlah yang jelas persahabatan kami hancur karena dia mulai mendapatkan sahabat barunya. Padahal dia adalah sahabat pertama bagiku. Mungkin teman barunya lebih bisa diandalkan dibanding dengan diriku. Aku tau, aku tak semenarik teman barunya. Tapi mengapa dia melupakanku? Aku tak pernah sama sekali melupakan dia, andaikan dia tau bahwa aku disini masih sangat berharap bahwa hubungan persahabatan ini kembali seperti dulu.
Aku teringat saat pertama kali bertemu dengannya di kantin. Dia menyapaku lebih dulu.
“Hai, aku Amalia.” Ia memperkenalkan dirinya, dan tangannya terulur di hadapanku.
“Hai juga, aku aisyah” aku berkata sambil tersenyum melihatnya.
Sampai akhirnya kami berbincang-bincang di kantin dan tak terasa bel sekolah berbunyi aku mengucapkan selamat tinggal, karena kelas kita beda. Tapi disaat walaupun aku dan dia beda kelas kami tetap bermain bersama-sama.
Dan aku teringat disaat aku sakit dan tidak masuk sekolah, sepulang sekolah amalia langsung ke rumahku dan menanyakan berbagai macam kenapa aku bisa sakit seperti ini dan tidak masuk sekolah.
Mataku memanas ketika mengingat kenang-kenangan itu, padanganku kabur akibat air mata yang mengalir di mataku. Aku menundukan kepala dan cepat-cepat ku hapus air mataku agar tak terlihat oleh teman-temanku di kelas apalagi kalau amalia dan sahabat barunya lihat.
“aisyah, kamu kenapa?”
Aku mengangkat wajahku dan mataku membelalak kaget ketika melihat amalia menanyakanku. karena selama ini dia tak pernah menyapaku, paling menyapaku kalau lagi butuh saja.
“aku gak papa kok” jawabku sambil menggeleng tapi tersenyum
Ia mengangukan kepala lalu pergi ke tempat duduknya bersama teman-temannya. Bahkan disaat bertanya padaku gitu saja wajahnya datar sekali.
Dia. Sahabat lamaku, ternyata sudah banyak berubah. Aku tidak marah padanya, aku hanya kecewa. karena dengan mudahnya dia melupakan persahabatan ini. sedangkan aku melupakannya saja aku tidak mau. karena kenangan ini tidak pernah mau dihapuskan di hatiku.
Tak lama kemudian bel berbunyi, dan semuanya langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Mata pelajaran jam pertama itu IPA, menurutku itu perlajaran terbosan. Tapi aku tetap memperhatikan pelajarannya, Sampai pelajaran jam terakhir pun. Sebenarnya sepulang sekolah ini aku ingin memberi tau sesuatu pada amalia tapi aku urungkan niatku, mungkin akan ku kasih tau nanti saja.
Sudah seminggu aku tidak sekolah, dan tidak kasih kabar kepada amalia walaupun dia tak peduli padaku. Mungkin sekarang aku harus mengirim pesan padanya, walaupun begitu dia tetap sahabat terbaikku.
Ku ambil handphoneku dari tas, lalu ku ketik sms padanya.
“Hi amalia, ini aku aisyah. Aku sudah pindah rumah jadi aku juga harus pindah sekolah. Mungkin terdengar aneh ya menurutmu? Ngapain aku ngasih kabar ke kamu. Tapi kan walaupun begitu kamu tetap sahabat terbaikku. maaf juga ya aku baru kasih kabarnya sekarang. Aku tak berharap kamu membacanya sms ini, Cuma aku berharap semoga setelah ini kamu tidak akan menyianyiakan seorang sahabat. Dan mudah-mudahan kamu menemukan sahabat yang jauh lebih baik dariku. Dan terimakasih juga selama ini kamu mau menjadi sahabatku, maaf jika aku tidak mejadi sahabat yang baik untukmu selama ini. terimakasih juga karena kamu membuat aku jadi mengerti arti persahabatan, dan amalia jika kamu ingin becerita datanglah kepadaku. Walaupun aku bukan sahabatmu lagi, tapi aku mengagap kamu sahabatku. Ingat itu ya, aku tau jauh di dalam hatimu, kamu masih mengagapku sahabat.”
Setelah mengirim pesan yang panjang itu, aku menghela nafas. Aku bedoa semoga dia membalas pesanku ini. baru aku mau meletakan handphoneku di meja tapi tiba-tiba ada sms dari amalia. Dan aku terkejut membacanya.
“aisyah, maafkan aku atas kesalahanku ini. aku menyesal telah menyianyiakan sahabat yang begitu pengertian padaku, maaf karena aku seperti kacang lupa kulitnya. Dan mulai sekarang aku janji aku gak akan menyianyiakan sahabat lagi. Dan aku akan tetap menjadi sahabatmu. Maafkan aku sekali lagi.”
Aku tersenyum melihat pesan amalia. Dan mulai sekarang aku mengerti.
“janganlah kau menyianyiakan sahabatmu, jika kau mempunyai teman barumu. karena, belum tentu teman barumu sebaik sahabatmu yang selama ini menemanimu disaat senang ataupun sedih.”
“sahabat akan tetap menjadi sahabat dan tidak ada yang namanya “mantan sahabat.”
“walaupun sahabatmu yang dulu sudah berubah karena ada teman baru, tetap anggap dia sahabat. karena dulu dia dan kamu adalah sahabat?”
“janganlah kamu merasa sedih karena sahabatmu berubah, karena suatu saat nanti dia akan sadar. Mana sahabat, dan mana teman sesaaat.”
“Semarah-marahnya sahabatmu kepadamu, dia tidak ada bisa lama marah-marah karena pasti dia akan merasa kehilangan”
Dan “jika persahabatanmu hancur karena seseorang, cobalah kau persatukan kembali persahabatannya meski itu sangat sulit sekalipun.”
Penulis Cerita: Juwita Palvin
 

Goresan Pena Ayah

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Dunia ini terasa berhenti, ketika Zahra harus siap menerima kenyataan pahit, memiliki seorang Ayah dengan keadaan cacat. Keinginannya mempunyai seorang Ayah yang lebih sempurna, seseorang yang tak cacat seperti Ayahnya semua orang. Seorang Ayah yang dapat mendengar harapannya dan kekhawatirannya. Di rumah petaknya, Zahra tinggal bersama Ayah dan adiknya, sesudah kematian ibunya beberapa tahun yang lalu.
Zahra adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Gadis berjilbab, cantik, alim dan lumayan cerdas. Umurnya baru menginjak 17 tahun, duduk di sebuah sekolah islam kota Solo. Jabatan yang diembannya memaksanya untuk terus berpikir, bagaimana cara untuk mengubah keadaan ekonomi keluarga yang semakin parah, ditambah lagi Salma adiknya sudah menginjak kelas 4 Sekolah Dasar semakin banyak yang Salma butuhkan untuk melengkapi peralatan sekolahnya. Zahra dan Salma bisa melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan yang sekarang adalah karena kecerdasannya. Namun demikian tak membuat keduanya berpangku tangan. Terkadang terbesit untuk melanjutkan studynya di suatu universitas impiannya. Ya Impian. Yang selalu hanya impian. 6 huruf yang mempersulit hidupnya.
Pagi ini seperti hari-hari biasanya, Zahra harus bangun pagi mempersiapkan sarapan untuk makan Ayah dan adiknya. Selain itu dia juga harus memandikan Ayahnya dan membereskan semua ruangan sebelum dia pergi menuntut ilmu. Ayahnya yang cacat dengan tangan yang hanya bisa digerakan membuatnya sulit mengetahui kemauanya. Perkataan yang keluar dari mulut Ayahnya pun tidak begitu jelas, sehingga dia meletakan selembar kertas dan sebatang pena yang digunankan Ayah untuk berkomunikasi.
“Sarapan sama apa kak pagi ini?” tanya Salma kepada kakaknya.
“Seadanya Sal, hanya ada nasi dan lauk tempe” jawab Zahra dengan sedih memandang adiknya.
“Ayah mau sarapan sekarang?” tanya Zahra.
Ayahnya pun hanya mengangguk dan menyodorkan secarik kertas kepada Zahra.
Besok uang dari sekolahan jangan buat berobat Ayah tapi belikan Salma ayam goreng kesukaanya..
Zahra dan Salma bebarengan membaca catatan dari Ayahnya.
“Tidak usah Ayah.. lauk tempe saja udah cukup kok” ucap Salma memeluk Ayahnya yang hanya bisa berbaring di tempat tidurnya.
Sebelum berangkat sekolah Zahra menyiapkan semua perlengkapan untuk Ayahnya. Dan mereka pun berpamitan. Seperti biasa Ayah Zahra menyerahkan kertas kusamnya.
Hati-hati di jalan nak.. belajar yang tekun biar kelak jadi anak yang selalu berguna untuk Ayah dan orang lain. Ayah selalu mendoakan kalian dimanapun kalian berada.
Ayah di rumah akan baik- baik saja.
Zahra dan Salma memeluk Ayah tercintanya. Mereka sebenarnya tak begitu tega meninggalkan Ayahnya sendiri di rumah, namun Ayah tetap memaksa agar mereka harus terus sekolah.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang seperempat sudah saatnya Zahra dan Salma berangkat ke sekolah. Perjalanan menuju sekolah sekitar 2 km. Tidak seperti teman-temannya yang diantar orangtuanya namun kedua gadis ini berangkat dengan mengayuh sepeda tua milik Ayah yang dulu dipakai sebelum jatuh sakit.
Sesampai di sekolah Zahra mengikuti pelajaran dengan seksama. Zahra yang selalu menduduki peringkat pertama di sekolahnya membuat guru-guru sangat bangga denganya. Dan karena prestasi yang didapat membuatnya memperoleh beasiswa sekolah, yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Teeet… teeettt… jam istirahat berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk menuju ke kantin. Tidak sama dengan Zahra yang hanya duduk di kelas menunggu bel masuk berbunyi.
Tiba tiba Aulia menghampiri Zahra.
“Ra kamu dipanggail Bu Nasiah tuuh…” kata Aulia sambil makan batagor.
“oh iya.. dimana?” tanya Zahra
“Di kantor guru, tau kan mejanya Bu Nasiah?”
“Iya makasih, Aku segera kesana” jawab Zahra meninggalkan Aulia di kelas.
Zahra pun berjalan menyusuri koridor sekolah sambil memberikan senyuman manis kepada teman yang dia temui. Sesampainya di kantor dia mencari meja Bu Nasiah dan menghampirinya.
“Assalamualaikum Bu…” sapa Zahra kepada wali kelasnya.
“Waalaikumsalam Zahra, gimana Bapak sehat?” tanya Bu Nasiah dengan senyumannya.
“Alhamdulilah Bu sehat, Ibu memanggil saya?” ucap Zahra
“Ibu disuruh oleh kepala sekolah untuk memberikan ini untuk kamu.” Bu Nasiah menyodorkan amplop putihnya ke Zahra.
“Terimakasih banyak Bu..” balas Zahra sambil menerima amplopnya dan menyalaminya.
Bel tanda selesainya istirahat berbunyi. Zahra pun berpamitan untuk segera masuk ke ruang kelas. Pelajaran pun dimulai kembali.
Tak terasa waktu sekolah telah selesai. Semua siswa berlarian menuju pintu gerbang menunggu jemputan orangtua. Begitu juga dengan Salma yang sudah menunggu kakakanya di samping sepeda tuanya. mereka pun pulang bersama.
“Loh kak, kok arahnya kesini? Kita kan belok kanan?” tanya Salma penasaran.
“Coba tebak kita mau kemana?” tanya Zahra.
“Ke pasar ya kak?” Salma mencoba menebak.
“Seratus…” senyum Zahra memberikan nilai untuk adiknya.
Sampai di pasar sepedanya pun di sandarkan di dekat pintu masuk pasar. Mereka mencari ayam potong dan bumbu untuk membuat ayam goreng kesukaan Salma. Salma begitu semangat menyusuri deretan pedagang di pasar. Setelah semua di beli tak lupa mereka membeli obat untuk Ayahnya. Dan perjalanan pulang pun dilalui.
Di rumah mereka langsung menghampiri Ayahnya yang sudah menyiapkan sarung dan pecinya. Zahra segera ganti baju dan bergegas membawa air wudu untuk Ayahnya. Sedangkan Salma menyiapkan makanan untuk makan siang.
Selesai wudu Ayah menyodorkan selembar catatan untuk Zahra
Kamu ambil air wudu ajak Salma untuk solat dzuhur berjamaah selesai solat kita makan bersama
Zahra dan Salma segera mematuhi perintah Ayahnya. Mereka bergegas mengambil air wudu dan melaksanakan solat. Selesai solat Zahra menyiapkan makanan untuk Ayah.
Ketika makan Ayahnya terkejut melihat lauk ayam goreng yang sudah di masak Salma. Ayahnya pun menulis catatan untuk kedua gadisnya
Uang dari sekolah disimpan kamu aja Ra, di pakai buat keperluan kamu dan Salma.
Zahra menjawab catatan Ayah “Iya Ayah.. tadi Zahra juga udah beli obat buat Ayah sisa uang udah Zahra simpan di lemari untuk keperluan sehari-hari”.
Salma, Zahra dan Ayahnya melahap makan siangnya dengan lauk ayam goreng yang hanya bisa di beli ketika mendapat uang dari sekolahnya. Selesai makan mereka beristirahat tak lupa Zahra memberikan obat untuk Ayahnya.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, mereka dibangunkan oleh kumandang adzan asar. Zahra bergegas memandikan Ayah dan merapikan ruangan rumah. Salma pergi mengaji di surau dekat rumahnya.
“Salma pamit berangakat ngaji dulu Ayah..” pamit Salma kepada Ayahnya
Ayah Salma hanya mengangguk tanda setuju dan tersenyum.
Hari hari yang dilalui keluarga Zahra begitu bahagia walaupun keadaanya kurang mencukupi. Zahra hanya bisa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada keluarganya. Melihat sang Ayah yang hanya bisa berbaring di tempat tidur membuatnya merasa iba. Telah berbagai usaha yang dilakukan untuk mengobatinya namun semua nihil.
Di tengah malam ketika Zahra dan Salma sedang tertidur lelap Ayahnya menulis catatan di kertasnya. Dan di sepertiga malam Zahra dan Ayahnya bangun untuk meminta dan memuji ke AgunganNya.
“Kak jam berapa sekarang?” tanya Salma dengan mata sembab.
“Jam tiga pagi, ayo bangun ambil wudu..” pinta Zahra
“Hari ini Salma libur dulu ya kak” ucap Salma memancal slimut kembali dalam tidurnya.
Ayah dan Zahra pun memandang tersenyum. Zahra kembali melakukan dialognya kepada Tuhan untuk semua permohonannya. Dalam hati Zahra berdoa..
Ya Allah, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Tolonglah kami agar kami mengerti, menerima, percaya,
Memaafkan dan dimaafkan.
Memberi dan menerima, mencintai dan dicintai
Serta berani menatap jauh kedepan untuk kehidupan yang lebih baik
Lebih indah dan membahagiakan
Hari ini Jumat 22 Juni 2012. Matahari mulai muncul mengeluarkan cahayanya. Meyinari kegelapan bumi dan menjadikanya terang. Tanda aktifitas manusia mulai dilalui. Tiba-tiba Ayah Zahra menyodorkan catatan setelah selesai di mandikan.
Zahra pakaikan Ayah baju putih pemberian Ibu, hari ini Ayah sangat rindu Ibu
“iya Ayah.. Zahra juga selalu rindu Ibu..” ucap Zahra meneteskan air mata.
“Salma.. tolong ambilkan Ayah baju koko putih yang ada di lemari” pinta Zahra.
“Iya kak…” jawab Salma dengan mencari baju koko putih di tumpukan baju di lemari.
Tak terasa jam dinding di rumahnya menunjukan pukul tujuh kurang seperempat. Waktunya Zahra dan Salma berpamitan meninggalkan Ayah untuk menimba ilmu. Sepeda tuanya sudah siap membawa ke sekolahan. Sebelum berangkat Ayahnya menyodorkan secarik kertas untuk kedua putrinya.
Hati-hati di jalan. Zahra jaga Salma ya..
Ayah rindu Ibu
Zahra dan Salma memeluk Ayah karena terharu.
“Kami juga rindu Ibu Yah…, kami berangkat sekolah dulu ya Yah, Ayah baik-baik di rumah..”.
Sesampai di sekolahan ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas, tiba-tiba seluruh ruangan kelas bergetar dan semua gambar di dinding kelas bergoyang. Siswa yang ada di kelas pun keluar dengan panik. Zahra sangat takut dengan keadaan Ayahnya di rumah. Dia tak mempedulikan keadaan di sekolah. Dan dia langsung mencari sepeda untuk segera pulang. Bu Nasiah menahan Zahra untuk tetap tenang di sekolah namun Zahra bersikeras meninggalkan sekolah karena mengingat Ayahnya.
Zahra dengan kecepatan tinggi mengayuh sepeda dan sampailah di depan rumahnya. Dia langsung menuju kamar Ayah dan melihat Ayahnya yang sudah berbaring di lantai kamarnya.
“Ayaahhh…!!!” Jerit Zahra mendekap Ayahnya.
Tiba-tiba Salma berlarian menuju rumah. Setelah tau keadaanya dia pun menangis mencoba membangunkan Ayah.
“Ayah.. bangun… jangan tinggalin Salma…!” isak Salma.
“innalillahi wa inna iliaihi rooji’uun…”
Semua tetangga mendatangi rumah Zahra, dan mengurus jenazah almarhum Ayahnya.
Setelah semua proses pemakaman selesai, Zahra dan Salma mulai membereskan semua ruangan rumah yang rusak karena gempa. Ketika sedang membersihkan kamar Ayah, Salma menemukan secarik kertas catatan Ayahnya. Mereka membacanya bersama..
Zahra… Salma.. maafin Ayah sudah merepotkan kalian..
kalian adalah anak yang paling Ayah banggakan
Jaga sholat dan iman kalian
Hadapi hidup dengan senyuman
Ayah percaya kelak kalian akan menjemput kebahagiaan..
Ayah pergi menyusul Ibu..
Doakan terus Ayah dan Ibu yaa..
Genangan air mata seakan tumpah di pipi kedua ganis itu. Kematian Ayahnya yang begitu cepat membuat mereka sadar bahwa Ayahlah segalanya. Kini Zahra menjalani hidup hanya dengan Salma. Hari-hari berbalut kesedihan dan luka mendalam. Namun mereka yakin Tuhan akan menurunkan seorang malaikat yang akan menemani dan membuat tawa bahagia untuk hari esok dan seterusnya.
Pengarang Cerita: Kun Pangesti
 

Surat Tahun 2070

Rabu, 08 Januari 2014 | komentar

Hai… aku tidak mempunyai nama, tapi aku sering dipanggil li. Aku lahir pada tahun 2055. Dan sekarang umurku 15 tahun. Kata oma opaku, bumi kita ini sangatlah… asri! Banyak pohon-pohon rindang di mana-mana. Bahkan, nenek moyang-nenek moyang yang tinggal saat dulu berkata, bumi ini seakan-akan warnanya hanya hijau dan biru! Tapi sekarang… warna bumi ini hanya coklat!!! Coklat… saja! Dulu… saat aku berumur 5 tahun, aku sering memboros-boroskan air saat mandi. Hanya untuk bermain-main saja! Aku kira, air yang aku pakai akan selalu ada dan selalu bersih setiap saat. Tapi sekarang… air untuk minum saja susah di dapat. Harga per botol 150 ml saja bisa berkisar 300 ribu! Dulu, harga botol 150 ml hanya 5 ribu saja. Dan sekarang, tidak ada yang mempunyai pekerjaan. Semuanya pengangguran! Hujan di bumi ini saja kira-kira datang 4 bulan sekali. Saat hujan pun, bukan air jernih kami dapat, melainkan air kotor bekas cucian deterjen rumah tangga. Terpaksa, kami hanya mandi seminggu sekali. Masalah pakaian? Jangan harap mau punya baju dress seperti keluarga-keluarga kerajaan. Baju kaos oblong saja susahnya… di dapat! Harganya bisa sampai jutaan rupiah! Bagi yang tidak mampu sepertiku dan keluarga lainnya, kami memakai baju sekali pakai. Baju kami terbuat dari bahan karung beras yang suka kalian lihat. Bumi ini juga mengalami busung lapar! Tidak ada orang yang beratnya mencapai 20 kg. Paling berat saja hanya 15kg! Dulu… seorang wanita dapat memiliki rambut indah yang panjang dan lebat. Tapi sekarang… sang mahkota wanita tidak dapat lagi dilihat. Banyak sekali kematian karena dehidrasi, kekeringan dan busung lapar. Sampai kapan dunia ini harus begini?

“wuah, benar-benar mimpi yang sangat buruk! Lebih buruk dari mimpi tentang hantu!!!” Caroline terbangun dari tidurnya.
Kini ia sadar, ia selalu membuang-buangkan air hanya untuk main-main saja. Ia juga selalu membuang-buang makanan yang masih tersisa sangat banyak. Ia juga selalu membuang sampah sembarangan. Ia bertekad untuk menjaga bumi ini dan akan mendemokrasikannya di sekolah besok. Setelah ia berbicara itu, di balik lemari Caroline, ada seorang perempuan berumur 15 tahun tersenyum mendengar ucapan Caroline. Setelah itu, perempuan tersebut terbang dengan sayap indah dan entah pergi ke mana…
Pesan moral: Surat mimpi tahun 2070 itu telah mengingatkan kita semua agar kita selalu menjaga bumi kita ini. Jangan anggap kebutuhan kita akan tersedia selamanya, karena suatu saat dunia akan berubah…

Pengarang Cerita: Jade Elisa Putri
 

Belajar Kepada Setan

Selasa, 07 Januari 2014 | komentar

Mendengar kata Setan, maka terbayang lah sosok yang menakutkan atau menyeramkan. Setan itu sebutan untuk Jin atau manusia yang memiliki sifat Jahat.. Oiya, saya mimpi semalam, dan gara-gara itulah saya terbangun dan tak bisa tidur lagi, bukan mimpi biasa, mimpi yang luar biasa dan telah mengubah paradigma berpikir saya tentang dia, yaitu Setan. 

Sebenarnya saya sedang lelap tertidur, makanya saya mimpi, ketemu dia, dia yaitu Setan, sosok mistis yang selalu menjadi sosokkeren di setiap peradaban. Malahan di Indonesia sosok Setan selalu membuat antrian panjang di Bioskop, katanya seram, tapi banyak yg suka , Sekarang juga masih lah, buktinya tiap film yang ada jurignya masih banyak yang suka, banyak yang ngantri, banyak yang menyisihkan uang nya daripada menyumbang untuk membangun mesjid di pinggir jalan yang mengganggu lalu lintas itu, atau nabung buat naik haji untuk berbangga-bangga karena punya gelar H didepan namanya. Sudahlah bukan urusan saya. 

Banyak hal yang bisa jadi inspirasi dari dia, si Setan itu. Berdasarkan beberapa pendapat bukan dari buku, dan beberapa sumber yang tidak bisa dipercaya, ada beberapa jenis Setan. Kebanyakan mereka bersifat soliter, atau penyendiri tapi tidak autis seperti kebanyakan facebooker dan Kaskuser. Dalam kesendiriannya ternyata mereka lebih tabah dari manusia yang banyak mengeluh. Benar-benar mensyukuri perbedaanya sebagai rahmat dan karunia, tak seperti kita, manusia yang harus seragam, harus sama, kalau beda dianggap aneh,dianggap nyeleneh bahkan dianggap gila.

dalam ketebatasnnya dia tak pernah mengeluh, tak pernah mau menyerah pada nasib, walaupun kaki dan tangannya terikat saat bulan Ramadhan. Di selalu tabah, gak protes atau demo kepada Tuhan . Harusnya sebagai manusia kita malu, yang punya kaki dan tangan yang bebas tapi masih malas. Malas untuk berusaha, malas untuk bekerja, lihatlah dirimu, kemana-mana malas berjalan. Kamu lebih memilih memacetkan jalan dengan kendaraanmu. Lalu apa fungsi dari kakimu?,

Setan juga kesederhanaan, penuh kebersahajaan, tak pernah mengeluh walaupun sepanjang hidupnya gak pake Celana. Percaya diri dengan tampangnya yang menyeramkan, tetap ceria walaupun di cap sebagai monster yang menakutkan. Beda dengan kita yang selalu ingin memakai pakaian yang bagus, yang baru, yang banyak dan menjungjung tinggi konsumerisme sebagai tren yang harus selalu diikuti. Tak menghargai kondrat dari Tuhan yang sudah menciptakan kita dengan sempurna, masih saja tidak puas, masih saja mengeluh, masih saja tidak pede. Masih saja menilai sesuatu dari tampangnya, dari luarnya saja. 

Wahay Setan, yang kebanyakan gundul dan bertanduk.  Aku juga malu padamu.  Kesetiaanmu begitu tulus, kamu rela melakukan apa saja demi titah majikanmu. Penuh dedikasi, tak pernah protes, tak minta gaji. Kamu cukup puas dengan bekerja tanpa pamrih. Lalu lihatlah kita yang belum bekerja sudah minta upah, apa-apa harus pake upah. Malulah kita yang masih punya rambut tapi semangat kita kalah sama sibotak Setan itu. Apalagi mereka (mungkinjuga saya), yang mengaku sebagai wakil rakyat, mengaku digaji oleh uang rakyat, Gayussss bukannya mewakili kepentingan rakyat, tapi lihatlah mereka sibuk pidato, sibuk bikin sesuatu untuk menyebabkan ketuanya yaitu rakyatnya berdemo, lupa tugas, lupa amanat dari yang menggaji besar mereka.

Lalu apakah kita sebagai manusia harus kalah dengan mereka?, ya janganlah. Kita lebih mulia, kita harusnya lebih baik dari mereka. Apalagi kita adalah manusia yaitu mahluk nyata, sedangkan mereka hanya Setan yang kita ciptakan dari imajinasi kita. Oh Setan oh manusia. Terpujilah wahai engkau ibu bapak Setan, jasamu tiada tara.NB: Di baca yang teliti supaya tidak terjadi kesalah pahaman yah teman... :)

Pengarang Cerita: Seila
 

Surat Dari Iblis

| komentar

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu. Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu,juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.

Hai Bodoh, Kamu millikku. Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama, dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu. Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk mebalaskannya

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan.Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka. Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH

Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani

Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangya, guyon2an jorok, bergosip, menghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua, Tidak menghargai masjid, berperilaku buruk.

TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja. Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya. Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita. Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.

Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu. Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu. Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu. Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda. Jadi, pergi dan lanjutkanlahmengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.

Yang perlu kau lakukan adalah merokok,mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin. Lakukan semua inididepan anak-anak dan mereka akan menirunya. Begitulah anak-anak.

Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggodamu lagi. Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu. Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.

Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh. Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu. Hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

NB: Di baca yang teliti supaya tidak terjadi kesalah pahaman yah teman... :)

Pengarang Cerita: El muntahar
 

Akibat Jajan Sembarangan

Senin, 06 Januari 2014 | komentar

Sudah dua hari ini Imah tidak berangkat ke sekolah, padahal dia itu anak yang rajin dan sebelumnya tak pernah begini sehingga aku beserta Ana dan Afga berencana mengunjunginya usai pulang sekolah.

“Kring!!!”, suara bel masuk berbunyi dan kami pun segera masuk ke dalam kelas.
Siang harinya sesuai janji kami, maka aku pun menunggu teman-temanku di samping pintu gerbang sekolahan.
“Kemana ya mereka?”, ku tunggu sembari memainkan kubik yang aku bawa.

Tiba-tiba mereka mengejutkanku dan berteriak, “Dor!!!, kaget ya?”.
“Apaan si kalian, mengagetkanku saja, coba kalau aku jantungan..”, seruku.
“Maaf, maaf, Di. Maafin ketelatan kita juga ya? Soalnya tadi kita mampir dulu ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno”, pinta Ana dan Afga.
“Iya, pasti aku maafin kalian. Tenang aja”, Balasku seraya memberi senyuman kepada mereka.

Sebelum kami ke rumah Imah, kami sempat mampir ke warung untuk membeli roti, bahkan Afga juga sempat membeli es karena kehausan.

Tak terasa kami telah sampai di depan pintu rumah Imah, kami pun mengetuk serta mengucapkan salam.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara “Wa’alaikumussalam” dan pintu mulai terbuka.

“Adi, Ana dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk dulu ya”, saran Bu Ina, Ibunya Imah.
Kami duduk, sedangkan Ibunya Imah pergi.
“Mungkin memanggil Imah”, pikirku dan ternyata benar sebab kami melihat Imah keluar menghampiri kami. Dia terlihat kurus dan wajahnya tampak pucat sehingga kami menuntunnya ker uang tamu.

Mendadak dia berkata, “Afga, jajannya dijaga. Jangan jajan sembarangan gitu!” sembari mengarahkan telunjuknya ke arah kantong es yang Afga bawa. Sedangkan Afga menjawab, “kenapa? Aku kan kehausan” dengan polosnya.

“Kamu tahu?”, ucap Imah yang membuat kami penasaran dan kamipun menggelengkan kepala secara bersamaan.
“Tahu apa?”, tanyaku.
Dan Imah menjelaskan bahwa dia sakit karena jajan sembarangan, termasuk minum es seperti yang sedang Afga bawa.
“Ya ampun..”, seru Afga berikut menjauhkan sedotan dari bibirnya.

Imah juga memberi tahu kami kalau lebih baik kita membawa bekal dari rumah sendiri sebab itu lebih bersih dan terhindar dari zat berbahaya bagi tubuh, seperti: zat pewarna yang berlebihan, boraks atau bahkan formalin. Padahal, formalin itu digunakan untuk mengawetkan mayat.
“Astaghfirullahal’adzim, aku kan belum mau jadi mayat”, seru Afga.
“Iya, aku juga gak mau”, sahutku.
“Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah”, ucap Afga.
Dan kami pun sependapat dengan Afga.

Ternyata selain menjenguk sobatku itu, aku juga jadi tahu kalau kita memang gak boleh jajan sembarangan, lagian lebih baik bawa bekal dari rumah, terus uang sakunya bisa ditabung untuk keperluan yang lebih bermanfaat.

“Imah, lekas sembuh ya”, ucap kami sebelum pulang.
“Insya Allah aamiin allahumma amiim. Makasih ya teman-teman”, jawab Imah.
“Besok kamu jadi masuk sekolah kan? Belajar juga buat ulangan matematika. Semangat!!”, kata Ana.
“Insya Allah siap boss, moga kita dapat seratus lagi ya, aamiin”, jawab Imah.
“Aamiin, Semangat!”, seru kami.

Alhamdulillah perjalanan kami di hari itu berakhir dengan senyuman dan semangat untuk menghadapi ulangan di esok hari.

Pengarang Cerita: Adinta Asfiratun Husna
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami