Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek Korea. Tampilkan semua postingan

My Last Love

Kamis, 30 Januari 2014 | komentar

Hyunri masih berdiam diri. Dia tidak peduli sama sekali, walaupun hujan membasahi tubuhnya.
“Hyun, ayo pulang. Nanti kau sakit. Eomma-mu pasti sudah menunggu.” kata seorang namja yang setianya menunggunya, Yongwoo.
“Tidak, oppa. Aku tak mau pulang.” jawabnya
“Apa kau ingin mati kedinginan? Hanya karena patah hati kau hanya berdiam diri disini?”
“Dengar, oppa. Dongwoo itu cinta pertamaku. Aku sudah lama berpacaran dengannya. Tapi dia memutuskanku demi yeoja lain yang tidak lain adalah Hyeri, sahabatku sewaktu kecil. Hatiku sangat sakit oppa, kau tak akan mengerti perasaanku.” Hyunri kembali terisak
“Aku mengerti, sangat mengerti. Tapi, apa kau ingin terus menangisinya disaat dia sudah punya yeoja lain? Sadarlah.”
Hyunri hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Yongwoo.
“Kau tahu tidak?”
“Apa?”
“Kalau dilihat-lihat, Dongwoo itu biasa saja. Aku jauh lebih ganteng darinya.” kata Yongwoo sambil bercanda. Dan berhasil membuat Hyunri tersenyum.
“Lalu, mengapa kau tak punya pacar hingga saat ini oppa?”
“Aku sudah punya seorang yeoja yang kusuka.”
“Siapa namanya? Bolehkah aku berkenalan dengannya?”
“Namanya itu rahasia. Dan hanya ada disini..” kata Yongwoo sambil memegang dadanya.
“Huh, dasar oppa!” cibir Hyunri.
“Ayo kita pulang oppa.” kata Hyunri sambil merebut payung yang dipegang Yongwoo lalu berlari.
“Hey! Tunggu aku Hyun.” jawab Yongwoo sambil berlari.
Rumah Hyunri
“Hyun, maafkan aku. Aku sudah tidak mencintaimu. Aku sudah tidak bisa memaksakan karena hatiku sudah untuk Hyeri.”
Hyunri mengingat kata-kata Dongwoo itu tadi siang. Ia pun memeluk boneka pemberian Dongwoo sambil menangis. Sakit, perih, itu yang ia rasakan. Mengakhiri hubungan, yang terbilang sudah lumayan lama, 2 tahun. Tapi apa boleh buat, Ini sudah terjadi.
Esoknya ketika di sekolah, ia melihat Dongwoo dan Hyeri sedang berduaan. Rasanya ia ingin menangis. Tapi ia menahannya.
“Kau tak apa, Hyun?” kata Ji Hwa, teman sebangkunya.
“Ne, Gwenchana..”
“Yakin?”
“Ne..”
Ketika waktu istirahat, Hyunri duduk di kantin sambil memesan beberapa makanan. Tiba-tiba ada seorang namja yang datang menghampirinya, yang ternyata adalah Yongwoo.
“Hey, Hyunri!”
“Oppa! Kau membuatku kaget!”
“Mianhaeyeo, Hyun. Aku hanya iseng, habis dari tadi kulihat kau melamun saja.”
“Ne, oppa. Ada apa kau kesini?”
“Memangnya tak boleh ya? Lagian aku ini kan alumni sekolah ini juga, aku ingin mengenang masa sekolahku dulu.”
“Kau ingin minum apa, oppa?”
“Tak usah..”
“Oppa, apakah yeoja yang kau suka itu sekolah disini juga?” tanya Hyunri
“Ne.”
“Apa dia seangkatan denganmu? Kalau dia seangkatan denganmu, aku tak tahu.”
“Mungkin, aku juga tak tahu.”
“Dasar, oppa!”
Yongwoo tertawa.
Sore hari, Yongwoo mengajak Hyunri jalan-jalan.
“Mengapa kau mengajakku jalan-jalan oppa?” tanya Hyunri
“Aku rasa ini bisa mengobati rasa sakit hatimu Hyun. Carilah pekerjaan yang bisa menenangkan hati dan pikiranmu, Hyun.”
“Gomawo ne, oppa.”
“Ne..”
“Tapi, mengapa kau begitu baik padaku?”
“Karena kau dan Changmin sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Aku tak punya saudara Hyun, kau tahu itu kan?”
“Ne. Sekali lagi, Gomawo ne, oppa. Kau telah banyak berbuat baik padaku dan Changmin.”
“Ne, Cheonma Hyun.”
Pagi hari, Hyunri sedang menonton drama korea di salah satu stasiun TV.
“Kau tak apa Hyun?” tanya eomma.
“Aku tak apa eomma.”
“Sepertinya ada yang kau pikirkan?”
“Dia sedang memikirkan Yongwoo oppa, eomma.” ledek Changmin, adik Hyunri.
“Kau ini gosip saja.” jawab Hyunri sambil mencubit pipi Changmin.
“Benar. Hyunri eonnie berpacaran dengan Yongwoo oppa, eomma!”
“Tahu darimana kau ini?”
“Aku tahu dari Eun Bi ahjuma, ia bilang Yongwoo oppa menyukaimu.”
“Kau ini, kok temanmu ahjuma-ahjuma?”
“Biarin, memangnya tak boleh?”
“Changmin!”
“Eh, sudah-sudah. Kalaupun memang benar, eomma mengizinkan.” kata eomma.
“Kok aku jadi kepikiran omongan Changmin tadi ya? Apa benar, Yongwoo oppa menyukaiku?” gumamnya dalam hati.
Sore Hari, Hyunri mengunjungi Yongwoo.
“Eunbi ahjuma, apa Yongwoo oppa ada di dalam?”
“Ne, masuklah. Dia sedang tidur di kamarnya.”
“Gomawo, ahjuma.”
Hyunri pun memasuki rumah Yongwoo oppa. Dia melihat sudut-sudut rumah itu. Kamar Yongwoo ada di pojok sana.
“Kleek…” Hyunri membuka pintu perlahan.
Ia mengitari ruangan kamar sang oppa sambil melihat sudut-sudut ruangan tersebut, karena baru kali ini ia memasuki kamar Yongwoo oppa. Biasanya mereka hanya mengobrol di ruang keluarga.
Hyunri melihat foto-foto yang ada di meja belajar Yongwoo oppa. Ada beberapa foto yeoja yang sangat cantik, dan tak asing dilihatnya. Dirinya sendiri.
“Aku sangat bingung, mengapa banyak sekali foto-fotoku di meja Yongwoo oppa? Apa benar yang dikatakan Changmin kalau Yongwoo oppa menyukaiku?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba Yongwoo oppa terbangun.
“Hyun, ada apa kau kesini?”
“Tak apa oppa. Oppa, apa maksud semua ini? Mengapa banyak sekali fotoku di meja belajarmu?” tanya Hyunri mendesak Yongwoo oppa.
“Kau yakin ingin tahu apa maksudnya?”
“Ne, oppa.”
“Dan kau juga ingin tahu siapa yeoja yang kusuka selama ini?”
“Ne, oppa.”
“Inilah yeoja yang selama ini kusuka, dirimu Hyunri.” kata Yongwoo sambil mengambil foto Hyunri yang ada di meja belajarnya.
“Maksudmu apa oppa? Aku tak mengerti.”
“Aku… Menyukaimu, Hyun.”
“Sejak kapan kau menyukaiku?”
“Saat aku pertama kali melihat kau dan Changmin bermain saat pertama kali aku pindah ke rumah ini.”
“Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku, oppa?”
“Karena aku tahu pada saat itu kau masih berpacaran dengan Dongwoo, jadi aku hanya memendam rasa cintaku ini, Hyun.”
“Tapi oppa, memendam rasa cinta itu rasanya sakit sekali oppa.”
“Akan lebih sakit jika aku tau cintaku tak terbalas.”
“Ne, oppa.”
“Mmmmm… Jangan menyerah oppa! Kau pasti bisa!”
“Maksudmu Hyun? Kau memberi kesempatan padaku?”
“Ne, oppa.”
“Aku tak memaksa jika kau masih punya rasa dengan Dongwoo.”
“Anni, oppa. Rasa cintaku padanya telah tiada.”
“Tapi kau bilang, Dongwoo itu cinta pertamamu?”
“Ne. Cinta pertama itu tak penting oppa. Yang penting itu cinta terakhir.”
“Gomawo ne, chagi. Tapi, apa eomma-mu mengizinkannya?”
“Tentu saja. Dia sudah bilang padaku oppa.”
“Gomawo, Hyun.”
“Ne, oppa. You’re MY LAST LOVE!”
Penulis Cerita: Alifia Tasya R
 

You Are My Chingu

Minggu, 12 Januari 2014 | komentar

Memiliki chingu (sahabat) memang indah. Benar kata orang-orang kalau sahabat memang selalu ada didekatmu walau bagaimanapun keadaanmu. Begitulah yang kurasakan sekarang ini. Aku memiliki 4 orang chingu yaitu Yuri, Sooyoung, Seohyun dan Donghae. Mereka selalu disisiku di saat kapanpun aku. Di saat suka, duka atau bagaimanapun mereka ada disampingku.
Aku lupa menceritakan diriku. Namaku Im Yoona. Biasanya orang-orang terdekatku memanggilku Yoon. Aku menyukai pangggilan itu dan aku bahagia. Aku ingin memberitahu kapan aku mengenal sahabat-sahabatku ini. Aku mengenal mereka ketika aku kelas 3 SMP. Di saat aku memasuki kelas baru dan banyak teman-teman baru. Sementara teman-temanku yang sekelas denganku ketika aku kelas 2 SMP berbeda kelas denganku. Aku harus beradaptasi lagi dengan teman-teman baruku.
Setiap hari begitu membuat kami bahagia. Tawa suka selalu datang menghampiri kami. Tangis duka juga sering datang ketika kami remedial ujian. Semua orang di kelas kami pun mengetahui bagaimana kekompakan kami. Aku benar-benar bahagia dengan semua yang kualami.
Walaupun aku memiliki sahabat, aku masih belum berani mengakui bahwa aku menyukai seorang pria di kelas kami. Nama pria itu Kyuhyun. Aku pernah melihat Kyuhyun ketika kebaktian sekolah yang diadakan di gereja. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP. Aku duduk bersama uri chingu (teman-temanku) di bangku yang menghadap ke timur sedangkan dia duduk bersama teman-temannya di bangku yang menghadap ke barat. Posisi kami duduk langsung berhadapan. Kyuhyun melihatku dan aku juga melihatnya. Entah mungkin karena belum saling mengenal kami sama-sama tidak peduli dan kembali fokus pada kebaktian kami.
Aku makin mengenali Kyuhyun karena kami sekelas. Awalnya aku tidak terlalu menyukainya. Tapi Kyuhyun terus mengerjaiku. Aku kesal karenanya, namun kekesalanku memberikan rasa suka pada dia. Aku mulai tertarik pada Kyuhyun.
“Yuri, kau lihat kertas ujian matematikaku ga?” tanyaku pada Yuri.
“Ga Yoon. Kertasmu hilang?” tanyanya balik.
“Iya. Seingatku tadi ku bawa lah. Kok jadi hilang ya? Otokkhe (Bagaimana nih)?” tanyaku. Aku hampir menangis.
“Udah. Jangan nangis Yoon. Entah kelupaannya kau membawanya.” ucap Yuri.
Tiba-tiba Kyuhyun datang. Dia membawa sebuah kertas dan memberikannya padaku.
“Nih, kertasmu. Aku curi kemarin.” ucap Kyuhyun santai lalu meninggalkan kami.
Aku bengong. Sesaat kemudian aku marah-marah tidak jelas. Yuri menertawaiku. Aku menundukkan kepalaku dan menyadari betapa bodohnya aku. Tapi aku bersyukur kertas ujianku tidak hilang. Syukurlah.
Aku semakin menyukai Kyuhyun. Dia namja (pria) pintar, tampan. Namun dia suka mempermainkan yeoja (wanita). Aku tidak mempermasalahkannya. Namun sekarang dia sebangku dengan sahabatku Yuri. Aku cemburu melihatnya bersama Yuri. Kyuhyun adalah first loveku dan aku marah. Aku sempat kesal pada Yuri dan menyebabkan kami berjauhan.
“Yoon, kamu kenapa dengan kia? Kalian sepertinya bermusuhan. Ada apa?” tanya Seohyun.
“Tanya saja sama dia sendiri.” balasku.
“Arraseo (Baiklah). Aku akan menanyakan kepadanya.” balas Seohyun.
Esoknya, Seohyun menanyakan hal itu kepada Yuri. Sooyoung dan Donghae juga menanyakannya. Mereka kesal karena kami bermusuhan. Tiba-tiba Saskia menghampiriku. Aku hanya memandangnya kesal.
“Yoon, kau suka sama Kyuhyun kan? Jawab saja. Aku hanya ingin mengetahuinya.” tanya Yuri.
“Ne (Iya). Memangnya kenapa?” ucapku ketus.
“Jadi kau cemburu melihatku berdekatan dengan Kyuhuyun.” goda Yuri. Aku tidak bisa marah padanya kalau dia sudah menggodaku seperti ini.
“Ne. Uri Yuri (Iya. Yuriku) Aku suka sama Kyuhyun dan aku cemburu kau berdekatan dengannya.” balasku.
“Aku bukan teman makan teman Yoon. Aku menyayangimu. Lagipula Kyuhyun kan sebangkuku. Jadi wajar saja kalau kami dekat. Dia orangnya baik dan humoris makanya aku betah sebangku dengannya. Seharusnya kau bilang saja kalau kau menyukainya. Walaupun aku bisa melihat dari tingkah lakumu kau menyukai Kyuhyun.” jawab Yuri panjang.
“Lebih baik aku tidak mendapatkannya. Karena kalian berharga bagiku. Aku hanya sebatas suka dengan Kyuhyun. Aku jadi menyadari, kalau karena dia kita jadi bermusuhan seperti ini. Mianhe Yuri (Maafkan aku ya Yuri).” ucapku.
“Nah, gitu dong. Kalau begini sama-sama enak. Kita jadi kembali bersatu.” ucap Sooyoung.
“Kita adalah chingu (teman) selamanya. Kita tidak akan pernah bisa terlepas.” Tambah Donghae lagi.
“Ne (benar). NANEUN SARANGHAE URI CHINGU (AKU MENYAYANGI KALIAN SAHABATKUKU)!” teriakku.
Chingu (Sahabat) memang indah. Meskipun aku pernah marah dengannya, mereka tidak pernah marah denganku. Aku menyayangi sahabatku seperti keluargaku. Chingu sejati memang akan selalu ada bersama dan selalu di samping kita. You are my Chingu and always in my heart.
Pengarang Cerita: Nancy Veronica
 

Oppa, Mianhae

| komentar

Jingga matahari terbit seakan tak nampak tertutup gumpalan awan yang redup. Gemuruh guntur di langit terdengar samar dari kejauhan Kota Seoul. Udara sekitar menghembus gigil beku, menghempas tubuh seorang bocah yang tengah menyangga dagunya di rangka kayu jendela kamarnya. Yuina Elora, gadis cilik berusia tujuh tahun itu mendesah keras dan memberengut kesal. Hari minggu ini, rencananya ia akan pergi bersama oppa nya (sebutan adik perempuan kepada kakak laki-lakinya) untuk mengunjungi makam eomma nya (ibu) yang meninggal beberapa tahun lalu.
“Yuina…” sahut seorang pemuda lembut dari arah pintu kamarnya.
Yuina menoleh malas, “jung soo oppa.. ada apa?” tanyanya pada lelaki itu, dan di balas dengan senyuman indah seperti biasa. “apa kita akan membatalkan acaranya?” tambahnya lagi menebak apa yang akan dibicarakan oppanya itu, mengingat cuaca hari ini yang memang tak memungkinkan.
Mendengar adiknya berkata seperti itu, senyum yang tadi sempat bertengger di bibir Jung Soo perlahan hilang. Ia menghampiri adiknya dan membelai ujung kepala bocah itu halus, “mmm.. apa kau marah?”
Yuina mendongak menatap wajah tampan kakaknya. Ia memang marah ketika mengetahui tebakannya benar, tapi suara Jung Soo yang lembut seperti meredam kekesalannya saat itu.
“tidak bisakah kita mengunjunginya pada hari ini, oppa? Jebal..” pinta Yuina kembali memohon.
“dan tidak bisakah kau menyadari, bahwa masih ada kesempatan lagi untuk kita mengunjungi makam eomma di hari yang lebih cerah?” ucap Jung Soo seraya memandang adiknya dan tersenyum manis.
Yuina tertegun. Entah kenapa. Tapi sungguh, ia benar-benar merindukan eomma saat ini. Ia ingin mengunjungi makamnya hari ini. Ia ingin menatap gundukan tanah merah itu sekarang dan menangis sekerasnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Memandang ke luar, melihat awan-awan kelabu itu mondar mandir di atap rumahnya sedari tadi membuat hatinya juga serasa redup dan berubah kelabu.
Jung soo terdiam, lalu menghela nafas. Ada raut keheranan di wajahnya tatkala melihat tatapan kosong dari adiknya. “dongsaeng ah.. kau tak papa kan? Kita mengunjunginya lain kali ya?” bujuknya lagi dengan halus.
Yuina mengangguk terpaksa. Ada ego dalam dirinya yang begitu saja keluar, meski sebenarnya ia sendiri tak ingin membuat kakaknya susah ataupun sakit hati. Tapi…
“baiklah. Oppa keluar dulu ne..” Jung Soo beranjak dari kamar adiknya, menyisakan sebuah tetes yang tanpa sadar keluar dari pelupuk matanya. Mianhae, dongsaeng ah..
Yuina kembali menatap langit yang kini sudah pepak oleh kembang-kembang pengepul air. Ada perasaan bersalah ketika memaksa kakaknya tadi untuk menuruti keinginannya, tapi ia juga kesal luar biasa kala Jung Soo, kakaknya menolak halus keinginannya itu. Dan dua rasa itu berputar terus di dadanya yang berhasil membuatnya sesak nafas. Mianhae, Oppa…
Seberkas ingatan tentang bagaimana eommanya meninggalkan ia dan Jung Soo ketika hujan deras, berkelebat di otaknya sesaat. Yuina mulai terisak kini, mengiringi jatuhnya butir-butir suci dari langit yang menghasilkan suara gemericik di luar sana.
Eomma, Yuina benar-benar rindu. Eomma… Eomma… Eomma…
Sepertinya, rindu itu tak sanggup ditahannya lagi. Ia berlari keluar, membanting pintu kamarnya dan melewati Jung Soo yang tengah santai melukis di ruang belakang.
“Yuina..!!” teriak Jung Soo menahan adiknya yang hendak keluar rumah menuju taman belakang. Tapi sia-sia, Yuina sudah kuyup sekarang terguyur derasnya hujan yang gugur bersamaan.
Gadis kecil itu kini menangis, deras bulir dari matanya seolah mengalahkan derasnya hujan. Ia tumpahkan semua yang menggumpal sesak di dadanya. Sambil mendongak ke arah datangnya rintik bah itu, mata Yuina memejam. Rengekannya yang terdengar membisik menggambarkan bagaimana sesak dan rindunya ia selama ini pada eomma. Di sela itu juga, terlukis bagaimana ia begitu menyesal telah berbuat sesuatu yang selalu merepotkan oppa nya.
“kalau kau marah pada Oppa, pukul saja Oppa.” seru sebuah suara dari belakang. Ia adalah Jung Soo, yang mencoba mendekati adiknya tanpa alat peneduh satu pun yang dapat melindunginya dari guyuran hujan. “jangan membuat dirimu sakit, Dongsaeng ah. Baiklah, kita akan mengunjungi makam eomma, ne? Tapi setelah hujan ini berhenti. Sekarang masuklah, kau biasa demam setelah di guyur hujan. Kajja, masuklah..” omel Jung Soo lembut.
Yuina berbalik, menghadap kakaknya itu. Aliran di pipinya masih terlihat jelas di jerami air matanya yang berlinang. “Oppa.. mianhaeo.. mianhae.. dongsaeng selalu saja merepotkan oppa.. Mianhae..” lirih Yuina terisak.
Jung Soo berlutut di hadapan adiknya, dan meraih jemari mungil itu ke dalam pelukannya. Pundaknya bergetar karena isakan kecil dari Yuina yang tak mau berhenti.
“jangan berkata seperti itu. Semua yang dongsaeng ah inginkan, tak sampai merepotkan oppa. Uljima.. jebal.” ucap Jung Soo lirih, “oppa menyayangimu. Jangan berkata seperti itu lagi, ne. Itu membuat oppa sakit.
Penulis Cerita: Nika Lusiyana
 

Cinta Musim Gugur

| komentar

Hari ini hari pertamaku melihat musim gugur, sungguh pemandangan yang sangat indah, jatuhan daun sakura yang cukup indah menghiasi jalan jalan di kota seoul, ku buka jendela apartemen untuk merasakan semilir angin sejuk yang menghujam tubuh, banyak anak anak bermain merasakan musim gugur yang indah ini.
“aitakatta, aitakatta, aitakatta” bunyi benda kecil disampingku.
“hallo, good morning! Ada perlu apa rick?” tanyaku membuka pembicaraan.
“hallo christ kita ke gyongju yuk?” ajaknya.
“ngapain?” tanyaku.
“sudah ikut aja, nanti pasti seru deh!” balasnya.
“boleh, tapi jemput aku ya di depan apartement!”
“oke sip dah, mending kamu siap siap aja! Nanti aku datang jam 9.30 oke! Bye”
“bye”.
“Ayo!” ajak dia menaiki sedan tuanya.
— Di gyongju —
“Wow keren banget nih tempat, baru kali ini melihat tempat seindah ini” gumamku.
“eh tau gak katanya tempat ini tempat paling romantis di korea, mungkin aja ada cewek yang ngejomblo!” ujarnya.
“ah pikiran kamu, cuma cewek, cewek dan cewek… aja!” balasku.
“hahaha, iya… iya! Eh ke sana yuk” ajaknya menunjuk ke salah satu pohon terbesar di sana.
“kamu kesana aja, kalau aku mau lihat lihat tempat ini dulu aja!”
“ya sudah aku pergi dulu aja ya!”
Akupun menyisiri jalan setapak yang tidak terlalu kecil, tapi indah, banyak pohon di sekitar yang daunnya mulai menguning dan berjatuhan indah.
“brukkk” aku menabrak seseorang karena saking asiknya melihat daun yang berjatuhan.
“joesonghabnida! (artinya maaf)” ucapku gugup.
“no problem!” balasnya sambil tersenyum.
Langsung kurapihkan bukunya yang terjatuh di jalan tersebut.
“aduh kenapa bisa begini!” ucapku tak sadar.
“dugg!” benturan kepalaku dan kepalanya.
“im sorry!” kataku sambil memberikan bukunya yang terjatuh.
“no problem! kamu orang indonesia juga?” tanyanya, tapi aku tidak menjawab tapi tetap memandangi wajahnya yang mirip seperti artis korea namanya “park jin hee”.
“hello! Are you indonesian people?” tanyanya melambaikan tangan di hadapanku.
“oh, oh! Iya aku orang indonesia, kamu juga?” tanyaku dengan canggung.
“iya!, kenalin aku Stevi!” jawabnya mengulurkan tangan.
“aku christ, panggil aja Min Zai!” membalas jabat tangannya.
“hah! Kenapa panggilannya Min Zai?” tanyanya bingung.
“yah karena…! Apa ya? Aku bingung :D” balasku sedikit canggung.
“hihihihi…! Kamu lucu :), memang kenapa bingung?” tanya stevi.
“karena, karena, karena ka..muu cantik!” jawabku sedikit malu.
“hahaha iya deh aku memang cantik!” pipinya memerah. “eh kita duduk di bangku itu aja!” ajaknya ke bangku yang kosong.
Kamipun bercerita tentang diri masing masing, saling bercanda, dan lama lama aku semakin suka pada stevi, sikapnya yang lucu, cantik membuatku betah lama lama mengobrol dengannya.
“aku mau curhat nih!” kataku.
“curhat apaan?” tanyanya.
“gini nih, aku selama ini belum pernah jatuh cinta sama cewek, tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu!” ucapku tak sadar karena perasaan yang menggebu gebu.
“ah, aku jadi malu :)” balasnya.
“hehehe, aku memang cowok yang aneh! Oh ya kamu lihat daun yang jatuh itu?” tanyaku menunjuk sehelai daun.
“iya, emang kenapa?”
“jika diibaratkan kamu sehelai daun itu, aku tak akan membiarkanmu jatuh ke tanah tapi jatuh ke hatiku!” ucapan gombal jatuh dari bibirku.
“haha, kamu gombal deh, jadi malu!” balasnya sambil mencubit lenganku.
Ini adalah musim gugur pertamaku dan yang paling terindah, dimana daun daun sakura berguguran tetapi cintaku padanya tak pernah gugur hingga saat ini dia yang menjadi pendampingku.
Pengarang Cerita: Christmemory
 

Saranghae

| komentar

Bentangan canvas biru indah di udara yang tertutup kegelapan malam terindahkan dengan sorotan indah purnama bulan. Malam itu angin malam berhembus tenang membiarkan helai demi helai rambut hitam panjang ini tersapu lembut ke udara hingga ku terhanyut ke dalam kesyahduan indah malam itu.
“Berhati-hatilah ketika berjalan, jika tidak bukan hanya diriku yang akan kau tabrak malam ini.”
Hentakan seorang pria bertopi yang membuatku tersadar itu memecahkan ketenanganku.
“Maaf, maafkan aku!” ucapku sambil menundukkan kepalaku.
Seketika ku angkat kepalaku, berusaha menatap wajah itu untuk meyakinkan bahwa ia memaafkanku. Tetapi wajah itu, aku mengenal wajah itu. Yah sebuah wajah yang tak asing bagiku.
“Rio” kata itu keluar begitu saja dari bibir mungil ini.
Namun pria itu tak menghiraukanku dan langsung pergi meninggalkanku di depan kincir angin taman hiburan ini. Namun rasa menggebu di dalam hatiku terus saja berkecambuk seakan terus saja memikirkan sosok laki-laki yang ku temui tadi. Sungguh aku mengenal sosok itu, tetapi topi yang ia gunakan membuatku tak bisa melihat jelas wajah pria itu dan perasaan itu sungguh mengganggu kerja otakku.
Akhirnya akupun memutuskan untuk pulang, sebelum pikiranku semakin kacau dan sebelum semakin banyak orang yang akan ku tabrak lagi malam ini. Lagi pula arloji merah di tangan mungil ini sudah menunjukkan pukul 00.56 yang mengartikan bahwa sekarang sudah larut malam dan taman hiburan ini akan segera di tutup.
Sore itu ku tatap lagi canvas biru di atas kepalaku.
“Hey langit, kenapa kau berwarna gelap? Kenapa kau tak seindah hari kemarin, apakah hatimu sedang bersedih hingga kau mengganti warna cerahmu dengan kegelapan itu? Ayo katakanlah padaku.”
Akupun mulai melangkahkan kakiku untuk berkeliling pusat kota, walau ku tahu bahwa sore itu cuaca kota sedang mendung. Dan ketika kaki ku terlangkah di sudut taman kota, butir-butir keindahan itupun terjatuh satu demi satu di atas kepalaku.
“Hujaaaaan” ucapku sambil menegakkan kepalaku ke langit.
Lalu akupun memutuskan untuk masuk ke dalam taman kota yang dalam keadaan tidak terlalu ramai itu. Yaah, mungkin karena cuaca sore ini sedang tidak bagus hingga tempat ini terasa sepi.
Akupun melangkahkan kakiku sambil menghitung petak demi petak lapisan marmer yang menghiasi lantai taman ini.
“Satu.. duaa.. tigaa.. empaat.. limaa..”
Akupun terus menghitung petak demi petak rangkaian marmer tersebut hingga pada hitungan kedua puluh langkah ku pun terhenti,
“Sembilan belas.. Dua pu-luuh..”
Akupun mengangkat kepalaku, terlihat sebuah ayunan tua di hadapanku. Tanpa pikir pajang akupun membiarkan tubuhku terayun di atas ayunan tua ini. Aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di besi ayunan. Pikiranku terhanyut kembali pada kenangan 10 tahun yang lalu. Tempat ini, di taman ini dan di ayunan tua inilah, tempat dimana aku dan Rio biasa menghabiskan waktu kami berdua. 10 tahun yang lalu, kenangan tentang sebuah persahabatan indah menghanyutkan kembali anganku hinga membuat ku tak sadar membiarkan butiran-butiran bola kristal itu mengalir dari mata kecil ini.
“Hei, bukankah besok adalah hari ulang tahunmu? Apakah kau tak merindukanku?” teriakku.
Akupun menyeka air mataku dan memilih untuk menikmati keindahan hujan kala itu. Ku ayun kencang ayunanku tanpa perduli seberapa deras hujan kala itu, yang ku tahu aku menyukai saat ini. Aku mengigit kecil bibirku dan memejamkan mataku sambil menikmati butiran-butiran air yang berjatuhan di atas wajahku.
Di sudut taman, ada sesosok pria bertopi yang mengamatiku dari kejahuan tanpa ku sadari. Sosok berparas tampan, berbadan tinggi dengan jaket hujan berwarna biru tua dan tak lupa topi yang selalu ia pakai yang begitu menghalangiku untuk melihat wajah pria itu ia terus saja mengamatiku.
“Hey nona, apakah kau sudah gila mengayunkan ayunan dengan sekencang itu di saat hujan deras begini?” Bentaknya
Aku menatapnya kaget. Yaa benar, dia pria bertopi yang hampir ku tabrak di taman hiburan tadi malam.
“Kau?” tanyaku mencoba menyakinkan diri
“Pakailah jaket dan payung ini. Lalu segeralah pulang, jangan lagi melakukan hal bodoh seperti ini. Kalau tidak kau akan sakit dan bertambah gila.” Ucapnya dan kemudian melangkah pergi meninggalkanku.
“Hey pria angkuh, berhenti!” Ucapku
Pria itupun menghentikan langkahnya meskipun ia tetap berada dalam posisi membelakangiku.
“Terima kasih banyak untuk payung dan jaket ini, tetapi ambillah saja ini. Aku tak membutuhkannya”
“Berhentilah menyakiti dirimu, kau bukanlah seorang wanita kecil seperti 10 tahun yan lalu.” Ucapnya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya
“Kau..?” ucapku terdiam sambil terus memandangi kepergiannya.
“Hujan ini benar benar membuat badanku mengigil “Kataku dalam hati sambil merapatkan jaket tebal milik pria itu.
Akupun berjalan menuju pusat kota. Pandanganku tertuju pada sebuah cafe coffee di sebrangku. Sebuah meja kecil berhiaskan tulisan “saranghae” di atas meja kecil cafe itu berhasil menarik perhatianku. Aku duduk di dekat jendela kaca agar ku bisa menikmati hidangan coffee dan hujan saat itu.
“Cappucino bubble satu” Kataku pada seorang pelayan.
Tak lama kemudian pesananku datang,
“Cappucino bubble special dari cafe saranghae, silakan dinikmati” Kata seorang pelayan bertopi sambil membungkukan badannya mempersilakan aku untuk meminumnya.
“Terimakasih” balasku sambil tersenyum.
Sesaat setelah aku menikmati coffe hangat ini, pikirankupun tersadar.
Topi itu? bukankah dia adalah pria itu? Pelayan ituu..
“Hey lelaki angkuh, berhenti!” teriakku yang membuat semua orang berbalik menatapku. Tetapi pria itu tak meperdulikanku sama sekali dan tetap berjalan pergi meninggalkanku.
Akupun bergegas melangkah berusaha mencari-cari pria itu lagi.
“Permisi, boleh aku bertanya?” ucapku pada seorang pelayan wanita di caffe itu.
“Iya nona, apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Apakah anda melihat seorang pelayan bertopi yang telah mengantarkan pesanan kemeja ku tadi?”
“Ohh, pria itu. Bukankah dia adalah tunanganmu nona. Ia meminjam sebuah seragam milik pegawai di caffe ini, katanya ia ingin memberikan sebuah kejutan kepada kekasihnya.”
“Tunanganku? Lalu dimana pria itu sekarang?”
“Dia hanya menitipkan sebuah surat ini untuk nona”
*Kincir angin, pukul 00.00 malam nanti
Jangan lupa membawa kado untukku, kau mengerti?*
“Nona, anda baik-baik saja?” ucap pelayan itu yang memecah lamunanku.
“Yaah, aku baik-baik saja. Terimakasih.” balasku
Hujanpun berangsung mereda, waktu sudah menunjukkan pukul 23.40 malam saat itu. Dan pikiranku masih saja dibingunggkan dengan sebuah catatan kecil di surat ini.
“Kincir angin, malam nanti? Membawa kado? Apa maksud pria ini? Dimana kincir angin dapat ditemukan di kota ini? Lalu untuk apa aku membawa kado untunya?” lamunku.
“Hey nona, hati-hati. Kau hampir saja menabrakku.” Ucap seorang pria yang hampir tertabrak oleh ku.
“Kincir angin? Malam itu.. berarti. Lalu kado, Rio..? Laki-laki itu. Akankah..” Seketika akupun tersadar dengan semua ini.
Alrloji kupun telah menunjukkan pukul 00.00 tepat malam ini,
“Tidak, aku harus cepat!”
Akupun langsung menghentikan sebuah taksi dan mengarahkan pengemudi itu menuju taman hiburan tempat aku dan pria itu bertemu malam kemarin,
“Tuan, bisakah kau mempercepat laju mobilmu?” ucapku sambil menatap arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 00.20 malam itu.
“Baiklah nona.”
Tak lama kemudian mobil taksi yang ku tumpangi ini pun terhenti, tetapi ini bukanlah tempat yang ku tuju.
“Ada apa tuan? Kenapa kau berhenti?” tanyaku
“Ada kecelakaan di depan nona, jadi kita harus memutar lagi jalurnya. Jika tidak kita akan tejebak kemacetan yang cukup lama disini.”
Hatikupun semakin aruk-arukan tak menentu,
Pukul 01.00 tengah malam, gerbang taman hiburan ini pun telah terkunci yang menandakan bahwa taman hiburan ini telah di tutup.
“Tidaaak!” Aku harus masuuk, seseoraang tolong bukakan gerbang ini.” Teriakku kesal.
Akupun duduk tertungkup, sambil menangis. Dan kemudian tiba-tiba,
“Hey gadis bodoh, kenapa kau menangis?” Ucap seorang pria dari arah belakangku.
Tanpa pikir panjang akupun langsung berlari dan memeluknya, karena suara ituu. Yaah, aku mengenali suara itu. Itu adalah suara Rio.
“Aku merindukanmu.” Ucapku sambil tetap memeluknya.
“Gadis bodoh! kau kira aku tak merindukanmu” ucapnya sambil tertawa kecil
“Dasar kau!” ucapku sambil tertawa dan tetap memeluknya
“Hey nona, apakah kau akan memelukku hingga pagi nanti. Aku tak bisa bernafas dengan normal karena pelukanmu ini.”
Akupun melepaskan pelukanku, dan memukul kepala Rio.
“Dasar bodoh.”
“Hey, bukankah itu kata-kata milikku?” ucap Rio yang kemudian berlari mengejarku yang telah duluan berlari meninggalkannya.
“Hey, apakah kau masih akan terus berlari?” Teriak Rio padaku yang sudah berlari duluan didepannya.
“Ikuti saja aku.” Jawab ku.
Kami terus berlari, hingga akhirnya langkah kaki ku pun terhenti di hadapan dua ayunan tua di dalam taman kota.
“Ternyata kesini kau membawaku.” Ucap Rio sambil tertawa.
Lalu Rio pun duduk di ayunan tua disebelahku, persis seperti kenangan 10 tahun yang lalu. Lalu kamipun mengayunkan ayunan kami dengan sekencang-kencangnya, membiarkan tubuh kami terhanyut bersama hembusan angin malam sambil menghadap ke canvas bertabur cahaya bintang.
Akupun menghentikan ayuanan besi tua milikku,
“Apakah kau akan kembali lagi ke Jerman?” Apakah itu artinya kau akan meninggalkanku lagi?” tanya ku
Riopun hanya diam dan tetap memandang langit seraya menikmati ayunan pelan besi tua itu. Lalu akupun tertunduk, rasanya semua kebahagiaan yang baru saja kurasakan terhapus ketika aku mengetahui bahwa Rio akan kembali meninggalkanku.
“Hey, kenapa kau bersedih?” ucap Rio yang entah kapan sudah berlutut dihadapanku.
“Apakah kau akan kembali?”
Rio tak menjawabnya,
“Apakah kau akan kembali?” tanyaku sekali lagi
Rio tak menjawabnya, ia hanya mencium keningku.
Lalu ia pun berjalan ke arah belakang ayunan milikku dan mengayunkan ayunanku dengan sekencang-kencangnya,
“Aku tak akan meninggalkanmu lagi, karena aku mencintaimu bodooh.” Ucap Rio.
THE END
Penulis Cerita: Dwi Amalia Rahmadani
 

Stay

| komentar

Yoona pov
Entah sudah berapa lama aku menunggumu, mulai pagi sampai senja, waktu tak berarti untukku saat ini, yang terpenting adalah dirimu. Kapan kau akan kembali, aku merindukanmu, sangat dan sangat. Entah bagaimana bisa aku mencintaimu, semua terjadi begitu lama dan begitu saja.
Flashback on
Author pov
Seorang gadis tengah duduk di hamparan pasir pantai yang lembut dan putih. Rambutnya beterbangan tertiup angin, paras cantiknya tak pernah pudar, seutas senyum menghiasi wajahnya, meski senyum itu adalah senyum kesedihan, kekalutan dan kegamangan yang dirasakan dalam hatinya.
“hai”
Seorang namja menyapanya lalu duduk di sebelahnya. “tengah apa dan menunggu siapa?”
“hei, kau siapa?”
“aku? Kyuhyun” jawab namja itu sambil menunjukkan gummy smile nya. Manik matanya terus mengarah ke wajah yoona, mengagumi pemilik paras yang cantik tersebut. “kau?”
“yoona” jawab yoona, ia memeluk lutunya, tak disangka butiran-butiran air matanya jatuh membasahi lututnya.
“wae?”
“aku merindukan seseorang, yang sangat kusayangi” kata yoona
“…”
“ibuku. Ia meninggalkanku sejak aku kecil.”
“pergi karena panggilan tuhan?”
Yoona menggeleng. “ibuku pergi tanpa jejak satupun, orangtuaku cerai, dan aku tak bisa mengingat apapun tentang ibuku.” katanya. “bahkan wajahnya, kyuhyun-ssi” tangisnya meledak
Kyuhyun memeluk yoona, mendekapnya erat, pandangannya jauh ke langit di atas sana. “mulai sekarang kau sahabatku, aku akan memberikan kasih sayang yang tulus untukmu, menggantikan kasih sayang yang hilang dari hidupmu”
“…”
“setiap sore menjelang senja tunggulah aku disini. Aku ada untukmu,” kyuhyun akhirnya melepaskan pelukannya
“terimakasih, kyuhyun-ah”
“sama-sama”
Mulai saat itu, mereka adalah sahabat, tak terpisahkan. Yoona sendiri tak tahu darimana asal-usul kyuhyun, dan mengapa ia selalu tak mau dijumpai selain saat sore menjelang senja. Mengapa kyuhyun tak mau mengungkap soal keluarga dan asal-usulnya, itu sama sekali tak penting untuk yoona, yang terpenting adalah kyuhyun yang selalu membukakan hati untuknya, menjadi sahabat yang tulus dan segalanya.
“aku selalu penasaran.” kata yoona “kenapa kau tak bisa menemuiku selain sore hari menjelang senja. Aku masih tak mengerti. Aku membutuhkanmu kapanpun, aku selalu nyaman berada di dekatmu”
“hanya untuk curhat? Huh.”
“haha. Tentu saja tidak” tawa yoona meledak. “aku ingin kita bisa pergi ke suatu tempat. Lama-lama aku bosan di pantai. Kita bisa ke cafe, mall, taman, danau dan lain lain.” yoona menengok ke arah kyuhyun, ia tengah memandang lautan luas.
“yoong?”
“aku ingin berkomunikasi terus denganmu” kata yoona “kau tak punya ponsel? Hei, itu tidak mungkin. Kau punya, kan?”
“haha.” kyuhyun tertawa kegamangan. “aku tak bisa yoong”
Kyuhyun menghela nafasnya. Memutar posisinya menghadap ke arah yoona. Mengeluarkan suatu benda. Kalung berliontin bulan-bintang, bulan sabit yang seolah melindungi bintang kecil di dalamnya.
“untukmu. Aku menyukaimu yoong.” ungkap kyuhyun seraya memakaikan kalung tersebut
Yoona memegang liontin kalung tersebut tak percaya, tangisnya meledak, tangis haru karena kyuhyun. Ia memeluknya.
“gomawo” ucap yoona “aku mencintaimu. Sangat. Hiks, kyuhyun-ah~ berjanjilah tak akan meninggalkanku.”
“yoong? Tapi aku.. Kurasa aku akan pergi” ucap kyuhyun gamang.
Yoona melepas pelukannya. “berapa lama?”
“entahlah”
“jangan membuatku trauma untuk kedua kali”
“aku berjanji. Aku akan segera kembali. Kurasa begitu, tunggulah aku,”
Matahari benar-benar tenggelam. Langit gelap, hanya ada gemerlap cahaya dari arah villa dekat pantai, yoona memejamkan matanya, memeluk lututnya dan membiarkan angin menembus pori-pori kulitnya sejenak. Ia membuka mata, menoleh ke arah kyuhyun, sudah tidak ada. Selalu begini. Kapan kyuhyun pergi? Siapa dia? Kenapa ia tak pernah memberitahu asal-usul nya? Pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikirannya.
Ia akan menunggu kyuhyun sampai kapanpun.
Flashback off
Athor pov
Ini bulan ke 5, sekarang bulan februari. Pangeran senjanya-kyuhyun tak pernah datang sejak 5 bulan yang lalu.
Yoona fikir kejadian tersebut terulang kembali. Ia sudah kehilangan kasih sayang ibunya. Sekarang, apa kyuhyun akan begitu?
Yoona memejamkan matanya, angin berhembus kencang, menembus pori-pori kulitnya. T-shirt nya tak mampu menahan dingin yang dirasakannya, ia menggigil.
Tiba-tiba kehangatan menyelimuti tubuhnya, seseorang memeluk tubuhnya, yoona terperanjat dan segera membuka matanya. Kyuhyun! Ia memeluk yoona
“maafkan aku.” ucap kyuhyun serak “aku memang brengsek. Maaf maaf dan maaf.”
“kyuhyun~”
“aku mencintaimu, masih mencintaimu” ucap kyuhyun
Yoona bangkit memberontak. Ditatapnya kyuhyun nanar, matanya berkaca-kaca menahan tangis dan amarah yang siap meledak
“kyuhyun! Mengapa? Kau begitu lama? Mengapa?! Kau brengsek. Kau berjanji akan ada untukku. Tapi 5 bulan ini kyu! Aku hampir bunuh diri karenamu, 5 bulan aku susah tidur, kau lihat? Kondisiku buruk. Aku benar-benar gila tanpamu! Brengsek!!” yoona terus mengumpat kata-kata kasar.
Sementara kyuhyun hanya bisa bersimpuh dan menunduk. Ia bangkit. Kyuhyun memegang pundak yoona,
“yoong?”
Yoona kembali mengumpat dan mengomel,
Chu~
Kyuhyun menciumnya, membungkam mulut yoona. Yoona sebelumnya memberontak, lama kelamaan ia meneteskan air matanya.
Kyuhyun melepaskan ciumannya. “maafkan aku. Tenanglah. Dengarkan penjelasanku” isak kyuhyun
“…”
“yoong. Maafkan aku, sebenarnya aku bukanlah manusia.”
“apa?!”
“aku malaikat yang diutus untuk menjadi sahabat seseorang yang kesepian, aku tahu semuanya, sebelum aku bertemu dirimu, aku tahu aku akan ditugasi bersama siapa dan aku benar-benar tahu kejadiannya dan aku, mengetahui ibumu”
“dimana?!”
“ia tenang di surga. Yoong, tenanglah! Aku diutus ibumu, tapi aku benar-benar tak menyangka aku akan mencintaimu.”
“sebetulnya aku diciptakan tanpa perasaan ke lawan jenis, tapi sesuatu terjadi yoong. Di saat aku bertemu denganmu, ada rasa berbeda.”
“kenapa kau pergi?”
“senior menghukumku. Ia mengetahuiku jika aku mencintaimu, aku dikurung 5 bulan agar rasa itu hilang. Tapi aku tak bisa yoong” kata kyuhyun “dan senior melihat penderitaanmu tanpaku, ia tak tega. Ia melepaskanku. Ia akan mengubahku menjadi manusia lagi apabila aku bersamamu selamanya”
“lagi? Jadi dulu kau adalah manusia?”
“setiap orang baik yang meninggal kecuali karena bunuh diri akan dijadikan malaikat. Yang bertugas menjaga orang yang sedang broken heart sepertimu.”
Yoona kembali memeluk kyuhyun.
“jika aku tak bersamamu selamanya alias aku selingkuh, aku akan mati selamanya, tak menjadi malaikat atau apapun. Aku dianggap tak pernah lahir ataupun meninggal.”
“aku berjanji akan selalu bersamamu” ucap yoona “i’ll still love you. And i’ll stay here waiting for you. Don’t leave me. I’ll stay here and still love you.
“me too”
Chu~
Mereka berciuman kembali. Dan saat itu pula, matahari terbenam, indah. Sangat indah. Angin menerpa dan menembus pori-pori kulit mereka. Itu tak penting, yang terpenting adalah mereka selamanya~
End
Penulis Cerita: Sae Rizkina Ramada
 

Me and Cho Kyuhyun in Nami Island

| komentar

Annyeong Haseo Chingudeul.
Bagi kalian pecinta K-Pop atau suka nonton drama dan film korea, pasti kalian mengidolakan atau ngefans sama mereka. Yah, begitu juga dengan gue. Sebenarnya gue ngefans sama beberapa artis Korea, tapi tidak sengefans gue sama salah satu member Super Junior ini. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun oppa.
Gue benar-benar ngefans tingkat Dewa sama Kyu oppa. Menurut gue, Kyu itu manis buanget, imut, aaahhh pokoknya gue suka aja ngeliat kyu oppa. Apalagi kalau dia lagi nyanyi, suaranya itu bisa buat hati gue meleleh bagaikan lilin yang dilelehkan api (lebay).
Mungkin saking gue ngefansnya sama Kyu oppa dan gue sering ngehayalin dia, gue jadi kebawa mimpi bertemu dengan dia. aaahhh walaupun itu hanya mimpi tapi gue serasa di dunia nyata. Gue rasanya gak mau bangun-bangun dari tidur. Tapi karena gue ada kuliah pagi, jadi mau gak mau gue harus mengakhiri mimpi gue yang indah itu (ihh sebel banget).
Berawal dari ketika gue berlibur ke Korea. Kebetulan waktu itu adalah musim gugur. Kebayang kan, kalau musim gugur suasananya gimana? Uuuhh so beautiful. Pagi itu gue lagi makan di salah satu Resto Korea bersama teman-teman gue. Gue benar-benar kayak lagi ngerasain makanan Korea. Saat itu, kami membicarakan tempat mana selanjutnya yang bakal kami kunjungi. Ada yang bilang ke Lotte World (tempat syuting drama BBF), Nami Island (tempat syuting drama Winter Sonata), GyeongGi-Do (tempat syuting serial Jewel In The Palace), N Seoul Tower (tempat syuting drama BBF dan Princess Hours) dan masih ada lagi tapi lupa. #EfekNontonDrakor
Karena pilihannya banyak banget, jadi kami jadi pusing nentuinnya. Setelah capciscus beberapa menit, akhirnya pilihan kami jatuh pada Nami Island. Setelah kami selesai makan, buru-buru kami mencari bus yang biasa tur kesana. Woww di perjalanan gue gak mau kehilangan moment-moment buat ngeliat daerah-daerah di Korea.
Terasa perjalanan sangat melelahkan, tibalah gue di Nami Island. Dalam mimpi gue, posisi gue tiba-tiba aja langsung berada di dalam wilayah tempat syutingnya Winter Sonata itu. Terpampang jelas dan nyata melintasi garis khatulistiwa (ala syahrini hahaha) gambar patung dari pemain drama Winter Sonata Bae Yong-jun dan Choi Ji-woo di depan mata gue.
Suasana di Nami Island benar-benar indah. Gue gak tau tiba-tiba gue berpisah aja tuh sama teman-teman gue dalam mimpi. Kini gue berjalan sendiri menyusuri tempat-tempat yang pernah menjadi saksi perpaduan kasih antara Bae Yong-jun dan Choi Ji-woo. Hehehe
Saat gue lagi jalan-jalan sendiri, tiba-tiba gue ngeliat orang-orang ngerumunin sesuatu sambil teriak oppa oppaaa. Karena penasaran, jadi gue samperin aja tuh dan aaaaaaaa teriak gue kayak orang gila. KYUHYUN oppaaa, gue jadi ikut teriak bareng mereka semua. Gue gak nyangka ternyata Kyu oppa ikut main dalam mimpi gue juga >’< disana bukan hanya ada kyu oppa sendiri, tapi juga ada Yesung oppa dan Sungmin oppa #benar-benar mimpi yang langka.
Tapi karena gue ngefansnya sama Cho Kyuhyun, tanpa panjang lebar gue langsung nyosor aja pengen liat dari dekat dan meluk Kyu oppa. Akhirnya perjuangan gue setelah melewati rintangan yang cukup menguras tenaga melewati orang-orang itu, gue akhirnya bisa megang dan meluk Kyu oppa. OMG gue senang banget, perasaan gue udah campur aduk, detak jantung gue udah gak normal saking senangnya bisa meluk Kyu oppa :P. Saat itu, seketika gue jadi berhayal jadi Choi Ji-woo dan Kyu oppa jadi Bae Yong-jun. Suasana Nami Island yang kala itu sangat indah, daun yang berguguran dan pemandangan yang so beautiful semakin melengkapi suasanan hati gue yang mekar gara-gara kyu oppa. Nami Island ini telah menjadi saksi pertemuan gue dan Cho Kyuhyun :D dan gue gak mau melewatkan momen ini begitu saja, ketika gue hendak ngambil kamera buat ngeabadiin pertemuan gue dan Kyu oppa ini, tapi tiba-tiba saja kringgg-kringgg (suara alarm gue bunyi). Aaahhh seketika kyu oppa dan Nami Island yang indah itu hilang begitu saja.
Yah, tapi sayangnya kisah perjalanan gue yang indah itu hanya terjadi mimpi. Tapi walaupun itu hanya mimpi, gue serasa udah bertemu Kyu oppa. Mimpi gue ini gak bakal terlupakan. Betapa manisnya wajah Cho Kyuhyun aiigooo. Berharap suatu hari mimpi gue ini bisa jadi kenyataan, gue bisa ke Korea dan bertemu dengan idola gue #amin.
THE END
Penulis Cerita: Sri Siswati Tahir
 

Choice

| komentar

Kyuhyun hanya namja biasa, memiliki kekurangan dan kelebihan. Wajahnya sangat dikagumi kaum wanita, posturnya tidak pendek, tapi siapa yang tahu, ia adalah korban broken home. Orangtuanya cerai, tak berkomunikasi sampai sekarang, dan ibunya entah kemana. Kyuhyun tinggal bersama ayahnya.
“oppaaaa~” rengek seohyun
Seohyun adalah kekasih kyuhyun sejak 1 tahun yang lalu. Dikatakan cantik, seohyun memang cantik. Baik? Ya memang baik. Tapi yang membuat kyuhyun agak malas padanya adalah sifat manja dan gila belanjanya,
“apa sih?” kyuhyun meneruskan aktivitasnya membaca komik.
“nanti nonton yuk? Aku ada 2 tiket film romantis.” seohyun duduk di hadapannya.
“aku ada kerja kelompok.” kata kyuhyun
Seohyun menghela nafasnya, ia meninggalkan kyuhyun penuh perasaan sebal.
“oppa!” panggil seohyun “ke kantin yuk?”
“baiklah” kata kyuhyun “maaf seohyun, kemarin aku memang ada kerja kelompok, nanti kita nonton ya? Atau ke cafe? Aku mentraktirmu”
“mianhae, aku ada acara. Acara keluarga” seohyun terlihat gugup.
“ya sudah, gwaenchana”
Akhir-akhir ini seohyun sulit dihubungi sekitar jam pulang sekolah sampai malam. Ia beralasan sibuk, jadwalnya padat, ia ditawari menyanyi di berbagai cafe.
Kyuhyun mengetuk-ngetuk pintu rumah hyoyeon berulang kali.
“hei, kyuhyun, masuk!”
Hyoyeon adalah tetangga kyuhyun. Well, tidak terlalu dekat, namun berjarak 200 meter dari rumah kyuhyun. Hyoyeon juga teman semasa sma nya, dan mereka kuliah di tempat yang sama, tapi hyoyeon memilih jurusan berbeda.
“aku pinjam buku catatan sma mu ya?”
“pelajaran apa?” hyoyeon menaruh nampan berisi cemilan dan teh di meja. “eh, ayo dimakan.”
“matematika. Aku kan tidak pernah mencatat, dan aku ada tugas mencatat materi sma kelas 3 dulu”
“ohh baiklah. Tunggu sebentar.” hyoyeon masuk ke kamarnya, beberapa saat kemudian kembali membawa bukunya. “kyuhyun, sebenarnya akau ingin menceritakan sesuatu padamu”
“apa?” kyuhyun membolak-balik buku hyoyeon
“tentang seohyun, tapi aku takut kau akan,-”
“ceritakan saja.”
Hyoyeon mengambil hp nya dan menunjukkan foto yeoja yang sangat kyuhyun kenal. Akan tetapi yang membuat terkejut, yeoja itu bersama seorang namja, terlihat mesra menikmati makanan mereka.
Air muka kyuhyun mendadak kecewa. Ia mengamati foto itu lekat-lekat.
“seohyun-ah, jadi dia selingkuh? Jadi dia sulit dihubungi karena selingkuh? Jadi, jadi…”
Pippip
“seohyun sms” kata kyuhyun. Air mukanya bertambah sedih.
“ya, wae?”
“seohyun minta putus.”
“sabar kyuhyun-ah, aku yakin, dia bukan yang terbaik untukmu, tuhan sudah menentukan jodohmu siapa, dan aku yakin sebentar lagi kau akan menemukannya.”
“gomawo hyoyeon-ii. Aku pulang dulu. Paii..”
Setelah kejadian kemarin, kyuhyun benar-benar terpukul. Ia selingkuh dan langsung mengakhiri hubungan
Kyuhyun termenung di kantin. Tak dipedulikannya teman-teman yang sedang bercanda di sampingnya
“hei, sudah jangan sedih. Ia bukan jodohmu!” kata eunhyuk
Kyuhyun hanya terdiam, pergi meninggalkan mereka.
Kyuhyun berjalan menuju kelas hyoyeon-kelas tari. Ia hendak mengembalikan bukunya.
“hyoyeon dimana?” tanya kyuhyun
“ia pergi sebentar. Mungkin akan kembali sebentar lagi. Tunggu saja disini ya,” ucap gadis itu, teman hyoyeon.
Kyuhyun duduk di lantai kelas tari. Ia mendengarkan lagu lewat mp3 nya, sambil mengamati anak-anak tari
“ayo latihan lagi!” ucap gadis tadi.
Musik terdengar, lagu snsd-i got a boy mulai diputar.
Gadis tadi bersama 7 orang lainnya mulai menari mengikuti irama, sepertinya gadis itu cukup menarik perhatian kyuhyun, sampai kyuhyun melepas mp3 nya. Gerakan tariannya keren dan mukanya membuat kyuhyun tak henti-henti mengagumi parasnya dalam hati.
“kyuhyun-ah?” sapa hyoyeon. “hei, kalian latihan tanpa aku?”
8 gadis tadi langsung mematikan lagu dan bergabung bersama kyuhyun
“perkenalkan, dia kyuhyun, teman satu sma ku dulu, dia jurusan matematika. Tampan kan?”
“hyoyeon!” kyuhyun memelototkan matanya
Sontak semua tertawa, tak tekercuali gadis tadi
“ini yoona, ini sooyoung, luna, jessica, yuri, naeun, namjoo, hayoung.” kata hyoyeon
“jadi dia namanya yoona..” batin kyuhyun
“mari latihan lagi.” ajak yoona
“aku pinjam hp mu sebentar. Aku ingin melihat foto itu, utuk menunjukkan pada seohyun”
“ok”
Kyuhyun memang benar, namun tujuan utamanya bukanlah melihat foto itu, namun menyalin nomor yoona di hp nya.
Hari-hari berlalu. Selama ini kyuhyun meneror yoona, mengaku sebagai ck yang teramat nge fans kepadanya, membuat hari-hari kyuhyun maupun yoona semakin berarti, mereka bersahabat, walaupun yoona tak mengetahui ck itu siapa.
Setiap hari yoona mencurahkan isi hatinya kepada kyuhyun, ia juga mengaku, ia tidak memiliki pacar. Pacar terakhirnya saat ini adalah pacar pertamanya saat kelas 2 sma. Dan cintanya kandas karena panggilan tuhan.
Yoona adalah sosok yang baik, perhatian, lembut dan segalanya bagi kyuhyun. Ia sadar, hatinya telah jatuh cinta pada yoona.
Kyuhyun menunggu di depan gerbang sekolah. Mobil hitam mengkilap datang dan parkir di hadapan kyuhyun. Yoona!
“hai” sapa yoona “kyuhyun, kan?”
“selamat pagi.” sapa kyuhyun “aku menunggumu. Ayo ke kelas bersama”
Yoona menyanggupi, mereka jalan melewati koridor demi koridor bersama
“kau tahu ck?”
“oh, aku mengenalnya, di sms”
“ck itu aku.”
“apa?” langkah yoona terhenti. Ia menatap kyuhyun dalam “ck? Kyuhyun? Cho kyuhyun”
“betul”
Pipi yoona merona. “wah, ternyata kau. Aku sama sekali tak menyangka begitu perhatiannya dirimu. Jadi gadis yang kau ceritakan padamu itu seohyun ya? Aku mengenalnya”
“benarkah? Oh, sudah ya. Aku akan memulai pelajaran. Sampai nanti yoona-ya!”
Persahabatan kyuhyun dan yoona semakin dekat, siapa yang menyangka? Kemarin mereka jadian! Kyuhyun dan yoona sama sama suka, dan mereka jauh terlihat lebih romantis dan dama dibanding seokyu
Sampai saat ini, sudah 3 bulan yoona kyuhyun resmi berpacaran. Mereka tak pernah bertengkar, hingga suatu hari..
Yoona incoming call
“yeoboseyo?”
“kyuhyun-ah, maafkan aku..” suara yoona terdengar parau, isakannya terdengar jelas
“wae?”
“kita putus..”
“mwo?”
Pip!
“siaaaal!” teriak kyuhyun
Sebenarnya apa yang terjadi?
“kyuhyun, aku harus bicara!” kata hyoyeon
“wae?”
“penyebab yoona minta putus, karena seohyun! Seohyun meneror yoona, katanya ia harus putuskan hubungan kalian, jika tidak, yoona akan diteror terus dan nyawanya bisa menghilang”
“bi*ch” umpat kyuhyun “gomawo hyoyeon-ah”
“seohyun-ah, aku ingin bicara padamu.” kyuhyun menarik seohyun paksa ke loteng sekolah
“ya!” bentak seohyun
“neo?! Kau apakan yoona hah?! Kau selingkuh, memutuskanku dan ingin menghancurkan hubunganku? Masih belum puaskah kau, seohyun?!” bentak kyuhyun
“aku cemburu! Aku masih sayang dan cinta padamu! Aku tak rela jika yoona! Yoona, yang pernah mengalahkanku sebagai maskot kampus kita, yoona yang sering mengalahkanku ketika lomba kecantikan, senyum termanis dan semuanya!”
“maumu apa?”
“putuskan yoona!!!”
Plakk!!
Kyuhyun menampar seohyun. Bulir-bulir airmata seohyun menetes.
“oppa!!!”
Kyuseo menoleh, yoona datang menghampiri mereka
“tidak seharusnya bersikap berlebihan karenaku.” kata yoona “aku minta maaf seohyun-ah, aku tahu kau menyimpan dendam padaku, karena semuanya.”
“…”
“kalau kau menginginkanku pergi selamanya, dorong aku dari sini”
“…”
“tidak ! Yoona-ya, maafkan aku, aku terlalu iri padamu” seohyun memeluk yoona “aku merelakannya, kyuhyun memberitahuku supaya tidak serakah”
“jadi?”
“mari kita urusi hubungan masing-masing” tawa seohyun, ia langsung tertawa dan pergi dan kyuhyun dan yoona
“..”
“kyuhyun-ah,”
“yoona-ya”
“saranghae” ucap kyuna bersamaan, mereka berpelukan, lalu
Chu~
end
Penulis Cerita: Sae Rizkina Ramada
 

Kitchen And Velvet Cake

| komentar

30 menit berlalu, saatnya velvet cake diangkat dari oven, untuk memperindah tampilan velvet cake ini Kim Bum musti menghias bagian luar kue dengan krim putih. Dengan profesional ia pun menjalankan aksi nya, tak lupa pula ia juga menaruh beberapa buah ceri merah di atasnya. Velvet cake siap disajikan, tapi tidak sekarang, Kim Bum menaruh kue itu di lemari pribadinya.
“Tampaknya kau sedang lelah oppa. Memangnya kerjaanmu banyak ya hari ini? Ku rasa ini masih terlalu pagi. Kau begitu rajin” Min Ah datang dari arah dapur utama.
“Yah ada sedikit kerjaan tadi” Ucap Kim Bum agak tertutup.
Perasaan Kim Bum seperti gelombang ombak yang dahsyat, apalagi saat ia menatap mata Min Ah yang indah itu, ingin rasanya ia mengelus pipi wanita pujaan yang selama ini ia pendam.
“Hm… Ada berapa menu makanan yang harus kita buat sekarang, aku belum terlalu bisa memasak makanan itu” Ungkap Min Ah
Kim Bum tersenyum tanda setuju. Min Ah pun balas dengan senyuman juga.
Min Ah adalah seorang koki junior, ia ingin sekali menjadi koki yang professional seperti Kim Bum. “Aku tidak mau kalah, aku tidak mau kalah” ucap dalam hatinya.
Mereka saling bantu membantu dengan sedikit tawa canda namun serius. Terkadang mereka saling memandang, tak sengaja hati Min Ah tersentuh dengan perasaan super kacau ini.
“Apa yang harus aku perbuat dengan adonan ini?” Tanya Min Ah
Kim Bum tak menjawab, ia justru merangkul tubuh Min Ah dari belakang, memegang tangan, lalu mengajari untuk mencetak adonan itu. Sampai akhirnya selesai.
Pikiran Min Ah penuh tanda tanya kenapa ia diajak oleh Kim Bum ke taman ini, padahal ia ingin sekali cepat cepat pulang. Ia khawatir orangtuanya mencari dia.
Malam ini tak begitu banyak bintang bulan pun tak menampakkan diri, untungnya ada lampu di pojok taman. Dingin yang menyelimuti, terkadang tak membuat betah, ingin rasanya ia beranjak dari kursi panjang itu. Namun ia harus menunggu Kim Bum datang.
Tak lama kemudian Kim Bum datang dengan membawa velvet cake dari arah belakang Min Ah. Min Ah tak menyangka bahwa velvet cake bentuk love itu di buat khusus oleh Kim Bum untuknya. ‘Saranghae Min Ah’ sempat kata kata itu Min Ah baca di velvet cake. Ia bingung dengan maksud Kim Bum.
“Saranghae Min Ah, sudah lama aku menyukai mu, tapi aku bingung bagaimana aku harus mengungkapkan nya. Aku harap kamu menerima velvet cake ini sebagai tanda cintaku padamu” Ungkap lembut Kim Bum di hadapan Min Ah.
Min Ah pun berdiri, ia tak bisa berbuat apa apa, kaku, seperti dibuat kaku pada malam yang dingin ini.
Penulis Cerita: Yuanita Indah Sari
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami