30 menit berlalu, saatnya velvet cake diangkat dari oven, untuk memperindah tampilan velvet cake ini Kim Bum musti menghias bagian luar kue dengan krim putih. Dengan profesional ia pun menjalankan aksi nya, tak lupa pula ia juga menaruh beberapa buah ceri merah di atasnya. Velvet cake siap disajikan, tapi tidak sekarang, Kim Bum menaruh kue itu di lemari pribadinya.
“Tampaknya kau sedang lelah oppa. Memangnya kerjaanmu banyak ya hari ini? Ku rasa ini masih terlalu pagi. Kau begitu rajin” Min Ah datang dari arah dapur utama.
“Yah ada sedikit kerjaan tadi” Ucap Kim Bum agak tertutup.
Perasaan Kim Bum seperti gelombang ombak yang dahsyat, apalagi saat ia menatap mata Min Ah yang indah itu, ingin rasanya ia mengelus pipi wanita pujaan yang selama ini ia pendam.
“Hm… Ada berapa menu makanan yang harus kita buat sekarang, aku belum terlalu bisa memasak makanan itu” Ungkap Min Ah
Kim Bum tersenyum tanda setuju. Min Ah pun balas dengan senyuman juga.
“Yah ada sedikit kerjaan tadi” Ucap Kim Bum agak tertutup.
Perasaan Kim Bum seperti gelombang ombak yang dahsyat, apalagi saat ia menatap mata Min Ah yang indah itu, ingin rasanya ia mengelus pipi wanita pujaan yang selama ini ia pendam.
“Hm… Ada berapa menu makanan yang harus kita buat sekarang, aku belum terlalu bisa memasak makanan itu” Ungkap Min Ah
Kim Bum tersenyum tanda setuju. Min Ah pun balas dengan senyuman juga.
Min Ah adalah seorang koki junior, ia ingin sekali menjadi koki yang professional seperti Kim Bum. “Aku tidak mau kalah, aku tidak mau kalah” ucap dalam hatinya.
Mereka saling bantu membantu dengan sedikit tawa canda namun serius. Terkadang mereka saling memandang, tak sengaja hati Min Ah tersentuh dengan perasaan super kacau ini.
“Apa yang harus aku perbuat dengan adonan ini?” Tanya Min Ah
Kim Bum tak menjawab, ia justru merangkul tubuh Min Ah dari belakang, memegang tangan, lalu mengajari untuk mencetak adonan itu. Sampai akhirnya selesai.
Mereka saling bantu membantu dengan sedikit tawa canda namun serius. Terkadang mereka saling memandang, tak sengaja hati Min Ah tersentuh dengan perasaan super kacau ini.
“Apa yang harus aku perbuat dengan adonan ini?” Tanya Min Ah
Kim Bum tak menjawab, ia justru merangkul tubuh Min Ah dari belakang, memegang tangan, lalu mengajari untuk mencetak adonan itu. Sampai akhirnya selesai.
Pikiran Min Ah penuh tanda tanya kenapa ia diajak oleh Kim Bum ke taman ini, padahal ia ingin sekali cepat cepat pulang. Ia khawatir orangtuanya mencari dia.
Malam ini tak begitu banyak bintang bulan pun tak menampakkan diri, untungnya ada lampu di pojok taman. Dingin yang menyelimuti, terkadang tak membuat betah, ingin rasanya ia beranjak dari kursi panjang itu. Namun ia harus menunggu Kim Bum datang.
Tak lama kemudian Kim Bum datang dengan membawa velvet cake dari arah belakang Min Ah. Min Ah tak menyangka bahwa velvet cake bentuk love itu di buat khusus oleh Kim Bum untuknya. ‘Saranghae Min Ah’ sempat kata kata itu Min Ah baca di velvet cake. Ia bingung dengan maksud Kim Bum.
“Saranghae Min Ah, sudah lama aku menyukai mu, tapi aku bingung bagaimana aku harus mengungkapkan nya. Aku harap kamu menerima velvet cake ini sebagai tanda cintaku padamu” Ungkap lembut Kim Bum di hadapan Min Ah.
Min Ah pun berdiri, ia tak bisa berbuat apa apa, kaku, seperti dibuat kaku pada malam yang dingin ini.
“Saranghae Min Ah, sudah lama aku menyukai mu, tapi aku bingung bagaimana aku harus mengungkapkan nya. Aku harap kamu menerima velvet cake ini sebagai tanda cintaku padamu” Ungkap lembut Kim Bum di hadapan Min Ah.
Min Ah pun berdiri, ia tak bisa berbuat apa apa, kaku, seperti dibuat kaku pada malam yang dingin ini.
Penulis Cerita: Yuanita Indah Sari
