Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Eksistensi Tuhan

Senin, 27 Januari 2014 | komentar

Menyusul kematian Khalifah Usman bin Affan, umat Islam sempat terpecah dalam dua golongan, yaitu pro Ali dan kontras alias anti Ali. Sayyidina Ali akhirnya memang dibai’at menjadi Khalifah, namun sebagian kalangan ternyata tak mematuhinya. Berbagai elemen anti Ali melancarkan manuver politik dengan berusaha menjatuhkan kredibilitas menantu Nabi Muhammad saw. ini.
Tersebutlah seorang orator ulung, ahli debat yang pemberani bermaksud hendak “menghantam” kemuliaan Ali. Orang itu bernama Zi’ab. Suatu hari ia menemukan momen yang tepat untuk mempermalukan Ali. Tepat ketika Ali hendak berkhutbah, Zi’ab yang jago bicara segera bangkit dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Putera Abu Thalib telah naik mimbar, oleh karena itu aku hendak mempermalukan di hadapan kalian, hanya dengan sebuah pertanyaan.” Setelah berdiri tegak, Zi’ab langsung mengacung, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau melihat Tuhanmu?”
Mendengar pertanyaan aneh ini tentu saja Ali langsung menimpalinya tanpa berbasa-basi, “Celakalah engkau wahai Zi’ab. Tentu saja aku tak sudi menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.” Mendengar jawaban tadi, Zi’ab yang pemberani tidaklah grogi, melainkan bertanya kembali, “Bagaimana cara engkau melihatnya?” Ali sama sekali tidak gelagapan dihadapkan dengan pertanyaan yang aneh tapi fundamental seperti itu. Ali adalah pintunya ilmu, sedangkan Nabi Muhammad saw. adalah gudangnya ilmu. Apapun yang diterima Nabi, hampir semua telah diajarkan dan diketahui Ali. Hal ini persis seperti kata Nabi, “Ana madinatul ilmi, wa aliyyun babuha, artinya: Saya kota (gudang)nya ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.
Oleh karena itu, dapat dipahami jika Ali dapat langsung dapat menjawab dengan tangkas, “Tuhan tak dapat dilihat dengan mata indrawi, tapi mampu dilihat dengan mata hati yang sarat dengan hakikat iman. Wahai Zi’ab sesungguhnya Tuhanku tak disifati dengan jauh alias jarak, gerakan ataupun diam, berdiri tegak, maupun datang dan pergi. Dia berada di dalam segala sesuatu, tetapi tanpa bercampur. Dia berada di luar segala sesuatu, namun tanpa berpisah, berjauhan. Dia di atas segala sesuatu, tanpa ada sesuatu pun di atasnya. Dia berada di depan segala sesuatu, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa Dia berada di depan. Dia berada di dalam sesuatu, namun tak seperti sesuatu di dalam sesuatu. Dia berada di luar segala sesuatu, tapi sesuatu di luar sesuatu.”
Mendengar jawaban komprehensif, rasional, singkat, padat tetapi lengkap, Zi’ab terkagum-kagum. Zi’ab yang bermaksud mempermalukan Ali, akhirnya justru malu pada diri sendiri. Dia menyadari kekeliruannya, oleh karena itu secara ksatria dia berkata, “Demi Allah. Aku tak pernah mendengar jawaban seperti ini sebelumnya. Demi Allah aku tak akan mengulanginya.”
Penulis Cerita: Aldi Rahman Untoro
 

Mimpi Tentang Surga

| komentar

Pada waktu perang Badar, Khaisima seorang kakek-kakek dan putranya berebut untuk pergi ke medan perang. Karena keduanya memiliki semangat yang berkobar untuk berjuang di jalan Allah, maka keduanya membuat undian siapa yang harus berangkat ke medan perang.
Ternyata putranya Khaisimalah yang beruntung, memenangkan undian tersebut. Lantas ia bersama Rasulullah menuju Badar. Anak muda itu akhirnya menjadi syahid.
Beberapa saat sebelum perang Uhud berkobar, Khaisima bermimpi melihat putranya bermain dan bersuka ria di sebuah taman indah di dalam surga. Dia seolah-olah melihat anak kesayangannya itu memetik buah-buahan sembari sesekali memandangi air jernih yang mengalir di depannya. Dalam mimpinya itu, sang anak bertanya kepada Khaisima ayahnya: “Ayah! Ananda disini sekarang. Rupanya janji Allah telah terbukti bagi Ananda sekarang. Mari Ayah, marilah ikuti Ananda!”
Saat bangun pagi, seketika Khaisima tersentak, hatinya gelisah, kemudian ia datang menghadap Rasulullah saw, memohon agar dimasukkan dalam daftar pasukan untuk pergi berperang ke bukit Uhud, “Ya Rasulullah!, aku telah tua, tulangku telah mulai rapuh dan aku ingin sekali menjumpai Tuhanku. Bawalah aku serta, ya Rasulullah dan do’akan agar aku pun mendapat syuhada sebagaimana anakku dan hidup bersamanya di surga.” Demikian permintaan Khaisima pada Rasulullah saw. tanpa sedikit pun keraguan di hatinya.
Dengan rasa terharu, Rasulullah mengangkat tangannya ke langit, mendo’akan sang Khaisima tua agar permohonannya yang tulus dan ikhlas itu terkabul. Maka berperanglah Khaisima yang telah tua renta itu dengan gagah berani hingga menjumpai syahidnya. Subhanallah
Penulis Cerita: Aldi Rahman Untoro
 

Sepenggal Cinta Fatimah Untuk Bunda

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Kudapati seorang wanita rupawan duduk rapi menadakan tangannya mengharapkan do’anya dikabulkan oleh sang ilahi, ia menangis mengeluarkan bulir-bulir mutiara segarnya setelah seharian penuh ia bekerja, aku melihatnya dan memandangnya dengan senyuman, “itu bundaku” wanita tegar yang nampak gagah di usianya yang tak muda lagi, ingin rasanya kupeluk ia dari belakang lalu ku tenangkan ia… Tapi, tapi aku tidak bisa…Yang selalu kuharapkan adalah agar allah swt selalu melindunginya dan selalu menenangkannya di saat ia bersedih, ia terbangun dari duduknya membuka mukena indahnya dari tubuh rentahnya, hatiku bergetar tatkala bunda melihat ke arahku, ia melihatku dengan cinta tapi apa yang sering aku lakukan, aku tak pernah menyadari bahwa ia menatapku dengan hati tulusnya, “bunda andai bisa aku berikan separuh hidupku, akan aku berikan itu karena bunda lebih membutuhkannya daripada aku, sungguh bisakah aku hidup tanpamu bunda?”
Ku rasakan tangannya mengelus wajahku yang lembut, 14 tahun aku hidup aku belum pernah mendengar suaranya dan berbicara dengan suaraku padanya, memang dari kecil aku sudah didiagnosa oleh dokter mengidap gangguan pada pita suaraku yang pada akhirnya juga merusak syaraf di telingaku, awalnya memang aku sangat putus asa melihat keadaanku tapi bunda selalu meyakinkan bahwa allah swt tidak pernah menciptakan makhluknya dalam keadaan sia-sia, begitupun aku. Aku yakin allah swt tidak tidur, ia pasti melihat betapa tegarnya bundaku, ia pasti melihat betapa sabarnya bundaku, dan ia pasti melihat betapa ikhlasnya bundaku dengan cobaan yang ia berikan khusus untuk menaikkan derajat bundaku.
“fatimah” kulihat lekukan bibir bunda memanggil namaku, tak ada suara hanya nampak saja, aku masih bersyukur allah swt masih mengizinkan kedua mataku ini berfungsi dengan begitu aku masih dapat melihat indahnya wajah bunda dan menawannya senyum bunda, aku menoleh ke arahnya ia mulai menggerakkan tangannya membentuk suatu kalimat yang khusus bunda pelajari untuk berkomunikasi denganku “mau makan?”
Aku mengangguk ia mulai mengelus kepalaku dengan senyuman dan beranjak pergi meninggalkanku.
Tanganku bergetar-tanganku bergetar aku merasakan setetes demi setetes air mataku jatuh. Hangat, itu yang aku rasakan ku hapus air mata itu setiba bunda di hadapanku ia memegang sepiring nasi beserta lauk menghadapku yang tertunduk lesu “ada apa?” gerakan tangannya melemas
“bunda, terima kasih” ku balas dengan gerakan tanganku yang agak cepat
“untuk apa?”
“untuk keikhlasanmu menerima dan mengasuhku”
Bunda mendekatkan wajahnya padaku dan mencium keningku “seharusnya bunda yang berterima kasih sebab fatimah mau bersabar sebab memiliki ibu seperti bunda”
Melihat gerakan tangannya yang seperti itu membuat hatiku semakin kuat, “ya allah, terima kasih sebab engkau telah memberikan hambamu yang penuh kekurangan ini, seorang bidadari yang amat mencintai hambamu ini, terima kasih ya allah”, syukurku dalam hati
Keesokan harinya, aku duduk termenung di teras rumahku yang amat sangat sederhana, aku melihat anak seumuranku pergi sekolah dengan girangnya, andai aku bisa bersekolah, tapi sudahlah apa mau dikata, plakk seseorang memukul ringan pundakku, pasti itu bunda, ia tersenyum padaku seraya berkata “bunda pergi dulu”
Aku menyalami tangannya yang kasar akibat terlalu banyak bekerja, sepeninggal ayah, bunda bekerja sebagai seorang penjual getuk keliling, terkadang kasihan melihatnya banting tulang, aku pernah memintanya agar membawaku ikut serta dalam berdagang tapi bunda tidak pernah mengizinkanku dengan alasan siapa yang akan mengurus rumah.
“assalamualaikum wr. Wb”
“waalaikumsalam wr. Wb, semoga allah swt selalu melindungi bunda di setiap langkah bunda”
Malamnya bunda pulang dengan senyuman, entah sudah berapa ratus kali bunda memberikan senyuman termanisnya untukku, “alhamdulillah” ucapku dalam hati, bunda mengangkat kantong hitam di tangannya menunjukkan padaku, aku bersorak sebab dari pagi tadi aku belum makan, ku buka bungkusan itu sembari bunda meletakkan bakulnya di atas tikar jerami yang biasanya kami tiduri, “ayo makan” ucap bunda
Walau aku tak mendengarnya tapi aku tau ia mengetakan hal itu, kulihat nasinya sangat sedikit ditambah lauk yang sama sedikitnya aku menoleh ke arah bunda “ayo bunda kita makan sama-sama, aku sudah agak kenyang, jadi tak mungkin habis olehku sendiri”
Bunda mendekat “fatimah, 14 tahun sudah kita hidup bersama dengan izin allah swt di dunia ini, jadi bunda sudah tau sifatmu yang sangat baik itu, bagaimana mungkin seorang gadis yang ditinggalkan ibunya bekerja selama seharian penuh tanpa sepeser uang pun bisa makan?”
Aku mengangguk
“sini, biar bunda suapi” lagi dan lagi ku lihat mata bunda berair, kali ini aku mencoba memberanikan diri untuk memeluk bunda, ku dekap dalam-dalam tubuhnya yang mungil dan menangis deras disana, bunda mengelus jilbabku dan mengangkat kepalaku mendongak menghadapnya dan membuat tangannya memainkan jemarinya yang kurus “jika nanti fatimah tumbuh dewasa, jadilah seorang wanita yang sholeha agar dapat mendo’akan bunda nantinya” aku mengangguk dan kembali menangis dalam dekapan bunda.
Paginya, seperti biasa bunda berangkat dengan mengucapkan salam padaku “assalamualaikum wr. Wb” lalu kujawab dalam hati dengan penuh nikmat “waalaikumsalam wr. Wb” entah mengapa hari ini aku sangat susah melepas kepergian bunda, “ya allah, semoga tidak ada kejadian buruk yang terjadi pada bunda” do’aku dalam hati, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan mengerjakan rutinitasku yang biasa, tapi tak lama kemudian takdir berkata lain, seorang tetangga memukul-mukul bahuku dengan keras entah apa yang sedang dilakukan oleh mang budi padaku ia menarik tanganku menuju jalan tol yang agak jauh dari rumah kami, “astagfirullahalazim,” aku berteriak dalam hati melihat bundaku lemas tak berdaya dibopong banyak orang masuk ke dalam ambulance, aku menyusul bunda dengan air mata yang tak beraturan keluarnya, istigfar, dzikir dan do’a tak hentinya aku lantunkan dalam hati ini, berharap agar allah swt selalu melindungi bunda, setibanya di rumah sakit bunda langsung dibawa ke ruang ugd dengan rasa was-was aku menunggui bunda hingga 2 jam berlalu seorang dokter keluar dari ruang ugd dan dengan sigap aku berdiri menemuinya, ku gerakkan tanganku nampaknya dokter itu tak mengerti jadi kuambil pena dan secari kertas dari seorang suster yang hampir marah dengan tingkahku, kalimat demi kalimat kutulis “dok, bagaimana keadaan bunda saya”
“bunda adik dalam keadaan kritis dan sangat memerlukan donor darah, donor mata serta ada sedikit luka yang cukup parah sehingga harus ditampal dengan kulit”
“ada apa dengan mata bunda saya dok?”
“sepertinya ada benturan yang menyebabkan gangguan pada sistem syaraf mata bunda adik, sehingga tidak dapat berfungsi lagi”
“astagfirullah” aku terduduk menangis tersedu-sedu lalu seketika aku ingat tempat seharusnya aku menangis dan mengadu
“dok, mushola dimana?”
“lurus dan belok kanan”
“terima kasih dok, assalamualaikum wr. Wb”
“waalaikumsalam wr. Wb”
Aku berlari dengan secepat kilat, mengambil air wudhu yang sangat membuatku segar, aku bersimpuh memohon ampunan pada allah swt dan memohon petunjuk dari allah swt, aku menagis tersedu-sedu mengingat betapa banyaknya aku melalaikan kewajibanku sebagai seorang hamba pada allah swt, dan aku banyak melalaikan tugasku sebagai anak dari bundaku yang sekarang sedang terkulai lemah di dalam tidurnya, “ya allah, jika ini memang takdirku dan jika ini memang sudah ketentuan darimu, aku siap, demi bundaku dan demi pengorbanan bundaku, aku berserah diri padamu ya rabb, tuntunlah aku dalam jalanmu hingga aku menghembuskan nafas terakhirku nanti, lailahailallah…” ku mantapkan langkah, ku mantapkan niatku, ku buka mukena yang tadinya membungkus tubuhku, ku hela nafas di setiap hembusan nafasku ku ucapkan dzikir, lalu aku berjalan keluar mushola dan meminta secarik kertas dan pena… Kulukiskan semua kata-kata indah untuk bunda…
“dik, apa anda siap?” kubaca gerakan bibir dokter itu, aku mengangguk tapi sebelumnya aku memberikan surat yang tadinya kubuat untuk bunda, jika saja sesuatu yang buruk terjadi padaku, dokter itu menerima suratku dan tersenyum, aku menutup mataku, kurasakan tempat tidurku didorong menuju ruang operasi “bunda, maafkan aku… Bismillahirahmanirahim… Lailahailallah… Ya allah aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan engkau ya allah dan nabi muhammad adalah utusan allah…” ku pejamkan mataku dengan nafas yang amat sangat ringan…
Bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum wr. Wb
Bagaimana kabar bunda?
Bunda, maafkan anakmu ini jika banyak kesalahan, dan banyak sekali hal bodoh yang fatimah lakukan pada bunda, bunda mau kan memaafkan fatimah.
Bunda tak usah khawatir, fatimah pasti bisa masuk syurganya allah swt, mau tau kenapa karena bunda pasti akan selalu mendo’akan fatima kan? Bunda janji ya? Dan maaf bunda janji fatimah untuk jadi anak yang sholeha dan dapat mendo’akan bunda tidak bisa terwujud, malah sekarang bunda yang mendo’akan fatimah,
Bunda fatimah sangat senang karena allah swt memberikan fatimah yang penuh kekurangan ini seorang bunda yang sabar dan senangtiasa mencintai fatimah sampai akhir hayat fatimah menjemput…
Bunda, bunda harus janji sama fatimah, kita harus bertemu di syurga nanti, tentunya kita satu keluarga ada ayah, bunda dan fatimah. Insyaallah…
Bunda, bunda harus kuat, walaupun yang bunda kenakan itu mata fatimah yang cengeng, bunda mata fatimah itu belum bisa membalas semua pengorbanan bunda selama fatimah hidup, bunda yang melahirkan fatimah, bunda yang mengasuh fatimah, bunda yang memberi fatimah motivasi agar fatimah menjadi sosok seorang anak yang kuat, bunda terima kasih untuk cinta tulus dan kasih sayang yang bunda berikan pada fatimah, fatimah sangat ingin bersama bunda tapi fatimah harus bersabar insyaallah, allah swt akan mengizinkan fatimah bersama bunda kekal selamanya di syurga nanti, bunda sekali lagi fatimah minta maaf karena harus pergi meninggalkan bunda, tapi tenang bunda, allah swt pasti menjaga bunda. Bunda, fatimah sangat mencintai bunda, sangat mencintai bunda, sangat mencintai bunda…
“ya allah, ya rabb, hamba mohon lindungilah bunda dimanapun ia berada, sayangilah dia seperti ia menyayangi fatimah, hapuslah air matanya ketika ia bersedih, dan masukkanlah ia kedalam syurgamu… Amin”
Sepenggal cinta fatimah buat bunda
Wassalamualaikum wr. Wb
Wah, gimana cerpennya? Maaf banget kalo banyak kesalahan dalam penulisan ataupun perkataan, ataupun diagnosa…
Sesungguhnya si penulis hanya manusia biasa yang sangat sering melakukan kesalahan, jadi mohon dimaklumi…
Yang suka like, yang kagak suka like juga dong… Hahahah*maksa…
Ana, mohon pamit ya…
Wassalamualaikum wr. Wb
Penulis Cerita: Meri Andini
 

Tuhan Selamatkan Aku Dari Zina

| komentar

Di luar sangat menakutkan. Angin bertiup kencang. Berdiri bulu romaku melihat pepohonan terpontang panting tumbang di dekat rumah. Kucoba mengalihkan perhatian, mengambil headset kemudian memutar musik sekeras-kerasnya.
Suara gemuruh angin membuatku takut. Wah… wah… wah… tak bisa kubayangkan betapa takutnya aku jika hari ini kiamat terjadi.
Tak lama angin bertiup kencang. Akhirnya rintik hujan berlomba turun menghujam bumi. Leganya melihat air yang jatuh dari langit itu. Degupan di dadaku berhenti.
Kejadian ini membuatku merenung untuk memperbaiki diri dari kesalahan dan mulai perbanyak amal kebaikanku. Siapa tau kiamat datang tiba-tiba, dan aku tidak punya banyak bekal menghadapinya.
Semalaman sulit rasanya memejamkan mata. Hatiku menjerit seolah memintaku bertobat.
Tobat… tobat… tobat…
Jeritan ini semakin mendesakku.
Tak terasa sekarang sampai pada sepertiga malam. Aku keluar dan bersegera wudhu. Sepertinya aku benar-benar akan taubat.
Kuangkat kedua tanganku beriringan dengan takbir ‘Allahu Akbar’ dan mulailah aku pada rakaat pertama.
Hatiku merasa lebih tenang ketika dahi menyentuh lantai yang beralaskan sajadah berwarna hijau tua. Aku merasa nyaman dengan posisi sujud ini. Aku merasa seperti berada di padang gurun, yang berhias bunga-bunga indah. Kuhanyut pada indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran disana. Di tengah indah yang kurasa, tiba-tiba badanku bergoncang. Aku mendengar suara seseorang memanggil.
“Astagfirullah… Rahman! Sholat kok bisa sampai ketiduran,” ujar lelaki paruh baya itu menegur kecerobohanku, tertidur saat sholat.
“Ayo… bangun!” paksanya menggoncang tubuhku.
Lelaki paruh baya itu tak lain adalah ayahku.
Ayah adalah salah satu tokoh masyarakat yang dihormati di tempat tinggalku. Beliau sebagai pemuka agama yang terkenal dermawan. Petuah-petuah yang disampaikannya adalah hal yang di nantikan masyarakat disana.
“Rahman terbawa suasana Yah.”
Ini yang jadi masalah dalam hidupku, setiap kali berniat untuk taubat ada saja penghalangnya. Kalau begini terus, akan sangat tak mungkin bisa melakukan taubat secara total. Belum lagi ditambah dengan godaan yang datang dari para gadis yang dekat denganku. Semakin pesimis rasanya untuk melakukan itu.
Malam pun kini menjelma menjadi pagi hari yang indah. Sinar mentari menyambutku hangat. Kicau burung menyapaku mesra. Senang rasanya pagi seperti ini bisa melihat anak kecil berlarian di depan rumah. Aku hanya menyaksikan mereka dari balik jendela kamar.
Pelan-pelan tirai jendela kubuka.
Sebenarnya aku tak sengaja, tapi perempuan itu cantiknya luar biasa. Mendadak, serasa enggan mengalih pandangan darinya. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Dan entah bagaimana Ayah sudah berdiri di belakangku.
“Zinanya mata adalah melihat sesuatu, zinanya lisan adalah mengucapkan sesuatu, zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan sesuatu, sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu semua. Ini hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,” lagi-lagi lelaki paruh baya ini menasehatiku, membuatku kehilangan kesempatan berharga pagi ini.
Kutolehkan kepala kearah Ayah. Tak enak rasanya bicara dengan orangtua tanpa melihatnya. “Maksud Ayah?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Ayah melihat, kamu sedang memandang Husna. Kamu sedang menikmati kecantikan yang ada padanya,” jawabnya, “Tidak pantas kamu seperti itu. Kamu sedang berusaha memaksa dirimu untuk mendekat pada zina. Istigfar Abdurrahman! Segeralah menikah jika kamu sudah merasa sanggup,” lanjutnya memakiku.
Sebenarnya Ayah tidak pernah memaksaku untuk segera menikah, tapi aku selalu merasa Ayah selalu saja mendesakku untuk segera menikah. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk melakukannya. Apalagi saat ini aku hanya seorang pengangguran. Bagaimana bisa aku menikah tanpa memberikan nafkah pada keluargaku nanti.
Harusnya aku bersyukur mempunyai Ayah sepertinya. Selalu hadir dengan nasehat-nasehat yang akan menyelamatkanku dari kesesatan. Tapi mengapa sesulit ini aku menerima nasehat-nasehat darinya?
Seolah aku ingin berontak atas kepeduliannya padaku. Sepertinya aku lebih suka hidup bebas daripada harus terkekang bersamanya. Andai Ibu masih ada mungkin hidupku jauh lebih nyaman. Hanya Ibu yang bisa mengerti aku dan pola hidupku yang semberaut ini.
Singkat cerita,
Makin lama makin menjadi-jadi kelakuan burukku. Sulit rasanya mengendalikan diri dari hawa nafsu. Aku tergiur akan mega dunia. Lupa pada kewajibanku sebagai seorang muslim. Pantas jika Ayah membenciku. Aku hanya jadi aib baginya.
Ingin sekali kuterlepas dari kegelapan ini, tapi sulit sekali bagiku. Aku terlanjur mencintai dunia. Noda hitam menyelimuti hampir semua bagian di hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa mensucikannya kembali dari noda itu?
Makin ke depan hidupku makin tak berarah. Ayah sepertinya sudah bosan menasehatiku. Dia tak peduli lagi dengan apa yang kulakukan. Untunglah Ayah masih mengizinkan aku tinggal di rumah.
Tepat pukul 16.00.
Awan hitam pekat hadir menghias langit. Burung-burung tak ada yang berlalu lalang lagi di sekitar rumahku. Di luar senyap sekali tidak ada aktivitas. Kenapa sore ini tak sebising biasanya? gumamku. Pelan-pelan aku mengintip ke langit dari balik tirai kamar. Aku khawatir akan terjadi suatu hal yang membuat nyawaku melayang. Ritme jantungku mulai tak berirama.
Ditambah dengan suara petir yang menggelagar di angkasa. Semakin luar biasa ketakutanku sore ini, terhenti rasanya nafasku sekarang.
Kucoba untuk tenang, berusaha mengalihkan perhatian dari kondisi alam yang kurang baik hari ini. Pelan-pelan kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Kupejamkan mata agar lebih santai menghadapinya.
Tak berapa lama, aku merasa terbang ke suatu tempat. Ketempat yang gelap sekali. Disana banyak binatang buas yang sudah menghadang. Dahiku mulai berkucuran keringat.
Sejenak kucoba mengingat, barang kali aku mengenal tempat ini. Tapi, aku merasa asing. Sepertinya aku memang tak pernah kemari sebelumnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Luar biasa takutnya aku. Tubuhku lemas rasanya. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Kupejamkan mataku agar tak melihat sosok yang menepuk pundakku itu.
Dia memintaku membuka mata dan berbalik ke arahnya. Awalnya kucoba menolak dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia memintanya lagi. Pelan-pelan kuberanikan diri untuk melakukan perintahnya. Tu wa ga, srettt! Aku berbalik ke arahnya. Allahu Akbar… teriakku kaget. Ternyata orang itu adalah Ibuku. Spontan aku langsung ingin memeluknya, aku sangat merindukannya, benar-benar sangat rindu padanya. Tapi dia menghindar. Dia tidak ingin kusentuh. Hancur rasa hatiku melihat Ibu seperti itu.
Kenapa Ibu tidak ingin kupeluk? Apa Ibu tidak rindu padaku? tanyaku. Dia hanya diam menatap tajam kornea mataku. Tak bisa kututupi kesedihan yang kurasakan, mendadak airmataku berjatuhan.
Kemudian Ibu bergerak, mendekat padaku. “Kamu kotor sekali, Nak! Ibu tak ingin tersentuh olehmu. Semua orang akan berkata sama seperti yang Ibu katakan. Semua orang akan menghindar darimu jika kamu tidak segera membersihkan diri dari kekotoran dan noda-noda hitam yang menempel pada tubuh dan hatimu,” ujarnya berbisik padaku, “malu pada Allah. Malu karena kamu tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan-Nya padamu. Tak lama lagi Ibu akan menjemput Ayah,” lanjutnya kemudian menghilang.
Tak lama Ibu pergi, tubuhku terasa ringan. Sekarang, aku terbang kembali.
Tempat selanjutnya jauh lebih baik. Disana ada cahaya terang, membuat penglihatanku sedikit lebih nyaman. Tapi cahaya itu makin lama makin menyilaukan mata. Sakit sekali mataku melihatnya. Kemudian secara tiba-tiba cahayanya redup kembali.
Pelan-pelan kedua mataku mulai terbuka. Penglihatanku buram, mungkin efek dari cahaya yang sangat terang tadi.
Setelah penglihatanku pulih, barulah kusadari barusan hanyalah mimpi. Tapi suara Ibu masih terngiang di telingaku. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan Ayah sekarang.
Ibu bilang sebentar lagi akan menjemputnya. Seandainya yang Ibu katakan benar terjadi. Aku akan kehilangan Ayah, hidup sebatang kara tanpa tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Ditemani hujan. Aku menangis, mengkhawatirkan Ayah, dan menangis mengkhawatirkan jalan hidupku yang salah ini.
Sudah 3 tahun lamanya aku menjalin hubungan dengan Husna. Perempuan cantik yang kutemukan tak sengaja dari balik jendela.
Dia perempuan yang sangat kucintai.
Harusnya di usiaku yang ke-24 ini, aku menikahinya. Tapi, Ayah tak pernah merestui hubungan kami. Ayah menilai Husna hanya membawa pengaruh buruk dalam hidupku. Sehingga Ayah tak pernah menggubris keinginanku untuk menikahinya.
Pernah terlintas di benakku mengajak Husna kawin lari. Tapi, buru-buru kulupakan hal bodoh itu. Jika kulakukan sama saja dengan membunuh Ayah.
“Rahman!!!”
Tok…tok…tok…
Ayah memanggil sambil menggedor pintu kamarku. Berulang kali Ayah melakukannya, mengganggu sekali. Malas rasanya membuka mata sepagi ini.
“Iya… iya,” sahutku.
Aku keluar dari kamar dengan rupa acak-acakkan. Samar-samar kulihat dari kejauhan seorang perempuan duduk di ruangan tamu bersama lelaki tua di sampingnya.
“Man… kemari sebentar!” pinta Ayah memanggilku.
“Iya!” sahutku cemberut.
Kemudian aku duduk di samping Ayah. Perempuan itu asing di mataku. Kupikir dia adalah calon istri Ayah. Ternyata prediksiku salah total, perempuan itu adalah orang yang akan dijodohkan denganku.
Seakan tersengat listrik bertegangan tinggi. Sesak rasanya dadaku mendengar perjodohan ini.
Tak mungkin aku bisa menyukainya, pikirku. Hanya Husna yang bisa memenangkan hatiku, dia adalah satu-satunya perempuan yang kucinta.
Dengan tegas kutolak permintaan Ayah yang egois ini. Tapi, Ayah tetap saja bersikeras dengan keinginannya, untuk menikahkanku dengan perempuan itu. Sempat terjadi perdebatan sengit di antara kami. Tiba-tiba aku teringat akan pesan yang ibu sampaikan dalam mimpiku. Akhirnya aku mengalah pada Ayah dan meng-iyakan keinginannya, meskipun sebenarnya itu bertentangan dengan hatiku.
Mati aku jika Husna mendengar berita buruk ini. Dia pasti akan meninggalkanku pergi. Aku tak mau hal ini terjadi. Buru-buru kupersiapkan sandiwara agar berita buruk ini tak mengagetkan kekasihku, Husna.
Hampir setiap hari kuhabiskan waktu bersama Husna, dengan berhiaskan canda dan tawa. Mana mungkin ada kesempatan untuk Meisandy masuk ke hatiku.
Setahun berlalu
Semenjak Ibu hadir dalam mimpiku. Pelan-pelan aku mulai memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit hatiku mulai bersih dari noda-noda hitam yang melekat. Belakangan ini aku jatuh cinta pada ayah. Dan ayah juga sama sepertiku. Ayah membalas cintaku dengan memperlakukanku seperti seorang anak pada umumnya.
Mata hatiku mulai terbuka untuk menerima nasehat darinya. Pelan-pelan terjawab sudah keraguanku. Ternyata, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Hanya saja masih ada beberapa hal yang tak bisa kuhentikan. Dan hal tersebut kulakukan bersama Husna.
Sebenarnya, aku menyadari kehadiraan Husna benar-benar membawa pengaruh buruk padaku. Tapi aku tak bisa pergi begitu saja darinya. Perlu alasan yang sangat, sangat kuat untuk membuatku pergi meninggalkannya.
Sore ini Meisandy berkunjung ke rumah, ini kali pertama dia menemuiku. Dia datang sendirian, membawa buah tangan untukku. Tak ada yang menarik darinya. Tak ada juga yang bisa dinilai darinya. Perempuan ini biasa saja. Dari caranya berpakaian sampai dengan cara bicaranya.
Aku heran, Ayah kok bisa-bisanya kepikiran menjodohkanku dengan Meisandy.
Semakin kedepan semakin jelas terlihat perhatian Meisandy padaku. Dengan karakter dan pembawaan khas yang dia miliki. Kini Meisandy hadir menghiasi hari-hariku. Tapi tetap saja aku tak bisa memperhitungkan kehadirannya dalam hidupku. karena tak ada sedikit pun celah, di bagian hatiku yang bisa terisi oleh orang lain selain Husna, kekasihku.
Malam ini ayah menjamu Meisandy makan malam di rumah. Malas rasanya ikut makan bersama mereka. Pasti akan sangat membosankan, duduk bersama orang-orang pasif seperti mereka.
Aku adalah orang pertama yang nongkrong di meja makan. Semakin cepat datang maka akan semakin cepat juga aku meninggalkan mereka, pikirku picik. Setengah jam sudah aku menunggu di meja makan. Meisandy belum juga muncul. Muak sekali jika harus menunggu orang seperti dia selama itu.
“Assalamualaikum.”
Akhirnya datang juga. Aku sudah menyiapkan diri untuk menyantap hidangan yang ada di depan mata. Sendok dan garpu tinggal lepas landas menuju piring. Aku sudah tak sabar untuk segera makan.
“Assalamualaikum.”
Sekali lagi, dia mengucapkan salam di depan rumah. Malas rasanya keluar menyambut kedatangannya. Untung Ayah mau bersusah payah menjemputnya diluar.
“Maaf… membuat menunggu,” ujarnya.
Dia terlalu basa-basi hanya untuk sekedar makan malam. Hampir aku memarahinya karena mengulur-ngulur waktu. Apalagi aku sudah kelaparan seperti ini.
“Cepat duduk,” pintaku sinis.
“Maaf ya.”
Jengkel sekali mendengar basa-basi yang diucapnya. Bukannya segera duduk, Dia tetap saja berdiri di belakangku. Kalau tak kupaksa orang ini hanya membuang-buang waktu saja, gumamku. Akhirnya, aku berdiri dari tempat dudukku dan menoleh kearahnya. Seeettt! Mendadak lidahku jadi kelu. Aku tak percaya Maisandy secantik ini.
Damai hatiku melihat wajah yang penuh kesejukan itu. Sempurna penglihatanku pada Maisandy yang mengenakan jilbab hijau tua warna kesukaanku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi tentangnya malam ini. Aku khawatir posisi Husna di hatiku terancam tergeser kedudukannya.
“Mari kita mulai makan malamnya.” ajakku.
Tiba-tiba aku menjadi sosok yang hangat untuk Meisandy malam ini.
“Rahman! Bagaimana? Apa kamu sudah siap untuk menikahi Meisandy?” tanya Ayah mengawali obrolan. Aku tak bisa memutuskan secepat mungkin tentang pernikahan ini. Tidak ada basa-basi sama sekali Ayah menanyakan hal ini, membuat hilang selera makan saja.
“Beri Rahman waktu untuk memikirkan hal ini, Yah!” terangku padanya.
“Apalagi yang kamu pikirkan? Menafkahinya? Masalah itu jangan dipikirkan, nanti Ayah siapkan usaha untuk kalian kelola bersama. Apa lagi yang membuatmu keberatan?”
“Beri Rahman kesempatan untuk meyakinkan diri, Yah! Jangan mendesak seperti ini.”
“Sampai kapan kamu akan memikirkan ini? Sampai kamu tua bangka? Iya?” ujarnya marah.
“Sampai Rahman menemukan alasan untuk mencintai Meisandy, baru Rahman akan menikahinya,” cetusku tegas.
Makan malam tiba-tiba menjadi hening. Tak enak rasanya, makan dengan keadaan emosi seperti ini. Kasian Meisandy, hanya tertunduk bisu, mendengar kami berdebat.
Sekarang aku telah sampai pada saat dimana aku harus memilih. Ini sangat berat bagiku. Meisandy bukan perempuan yang ku mau tapi ayah menginginkannya mendampingiku. Andai aku diizinkan, tentu kujatuhkan pilihan pada Husna.
Waktu terus berjalan. Tak terasa usiaku kini makin tua saja.
Aku yang sekarang tak seburuk dulu lagi. Keinginan untuk berubah kini terwujud. Tapi lagi-lagi masih ada beberapa hal yang tak bisa kuhentikan. Dan hal tersebut kulakukan bersama Husna.
Kini, makin menggebu-gebu kurasa perhatian Meisandy padaku. Dia selalu datang menemaniku. Sekarang tak banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersama Husna.
Ruang gerakku mulai terbatas, Ayah selalu mengawasi pergerakanku untuk bertemu Husna. Tapi, aku tak sebodoh yang ayah kira. Diam-diam aku mencuri-curi kesempatan menemui Husna.
Saat ini, berbohong rasanya kalau aku bilang tak suka pada Meisandy. Pelan-pelan perempuan itu menyelinap masuk dalam hatiku. Kurasa tak lama lagi aku menemukan alasan mengapa harus menikahinya.
“Rahman!”
Suara itu dekat sekali di telingaku. Ini bukan suara Ayah. Siapa pemilik suara ini? pikirku bertanya-tanya. Tapi malas sekali rasanya membuka mata sekarang.
Suara itu terdengar berulang-ulang di telingaku. Oke.. oke aku akan memaksa mataku agar terbuka. Wah wah wah… pagi sekali mata ini sudah disuguhi keindahan seperti ini, gumamku. Meisandy tampil cantik pagi ini. Sekarang ayah benar-benar mengizinkannya melakukan apapun padaku.
“Assalamualaikum.”
Aku suka melihat senyumnya pagi ini.
“Waalaikumsalam.”
“Ini sarapan buat Rahman. Mei sendiri yang memasaknya.”
“Mei gak sarapan?” tanyaku.
“Mei masak cuma satu porsi. Jadi Rahman saja yang makan.”
“Wah… gak adil ini namanya. Ya sudah kita bagi dua makanannya. Sini aku suapin.”
“boleh?” tanyanya polos malu-malu.
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Aku suka sekali mendengar suaranya. Ada khas tersendiri dari suara perempuan yang satu ini.
“Masuk kamarku aja kamu dikasih izin sama Ayah. Apalagi cuman suap-suapan doang. Pasti bolehlah!” jawabku sambil menertawakan keluguannya. Seharusnya aku tak semudah ini takluk dan membagi cintaku. Tak bisa kubayangkan hancurnya Husna andai tau apa yang sedang kulakukan di belakangnya.
Setengah tahun berlalu
“Harusnya, aku tak lagi menemuimu sekarang! Setelah perjodohanku dengan perempuan lain. Harusnya, saat ini aku meninggalkanmu, tanpa harus menemuimu lagi. Tapi aku tak bisa melakukannya. Aku terlalu menyayangimu, aku benar-benar tak bisa meninggalkanmu.”
Sulit bagiku memikirkan ini sendirian. Akhirnya, aku mengakui tentang perjodohanku pada Husna. Kusampaikan semua kebenarannya dengan jujur. Husna hanya diam, belum menunjukan reaksi apapun mendengar pengakuanku.
“Aku tidak bisa berhenti!!! Aku benar-benar tidak bisa menghentikan ini. Aku tak ingin kehilanganmu. Perasaan ini tulus sekali. Tentang cintaku padamu, aku benar-benar tidak bisa menghentikannya,” ujarku lagi.
Husna membisu tanpa ekspresi apalagi reaksi. Aku khawatir dia sudah tak mencintaiku lagi. Sebab sebelum aku mengatakan ini, kami sudah jarang bertemu.
Ternyata salah kalau kupikir Husna tidak mencintaiku lagi. Mendadak airmatanya menetes. “Aku akan bersedih melihatmu menangis. Aku terluka melihatmu tersakiti. Tapi, aku akan sangat bahagia bila melihatmu juga bahagia,” sahutnya sambil menatap tajam mataku, “Bila kamu tak bisa berhenti mencintaiku, maka aku yang akan melakukannya untukmu!!! Aku akan menghentikannya, aku akan membuatmu tak mencintaiku lagi, aku akan melakukannya untukmu,” lanjutnya lagi.
Seperti tersambar petir rmendengar Husna bicara seperti itu. Hancur berkeping-keping hatiku. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa sedih hatiku jika harus kehilangannya. Sebisa mungkin aku mengatur emosiku, menahan airmata yang sebentar lagi akan menetes. Mataku benar-benar seperti sedang kena asap. Akan sangat memalukan bila menangis di hadapan Husna.
“Diam-diam aku sudah putus asa, diam-diam aku menyerah dengan perasaanku. Aku merasa kehilangan, jauh sebelum mendengar pengakuanmu. Aku sudah terbiasa tanpa kamu ada di sisiku. Semenjak kita jarang bertemu, aku sudah membiasakan diri tanpamu. Bertahun-tahun kita bersama, dan hari ini adalah hari dimana aku tak bisa lagi menemanimu. Setelah ini, Saat aku menghilang. Tolong jangan pernah mencari atau pun memikirkanku lagi,” lanjutnya.
Binar di mataku mulai mengganggu, penglihatanku menjadi agak kabur. Airmata seperti sedang berdesakan ingin keluar dari mataku. Runtuh rasanya langit mendengar Husna bicara seperti itu. Ini kali pertama dalam hidupku dibuat kecewa olehnya.
Aku bersikeras memintanya untuk tidak menyerah mencintaiku. Tapi, dia juga bersikeras memintaku berhenti mencintainya.
“Semudah ini kah aku akan kehilanganmu? Semudah ini kah aku akan melepaskanmu? Haruskah aku menyerah sekarang?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi, “Tidak… aku tak akan melakukannya. Kamu bohong! Semua yang kamu katakan itu tidak seperti yang kamu rasakan! Aku tau kamu tak akan pernah berhenti mencintaiku!” ujarku coba memastikan.
Husna hanya diam.
Bukan itu reaksi yang kuharap darinya. Kupikir dia akan menghampiri dan memelukku, setelah mendengar apa yang kukatakan tadi. Ternyata tidak, dia berbalik dan meninggalkanku pergi tanpa sepatah kata pun terucap. Akhirnya, airmataku yang dari tadi sudah berdesakan satu per satu keluar dari mataku.
Pantas, Husna meninggalkanku pergi. Ternyata dari tadi Meisandy sudah berdiri di belakangku dengan airmatanya.
Awalnya Meisandy memberiku kesempatan menjelaskan pertemuan antara aku dan Husna. Tapi aku tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa padanya. karena ini memang salahku sepenuhnya. Yang tidak memberitahukan padanya kalau aku pergi menemui Husna.
Sekarang aku benar-benar terlibat dalam cinta segitiga yang dramatis. Husna dan Meisandy sudah merenggut kebahagiaanku. Mereka harus bertanggung jawab untuk mengembalikannya lagi padaku.
Malam hari tepat pukul 19.00.
“Rahman…”
Ayah memanggilku. Sepertinya ada sesuatu yang serius ingin dibicarakannya. Buru-buru aku mendekat.
“Duduk sebentar, Nak! Jadi bagaimana? Kamu sudah siap?”
Aku tidak fokus dengan yang Ayah katakan.
“Bagaimana?”
Dia bertanya kembali padaku. Sepertinya kali ini Ayah akan memaksaku mati-matian untuk menikahi Meisandy.
“Baik! Rahman akan segera menikahi Meisandy,” tegasku.
“Alhamdulillah,” ucapnya kemudian menghampiri dan memelukku.
Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk menolak perjodohan ini setelah Husna meninggalkanku pergi.
Dua hari lagi aku akan menjadi seorang suami untuk Meisandy. Antara siap dan tidak rasanya.
Langit mulai gelap. Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Berganti sudah pemandangan di langit. Sekarang waktunya bulan dan bintang yang menghiasinya. Ditemani rintik hujan, Meisandy datang ke rumah sekedar mengajakku ngobrol sambil menikmati secangkir teh manis.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Kutolehkan kepala ke arahnya. “Ada apa dengan perasaanku?” aku balik bertanya padanya.
“Apa perempuan yang kamu temui kemarin masih ada disana?” tanyanya sambil menunjuk ke arah kepalaku dengan ciri khas polos yang dimilikinya.
“Tidak… dia tidak ada disini,” jawabku sambil menunjuk kepala, “Tapi dia ada disini,” lanjutku sambil menaruh tangan di dada.
“Oh…!!! Berarti aku lah orang yang ada di kepalamu sekarang, di dalam pikiranmu, disana,” dia kembali menunjuk ke arah kepalaku, “Mungkin kehadiranku ini hanya menjadi beban di hidupmu. Maaf… karena aku membuatmu lebih sering berpikir sekarang. Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya lirih.
“Aku tidak pernah menyesali takdirku. Aku tidak pernah berpikir untuk menyalahkanmu. Ini takdir yang Tuhan berikan padaku. Apa pantas aku menolak pemberian ini?” sahutku padanya.
Meisandy hanya terdiam, matanya tak berhenti mencuri-curi pandang padaku. Aku mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Aku memahami apa yang dikhawatirkannya saat ini. Seharusnya aku berterimakasih padanya, karena selama ini dia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya. “Jangan pernah khawatirkan kebahagiaanku. Saat ini aku baik-baik saja. Jangan pernah berpikir aku akan menyalahkanmu,” ujarku lagi.
“Suatu saat, jika kamu menyesal menikah denganku. Silahkan saja kamu marahi aku, caci maki aku, lakukan apapun yang kamu mau. Tapi aku mohon! Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku.”
Mendadak otakku berhenti berpikir. Tak percaya rasanya mendengar Meisandy mengatakan itu padaku.
“Selama mengenalmu, berada di sisimu, jadi bagian penting di setiap hari-harimu. Bagaimana mungkin aku akan bertahan bila kamu meninggalkanku. Lakukanlah apapun yang kamu inginkan. Selama kamu di sisiku, aku baik-baik saja,” lanjutnya kemudian berdiri dan meninggalkanku.
“Selama mengenalmu, berada di sisimu, jadi bagian penting di setiap hari-harimu. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendirian.” sahutku bicara sendiri.
Hari ini adalah hari terakhir aku berstatus bujangan. Lusa, akan menjadi moment terpenting dalam hidupku. Awal dari kisah hidup baruku dengan keluarga baru.
Saat ini semua orang sepertinya bahagia. Tapi tidak denganku. Aku harus berjuang agar terlepas dari hatiku yang terbalut luka. Luka lama yang tiba-tiba saja datang menyapaku.
Kenangan manisku bersama Husna tiba-tiba saja menari indah di ingatanku. Sulit sekali melupakan perempuan ini!!! gumamku kesal. Aku hanya bisa memukul-mukul kepalaku berharap kenangan itu bisa segera lenyap dari otakku.
Waktuku hanya tersisa 26 jam mengenang Husna. Setelah melangsungkan akad nikah, tak pantas rasanya aku memikirkan perempuan lain selain istriku. 4 tahun lamanya aku mengenal Husna, sekarang hanya ada 26 jam waktuku untuk melupakannya. Sama sekali waktu yang tak sebanding. Tapi, aku harus bisa melupakannya.
“Assalamualaikum.”
Di tengah indah hayalanku, tiba-tiba Meisandy datang mengganggu. Malas rasanya beranjak dari tempat tidurku. Ingat dia sebentar lagi jadi istriku, terpaksa aku datang menyambutnya. “Waalaikumsalam.”
“Nanti malam Rahman sibuk?” tanyanya.
“Tidak. Ada apa?”
“Aku mau Abdurrahman menemaniku membeli sesuatu untuk besok. Tapi kalau Rahman tidak bisa, biar Mei sendiri yang beli.”
“Oh… bisa… bisa…”
“Terimakasih.”
Malam tiba. Aku memenuhi janjiku pada Meisandy untuk menemaninya membeli sesuatu. Sepanjang jalan kami hanya mengobrol. Merancang masa depan yang akan kami jalani nantinya. Di tengah serunya obrolan, aku membuat kesalahan fatal yang menyinggung perasaannya. Aku salah menyebutkan nama. Konsentrasiku buyar karena saat itu aku juga sedang memikirkan Husna.
“Apa Rahman masih memikirkan perempuan itu?” tanyanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku berusaha menenangkan pikiran agar tak salah bicara untuk yang kedua kali.
Kami mampir ke suatu tempat untuk membicarakan hal ini lebih serius.
“Benar, Rahman masih memikirkan perempuan itu?” tanyanya kembali seolah mendesakku.
Sepertinya aku tak bisa lagi berlama-lama menyembunyikan perasaan yang ada di hatiku sekarang. Alangkah baiknya jika Meisandy tau semua yang ada di hati dan pikiranku, ucapku dalam hati. pelan-pelan aku mendekatinya. “4 tahun yang lalu, aku adalah seorang lelaki yang berperangai buruk. Membangkang pada ayah. Lupa akan kewajibanku sebagai seorang muslim. Hina sekali hidupku!!! Aku membiarkan diriku terjerumus dalam mega dunia. Mataku jadi buta, kulakukan semua yang tidak sepantasnya aku lakukan.”
Meisandy hanya menatapku seolah penasaran mendengar cerita dariku.
“Tiba-tiba datang seorang bidadari yang kulihat dari balik jendela kamar. Seorang bidadari yang sebenarnya tak pernah terbayangkan olehku kedatangannya.”
“Pelan-pelan dia bersihkan noda hitam yang melekat di hatiku. Tanpa kutau diam-diam dia menyelinap masuk dalam hatiku. Aku tak bisa menghindarinya, aku jatuh cinta padanya. Tapi Ayah tak menyukainya. Ayah berprasangka buruk padanya. Ayah menganggap kehadirannya hanya membawa pengaruh buruk untukku. Ayah tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan ini semua. Ayah malah membenciku. Tapi bidadariku itu tak pernah menyerah untuk menyelamatkanku. Dia terus hadir menemaniku. Dia menjagaku dari nafsuku akan dunia. Dia terus hadir menyelamatkanku dari sadisnya duniaku. Dia datang dan melarangku melihat perempuan yang berkeliaran di sekitarku, dia datang dan melarangku menyentuh perempuan yang ada di sekelilingku. Tapi satu kesalahan fatal yang dilakukannya, dia tak melarangku untuk mencintainya,” ujarku lagi pada Meisandy, “Malam itu Ibu menemuiku dalam mimpi. Ibu datang dan memarahiku karena prilaku burukku. Dan yang paling menakutkan dalam mimpi itu, Ibu bilang tak lama lagi akan menjemput Ayah. Aku tak ingin kehilangannya. Akan kulakukan segala yang bisa kulakukan agar bisa menyenangkan hatinya. Lalu, Ayah memintaku untuk menikahimu. Aku tak bisa menolaknya, apalagi saat itu Husna telah meninggalkanku.”
Meisandy tetap saja tidak bereaksi. Dia hanya menunggu aku melanjutkan cerita.
“Setelah mimpi yang kualami itu. Aku benar-benar memperbaiki diriku. Dan itu semua atas kemauanku sendiri, tanpa paksaan dari bidadariku lagi. Tapi sayang, ada satu hal yang tak bisa kuhentikan, dosa besar yang tak dapat kuhindarkan. Dan aku melakukannya bersama bidadariku itu,” ujarku.
Meisandy kaget. Sepertinya dia salah paham dengan kata yang terakhir kuucapkan.
“Maksud Rahman? Kalian telah melakukannya? Kalian telah…?” tanyanya kaget.
“Bukan… bukan itu yang kumaksud,” tepisku buru-buru sebelum Meisandy berpikiran lebih jauh lagi, “Dosa besar yang ku lakukan adalah berbohong pada Ayah. Dengan lancang aku menghianatinya, aku ingkar pada janji yang telah kusepakati dengannya.”
“Ayah memintaku untuk menjauhi Husna, tapi aku tidak melakukannya. Kami berdua tidak melakukannya. Malah kami menentang keinginan Ayah. Kami memperkuat rasa cinta yang kami miliki, bukan menghindari seperti yang Ayah inginkan,” jelasku lagi.
“Harusnya sejak awal, aku tidak mengharapkanmu mencintaiku. Sakit sekali rasanya mendengar ini. Tak seharusnya aku ada di antara kalian. Mengapa Rahman tega membiarkanku melangkah sejauh ini?” ujarnya lirih bertanya padaku.
“Ayah memaksaku untuk melakukannya, Ayah memaksaku untuk mencintaimu. Aku tidak bisa menolak. Aku takut terjadi sesuatu padanya jika berani terang-terangan menolak keinginannya,” jawabku, “Tapi lama kelamaan aku juga mulai nyaman dengan keterpaksaan yang kurasakan. Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Meisandy. Berbohong, jika aku bilang tidak mencintai Meisandy sekarang,” lanjutku.
Meisandy tidak mengatakan apapun padaku. Hanya saja, airmatanya membuatku mengerti apa yang di rasakannya sekarang.
Tinggal 10 jam waktuku yang tersisa untuk mengenang kisah manis yang kualami bersama Husna. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindar dari pernikahan besok. Sebentar lagi Husna akan benar-benar kuhapus dari hidupku. Sulit rasanya malam ini untuk memejamkan mata. Aku berharap saatku tertidur, tak ada seorang pun yang membangunkanku. Tak ingin rasanya kubuka mata ini. Sepertinya sekarang hidupku telah berakhir.
“Rahman!”
Seseorang membangunkanku di pagi buta. Suaranya tak asing di pendengaranku. pelan-pelan kubuka mata, memastikan pemilik suara itu adalah seseorang yang kukenal.
“Rahman!”
Lagi orang itu memanggil namaku. Wajahnya tampak samar-samar di penglihatanku. “Husna?” tanyaku memastikan, “Apa ini mimpi?” lanjutku, memukul kedua pipi.
“Ini aku! Husna,” Jawabnya.
“Bukan… ini mimpi!!! Iya… ini mimpi!!!” ujarku tak percaya.
“Ini nyata…! Ini aku, Husna. Orang yang kamu tunggu.”
Bagaimana mungkin Husna bisa masuk kamarku. Tak mungkin Ayah tidak bereaksi melihat Husna nyelonong masuk. Ada apa dengan Ayah pagi ini? atau jangan-jangan, karena hari ini aku akan menikah. Jadi, Ayah memberi kesempatan pada Husna untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya, pikirku.
“Apa Ayah melihatmu?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya, “Tadi malam Ayahmu memintaku untuk menemuimu.”
“Apa? Ayah mencarimu? Apa dia menyakitimu?” tanyaku penasaran.
“Ayahmu hanya memintaku untuk menemuimu. Setelah itu dia pergi.”
“Apa Meisandy tau tentang ini?”
“Ayahmu datang bersama Meisandy.”
“Apa yang terjadi? Apa Meisandy melakukan sesuatu padamu? Apa dia membuatmu…?”
“Aku tak tahu harus melakukan apa pada meisandy yang sudah lancang merebutmu dariku. Harusnya aku membencinya sekarang!!! Harusnya aku membalas kesakit hatianku padanya. Tapi tidak!!! Aku tak bisa melakukannya,” ujarnya memotong omonganku, “Harusnya sekarang aku menemuinya, dan berterimakasih. Dia orang bodoh yang pernah kukenal!!! Beraninya dia menangis dan bersujud di hadapan ayahmu. teganya dia memohon pada ayahmu, agar mengizinkannya melepasmu. Tega sekali dia melakukannya!!! Dia telah mengorbankan kebahagiaannya. Semua itu dilakukannya untukku.”
“sekarang apa salah jika aku ingin memeluknya?” lanjutnya sambil menangis.
“Jadi sekarang Meisandy?”
“2 jam lagi akad nikah akan dimulai. Meisandy menunggu kita diluar. Dia ingin kita melakukannya,” sahutnya kemudian melangkah keluar dari kamarku.
Akhirnya, Husna jadi istriku. Setelah Meisandy menjelaskan semua yang terjadi pada Ayah.
Dan akhirnya, mimpi terbesar dalam hidupku terwujud sudah. Senang rasanya, Tuhan telah mengabulkan do’a yang kupanjatkan di setiap tahajudku. Menyelamatkanku dari zina dan melengkapi rusukku dengan kehadiran Husna.
Selesai
Penulis Cerita: Fahrial Jauvan Tajwardhani
 

Raka dan Rana

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Berawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih.
Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku
Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.
“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.
Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap sebuah buku di tangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal serumit itu.
Hari-hari terus berlanjut dan aku pun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu di hatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama… Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua… Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri di sampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri di sampingku nanti.
Degg.. degg…
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri di samping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.
Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee.. makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.
Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alasan menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematika mu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.
Kita pun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ musik sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh di bawah darinya.
“Rana, ke perpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama di perjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu di sela-sela tawa kecilku.
Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu. “Raka, nanti siang temui Ibu di ruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya di perpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku. “Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas di kelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”
Setelah melakukan obrolan ringan, aku pun segera menghampirimu yang telah duduk mematung di kursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya di rumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri di sampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.
For: Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu di bumiku
Dan engkaulah itu…
Tertanda
Raka Dwitama
Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cinta kah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, di perjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~ Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu. ~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam di hatiku.
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be, benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu kok. Lagian, Syela sudah mendapat pacar baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day”
“Ok.”
Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selanjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andai pun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau kok jadi pacar kamu.” Ujarku di sela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.
Aku pun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan di waktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi di balik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka…”
Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir di hatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba di depan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktu pun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri di sampingmu dengan harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”
Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada di sampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak di depanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orangtuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Di hari itu, aku memakai kebaya berwarna cokelat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitam mu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e… bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu, aku mau kok.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibukanmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.
Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, di bulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang datang, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku di hatimu? Untungnya, kesibukanku di jejaring sosial cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga di suatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI…”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud… be a Josh
~ Jomblo Sampai Halal ~
Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik di hadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua di berbagai organisasi, ia pun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.
Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.
Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu di jejaring sosial facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan di status hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.
Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri di bumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu di sebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh…”
Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku di sela-sela menuruni tangga bersamamu.
Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.
Senin, 12 Juli 2020
Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu di hatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang aku pun turut aktif di dalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillah…
Penulis Cerita: Hanida Ulfah
 

Ukhti, Tunggu Aku Menjadi Ikhwan

| komentar

Namaku Rio, lengkapnya adalah Rio Irwan Anggara. Putra seorang pengusaha kaya raya yang memiliki banyak cabang di berbagai pelosok kota di Indonesia. Fisikku tampan, berkulit putih, dan tentunya memiliki senyuman maut yang dapat meluluhkan semua siswi di sekolahku. Ah tidak, kurasa dugaannku salah kali ini. Di suatu pagi saat aku telah memasuki area sekolah, aku disambut banyak fans yang tentunya telah menantiku di hari itu yang menggunakan mobil sport keluaran terbaru. Sekeluranya aku dari benda beroda itu, aku dikelilingi oleh banyak wanita yang tidak lain merupakan siswa yang sama denganku, SMA Citra Bangsa, sekolah para anak pengusaha kaya dan bonafid di area Jakarta pusat.
Disaat aku tengah asyik menikmati kerumunan para gadis-gadis cantik itu, aktivitasku terhenti setelah dua teman setiaku menghampiri.
“Hey Bro, bawa mobil baru lagi nih!” ujar Fano, menyapaku.
“Yoi bro, biasa lah.. bokap gue lagi baik.” Jawabku yang sedang sibuk mengeluarkan diri dari kerumunan.
“Hebat loe bro, gue aja minta dari dua bulan yang lalu nggak direspon-respon sama bokap. Padahal, dia baru menangani proyek real estate. Pelit dia.” Dion curhat padaku dan Fano.
Begitulah yang terjadi jika ketiga anak pengusaha-pengusaha seperti kami berkumpul. Selalu saja saling pamer dan membicarakan hal-hal yang terdengar mengasyikkan.
Tiba-tiba perbincangan kami terhenti saat seorang gadis cantik berjilbab lebar kali panjang melangkahkan kakinya melewati kami dengan langkah menunduk.
“Alah.. dia itu sok alim bro. Di kelas saja jarang bicara, pelit kata-kata.” Adu Fano dengan menampakkan tatapan tidak suka pada gadis itu.
Anehnya, aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di hatiku, ada sesuatu yang bergetar tatkala kulihat wajah menunduknya yang terlihat bercahaya.
“Bro, mau tantangan?” tawar Dion sembari menatap gadis itu.
Tanpa kelanjutan kata pun aku sudah paham dengan maksudnya, ia menantangku untuk mendaparkan seorang gadis berjilbab seperti dia.
“Oke, kalau gue bisa bagaimana?” sahutku mantap.
“Gue akan ngasih ticket VIP pertandingan tim favorit loe, Barcelona vs Real Madrid. Nah, secara otomatis waktu loe dua bulan untuk menaklukan hati tuh cewek.” Papar Fano kemudian.
Setelah aku menyepakati perjanjian tersebut, aku pun segera melarikan diri menuju kelas yang dimana kedua sahabatku tak berada dalam satu kelas yang sama.
Tepat di hari senin, aku bergegas melajukan mobil sport merahku menuju sekolah dengan jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Rencananya, hari ini aku akan mencoba menggoda gadis itu dengan memberikannya setangkai mawar putih beserta untaian kata-kata manis yang merupakan hasil otak kreatifku.
Suasana sekolah terlihat lengang saat mobilku telah berhasil memasuki kawasan belajar itu. Sehari, dua hari, tiga hari, aku selalu mendapati pemandangan yang sungguh mencengangkan. Setiap hari, aku melihat kiriman bunga dan surat cintaku ia buang ke tempat sampah sebagai benda yang layaknya tak bernilai. Untungnya, aku tak pernah menuliskan namaku sebagai identitas pengirim. Alhasil, kedua sahabatku mulai mengejek dan mengolok diriku.
“Cih, baru kali ini aku melihatmu ditolak!” ejek mereka.
Airina Tasya, itulah nama gadis yang kurasa sangat sombong itu. Ia belum tahu bagaimana sifatku, aku takkan menyerah sebelum aku mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kalau enam hari yang lalu aku mengiriminya bunga, enam hari yang akan datang kembali berbeda. Kali ini aku mengiriminya cokelat yang kurasa adalah favoritnya. Namun lihat, apa yang ia lakukan dengan cokelat-cokelat pemberianku? Ia memberikannya pada puteri Pak Hendri, satpam yang menjaga pintu gerbang sekolah. Memalukan sekali bukan!
Aku telah mendapatkan keputusan dari pemikiran panjangku selama hampir lima jam. Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku mengaku, aku benar-benar tertarik padanya.
“Airin, kamu Airin kan?” tanyaku yang saat itu tak sengaja melihatnya di kantin.
“Ya. Ada apa?” katanya dengan nada tegas.
“Aku suka sama kamu!” ucapku setelah mengambil oksigen beberapa saat.
Tanpa menjawab, ia meninggalkanku yang masih berdiri di tempat. Ah, memalukan sekali! Aku tidak menyerah, aku mengejarnya dan berusaha meraih tangannya untuk menghentikannya, namun tiba-tiba seorang gadis tomboy yang kurasa bernama Irma menghadangku.
“Hey Rio, Airin itu nggak bakal suka sama kamu. Dia Cuma suka Ikhwan alim. Yang tahu agama, yang bisa ngebimbing dia mencari cinta sejati.” Papar Irma padaku.
“Sok tau loe!” sergah ku.
“Asal loe tau ya, itu semua impian para gadis kaya Airin. Gue baca di novel!” katanya lagi.
Hari-hari terlewati dengan pemikiranku yang terus tertuju kepada Airin beserta uraian yang telah dipaparkan secara tegas oleh Irma padaku. Waktu pun telah berlalu dan terlewatilah 60 hari masa waktuku untuk meluluhkan hatinya. Aku bisa saja gembira karena tidak perlu lagi mengumpulkan kecerdasan otakku untuk mengolah ide kreatif guna memberinya kejutan. Masalah yang kumiliki sekarang adalah bahwa aku menyukainya. Ah tidak, kurasa aku mencintainya, benar-benar mencintainya. Dari berbagai sumber yang telah kuketahui, kudapatkan sebuah informasi menarik agar bisa mendapatkan hati sang bidadari seperti Airin. Ya, aku akan berpindah sekolah menuju tempat yang menurut pemikiran kolotku dahulu adalah sebuah penjara yang bernama Pesantren.
Perpisahan dengan dua sahabat karibku telah dilakukan, dan inilah saat terakhir yang telah kunantikan. Aku ingin meliahat pemompa semangatku yang terakhir kali.
“Airin, ini untukmu. Ku mohon, jangan dibuang ya.” Pintaku dengan memberi sebuah kado padanya.
Aku pun memasuki mobil setelah menemuinya yang saat itu telah bersiap untuk memasuki mobil jemputannya.
“Airin, tunggu aku menjadi Ikhwan ya…” teriakku dari jendela mobil.
Ya, samar-samar aku melihatnya tersenyum. Manis sekali! Baiklah, aku berjanji padamu. Tunggulah aku menjadi ikhwan…
“Airin, Tunggu aku menjadi Ikhwan! Aku berjanji..”
Penulis Cerita: Hanida Ulfah
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami