Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Budaya. Tampilkan semua postingan

Selera Humor dan Harga Diri Keluarga Mbah

Rabu, 08 Januari 2014 | komentar

Aku terlahir di tanah ini, di tanah yang dibilang subur ini, sebagai bagian keluarga besar masyarakat Indonesia yang punya selera humor tinggi. Bukan hanya itu, selain rasa humor, mbah-mbah ku dulu juga orang-orang yang paham benar dengan apa itu yang namanya harga diri. Saat mereka masih muda sepertiku, mereka berjuang mati-matian hanya untuk membela satu makhluk bernama harga diri sebagai bangsa yang berhak merdeka. Jargon mereka yang sampai sekarang masih terniang-niang di telinga anak cucunya termasuk aku adalah merdeka atau mati. Mungkin sedikit berbeda jika kudengar cerita tetanggaku, nenek moyangnya dulu lebih memilih merdeka bersyarat sebagai negara persemakmuran hanya karena tergoda iming-iming akan berbagai fasilitas asal mereka nganut dengan negeri induknya. Dan mungkin karena kenganutan – kepatuhan itu membuat tetanggaku itu kurang tau dengan humor – sama sepertiku.
Sebagai manusia normal, dalam otakku sudah pasti terinternalisasi untuk mencintai tanah kelahiranku. Tapi aku ragu, mungkin aku tidak begitu cinta dengan tanah lahirku. Nyatanya, aku masih saja iri dan ingin hidup di tanah tetanggaku yang punya banyak fasilitas itu, aku disini masih sering mengeluhkan buruknya fasilitas meski bahan baku apapun tersedia di tanah lahirku ini. Aku kadang iseng, menggerutu dalam hati – “kenapa mbah dulu kau berjuang mati-matian untuk membela harga diri sebagai bangsa yang layak merdeka, kenapa tak kau serahkan saja bahan baku tanah lahirku ini pada Belanda untuk mereka kelola dan kita bisa mencicipi sedikit masakan hasil olahan mereka, toh aku sekarang lebih suka burger olahan Amerika daripada gaplek buatan mak, – toh tetanggaku kini hidupnya enak, mapan, tercukupi dengan hanya bersedia menyerahkan harga diri mereka dan menjadi negara persemakmuran Inggris. Dan, toh seandainya engkau hidup sekarang – dan melihat betapa buruknya aku, betapa aku tak paham tentang harga diri sebagai bangsa yang dulu mati-matian engkau perjuangkan, kau mungkin menyesal mbah berjuang mati-matian demi anak cucumu, demi aku – kau akan marah melihatku karena aku hanya mengingat cerita heroikmu merebut kemerdekaan saat tanggal-tanggal tertentu – dan aku hanya mengingatnya sebagai cerita, bukan untuk kuteladani sebagai prilakuku sehari-hari. Dan akhirnya, kau hanya berucap sinis padaku ‘Sudah dibelain mati-matian, malah ngedhumel – nyalahke, gak tau diuntung, diwei ati njaluk rempelo, bocah ndhablek!!!”
Keluarga besar masyarakat tanah lahirku punya selera humor yang tinggi, tapi tidak bagiku – aku tidak mewarisi ini dari mbah-mbahku, aku tak punya satupun lelucon untuk kulontarkan padamu, tapi aku selalu ikut tertawa jika mereka tertawa. Mereka tetap bisa tertawa dalam keadaan apapun, saat krisis global mereka masih bisa tertawa, – bahkan makin ngakak, dilanda bencana pun masih saja membuat lelucon – bu LSM, mas Ormas, mbak Partai, pak Pemerintah ramai-ramai datang memberi mereka bantuan dengan menancapkan bendera di sekitar tenda pengungsian, dan keluarga besar tanah lahirku itu menyambutnya dengan tersenyum sinis “terima kasih pak, bu, mbak, mas, lain kali benderanya lebih besar lagi – biar semua orang tau kalau kalianlah yang pernah membantu kami“. Jangan tanya kehidupan sehari-hari keluarga besar tanah lahirku itu, mereka seringkali saling mentertawakan saat salah satu anggota keluarga menciptakan karya, “ah, mobil buatan lokal – bagus sih, tapi kualitasnya paling-paling bertahan satu dua tahun, hehe, harga jualnya pasti merosot, onderdilnya juga pasti mahal, mending beli yang pasti aja deh daripada beli mobil geje”. Dan sekarang selera humor mereka makin tinggi dengan banyaknya tayangan komedi di TV tiap harinya yang dibiayai sponsor dengan nilai sangat mahal, yang mungkin biaya acara komedi itu cukup untuk menyumbang subsidi pendidikan tiap bulannya. Sarkasme, penghinaan harkat, rasisme, pelecehan HAM, sudah menjadi sebuah kewajaran jika dilakukan saat sedang melucu, karena keluarga besar tanah lahirku sudah paham benar dengan apa itu harga diri, beda denganku – aku masih menganggap itu sebagai hal yang tabu. Tapi bagimu yang berprofesi sebagai guru, jangan sesekali melontarkan kata-kata berbau sarkasme, rasis, dsj saat mengajari putra-putri keluarga besar tanah lahirku, sekalipun kau hanya berniat melucu – menghilangkan kejenuhan dalam kelas, kau akan segera dituduh melecehkan HAM dan kau akan dilaporkan pada pihak berwajib.
Bagaimana denganku? Aku belum tahu apapun tentang humor dan harga diri. Aku memilih menjadi seperti ikan mati – mengikuti arus air. Kalau keluarga besar tanah lahirku tertawa, aku ikut tertawa, kalau mereka marah, aku juga ikut marah. Kalau kapal tetangga tanpa ijin masuk wilayah tanah lahirku, aku ikut merasa marah dan geram karena aku lihat keluargaku juga demikian. Kalau tarian, musik, ataupun wayang warisan mbahku diklaim tetanggaku sebagai miliknya, keluarga besar tanah lahirku sudah pasti marah besar, dan aku juga ikut marah besar, meskipun aku sendiri tidak tahu tarian apa itu, musik apa itu, apa sih wayang, lah wong aku lebih suka yang dari kebarat-baratan biar dianggap modern kok – tapi gak apa lah, yang penting ikut marah biar gak dituduh sebagai penghianat bangsa.
Kadang aku juga bingung dengan keluarga besar tanah lahirku itu. kalau hal-hal yang menurutku jarang mereka gunakan dalam keseharian diklaim tetangga, mereka marah besar. Tapi, kalau hal-hal mendasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari dikuasai tetangga, mereka justru mendukung. Dan aku pun juga ikut mendukung, selain karena ikut-ikutan, mungkin juga karena aku suka kebarat-baratan yang modern itu. Kalau disuruh milih, aku lebih suka belanja di supermarket modern yang kebanyakan milik tetanggaku itu daripada belanja di pasar tradisional milik keluargaku sendiri, lah keluarga besar tanah lahirku sendiri juga suka belanja di sana. Melihat sikap keluarga besar tanah lahirku seperti demikian, aku menjadi lebih tidak paham lagi dan bahkan sudah lupa pesan mbah-mbahku agar aku mencari tahu arti kata harga diri yang dimaksudkan mbah-mbahku dulu. Maaf, mbah – aku bosan mengingat cerita heroikmu berjuang mati-matian demi harga diri. Aku lebih tertarik mencari arti kata humor di google daripada menelusuri lembaran kamus untuk mencari arti kata harga diri. Maaf, mbah.

Pengarang Cerita: Rizky akbar
 

Rahwana dan Shinta

Senin, 06 Januari 2014 | komentar

Dibalik keindahan dari senyumnya, menyimpan airmata yang mampu membasahi hati ini. Tak dapat dan mungkin tak pernah aku lupakan apa yang telah aku lihat hari ini. Cinta yang amat mendalam, batin yang meronta karena gelisah, pengendalian diri yang kuat namun seringkali rapuh, dahaga akan kasih sayang, kehilangan sosok yang menjadi tauladan, rindu, sepi, bimbang, keputusasaan dan harapan dari sebuah ketabahan dan kesabaran. Harapan itulah yang menjadikannya bertahan dalam sebuah senyum yang indah.

Hanyalah harapan yang mampu mewarnai kelamnya hati, harapannya itu adalah menanti hadirnya sang mentari yang mampu membawa hangatnya cahaya yang sinarnya menerangi segala kegelapan hati yang diderita selama ini. Entah kapan mentari itu akan mendatanginya, setitik cahaya pun tak melintas dari pandangannya, belum ataukah takkan pernah datang lagi?

Sidik: kau melihatnya?
Mas: ya.. bahkan aku merasakan pedih dari senyumnya itu
Sidik: lagi-lagi seorang shinta datang terhadap Rahwana ini
Mas: he..he..he.. shinta bukan diculik malah ia datang sendiri menemui Rahwananya. Hanya satu yang sama yaitu ia terpisah dari sang Rama yang sangat ia cintai. Jarak benar-benar telah memisahkan bathin mereka, ditambah kesibukan sang Rama dalam tugasnya mengakibatkan terputusnya komunikasi yang merupakan satu-satunya media yang menjadi harapan cinta mereka agar tetap tumbuh mekar hingga masa pemetikan
Sidik: pemetikan..?
Mas: menikah maksudku…!!
Sidik: Rahwana ini akan mencoba berusaha membantu Shinta meski hal itu sulit, menjaga senyum dan tawanya agar tetap berusaha bertahan dalam menaruh harapan terhadap cintanya tersebut. Meski dalam kebimbangan dan rasa keputusasaan yang tinggi, dan mencoba mengakhiri segalanya dengan mengambil jalan pintas berupa sebuah pengkhianatan.
Mas: Shinta kali ini benar-benar dalam keadaan rapuh, bahkan ia pun menganggap ujian-ujian Allah seolah sebuah hukuman atau kutukan. Padahal sesungguhnya ujian adalah salah satu media Allah dalam mendekati para hambaNya yang menyimpan harta paling mulia berupa kesabaran.
Sidik: Innallaaha ma’ash-shobirin… sesungguhnya Allah beserta dengan orang-orang yang sabar. Hanya saja untuk seumur dia memang hal ini sungguh berat, tapi aku yakin ia mampu menghadapinya, suatu hari nanti ia akan menyadari kebaikan-kebaikan Allah terhadapnya, akan ada hikmah dari segala ujian yang ia hadapi kini. Sekarang memang amat terasa perih, sakit dan amat pahit, tapi nanti akan ada khasiat dari semua rasa itu.
Mas: Mudahan Allah memberikan Hidayah kepadanya, karena hanya Hidayah Allah yang mampu mempertebal keimanannya tsb.
Sidik: semoga juga Allah ridho dari segala keikhlasannya tersebut…



Meski sang Rama telah permanen menjadi pujaan hati, tapi Shinta tak menutup hati kepada para Arjuna yang terpesona dengan kecantikan dan keindahan Inner Beauty yang ia miliki. Rahwana pun memaklumi dengan segala pilihannya tersebut, karena ia tahu dan mengerti betapa sepinya hati Shinta tersebut. Sungguh naif, tapi bagiku itu adalah suatu kelebihan yang dianugrahkan kepadanya. Jauh lebih baik ketimbang hanya menanti hal yang sama sekali tidak pasti bahkan cenderung meragukan. Bila kesetiaan membuat batin tersiksa, mengapa harus bertahan… terkadang seringkali orang menilai hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan, tapi padahal bukan… itu adalah langkah yang bijak dalam menghadapi seseorang yang tidak berani memberi sebuah kepastian yang menguatkan hati.

Rahwana: apa mereka semua tahu kalau kamu telah memiliki pacar?
Shinta: tahu kak… tapi mereka tidak memperdulikan hal itu. Bahkan mereka bilang, selagi janur kuning belum melengkung mereka punya hak mendekati adikmu ini
Rahwana: baguslah… sebab tak ada manusia yang sudi dibohongi
Shinta: iya sih… lagi pula aku tak tega menolak segala kebaikan yang mereka berikan ke kepadaku. Aku tahu bagaimana sakitnya ditolak orang yang kita sayangi, maka dari itu aku menerimanya
Rahwana: salah juga kalau semua cinta mereka kamu terima
Shinta: tidak begitu juga kali kak… aku tak pernah menjawab ya dari segala pengutaraan mereka. Aku hanya menjawab… “kita jalani aja dulu…”
Rahwana: meski itu bukan pintu peluang kamu menerima cinta mereka, tapi secara tidak langsung kamu telah membuka gerbang kepada mereka yang telah membawa harapan besar terhadapmu
Shinta: iya juga sih kak… tapi mau gimana lagi, sejujurnya aku juga menyukai mereka seperti mereka menyukaiku, bila ditanya cinta… rasa itu pun ada walau tak sebesar cintaku terhadap Rama. Lagipula aku tidak tahu apakah Rama benar-benar setia terhadapku, aku yakin disana banyak wanita yang mungkin lebih cantik dari aku yang akan menyukainya.
Rahwana: itukah alasanmu mengkhianatinya? jika memang ia meragukan, mengapa tidak putus saja…?!
Shinta: dia tidak mau memutuskan hubungan kami kak, sering kali aku minta putus tapi ia tidak mau putus denganku kak. Mendengar hal itu aku juga tidak sampai hati kak memaksanya. Meski hati ini seringkali dibuatnya sebel, tapi tetap saja perasaan ini luluh acapkali mendengar pendiriannya tersebut. Haaahhmm… Bingung kak. Kakak ada saran?
Rahwana: yaaahhh… mau bagaimana lagi dek. Jalani aja dulu semuanya, biarlah waktu yang menentukannya… menurut kakak kamu telah cukup bijak menghadapi sang Rama dan para Arjunamu itu. Yang penting jagalah selau kejujuran hatimu setiap kali menghadapi mereka, jujur dalam artian bersikap baik dan tetap ramah. Sekalipun nanti datang konflik, tetaplah tenang menghadapinya. Satu hal dek yang mesti kamu camkan, apapun yang telah kamu putuskan hari ini akan menentukan masa depanmu, begitu pula dengan pilihanmu. Jangan pernah menyesali kedua-duanya di kemudian hari
Shinta: aku jadi takut kak mendengarnya… aku mendengarnya seperti bukan sebuah saran tapi seperti sebuah ancaman. apa tidak ada kalimat lain yang lebih enak didengar?
Rahwana: yaaa… kakak hanya bisa memberi saran seperti itu. Jangan hanya berguru kepada satu saran saja, banyak orang di sekitarmu yang lebih pandai lagi dari kakak.
Shinta: iya sih… tapi aku hanya lebih percaya ke kakak ketimbang orang lain. Lagipula ini adalah masalah pribadiku yang tidak boleh sembarang orang mengetahuinya.
Rahwana: kenapa pilih kakak? padahal kan kita belum lama saling kenal…
Shinta: gak tau juga sih kak kenapa?… perasaan aku mengatakan, kakak seperti pohon besar yang ada di tengah gurun pasir. meski tak bertemu air, tapi rasa dahaga ini hilang hanya dengan menyandarkan segala penatku ke kakak. Jujur, Aku belum pernah bertemu dengan orang semacam kakak sebelumnya. Satu-satunya orang yang tak mengharapkan apa-apa dari segala permintaanku.
Rahwana: siapa bilang tak mengharapkan apa-apa, satu jam curhat bayar sepuluh ribu tauuu…!!!
Shinta: iiiish, kakak ini… orang lagi serius!!!
Rahwana: iya dech… gratis-gratis…
Shinta: iihhh… sebel deh sama kakak..!!!
Rahwana: Huaaahahaha…ha…hah!!

Lebih kurang seperti itulah sekilas kisah Rahwana dan Shinta versiku, terkadang menjadi tokoh antagonis tidak mesti harus selalu berbuat jahat apalagi sampai menggunakan kekerasan. Jika sang Rahwana bisa mencintai seorang Shinta dengan tulus, mengapa harus memilih jalan yang lebih sulit ditempuh, bahkan sampai harus kehilangan nyawa demi sebuah nafsu. Rahwana dan Shinta takkan bisa bersatu dalam sebuah percintaan, namun mereka hanya bisa menyatukan rasa kasih dan sayang mereka dalam sebuah persahabatan ataupun dalam sebuah ikatan persaudaraan. Tentu kisahnya akan lebih menarik dan hiduppun akan terasa lebih indah. Memang tidak enak rasanya jika kita tak dapat memiliki cinta kita, akan lebih merana lagi jika kita sama sekali tak dapat menyatukan hati kita terhadap orang yang kita cintai. Aku berharap, istriku tidak salah paham membaca cerita ini… bagiku, istri adalah satu-satunya wanita yang aku cintai sepenuh hati, dan aku bukanlah tipe orang yang mudah berkhianat, tapi yaaahhh… aku memang orangnya suka berbagi / sharing. Berbagi dalam hal kebaikan, bukan hal yang lain… di usiaku yang ke Duapuluh Delapan ini, aku masih tetap belajar, bagaimana harus bersikap bijak dalam menghadapi segala macam problema yang ada.

Pengarang Cerita: Muhamad Ali Sidig Maulana
 

Pandhebhe

| komentar

Di antara dedaunan yang satu per satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba, membiarkannya jatuh bergelut abu lalu terinjak oleh kaki-kaki yang sengaja dipijakkan ke bumi, menjadikannya miniatur kehidupan yang hanya bergantung pada usia dan waktu. Terkadang berteriak penuh kuasa, lalu menangis kemiskinan dengan rintihan tanpa suara, dan terkadang menepuk-nepuk dada bangga lalu cemas dan berharap tanpa ada daya, semuanya terjadi begitu saja sealur dan sejalan dengan takdir Tuhan yang telah tertitahkan lewat setiap denyut nadi nafas kehidupan.

Pada secarik nafas kehidupan, lelaki parobaya itu berdiri di tengah kebimbangan yang sangat. Mereka-reka kembali memoar nestapa yang tanpa henti lalu-lalang dalam kehidupannya. Tanpa henti ia panjatkan doa agar diberi ketabahan atas semua cobaan yang ia derita.

Kiai Syamsul, begitulah lelaki parobaya itu biasa dipanggil. Seorang lelaki yang lebih dari cukup dalam harta untuk membiayai seorang isteri dan empat anak yang ia tanggung, juga seorang lelaki parobaya yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat yang sangat berpegang teguh dan tidak bergeming sedetik pun dalam memegang teguh agama Islam, juga seorang muballigh kondang yang tenar berkat ceramah-ceramahnya yang sarat dengan kontroversi.

Namun, kini ia tertunduk lesu di ruang tunggu pasien salah satu rumah sakit terkemuka dengan perasaan cemas dan harap. Menutupi wajah yang penuh bimbang dengan kedua tangan sembari bermunajat di antara dinginnya angin malam, juga gemerisik guyuran hujan yang sedari tadi terus menerus Tuhan hujamkan ke bumi. Ia bermunajat demi kesembuhan puteri bungsunya dengan doa yang tak bisa terjamah oleh rangkaian kata-kata abstrak.

Adalah Safitri, satu-satunya wanita di antara tiga saudaranya yang lain, Syafiq, Salman, Taufiqurrahman. Selain itu, Safitri juga merupakan satu-satunya keluarga kiai Syamsul yang mengidap penyakit liver, hingga tak jarang puteri bungsu kiai Syamsul itu dirujuk ke Puskesmas di desa, bahkan terkadang ke rumah sakit terkemuka di kota. Tak tanggung-tanggung demi kesembuhan puterinya, kiai Syamsul mempertaruhkan seluruh harta keluarga tanpa tersisa, semua ia pertaruhkan demi kesembuhan puteri bungsunya.

Sebagai seorang tokoh masyarakat, kiai Syamsul sangat berpegang teguh pada agama Islam yang selama ini ia anut dengan tanpa ragu sedikit pun pada apa yang telah menjadi keyakinannya. Tapi kini, setelah ia ditimpa musibah dengan puteri bungsunya yang selalu dirujuk ke rumah sakit yang tentunya dengan biaya yang tak murah, ia mulai ragu antara percaya dan tidak pada budaya pandawa. Salah satu dari sekian banyak budaya di Madura berupa upacara sakral yang bertujuan untuk mengusir kesialan dari salah satu saudara kandung yang ganjil, baik dalam segi jumlah maupun jenis kelamin, sebab akan menghabiskan harta keluarganya dengan cara apa pun, seperti halnya Batara kala dalam historis Pandawa.

Masih jelas terlintas dalam ingatan kiai Syamsul seperti halnya putaran video yang setiap saat bisa ia putar. Ketika ia berceramah pada seluruh penduduk desa tentang kebanyakan budaya Madura yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tanpa henti kiai Syamsul menghimbau kepada seluruh penduduk desa untuk meninggalkan tradisi-tradisi dan budaya yang bertentangan dengan agama Islam, misalkan pelet kandung, rokat tase’ dan pandhawa.
“Bapak… Ibu…, semua orang pasti mengalami cobaan, tantangan, musibah, bahkan mati. Hal itu merupakan sunnatullah yang mutlak terjadi dalam dinamika kehidupan kita ini. Allah tidak memandang orang yang akan diberi cobaan itu anak tunggal, saudara ganjil atau yang lainnya, hanya saja kadar cobaan tersebut yang berbeda, tetapi pastilah ujian yang diberikan Allah tidak akan lebih dari batas kemampuan manusia. Maka sekali lagi ujian datang kepada manusia semata-mata bukan memandang jenis kelamin atau posisi di antara saudaranya yang lain, tetapi ketika sampai saatnya Allah memberikan cobaan pada orang yang memang Ia kehendaki, maka cobaan yang berupa sakit jalan keluarnya tentu dengan obat bukan dengan sesembahan-sesembahan sesajen yang sarat akan kekufuran. Dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 48 Allah berfirman inna Allaha la yaghfiru an yusyroka bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’, waman yusyrik billahi faqad iftaro itsman ‘adhima, yang artinya “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tetapi Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang dikehendakinya, dan barang siapa yang mempersekutukan Allah/syirik pada Allah, maka sunggu ia telah berbuat dosa besar. Maka dari itu Bapak-Ibu sekalian, marilah kita bersama-sama bertaqwa pada Allah dan janganlah lagi kita percaya pada hal-hal yang dapat memusyrikkan Allah.”
Begitulah segelintir ceramah kiai Syamsul yang mengkritik habis-habisan tentang Pandawa, namun, setelah semua cobaan ini terjadi padanya ia mulai ragu akan kesugestian Pandawa.

Berawal dari putri bungsunya yang saat itu masih nyantri di salah satu pondok pesantren di kota, selalu mengeluh sebab penyakit yang saat itu dideritanya. Meski telah beberapa kali dirujuk ke rumah sakit, penyakit itu tetap saja kambuh menggerogoti jiwa putrinya yang kian layu. Hingga di siang itu, ketika kediaman kiai Syamsul gaduh sebab putrinya yang tiba-tiba mengerang kesakitan sebab penyakit liver yang dideritanya kambuh dengan kesakitan yang sangat.



Kiai Syamsul tertuduk lesu, merenungi sketsa cobaan yang Tuhan takdirkan untuknya, seperti halnya guyuran hujan yang sejak sore tadi menghiasi angkasa. Dengan tubuh lunglai, ia duduk tak berdaya di ruang tunggu pasien dengan penuh tanda tanya yang selalu terlintas dalam benaknya. Sejenak ia tengadahkan wajah untuk sekedar melihat wajah isteri dan ketiga anaknya yang juga mencerminkan hal yang sama, cemas dan harap.
“Bagaimana ini, Pak? Sudah sekian kali Safitri masuk rumah sakit, tapi sampai sekarang tetap tak menuai hasil,” Nyai Mahmudah, istri Kiai Syamsul bertanya dengan penuh kebingungan.
“Bapak juga tidak tau, Bu. Semua harta kita telah terkuras habis demi kesembuhannya yang tak kunjung menuai hasil,” kiai Syamsul menjawab.
“Mungkin kita harus melakukan Pandawa Pak, agar semua ini cepat berakhir,” kata Syafiq
“Betul pak…” ucap Salman dan Taufiq. “Lagi pula masyarakat menyayangkan sikap kita karena tidak melaksanakan Pandawa, mereka kasihan pada Safitri, Pak,” Taufiq menambahkan.
“Diam kamu semua! Pandawa itu syirik, karena meminta kesembuhan pada selain Allah,” ucap kiai Syamsul dengan raut muka merah padam, menandakan amarah yang sangat.
“Sudah Pak, sudah,” isterinya menenangkan.

Kiai Syamsul terdiam sejenak, dalam batinnya terpatri tanya tak terjawabkan. Ia lalu tundukkan kepala, mengenang kembali empat bulan lalu, saat tetangganya, Marni, melakukan ritual Pandawa bagi salah satu anaknya yang ganjil karena sangat nakal dan selalu menghambur-hamburkan harta keluarganya. Dalam prosesi itu sesaji yang harus disediakan antara lain dua puluh tujuh macam ketupat, kue serabi yang diapit dengan bambu raut, pohon pisang berbuah yang tingginya sama dengan anak yang akan di-Pandawa-i, tak lupa, anak tersebut dipakaikan tutup kepala yang terbuat dari anyaman daun siwalan dan diikat di kedua tangannya, ibarat temuan yang harus ditebus dengan rupiah oleh wali anak pada seorang tokoh pemimpin ritual tersebut. Tak lama dari prosesi itu, Dodi, anak Marni yang biasanya hanya menghambur-hamburkan harta keluarganya, ia mulai berubah, menjadi anak yang hemat lagi dermawan.

“Bagaimana ini Pak? Apa mungkin kita melakukan Pandawa?” Nyai Mahmudah bertanya halus.
“Bapak tidak tahu juga Bu, Bapak sekarang lagi bingung, mungkinkah Bapak menelan kembali ludah yang terlanjur jatuh ke tanah?”
“Kalau begitu, mungkin kita harus melaksanakan ritul lain yang tujuannya sama dengan Pandawa, tapi tata caranya sesuai dengan ajaran Islam, Pak,” isterinya menyarankan.
Kiai Syamsul sejenak menundukkan kepala menenangkan diri, lalu dengan penuh kepasrahan, ia bermunajat pada Tuhan, memasrahkan urusan jiwa dan raga pada sang pemilik kehidupan. Pertanyaan-pertanyaa yang sedari tadi terpatri dalam benaknya, ia munajatkan pada Tuhan, hingga akhirnya timbullah satu ide dalam pikirannya.
“Baiklah, Bu, kita bacakan shalawat burdah saja untuk Fitri. Karena selain tujuannya sama dengan Pandawa, shalawat burdah juga merupakan salah satu budaya yang tidak bertentangan dengan Islam,” ucap kiai Syamsul sumringah.
“Ia betul Pak, kita bacakan shalawat burdah saja”



Angin berhembus sepoi membelai dedaunan, burung-burung bernyanyi riang di antara ranting cabang pepohonan, seakan tanpa henti menucapkan tahmid, takbir dan tahlil pada sang hiang kehidupan. Sunrise baru saja pergi meninggalkan kenangan tak terlupakan lewat goresan jingga yang kini memudar berganti kehangatan mentari yang tanpa bosan menghangati alam raya ini.

Tepat di teras rumahnya, kiai Syamsul sumringah sambil menatap lekat-lekat pada mentari yang kian meninggi, mendesah panjang sejenak lalu berucap Alhamdulillah dengan penuh kemantapan, sebab hidayah indah Tuhan yang dianugerahkan padanya bagai oase bagi jiwa yang kehausan di tengah padang pasir yang luas. Di samping kiai Syamsul, berjejer Salman, Syafiq, dan Taufiq yang juga sumringah dalam menyambut satu persatu masyarakat yang mulai berdatangan untuk membacakan shalawat burdah bagi Safitri.

Perlahan beranda kediaman kiai Syamsul mulai sesak oleh masyarakat yang terus saja berdatangan. Tak lupa, satu persatu hidangan disajikan untuk kemudian disantap dengan lahap oleh warga desa. Sebagian dari mereka ada yang tengah asyik bernostalgia tentang masa lalu, sambil menikmati hidangan yang disediakan, sedang sebagian yang lain menghisap rokok sembari menyeruput teh yang telah dihidangkan dengan mantap. Sejenak kemudian kiai Syamsul membuka acara, “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Terima kasih banyak pada bapak-bapak sekalian yang sudi hadir pada kesempatan kali ini. Sebelumnya saja selaku tuan rumah, mengucapkan banyak kata maaf karena mungkin ada kekurangan baik itu dari segi sambutan kami, hidangan atau lain sebagainya yang kurang berkenan di hati bapak-bapak sekalian, kami mohon maaf, karena hanya itulah kemampuan kami. Tujuan saja mengundang bapak-bapak sekalian adalah untuk membacakan shalawat burdah bagi anak saya, Safitri, yang kini tengah sakit, dengan berharap dan memohon kepada Allah swt. untuk kesembuannya ini. Sebenarnya hal ini tdiak lazim di desa kita, tidak seperti halnya Pandawa, tapi alangkah lebih baiknya jika kita menggunakan cara yang lebih berbau Islam ini sebagai perantara munajat kita kepada Allah swt. Untuk lebih cepatnya mari kita mulai saja, Bapak-Bapak,” pinta kiai Syamsul.

Di luar kediaman kiai Syamsul, burung-burung beterbangan menghiasi angkasa, mengepakkan sayap lebar-lebar lalu terbang menjulang tinggi seakan juga bermunajat lewat kepakan sayap. Sejenak kemudian terdengar serentak dari kediaman kiai Syamsul, suara measyarakat yang tengah membaca shalawat “Ya Arhamarrahimin, Ya Arhamarrahimin, Ya Arhamarrahimin, Farrij ‘Alal Muslimin”

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Keterangan :
1) Pandhebe/Pandawa, adalah salah satu budaya madura yang bertujuan untuk mengusir kesialan.
2) Pelet Kandung, adalah budaya madura yang berupa selamatan tujuh bulan bagi kandungan seorang perempuan
3) Rokat Tase’, adalah budaya madura yang berupa selamatan bagi laut
4) Shalawat Burdah, adalah Shalawat kepada nabi Muhammad saw. Yang bertujuan untuk memohon kesembuhan dari suatu penyakit.

*) penulis lepas asal Sumenep Madura, Mahasiswa INSTIK Annuqayah, serta penggiat di Komunitas Cinta Nulis PP. Annuqayah Lubangsa Selatan.

Pengarang Cerita: Fairuz Zakyal ‘Ibad
 

Menukik Paruh Sang Garuda

| komentar

Semburat mentari meliuk naik mengejar ombak yang datang berlarian menuju bibir pantai. Langit teduh kebiruan memayungi sang surya naik ke angkasa. Ingat sekali rasanya baru kemarin siang kami berangkat menuju tempat ini. Dan betapa lucunya mengingat dua malam yang lalu aku masih mempersiapkan ini-itu dan segala tetek bengeknya. Kini, aku akan tinggal dan menapaki hari-hari terakhir bersama teman-teman seperjuanganku dulu untuk mengukir kenangan bersama selama tiga hari kedepan.

Kutengok lagi, kulihat lagi pemandangan menakjubkan ini. Pasir putih selembut sutra dan seputih susu hanyut terbawa arus ombak yang memecah kesunyian. Sayup-sayup terdengar gema suara lembut gamelan di pura di sebelah sana itu, menyiratkan kedamaian dalam bersembahyang. Di tengah gemulai pemandangan itu terekam tiba-tiba…
“Anak-anak, ayo naik ke bus. Tujuan selanjutnya masih banyak,” katanya. I Gusti Agung Arya, pemandu kami. Semuanya berlari masuk, berebut tempat duduk yang sesuai. “Anak-anak, sebentar lagi kita akan menuju ke tujuan selanjutnya. Namun sebelum itu, kita akan menuju ke penginapan terlebih dahulu untuk makan pagi dan berganti pakaian,” katanya lagi.

Dengan cepat bus segera melaju, menyusuri jalan-jalan yang bersih. Di depan semua rumah terdapat sesaji-sesaji. Sesaji yang merupakan bentuk penghormatan terhadap ‘penghuni lain’ yang ‘berbeda’ dengan kita, begitu kata pemandu.

Akhirnya bus yang kunaiki sampai di penginapan. Semua orang keluar, menuju kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri menuju tempat selanjutnya.

Bangunan megah, terjebak dalam siluet taman dengan bunga yang sedang bermekaran. Berhiaskan patung para dewa sehingga menciptakan suasana sakral dan membuat orang segan untuk memasukinya. Istana? Bukan, itu adalah sebuah monumen. Sebuah bangunan yang meyimpan kenangan, sebagai saksi bisu perjuangan rakyat yang tak rela diperbudak oleh orang asing, berperang hingga puputan, sampai titik darah penghabisan.

Aku bersama sahabat terbaikku, Devika, menaiki tangga menuju ke dalam. “Bli, di dalam boleh berfoto?” tanyaku kepada dua orang pemandu.
“Boleh,” jawab mereka serempak. “Tapi, yang halangan tidak boleh masuk ke dalam,” kata salah seorang pemandu.
“Bagaimana Vic, berarti aku tidak bisa masuk? Ya sudah aku ke bus saja,” kata Devika.
“Ya sudah, kita berfoto di luar saja, tidak usah masuk,” Devika menyetujui. Akhirnya kami berfoto di luar karena Devika tidak diperbolehkan masuk.

Ya, perjalanan berlanjut menuju sebuah pantai. Debur ombak bergulung menaikkan papan-papan surfing para peselancar. Udara yang panas serta cuaca yang terik, menambah alasan mengapa semua orang ingin berjemur diri.
“Kamu nggak berenang?” tanya Adhit, teman sekelasku yang paling tidak bisa diam.
“Tidak, disini panas sekali,”
“Bukannya lebih segar jika berenang saat cuaca terik?”
“Tidak,” aku tidak mau berdebat lagi.

Kuputuskan untuk menyusuri jalan-jalan setapak untuk melihat-lihat. Aroma dupa dari setiap pura yang berada di setiap ujung jalan membuat daerah ini begitu istimewa. Pun patung-patung yang sangat menawan dan megah yang berada di setiap perempatan jalan-jalan besar, mengundang takjub dari siapapun yang menyaksikannya.

Kembali menuju penginapan. Mempersiapkan diri untuk menyaksikan lagi, keindahan-keindahan lain yang berada di sini satu persatu. Menciptakan memori untuk dikenang, di lain waktu.

Langit kebiruan menyusul sang mentari, perlahan datang naik menyinari bumi. Embun yang menguap, terusir oleh kehangatannya. Dinginnya udara di danau ini menjadi saksi, bagaimana kami semua menghabiskan masa-masa bersama yang terakhir dengan keseruan yang tercipta. Danau ini nampak masih alami, diselimuti kabut tebal dan suhu udara yang rendah. Kali ini aku bersama dengan Ilham dan Adhit, karena mereka adalah teman sebangku-ku di bus. Loh, Devika mana? Ia sedang tidak enak badan sehingga harus beristirahat di penginapan. Sayang sekali.

“Wih.. adem ya disini, kabutnya juga tebal,” kata Ilham.
“Kamu aja pakai jaket kedinginan, gimana kita coba?” kata Adhit dengan jengkel.
“Kan aku udah antisipasi. Jadi kalau ada cuaca yang ekstrem begini kan enak,”
“Yee.. iya deh, percaya. Aku bawa jaket sih Ham, tapi nggak takbawa,” kataku kepada Ilham.
“Ya udah, gimana kalo join?” kata Ilham sambil tertawa.
“Ih, ogah. Mending kabur ah..” Adhit pergi menuju teman-teman yang lain. Dan seperti biasa, ia selalu mengusili semua orang.
“Lha kamu Vic? Ahahaha,” Ilham kembali bertanya. Pertanyaan bodoh.
“Ogah juga,” jawabku sekenanya. “Eh, tolong foto-in dong,” pintaku kepada Ilham. Setelah beberapa kali jepretan foto, Ilham menyerahkan kamera kepadaku. “Terima kasih,” kataku lagi.
“Ih, narsis. Tapi sama-sama,”
“Biarin dong, kameranya siapa? Masalah?” kataku. “Ayo ke pinggir sana, gabung sama anak-anak,” ajakku kepada Ilham.

Aku dan Ilham segera menuju ke pinggir danau. Sialnya, hujan turun. Titik-titik hujan makin lama makin membesar. Kuputuskan untuk berteduh. Titik-titik air jatuh melewati genting, membasahi patung-patung raseksa yang berjajar, menciptakan harmoni dalam aksara nada-nada rintik. Sang bayu terus berhembus membawa tetes air yang berevaporasi menciptakan kelembapan di sekitarnya.

Seorang gadis kecil membawa payungnya, menawarkan padaku jasa ojek payungnya.
“Ojek payung, kak?” tanya-nya menawarkan. Daripada kebasahan, segera saja aku mengangguk dan memakai payungnya menuju bus yang diparkir di atas. Sedangkan Ilham dan Adhit terlebih dahulu menuju ke bus saat hujan mulai turun tadi. Saat aku sudah berada di bus, hujan reda. Namun aku malas untuk turun lagi. Akhirnya aku menunggu di bus hingga bus berangkat ke tujuan selanjutnya.

Dari dinginnya alam pegunungan, aku berpindah menuju potret dataran rendah dengan keindahan yang begitu menakjubkan, hasil karya pemanfaatan manusia terhadap alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Sebuah panorama pantai berarus deras dengan batu karang serta pura yang berdiri kokoh diatasnya. Tebing-tebing curam yang membalut setiap sudut menjadi tameng akan keindahan buatan mausia di atasnya.
“Vic, sekarang gantian, aku yang kamu foto-in ya,” kata Ilham kepadaku.
“Tadi bilang aku narsis, sekarang eh malah dia-nya minta foto juga,”
“Biarin lah, biar impas,” Ilham menyeringai. Dasar.
“Yaudah, gantian ya, hehe” kataku kepadanya. “Ayo kita naik, di atas pasti lebih bagus,” ajakku. Dan benar, sekitar delapan buah bangunan pura berada dalam satu komplek. Sungguh kajaiban yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk membangunnya. Kesibukan menyelimuti salah satu pura yang terbesar. Umbul-umbul yang terbuat dari janur melekuk diterpa kerasnya angin. Sesaji kembang, dupa dan yang lainnya menyebarkan aroma penuh misteri dengan segala kemagisannya.
“Wah wah wah, ada apa ini, rame banget? Lah itu…” Adhit tiba-tiba datang dari belakang mengagetkanku. Ia juga menunjuk kepada suatu benda yang tergeletak di pojok bale.
“Iya, mungkin ada yang meninggal,” jawabku dan Ilham secara bersamaan. Sebuah peti mati, berwarna keperakan dan terukir motif-motif khas menandakan upacara kematian akan diadakan. Sayang, waktunya bagiku untuk meninggalkan tempat ini, tempat yang menakjubkan dan menuju ke tempat selanjutnya.
“Anak-anak, silakan lihat ke arah kiri kalian. Itu adalah sebuah jalan tol pertama yang dibangun di atas air atau laut. Rencananya jalan tol ini akan diresmikan sebelum pelaksanaan APEC,” jelas pemandu kepada kami semua.

Pemandangan di tol itu sangat indah, namun bus kami belum boleh melintasinya karena tol tersebut belum diresmikan. Selama dua jam aku hanya menunggu dan menunggu bus ini memberhentikanku, menuju suatu tempat, yang aku yakin tidak kalah menarik dari sebelumnya.

Tebing menjulang tinggi, mencabik-cabik kaki langit senja. Bebatuan kapur menyusun rapat dinding-dinding kokoh tempat Dewa Wisnu turun ke bumi. Bayang-bayang paruh Garuda tunggangan Dewa Wisnu memayungi tanah berbukit, seakan memberikan ketentraman pada sekitarnya. Patung yang sangat megah. Terkonstruksi dari logam berwarna hijau lumut membuat patung setengah badan Dewa Wisnu tampak gagah. Ditambah dengan patung kepala dari Garuda, burung tunggangan Dewa Wisnu. Tak beberapa lama, seluruh orang dipersilakan menyaksikan tari di dalam panggung pementasan.
“Ayo cepat, nanti terlambat,” kata Adhit tergesa-gesa.
“Orang masih lima menit lagi juga Dhit,” kata Ilham membantah.
“Emangnya ke sana nggak jalan, langsung sampai?”
“Sudah-sudah, bagaimana mau sampai kalau kalian berantem terus? Ayo ah, cepat ke sana,” kataku menengahi. Jika mereka tetap berantem, bukannya sampai, malah kami tidak dapat menyaksikan tari tersebut.

Pementasan tari dimulai. Sang Dewi Sinta yang sangat cantik membuat Dasamuka menculik Dewi Sinta. Dasamuka mengadakan pesta karena berhasil menculik Dewi Sinta.
“Wow.. keren sekali ya,” kataku kepada Ilham dan Adhit.
“Iya, eh itu penarinya mengajak penonton menari, itu,” kata Adhit. “Ayo maju ke sana, sekalian ikut menari dengan penari cantik, hehe,” katanya usil. Dasar Adhit, ada-ada saja.
“Nggak mau, malu lah Dhit,” kata Ilham.
“Huu.. dasar. Bilang saja kamu takut,” kata Adhit. Ilham hanya cemberut.

Pertunjukan telah usai setelah sang Rama membebaskan Sinta dari Dasamuka. Dengan begitu usai juga keseruanku bersama teman-temanku. Di ufuk barat terlihat garis merah terbenamnya matahari, menyinari padang bebatuan menambah kelam bukit dengan dinding-dinding bebatuan kapur tersebut. Matahari semakin rendah, hingga akhirnya terbenam sepenuhnya ditelan kegelapan malam.

Tiga hari bersama semua teman dan sahabat, seperti halnya dua malam lalu. Bukan hanya tentang segerombol anak manusia, bukan tentang pencapaian tiada pertanda. Bukan tentang keindahan dan potret alam yang membahana, membentuk siluet bumi pertiwi yang menampakkan permata berharganya; namun mengukir kenangan bersama yang tersimpan selamanya, terangkum dalam satu cerita.

Pengarang Cerita: Vicky Adam Ubaid Akram
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami