Tulisan Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengalaman Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengalaman Pribadi. Tampilkan semua postingan

Nostalgia 17 Agustus

Jumat, 17 Januari 2014 | komentar

Pagi ini langit begitu cerah mendukung suasana hari. Ya, hari ini 17 Agustus 2013 hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 tahun. Terlihat banyak anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak semua berkumpul di depan mushola Al-Hidayah. Kebetulan disana ada tanah cukup luas. Dengan penuh antusias mereka ikut serta memeriahkan acara tujuh belasan yang diadakan oleh pak RT Eri.
Dengan semangat penuh anak-anak kecil mengikuti lomba-lomba. Melihat mereka, aku jadi teringat waktu aku seusia mereka. Ya sekitar 9 – 11 tahun lah. Saat itu aku bersama teman-temanku. Ada Elsa, Tri, aku dan lainnya, berada di tempat itu di depan mushola Al-Hidayah.
“Kiki ikutan lomba joget balon yuk” ajak Tri kepadaku.
“ayuk” aku mengiyakannya.
Aku dan Tri mengikuti lomba joget balon. Tapi belum berapa lama lomba joget balon dimulai balon ku terbang. Haha.. Gugurlah kami.
Kami juga mengikuti lomba-lomba yang lain seperti lomba makan kerupuk, masukkin benang ke jarum, lomba kelereng dan lainnya. Tapi sayangnya aku gak menang. Yah itulah kompetisi ada yang menang dan kalah.
Saat ini usiaku hampir 18 tahun sementara temanku 19 – 20 tahun. Aku memang paling kecil di antara mereka dan aku merindukan masa-masa itu.
Sekarang mereka berubah. Sibuk dan melupakan masa kecil kami. Saat ini teman kecilku hanya tersisa 1 yaitu Tri. Ya walaupun dia sibuk tapi dia masih memingatku dan masa kecil kami. Kami masih suka main walaupun jarang. Kami juga suka bernostalgia tentang masa kecil kami. Tapi itu akan lebih menyenangkan bila kita berkumpul seperti dulu bersama bernostalgia.
THE END
Penulis Cerita: Nurhikmah Hakiki
 

Sahabat Kecilku

| komentar

Dulu waktu masih aku SD dan SMP aku mempunyai 4 orang sahabat yang selalu setia bersamaku. Mereka adalah teman dari kecilku mereka adalah Hairil, Hasby, Jafar dan Untung.
Pernah suatu saat di sekolah waktu kami sudah SMP, salah seorang temanku ribut di dalam kelas dan saat itu aku (Jhumar) yang bertindak sebagai ketua kelas memberitahu kepada temanku, dan kataku pada mereka “Bro jangan kamu terlalu ribut nanti kita dimarahi sama pak guru” Tapi anehnya malahan dia tambah ribut mungkin dia sengaja kasi emosi saya, pikiranku seperti itu sama mereka. Tapi saya tidak ambil hati karena saya berpikir mereka adalah teman dekatku.
Setelah saya sudah cape kasi tau mereka, saya keluar tinggalkan mereka di dalam kelas tapi malahan mereka ikut juga bersama saya tinggalkan kelas. Berapa jam kemudian salah seorang temanku cewek melaporkan kami yang keluar tinggalkan ruangan kelas dan akhirnya kami dipnggil menghadap kantor. Setelah kami sampai di kantor ternyata kami dihukum sama bu guru, dan setelah keluar dari kantor temanku tertawa lantaran mereka yang berbuat salah saya (Jhumar) yang kena batunya, tapi tak apalah mereka kan temanku, kataku dalam hati. Beberapa tahun kami bersama menghabiskan waktu yang tak akan pernah terlupakan sejak dari SD – SMP akhirnya kami berpisah lantaran kami melanjutkan sekolah kami di jenjang SMA.
Setelah kami berpisah aku dan temanku tidak bisa lagi berkomunikasi lantaran waktu dan jarak yang memisahkan kami. Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa di antara temanku ada yang putus sekolah mereka adalah Jafar dan Hasbi, katanya sih lantaran pergaulan disana. Kini tinggalah aku (Jhumar), Hairil dan Untung yang masih bertahan tapi sayangnya kami berbeda tempat dan aku juga tidak tau kabar temanku yang dua orang ini bagaimana sekarang.
Beberapa tahun kemudian barulah aku mendengar kabar mereka tapi di antara temanku ini ternyata satu temanku tersiksa di tempat tinggalnya dan dia sempat cerita sama saya kalau dia tidak betah lagi tinggal di rumah itu, saya juga tidak tau apa alasannya, dan dia sempat mengeluarkan air mata, waktu dia bicara sama saya lewat hp, dan aku sarankan sama dia, kataku “memang gitu tinggal di rumah orang tidak ada enaknya dan kita anggap saja sebagai cobaan”.
Beberapa bulan kemudian dia kabur dari rumah tempat tinggalnya tanpa sepengetahuan yang punya rumah dan orang tuanya. setelah dia tau kabur dari rumah, bapaknya sempat mencarinya tetapi tidak ketemu ternyata selama ini temanku bersembunyi di masjid dan tidur disitu. Bapaknya pun tau kejadian itu dan Akhirnya bapaknya mengizinkan untuk pindah sekolah, akhirnya aku sempat bertemu dengan dia karena disaat itu saya juga berada di tempat dia sekolah dan dia bilang padaku “hhmmmpp lamanya baru bertemu sob sudah hampir dua tahun” Dia juga sempat bertanya “gimana kabar teman kita yang lain…?” saya menjawab “saya kurang tau juga sob”.
Setelah kami lulus dari SMA kami pulang di kampung halaman dan akhirnya kami berkumpul lagi seperti yang dulu lagi, kaya waktu SD dan SMP. Beberapa bulan lamanya kami disana kami melanjutkan pendidikan kami lagi yaitu Kuliah, dan akhirnya kami berpisah lagi tapi sayangnya yang jauh dari kami yaitu temanku yang namanya UNTUNG, itu lantaran keinginan orang tuanya yang dia turuti kuliah di negeri orang yang jauh, tapi saya besyukur masih bisa bersama temanku yang satu ini yaitu HAIRIL. Tapi aku masih bisa juga berkomunikasi dengan temanku yang jauh meskipun hanya lewat hp saja. Aku juga tak lupa sama temanku yang putus sekolah meskipun kami jarang berkomunikasi tapi kami selalu ingat mereka karena mereka adalah sahabat sejak kecilku…
Pesanku pada pembaca jangan sia-siakan SAHABAT mu karena sahabat lebih berharga daripada pacar, SAHABAT…! yang paling mengerti saat kita susah ataupun senang…
SEKIAN
Penulis Cerita: Jhumar Masadian
 

Kenangan Bersama Kuntring

| komentar

Aku termenung menatap foto sahabatku di laptop. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Hari dimana dia diwisuda sebagai seorang istri. Iis Setiawati namanya. Lahir pada tanggal 17 Januari 1991. Walaupun beda tanggal, kami lahir di hari, bulan dan tahun yang sama. Dia menikah dengan Hendra. Mereka pacaran cukup lama dari sejak SMA. Oh ya, perkenalkan namaku Zaenudin Bangun Setiawan. Waktu kecil panggilangku Bangun, namun beranjak remaja panggilanku menjadi Zae. Disadari atau tidak, nama belakang kami sama. Sama-sama berakhiran setia. Yang beda adalah imbuhan di belakang kata setia. Wan untuku dan Wati untuk Iis. Aku tak mengerti kenapa nama kami sama. Yang jelas bukan sebuah kebetulan karena dari kecil sampai sekarang aku dan Iis sudah seperti kakak adik.
Kami berdua termasuk pendek. Iis memiliki keunikan di rambutnya. Sebenarnya aku tak tega mengatakannya, jadi aku sebut rambut Iis itu bergelombang. Bukan gelombang yang biasa-biasa saja, tapi gelombang tsunami. Hehehe (sorry ya kuntring!!!). Dia kebalikan dari diriku. Aku pemalu mutlak tapi dia malu-maluin mutlak (lagi-lagi aku membullynya, marah gak ya kalau dia baca? hmmm). Percaya dirinya tingkat tinggi. Dia paling suka dengan semua yang berbau gitar. Kalau seandainya Hendra potong rambut terus di sebelah kiri-kanan kepalanya diukir gambar gitar, aku yakin dari cinta Iis yang bernilai 100 buat Hendra bisa meningkat menjadi 1000. Hahaha tong ngambek nya Hen! (jangan marah ya Hen!). Kelebihanya dibanding yang lain adalah kesetiaannya. Entah itu terhadap orang yang ia anggap sahabat ataupun pacarnya. Tapi jangan sekali-kali menyakiti dia. Kalau sudah benci, ya benci.
Cicariang, antara 1994-1995 (kisah masa kecil)
“Is, sasapedahan yuk (Is, main sepedah yuk)!”.
“Hayu, kamana (Ayo, kemana)?”.
“Ka pudunan deket Gorong-gorong (Ke turunan dekat Gorong-Gorong! Gorong-gorog = nama suatu tempat)!.”
“Hayu (Ayo)!”
Kami pun bergegas pergi main sepeda ke turunan yang dimaksud. Oh ya, sebenarnya kami baru belajar bermain sepedah. Aku mengajaknya ke tempat tersebut untuk menguji seberapa mahirkah kita sekarang.
“Siap Is?”
“Siap!”
“1, 2, 3…”
Kami pun meluncur. Aaaaaaaa… Dan… Buk. Kami berdua jatuh. Bibir Iis dan bibirku jeding (jeding = jontor) karena sebelum jatuh terantuk stang sepeda. Lutut Iis lecet.
“Awww….” Iis meringis.
“Nyeri Is. Tong ceurik nya (Sakit Is, jangan nangis ya)!”
“Urang mah sieun dicarekan ku Enek (Aku takut dimarahin Enek)!”
Enek adalah panggilan untuk Neneknya Iis. Orangnya cerewet, hobi berteriak. Ah pokoknya gak kalah sama Mpok Nori dari segi kualitas vokal. Tapi walau begitu Enek orangnya baik, buktinya Iis diurus sama beliau. Kalaupun Enek marah, itu tandanya Enek sayang. Dan hari itu pun kami pulang dengan sambutan suara vokal Enek yang melengking.
Ke esokan harinya aku dan Iis beserta anak-anak kecil lainya bermain babancakan (babancakan = permainan petak umpet dengan menggunakan genting atau batu yang disusun).
Cang kacang panjang anu panjang ucing….
“Icas ucing! (Icas jaga! ucing di sini diartikan penjaga. Ucing bisa juga artinya kucing. Tergantung kalimat yang digunakan).” Seru kami serempak. Satu persatu dari kami melempar batu untuk menjatuhkan tumpukan genting. Brak… Tumpukan genting rubuh. Semua anak berhamburan mencari tempat persembunyian yang paling aman. Sementara Icas sebelum mencari kawan-kawanya yang bersebunyi, ia terlebih dahulu harus menyusun genting sesuai jumlahnya semula. Aku dan Iis bersembunyi di bekas kandang domba milik Ua Udin.
“Bangun, yakin di dieu aman (Bangun, yakin di sini aman)?”
“Yakin!”
“Kok, di kandang domba sih? Bau!”
“Nu penting mah aman (Yang penting kan aman)!”
“Bancak Kiki, bancak Oman, bancak Bayu!” (bancak = kata-kata mutlak yang harus disebutan ketika orang yang menjadi penjaga menemukan temanya).
Rupa-rupanya satu persatu temanku dapat ditemukan. Tinggal kami berdua. Kalian tahu, bersembunyi di kandang domba adalah ide paling jenius. Buktinya, sampai saat ini aku dan Iis belum ditemukan. Walau sebenarnya bau sih! hahaha. Tapi yang penting kan aman.
“Ahhh…” Iis berteriak. Aku kaget, apa pula ini. Sudah bau-bau sembunyi di kandang domba malah teriak. Aku melirik padanya. Dia memegang tangananya.
“Kunaon Is (Kenapa Is)?”
“Lengeun Iis nyeri, tadi kacepet awi (Tangan Iis sakit, tadi kejepit bambu).”
“Bancak Iis, bancak Bangun.” Icas menemukan kami. Dia terlihat sumringah.
“Enggeusan heula Cas (Udahan dulu Cas)!”
“Licik maneh mah (licik kamu)!”
“Leungeun si Iis misalah, kacepet awi (Tangan si Iis terkilir, kejepit bambu)!”
Kami pun mengakhiri permainan. Tampak kekecewaan di wajah Icas. Apa boleh buat!!!
Tak ada satu pun teman yang mau mengantar Iis pulang. Tidak lain dan tidak bukan karena takut dimarahi Enek. Dan itu benar, aku yang mengantar Iis sendirian harus menikmati Enek yang sedang beratraksi dengan suaranya yang luar biasa. I Love You’r Voice Enek dan aku kangen.
Sejarah Asbo dan Kuntring…
Hari itu adalah pelajaran Matematika. Seperti biasa, Wali Kelas kami Pak Suhanda sedang asik menerangkan di depan kelas. Jujur, aku lebih suka di Wali Kelasi Bu Nining. Tapi sayang, Bu Nining hanya sebentar menjadi Wali Kelas karena dia hendak menjadi TKW ke Arab. Aku yang memang sedang malas belajar malah asik melihat lubang isi balpoin. Ku lihat dengan sepenuh hati dan jiwaku. Rasanya lubang itu lebih menarik dibanding perhitungan matematika di papan tulis. Dan… Plak. Satu kapur mendarat tepat di jidatku.
“Hei Asbo, nanaonan maneh? Lain mah merhatikeun pelajaran (Hei Asbo, ngapain kamu? Bukanya memperhatikan pelajara)!!”
Keningku berkerut. Namaku Bangun, sejak kapan berganti Asbo. Aku diam menunduk. Tak berani menjawab. Boro-boro menjawab, melihat wajahnya pun takut. Teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Memang, kesalahan kebanyakan orang Indonesia itu adalah menertawakan kesalahan orang lain. Ini bukan acara lawakan. Untung yang dapat nama baru hari itu bukan cuma aku. Ada satu sahabat baikku juga yang mendapat nama baru. Kadut, itulah nama baru Solihin. Gara-gara dia ketahuan mengantuk. Tapi tetap saja, nama Asbo lebih populer dibanding Kadut. Yang membuat populer tidak lain dan tidak bukan adalah Iis. Untuk mengimbangi kekejamanya, aku menambahkan nama baru di belakang nama Iis, yakni Kuntring. Iis Kuntring. Hahaha. Jangan tanya kenapa aku memanggilnya Kuntring, karena aku pun tidak pernah tahu kenapa. Yang jelas kata Kuntring melintas begitu saja. Dan aku rasa itu tidak kalah keren dengan Asbo. Kalian tahu, Asbo itu apa? Setelah aku tanyakan kepada sang pemberi nama baru, Asbo singkatan Asli Bodo. Kejamnya. Padahal dari kelas 4 sampai sekarang di kelas 5, aku masuk peringkat 5 besar. Jangan berfikir 5 besar dari bawah, ini asli.
Mendaki Gunung Burangrang…
Akhirnya sampai juga di kaki Gunung Burangrang. Udaranya sejuk, pemandanganya hijau. Pohon pinus berjejer rapih. Dari kejuhan tampak ladang sayuran milik penduduk lembang. “Ini yang aku tunggu-tunggu.” batinku. Sebelum melakukan pendakian, kami shalat ashar di mushola.
“Ok, teman-teman. Sebelum melakukan pendakian, alangkah lebih baiknya kita berdo’a terlebih dahulu. Demi kelancaran di perjalanan. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Berdo’a di dalam hati menurut agama dan kepercayaanya masing-masing, dipersilahkan…!” Kami pun berdo’a khusyuk.
“Berdo’a selesai. Oh ya, sebelum berangkat tolong persiapkan senternya dan satu orang cowok menggandeng satu orang cewek.” Komando Kang Atang.
Kami pun naik gunung dengan semangat 45. Aku menggandeng Iis si Kuntring. Lagi-lagi dia. Sebenarnya banyak cewek di sini. Aku tadinya pengen gandengan sama Maya. Tapi kang Atang menyuruhku menggandeng Iis.
Kini kami telah tiba di puncak ke 3. Rasa capek mulai terasa. Kami beristirahat dalam dekapan gulita malam. Nyanyian tonggeret semakin riuh. Tadi Ikah pingsan, maklum Ikah memang agak lemah. Bukan hanya Ikah, Fany juga.
“Zae, Iis sesek!” tiba-tiba Iis mengeluh sesak nafas. Aku bingung mesti ngapain.
“Iis punya penyakit sesek!” lanjutnya. Aku masih belum bisa berbicara karena bingung.
“Iis gak bawa obat!” lanjutnya lagi.
“Kenapa ikut. Udah tahu punya penyakit. Gak bawa obat lagi. Is, semakin kita naik, oksigen akan semakin menipis!” akhirnya bisa bicara juga.
Iis mendapat pertolongan dari senior. Ikah dan Fany sudah sadar. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini Iis di gandeng Kang Atang dan aku berjalan sendiri. Kasihan deh aku, adaa gak ya kunti yang mau aku gandeng?. Hahaha. Tinggal 3 puncak lagi kata Akang senior di dekatku.
“Hati-hati, naik ke puncak ini harus satu orang-satu orang!” terang salah satu senior kami. Kang Diki yang mengawalinya. Tanah di puncak ini berbeda, dia agak mudah lepas. Tanahnya kering. Aku naik urutan ke dua.
“Mengenang…” Aku membaca monumen kecil itu ketika aku menginjakan kaki di puncak paling rese ini. Nyaliku sedikit menciut. Monumen itu adalah monumen untuk mengenang dua pendaki asal Bandung yang jatuh dari puncak ini.
Setelah semuanya berhasil naik, kami melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Dan begitu sampai rasanya lega. Sudah ada satu tenda kecik ketika kami tiba di sana. Mereka hanya berdua. Kami mendirikan tenda. Tendanya hanya satu. Walaupun ukuran besar, tetap saja tenda itu tak muat menampung kami semua. Akhinya aku tidur di luar tanpa alas tanpa atap.
Ketika aku, Euis dan Ikah asik mendengar cerita pengalaman Kang Ukim. Tiba-tiba…
“Zae, anterin Iis yuk!” Iis datang menghampiri.
“Antar ke mana?”
“Iis pengen pipis.”
“Hah, kok minta diantar Zae sih. Kan Zae cowok Is. Coba minta anter cewek, Risa kah, Dewi ka…”
Iis pun pergi dan kulihat dia bersama Risa. Aku melihat langit yang indah, bintang-bintang begitu banyak mereka saling berkedip untuku. Di atas gunung, aku merasakan hidup ini bebas. Sementara Ikah dan Euis masih menjadi pendengar setianya Kang Ukim.
“Aaawww…” tiba-tiba kami dikejutkan sesuatu. Arahnya dari tempat Iis tadi kencing. Ternyata dia hampir terjatuh ke jurang. Kalau tidak ada Aef, pasti di tempat dia kencing tadi besoknya dibuatkan monumen. “Mengenang Iis Setiawati… Kuntring.”
Hari beranjak pagi. Dinginya malam mulai berganti hangatnya sang mentari. Dari kejauhan tampak kabut menyelimuti hutan pinus. Sunrise begitu indah. Berbanding dengan keindahan puncak gunung, kami terlihat kumal. Bagaimana tidak, tidur tanpa alas di tanah berdebu. Kami saling bertatapan, tertawa terbahak-bahak melihat penampilan kami. Yang rupawan menjadi jelek. Yang jelek semakin jelek. Dan kami pun akhirnya mengemas barang-barang kami untuk kemudian turun. Kalian tahu, aku takkan pernah bisa melupakan kenangan di mana aku merasa begitu dekat dengan langit.
Kelompok Huru-hara…
Aku datang tergesa menuju kelas XII IPA 1 tercinta. Hari itu ada pelajaran kimia dan kami akan praktikum mengenai korosi pada Paku. Aku pun harus mengecek persiapan yang dibawa oleh kelompkku. Kelompokku beranggota 6 orang. Aku kebetulan sebagai Ketuanya. Iis Setiawati, Hendri Mulyana, Wilma Hidayah, Sandy Sri Rahayu dan Cucu Tresnawati sebagai anggota. Alat dan bahan praktek yang harus kami bawa adalah paku 8 buah, air garam, air mentah, air yang sudah dimasak, dan minyak tanah.
Bel pun berbunyi. Setelah memastikan alat dan bahan praktek yang harus kami bawa komplit, kami pun bergegas menuju ruang laboratorium. Karena Pak Hasym, Guru Kimia kami telah menunggu di sana. Setelah sampai, kami menyiapkan tempat. Pak Hasym pun tak lama memberi penjelasan. Kami mendengarkan dengan seksama. Baru setelah penjelasanya usai, kami menyiapkan alat dan bahan yang kami bawa plus yang harus kami cari di Lab. 8 tabung reaksi berikut raknya, gelas kimia, pipet, larutan NaOH, CaCl2, HCl dan Mg.
Alat dan bahan pun telah siap. Kami membaca cara kerja dan mengikutinya. Wilma bertugas memberi label nama pada tabung reaksi dengan nama larutan yang akan dilarautkan. Iis bertugas menaruh paku ke masing-masing tabung reaksi, dan aku yang memegangi tabung tersebut. Pro… Tabung reaksi bocor, Iis salah cara menaruh paku. Dia menjatuhkan paku. Harusnya menaruh bukan dijatuhkan. Kelompok kami panik, mulailah suasana rusuh. Ternyata bukan hanya kelompok kami saja yang mendapat kendala seperti itu, tetapi kelompok yang lain juga ada. Iis dan aku saling menyalahkan.
“Maneh sih nyekelanna salah, dasar Asbo (Kamu sih yang pegangnya salah, dasar Asbo)!”
“Maneh anu salah mah ngasupkeuna, lain kitu carana. Geus nyaho kacana ipis. Jadi weh bolong (Kamu yang salah masukin, bukan begitu caranya. Udah tahu kacanya tipis. Jadi bolong kan)!”
Sementara kami saling menyalahkan. Wilma, Sandy, Cucu dan Hendri malah tertawa-tawa. Memang kelompok huru-hara. Ada masalah malah tertawa. Akhirnya aku berembuk. Diam-diam aku menyuruh Wilma mengambil tabung reaksi baru. Jangan sampai Pak Hasyim tahu, karena kalau tahu tidak menutup kemungkinan kami disuruh menggantinya. Misi menyelinap pun sukses. Iis ku larang lagi memasukan paku. Digantikan oleh Sandy. Cucuk bergantian dengan Hendri memasukan larutan ke dalam tabung yang sebelumnya telah diisi paku. Aku dan Wilma memperhatikan reaksi yang terjadi pada paku dan mencatatnya.
Akhirnya, selesai juga. Kami membereskan semua peralatan. Kelompokku masih belum waras, kacau praktek kali ini. Dan memang selalu kacau setiap praktek. Ada-ada saja hal konyol yang terjadi. Seperti yang tadi. Kami masih tertawa-tawa. Setelah mengembalikan semua peralatan yang digunakan praktek tadi pada tempatnya, kami pun bergegas memasuki kelas. Sisa jam akan kami gunakan untuk mendiskusikan laporan.
“Zae, iuranna sabaraha (Zae, iurannya berapa)?” Celetuk Wilma disambut anggukan yang lain. Alih-alih membahas laporan, malah menjadi membahas iuran.
“Seperti biasa.”
“Sok weh sabaraha oge. Nu penting mah laporanna jadi, asal tong mahal teuing (Silahkan aja mau berapapun. Yang penting laporannya jadi, asal jangan terlalu mahal)!” sambut Cucu. Aku heran katanya berapa pun boleh, tapi kok jangan mahal. Gak konsisten. Terkadang aku berfikir aku ini terlalu bego. Laporan aku yang bikin, iuran pun aku tetap ikut. Kadang malah nombok. Pengennya sih Hendri yang bikin. Dia punya komputer di rumahnya. Tapi dia pernah bilang, lebih baik aku iuran aja. Berapapun, asal jangan terlalu mahal. Itu sama aja kaya apa yang Cucu bilang tadi.
- @ -
Aku menekan kata shutdown. Acara nostalgianya telah selesai. Mungkin apa yang aku ceritakan ini hanyalah sebagian kecil dari ceritaku bersama Iis Kuntring. Aku bersyukur memiliki dia. Sepanjang hidupku sampai saat ini, dia adalah sahabat terbaik yang aku miliki. Bahkan sekarang dia menjadi mata kedua ku. Yang selalu memberi informasi tentang adik-adiku yang aku tinggal di kampung. Terimakasih untuk apa yang telah kamu lakukan untuku. Maaf aku tak bisa hadir di hari paling bahagia dalam hidupmu. Love you my best friends. Dulu, hari ini, esok dan seterusnya. Hahaha
Senin, 17 Juni 2013. Di Ruang Kerja TUK
Tulisan ini aku persembahkan sebagai kado pernikahan buat Iis Setiawati alis Kuntring
FB: zaenudin_setiawan[-at-]yahoo.com
Email: bangun36[-at-]gmail.com
Penulis Cerita: Kang Zaen
 

In RASO Pekalongan

| komentar

RASO kepanjangan dari Regional Art and Sport Olympiad. Diikuti oleh seluruh siswa dari SMP RSBI se-Jawa Tengah. Diadakan pada tanggal 20 November 2012 sampai 22 November 2012.
Kami dari SMPN 1 Salaman mengirimkan 4 siswa. Saya (Lena Sutanti) mengikuti cabang lomba Catur putri, teman-teman saya: Story Telling, Pidato Bahasa Jawa dan Nyanyi solo putri. Dan nama mereka tidak saya sebut disini, takutnya mereka pada marah hehehe
Sekitar pukul 07.00 seperti biasa, saya sudah sampai di sekolah. Hari itu jam pertama adalah pelajaran Olahraga, dan saya pun tak ikut, takut kecapaian, saya nunggu teman-teman saya di Hall. Yang satu lagi nyiapin peralatan buat story telling, yang satunya lagi lagi di kelas, eh satunya lagi katanya malah lagi sakit.
Bosan menunggu, saya pun main game di laptop saya, maklum lah saya ini gamer *eh. Setelah baterai laptop saya low, ya saya matikan lah. Eh temen-temen belum muncul, lalu saya dan mbak yang ikut story telling itu nyari mbak yang ikut pidato bahasa jawa, kami pergi ke kelasnya dan intinya menyuruh dia keluar.
Alhasil kami sudah bertiga, dan kami nunggu Pak Guru dan Bu guru yang akan mendampingi. ada 4 guru yang akan mendampingi, yang 2 ikut di mobil, dan 2 guru lagi naik travel. Lama banget mereka, ya nggak papa lah.. Menata tas di mobil, peralatan story telling buanyaaak banget. Tadinya kami kira nggak bakal pas, ya dipas-pasin aja biar pas *eh.
Setelah jam 10.00, kami berempat + 2 guru baru berangkat menuju Pekalongan. 2 guru yang lain udah duluan naik travel-nya. Wusssh.. kami terlebih dulu ke rumah mbak yang ikut nyanyi solo, soalnya dia demam, terus dia suruh jemput ke rumahnya *lagi demam pasti nggak enak rasanya.
Di perjalanan, mereka bertiga semua tidur, Guru-guru asyik ngobrol, lha saya? jujur saya awalnya nggak niat ndengerin mereka lagi ngobrol, halo.. emang kedengeran kok, yang penting sekarang saya sudah lupa mereka ngobrol tentang apa. yaa.. saya dengerin mereka ngobrol plus lihat lihat pemandangan sekitar.. lumayan bisa ngeRefresh otak wkwkwk.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang sekitar 4 jam + berhenti sholat dhuhur, kami pun sampai di Nirwana Hotel. Mula-mula kami disambut oleh orange juice *eh emang bisa ngomong jeruknya ya? *jeruk ngomong sama jeruk *eh aku bukan jeruk
Udah gak mau bahas jeruk nih. Skip.. awalnya 3 temenku itu nggak dapet kamar, lha cuma ada namaku disana, setelah perundingan *eh kami nyatu di kamar nomor 219 ada di lantai 2 hotel. Sampai disana kami langsung berbaring, lega. Ehm, di bawah, dilihat dari kaca.. ada pemandangan yaitu… kolam renang, nyesel gak bawa baju renang *loh. Puas baring di kasur, kami mandi gantian, sesudah itu makan malam..
Pukul 20.00 kami mengikuti acara pembukaan raso, lumayan menarik lah pertunjukannya, pukul 21.30, belum selesai acara… tapi, kerena sudah banyak yang balik ke hotel, kami juga ngikut balik ke hotel hehehe :D Malamnya aku sulit tidur dan aku smsan sama sahabat sahabatku, mereka suport aku, “makasih” buat kalian heheh telat, Smsan sampai ketiduran, mungkin mereka marah marah gara gara smsanya nggak ku balas.
Eh sebelum ketiduran, aku sempat ke toilet.. kondisi lampu kamar waktu itu remang remang.. serem? nggak tuh! Gini… Sewaktu aku keluar dari toilet, sialan! aku disangka hantu, mengendap endap gitu suara kakiku wkwkwk. Udah deh nggak usah kubahas satu satu ya.. skip aja lah.
Pagi-pagi itu sudah mandi, terus bareng bareng sarapan pagi. kami kompak ngambil nasi goreng + kerupuk + puding + teh.. alhasil ya kekenyangan, hehehe. itu juga dalam porsi besar.
Skip.. Setelah perjalanan pendek *eh kami sampai di SMPN 2 Pekalongan tempat lomba. sekolah ini bagus lho. pertama kali tanding sama Semarang di meja 18 (meja terakhir), awalnya gak yakin. tapi alhamdulillah menang yess! kedua sama mana ya? (meja 4) *wuishh saya lupa, tapi saya kalah, hhoho gak papa.. ketiga saya sama Kota Magelang (meja 13).. oh iya saya dari Kab. Magelang. saya menang. Setelah itu di meja 7, saya lawan Kendal, dan saya menang walaupun Menteri saya sudah termakan.. saya bisa memakan menteri dia juga, setelah itu meja 7 lagi sama mana lupa lagi dan saya kalah setelah permainan keras dilakukan. Permainan terakhir, tak menyangka aku lawan sahabat baruku (Pati) di meja 8, aku menang..
Tinggal menunggu pengumuman, aku berhasil membuat 4 menang, 2 kalah tanpa draw di 6 babak.
Skip.. sewaktu diumumkan, aku berhasil menduduki peringkat 9 dari 36 peserta, aku dapat medali perak.. senang sekali hehehe. nggak nyangka. kembaran skor 4 ku banyak juga, mereka ada yang di atas urutan juaraku dan ada pula yang di bawah urutan juaraku. ya saya bangga.
mbak yang story telling dapat medali perunggu, pidato bahasa jawa juga dapat perak, tapi yang nyanyi solo belum dapat medali, aih yang penting sudah berusaha maksimal *sok bijak nih.. Setelah itu kami back to hotel dan menginap lagi malam ini dan besok pulang… sekian cerita saya.
Penulis Cerita: Lena Sutanti
 

In O2SN Semarang

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Selasa, 14 Mei – Jum’at 17 Mei 2013 di Semarang

O2SN kepanjangan dari Olimpiade Olahraga Siswa Nasional. Peserta O2SN terdiri para juara 1, atau wakil dari masing masing karesidenan di Jawa Tengah. Ada 6 karesidenan di Jawa Tengah, yang terdiri dari Kedu, Semarang, Pekalongan, Surakarta, Pati, dan Banyumas. Di O2SN SMP Tingkat Provinsi Jateng ini diadakan macam-macam lomba meliputi: atletik, renang, voli, bulu tangkis, karate, pencak silat, dan catur Dan seperti biasanya, saya selalu ikut cabang lomba catur. hehehehehe lucu ya? garing sih! ah sudah lupakan tulisan ini, anggap saya tak ada. eh masih aja dibaca nih tulisan. ish kebangetan ente! Peace bro! Gitu aja langsung cemberut.

Dari Kabupaten Magelang hanya 2 cabang lomba yang diikutkan, soalnya cuma ada 2 itu yang juara 1 waktu perlombaan tingkat karesidenan, yaitu cabang voli putra putri dan cabang catur putri. Ngenes banget Semobil sama anak anak voli putri, mereka cerewet banget *eh. Mereka sih asyik lah, Tapi mobil jadi seperti kapal pecah. Lah memang udah pernah lihat kapal pecah? pasti belum kan? Lah selama ini yang selalu bilang kalau kamar gue kaya kapal pecah, dapat kalimat kapal pecahnya dari siapa?! Ah sudah lupakan, disini saya gak akan bahas tentang Kapal Pecah, isn’t topic in this day, and i hate when someone said to me, “Len, your bedroom as Broken out Ship!”

Perjalanan dari Magelang sampai Semarang memakan waktu kurang lebih 3 jam. Dari SMPN 1 Salaman pukul 07.30, Berangkat dari Kota Mungkin pukul 08.00. Nah saya paling ndak sukanya begini.. kalau atlet suruh dateng pukul 07.30, malah berangkatnya 08.00, Jam Karet! Menunggu, sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku saat kuharus bersabar dan trus bersabar *malah nyanyi

Rute perjalanan dari Kec .Salaman –> Kota Mungkid (kumpul dengan atlet voli putra putri) –> Kec. Mertoyudan –> Kec. Grabang –> Ambarawa, Kab. Semarang dan lomba diadakan di Kota Semarang. Biasanya jika akan ke Semarang, kami selalu lewat Kab. Temanggung dulu, kalau ini lewat Grabag, Biar greget! Tiba di Islamic Center (penginapan sekaligus tempat lomba catur) pada pukul 11.00.

Sampai di sana, kami masih harus daftar ulang untuk mendapatkan kartu peserta, kaos, dan kartu makan. Setelah lama mengantri akhirnya dapat 3 benda tadi. Oh ya di Islamic Center ini warna gedung paling dominan adalah hijau! hijau muda, hijau tua, hijau lumut, terus hijau yang kaya warna kulit cicak *plak

Kami lalu masuk kamar untuk menata tas, dan sebagainya. Sekamar 3 orang, gabung sama anak voli lagi lagi. Ya sudah yang penting di sini cuacanya sangat mendukung, tak panas, juga tak dingin, serba pas. Aku langsung merebahkan tubuhku ke seprei putih yang ada banyak bulatan hijaunya lagi lagi. Tapi saya suka warna hijau kok, ngasih kesan kalau segaaar!

Malamnya aku sibuk online dan membaca komik Yu Go! ‘the negotiator’ seru lho ceritanya. Keesokan harinya pukul 08.00 lomba dimulai. pertama lawan Karesidenan Pati, saya puas karena menang. Lawan kedua Karesidenan Pekalongan, saya kalah, Lawan ketiga Karesidenan Cilacap, dia dapet full point, sementara saya masih 1 point. Saya Kalah!!! Lawan keempat Karesidenan Surakarta dia point pasih 0, namun mengapa pada pertengahan kedudukan bidak catur kami imbang, dia berhasil promosi pion menjadi menteri, saya pun kalah. Tapi saya yakin saya bisa menang lawan dia! saya yakin 100% Ini gara-gara saya salah langkah, malah melewatkan peluang emas itu *teramat kecewa saya masih kecewa juga waktu menulis postingan ini. sumpah! gak relaaa. Kenapa bisa kalah sama dia? Hanya Tuhanlah yang tau…

Kurang 1 laga pertandingan lagi, diadakan besok pagi, jam 08.00. Sampai penginapan saya kecewa tiada hentinya, saya kecewa sama diri saya kenapa bisa kalah sama dia, sampai sekarang jika ingat itu saya masih belum bisa memaafkan diri saya. Kenapa saya terlalu menyepelekan dia, Astagfirullah haladzim.

Keesokan harinya tepat pukul 08.00, saya memasuki tempat perlombaan kemarin, ah lawan saya yang terakhir ini dari Karesidenan Semarang, dia sudah mendapat point 3 dari 4 permainan, dia kemarin hanya kalah dengan Karesidenan Banyumas. Kali ini saya sangat waspada terhadap serangan serangan, selalu saja saya dapat menangkis serangannya, dan kesempatan saya menyerang, saya menggarpu menterinya dengan kejam *aih. Dia menawari saya draw, tapi saya menolaknya. Sekitar tiga menit kemudian saya menang! Saya pun minta maaf ke dia, dia pun tersenyum. Saya bilang ke dia “mungkin kamu pulang dengan perak/perunggu, saya malah nggak dapet, saya kalah sama Surakarta”. Dia lalu senyum, dan bilang makasih, dia heran kenapa saya bisa mengalahkan dia, tapi kalah dengan Surakarta.

Karesidenan Banyumas dapat 5 point dari 5 pertandingan.
Karesidenan Semarang 3 point dari 5 pertandingan.
Karesidenan Pekalongan 2,5 point dari 5 pertandingan
Saya cuman dapet point 2 dari 5 pertandingan. Oh ya saya dari Karesidenan Kedu tentunya..
Karesidenan Pati 1,5 point dari 5 pertandingan
Karesidenan Surakarta 1 point dari 5 pertandingan.

Saya tak puas di kedudukan 4 dan hanya membawa selambar piagam :’( karena seharusnya jika saya menang lawan Karesidenan Surakarta, point saya akan menjadi 3, saya pun akan membawa 1 buah medali perak, Oh Tuhan… saya masih begitu menyesalkan itu sampai saat ini.

Saya sangat akrab sekali dengan anak dari Karesidenan Pati dan Banyumas, dan saya pun bisa mengenal banyak teman dari O2SN ini. Voli putra berhasil mendapat emas, alias juara 1, dan mereka pun mengikuti O2SN Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Selamat buat mereka. Voli putri sama nasibnya denganku.

Lain kali ku akan lebih giat berlatih lagi agar dapat meraih juara 1 dan keliling dunia. ini mungkin sebagai cambukan untuk melaju ke depan. Semoga aku rela menerima kekalahan ini. Akan kubalas suatu saat nanti di Event catur yang lain.

Penulis Cerita: Lena Sutanti
 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami