Bukan Aku yang Bernama Karel

Sabtu, 11 Januari 2014 | komentar

Hal pertama yang kuperhatikan tentang rumah sakit adalah dinding-dinding hijau yang memuakkan. Warna pudar yang membosankan. Nyaris kelabu. Warna langit ketika terjadi badai hebat. Ada yang menggantungkan pita-pita oranye dan hitam dari langit-langit karena sekarang Hallowen. Beberapa pintu ditempeli penyihir-penyihir dari karton dan lentera-lentera jack-o’. Tapi dekorasi-dekorasi itu tak membantu. Bahkan jika kau gembira, warna muram dinding-dinding itu akan membuat suasana hatimu menjadi sedih, cemas, dan takut. Tentu saja aku tak gembira ketika berjalan di apit kedua orangtuaku menyusuri koridor hijau panjang itu menuju ke kamarku di rumah sakit. Ibu meremas tanganku. Tangannya hangat. Tanganku dingin dan lembap.
“Tidak perlu cemas Roy, semua akan baik-baik saja kok.” Katanya pelan. Tatapannya lurus ke depan. Sepatunya berdetak-detak di lantai ubin yang keras. Sambil berbisik ayahku membaca nomor-nomor kamar setiap kali kami melewati pintu hijau. “B-09….B-11….B-12…”
“Mengeluarkan amandel itu Cuma operasi kecil..!” kata ibu. Ia sudah seratus kali mengatakannya.
“Tenggorokanmu akan sakit beberapa hari, tapi sesudah itu kau akan sembuh.”
Tuk tuk tuk. Bunyi stiletto ibu bergema di sepanjang koridor panjang mirip detik jarum jam. Sebuah jam sedang berdetik pada saat-saat menuju kiamat..
“Tapi kenapa aku mesti dioperasi?” rengekku. “Selama ini aku kan tumbuh bersama amandel itu?”
Ayah dan Ibu tertawa. Aku selalu bisa membuat mereka berdua tertawa. Bakat yang jadi berguna setiap kali mereka marah padaku. Tentu saja hari ini mereka tidak marah. Tapi aku selalu bercanda di saat cemas.
“Bayangkan saja Roy, kau takkan lagi menderita sakit tenggorokan di saat kedinginan,” kata ayah, tatapannya tetap terpancang ke nomor-nomor pintu. “Kelenjarmu tak bengkak lagi.”
“What? Tak ada temanku yang operasi amandel! Kenapa aku harus mengalaminya di hari hallowen..?” gerutuku.
“Cuma karena kau beruntung.” Sahut Ayah. Dia jagoan bercanda juga.
“Tapi hallowen itu hari favoritku!” kataku. Aku suka sekali menakut-nakuti orang dan ditakut-takuti. Dan sekarang aku kehilangan semuanya! Aku tak tahu bahwa ini akan menjadi Hallowenku yang paling menyeramkan.
Ketika kami berbelok di sudut, aku mendengar seorang anak sedang menangis keras.
Ibu mendesah. “Begitu banyak anak di rumah sakit ini Roy. Kau seharusnya ingat betapa beruntung dirimu. Begitu banyak anak disini yang sakit parah.”
Beberapa saat kemudian kami menemukan seorang anak yang sakit parah, namanya Karel Agustine. Aku melihat karel ketika kami berdiri dipintu kamar B-13 yang terbuka. Ternyata kamarku nomor 13, angka sial. Ranjang Karel di samping jendela. Sebuah ranjang kosong yang berseberangan dengan ranjangnya, menempel ke dinding hijau suram. Kupandangi teman sekamarku yang baru. Ia pendek, matanya hitam, dan rambutnya ikal dipotong pendek. Ia duduk di tepi ranjangnya. Mengayunkan kakinya, melotot pada dua perawat yang berseragam putih.
“Aku bukan Karel!” serunya.
Salah satu perawat memegang jarum suntik. Perawat satunya bersusah payah menyingkap lengan pakaian rumah sakit Karel yang berwarna Biru.
“Karel.. sudahlah…” ia memohon.
“Aku bukan karel!” teriak anak itu lagi.
Si perawat berseru kaget dan melangkah mundur.
“Karel, kami Cuma memerlukan contoh darah,” kata perawat yang satunya.
“Grrr..! Aku bukan Karel, bukan, bukan, bukan!” jerit anak itu sambil memukul-mukul ranjangnya dengan kedua tinjunya.
“Ya, ya kami berdua sudah mendengarnya..” gerutu si perawat.
Lalu perawat itu berbalik dan melihat kami berdiri di pintu. Ia menurunkan jarum suntiknya dan melangkah beberapa kali menghampiri kami. “Kau Roy kan? Ranjangmu di sebelah sana. bagaimana rasanya tenggorokanmu?” kata perawat itu.
“Agak sakit.. Sakit setiap kali dipakai menelan ludah,” aku mengaku.
Ia tersenyum pada orang tuaku. “Silahkan menaruh barang-barang Roy di sana. Kau bisa berbenah. ”
Aku mengikuti ayah dan ibu melintasi kamar itu. “Kenapa sih anak itu?” tanyaku.
Ibu mengangkat jari telunjuknyake bibirnya. “Sssst… Kelihatannya dia sangat ketakutan.”
Aku ingin melihat apa yang dilakukan para perawat itu padanya. Tapi salah satu perawat menarik tirai di antara ranjang-ranjang. Sekarang suaranya sulit didengar. Tapi saat aku membongkar isi tasku, aku masih dapat mendengar anak itu protes. “Aku bukan Karel! Jangan ganggu aku!”
Beberapa menit kemudian tirai itu terbuka beberapa kaki, dan salah satu perawat melangkah ke tempat kami. Ia menggeleng-geleng. “Anak malang,” ujarnya pelan.
“Ada apa dengannya?” tanyaku.
Perawat itu menyodorkan pakaian rumah sakit yang berwarna biru. “Karel akan menjalani operasi besar besok pagi, dia sangat ketakutan, kukira dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia adalah orang lain.”
“maksudmu?” aku mulai.
Ia menarik kembali penutup ranjangku. “Anak malang itu mencoba menipu kami sejak datang kesini. Dia bersikeras dia bukan Karel. Dia ingin kami mengira telah mendapatkan anak yang salah.”
“Itu memperhatinkan,” kata Ibu dengan sedih, sambil menggeleng-geleng.
“Dikiranya kalau dia bisa meyakinkan kami bahwa dia bukan karel, dia takkan dioperasi”
“Apa kau yakin tak salah anak?” Tanya Ayah.
Perawat itu mengangguk dengan muram. “Ya, berapa kalipun dia menyangkal, kami tak peduli! Karena dia benar-benar Karel Agustine.”
“Operasi apa yang akan dijalaninya?” tanyaku padanya.
Ia mendekatkan mukanya ke telingaku dan berbisik, “Kaki kirinya harus diamputasi.”
Para Dokter dan perawat keluar masuk kamar itu sepanjang sore. Mereka menjelaskan untuk keseratus kalinya tentang bagaimana operasi amandel dilakukan dan memberitahuku apa yang diharapkan. Ibu dan Ayah tinggal sampai waktu makan malam. Sulit mencari bahan pembicaraan. Aku tak bisa berhenti memikirkan Karel. Bayangan mempunyai kaki yang dipotong saja membuat kakiku gatal sekali dan perutku tegang. Tak heran ia sangat ketakutan.
Setelah makan malam suasana menjadi sunyi sekali. Aku dapat mendengar bayi menangis jauh di koridor sana. Kudengar telepon berdering dan perawat-perawat bercakap-cakap lirih di luar pintu. Aku mencoba berani. Tetapi aku merasa benar-benar merasa sendirian sesudah Ayah dan Ibu pergi. Sekarang Hallowen, pikirku. Seharusnya aku tak disini. Aku mulai membayangkan hantu-hantu, mumi-mumi, dan vampire-vampir diam-diam melayang turun ke lorong-lorong rumah sakit itu. Aku mengambil buku dan berusaha membaca.Tetapi aku tidak dapat berkonsentrasi. Kudengar kereta-kereta berderik melewati lorong. Suara-suara berbisik. Bunyi blip blip blip seram yang berasal dari sejenis mesin.
Buku itu kututup. Aku harus berbicara dengan seseorang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Menarik tirai membuka, dan menyapa teman sekamarku.
“Aku Roy,” kataku. “Besok aku operasi amandel”
Ia sedang duduk di tempat tidur, membaca komik. Ia memandangku. Ada noda spageti di dagunya dari makan malam. “Kau Karel kan?” tanyaku pelan. Ia membuka mulut dan berteriak pelan, “Sudah kubilang! Bukan aku yang bernama Karel..!”
“Oh! Maaf!” aku meloncat mundur.
Aku merasa diriku menyebalkan, kenapa tadi aku harus ngomong gitu ya? Ah..!
Aku menenangkan diri dan bertanya lagi. “Kau suka baca komik?”
“Hm.. Sejujurnya sih tidak, Karel yang suka membaca komik, tapi aku tidak.” Dilemparkannya komik itu ke lantai.
Aku menelan ludah. Anak ini memang aneh sekali.Tapi aku tetap memberanikan diriku. Soalnya rasa penasaranku tak dapat ditahan.
“Eh..kau sekolah dimana?” tanyaku.
“Aku tak sekolah di sekolah Karel, Aku ke sekolah yang lain.” Ia menatapku dengan aneh.
Ih, seram.. Aku menyesal telah mengajaknya bicara. Tapi terlambat.
“Dimana?” tanyaku.
“Anak bangsa, aku sekolah di SD anak bangsa.” Jawabnya. “Lumayan.” Ia berhenti memandangiku dan mulai santai. Kami mengobrol tentang sekolah kami, saudara kami, bioskop, olahraga, dan macam-macam.
Lalu kami bercakap-cakap tentang betapa kami kehilangan Hallowen, terkurung di rumah sakit yang mengerikan ini. Kami masih mengobrol ketika perawat masuk pukul 22.00. “Ini kesempatan terakhirmu untuk minum air karel,” kata si perawat.
“Aku bukan Karel..! Bukan aku yang bernama karel..! Aku tak perlu dioperasi…!”
“Apapun katamu,” kata si perawat, sambil memutar bola matanya ia berbalik padaku. “Bagaimana keadaanmu Roy?”
“Baik, terimakasih,” sahutku pelan.
Ia mengucapkan selamat malam dan melangkah keluar. Kemudian aku berbalik ke Karel. Ternyata ia memandangi ku tanpa berkedip.
“Apakah kau ngorok kalau tidur?” tanyanya.
“Eh.. rasanya aku ngorok..”
Ia kembali mengawasiku sesaat. Lalu ia meraih tirai dan menariknya menutup.
“Sekarang aku capek.” Katanya dingin.
Rasanya aku takkan pernah bisa tidur. Para perawat bercakap-cakap di koridor luar sana, dan kudengar seorang anak perempuan terbatuk-batuk terus di kamar dekat situ. Tetapi, di luar dugaanku, aku terlelap dengan cepat ke dalam tidur yang nyenyak. Aku bermimpi banyak dan seram-seram.
Kadang di gigiit anjing yang seram, lalu aku berubah menjadi lentera jack’o yang seram dan meringis.
Salah satu mimpi yang paling jelas adalah ketika kulihat diriku sedang berada dalam rumah sakit. Aku melihat seorang anak laki-laki di ranjangku. Ia memegang dua papan pencatat dengan catatan-catatan medis. Aku hanya bisa membaca nama di bagian atas satu catatan medis: KAREL AGUSTINE.
Anak itu menggantung catatan medis itu di ranjangku. Lalu, sambil tersenyum ia mengendap-endap pergi, dengan mengempit catatan medis lainnya.
Ketika bangun, aku merasa tidak pasti apakah aku masih bermimpi atau tidak. Dua laki-laki dalam jas lab putih berdiri di samping ranjangku. Mereka mendorong kereta panjang ke arahku. Salah satu dari mereka mengambil catatan medis dari ujung ranjangku. “Ini dia!” katanya kepada partnernya.
“Hah?” Aku menatap mereka, masih setengah tidur. Apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati.
Mereka mengangkatku pelan-pelan dan memindahkanku ke atas kereta itu.
“Tenang saja Karel..” kata salah satu dari mereka.
“Tidak..! tunggu..! Aku bukan Karel..!” semburku.
Mereka memeriksa catatan medis itu lagi, “Karel Agustine.”
“Ayo kita pergi!” kata partnernya.
Mereka mendorongku ke pintu. Mereka mendorong kereta itu di sepanjang lorong kosong. Roda-roda berderik keras di lantai atas ubin.
“Kami sudah di peringatkan bahwa kau akan bilang begitu. Kata mereka kau selalu berbohong tentang namamu sejak datang! Mereka bilang kami tak usah menggubrismu,” kata yang lebih tinggi.
“Ta.. tapi aku bukan Karel! Kalian harus mendengarkanku! Namaku bukan Karel! Bukan aku yang bernama Karel!” jeritku sekuat tenaga. Di ujung lorong itu Karel melongokkan kepalanya ke luar kamar kami. Tangannya melambai. Mereka mendorong kereta itu ke dalam lift yang terbuka. Karel menyeringai lebar.
Kemudian pintu lift menutup di belakangku.
~END~
Penulis Cerita: Seya Zunya Uchiwa
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami