Kamu sudah terlalu lama mengendap di sini, di hati ini, dan aku tak tahu berapa lama lagi kamu akan terus mengendap. Bukannya tak mampu tuk mencari penggantimu tetapi saat ini aku belum mampu memberikan hatiku untuk yang lain.
Aku menyingkapkan tirai jendela kamar tidurku, seketika semburat oranye memasuki ruangan. Hening, damai. Namun keadaan masih sama, masih belum ada satu pun orang yang bisa mengisi kekosongan hatiku, padahal sudah lama diriku mengakhiri kisah cinta bersama Tegar, namun sulit sekali rasanya untuk melupakan cinta pertama itu, rasanya sangat mustahil. Ataukah mungkin memang digariskan untuk tidak melupakannya kecuali mengalami amnesia. Diriku telah melakukan apapun untuk melupakan masa laluku tersebut, namun asa ku tak mampu.
—
“Aku sangat mencintaimu, Tan. Maukah kau menjadi kekasihku? tuk menjalani suka duka bersamaku.” “Maafkan aku Gar, beri aku waktu untuk berpikir kembali.” “Jika itu yang kau mau, aku akan mendukung semua yang kau inginkan.” “Eh, Aku mau kok menjalani hari-hariku bersamamu.” “Benarkah? bisa kau ulang lagi kalimatmu itu?” “Ak..ku mau kok menjalani hari-hariku bersamamu, Tegar!” “Love you Tania, my first love”
—
Tak bisa ku pungkiri. Aku selalu terbayang peristiwa itu, yang terjadi 11 bulan yang lalu. Entahlah Tegar selalu menyita banyak ruang di otakku, dan aku pun tak tahu harus berapa lama lagi aku merasakan rasa sakit yang terpendam jauh di lubuk hatiku yang terdalam. Dia seperti hantu yang selalu datang di kala mimpiku, dan membuatku terus mengingat wajahnya dalam benakku. Mungkin ini merupakan kisah cinta kami yang layak ku simpan dalam memori otakku.
Aku tak boleh menyalahkan siapapun, bila aku harus menyalahkan seseorang, pasti yang pertama itu adalah Diriku sendiri. Kenapa aku langsung menerima cintanya. Aku tak bisa menyalahkan Tuhan maupun Tegar, aku tahu Tuhan mempertemukan kami itu pasti ada hikmahnya. Mungkin memang bukan dia lah yang terbaik buat kita, Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah mempunyai tujuan agar kita tak mengulang kembali kesalahan di masa lalu.
Mantan itu bukanlah sampah, namun sosok yang pernah menjadi yang paling spesial dalam hidup. Tanpanya mungkin kita tak tau rasanya sakit hati. Walaupun tak meninggalkan bekas luka, namun termasuk ke dalam sakit yang sulit diobati. Tanpa adanya mantan, mungkin tidak bisa menciptakan kenangan-kenangan yang masih dikenang sampai saat ini.
Tiba-tiba telepon rumahku berdering, dengan segera mungkin kuangkat gagangnya. Terdengar seperti suara Angga. “Tania, kamu tau gak kalau sekarang Tegar udah move on dari kamu?” “A..Apa? Aku baru aja denger. seriusan kamu Ngga?” “Masa aku bohong!”
Tanpa ba bi bu lagi, aku pun langsung mengakhiri percakapan itu. Aku merasa sangat terpukul, perlahan diriku menyandarkan tubuhku pasa tembok. Kurasakan betapa sakitnya rasanya jadi diriku yang terpuruk. Aku masih teringat suara Angga ketika melontarkan kalimat itu, terasa jika ia tak lagi bercanda. Entahlah aku terlahir tak mudah mencintai orang, dan sekali mencintai seseorang akan sulit melupakannya. Tolong sudahi rasa sakit ini. I forced to fake a smile, a laugh everyday of my life, Because of you.. Namun ku kan terus mencoba menghapus bayangmu dalam hidupku.
Penulis Cerita: Lena Sutanti
