“Kenapa nak? Masalah hati?” Pak Tua itu terkekeh, seperti puas karena sindirannya tepat mengenai sasaran. Aku diam.
“Jangan pernah berniat untuk melupakan seseorang. Niatan itu justru hanya akan mengendapkan apa yang kamu sebut kenangan.”
Diambilnya satu batang rok*k dari dalam sakunya. Dari asap rok*k yang Ia hembuskan, aku tahu itu rok*k murah yang biasa dijual eceran di toko sebelah sana. Ia sempat menawariku, tapi terpaksa kutolak halus. Sudah 5 bulan ini kucoba mengurangi rok*kku.
“Ambil yang kamu suka dan tinggalkan yang kamu anggap tidak penting. Sederhana ya?”
Raut mukanya menampilkan senyum yang getir. Kerutan di wajah lelahnya menunjukkan semua. Ratusan pernik hidup yang pernah singgah. Mungkin beberapa terkait dengan hati. Apa lelaki tua juga masih bisa disebut punya hati?
“Nyatanya tidak.”
Ia menghisap rok*knya.
“Yang biasanya kamu anggap tidak penting, malah meninggalkan jejak terlalu dalam. Membuatmu menjadi pecandu luka. Berharap ada bahagia di baliknya.”
Aku tetap diam. Kurogoh sekotak permen mint dari kantong. Asap rok*k ini benar-benar menggodaku. Jatah satu batang untuk satu hari, sudah kuhabiskan pagi tadi. Sial.
“Saya tidak menyuruh kamu segera melupakan masalahmu. Tenggelam dalam luka kadang membangkitkan kenikmatan tersendiri. Ikuti saja kehendak Gusti Pangeran.”
Kereta tujuan Malang terakhir pada hari itu telah tiba. Memang sudah terlalu larut untuk memulai perjalanan. Tapi tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikan masalah yang masih mengganjal. Sudah 12 jam kuhabiskan untuk membuat keputusan, sejak seorang yang suaranya sangat aku rindukan mengatakan sedang menungguku di tempat kita pertama bertemu.
“Maaf Pak, kereta saya sudah datang. Saya duluan.”
“Ikuti hatimu, nak.”
Aku mengangguk sopan dan segera hilang ditelan redup malam. Hanya untuk kembali 10 menit kemudian dengan satu pak rok*k dan dua gelas kopi panas dari toko sebelah sana.
“Monggo Pak kopinya.”
Sembari Pak Tua itu menyesap kopinya aku mengambil ponselku. Mengetik sebuah pesan teks.
Jangan tunggu aku, Ra.
SENT.
Kumatikan ponselku dan segera menyalakan batang rok*k yang kedua untuk hari itu. Sorot mata Pak Tua yang sempat meredup sejenak itu kini penuh dengan binar. Mengalahkan rasa sendu yang tercipta dari buruknya penerangan lampu peron ini. Malam dengan cepat beranjak membawa semua luka yang sempat menjejakkan sesak.
Penulis Cerita: Diovin
