Tanya

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Tanya diam terpekur, matanya nanar menatap kabut. Ada sesal dalam hatinya dan ada sedikit kesenangan di dalamnya. Menyesal telah mengkhianati hatinya dan senang telah membalas kesal masa lalunya.

Dulu Tanya adalah seorang gadis kecil yang melewati hari-hari dengan sedikit ketakutan dalam dirinya. Takut yang tak dapat dia bagi dengan yang lain. Beberapa kali dalam masa kecilnya ada masa dimana dia harus berkelit terhadap bayangan hitam yang akan menerkam dan mencabik tubuh kecilnya yang ringkih. Dan Tanya tetap bertahan walau terkadang dalam tangis dia meminta Tuhan-nya agar membawanya ke surga.

Ketika melewati masa remaja, takdir menjauhkan dia dari bayangan hitam, kebebasan itu membuat Tanya tumbuh seperti gadis lainnya, dan orang-orang bertanya “Tanya, apa yang membuatmu ceria? ada yang telah menyihirmu?”. Tanya menanggapinya dengan senyum. Tanya melewati harinya dengan keceriaan dan sangat sedikit kenakalan. Dan waktu pun terus berlalu.

Jauh di dalam lubuk hati Tanya ada dendam yang tak dapat dia hapus dari memorinya. Dia telah mengadu pada Tuhan-nya dalam doa-doa panjangnya. Bahkan dia bertanya dengan marah “Tuhanku, apa salah ini, aku pasti akan menuntutnya dalam persidangan-Mu nanti”, kadang ada rasa ingin memaafkan di hatinya dan lain kali dia membatalkannya.

Ketika benci sudah tidak begitu sering menemuinya, hati Tanya mulai memikirkan hal lain. Hal berbeda yang ingin dia rasakan dari seseorang, saat rasa itu mulai menyapa dengan gelisah Tanya menjalaninya.

Siang itu panas membakar kulit, Tanya dengan Gita keponakannya dalam perjalanan pulang. Bus yang mereka tumpangi masih menunggu penumpang lainnya, sementara kondektur masih meneriakkan tujuan Bus. Dengan gelisah Gita yang baru berumur empat tahun bertanya, “kak, busnya kapan berangkat. Kok lama Gita kepanasan nih”. “sebentar lagi juga berangkat Gita”. Itu adalah awal Tanya mengenal dunia dewasa, seseorang yang duduk di depannya yang gelisah karena hasrat dan pegal pada punggungnya. Tanya mengerti akan hal ini dia tersenyum dalam hati “kena kau” .

Awal yang mengejutkan buat Tanya, ini terlalu gila, ini terlau cepat buatku, jangan membuatku muak. Tapi dia berdalih “tahukah dirimu Tanya, inilah yang kamu cari”, “tidak, aku mau yang putih”. Dengan enggan dia menjawab “Tanya, yang putih tak pernah ada”. Tanya terhenyak dan membuat keputusan, ini akan selesai.

Dan benar Tanya melakukannya, meski dia memohon Tanya tak bergeming. Tanya ingin terbang jauh dengan sayap kecilnya. Semua dalam waktu yang sangat singkat, meninggalkan pertanyaan di tenggorokan sekelilingnya. Ini sudah cukup.

Tuhan-nya telah memberikan kasih-Nya buat Tanya. Kerikil kecil, tebing, jurang bahkan jebakan tetap harus dilalui Tanya seorang, Tanya menangis dan tersedu sendiri, tetap sendiri. Perjalan yang jauh membuat Tanya lebih kuat dan biasa menghadapi hidup yang keras. Saat tawaran rasa kembali menghampirinya, Tanya menjalani dengan agak ragu sambil bertanya apa aku siap? .. tapi kali ini Tanya tetap terhempas tanpa tahu sebab pasti. Tanya harus bangkit dan kembali berjalan dengan hati yang berdarah-darah. Itu terus berulang, entah karena Tanya terlalu lugu sehingga dimanfaatkan atau memang Tanya yang tak mengerti bagaimana harus menjaga kasihnya.

Tanya pernah benar-benar menyanyangi sebuah hati, sangat takut kehilangan, merindu di setiap denyut nadinya bahkan hati itu seperti udara buatnya untuk hidup dan bernapas. Untuknya Tanya membuat ratusan puisi cinta. Tapi kesabaran untuk menunggu telah mengikis rasa sayangnya menghapus kerinduannya. Tanya juga menangis perih seperti tersayat. Tanya memang kuat. Itu hanya sebentar, dia sudah mulai berjalan lagi.

Karena Tanya hanyalah seorang makhluk kecil yang kadang suka tak mendengar nasehat hati, kembali Tanya mencoba hal lebih jauh. Sesuatu yang tidak tepat. Tapi tidak jika dia punya niat yang baik. Tanya memang gadis kecil yang agak nakal, membayangkan sedang melakukan petualangan yang sangat jauh ke negeri antah berantah. Tanya yang tak mengerti tersesat disana, tak tahu harus berbahasa apa, tak tahu harus berbuat apa dan lebih parah Tanya tak tahu harus mengadu ke siapa.

Saat akhirnya sesuatu membangunkan hati Tanya dari petualangannya, menyadarkan bahwa Tanya harus kembali. Tanya tersadar perlahan dia tak menangis, ini petualangan yang buruk tapi mengajarkan banyak hal. Walaupun Tanya masih belum bisa mencerna semua hal yang didapat. Tanya butuh waktu yang cukup panjang untuk mengerti.

Terlepas dari petualangan-nya, sesaat Tanya kembali dengan kasihnya. Mencium harum wanginya, merasakan hangat dekap kekasih. Sayang kasih Tanya tak dapat tinggal lama. Dia selalu pergi lagi, meninggalkan Tanya yang tak dapat memutuskan sendiri apa yang harus diperbuat. Tanya selalu merindunya, mengharapnya walau ada keraguan di hati Tanya, dan sekarang dalam doa-doa panjang Tanya ada pinta “Tuhanku berilah kasih Mu untuk Tanya, beri Tanya bahagia”.

Dan waktu pun kembali menyadarkan Tanya, seakan menyentil tepat di kuping Tanya dan berkata “Tanya apa lagi yang diharapkan, lupakanlah. Tatap hari depan, kamu tak hanya sampai disini, bangkit dan berjuang kembali untuk apapun yang ingin kamu capai”, Tanya tesentak. Dalam hati meski berat ia yakin itu benar. Dan mulai lah Tanya kembali mencoba hidup dengan sedikit mimpi muluk nya.

Waktu terus berlari lebih cepat, dengan terengah-engah Tanya berlari mengikuti mencari cinta dan kasihnya. Jalan terus berbelok-belok, mendaki, menurun, bersimbah air mata terkadang gersang menghisap kehidupan. Meski terasa lelah Tanya terus berjalan dan memohon dalam tangis keputus-asaan. “Tuhanku kuat kan Tanya, hamba yang bergelimang dosa dan salah ini. Hamba yakin bukan takdirmu kalau hamba berbuat salah tapi adalah kealpaan seorang hamba yang tak bisa menahan nafsunya. Ya Tuhan beri ampunan untuk Tanya”,

Dalam perjalanan baru-nya Tanya tak lagi terlalu berharap dapat menemukan seorang pangeran menemani sepi jalannya. Tanya hanya ingin membenahi diri dan menyelesaikan kusut jalan hidupnya. Tanya berharap dapat memberi arti pada diri sendiri saat punya kesempatan

Di antara tawa, tangis, sepi dan do’a–do’a Tanya, suatu saat Tanya dikenalkan dengan seseorang. Seseorang yang pada perkenalan pertama, Tanya tak merasakan ada sesuatu yang istimewa di antara mereka bahkan sangat biasa. Sebenarnya ada sedikit rasa senang mempunyai teman lain tapi ya hanya itu yang Tanya rasa.

Mulai saat itu, seseorang itu selalu mengisi hari dan malam Tanya dengan begitu banyak hal baru yang Tanya tak pernah tahu sebelumnya. Tapi tetap saja Tanya tak merasakan sesuatu yang istimewa. Dan dalam hitungan hari, seseorang itu perlahan mulai mengungkap perasaannya kepada Tanya, menanggapi hal itu Tanya kelabakan dan benar-benar tidak siap. Meski Tanya mengerti, tapi Tanya mencoba berdalih.

Akhirnya saat merasa terdesak dan memang didesak Tanya menjawab ungkapan rasa itu yang dalam pikiran Tanya dia sudah mengatakan dengan bahasa pilihan. Tapi seseorang itu, bukan lah seseorang yang dapat menerima kata tidak dari Tanya. Seharian Tanya berfikir dan mencari jawaban tentang dia. Akhirnya sesuatu membisikan di telinga Tanya, “jalani lah Tanya, tak ada salahnya kamu mencoba”.

Dan, ya Tanya menjalani hari-hari nya.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, perjalanan kasih dengan kekasih telah mendewasakan dan membentuk jiwa Tanya menjadi seseorang yang lebih kuat dan siap menghadapi apapun. Dan satu tahun tiga bulan sudah hubungan itu, bunda berkata “sudah saatnya ananda melangkah ke arah yang seharusnya”, mulanya Tanya bingung, tidak siap dan entah perasaan apalagi. Bunda terus meyakinkan hingga akhirnya Hal itu pun terjadi.

Tanya jalani hidup berumah tangga dengan kekasih, dan menjadi dewasa seutuhnya… semoga perjalan hidup Tanya akan lebih indah dan selalu dipenuhi kasih sayang dan saling pengertian, sehingga apapun yang mereka hadapi nanti nya, mereka akan sangat siap. Amiiinnn…

Penulis Cerita:
Meli Deswita
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami