Pagi yang tenang di daerah pedesaan yang masih terbilang kumuh, hembusan angin pagi terasa begitu sejuk dan syahdu melambaikan setiap pepohonan yang berjejer rapi di jalan yang penuh krikil, bentangan sawah yang berbaris rapi seakan menandakan desa ini belum tersentuh fenomena perubahan alam, yang mencekam jiwa-jiwa pencinta ibu pertiwi.
Rumah yang cukup tua berada di antara bentangan sawah-sawah, di sudut rumah itu seorang kakek tua sedang berdzikir khusu’ dalam sejadah diselimuti langit-langit yang mulai berwarna keorenan, di sebelah ranjang yang mulai peot kakek itu bersimpuh matanya tertutup rapat dengan suara yang sedikit bergetar, entah apa yang ia rasakan, seakan-akan ada getaran petir yang menyayat-nyayat kalbunya,
“kakek iqbal berangkat dulu?” Suara itu mengagetkan sang kakek, mata kriputnya terbuka berlahan
“nak jangan pernah merasa capet untuk menggapai kesuksesan” Iqbal terdiam, karena kata-kata itu bukan hanya satu kali, dua kali kakeknya mengatakan hal tersebut.
“assalamualaikum”,
“wa’alaikum salam”
“nak jangan pernah merasa capet untuk menggapai kesuksesan” Iqbal terdiam, karena kata-kata itu bukan hanya satu kali, dua kali kakeknya mengatakan hal tersebut.
“assalamualaikum”,
“wa’alaikum salam”
Langkah iqbal kaku, langkahya mulai menembus gelapnya dunia pagi, udara dingin pun menemani setiap langkahnya menyusuri jalanan yang penuh krikil, rasa dingin menusuk-nusuk tulangnya menuai hasrat yang takkan goyah.
Tak terasa matanya sudah tertuju pada sebongkah gedung tua di seberang jalan, gedung tua itu sudah berdiri sejak kolonia belanda merajalela di negeri yang penuh dengan rempah-rempah ini.
“tuhan ini kah negeriku, miskin atau kah kaya, siapa yang miskin sebenaranya?”
Batin iqbal menjerit..
“berita di tv itu menikam kaum miskin sepertiku.. apa-apaan ini, ancur tak karu-karuan. huffft” Iqbal menghela nafas, ia masih siswa SMP swasta di desanya, namun sudah mengerti peradaban negeri ini, hatinya selalu terpukul oleh tikus tikus yang berdasi itu, pikirannya melayang entah kemana, menembus angan yang ingin ia gapai dan ia perbaiki, namun apalah daya, matanya kembali menembus masuk ke dalam gedung tua tersebut, di lihatlah sisi demi sisi gedung
“tragis”, tatapan matanya tertuju pada figura kusam yang berdebu, namun masih terpasang di dinding bagunan tersebut.
“tuhan ini kah negeriku, miskin atau kah kaya, siapa yang miskin sebenaranya?”
Batin iqbal menjerit..
“berita di tv itu menikam kaum miskin sepertiku.. apa-apaan ini, ancur tak karu-karuan. huffft” Iqbal menghela nafas, ia masih siswa SMP swasta di desanya, namun sudah mengerti peradaban negeri ini, hatinya selalu terpukul oleh tikus tikus yang berdasi itu, pikirannya melayang entah kemana, menembus angan yang ingin ia gapai dan ia perbaiki, namun apalah daya, matanya kembali menembus masuk ke dalam gedung tua tersebut, di lihatlah sisi demi sisi gedung
“tragis”, tatapan matanya tertuju pada figura kusam yang berdebu, namun masih terpasang di dinding bagunan tersebut.
“teng teng teng..!” Suara lonceng tanda masuk kelas sudah berbunyi, namun langkah iqbal dicegah oleh lelaki paruh baya yang berbaju rapi namun lusuh,
“iqbal, tali sepatumu copot” Pandangannya terarah pada sepasang sepatu tua yang mulai menganga,
“entahlah mungkin sepatunya kelaparan..” jerit hati iqbal, jemarinya mulai memperbaiki sepatu dekil itu.
“iqbal, tali sepatumu copot” Pandangannya terarah pada sepasang sepatu tua yang mulai menganga,
“entahlah mungkin sepatunya kelaparan..” jerit hati iqbal, jemarinya mulai memperbaiki sepatu dekil itu.
Jejeran kursi yang hampir roboh itu masih menghiasi ruangan tesebut, jejeran figura foto-foto pahlawan pun seakan menemani aktivitas di kelas tersebut, tak luput juga senyuman dan semangat siswa-siswi juga menghiasi ruangan tersebut,
“huuzzs, bapak guru mulai datang” Bentak salah satu siswi terpandai di kelas
“jangan sok ngatur kau nisa, siapa kau?, kau hanya anak petani yang sering kelaparan, lihatlah aku, aku ini adalah anak pejabat desa ini, hahaha” Tawanya seakan membantai suasana kelas, deretan siswa yang kurang mampu tertunduk,
“dasar miskin kalian” Sahutnya kembali, seakan tak puas indra kembali berteriak
“MISKIN”
“praaak” Suara meja yang terpukul mengagetkan seisi ruangan tersebut
“diam… heee indra, pantaskah seorang anak pejabat berkata seperti itu?, dasar kau picik” Suara iqbal menggelegar, matanya memerah, hatinya kesal.
“praaak”
“diam…!!!, apa-apan ini, jangan ribut di kelasku”
“huuzzs, bapak guru mulai datang” Bentak salah satu siswi terpandai di kelas
“jangan sok ngatur kau nisa, siapa kau?, kau hanya anak petani yang sering kelaparan, lihatlah aku, aku ini adalah anak pejabat desa ini, hahaha” Tawanya seakan membantai suasana kelas, deretan siswa yang kurang mampu tertunduk,
“dasar miskin kalian” Sahutnya kembali, seakan tak puas indra kembali berteriak
“MISKIN”
“praaak” Suara meja yang terpukul mengagetkan seisi ruangan tersebut
“diam… heee indra, pantaskah seorang anak pejabat berkata seperti itu?, dasar kau picik” Suara iqbal menggelegar, matanya memerah, hatinya kesal.
“praaak”
“diam…!!!, apa-apan ini, jangan ribut di kelasku”
Tiba-tiba kelas sunyi, hanya suara cicak menunggu gedung tua itu yang bernyanyi-nyanyi riang, mungkin sedang menemukan nyamuk yang merajalela di gedung tersebut.
Bunyi sepatu mendekati iqbal, iqbal menunduk, ia ketakutan.
“iqbal tolong pasangkan figura ini” Bapak guru menyodorkan sepasang figura yang sangat bagus, terlihat jelas gambar presiden dan wakilnya yang tersenyum manis di dalam figura tersebut, lagi-lagi hati iqbal menjerit.
“lihatlah sepasang foto ini, tersenyum begitu manis, dengan jas yang begitu mewah membalut badannya, entah berapa kali figura ini telah diperbarui, namun lihatlah gedung sekolahku, lihatlah kami pak presiden, lihatlah kami yang berbaju kusam, kelaparan dan miskin..”
Mata iqbal tertuju pada sepasan mata yang terdapat di figura tersebut, hasratnya melambung tinggi, angannya terbang,
“andai kata aku seoarang presiden, mampukah aku melakukan yang lebih baik darimu?”
Iqbal memulai langkahnya menuju dinding di depan kelas, nafasnya terputus-putus, ia marah pada deretan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang telah meregut hak-hak masyarakat miskin.
Bunyi sepatu mendekati iqbal, iqbal menunduk, ia ketakutan.
“iqbal tolong pasangkan figura ini” Bapak guru menyodorkan sepasang figura yang sangat bagus, terlihat jelas gambar presiden dan wakilnya yang tersenyum manis di dalam figura tersebut, lagi-lagi hati iqbal menjerit.
“lihatlah sepasang foto ini, tersenyum begitu manis, dengan jas yang begitu mewah membalut badannya, entah berapa kali figura ini telah diperbarui, namun lihatlah gedung sekolahku, lihatlah kami pak presiden, lihatlah kami yang berbaju kusam, kelaparan dan miskin..”
Mata iqbal tertuju pada sepasan mata yang terdapat di figura tersebut, hasratnya melambung tinggi, angannya terbang,
“andai kata aku seoarang presiden, mampukah aku melakukan yang lebih baik darimu?”
Iqbal memulai langkahnya menuju dinding di depan kelas, nafasnya terputus-putus, ia marah pada deretan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang telah meregut hak-hak masyarakat miskin.
Suasana riuh di kelas terganti dengan suasana sunyi, pandangan anak-anak negeri ini tertuju pada papan hitam di depan kelas, semangat dan perjuangan anak negeri ini tidak terpatahkan, ia miskin namun ia mempunyai cita-cita yang mulia.
Matahari tepat berada di atas gedung, lonceng pun berbunyi, satu-persatu anak-anak keluar, melanjutkan langkah yang mulai terpisah, suasana panas merasuk raga iqbal, langkahnya ia percepat, sepatunya yang robek menghantam kerikil-kerikil di jalanan, namun langkanya semakin cepat, rasa lapar yang ia rasakan seakan menghentikan waktu, ia harus mencabut singkong untuk ia makan, karena tak sanggup untuk membeli beras untuk ia nanak.
Malam mulai menyelimuti hari iqbal, mata kantuknya mengiringinya untuk melanggkah menuju ranjang tua dimana kakeknya sudah tertidur pulas, ditutupnya buku di depannya, perlahan matanya tertutup beriringan dengan mimpinya yang baru di mulai, “bismillah hirrohmanirrohim” iqbal menutup matanya, berharap hari esok menyambutnya dengan hangat.
Pengarang Cerita: Nisa Khanza Sakhi
