Di sudut ruangan ini aku duduk sendiri. Merasakan keterasingan, merasakan kesepian, merasakan kehampaan. Entah dimulai kapan aku tak tahu pasti. Yang ku tahu bila rasa itu datang, sakitnya menusuk sampai ulu hati. Perih. Teramat sangat perih. Tidak ada minum, tidak ada rok*k, pun tidak ada pill seperti biasa untuk mengobati rasa sakit ini apabila datang. Lagu Diary Depresi LC pun tak ada berkumandang melatar belakangi suasana. Gelap. Hening. Dingin.
Saat ini aku hanya ingin merasakan totalnya rasa sakit. Terkadang aku jambak rambut ini. Rambut yang sama sekali botak. Aku remas kepala ini. Aku pukul apa yang bisa ku pukul. Inginnya aku berteriak, tapi keheningan ini seolah membekap mulut. Terasa dikunci. Terlalu lemah untukku bergumam apalagi berteriak.
Andai saja aku punya seorang sahabat, sahabat yang bisa menjadi penyanggaku di saat aku terjatuh, sahabat yang ikut tersenyum di saat aku bahagia. Mungkin beban ini akan sedikit berkurang, atau malah sirna. Tapi ah… Siapa pula yang ingin bersahabat denganku? Orang aneh yang miskin. Miskin harta, miskin cinta. Hanya kesibukan lah yang menjadi pengalihannya. Kesibukan yang kadang membawa masalah baru. Hmmm… Hidup memang takkan pernah bebas dari masalah. Tetapi memang sudah begitu suratanya. Tanpa masalah, hidup ini terasa hambar. Banyak masalah, hidup ini terasa menyiksa. Hanya orang mati yang tak dikunjungi masalah. Setidaknya itu persepsiku. Persepsi seorang atheis yang kecewa pada Tuhan.
Ya, aku seorang atheis. Atheis semenjak perceraian kedua orangtuaku. Atheis semenjak kasih sayang Tuhan yang aku harapkan tak kunjung jua menyapa. Aku bukan tidak mencari, Pernah aku mencari Tuhan di masjid tetapi aku tidak menemukanNya. Begitu pun di gereja, aku juga tidak menemukaNya. Aku malah pusing dengan bau entah, mungkin dupa. Aku tak tahu mengapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya. Ataukah mungkin ini semua karena hatiku yang telah membatu? Karena rasa sakit hati yang mengendap menjadi dendam dan membekukan hati? Bisa jadi, hatiku mungkin telah membatu.
Sudah nyaris 22 jam aku di sini. Dan aku tak tahu sampai kapan aku di sini. Tak ada rasa lapar, pun rasa haus. Tak ingin buang angin apalagi buang air. Yang aku inginkan adalah duduk sendiri, tanpa ada orang yang menggangguku.
Udara dini hari buta semakin mendukung suasana. Sakit, dingin. Perih. Pernah aku berfikir, kemana lagi aku harus pergi? Seberapa cepat lagi akau harus berlari? Jujur, aku mulai jenuh dan lelah dengan semua ini. Rasa sakit itu dengan cepat dan mudah menemukanku. Dia seperti bayangan kita, di manapun kita berada dia kan tetap mengiringi. Walau gelap menguasai, bayangan tidak hilang. Hanya tidak nampak. Hahahah aku ingin tertawa melihat kebodohan dan ketololanku. Kenapa aku tidak berani mati? Katanya atheis yang tak percaya Tuhan? Katanya atheis yang tak percaya alam akhirat? Hanya hati kecil ini yang bisa menjawab.
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Asyhaduallailahailallah…
Asyhaduallailahailallah…
Adzan subuh di surau dekat rumah telah berkumadang. Ada rasa sakit yang lain menyapaku. Rasa sakit yang ku kira ini lebih karena rindu. Tanpa sadar air mata mulai turun. Aku menangis. Bukan hanya mata. Tapi juga hati. Seketika rasa sakit yang pertama kurasa menghilang. Seiring alunan adzan yang berkumandang syahdu. Inginnya aku berlari ke surau itu. Berwudhu kemudian sholat dan berdo’a. Menyesalai keputus asaanku terhadap diriNya yang membuatku menjadi atheis. Berkeluh kesah pada diriNya dan meminta banyak hal pada diriNya. Tapi sayang, iblis tak membiarkanku berlama-lama terlena. Dian meniupkan nafas kesesatan yang amat kencang. Seketika egoku meninggi. Hatiku yang sempat melunak kini beku kembali. Beku bersama aluanan adzan yang berhenti. Maka berhenti pula tangis ridu itu. Dan rasa sakit yang menemaniku, bertahta kembali. Angkuh menjajah hati.
Allahu Akbar… Allahu Akbar
Asyhaduallailahailallah…
Asyhaduallailahailallah…
Adzan subuh di surau dekat rumah telah berkumadang. Ada rasa sakit yang lain menyapaku. Rasa sakit yang ku kira ini lebih karena rindu. Tanpa sadar air mata mulai turun. Aku menangis. Bukan hanya mata. Tapi juga hati. Seketika rasa sakit yang pertama kurasa menghilang. Seiring alunan adzan yang berkumandang syahdu. Inginnya aku berlari ke surau itu. Berwudhu kemudian sholat dan berdo’a. Menyesalai keputus asaanku terhadap diriNya yang membuatku menjadi atheis. Berkeluh kesah pada diriNya dan meminta banyak hal pada diriNya. Tapi sayang, iblis tak membiarkanku berlama-lama terlena. Dian meniupkan nafas kesesatan yang amat kencang. Seketika egoku meninggi. Hatiku yang sempat melunak kini beku kembali. Beku bersama aluanan adzan yang berhenti. Maka berhenti pula tangis ridu itu. Dan rasa sakit yang menemaniku, bertahta kembali. Angkuh menjajah hati.
Pengarang Cerita: Kang Zaen
