Feby dan Via sedang bermain di pantai yang kebetulan dekat dengan rumah mereka. ya, mereka adalah anak nelayan yang tinggal di pinggir pantai. desa mereka bernama “Ikan Makmur”. memang nama yang lucu dan aneh untuk sebuah desa. Feby dan Via ini adalah teman akrab sejak mereka masih kecil. mereka adalah sahabat yang setia. walau sifat feby yang tomboy dan sifat Via yang agak feminim gitu tapi mereka tak pernah bertengkar.
Saat feby sedang berlari mengejar via, ia menemukan sebuah arloji yang indah. “vi.. sini bentar deh.. aku nemuin sesuatu nih..” ujar feby. “apaan.. jangan bohong ya.. nanti kamu bohong saja untuk menangkapku.” ujar via. “ih.. ini gak bohong. sini deh..” ujar feby lagi. via pun menghampiri feby. “apa?” tanyanya. “ni lihat aku nemuin arloji yang indah dan ‘cool’ nih.” Jawab feby. “mana mana?” tanyanya. “sabar bro..” lalu feby memperlihatkan arloji itu kepada via. “wih.. cantik banget nih arloji..” ujar via sambil mengedip ngedipkan matanya. “gak, gak cantik tapi cool..” ujar feby. “cantik!” “cool!” “cantik!” “cool!” “ih.. oh, gimana kalau cantik dan cool?” ujar via. “ya…” ujar feby.
Mereka pun membawa arloji yang dibalut warna kuning keemasan itu ke rumah pohon yang dibuat oleh ayah feby. “buka dong..” ujar via. “ia ini juga mau dibuka” ujar feby. “ayo buka..” “sabar dong bro..” saat febi mebuka penutup arloji itu dan keluarlah dua orang yang cukup cantik. mereka pun sempat kaget. “dimana kita?” ujar perempuan yang menggunakan mahkota. “entahlah. sepertinya kita ada di dimensi lain putri.” ujar seorang yang satunyas sambil celingak celinguk. “eh.. eh.. sepertinya itu putri deh..” ujar feby sambil menyenggol tangan via. “iya.. mungkin.” jawab via. “caktik ya..” ujar feby berbisik. “ah.. enggak ah.. lebih cantikkan aku kali..” ujar via. “huu.. dasar..”. tiba tiba seseorang yang memakai mahkota itu bertanya dengan sedikit berteriak dan mengagetkan feby dan via yang sedang berbisik. “siapa kalian?” tanya orang itu. “lah kamu siapa terus ngapain di markas rahasia kami?” tanya via balik. “kami datang kesini karena arloji ajaibku memanggilku.” ujar orang itu. “ohh.. salam kenal aku feby dan ini temanku via yang.. yah.. agak centil dan sok imut.” ujar feby memperkenalkan diri. “oh.. apakah kalian ini manusia dan kami sekarang sedang ada di bumi?” tanya orang yang tidak memakai mahkota itu. “lah, kamu kira kita ini apa? hewan? ya jelas kami manusia! Memangnya kalian apa hah?” ujar via sedikit sewot. “sabar vi..” ujar feby. “kami ini peri.” jawab mereka serempak. “hahahahaha…” feby dan via pun tertawa. “kenapa kalian tertawa? apa ada yang lucu?” tanya orang yang memakai mahkota itu. “hehe.. gak kok.. oh iya kalian belum memperkenalkan diri kalian.” ujar feby. “hhmm… nama saya putri stevhani dan ini adalah icha. dia adalah sahabat setia saya.” ujar wanita yang menggunakan mahkota itu. “lalu kalian dari mana?” tanya feby lagi. “kami berasal dari negeri di dimensi lain yang tak seorangpun tau kecuali kami para peri.” jelas putri stevhani. “negeri apa namanya?” tanya feby. “browallia” jawab putri stevhani dan icha serentak. “nah.. kalian kan peri, ayo tunjukan biar kami percaya kalau kalian itu peri.” ujar via. “oke.. tutup mata kalian.” ujar icha. lalu putri stevhani dan icha pun mengubah tempat markas veby dan via menjadi berwarna dan rapi. “buka mata kalian..” ujar putri stevhani. “wah.. keren.. iya deh aku percaya..” ujar via. “oh ya tuan putri, kenapa kita gak jalan jalan dan melihat lihat dimensi ini?” ajak icha. “ide bagus tuh..” ujar putri stevhani menytujui. “mau kah kalian mengejak kami melihat lihat dimensi yang tempati ini.” Ujar putri stevhani meminta. “oke.. wani piro?” ujar via. “via! oke putri.” Jawab feby. mereka pun mengajak putri stevhani dan icha untuk melihat lihat pantai pasir putih ini.
Saat hari sudah mulai sore, mereka pun berpisah. “hhm.. feby, via terima kasih kalian sudah mengajak kami melihat lihat dimensi kalian.” ujar putri stevhani. “ya putri. oh ya ini arloji punya putri.” ujar feby. “hhmm… putri, icha apa kalian akan pergi.?” tanya via yang nampak sedih. “oh.. arloji ini, simpan saja. siapa tau kita akan bertemu kembali.” ujar putri stevhani. “bener nih? makasih ya putri.” ujar feby. “oh ya satu hal lagi, jangan penggil aku putri dong. panggil aja stevhani.” ujar stevhani. “oh oke put.. eh stevhani.” Jawab via. mereka pun berpisah di pantai itu.
Pengarang Cerita: Febriska Ditiea Utami
