Pagi hari ibuku selalu membangunkanku dengan cara-caranya yang tak bisa kutebak. Kali ini ia membangunkanku dengan mencubit hidungku sangat keras. Katanya, ia sudah membangunkanku tiga kali, tapi aku tak kunjung bangun meninggalkan mimpi-mimpiku yang tak karuan itu. Wajarlah, namanya juga anak SD.
Saat aku pergi ke meja makan, ternyata tak ada secuil makanan pun di atas meja. Yang ada hanya piring dan sendok yang tertata sangat rapi. “Hani, kamu beli makanan di sekolah saja ya, ini uang sakumu ibu tambah, ibu beragkat kerja dulu.” teriak ibu sambil memakai sepatu dengan serabutan. “Kenapa ibu nggak masak hari ini? biasanya sesibuk apaun pekerjaannya ia selalu menyempatkan waktunya untuk memasak walaupun hanya mie instan dan telur.” Gumamku sambil mengunci pintu rumah.
Jalanan sudah sangat ramai. Padahal masih jam 6 pagi. Apa ada perubahan jam kerja? sehingga para pekerja berangkat lebih awal dari biasanya. Ataukah semuanya telah kerasukan setan rajin? aku terus memikirkan hal itu di sepanjang jalan menuju sekolah.
Sampai di pertigaan, sekolahku terlihat sangat sepi, tidak ada rentengan penjual di depan gerbang sekolah. Hanya terlihat satu dua anak yang masih berkeliaran. Aku fikir aku telat, jadi aku berlari dengan cepatnya agar tidak dihukum. Tapi anehnya, di halaman sekolah masih banyak anak yang berkeliaran dan bermain dengan teman-temannya.
Terdegar teriakan Ani yang melengking di telingaku. “haaaiii…” “apa?” jawabku agak malas. “hehe… gak jadi deh.” “Hey hey… Ani, sadarlah kawan kau hanya buang buang waktu saja kalau cuma ingin bilang yang gituan.” Terangku sambil menunjukkan tampang kesal. Tanpa bicara apapun Ani langsung pergi meninggalkanku. “Kenapa Ani gak langsung crita saja? biasanya ceritanya sampai membanjiri memori otakku.” Celotehku sambil masuk ke kelas.
Hari ini, para pahlawan yang katanya tanpa tanda jasa itu, kenapa terlihat bermalas-malasan. Bahkan hari ini yang mengajar di kelasku hanya Pak Ahmat, guru agama. Cara mengajarnya pun berbeda dari biasanya. Sepanjang pelajaran pun ia tidak mengeluarkan kosa kata-kosa kata terkocak yang biasa membuatku tak bisa berhenti tertawa.
Entah, sebenarnya ini hari apa? Kenapa semua orang berubah seratus delapan puluh puluh puluh derajat dari biasanya. Di memori otakku hanya ada satu kata yaitu, ENTAHLAH.
Pengarang Cerita: Ilil Hanimro
