Februariku

Senin, 13 Januari 2014 | komentar

Fajar pagi paksaku untuk segera terbangun dari lelapku. Angin menderu seakan bisikan “kau harus terbangun”.
Suasana pagi yang sedikit ramai karena tak tentunya cuaca, belum juga menyegerakan ragaku untuk terbangun. Bahkan sahutan bunyi sms pun tak juga bangunkanku.
Aku tersentak ketika jam menunjukkan pukul 05.00. “kesiangan”. Kata-kata itu kembali bersamaku di pagi ini. Ku lihat handphone ku. Puluhan temanku mengirim kata sederhana yang buat hatiku terharu. “happy birthday” mereka lantunkan seraya ucapkan beragam harapan yang kian buatku termotivasi.
Februariku serasa biasa saja setelah lulus sekolah, karena tak ada lagi ulah rewel teman-temanku yang memberi surprise. Hari ini aku jalani seperti biasa, mengerjakan aktivitas keseharianku. Kringgg… dering telfon mengagetkanku.
“hallo .. Dengan mba nia, teman mas izy?”
“iya mas..” jawabku heran.
“temen mba kecelakaan di dekat rel kereta”.
Dengan acuh aku menjawab. “si mas bergurau yah..”
“bener mba…” tuuuttt… telfon dimatikan
Bingung dan cemas yang setelah itu datang.
Matahari pagi telah berubah menjadi sengatan panas yang terik di siangnya hari. Tak begitu dengan perasaanku yang masih begitu cemas memikirkan kabar kecelakaan tadi. Dari kejauhan terlihat sosok yang sepertinya aku kenali. Izy!? Kecemasanku berubah menjadi kesal dan gemas atas ulahnya yang ternyata membohongiku dengan berpura-pura kecelakaan. Hari yang kita hanya berselisih, izy jadikan sebuah “satu hari yang berbeda”. Ia beriku sebuah videonya yang sedang bernyanyi lagu ulang tahun untukku, dan sebuah sweater merah.
Hati berganti. Hari ini adalah hari disaat remaja disibukkan dengan warna pink dan coklat. “tak terlalu tertarik dengan hari itu. Karena menurutku, kita hanya melakukan hal yang tidak terlalu penting”. Gumamku di hati. Senja di valentine itu, aku dan izy kembali berselisih. Berawal dari izy, yang melihat kiriman dinding dari mantanku di facebookku.
“kenapa sih, dia selalu buatku rasa terbakar cemburu”. Izy membuat status. Segera anji membalas pernyataan izy. “ape lu? Yang lu maksud gue?” sedikit dengan nada tinggi. Mereka beradu lisan. Izy yang tak inginkan perselisihan hanya menjawab. “kalau kamu sayang nia, dan ia juga sayang kamu, silahkan kalian bersama. Aku mungkin sedikit, tapi aku tulus.” balas izy.
Dilema. Anji mengadu domba orang terdekatku, demi aku. Ia sangat baik di depanku, tapi ia tega bertingkah buruk dengan orang terdekatku. “apa mungkin ini kesalahanku dulu? Yang pernah sakiti anji?”. Ungkap ku di hati.
Izy, yang selalu berusaha berubah menjadi lebih baik walau sedikit, tak pernah aku perdulikan.
Aku menjalani hubungan dengan izy. Tapi aku masih saja beri harapan pada anji. Ini mungkin salahku, karena tak punyai prinsip untuk memilih salah satu. Sekarang, tak aku dapatkan keduanya. Anji, memilih hilang dariku karena merasa diberi harapan kosong.
“kalau sudah tak sayang, tak usah perhatian/seakan beri harapan. Karena semua itu hal yang bisa numbuhin benih cinta yang harusnya sudah dihancurkan”. Itulah pesan terakhir dia, dengan sebuah boneka kitty yang ia berikan padaku. Sedangkan izy, orang yang selama ini berusaha menyimpan hal buruk anji yang tak menyukainya melakukan hal yang sama. Ia pergi, tak lagi kirimkan kabar dan takkan kembali lagi tak tahu sampai kapan masanya. Handphone berbunyi, yang aku harapkan benar. Aku dapati pesan singkat dari izy.
“cinta dalam hati yang terpendam, untuk sang pujaan.
Maafkan perasaan yang ku pendam.
Jika semua ini takkan ku ucapkan.
Biarlah semua tersimpan menjadi kenangan yang takkan pernah hilang”
Tetes air mataku, iringi kepergiannya,
Jangan selalu kau tutup matamu,
Untuk orang yang ternyata tulus apa adanya.
Karena kehilangannya, sangat menyakitkan!
Apalagi jika kita belum sempat ucapkan bahwa kita “bahagia dengannya”.
Februariku…
Penulis Cerita: Nurul Ismiyati
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami