10 tahun yang lalu
“Ayo, Will… Ayo sini main lagi..” teriakku dengan bersemangat.
Tetapi, bukannya dia datang menghampiriku dan mencoba merebut bola yang berada di tanganku, dia malah duduk-duduk di pinggir lapangan. Melihat kepalanya yang terus tertunduk, aku pun menghampirinya dengan langkah lebar-lebar.
“Hey, ada apa? Enggak biasanya kamu kayak gini. Apa ada yang salah?” tanyaku kebingungan karena sepertinya pikirannya sedang melayang entah kemana. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit hingga dia tidak mengetahui keberadaan ku yang sekarang sudah berada di sampingnya.
Tidak lama kemudian dengan perlahan, sambil menghembuskan nafas dengan berat, dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku dengan ekspresi serius yang hampir membuatku lari ketakutan.
“Jo… aku dan keluargaku akan pindah ke Inggris. Karena Papa di mutasikan dari kantornya ke sana.” ucap Will dengan raut wajah yang sepertinya sangat berat untuk mengatakan hal ini.
“Hahaha… Will.. Will… kukira ada hal buruk apa sampai-sampai kau berat sekali mengatakannya kepadaku. Itu bagus sekali Will. Wow, Inggris!! Keren!!!” ucapku antusias dan berusaha tidak tertawa keras ketika melihat perubahan raut wajah Will yang lucu.
“Kau tidak marah padaku karenaaa… mmm… aku akan meninggalkanmu?” ucapnya dengan raut muka terkejut, tidak percaya, dan bingung. Karena mungkin jawabanku tidak sesuai dengan pikirannya.
“Hahaha Will seharusnya kau melihat raut wajahmu sendiri saat mengatakannya. Tentu saja tidak. Aku tidak marah. Karena aku tidak punya alasan untuk marah.” sahutku ceria dan sekali lagi aku tertawa melihat raut wajah Will.
“Hahahaha…” Will pun tertawa setelah aku tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat raut wajahnya.
Setelah tawa kami berhenti aku bertanya kepadanya, “Ngomong-ngomong kapan kamu pindah?”
“Besok, jam 10. Tapi pesawatku baru bakal take off sekitar jam 11.”
“Okeeehhh.. Besok aku akan ikut mengantarmu sampai ke bandara.” sahutku cepat dan terdengar ceria.
“Ayo, Will… Ayo sini main lagi..” teriakku dengan bersemangat.
Tetapi, bukannya dia datang menghampiriku dan mencoba merebut bola yang berada di tanganku, dia malah duduk-duduk di pinggir lapangan. Melihat kepalanya yang terus tertunduk, aku pun menghampirinya dengan langkah lebar-lebar.
“Hey, ada apa? Enggak biasanya kamu kayak gini. Apa ada yang salah?” tanyaku kebingungan karena sepertinya pikirannya sedang melayang entah kemana. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit hingga dia tidak mengetahui keberadaan ku yang sekarang sudah berada di sampingnya.
Tidak lama kemudian dengan perlahan, sambil menghembuskan nafas dengan berat, dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku dengan ekspresi serius yang hampir membuatku lari ketakutan.
“Jo… aku dan keluargaku akan pindah ke Inggris. Karena Papa di mutasikan dari kantornya ke sana.” ucap Will dengan raut wajah yang sepertinya sangat berat untuk mengatakan hal ini.
“Hahaha… Will.. Will… kukira ada hal buruk apa sampai-sampai kau berat sekali mengatakannya kepadaku. Itu bagus sekali Will. Wow, Inggris!! Keren!!!” ucapku antusias dan berusaha tidak tertawa keras ketika melihat perubahan raut wajah Will yang lucu.
“Kau tidak marah padaku karenaaa… mmm… aku akan meninggalkanmu?” ucapnya dengan raut muka terkejut, tidak percaya, dan bingung. Karena mungkin jawabanku tidak sesuai dengan pikirannya.
“Hahaha Will seharusnya kau melihat raut wajahmu sendiri saat mengatakannya. Tentu saja tidak. Aku tidak marah. Karena aku tidak punya alasan untuk marah.” sahutku ceria dan sekali lagi aku tertawa melihat raut wajah Will.
“Hahahaha…” Will pun tertawa setelah aku tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat raut wajahnya.
Setelah tawa kami berhenti aku bertanya kepadanya, “Ngomong-ngomong kapan kamu pindah?”
“Besok, jam 10. Tapi pesawatku baru bakal take off sekitar jam 11.”
“Okeeehhh.. Besok aku akan ikut mengantarmu sampai ke bandara.” sahutku cepat dan terdengar ceria.
Keesokan harinya, aku mengantar Will ke bandara dengan perasaan tidak menentu. Antara sedih dan juga senang. Sedih karena harus berpisah, senang karena sahabatku itu bisa keluar negeri dan dapat meneruskan cita-citanya dengan gemilang. Sebelum pergi, dia berjanji padaku akan kembali secepat mungkin. Lalu kemudian, dia tersenyum secara misterius ke arahku dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi padaku. Aku tertegun dengan tingkah lakunya yang aneh sekali pada waktu itu. Tetapi, aku cepat-cepat tersadar untuk menyalami keluarga Eigner lainnya. Tidak lama kemudian pesawat itu pergi meninggalkan bandara Soekarno-Hatta yang berarti meninggalkanku juga dengan perasaan yang mulai terasa sepi dan kosong.
Minggu, 10 Mei 2007 pukul 23.35 WIB
Aku terbangun dengan nafas yang tidak teratur. Lagi-lagi aku bermimpi itu, pikirku dengan geram. Setelah dia melemparkan senyum misteriusnya kepadaku di bandara, senyum itu terus menghantui malam-malamku. Dengan perasaan linglung, aku meraih HP-ku yang terletak di meja di sebelah tempat tidurku. Aku terbelalak kaget saat mengetahui aku baru tertidur selama 2 jam. Hebat, pikirku dengan sangat geram. Aku pun menghempaskan tubuhku untuk tidur kembali, dan tidak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.
Aku terbangun dengan nafas yang tidak teratur. Lagi-lagi aku bermimpi itu, pikirku dengan geram. Setelah dia melemparkan senyum misteriusnya kepadaku di bandara, senyum itu terus menghantui malam-malamku. Dengan perasaan linglung, aku meraih HP-ku yang terletak di meja di sebelah tempat tidurku. Aku terbelalak kaget saat mengetahui aku baru tertidur selama 2 jam. Hebat, pikirku dengan sangat geram. Aku pun menghempaskan tubuhku untuk tidur kembali, dan tidak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.
Senin, 11 Mei 2007 pukul 05.30 WIB
Aku terbangun kaget saat mengetahui aku terlambat bangun setengah jam, yang berarti besar kemungkinan aku akan sukses terjebak macet dan membuat diriku sendiri terlambat untuk sampai ke kantor. Perusahaan tempatku bekerja terletak di Jakarta Selatan yang pada pagi hari ruas jalan dipenuhi oleh segerombolan kendaraan yang akan pergi bekerja, apalagi hari ini hari Senin! Yang berarti besar kemungkinan aku terlambat karena macet besar sekali.
Aku terbangun kaget saat mengetahui aku terlambat bangun setengah jam, yang berarti besar kemungkinan aku akan sukses terjebak macet dan membuat diriku sendiri terlambat untuk sampai ke kantor. Perusahaan tempatku bekerja terletak di Jakarta Selatan yang pada pagi hari ruas jalan dipenuhi oleh segerombolan kendaraan yang akan pergi bekerja, apalagi hari ini hari Senin! Yang berarti besar kemungkinan aku terlambat karena macet besar sekali.
Aku melakukan aktifitas pagiku dengan terburu-buru, hingga aku lupa sarapan. Aku membawa mobilku ngebut semaksimal mungkin di antara mobil-mobil yang sepertinya enggan bergerak. Sesampainya di kantor jam sudah menunjukkan pukul 08.30, yang berarti aku telat 30 menit. Dengan terburu-buru aku naik ke kantorku yang berada di lantai 3. Pada perjalanan ke bilikku, aku melihat ruangan bosku yang ternyata masih kosong melompong. Aku pun dapat bernafas dengan lega setelah mengetahui ada kemungkinan bosku itu juga terlambat.
Tetapi pikiranku salah. Tidak lama sampai di tempat dudukku, aku sudah dipanggil untuk masuk ke ruang meeting. Aku masuk ke ruang meeeting dengan hati bertanya-tanya. Disana telah duduk para senior-senior editing tempatku bekerja.
Tetapi pikiranku salah. Tidak lama sampai di tempat dudukku, aku sudah dipanggil untuk masuk ke ruang meeting. Aku masuk ke ruang meeeting dengan hati bertanya-tanya. Disana telah duduk para senior-senior editing tempatku bekerja.
Setelah aku duduk di tempat kosong di sebelah temanku, Jessica, mereka mulai menjelaskan kepadaku mengapa mereka memanggilku. Yang ternyata mereka hanya ingin mendengar pendapatku tentang tema majalah kami untuk 2 minggu ke depan. Dan, ya, aku memang bekerja sebagai editor di salah satu majalah terkenal se-Indonesia.
Saat aku menjelaskan mengapa aku lebih memilih tema natural yang menyajikan pemandangan indah dari berbagai pulau di Indonesia, mataku menangkap sebuah bayangan di pintu masuk ke ruangan itu. Dan aku dapat melihat sesosok bayangan yang sepertinya sedang menatap tepat ke arahku dengan pandangan yang tajam.
Setelah aku menyelesaikan apa yang sedang kujelaskan, aku izin untuk ke kamar mandi. Aku membuka pintu untuk keluar dan langsung berhadapan dengan orang yang selama ini telah menghantui mimpi-mimpiku dengan senyumnya itu.
“Hai, Jo”
Oh, Tuhan. Aku mengenali suara itu!! Suara yang selalu menghiasi setiap malamku. Suara yang kurindukan. Aku segera tersadar dan kemudian memukulnya dengan sangat keras, karena dia telah membuatku terus memimpikannya selama dia tidak ada.
“Hei.. hei.. heii… Hentikan.. Sakit tau.. Adu..duuhh..” dia dapat mengelak dari pukulanku, tapi pukulanku lebih banyak yang dapat bersarang di tubuhnya. Ohohohoho.
Aku terus memukulinya hingga kemudian dia memelukku dan menghentikkan semua manuver yang sedang kulakukan padanya.
“Lepaskan, William Eigner!!!” geramku sambil memberontak dalam pelukannya.
“Tidak, Joanne Dellacoure.” ucapnya tegas “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji tidak akan memukulku lagi dan lagi pula aku sudah kangen sekali padamu.”
Aku terdiam sesaat untuk memikirkan dampaknya bagiku apabila aku tidak menuruti keinginannya. Disaat aku terdiam, dia mengencangkan pelukannya hingga aku hampir kehabisan nafas.
“Oke.. Oke.. Aku janji tidak akan memukulmu lagi.” ucapku dengan menggerutu.
Dia melepaskan pelukannya secara mendadak, hingga membuatku limbung sesaat. Kemudian aku bertanya dengan sinis, “Mengapa kau kesini?”
“Aku mendengar kalau tante Victo sakit dan sekarang dia sedang kritis.”
“Mama tidak perlu kau kunjungi. Mama tidak akan mau bertemu denganmu.” ucapku semakin sinis.
“Hei, kau kenapa? Kenapa kau marah-marah padaku. Emang aku punya salah apa ke kamu?” dia bertanya seperti itu dengan raut wajah polos yang saat itu juga ingin ku pukul dengan sekuat tenaga.
“Pikir saja sendiri apa kesalahanmu hingga membuatku marah.” jawabku ketus.
“Ooh ayolah. Jangan bertingkah seperti anak kecil.” ucapnya dengan nada yang terdengar frustasi.
“Aku tidak bertingkah seperti anak kecil.” ucapku dengan sengit “Lalu, kau kesini untuk apa? Hanya untuk mengejekku doang?” ucapku semakin ketus.
“Oh tentu saja tidak.” dia seperti orang yang sedang menahan tawa. Aku memelototinya untuk meminta kepastian dan dia mengubah raut wajahya menjadi serius lagi karena melihat reaksiku.
“Aku kesini karena aku tidak tau dimana tante Victo dirawat.”
“Tidak mungkin kau tidak tau.” jawabku dengan nada skeptis.
“Jo… tidak mungkin aku berbohong disaat seperti ini.” balasnya dengan sangat frustasi terhadap tingkah lakuku.
Aku ingin membalas ucapannya saat terdengar lagu ‘If I Let You Go’-nya Westlife yang berasal dari HP-ku yang dengan nyaring memperdengarkan lagu itu.
“Hai, Jo”
Oh, Tuhan. Aku mengenali suara itu!! Suara yang selalu menghiasi setiap malamku. Suara yang kurindukan. Aku segera tersadar dan kemudian memukulnya dengan sangat keras, karena dia telah membuatku terus memimpikannya selama dia tidak ada.
“Hei.. hei.. heii… Hentikan.. Sakit tau.. Adu..duuhh..” dia dapat mengelak dari pukulanku, tapi pukulanku lebih banyak yang dapat bersarang di tubuhnya. Ohohohoho.
Aku terus memukulinya hingga kemudian dia memelukku dan menghentikkan semua manuver yang sedang kulakukan padanya.
“Lepaskan, William Eigner!!!” geramku sambil memberontak dalam pelukannya.
“Tidak, Joanne Dellacoure.” ucapnya tegas “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji tidak akan memukulku lagi dan lagi pula aku sudah kangen sekali padamu.”
Aku terdiam sesaat untuk memikirkan dampaknya bagiku apabila aku tidak menuruti keinginannya. Disaat aku terdiam, dia mengencangkan pelukannya hingga aku hampir kehabisan nafas.
“Oke.. Oke.. Aku janji tidak akan memukulmu lagi.” ucapku dengan menggerutu.
Dia melepaskan pelukannya secara mendadak, hingga membuatku limbung sesaat. Kemudian aku bertanya dengan sinis, “Mengapa kau kesini?”
“Aku mendengar kalau tante Victo sakit dan sekarang dia sedang kritis.”
“Mama tidak perlu kau kunjungi. Mama tidak akan mau bertemu denganmu.” ucapku semakin sinis.
“Hei, kau kenapa? Kenapa kau marah-marah padaku. Emang aku punya salah apa ke kamu?” dia bertanya seperti itu dengan raut wajah polos yang saat itu juga ingin ku pukul dengan sekuat tenaga.
“Pikir saja sendiri apa kesalahanmu hingga membuatku marah.” jawabku ketus.
“Ooh ayolah. Jangan bertingkah seperti anak kecil.” ucapnya dengan nada yang terdengar frustasi.
“Aku tidak bertingkah seperti anak kecil.” ucapku dengan sengit “Lalu, kau kesini untuk apa? Hanya untuk mengejekku doang?” ucapku semakin ketus.
“Oh tentu saja tidak.” dia seperti orang yang sedang menahan tawa. Aku memelototinya untuk meminta kepastian dan dia mengubah raut wajahya menjadi serius lagi karena melihat reaksiku.
“Aku kesini karena aku tidak tau dimana tante Victo dirawat.”
“Tidak mungkin kau tidak tau.” jawabku dengan nada skeptis.
“Jo… tidak mungkin aku berbohong disaat seperti ini.” balasnya dengan sangat frustasi terhadap tingkah lakuku.
Aku ingin membalas ucapannya saat terdengar lagu ‘If I Let You Go’-nya Westlife yang berasal dari HP-ku yang dengan nyaring memperdengarkan lagu itu.
Ternyata itu hanya sebuah SMS dari Papa yang isinya menyuruhku untuk ke rumah sakit secepatnya bersama dengan Will. Dengan perasaan bingung, aku pun bergegas mengambil tas dan semua peralatan ku. Sesampainya di parkiran, aku berjalan dengan sedikit berlari. Waktu mau buka pintu mobil, pintu itu malah ditahan oleh tangan, tak lain dan tak bukan, Will.
“Pakai mobilku saja.” dengan berkata seperti itu dia menarikku hingga ke depan mobilnya. Aku yang sudah tidak mempunyai tenaga lagi, hanya mengikuti perintahnya.
“Pakai mobilku saja.” dengan berkata seperti itu dia menarikku hingga ke depan mobilnya. Aku yang sudah tidak mempunyai tenaga lagi, hanya mengikuti perintahnya.
Selama diperjalanan, aku terdiam dengan pikiran yang melayang ke rumah sakit, dan mencoba memikirkan apa yang sedang terjadi. Tapi, tidak ada ide yang terlintas di dalam otakku. Will pun membiarkanku bersama dengan pikiranku.
“Sudah sampai.” katanya.
Dan dia melihatku masih tenggelam dengan pikiranku. Akhirnya dia berjalan turun, tetapi bukannya masuk ke dalam dia malah berjalan ke pintu yang berada di sampingku. Dia menarikku perlahan untuk turun dari mobilnya dan mencoba menenangkanku. Tapi aku malah menggeleng, untuk memberi tau dia aku tidak apa-apa.
Dan dia melihatku masih tenggelam dengan pikiranku. Akhirnya dia berjalan turun, tetapi bukannya masuk ke dalam dia malah berjalan ke pintu yang berada di sampingku. Dia menarikku perlahan untuk turun dari mobilnya dan mencoba menenangkanku. Tapi aku malah menggeleng, untuk memberi tau dia aku tidak apa-apa.
Kamar Mama terletak di lantai 2. Aku bergegas menaikinya seperti orang yang sudah panik tingkat tinggi. Dan aku memang sudah panik tingkat tinggi. Sesampainya di atas, aku berdiri didepan pintu kamar Mama dengan perasaan campur aduk. Aku mencoba menenangkan diriku dulu dengan menoleh ke belakang yang ternyata berdiri Will yang sepertinya hampir kehilangan nafas karena berusaha mengikutiku. Dia mengangguk untuk menyemangatiku saat dia menyadari aku sedang melihat ke arahnya.
Aku melangkah masuk dengan pasti dan langsung melihat kejadian yang membuat tubuhku kaku. Mama seperti orang yang tertidur pulas dan para dokter berusaha membangunkan Mama dengan alat kejut jantung yang lama-lama semakin tinggi tegangannya. Papa berjalan ke arahku dengan raut wajah aneh dan memelukku dengan erat. Tidak lama kemudian para dokter menggelengkan kepalanya dan menyelubungi Mama dengan kain putih. Aku baru tersadar dengan apa yang terjadi saat tubuhku bergetar karena Papa yang terisak sambil memelukku dan aku pun juga menangis sama seperti Papa.
Semua pengurusan Mama untuk dipindahkan ke rumah dapat diurus Papa dengan cepat. Dalam hati aku merasa lega untuk Mama karena Mama sudah setahun ini mengidap penyakit kanker otak stadium akhir yang waktu kami tau harapan Mama untuk hidup sudah tipis sekali.
Mama dipindahkan dengan mobil ambulans yang telah disediakan. Papa ikut di dalam mobil ambulans itu. Dan aku pulang dengan mobil Will. Lagi-lagi kami berdua terdiam selama diperjalanan. Aku dan Will sampai duluan di rumah. Will menyarankanku untuk memulai menelepon keluargaku untuk menyebarkan berita ini. Aku menurutinya dengan perasaan bingung. Tidak lama ambulans datang dan para tetangga pun mulai berdatangan untuk menyelawat. Karena tidak tahan dengan situasi seperti ini, aku masuk ke dalam kamarku. Dan Will juga ikutan masuk karena kami telah terbiasa seperti itu dari kecil.
Keesokan harinya semuanya berjalan seperti film yang pemutarannya sangat cepat di hadapanku. Keluarga Will datang. Mama dimakamkan. para tetangga dan kerabat berusaha menghiburku. Kak John — kakak Will— berusaha menciptakan lelucon agar aku terhibur dan sepertinya dia tidak berhasil karena tidak lama kemudian dia beranjak pergi dengan muka frustasi.
Karena tidak tahan melihat tingkah laku orang-orang yang berusaha menghiburku, aku masuk lagi ke dalam kamar—kali ini Will tidak mengikutiku—dan berusaha terlelap.
Karena tidak tahan melihat tingkah laku orang-orang yang berusaha menghiburku, aku masuk lagi ke dalam kamar—kali ini Will tidak mengikutiku—dan berusaha terlelap.
1 tahun kemudian
Aku dapat mulai terbiasa dengan tidak ada kehadirannya Mama di sisiku. Papa pun berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Will pun memilih tetap berada disini bersamaku dari pada pulang ke rumahnya di Inggris dan terus tetap berada disini selamanya hingga aku menikah dengannya.
Aku dapat mulai terbiasa dengan tidak ada kehadirannya Mama di sisiku. Papa pun berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Will pun memilih tetap berada disini bersamaku dari pada pulang ke rumahnya di Inggris dan terus tetap berada disini selamanya hingga aku menikah dengannya.
Penulis Cerita: Yuka Erawati
