Judul Yang Ditulis

Jumat, 10 Januari 2014 | komentar

Perkenalkan, namaku X, aku adalah tokoh utama dari novel yang belum selesai. Aku terjebak dalam kata-kata yang dirangkai oleh pengarangku sendiri, seseorang yang sengaja memasukkan aku ke dalam imajinasinya yang konyol dan sarat dengan logika itu. Jujur saja, aku muak dengan cerita yang dibuat oleh pengarang bodoh itu. Entah kenapa, aku harus selalu mengikuti kemana arah tinta dari penanya menari. Andai saja bisa kubuang sepatu dan kostum tarinya, alangkah senangnya diriku. Aku ingin bebas dari kekangan bolpoinnya. Atau seharusanya kubuang jauh pena si pengarang itu agar dia tidak bisa menulis cerita lagi. Khususnya menulis tentang hidupku yang terus dipermainkannya. Aku lupa kalau dia masih memiliki pena yang lain
Sekali lagi sebelum terlupa, aku ingatkan, namaku X. Aku memakai nama ini karena aku muak dengan nama yang digunakan pengarang untuk menamaiku di setiap kali ia menyebutkan diriku di dalam novelnya. Menurutku hal itu tidak wajar, tokoh dalam cerita seharusnya juga mendapat hak-hak yang berhak untuk didapatkan dari sang pengarang. Seandainya pengarang bodoh itu tahu, banyak yang ia lupakan saat ia menulis tentang diriku. Aku kesepian disini, kemana perginya kekasihku yang kelak selalu dituliskan jika adanya seorang aku dalam sebuah cerita? mungkin ia juga akan kunamai X, maka kelak anakku laki-laki
Aku, X, oleh pengarang diletakkan di suatu daerah yang ketika aku masih kecil, merupakan tempat yang sepi, gersang, membosankan dan tidak cocok dengan sifat kekanak-kanakanku. Aku tidak tahu kemana perginya tokoh-tokoh yang lain. Pengarang bodoh itu menempatkanku hampir sendirian. Aku hanya bersama tulisannya tentang sengatan matahari yang panas dan cerita memuakkan tentang dingin dan gelapnya malam. Begitu ia menuliskan malam-malamku. Dia sepertinya ingin membunuhku secara perlahan.
Ketika aku beranjak remaja, satu persatu tokoh mulai datang, atau mungkin lebih tepatnya berlalu-lalang. Aku, X, tokoh utama cerita ini, ditempatkan di tengah kerumunan tokoh-tokoh yang lain. Tokoh-tokoh itu memang hanya figuran, mereka dituliskan hanya pergi kesana-kemari di saat setiap penulis bodoh itu menuliskan diriku. Anehnya, aku yang seperti tidak dianggap dalam kehidupan cerita si pengarang bodoh itu, selalu disorot, selalu dilihat. Lebih memuakkan lagi, dia membuatku malu dangan menuliskan aku yang berada di kerumunan tokoh figuran itu sedang menangis dengan air mata yang selalu meleleh dari mataku. Aku bukan banci seperti yang penulis bodoh itu kira
Cerita yang dibuat oleh penulis bodoh itu menggunakan diksi yang kaku saat menuliskan tentang diriku. Aku dikurung dengan diksi-diksi yang kaku dan dingin. Aku mebeku di dalamnya. Entah berapa kali aku harus mati kedinginan. Anehnya, penulis bodoh itu selalu menuliskan aku untuk kesekian kalinya hidup kembali. Sepertinya, dia ingin menyiksaku dengan diksinya yang mencapai suhu diatas batas normal itu. Rasanya aku ingin memberontak, keluar dari cerita ini lalu akan kubuat penulis itu mati dengan satu tusukan dari pena yang digunakannya.
Sekali lagi kuingatkan, namaku X, aku tidak ingin disebut dengan julukan lain. Pada tahap remaja ini juga, penulis bodoh itu mempertemukan aku dengan tokoh sampingan yang sebaya dan berlawanan jenis denganku. Pada awalnya, aku berasumsi bahwa penulis telah berubah pikiran. inikah yang disebut Happy Ending? ternyata bukan. Dia mempertemukan aku dengan Bunga – bukan nama yang sebenarnya -. Di satu sisi yang lain, dia juga membuat tokoh sampingan yang merebut bunga dariku. Ironisnya penulis bodoh itu selalu menuliskan tokoh bunga dan perebut bunga yang lain dengan alur cerita yang sama
Dan cerita yang ditulisnya kini tertunda ketika aku sedang menangis bersedih. Dia menuliskan airmataku yang tak kunjung henti mengalir dan merembes melalui pori-pori kulitku. Jujur saja, aku ingin memberontak, lalu keluar dari cerita yang menyedihkan untuk dibaca ini dan membunuh penulis bodoh itu. Akan kubalaskan dendamku. Kelak, akan kutulis novel yang menjadikan penulis bodoh itu sebagai tokoh utama dengan latar belakang tempat di neraka terbawah. Akan kubakar dirinya dengan diksi-diksi yang kurangkai panas penuh amarah. Kelak, api-api tersebut akan melahap tubuhnya. Akan kutulis “bunga-bunga” kanibal yang akan datang kepadanya, memberinya kenikmatan, lalu disaat dirinya lengah, maka bunga itu akan memangsa tubuhnya hidup-hidup. Lalu, aku akan menuliskan dirinya hidup kembali dengan api yang masih membakar tubuhnya yang gosong oleh api yang membakarnya sebelum kematiannya yang lalu. Akan kubuat penulis bodoh itu menderita dengan alur yang selalu kuulangi tiada henti itu. Dan tak kan pernah berakhir hingga akhir nanti. Tuggu saja pembalasanku. (az)
Pengarang Cerita: Achmad Zuhdi
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami