Karenamu, Aku Mengerti

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Takengon masih dengan suasana seperti hari-hari sebelumnya sejuk dan dingin bagi para pengunjung Laut Tawar ini. Tak seorangpun dari kelompok kami yang beranjak meninggalankan tenda apalagi untuk beraktifitas terasa sangat menyiksa. Di Lhokseumawe cuaca tidak sedingin ini, jadi wajar saja satupun dari tidak ada yang beraktifitas lagi hari ini. Ujung jari-jariku seakan mau membeku, suhu tubuh yang unik. Cuaca ini tak mampu menghalangi seluruh minat yang telah persiapkan kurang lebih dua halaman doble folio jika kutuangkan dalam bentuk tulisan. Aku seorang manusia biasa yang sangat ingin diperhatikan di semua tempat yang aku tapaki. Hidup mengajarkan kita untuk menjadi egois dan tak peduli bagaimanapun cara untuk dapat menggapainya.
Pagi yang menyenangkan, hatiku membisikkan kata-kata itu. Bagaikan mendapatkan mimpi menjadi kenyataan di pagi ini. Tiba-tiba aku melihat Ardi berjalan ke arahku.
“Ngapain Vina??” tanyanya
Aku tersenyum tipis, “lagi menikmati suasana hening”
“ada yang mau aku tanyain sama kamu”
“kalau gak penting-penting banget mendingan kamu tinggalin aku sendirian, lagi bete abis”
“Sepertinya, hal sangat penting yang mau ku bicarakan” dengan ekspresi lucunya
“apaan coba??” kata ku sambil tertawa melihat mimik anehnya
“kenapa kamu suka banget sama warnannya aku tu gak mau duduk sama kamu, tapi takotnya para fans kamu narik jelbab aku”
“oooohhh jadi kamu tu mau berantem demi aku?” tanya sok penting
“males ahh… berantem, kamu tu boleh duduk di sini tapi jangan ngeganggu aku titik. Tidak ada yang boleh bantah” kata Vina.
Ardi hanya mengangguk. Sejak saat itulah vina mulai menyukai warna hijau, belajar lebih giat dari sebelumnya, agar selalu mendapat pujian darinya. Dia berjanji pada vina, jika vina mendapatkan juara pertama dia akan menyempatkan diri untuk datang melihat proses penyerahan hadiah di sekolah vina. Vina terus belajar dengan harapan agar bisa kembali bertemu dengannya. Karenamu pula aku tidak pernah bisa melihat yang lainnya. Tapi saat pembagian rapor tahun kemarin dia datang dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Jelbab yang menutupi kepalanya dengan baju gamis yang dikenakanny 2cd a serta tatapan teduhnya membuat vina tidak bisa marah saat kau mengatakan dia adalah orang terakhir dalam penantiannya selama ini. Aku mengerti semua itu akan terjadi sudah saatnya aku tidak lagi menyalahkan takdir yang menimpa diriku.
Aku turun dari mobil yang kami tumpangi. Dengan semua masalah yang kutinggalkan dalam mobil. Tujuanku tercapai untuk melupakan semuanya. Dan memulai sesuatu yang baru yang lebih bermakna.
Pengarang Cerita
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami