“Fara lihat ini, kak Ame punya gambar bagus lho…” kata kak Ame.” Iya, gambar ini akan keluar dan makan fara,” tambah kak Tata seraya memperlihatkan gambar itu. Aku pun menjerit, lalu lari ke dapur mencari ibuku. “Bu… kak Ame dan kak Tata takut-takutin Fara dengan kertas itu lagi..” kataku merengek kepada ibuku.
Aku benar-benar takut dengan kertas itu. Kertas itu sebenarnya adalah cover buku yang telah tanggal dari bukunya. Cover itu bergambar pocong yang sangat menakutkan bagiku. Saat itu aku berumur 4 tahun. Aku sangat sering ditakut-takutin oleh kakak-kakakku dengan kertas itu. Aku juga jadi lebih sering mengadu kepada ibuku. Sebenernya sebelumya ibuku sudah menasehatiku dan kakak kakakku. “Fara itu kan cuma gambar, tidak mungkin keluar.” Itulah kata kata ibuku. Tapi tetap saja aku takut. Aku selalu berlari dikejar-kejar oleh kakakku sampai-sampai aku terjatuh. Itu semua karena gambar jelek itu dan karena gambar itu juga aku jadi sering mimpi buruk dan mengigau. Akhirnya ibuku memutuskan untuk membakar kertas itu…
10 tahun telah berlalu. Yang ada dalam pikiranku adalah ketakutanku. Mengingat itu semua membuatku benar benar merasa takut apa lagi jika harus mengingat gambar cover buku tersebut. Sangat mengerikan…
“Penakut! Penakut! Penakut.” Aku bergumam pelan. Kini aku telah berumur 14 tahun, tapi ketakutanku tetap saja belum hilang walaupun telah sedikit berkurang. Hidupku penuh dengan ketakutan. Takut gelap, takut sendiri, takut itu, takut ini, Semuanya serba takut. Aku tak tau harus berbuat apa tuk menghilangkan rasa takut ini. Tapi yang jelas aku bersyukur rasa takut ku tak seperti orang phobia lainnya. Setidaknya aku bisa menyembunyikan rasa takut itu dan tidak merepotkan orang lain.
Pernah pada suatu malam hari tepatnya jam 12 malam. Waktu itu aku berumur 12 tahun. Aku iseng menonton tv. Untuk melihat film apa yang sedang ditayangkan pada tengah malam seperti itu. Jadi kubukalah chanel RCTI. Dan ternyata film yang tayang pada saat itu adalah film horror alias film hantu hantu. Tapi karena terlanjur melihatnya aku jadi penasaran tentang akhir film itu. jadi kuberanikan diri untuk menonton film itu sendirian, dimana semua orang tidur. Pada saat itu aku tak tega membangunkan orang tuaku atau kakak-kakakku. Jadi terpaksalah aku menonton sendirian.
Akhirnya aku pun selesai menonton film itu sendirian dengan ditemanin bantal guling kesayanganku. Harus aku akui film itu benar-benar mengejutkan dan mengerikan. Jadi selesai aku menontonnya aku langsung berlari ke kamar tidur dan naik ke kasur dan seketika itu aku langsung merinding. Mengingat semua hal yang ada di cerita tersebut. Ada perasaan menyesal dalam hatiku. Penyesalanku yang ingin aku lampiaskan. Sekarang, karena menonton itu aku harus menanggung takut yang luar biasa dan karenanya itu juga aku tak bisa tidur. “Ya ampun ini benar benar menyulitkanku. Kenapa sih aku harus tertarik dengan film horor seperti itu?” aku benar benar merasa kesal pada saat itu. tapi aku berfikir sejenak, mungkin jika aku tidak menonton film itu, aku juga akan menyesal. Aku bingung sekali, Semuanya memang serba salah. Akhirnya kutenangkan diriku dan kupejamkan mataku perlahan lahan. Kujauhkan pikiranku tentang film horror yang baru kutonton tadi. Dan akhirnya aku pun terlelap dalam tidurku.
Begitulah ceritaku tentang pengalaman yang mengerikan di hidupku. paginya aku langsung mengisi diaryku. Diary berwarna pink, hadiah dari orang tuaku disaat umurku 11 tahun. Diary itu sangat berarti untukku, di dalamnya kuisi banyak pengalaman menarik yang kualami. Selain itu diary itu berisi curahan hatiku. Diary itu membuatku rajin menulis, Membuatku tahu banyak tentang artinya hidup, membuatku mengerti tentang hidupku, lewat lembaran wana warni buku diary itu yang telah kutulis dengan tulisanku yang tak seberapa cantik, tapi setidaknya bisa dibaca. Beginilah isi diary ku…
Dear diary…
Hidupku penuh ketakutan. Aku tak mengerti tentang hal ini. Aku hidup seperti tak dapat berbuat apa apa karena rasa takutku. Aku mencoba untuk tetap kokoh berdiri. Tetapi ketakutanku bagaikan angin badai yang menghempasku, menjatuhkanku, dan menterpurukkanku. Aku yang awalnya bagaikan pohon kokoh berdiri. Kini telah menjadi ranting lapuk yang mudah hancur dan mudah melayang menuju tempat tak terarah. Sekarang aku bagaikan anak tanpa tujuan hidup. tujuanku bagaikan telah terhapus disapu gelombang, Bagaikan hilang ditelan bumi, dan bagaikan hilang diterbangkan angin. Semua itu karena ketakutanku. Aneh rasanya jika aku kalah dengan rasa takutku sendiri. Ingin rasanya aku menghilangkan rasa takutku. Tapi ia selalu datang kembali dan terus kembali bahkan datang menjadi rasa takut yang lebih besar lagi. Seharusnya aku hanya takut kepada yang Maha Menciptakan. Bukan kepada yang lainnya. Kini Aku ingin bangkit lagi menjadi pohon tinggi yang kokoh yang terus tumbuh dengan tujuan mencari cahaya dan sinar matahari. Seperti aku yang ingin mewujudkan cita cita dan tujuan hidupku. Tujuanku untuk hidup sukses bersama keluargaku. Hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Aku akan terus berusaha menjadi pohon kokoh itu. terus berupaya menjadi yang terbaik, dan aku tidak akan membiarkan diriku tergoyang dengan rasa takutku itu. Kini aku akan mencoba menjadi orang yang penuh keberanian dan melupakan hal yang menakutkan yang pernah kualami sebelumnya. Rasa takutku akan aku jadikan pelajaran dalam hidupku dan Dalam mencapai cita-citaku…
“Fara sekolah tidak hari ini, cepat mandi…” teriak ibuku yang sedang membuat serapan pagi di dapur. “Ok bu…” balasku. “Baiklah, hidup baru telah kumulai, hidup baru ku dengan keberanian bukan dengan ketakutan… Optimis! Semangat!” teriak ku dalam hati.
Pengarang Cerita: Miftahul Farhani Isty
Home »
Cerita Motivasi »
Melawan Rasa Takut
Melawan Rasa Takut
Senin, 06 Januari 2014 | komentar
Bagikan :
