Pada musim yang tak menentu, terlihat seorang pemuda pengelana waktu yang selalu ditemani dengan gitar antiknya. Berkelana menyusuri tiap jengkal cahaya semesta, tiap bait langkah yang terinjak meninggalkan beribu pertanyaan yang tak terjawab.
Kemudian ia bersandar pada dinding pohon rindang di teriknya siang. Ditemani dengan sapaan angin dan burung-burung yang menari di atas ranting. Terhelap kemudian terhanyut dalam mimpi sekejap, mimpi-mimpi para belati yang mencoba menari di tepian api.
Tak lama ia pun terbangun dengan penuh kejut. Mimpi sesaat yang tak akan pernah mungkin dilupakan olehnya. Langkahnya pun kembali dilanjutkan, menyelusuri jembatan-jembatan renta, sungai-sungai berbatu dan tebing-tebing curam yang tak bertuan.
Rasa lelah terkadang datang bertamu, namun tak ada tempat yang cukup nyaman untuk bersinggah. Menahan kelalahan dengan senyum dan tawa kepahitan. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah danau yang membuahkan air jernih. Di tepian ia beristirahat untuk melepas rasa lelah.
Dengan gitar antiknya ia mulai menarikan jari-jari di tipisnya senar-senar yang tersusun dengan indah. Menikmati suasana alam yang begitu indah, tertawa dan tersenyum mengingat begitu banyak hantaman-hantaman semesta yang tak pernah diduga.
Matahari pun mulai surut. Dengan bermodalkan tenda yang dibuat dari ranting-ranting pohon, ia tertidur lelap di sunyinya malam.
Cahaya pagi telah menyinar, mata kantuknya terbuka lebar. Merenung sesaat karena kembali telah mengingat semua alur yang telah dilaluinya. Kemudian ia kembali melanjutkan perjalanannya.. kini ia tahu, bahwa setiap detik yang berputar adalah sebuah misteri, ya.. misteri dari kehidupan yang datang tanpa kata sapa. Apapun itu.. itulah jawaban… jawaban dari sebuah misteri yang selalu ia tunggu.
Pengarang Cerita: Iyan Cahyo
