Sebelum membaca cerpen “Perjanjian Maut”, alangkah lebih baik lagi jika membaca cerpen “The Train”, dan “Deja Vu”. Karena cerpen ini adalah Trilogi dari kedua cerpen sebelumnya. Terima kasih.
Saat tersadar, aku tengah berbaring di atas gundukan pasir tandus dan gersang. Tempat yang menurutku aneh dan sangat jauh berbeda dengan dunia manusia, umunya. Langit terlihat jingga kemerahan, di atasnya ada empat buah matahari yang bersinar terang tanpa berterik panas membakar kulit, lalu debu-debu bertaburan tanpa henti-hentinya seiring angin mendesau, tetapi anehnya aku merasakan udara yang sangat dingin hingga terasa menusuk kedalam kulit dan tulangku. Aneh, benar-benar aneh. Hembusan angin di temani pasir kecil menari-nari menerpa wajahku. Perih mata ini terus menahan setiap terpaan angin sejuk seolah membawa luka.
Aku mendecak seiring tubuh ini tak berdaya tertelungkup di atas hamparan pasir berwarna hijau gelap. Mataku menatap sebuah telaga bening di depan sana. Air di telaga itu melimpah ruah hingga melebar ke setiap sisinya. Rasanya ingin sekali aku berenang dan berendam di telaga itu. Di setiap sisi telaga itu di tumbuhi rumput-rumput hijau dan subur. Lalu sebatang pohon filicium tua menaungi telaga itu yang terdengar seperti laut.
Fatamorgana!
Sudah lelah aku berputar-putar mengelilingi tempat ini, agaknya diriku hanya menemui kesia-siaan. Ternyata, di tempat ini semuanya hanyalah tanah berpasir yang sepertinya tidak ada ujung pangkalnya. Aku tersesat. Aku terisolasi. Aku seperti orang asing yang hanya tinggal menunggu ajal menjemput kematian. Sedangkan Ainara, entah bagaimana kabarnya aku pernah tidak tahu. Seingatku, hanya aku yang di lempar ke tempat aneh ini, dan Ainara tetap bersama lelaki berjubah hitam yang berada di dalam mobil berkarat itu. Lalu kemana dia membawa Ainara?
Kepalaku rasanya pusing. Persendian di tubuhku seolah remuk dan hancur. Dingin. Dingin sekali. Tenggorokanku pun kering. Aku berusaha berjalan mencari tempat lain yang mungkin ada penduduknya. Aku butuh pertolongan.
Jalanku masih seperti malam itu, terseok-seok karena lelah terus menggelayuti seluruh persendian tulangku. Tempurung kepalaku berdenyut. Kencang sekali dan menimbulkan efek sakit.
Buuuk!
Kembali aku terjatuh diatas gundukan pasir seiring rasa lelah dan haus menyengat tubuh ini. Kepalaku seperti di pukul palu godam. Mataku terpejam. Hanya pikiranku membayangkan air yang melimpah ruah di depan sana. Aku haus. Aku lelah. Aku nyaris mati dalam keterasingan. Dimana aku bisa minum seteguk air? Aku butuh pertolongan.
“Serah. Avios. Lavozah.” Sayup aku mendengar suara itu menggema di sekitarku. Mata ini tak mampu terbuka.
“Serah. Avios. Lavozah.” Kedua kalinya suara itu terdengar berdesis di telingaku.
“Alfi. Datanglah padaku…” suara itu berbisik memanggil namaku.
“Datanglah…”
***
“Banguuuun!” byur! Sontak mataku terbuka ketika suara keras seorang lelaki memaki dan menyirami tubuhku dengan se-ember air dingin. Dalam keadaan lemas aku melihat dua orang lelaki berjubah hitam berdiri tegap di hadapanku dengan wajah sangar dan keras. Mata mereka terkesan merah menyala. Sedang wajah keduanya pucat pasi penuh bekas luka. Mereka berdua menatapku sinis.
“Jadi, ini. Remaja yang di ramalkan itu…” ucap salah satu dari mereka.
“Aku kira sehebat apa dia..” lanjutnya lagi seraya meletakkan ember kayu di depan batu tempatku berdiri. Ku lihat tubuhku tak berbusana selain hanya mengenakan kain putih penutup kemaluanku. Tanganku terikat kuat di tiang besar ini. Terbayang dengan lukisan yang selalu aku gambar di sekolah itu. Semua menjadi kenyataan?
“Di-di mana aku?” lirihku dengan suara yang nyaris hilang. Parau.
“Kau di tempat yang sudah semestinya!” sahut lelaki yang memegang cambuk berduri. Matanya menatapku galak. Sesekali dia mengibas-ngibaskan cambuk itu ke arahku tanpa melukai.
“Kenapa aku berdiri di batu ini?” tanyaku memberanikan diri.
“Kau berdiri di atas dolmen razkutah. Kau adalah penyelamat negeri kami. Dan kau adalah orang yang akan membebaskan kami dari ancaman Murzah!”
“Murzah?” tanyaku mendengar nama asing itu di sebut.
“Dia adalah seorang penyihir hitam yang menginginkan seorang anak manusia untuk di jadikan penerusnya. Dan, anak manusia itu adalah dirimu…”
“Apa?!”
“Ya. Kamu adalah anak manusia yang telah di ramalkan Engku Albi datang untuk menyelamatkan junjungan kami dengan menukar beliau dengan dirimu nanti. Tapi perlu kau tahu, kau bukan hanya sekedar anak manusia biasa. Kau istimewa, itulah sebabnya kami menumbalkanmu. Hahahahaha.” Lelaki itu tertawa dengan angkuhnya.
“Aku menjadi tumbal?” tanyaku kaget.
“Apa ada, istilah yang lebih baik dari kata tumbal untuk mengembalikan raja kami yang telah lama menghilang dengan menyerahkan dirimu sebagai tebusannya kepada Murzah?”
“Kenapa mesti aku?” tanyaku takut.
“Karena kau yang terpilih!”
“Apah?” desisku kecil.
Kedua lelaki berjubah hitam itu masih menatapku sinis. Mereka tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi raja mereka akan di bebaskan dan di gantikan dengan diriku. Mereka licik. Teringat aku dengan teman kedua manusia aneh ini yang datang dan membunuh teman-temanku di sekolah waktu itu. Sepertinya mereka satu pasukan. Atau mereka memang prajurit?
Ku amati setiap sisi tempat ini. Obor-obor yang di letakkan di atas batu lalu berkobar di terpa angin malam. Beberapa bangunan dan puing-puing nyaris runtuh mengelilingi tempat ini. Seperti tumpukan batu yang ada di Inggris, Stonehenge. Lalu di setiap batu itu di ukir dengan tulisan yang mirip sekali dengan hieroglif.
“Apa lelaki yang datang membunuh teman-temanku di sekolah malam itu adalah utusan dari raja kalian?” tanyaku penasaran.
“Maksudmu, Rashka?”
“Ja-jadi. Namanya Rashka?” tanyaku terkejut hebat mendengar nama orang itu.
“Rashka ‘kan membunuh temanku, Rian?” tanyaku marah.
“Semua orang yang ada di dekatmu akan mati, jika menghalangi-halangi pasukan Hotebi guna menemukanmu!” kelakar lelaki yang memegang cambuk.
“Jadi, kalian ini adalah pasukan bernama Hotebi?”
“Benar sekali.”
***
Hari terus berlalu. Entah sudah berapa lama aku berdiri di atas dolmen ini aku tidak tahu lagi. Badanku sepertinya sangat lemah. Mereka memberiku makanan yang rasanya aneh dan tidak enak sama sekali. Siang aku kepanasan, malam aku kedinginan. Kadar udara di sekitar dolmen ini berbeda dengan padang pasir itu. Di sini udaranya selayaknya alam manusia biasa. Empat matahari terbit secara bersamaan dan dengan warna yang berbeda. Di timur, matahari terbit dengan warna putih, di timurnya lagi berwarna merah, di timurnya lagi berwarna jingga, di timurnya lagi berwarna hijau elektrik. Sekilas, cahaya-cahaya matahari itu seperti warna aurora yang melayang-layang di petala. Indah dan menakjubkan.
Di kejauhan sana, aku melihat beberapa pasukan Hotebi datang mendekati domen ini. Mereka datang mengawal seorang kepala pasukan. Selang beberapa saat, mereka pun sampai dan berhenti di depanku.
“Pakaikan jubah ini di tubuhnya!” lirih ketua Hotebi pada dua orang anggota di samping kanan dan kirinya. Aku tidak melihat wajahnya karena di tutupi dengan jubah. Dari suaranya aku tidak asing lagi. Seperti suara…
“Rashka?!” tanyaku terkejut ketika ketua Hotebi itu membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang ternyata berubah menjadi sangat tampan dan muda. Dia berbeda. Tetapi aku masih mengenali perawakannya.
“Selamat datang, Alfi! Semoga kau berkenan di tempat ini. Sekarang, kau pakai jubah itu, dan temuilah junjungan kami…” kelakarnya penuh kesopanan dan wibawa. Dia berbeda dengan perawakannya saat membunuh teman-temanku malam itu. Aku jadi teringat denga Rian, Riska, Randi, Dimas, kenapa Rashka membunuh mereka?
“Kau jahat, Rashka! Kau pembunuh!” teriakku kesal.
“Kau tidak tahu apa-apa Alfi, jangan berkomentar. Sekarang, ikutlah denganku. Ramaz, Ritaz, pakaikan jubah itu setelah kalian memandikannya di telaga Abusaar.”
“Baik, Tuanku!”
Sejam berlalu, kedua pesuruh Rashka itu selesai memandikanku dengan berbagai ritual-ritualnya. Setelah aku berpakaian jubah berwarna hijau tua, mereka membawaku ke sebuah tempat. Tempat yang sangat jauh. Lalu di depan sana, tampak sebuah bangunan seperti istana yang nyaris rubuh dan tidak berpenghuni lagi. Di kelilingi hutan dan sungai lebar yang airnya sangat jernih.
“Rashka! Dimana kau sembunyikan Ainara? Apa kau juga membunuhnya?” tanyaku saat kami memasuki jembatan penyeberangan.
“Beraninya kau menyebut nama…”
“Ritaz. Diamlah! Dia tidak mengerti apa-apa…” sela Rashka terlebih dahulu. Beberapa pasukan Hotebi melihatku sinis. Kami terus berjalan dan mencapai ujung jembatan ini. Lalu memasuki sebuah aula yang sangat luas.
“Toloooongg! Tolooong! Toloongg!” telingaku sayup mendengar suara orang meminta tolong di ruangan yang sepertinya tidak jauh dari aula ini.
“Siapa mereka?” tanyaku pada Rashka karena mendengar suara itu.
“Pecundang!”
“Kau yang pecundang. Rashka!” teriakku mengumpat.
“Hurrggg!” seorang Hotebi nyaris menampar wajahku dengan tangannya yang gatal. Bersyukur Rashka menghalangi. Rashka menatapku tersenyum.
***
Akhirnya aku dan pasukan Hotebi sampai di sebuah tempat yang indah dan megah. Seperti ruang kerajaan. Tiang-tiang menjulang tinggi menyangga tempat ini. Bangunan ini di ukir dengan tulisan dan ukiran yang indah berwarna indah pula. Sempat aku terpesona dan takjub melihat tempat ini. Seorang lelaki berjubah hijau tua sepertiku turun dari balkon dan menuruni anak tangga satu persatu. Di belakangnya ada dua orang berpakaian tentara yang aku kira adalah panglima. Dan di belakang panglima itu ada beberapa orang dayang bergaun indah mengiringi langkah mereka. Lelaki berjubah hijau indah itu berhenti di depanku. Berjarak beberapa meter saja. Dia tersenyum manis dan menyambut kedatanganku dengan bangga.
“Selamat datang di Arafa. Alfi! Terima kasih sudah sudi singgah kemari…” sapa lelaki muda yang seumuran Rashka. Usianya sekitar dua puluh tahunan. Bahkan bisa jadi lebih muda lagi. Dia tersenyum.
“Anda siapa?” tanyaku ketus.
“Aku adalah Razaka. Anak tunggal Raja Hirab Alabi yang di tawan oleh Murzah selama lebih dari 16 tahun…”
“Apa hubungannya denganku?”
“Bukankah Rashka dan pasukannya telah menceritakan semuanya padamu?” kelakar Razaka dengan nada merendah. Aku mengernyitkan dahi. Seketika itu juga perasaanku tidak enak. Ada kecemasan yang menjalar di tubuhku dengan hebatnya. Aku takut.
“Aku tidak mau menjadi tumbal!” teriakku marah. Sontak semua mata menatapku kaget dan merka bergumam seperti lebah berterbangan di sarangnya. Razaka berjalan lebih mendekat kearahku lagi.
“Siapa yang ingin menjadikanmu tumbal?” tanyanya ramah.
“Sudahlah, Razaka! Aku malas beradu mulut denganmu. Aku tidak mau menjadi tumbal. Aku mau kau segera mengantarku pulang kerumahku. Ketempat asalku…”
“Alfi!” teriak Rashka di belakang. Dia tidak terima aku berkata kasar pada junjungannya itu.
“Rashka, biarkan dia…” sela Razaka bijak seiring tersenyum padaku.
“Kalian semua pembunuh. Kalian bajingan! Demi menyelamatkan raja kalian, aku dan teman-temanku menjadi tumbal? Keparat!”
“Cukup Alfi! Jaga ucapanmu…” lagi-lagi Rashka menyela. Ku lihat Razaka meminta pengertian Rashka untuk memberiku keleluasaan berbicara.
“Aku, dan kami semua tidak seperti yang kau bicarakan Alfi. Kau belum mengerti…”
“Mengerti apa? Hah?! Kau tidak tahu, Rashka datang ke duniaku dan membunuh Rian! Lalu di sekolah, dia juga membunuh Randi, Riska, Dimas, dan terakhir. Dia membunuh Ainara!”
“Ainara?” tanya Razaka tersenyum. Sontak aku menautkan alis karena Razaka menganggap ucapanku seperti goyon.
“Apa benar, yang di ucapkan Alfi, Rashka?” tanya Razaka menatap pemuda di belakangku.
“Ng, ti-tidak, Tuanku! Saya tidak membunuh siapapun…”
“Bohong! Jelas-jelas aku melihat dia melakukannya…”
“Saya tida membunuh siapapun, Tuanku. Percayalah!” desis Rashka dengan suara tegas.
“Baiklah, Rashka. Aku percaya padamu. Sekarang, tinggalkan aku berdua dengan Alfi di ruangan ini…”
“Baik Tuanku…” serempak semua yang ada di sini menjawab.
***
Lama aku duduk di atas dipan yang terbuat dari bahan empuk seperti kursi kleopatra. Razaka meminta jawabanku sejak tadi. Tapi aku masih diam. Aku tidak ingin mati demi membantu mereka yang telah membunuh semua teman-temanku. Aku tidak mau.
“Bagiamana, Alfi? Apa kau bersedia membantu kami?”
“Aku tidak mau! Kalian salah memilih orang. Aku tidak bisa menggunakan sihir. Aku tidak bisa beladiri. Aku tidak bisa mengucapkan mantra. Aku tidak bisa apa-apa…”
“Kau akan bisa melakukan semuanya setelah belajar…”
“Aku ingin pulang.”
“Dan kau akan pulang setelah membantu kami…”
“Apa? Membantu kalian? Setelah kalian menukarku dengan rajamu itu, bisa saja aku mati di kediaman Murzah. Apa kau bisa menjamin keselamatanku?”
“Aku akan berusaha.”
“Hah! Berusaha? Bahkan tentara dan panglima perang kalian saja tidak bisa menyelamatkan seorang Raja yang katanya hebat dan bijaksana itu? Bagaimana kalian akan menyelamatku yang jelas-jelas tidak bisa banyak berbuat apa-apa…”
“Dengar Alfi, kau adalah orang di cari. Kau adalah orang yang diminta. Kami tidak bisa menebus ayahku kecuali denganmu. Dan perlu kau ketahui, setelah ayah kami selamat, aku dan pasukanku akan siap untuk menyelamatkanmu. Percayalah. Rashka akan melindungimu dari serangan Murzah dan sekutunya…”
“Apa? Rashka mau melindungiku?”
“Ya. Dia akan mengawasimu dan menjaga keselamatanmu…”
“Setelah dia membunuh semua teman-temanku?”
“Alfi! Kau memang keras kepala…” desis Razaka lalu pergi meninggalkanku sendiri. Selang beberapa saat dua orang Hotebi datang menjemput dan membawaku ke kamar megah yang telah di siapkan sebelumnya. Dan kamar itu, adalah tempat kaburku nanti demi menyelamatkan diri dari kelicikan Razaka dan Rashka.
***
“Kalau kau perlu apa-apa. Panggil saja namaku tiga kali…” tukas Rashka lalu beranjak meningalkanku di kamar ini sendiri.
“Aku tidak butuh bantuanmu!”
Hening. Kamar yang luas ini terasa hening dan lengang. Aku merasakan pikiran dan hati ini terus di gelayuti kembimbangan. Razaka menjamin keselamatanku? Tapi aku tidak yakin akan ada yang menjamin keselamatanku. Aku terlanjur membenci mereka semua. Terutama Rashka. Niatku malam ini adalah, kabur dari tempat ini dan segera meminta bantuan orang untuk mengeluarkanku dari tempat terkutuk ini.
Hampir dua jam aku mencoba untuk telelap, namun mataku benar-benar tidak bisa kantuk. Setelah memastikan semua aman. Segera aku membuka jendela dan menyelinap keluar melompati satu persatu balkon di istana ini. Dan akhirnya aku pun sampai di lantai dasar. Setelah itu segera aku berlari menuju semak-semak.
“Siapa itu?” teriak dua orang penjaga di depan gerbang. Ups! Nyaris aku ketahuan. Dengan jantung berdebar kencang aku mencoba tenang meski sebenarnya aku tidak bisa tenang. Ku intip dua penjaga itu dari bonsai dimana aku bersembunyi selanjutnya. Mereka menuju kearahku perlahan seiring tombak di pegang kuat-kuat dan posisi mereka dengan langkah kuda-kuda yang siap menyerang. Mataku membulat karena takut ketahuan. Dalam hati aku berdoa agar mereka tidak lebih jauh lagi mendekatiku. Salah seorang Hotebi menggerak-gerakkan tombaknya ke bonsai di sebelahku.
“Tidak ada siapa-siapa…” lirihnya lalu kembali ke tempat semula. Sedang seorang lelaki yang datang semakin mendekat kearahku belum bergeming, dia ingin lebih memastikan lagi. Haduh, bagaimana ini?
“Penyelamat kabuuuurrr! Penyelamat kabuuuur!” terdegar suara dari dalam istana menggegerkan semua Hotebi termasuk lelaki yang sedikit lagi menemukan keberadaanku ini. Serta merta mereka berlari masuk kedalam istana dan memastikan keadaan. Tanpa membuang waktu, aku berlari menyelematakan diri dengan menjeburkan diri ke dalam sungai yang mengelilingi istana ini.
“Penyelamat masuk kedalam sungai…” lirih salah satu Hotebi.
Sial!
Aku berenang semakin cepat ke tepian ketika kudapati puluhan ekor buaya raksasa keluar dari lubuknya dan berenang hendak memangsaku. Mereka seperti buaya-buaya kelaparan yang setahun belum di beri makan.
“Ehek,” aku menelan banyak air hingga perut ini terasa kembung.
“Itu dia!” teriak orang di atas sana. Aku semakin terkejut ketika belasan pasukan Hotebi berdiri melemparkan tombak kearahku. Dan tak satupun tombak itu mengenai diriku. Malah buaya-buaya malang itu yang menjadi tumbalnya. Aku segera berenang ketempat yang lebih jauh lagi. Anehnya, tak seorang Hotebi pun yang menjeburkan dirinya demi menangkapku. Ini kesempatan emas.
Setelah keluar dari sungai itu, tanganku meraih tebing dan secepat kilat aku melarikan diri kedalam hutan. Hotebi mengejarku. Aku terus berlari.
“Jangan lari, Alfi!” teriak Rashka berkali-kali. Aku tidak peduli.
“Alfi, hutan itu berbahaya…” teriak Rashka lagi. Aku semakin tidak peduli. Mereka masih mengejarku.
“Alfi, berhenti, atau kau dalam masalah besar. Hutan itu banyak Andoga…” Rashka mencoba mengingatkanku. Apa itu Andoga? Pikirku dalam hati seiring terus berlari menjauhi mereka.
“Alfi. Berhenti, lihat di belakangmu…” aku memang mendengar suara desahan aneh di belakangku. Suara itu mengaum dan cepat merayap. Pasukan Hotebi sepertinya melemparkan tombak dan panah mereka untuk menghentikan langkahku. Tetapi semua senjata mereka tidak mengenaiku sama sekali.
Buuuk.
Terdengar suara seseorang jatuh di belakangku. Sontak aku berhenti demi mengetahui siapa yang jatuh tersebut. Apakah itu Hotebi atau…
“Hwaaaaaaa!” teriakku terkejut saat melihat sesosok menyeramkan bertubuh besar dengan bulu berwarna putih terang menyelimuti tubuhnya tewas mengenaskan. Mukanya seperti srigala, tetapi tubuhnya seperti manusia.
“Alfi, jangan bergerak…” perintah Rashka memintaku tenang. Sontak aku menurut. Semua keadaan menjadi tenang.
“Andoga akan hidup kembali jika ada gerakan-gerakan di sekitarnya yang merangsang jantungnya berdetak kembali. Tunggu sampai beberapa menit. Maka kau akan aman, tenang Alfi, jangan panik…” lirih Rashka pelan.
***
Tanpa basa-basi lagi aku pun memilih berlari mengindari Andoga dan para Hotebi itu. Sepertinya itu adalah trik atau akal-akalan Rashka agar mudah menangkapku dan membawa kembali ke istana Arafa lalu menukarku dengan raja mereka kelak. Aku tidak mudah di tipu. Dia pikir aku anak kecil?
Megetahui aku kabur, Rashka dan para Hotebi itu kembali mengejar. Kali ini sepertinya mereka tidak memberiku ampun. Puluhan panah mereka lepaskan untuk bisa melumpuhkanku, aku terus menghindar. Rashka berteriak memintaku agar mau berhenti. Aku tidak peduli. Selain Rashka dan Hotebi, aku melihat ratusan ekor Andoga tiba-tiba muncul dan mengejar kami bersamaan. Beberapa Hotebi spertinya di terkam, lalu beberapa dari mereka melawan. Banyak Andoga tewas. Banyak pula Hotebi yang mati. Entah dengan Rashka.
“Alfi, jangan lari lurus kedepan, usahakan kau mencari jalan yang berlainan agar Andoga tidak mudah menerkammu, mereka lambat jika mengejar orang yang lari berbelok-belok…” kelakar Rashka tanpa mau aku menggubrisnya. Aku terus lari kedepan. Ternyata dia masih hidup.
“Alfi, dengarkan aku. Sekali saja.” lanjut Rashka memohon.
“Berlarilah ke sebelah kanan, di sana ada air terjun, Andoga tidak suka dengan air, kau akan selamat di sana…” aku tidak menggubris.
“Alfi, dengarkan aku. Demi dirimu, demi Negeriku, demi Ainara…” sontak aku memperlambat lari sesaat setelah mendengar Rashka mengucap kata demi Ainara. Itu tandanya…
“Awas, Alfi!” teriak Rashka terlambat setelah seekor Andoga melompat dan mengarah hendak menerkamku. Aku berlari menghindar dengan berbelok kearah kanan. Andoga tersungkur dengan sendirinya, manusia srigala itu jatuh dan bergulingan lalu terperosok kedalam jurang.
***
Aku terus berlari menghindari kejaran Rashka dan beberapa Hotebi yang selamat dari amukan Andoga-Andoga lapar. Aku pun berhenti di depan sebuah jurang. Nyaris aku terjatuh dan mati di dasar sana. Rashka semakin mendekat, aku bingung harus lari kemana lagi. Tanpa pikir panjang, dari pada aku tertangkap dan di jadikan tumbal mereka, lebih baik aku mati. Dengan niat yang bulat, segera aku menyusuri lereng bebatuan terjal itu dengan kaki sebagai tumpuan agar aku tidak tersungkur. Aku berlari terposok dan sesekali jatuh meluncur. Aku terus meluncur. Demi nyawaku.
“Alfi….” teriak Rashka di atas tebing sana.
“Alfi! Kembalilah, kau akan baik-baik saja…” teriakan itu menggema.
“Alfi….” ketiga kalinya aku tidak menggubris.
***
Di dasar lembah ini, aku mencari jalan menuju tempat yang lebih aman. Sekeliling lembah di tumbuhi pohon-pohon kecil dan rumput setinggi pinggang. Dan beberapa lagi adalah tanah basah. Dengan hati-hati aku berjalan dan mata ini tetap awas dari ancaman-ancaman binatang buas atau Andoga lain yang lebih ganas.
Aku melewati rawa-rawa yang airnya tampak jernih. Di dalam rawa itu aku melihat tumbuhan alga dan rumput liar yang melambai-lambai di bawa riak air yang mengalir. Ku lihat wajahku di dari permukaan air. Kenapa berbeda? Seperti bukan wajahku? Aneh. Aku meraba pipi kananku yang terlihat jauh sekali dengan wajah asliku. Kenapa ini? Apa ini hanya fatamorgana?
“Itulah wajah aslimu.” Aku tersentak ketika suara seseorang membenarkan pertanyaan yang ada di dalam hati ini. Mataku secepat kilat mengitari sekeliling yang lengang. Hanya angin malam yang berhembus sepoi menggoyangkan rumput-rumput dan alang-alang liar. Tidak ada siapa-siapa. Lalu, dari mana asal suara itu?
“Lihatlah kedalam air…” suara itu kembali memberiku tanda. Lalu dengan sendirinya akupun melihat kedalam air. Aku terkejut, di dalam air itu ada sebuah kepala manusia yang dapat berbicara dengan jelas. Dia sempat tersenyum saat aku melihatnya.
“Si-siapa kamu?” tanyaku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Aku melihat kepala terpenggal yang dapat berbicara.
“Jangan takut, anak muda. Kau akan baik-baik saja…”
“Siapa kamu?!” tanyaku semakin terkejut lagi.
“Baiklah. Namaku Amura. Penghuni rawa ini sejak ribuan tahun silam. Apa kau mau singgah kerumahku?” tanyanya ramah. Aku menggeleng.
“Ti-tidak. Aku tidak mau kemana-mana. Aku mau pulang keduniaku. Bisakah kau membantuku…?” kepala lelaki tua itu tampak berfikir.
“Aku tidak bisa kemana-mana. Inilah alamku. Inilah rumahku. Aku akan mati jika keluar dari rawa ini. Tetapi, kalau kau mau bertamu, aku bisa memberimu nafas selama kau ada di dalam rawa ini. Dan nanti, aku akan mencari jalan keluar agar kau bisa kembali ke alammu. Bagaimana?” tanya Amura dengan senyum yang dapat aku artikan senyuman licik.
“Maaf, aku tidak bisa percaya begitu saja dengan orang yang tidak aku kenal…” lelaki itu terdiam. Dia memejamkan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu perlahan matanya terbuka dan ia tertawa terbahak-bahak. Sontak aku berlari dan menghindari rawa itu. Aku terkejut saat akar-akar basah yang datang dari segala penjuru menjalar dan mengejarku. Sepertinya lelaki itu hendak membunuhku. Aku berlari kedaratan. Akar-akar basah itu terus mengejar. Lalu, satu persatu akar-akar itu mampu meraih kakiku, melilit pinggangku, badanku, hingga seluruh tubuhku. Aku sulit bernafas. Aku merasa sesak sekali.
“To…” bahkan berteriak aku tidak sanggup lagi.
Apakah aku akan mati di tempat ini? Apakah aku akan menjadi mayat dan terbuang sia-sia dalam keterasingan? Entahlah, tiba-tiba aku tersadar saat sekelebat cahaya putih bersinar terang datang dari kejauhan dan mengarah ketubuhku ini. Cahaya itu membuat akar-akar basah terlepas dengan sendirinya. Lalu, dari kejauhan sana, tampak sosok seseorang wanita berkedurung hitam datang dengan anggunya menuju kearahku. Selang beberapa saat, wanita itu berhenti persis di hadapanku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya tegas. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup tabir. Dia menjulurkan tangan kanannya demi membantuku tegak dari keterpurukan ini.
“Terima kasih…” sahutku lalu berdiri menghadapnya.
“Kamu siapa?” tanyaku penasaran. Perlahan wanita itu membuka tabir. Aku begitu penasaran. Sangat penasaran. Sontak aku terkejut tatkala wanita itu membuka tabir yang menutupi wajahnya dengan sempurna.
“Ainara?!” tanyaku tak percaya.
“Ya, Alfi. Ini aku…”
“Ba-bagaimana bisa kau ada di sini?” tanyaku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat. Ternyata, Ainara masih hidup.
“Aku di selamatkan oleh seorang lelaki di sekitar tempat ini, saat lelaki berjubah hitam itu hendak melemparku kedasar jurang…” Ainara mengamati keadaan sekeliling.
“Oh ya, di sini tempatnya kurang aman. Angin dan tumbuh-tumbuhan dapat berbicara dan mendengar perkataan kita. Sekarang, kau ikut aku…” tukas Ainara lalu mengajakku ke suatu tempat.
“Kemana kita akan pergi?”
“Yang jelas keluar dari tempat ini. Aku sudah lama menunggumu. Ku kira kau sudah mati….”
Dalam perjalanan menuju rumah lelaki yang sudah menyelamatkan nyawa Ainara, aku menceritakan semua yang ku alami saat kami terpisah dari mobil berkarat itu. Ainara terkejut, dia bahkan nyaris di bunuh oleh beberapa pasukan Hotebi yang datang dari segala arah. Beruntung dia tidak kenapa-napa.
“Lalu, dari mana kau bisa mengeluarkan cahaya putih tadi?” tanyaku teringat dengan apa yang Ainara lakukan saat ia menolongku dari jeratan akar-akar basah itu.
“Aku belajar dari lelaki yang menyelamatkanku itu…”
“Wow! Keren. Apa lelaki itu mau mengajariku juga?”
“Hmmm, aku bisa memintanya mengajarimu nanti.”
“Baiklah. Aku harap dia tidak keberatan…”
Kami sampai di sebuah gubuk panggung yang terbuat dari kayu jati. Ainara masuk dan langsung membawaku kepada lelaki yang di maksud.
“Kakak, ini Alfi. Aku sudah membawanya kepadamu…” lirih Ainara pada lelaki berjubah hijau tua yang membelakangi kami. Perlahan lelaki itu membalikkan badan dan melihatku tersenyum.
“Selamat datang kembali Alfi! Senang melihatmu…” ucap lelaki itu tersenyum.
“Razaka?!” tanyaku terkejut bukan main. Sontak aku melihat Ainara yang tersenyum mendekati lelaki itu. Mereka?
“Maaf, Alfi. Razaka adalah kakak kandungku. Sengaja aku datang keduniamu hanya untuk membawamu ke tempat ini. Semua aku lakukan demi Ayahku. Demi Negeriku. Aku mohon pengertianmu…” tukas Ainara membuatku shock. Sangat shock.
“Rashka! Bawa Alfi ke kamarnya, dan pastikan dia tidak kabur lagi…” sambung Ainara tersenyum manis padaku.
SEKIAN
Pengarang Cerita: Jibril
