Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Dinar sedang memacu sepedanya menuju tempat pertunjukkan. Di malam Minggu itu, Dinar berusaha untuk tidak terlambat menyaksikan pertunjukan sirkus yang dipadu dengan balet Rusia yang kesohor. Pertunjukan itu diadakan untuk mencari dana bagi korban gempa di Sumatera Barat. Berkali–kali, SMS diterima Dinar dari Jingga dan Fedrian yang memberitahukan kepadanya bahwa pertunjukan akan segera di mulai. Hal tersebut membuat Dinar dan Rio semakin tergesa–gesa.
Di arena pertunjukan penonton tampak penuh sesak. Di hari pertama dari empat hari pertunjukan akbar yang direncanakan itu, tampak layar mulai dibuka. Bapak Adang Rusmana selaku direktur pertunjukan mulai memberikan sambutan. Tiba–tiba sambutan awal dari pertunjukan itu terputus karena layar utama dari panggung tersebut terputus. Layar tersebut mengenai bahu bapak Adang Rusmana yang tidak sempat melarikan diri. Sebagian penonton menolong bapak Adang Rusmana sebagian penonton malah berebut keluar dari area pertunjukan yang kacau balau itu.
Seseorang tampak melesat dari balik layar yang gelap. Secara tidak sengaja Dinar CS melihat si pembunuh yang melompati pagar dengan cepat dan melemparkan topeng yang dikenakannya. Melihat hal tersebut satpam pertunjukan merebut topeng yang dipakai oleh si pembunuh. Namun, Dinar CS berlari menghindari satpam tersebut. Pertunjukan oleh balet Rusia pun dibatalkan. Rio pulang dengan nafas terengah–engah karena ban sepedanya kempes. Dinar CS lalu berdiskusi dan menyimpulkan bahwa pembuat topeng tersebut adalah Mang Ruslan yang mereka kenal di petualangan yang lalu.
Hari minggu mereka berkumpul di rumah Dinar untuk pergi ke rumah Mang Ruslan. Sebelumnya Rio harus mengambil sepedanya dahulu di bengkel karena semalam sehabis pulang dari pertunjukan tersebut bannya kempes. Di rumah Dinar mereka disajikan oleh makanan pisang goreng dan susu coklat. Makanan tersebut habis ludes dimakan oleh mereka berempat dalam sekejap saja.
Dinar CS lalu berangkat menuju rumah mang Ruslan. Namun, di perjalanan mereka merasa kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat beberapa saat di bawah sebuah pohon yang rindang. Setelah sampai di rumah mang Ruslan mereka melihat istri mang Ruslan yaitu bi o’oh sedang menjemur pakaian.
Setelah terjadi perbincangan beberapa saat, ternyata mang Ruslan terkena stroke. Mang Ruslan juga menjelaskan bahwa yang memakai topeng tersebut adalah saudara kembar mang Ruslan yang bernama mang Sanip. Topeng tersebut di bawa pergi ke luar kota tanpa sepengetahuan mang Ruslan. Intinya saudara kembar mang Ruslan mencuri topeng mang Ruslan untuk melakukan aksi pembunuhan. Istri mang Ruslan bernama bi Olis. Setelah mendapat keterangan lebih banyak Dinar CS lalu berangkat ke rumah mang Sanip di Terminal Ciputat.
Di perjalanan mereka mampir dahulu ke sebuah masjid guna melaksanakan sholat dzhuhur dan makan nasi bungkus di pinggir jalan. Awalnya Dinar dan Jingga berdebat karena nasi bungkus milik Jingga tidak berkuah. Namun, sebagai kakak yang baik Dinar mau mengalah dan memberikan nasi bungkusnya untuk ditukarkan dengan nasi bungkus Jingga.
Saat mereka sedang asyik–asyiknya makan, tiba–tiba terdengar pembicaraan
beberapa warga setempat. Setelah menguping pembicaraan mereka menyimpulkan bahwa si pelaku pembunuhan belum tentu membunuh karena keinginannya sendiri namun karena suruhan dari orang lain. Kesimpulan tersebut lalu diutarakan kepada Briptu Parmin yaitu polisi yang selalu membantu Dinar CS dalam setiap petualangannya.
beberapa warga setempat. Setelah menguping pembicaraan mereka menyimpulkan bahwa si pelaku pembunuhan belum tentu membunuh karena keinginannya sendiri namun karena suruhan dari orang lain. Kesimpulan tersebut lalu diutarakan kepada Briptu Parmin yaitu polisi yang selalu membantu Dinar CS dalam setiap petualangannya.
Setelah sampai di Terminal Ciputat mereka menanyakan letak warung bi Olis pada salah seorang sopir angkot. Setelah sampai di warung bi Olis mereka melihat mang Sanip masuk ke dalam rumah dengan ditemani seorang pemuda berwajah garang. Setelah lagi–lagi menguping beberapa saat, ternyata kesimpulan Dinar CS sebelumnya salah. Hal yang sebenarnya terjadi adalah yang melakukan pembunuhan adalah temannya mang Sanip yang disuruh oleh Mang sanip.
Setelah yakin dengan kesimpulan tersebut, Dinar CS lalu menelefon Briptu Parmin agar segera melakukan penyergapan. Namun, teman mang Sanip melihat Dinar dan akan mengarahkan sebuah tinju untuk memukul Dinar. Akan tetapi, Dinar yang pernah menjuarai bela diri judo se–ASEAN memberikan bantingan judonya yang membuat teman mang Snip tersebut terkkapar lemah tak berdaya.
Akhirnya Briptu Parmin dengan anak buahnya datang dan menagkap mang Sani beserta temannya. Warung kopi tersebut dalam sekejap ramai akibat jerit tangis bi Olis yang baru mengetahui kalau suaminya terlihat dalam aksi pembunuhan yang sekarang sedang hangat dibicarakan. Mang Snip lalu meminta maaf kepada anak istrinya akan segala kejahatan yang telah di perbuatnya selama ini. Anak mang Sanip menangis tak henti–hentinya sambil mengucapkan salam perpisahan yang menyedihkan tersebut. Mereka lalu berpelukan sejenak untuk selanjutnya akan berpisah beberapa lamanya.
TAMAT
Pengarang Cerita: Csintia Maharani
