Langit penuh bintang bercahaya di matanya. Dengan temaram cahaya bulan, bintang tertutup awan terlihat berpendar malu di atas sana. Dengan penuh harapan, ia coba menghitung bintang yang tersipu malu di balik awan. Di matanya, ia linglung, seolah kebingungan menentukan sikap semu bintang yang tertutup awan di hamparan langit malam itu.
Kebingungan di matanya juga mencerminkan kebingungan di hatinya. Di langit-langit hatinya ada lima bintang penuh makna yang tertutup awan lazuardi. Lima bintang itu ternyata mencerminkan nama dan wajah yang beralainan satu dengan yang lain. Lima nama dan wajah yang tercermin itu adalah lima nama dan wajah yang dulu, atau bahkan hingga sat ini, masih tersirat di hatinya.
Kini ia hanya meratapi wajah-wajah itu satu demi satu untuk mengetahui di mana cinta yang ditakdirkan Tuhan untuknya itu berada. Harap-harap cemas memenuhi setiap titik temu di otaknya. Ia cemas, khawatir. Ia teramat takut jika tidak ada dari lima wajah di hatinya yang telah Tuhan pilihkan untuknya, sebagai penyejuk lara ketika ia butuh akan cinta.
Ternyata, apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Di antara kelima wajah di hatinya, tak satu pun yang dikatakan “Ia” oleh cinta. Cinta tak berpihak pada kelima wajah di hatinya. Cinta berbicara lain dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Ia coba menanyakan pada langit penuh bintang, namun langit penuh bintang itu seakan menjawab dengan bahasa yang juga tidak dimengertinya.
Sesaat ia tertunduk lesu di tempat tidurnya. Ia coba merenungkan suara cinta dan langit penuh bintang yang berbayang semu di benaknya. Suara cinta seakan mengisyaratkan bahwa ada cinta sejatinya di luar sana, sedang suara langit malam seakan memberitahukan di mana cinta sejatinya berada.
Dengan penuh kebingungan ia hempaskan tubuhnya, lalu memejamkan mata yang telah berhiasi bintang-bintang surga. Dengan pasti ia melangkah pergi memenuhi undangan mimpi yang telah siap menyambutnya dengan mimpi-mimpi sorgawi.
Mentari baru bangun dari tidur saat ia berada di depan rumahnya. Jingga sorgawi menyempurnakan keindahan pagi bersama padi yang berbisik di kala sunyi seolah berpuisi bagi orang yang menikmati indahnya pagi.
Ia hirup dalam-dalam aroma surgawi yang berasal dari padi yang mulai ditinggal pergi oleh sunyi. Angin pagi menampar dedaunan padi hingga menaburkan aroma surgawi sebagai penyejuk bagi hati yang mengharap pada ilahi, karena butuh seseorang di sisi.
Suara burung hilir mudik menghiasi indra pendengaranya. Sebagian burung di pepohonan seperti mengisyaratkan sesuatu padanya, sebagian yang lain mendendangkan bunyi mereka untuk sekedar menghapus sunyi dari jangkauan sinar mentari.
Sudah cukup jauh ia meninggalkan rumahnya hanya untuk menikmati suasana surgawi yang berasal dari sunyi bergantung pagi yang kini telah berganti sinar mentari. Sesaat, ia balikan badanya untuk kembali ke rumahnya. Baru selangkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja hand phone-nya berdering.
“Halo, siapa ini?”
“Ini aku, wanita yang pernah kamu tolong.”
“Maaf, aku gak ingat.”
“Aku wanita yang kamu tolong di kecelakaan seminggu lalu.”
“Oh ya, gimana kabarmu sekarang?”
“Alhamdulillah sudah sehatan.”
“Ya, kalau gitu syukurlah.”
“Oh ya, nanti aku telfon lagi ya, soalnya aku di panggil ibu nih.”
“ya sudah, bye…” Ucapnya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, di matanya kebingungan menerpanya, pepohonan yang tadinya agak sunyi, kini telah berubah menjadi konser bunyi burung pagi. Bingung. Ia bingung mengapa burung-burung yang tadi berlagak semu, kini talah menjadi agresif untuk melantunkan suara-suara khas mereka. Angin pun tidak hanya menampar pepadian, tapi juga menerpanya seperti membawa tanda berisikan asa yang terpendam di dalam hatinya.
Sudah cukup jauh ia meninggalkan rumahnya hanya untuk menikmati suasana surgawi yang berasal dari sunyi bergantung pagi yang kini telah berganti sinar mentari. Sesaat, ia balikan badanya untuk kembali ke rumahnya. Baru selangkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja hand phone-nya berdering.
“Halo, siapa ini?”
“Ini aku, wanita yang pernah kamu tolong.”
“Maaf, aku gak ingat.”
“Aku wanita yang kamu tolong di kecelakaan seminggu lalu.”
“Oh ya, gimana kabarmu sekarang?”
“Alhamdulillah sudah sehatan.”
“Ya, kalau gitu syukurlah.”
“Oh ya, nanti aku telfon lagi ya, soalnya aku di panggil ibu nih.”
“ya sudah, bye…” Ucapnya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, di matanya kebingungan menerpanya, pepohonan yang tadinya agak sunyi, kini telah berubah menjadi konser bunyi burung pagi. Bingung. Ia bingung mengapa burung-burung yang tadi berlagak semu, kini talah menjadi agresif untuk melantunkan suara-suara khas mereka. Angin pun tidak hanya menampar pepadian, tapi juga menerpanya seperti membawa tanda berisikan asa yang terpendam di dalam hatinya.
Ia pandangi langit yang bertaburan bintang, untuk menyaksikan bintang yang tampak malu di sela-sela cahaya rembulan. Di matanya yang berkaca-kaca nampak iring-iringan bintang yang semu di hadapan rembulan, turun menghampirinya. Semakin dekat iring-iringan bintang itu, semakin nampak di matanya, bukan hanya bintang yang turun menghampirinya, di balik iring-iringan bintang itu nampak seorang wanita berbaju serba putih mengenakan mahkota berbentuk bintang di kepalanya. Rambutnya tegerai indah ke bawah, memberikan nuansa surgawi malam itu. Iring-iringan bintang itu kini telah ada di hadapannya. Dengan senyum yang memekar di bibirnya, wanita cantik yang bersembunyi di balik bintang iru perlahan menghampirinya.
Ada yang berdetak tak semestinya di hatinya saat itu. Kekaguman akan kecantikan wanita di hadapannya tidak bisa ia pungkiri. Tapi sisi lain hatinya berkata ia seakan pernah mengenal orang itu.
“Dia itu sepertinya…” Suara hatinya terputus, saat wanita bermahkotakan bintang itu berada selangkah di hadapannya.
“Akulah wanita yang ditakdirkan Tuhan untukmu,” kata wanita itu lalu membalikkan badannya menuju bintang yang membawanya tadi. Sementara itu ia memikirkan kalimat yang diucapkan wanita itu, sesaat kemudian ia buang pandangannya ke arah wanita yang kini telah berada di balik bintang-bintang yang siap untuk membawanya kembali ke angkasa sana. Dengan sekali kibasan tongkatnya wanita itu terbang ke langit bersama bintang-bintangnya.
“Hei tunggu…” Teriaknya ke arah wanita yang sudah melayang tinggi bersama bintang-bintangnya.
“Hei Tunggu! Tunggu tuan putri…” Panggilnya lagi dengan suara yang semakin keras.
“Dia itu sepertinya…” Suara hatinya terputus, saat wanita bermahkotakan bintang itu berada selangkah di hadapannya.
“Akulah wanita yang ditakdirkan Tuhan untukmu,” kata wanita itu lalu membalikkan badannya menuju bintang yang membawanya tadi. Sementara itu ia memikirkan kalimat yang diucapkan wanita itu, sesaat kemudian ia buang pandangannya ke arah wanita yang kini telah berada di balik bintang-bintang yang siap untuk membawanya kembali ke angkasa sana. Dengan sekali kibasan tongkatnya wanita itu terbang ke langit bersama bintang-bintangnya.
“Hei tunggu…” Teriaknya ke arah wanita yang sudah melayang tinggi bersama bintang-bintangnya.
“Hei Tunggu! Tunggu tuan putri…” Panggilnya lagi dengan suara yang semakin keras.
Ia terbangun dari mimpi sorgawinya saat angin berhembus keras ke tubuhnya dengan membawa satu nama yang tak lain adalah nama “Shofwa”, wanita yang ditolongnya ketika kecelakan seminggu lalu. Ia teringat, beranjak bangun, dan bergegas. Entah ke mana.
Raudlah-Najiyah saat senja, akhir Desember 2007
Penulis Cerita: Fairuz Zakyal ‘Ibad
