Selamat Jalan Anakku

Senin, 13 Januari 2014 | komentar

Aku sejak SMP di kenal sebagai anak yang tomboy, tak jarang sering bertengkar dengan laki laki. Saat SMP aku tak pernah sekalipun membuka hati pada siapapun hingga saat ku mulai memasuki bangku SMA aku bertemu dengan fikri. Dengannya aku tak punya perasaan apapun tapi sikap dia yang terus meminta aku jadi pacarnya akhirnya aku setujui juga karena aku kasihan walaupun aku suruh dia mematuhi semua keinginanku, supaya dia sadar dan tergerak untuk tidak mencintaiku.. aku menyuruh dia beli ini itu dan membuat dia tak nyaman, tapi ternyata ketegarannya sekeras batu.. Berdua dengannya membuat hari-hariku buruk, tak pernah pembicaraanku dengannya nyambung.
Beberapa tahun kemudian aku kuliah dan bertemu dengan laki-laki yang bernama Andi, yang suatu saat nanti menjadi suamiku.
Dia kuliah di jurusan desain grafis di tempat kuliahku. Dengan fikri aku tetap berkomunikasi walaupun dia telah di luar kota untuk melanjutkan kuliah, walaupun dia yang sering menelponku.. Aku sudah bilang untuk memutuskan hubungan ini karena aku tak cinta sama sekali.
Waktu terus berlalu, aku malah sering mengobrol dengan Andi, sampai timbul sedikit benih cinta di hati kami walaupun tipis. Dia sering memberi aku hadiah dan lainnya dan pembicaraan kami nyambung. Sebenarnya aku ingin bilang ke Andi kalau aku sebenarnya sudah punya pnyayangiku dan menyuruhku tinggal dan mengurus perceraianku di pengadilan, dihadapan hukum kami sah bercerai…
Dan semenjak dari pengadilan itu ku tak tahu kapan, tapi saat kusendiri mendekam di kamar ternyata aku merasakannya, saat kusendiri ada sosok yang memelukku, sosok tanpa wajah.. di tengah banyaknya beban yang membuatku stress itulah aku bertemu anakku, sosok tanpa wajah.. tiap malam ia menjagaku, memelukku yang kesepian. Kumenyuruh ibuku membuatkan susu, kukatakan untukku padahal untuk anakku, aku terdiam di lantai sambil menaruh segelas susu, anakku tersenyum walau tanpa wajah..
Berhari hari aku terdiam di kamar dan akhirnya ibuku semakin yakin ada yang tidak beres..
“Susu itu kenapa gak di minum? Kamu taruh di lantai lia?”
“mah, liat ni.. anakku lagi minum susu di lantai…”
Tak ada sosok apapun,
“Ya tuhan, lia..” beliau sedih karena tahu, pasti ada yang tidak beres,
“kita harus ke orang pintar.. sekarang juga!”
Aku menuruti maunya sambil menggendong, anakku minta di gendong. Saat tiba di rumah ustad ibuku memberitahu semua hal pada sang ustad kalau anaknya melihat sang anak yang sudah meninggal, lalu sang ustadz melihatku yang masih terlihat menggendong sesuatu..
“Anak ibu masih belum merelakan bayinya.. sang bayi itulah yang menemani dia, menenangkan pikirannya, karena ibunya belum merelakannya tenang.. mungkin ini khorin si bayi..”
“cara supaya anak saya kembali normal gimana ustadz? Saya sedih melihat keadaannya seperti itu..”
“ada 2 hal yang harus ibu dan anak ibu lakukan, yang pertama relakan anak itu tenang disana, tiap anak ada ikatan batin dengan ibunya, jadi jika ibu sedih maka anaknya tidak tenang, biarlah ia jadi penolong kita di akhirat nanti, yang kedua tolong ibu berikan nama pada anak yang sudah meninggal, karena ia sudah di tiup ruh.. jadi sekalian selametan..
“Aku gak mau pisah dengannya ustadz!” bisikku pilu sambil menatap bayi itu, ia tahu anaknya tak ingin pisah
“Lia, biar anakmu tenang di alam sana, jangan kamu biarkan bebanmu di ambil anakmu!” ujar ibuku dengan sedih
“Gak kenapa-napa bu, biarlah kita beri kesempatan untuk berpikir. Beban moril anak ibu mungkin yang membuatnya susah melepasnya.. ya sudah mungkin cuma itu saja yang bisa ustadz bantu, keputusan semuanya ada di anak ibu..”
Itu akhir perbincangan kami dan aku tetap kukuh untuk tetap bersama anakku, di rumah aku semakin tak sadar dengan keadaanku sendiri, berbincang dan menimang, memberi susu dan biskuit.. tapi beberapa hari kemudian aku sadar kalau semua ini salah. Tak seharusnya anakku yang menanggung beban ibunya, dan entah dari mana asalnya.. saat ku tatap sosoknya, aku katakan apa adanya
“Nak, kamu mau kan nolong ibu di shirat?” kurasakan ia setuju denganku walau mungkin hanya halusinasiku..
“Maafin ibu ya yang gak bisa ngejaga kamu nak, ibu membiarkan kamu pergi.. terimakasih sayang sudah jaga ibu..,” kurasakan ia sekarang tak mau untuk pergi.
“Ibu sayang kamu, ibu gak bakal lupain kamu nak, kamu mau kan nurutin ibu?” bisikku dengan berlinang air mata..
Akhirnya ia pun pergi, beban di pundakku juga hilang dan aku tak berhalusinasi semenjak itu, dan beberapa hari kemudian diadakan selamatan dan pemberian nama.
Ku mulai membuka hatiku pada lawan jenis sejak saat itu, tapi di tempat tidurku aku mulai merasakan hal ganjil. Di tembok dinding kamar saat kumatikan lampu ternyata ada sesosok wajah, rupanya seperti mantan suamiku.. ya tuhan apalagi ini?
kulihat keesokan harinya ternyata bayang wajah itu ada di tembok itu. Aku jadi paranoid dengan semua ini, aku benci dia tetapi kenapa bayangnya slalu muncul di tembok juga mimpiku akhir-akhir ini?
Hal itu tak ku katakan pada ibuku karena dia pasti khawatir padaku, aku akhirnya berbicara pada teman dan dia setuju membantuku. Beberapa hari kemudian mantan suamiku menanyakan keadaanku, aku tak tahu ternyata ia yang menelpon. Semenjak itu ku tak angkat telpon itu.
Aku di kenalkan pada seorang lelaki oleh sahabatku yang tahu statusku, tapi saat ia menyapaku ia menghindar.. aku tak tahu apa yang salah padaku, dan saat berkenalan dengan lelaki lain hal serupa juga terjadi, semua menghindar kepadaku..
Aku serasa sendiri di dunia ini, malam hari ku mengadu pada tuhan kenapa keadaanku seperti ini? kenapa hanya kesedihan bertubi-tubi yang kuperoleh?
Sebulan kemudian temanku datang dan membawaku ke tempat pamannya yang seorang cenayang, dan kuceritakan segala keadaanku.
“Setelah paman lihat ternyata mantan suami kamu menaruh gendam berupa benda di sekitar rumah, aku tak tahu apa tapi yang pasti karena itulah lelaki lain merasa tak suka kepadamu dan bayangan di kamar kamu itu berupa gendam agar kamu kembali ke mantan suami kamu dan halusinasi bertemu mantan suamimu, dan yang paman lihat ada 2 orang yang membantu mantan suami kamu. Yang satu di daerah banten yang satu semarang, tapi kamu tak usah khawatir. Yang kamu lakukan harus berserah diri kepada Allah, perbanyak ibadah sholat malam Insya Allah gendam itu musnah. Dan pa 4a5 man lihat nanti ada seseorang yang membuat hidupmu mudah, dia ada di pelabuhan, paman tak tahu dimana. Tapi jangan terpaku pada yang paman lihat. Kamu berpikir positif saja…”
Aku yang mendengar menjadi semakin sadar, bahwa hidup ini tak selamanya indah. Semenjak itu aku telah memaafkan mantan suamiku walau sepahit apapun yang ia perbuat, ia juga akhirnya telah menikah dan ku mulai membenahi hidup ini ke arah lebih baik dan mulai belajar ikhlas dengan keadaan yang diperoleh, bahwa tuhan tak akan meninggalkan hambaNya ditengah kesendirian..
END
pesan moral
1. hati hatilah dengan ucapan kita yang tak di sengaja, bijaklah dalam berkata
2. tuhan tak pernah meninggalkan kita, tapi ujian hanya agar kita belajar untuk ikhlas dan berharap hanya kepada sang kuasa dan yakinlah kebahagiaan suatu saat nanti akan diperoleh,
Penulis Cerita: Wildan
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami