The Story of Two Daughters (Part 1)

Senin, 13 Januari 2014 | komentar

Pagi hari yang tak cerah, Lily memaksakan dirinya untuk bangun lebih pagi, karena dia tahu, ayah dan ibunya sekarang sedang tak bisa di ajak bicara. Ayah semakin lama pulang kerjanya semakin larut. Ibu pun begitu. Dan mereka berdua tak pernah ingin berbicara sedikit pun. Bahkan, sekedar say hello saja, mereka tak mau melakukannya. Sepertinya, suasana harmonis semakin lama akan semakin memudar dalam keluarganya. Orang-orang tak ada yang mau berteman dengan Lily, hanya adiknya, Anggrek, yang mau berteman dengannya. Dialah sahabat yang sangat dekat dengannya. Namun, ada satu sifat Anggrek yang sangat dibenci Lily, yaitu, Anggrek adalah Anak Cengeng.
“ayah, ayah mau pergi? Kenapa ayah tak ingin sarapan bersama seperti dulu, yah? Ayah tak perlu makan di luar. Masih ada makanan lezat dan lebih sehat di rumah. Lagi pula, makan sendiri tak menyenangkan.” kata Anggrek yang tak sengaja melihat ayahnya sedang merapikan pakaiannya.
“ini bukan urusanmu,” jawab ayah mengambil kopernya dan pergi ke luar.
“ayah…” Anggrek ingin menghentikan langkah ayah, tapi ayah tak menghiraukan suara parau Anggrek yang tak tahan lagi ingin menangis.
Lily yang ingin pergi sarapan, batal seketika ketika melihat adiknya yang sedang menangis. “Ang…” sapa Lily.
“Kak, sepertinya keluarga kita tak bisa bertahan lebih lama lagi.” Perkataan itu dikatakannya dengan nada yang sangat lemas dan suara yang parau. Sesekali isakan tangis menyela kalimat yang akan diucapkannya.
“tidak, Ang. Kakak yakin. Keluarga kita masih bisa bertahan.” Ujar Lily memberikan semangat pada Anggrek sambil memeluk tubuh kecil Anggrek. “ayo kita sarapan,” ajak Lily sambil merangkul bahu Anggrek. Anggrek tersenyum lemah dan kecil lalu mengiakan perkataan kakaknya.
Mereka berdua pun melangkah menuju ruang makan. Biasanya, pagi yang cerah maupun tak cerah, Lily, Anggrek, ayah, dan ibu akan selalu makan bersama. Baik itu sarapan, makan siang, makan malam, maupun hanya ngemil. Tapi hari ini dan seperti minggu-minggu yang lalu. Ayah pergi pagi sekali. Ibu tak sempat menyiapkan makanan. Hanya beberapa potong roti tawar dan sebotol selai kacang berada di atas meja. Akhir-akhir ini ibu malas untuk menyiapkan makanan untuk mengisi tenaga setiap hari. Terpaksa, Lily dan Anggrek yang membuat sarapan mereka sendiri. Tanpa bantuan ibu yang kerap kali telah sarapan lebih dahulu dan langsung pergi ke toko tempat ia membanting tulang mencarikan uang untuk keluarganya. Itu juga jika roti-roti di toko roti ibu terjual habis atau hanya sekedar satu roti saja yang dapat terjual ibu mau memberikan uangnya untuk putri-putrinya.
“apa hanya ini yang kita punya, Kak?” tanya Anggrek mengangkat botol selai kacang. “aku sudah bosan, Kak…” tambah Anggrek meletakkan botol selai dengan sedikit keras.
“sabar, Ang…” ujar Lily meletakkan roti yang sudah diolesi margarine dan selai kacang ke piring Anggrek. “sepulang sekolah nanti, apa kamu mau ikut sama Kakak?” tanya Lily mengolekan margarine ke rotinya lalu melapisinya dengan selai kacang.
“kemana?” Anggrek berbalik tanya sambil melahap rotinya dengan agak malas.
Lily menuangkan jus jeruk di dua buah gelas. “ya, ke supermarket yang nggak jauh sama rumah kita. Kakak punya resep lezat buat cemilan kita.” Lily meneguk jus jeruknya.
“apa itu kak?” tanya Anggrek lagi.
“rahasia…” goda Lily.
“ahh, Kakak!” Anggrek mendorong bahu Lily.
Sarapan pun telah selesai. Mereka juga telah mandi untuk mnyegarkan diri. Pakaian mereka pun sudah rapi karena sudah mereka seterika tadi malam. Mereka pun pergi ke Sekolah. Lily Anggraini adalah seorang siswi di Flower Junior High School kelas 7-2. Adiknya, Anggrek Anggraini adalah seorang siswi di Flower Elementary School kelas 6-1, masih satu gedung dengan Flower Junior High School. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya jemputan pun datang. Anggrek langsung menemui sahabatnya, Mawar yang tengah duduk di bangku paling depan yang sedang membaca buku. Teman saja tak punya apalagi sahabat, Lily hanya bisa mencari tempat duduk kosong dan tak memperdulikan orang yang akan duduk di sampingnya. Itu juga kalau ada yang mau duduk berdekatan dengannya. Biasanya, yang mau duduk di samping Lily hanyalah Melati. Seorang gadis cantik dan manis yang mau duduk di samping Lily. Sebenarnya sudah lama Lily ingin berteman dan harapan terbesarnya adalah menjadi sahabatnya, tapi itu juga jika Melati mau berteman dengannya. Melati terlalu fokus pada pelajaran dan melupakan orang yang ada di sekelilingnya.
“hai,” sapa Lily basa-basi. Melati terlihat cuek dan terus memandangi buku IPA-nya. “hai!” sapa Lily agak nyaring. Melati masih cuek. “HAI!” sapa Lily lebih nyaring karena dia pikir Melati tak mendengarnya karena suasana dalam bus jemputan sangatlah ramai. Tapi Melati masih serius pada bukunya. “WOI! KAMU BUDEG, YA? ITU TELINGA ATAU PENGGORENGAN? TELINGA GEDE GITU TAPI LUBANGNYA KECIL, SIH?” sembur Lily yang sudah naik darah tak tahan melihat Melati yang terus-terusan cuek. Seketika suasana bus menjadi hening. Tak ada yang berani berbicara. Semua bola mata menatap sinis pada Lily yang kini wajahnya merah padam karena marah. Termasuk Anggrek yang seperti biasa, tak kuasa menahan air mata. Melati menatap mata Lily lalu menutup bukunya, berdiri, mencari tempat duduk baru, dan cuek kembali. Lily menatap setiap langkah gadis cantik itu lalu menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot dan melipat tangan di dada. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya bus jemputan sampai juga di depan gerbang sekolah. Lily turun dari bus tanpa menghiraukan Anggrek.
“Kak…” Anggrek menarik lengan Lily. Lily terhenti. “Kak… ada apa dengan Kakak? Kakak tak pernah semarah ini.” Anggrek mencoba menenangkan Lily dan mencoba membawanya berbicara. Tapi Lily masih menutup mulutnya, tak ada tanda-tanda ia akan mengeluarkan suara lembutnya. “Kak… ayo bicara, Kak…” Lily masih diam. “Kakak…” suara Anggrek mulai menyesak. Dia pun melepaskan pegangannya dari lengan Lily, dengan menunduk dan air mata yang menderai di pipinya, Anggrek berpaling dan berjalan menuju gedung sekolahnya.
Wajah Lily masih merah padam dan menunduk. “Anggrek…”. Anggrek menghentikan langkahnya tanpa berpaling. “maaf…” permintaan maaf dengan suara yang sangat pelan keluar dari mulut Lily, lalu ia berpaling dan pergi ke gedung sekolahnya.
“Thomas Alva Edison punya kalimat bermotivasi sendiri ketika dia mencoba menciptakan bohlam lampu yaitu…”
“bu!” Geranium mengangkat tangan. Bu Kenanga menatap wajah Geranium yang air mukanya mulai keruh. “boleh aku ke belakang?”
“lho? Bukannya tadi Melati sedang ke belakang? Kamu bisa nunggu nggak?” tanya Bu Kenanga.
Muka Geranium tambah keruh. “nggak bisa, Bu! Saya harus cepat-cepat ke belakang!” teriak Geranium karena tak tahan lagi untuk buang air.
“hm, kalau begitu… silakan.” Ujar Bu Kenanga menyilakan Geranium untuk pergi ke kamar mandi.
“makasih, Bu!” teriak Geranium sambil lari menuju kamar mandi. Geranium menghilang dari pandangan, Bu Kenanga menggeleng-gelengkan kepala.
“sampai dimana tadi?”
Geranium berlari sekengcang mungkin menuju kamar mandi yang berada cukup jauh dari ruang kelasnya. Semakin lama semakin cepat langkah Geranium. Ketika dia berada di depan pintu kamar mandi, begitu dia membuka pintu, tiba-tiba…
“AAAaaa!” Geranium ngompol bersamaan dengan suara teriakan Geranium langsung menyebar ke seluruh penjuru Sekolah. Orang-orang langsung berhamburan ke TKP untuk melihat apa yang terjadi. Di dalam TKP, terdapat seorang gadis manis yang tergeletak di lantai kamar mandi dengan kepala yang berlumuran darah dan tubuh yang terdapat beberapa bekas luka. Bu Tulip, wali kelas 7-2 yang baru datang adalah satu-satunya orang yang paling histeris waktu melihat gadis yang sudah tak bernyawa itu.
“MELATI!” teriak Bu Tulip yang langsung menerobos orang-orang yang menghalangi jalan. Bu Tulip sebegitu histerisnya karena dia tak ingin melepaskan siswi yang paling berprestasi dan sudah mengharumkan nama sekolah terutama pada kelasnya.
Karena kejadian itu terpaksa Pak Kepala Sekolah memulangkan murid-murid lebih awal. Lily sekarang tak murung lagi. Anggrek pun lebih fine dari yang tadi. Mereka berdua juga sudah berbaikan saat pulang sekolah tadi. Setelah sampai di rumah, membereskan barang-barang dan mengganti pakaian, sesuai janji mereka tadi, Lily dan Anggrek akan pergi ke Supermarket yang tak jauh dari rumahnya. Karena ibu tak ada, mereka ingin membuat cemilan-cemilan manis dan enak tentunya.
“ayo, Kak!” ujar Anggrek bersemangat. Lily mempercepat menulisnya. “Kakak nulis apa, sih? Sepenting itu, kah, selembar kertas yang telah di tulis?” ejek Anggrek dengan gayanya yang Lebay.
“ini!” ujar Lily tak menghiraukan ejekan Anggrek. “jangan sampai hilang.” Tambah Lily sambil memberikan secarik kertas.
Anggrek memandang kertas itu tanpa membacanya. “apa ini?”
“aduh… kamu nggak bisa membaca, ya? Berarti selama enam tahun, kamu nggak pernah di ajarin membaca? Huh, anak aneh.” Kali ini Lily yang mengejek Anggrek. “pelajaran yang pernah kamu tahu dipelajari dong! Jangan cuma bisa masuk telinga kanan terus keluar telinga kiri.” Tambah Lily.
“iya, iya…” kata Anggrek menyerah dengan perkataan-perkataan Kakaknya. “aku tahu, kok, kalau ini catatan belanja…” jawab Anggrek dengan bete.
“terus? Kenapa kamu nanya segala?” tanya Lily memancing amarah Anggrek.
“nggak pa-pa…” balas Anggrek sok tidak terjadi apa-apa. Lily mendengus sebal. Perkataan Anggrek memang di luar dugaannya. “ayo, Kak. Masalah itu nggak usah dipikirin.” Ucap Anggrek ketika melihat Lily diam seribu bahasa. “Kak…” Anggrek mendekati Kakaknya. Sebutir air mata jatuh dari balik kacamata Kakaknya. “Kakak… Kakak memikirkan Kak Melati, ya?” tanya Anggrek memberanikan diri. Lily menatap bola mata Anggrek yang sepertinya mulai berkaca-kaca.
Lily mengusap air mata yang membasahi pipinya. “udah. Nggak usah dipikirin…” ucap Lily dengan nafas yang terasa tersendat-sendat. Anggrek tersenyum lemah dan kecil setelah mendengar kalimat itu. Lalu Lily menggandeng Anggrek menuju sepeda mereka.
Setelah beberapa menit mereka mengayuh sepeda menuju Supermarket, akhirnya, di menit ke-15 mereka sampai dan sekarang sudah memarkirkan sepeda mereka. Sesuai dengan catatan yang diberikan oleh Kakaknya, Anggrek membeli beberapa bahan. Ada coklat, tepung, telur, mentega, dan lain-lain. “Sepertinya, Kak Lily mempunyai resep kue rahasia,” gumam Anggrek.
“hei! Ngapain kamu ngelamun? Ayo cepat! Aku sudah menemukan tiga macam buah-buahan. Kalau kamu…” Lily melihat ke keranjang Anggrek. “… nggak ada satu pun.” Ejek Lily.
“iya, Kak, iya…” jawab Anggrek yang langsung mencari bahan-bahan yang ada di catatan. Setelah beberapa menit, belanjaan mereka pun meletakkan belanjaan mereka di kasir dan memberikan uang yang cukup untuk membayar belanjaan mereka.
Sesampainya di rumah, mereka langsung mengambil peralatan masak. Lily mencari celemek di dapur dan saat dapat Lily langsung memakaikan salah satu celemeknya pada Adiknya. Dan setelah itu, mereka memulai memasak.
“ANGGREK! KAMU BISA MEMECAHKAN TELUR ITU NGGAK? SUDAH DUA TELUR YANG SUDAH KAMU PECAHKAN DAN KAMU BUANG-BUANG!” teriak Lily.
“maaf, Kak… Kakak juga nggak ngasih tahu cara mecahinnya…” jawab Anggrek agak was-was.
Wajah merah padam Lily perlahan memudar dan dia langsung meraih sebutir telur dari tangan Anggrek. “gini cara memecahkannya…” Lily memberi teknik untuk memecahkan telur pada Anggrek.
Lama, lama, dan lama, akhirnya mereka selesai sudah. Tinggal memberikan topping dan menyiapkan minumannya. Lily yang memang jago memasak, begitu lihai memainkan pisau. Tapi, tanpa sengaja Lily mengiris jari telunjuknya saat dia mencoba mengupas kulit buah apel.
“AUCH!”
“Kakak! Kak Lily nggak pa-pa, kan?” tanya Anggrek khawatir saat melihat darah menetes di jari Kakaknya.
“nggak pa-pa, kok. lebih baik, kamu ambilkan Kotak P3K. Aku akan membersihkan ini dulu sebelum memakaikan obat merah dan plester luka pada lukanya.” Ujar Lily yang langsung membuka keran air dan membersihkan darah yang ada di lukanya yang mulai tadi terus mengeluarkan darah. Anggrek mangut-mangut dan langsung berlari mencari Kotak P3K.
“nih, Kak.” Anggrek memberikan Kotak P3K pada Lily.
“tolong ambilkan obat merah.”
“baik, Kak.” Anggrek membuka Kotak P3K dan mengambil obat merah dan membantu Kakaknya memakaikan obat merah di lukanya, lalu menempelkan Plester Luka agar tak ada kuman yang akan masuk ke dalam luka. Tapi sebuah keanehan terjadi. Setelah jari Lily terkena sayatan pisau, tiba-tiba saja, Lily seperti tak punya keseimbangan. Dia tak bisa berdiri tegak dan terus memegangi kepalanya. “Kakak kenapa?” tanya Anggrek khawatir.
Lily langsung memasang aktingnya yang seakan mengatakan ‘tak apa-apa’. “nggak ada apa-apa, Kok. Cuma pusing sedikit.” Lily kembali mencoba berdiri sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Tapi…
BRUUUKKK!
“KAKAK!”
Lily membuka mata. Sepertinya dia sedang berada di tempat lain. Tempat yang sangat jauh berbeda dengan rumahnya. Tempat itu berwarna putih dan ada kain penutup berwarna hijau. “dimana aku? Apa ini rumah sakit?” gumam Lily. Lily menoleh ke arah jam sembilan. Disana ada seorang gadis yang sedang menatap wajah Lily. Lily tak dapat mengenalinya siapa gadis kecil itu. “dimana kacamataku?” tanya Lily. Gadis itu memberikan kacamata milik Lily dan Lily langsung memakainya. Ternyata gadis yang memberikan kacamatanya itu adalah…
“Kak…” ujar gadis itu.
“Anggrek? Di mana aku?” tanya Lily berulang.
“di Rumah Sakit. Kakak tadi pingsan.” Ujar Anggrek.
Lily mencoba untuk duduk. Tubuhnya terasa sangat lemah. Tapi agak aneh, kenapa Anggrek tak membantunya? “apa yang terjadi?” Lily bertanya lagi.
“Kakak tadi pingsan.” Jawab Anggrek dengan nada datar. Matanya tak sembab, seakan-akan dia tak menangisi keadaan Kakaknya. Padahal, yang Lily tahu, Anggrek adalah anak yang cengeng.
“aku tahu itu dan kenapa aku bisa berada di Rumah Sakit? Apa yang terjadi?” Lily mengulang pertanyaannya.
“Kakak tadi pingsan.” Anggrek pun juga ikut mengulangkan jawabannya.
“iya, maksudku, aku pingsan karena apa?” tanya Lily lagi.
“Kakak tadi pingsan.” Anggrek terus mengulang kalimat itu seakan tak ada lagi kalimat yang lain. Lily terdiam sejenak. Dia sepertinya menemukan kejanggalan yang ada pada Anggrek. Tak biasanya Anggrek seperti ini. Dia tak menangis dan dia juga terus-terusan mengulang kalimat yang sama yaitu ‘Kakak tadi pingsan.’.
Kalimat “KAMU ITU NGGAK PUNYA KALIMAT LAIN APA SELAIN ‘KAKAK TADI PINGSAN’?” yang awalnya akan disemburkan pada Anggrek tiba-tiba dibatalkannya lalu diganti dengan pertanyaan lain. “apa kamu Anggrek?” Lily memberanikan diri menanyakan hal itu. Anggrek menunduk dan tak mau bicara seakan dia tak punya bahan pembicaraan. “apa kamu Anggrek?” Lily mengulang pertanyaannya. Anggrek masih diam, Lily masih sabar. “aku ulang lagi. Apa kamu Anggrek?” tanya Lily menahan kesabarannya. Kali ini, Anggrek mengangkat wajahnya. Wajah Anggrek yang tadinya tertutupi oleh rambut hitam acak-acakannya, seakan mentari saat dia mengangkat wajahnya. Tapi, bukan itu yang dimaksud. Sebenarnya, Lily malah teriak ketakutan ketika melihat bukan wajah Anggrek yang dia kenal, melainkan wajah seorang gadis lain yang cantik namun wajahnya pucat dan darah mengalir di kepalanya. Itu… “MELATI?” pekik Lily ketika dia baru menyadari kalau gadis itu adalah Melati, yang disaat-saat terakhirnya, Lily malah memarahinya.
“KENAPA KAMU MEMARAHIKU DAN MENGEJEKKU?” ujar Melati dia pun menangis dan air mata darah mengalir di matanya.
“mengejek? Si-siapa yang mengejek? Aku tak pernah mengejekmu.” Sanggah Lily tak percaya kalau Melati hidup kembali.
“KENAPA KAMU MEMARAHIKU? KENAPA KAMU MENGEJEKKU?” tanya Melati lagi.
“aku nggak mengejekmu! Aku nggak pernah memarahimu!” Lily masih bersikeras tak mengakui itu.
“KAMU BERBOHONG! WAJAH BOHONGMU TAK AKAN MENIPUKU!” amarah pun mulai bergejolak pada Melati.
“SUMPAH! Aku nggak pernah mengejek dan memarahimu!” Lily masih teguh pada logikanya.
“JANGAN BERBOHONG!” teriak Melati.
“AKU NGGAK BOHONG! Kalau benar aku mengejekmu dan memarahimu, apa buktinya?” Lily memberanikan diri melawan Arwah Melati.
“aku akan memberikan bukti.” Ujar Melati merendahkan nadanya dan mengarahkan pandangannya dan juga Lily ke TV Rumah Sakit. Di sana ada Lily yang sedang marah-marah sekaligus mengejek Melati.
‘WOI! KAMU BUDEG, YA? ITU TELINGA ATAU PENGGORENGAN? TELINGA GEDE GITU TAPI LUBANGNYA KECIL, SIH?’ teriak Lily ke Melati pada tayangan replay waktu itu.
“aku tahu itu.” kata Lily santai.
“JIKA KAMU TAHU ITU, MENGAPA KAMU TAK MENGAKUINYA?” tanya Arwah Melati.
“itu bukan salahku. Itu salahmu sendiri. Aku tak akan mengatakan itu jika kamu mau berteman denganku. Say hello saja nggak mau! Sekedar menoleh pun kamu ogah. Gimana aku nggak marah?” tanya Lily.
“TAPI, SEHARUSNYA TAK PERLU MARAH JUGA AKU MAU.” Jawab Melati.
“aku sudah melakukan itu dengan lembut tanpa marah ratusan bahkan ribuan kali padamu. Tapi kamu masih berpegang teguh pada kesalahan kamu sendiri. Tentu saja aku marah! Manusia itu tentu tak bisa selamanya menahan amarah selamanya! Pasti ada waktu di mana dia akan mengeluarkan amarahnya!” jelas Lily. Arwah Melati menunduk. Sepertinya dia tahu kesalahan yang ada dalam dirinya. Dia ingin sekali membalasnya dengan perkataan, ‘aku tak pernah marah.’ Tapi dia tahu balasan Lily akan membalasnya dengan perkataan, ‘kalau tak pernah marah, bagaimana dengan sekarang? Kamu marah, kan?’.
“maafkan aku. Aku yang salah. Seharusnya saat aku masih hidup, aku akan berteman denganmu.” Kata Melati sambil menundukkan kepala. “tapi, aku tak kembali ke alamku karena aku masih mempunyai tugas selain menemuimu.” Ujar Melati.
“apa itu?” tanya Lily.
“memcari siapa yang membunuhku.” Melati langsung menghilang dari pandangan mata. Sepertinya ia akan mencari siapa dalang yang membuatnya meninggal dan tak bisa hidup tenag di alamnya.
“MELATI!” teriak Lily ingin mencegah Melati mencari siapa yang membunuhnya. Tapi sayang, Melati sudah pergi mendahului teriakan Lily.
“Melati! Melati! MELATI! TIDAK!” teriak Lily. Lily membuka mata dan langsung duduk sambil memegangi kepalanya yang sakit.
“hah?!” Anggrek mendongak kaget. “Kakak? Kak, ada apa?” tanya Anggrek yang barusan bangun karena teriakan Lily.
“Anggrek? Apa ini kamu?” tanya Lily menyentuh pipi chabi Anggrek.
“ya, Kak, ini aku. Anggrek. Anggrek Anggraini, adikmu, Kak!” ujar Anggrek. Setetes air mata pun jatuh dari mata jernih Anggrek.
“Anggrek…” Lily menyeka air mata Anggrek dan sekarang giliran Lily yang menangis. Anggrek menyeka air mata Kakaknya.
“Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak berteriak memanggil-manggil Kak Melati?” tanya Anggrek yang tadi tak sengaja mendengar Lily teriak memanggil Anggrek.
“Kakak bertemu dengan Arwah Melati, Ang.” Ujar Lily.
“bertemu Kak Melati?!” tanya Anggrek kaget.
– bersambung –
Penulis Cerita: Jauharia Rusyady
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami