“Kapan?”
“Nanti malam, di kafe pojok taman kota.”
“Oke… Sampai jumpa,” akhir katanya sebelum menutup telepon.
“Nanti malam, di kafe pojok taman kota.”
“Oke… Sampai jumpa,” akhir katanya sebelum menutup telepon.
Matahari menyuruk ke ufuk. Langit ungu mulai memerah pada cakrawala. Lampu-lampu sekitar mulai dinyalakan. Tirta tersenyum, dan ia melayangkan pandangannya, menikmati senja yang memerah dan lampu-lampu yang satu-persatu mulai bercahaya. Terlihat gemerlap lampu pada bangunan-bangunan menjulang tinggi.
Ia diam. Matanya temlawung jauh melihat hamparan luas semesta di depannya. Sayup-sayup adzan bergema. Sapuan merah langit senja mulai menua. Senja menjemput malam.
Malam yang pekat bercahaya oleh lampu kota yang berkeredap, bulan sabit yang seolah tersenyum, gemintang berkerlap-kerlip, bertabur memenuhi langit malam. Tirta hanya keluar sebentar menengok kabar bulan, juga gemintang.
Ia diam. Matanya temlawung jauh melihat hamparan luas semesta di depannya. Sayup-sayup adzan bergema. Sapuan merah langit senja mulai menua. Senja menjemput malam.
Malam yang pekat bercahaya oleh lampu kota yang berkeredap, bulan sabit yang seolah tersenyum, gemintang berkerlap-kerlip, bertabur memenuhi langit malam. Tirta hanya keluar sebentar menengok kabar bulan, juga gemintang.
Bulan sabit terlihat bagai sebuah senyuman di matanya. Ia masih berjalan. Melangkah pelan namun pasti di trotoar pinggir jalan. jalanan lengang, namun tak sepi. Di pinggir trotoar, seorang kakek pengemis — dengan topi tikar pandan yang jebol sedikit di bagian pinggirnya — duduk bersila sambil menengadahkan tangannya dengan topi tikar pandan itu. Tirta memberi uang lembaran sepuluh ribu. Seorang pengemis tua tersenyum dan berterimakasih. Pipinya cekung. Terlihat saat ia tersenyum. Kulitnya pun kisut. Tak dinyana, kakek tua tadi mengeluarkan sebatang rok*k yang sudah tinggal separuh. Barangkali ia menghemat. Tapi apa mungkin ia mengambil sisa rok*k orang yang dibuang. Entahlah.
“Ada korek?” katanya, dengan nada gemetar ia bertanya. Tirta kemudian merogoh kantong celananya, mengambil korek, lalu menjulurkan pada pengemis tua itu. Tirta menelan ludah. Pengemis itu tersenyum. Mau rok*k? Pengemis itu menawarkan rok*k yang telah disulutnya, menyulutnya dengan tangan gemetar. Tirta menggelengkan kepala.
“Ada korek?” katanya, dengan nada gemetar ia bertanya. Tirta kemudian merogoh kantong celananya, mengambil korek, lalu menjulurkan pada pengemis tua itu. Tirta menelan ludah. Pengemis itu tersenyum. Mau rok*k? Pengemis itu menawarkan rok*k yang telah disulutnya, menyulutnya dengan tangan gemetar. Tirta menggelengkan kepala.
Sekitar lima menit lagi Tirta akan sampai di kafe. Berusaha tepat waktu. Tirta berjalan pelan. Kendaraan mulai banyak berseleweran. Tirta membayangkan wajah oval Virla, dan lalu, ia tersenyum. Membayangkan Virla tersenyum, Tirta pun tersenyum. Ia menengadah ke langit malam; bulan sabit terlihat di sela awan berkarat, gemintang berkerdipan.
Hanya membutuhkan waktu tujuh menit untuk Virla sampai ke kafe pojok taman kota. Ia berjalan pelan. Pakaian favoritnya; baju ungu dan jilbabnya pun ungu, serba ungu, begitu pun dengan rok mini yang sederhana — warna ungu.
Dan masih bersama malam yang terang. Senyum Virla masih dilipat untuk nanti dilayangkan hanya untuk Tirta saat pertama berjumpa. Tidak biasa ia keluar malam sendiri, namun karena hanya ke kafe dekat, apalagi janji makan malam dengan Tirta, baginya adalah hal yang barangkali mencipta bahagia di malam sunyinya.
Dan masih bersama malam yang terang. Senyum Virla masih dilipat untuk nanti dilayangkan hanya untuk Tirta saat pertama berjumpa. Tidak biasa ia keluar malam sendiri, namun karena hanya ke kafe dekat, apalagi janji makan malam dengan Tirta, baginya adalah hal yang barangkali mencipta bahagia di malam sunyinya.
Di depan pintu kafe, Tirta melihat seorang anak pengamen. Ya. Anak itu pertama yang dilihatnya. Duduk memeluk lutut, gitar tua tergeletak di sampingnya. Wajahnya menunduk, dan yang terlihat hanya topinya yang kusut dan kusam. Warna putih kecokelatan. Kemudian bapak satpam datang dan menyentak tangan anak itu, lalu mengentakkan hingga bangkit, berdiri. Tirta dengan cepat melesat menghampiri mereka. Ia menenangkan keadaan yang rumit. Bapak satpam menyeret anak pengamen dengan tanpa kasihan. Anak pengamen itu pergi. Bapak satpam pun berlalu.
Tirta masuk ke kafe. Ditebarkan pandangannya untuk mencari Virla, tunangannya. Tidak ada. Lalu ia duduk, memilih duduk di bagian yang lurus ke pintu, sehingga saat Virla membuka pintu. Pastilah Tirta yang akan dilihatnya pertama kali.
Pelayan datang dan menyodorkan menu pesanan pada Tirta.
“Segelas susu cokelat saja, Mas.”
Tirta hanya memesan itu, sebab Virla belum juga datang. Pelayan itu datang membawa segelas susu pesanan Tirta dengan segera, dan buru-buru Tirta menyeruputnya.
Pelayan datang dan menyodorkan menu pesanan pada Tirta.
“Segelas susu cokelat saja, Mas.”
Tirta hanya memesan itu, sebab Virla belum juga datang. Pelayan itu datang membawa segelas susu pesanan Tirta dengan segera, dan buru-buru Tirta menyeruputnya.
Orang-orang berpasangan datang, hanya Tirta yang sendiri, menantikan Virla. Barangkali sebentar lagi. Tak lama kemudian, seorang gadis datang, membuka pintu. Pandangannya tertuju pada Tirta. Gadis itu tersenyum saat mata Tirta bertumbuk pada wajah gadis itu. Agaknya mereka saling kenal. Ya, gadis itu, Aira namanya. Gadis itu memanggil Tirta, “Tirta! Benar kan kamu itu Tirta, sahabatku?” Aira mendekat.
“Ya, kamu… Aira…?” tebak Tirta.
“Benar. Kamu sedang apa di sini?”
“Menanti seseorang,” jawab Tirta ringan dan merahasia.
“Ya, kamu… Aira…?” tebak Tirta.
“Benar. Kamu sedang apa di sini?”
“Menanti seseorang,” jawab Tirta ringan dan merahasia.
Aira duduk di kursi yag telah ia sediakan untuk Virla. Tirta lalu terkejut — bukan hanya Aira duduk di hadapannya— namun, sebab Virla datang. Pandangannya tertuju pada Tirta. Virla membuang muka, Tirta menggerutu. Barangkali ia cemburu menyaksikan semua itu. Tirta mengejarnya, tapi tangannya malah terbentur meja. Menumpahkan segelas susu cokelat yang baru separuh diteguknya. Ia tak peduli. Hendak melangkah mengejar tunangannya yang mulai menjauh, namun sayang langkahnya tertahan kaki meja. Tubuhnya berdebam ke lantai. Tirta mengaduh kesakitan. Ia tidak bisa bangkit dengan segera. Orang-orang menoleh. Virla menoleh. Aira malah tertawa. Virla balik langkah lagi, menghampiri Tirta. Dan secara bersamaan — Virla dan Aira — membantu Tirta bangkit berdiri dan duduk lagi ke kursi tadi.
Ruangan hening. Tidak ada yang bersuara sampai beberapa saat. Tirta berdeham dan memecah keheningan. Aira Menjelaskan pada Virla bahwa Tirta adalah sahabatnya sejak kecil. Tirta mengangguk, dan Virla pun percaya.
Malam dengan Virla yang rencananya hanya akan berdua, berubah dengan Aira pula. Makan malam bertiga. Indah. Penuh canda. Bercerita panjang lebar. Malam yang bahagia. Aku malam yang bahagia, kata Tirta. Virla mengangguk dan berkata sama: Aku malam yang bahagia. Aira tersenyum dan berkata: Malam ini, aku bahagia. Namun di hati Aira, rasa cemburu pun ada…
Pengarang Cerita: Dika Afandi
