Pelajaran Dari Pengemis Tua

Kamis, 09 Januari 2014 | komentar

Kisah dari pengalaman seorang temanku di sekolah. Waktu itu saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami diperintahkan untuk menceritakan pengalaman pribadi masing-masing apa saja terserah apa yang mau diceritakan olah kami semua. Saat keesokan harinya tugas itu pun dikumpulkan, dan kami semua juga diperintahkan untuk membacakannya di depan teman-teman semua.
“Tugasnya sudah dikumpulkan semua ini?”. Kata Bu Tika yang merupakan guru Bahasa Indonesia di kelasku bertanya kepada semua murid di dalam kelas itu.
“Sudah Bu”. Kami semua serentak menjawab pertanyaan beliau.
“Ibu mau kalian membacakan cerita kalian di depan kelas, agar teman-teman kalian tahu tentang pengalaman kalian, dan sebagai nilai tambah dalam pelajaran Ibu kali ini.
Setelah mendengar perintah tersebut kami semua pun akhirnya mempersiapkan diri untuk bercerita di depan kelas, walaupun ada beberapa dari temanku tidak mau maju ke depan karena malu untuk membacakannya. Tapi tetap saja demi penilaian akhirnya mereka maju untuk menceritakan kisah mereka masing-masing.
Silih berganti teman-temanku dipanggil untuk menceritakan kisah mereka, kamipun ikut larut pada setiap kisah pengalaman pribadi yang diceritakan semuanya. Sampai pada pembaca yang selanjutnya, itulah temanku gilirannya. Dia menawarkan diri untuk bercerita tanpa dipanggil oleh Bu Tika. Pada saat dia maju ke depan kelas dan menceritakan kisahnya, itu sangat membuatku kagum.
“Pada suatu hari saya sedang menemani ibu saya berbelanja buah di sebuah toko buah di daerah rumah saya. Hampir rutin saya berbelanja buah disana. Suatu ketika, di sore hari saya berbelanja buah dengan ibu saya, seusai berbelanja akhirnya saya pun pulang bersama Ibu saya. Tapi saat saya menuju ke luar toko buah tersebut, di sudut toko buah itu terlihat seseorang sedang duduk dengan pakaian yang tidak selayaknya dipakai, perawakan yang agak tua tubuhnya terlihat lemah dan kelihatannya matanya itu buta.”
“Pada akhirnya saya berniat untuk sedikit menyedekahkan uang saya, walaupun itu hanya beberapa rupiah sisa kembalian berbelanja buah tadi, karena saya kasihan terhadapnya dengan ikhlas dan mengaharapkan Ridho Allah saya berikanlah di atas mangkok yang ada di depannya. Bayangkan seorang pengemis tua yang buta duduk di pinggir toko hanya untuk mengaharap belas kasihan setiap pengunjung dan orang-orang yang berlalu lalang disana. Dia pun terlihat senang pada pemberian saya, dan saya juga senang bisa memberikan sedikit rejeki terhadapnya. Hal itu selalu saya lakukan saat berbelanja ke toko buah itu.”
“Namun pada suatu hari, dengan rasa terburu-buru saya berbelanja di toko buah itu. Kebetulan ibu saya memerintahkan saya untuk kesana. Dengan rasa terburu-buru setelah melakukan transaksi di dalam toko itu, keluarlah saya tanpa memberikan sedikit rejeki saya yang biasanya saya berikan pada pengemis tua itu. Namun, ketika saya keluar dari sana. Saya mendengar pengemis itu berkata *Bu haji kok tidak memberikan saya uang, kenapa langsung pergi?*. kata-kata itu mebuat saya terheran-heran, bagaimana dia tahu kalau saya berada di tempat itu sementara matanya saja dalam keadaan buta. Akhirnya dari situ saya merasa diri saya tertipu oleh pengemis itu, dan saya pun bergegas pulang dengan perasaan kesal, tidak percaya dan sangat kecewa. Padahal saya sudah mempercayai pada apa yang diderita pengemis itu, dan saya pun menjadikan semua pelajaran atas apa yang saya alami saat itu.”.
“Tamat”.
Dia pun mengakhiri ceritanya dan kembali ke temapat duduknya.
Dari cerita singkat itu pun saya juga mendapat pelajaran dari kisah tersebut, memang benar jika saya menjadi dia saya akan merasa kesal ketika ditipu semacam itu. Semua murid di kelas memberikan tepuk tangan pada ceritanya. Dan itu merupakan kisah yang sangat bagus sekali.
Pengarnag Cerita: Atikah
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami