Dibalik Topeng Mu (Part 1)

Selasa, 14 Januari 2014 | komentar

“Tuhaaannn! Mengapa Engkau begitu kejam padaku? Apa salah ku tuhan?” teriak Seorang lelaki di Sebuah atap gedung Universitas ternama Di kota itu. “Jika ini memang takdirku, aku Terima semuanya. Namun aku takkan pernah memaafkan Mereka!!” Setelah selesai dengan kata katanya, lelaki itu kemudian Loncat dari atap gedung yang memiliki 8 lantai. Ia tewas seketika dengan Tragis. Keesokan harinya mayat lelaki itu di temukan, lelaki itu bernama Farid, seorang mahasiswa Cerdas namun Culun Semester 2.
Hampir setahun kejadian itu berlalu, kini Semua mahasiswa Seakan Sudah melupakan kejadian itu. “wahh.. Lihat Mereka datang!” “cantik Sekali!” “mereka semua Manis” “icons, I LOVE U!!” teriak para lelaki Di kampus itu saat enam (6) gadis cantik lewat di hadapan mereka. ‘ICONS’ merupakan Kumpulan cewek-cewek Cantik dan Manis, mereka memiliki sifat sifat yang berbeda namun mereka terlihat begitu kompak. Mereka merupan idola bukan hanya di fakultas Mereka, namun Di fakultas lain pun mereka begitu terkenal. ‘ICONS’ terdiri dari 6 orang gadis cantik, Linda Dengan kecerian dan kecentilannya serta Memiliki Senyum yang begitu menawan, Hajar dengan Sifat keras dan Dinginnya tak ada yang berani Menatap matanya Secara langsung, Fuadah gadis tomboy dengan kulit hitam namun Manis, Fiaz Cewek Feminim yang paling banya Memiliki penggemar di kampus itu, Nabila yang memiliki Senyum yang sangat hanget Dia begitu lembut, kulit putih dan yang terakhir Ifah gadis Sederhana Namun memiliki Senyum yang tak kalah menawannya dengan Linda serta memiliki Inner beauty yang membuat para lelaki tak bosan memandangnya.
Mereka sudah seperti Artis di kampus itu, Banyak penggemar yang memberi mereka bunga dan coklat namun mereka hanya Cuek. Di antara para lelaki yang menjadi penggemar mereka ada Seorang lelaki yang sepertinya begitu tergila gila pada Ifah, Lelaki Itu teman sekelas mereka namanya Djalil. Djalil adalah mahasiswa yang memakai kacamata memiliki Postur tubuh yang Lumayan namun penampilannya Begitu jadul, setiap ke kampus ia menggunakan kemeja Kotak kotak yang kebesaran dan kaki bajunya selalu dimasukkan, kacamata Setebal kacamata kuda, serta rambut yang diberi minyak dan di belah dua.
Pada Suatu hari Djalil membawakan Ifah nasi goreng buatannya, saat hendak memberikan masakannya itu kepada Ifah yang duduk di taman kampus ia dicegat oleh hajar dan linda. “ehh.. mau ngapain lo jokowi?” kata hajar sambil melototkan matanya. “asyik, nasi Goreng! Buat Aku yah, makasih!” kata linda dengan nada centilnya kepada Djalil dan langsung mengambil nasi itu. “ta.. tapi Itu Buat Ifah!” djalil gugup bercampur rasa malu. “yah… buat Aku ajah faa.. aku dah laper nih” rengek Linda pada Ifah dengan manjanya. “iyah, gak apa apa. Makan aja” jawab Ifah sambil tersenyum pada Djalil “makasih yah”. “Linda, Enak gak? Bagi Dong!!” kata Fuadah sambil mendekati Linda yang sedang makan dengan girangnya. “ya Udah. Pergi loh Sono! ntar Orang-orang lihat Lu dekat dekat kita, pamor kita kita malah menurun lagi!!” kata hajar sembari mendorong lengan Djalil. “ehh jangan kasar begitu, Djalil kan udah berbaik hati membawakan Kita nasi goreng” bela Nabila sambil melempar senyumnya yang hangat kepada Djalil. Djalil membalas senyum Itu dengan Lembut, kemudian pergi.
“guys, Cepetan kita Masuk. Katanya pak Takdir akan memperkenalkan Kita dengan Asisten yang akan menggantikan dia jika tak Datang mengajar” Panggil Fiaz kepada kawan kawannya.
Siang itu pak Takdir datang membawa asistennya untuk diperkenalkan, “Perkenalkan nama Saya IMAM, saya Juga Mahasiswa tamu sudah semester 6, pas di atas kalian, Saya Kuliah di kampus 1. Terima Kasih” Imam memperkenalkan dirinya. “wah, kak. Bagi Pinnya Dong” Sahut Linda Dengan kedipan Matanya yang cepat. Sentak Imam tersenyum namun tak menjawab, Imam merupakan Mahasiswa yang Memiliki gaya Keren, trendi, tinggi, tampan namun ramah dan Sopan, bisa Dikatakan ia adalah tipe Cowok idaman para Wanita tak terkecuali para gadis Icons. Setiap Imam datang ke kampus 2, Para Icons tak hentinya mendekati mereka padahal sebelum imam datang mereka yang dikejar-kejar oleh Lelaki. Namun di antara para Icons ada Dua orang yang tidak ikut mengejar ngejar Imam, Ifah dan nabila tetap kalem kalem saja dengan keberadaan imam.
Sekarang imam merupakan satu satunya Pria yang dekat dengan para icons, Dia bercanda gurau dengan mereka di taman dekat kampus. Namun Dari kejauhan Ifah Melihat Djalil memperhatikan mereka dari balik Pohon yang jaraknya cukup jauh dari Tempat mereka berkumpul. Djalil menatap dengan pandangan Tajam, Ifah merasa aneh dengan tatapan itu, ia mengajak Nabila untuk ke toilet karena merasa merinding dengan tatapan Djalil yang ditujukan pada mereka.
Dalam Persiapan Final text, Para Icons dan teman kelasnya wajib mengikuti Kemping dalam Study Pak Takdir yang memang sudah Rutin dilakukan Sejak 5 tahun yang lalu. Kemping itu akan dilaksanakan Selama 3 hari 2 malam Di mulai pada hari Jumat dan berakhir pada hari minggu yang diadakan di Puncak, para mahasiswa diminta untuk mempersiapkan diri Secara jasmani dan Rohani. Hari itu pun tiba, Para mahasiswa berangkat menaiki Bus bersama 2 dosen, pak takdir dan Ibu Nisa serta asisten Dosen, Imam. Kecerian terpancar dari para mahasiswa, nyanyian di dendangkan selama perjalanan Namun Ifah tampak muram karena perasaannya tidak enak, ia duduk di depan Djalil dan seakan akan Djalil sedang memperhatikannya dengan tatapan yang ia tunjukkan di taman beberapa waktu yang lalu.
Mereka pun Tiba di tempat tujuan, mereka segera mempersiapkan untuk membangun Tenda tenda yang dibangun sebanyak 10 tenda, 5 untuk Wanita 3 untuk pria dan 2 untuk dosen. “ehh.. Jokowi, Bantuin bawain Tas tas Kita dong!” Teriak hajar sambil meninggalkan Djalil dengan tasnya dan tas tas temannya. Tenda wanita hanya Cukup untuk 3 orang dalam satu tenda sedangkan pria dapat memuat 4 orang di dalamnya. Ifah, Fiaz dan Fuadah bersama dalam satu tenda, sedangkan hajar, Linda dan nabila berada di samping kanannya.
Dalam kemping susunan Acara terdiri dari rekreasi, pembelajaran serta malam renungan di malam terakhir. Malam renungan merupakan bagian yang paling tidak disukai oleh hajar. Ia pun pergi sebelum malam renungan itu untuk keliling mencari angin.
Saat malam renungan akan segera dimulai Ifah keluar dari tendanya dan bertabrakan Dengan Djalil. Djalil kemudian cepat cepat masuk kembali ke tendanya dan tidak sempat meminta maaf kepada Ifah, Ifah hanya terpatung melihat tingkah laku Djalil. Ifah Juga merinding karena melihat Darah Di baju kaos Djalil yang begitu kentara karena ia memakai baju putih, darah itu juga terkena tangan Tangan Ifah saat bertabrakan dengan djalil.
Malam renungan akan segera dimulai, para mahasiswa Sudah berkumpul dengan Lilin di tangan mereka masing masing. Ifah memperhatikan Djalil yang sudah mengganti bajunya dengan tatapan penuh tanya. “hajar mana?” tanya Nabila kepada Teman temannya. “Ngak tau..” jawab Fiaz. Fuadah kemudian Melapor kepada Dosen bahwa temannya menghilang. Acara renungan ditunda dan para Mahasiswa di suruh untuk mencari hajar.
Dua jam sudah pencarian dilakukan, tiba tiba terdengar teriakan Linda dan Fuadah. Para mahasiswa segera berlari menuju asal suara itu, Setibanya mereka di sana. Semua mata tertuju pada Pohon yang ada di depan Linda dan Fuadah yang terduduk lemas tak bisa bergerak. Di depan mereka ada mayat Dengan tubuh yang penuh Darah dengan mata melotot ke atas. Imam Mendekati mayat itu dan menutup mata hajar kemudian segera menghubungi polisi.
Polisi kemudian Tiba dan melakukan Olah TKP, hajar meninggal dengan 6 luka tusuk dan di sekitarnya ada pecahan telur busuk yang sangat menyengat. Polisi menanyakan alibi setiap orang yang ada Di sana saat waktu kematian Hajar. Ifah, Fiaz, Fuadah dan linda berada Di tenda dan Saling curhat, Imam dan nabila menghabiskan waktu berjalan bersama di sekitar tenda kemping. Fiaz, Fuadah dan linda menatap terkejut ke arah Imam dan nabila saat menjelaskan Alibi mereka. “Djalil, kau kan yang membunuh hajar!! mengaku!!” teriak Ifah histeris diiringi Kucuran Air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Jawab Djalil, tadi aku melihat pakainmu dengan Noda darah yang tidak sedikit!! kenapa kau membunuh Hajar Djalil!!” teriak Histeris Ifah kepada Djalil sambil Menggenggam kerah bajunya dan kumudian terduduk lemas Di hadapan Djalil. “saudara Djalil!! Tolong ceritakan Alibi anda kepada Kami” Pinta Polisi kepada Djalil. “Sumpah pak, Saya tak membunuh Hajar. Sejak tadi Saya memasak bersama dengan Anthie dan Reskia. Baju saya Dipenuhi darah karena Mimisan Saya kambuh dan Begitu banyak darah yang keluar, Anthie menyuruh saya Untuk Istirah saja, kalau bapak tidak percaya, bapak bisa memeriksa baju saya di labolatorium untuk cek Darah, apakah darah itu darah saya atau darah Hajar.” Terang Djalil. “betul Begitu saudara Anthie, Reskia?” tanya Polisi kepada Anthie dan reskia. “betul Pak, kami kasihan Dengan Djalil jadi kami menyuruhnya untuk istirahat” Anthie membetulkan pernyataan Djalil. “baiklah, kami pergi Dulu untuk memeriksa mayat Hajar lebih seksama Lagi, jika ada perkembangan kami Akan menghubungi Anda Segera, pak Takdir”. “iya, terimakasih pak” sambil brjabat tangan dengan Polisi.
Sepulang dari Kemping itu, Ifah menjadi sering melamun. Setiap hari saat pelajaran Ifah hanya melihat keluar di jendela dengan tatapan Kosong, ia mengingat ketika Ibunda hajar Menangis histeris mendekap anaknya yang sudah tak bernyawa di pemakaman. Ifah merasa begitu bersalah tak bisa mencegah Hajar ketika ia tidak ingin ikut dalam malam renungan. Saat jam kuliahnya selesai teman teman Ifah mendekati dan mendekap Ifah untuk menghiburnya, namun ifah tetap saja seperti boneka yang tak memiliki Ekspresi.
Hujan turun menembus kesunyian kampus, Para mahasiswa berlari mencari tempat perteduhan, namun Ifah Justru malah berjalan menembus Hujan ia berdiri di bangku taman yang biasa ia habiskan bersama hajar, air matanya mulai mengucur beriringan dengan Semakin derasnya hujan. Ifah duduk di bangku taman mengingat dan membayangkan sahabatnya yang kini telah tiada. Tiba tiba datang seseorang memayungi Ifah dari belakang “na.. nanti kamu Sakit”. Suara itu tak Asing bagi ifah, ia sentak berdiri dan menatap lelaki itu dengan tajam. “loh tak usah sok perhatian Djalil, gua yakin pasti kamu yang membunuh Hajar, Loh pasti merasa sakit hati karena hajar sering ngerjain lo!” maki Ifah kepada Djalil. “Bu.. Bukan aku Fah, kau harus percaya!” djalil mencoba membela Diri. “Sudah lah Djalil, Aku pasti akan membuktikannya Tunggu Saja!!”. saat Djalil dan Ifah bertengkar Temannya datang menghampiri Ifah. “ada Fah?” tanya Fiaz dengan Lembut pada Sahabatnya. “ahh ngak apa apa. Ayo kita Pulang” jawab Ifah Sambil menarik tangan fiaz. “ehh.. lo gak usah ganggu gangu ifah lagi deh, Lo tu kayak virus Buat kita” maki Linda Kepada Djalil kemudian Mendorong Djalil hingga terjatuh. Djalil hanya terdiam terpaku melihat langit yang semakin gelap akan mendung yang diberikannya.
Sepulang dari kampus Fiaz, Fuadah, Nabila, dan Linda menghabiskan waktu di Rumah ifah untuk mengibur sahabatnya. Berjam jam mereka di sana hingga jam telah menunjukkan pukul 20.00 Wita. Mereka kemudian pulang ke rumah masing masing. “huhhh, Papa, Mama sepertinya belum pulang. Selalu seperti ini, Sepi” keluh Linda ketika tiba Di rumahnya. “mbok.. Mbok sisi.. mbok masih ada gak?” teriak Linda Dengan nada merdu memanggil pembantunya. “iya non.. Mbok masih ada, Mbok baru mau pulang”. “oh iya Mbok, tapi bikinin Linda Susu hangat dulu yah, soalnya Linda merasa gak enak badan” Pinta linda dengan Senyum manisnya kepada Mbok Sisi. “oh iya Non, dengan senang Hati”.
Mbok sisi merupakan Pembantu yang mengasuh Linda sejak kecil hingga Sekarang Usianya kira kira 56 tahun. Meski hanya pembantu, Linda sangat menyayangi mbok sisi karena kedua orangtuanya Sangat sibuk dan Linda hampir tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Adik Linda yang yang masih berusia 10 tahun tinggal bersama kakek dan neneknya yang berada di luar kota jadi Linda hanya tinggal bersama mbok sisi jika Kedua orangtuanya Sedang sibuk bekerja Namun sudah beberapa hari ini Mbok sisi sering pulang ke rumahnya karena Cucunya sedang sakit dan Ibunya tak Ada karena menjadi TKW di negara tetangga sedangkan Ayahnya sudah meninggalkannya sebelum Ibunya jadi TKW.
Linda kemudian Masuk ke kamarnya, Linda melepas bajunya satu persatu kemudian menggunakan handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk memanaskan Air yang akan dia pakai Untuk berendam. “non, ini susu hangatnya” kata Mbok Sisi sambil berjalan Masuk ke kamar Sisi. “oh iya Mbok, taruh aja Di meja” jawab Linda sambil menuangkan cairan sabun ke bak Mandinya. “ya udah non, Mbok pamit dulu yah, non hati hati di rumah”. “iya Mbok, Mbok juga hati hati yah, jangan Lupa pintunya Dikunci”.
Linda membuka Handuknya Dan menjatuhkannya ke lantai, ia kemudian merebahkan tubuhnya Dalam bak mandi. Ia merasakan kehangatan Mulai masuk Menembus tubuhnya yang sejak tadi terasa dingin karena kehujanan di kampus. Beberapa menit berendam membuat Linda terlelap, namun 20 menit kemudian Linda tersentak kaget karena mendengar suara dari kamarnya. Segera ia bangun dari bak mandinya dan mengenakan handuknya lalu keluar dari kamar mandi untuk mengecek Suara tadi. Ia membuka pintu kamar mandinya dan melihat keadaan kamarnya, tak ada seorang pun. Ternyata suara tadi muncul karena pintu jendela kamarnya terbuka dan terkena tiupan angin hingga menimbulkan suara menggelapar gelepar, lalu linda menutup jendelanya dengan wajah agak heran.
Linda kemudian memakai baju tidurnya untuk siap siap tidur, ia berdiri di samping meja Riasnya yang terbuat dari kayu dan di cat warna abu abu sambil meminum Susu yang dibuatkan Mbok sisi. Linda tak menghabiskan susu itu kemudian menaruhnya kembali di meja karena sudah dingin. Sebelum tidur linda duduk di depan meja riasnya sambil memperhatikan dirinya dan menyisir rambutnya dengan lembut, lalu ia melanjutkannya dengan memakai krim malamnya, tiba tiba krim malamnya jatuh saat ia mencoba membukanya. “Huhh.. jatuh lagi!” keluh linda. Linda kemudian mengambil krim malamnya yang jatuh di lantai, lalu melanjutkannya mengusap di Pipi bagian kanannya. Tiba tiba “Aaaaaaaaa!!!” suara jeritan linda begitu keras hingga terdengar satpam yang lewat.
Penulis Cerita: Alan Caesar
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami