Dibalik Topeng Mu (Part 2)

Selasa, 14 Januari 2014 | komentar

Satpam itu segera mengetuk pintu pagar Linda “mbak Linda, Mbak Linda!! mbak linda kenapa?” teriak satpam itu “mbak Lindaa!!”. Tiba tiba pintu rumah Linda terbuka kemudian Keluarlah Linda dari pintu itu “ahh, ndak apa apa kok pak” sahut linda kepada satpam itu. “Tapi saya dengar tadi mbak Linda teriak kenceng banget” tanya satpam itu dengan Wajah agak Cemas. “heheheee, anu pak, Waktu saya pakai krim malam, Saya melihat di Muka saya ada jerawat kecil, jadi saya teriak deh” jawab linda dengan nada Agak malu. “oh, Syukur deh mbak gak terjadi apa apa, ya udah saya lanjut patroli lagi ya Mbak”. Satpam itu Menjawab dengan setengah menahan geli. “hehehe, Maap yah pak”
Linda lalu masuk kembali dan langsung menuju tempat tidurnya karena ia merasa sudah mengantuk berat. Ia menatap Langit langit rumahnya yang masih terang karena ia takut tidur jika lampunya dimatikan. Perlahan matanya mulai terpejam namun masih bisa merasakan cahaya lampu dalam gelapnya tutupan matanya. Tiba tiba ia merasa ada bayangan yang menghalangi cahaya lampu ungtuk menyinari wajahnya, Linda membuka matanya perlahan karena matanya sudah sangat mengantuk. “Aaaaaaaaa!!” Linda berteriak spontan karena melihat seseorang menggunakan jubah dan topeng hitam berada di hadapannya yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan Sprey mewah berwarna Abu abu. Orang itu langsung mengangkat tangan kirinya yang menggenggam pisau dan menusukkannya kepada linda. Linda dapat mengelak serangan itu dengan memutar badanya ke arah kiri, ia mencoba kabur dan berteriak minta tolong. Namun orang itu kembali melayangkan tusukan ke penggung linda Sehingga membuat Linda terjatuh ke lantai.
Linda memegang pundak Kirinya menggunakan tangan kanannya, dengan posisi duduk ia mencoba mundur dengan kedua kakinya menjadi tumpuan. “jangan, Please jangan bunuh saya” linda mencoba memohon. Namun percuma, orang itu sudah seperti kesetanan. Orang bertopeng itu kemudian berdiri di hadapan linda dan langsung melayangkan tusukan ke perut Linda. “Aaaaa!!” teriak linda kesakitan ketika tusukan itu tertanam di perutnya. “aaa.. aku Mohon, jangan bunuh aku.. aa.. aku Mohon” Linda kembali memohon dengan menahan sakit di perut dan pundaknya serta mata yang menangis memohon untuk dikasihani. Orang bertopeng itu kemudian menutup mulut Linda dengan tangan kananya, kemudian melayangkan kembali tusukan di dada kiri Linda tepat di jantungnya. Linda yang tak bisa berteriak hanya membelalakkan matanya menahan rasa sakit yang teramat sangat terasa Di sekujur tubuhnya, nafasnya perlahan melemah kemudian Berhenti. Orang bertopeng itu kemudian pergi meninggalkan Linda yang sudah tak bernyawa lagi.
“Aaaaaaaaaa!!!” Fuadah terbangun dari mimpi Buruknya. Ia merasa ketakutan dan kaku di sekujur tubuhnya. Ia menatap jam weker yang ada di bupet kecil di samping tempat tidurnya, pukul 03.43 Wita. Fuadah mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya, Diteguknya Air putih yang ada di samping wekernya. Ia merasa perasaannya mulai agak membaik. Ia kemudian beranjak ke Kamar mandi yang hanya berjarak beberapa kaki untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat karena ketakutan. Fuadah hanya tinggal bersama dengan Ibunya, namun ibunya sekarang sedang ada tugas karena merupakan kepala Pramugari di salah satu penyedia penerbangan di kota itu. Sedangkan ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan tinggal di luar kota.
Setelah membasuh wajahnya, Fuadah menatap Kaca yang ada di kamar mandinya lalu menuju kembali ke tempat tidurnya. Ia berjalan menuju tempat tidurnya namun merasakan ada Seseorang di belakangnya, ia berbalik dengan dengan cepat namun tak ada siapapun. Ia kembali berjalan menuju tempat tidurnya dan hendak naik namun tiba tiba ia berbalik lagi karena merasakan Ada orang di belakangnya, Sebuah tusukan langsung mendarat di Perut bagian kirinya. Sambil menahan rasa sakit, Fuadah melepaskan tusukan orang yang mengenakan topeng dan jubah hitam itu dari perutnya kemudian memberikan tendangan Taekwondo kepada orang itu yang tepat mengenai Pinggang kirinya. Orang itu kembali menyerang Fuadah dengan tusukannya namun Fuadah dapat menangkis dengan tendangannya ke tangan orang bertopeng itu yang membuat pisau yang di genggamnya terjatuh. Namun orang itu tak habis akal, sesaat setelah fuadah menendangnya ia langsung mendekatkan diri kepada Fuadah dan menekan luka tusuk yang ada di perut Fuadah. Fuadah seakan tak dapat bergerak karena merasa kesakitan.
Pembunuh bertopeng itu kemudian mencekik Fuadah dengan tangan Kirinya dan tangan kananya terus menekan luka tusuk yang ada di perut Fuadah. Pembunuh itu terus mendorong fuadah hingga mendekati jendela kamarnya yang berada di lantai 2. “ssii.. aappa kkauu?” tanya Fuadah dengan menahan Sakitnya dan suara terengah karena Dicekik oleh pembunuh itu. Fuadah kemudian Mengangkat Tangan kirinya Untuk membuka topeng pembunuh itu. “kkkAuuu!!” fuadah terkejut setelah membuka mengetahui orang yang ada di balik topeng itu. Pembunh itu kemudian mengangkat tangan kanannya yang tadi menekan luka tusuk fuadah yang ada di perutnya dan ditaruhnya di bibinya “ssttt” kemudian menjatuhkan Fuadah dari kamarnya. Fuadah terjatuh dan kepala bagian belakangnya yang jatuh ke bawah terlebih dahulu.
Keesokan harinya di kampus, Ifah, Fiaz, Nabila ditemui oleh polisi dan memberikan kabar bahwa kedua teman mereka telah meninggal. Waktu kematian mereka di perkirakan: linda = pukul 22.00 wita dan Fuadah = 4.00 wita. Ifah, Fiaz, dan nabila kelihatan sangat terpukul dengan kejadian ini. Mereka mulai ketakutan, dan hanya dapat menangis akan kepergian teman teman mereka.
Malam harinya setelah pemakaman kedua temannya itu, Fiaz menghubungi Ifah dan nabila untuk menemaninya karena dia hanya sendiri di rumah. Ifah segera datang ke rumah Fiaz, rumah mewah bertingkat 2 dan Ada kolam renang di bagian belakang yang merupakan tempat mereka menghabiskan waktu berenang berenam dahulu. Setelah tiba di rumah Fiaz ternyata sudah ada Imam. “Fiaz? kenapa imam ada di sini?” tanya Ifah kepada Fiaz kemudian langsung duduk di sofa. “Ifah, maaf aku tidak memberitahu mu dan teman teman bahwa aku dan imam sudah jadian beberapa hari yang lalu. Aku tidak ingin bersenang senang sementara kalian bersedih atas kematian teman kita” jawab fiaz. “oh, tidak apa apa kok Fiaz, aku turut Senang mendengarnya. Selamat yah. Ehhh imam, kau harus menjaga teman ku apapun yang terjadi..!” Pinta Ifah kepada Imam. Imam hanya tersnyum manis ketika ifah mengatakan itu, seakan akan imam Begitu bahagia karena telah mendapat kepercayaan dari teman pacar.
Meraka berbincang bincang cukup lama karena menunggu Nabila. Fiaz kembali menghubungi Nabila. “yah, Katanya Nabila masih terjebak Macet ada kecelakaan lalu lintas” kata Fiaz memberi informasi setelah menelfon Nabila. Tiba tiba lampu Di rumah Fiaz Padam, Pintu rumah fiaz pelan pelan terbuka. Muncullah bayangan seseorang yang menggunakan jubah hitam memegang pisau di sebelah kanannya. Cahaya bulan yang masuk menyinari ruang tamu Fiaz serasa mencekam membuat bulu kuduk ketiga orang itu Berdiri. Pembunuh bertopeng itu segera berlari menuju arah mereka dan menghempaskan tusukannya ke arah Fiaz, namun fiaz dapat menghindar karena ditarik oleh Imam sehingga tusukan pembunuh itu hanya tertancap di sofa yang fiaz duduki. “kalian Berdua Cepat lari, Biar orang ini aku tangani. Akan ku selesaikan malam ini juga!” teriak imam yang berdiri di depan Ifah dan Fiaz. “tapi Imam…”. “tidak Usah pake tapi tapian Fiaz, Cepat selamatkan diri kalian. Ifah bawa Fiaz segera dan telfon polisi!” teriak imam dengan tegas.
Ifah dan Fiaz kemudian berlari menuju lantai 2 dan langsung naik ke loteng Untuk bersembunyi. Beberapa Menit kemudian Ifah Ingat untuk segera menelfon kantor polisi. “fiaz, kita coba hubungi kantor Polisi” kata ifah dengan nada Suara bergetar. “oh iya… Hapeku, hapeku mana? Astaga, hapeku Di bawah. Gimana Nih Ifah, Coba pake Hape kamu” Jawab Fiaz dengan panik. “damn.. hape aku tertinggal Di mobil tadi” jawab Ifah kembali. Tiba tiba terdengar suara bunyi handpone Di ruangan itu, mereka berdua kaget terutama Fiaz, karena ia merasa Sama sekali tidak ada hape yang tertinggal di tempat itu. Fiaz dan ifah kemudian mendekati asal suara itu dan mengangkat telfon yang telah berdering sejak tadi “ha.. hallo?” Angkat fiaz dengan suara gemetar.
“halloowww, fiaz!! bagaimana perasaanmu sekarang” jawab orang yang menelfon itu dengan suara berat yang menyeramkan.
“ssi.. siapa kamu?”
“siapa kamu? haahh.. aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu dari teman teman mu!” sekarang pacarmu sedang bersama ku baby! hahahaha” jawab pembunuh itu dengan tawanya yang menyeramkan.
“Woyy!! Lepasin dia!! apa Mau lo haah?”. timpal ifah yang mendengar percakapan fiaz dengan pembunuh itu.
“Uhhh, ternyata Miss Ifah juga ada Di sana Rupanya! cobalah lihat keluar jendela.
Lampu kemudian menyala, Ifah dan Fiaz menengok keluar jendela. Di sana ia melihat Imam sedang terikat di sebuah kursi Depan kolam renang. “Fiaz! Ifah! cepat pergi dari tempat itu! dia sedang menuju ke tempat kalian”. Teriak imam kepada mereka. Fiaz kemudian berlari keluar namun di tahan oleh ifah. “fiaz kau mau kemana?” tanya ifah sambil menarik tangan kanan Fiaz. “aku akan menyelamatkan imam, lepasin Ifah!!”. “tapi pembunuh itu ada di luar!” Ifah Mencoba kembali menahan Fiaz. “aku gak peduli Ifah!!” jawab fiaz sembari berlari turun dari loteng. Ifah berfikir sejenak, kemudian Berlari mengikuti Fiaz “tunggu Fiaz!! kita harus tetap bersama!!” teriak Ifah
Fiaz berlari turun ke bawah untuk menyelamatkan Imam, Sedangkan Ifah berada agak jauh di belakangnya. Saat hendak menuruni tangga dari lantai dua, ifah ditahan Oleh Pembunuh bertopeng tepat di depan tangga. “mau kemana, Miss Ifah?” tanya Pembunuh itu. Ifah langsung tersentak kaget Wajahnya Pucat serasa tak percaya mendengar suara pembunuh itu. Yah suara Seseorang yang sangat tidak asing baginya “Naa.. Nabbbillaa? a..aa.. apa benar itu kau?”. Suara ifah tertekan serasa tidak percaya. “Wahh.. wahh.. kau Mengenali suaraku dengan baik, Ifah” jawab orang bertopeng itu sambil membuka topengnya. “surprise! apakah kau terkejut, Sahabat Ku?” tambahnya.
Ternyata orang yang ada Di Balik topeng itu adalah Nabila Sahabat Ifah. Ifah menatap tajam tak percaya bahwa yang membunuh sahabatnya adalah sahabatnya sendiri yang sedang berada di depannya. Ifah terpaku kaku menatap Wajah manis Nabila yang ternyata memiliki sosok lain di dalamnya. Dalam keterpakuannya, tiba tiba Ifah di serang oleh Nabila dengan tusukan yang tepat mengenai perutnya, kemudian Mendorong ifah untuk melepaskan tusukannya. “arhhh” teriak Ifah menahan sakit yang menyadarkannya dari kekakuannya. Dengan sekuat tenaga Ifah berlari menuju Ruang baca milik Fiaz sambil menahan rasa Sakit. Semantara itu Fiaz sudah ada di depan imam untuk melepaskan ikatan Imam. “Ifah mana?” tanya Imam. “Sepertinya Dia masih di atas” jawab Fiaz sambil berusaha membuka ikatan Imam.
“Ifah mau kemana kau? kau takkan bisa lari!! malaikat sudah menunggu untuk menjemputmu!!” teriak nabila mengikuti ifah yang berusaha berlari sekuat tenaga ke Ruang baca Milik Fiaz. “kau takkan Menang Nabila! meski kau membunuhku, Fiaz dan Imam akan melapor ke polisi!” Jawab ifah yang jatuh terduduk di depan rak buku sambil memegangi lukanya. “aku tak yakin akan tanggapan Ifah” jawab Nabila dengan Senyum yang sangat manis. “aaarrrghhh!!!” tiba tiba terdengar suara teriakan deri Fiaz. Ifah terkejut denga teriakan itu.
“jangan jangan… kau dan imam…”
“yaaappp.. benar sekali sahabatku yang cantik..” jawab Nabila dengan Nada yang menekan batin Ifah.
Ternyata Nabila dan imam bersekongkol. Fiaz Sudah mati Dengan luka Tusuk di perut dan dadanya. Ketika melepaskan ikatan Imam, tiba tiba Fiaz ditusuk oleh imam. Fiaz terkapar dengan Air mata yang mengalir dari matanya. Beberapa saat kemudian Imam datang ke tempat Ifah dan Nabila. “hay Sayang” sapah imam Kepada nabila dan mendaratkan ciuman ke pipi kanan dan pipi kiri Nabila yang berdiri di depan pintu. “haahhh.. kalian berdua benar benar biadab! Apa salah kami sehingga kalian melakukan hal ini! Nabila, Bukankah mereka Semua sahabat mu?” keluh ifah dengan Suara yang Semakin berani. “haahh.. Apa salah kalian? sahabatku? sejak kejadian setahun yang lalu, Gue udah gak nganggap kalian sahabat!” teriak Nabila di hadapan ifah Dan menggenggam dagu Ifah dengan kasar. “setahun Lalu? apa Maksudmu?” tanya Ifah dengan tatapan tajam ke mata Nabila yang memegangi dagunya. Nabila kemudian menghempaskan dagu Ifah dan berdiri “haahh.. kau sudah Lupa Ifah, laki laki yang mati Bunuh diri setahun yang lalu…” ifah kemudian menunjukkan ekspresi terkejut mendengar perkataan Nabila, nampak Ada ketakutan yang terpancar dari mata Indahnya. “ya, benar! dia Farid. Laki laki yang selalu kalian Kerjain kapan dan di manapun. Kalian mempermainkannya seperti boneka. Kalian yang tak Setuju dengan hubunganku dengannya berusaha menjauhkan kami. Berbagai cara telah kalian lakukan dengan sekedar keisengan Melemparnya dengan telur busuk hingga hampir membuatnya tertabrak truk. Kau tau Ifah, Gue udah Ngomong ke anak anak Kalau gue janji bakal Menjauhi farid agar mereka tak mengganggunya lagi. Namun mereka Malah berkata kepada Farid, mereka hanya akan berhenti mengganggu Farid kalau dia sudah mati. Kalian Semua menertawakannya Dengan Sinis, hatiku sakit mendengar sahabatku berkata seperti itu Ifah. Dan gara gara itu, Dia nekat Bunuh diri. Gue ngebaca Diarynya yang gue dapat dari Saudaranya, kau tau apa yang ia tulis Ifah? Hah? dia Menulis, dia rela mati agar persahabatan kita tetap utuh, dia tak mau jadi pengganggu dalam persahabatan kita. Kau tau apa yang kurasakan saat membaca diary itu, hati ku langsung remuk, Orang yang ku cinta mati karena orang orang yang ku anggap sebagai Saudaraku sendiri!” Setelah menceritakan itu Nabila menangis tersendu dengan menggenggam erat pisau yang ia pegang di tangan kanannya.
Ifah merasa begitu begitu bersalah karena Ucapan teman temannya dan tawa Mereka Nabila begitu bersedih. “tapi, itu semua masa lalu, Kini gue udah nemuin pengganti Farid, namun kami harus tetap Membalaskan dendam kami kepada kalian” Lanjut nabila sambil menghapus Air matanya. “dendam kami?” tanya Ifah dengan ekspresi heran. “yah.. dendam kami, kau tidak tahu kan bahwa Imam Adalah Kakak dari Farid” jelas nabila sambil mendekati Imam dan menggenggam tangan kirinya. “kenapa? anda terkejut, Nyonya Ifah?” kata imam Dengan nada sinis. “ayolah sayang, Kita selasikan ini segera dan Pulang Untuk Party” lanjut Imam sambil menatap nabila.
Tiba tiba dari belakang Muncul seseorang Dan melayangkan tendangan Karate Ke arah punggung Imam dengan kaki kanannya. imam langsung terlempar ke depan tepat Di samping ifah, Kemudian orang itu Melepaskan tendangan kaki kiri Ke pinggang Nabila. Nabila merintih kesakitan karena Sebelumnya ia sudah mendapatkan tendangan Taekwondo Dari Fuadah saat akan Membunuhnya. Pisau yang ia genggam pun Terlempar jauh, badannya Seakan tak dapat ia gerakan. “Djalil? apa yang kau lakukan di sini? ahhh..” tanya Ifah terkejut Sambil menahan rasa sakit. “kau tak apa Ifah? Aku datang ke sini karena Awalnya pak takdir menyuruhku untuk membawakan kertas ujian Kita Ke kost Imam untuk diperiksa. Namun setiba Saya di sana imam tidak ada. saya di persilahkan masuk oleh teman kost imam. Di kamar kost imam saya menemukan Fotonya dengan farid, juga Foto kalian Berlima Kecuali Nabila. Foto kalian Sudah ia Coret dengan Spidol merah, karena panik aku ke rumah mu untuk memastikan kau baik baik saja, namun pembantumu bilang kamu pergi ke rumah Fiaz” Djalil menjelaskannya dengan Penuh semangat. “imam menyerahlah, saya Sudah menghubungi Polisi Sebelum kemari” lanjut Djalil. “huhhh, kalau begitu, aku harus segera membunuhmu, juga Dia dan pergi dari sini!” kata imam Sambil menunjuk Ifah yang mengerang kesakitan. “aku rasa itu takkan Mudah, senior!!” Jawab Djalil dengan Senyum tanpa rasa takut.
Imam kemudian berlari ke arah Djalil, Bertubi tubi pukulan Di berikan Oleh imam kepada Djalil. Namun setiap Pukulan Imam dapat dihindari dengan Mudah oleh Djalil. Alih alih mengenai Djalil, Imam malah dihadiahi Sebuah tendangan yang tepat mengenai Pipi kanannya dan terlempar. “haaa, hanya itu kemampuanmu bocah?” teriak Imam Sambil mengelap bibirnya yang berdarah, kemudian Mengeluarkan Pisau Dari punggungnya. Dengan pisau di tangan kirinya, ia berusaha turus Untuk menebas Djalil. Djalil Dapat menghindar namun tak lama. “awass Djalil…!!” teriak Ifah. Imam Akhirnya berhasil mengenai Perut Djalil, tebasannya Cukup Dalam sehingga membuat Djalil tersungkur. Imam kemudian kembali Menyerang Djalil dan Menusuknya. Djalil mengerang kesakitan Dan sekarang sekarat Penuh Darah. “hahaha… selanjutnya kau Nyonya Ifah yang Cantik Jelita.. ahhhaaa” Kata Imam Sambil mendekati Ifah.
Imam kemudian Mengangkat tangannya untuk membunuh Ifah, Ifah kini hanya Pasrah. Doa Doa ia Ucapkan Agar diberikan yang terbaik untuknya. Imam Mulai melayangkan Pisaunya, Ifah hanya Dapat menutup mata. Tiba tiba Pisau yang Dipegang Imam terjatuh ke lantai, Suara Pisau yang jatuh itu membuat ifah Memberanikan Dirinya Untuk membuka mata. Saat ia membuka Mata ia melihat Djalil telah menusuk punggung Imam dengan pisau nabila yang terjatuh tadi, kemudian Dengan sisa sisa tenaganya, Ia menendang Dada imam Dengan telapak kaki kanannya sehingga Imam terlempar ke dinding dan Pisau yang masih tertancap di punggung Imam Samakin tertanam Dalam hingga Jantungnya. Imam Mati seketika Sedangkan Djalil terkapar Pingsan. “djalil, bangun Djalil, Bangun..” teriak Ifah menangis.
Tak berapa lama kemudian Polisi Datang. Djalil dan Ifah dilarikan ke rumah Sakit sedangkan Nabila Ditangkap dan di Jebloskan ke Penjara. Ia dituntut oleh jaksa minimal 20 tahun penjara maksimal seumur hidup. Sebulan Sudah kejadian itu berlalu, kini ‘ICONS’ sudah tidak ada. Namun, pesona Ifah tetap Mempesona para Lelaki. Ia tetap menjadi bidadari di kampus itu, begitu banyak Pria yang Menembak dam Memberinya Bunga namun ia tolak. Ia tatap Menjadi Setangkai Bunga Mawar Merah yang indah Namun memiliki Duri yang tajam, Sehingga Tak Semua orang dapat memetiknya Dengan sembarang. Akan tetapi, di antara Semua Lelaki yang menembaknya, Kini ia sangat terpesona dengan Seorang Pria, yang setia Meenjaganya Dan melindunginya. Yah, Djalil lah Pria yang dapat memetik Bunga Mawar yang sangat berharga tersebut dan Djalil lah yang akan menjaga Agar Bunga Mawar yang begitu indah itu tidak Layu.
Sekian
Penulis Cerita: Alan Caesar
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami