Gelombang Galau Gusar Yang Bergulung Bersama Galung Dan Gilang Berakhir Gemilang (Part 1)

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Sudah satu jam Gusar terduduk di depan cermin.
Berkaca dirilah begitu.
Dia hanya ingin meyakinkan wajahnya bener-bener jelek atau hanya temen-temennya yang pada sirik bilang wajahnya tak ganteng dan jauh dari menawan. Lama banget, di memandangi wajah di cermin.
Biasanya cermin tidak pernah bohong, batinnya.
Kontur muka yang muncul di seberang tidak bisa dikatakan ‘berkelas’, sangat biasa dan merakyat (kebanyakan rakyat) terutama wajah jelata atau lebih kerennya road face alias muka jalanan. Struktur tengkorak pipi yang sedikit cembung berbanding terbalik dengan cekungnya tulang hidung.
Sedikit struktur yang berbeda dalam rancang bangun itu terletak pada tingkat presisi antara alis dan ujung telinga bagian atas. Pada manusia kebanyakan, biasanya kedua elemen tersebut sejajar sama rata sama datar, sedangkan pada sosok makhluk bernama bernama Gusar terdapat selisih kurang lebih 1 senti, entah telinganya yang kerendahan atau malah alisnya yang ketinggian.
Konon, struktur rangka kedua indra tersebutlah yang menjadi dasar dari salah satu penemuan paling penting di muka bumi. Kacamata!. Untung saja Gusar tidak bermasalah dalam penglihatan, bisa dibayangkan betapa ganjilnya bila dia pake kacamata. Bukanya ngebantu, frame kacamata bagian atas malah bisa nutupin pandangan. Belum lagi tingkat kemancungan hidung yang sangat memprihatinkan sehingga dapat menggoyahkan stabilitas kacamata secara keseluruhan.. he he
Telinganya pun sedikit berbeda dan lebih besar dari orang-orang kebanyakan. Kata engkongnya Gusar, telinga lebar pertanda pintar, itu kata orang-orang pintar. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan Teori ngaco tersebut, yang jelas teori itu lebih konyol dari teori ilmuan Darwin. Tentu saja hal ini sempat di perdebatkan oleh paman gusar yang kerjanya mantri hewan golongan 2c. Katanya, Keledai punya telinga lebih lebar dari kuda, toh keledai tidak lebih pintar dari kuda. Jawaban engkong Gusar sederhana saja, itukan di kuda, kalo di manusia… hmmm.. gak jauh beda kali… wkwk…
Tidak ambil pusing, pengamatan berpindah ke bagian bibir, hmm… Gak usah di bahas. E minus pokoknya. Satu-satunya yang bikin cakep (itupun dalam tanda kutip) ada lesung pipit di pipi kirinya, sebenarnya itu bukan lesung pipit, tetapi cacat bawaan akibat insiden belajar bersepeda waktu usianya baru 4 tahun.
Ceritanya begini, empat tahun lebih beberapa bulan setelah dilahirkan, Gusar kecil sudah sangat bernafsu dan penasaran dengan sosok berkaki tiga bulat-bulat dengan sepasang engkol di roda depannya. Benda itu begitu menggoda, sering dia melihat benda itu dinaiki teman-teman selingkungan, sekelurahan, sekecamatan sebangsa dan senegara yang selisih umur dua tiga tahun darinya. Begitu asik mereka saling berkejaran. Bosan hanya ikut melihat dari jauh si Gusar kecil berinisiatif menunggangi sepeda berwarna kuning milik tetengganya yang kebetulan tergeletak manis di trotoar depan rumah di tinggal sang empunya yang lebih memilih merengek dan naik odong-odong bianglala yang kebetulan lewat.
Tanpa pengawalan si kecil Gusar mengayuh sepeda roda tiga dengan aksesoris klakson angin kepala mikimouse di stangnya itu di jalanan landai depan rumahnya. Kecepatan 20 Km/jam cukup membantu proses terpentalnya si kecil Gusar 2 meter melewati siring PNPM yang baru di renovasi dan mendarat mutlak di kebon singkong Lek Parwoto yang baru tandur tanam 2 hari sebelumnya. Kontan, sang empunya kebon yang kebetulan sedang berada di TKP lintang pukang menolong Gusar. Ajaib, tidak ada luka berarti di tubuhnya. Namun stek-an singkong sepanjang satu jengkal menempel manis di pipi kiri Gusar kecil.
Sebenarnya kondisi Gusar kecil tersebut membutuhkan pertolongan medis ekstra cepat, mengingat bila stek-an singkong tersebut dibiarkan tetap berada di pipi Gusar apalagi hingga berhari-hari dapat mengakibatkan singkong tersebut tumbuh dan berkembang, apalagi kalau sampai berbulan-bulan, umbi singkong tersebut dapat memenuhi rongga mulutnya dan berakibat susah untuk di panen. Itulah logika sederhana yang di jabarkan Lek Parwoto saat mengantar gusar kecil dengan ‘oleh-oleh’ stek singkong itu ke ibunya. Dan juga menjelaskan setelah dia teliti dengan seksama fakta-fakta di lapangan ternyata sepeda roda tiga mikimouse tetangga si Gusar tidak dilengkapi dengan pengaman berstandar nasional Indonesia yaitu rem!. (emang sepeda roda tiga pake rem..?)
Di Jaman itu belum ada jamkesmas, bidan jauh, dokter mahal, sedang mantri sunat lebih terfokus pada hal yang lebih ‘spesifik’, beruntung paman Gusar sang mantri hewan sedang bertamu di rumah mereka, dengan sangat cekatan sang paman menyelamatkan stek singkong tersebut dari potensi mati muda. Lho? Sekaligus menyelamatkan bocah yang hanya bisa kebingungan dengan keberadaan batang ubi di pipinya. Ya, Gusar tidak menangis, sangat jarang dia terlihat menangis di depan orang-orang. Termasuk hari itu.
Penyelamatan pertama di lakukan, bak dokter bedah bersertifikat paman Gusar beraksi, segala macam obat di keluarkan, dari tube suntik untuk anak ayam hingga tube suntik jumbo untuk babon kebo di jejer di atas meja setrika yang di sulap menjadi meja operasi. Segala bentuk vaksin dari vaksin tetelo hingga rabies ikut menambah semarak, tidak ketinggalan plester gulung plus perban di tambah infuse ikut memeriahkan.
Singkat cerita stek singkong tersebut berhasil di angkat dan dikembalikan ke tempatnya semula sesuai dengan permintaan Lek Parwoto yang memang di kenal sedikit protektif terhadap tanaman-tanamannya. Luka di pipi Gusar kecil sudah di bersihkan, di perban dan sekalian di vaksinasi anti rabies oleh pamannya sebagai pelayanan ekstra. Sebuah insiden kecil yang justru sangat bermanfaat bagi Gusar di kemudian hari.
Dengan rahang persegi plus rambut kriting bergerombol menghiasi kepalanya membuat Gusar serupa Mr. Satan minus kumis, salah satu tokoh pendekar di komik Dragon Ball Z karya Akira Toriyama. Alhasil, dalam alogaritma skala 1/10, kalkulasi penilaian untuk penampakan rupa mentok di angka 6/10 dengan cacatan 2 angka dibantu oleh lesung pipit.
Akhirnya Secara keseluruhan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ternyata kalau kedua sohibnya Gilang ama Galung selama ini sering bilang wajahnya cakep itu adalah fitnah. Dan itu pelecehan. Nggak bener itu! Ha ha ha…
Tapi dia coba menguatkan hatinya, mencoba bersyukur dengan potongan wajah tak cakepnya. Gusar inget apa kata Engkongnya, kalau di mata Tuhan, manusia itu bukan di pandang dari wajahnya tapi dari takwanya. ciee! Tapi kalau di mata manusia tetap saja yang berlaku ini, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya… Asli, Gusar paling benci iklan parfum 15 rebuan yang satu itu.. he he… Namun di atas semua itu dia juga yakin, kalau ganteng itu relatif, dan jelek itu mutlak. Mmmhh!!
Radio yang nangkring di meja belajar lagi nyiarin berita dari radio Gerr fm “Saudara pendengar, saya Bayu Setir melaporkan dari tempat kejadian, baik saudara dapat saya laporkan bahwa saat ini telah terjadi kebakaran hebat di Kampung Salak, dimana dalam peristiwa ini ada dua rumah yang ludes di lalap si jago merah, dan masyarakat sekitarnya bergembira mendapat tontonan gratis, sementara dalam peristiwa ini terdapat korban jiwa sebanyak 3 tewas, 1 emas, 2, perak.. dan 3 perunggu, bla.. bla..” Halah! Ternyata hanya parodi berita.
Tapi berita gerr itu, tak mampu menyentil urat gelinya, dia masih sibuk dengan urusan hatinya sendiri. Sibuk dengan pikirannya. Walaupun agak kurang jelas apa yang lagi Gusar pikirkan.
Maklum wajahnya aja udah nggak jelas, apalagi pikirannya kan?
Tiba-tiba ia ingat sesuatu.
Ingat wasiat engkong sebelum meninggal dulu.
Gusar ingat waktu itu engkong sempat memberikan sebuah kotak hitam bertuliskan huruf-huruf nggak jelas. Gusar ngetuk-getuk jidatnya, mengingat di mana terakhir kali ia menyimpannya.
Tak lama ia tersenyum, lalu membuka lemari, di situ ada laci.
Dengan tergesa ia menarik laci tersebut, waktu di buka kotak itu masih ada.
Dengan tergesa pula ia membuka kotak peninggalan engkongnya yang mantan pemain sinetron itu, biasanya kebagian peran jongos ato penjahat, ternyata isinya hanya secarik kertas surat yang udah agak lecek.
Buat cucuku Gusar tercinta, cucuku…
Engkong tahu kalau nanti setelah engkong nggak ada pasti dirimu akan kesulitan untuk mencari pacar, tak lain karena waktu pembagian wajah elo datangnya telat karena demam panas, sehingga wajah lo dapatnya sedikit, engkong nggak bisa kasih warisan tapi engkong kasih ajian penakluk cewek, yaitu ajian seribu muka, artinya kamu harus pede aja lagi! Jika suatu saat dirimu punya keinginan untuk memiliki pacar atau lo mau menjadi orang terpandang lo baca aja pantun ini. “dulu delman sekarang dokar dulu teman sekarang pacar!
Sandal jelek dipinjam Maimunah, tulisan jelek jangan di hina.
Tertanda
ENGKONG
Mantan Pemain Sinetron
———————–
Gusar melipat kertas yang udah usang itu, lalu memasukkan kembali ke kotak. Kemudian mengembalikan kotak tadi kedalam laci. Sembari menggumam,
“ahhh… kirain apaan, kalau gini mah gua juga bisa, pake bawa-bawa pemain sinetron lagi, he… engkong ada-ada aja…!” sungut Gusar, dia kira wasiat apaan. Itu sih bukan wasiat tapi justru hinaan, batin Gusar.
Tapi air matanya sempat mengalir teringat ama Engkongnya yang udah tiada. Satu-satunya manusia yang menganggap ukuran telinganya adalah anugrah.
Sedih juga dia, soalnya banyak kenangan manis yang terjadi saat Engkong masih hidup.
Saat berikutnya ia malah ketawa sendiri kayak ada yang lucu.
Ternyata Gusar inget sesuatu, sebuah kejadian waktu almarhum engkong masih hidup.
Ceritanya waktu itu Engkong minta dianterin berobat ke dokter pake sepeda motor, sebagai cucu yang berbakti dan baik hati tentunya Gusar dengan hati gembira, riang tak terkira menuruti kemauan Engkong.
“Ayo ngkong, naik boncengan pelan-pelan ya!” Ujar Gusar.
Engkong keliatan susah banget naik ke boncengan, maklum udah pada keropos kan!
“jangan lupa pengangan yang erat ngkong!” pinta Gusar saat merasa engkong udah duduk dibocengan.
“Iya, ini wuga gua udah pegangan!” jawab engkong dengan suaranya yang mulai tak jelas.
Abis ompong!
“Jangan lupa pengangannya yang erat ya, ngkong!” kata Gusar meyakinkan sekali lagi, soalnya dia khawatir banget.
“iya… dawi tagi gua wuga wudah wegangan!! Cewewet amat sih lo!” jawab engkong agak kesel.
“sekarang kita cabut ya, ngkong!”.
Gusar lalu mulai ngegas motornya,
Brummmm!!!!
Lalu terdengar benda jatuh Gdubrak!!! Gusar kaget lalu menoleh ke belakang, ternyata si Engkong terjatuh dari motor.
“Waduuuuhhh!!! lo gimana sih!!!….” Engkong marah sambil meringis megangin pinggang.
“aduhhh… ngkong kok bisa jatuh sih, kan udah di bilangin pegangan, Egkong gak pengangan ya?” tanya Gusar sambil membantu engkong berdiri.
“untung nggak apa-apa!”
“kagak pewangan pala lo! Aduhhhh!… Gua malah udah wegangan wenceng bangeeeeet!!!”
“emangnya Engkong pengangannya di mana?”
“ya… di pagaw wumah…!!”
“hah!! Pantesan… jatuh…”
“ahhhh dasar!! Kuah lontong lu!!!” umpat Engkong.
Gusar langsung lemes.
“Ahhhh… kuah ketupat!!!” balas Gusar dalam hati.
Penulis Cerita: MisterAdli
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami