Gusar, Galung dan Gilang, mereka ini bukan trio macan atau trio bom bali, mereka adalah tiga kawanan cowok yang selalu bersama, saat hujan maupun banjir. Saat terang maupun gelap. Ketika senang maupun susah. Punya kesamaan hobi maen game komputer dan makan bubur ayam.
Sang Gusar misalnya, pede banget dengan rambut kribo mirip Maradona, walaupun nggak seganteng Rafi Ahmad tapi nggak seancur Budi Anduk. Tidak begitu suka olah raga tapi jago Winning Eleven dan PES, sering berfikiran yang aneh-aneh dan tidak tepat zaman dan terkesan nyeleneh.
Seperti berpendapat kalau nyamuk sebenarnya dapat dijadikan vaksin untuk obat HIV/AIDS, belum lagi pendapatnya soal teori ekonomi mikro sama akutansi sebaiknya jadi pelajaran praktek dengan bantuan modal ke tiap siswa untuk dagang, karena dalam prinsip ekonomi ala Gusar mengatakan bahwa teori ekonomi yang di pelajari di sekolah sebenarnya tertinggal 10 tahun dari dunia nyata dan tidak up tu det. Bila tidak di pindah ke format pelajaran praktek maka sebaiknya pelajaran ekonomi di gabungkan saja dengan pelajaran sejarah karena membicarakan hal-hal yang sudah lewat. Tentu saja Pak Roland Situmorang SE selaku guru ekonomi setuju dengan usul ekonomi praktek tersebut dan dengan semangat menawarkan solusi pendanaan dengan mekanisme 10-12 (pinjam 10 balik 12). Usul tersebut di tolak mentah-mentah oleh waka bidang kurikulum Yusniar S.Ag. Riba! katanya.
Entah karena otaknya terlalu penuh dengan banyak hal atau mungkin karena kapasitas dan volume otak yang terlalu mini, Gusar juga mempunyai kebiasaan yang juga cukup menyimpang dari kurikulum, yaitu selalu menyelesaikan tugas hitungan matematika dengan rumus sendiri dan kadang asal. Yang penting kan hasil akhirnya sama pak, begitu jawabnya kalau guru menyoalkan rumus nyeleneh yang dia pakai. Alhasil untuk pelajaran matematika nilainya selalu jeblok, karena gak ce-es sama gurunya dan kebanyakan bolos saat jam pelajaran itu.
Galung juga begitu, rambutnya di potong cepak kayak potongan rambut Tukul. Hobinya ngemut pentol korek api, dan itu menjadi hal wajib dalam atribut kesehariannya, banyak yang menyangka Galung perokok karena selalu bawa korok api kayu ke mana-mana. Dia suka musik tapi gak bisa mainin alat musik kecuali kicik-kicik dan gendang, namun suaranya cukup merdu buah latihan dan hobinya gabung di marawis salah satu ormas, Tinggi 175 cm berat 45kg. Cungkring. Suka basket dan gabung di klub sekolah berposisi sebagai defender karena tinggi badannya yang sedikit ‘lebih’ di harap mampu nge-blok shooting lawan. Namun dalam pelaksanaan Galung malah lebih mirip penjaga gawang salah lapangan, gak pernah di suruh maju soalnya, karena keseringan double (membawa bola dengan 2 tangan lebih dari 3 langkah). Namun dalam segi motivasi dan pemberi semangat di lapangan, Galung jagonya.
Galung keturunan India dari pihak ibu, dan ayah Cina Kakek Singkawang. Kabarnya kedua orang tua Galung bertemu dan langsung jatuh cinta di kantor imigrasi kerajaan Selangor Malaysia saat terjaring razia gabungan pendatang haram di negeri itu. Kebetulan keduanya tenaga kerja illegal yang masuk Malaysia dan bekerja di sana hanya berbekal visa melancong. Saat di deportasi, entah bagaimana caranya, diam-diam ayahnya Galung malah menyelundupkan Ibunya masuk Indonesia lewat pintu Entikong, Kalimantan Barat.
Setiba di kampung, berbekal sedikit upeti sebagai uang ketik dan dipermudah hubungan relasi kekeluargaan, dan di bantu salah satu petugas sensus penduduk yang kebetulan teman masa kecilnya ayah Galung, nama ibunya Galung tiba-tiba saja ada di daftar ke-14 urutan anak kandung suami istri buta huruf Beranakkan 13 orang (hidup 5 mati 8) salah satu keluarga transmigrasi di kampung seberang. Tidak ada yang ambil pusing serta menyelidik lebih lanjut, akhirnya resmilah ibunya Galung menjadi WNI dengan nama baru Marni Mukardji (aslinya Rani Mukherjee) terukir indah di urutan ke 14 kartu keluarga berwarna pink tersebut.
Dalam postur dan warna kulit gen sang ibu yang murni Tamil jauh lebih dominan, namun dalam hal wajah lebih serupa tentara vietkong gak pernah ketemu air. Matanya itu lho, udah sipit suka kedip-kedip dengan kecepatan 3 sd 4 kali kedip per detik di suasana-suasana tertentu.
Hanya Gilang aja yang kerap menjadi juara umum pada setiap lomba mirip orang jelek, heheheh!, terutama bila ada lomba kreatifitas seni di tiap persami (perkemahan sabtu minggu). Kebetulan Gilang hobi dengan alam liar dan bergabung di Resimen Coklat Praja Muda Karana. walau begitu ia tetap yakin kalau wajahnya segarang Rambo dan segagah Ade Ray. Mantab!
Gilang juga berkulit gelap, gempal, paling pendek di antara mereka bertiga, sekitar 145 senti lah. Kedua sohibnya malah menambahkan embel-embel Semekot di belakang namanya. Gilang Semekot. SeMeter Kotor!. Walau paling kecil, Gilang justru kerap menjadi pelindung mereka. Bukan apa-apa, kakak kandung Gilang yang beda satu tingkat dengan mereka adalah ketua geng sekolah yang terkenal badung. Tidak jarang sang abang memimpin anak-anak tawuran dengan sekolah lain. Banyak yang takut sama Gilang bersaudara. Selain tidak kenal takut, jaringan mereka terkenal cukup luas ke beberapa sekolah lain sehingga tidak jarang bila geng-nya abang Gilang turun tawur beberapa sekolah lain juga ikut membantu. Solidaritas bahasa kerennya.
Walau badung di luar, Gilang brothers terkenal baik dan mengayomi di dalam. Tidak banyak ulah dan tidak suka berantem dengan teman-teman satu sekolah. Namun tetap saja nama besarnya di gelanggang tawuran mampu membuat gentar siswa-siswa lain. Dan lebih memilih tidak buat masalah dengan mereka.
Gilang keturunan Ambon, 6 bersaudara lelaki semua. Konon, keluarga Gilang ada hubungan dengan Herkules sang bos preman asal Timor yang terkenal itu, tapi tak taulah dari mana hubungan itu, yang jelas bukan hubungan badan.. ya eyalah cin… emang Herkules maho apa… rempong!
Wajah yang pas-pasan dan tak sama dalam ketampanan, tapi mereka tetap satu jua. Bukankah, Persahabatan itu tidak memandang wajah? Asyeeek…
Dan serunya lagi, mereka punya yel-yel, yang berbunyi: Hidup segan mati tak mau. bahkan gang mereka punya soundtrack berjudul Kami Bukan Bang Thoyib, wiih… kerenkan? Motto mereka cukup sederhana: Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.
Wajah yang pas-pasan dan tak sama dalam ketampanan, tapi mereka tetap satu jua. Bukankah, Persahabatan itu tidak memandang wajah? Asyeeek…
Dan serunya lagi, mereka punya yel-yel, yang berbunyi: Hidup segan mati tak mau. bahkan gang mereka punya soundtrack berjudul Kami Bukan Bang Thoyib, wiih… kerenkan? Motto mereka cukup sederhana: Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.
Nah, sampai akhirnya mereka sepakat untuk menamai geng mereka ini dengan nama Trio RT3, alasannya, tak lain karena mereka mengklaim, kalau mereka bertiga adalah idolanya kawanan cewek di RT 3 tempat mereka tinggal, dimana pak RT nya adalah mantan model sampul majalah tahun 80an, yang bernama Pak Iwan Peyek.
Selain itu, tiga cowok ini terkenal dengan cara bergaulnya yang super asyik melilit.
Selalu bercanda tak kenal lelah dan putus asa serta putus cinta. Karena sampai sekarang mereka ini memang belum satupun pernah pacaran. Ngak ada yang mau. Setiap kali nembak cewek, belum ngomong udah di tolak.
Baru rencana doang, udah di tolak. Begitu terus!
Uniknya lagi, anak-anak di kelas 2.1 pada seneng ngumpul bareng mereka, abisnya ketawa melulu. Setiap hari jungkir balik bersama, menari bersama, Push up berasama, berenang bersama. pokoknya serulah!
—
Diluar dugaan nich, Gusar si rambut gimbal ternyata diam-diam ingin maju sebagai kandidat dalam pemilihan ketua OSIS yang di singkat PILKAOS, dan rencananya bakal di gelar SMA Bambu Kuning 3, sekitar satu bulan lagi. Tentulah Gusar menjadi calon yang sangat tidak diperhitungkan, diragukan banyak pihak, bahkan menuai kontroversi.
Entah siapa yang punya ulah, tiba-tiba saja kabar-kabari tentang keinginan Gusar mencalonkan diri menjadi ketua osis, seantero sekolah pada tahu, di infotainment mading udah terpampang tulisan besar sebagai headline: KIAMAT SUDAH DEKAT!!! Gusar! Jadi BALON Alias bakal calon ketua osis!.
Pastinya dia menjadi bahan gosip sejagad sekolahan.
Gusar dan tiga temannya, jadi bahan obrolan hangat, sehangat martabak Bangka.
Obrolan laris, selaris kacang goreng.
Bahkan mengalahkan rating infotainment Silet dan kabar kabari dan bahkan mengalahkan hebohnya video youtube.
Tadi, waktu disekolahan saat mereka jalan di depan anak-anak cewek, tampak mereka pada sibuk ngegosip soal Gusar. Keliatan dari bibirnya anak-anak cewek yang di dower-dowerin, sambil melirik Gusar. Kayak sengaja mencibir.
Lalu apa sebenarnya menurut pendapat mereka, agar bisa jadi calon ketua osis itu: Kalo nggak ganteng, pasti cantik, pinter dan gaul.
Nah, sialnya syarat seperti itu rasanya nggak satupun dimiliki oleh Gusar.
Hal inilah kemudian yang membuat keinginannya untuk maju sebagai kandidat ketua OSIS banyak menyita perhatian se isi sekolahan. Pro kontra lah kira-kira begitu.
Terjun bebas itu namanya! Bayangin nggak pakek parasut terjun dari gedung lantai 12, bisa remuk! Begitulah mereka mengumpamakan kenekatan Gusar maju sebagai calon ketua osis. Perumpamaannya sadis banget!
Sebagian siswa malah mencemooh, ada yang bilang
“sok kepedean!, nggak ngaca!”
Terus ada yang bisik-bisik,
“mana ada ketua osis jelek!”,
Bahkan yang paling ekstrim ada yang nyeletuk,
“wah bisa ancur reputasi sekolah kita kalo ketua osisnya orang planet!”
Yang apatis dan bijak juga berkomentar
“Tenang kawan, belum ada sejarahnya ras manusia di pimpin sama monyet”. Bah!
Pokoknya macem-macem deh!
Tapi walau begitu, nggak sedikit juga yang mendukung, misalnya ada yang bilang
“kapan lagi punya ketua osis jelek!”
Terus ada yang sedikit intelek mengatakan
“ini kan era demokrasi nggak ada lagi beda jelek-ama ganteng semua nya punya hak!”
“ini kan era demokrasi nggak ada lagi beda jelek-ama ganteng semua nya punya hak!”
Tapi, apapun yang jadi omongan anak-anak, tak satupun ditanggapin ama Gusar. Masuk telinga kiri keluar lewat telinga kiri juga. Mental dong!
“terserah aja mereka pada mau bilang apa? Mau bilang A, B, C yang jelas gua nggak bakal mundur untuk maju sebagai calon ketua osis, anjing menggonggong gua gonggong juga!!… hahahahahah” ujarnya ke Galung dan Gilang sambil di sambut ketawa gila keduanya.
“terserah aja mereka pada mau bilang apa? Mau bilang A, B, C yang jelas gua nggak bakal mundur untuk maju sebagai calon ketua osis, anjing menggonggong gua gonggong juga!!… hahahahahah” ujarnya ke Galung dan Gilang sambil di sambut ketawa gila keduanya.
Galung ama Gilang juga amatlah setuju, mendukung sangat keinginan Gusar, walaupun mereka sadar untuk mendapatkan hasil terbaik mereka harus kerja ekstra keras, istilahnya peras keringat dan banting tulanglah! Harus jungkir balik dan pontang panting! Agar jagoan mereka bisa meraih sabuk ketua OSIS.
“Setuju saudaraku! Kita mesti tunjukin ke dunia kalo elo juga bisa jadi ketua osis!” saut Gilang bermaklumat.
“bersatu kita bisa! Bercerai kerjaan selebritis…!” pekik ketiganya kompak, ternyata bukan hanya wajah yang kompak tapi juga soal komitmen, c..eee!
Saking hebohnya nih! Soal keinginan si gimbal Gusar mau maju sebagai salah satu kandidat ketua osis, cowok berambut keriting dangdut itu sampai-sampai di panggil Bu Murni sang guru BP yang cantik dan manis, kalau berjalan tik! Tak! Tik! Tak!
Tak lain, karena para guru agak khawatir dengan keinginan Gusar, mereka nggak percaya. Walaupun sebagai warga sekolahan yang baik dia punya hak untuk di pilih, makanya pak kepsek sengaja menyuruh Bu Murni memanggil Gusar, untuk memastikan kalo Gusar masih dalam keadaan sadar ketika mengambil keputusan untuk maju dalam Pilkaos nanti.
Dengan kekesalan yang sangat dan berjuta tanya di dada Gusar melangkah menuju ruang guru BP memenuhi panggilan Bu Marni.
“emangnya saya salah apa bu? kok saya di panggil?” Ujar Gusar setengah protes karena ia merasa nggak pernah bikin ulah.
“Emang salah saya apa? Kecuali kalo gua bikin adegan video mesum, atau ngajak ribut penjaga sekolah, wajar kalo di panggil guru BP, lah ini hanya gara-gara mau ikutan calon ketua osis doang sampai melibatkan guru BP” Ujarnya dengan nada kesal.
“nggak, kami para guru cuma ingin mendengar sendiri dari kamu soal desas desus yang beredar, katanya mau ikut meramaikan bursa pilkaos, bener begitu Sar?” tanya Bu Murni pelan dan bijak, penampilannya mirip sekali ama peran bu guru dalam sinetron-sinetron di tv.
Iya lah masa mirip ama peran Suzana di film horror. kwkwkwk!
Iya lah masa mirip ama peran Suzana di film horror. kwkwkwk!
“kalo iya kenapa bu, emang salah?” Gusar berlagak bloon kayak kedondong.
“yang bilang salah siapa? justru kalo emang bener malah ibu mendukung…”
Gusar, jadi penasaran.
“yang bilang salah siapa? justru kalo emang bener malah ibu mendukung…”
Gusar, jadi penasaran.
“maksud mami, eh … ibu?”
“nggak gimana-gimana soalnya kamu selama ini di kenal sebagai anak yang cuek, terus sering bolos, malas bikin PR, para guru pada takut kalau-kalau kamu itu kesurupan setan sekolah…” jelas bu Murni rada merinding.
Gusar sempat diam.
Bener sih! Ia inget kalau dua minggu yang lalu anak-anak kelas satu emang ada insiden kesurupan massal. Tapi nggak termasuk dia! Malah beberapa yang kesurupan tersadar saat melihat Gusar sembari teriak histeris “Setan..!!”.
“ya! Ibu… teganya… teganya… teganya…” jawab Galung sambil dangdutan.
“Ya, udah kalo gitu, ibu mendukung apa yang kamu inginkan, lagian siapa tahu kamu malah beruntung dan terpilih, iya kan!”
“Ya, udah kalo gitu, ibu mendukung apa yang kamu inginkan, lagian siapa tahu kamu malah beruntung dan terpilih, iya kan!”
“Beruntung gimana bu?”
“Bisa masuk MURI!”
“Maksud ibu!?”
“Satu-satunya ketua osis yang nggak cakep rekor baru tuh.. he… he.. nggak-nggak ibu hanya bercanda…”
“Kalo gitu saya pamit ya bu, kalo nanti saya maju tolong dukung saya ya bu!”
“Pasti, tapi tergantung sogokannya… he.. he nggak-nggak! bercanda aja!…”
“Ibu bisa aja, eh, Ibu cantik deh… he… he!!
“Ah kamu bisa aja…!” Bu Murni malah malu-malu.
“Nggak-nggak bercanda juga bu!”
Bu Murni malah mencuibit lengan Gusar.
O, ya bu, tolong juga kasih tau sama semua warga sekolah, bukankah untuk jadi ketua osis tidak harus berwajah ganteng, emang mau jadi model apa?”
“Nggak usah dipikirkan!, Pokoknya kalau ada yang bilang kamu jelek… sabar aja, kalau ada yang bilang kamu bego,… cuek ja, kalau ada yang bilang kamu oon, cool aja. Tapi kalau ada yang bilang bilang kamu cakep! tampar aja!
“Kenapa di tampar bu?”
“sebab itu fitnah!” Nasehat Bu Murni dengan serius.
Di bilang begitu, Gusar langsung ngacir! Bu Murni Malah bengong.
Di depan pintu ruang BP, Gilang ama Galung udah nunggu dengan wajah khawatir.
Di depan pintu ruang BP, Gilang ama Galung udah nunggu dengan wajah khawatir.
Mereka khawatir kalo Gusar di apa-apain sama Bu Murni, untunglah Gusar masih sehat wal afiat tidak kurang satu apapun, kecuali kurang ganteng.
“syukur deh kalo lo nggak apa-apa” Ujar Gilang sambil memeriksa sekujur tubuh Galung siapa tahu pada bengkak semua.
“syukur deh kalo lo nggak apa-apa” Ujar Gilang sambil memeriksa sekujur tubuh Galung siapa tahu pada bengkak semua.
“ah, berlebihan lo kayak gua baru ngadapin power ranger aja!”
“siapa tahu kan!”
Gusar duduk di kursi taman, Galung ama Gilang duduk disebelahnya
“apa, liat-liat?” umpatnya pada Dewi dan Kiki yang lewat sambil cekikian.
“apa, liat-liat?” umpatnya pada Dewi dan Kiki yang lewat sambil cekikian.
“udah lah, nggak usah di ladenin cuek aja!” Ujar Gilang
“ini pasti ulah elo berdua nih yang nyebarin berita…” Gusar langsung nunjuk muka Gilang yang mirip Fanny tawa sutra.
“eh… jangan main tunjuk sembarangan, fitnah itu! vietnam lebih kejam dari kamboja lo” Gilang malah cengengesan.
“siapa lagi kalau bukan lo, kan hanya elo yang tahu apa yang sedang gua rencanain, ah… nggak usah ngeles lo, ngaku nggak! Gua tonjok juga lo!”
Gusar kesel.
Gusar kesel.
Gilang menghindar, dia berusaha nyabarin sahabatnya ini.
Walau gimana ia nggak mau reputasinya sebagai sahabat setianya terganggu, secara udah sejak kecil ia menyandang sabuk teman setia Gusar dan Galung.
“eh, Sar denger ya, kalo emang gua! untungnya buat gua apa, hah! Mikir dong!” ujar Gilang sambil menunjuk jidatnya sendiri. Karena nggak mungkin nunjuk jidat kepsek.
“iya Sar, masa sih kita melakukan itu semua, kan nggak mungkinlah, kita berdua itu justru mendukung keinginan lo mau jadi ketua osis, soalnya kapan lagi golongan orang jelek kayak kita bisa jadi ketua osis, lo harus buktiin…!!!” Timpal Gilang dengan semangat 69 eh, semangat 45.
“nah, terus siapa?
“mana gua tahu!” mata Galung kedip-kedip
“bener, bukan lo?”
“ya bukanlah!! Gantungan baju!!” Galung masih tetap bercanda.
“ahhh… gantungan kunci!!!” balas Gusar masih kesel.
“Udah, sama-sama gantungan kok malah ribut!” Sela Gilang
Kemudian ketiganya malah diam.
Gusar mencoba meredam emosi, Galung coba tetap sabar, Sambil ngemut pentol korek. Gilang penasaran,
“Eh, tamil.. Bukannya dah di larang bawa korek api ke sekolah?”
“Banyak jalan menuju Rhoma, Rikha…” Galung cengengesan
Gilang kembali sibuk nyabutin rumput. Sambil mikir kok bisa si vietkong mutung ini nyelundupin korek api ke dalam sekolah, ahh.. bodo amat batinnya.
Galung masih senyam senyum sambil kedap-kedip, sesekali melirik Gusar yang ngelamun memandangi tiang bendera. Fikirannya menggeliat senang, soalnya gossip tentang pencalonan Gusar sebagai ketua osis emang sengaja di sebar oleh mereka berdua, maksudnya sebagai bagian strategi, langkah awal kampanye. Soalnya kalo nggak gitu tak mungkin Gusar bisa kesohor, sekalian kampanye gratiskan. Hasilnya. Langsung tenar!
“kenapa lo senyum-senyum!” Gusar melirik Gilang
“ngak, pasar rame!” Jawabnya sambil berlalu.
“ah, sono lo! Makanan ikan!!”
“Ahhh… kandang kambing!!! Hahahahha..” Galung ama Gilang sengaja ninggalin Gusar sendirian.
Penulis Cerita: MisterAdli
