Gelombang Galau Gusar Yang Bergulung Bersama Galung Dan Gilang Berakhir Gemilang (Part 3)

Rabu, 15 Januari 2014 | komentar

Sepak terjang Gusar sekarang memang nggak bisa di bilang main-main. Niatnya untuk merebut jabatan ketua osis udah sangat kuat. Salah satu alasannya, adalah rasa sukanya sama Suci, cewek yang udah lama ia taksir. Yang punya nama lengkap Suci Dalam Debu.
Hubungan Suci dengan OSIS?
Soalnya Gusar yakin kalo nanti dia terpilih jadi ketua osis cintanya nggak bakal bertepuk sebelah tangan. Coba aja bayangin kalo Gusar bertepuk sebelah tangan, kagak bakal bunyikan!
Nah, maka dari itu kalo nanti jadi ketua osis dia yakin banget kalo dirinya bisa menarik simpati Suci, bukankah ketua osis itu selebritis sekolahan? Tapi di sisi yang lain Gusar bener-bener pengen memberikan yang terbaik untuk sekolah.
Yang dipikirannya, kalo dia jadi ketua osis pastinya setiap ada ide pasti akan dipertimbangkan. Kalau sekarang ini, jangankan mau memberikan ide, nggak di usir aja dari sekolahan udah untung.
Suci, anak kelas 2.6 itu emang sempat bikin Gusar mabuk kepayang.
Rambutnya, matanya, alisnya, caranya nulis, saat dia makan kwaci, sampai caranya push up Ups!. semuanya menarik.
“Gua akan mempertaruhkan segenap jiwa juga raga untuk menaklukkan hatimu Suci” Ujarnya dalam hati. Uhuui! Mantab!
Layaknya orang lagi mabuk kendaraan sekaligus mabuk asmara Gusar jadi merasa aneh sama dirinya. Tidur jadi nggak lelap, makan jadi nggak nafsu, tiba-tiba mukanya bisulan, yang membedakannya sama orang lain kalau lagi jatuh cinta hanya satu, badannya jadi gatel-gatel! Apalagi ini adalah cinta pertamanya.
Tiba-tiba lamunanya buyar. Pyarrrr!!!
“Gawat Sar, gawat!” Galung berujar ke Gusar.
“Kalo ngomong yang jelas, gawat apaan? Gawat gigi?”
“itu kawat!”
“Terus apaan?”
“gua tadi sempat denger kalo Obet anak kelas sebelah nantangin lo dalam pemilihan ketua osis” Galung menjelaskan hasil pantaunnya.
“Emang gua juara bertahan main tantang aja, tahu dari mana lo?”
“Soalnya kabar tentang lo mau bertarung dalam perebutan ketua osis sudah jadi rahasia umum di sekolah kita, nah tentunya si Obet juga tahu.” Terang Galung
“Bener Sar!” Gilang nyahut seadanya,
“apanya yang bener!” Sela Galung
“itu yang lo omongin barusan” Gilang cengengesan
“nah, terus!” sambar Gusar.
“Itu dia, Obet bikin pengumuman di mading, kalo dia nantangin elo untuk bersaing menjadi ketua osis sekaligus bersaing ngedapetin Suci Dalam Debu lo!”
“Lha terus apa hubungannya sama Suci! Berani-beraninya tu anak, belum tahu gua apa?” Gusar masang kuda-kuda. udah kayak Pitung beraksi kembali.
“Sabar Lung… sabar… yang penting sekarang kita mesti cari akal supaya bisa ngalahin Obet” Ujar Galung seraya menenangkan sobatnya.
“kita? Gua aja kali!” jawab Gusar.
“iya, elo maksud gua. Eh, lo mau gua bantuin nggak?”
“iya, iya!”
“oke, sekarang lawan lo udah jelas, Obet anak kelas sebelah, nah berarti tugas gua adalah mencari rekaman pertandingan dia, terus kita pelajari kelemahannya” Ujar Gilang masang muka serius, tapi tetep aja lucu.
“eh, lo kira gua Chris Jhon apa?”
“maksud gua kita mesti cari tahu kira-kira prestasinya apa aja, berapa kali pacaran, berapa kali putus, berapa kali di tolak, supaya kita bisa tahu bagaimana menaklukkannya”
“boleh juga tuh!” Gilang duduk di sebelah Gusar.
“Soalnya lo tahukan kalo Obet itu terkenal playboy, nah sekarang tugas kita membuat dia gantung sarung cinta terus lo rebut sabuk play boy nya” lanjutnya Gusar semangat sambil mengepalkan tangan.
“gua bakal tunjukin kalo gua lebih hebat dari dia” jawab Gusar mantab.
“bentar-bentar, gua heran sama lo, kok sekarang jadi yakin banget, nggak kayak kemaren-kemaren” Gilang malah bingung.
“itu tidak lain dan tidak juga bukan, karena ajian seribu muka dari engkong gua, tinggal gua pantunin aja…”
“ajian? Pantun? … aahh! Bingung gua” Ujar Galung
“iya nih!” sambar Gilang
“udah deh lo tenang aja ok! Sekarang lo makan dulu tu bakso ntar keburu dingin…”
“Eh, Sar! gua ingetin ya, lo jangan coba-coba deketin Suci” ancam Obet ke Gusar, saat mereka sama-sama nonton anak-anak main basket.
Gusar diem aja, ini mungkin trik Obet untuk bikin dia emosi terus marah-marah dan kemudian nyerah lantas mundur dari keinginannya maju dalam pilkaos.
Gilang sama Galung malah mengkeret, soalnya Obet bawa tukang pukul, badannya gede-gede lagi. Pakek acara buka kancing baju lagi, sampai-sampai panu di dada pada keliatan. Awalnya dia kira tato. Iiih!
“terserah gua dong, gua mau deketin Suci, mau naksir Bu Murni guru BP, nggak anehkan! Kecuali kalo gue naksir ama Pak Udin penjaga sekolah itu baru aneh!” Jelas Gusar tegas.
Obet merasa reputasinya sebagai play boy sekolahan tercoreng soalnya harus bersaing dengan Gusar yang tak lain hanya seorang makhluk yang di lihat dari sisi mana saja nggak ada kelebihannya, kecuali keriting dangdutnya.
“Oke, gua mau lihat sampai sejauh mana kemampuan lo, jangan sampai ngaco kaya di lomba LCT tempo hari, kalo lo memang bisa ngalahin gua pada pilkaos berarti lo bebas dari saingan sama gua oke! Dan lo boleh ngedeketin Suci…” tantang Obet dengan congkaknya.
Gusar cuma nyengir. Galung kedip-kedip sementara Gilang petantang petenteng.
“Maksud lo apaan?” Tanya Gilang kemudian. Sembari ingatannya flash back ke insiden itu. Sebuah kekonyolan yang dibuatnya saat lomba LCT antar kelas awal tahun pelajaran.
Ceritanya begini, Kebetulan Gusar ‘menggantikan’ si Arif sang ketua kelas yang kebetulan kena disentri saat lomba diadakan, Arif memang ‘perpustakaan berjalannya’ kelas 2.1, semua yang ada di buku pelajaran biasanya juga terekam baik dalam arsip otaknya. Dan yang punya kemampuan memori ‘ekstra’ sangat di butuhkan dalam Lomba Cerdas Tangkas itu. Dua punggawa lainnya Erna dan Vika juga cukup pintar, namun levelnya di bawah Arif. Erna kuat di pelajaran bahasa sedang Vika mendekati kemampuan Arif, namun sedikit telmi alias telat mikir. Anak-anak menggelarinya Vika Triseken karena biasanya butuh jeda waktu 3 Detik untuk mikir dahulu sebelum nyambung dalam setiap obrolan.
Kehilangan komandan di saat genting cukup bikin kubu mereka ketar-ketir mencari pengganti. Sang inisiator Galung menyarankan Gusar untuk maju menggantikan Arif, alasannya kepada seantero kelas sederhana saja, satu-satunya yang bisa mengganjal kecepatan berfikir adalah kecepatan memencet bel!. Dan Gusar punya kemampuan itu. Dengan strategi itu, Gusar di pandang mampu memberi jeda waktu sekitar 3 detik untuk Vika memikirkan jawaban sementara team lain terbengong-bengong keduluan bel.
Briliant! Singkat kata Gusar pun di daulat menggantikan Arif. Mereka bertiga di Regu A.
Skor imbang di putaran pertama, ketiga regu sama kuat. Namun di babak penentuan yaitu babak rebutan team mereka melesat unggul 500 point dari lawan-lawannya. Strategi itu berjalan lancar dan sesuai dengan prediksi Galung. Gusar makin percaya diri pencat-pencet bel. Hingga insiden konyol itu terjadi..
“Baiklah, kembali pertanyaan rebutan selanjutnya..” Suara Bu Marni di mikrofon.
Semua bersiap-siap
“Berasal dari kata apa dan di ambil dari bahasa mana untuk kata… Ka…len…der..!?” Seru bu Marni semangat..
Treeeeeeeeeeeeeeeeeeeettt…
“Regu A!”
“Bahasa Arab, Al..Ma..Nak..!” Gusar menjawab yakin dengan logat Arab menyebutkan kata Almanak.
Grrrrrrr…
Semua orang tertawa, termasuk pak Kepala Sekolah. Gusar bengong.
Teet!
“Salah!, Silakan regu C”, seru bu Marni sambil tersenyum menahan lucu
“Kalendros, bahasa Yunani Kuno” Obet dari kelas 2.6 menjawab sambil melirik Gusar yang memerah karena malu
“Seratus untuk regu C”.
Grrrrrr…
Tawa kembali pecah, kali ini jauh lebih riuh bahkan beberapa penonton ada yang tepuk-tepuk meja menahan geli melihat piasnya muka Gusar yang tadinya sempat kepedean. Erna dan Vika panas dingin menahan jengkel.
Keadaan kemudian berbalik, Gusar kehilangan konsentrasi sehingga kecepatannya memencet bel berkurang. Regu C yang di komandoi si ganteng Obet melesat meninggalkan mereka dalam perolehan angka. 2.6 keok.
Lamunan gusar terhenti, dan kembali ke adegan sebelum melamun…
“Maksud lo apaan ?” Gusar kembali mengulang pertanyaannya ke Obet.
Tapi Obet keburu berlalu, diiringi sama dua pengawalnya. Udah melangkah tiga meter dia balik lagi.
“Denger ya, anak ayam turun sembilan mati satu tinggal delapan, kalo Suci Lo ajak jalan gua jadiin lo lalapan!”
Gusar senyum-senyum
“Balas Sar!” teriak Galung
“Buah mangga rasanya kecut … alaaah! Siapa takut” Balas Gusar.
“Buah kelapa jatuh di sungai…” Gilang mantun juga.
“Artinya Lang!?” Tanya Galung
“pluunggg!!”
“Hua..ha…hhahhaha!”
“Udah gak usah di pikirin, biasa itu dalam politik, poly itu artinya banyak, sedang Tik itu singkatan dari Trik, jadi dalam politik sah-sah saja banyak trik.. termasuk psywar..” Arif tiba-tiba sudah ada di samping mereka bertiga.
“Eh, ada elu pak Ketua” sambut Gusar
Arif Cuma senyum sambil betulin posisi kacamata
“Psywar apaan ya Rif? perang bintang ya?” Gilang penasaran
“Yee.. elu kebanyakan nonton HBO ya gini, Psywar itu penyanyi korea yang bawain Gangnam Style itu lo..” jawab Galung asal sembari jingkrak-jingkrak kaya kuda
“he he.. Psywar itu maksudnya perang psikologi.. Jadi mental lawan di serang sama hal-hal di luar konteks politik, termasuk masa lalu, kejelekan, latar belakang dan lain-lain” jelas Arif panjang lebar
“Ooo…” Mereka bertiga kompak angguk-angguk
“Jadi serius nih mo nyalon?” Tanya Arif ke Gusar
“Nyalon? emang muka lu mo di kreambath ya Sar?” Gilang nyosor
“Mencalonkan diri maksud gua.”
“Oh ! itu toh maksudnya. Ya iya lah bro, kapan lagi orang kaya Gusar masuk hitungan. Jelek-jelek gini ni anak punya impian en program buat sekolah kita, terutama bagi spesies-spesies terbelakang yang selama ini kalah bersaing sama trend korea” yang jawab Gilang lagi
“Apa hubungannya sama trend Korea ?” sahut Gusar
“Ya adalah coy, ikut trend korea kan mesti cakep, lha? di sekolah kita yang cakep kan gak nyampe setengah, rata-rata yang di kasih kesempatan cuma yang cakep-cakep, yang di bawah standar gak punya tempat buat ekspresi diri, kaya gengnya abang gue malah milih gagah-gagahan adu otot ama sekolah laen buat numpahin ekspresi. Kan gawat coy”. Gilang makin semangat
“Mesti ada wadah buat orang-orang kaya kita yang prestasinya gak bagus-bagus amat, yang mukanya gak cakep-cakep amat, yang duitnya gak banyak-banyak amat.. mesti ada perubahan, kalo mau perubahan pemimpinnya pun harus dari golongan orang-orang yang seperti itu juga.”
“Tumben otak lu mikirnya lancar” Galung nyengir liat sohibnya keringetan membela kaumnya.
“Lha iya, ini kan namanya diskiprimansipasi”, Gilang blepotan
“Diskriminasi”, Arif meluruskan
“Ah.. Iya, itu”.
“Jadi gitu ya?” Arif mamandang Gusar
“Ya… gak gitu-gitu amat si Rif tapi garis besarnya kurang lebih begitu..” Gusar akhirnya menjawab
“Kasihan juga spesies kalian ya…” gumam Arif
Ketiga nya mengkel… kemudian nyengir melihat Arif tertawa
“He he… Kayanya pak Gusar butuh Konsultan Politik deh..” Arif tersenyum simpul sembari berlalu
“Lha? Trus..?” Gusar setengah teriak
“Butuh konsultan gak?” Arif berbalik
“Iya Butuh”.
Arif tersenyum penuh arti sembari mengacungkan kedua jempol
Ketiganya sumringah.
“Yes!!”
Penulis Cerita: MisterAdli
Bagikan :

 
 
Copyright © 2014 Kotatulis - All Rights Reserved
Hak Cipta dan Ketentuan | Tentang Kami